Anda di halaman 1dari 41

Altar-altar Cahaya (Hayakal-un-Nur)

Oleh: Suhrawardi

000-0 Daftar Isi


000-1 Sepatah kata Bagi Pembaca
000-2 Pengantar: Filsafat Mistik Versus Filsafat Tasawuf
000-3 Mengenal Suhrawadi
000-4 Pendahuluan
001 Bentuk Pertama Cahaya: Materi yang Tercerahkan
002 Bentuk Kedua Cahaya: Memiliki Tiga Bagian:
Bagian Pertama
Bagian Kedua
Bagian Ketiga
003 Bentuk Ketiga Cahaya: Beberapa Persoalan yang Perlu Dicermati
004 Bentuk Keempat Cahaya: Ada Lima Bagian:
Bagian Pertama
Bagian Kedua: Menetapkan Bentuk Cahaya
Bagian Ketiga
Bagian Akhir dari Bagian Ketiga dan Permulaan Bagian Keempat
Bagian Kelima
005 Bentuk Kelima Cahaya:
Bagian Pertama
Akhir Bentuk Kelima Cahaya
006 Bentuk Keenam Cahaya
007 Bentuk Ketujuh Cahaya: Tentang Kenabian
008 Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
009 Epilog: Fabel Sufi tentang Kota-kota Jiwa.
010 Catatan Kaki

Sepatah Kata Bagi Pembaca

Sahabatku, hatimu adalah cermin yang kotor. Engkau harus membersihkannya dari
tabir debu yang menutupinya. Hati ditakdirkan untuk memantulkan cahaya-cahaya
rahasia Ilahi. Ketika cahaya dari:

Allah (Yang) adalah Cahaya langit dan bumi.

mulai menyinari bagian-bagian hatimu, pelita hati akan menyala. Pelita hati itu

di dalam kaca
dan kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya)

Kemudian di dalam hati itu, kilat penyingkapan Ilahi akan memancar. Kilat ini
berasal dari awan-guntur dari makna

yang dinyalakan dengan minyak dari pohon


yang banyak berkahnya,
(yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di
timur dan tidak pula di barat,

dan pancaran cahaya terhadap pohon pengungkapan itu begitu murni, begitu nyata
sehingga ia

menerangi, walaupun tidak disentuh api.


(Q.S. an-Nūr 24:35)

Kemudian pelita pengetahuan menyala dengan sendirinya. Bagaimana ia tetap padam


ketika cahaya rahasia Ilahi menyinarinya? Jika hanya cahaya rahasia Ilahi yang
menyinarinya, langit malam rahasia akan menyala dengan ribuan bintang

Dan dengan bintang-bintang (engkau)


menemukan jalan (mu).
(Q.S. an-Nahl 16:16)

Bukanlah bintang-bintang yang menunjuki kita, tetapi cahaya Ilalhi. Sebab Allah
telah

menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang.


(Q.S. al-Mulk 67:6)

Jika hanya pelita rahasia yang menyala di dalam batin anda, sisanya akan datang
secara sekaligus atau perlahan-lahan. Sebagiannya telah anda ketahui, sebagian
lagi akan kami paparkan kepada anda. Bacalah, dengarkan, dan cobalah pahami.
Gelapnya awan-kelalaian akan diterangi oleh kehadiran Ilahi, kedamaian, dan
keindahan bulan purnama yang akan terbit dari ufuk pancaran

Cahaya di atas Cahaya


(Q.S. an-Nūr 24:35)

yang selalu terbit di angkasa, melalui garis edar seperti yang Allah

tetapkan, hingga ia
(Q.S. Yāsīn 36:39)

Bersinar dalam keagungan di pusar angkasa, menyinari gelapnya kelalaian

Dan demi malam apabila ia telah sunyi


(Q.S. adh-Dhuhā 93:2)

Demi waktu matahari sepenggalan naik


(Q.S. adh-Dhuhā 93:1)

malam kelalaian anda akan menyaksikan terangnya


Sinar surya. Kemudian anda akan menghirup harum
mengingat Allah dan
memohon ampun di waktu sahur.
(Q.S. Ali Imran 3:17)

Kelalaian, dan menyesali masa hidup yang anda habiskan dalam tidur. Anda akan
mendengar nyanyian malam menjelang pagi, dan anda akan mendengarnya berkata,

“Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam, dan di


akhir-akhir malam mereka memohon ampunan.”
(Q.S. adz-Dzāriyāt 51: 17-18)

Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia


kehendaki.
(Q.S. an-Nūr 24:35)

Kemudian melalui ufuk Akal Ilahi anda akan menyaksikan terbitnya matahari
pengetahuan batin. Itulah matahari pribadi anda, karena anda adalah orang

yang dibimbing Allah, lagi berada di jalan yang lurus,

Dan bukan
orang-orang yang merugi
(Q.S. al-A‘rāf 7:178)

Dan anda akan memahami rahasia bahwa

Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan


dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Dan
masing-masing beredar pada garis edarnya.
(Q.S. Yasin 36:40)

Akhirnya, tali itu akan diuraikan sesuai dengan

Dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi


manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.
(Q.S. an-Nūr 24:35)

Tabir akan tersingkap dan tameng akan hancur, yang menunjukkan yang halus dari
yang kasar; kebenaran akan menyingkapkan wajahnya. Semua ini akan bermula ketika
cermin hati anda dibersihkan. Cahaya rahasia Ilahi akan terpancar ke dalamnya jika
anda berharap dan memohon kepada-Nya, dari-Nya, dengan-Nya.

DARI SURAT HADRAT ‘ABD-UL-QADIR AL-JILĀNI.

Pengantar
Filsafat Mistik Versus Filsafat Tasawuf

Untuk menjelaskan inti pandangan Suhrawardi dalam karya ini, perlu diuraikan
perbedaan antara dua pendekatan yang – meski dalam beberapa hal memiliki kemiripan
– sama sekali berbeda: satu dikenal luas sebagai filsafat mistik, satu lagi di
sebut filsafat tasawuf.

Filsafat mistik adalah sistem pemikiran yang didasarkan atas teori perolehan
pengetahuan melalui ilham dan wahyu, dan digunakan untuk menjelajahi misteri. Di
dunia Islam pada masa Suhrawardi, bentuk filsafat ini disebut isyraqiyyah
(filsafat iluminasi: secara harfiah, iluminasi melalui cahaya murni tanpa materi,
dari Timur (syarq) jiwa).

Arti isyraqiyyah adalah metafisika cahaya. Meski perhatian kepada cahaya sebagai
lawan kata dari kegelapan telah menjadi dasar bagi banyak filsafat dan agama lain,
khususnya Zoroasterianisme, yang sangat ditentang oleh para filsuf isyraqi, para
filsuf mistik yang berhaluan mazhab isyraqiyyah sama sekali tidak melepaskan diri
dari ortodoksi Islam (syari‘ah). Sebaliknya, mereka menyelaraskan ortodoksi dengan
filsafat mereka, dan menggabungkan keduanya. Mereka berusaha menjelaskan filsafat
mereka dengan Islam dan Islam dengan filsafat mereka. Isyraqiyyah menjadikan al-
Qur’an sebagai saksinya:
Allah Pelindung orang-orang yang beriman:
Dari relung kegelapan
Dibawa-Nya mereka menuju cahaya
Setan adalah pelindung
Orang-orang kafir.
Dari cahaya dibawanya mereka
ke dalam relung kegelapan
mereka akan menjadi sahabat di neraka,
mereka kekal di dalamnya.
(al-Baqarah 2: 257)
Sesungguhnya telah datang kepadamu dari Allah
Cahaya (baru) dan kitab yang menerangkan,
Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-
orang yang mengikuti
Keridaan-Nya ke jalan keselamatan
Dan mengeluarkan mereka dari gelap gulita,
dengan seizin-Nya,
Kepada cahaya yang terang benderang
Dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.
(al-Ma’idah 5: 15-16)

Dengan menggalungkan ajaran al-Qur’an dengan pengaruh karya-karya filsuf Yunani


yang baru ditemukan kembali dan diterjemahkan yang berpuncak pada Plato, banyak
filsuf Muslim yang dikenal di Barat – misalnya, Ibn Sina, Halabi dan bahkan al-
Farabi – mengikuti filsafat intuisi visioner.

Filsafat isyraqi mistik bukan satu-satunya bentuk filsafat yang dikenal di dunia
Islam. Tren lain yang disebut masysyiyyah (Peripatetisme), di bawah pengaruh
filsafat rasionalistis Aristoteles, sebelumnya telah disadur oleh Ibn Rusyd
(Averoes). Ibn Thufayl, Ibn Bajjah, dan sebagainya di Spanyol Islam.
Aristotelianisme Ibn Rusyd yang Islami ini diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dan
mempunyai pengaruh yang besar terhadap pengikut Agustinus dan memberi jalan bagi
rasionalisme dan naturalisme era Renaisans.

Ajaran Suhrawardi telah menggantikan pengaruh langsung yang lebih awal dari
rasionalisme Aritotelian dan intuivisme Platonik. Suhrawardi tokoh yang menempuh
jalan sufi dan menekuni praktek spiritual, penyendirian dan perenungan, juga
dipandang sebagai juru bicara utama ajaran isyraqiyyah. Tetapi, dia bukanlah
seorang filsuf mistik dalam arti biasa, melainkan seorang filsuf tasawuf. Para
filsuf sufi, seperti halnya yang lain, merenungkan nilai pemikiran, sumber
kebenaran abadi bagi manusia. Tetapi, dalam tasawuf, pencarian itu ditempuh secara
aktif dan bukan secara intelektual. Aktivitas ini mencakup beberapa bentuk.

Pertama, mencakup semua aspek kehidupan, adalah upaya untuk melaksanakan ibadah,
kaidah-kaidah moral, kesadaran dan mawas diri terhadap setiap hal dalam kehidupan
sehari-hari. Bentuk ini menuntut sikap waspada yang terus-menerus dan upaya untuk
memperbaiki diri. Pencarian spiritual yang aktif semacam itu menghasilkan
akumulasi pengalaman dan pengetahuan yang menyatu melalui pengalaman kesadaran
personal ini. Pengetahuan yang dihasilkannya disebut ma‘rifah, pengetahuan batin,
filsafat wujud, dan perbuatan yang kedap pengaruh filsafat lain dalam kaitan
dengan sifat subjektifnya.

Atau sufi itu dapat menjalankan khalwat, penyendirian. Dengan mengasingkan diri
dari dunia, dia merenungkan Allah, manusia, penciptaan, dan tiba pada sebuah
kesimpulan. Hasil dari pengalaman meditatif ini tidak mungkin berhubungan dengan
mazhab pemikiran yang mana pun.

Atau melalui asketisme yang saleh, salat, perjuangan yang sungguh-sungguh dan
berpuasa (mortification of his flesh), sufi menerima ilham dan menyaksikan
fenomena yang tak dapat dilihat oleh orang lain. Ini juga merupakan pengetahuan
yang tidak tercakup dalam kategori filsafat yang lain.

Dengan demikian, ada dua aspek tasawuf: pengetahuan dan amal. Ibadah, kepatuhan
kepada Allah, rasa takut dan cinta kepada Allah, menjauhkan diri dari apa yang
dilarang, dan adab (sikap dan moralitas yang terpuji) semuanya berada dalam ranah
amal. Inilah titik tolak tasawuf. Pengetahuan spiritual, hikmah, ilham,
penyingkapan makna batin dan rahasia ketuhanan, dan akhirnya Kebenaran (Hakikat),
berada dalam ranah pengetahuan. Inilah tujuan tasawuf.
Dengan kesalehan, zuhud, dan perenungan, sufi ingin membersihkan dan mencapai
keteraturan batin. Hal ini kemudahan membawa jiwanya menuju sifat hikmah yang
dicita-citakan. Kesalehan, zuhud, dan perilaku sempurna adalah alat; pengetahuan
yang menjadi hasilnya. Pengetahuan ini tidak dapat dicapai melalui perenungan
maupun penalaran. Ia hanya diberikan sebagai karunia Allah melalui wahyu. Tak
mungkin ada tasawuf yang bersandar kepada pengetahuan tanpa amal. Juga tak ada
kehidupan saleh dan zuhud yang tak mencapai hikmah, yang menjadi tasawuf.

Pengetahuan mengenai hal ini – yang dicapai melalui kesemua metode itu- jika
dikemukakan dalam istilah terbuka dapat disebut sebagai filsafat-tasawuf. Hakikat
pengetahuan ini memberikan kepada filsafat ini sebuah status yang lain daripada
yang lain. Banyak wali dan tokoh sufi semacam Sulami, Qusyairi, Kalabadzi, ‘Abd-
ul-Qadir al-Jilani, Junaid al-Baghdadi dan Mawlana Jalal-ud-Din Rumi (semoga Allah
menyucikan jiwa mereka) dalam kehidupan mereka, dalam ajaran dan tulisan mereka,
telah menunjukkan dan menekankan filsafat ini yang diwujudkan dalam pengalaman
mereka masing-masing. Pada apa yang mereka nyatakan, para wali ini meriwayatkan
pengalaman spiritual mereka sendiri dan menjelaskan, atas dasar keluhuran
pemahaman, teologi ortodoks Islam tentang kitab suci, dogma, ajaran, dan hukum.

Pada era Suhrawardi, tampaknya ada empat jalan utama menuju pengetahuan spiritual,
kebenaran Ilahi, dan keselamatan diri. Ketika ranah perenungan intelektual memuat
filsafat visioner isyraqiyyah dan argumen rasionalis masysyiyyah, maka ranah
penafsiran kitab suci mencakup aplikasi intuitif kaum sufi dan penalaran logis
skolastisisme yang dikenal sebagai kalām. Menurut kategorisasi ini, orang yang
mengikuti penafsiran kalām sangat bersandar kepada dogma yang sama dengan kaum
sufi dan juga menganut rasionalisme para filsuf Aritotelian, masysyiyyah.
Sebagaimana telah disebutkan, kaum sufi, seperti halnya kaum skolastik kalām yang
bergantung pada kitab suci, mempunyai metode intuisi tersendiri, tak ubahnya para
filsuf Platonik dari mazhab isyraqiyyah.

Tradisi membagi hal-hal yang bersifat spiritual ke dalam dua macam kategori: ahl-
un-nazhar, kaum spekulatif, dan ahl-ur-riyādhah, para praktisi pengalaman
spiritual. Kaum spekulatif, jika mereka memberikan otoritas akhir kepada hukum
Islam, maka mereka termasuk penganut kalām. Jika tidak, mereka adalah para filsuf
masysyiyyah. Para praktisi pengalaman spiritual, jika mereka disebut sebagai kamu
sufi; jika tidak, mereka adalah para filsuf isyraqiyyah.

Pada praktiknya, pembagian kategoris ini tidaklah terlalu kaku (rigid).


Masysyiyyah Aritotelian, yang menyatakan bahwa akal murni mampu memecahkan
persoalan dan menjawab semua pertanyaan, dan isyraqiyyah Platonik, yang didasarkan
atas pemikiran bahwa segala sesuatu dapat dijelaskan dan dievaluasi oleh cita-cita
seseorang, secara filosofis sama-sama bersifat independen dari dogma agama. Peran
yang benar-benar dimainkan oleh ajaran yang disampaikan pada keduanya berbeda-beda
di kalangan para filsuf. Demikian pula, tingkatan rasionalisme dalam kalām dan
tingkatan intuisionisme dalam tasawuf – keduanya sama-sama bergantung pada
kepribadian sang guru. Misalnya, Fakhr-ur-Razi memberikan otoritas yang lebih
besar kepada daya akal daripada yang diberikan oleh ‘Abduh al-Ma‘ali; di kalangan
kaum sufi, Syekh Mawlana Jalal-ud-Din Rumi dan terekat Mawlawiyyah tidak terlalu
ketat bersandar kepada prinsip doktrinal dibandingkan dengan Baha’-ud-Din
Naqsyabandi dan tarekat Naqsyabandiyyah. Dengan demikian, tidak selamanya terdapat
batasan yang pasti antara skolastisisme kalām dan rasionalisme masysyiyyah, atau
antara intuisionisme filsafat isyraqiyyah dan cita-cita pribadi kaum sufi.
Tampaknya ada batasan yang sangat samar. Tanpa disadari. Kaum sufi dapat melewati
jenjang filsafat isyraqiyyah Neoplatonik, dan sebuah sekte yang bergantung pada
argumen lokal kalām dapat menyadari keterlibatannya dalam rasionalisme masysyiyyah
mazhab Aristoteles. Selalu saja ada pertentangan antara skolastisisme religius
kalam dan kaum sufi. Dalam serangan mereka terhadap kaum sufi, para teosofi kalām
condong kepada filsafat rasionalis. Sedangkan kaum sufi, ketika mereka mendekati
kembali pada filsuf kalām , memperkuat argumen mereka dengan sudut pandang dan
dalil-dalil intuitif, filsafat visioner isyraqiyyah.

Pertautan dengan filsafat ini juga terjadi pada kepercayaan mereka, yang digunakan
oleh kaum sufi dan para teosofi kalām dalam serangan mereka terhadap satu sama
lain, yang membuat mereka saling tuduh zindiq, yakni orang yang merusak agama
dengan pengaruh sumber-sumber bukan Islam. Konflik ini hanya terjadi di kalangan
teosof kalām yang lebih mementingkan rasionalisme daripada dogma dan kaum sufi
yang lebih mendahulukan intuisi visioner daripada dogma. Kalām dan tasawuf yang
bersesuaian dengan prinsip ajaran Islam lebih dari kaum filsuf dapat hidup
berdampingan dengan keselarasan yang sempurna. Contoh terbaik dalam hal ini adalah
al-Ghazali. Argumen rasionalnya berhasil mematahkan rasionalisme Aristotelian dan
menghancurkan ajaran dasar filsafat yang secara umum bertentangan dengan prinsip
ajaran Islam.

Ketika penyebaran menjadi sangat penting, perselisihan kecil akibat perbedaan


pendapat menjadi tidak bermakna. Tokoh sufi as-Saqati pernah mengatakan: “Cahaya
hikmah pada diri seorang sufi tidaklah menyisihkan cahaya takut kepada Allah.
Pengetahuan batin yang dimilikinya tidak bertentangan dengan makna harfiah al-
Qur’an dan Hadis. Kemukjizatan yang dimilikinya tidak mengoyak tabir rahasia
Allah.”

Seperti al-Ghazali, Suhrawardi meneliti semua bentuk pengetahuan yang ada pada
zamannya, dan akhirnya meninggalkan beragam pengalaman ini untuk mengabdi kepada
tasawuf, dengan membuka makna batin Islam. Suhrawardi membuat pernyataan berkenaan
dengan karya ini. Meski pun sebelum menyusun buku ini saya telah menulis beberapa
makalah tentang filsafat Aristoteles, namun karya ini berbeda karena memiliki
metode yang khas. Semua isinya telah disusun bukan dengan pemikiran dan penalaran,
tetapi oleh intuisi, perenungan, dan perilaku asketik.”

Rasulullah s.a.w. pernah meriwayatkan sebuah hadis qudsi:


“Jika Aku mencintai hamba-Ku, Aku menjadi matanya,
Sehingga dia pun melihat melalui Aku
Aku menjadi telinganya, sehingga dia
mendengar melalui Aku
Aku menjadi lidahnya, sehingga dia
berbicara melalui Aku
Aku menjadi tangannya, sehingga dia
menggenggam melalui Aku.

Ini keadaan musnahnya kehendak dan materialitas seseorang dalam Allah. Suhrawardi
telah berada pada keadaan semacam itu.

