Anda di halaman 1dari 7

HIGIENE PERUSAHAAN DAN KESEHATAN KERJA

Kesehatan kerja merupakan suatu kondisi yang bebas dari gangguan secara fisik dan psikis yang disebabkan oleh lingkungan kerja. Resiko kesehatan dapat terjadi karena adanya faktor-faktor dalam lingkungan kerja yang bekerja melebihi periode waktu yang ditentukan dan lingkungan yang menimbulkan stress atau gangguan fisik. Kesehatan kerja bertujuan untuk menciptakan kesehatan karyawan agar dapat bekerja secara aktif dan produktif. Ruang lingkup kesehatan kerja mencakup pengobatan preventif untuk menjaga kesehatan dan pengobatan atau

penyembuhan untuk meningkatkan kesehatan dan melindungi dari resiko akibat proses produksi yang dapat mempengaruhi pada produktivitas kerja. Sedangkan keselamatan kerja bertujuan untuk meningkatkan usaha-usaha keselamatan dan pencegahan kecelakaan kerja, penyakit kerja, cacat dan kematian.

1. Sejarah Higiene Perusahaan Kesehatan Kerja Higiene perusahaan dan kesehatan kerja ini mulai ada di Indonesia sejak adanya cara-cara kedokteran kuno dan pengobatan Indonesia asli sudah dipergunakan untuk menolong korban-korban peperangan, penyakit-penyakit dan kecelakaan yang diakibatkan adanya pekerjaan dalam bidang industri rakyat pada saat itu. Kemudian pada abad ke-17 Belanda datang ke Indonesia dengan pendaratan V.O.C di Jakarta.Dinas kesehatan yang diadakan oleh Belanda pada

permulaannya adalah Dinas Kesehatan Militer, yang kemudian beralih menjadi Dinas Sipil.Higene perusahan dan kesehatan Belanda ini ditujukan untuk memberikan kesehatan sekedarnya pada para pekerja Indonesia agar para pekerja Indonesia tersebut cukup sehat dan mampu untuk memproduksi bahan-bahan yang diperlukan oleh Belanda.Dan pada abad ke-20 dibuatlah undang-undang mengenai kebersihan, keselamatan serta kesehatan yang isinya sangat sederhana, karena disesuaikan dengan keprluan pada saat itu. Pada zaman Perang Dunia II sedang berlangsung Jepang sama sekali tidak memberikan dorongan atau pemikiran-pemikiran tentang higene perusahaan dan

kesehatan kerja.Setelah Indonesia merdeka higiene perusahaan dan kesehatan kerja dapat diwujudkan yaitu dimulai beberapa tahun sejak proklamasi

kemerdekaan dengan munculnya undang-undang kerja dan undang-undang kecelakaan yang kemudian dipraktekkan diperusahaan -perusahaan. Ditahun yang sama buku pertama tentang Ilmu Kesehatan Buruh diterbitkan. Pada tahun 1966 dengan reorganisasi Kabinet Ampera, Higiene Perusahaan dan Kesehatan kerja ini diresmikan yaitu dengan didirikannya Dinas Higiene Perusahan Sanitasi Umum dan Dinas Kesehatan Tenaga Kerja di Departemen Kesehatan dan Lembaga Higiene Perusahaan dan Kesehatan Kerja di Departemen Tenaga Kerja dan selain itu dibentuk pula Yayasan Higiene Perusahaan dan Kesehatan Kerja di Surabaya. Dan setahun kemudian pada tahun 1967 berdiri di Bandung, Badan Pembina dan konsultasi Higiene Perusahaan yang sekaligus juga merupakan suatu Badan Usaha serta didterbitkannya buku yang kedua dengan judul Ilmu Higiene Perusahaan dan Kesehatan Kerja. Pada tahun 1698 diterbitkannya majalah triwulanan Higiene Perusahaan, Kesehatan atau Keselamatan Kerja dan Jaminan Sosial.Pada tahun ini juga merupakan tahun pertama perintisan fungsi Lembaga Nasional Higiene Perusahaan dan Kesehatan Kerja kearah pendidikan, pelayanan, dan lain sebagainya.Para ahli dari WHO dan ILO pun mulai menjalin hubungan dengan Indonesia dalam lapangan kesehatan yang berintegrasi dengan produksi. Pada tahun 1969 banyak kegiatan-kegiatan yang dilakukan yaitu diantaranya: Diselenggarakannya seminar tentang Kesehatan dan Produktivitas Kerja di Jakarta dengan diikuti oleh 300 dokter, pengusaha, cendikiawan dan lain-lain. Seminar ini merumuskan secara jelas ruang lingkup dan tujuan dari Higiene Perusahaan dan Kesehatan Kerja dalam rangka pembangunan diIndonesia. Dimasukkannya suatu Proyek Pembinaan Higiene Perusahan dan Kesehatan Kerja dalam Pelita 1, untuk pertama kalinya diadakan latihan kepada 27 personil mengenai higene perusahaan dan kesehatan kerja Konvensi ILO nomor 120 tentang Higiene Perusahaan dan Kesehatan Kerja dikantor-kantor dan perniagaan. Disahkannya undang-undang tentang Poko-Pokok tenaga Kerja yang memuat pasal-pasal tentang Higiene Perusahan dan Kesehatan Kerja.

