Anda di halaman 1dari 8

1

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Proyek Seiring dengan kemajuan perekonomian dan untuk mendukung

pembangunan di Sumatra Selatan, khususnya kabupaten Banyuasin. Maka diperlukanlah sarana dan prasarana yang baik, salah satunya yang diperlukan adalah gudang. Dimana fungsi dari gudang itu sendiri, sebagai tempat menyimpan barang, material, dan alat-alat dalam jumlah besar. Letak gudang sebaiknya mudah dijangkau, dan dekat dengan akses transportasi. Dalam perkembangannya gudang mengalami pergeseran fungsi, dahulu gudang dibangun hanya untuk menyimpan barang-barang milik sendiri. Tetapi sekarang gudang sudah menjadi suatu aset, yang tidak hanya untuk keperluan pribadi, tetapi juga bisa untuk diperjual belikan ataupun disewakan kepada pihak yang membutuhkan. Operasi pergudangan berkembang pesat sejalan dengan munculnya teknik-teknik manajemen produksi tepat waktu dan respon cepat. Sistem produksi tepat waktu menjadikan operasi pergudangan seperti proses penerimaan barang, pencatatan dan proses pergudangan lainnya dilakukan seefektif dan seakurat mungkin. Untuk mewujudkan hal tersebut, maka pemilik gudang berinisiatif melakukan pembangunan gudang yang terletak di Jalan Raya Palembang-Betung Banyuasin. Dalam perencanaan pergudangan yang baik, penggunaan ruang penyimpanan yang tersedia secara efektif dan sistem alokasi penyimpanan yang baik sesuai dengan yang direncanakan, gudang tersebut berukuran 36 x 60 m2. Pembangunan gudang ini juga didukung dengan sarana dan prasarana yang memadai, yakni air yang mudah didapat, pagar disekeliling gudang. Menurut rencana gudang ini akan dijadikan tempat menyimpan barang, material maupun alat-alat, yang biasa disebut gudang serba guna.

1.2 Tujuan dan Manfaat Proyek Adapun tujuan dan manfaat dari pembangunan gudang ini adalah untuk mendukung pembangunan di Sumatra Selatan, khususnya Kabupaten Banyuasin, penyimpanan barang-barang, material, dan alat-alat dalam jangka waktu sementara. Gudang juga berfungsi melindungi barang yang ada didalamnya dari cuaca panas, dan hujan sehingga kualitas barang yang ada tetap terjamin.

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Jenis Konstruksi

Dalam konstruksi beton, dikenal dua cara metode konstruksi, yaitu cara konvensional atau Icast in-situ. Beton dengan metode konvensional membutuhkan pekerja dengan jumlah yang cukup di lapangan. Pembuatan gudang material jalan raya Palembang-Betung, Banyuasin menggunakan jenis metode konstruksi konvensional.

2.2 Prosedur Pelaksanaan Dari Pondasi-Finishing

Pekerjaan pondasi umumnya merupakan pekerjaan awal dari suatu proyek. Oleh karena itu langkah awal adalah dilakukan pemetaan terlebih dahulu. Ini adalah gunanya ilmu ukur tanah. Proses ini sebaiknya sebelum alat-alat proyek masuk, karena kalau sesudahnya akan susah itu untuk memetakannya. Dari pemetaan ini akad dapat diperoleh suatu patokan yang tepat antara koordinat pada gambar kerja dan kondisi lapangan. Pekerjaan pondasi tiang bor memerlukan alat-alat berat pada proyek ini. Disebut alat-alat berat memang karena bobotnya itu yang berat, makanya manajer proyek harus dapat memastikan pekerjaan persiapan apa yang diperlukan agar alat yang berat tersebut dapat masuk, ke areal dengan baik. Jika tidak disiapkan dengan
2

baik, bias saja alat berat tersebut akan mengganggu lalu lintas sekitar.