Kondisi seperti itu membuka kemungkinan pemahaman yang berada di luar keadaan
manusia yang lazim. Suhrawardi melihat citra Cahaya melalui bentuk khusus persepsi
yang berbeda dengan pengalaman indra, dan sangat mirip dengan imajinasi.

Seorang rasional mengetahui bahwa segala sesuatu yang ada dalam imajinasi
merupakan rekaan pikiran yang tak nyata dan tak faktual. Sebaliknya, kita
mengetahui bahwa ada kekuatan nyata namun tak terlihat yang mengungkapkan dirinya
dalam bentuk dan fenomena gaib. Manusia memiliki daya untuk mengamati sebab,
alasan, hakikat, realitas yang lebih baik dari realitas kasar yang ditangkap
indra, maupun realitas samawi yang tidak berhubungan dengan realitas duniawi yang
kasar. Dalam hal tertentu, realitas indrawi menjadi tabir penghalang antara kita
dan hakikat Tuhan. Persepsi batin bukanlah sesuatu yang berasal dari persepsi
luar, seperti halnya imajinasi biasa; yang hanya menyusun kembali kesan-kesan dan
memiliki keterbatasan yang sama dengan indra. Tetapi, ia menyaksikan citra batin
langsung melalui mata batin, bashirah.

Ketika citra kasar duniawi muncul di retina mata fisik, citra batin dipantulkan
pada cermin murni hati yang telah dibersihkan sebagai bentuk pemantul spiritual
cahaya, dan dicetak pada jiwa itu sendiri. Ketika jasad fana menangkap benda-benda
dan pengalaman temporal, jiwa yang kekal menyaksikan dan berhubungan dengan
hakikat segala sesuatu. Persepsi ini merupakan pengenalan jiwa akan dirinya
sendiri.

Para wali yang melihat dengan mata-Allah dan berbira dengan lidah-Allah, terkadang
membuat pernyataan kuat semacam ana-l-haq (Aku-lah Tuhan) yang terkenal itu atau
Subhani (Maha Suci Aku). Pada saat seperti itu, nama-nama yang dinisbahkan hanya
kepada Allah berasal dari mulut seorang al-Hallaj atau Abu Yazid tanpa mereka
sadari. Penulis sufi al-Qusyairi mengkaji ulang para guru itu dan mengatakan:
“Kaum sufi terkadang membuat pernyataan yang maknanya hanya diketahui mereka, dan
sama sekali tidak dapat dipahami oleh orang lain.”

Bahasa kesalahpahaman sangatlah besar. Hallaj menyatakan: “Aku melihat Tuhan, aku
menyatu dengan Dia”; orang lain memahaminya sebagai mengatakan “Aku-lah Tuhan,”
dan dia pun dijatuhi hukuman mati. Demikian pula halnya Suhrawardi.

Pokok kajian tasawuf adalah jiwa. Kaum sufi menggunakan istilah lathifah (yang
lembut); sirr (rahasia batin); nafs (nafsu) ; qalb (hati atau inti) dan
sebagainya, Pada dasarnya, semuanya mengandung arti jiwa. Menyucikan jiwa,
membersihkan hati, menempatkan hakikat diri pada tujuan tasawuf. Siapa pun
mencapai hal ini, ia menjadi manusia sempurna.

Kami telah membahas filsafat tasawuf. Karena tujuan dan objek kajian tasawuf
adalah jiwa, maka dalam arti tertentu, tasawuf juga merupakan psikologi.
Pengetahuan, emosi, motivasi, dan perbuatan merupakan subjek penting tasawuf
maupun psikologi. Psikologi, yang mengaku bersifat positif, tetap berada di dalam
batas-batas pengukuran, eksperimentasi, dan pengalaman nyata. Tasawuf, meski
tampaknya dibatasi oleh prinsip-prinsip Islam, mencakup pengetahuan yang diterima
dalam keadaan ekstase, rasa takjub, dan cinta Ilahi, yang melampaui di atas logika
dan pengukuran.

Moralitas – baik dan buruk dalam konteks ketetapan Tuhan – tidak selalu tercakup
di dalam tujuan psikologi. Tetapi dalam tasawuf, kedudukan agama dan wahyu dan
pengetahuan yang dihasilkannya bergantung pada niat dan perbuatan seseorang dalam
menjalankan standar objektif ajaran dan hukum. Teladan Nabi s.a.w., para wali dan
syekh sebagai guru dan manusia sempurna ditujukan kepada hal ini. Dari sudut
pandang ini, tasawuf juga merupakan pedagogi. Pendidikan jiwa ini dinyatakan dalam
kata akhlaq, moralitas; dan adab, perilaku yang sempurna.

Ada tiga aspek manusia:

1. Khuluq, akhlāq (sifat); sifat dasar dan potensi seseorang yang telah ada sejak
lahir. Jika bertentangan dengan apa yang diperbolehkan dan diperintahkan oleh
ketetapan Ilahi. Sifat ini harus dihilangkan melalui usaha yang terus menerus dan
teratur – mujāhadah, perjuangan.

2. Fi‘l (perbuatan): peraturan yang disengaja, misalnya ibadah, kepatuhan, dan


sikap tunduk kepada ketentuan agama, dan perbuatan-perbuatan yang baik.

3. Hāl, ahwāl (kondisi jiwa): kondisi jiwa yang muncul pada diri seseorang tanpa
kehendaknya. Keagungan dan kesucian sifat jiwa ini berhubungan dengan kesucian
watak dan amal perbuatan seseorang. Sifat jiwa ini mempunyai dua macam bentuk:
a. Kondisi wajd (ekstase), jadzbah (tarikan Ilahi), sukr (mabuk spiritual),
istighrāq (keterlenaan), qabdh (menyempit), basth (lapang), dan sebagainya. Inilah
kondisi emosional yang lebih tinggi.

b. Ilhām (inspirasi), firāsah (intuisi), kasf (penyingkapan), yaqīn (keyakinan),


haqq (kebenaran), ‘irfān (pengetahuan keadaban), dan ma‘rifah (pengetahuan batin).
Inilah kondisi intelektual, intuitif, dan visioner yang mengantarkan kepada
kearifan (hikmah).

Ada tiga aspek yang berinteraksi melalui cara berikut ini: manusia berdoa atas
kehendaknya, menjalani kehidupan yang saleh, mengerjakan perbuatan baik yang
diperbolehkan, dan menjauhi perbuatan yang dilarang: hal ini mengubah wataknya
yang buruk dan membukakan peluang baginya untuk menerima keadaan mistik wajd
(ekstase) dan jadzbah (tarikan Ilahi); melalui keadaan ini dia mencapai ilham,
penyingkapan, dan kepastian kearifan batin.

Dengan demikian, keadaan-mistik bergantung pada watak seseorang dan watak itu
diperbaiki oleh amal saleh yang diniatkan. Pengetahuan batin yang luhur merupakan
ganjaran bagi amal saleh. Akhlāq, watak, dan fi‘l, amal saleh yang diniatkan,
berada dalam ranah syari‘ah, dogma Islam. Hāl (anugerah Ilahi), sumber
pengetahuan, masuk ke dalam ranah tasawuf. Karena hal, sifat yang lebih tinggi,
bergantung pada watak (akhlāq) dan perbuatan (fi‘l), Islam merupakan fondasi dan
tasawuf merupakan rumah yang didirikan di atasnya.

Rumah tak dapat didirikan tanpa fondasi. Fondasi dapat tetap ada tanpa rumah yang
dibangun di atasnya, namun tujuan fondasi adalah agar di atasnya dibangun rumah.
Dogma Islām adalah jasad, tasawuf adalah jiwa. Agama adalah kata-kata, tasawuf
adalah makna. Dogma adalah laut, tasawuf adalah mutiara di dalamnya. Agama adalah
pohon, tasawuf buahnya. Islām adalah bentuk cahaya, tasawuf adalah cahaya yang
berada di dalam bentuk itu.

Allah adalah Cahaya


Langit dan bumi;
Perumpamaan cahaya-Nya seperti sebuah
lubang yang tak tembus,
yang di dalamnya ada pelita besar, Pelita
itu di dalam kaca
dan kaca itu seakan-akan bintang (yang
bercahaya) seperti mutiara
yang dinyalakan dengan minyak dari pohon
yang banyak berkatnya,
(yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di
sebelah timur dan tidak pula di sebelah
barat, yang minyaknya (saja) hampir-
hampir menyala-nyala, walaupun tidak
disentuh api.
Cahaya di atas cahaya;
Allah membimbing kepada cahaya-Nya
siapa yang Dia kehendaki.
(an-Nur: 24:35)

Syekh Tosun Bayrak al-Jerrahi.

“Wahai teman, hatimu adalah cermin yang mengkilap. Kau harus membersihkan debu
yang menutupinya, karena hati ditakdirkan untuk memantulkan cahaya rahasia-rahasia
Ilahi.”
Al-Ghazali

“Cahaya Musa ada di sini dan kini, di dalam dirimu.


Pun Fir‘aun. Lampu keramik dan sumbunya
berubah, namun serupa cahayanya.
Jika kau terus memerhatikan
cerobong asap terawang yang melingkari nyala api,
kau hanya akan melihat Yang Tak Satu,
warna-warninya dan keragamannya.
Perhatikanlah cahaya di dalam nyala api.
Kaulah itu.
Rumi

3.
Mengenal Suhrawardi

Suhrawardi lahir pada 549 H (1155 M) di kota Suhraward, propinsi Jabal,


Azerbaijan. Di kota Maraghah, Azerbaijan, dia belajar hukum Islam dan teosofi
kepada Syekh Majd-ud-Dīn al-Jilli. Lalu dia mengembara ke Isfahan, yang kemudian
menjadi pusat ilmu di Persia, dan menamatkan pendidikannya di bawah bimbingan
Zahīruddīn al-Qāri’.

Sejak usia muda, dia telah dikenal luas sebagai seorang teosof, teolog, dan ahli
hukum Islam. Dia banyak melakukan perjalanan ke berbagai propinsi yang berada di
bawah kekuasaan Bani Saljuk, Persia, Anatolia, dan Syria. Selama perjalanan ini,
dia banyak bertemu dengan guru-guru sufi dan sangat dipengaruhi oleh mereka. Dia
memasuki tarekat sufi dan dalam jangka waktu yang lama mengamalkan peribadatan,
penyendirian spiritual, dan perenungan. Dalam perjalanannya itu, dia mengunjungi
Harran, Antalya, Nusyābin dan ‘Urfah di Syria Utara, sebuah kawasan yang pernah
menjadi pusat budaya Hermetisisme sebelum Islam lahir. Kemungkinan sebagian
pemikiran dari sumber itu yang terdapat dalam teosofi Suhrawardi berasal dari
hubungannya selama perjalanan itu. Akhirnya dia diundang oleh Malik Zāhir,
gubernur Aleppo, untuk menetap di kota itu. Zāhir adalah putra dari tokoh pemegang
Perang Salib, Shalāh-ud-Dīn al-Ayyūbi. Dia menjadi pelindung Suhrawardi, dan
sering mengundangnya ke istananya untuk berdiskusi dengan ulama lain pada zaman
itu.

Suhrawardi memiliki kecerdasan luar biasa selain pengetahuan esoterik dari guru-
gurunya dan inspirasi langsung yang diperoleh melalui perjalanan hidupnya sebagai
seorang sufi. Hal ini memampukannya mengalahkan saingan-saingannya dalam berbagai
perdebatan. Dia tak mengenal rasa takut dan tidak mengendalikan ucapan-ucapannya,
sehingga memiliki banyak musuh.

Banyak ulama ortodoks – terutama para fukaha – menyatakan bahwa dia menyebarkan
paham yang bertentangan dengan ajaran Islam. Pengetahuannya dalam bidang kimia
membuat Suhrawardi terlihat di mata mereka sebagai tukang sihir. Mereka akhirnya
meminta agar dia dijatuhi hukuman. Sebenarnya, ada riwayat yang menyatakan bahwa
suatu hari, Malik Zāhir pernah meminta Suhrawardi untuk memperlihatkan kepada
dirinya contoh pengetahuannya tentang kimia. Meskipun pada mulanya Suhrawardi
menolak, dengan menyatakan bahwa praktik seperti tidak layak dipertontonkan kepada
seorang gubernur, dia akhirnya menuruti perintah pelindungnya itu.

Setelah beberapa persiapan dan bacaan, dia meminta gubernur untuk datang ke balkon
istana dan melihat ke benteng kota. Seluruh kota dipenuhi oleh pasukan Monggol
yang tengah menyerang benteng. Benteng itu berhasil mereka robohkan, dan membunuh
serta menghancurkan segala yang ada di depannya. Mereka menyerbu istana dari
segala penjuru. Akhirnya, ketika mereka mencapai gerbang istana, Malik Zāhir yang
ketakutan ingin berlindung, berlari menuju harem. Ketika membuka pintu harem, dia
berhadapan dengan tujuh ekor naga. Dia pun tersungkur dan tak sadarkan diri.

Suhrawardi membawanya kembali ke balkon, dan memperlihatkan kepadanya kota Aleppo


yang damai lagi indah dan terang di bawah cahaya matahari, Konon kejadian inilah
yang mengubah hati si pelindung Suhrawardi itu.

Musuh-musuh Suhrawardi akhirnya pergi kepada Shalah-ud-din al-Ayyubi dan


meyakinkannya bahwa tukang tenung ini berbahaya bagi agama dan negara. Syria baru
saja direbut dari pasukan Salib, dan Shalah-ud-Din membutuhkan dukungan dari para
ulama itu untuk melanggengkan kekuasaannya. Pertimbangan politik inilah yang
membuatnya memerintahkan Malik Zāhir untuk memenjarakan dan menghukum mati
Suhrawardi.

Menurut riwayat yang lain, Malik Zāhir mengabulkan permintaan Suhrawardi untuk
mengakhiri hidupnya dengan berpuasa total dan bukan di tiang gantung. Suhrawardi
wafat pada tahun 587 H (1191 M) pada usia tiga puluh (delapan) tahun (549 to 587),
dengan cara sufi melemahkan raga melalui puasa total.

Dalam masa hidupnya yang singkat itu, Suhrawardi menulis lebih lima puluh buah
buku, dalam bahasa Arab maupun Parsi. Kebanyakan di antaranya diterjemahkan ke
dalam berbagai bahasa di negara-negara Islam. Yang terpenting antara lain adalah:

1. Hikmat-ul-isyrāq (Teosofi Iluminasi), yang dianggap sebagai mahakarya-nya dan


menjadi prinsip teosofi isyrāqiyyah. Karya ini diterbitkan di Syria, Iran, dengan
ulasan abad keempat belas oleh Mahmud ibn Mas‘ud asy-Syirazi.

2. Kitāb-ul-talwīhāt-il-lāwiyyati wal-‘arsyiyyah (Kitab Pemaparan Rahasia dan


Singgasana Allah).

3. Kitāb al-muqāwamāt (Kitab Pembelaan).

4. Kitāb al-masyār wa al-muthārahāt (Kitab Jalan dan Dialog).

(Tiga yang terakhir, yang membahas perubahan filsafat Aristotellian, diterbitkan


oleh Henri Corbin dengan judul Majmu‘ah fi al-Hikmah al-Ilāhiyah , Istambul,
1945).

5. Hayākal-un-Nūr (Altar-Altar Cahaya), karya yang kini ada di tangan pembaca,


yang aslinya berbahasa Arab tetapi tersedia juga dalam bahasa Parsi, diterjemahkan
ke dalam bahasa Turki pada abad ke 17 oleh Ismail Ankaravi, kemudian oleh Yusuf
Zia pada 1924 dan pada 1960 oleh Saffet Yetkin. Terjemahan Turki ini dijadikan
dasar bagi edisi terjemahan bahasa Inggris ini. (Dan edisi Inggris inilah yang
diterjemahkan ke bahasa Indonesia).

6. Kitāb-ul-Lamhāt fil-Haqā’iq (Kilatan Cahaya Kebenaran), sebuah karya tentang


fisika, metafisika, dan logika.

7. Al-alwāh al-‘Imādiyyah (Catatan Pilar-Pilar Agama). Sebuah karya tentang


filsafat iluminasi.

8. Fī I‘tiqād al-Hukamā’ (Mengenai Keyakinan para Filsuf).

9. Yazdan Shinakht (Pengetahuan tentang Allah). (Dalam bahasa Parsi).


10. Bustān al-Qulūb (Taman Hati).

Ada karya-karya lain, novel-novel mistik, yang menguraikan perjalanan jiwa melalui
alam Cahaya, yang memuat banyak pemikiran dan praktik penyucian sufi.
Kebanyakannya berbahasa Parsi dan hanya sedikit yang berbahasa Arab.

11. ‘Aqli Surkh (Malaikat Merah; secara harfiah, Akal Merah).

12. Ashwāt-ul-ajnihāt Jibrā’īl (Suara Sayap Jibril).

13. Al-ghurbah al-gharibah (Pengasingan Barat).

14. Lughat-i muran (Bahasa Termit).

15. Risālatun fi hālat-il-thifūliyah (Risalah tentang Kondisi Anak).

16. Ruzi ba jama‘ati sufiyan (Sehari Bersama Komunitas Sufi).

17. Risālatun fil-mi‘rāj (Risalah tentang Mi‘raj).

18. Safir-i simurgh (Senandung Buraq).

Masih terdapat banyak karya dan ulasan lain mengenai filsafat, misalnya terjemahan
dan ulasan tentang Ibn Sīnā (Avicenna).

19. Risālat-ul-Thayr (Risalah tentang Paksi Spiritual), sebuah karya terjemahan.

20. Isyārah (Saran), sebuah karya ulasan.

21. Risālatun fī Haqīqat ul-‘Isyq (Risalah tentang Hakikat Cinta), didasarkan


karya Ibn Sīnā Risālatun fil-‘Isyq.

Masih terdapat sejumlah karya lain tentang tafsir ayat-ayat Al-Qur’ān dan
Hadis,atau tradisi kenabian, dan berjilid-jilid karya tentang salat dan doa.

Dalam semua karya ini bersinar filsafat yang memantulkan cahaya banyak tradisi.
Plato, Aristoteles, Empedokles, Pitagoras, Plotinus – semuanya dari Barat –
diserap ke dalam Islam. Dalam karya Suhrawardi, teori Platinus tentang emanasi
menjadi perambatan Cahaya suci. Pemikiran Plotinus dicapai melalui intuisi yang
bersumber dari Cahaya Tertinggi. Inilah rahasia suci yang didapatkan oleh
Suhrawardi melalui penyucian spiritual.

Kumpulan ajaran Hermetisisme, falsafah, dan hukum . Hermes, yang diyakini sebagai
ahli kimia Mesir kuno dan falsafahnya diabadikan oleh kaum Sabi‘i Harran; atau
Nabi Idris, pendiri filsafat dan sains; atau garis raja-rahib Parsi, Gayumarth
Faridun, Kai Khusraw. Akan tetapi,, pembimbing Suhrawardi adalah tokoh-tokoh
tasawuf Islam generasi pertama Abū Yazīd al-Bisthāmī (w.261/874), Manshūr al-
Hallāj (w. 309/992), Dzun-Nūn al-Mishrī (w. 245/859), dan Sahl at-Tustārī (w.
283/896). Suhrawardi sendiri memandang bahwa dirinya mengikuti para sufi generasi
pertama. Dia menulis tentang sebuah mimpi ketika dia bertemu dengan seseorang yang
dikiranya Aristoteles, dan bertanya kepadanya apakah para filsuf Peripaterik
semacam al-Fārabī dan Ibn Sīnā merupakan filsuf sejati Islam. Filsuf Yunani itu
konon menjawab: “Mustahil. Tetapi, sufi Bisthāmī dan Tustārī-lah yang merupakan
filsuf sejati.”

