Anda di halaman 1dari 2

Minggu 3 : Gizi masyarakat, gaya hidup dan peran serta masyarakat 3.

1 Identifikasi masalah gizi yang ditemukan di pelayanan tingkat pertama dan pengelolaannya Hari/tanggal Diskusi : Senin/13 Mei 2013 :

Puskesmas Lhoksukon memiliki 42 desa dan posyandu. Di puskesmas Lhoksukon di bagian program gizi dipegang oleh buk Rosmini yang telah menangani program ini selama 25 tahun dari tahun 1987. Masalah yang dijumpai di puskesmas Lhoksukon : Gizi kurang Gizi buruk KEK-WUS Bumil yang anemia Kegiatan program gizi puskesmas Lhoksukon : a. Pelayanan untuk ibu hamil dengan pemberian tablet Fe dan vit.A b. Konsultasi gizi c. Penyuluhan gizi untuk ibu hamil d. Datang ke posyandu terdekat untuk memantau dan memberikan penyuluhan jadwal waktu penyuluhan didapat dari laporan bidan-bidan Dahulu puskesmas menganut BB/U untuk menentukan status gizi sekarang yang dipakai adalah BB/TB yang panduannya diberikan oleh dinas kesehatan. Standar BB/TB dari puskesmas Lhoksukon memakai standar baku WHO-NCHS dari umur 0-5 tahun. (-2) 2 = normal 2- 3 = gizi lebih (-3) (-2) = gizi kurang > (-3) = gizi buruk Bila anak > 5 tahun tidak di tanggulangi di program gizi tetapi masuk ke poli klinik. Masalah lain di Lhoksukon terdapat juga seperti gizi kurang, KEK-WUS dengan LILA < 23,5 (dapat satu kotak lactamil 5 kotak/bulan). Yang diukur selama pemeriksaan adalah LILA, Hb serta pemberian tablet Fe dan vitamin. Pada gizi kurang bila BB tidak meningkat maka di bawa ke rumah sakit. Pada ibu yang anemia laporannya di dapat dari bidan desa. Jika terlaporkan bermasalah maka segera di bawa ke puskesmas untuk ditangani. Dana yang dipakai dari BOK. 1 Desa di haruskan memiliki 2 minimal 2 kader pria maupun wanita yang masing-masing 1orang. Idealnya 1 desa memiliki 5 kader. Masalah yang sering di jumpai dalam permasalahan gizi : a) Batas waktu pemberian bantuan yang terbatas waktunya, sehingga penderita sulit mempertahankan berat badan ideal yang telah didapatnya. b) Berdasarkan baku WHO-NCHS jangan dipantau hanya pada anak 0-5 tahun saja. c) Salah kaprah masyarakat tentang minum susu sehingga anjuran produk hanya dari fee nya.

d) Bidan desa tidak tinggal di desa. Hal tersebut didukung oleh pemerintah dengan mengatakan bahwa bidan tidak masalah tidak tinggal di desa yang terpenting program yang ada berjalan lancar. e) Pemberian atau cara mengolah susu yang salah. Cnotoh : 1 sendok susu dengan air satu botol penuh. f) Keluarga tidak tahu bahwa anaknya mengalami gizi buruk. Contoh : orang tua banyak yang tidak tahu bahwa anaknya yang bengkak (udem) dan orang tua mengira anaknya bergizi baik. Khusus gizi, untuk mendapatkan data ke depannya harus memakai data riil sedangkan untuk data yang lain memakai data estimasi. Data terbagi atas 2 jenis : 1) Data riil 2) Data estimasi PMT (Pemberian makan tambahan seharusnya 90 hari dan 1 desa idealnya memiliki 5 kader. Riwayat gizi buruk : Riwayat kehamilan ibu (KEK) Riwayat kelahiran (BBLR) Riwayat ASI (ASI ekslusif) Penyebab kekurangan gizi : Penyebab langsung (penyakit infeksi) Penyebab tidak langsung seperti Kemiskinan keluarga Tingkat pengetahuan orang tua yang rendah Sanitasi lingkungan yang jelek Pengukuran status gizi anak ditetapkan oleh SK Menkes Nomor 920 tahun 2002 tentang klasifikasi status gizi anak balita dengan mengguanakan Z-Score. Indeks Status Gizi BB/U Gizi lebih, baik, kurang, buruk TB/U Normal, pendek, tinggi BB/TB Gemuk, normal, kurus, kurus sekali