Anda di halaman 1dari 7

Diuretik akan mengurangi kongesti pulmonal dan edema perifer.

Obat-obat iniberguna mengurangi gejala volume berlebihan, termasuk ortopnea dan dispnea nokturalparoksimal. Diuretik menurunkan volume plasma dan selanjutnya menurunkan preload jantung. Ini mengurangi beban kerja jantung dan kebutuhan oksigen. Diuretik jugamenurunkan afterload dengan mengurangi volume plasma sehingga menurunkan tekanandarah. Obat-obat yang termasuk golongan ini adalah diuretik tiazid dan loop

Pada seseorang dengan CAD artery coronary tidak dapat berdilatasi untuk memenuhi meningkatnya kebutuhan metabolic karena sudah terjadi dilatasi kronik pada area yang tersumbat. Tersumbatnya aliran darah tersebut dikarenakan meningkatnya plaq sehingga membatasi aliran darah di coronary dan menyebabkabn iskemik terutama saat olah raga. Plaqplaq ini dapat menyebabkan luka dan rusaknya coronary artery, dan jika luka ini terjadi dapat menyebabkan permukaan dinding pembuluh darah membuat adhesi platelet dan pembentukan thrombus. Hal ini lah yang tiba-tiba dapat memutuskan aliran darah ke otot jantung sehingga menyebabkan iskemik pada miokardial, dan jika ada penyumbatan di pembuluh darah tidak dapat kembali ddengan cep[at sehingga dapat menyebabkan infark.

Diuretik digunakan untuk menurunkan preload dan volume ventrikel kiri. Furosemide merupakan penurun preload yang baik. Peningkatan ekskresi air dengan mempengaruhi sistem ko-transport chloride-binding, yang menghambat reabsorbsi kalium dan klorida pada loop Henle dan tubule renal bagian distal.

Dalam terapi sangat penting untuk mencegah kadar kalium rendah dengan cara menambahkan suplemen. Gangguan elektrolit tersebut dapat membuat pasien rentan terhadap gangguan irama jantung yang serius.

Yang digunakan furosemid 40-80 mg.Dosis penunjang rata-rata 20 mg.Efek samping berupa hipokalemia dapat diatasi dengan suplai garam kalium atau diganti dengan spironolakton

enyakit Addison adalah kelainan yang terjadi akibat kelenjar adrenal yang tidak dapat mengasilkan hormon-hormon dalam jumlah yang cukup.

Kekurangan aldosteron menyebabkan tubuh mengeluarkan natrium yang banyak dan menahan kalium. Hal ini menyebabkan kadar natrium yang rendah dan kadar kalium yang tinggi di darah. Hal ini membuat penderita kencing secara berlebihan dan dapat terjadi dehidrasi. Dehidrasi hebat dan kadar sodium yang rendah juga dapat menyebabkan penurunan volume darah dan bisa menyebabakn shock.

Kekurangan kortisol menyebabkan peningkatan sensitifitas terhadap insulin sehingga terjadi penurunan kadar gula darah (hypoglycemia). Selain itu, kekurangan kortisol juga mengganggu metabolisme karbohidrat dari protein, proses melawan infeksi dan mengontrol radang. Otot menjadi lemah, demikian juga dengan otot jantung sehingga tidak dapat memompakan darah secara memadai, dan dapat terjadi penurunan tekanan darah.

PENYEBAB

Penyakit addison terjadi akibat kerusakan pada bagian korteks dari kelenjar adrenal. Kerusakan ini menyebabkan gangguan dalam memproduksi hormon-hormon di bagian korteks adrenal.

Kelenjar adrenal terdiri dari dua bagian, yaitu bagian korteks (luar) dan medulla (dalam). Bagian luar dari kelenjar adrenal (korteks) terdiri dari tiga zona, yaitu :

Zona glomerulosa, yaitu lapisan terluar dari kelenjar adrenal. Pada lapisan ini terdapat sel-sel yang menghasilkan hormon mineralokortikoid (terutama aldosteron) yang berfungsi untuk menjaga tekanan darah dan keseimbangan cairan serta elektrolit di dalam tubuh dengan membantu ginjal menahan natrium dan melepas kalium. Ketika produksi aldosteron terlalu rendah, ginjal tidak dapat mengatur keseimbangan cairan dan elektrolit, sehingga akan terjadi penurunan volume darah dan juga tekanan darah.