Al-Ghazālī (w.505/1111), katalisator tasawuf dan ortodoksi Islam, juga berpengaruh


terhadap Suhrawardi. Pandangannya dalam Misykāt-ul-Anwār (Misykat Cahaya-Cahaya),
jika dibandingkan dengan beberapa konsep teosofi isyrāqiyah, membuktikan pengaruh
ini. Citra yang menunjukkan bahwa segala sesuatu berasal dari Allah tak ubahnya
seperti gelombang cahaya memancar dari matahari merupakan pendapat yang sama dalam
al-Ghazālī maupun Suhrawardi. Al-Ghazālī dalam karyanya, ar-Risālat-ul-Ladūniyyah,
menunjukkan bahwa kesadaran akan Allah dan pengetahuan tentang rahasia-Nya hanya
mungkin dicapai melalui praktik penyucian ala sufi. Pendapat serupa muncul dalam
karya Suhrawardi, Risālat-uth-Thayr (Risalah tentang Paksi Spiritual), Munis-
ul-‘Usysyāq (Kedekatan Pecinta) dan ashwāt-ul-ajnihāt-il-Jibrā’īl (Suara Sayap
Malaikat Jibril).

Suhrawardi meyakini penciptaan melalui shudūr, emanasi, dari satu sumber utama
Allah. Dialah Yang Pertama, Cahaya Tertinggi, Yang Niscaya, atau keniscayaan
mutlak praeksistensi, sebab utama yang menjadi sumber eksistensi segala yang
mumkin, segala kemungkinan dalam penciptaan. Cahaya Tertinggi ini menyinari segala
sesuatu, dan dipantulkan melalui segala sesuatu melalui matahari di langit, api
pada segala unsur, dan di dalam jiwa manusia. Makhluk beremanasi dari Allah,
Cahaya Tertinggi, seperti halnya sinar terang yang merambat dari matahari dan
membuat segalanya terlihat jelas.

Makhluk pertama yang diciptakan adalah cahaya, cahaya yang berkesadaran, unik dan
menunggal, bersifat material, suci dari keragaman, cahaya yang mampu mengenal
diri, dan mengenal Penciptanya. Ia merupakan akal utama, pemikiran universal,
perantara dan penengah antara sumber cahaya, Sang Pencipta, dan alam semesta yang
diciptakan. Inilah Nūr-ul-Muhammadi, Cahaya Muhammad, yang dalam buku ini disebut
oleh Suhrawardi sebagai an-nūr-ul-ibdā’, Cahaya Kreatif; dalam Hikmat-ul-Isyrāq
disebutnya sebagai an-nūr-ul-aqrab, Cahaya Terdekat (kepada Sumbernya). Dalam
karyanya, Talwīhāt, disebutnya sebagai al-‘aql-ul-kulli, Akal Universal. Dalam
karya-karya yang lain, ada penyebutan tentang an-nūr-ul-awwal, Cahaya Pertama,
asy-Syaikh, Sang Guru, al-Jamāl, Keindahan dan sebagainya.

Salah satu alasan mengapa begitu banyak nama yang diberikan adalah keinginan
Suhrawardi untuk menjelaskan nūr Muhammadī menurut setiap bentuk pemikiran dan
filsafat yang mungkin, apakah mengikuti kalām, masysyiyyah, dan filsafat Plotinus
dan Aristoteles. Cahaya Pertama yang diciptakan berbeda dari Cahaya tertinggi
dalam hal tingkat kekuatan cahayanya. Setiap esensi cahaya mempunyai cahaya yang
lebih lemah daripada pendahulunya, seperti halnya cahaya bulan lebih lemah
daripada cahaya matahari yang menjadi sumber cahaya bulan. Ketika cahaya itu
terus-menerus memancar dari matahari, penciptaan tetap berlangsung dari Cahaya
Tertinggi. Ketika sebab tak berakhir, akibat juga tak berakhir. Ketika Pencipta
abadi, yang bersumber dari-Nya abadi pula. Eksistensi adalah yang terbaik dan
teragung. Apa pun yang bereksistensi merupakan yang terbaik dan menjadi eksistensi
yang paling indah. Tak ada yang kotor atau buruk di dalam alam semesta, karena
semuanya merupakan cermin Allah.

Untuk mencapai kesadaran akan Cahaya Ilahi, manusia harus melibatkan diri dalam
peperangan spiritual. Hasrat ragawi merupakan hambatan yang menghalangi seseorang
dari pencerahan. Manusia harus menjauhkan dirinya dari kegelapan raga dan
materialisme demi mencapai Cahaya hakiki. Disiplin, kontemplasi, salat dan ibadah
merupakan amal perbuatan yang akan membersihkan hati. Suhrawardi, tokoh yang
mengikuti dan menganut jalan ini, juga menekankan keniscayaan seorang pembimbing
dan guru, yang mengabdikan hidupnya kepada Allah dan mendamba keridaan-Nya.

Suhrawardi menyatakan bahwa orang-orang yang mengabdikan hidup mereka untuk


beribadah kepada Allah akan memperoleh pengetahuan rahasia, akan mencapai kekuatan
para wali,dan beroleh mukjizat. Mukjizat yang paling baik adalah berbagai bentuk
cahaya yang memanifestasikan diri kepada pengembara spiritual. Ada berbagai
tingkatan penyingkapan cahaya itu:
1. Cepat, bersinar laksana kilat, timbul tenggelam, dicapai oleh pemula.
2. Pencerahan dengan waktu yang lebih lama, yang kemungkinan dapat menjadi
permanen, bagi orang yang berteguh hati dalam perjuangan, kontemplasi, dan salat
mereka.
3. Penyingkapan cahaya bagi orang yang melangkah di jalan yang benar, yang bagi
mereka perjuangan ego, kontemplasi, kesadaran akan Pencipta, dan ibadah menjadi
daya yang alamiah.

Dengan semua perjuangan batin ini, manusia dapat naik ke derajat peniadaan diri,
dengan meninggalkan hasrat material dunia, raga, dan pengetahuan duniawi, seraya
memutuskan semua hubungan dengan hal-hal yang bersifat lahir. Yakni ketika jiwa
menjadi cermin yang memantulkan cahaya Allah, dan jiwa menyaksikan citra Sang
Cahaya.

Pendahuluan

Bismillāh-ir-rahmān-ir-rahīm

Saya mulai dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Semua rahasia suci – firman Allah yang disampaikan kepada manusia dalam seratus
catatan kitab suci masa silam, Zabur Nabi Daud, Taurat, dan Injil – terangkum
dalam al-Qur’an. Keseluruhan al-Qur’an terangkum dalam surah al-Fatihah:

Dengan nama Allah


Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam
Maha Pemurah lagi Maha Penyayang
Yang menguasai hari pembalasan
Hanya kepada-Mu kami menyembah dan
hanya kepada-Mu kami mohon pertolongan
Tunjukilah kami jalan yang lurus
(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau
anugerahkan nikmat
kepada mereka,
dan bukan (jalan) mereka yang dimurkai
dan bukan pula (jalan) mereka yang sesat.

Keseluruhan surah al-Fatihah tercakup dalam ayat permulaan

Dengan nama Allah


Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Dan hakikat segala sesuatu tercakup dalam yang awal di antara yang awal, huruf
pertama: “Bā’”, yang berisi

Bī kāna mā kāna wa bī yakūn mā yakūn


Apa pun yang menjadi, menjadi melalui Aku,
Dan apa pun yang akan menjadi,
Akan menjadi melalui Aku.

Hakikat tertinggi berada pada titik di bawah huruf “Bā’”.

Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: “Aku adalah kota ilmu dan ‘Ali r.a. adalah
gerbangnya (Anā madīnat-ul-‘ilmi wa Aliyun bābuhā)” ‘Ali, gerbang ilmu itu,
memperkuat pernyataan di atas dengan mengatakan” “Aku adalah titik di bawah huruf
Bā’, dan al-‘ilm nuqthatun (semua pengetahuan adalah sebuah titik).”

Ya Qayyum, ya Allah, Yang Berada dengan sendiri-Nya, yang pada-Nya bergantung


segala wujud, kuatkanlah kami dengan Cahaya-Mu yang menyucikan akal dari semua
imajinasi, dan lindungi kami dengan Cahaya-Mu, sehingga pengetahuan sejati
memancar dalam perbuatan kami. Bimbinglah kami kepada Cahaya-Mu yang adalah Zat-
Mu.

Jadikanlah tujuan akhir dari semua keinginan kami adalah keridaan-Mu. Jadikanlah
puncak keinginan kami adalah menjumpai-Mu dengan iman sempurna dan cahaya sempurna
yang berasal dari-Mu. Kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan menjerumuskan
diri kami ke dalam kegelapan, namun semoga engkau tidak menjauhkan pencerahan dari
kami. Kami adalah budak-budak yang terkungkung dalam gelapnya penjara materi. Kami
menanti di pintu-Mu, memohon rahmat dan kebaikan-Mu untuk menyelamatkan kami.

Kebaikan yang datang dari-Mu adalah keridaan-Mu; keburukan yang berasal dari-Mu
adalah takdir-Mu, Engkau Mahakuat dan Mahawujud: Engkau limpahkan cahaya dan kasih
sayang kepada semua wujud. Bahkan orang-orang di antara kami yang menghamba kepada
dunia dan manusia masih Engkau jauhkan dari amarah dan murka-Mu. Karuniakan kepada
kami pengetahuan untuk mengingat dan memuji-Mu. Angkatlah tabir kebodohan dari
kami. Berikanlah kepada orang baik pahala yang mereka dambakan. Mudah-mudahan
rahmat-Mu Engkau limpahkan kepada Nabi s.a.w. dan pada keluarganya.

Karya ini diberi judul Hayakal-un-Nur (bentuk, penampakan, atau altar-altar


Cahaya). Sebagaimana orang Yunani kuno memandang bintang-gemintang sebagai benda-
material dari eksistensi spiritual, bentuk-bentuk Cahaya ini merupakan manifestasi
dari sumber segala cahaya, Cahaya Yang Mahasuci.

Semoga arwah orang yang mengajak manusia kepada Kebenaran, orang yang memperoleh
bimbingan untuk melangkah di jalan yang benar, diagungkan. Jalan yang benar dan
keimanan yang benar telah dibuktikan oleh para saksi Allah – nabi-nabi dan penerus
mereka, para pecinta yang dicintai Allah (para wali).

Bentuk Pertama Cahaya


Materi yang Tercerahkan

Materi mencakup segala sesuatu yang wujudnya dapat dicerap indra. Pada umumnya, ia
memiliki panjang, lebar, dan dalam. Karakterisik ini harus diperhatikan supaya
tidak ada kerancuan ihwal materi. Perlu diketahui, akal dan jiwa, yang tak kasat
mata, bergantung pada materi bagi manifestasi lahiriahnya. Materi yang dicerahkan
oleh akal dan jiwa dapat menunjuk pada esensinya.

Kita hidup dalam alam persepsi, alam indra kita. Diri material kita merupakan
bagian dari alam ini. Alam indra ini berseberangan dengan alam Malakut – kerajaan
spiritual Allah – yang berisi wujud gaib, spiritual, nonmaterial, dan abstraksi.
Kunci untuk mengetahui makna batin adalah pengetahuan dan kemampuan untuk
membedakan alam materi dari alam spiritual.

Apa yang sama dengan, atau menciptakan, kesatuan di antara hal-hal yang bersifat
material adalah materi. Tetapi, dua hal yang mempunyai kesamaan sifat mungkin saja
berbeda satu sama lain pada aspek-aspek yang lain. Dalam hal sesuatu yang bersifat
material, kualitas yang memisahkan yang satu dari yang lain adalah bentuk
visualnya. Sebaliknya, sesuatu yang merupakan bagian dari Kebenaran mutlak tidak
mungkin berbeda dari Kebenaran itu.

Menurut definisinya, angka empat adalah bilangan genap yang mencakup semua
bilangan genap yang lain; dan jisim material mendefinisikan manusia yang mencakup
semua manusia yang lain. Sifat ini tampak bersifat mutlak bagi eksistensi segala
materi. Kualitas umum pada segala yang bersifat material ini mungkin juga menjadi
keniscayaan mutlak bagi eksistensinya, wajib, atau mungkin, mumkin (yang pada hal
tertentu bersifat niscaya, dan pada hal yang lain tidak); atau mustahil, mumtani‘,
yang menolak eksistensinya. Misalnya, jelas merupakan keniscayaan mutlak bagi
manusia untuk memiliki tubuh, mungkin bagi manusia untuk berdiri atau duduk, dan
mustahil manusia bisa menjadi seekor kuda!

Wajib, mumkin, dan mumtani‘ merupakan istilah yang berkaitan dengan ilmu mengenai
makna batin. Wajib berarti keniscayaan mutlak. Mumkin adalah sebuah kemungkinan
yang peluang ada atau tidaknya seimbang, Mumtani‘ adalah kemustahilan yang
ketiadaannya merupakan sebuah keniscayaan mutlak.

Tidaklah benar mengira bahwa sesuatu atau sebuah konsep yang secara mutlak
bersifat gaib dapat berada di dalam sebuah ruang yang terbatas. Materi terkecil
yang tidak dapat dibagi, atom, tidak dapat ditempatkan ke dalam sebuah ruang
tertentu. Atom ini – yang tidak dapat dibagi menurut teori maupun kenyataannya –
tidak dapat bereksistensi di sini atau di sana, dan tidak bertempat, seperti
halnya Allah, al-Bari’, Pencipta bentuk, Yang Mahasuci dari ruang dan waktu.
Satuan yang tak dapat dibagi itu (meskipun ia merupakan bagian dari bentuk yang
lebih besar yang tak dapat dibagi), jika menempati suatu ruang, tentu akan
bertentangan satu sama lain dalam jenis yang sama, menempati suatu ruang yang
bertentangan dengannya. Dengan demikian, kedua unit itu akan saling menghambat
satu sama lain sebagaimana pengandaian yang menyatakan khayalan ini. Atom yang tak
dapat dibagi itu merupakan esensi dari segala yang bersifat meterial, yang tak
mungkin ditempatkan dalam satu ruang. “Jiwa”, “akal tertinggi”, dan nama maupun
sifat lain dari atom yang tak dapat dibagi itu, esensi, tidak dapat ditempatkan
pada sebuah jasad atau bentuk, meskipun untuk bermanifestasi, wujudnya kemungkinan
bergantung pada wujud material ini.

Bentuk Kedua Cahaya


Memiliki Tiga Bagian

BAGIAN PERTAMA

Manusia tidak pernah dapat melupakan esensinya. Esensi itu tak ternoda oleh
khayalan dan angan-angan, dan merupakan akal yang sempurna. Tetapi, sifat hewani
dalam diri manusia membayangi esensinya. Itulah mengapa esensi bersifat material,
bukan spiritual. Jika esensi seseorang tersusun dan mempunyai bagian-bagian,
meskipun terkadang orang lupa akan hal itu, bagaimana mungkin bagi seseorang untuk
tidak melupakannya di sepanjang waktu? Anda melupakan tubuh anda; anda sama sekali
tidak menyadari semua bagian tubuh anda di sepanjang waktu, sedangkan dalam alam
bawah sadar, anda selalu menyadari esensi anda. Hal itu membuktikan bahwa esensi
anda bukanlah bagian dari jisim-materi anda. Ketika anda berkata: “Aku,” identitas
ini merupakan sesuatu yang berbeda dan jauh lebih tinggi daripada setiap wujud
material anda atau segala wujud material anda.

BAGIAN KEDUA
(bergantung pada dua premis:
materi yang terus berubah
dan esensi yang abadi)

Tubuh anda terus-menerus mengalir dan memudar. Jika makanan yang anda makan tidak
pernah dicerna atau dilarutkan, dan tidak pernah meninggalkan tubuh anda, dan jika
jumlahnya ditambahkan kepada bentuk material anda, tentu tubuh anda akan menjadi
besar sekali. Tubuh anda terus-menerus mengalami proses penguraian. Jika proses
lahir dan mati ini tidak terjadi pada tubuh, dan sel-sel anda terus bertambah
banyak, niscaya bentuk anda akan menjadi seukuran raksasa.
Bahwa yang tetap, yang selalu hidup, yang tak dapat dibagi, merupakan lawan kata
dari yang berubah, terbagi, terurai. Esensi, seorang “Aku” dalam pernyataan anda
tentang “Aku,” adalah sesuatu yang tak dapat dibagi, tetap, dan kekal. Oleh
karena itu, esensi anda bersifat nonmaterial, dan tidak mungkin merupakan bagian
dari wujud material.

Selama esensi yang anda sadari di dalam diri anda berada dalam sifat yang tetap,
anda adalah anda yang kekal, sedangkan tubuh anda adalah fana. Ia berubah, ia
mengalami proses penguraian, ia sekarat: Anda tidak menyadarinya, anda tidak
merasakannya. Bagaimana mungkin anda menjadi tubuh itu? Anda jauh melebihi hal
itu. Allah berfirman dalam kitab-Nya yang suci, al-Qur’an:

Padahal Allah mengepung dari


Belakang mereka
(Q.S. al-Buruj 85:20)

“Sesungguhnya diri kitalah kesaksian utama bagi-Nya. Tapi, seperti halnya


kelelawar yang hanya bisa melihat pada malam hari dan tidak pada siang hari karena
kelemahan penglihatannya, yang dibutakan oleh benderangnya sinar matahari, begitu
pula pikiran manusia terlalu lemah untuk melihat keagungan Ilahi.” Al-Ghazali

BAGIAN KETIGA

Bagian ketiga terdiri dari tiga premis:

1. Orang tidak dapat mengetahui hal yang sebelumnya ia tidak mengetahuinya.

2. Yang rasional tidak bergantung pada ukuran:


Jika orang berlaku umum, ukuran seekor gajah tidaklah lebih penting daripada
ukuran seekor lalat.

3. Yang abstrak, yang bersifat nonmaterial, tidak dapat dipahami menurut skala dan
ukuran.

Selama anda tidak dapat menyusun bentuk sesuatu dalam pikiran anda, anda tidak
mungkin mengetahuinya, karena realisasi sesuatu haruslah bersesuaian dengan
sesuatu itu. Untuk memahami sesuatu, perlu ada buktinya dalam pikiran anda. Cara
lain untuk memahami sebuah bentuk melalui pemikiran komparatif adalah dengan
memerhatikan kualitasnya yang berlaku umum terhadap bentuk-bentuk yang lain.
Misalnya, dengan memerhatikan beberapa atribut yang berlaku umum terhadap banyak
hewan, anda dapat menyimpulkan bahwa seekor gajah dan seekor lalat adalah sama.

Dalam pola berpikir seperti ini, ukuran kedua hewan itu tidak diperbandingkan satu
sama lain. Bahkan, jika persoalannya besar tetaplah hewan, bagaimana mengenai
esensi? Dalam hal wujud seseorang, maka ia tidak bisa diperbandingkan dengan apa
pun yang lain. Sesuatu yang tidak bisa diukur tidak bisa ditempatkan di dalam
materi yang dapat diukur. Esensi anda, jiwa rasional anda, bukanlah materi, tidak
pula berhubungan dengan materi. Ia terbatas dari ruang-waktu. Dengan, demikian, ia
tidak dapat dicerap oleh indra. Ia merupakan cahaya yang berasal dari Ahad, Allah
Yang Maha Esa, dan dari Shamad, Allah Yang Kekal dan Mutlak. (Q.S. al-Ikhlas 112:
1-2). Jiwa manusia, yang disebut sebagai Akal kosmik, merupakan cahaya yang tidak
dapat dibagi, yang tidak dapat dianalisis oleh manusia yang terpedaya oleh dugaan
hampa. Ia adalah cahaya suci yang berasal dari Allah Yang Maha Esa, Allah Yang
Maha Kekal dan Maha Mutlak.