2.2.1 pondasi

Pengeboran Ini merupakan proses awal dimulainya pengerjaan pondasi tiang bor, kedalaman dan diameter tiang bor menjadi parameter utama dipilihnya alat-alat bor. Juga terdapatnya batuan atau material dibawah permukaan tanah. Ini perlu diantisipasi sehingga bisa disediakan metode, dan peralatan yang cocok.

Pemasangan casing: Setelah pengeboran mencapai suatu kedalaman yang mencukupi, untuk menghindari tanah di tepi lubang longsor maka perlu di pasang casing, yaitu pipa yang mempunyai ukuran diameter dalam kurang lebih sama dengan diameter lubang bor.

Pengecoran Beton: Setelah proses pemasangan casing, maka dilanjutkan dengan pembesian dan kemudian dilakukan pengecoran. Ini merupakan bagian yang paling kritis yang menentukan berfungsi tidaknya suatu pondasi.

2.2.2 Pekerjaan Bekisting Acuan yang digunakan adalah kayu gelam. Kayu yang digunakan harus terdiri dari kayu yang bermutu baik sehingga dapat memberikan kekuatan dan kekakuannya. 2.2.3 Pembesian Baja profil harus dari kualitas baja yang baik yang ukurannya disesuaikan dengan gambar. Baja pekerjaan beton digunakan besi yang tidak boleh cacat sepeti serpih, retak, gelembung, lipatan atau bagian-bagian yang tidak sempurna. Untuk besi tulangan menggunakan besi KS. Besi beton yang digunakan harus bersih dari kotoran, lemak dan karat yang lepas. Kawat pengikat besi beton harus berkualitas

lunak. Pelaksanaan harus sesuai gambar dengan daftar tekuk baja untuk setiap pekerjaan beton dan harus sesuai dengan gambar kerja. Tulangan baja dipasang sedemikian rupa sehingga tidak mudah bergeser ketika beton dicor. Tulangan harus betul-betul bebas dari acuan dan lantai kerja dengan menempatkan potongan-potongan kecil terbuat dari beton diantara tulangan dan acuan atau lantai kerja.

2.2.4 Pekerjaan Beton dan Beton Bertulang Pada pekerjaan beton yang digunakan adalah air, portland cement, pasir dan kerikil. Air yang digunakan harus bersih dan bebas dari segala macam campuran atau larutan minyak, asam, basa, garam dan bahan-bahan organic. Portland cement yang digunakan biasanya mempunyai kualitas yang sama dengan standar SII. Pasir dan kerikil harus bersih dan bebas dari berbagai segala macam kotoran baik lumpur dan tanah karang maupun yang lainnya. Pasir laut sama sekali tidak boleh digunakan. Mutu beton yang digunakan harus memenuhi kriteria sebagai berikut : 1. Mutu beton fc = 25 untuk pondasi, kolom dan balok 2. Mutu beton fc = 25 untuk kolom praktis, sloof Pengecoran harus dilakukan dengan cara yang tidak mengakibatkan terjadinya segresi-segresi komponen adukkan beton dan harus sudah dicor paling lambat 30 menit sejak pencampuran dalam mixer, dengan tidak mengurangi ketentuan kualitas beton yang diisyaratkan. Harus digunakan vibrator untuk pemadatan beton. Untuk mengetahui bahwa beton telah sesuai dengan syarat, dibuat beberapa benda uji dari tiap m3 beton tersebut untuk dicek kadar air (uji slump) dan mutu atau kualitas beton itu sendiri dengan dicek di laboraturium yang ditunjuk bersama.

2.2.5 Pekerjaan Sambungan Pekerjaan sambungan harus dilakukan dengan teliti dan sesuai dengan kebutuhan. Pelaksanaan pekerjaan sambungan harus sesuai dengan ketentuan-

ketentuan tegangan yang telah ditetapkan.