Zona fasikulata, yaitu bagian terbesar dari korteks adrenal. Pada lapisan ini terdapat sel-sel yang menghasilkan glukokortikoid (hormon kortisol) yang mempengaruhi hampir

seluruh organ dan jaringan tubuh. Hormon kortisol penting untuk membantu tubuh mengatasi stress dan berperan untuk menjaga tekanan darah, fungsi jantung-pembuluh darah, memperlambat respon sistem imun untuk peradangan, menjaga kadar gula darah, dan mengatur metabolisme karbohidrat, protein, dan lemak.

Zona retikularis, yang menghasilkan hormon androgen.

Kerusakan korteks adrenal ini dapat disebabkan oleh :

Penyakit autoimun, dimana sistem imunitas tubuh menyerang kelenjar adrenal Infeksi, seperti tuberkulosis, HIV, atau infeksi jamur Perdarahan / kehilangan sejumlah besar darah Tumor Penggunaan obat pengencer darah (obat antikoagulan)

Kerusakan korteks adrenal terjadi secara perlahan-lahan. Sekitar 80% penyakit Addison disebabkan oleh kelainan autoimun. Insufisiensi adrenal terjadi ketika kerusakan sudah mengenai minimal 90% korteks adrenal. Hal ini mengakibatkan, penurunan produksi kortisol dan aldosteron. Terkadang kelainan autoimun ini hanya mengenai kelenjar adrenal saja, namun pada kasus lain, kelainan autoimun ini juga mengenai kelenjar-kelenjar endokrin lain, sehingga terjadi sindroma defisiensi poliendokrin.

Selain itu, pada orang yang mendapat terapi kortikosteroid dalam dosis besar dan lama, misalnya prednison, fungsi kelenjar adrenalin bisa tertekan. Tekanan ini terjadi karena adanya kortikosteroid dalam jumlah besar yang mencegah kelenjar hipothalamus dan hipofise menghasilkan hormon yang merangsang fungsi adrenal. Jika orang tersebut berhenti mengkonsumsi kortikosteroid secara tiba-tiba, maka tubuh tidak bisa memulihkan fungsi adrenal dengan cepat sehingga dapat terjadi kekurangan hormon adrenal (kondisi mirip penyakit Addison). Oleh karena itu, jika seseorang telah mengkonsumsi kortikosteroid lebih dari 2 atau 3 minggu, untuk penghentian obat dilakukan secara perlahan-lahan, yaitu

dengan mengurangi dosis kortikosteroid secara bertahap selama beberapa minggu atau kadang-kadang beberapa bulan.

GEJALA

Sesudah penyakit Addison terjadi, penderita biasanya merasa lemah, lelah, dan pusing terutama jika berdiri sesudah duduk atau berbaring. Gejala penyakit Addison mungkin berkembang secara perlahanlahan dan tak kentara biasanya dalam waktu beberapa bulan, meliputi :

Kelelahan dan lemas pada otot Penurunan nafsu makan dan berat badan Kulit menjadi lebih gelap (hiperpigmentasi) Penurunan tekanan darah, bahkan pingsan Rasa ingin makan makanan asin Hipoglikemia (gula darah yang rendah) Mual, muntah, atau diare Nyeri pada sendi atau otot Depresi Rontoknya rambut tubuh atau gangguan seksual pada wanita

Gejala penyakit Addison kadang dapat terjadi secara tiba-tiba dan berat. Kondisi ini disebut krisis Addisonian atau insufisiensi adrenal akut. Krisis adrenal biasanya terjadi jika tubuh mengalami stress berat, seperti pembedahan, cedera berat, atau infeksi hebat. Gejala-gejala yang dapat ditemukan pada krisis Addisonian meliputi : rasa nyeri menusuk pada punggung bagian bawah, perut, atau kaki yang tibatiba, muntah-muntah dan diare hebat, dehidrasi, tekanan darah yang rendah, kadar kalium yang tinggi (hiperkalemia), dan hilangnya kesadaran. Jika krisis Addisonian tidak ditangani, maka dapat berakibat fatal.

Pada penyakit Addison, kelenjar hipofise menghasilkan lebih banyak kortikotropin sebagai usaha untuk merangsang pembentukan hormon-hormon oleh kelenjar adrenal. Namun kortikotropin juga merangsang

produksi melanin, sehingga pada kulit dan mukosa penderita sering terbentuk pigmentasi yang gelap (hiperpigmentasi). Kulit yang lebih gelap mungkin nampak seperti akibat sinar matahari, tetapi terdapat pada area yang tidak merata. Hiperpigmentasi paling jelas terlihat pada jaringan parut kulit, lipatanlipatan kulit, tempat-tempat yang sering mendapat penekanan, seperti siku, lutut, ibu jari, bibir, dan membran mukosa.