Anda tidak perlu menyatakan bahwa sebuah dinding melihat atau tidak melihat,
karena melihat atau tidak melihat merupakan kemampuan yang diberikan kepada
makhluk yang bermata. Jiwa manusia rasional bukanlah materi dan tidak ada
kaitannya dengan materi.. Ia juga bukan bagian dari dunia ini atau bukan pula
bagian yang selainnya. Ia juga tidak bergantung padanya, tidak pula terbebas
darinya, sebab bergantung atau terbebas merupakan kualitas segala sesuatu yang
bersifat material.

Jiwa rasional (Akal kosmik) adalah sebuah esensi cahaya yang tak dapat anda lihat.
Bagaimana mungkin esensi suci semacam ini – yang mengendalikan dan mengatur semua
materi, yang memiliki pengetahuan mengenai dirinya sendiri dan semua yang berada
pada esensinya, serta pengetahuan mengenai segala sesuatu yang berhubungan dengan
esensinya – merupakan materi? Wujud suci ini, dengan pengaruh keagungan dan pesona
spiritual, meninggalkan dunia materi ini dan mencari yang tak terbatas.

Jiwa rasional ini memiliki daya pemahamannya sendiri yang membantunya melihat
segala sesuatu dengan tepat. Sebagian daya pengamatan ini terlihat nyata
(lahiriah) dan sebagian lagi tersembunyi (batin). Yang terlihat nyata adalah lima
indra: peraba, perasa, pencium, pendengaran dan penglihatan. Daya pengamatan yang
tersembunyi (batin) merupakan daya yang misterius laksana sebuah kolam yang ke
dalamnya pengamatan lima indra mengalir: sebuah kesadaran kolektif. Daya itulah
yang sesungguhnya mengalami mimpi yang tidak bersumber dari alam khayal.

Daya tersembunyi yang lain adalah daya imajinasi. Ini laksana sumber kesadaran
kolektif ini. Inilah daya yang menyimpan pengalaman yang tetap ditangkap oleh
indra. Termasuk pula ke dalam daya tersembunyi ini adalah potensi akal, daya
berpikir. Analisis melalui pembagian keseluruhan ke dalam bagian-bagiannya dan
menyatukan bagian-bagian itu ke dalam keseluruhan, mengasalkan yang universal dari
yang partikular, mencapai kesimpulan yang afirmatif, semua dilakukan dengan
menggunakan daya ini.

Yang lain adalah daya duga, yang membawa kepada khayalan (ilusi) dan angan-angan
(delusi), yang menolak proposisi yang telah diteguhkan akal pikiran.

Daya duga merupakan kekuatan jahat yang menyesatkan manusia dari nilai-nilai akal
pikiran kejujuran, kebaikan, keadilan, keberanian, kemurahan hati. Akal mengetahui
bahwa sumbernya bukanlah alam indra saja, tetapi merupakan bagian dari alam
imaterial. Akal dengan kemuliaan nalar dan spiritualitas itu melemahkan
kebergantungannya kepada tubuh dan ingin kembali kepada alam roh dan hakikat.
Tetapi, daya duga ini memandang dirinya sendiri terbuat dari bahan yang sama
dengan akal dan berada pada tingkatan yang sama sehingga ia pun terlibat dalam
pertentangan dan perselisihan. Misalnya, jika akal menyatakan bahwa di atas alam
akal tidak terdapat apa pun atau tidak ada kehampaan tak terbatas, daya duga
mengatakan: “Tidak, di atas alam akal tidak terdapat kehampaan tak terbatas,
tetapi yang ada justru segala hal.”

Contoh lain perselisihan antara daya duga dan akal: jika seseorang dibiarkan
sendirian dengan jenazah di malam hari, akal akan menerangkan, sedangkan angan-
angan menumbuhkan rasa takut ke dalam hati. Ilusi memainkan tipu dayanya terutama
dalam hal-hal yang tidak dapat dengan jelas dicerap oleh indra. Sebenarnya, ia
mengingkari segala sesuatu yang tidak dapat dipersepsikan. Ia tidak mengetahui
bahwa akal dan jiwa jelas tidak bisa mencerap sesuatu secara langsung tak lain
karena materi terlalu kasar, sedangkan akal dan jiwa tidak diciptakan dengan bahan
yang sama. Daya ilusi (daya duga) ini tidak mengetahui bahwa ia sama sekali buta
terhadap segala sesuatu yang bersifat imaterial. Materi hanya mengetahui apa yang
berada di permukaan air, tetapi tidak mengetahui kedalamannya yang tersembunyi di
bawah permukaan air.

Daya pengamatan lain yang tersembunyi adalah daya ingat (memori). Ia menyimpan
semua yang telah terjadi, dan mengingatnya.

Semua daya yang tersembunyi ini merupakan energi. Masing-masing memiliki tempat
tersendiri di dalam otak. Ketika ada gangguan terhadap tempat itu, energi yang
dimiliki oleh tempat itu juga akan terganggu, sementara daya lain tetap aman pada
tempatnya masing-masing, Inilah betapa terbukti bahwa masing-masing daya ini
berbeda dan bahwa semua daya tersebut mempunyai tempat yang berbeda di dalam otak
manusia.

Pada hewan dan sifat hewani dalam diri manusia terdapat dorongan-azali yang
bercabang dua. Salah satunya adalah energi seksual. Ia menginginkan dan terpikat
kepada hal-hal yang menyenangkan. Cabang lainnya adalah daya tolak atau amarah. Ia
menolak hal-hal yang tidak menyenangkan. Hewan juga memiliki energi untuk
mempertahankan hidup. Jiwa hewani yang terdapat pada hewan maupun dalam jiwa-
rendah-manusia inilah yang berisi energi semacam itu. Ia berupa materi beruap yang
membentuk empedu, jenis kelamin, darah, dan lendir. Ia dihasilkan dalam bilik-kiri
jantung, dan menerima energi dari cahaya jiwa manusia.

Jiwa-hewani, tubuh, dan ego adalah materi, bagian dari alam yang diciptakan. Jiwa
manusia bagian dari Ketuhanan, dan berada di bawah pengendalian Allah. Hanya
dengan suatu pencerahan yang jiwa hewani terima dari jiwa manusialah yang mampu
bermanifestasi dalam akal.

Mereka bertanya kepadamu mengenai roh,


Katakanlah: “Roh adalah urusan Tuhanku.”
(Q.S. al-Isra’ 17:85)

Dari yang tertinggi hingga yang terendah, ranah dan inti yang ada pada manusia
merupakan Pusat Ilahi, pusat Akal, pusat Ego, pusat Energi, dan pusat Materi.

Bukti bahwa (meskipun berupa materi yang diciptakan) jiwa hewani mempunyai
kualitas uap yang halus adalah bahwa ia harus melewati jalan sempit di dalam
tubuh. Faktanya, jika ada halangan di jalan itu, bagian tubuh yang melingkari
jalan ini mati. Jiwa hewani melayani jiwa manusia sebagaimana binatang-beban
asalkan ia dalam keadaan baik yang hanya bisa dicapai melalui didikan daya
penalaran yang diterima dari pencerahan jiwa manusia. Ia menjadi terpisah dan
independen ketika ia terlepas dari daya penalaran itu. Jiwa hewani ini
bertentangan dengan Jiwa Suci (jiwa tertinggi dalam diri manusia). Jiwa Suci akan
diuraikan pada bab yang membahas jiwa para nabi.

Jiwa manusia merupakan salah satu cahaya suci Allah yang tak berdimensi dan tak
bertempat. Ia terbit dari Allah dan akan terbenam di dalam Allah. Ia misteri tak
terungkap dalam hadis qudsi,

Kuntu kanzan makhfiyyan


Fa ahbabtu an u‘rafa
Fa khalaqt-ul-khalq

Aku adalah perbendaharaan tersembunyi


Aku ingin dikenal, maka Ku ciptakan makhluk.

Ada sebagian manusia, ketika mereka mengetahui bahwa jiwa manusia bukanlah materi,
terperosok ke dalam dugaan bahwa jiwa inilah Allah, dan masuk ke dalam jurang
kesesatan. Allah Maha Esa, tak ada yang menyerupai-Nya. Jika jiwa Zayd dan ‘Amr
merupakan jiwa yang sama dan tunggal, maka ketika salah satunya mengetahui
sesuatu, yang lain juga akan mengetahuinya. Dan jika seseorang mengetahui, maka
semua manusia juga akan mengetahui. Tetapi, tidaklah demikian halnya. Selain itu,
bagaimana mungkin di dalam tubuh material ini, energi dan dayanya, terdapat Allah
Yang Maha Tinggi?

Manusia lain mengira bahwa jiwa manusia (sekalipun bukanlah Allah itu sendiri)
setidak-tidaknya merupakan bagian dari Allah. Mereka keliru. Karena Allah bukanlah
materi, bagaimana mungkin Dia dapat dibagi, dan siapa atau kekuatan apa yang bisa
membuat-Nya terbagi-bagi?

Sebagian yang lain mengira bahwa jiwa manusia kekal seperti halnya Allah Yang Maha
Kekal, dan bahwa ia berdiri dengan sendirinya. Seandainya jiwa manusia seperti
itu, maka siapakah gerangan yang memisahkan jiwa dan tempat sucinya, memasukkannya
ke dalam alam kehidupan ini, lalu mengambilnya dari dunia ini dan membawanya ke
dalam alam kematian dan kegelapan? Bagaimana mungkin daya seorang bayi yang baru
lahir menariknya dari alam cahaya dan kesucian? Bagaimana jiwa-jiwa saling berbeda
satu sama lain dalam alam yang kekal? Mereka sama namun tidak menempati ruang atau
tempat. Mereka tidak berbuat atau bereaksi sebelum menghuni badan material. Mereka
juga tidak mempunyai sifat yang hanya mereka dapatkan setelah mereka berada di
dalam jasad. Maka, bagaimana mereka bisa berbeda? Tak mungkin ada jiwa tunggal
yang terbagi-bagi di antara sekian banyak jasad. Karena, sesuatu yang tidak
memiliki jasad material tidak dapat dibagi-bagi. Ia hanya turun ke dalam jasad
jika jasad memang telah siap menerimanya.

Seperti anda ketahui, api dari sebuah korek-api tidak kehilangan apa pun ketika
menyulur api pada sesuatu yang mudah terbakar. Jiwa akan masuk ke dalam jasad,
jika jasad mempunyai potensi untuk menerimanya, tanpa menyebabkan kekurangan
kepada Yang Memindahkan jiwa kepada jasad itu. Yang menciptakan jiwa adalah Sang
Pencipta segalanya, Yang Maha Penyayang, Yang lebih besar kepada kita daripada
diri kita sendiri, Yang Maha Kuasa, Yang Maha Suci.

“Cahaya yang memperlihatkan hal yang masuk akal adalah cahaya iman dan ilmu, dan
mata yang dapat melihatnya adalah bashirah, mata hati.”
Syekh Tosun Bayrak

“Di lautan yang dalam ada kekayaan tak tertera. Tapi kalau kau cari aman, di
pantailah itu adanya.”
Sa‘di

Bentuk Ketiga Cahaya


Beberapa Persoalan yang
Perlu Dicermati

Ada tiga dimensi akal dalam hubungannya dengan konsep eksistensi: wajib,
(niscaya); mumkin (mungkin); dan mumtani‘ (mustahil). Wajib adalah suatu
eksistensi yang wujudnya merupakan keniscayaan; mumkin adalah sebuah eksistensi
yang wujudnya maupun ketiadaannya tidak bersifat niscaya; mumtani‘ adalah
eksistensi yang mustahil adanya. Mumkin, yang mungkin, jika ditambahkan kepada
kemungkinan lain, dapat menjadi wajib, yang niscaya, atau mumtani‘, yang mustahil.

Sebab adalah sesuatu yang melaluinya eksistensi sesuatu menjadi niscaya. Yang
mungkin tidak dapat bereksistensi dengan sendirinya, sebab jika eksistensinya
sendiri sudah cukup bagi wujudnya, tentu ia tidak lagi merupakan hal yang bersifat
mungkin, tetapi niscaya. Dengan demikian, bagi yang mungkin untuk bereksistensi,
haruslah ada sebab. Ketika sebab itu telah sepenuhnya diwujudkan, akibat pun
dihasilkan. Karena eksistensi segala sesuatu bergantung pada kehendak, waktu,
ruang, keberkaitan, potensi, dan sebagainya. Jika sebab itu tidak sepenuhnya
diwujudkan, maka akibat pun tidak sepenuhnya diwujudkan. Jika semua sebab dan
syarat bagi eksistensi sesuatu memang ada, dan semua sebab maupun syarat yang
tidak diperlukan bagi eksistensi itu dihilangkan, maka eksistensi sesuatu itu
menjadi bersifat wajib, niscaya.

Jika sebab itu jelas, dan sebagian dari pemeriksaan terhadap yang mungkin itu
bersifat positif, maka akibat menjadi jelas. Pada permulaan proses konsepsi,
realisasi dari sesuatu yang nyata, yang harus ditambahkan kepada sebab. Orang-
orang yang menerima proposisi ini menjelaskan Allah Yang Berada dengan sendiri-Nya
dengan hadis Kāna Allāhu wa lam yakun ma‘ahu syai’: “Allah sudah berada ketika
segala sesuatu yang lain belum berada.” Allah adalah sebab bagi penciptaan, tetapi
Dia tidak membutuhkan apa pun selain diri-Nya sendiri. Dengan demikian, Dia
bukanlah mkhluk, meski tidak dapat dipisahkan dari makhluk.

Bentuk Keempat Cahaya


Ada Lima Bagian

BAGIAN PERTAMA

Dua hal tak dapat menjadi wajib (niscaya) pada saat yang bersamaan. Jika
eksistensi kedua hal itu bersifat niscaya sekaligus dan pada waktu yang bersamaan,
maka eksistensi keduanya tentu akan sama dan saling bergantung satu sama lain.
Wajib bagi keduanya untuk memiliki perbedaan yang memisahkan satu dengan lainnya.
Jika keniscayaan salah satu atau kedua-duanya bergantung pada perbedaan, maka
eksistensi keduanya adalah mungkin, bersifat mungkin (possible), bukan niscaya
atau mutlak.

Mustahil mengonsepsi dua hal yang tidak memiliki perbedaan. Jika tidak ada
perbedaan, tentu keduanya satu dan sama. Terdapat banyak jenis materi yang berada
dalam berbagai aspek dan kondisi, tetapi yang wajib, eksistensi keniscayaan
mutlak, hanyalah satu. Esksistensi segala sesuatu yang lain merupakan sebuah
kemungkinan yang membutuhkan kekuatan yang akan menentukan eksistensinya di atas
ketiadaannya.

Kekuatan yang tiada taranya itu adalah Sang Pencipta Yang Berada dengan
sendirinya. Yang eksistensinya-Nya Esa dan satu-satunya eksistensi yang niscaya,
wajib. Zat yang eksistensi-Nya merupakan Keniscayaan Mutlak mustahil tersusun dari
bagian-bagian. Bahkan, jika bagian-bagian itu dapat dikonsepsikan, bagian-bagian
itu kemungkinan hanya dikonsepsikan sebagai satu-satunya jawaban yang ke dalamnya
segala sesuatu dileburkan, dan bagian-bagian itu kemungkinan hanya dikonsepsikan
sebagai satu-satunya jawaban yang ke dalamnya segala sesuatu dileburkan, dan
bagian-bagian ini dengan sendirinya tidak pernah bersifat wajib, niscaya, karena
yang ada hanya Yang Esa, Tunggal, Niscaya, yang menjadi sandaran segala sesuatu.

Sifat, atribut-atribut deskriptif Keniscayaan Mutlak ini, tidak mungkin dengan


sendirinya menjadi niscaya karena atribut-atribut Nama-nama indah Allah, Sang
Pencipta, sama dengan Zat-Nya, dan tak dapat dipisahkan. Seandainya atribut-
atribut Yang Esa, Tunggal, Keniscayaan Mutlak dengan sendirinya menjadi eksistensi
yang bersifat niscaya, tentu atribut-atribut itu tidak akan meniscayakan
kebergantungan terhadap suatu keniscayaan sedangkan Keniscayaan Mutlak tidak
bergantung pada atribut-atributnya. Yang Maha Esa, yang eksistensi-Nya merupakan
Keniscayaan Mutlak, tidak mengandung atribut-atributNya; juga tidak mungkin Dia
menciptakan atribut-atributNya. Sesuatu yang berada dengan sendirinya tidak
mungkin dipengaruhi oleh sesuatu yang lain, tidak pula oleh dirinya sendiri.

Seandainya kita menyadari dan mengawasi tubuh kita atau anggota tubuh kita, tentu
kita akan menyaksikan bahwa apa yang dilakukan oleh anggota tubuh itu lain dari
apa yang mungkin dilakukannya, sedangkan Yang Esa dan satu-satunya Keniscayaan
Mutlak tentulah tetap sama di sepanjang waktu dan segala keadaan sebagai Dia Yang
Maha Mengetahui, Maha Suci dari kejamakan dan Maha Suci dari kelemahan.

Manusia adalah mikrokosmos; alam semesta adalah makrokosmos. Apa pun yang berada
pada salah satunya berarti juga berada pada yang lain. Tingkatan yang menyatukan
segalanya adalah al-‘aql-ul-awwal, Penyebab Pertama, Keniscayaan Mutlak, yang
menjadi jiwa bagi keduanya. Ia juga merupakan akal universal, makhluk yang paling
pertama diciptakan Allah.

Yang tertinggi di antara kedua eksistensi itu adalah yang tujuan eksistensinya
untuk dirinya sendiri. Menurut sebuah hadis Nabi: “Allah telah menciptakan alam
semesta untuk manusia, dan manusia untuk dirinya sendiri.” Bagaimana mungkin dia
yang kesempurnaannya tidak utuh dapat memberikan kesempurnaan terhadap yang lain?
Segala sesuatu yang tersusun dari sejumlah unsur, dalam hubungannya dengan sesuatu
yang eksistensinya merupakan keniscayaan mutlak, masuk ke dalam kategori yang
mustahil.

Allah Yang Maha Pencipta tidak memiliki saingan atau lawan, dan tidak ada sangkut
pautnya dengan tempat atau dimensi. Dia berdiri sendiri dan Maha Sempurna, Maha
Baik, dan Pemilik segala cahaya. Dia bukanlah manifestasi yang meniscayakan apa
yang dimanifestasikan pada-Nya. Dia bukanlah esensi untuk diperbandingkan dengan
esensi lain. Segala sesuatu, yang tidak memiliki kesamaan, menjadi saksi atas-Nya,
eksistensi Keniscayaan Mutlak, Sebab Pertama, yang membuat segala sesuatu menjadi
berada.

Materialitas bukanlah kondisi sebab-akibat dari semua ragam eksistensi. Kenyataan


bahwa segala sesuatu mempunyai ciri khas tersendiri, dalam bentuk, ukuran,
manifestasi, pergerakan, dan perilaku yang saling berbeda satu sama lain, dan
tingkatan berbeda yang kita pahami dalam tatanan alam semesta, membuktikan bahwa
ada kekuatan di luar yang telah menciptakan segala sesuatu itu. Jika, misalnya,
materialisme segala sesuatu menjadi karakteristik sebab-akibat yang sama, tentu
perbedaan dan pertentangan semacam itu tidak akan terjadi.

