Anda di halaman 1dari 6

MODEL HUMANIZING THE CLASSROOM DALAM PEMBELAJARAN Oleh : ABDUL KHOLIS, M.

Pd Guru Kimia SMAN 1 Wonoayu Sidoarjo Dalam proses pembelajaran, pendidik hendaknya memperlakukan peserta didiknya sesuai dengan kondisi dan karakteristiknya mereka masing-masing. Sementara itu, ruangan kelas berfungsi sebagai ruang pembelajaran, sehingga dimanapun pembelajaran dilaksanakan, baik di dalam , luar maupun dialam bebas, pembelajaran masih tetap berlangsung. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada pasal 3 yang menyebutkan fungsi pendidikan nasional adalah mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Agar tujuan pendidikan nasional seperti yang terdapat pada pasal 3 di atas terwujud, maka perlulah kita merenung dan berpikir untuk menerapkan paradigma pendidikan berdasarkan perkembangan manusia. Paradigma ini memandang tujuan pendidikan untuk mendukung, mendorong, dan memfasilitasi pertumbuhan peserta didik sebagai manusia seutuhnya, termasuk perkembangan kognitif, emosional,

sosial, etika, kreatif, dan spiritualnya. Tujuan sejati dari pendidikan seharusnya adalah pertumbuhan dan perkembangan diri peserta didik secara utuh sehingga mereka menjadi pribadi dewasa yang matang dan mapan, mampu menghadapi berbagai masalah dan konflik dalam kehidupan sehari-hari. Agar tujuan ini dapat tercapai maka diperlukan sistem pembelajaran dan pendidikan yang humanistik serta mengembangkan cara berpikir aktif-positif dan keterampilan yang memadai (income generating skills). Pendidikan dan pembelajaran yang bersifat aktif-positif dan berdasarkan pada minat dan kebutuhan peserta didik sangat penting untuk memperoleh kemajuan baik dalam bidang intelektual, emosi/perasaan (EQ), afeksi maupun keterampilan yang berguna untuk hidup praktis. Tujuan pendidikan pada hakikatnya adalah memanusiakan manusia muda (N. Driyarkara). Pendidikan adalah proses memanusiakan manusia dimana peserta didik bukan lagi sebagai objek dalam kegiatan pembelajaran, dimana peserta didik hanya menerima saja bukan pelaku (subjek) yang butuh akan pelayanan yang berbeda, butuh perhatian, butuh kebebasan untuk mengutarakan pendapat, butuh kebebasan untuk memilih. Anggapan yang salah dari sebagian pendidik inilah yang

menyebabkan motivasi belajar peserta didik menjadi surut, malas, bosan, dan sering

absen dalam pembelajaran .Seyogyanya pendidik harus menciptakan iklim belajar yang komunikatif, kondusif, harmonis. Suasana yang dapat diciptakan guru tersebut sedikit banyak akan menimbulkan kegairahan dan menjadi motivasi belajar bagi peserta didik dalam proses pembelajaran. Rogers ( dalam Dimyati dkk, 2002) memandang pencapaian hasil belajar peserta didik yang rendah kerapkali bukan disebabkan oleh pengetahuan dan penguasaan ilmu pengetahuan yang dimiliki pendidik yang rendah, tetapi masih banyak pendidik yang menitikberatkan praktek pembelajaran pada segi pengajaran yang ditandai dengan peran pendidik yang dominan dan peserta didik bersikap pasif menghafalkan pelajaran dan hanya menerima materi saja dari pendidik. Pendidikan hendaknya membantu peserta didik untuk bertumbuh dan berkembang menjadi pribadi-pribadi yang lebih bermanusiawi (semakin penuh sebagai manusia), berguna dan berpengaruh di dalam masyarakatnya, yang bertanggungjawab dan bersifat proaktif dan kooperatif. Masyarakat membutuhkan pribadi-pribadi yang handal dalam bidang akademis, keterampilan atau keahlian dan sekaligus memiliki watak atau keutamaan yang luhur. Singkatnya pribadi yang cerdas, berkeahlian, namun tetap humanis, maka sebaiknya pendidik menerapkan Humanizing Classroom dalam pembelajaran, karena dengan Humanizing Classroom pembelajaran akan lebih menarik , peserta didik lebih aktif, kreatif dan pembelajaran akan lebih efektif dan menyenangkan, karena peserta didik terlibat langsung dalam pembelajaran, peserta didik tidak diperlakukan sebagi obyek yang hanya menerima materi saja, tetapi lebih dari itu peserta didik dapat juga sebagai pelaku pembelajaran, hak-hak peserta didik selalui di hargai dan di perhatikan, kebebasan dalam memilih selalu ditegakkan, martabat sebagai makhluk ciptaan tuhan selalu dinomorsatukan, sehingga akan terjalin interaksi dua arah antara pendidik dan peserta didik. PENGERTIAN HUMANIZING THE CLASSROOM Humanizing the classroom berasal dari dua kata yaitu humanizing yang berarti memanusiakan dan the classroom yang berarti ruangan kelas. Jadi humanizing the classroom secara harfiah berarti memanusiakan ruangan kelas. Tetapi yang dimaksud disini adalah bahwa dalam proses pembelajaran, pendidik hendaknya memperlakukan peserta didiknya sesuai dengan kondisi dan karakteristiknya mereka masing-masing. Sementara itu, ruangan kelas berfungsi sebagai ruang pembelajaran, sehingga dimanapun pembelajaran dilaksanakan, baik di dalam , luar maupun dialam bebas, pembelajaran masih tetap berlangsung. Jadi dalam aplikasinya humanizing the classroom merupakan strategi pembelajaran yang diterapkan dengan pendekatan humanistik, kontekstual learning dan edutainment dimana peserta didik dapat belajar

