Anda di halaman 1dari 4

PENDAHULUAN

Latar Belakang Sebagai negara agraris di Indonesia terdapat banyak tempat penggilingan beras. Hal ini juga dikarenakan sebagian besar rakyat indonesia mengkonsumsi nasi sebagai makanan pokok. Oleh sebab itu untuk memenuhi kebutuhan akan makanan pokok yang baik, beras harus melalui beberapa proses. Mula-mula setelah padi dipanen, bulir padi atau gabah dipisahkan dari jerami. Pemisahan dilakukan dengan memukulkan seikat padi sehingga gabah terlepas atau dengan bantuan mesin pemisah gabah. Gabah yang terlepas lalu dikumpulkan dan dikeringkan. Dalam hal ini proses pengeringan gabah merupakan salah satu faktor penentu kualitas beras. Hal ini dikarenakan gabah pada awalnya dalam keadaan basah dan harus dikeringkan terlebih dahulu agar kadar air gabah sesuai dengan standar yang disesuaikan, yaitu gabah dengan kadar basis kering 14 % (Keputusan Bersama Kepala Badan Bimas Ketahanan Pangan No. 04/SKB/BBKP/II/2002) untuk dapat diproses lebih lanjut. Gabah yang telah kering disimpan atau digiling, sehingga beras terpisah dari sekam. Beras merupakan bentuk olahan yang dijual pada tingkat konsumen. Pada umumnya pengeringan gabah di Indonesia masih dilakukan dengan cara yang relatif sederhana, yaitu dengan dipanaskan pada terik matahari atau dijemur. Hal ini kurang efisien karena memerlukan waktu berhari-hari dan tempat yang luas. Oleh sebab itu perlulah diciptakan suatu alat pengering guna mengurangi keterbatasan tersebut, agar petani mampu memanfaatkan panas matahari secara maksimal dan mendapatkan hasil pengeringan yang lebih higienis dimana alat tersebut dengan mudah dioperasikan petani, karena dengan

Universitas Sumatera Utara

pengeringan yang baik gabah menjadi tidak cepat rusak dan kandungan mineral tetap terjaga (Rumiati, 1981). Panen raya padi umumnya bertepatan dengan musim penghujan sehingga kadar air panen cukup tinggi, yaitu 30-40 %. Kadar air itu perlu segera diturunkan sampai 14 % agar aman untuk di simpan maupun diolah. Teknik pengeringan harus terjangkau oleh petani, demikian pula teknik pendukungnya seperti perontokan padi. Peningkatan produksi pangan harus diiringi penerapan teknik pasca panen untuk mendukung pengamanan, peningkatan mutu dan daya simpan agar tercapai kecukupan pangan dan peningkatan pangan dan pendapatan petani. Salah satu tahap proses pascapanen yang menentukan adalah pengeringan, terutama pada musim penghujan. Sampai saat ini sebagian besar pengeringan di tingkat petani dilakukan dengan penjemuran. Kondisi penjemuran itu masih beranekaragam, sehingga dihasilkan komoditas bermutu rendah. Panen padi umumnya langsung dirontok dalam kondisi basah karena sifat padi yang mudah rontok. Di beberapa daerah (Sumatera Barat), padi ditumpuk dalam keadaan basah sebelum dirontok sehingga banyak butir padi yang rusak dan tercecer. Petani pada umumnya masih menggunakan beragam alas penjemur gabah, misalnya tikar, anyaman bambu, lembaran plastik, karung goni, seng dan kadang-kadang tanpa alas (tanah, aspal) yang dapat mengakibatkan butir retak dan bertambahnya benda asing. Dalam musim penghujan, butiran padi rusak karena penjemuran terhambat dan terjadi akumulasi panas dalam tumpukan gabah yang ditutup plastik karena tidak sempat diangkat dari penjemuran pada saat hujan turun (Soetoyo dan Soemardi, 1978).

Universitas Sumatera Utara

Pengeringan yang baik memerlukan panas yang seragam dan laju pengeringan yang tidak terlalu cepat, agar tidak terjadi keretakan dan kadar air menjadi lebih seragam. Syarat ini sukar dipenuhi dengan penjemuran langsung dengan matahari, karena intensitas panas matahari sulit dikendalikan. Oleh sebab itu sangatlah perlu diciptakan suatu alat pengering, dimana biaya pembuatannya yang murah begitu juga dengan pengoperasiannya yang mudah, karena suatu gabah yang memiliki kadar air tinggi akan mudah rusak apabila disimpan dalam jangka waktu yang lama begitu juga dengan mutu beras hasil giling yang rendah. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk memodifikasi, merancang dan membuat alat pengering gabah dengan tenaga matahari. Kegunaan Penelitian 1. Sebagai bahan bagi penulis untuk menyusun skripsi yang merupakan syarat untuk menyelesaikan pendidikan di Program Studi Teknik Pertanian Departemen Teknologi Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara. 2. Sebagai bahan informasi bagi mahasiswa yang akan mengembangkan alat ini. 3. Sebagai bahan informasi bagi pihak yang membutuhkan, khususnya petani gabah.

Universitas Sumatera Utara

Batasan Masalah Alat yang dirancang atau akan digunakan untuk mengeringkan gabah tenaga matahari. Dengan batasan sebagai berikut : 1. 2. 3. Pesawat pengumpul panas adalah kolektor surya plat datar Kapasitas gabah yang dikeringkan adalah 10 kg dalam satu kali proses Kadar air yang telah dikeringkan maksimum 14 % (Keputusan Bersama Kepala Badan Bimas Ketahanan Pangan No. 04/SKB/BBKP/II/2002).

Universitas Sumatera Utara