BAGIAN KEDUA
Menetapkan Bentuk Cahaya

Kesamaan di antara benda-benda material adalah wujudnya yang bersifat material.


Tetapi, segala sesuatu yang bersifat material berbeda satu sama lain dalam hal
manifestasi cahaya yang memancar darinya. Cahaya itu tidaklah layak bagi segala
sesuatu yang bersifat material. Ia diterima dari yang lain dan dipantulkan atas
segala sesuatu. Cahaya yang dimanifestasikan dalam segala yang bersifat material
hanya merupakan bentuk cahaya yang mungkin karena cahaya yang tidak layak bagi
segala sesuatu yang bersifat material tentu tidaklah layak bagi dirinya sendiri,
melainkan bergantung pada yang lain. Seandainya ia berdiri sendiri, tentu ia akan
menjadi Cahaya Tertinggi.

Jiwa manusia terang dalam dirinya sendiri karena ia merupakan bagian dari Cahaya
yang berada dengan sendirinya. Tetapi, seperti yang telah kami jelaskan, karena
jiwa turun ke dalam jasad, tentu kami jelaskan, karena jiwa turun ke dalam jasad,
tentu ada kekuatan yang lebih tinggi daripadanya, dan jasad material tidak
menyebabkan eksistensinya.

Materi tidak mungkin menjadi sebab eksistensi sesuatu yang lain yang juga bersifat
material, karena sesuatu itu tidaklah menciptakan eksistensi sesuatu yang lain
yang keberadaannya lebih tinggi daripadanya. Sebuah cahaya tunggal wajib
memberikan pencerahan kepada sesuatu yang bersifat material untuk mempertinggi
eksistensinya. Itulah cahaya Keniscayaan Mutlak, Sebab Pertama, al-Hayy, Yang Maha
Hidup, al-Qayyūm, Yang Berdiri sendiri.

Diri, ego dalam bentuknya yang terbatas, menyatakan eksistensi Keniscayaan Mutlak
Yang Maha Suci ini. Dia merupakan Cahaya tertinggi, yang dapat dilihat oleh diri-
Nya sendiri, dengan diri-Nya sendiri, Maha Suci dari segala kebergantungan dan
hubungan dengan materi, dan dapat dilihat. Dia tak terlihat oleh kita dan
terhalang oleh kekuatan-intensitasnya yang dahsyat.

“Cahaya mentari memungkinkan kita untuk melihat segala sesuatu yang ada di
sekeliling kita, besar maupun kecil, dengan beragam bentuk dan warna. Dengan
cahayanya, kita dapat menemukan jalan dan dapat melihat lubang dan rawa. Demikian
pula Allah telah memberikan kepada kita cahaya iman. Cahaya iman menunjukkan kita
jalan-lurus keselamatan dan lubang dan rawa kekufuran, dosa, dan perbuatan
maksiat. Ia melenyapkan gelapnya kekufuran dan dosa di dalam dan di luar diri
kita. Ia membawa kita kepada cahaya kebenaran, keselamatan, dan ketenangan.”
Syekh Tosun Bayrak

BAGIAN KETIGA

Adalah penting bahwa kekuatan dahsyat yang Esa ini (Unik dan Tunggal), yang
tentunya dapat bermanifestasi dengan dirinya sendiri, tidak membutuhkan sebab bagi
keberadaan esensi-Nya seperti halnya eksistensi yang lain; Dia juga tidak perlu
muncul dalam berbagai bentuk. Dengan demikian, Dia tetap tidak menyerupai
eksistensi yang lain. Jika sifat eksistensi sesuatu berbeda dengan sifat
eksistensi yang lain, karena sifat-sifat itu berbeda satu sama lain. Inilah sebab
dan sumber kejamakan. Ini sifat dasar Keniscayaan Mutlak, Sebab Pertama, bahwa Dia
tidak memiliki aspek kejamakan. Keniscayaan Mutlak yang menjadi dasar bagi
eksistensi segala sesuatu yang lain tidak bersifat material. Dengan demikian, Dia
tidak mungkin mempunyai aspek-aspek yang tidak bersesuaian satu sama lain. Dia
bukanlah sebuah bentuk, keadaan atau kondisi yang membutuhkan tempat atau ruang.
Dia bukanlah jiwa yang membutuhkan jasad. Jika kita membayangkan eksistensi
imaterial yang merupakan cahaya yang mengenal Penciptanya, Yang menciptakannya
tanpa bentuk, maka eksistensi yang lebih agung daripada cahaya itu menjadi
mustahil. Ia adalah puncak dari segala yang mungkin, Esensi ini menjadi mungkin
oleh dirinya sendiri dan di dalam dirinya sendiri, dan, melalui hubungannya dengan
Yang Esa di hadapannya, menjadi niscaya. Dengan menerima keagungan pengamatan dari
Dia yang berada di depannya, ia menjadi sumber suci itu sendiri. Tetapi dengan
menyadari kekurangannya jika dibandingkan dengan keagungan Cahaya Pertama, ia
kembali ke dalam jisim dan bentuk eter. Dengan demikian, esensi suci kedua harus
dilihat sebagai berada di antara Esensi Mutlak yang berada di atasnya dan jisim
eter yang berada di bawahnya.

Inilah cara akal suci nonbendawi, langit, dan cakrawala dibentuk. Meskipun
eksistensi imaterial ini merupakan kekuatan-kekuatan yang aktif, namun ia tak
lebih dari sarana yang melaluinya Sumber Suci Pertama, Esa, dan Unik mencurahkan
rahmat-Nya. Yang Esa-lah yang menciptakan semua gerak, perputaran, dan perhentian.
Yang Esa-lah yang menciptakan segalanya. Ketika cahaya yang kuat tidak
memungkinkan cahaya kecil untuk bersinar, maka Pemilik segala kekuatan, yang
eksistensi-Nya wajib bagi semua eksistensi, Sebab Pertama, Sumber Suci yang Esa
dan Unik, tidak memungkinkan sarana-Nya untuk mencerahkan alam semesta dengan
sendirinya. Pencerahan dan kekuatan kesempurnaannya yang dahsyat berada di atas
ketakterbatasan. Realitasnya melingkupi segala realitas.

BAGIAN AKHIR DARI BAGIAN KETIGA


DAN PERMULAAN BAGIAN KEEMPAT
Alam semesta dibagi ke dalam tiga bagian. Yang pertama disebut oleh para filsuf
kuno seperti Aristoteles, Sokrates, dan Plato sebagai alam Akal.

Alam ini disebut an-Nur-ul-Muhammad, makhluk pertama, yang juga disebut al-‘aqlu
kull, Akal Mutlak, yang berisi potensi segala eksistensi. Menurut para filsuf
Yunani kuno, alam Akal ini terdiri dari tiga aspek. Pertama: eksistensinya. Kedua:
kebergantungan eksistensinya terhadap suatu kekuatan kreatif dan Ketiga:
keberadaannya sebagai sebuah eksistensi yang bersifat mungkin yang mencakup segala
kemungkinan yang lain.

Dari aspek eksistensinya, akal diciptakan, Dari kebergantungannya pada kekuatan


kreatif, nafs (jiwa) diciptakan. Nabi s.a.w. bersabda: Makhluk pertama yang
diciptakan Allah adalah akal (Awwalu mā khalaqa Allāh- ul-‘aql). Inilah ‘aql-ul-
kull, Akal Mutlak, alam Akal, logos dalam istilah para filsuf Yunani kuno.

Akal yang diciptakan dari aspek eksistensinya berada dalam dua tingkatan. Yang
lebih rendah adalah ‘aql-ul-ma‘asy, Akal biasa yang mengetahui urusan-urusan dunia
material. Yang lebih tinggi adalah ‘aql-ul-ma‘ad, Akal Ilahi, yang mengetahui
urusan-urusan spiritual. Fungsi utamanya adalah mendorong manusia mengenal Allah
dengan cara mengetahui rahasia “man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu,” “orang
yang mengenal dirinya sendiri berarti mengenal Tuhannya.”

Menurut para filsuf Yunani kuno, semua esensi imaterial, yang tidak dapat
dikonsepsi oleh indra, dan yang tidak memiliki hubungan apa pun dengan eksistensi
material, berada di dalam alam Akal. Bagian kedua alam semesta adalah alam nafs,
Jiwa (jiwa segala makhluk). Kekuatan dan kesempurnaan an-nafs-ul-thabi‘i, jiwa
alam, yang mempersatukan semua makhluk dan mencegahnya dari perpecahan, dan an-
nafs-un-nabati, jiwa tumbuhan, membantu makhluk untuk berkembang, tumbuh, dan
beranak-pinak. An-nafs-ul-hayawani, jiwa hewani, membantu makhluk untuk bergerak,
mengindra, dan memiliki kehendak yang terbatas. Ketika jiwa ini terpisah dari
makhluk, kematian pun terjadi.

Alam an-nafs mencakup an-nafs-un-nathiqah, jiwa manusia. An-nafs-un-nathiqah


bersumber dari Tuhan, ketika Allah meniupkan napas-Nya sendiri kepada Adam a.s.,
ketika Adam diciptakan dari tanah, air, api dan eter. Allah berfirman dalam sebuah
hadis qudsi:

Wa naffastu fīhī min rūhī


Dan Aku tiupkan roh-Ku ke dalam dirinya.

An-nafs-un-nathiqah adalah kekuatan dan kesempurnaan yang memampkan manusia untuk


berpikir, memutuskan, menyaksikan, dan berada.

Ia berkembang dalam tujuh tingkatan, dari an-nafs-ul-ammarah, jiwa yang menguasai


yang disebutkan al-Qur’an sebagai:

Inn-an-nafsa la ammāratun bis-sū’


Sesungguhnya nafs, jiwa manusia, selalu memerintahkan
Kepada kejahatan.
(Q.S. Yūsuf 12:53)

Inilah jiwa manusia yang berdosa yang mencari kepuasannya dalam hasrat-hasrat
duniawi yang lebih rendah.

Wa lā uqsimu bin-nafs-il-lawwāmah.
Dan Aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali
(dirinya sendiri)
(Q.S. al-Qiyāmah 75: 2)
Pada tahap ini, jiwa mampu memutuskan mana yang baik dan mana yang jalan, ia
menyadari ia menyadari dosa yang terkadang ditentangnya: ia menerima kesalahannya,
bertobat, dan berupaya menebusnya.

Tingkatan ketiga adalah an-nafs-ul-mulhimah, jiwa tercerahkan, yang disebut


sebagai:

Wa nafsin wa mā sawwāhā fa alhamahā


Fujūrahā wa taqwāhā.
Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya) maka
Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan
Dan ketakwaannya.
(Q.S. asy-Syams 91: 7-8)

Pada tingkatan ini, jiwa mengetahui yang benar dan yang salah melalui ilham, dan
mematuhi suara hati nurani.

Tingkatan keempat adalah an-nafs-ul-muthma’innah, jiwa yang beroleh rahmat dan


keselamatan yang disebutkan dalam al-Qur’an senagai:

Yā ayyuh-an-nafs-ul-muthma’innah, irji‘ī ilā rabbiki


Rādhiyatan mardhiyah
[Kepada jiwa yang baik akan dikatakan]
“Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu
Dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.”
(Q.S. al-Fajr 89: 27-28)

Tingkatan kelima adalah an-nafs-ur-radhiyah, jiwa kepasrahan total, jiwa muslim


hakiki, jiwa yang benar-benar patuh, seperti yang disebutkan sebagai:

Radhiya Allāhu ‘anhum wa radhū ‘anhu.


“Allah meridai mereka dan mereka rida kepada-Nya.”
(Q.S. al-Mā’idah 5: 122)

Inilah jiwa yang menerima dan rida terhadap kehendak Allah dan mutlak kepada-Nya.

Tingkatan keenam adalah an-nafs-ul-mardhiyah, jiwa yang dekat kepada Penciptanya.


Jiwa yang diridai Allah, seperti yang disebutkan dalam Q.S. al-Fajar 91: 27-28,
Q.S. al-Ma’idah 5: 122 dan Q.S. al-Bayyinah 98: 8. Inilah tahapan ketika jiwa
menerima keridaan Allah dan keridaan itu bersifat timbal balik. Jiwa secara utuh
menjadi menyatu dengan kehendak universal Allah. Dengan kehilangan kehendaknya
sendiri, jiwa berada dalam sifat fanā’ fillāh, lebur di dalam Allah.

Sifat finak an-nafs-ul-kalmilah, jiwa manusia, adalah an-nafs-uz-zakiyyah atau an-


nafs-ul-kamilah, jiwa sempurna yang disucikan yang disebutkan dalam al-Qur’an
sebagai:

Qad aflaha man zakkāhā.


Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan
Jiwanya.
(Q.S. asy-Syams 91: 9)

Inilah jiwa al-insan-ul-kamil, manusia sempurna, manusia sejati, mikrokosmos


keseluruhan alam semesta, yang mencakup segala sesuatu di alam semesta.

Alam nafs, jiwa, dan alam an-nafs-un-nathiqah, jiwa manusia, tidak mempunyai
bentuk atau dimensinya sendiri, tetapi menempati bentuk-bentuk material, dan
bereksistensi di dalam alam-materi. An-nafs-un-nathiqah, jiwa manusia (atau
rasional), berada di dalam wujud spiritual, cakrawala, dan di dalam manusia. Ia
mempunyai dua jenis. Pertama, yang menempati jisim juga terdiri dari dua jenis,
etereal dan elemanta. Cahaya yang lebih tinggi dan lebih kuat adalah ar-ruh-ul-
quddus, Roh Suci, yang oleh para filsuf disebut al-‘aql-ul-af‘al, Akal Aktif, yang
tak ubahnya pembimbing setia yang membimbing manusia secara rahasia, memberi bekal
kepada roh manusia, dan mengarahkan kita kepada pengetahuan yang sempurna.

Semua ini adalah cahaya suci, namun eksistensi yang paling awal diciptakan adalah
al-‘aql-ul-awwal, Akal Pertama dan Universal, an-nur-ul-muhammadi, Cahaya
Muhammad, yang melaluinya merambat sinar Cahaya Pertama. Ketika siar Cahaya
Pertama semakin terpantul dari hati ke hati tanpa kata-kata atau huruf, Akal
meningkat, dan melalui wahyu pencerahan ini, menjadi beraneka ragam.

Karena kita menerapkan hukum sebab-akibat, cahaya yang diturunkan kepada kita ini,
yang memantul dari hati ke hati, begitu dekat kepada kita. Pada hakikatnya, karena
kekuatan intensitasnya yang luar biasa, apa yang terjauh menjadi seolah-olah
paling dekat kepada kita. Yang paling dekat adalah Cahaya Tertinggi. Tidakkah anda
lihat bahwa dua buah titik, salah satunya hitam sedang yang lainnya putih, yang
terletak pada jarak yang sama, maka yang putih terlihat lebih dekat kepada kita?
Yang putih adalah paling jelas yang bisa dilihat. Cahaya Pertama merupakan cahaya
yang paling tinggi dan paling dekat.

Segala puji bagi Zat Suci, Sumber, Sebab segala sesuatu, Maha Suci dari segala
kekurangan, Maha Sempurna, Tertinggi di atas segalanya; lebih jauh daripada yang
paling jauh, tetapi lebih dekat daripada yang paling dekat karena daya tembus
cahaya-Nya yang luar biasa.

BAGIAN KELIMA

Allah al-Bari’, Pencipta yang menciptakan dari noneksistensi (ketiadaan) menuju


eksistensi segala sesuatu selain diri-Nya sendiri Yang Maha Kekal. Karena Dia –
Pencipta segala sesuatu yang lain itu – Maha Kekal, maka segala yang eksistensinya
bersifat mungkin dan menyandarkan wujudnya kepada-Nya juga akan kekal. Segala
sesuatu yang eksistensinya bersifat mungkin hanya bergantung pada Allah untuk
bereksistensi, karena Allah al-Bari’ (Pencipta) yang berada sebelum segala sesuatu
yang lain.

Praeksistensi-Nya tidak bergantung pada zaman dan kondisi seperti halnya


eksistensi kita: misalnya, kita bisa menunda sesuatu hingga hari Kamis atau hingga
Zayd datang. Tak dapat diragukan lagi bahwa tak ada sesuatu yang berada sebelum
Dia. Yang Maha Pencipta secara mutlak tak mengalami perubahan. Semua makhluk
adalah atas kehendak-Nya. Dia tidak akan menciptakan sesuatu yang tidak
dikehendaki-Nya, atau menghendaki apa yang tidak dikehendaki-Nya.

Anda tahu bahwa cahaya bersumber dari matahari, dan anda tahu bahwa matahari tidak
diciptakan dari cahaya. Bagaimana mungkin anda meragukan bahwa Allah Yang
menciptakan segala sesuatu. Maha Adil dan Maha Suci dari segala kekurangan dalam
Penciptaan-Nya? Cahaya tetap bersinar, dan cahaya saling memantulkan satu sama
lain. Apalah matahari menjadi berkurang? Apakah sinarnya memudar?

Bentuk Kelima Cahaya

Sebuah sebab dibutuhkan untuk menetapkan sebuah eksistensi baru sebagai baru, dan
pertimbangan sebab-akibat tampak menjadi rangkaian kesatuan ketika tak ada akhir
atau awal bagi munculnya sebab baru yang menimbulkan penampakan eksistensi baru
itu. Ini membuktikan bahwa selama sebuah eksistensi ditentukan dan bergantung pada
sebab eksistensi yang lain, ia tidak mungkin menjadi yang pertama dari berbagai
eksistensi baru.

Yang mengakibatkan pembaruan dalam dirinya sendiri adalah gerakan. Dari semua
gerakan, gerakan mutlak yang berlangsung terus tanpa henti adalah gerakan
melingkar. Gerakan melingkar yang terus-menerus hanya mungkin diciptakan oleh
cakrawala yang berputar. Inilah sebab munculnya segala kejadian di alam material
ini. Allah, Sang Pencipta, yang mengubah eksistensi-eksistensi dari noneksistensi
(ketiadaan) menjadi eksistensi, tidaklah berubah. Dan dalam ketiadaan perubahan
pada zat-Nya, Dia tidak dapat menjadi sebab semua gerakan baru itu. Seandainya
bukan karena gerakan melingkar cakrawala, niscaya tidak ada eksistensi baru yang
menjadi sumber eksistensi kausal. Cakrawala melingkar langit, gerakan cakrawala,
bukanlah gerakan alamiah, karena gerakan ini menyimpang dari titik yang dituju.
Sesuatu yang bergerak menurut sifatnya berhenti pada titik yang ingin dicapai oleh
sifat itu, karena ia tidak dapat menghindari titik yang ingin dicapai oleh sifat
dasarnya. Dengan demikian, kita simpulkan bahwa gerakan ini merupakan gerakan yang
dimulai atas dasar kehendak.

BAGIAN PERTAMA

Yang menghidupkan dan menggerakkan perputaran cakrawala adalah Esensinya. Ada pun
yang menggerakkan bentuk cakrawala adalah sebuah daya yang berkehendak (volitional
thrust). Awal gerakan dari bentuk cakrawala adalah daya dorong cakrawala, yakni
sebuah gerakan involuner atau tak berkehendak (involuntery movement).