Pada tahun 1970 disahkannya Undang-undang tentang Keselamatan Kerja, Dan pada bulan Juli tahun 1971 didirikan Ikatan higiene Perusahan dan Kesehatan Kerja oleh Dr. Sumamur P.K., Dr. Sutidjo, Dr. Siddharta, Dr. Marwoto. Dan pada tahun ini pula di Jakarta untuk pertama kalinya dilakukan training terhadap 30 dokter perusahaan serta diangkatnya Dr. Sumamur P.K menjadi Presiden dari Ikatan higiene Perusahan dan Kesehatan Kerja Asia, dan ditunjuk sebagai sekertaris untuk komisi Negara berkembang dari komisi tetap Ikatan Inetrnasional Higiene Perusahaan dan Kesehatan Kerja. Seminar Nasional II Higiene Perusahaan dan Kesehatan Kerja serta Kongres ke-1 Ikatan Higiene Perusahaan, Kesehatan dan Keselamatn Kerja berlangsung di Jakarta pada tahun 1972 dengan tema Akselerasi Pertumbuhan Profesi dalam Higiene Perusahaan dan Kesehatan Kerja untuk Menunjang Modernisasi. Pada seminar ini juga ditetapkan program untuk 3 tahun Higiene Perusahaan dan Kesehatan Kerja dan dalam Kongres ditetapkan Anggaran dasar dan Anggaran Rumah Tangga Ikatan serta ditetapkan pula Dr. H. Ibnu Sutowo sebagai Ketua Kehormatan Ikatan dan di tahun 1972 ini pula Dr. Sumamur P.K diangkat menjadi anggota Pannel Advisory Expert, WHO. Geneva.Dan untuk tahun 1973 merupakan usaha pembinaan laboratorium Higiene Perusahaan dan Kesehatan Kerja di Jakarta, bandung, Medan dan Ujung Pandang.

2. Pengertian dan Dasar Hukum Higiene Perusahaan dan Kesehatan Kerja Higiene Perusahaan adalah spesialisasi dalam ilmu higiene beserta prakteknya yang mengadakan penilaian kepada faktor-faktor penyebab penyakit kualitatif dan kuantitatif dalam lingkungan kerja dan perusahaan melalui pengukuran. Hasil dari pengukuran ini dipergunakan sebagai dasar tindakan korektif kepada lingkungan tersebut serta bila perlu pemecahan, agar pekerja dan masyarakat sekitar perusahaan terhindar dari bahaya akibat kerja serta dimungkinkan mengecap derajat kesehatan setinggi-tingginya.Sasaran dari higiene perusahaan adalah lingkungan kerja dan higene perusahan juga bersifat teknik.