dari lingkungan atau realitas kehidupannya serta menciptakan suasana belajar yang menyenangkan. Belajar merupakan proses perubahan tingkah laku individu yang tidak ditentukan, terjadi terus menerus dalam diri individu yang tidak ditentukan oleh faktor turunan atau genetik. Perubahan ini mungkin terjadi pada pengetahuan, keterampilan, sikap, kepribadian, pandangan hidup, persepsi, norma-norma, motivasi atau gabungan dari unsur-unsur itu, tentu saja perubahan itu terjadi sebagaimana dampak dan pengalaman yang diperoleh dalam situasi khusus, penyebab terjadinya perubahan itu mungkin dengan sengaja dan sistematis, mungkin meniru perbuatan orang lain, atau juga tanpa sengaja dirancang terlebih dahulu. CIRI MODEL PEMBELAJARAN HUMANIZING THE CLASSROOM John P miller menyatakan bahwa humanizing the classroom berfokus pada pengembangan model pendidikan afektif yang dalam kosakata Indonesia sering disebut dengan pendidikan kepribadian atau pendidikan nilai, Model ini dilatarbelakangi oleh kondisi sekolah yang otoriter, tidak manusiawi, sehingga banyak menyebabkan peserta didik putus asa. Humanizing of the classroom ini dicetuskan oleh John P. Miller dengan bertumpu pada dorongan peserta untuk : 1. Menyadari diri sebagai suatu proses pertumbuhan yang sedang dan akan terus berubah. 2. Mencari konsep dan identitas diri. 3. Memadukan kesadaran hati dan pikiran. Humanizing the classroom termasuk dalam model Edutainment yaitu model belajar dengan mendidik dan menghibur. Pada dasarnya Humanizing the classroom adalah proses membimbing, mengembangkan , dan mengarahkan potensi dasar

manusia, baik jasmani maupun rohani, secara seimbang dengan menghormati nilainilai humasnistis dengan segala kebebasannya sebagai manusia. Menurut Carl Roger, yang dimaksud dengan humanistis yaitu cara memandang manusia sebagai makhluk yang potensi untuk tumbuh dan

mengaktualisasikan diri serta memiliki martabat yang tinggi. Pembelajaran humanizing the classroom, merupakan model pendidikan yang berorientasi dan memandang manusia sebagai manusia, yakni makhluk ciptaan Tuhan dengan fitrahnya, manusia yang harus mampu melangsungkan, mempertahankan dan mengembangkan hidupnya jadi artinya dalam proses pembelajaran ini saling menghargai hak asasi manusia seperti hak untuk menyiarkan kebenaran hak untuk belajar sesuai dengan kemampuannya. Kebebasan adalah hak asasi manusia yang paling fundamental, kebebasan yang dimaksud disini ialah kebebasan berfikir berkehendak dan berbuat dengan kebebasan ini dunia memiliki dinamika daya

adaptasi terhadap lingkungan dan hidupnya menjadi bervariasi, beraneka ragam dan lebih bermakna. Hal ini yang menjadi salah satu alasan mengapa belajar dengan menggunakan model humanizing the classroom itu amat penting, karena ketika anak belajar dalam situasi dan kondisi yang menyenangkan maka bias belajar yang sebenarnya belajar.
PELAKSANAAN THECLASSROOM. PEMBELAJARAN DENGAN MODEL HUMANIZING