Jika kita berpikir tentang bentuk cakrawala dan esensinya yang saling tidak
bergantung satu sama lain, maka gerakan bentuk yang diawali oleh daya esensi itu
menjadi gerakan involunter. Tetapi, jika kita berpikir tentang esensi dan bentuk
yang satu, maka gerakan cakrawala itu merupakan tindakan yang dilakukan atas dasar
kehendak. Dalam hal ini, cakrawala hidup dan berkesadaran, namun tidak membutuhkan
makanan, atau dilahirkan, atau tumbuh. Ia tidak mempunyai hasrat, penentangan, dan
perlawanan. Ia tidak mempunyai amarah atau daya tolak. Karena ia tidak memberikan
nilai kepada sesuatu yang rendah, maka tidak ada sifat rendah dalam gerakannya.

Ada dua jenis eksistensi yang mungkin: eksistensi abstrak yang nonmateri dan
eksistensi yang mempunyai bentuk material. Baik yang bersifat abstrak maupun
material, seperti halnya akal nonmateri dan cakrawala material, bereksistensi
dalam sebaik-baik bentuk yang mungkin bagi keduanya. Keduanya juga tidak mungkin
dapat menjadi lebih sempurna lagi. Manusia yang merupakan mikrokosmos seluruh alam
semesta memiliki potensi kesempurnaan total, meskipun sifat alamiahnya tidak
seperti itu.

Ketika kita menyucikan diri kita dari hubungan dan perhatian terhadap raga kita
dan menenggelamkan diri di dalam perenungan tentang keagungan dan kekuasaan
Pencipta kita, Pencipta yang mengubah eksistensi dari noneksistensi (ketiadaan)
menjadi eksistensi dan cahaya memancar yang bersumber dari-Nya, kita dapati esensi
kita menjadi indah dan bersinar dengan kemilau cahaya Ilahiah dan manifestasi
Allah, dan kita pun mencapai tujuan yang kita dambakan. Bagaimana mungkin kita
meragukan kepribadian yang diberkahi Tuhan yang tenang, jauh dari penentangan dan
bencana dunia ini, padahal kita tidak ragu-ragu bahwa kita akan mencapai
kebahagiaan tertinggi dengan cara menyelamatkan diri kita dari perbudakan badani
itu? Wujud yang dirahmati ini, dalam sifat yang dibimbing Tuhan, tidak lalai atau
takut untuk menyela kelangsungan cahaya yang mereka terima. Jika gerakan mereka ke
arah tujuan yang dicita-citakan tidak terbebas dari hambatan, kemajuan mereka akan
terganggu.
Kekasih Allah dalam sifat yang lebih tinggi ini tidak saling menyerupai satu sama
lain. Mereka adalah cahaya, dan mereka adalah sebab dan penyelamat. Mereka
merasakan alam suci melalui perantara antara diri mereka dan Sang pencipta. Dari
pencerahan yang diterima melalui “penemuan” dengan Tuhan, segala potensi muncul
dalam diri mereka. Dengan penciptaan kembali gerakan, iluminasi diperbarui, dan
ini berlanjut terus-menerus. Melalui perubahan yang terus-menerus ini, kejadian-
kejadian baru di dunia yang lebih rendah ini muncul secara bergantian. Jika
iluminasi dan gerakan ini tiada, tentu hanya sedikit kebaikan dan rahmat Allah
yang akan muncul, dan pada titik tertentu iluminasi Tuhan pasti akan berhenti.

Rahmat dan kebaikan Allah berlanjut melalui berbagai tingkatan dan keragaman dalam
keberlangsungan alam material ini. Gerakan menyeluruh bersumber dari peristiwa-
peristiwa yang terjadi di dunia yang kacau dan durhaka ini. Sekiranya bukan karena
gerakan menyeluruh dan apa yang ditimbulkannya, dunia rendah dan pembaruan tanpa
akhir segala sesuatu ini akan menjadi tak bermakna. Kita tidak perlu membayangkan
pengaruh lain terhadap keharmonian umum ini kecuali dari Allah. Gerakan cakrawala
bukanlah sebab bagi eksistensi segala sesuatu, tetapi ia bersumber dari berbagai
potensi. Pembentukan potensi itu adalah munculnya kemungkinan-kemungkinan baru di
dalam segala sesuatu yang menetapkannya untuk menerima iluminasi baru.

Allah, Sang Pencipta, Maha Suci dari perubahan. Tak ada perubahan pada zat-Nya
Yang Maha Suci yang mungkin membawa kepada perubahan yang membedakan manifestasi-
Nya. Keabadian sifat pemurah Allah, keabadian eksistensi para pecinta Allah, dan
pembaruan kejadian dan gerakannya menjaga kemaslahatan bagi makhluk di dalam dunia
yang lebih rendah. Gerakan cakrawala tidaklah untuk mencipta segala sesuatu, namun
ia membentuk daya (kapasitas) padanya. Allah, Sang Pencipta, memberi kepada segala
sesuatu sesuai dengan tingkat kapasitasnya. Selama tindakan itu tidak diubah,
akibat dan yang diakibatkannya tidaklah mengalami pembaruan. Perubahan hanya
mungkin terjadi karena adanya perubahan dalam penetapan hal yang mungkin.
Pembaruan hanya dimungkinkan oleh kemungkinan yang diperbarui dalam unsur yang
terkena akibat.

Mungkin saja akibat dari sebuah wujud Unik diperbarui. Hal ini tidak terjadi
secara kebetulan dalam sifat-Nya, namun bisa saja terjadi melalui perubahan yang
mungkin dari sifat cermin yang memantulkan-Nya. Misalnya, jika seorang manusia
menjadi entitas yang sama sekali tidak berubah dan tidak bergerak dikelilingi oleh
cermin yang banyak, besar dan kecil, jernih dan buram, maka beragam warna dan
bentuk yang muncul dalam semua cermin itu tidak ada kaitannya dengan perubahan
dalam berbagai atribut entitas ini, tetapi berhubungan langsung dengan semua sifat
cermin yang berbeda-beda itu. Itulah mengapa Allah Yang Maha Tinggi, Pencipta,
mengaitkan konstanta yang tak berubah kepada konstanta dan terus-menerus
memperbarui yang baru, sehingga Dia dapat menganugerahkan kebaikan, cahaya, dan
rahmat-Nya kepada kita.

Kebaikan dan rahmat Pencipta kita tidak mungkin habis atau berkurang. Kebaikan
adalah mengerjakan yang harus dikerjakan tanpa mengharapkan imbalan. Yang Maha Esa
dan Maha Kaya adalah Allah, karena Dia tidak mengharapkan imbalan dan tidak
mempunyai kebutuhan, Dialah Cahaya Tertinggi yang tidak membutuhkan selain diri-
Nya sendiri karena kesempurnaan dan esensi-Nya. Dalam seluruh tindakan-Nya tak
pernah ada rasa permusuhan dan prasangka. Esensi Wujud-Nya Yang Suci adalah
limpahan rahmat dan kasih sayang-Nya. Kerajaan-Nya yang maha halus dan esensi
segala sesuatu di dalamnya adalah milik-Nya. Esensi-Nya bukanlah untuk apa pun
atau siapa pun. Orang tidak mungkin membayangkan alam eksistensi ini lebih
sempurna daripadanya, karena zat-Nya Yang Maha Suci tidak mungkin berisi hal yang
remeh dan tak bermakna. Tetapi, melalui cara yang tak pernah berakhir dan tak ada
habis-habisnya. Dia menuntut yang lebih baik, dan yang terbaik. Ketika cahaya
lebih terang daripada sinar yang dipantulkannya, maka mustahil bagi alam
eksistensi untuk menjadi lebih sempurna daripada apa yang senyatanya. Hal semacam
itu mustahil. Sesuatu yang tak masuk akal tidaklah berada dalam kekuatan yang maha
kuat. Orang-orang yang tergesa-gesa menyimpulkan bahwa baik maupun buruk berasal
dari Allah adalah orang-orang yang membayangkan bahwa yang tinggi lebih unggul
daripada yang rendah, bahwa tidak ada alam lain yang dimiliki Allah yang berada di
balik kegelapan ini, dan tidak ada penciptaan lain kecuali penciptaan ini bukanlah
selain yang ada, maka keburukan dan kemudaratan akan menjadi sesuatu yang niscaya
dan tatanan menyeluruh akan dihancurkan dari satu ujung ke ujung yang lain.
Keadaan kita merupakan tingkatan tertinggi yang memang mungkin bagi kita. (“Dalam
penciptaan berbagai kemungkinan, yang bereksistensi adalah yang paling menakjubkan
dan paling baru,” menurut al-Ghazali ketika dia ditanya: “Apa yang menjadi tujuan
Allah dalam menciptakan makhluk?” ia menjawab: “Tujuan Allah diwujudkan pada
keadaan makhluk yang ada,” demikian diriwayatkan oleh Ja‘far ash-Shadiq).

Tingkatan terakhir adalah alam lain yang ke dalamnya jiwa kita yang telah
disucikan dari jasad dan ego akan kembali. Para penduduk alam yang mulia itu tidak
melakukan perbuatan yang membuka aib orang lain, menyerobot hak orang miskin,
menghukum orang yang tak bersalah, memuliakan orang yang hina, merendahkan orang
yang terhormat, menyakiti orang yang alim. Pekerjaan mereka adalah memerhatikan
cahaya manifestasi Allah dalam setiap aspek kehidupan. Jika kekacauan yang tampak
pada beberapa bagian alam semesta berfaedah, tentu ia hanya bermanfaat dalam
menimbulkan kekacauan pada bagian-bagian alam semesta yang lain yang padanya
kekacauan bersifat niscaya. Ketika perilaku alam yang lebih tinggi bukanlah untuk
alam yang lebih rendah, orang-orang yang masuk ke dalam golongan pertama – yang
berada dalam kekuatan dan keagungan ilahiah yang melingkupi mereka, sinar sifat
Ilahi dan cahaya keberadaan Allah – tidak menaruh kepedulian terhadap segala
sesuatu yang lain; mereka bahkan tidak mempunyai daya untuk memerhatikan diri
mereka sendiri. Mereka adalah cahaya murni, sehingga mereka mengetahui yang
tersembunyi maupun yang nyata. Tak ada yang tersembunyi dari pengetahuan mereka.

Fakta bahwa cakrawala tidak tersusun dari bagian-bagian dan bahwa tatanannya tidak
dapat diganggu dan bahwa ia selalu bergerak merupakan bukti bahwa ia bersifat
nonelemental. Dan ketidakefekrifan ringannya panas yang hanya dapat naik,
berartinya dingin yang hanya dapat turun, sifat basah yang dalam susunannya dengan
mudah menerima pemisahan dan hubungan, dan sifat kering yang mencegah pemisahan
dan hubungan, dan sifat kering yang mencegah pemisahan dan ikatan menunjukkan
bahwa tidak ada pembelahan atau penyatuan dalam cakrawala. Gerakan cakrawala ini
tidaklah vertikal; ia tidak bergerak menuju titik tengah, atau menjauh dari titik
tengah. Mungkin gerakannya adalah gerakan yang berada di antara keduanya, yakni,
melingkar. Cakrawala ini tidaklah berat atau ringan. Ia mempunyai sifat kelima.
Seandainya langit tidak melingkari bumi, maka ketika matahari terbenam di barat,
tentu ia tidak akan kembali ke timur. Atau, hal ini hanya mungkin terjadi jika
sekiranya ada hari yang ganda atau kembar. Dengan demikian, semua cakrawala itu
global. Sebenarnya, ia memiliki penalaran sendiri dan berhubungan dengan cahaya-
cahaya Tuhan melalui cintanya kepada cahaya-cahaya itu, dan sepenuhnya tunduk
kepada Sumber itu Yang membuatnya selalu memperbarui diri. Ia hidup di alam eter.

“Allah tersembunyi di dalam kekuasaan dan eksistensi-Nya yang tidak terbatas. Dia
laksana cahaya yang membuat segalanya dapat dilihat, tetapi Cahaya-Nya itu sendiri
menjadi hijab terhadap Cahaya-Nya. Yang tidak mempunyai batas tampaknya tidak
memiliki bentuk, sehingga menjadi tak terlihat. Tetapi Dia nyata dalam segala
sesuatu: apa pun yang kita lihat, segala suara yang kita dengar, segala sesuatu
yang kita sentuh, segala sesuatu yang kita rasa. Segala hal yang kita pikirkan,
segala sesuatu yang berada di luar dan di dalam diri kita adalah bukan Dia, namun
berasal dari-Nya. Segala sesuatu merupakan bukti keberadaan-Nya.”
Syekh Tosun Bayrak
AKHIR BENTUK KELIMA CAHAYA

Dalam alam eksistensi, hubungan pertama adalah hubungan antara Esensi – yang ada
dan bereksistensi – dan Yang Esa Yang Ada dengan sendiri-Nya. Hubungan ini
merupakan induk dan bentuk tertinggi dari semua hubungan dan diikat oleh cinta
kepada Yang Esa. Karena tidak mampu menyelami kedalaman cahaya batinnya sendiri,
ia ditaklukkan oleh kemandirian Yang Berada dengan sendiri-Nya. Hubungan ini
mempunyai dua aspek: cinta dan kekuatan. Salah satu dari kedua aspek ini lebih
tinggi dan lebih agung. Sifat hubungan ini masuk ke dalam setiap alam, sehingga
setiap bagian mempunyai perimbangannya. Dengan demikian, semua esensi dibagi ke
dalam materi dan nonmateri, dan nonmateri mengungguli materi dan menjadi yang
dicinta atau sebab semua materi; salah satu di antara perimbangan ini lebih
mendasar. Di samping itu, esensi yang membedakan materi dibagi ke dalam dua macam
perimbangan. Salah satunya adalah yang tinggi dan kuat, sedangkan yang lainnya
lebih rendah dan pasif. Materi sendiri dibagi ke dalam beberapa perimbangan, yang
etereal dan elemental. Sebagian dari materi etereal dibagi ke dalam dua
perimbangan: kebahagiaan dan kekuatan yang dahsyat, atau matahari dan bulan, yang
serupa dengan akal dan ego. Yang mulia dan yang rendah, kanan dan kiri, Timur dan
Barat, jantan dan betina pada hewan merupakan contoh mengenai hal ini. Dalam
evolusi hubungan yang pertama, yang sempurna dan yang kurang, dipersatukan melalui
perkawinan. Inilah yang dapat dipahami dalam ayat al-Qur’an:

“Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan


supaya kamu mengingat akan kebesaran Allah.”
(Q.S. adz-Dzariyat 51: 49)

Matahari adalah yang tertinggi dan wujud yang paling mulia, yang paling bersinar,
paling mulia, dan cemerlang di antara semua materi, penerang dan sumber kehidupan
alam semesta, yang menepis kegelapan dan memancarkan cahaya, pemimpin langit,
pemberi cahaya kepada benda-benda langit tanpa mengharapkan imbalan. Matahari
merupakan salah satu manifestasi terbesar dan paling istimewa dari keagungan dan
kekuasaan Yang Esa, yang memulai dan memungkinkan pembaruan diri semua itu!

Maha Suci Allah, Pencipta Yang Paling Indah!

Bentuk Keenam Cahaya

Jiwa (Akal Kosmik) tidaklah rusak oleh rusaknya raga, karena jiwa bukanlah jenis
cahaya yang membutuhkan ruang dan tempat. Ia tidak mempunyai lawan atau penentang.
Sumbernya kekal, dan ia abadi dengan sumbernya. Hubungannya dengan jisim-material
bergantung pada hasrat atau kesamaan yang dimiliki oleh satu sama lain.

Seperti anda ketahui, nikmat dan perderitaan pada setiap keadaan berselaras dengan
sifat khasnya sendiri dan dengan derajat kesempurnaannya. Aroma bergantung pada
hubungan antara objek penciuman dan subjek yang mencium. Rasa bergantung pada
hubungan objek yang dirasakan dan subjek yang merasakan. Pengetahuan bergantung
pada hubungan antara objek yang dipelajari dan subjek yang ingin belajar, Ia
bergantung pada apakah yang satu layak bagi yang lain. Kesempurnaan substansi akal
yang tercerahkan diwarnai oleh pengetahuan tentang tatanan dan kebenaran
universal. Ringkasnya, ketika pengetahuan mengenai awal dan akhir bergantung pada
penyucian seseorang dari kekuatan material dan hawa nafsu, dan tidak adanya
kesempurnaan ini menciptakan keadaan yang berlawanan, pengalaman nikmat dan
penderitaan juga bergantung pada semua kondisi ini.

Nikmat dan penderitaan dapat bereksistensi meskipun keduanya tidak dirasakan.


Sebagai contoh, ada orang mengatakan: “Jika kebahagiaan seseorang bergantung pada
kemampuannya berkonsepsi, bagaimana kita tidak merasakan rasa senang atau gembira
ketika sedang belajar?” Jawabannya adalah bahwa kegembiraan dan rasa senang
bergantung pada beberapa kondisi antara yang dikonsepsikan dan subjek yang
berkonsepsi. Misalnya, hakikat nyala api bergantung pada hubungannya dengan zat
yang dapat terbakar. Ketika zat yang pingsan atau mabuk berat tidak akan merasakan
rasa sakit jika dipukul atau merasa senang sekiranya dia berada di pelukan
kekasihnya. Selama jiwa dikuasai oleh hawa-nafsu (jiwa badaniah), ia tidak akan
menderita karena kejahatan, tidak pula merasa senang dengan kebaikan karena ia
tengah berada dalam keadaan mabuk berat oleh racun alam. Ia kehilangan dirinya
sendiri karena kerasnya rasa mabuk itu.

Ketika jiwa meninggalkan raga, jiwa yang malang karena menentang Allah itu
tersiksa karena terjerumus ke jurang kebodohan, karena keadaan yang sangat buruk,
dan karena hasrat dan kerinduan yang masih dirasakannya terhadap alam indra.

Wa hīla baynahum wa baynanā yasytahūn


Dan dihalangi antara mereka dan apa yang mereka
Inginkan.
(Q.S. Saba’ 34: 54)

Dalam keadaan durhaka itu, rahasia ayat ini diungkapkan. Mata mereka tak melihat
dan telinga mereka tak mendengar. Tak ada kerlip alam indra ini atau sinar Cahaya
suci yang mencapai mereka. Mereka diliputi kegelapan. Karena kehilangan kedua
cahaya itu, mereka berada di dalam kesengsaraan, putus asa, dan ketakutan. Mereka
seperti orang-orang yang ditimpa buruknya kemurungan jiwa, yang terus-menerus
disiksa kesedihan dan kecemasan. Sementara itulah keadaan orang yang murung,
bayangkan lebih jauh keadaan material, yang telah kehilangan semua harapan dan
terjerumus ke dalam jurang kegelapan yang tiada taranya. Sementara itu, jiwa suci
orang yang memilih kebaikan dan kebajikan dalam segala aspek telah mencapai rahmat
abadi, memperoleh karunia yang belum pernah dilihat, didengar atau dibayangkan,
yakni dekat kepada Penciptanya, lebur ke dalam Akal. Jiwa-jiwa suci itu kembali
kepada Sang Pencipta Yang Melindungi raga manusia dari kekuatan-kekuatan gelap,
Yang Menghancurkan citra kegelapan, dan Yang Menciptakan manusia dalam sebaik-baik
bentuk. Mereka berada di sisi Allah. Mereka dimahkotai kedekatan dalam alam roh,
dekat kepada Tuhan alam semesta, Roh Suci. Jiwa-jiwa itu senantiasa tertarik
kepada Pencipta mereka seperti halnya jarum yang tertarik magnet. Seperti halnya
tidak ada perbandingan antara indra dan jiwa (sebab kesadaran indra), demikian
pula tidak ada perbandingan antara cahaya-Allah dan jiwa-rasional, dengan indra.
Selera akal yang lebih tinggi berada dalam cinta kepada esensinya dan esensinya
adalah yang dicintai dan segala sesuatu yang lain.