2.2.6 Pekerjaan Batu Batu bata yang digunakan adalah batu bata merah yang mempunyai rusuk-rusuk tajam dan siku, bidang-bidang sisinya harus datar dan tidak retakretak. Pada pasangan digunakan adukan dengan perbandingan 1:4.

2.2.7 Beton Tumbuk Pekerjaan lantai dicor dengan adukan 1:2:3 dan disesuaikan dengan gambar rencana.

2.2.8 Pekerjaan Atap Gording terbuat dari canal kait dengan ukuran sesuai dengan gambar kerja. Penutup atap menggunakan seng gelombang.

2.2.9 Plesteran Semua dinding bagian luar dan dalam diplester dengan tebal 1,5 2 cm dengan adukan 1:4 untuk plesteran parit menggunakan adukan 1:4. 2.2.10 Pekerjaan Cat Semua tembok dicat dengan cat tembok minimal 2 kali. Semua profil, track stang, angker, baut, dan sebagainya dicat dengan cat meni terlebih dahulu kemudian baru dicat dengan cat besi. 2.3 Ukuran/Dimensi Konstruksi Gudang direncanakan dengan ukuran atau dimensi sebesar 36mx60m. Adapun detail ukuran tiap segmen bagian dari bangunan sebagai berikut: 2.3.1 Gording Type kuda-kuda kerangka baja single beam dengan data-data : bentang kuda-kuda . Jarak antar gording

= =

36,00 m 1,1 m

Jarak antar portal single beam Kemiringan kuda-kuda .. Gording dipakai baja Canal Berat penutup atap asbes ..........................

= = = = =

6,00 m 11 C 125.50.20.3,2 11,00 kg/m2 6,13 kg/m

Berat sendiri gording.......................................

2.3.2 Portal Portal Beban Mati Jarak antar kuda kuda = 6m Kemiringan Atap Beban Atap Asbes Profil WF 400.400.20.35 Weight H = 283 kg/m = 428 mm B = 407 mm tb = 20 mm tf = 35 mm r = 22 mm Ag = 360,7 cm2 Ix Iy ix iy = 119.000 cm4 = 39.400 cm4 = 18,2 cm = 10,2 cm = 11 = 11 kg/m2

Balok miring (L = 18,33 m) Profil WF 400.400.20.35 Weight = 283 kg/m H = 428 mm B = 407 mm

Pertemuan balok miring dengan kolom (L = 8 m) Profil WF 400.400.20.35 Weight= 283 kg/m H = 428 mm B = 407 mm Ikatan Angin Untuk ikatan angin digunakan Baja BJ. 37 2.4 Spesifikasi Bahan/Material

2.5 Peruntukan Gudang fungsi dari gudang itu sendiri, sebagai tempat menyimpan barang, material, dan alat-alat dalam jumlah besar.

Dalam perkembangannya gudang mengalami pergeseran fungsi, dahulu gudang dibangun hanya untuk menyimpan barang-barang milik sendiri. Tetapi
7

sekarang gudang sudah menjadi suatu aset, yang tidak hanya untuk keperluan pribadi, tetapi juga bisa untuk diperjual belikan ataupun disewakan kepada pihak yang membutuhkan. Operasi pergudangan berkembang pesat sejalan dengan munculnya teknik-teknik manajemen produksi tepat waktu dan respon cepat. Sistem produksi tepat waktu menjadikan operasi pergudangan seperti proses penerimaan barang, pencatatan dan proses pergudangan lainnya dilakukan seefektif dan seakurat mungkin. BAB III PENUTUP

dapat diambil beberapa kesimpulan, diantaranya : 1. prosedur pembangunan gudang dari pondasi sampai finishing dilengkapi dengan ukuran dan dimensi yang ada. 2. Jenis Metode konstruksi yang digunakan yaitu konstruksi konvensional. 3. Pembuatan gudang berasal dari baja dan dilengkapi dengan atap dengan type kuda-kuda rangka baja. 4. Gudang berfungsi sebagai tempat penyimpanan material.