Saat pembelajaran dengan model ini berlangsung, kegiatan dilakukan untuk mengisi otak dengan berbagai pengetahuan yang bersifat kognitif dan mengisi hati agar dapat memperkuat potensi keimanan dan memberi kebebasan kepada peserta didik untuk mandiri. Dengan model Humanizing the classroom ini, akan memberi kesempatan pada peserta didik untuk dapat memanipulasi, mengulang-ulang, menemukan sendiri, bereksplorasi diri, mempraktekkan dan mendapatkan bermacammacam konsep . Disinilah proses pembelajaran berlangsung, Mereka mengambil keputusan, memilih, menentukan, menciptakan pendapat, memecahkan masalah, mengerjakan secara tuntas, bekerja sama dengan teman dan mengalami berbagai macam perasaan dengan bebas. Tujuan pembelajaran lebih kepada proses belajarnya daripada hasil belajar. Adapun proses yang umumnya dilalui adalah : a. Merumuskan tujuan belajar yang jelas b. Mengusahakan partisipasi aktif peserta didik melalui kontrak belajar yang bersifat jelas , jujur dan positif. c. Mendorong peserta didik untuk mengembangkan kesanggupan peserta didik

untuk belajar atas inisiatif sendiri d. Mendorong peserta didik untuk peka berpikir kritis, memaknai proses pembelajaran secara mandiri e. Peserta didik di dorong untuk bebas mengemukakan pendapat, memilih pilihannya sendiri, melakukkan apa yang diinginkan dan menanggung resiko dariperilaku yang ditunjukkan. f. Guru menerima peserta didik apa adanya, berusaha memahami jalan pikiran

peserta didik, tidak menilai secara normatif tetapi mendorong peserta didik untuk bertanggungjawab atas segala resiko perbuatan atau proses belajarnya. g. Memberikan kesempatan peserta didik untuk maju sesuai dengan kecepatannya h. Evaluasi diberikan secara individual berdasarkan perolehan prestasi belajarnya.

KEKURANGAN CLASSROOM

DAN

KELEBIHAN

MODEL

HUMANIZING

THE

Kelebihan Model Humanizing The Classroom 1. Peserta didik akan lebih giat lagi belajar dan bekerja bila harga dirinya dikembangkan sepenuhnya. 2. Peserta didik yang diikutsertakan dalam perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran akan merasa bertanggung jawab atas keberhasilannya. 3. Hasil belajar akan meningkatkan dalam suasana belajar yang diliputi oleh rasa saling mempercayai, saling membantu dan bebas dari ketegangan yang berlebihan. 4. Pendidik yang berperan sebagai fasilitator belajar selalu memberi tanggung jawab kepada peserta didik atas kegiatan belajarnya Kekurangan Model Humanizing The Classroom 1. Peserta didik kurang mengenal diri dan potensi potensi yang ada pada diri mereka 2. Peserta didik kurang mampu memahami perilaku mereka sendiri, mereka menganggap apa yang mereka lakukan sudah paling baik. 3. Lebih bersifat abstrak,hanya mempertimbangkan apakah dan bagaimana ide-ide berhubungan dengan pengalaman peserta didik, tetapi tidak berdasarkan bagaimana makna perilaku ini berasal. 4. Bila perilaku peserta didik dibiarkan bebas, tanpa ada kontrol , dikawatirkan peserta didik yang nakal akan semakin parah kenakalannya.

BODATA PENULIS

NAMA PEKERJAAN INSTANSI ALAMAT KODE POS NO HP

: : : : : :

ABDUL KHOLIS, M.Pd GURU KIMIA SMA NEGERI 1 WONOAYU JL. PAGERNGUMBUK WONOAYU SIDOARJO 61261 082332907606