Tak ada kesamaan atau hubungan antara keadaan yang berkembang dari jiwa-jiwa yang
saleh, yang telah meninggalkan kegelapan bentuk-bentuk dan telah dimuliakan oleh
cahaya Allah di dalam alam roh yang lebih tinggi, dan pembentukan segala materi
yang sama di bawah cahaya matahari. Orang yang mengingkari cita-rasa spiritual
terjerumus oleh sifat hewani mereka. Mereka lebih memilih jiwa hewani yang ada di
dalam diri mereka daripada manusia suci dan para malaikat.

Bentuk Ketujuh Cahaya


Tentang Kenabian

Jiwa manusia, yang disebut juga Akal Kosmik, merupakan salah satu esensi alam roh.
Alam rohani ini merupakan alam abstraksi dan konsepsi. Ketika esensi ini terbebas
dari pengaruh daya material tubuh, maka makan dan tidur berkurang, kesadaran
meningkat, raga bangkit, dan esensi spiritual semakin kuat karena menerima
kebaikan Ilahi.

Kebaikan spiritual ini ada empat macam.


Pertama: hikmah atau kearifan. Yakni, justifikasi terhadap daya intelektual yang
dikaruniakan kepada seseorang.
Kedua: keberanian. Yakni, justifikasi terhadap daya amarah dan kekuatan.
Ketiga: kesucian. Yakni, justifikasi terhadap daya seksual dan sensual. Keempat,
keadilan sejati. Yakni, justifikasi terhadap semua daya yang diberikan kepada
seseorang. Keadilan sejati ini merupakan garis pembatas antara yang berlebihan dan
yang kekurangan. Penyimpangan paling ringan menjadi kezaliman. Keadilan sejati
inilah cara hidup para nabi.

Setiap kali jiwa menemukan jalan menuju alam suci, pada saat itu juga ia menyadari
bahwa pengetahuannya tidak bersumber dari Pemberi Maha Suci yang dari-Nya ia
berasal. Jiwa juga mencapai jiwa-jiwa-cakrawala-langit yang menyadari gerakannya
sendiri dan sebab-sebab yang mengakibatkan gerakan itu. Ibarat cermin yang dihiasi
oleh citra yang diletakkan di depannya, jiwa mulai memahami sejumlah rahasia, baik
dalam keadaan terjaga atau tertidur. Kadang kala ia nyaris menyaksikan citra-citra
asing dari bagian azali rahasia alam spiritual yang dipantulkan melalui daya
imajinasi. Citra-citra serupa yang melintas dalam pikiran seseorang mungkin pula
muncul dalam alam indra. Kata-kata yang diucapkan terdengar, atau sesuatu yang tak
terlihat dan tidak diketahui menjadi terlihat, kadang kala jelas, kadang kala
buram, sesuai dengan hubungan seseorang dan intensitas tekadnya. Keburaman yang
menyebabkan peristiwa aneh ini pada orang-orang yang kehilangan diri-material
mereka tidak mungkin memiliki perbedaan dalam kejelasan atau kegelapan, karena
perbedaan itu masuk ke dalam kategori pengamanan hal-hal yang bersifat material di
bawah cahaya. Visi ini berada di dalam kegelapan, yakni bayangan material. Hal ini
juga berlaku pada permainan setan dalam mimpi dusta, dan bahkan pada kisah-kisah
rekaan mengenai mimpi yang baik.

Kadang kala, melalui hubungannya dengan Tuhan, jiwa suci mencapai keadaan
terpesona, bahagia dan bergembira, dan bertemu langsung dengan cahaya Allah. Jika
anda pernah melihat sepotong besi yang dibakar sehingga menjadi panas memerah
seperti api dan berfungsi sebagai api, maka tak pelak lagi bahwa ketika esensi
jiwa tunduk dan patuh, niscaya ia akan menerima efek cahaya Ilahi. Seluruh alam
semesta alam semesta tunduk dan patuh kepada Tuhan ketika mencapai pencerahan
ilahiah dan dicerahkan oleh cahaya suci.

Merekalah manusia agung yang dikaruniai pencerahan kebenaran yang cemerlang.


Mereka telah menghadapkan wajah mereka kepada Allah, mengharapkan manifestasi
hakikat Allah selain manifestasi sifat-sifat dan perbuatan-Nya yang telah mereka
terima. Orang yang menerima petunjuk abadi Allah dan ingin mencapai Penciptanya
sebagai bagian dari anugerah surgawi dan keberuntungannya, membuka matanya,
menemukan keindahan Allah dan cahaya Ilahi yang tersembunyi di balik keagungan dan
kekuatan luar biasa cahaya Ilahi yang tidak pernah dan tidak akan pernah
terbayangkan oleh pikiran. Dia menyaksikan sekelompok besar orang yang memohon
kasih sayang Allah, melihat dengan pancaran cahaya dari rahasia Nama Agung Allah
yang tertulis pada ufuk kerajaan-Nya.

Mengimani kebenaran para nabi dan percaya kepada mereka adalah kewajiban suci bagi
orang yang memiliki mata batin. Orang-orang pilihan ini telah memperlihatkan
bedanya kebenaran dari kepalsuan melalui teladan yang mereka sampaikan, seperti
yang disebutkan dalam al-Qur’an:

Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buatkan


untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali
orang-orang yang berilmu.
(Q.S. al-‘Ankabut 29: 43)

Dan seperti yang dikatakan nabi lain: “Aku ingin memulai pembicaraan dengan
menggunakan contoh dan perumpamaan.”
Penafsiran atas makna batin dari semua ayat dalam semua kitab suci yang diwahyukan
dan diturunkan kepada para nabi menjadi milik Firkilit, yang meraih bagian paling
besar dari cahaya Ilahi.

Nabi ‘Isa a.s. berkata: “Sesungguhnya, Yang menciptakan aku dan memeliharaku akan
mengirimkan Frakilit di dalam namaku. Dia akan mengajarkanmu segala sesuatu.”
(Yohannes 14: 26)

Seperti yang disebutkan dalam al-Qur’an:

Tsumma inna ‘alaynā bayānah


Kemudian kewajiban Kamilah menjelaskannya.
(Q.S. al-Qiyamah 75: 19)

Dalam bahasa Arab, partikel tsumma: “kemudian,” digunakan untuk menunjukkan


penundaan, yang berarti menunda atau melaksanakan pada waktu yang akan datang.
Kata bayan: “penjelasan,” bermakna penjelasan dengan menggunakan perumpamaan-
perumpamaan.

Tak pelak lagi, cahaya dari alam roh menyinari dan menyelamatkan orang-orang yang
mendambakan dan merindukan, dan cahaya Ilahi memancar untuk membukakan jalan
kebenaran. Jadi, hal itu terjadi melalui cahaya secepat kilat yang menyingkap daya
terima indra (the sensible), dan melalui berita yang dibawa dari Perjalanan Malam
yang amat singkat menuju alam gaib.

Wahai Tuhan Pemelihara kami, kami beriman kepada-Mu dan kami beriman kepada
kebenaran para rasul yang Engkau utus kepada kami. Kami mengetahui bahwa yang suci
di kalangan hamba-hambaMu dan tingkatan spiritual yang mencapai cahaya dengan
cahaya, bahkan juga orang-orang bodoh yang terkadang ingin mencapai cahaya, seraya
meninggalkan cahaya demi kegelapan dan mengikuti jalan gelap menuju cahaya,
menjadi pelajaran bagi orang bijak dan menerangi pemahaman mereka, dan menjadi
sebab ketinggian derajat dan kedekatan mereka kepada Allah. Angin spiritual yang
Engkau tiupkan kepada mereka membawa mereka kepada kedudukan tertinggi yang mereka
kerjakan adalah mengagungkan Cahaya Wajah-Mu, membawa kitab suci, berpegang pada
sayap para malaikat, memeluk cahaya, membawa mereka naik, dan berharap mencapai
kedekatan dengan Allah melalui bantuan keadaan luar biasa dan istimewa ini. Mereka
adalah orang-orang yang telah mencapai surga seraya tetap berada di dunia ini.
Wahai Tuhan Yang Maha Esa, bangkitkanlah jiwa yang terkubur di dalam peraduan
keterlenaan agar mengingat dan mengagungkan-Mu. Berikan kami karunia pengetahuan
dan kesabaran yang seutuhnya. Sebab, pengetahuan dan kesabaranlah sumber segala
kebajikan. Anugerahilah kami sikap rida terhadap apa yang telah ditakdirkan atas
kami. Jadikanlah cahaya murni jiwa kami sebagai jalan kami dan jadikanlah saudara
seiman sebagai sahabat kami. Hanya Engkaulah yang memberikan kebaikan kepada alam
semesta melalui sifat baik dan sifat pemurah-Mu. Allah-lah sebaik-baik penolong.

Mudah-mudahan salawat dan salam Allah dilimpahkan kepada Nabi-Nya yang suci.

Dengan Nama Allah


Yang Maha Pengasih Lagi
Maha Penyayang

Segala puji bagi Allah Yang Maha Pemurah, Maha Bijaksana, Maha Pemberi Petunjuk,
Pemberi Iman dan Harapan. Salawat dan salam semoga dilimpahkan kepada kekasih-Nya,
Nabi Ummi. Muhammad s.a.w. yang telah disucikan-Nya dari segala pengetahuan yang
palsu demi mengajarkannya kebenaran murni, dan kepada keluarga, para sahabat dan
kaum Anshar, dan kepada orang-orang yang dicintainya, orang-orang yang mencintai,
patuh, dan mengikuti jejaknya.

Para guru spiritual (mursyid), sebagai orang tua sejati, wajib memberikan kepada
putra-putranya (murid) hadiah sebesar-besarnya di dunia ini, yaitu nasihat yang
berharga.

Bagian pertama dari hadiah itu, suatu makanan spiritual, adalah pengetahuan
mengenai perintah-perintah Allah kepada makhluk-Nya, ilm-usy-syari‘ah. Pengetahuan
ini menjadi sebab wujud seseorang. Ia merupakan kewajiban atas semua, kekuatan
kehidupan, cahaya akal, yang tanpa-nya orang akan mati.

Bagian kedua adalah pengetahuan tentang jalan menuju kebenaran, thariqah. Ia


bukanlah jalan yang bisa ditemukan pada sebuah peta, tetapi jalan yang harus
ditelusuri. Ia sebuah kebutuhan, karena tanda kehidupan adalah gerakan, dari lahir
hingga mati, dari hidup di dunia sampai hidup di akhirat, dari keburukan menuju
kebaikan, dari sedikit kepada banyak, dari kepada satu, dari kepalsuan menuju
kebenaran, dari rasa cemas kepada rasa tenteram. Ia jawaban terhadap permintaan
Tuhan, irji‘, “Kembalilah!” – “Datanglah kepada-Ku.”

Bagian Ketiga adalah ma‘rifah, yakni sarana untuk mencapai hikmah, ruang yang
berisi rahasia Allah yang harus ditemukan oleh seseorang.

Yang keempat dan bagian terakhir hadiah yang diberikan oleh ayah spiritual kepada
anak-anaknya adalah haqiqah, yang sebenarnya merupakan karunia Allah, Yang Maha
Besar, yang diberikan melalui tangan guru spiritual.

Pengetahuan laksana air, sumber kehidupan. Lihatlah ke sekelilingmu, di mana-mana


ada air: tetesan hujan, sungai, danau, samudra. ...Semuanya menerima sesuai dengan
takdir mereka, sesuai dengan kebutuhan mereka, sejumlah ukuran cawan mereka.

Epilog
Fabel Sufi tentang Kota-kota Jiwa

Ketika aku mengembara di dunia fana ini, Allah menunjukiku jalan yang lurus.
Ketika menelusuri jalan ini di antara tertidur dan terjaga. Seolah-olah di dalam
mimpi, aku tiba di sebuah kota yang diselimuti kegelapan. Gelap itu sangat pekat,
sehingga aku tidak dapat melihat atau memperkirakan batasnya. Kota ini berisi
segala yang diciptakan. Ada banyak orang dari berbagai bangsa dan suku. Begitu
sesaknya jalan-jalan, orang sulit berjalan. Begitu gaduhnya, sehingga orang sulit
mendengar ucapan orang lain. Semua perbuatan buruk dari segala makhluk, semua dosa
yang kuketahui maupun tidak kuketahui, mengelilingi aku. Dalam rasa takjub dan
kagum, aku menyaksikan pemandangan aneh.

Nun jauh di sana, di bagian tengah kota ini, ada kota lain, dengan dinding yang
tinggi dan besar.

Apa yang kusaksikan di sekelilingku membuatku terpikir bahwa sejak mulanya, tidak
pernah ada sinar dari cahaya matahari kebenaran yang menerangi kota ini. Tidak
hanya langit, lorong-lorong, dan rumah-rumah di kota ini yang berada dalam gelap
gulita, tetapi para penduduknya bagaikan kelelawar, mempunyai pikiran dan mata
hati sepekat malam. Sifat dan perbuatan mereka laksana anjing-anjing liar. Saling
menyalak dan menggigit satu sama lain hanya demi sesuap makanan, yang diperebutkan
dengan penuh nafsu dan amarah. Mereka pun saling mencabik satu sama lain.
Kesenangan mereka adalah minum khamr, dan berhubungan seks tanpa rasa malu, tanpa
membedakan pria dan wanita, istri dan suami, dan sebagainya. Berdusta, menipu,
mengumpat, memfitnah, dan mencuri menjadi kebiasaan mereka tanpa rasa peduli
kepada yang lain, sadar atau takut kepada Allah. Banyak dari mereka yang mengaku
Muslim. Sebenarnya, sebagian dari mereka dianggap sebagai orang bijak – para
syekh, guru, ulama dan dai.

Sebagian mereka yang mengetahui perintah-perintah Allah, tentang yang baik dan
halal dalam pandangan Allah, dan mengenai apa yang diharamkan Allah, berupaya
mengatasi hal itu dan menemukan kepuasan di dalamnya dan tak lagi berhubungan
dengan penduduk di dalamnya dan tak lagi berhubungan dengan penduduk kota itu.
Para penduduk kota tidak bersikap ramah terhadap mereka. Aku dengar mereka
berlindung di dalam kota berdinding yang kulihat berada di bagian tengah alam ini.

Aku tinggal di bagian luar kota ini untuk beberapa saat. Selama waktu itu, aku
bertemu dengan seseorang yang mendengarkan aku dan memahami apa yang kukatakan.
Dia memberi tahu aku bahwa ia adalah Ammarah, kota yang angkuh, kota kebebasan, di
mana setiap orang mengerjakan apa yang membuatnya senang. Aku bertanya mengenai
keadaan mereka. Dikatakannya bahwa itulah kota tempat bersenang-senang, yang
bersumber dari sikap lalai dan alpa. Dalam kegelapan yang menyelimutinya, masing-
masing orang mengira bahwa dialah satu-satunya orang. Aku bertanya kepadanya
mengenai nama pemimpin mereka. Dia memberitahukan aku bahwa nama pemimpin ini
adalah ‘Aql-ul-Ma‘asy. Dia adalah ahli nujum, dukun, pengatur yang mengatur segala
sesuatu, dokter yang menyembuhkan orang yang nyaris mati, raja berilmu yang tiada
bandingannya di dunia ini. Para penasihat dan menterinya disebut Logika.
Putusannya ditetapkan atas dasar Hukum Akal Sehat kuno. Pelayannya disebut
Imajinasi dan Angan-angan. Dia mengatakan bahwa semua penduduk setia kepada
pemimpin mereka, tidak hanya menghormati dan menghargai dia dan pemerintahannya,
tetapi juga mencintainya, karena mereka semua merasa memiliki kesamaan dengannya
dalam sifat, kebiasaan, dan perilaku.

Aku, yang memiliki pemikiran yang sama, dan dengannya mengetahui bahwa
sesungguhnya raja kota ini adalah guru yang sempurna dari semua ilmu di dunia ini,
ingin mempelajari ilmu-ilmu itu untuk menjadi kaya dan terkenal. Aku tinggal untuk
beberapa waktu melayani si raja dan belajar darinya mengenai banyak hal yang
mencerdaskan. Aku belajar perdagangan, politik, ilmu-ilmu kemiliteran,
pertukangan, hukum, dan seni untuk menghormati manusia. Aku menjadi termasyhur.
Ketika orang-orang menunjuk aku dengan jari mereka dan berbicara tentang diriku,
egoku merasa senang. Karena semua bagi diriku sepenuhnya berada di bawah pengaruh
duniawiku, semua itu mendapatkan tenaga untuk menyenangkan egoku dan ingin cepat-
cepat menghabiskan tenaga itu untuk mendapatkan kesenangan-kesenangan duniawi dan
hasrat-hasrat berahi, tanpa peduli apakah semua itu melukai orang lain, atau
bahkan diriku sendiri.

Ada sesuatu di dalam diriku yang kadang kala menunjukkan bahwa semua ini keliru,
tetapi aku tak mempunyai daya dan kemampuan untuk mencegahnya. Bagian diriku yang
insaf itu disakiti, dan ingin keluar dari gelapnya kota ini. Suatu hari , ketika
rasa sakit itu kian parah, aku pergi menemui guruku, sang raja, dan dengan tanpa
rasa takut aku bertanya: “Mengapa para ilmuwan di alam kamu tidak pernah
mengamalkan ilmu mereka dan takut kepada Allah? Mengapa tak seorang pun di kota
ini yang takut kepada azab Allah, padahal mereka takut terhadap hukumanmu? Mengapa
tidak ada cahaya di sini, di luar atau di dalam hati masyarakat? Bagaimana
ucapanmu yang terlihat seperti manusia, tetapi sifat mereka tak ubahnya binatang
buas, dan jahat?

Dia menjawab: “Akulah – orang yang sangat mampu mencari keuntungan pribadi di
dunia ini, meskipun keuntunganku adalah kerugian bagi mereka – yang mereka
teladani. Aku mempunyai wakil di tengah-tengah mereka. Merekalah pelayanku dan
pelayan wakil-wakilku. Tetapi, aku juga punya guru yang membimbingku: setan. Tak
seorang pun di sini yang mampu mengubah jalannya, dan semua senang dan mengira
diri mereka lebih baik dari yang lain. Tak ada yang akan berubah, dan karena itu,
mereka tidak akan berubah.
Tatkala kudengar itu, aku ingin meninggalkan kota itu dan melarikan diri. Tetapi,
karena mengetahui kekuatan raja dan kekuasaannya atas segala sesuatu, aku meminta
izin darinya untuk pergi. “Wahai bagindaku yang perkasa,” kataku: “Engkau telah
banyak berbuat bagi hambamu yang hina ini dan telah memberikan kepadaku semua yang
kumiliki. Betapa senangnya hidup di bawah pemerintahanmu! Kau berikan aku pakaian
mewah, kau berikan teman bersenang-senang dan bermain. Minuman keras dan judi tak
kau larang. Telah aku rasakan semua kesenangan, dan telah aku terima semua
bagianku. Tidakkah engkau tahu bahwa kedatanganku ke kota ini sebagai seorang
musafir? Izinkan aku pergi ke istana besar itu yang aku lihat di tengah-tengah
kotamu.”