Kesehatan kerja adalah spesialis dalam ilmu kesehatan atau kedokteran beserta prakteknya yang bertujuan agar para pekerja atau masyarakat pekerja memperoleh derajat kesehataan setinggi-tingginya, baik fisik atau mental, maupun sosial dengan melakukan usaha preventif dan kuratif, terhadap penyakit-penyakit atau gangguan kesehatan yang diakibatkan faktor-faktor pekerjaan dan lingkungan kerja serta terhadap penyakit umum lainnya. Sasaran dari adanya kesehatan adalah manusia dan sifatnya medis. Higiene perusahaan dan kesehatan kerja sebagai suatu istilah yang memiliki satu kesatuan pengertian adalah terjemahan dari Occupational Health yang cenderung diartikan sebagai lapangan kesehatan yang mengurusi problematik kesehatan secara menyeluruh dari seorang tenaga kerja. Menyeluruh disini berarti melakukan usaha kuratif, preventif, penyesuaian faktor manusiawai terhadap pekerjaan, higene dan lain-lain. Menurut Undang-undang No.14 Tahun 1969 tentang ketentuan pokok mengenai Tenaga Kerja pasal 9 dan 10 Higiene perusahaan dan kesehatan kerja ini adalah lapangan kesehatan yang ditujukan kepada pemeliharaan dan mempertinggi derajat kesehatan tenaga kerja, dilakukan dengan pemberian pengobatan, perawatan tenaga kerja yang sakit, mengatur persediaan tempat, caracara dan syarat yang memenuhi norma-norma higiene perusahan dan kesehatan kerja untuk mencegah penyakit, baik sebagai akibat pekerjaan maupun penyakit umum serta menetapkan syarat-syarat kesehatan bagi perumahan tenaga kerja. Hakikat dari Higiene Perusahan dan Kesehatan Kerja adalah sebagai berikut: Sebagai alat untuk mencapai derajat kesehatan tenaga kerja yang setinggitingginya, baik itu buruh, petani, nelayan, pegawai negeri, atau pun pekerjapekerja bebas, dengan maksud untuk kesejahteraan tenaga kerja. Sebagai alat untuk meningkatkan produksi, yang berlandaskan kepada meningginya effisiensi dan daya produktivitas faktor manusia dalam produksi.

3. Tujuan Higiene Perusahaan dan Kesehatan Kerja Tujuan utama dari Higiene Perusahan dan Kesehatan Kerja ini adalah menciptakan tenaga kerja yang sehat dan produktif. Tujuan ini dapat tercapai jika ada suatu korelasi antara derajat kesehatan dengan produktivitas kerja atau perusahaan yang didasarkan pada kenyataan sebagai berikut: Untuk efisiensi kerja yang optimal, maka sebaiknya pekerjaan harus dilakukan dengan cara dan dalam lingkungan kerja yang memenuhi syarat-syarat kesehatan. Lingkungan kerja yang dimaksud yaitu tekanan panas, penerangan ditempat kerja, udara, sikap badan, penserasian manusia dan mesin, dan pengekonomisan upaya. Lingkungan kerja inipun perlu disesuaikan dengan tingkat kesehatan dan keadaan gizi tenaga kerja yang bersangkutan. Biaya kecelakan dan penyakit yang ditimbulkan akibat kerja, serta penyakit umum lainnya oleh karena pengaruh yang memburukan keadaan sangat mahal harganya dibandingkan dengan biaya untuk pencegahannya. Biaya kuratif yang mahal seperti itu meliputi pengobatan, perawatan, rehabilitasi, kerusakan mesin, peralatan dan bahan akibat kecelakan, terganggunya pekerjaan dan cacat. Kecelakaan Kecelakaan adalah kejadian yang tidak terduga dan tidak diharapkan. Tak terduga, oleh karena dibelakang itu tidak ada unsur kesengajaan, lebih-lebih dalam bentuk perencanaan. Maka dari itu, peristiwa sabotase atau tindakan kriminil diluar ruang lingkup kecelakaan yang sebenarnya. Tidak diharapkan, oleh karena peristiwa kecelakaan disertai kerugian material ataupun penderitaan dari yang paling ringan sampai kepada yang paling berat.