DIAGNOSA

Karena perjalanan penyakit yang lambat, pada awalnya penyakit Addison bisa sulit untuk terdiagnosa. Biasanya adanya stress berat seperti pembedahan, infeksi berat, atau cedera, menyebabkan gejalagejala lebih nyata dan dapat menyebabkan terjadinya krisis Addisonian.

Selain dari riwayat medis dan gejala klinis, pemeriksaan laboratorium diperlukan untuk mengkonfirmasi adanya insufisiensi adrenal. Pada penyakit Addison, pemeriksaan darah dapat ditemukan kadar natrium yang rendah, glukosa darah yang rendah, kalium yang tinggi, kortisol yang rendah, dan kortikotropin yang mungkin tinggi. Selain itu biasanya juga ditemukan ginjal yang tidak berfungsi dengan baik.

Pemeriksaan Stimulasi ACTH

Pemeriksaan ini adalah tes yang paling sering dilakukan untuk mendiagnosa insufisiensi adrenal. Pemeriksaan ini akan mengukur kadar kortisol di dalam air kemih dan darah sebelum dan sesudah diberikan ACTH sintetik melalui suntikan. Normalnya, setelah mendapat suntikan ACTH, kadar kortisol di dalam air kemih dan darah akan meningkat. Tetapi pada penyakit Addison atau insufisiensi adrenal sekunder jangka panjang, kadar kortisol tidak atau hanya sedikit meningkat.

Pemeriksaan Stimulasi CRH

Jika pemeriksaan stimulasi ACTH memberikan hasil yang abnormal, maka pemeriksaan stimulasi CRH dapat dilakukan untuk membantu menentukan penyebab insufisiensi adrenal. Pada penyakit Addison, dengan pemberian CRH sintetik akan menghasilkan ACTH yang tinggi tetapi tanpa kortisol.

Jika diagnosis penyakit Addison telah dibuat, maka dapat dilakukan pemeriksaan radiologi seperti x-ray atau ultrasonografi perut, untuk melihat apakah terdapat tanda-tanda penumpukan kalsium pada kelenjar adrenal. Penumpukan kalsium dapat mengindikasikan adanya perdarahan pada kelenjar adrenal atau TB. Selain itu pemeriksaan darah dapat digunakan untuk mendeteksi antibodi yang berkaitan dengan penyakit Addison karena autoimun.

PENGOBATAN Pengobatan untuk penyakit Addison adalah dengan memberikan terapi pengganti hormon untuk memperbaiki kadar hormon yang tidak diproduksi oleh kelenjar adrenal. Terapi pengganti hormon yang diberikan adalah :

Kortikosteroid

Hydrocortisone atau prednison dapat diberikan untuk menggantikan kadar kortisol yang rendah. Fludrocortisone dapat diberikan untuk mengganti aldosteron. Biasanya, pengobatan dimulai dengan pemberian hydrocortisone atau prednison secara per oral (melalui mulut). Tetapi, orang yang sakitnya parah perlu diberikan pengobatan melalui suntikan pada awalnya kemudian dapat lanjutkan secara per oral. Karena tubuh biasanya menghasilkan kortisol paling banyak pada pagi hari,

hydrocortisone sebaiknya diberikan dalam dosis terbagi, dengan dosis paling besar di pagi hari. Hydrocortisone harus diminum setiap hari sepanjang hidup penderita. Dosis hydrocortisone yang lebih besar diperlukan jika mengalami kondisi stress, misalnya sakit berat atau pembedahan, dan mungkin perlu untuk diberikan melalui injeksi jika penderita sampai mengalami diare hebat atau muntah. Sebagian penderita juga perlu mendapat Fludrocortisone setiap hari untuk menjaga kadar natrium dan kalium tubuh.

Terapi pengganti androgen testosterone tambahan bagi pria biasanya tidak diperlukan. Pada laki-laki, kekurangan hormon masih dapat diatasi dengan testosterone yang dibuat dari testes. Terapi pengganti dengan

dehydroepiandrosterone (DHEA) dapat diberikan untuk wanita, (sumber : www.medicastore.com).

Anda mungkin juga menyukai