4. Sumber Bahaya Higiene Perusahaan dan Kesehatan Kerja Sebelum kita melakukan pencegahan terhadap keelakaan, tentulah kita terlebih dulu harus mengetuhi apa yang menjadi penyebab adanya kecelakan kerja. Upaya yang dilakukan untuk mengetahui sebab kecelakaan kerja disebut analisis kecelakaan kerja. Berapa pendapat mengenai faktor penyebab kecelakaan kerja adalah sebagai berikut;

Bennet Silalahi Menjelaskan bahwa penyebab kecelakan kerja adalah adanya gejala yaitu perbuatan atau kondisi tidak selamat. Dimana gejala tersebut berakar pada kebijakan manajemen jika ditelusuri, maka sebab musabab dapat ditemukan dan kemungkinan adanya kerusakan atau luka-luka dapat diramalkan atau analisis resiko (Risk Analisis) dapat dilakukan dengan baik secara skematik dapat digambarkan sebagai berikut Perilaku tidak aman menurut Silalahi disebabkan oleh tiga hal yaitu; 1. Tidak tahu tata cara kerja yang aman atau tidak tahu perilaku yang berbahaya 2. Tidak mampu memenuhi persyaratan kerja yang menyebabkan terjadinya kecelakaan 3. Tahu seluruh peraturan dan persyaratan kerja, namun tidak mau memenuhi atau mematuhinya. Perilaku ini kemungkian disebabkan oleh adanya persepsi resiko dan atau persepsi terhadap kualitas pelaksanaan program kesehatan keselamatan kerja yang kurang tepat, sehingga cenderung mengabaikan petunjuk kesehatan dan keselamatan kerja yang telah diberikan oleh pihak manajemen.

Suatu kecelakan kerja yang terjadi disuatu lokasi kerja terlebih dahulu diawali oleh beberapa kali kejadian nyaris kecelakaan kerja. Kecadian nyaris tersebut disebabkan oleh penyebab langsung (immediate causes) berupa banyaknya kondisi kerja yang tidak aman (unsafe condition) dan banyaknya perilaku karyawan yang tidak aman (unsafe act) dilokasi kerja tersebut (Tjondro.1999). Kondisi yang tidak aman meliputi kondisi lingkungan yang fisik tempat kerja berupa pengaturan sirkulasi udara, pengaturan penerangan, peralatan kerja dan pemakaian peralatan pengamanan kerja, sedangkan perilaku tidak aman meliputi; 1. Kondisi fisik karyawan yang kurang baik misalnya gangguan atau kerusakan alat indera dan stamina tubuh yang tidak stabil 2. Kondisi psikis karyawan berupa emosi yang tidak stabil, kepribadian rapuh, cara berpikir dan kemampuan persepsi kurang baik, motivasi kerja kurang,

sikap yang ceroboh atau kurang cermat serta kurang pengetahuan dalam menggunakan fasilitas kerja terutama yang membawa resiko. Bambang B. Hantoro Menerangkan bahwa umumnya penyebab kecelakaan kerja dapat dikelompokkan menjadi tiga golongan, yaitu; 1. Tindakan manusia dalam bekerja yang menimbulkan bahaya-bahaya kecelakan. Sifat manusia yang lalai, malas, lupa, khilaf dan sembrono dapat mendatangkan akibat yang patal. 2. Lingkungan, failitas dan peralatan kerja yang dapat menimbulkan bahaya kecelakaan. Kurangnya fasilitas, rusaknya peralatan atau tidak tersedianya peralatan, atau tidak tersedianya peralatan yang memadai diertai lingkungan yang tidak memenuhi syarat, sadar atau tidak sadar akan mengundang kecelakan. 3. Hal-hal yang tidak terjangkau oleh manusia pada saat itu. Hal tersebut dinamakan faktor x yang perlu pula diperhatikan.