Raja itu mengatakan: “Aku juga penguasa istana itu. Kawasan itu disebut Lawwamah,
menyalahkan diri sendiri, tetapi penduduknya berbeda dengan kami yang ada di sini.
Di kota kami yang durhaka ini, sesembahan kami adalah setan. Dia atau pun aku
tidak menyalahkan mereka atas apa yang mereka lakukan. Oleh karena itu, tak ada
yang menyesali apa yang mereka kerjakan, karena kami hidup di dalam khayalan. Di
Kota Lawwamah, imajinasi tidak mempunyai kekuatan penuh. Mereka juga berbuat dosa
– mereka berzina, mereka puaskan berahi mereka dengan kaum pria maupun wanita,
mereka minum minuman keras dan berjudi, mencuri dan membunuh, bergunjing dan
memfitnah seperti yang kami lakukan – tetapi mereka sering merenungkan apa yang
telah mereka perbuat, menyesal, dan bertobat.”

Segera setelah aku berbicara dengan guruku, Kecerdasan, aku berkari ke gerbang
Kota Lawwamah. Di depan gerbangnya tertulis at-ta’ibu min-al-dzanbi ka-man ka
dzanba lahu: “Orang yang bertobat dari dosa seperti orang yang tak pernah berbuat
dosa.”

Kubuka pintu gerbang dengan bertobat atas dosa-dosaku, dan masuk ke dalam kota
itu.

Kulihat kota itu memiliki penduduk yang jauh lebih sedikit dibandingkan dengan
Kota Kegelapan yang telah pernah aku singgahi. Dapat kukatakan bahwa penduduknya
hanyalah separuh dari kota yang telah aku tinggalkan itu.

Setelah aku menerap di dalam selama beberapa waktu, aku berjumpa dengan seorang
alim yang mengenal dan menguasai kitab suci al-Qur’an. Aku mengunjunginya dan
mengucapkan salam kepadanya. Dia menjawab salamku dan mendoakan aku. Meskipun
telah dikatakan kepadaku oleh penguasa Kota Kegelapan bahwa dia juga berkuasa di
sini, namun aku tetap menanyakan kepada guruku ihwal nama pemimpin mereka. Dia
menegaskan bahwa mereka berada di bawah pemerintahan Akal, tetapi mereka mempunyai
administratur sendiri, yang bernama Arogansi, Kemunafikan, Keras Kepala dan
Fanatisme.

Di kalangan penduduk banyak terdapat ilmuwan, sebagian besar mereka tampaknya


bijaksana, tekun, saleh, dan baik. Aku bersahabat dengan mereka dan mengetahui
bahwa mereka menderita penyakit arogansi, egoisme, dengki, ambisi, keras kepala,
dan, dalam bersahabat, tidak jujur. Mereka saling bermusuhan dan saling menipu
satu sama lain. Hal paling baik yang bisa kukatakan mengenai mereka adalah bahwa
mereka melaksanakan salat dan berusaha mengikuti perintah Allah karena mereka
takut terhadap azab Allah dan neraka, dan mengharapkan kehidupan abadi dan bahagia
di dalam surga.

Aku bertanya kepada salah seorang dari mereka mengenai Kota Kegelapan yang ada di
luar dinding pembatas itu, dan mengeluh tentang para penduduknya. Dia mengiakan
keluhanku, dan mengatakan bahwa penduduk kota itu terdiri dari kaum kafir yang
merusak, durhaka, dan gemar membunuh. Mereka tidak mempunyai iman, dan tidak
pernah melaksanakan salat. Dikatakannya bahwa mereka pemabuk, pezina, pejantan.
Mereka semuanya tak berkesadaran dan lalai. Tetapi, dari waktu, melalui penunjuk
yang misterius, mereka mengarah kepada Kota Lawwamah. Mereka kemudian menyadari
apa yang telah mereka perbuat, menyesal, bertobat, dan memohon ampunan. Di kota
mereka, demikian dia mengatakan, mereka tidak mengetahui apa yang mereka lakukan.
Akibatnya, mereka tidak merasa menyesal atau memohon ampunan. Oleh karena itu
mereka tidak saling tolong-menolong, dan tak seorang pun yang membantu mereka.

Ketika pertama kali aku tiba di Kota Lawwamah, kulihat di tengah-tengahnya ada
istana lain. Aku bertanya kepada salah seorang penduduknya yang berilmu mengenai
hal itu. Dia mengatakan bahwa kota itu diberi nama Mulhimah, Kota Cinta dan Ilham.
Aku bertanya mengenai pemimpinnya. Pemimpinnya bernama ‘Aql-ul-Ma‘ad, Si Bijak,
Yang Mengenal Allah. Raja ini, kata si informan itu, mempunyai seorang perdana
menteri bernama Cinta.

“Seandainya ada salah seorang dari kami memasuki Kota Cinta dan Ilham,” lanjutnya:
“kami tidak akan menerimanya kembali di kota kami. Sebab, siapa pun yang pergi ke
sana akan menjadi serupa dengan semua penduduk kota itu – semuanya tertarik kepada
perdana menteri itu. Dia jatuh cinta kepadanya, harta, keluarga, anak-anak, dan
bahkan nyawanya – demi perdana menteri yang bernama Cinta itu. Sultan kami, Yang
Cerdas, memandang atribut itu sebagai hal yang sama sekali tidak dapat diterima.
Dia mengkhawatirkan pengaruh orang-orang yang mempunyai sifat ini, karena
kesetiaan dan perbuatan mereka tampaknya tidak masuk akal dan tidak bisa dipahami
oleh pikiran sehat.

“Kami mendengar bahwa penduduk kota itu berdoa kepada Allah seraya bersenandung
dan bernyanyi, dengan diiringi seruling, tamborin (rebana) dan drum (gendang), dan
selama melakukan hal ini mereka kehilangan rasa dan masuk ke dalam akstase
(kemabukan rohani). Para pemimpin agama dan teolog kami memandang ini sebagai hak
yang haram menurut kaidah ortodoks kami. Oleh karena itu, tak seorang pun dari
mereka yang ingin bermimpi menginjakkan kakinya di Kota Cinta dan Ilham.”

Tatkala kudengar hal itu, aku sangat ingin meninggalkan kota Lawwamah, dan berlari
ke pintu gerbang Kota Cinta dan Ilham yang penuh berkah itu. Di pintunya kubaca
tulisan bāb-ul-jannati maktūbun: Lā ilāha illā Allāh. Kubaca frasa Lā ilaha illā
Allāh dengan suara keras – “Tidak ada tuhan kecuali Allah.” – lalu bersujud dan
memanjatkan syukur. Pada saat itulah pintu terbuka dan aku pun masuk.

Tak lama berselang, kutemukan sebuah rumah kecil milik seorang fakir. Di dalamnya
kulihat orang-orang berpangkat dan rakyat jelata, kaya dan miskin, bergabung
menjadi satu. Kulihat mereka saling mencintai, menghormati, tolong menolong satu
sama lain dengan wajah yang senantiasa ceria. Mereka bercengkerama dan bernyanyi.
Lagu dan ucapan mereka sangat menggugah, indah, dan selalu mengenai Allah dan hari
kiamat, hal-hal yang bersifat spiritual. Tak ada rasa semas dan penderitaan,
seolah-olah hidup di dalam surga. Tak kudengar atau kulihat apa pun yang berkesan
perselisihan atau pertengkaran yang menyakitkan atau melukai. Tak ada tipu daya,
kejahatan, rasa dengki atau mengumpat. Aku tiba-tiba merasakan kedamaian,
kebahagiaan, dan kegembiraan berada di tengah-tengah mereka.

Kulihat ada seorang tua yang tampan. Kedewasaan dan kebijaksanaan memancar dari
wajahnya. Aku tertarik kepadanya dan langsung mendatanginya seraya bertanya:
“Wahai sahabatku, aku adalah pengelana miskin dan sekaligus sakit. Aku mencari
obat untuk menyembuhkan penyakit kegelapan dan kelalaianku. Adakah tabib di Kota
Cinta dan Ilham ini yang bisa menyembuhkan diriku?”

Orang itu terdiam untuk beberapa saat. Kutanyakan namanya. Dia mengatakan
kepadaku, namanya adalah Hidayah, Petunjuk. Lalu dia berkata: “Nama panggilanku
adalah Kejujuran. Sejak azali tak ada satu pun kata dusta yang keluar dari
mulutku. Tugas dan kewajibanku adalah menunjukkan jalan kepada orang yang benar-
benar ingin menyatu dengan Sang Kekasih. Kepadamu kukatakan:

Beribadahlah kepada Tuhanmu sehingga


datang kepadamu keyakinan
(al-Hijr 15: 99)

Sebutlah nama Tuhanmu dan beribadahlah kepada-Nya


dengan penuh ketekunan.
(al-Muzzammil 73:8)

“Engkau juga pecinta yang tulus: “Dengarkan aku dengan telinga hatimu.” Ada empat
wilayah di Kota Cinta dan Ilham ini yang harus kamu datangi. Keempat wilayah itu
saling berjalin berkelindan.”

“Bagian luarnya,” lanjutnya: “disebut Muqallid, wilayah para pembebek. Tabib ahli
yang kamu cari untuk menyembuhkan menyakitmu tidak ada di dalam wilayah itu. Juga
tak ada kios obat yang menyediakan obat-obatan bagi penyakit lalai, gelapnya hati,
dan kemusyrikan terselubung. Meskipun akan kautemukan banyak orang yang mengaku
sebagai tabib penyakit hati – berpenampilan semacam itu, dengan mengenakan jubah,
memakai serban besar; menyatakan diri sebagai orang bijak seraya menyembunyikan
kebodohan, kebejatan moral, dan perangai buruk mereka; tak mampu membuktikan apa
yang mereka nyatakan; yang mencari ketenaran dan mengejar-ngejar dunia – mereka
sendiri sebenarnya tengah menderita sakit. Mereka menyekutukan Allah, dan menjadi
guru karena membebek.”

“Mereka,” lanjutnya: “sembunyikan tipu muslihat, kemunafikan maupun sifat dengki


mereka. Mereka cerdas, tangkas, ceria, dan humoris. Meskipun tampaknya lidah
mereka mengucapkan doa dan nama-nama Allah, dan kamu temukan mereka sering berada
di tengah-tengah para zahid, namun pikiran mereka, yang memengaruhi mereka, tidak
mengantarkan mereka untuk menyaksikan pengaruh dan manfaat doa mereka. Oleh karena
itu, takkan kamu dapati obat dari mereka untuk menyembuhkan penyakit dan
kealpaan.”

“Anda harus meninggalkan wilayah para pembebek ini dan menuju wilayah Mujahid,
wilayah para pejuang,” tegas orang itu.

Kuturuti nasihat orang itu dan pergi ke wilayah para pejuang. Orang-orang yang
kutemui di sana terlihat lemah dan kurus, baik hati, penuh pertimbangan,
bersyukur: tekun melaksanakan salat, taat, berpuasa, bertafakur, dan merenung.
Kekuatan mereka terletak pada cara hidup yang selaras dengan pengetahuan mereka.
Aku menjadi dekat dengan mereka, dan memahami bahwa mereka telah meninggalkan
semua sifat buruk yang bersumber dari egoisme, congkak, dan bayang-bayang
kelalaian. Mereka telah bersungguh-sungguh menjadi hamba, rida kepada Tuhan mereka
dan menerima dengan ikhlas keadaan mereka. Aku tinggal di wilayah para pejuang itu
selama bertahun-tahun. Aku mengerjakan apa yang mereka kerjakan dan hidup seperti
mereka, seraya mencermati bagaimana aku berbuat dan bagaimana aku hidup, dengan
tak membiarkan sekejap pun waktu berlalu dalam kelalaian. Aku belajar dan bersikap
sabar dan tabah, dan belajar meridai nasibku, dan ternyata aku rida dan ikhlas.

Aku berusaha keras, siang dan malam, dengan egoku, tetapi aku masih berada dalam
politeisme dengan begitu banyak “aku” dan pertempuran antara “aku-aku” itu,
meskipun semuanya berhadapan dengan satu Allah. Hal ini, yakni penyakit syirik
kafi-ku – yang membentuk banyak “aku” sebagai sekutu Allah – menjadi bayang-bayang
berat di dalam hatiku, menyembunyikan kebenaran, dan membuat aku tetap lalai.

Aku bertanya kepada tabib-tabib di wilayah itu, seraya memohon kepada mereka.
Kuceritakan menyakitku kepada mereka, kemusyrikan terselubung, sikap lalai yang
parah, kegelapan hati, dan meminta bantuan. Mereka berkata kepadaku: “Bahkan di
tempat orang-orang yang berperang melawan ego mereka ini pun, tak ada obat bagi
menyakitmu, karena:

Dia bersamamu di mana pun kamu berada.


(al-Hadīd 57: 4)

Kemudian mereka menasihati aku untuk pergi menuju istana Muthma‘innah, Kota
Kedamaian dan Ketenangan, Di dekat istana itu terletak wilayah yang disebut
Munājāt wa Murāqabah – berdoa dan merenung. Mungkin di sana, kata mereka, ada
seorang tabib yang bisa menyembuhkan diriku.

Ketika aku tiba di Kota Murāqabah, kulihat para penduduknya tenang dan damai,
menyebut Allah dan membaca nama-namaNya yang indah. Masing-masing dari mereka
mempunyai putra hati yang telah dilahirkan. Mereka berdiri, menundukkan kepala di
hadapan Tuhan mereka, diam, murung, bersedih, dalam sikap kerendahan hati.
Meskipun paras lahir mereka terlihat hancur, rusak, namun hati mereka cemerlang
dan bercahaya.

Cara hidup mereka baik dan terpuji. Mereka nyata saling tidak berbicara satu sama
lain karena takut mengusik perhatian seseorang dari Yang Esa Yang kehadiran-Nya
mereka alami sendiri, atau menghalangi orang lain dari melakukan perenungan yang
mendalam. Cahaya bagaikan kehormatan bagi mereka, namun mereka sangat takut
menjadi beban orang lain.

Kuhabiskan waktu bertahun-tahun di wilayah tafakur dan perenungan ini. Saya


mengerjakan apa yang mereka kerjakan, dan sesungguhnya kukira aku akhirnya sembuh
dari kelalaian, kemusyrikan, dan kealpaan. Tetapi, aku belum tersembuhkan dari
dualisme terselubung antara “aku” dan “Dia” yang tetap menjadi beban berat di
dalam hatiku.

Air mataku mengucur deras. Dengan penuh takjub, aku terperosok ke dalam keadaan
aneh ketika samudra kesedihan melingkupiku. Aku ingin tenggelam di lautan ini.
Tak kutemukan jalan lain kecuali kematian. Tetapi, aku tak dapat berbuat apa-apa,
aku tidak memiliki kehendak, bahkan kehendak untuk mati.

Ketika aku berdiri di sana tanpa daya, sedih, dalam keadaan ekstase, muncullah si
guru cantik, sosok yang pertama kali kujumpai di kawasan yang asing ini, guru yang
disebut Hidayah, Petunjuk. Dia menatapku dengan penuh kasih sayang: “Wahai hamba
malang yang diperbudak oleh diri sendiri, di pengasingan tanah asing ini! Wahai
pengembara yang jauh dari kampung halaman! Kamu tidak akan menemukan obat
menyakitmu di tempat roh ini. Tinggalkan tempat ini. Pergilah ke wilayah nun jauh
di sana, di dekat gerbang istana Muthma‘innah, Nama tempat itu adalah Fana’ –
peniadaan diri. Di sana akan kautemukan tabib-tabib yang telah pernah merasakan
fana’, yang mengetahui rahasia fa afnū tsumma afnū tsumma afnū fa abqū tsumma abqū
tsumma abqū – “Tiadakanlah dirimu, tiadakanlah dirimu, tiadakanlah dirimu, agar
engkau kekal, agar engkau kekal, agar engkau kekal buat selama-lamanya.”

Tanpa menunggu lebih lama, aku pergi ke wilayah fanā’, Kulihat penduduknya bisu,
tidak berkata-kata, seolah-olah mati, tanpa tenaga untuk mengucapkan barang
sepatah kata. Mereka telah meninggalkan harapan untuk beroleh manfaat dari ucapan
dan benar-benar telah menyerahkan jiwa mereka kepada malaikat maut. Mereka sama
sekali tidak memedulikan kehadiranku.

Tak kulihat mereka melakukan apa-apa kecuali salat lima waktu malam sehari. Mereka
telah kehilangan konsep tentang perbedaan antara dunia dan akhirat. Mereka
melupakannya. Bagi mereka, derita dan bahagia tak ada bedanya. Mereka tidak lagi
merasakan perbedaan antara hal-hal yang bersifat material dan spiritual. Tak ada
pikiran yang menyita mereka. Tak ada sesuatu yang mereka ingat atau cari.
Kebutuhan dan hasrat telah menjadi barang asing bagi mereka. Mereka bahkan telah
berhenti memohon kepada Allah apa yang mereka inginkan.

Aku tinggal bersama mereka selama beberapa tahun. Kukerjakan apa yang mereka
kerjakan. Aku benar-benar meniru mereka, tetapi aku tidak tahu keadaan batin
mereka. Oleh karena itu, aku tidak dapat melakukan apa yang mereka lakukan di
dalam batin mereka.

Bahkan, di tempat itu, di tengah-tengah mereka, sakitku terasa bertambah parah.


Tetapi, ketika aku ingin menjelaskan gejala menyakitku, aku tidak dapat menemukan
tubuh atau eksistensi, bahkan sekadar mengatakan: “Inilah tubuhku” atau Inilah
aku.” Kemudian aku tahu bahwa itulah “aku” yang telah kembali kepada si pemilik
aku. Kemudian aku tahu bahwa mengatakan: “Wujud itu milikku” adalah kata-kata
dusta, dan dusta adalah dosa bagi setiap orang. Kemudian aku tahu bahwa menanyakan
pemilik sesungguhnya dari apa yang menjadi: “milikku” adalah kemusyrikan
terselubung yang aku sendiri telah bertekad untuk mencampakkannya. Maka, apa yang
harus dilakukan!

Dalam rasa takjub, kulihat aku terbebas dari semua keinginanku. Aku menangis dan
terus menangis. Dalam keputus-asaanku, seandainya aku memanggil-Nya: “Wahai
Tuhanku,” maka yang ada menjadi dua – aku dan Dia, aku dan Dia yang kepada-Nya aku
memohon pertolongan, kehendak dan Yang Dicita-citakan, hasrat dan Yang Didambakan,
yang mencintai dan Sang Kekasih. Aku tidak tahu jalan kembali.

Ratapan sedih itu menggugah malaikat ilham yang ditugaskan oleh Tuhannya untuk
mengajarkan orang yang mencintai Allah. Dengan seizin Tuhannya, dia membacakan
kepadaku bagian dari kitab ilham Ilahi yang berbunyi: “Pertama, sirnakanlah
perbuatanmu.”

Dia berikan itu kepadaku sebagai hadiah. Ketika aku mengulurkan tanganku untuk
menerimanya, kulihat tak ada tangan. Ia merupakan susunan air, tanah, eter dan
api. Aku tak mempunyai tangan untuk mengambilnya. Aku tak memiliki tenaga untuk
berbuat.

Hanya Yang Esa Yang memiliki kekuatan, Yang Maha Perkasa. Apa pun perbuatan yang
terjadi melalui diriku, ia milik Pelaku Mutlak. Semua kekuatan, semua perbuatan,
kunisbahkan kepada-Nya, dan kutinggalkan semua yang terjadi pada diriku dan
melalui diriku di dunia ini. Aku tahu, karena aku diajarkan ilham oleh malaikat,
apa yang dimaksud dengan sirnanya perbuatan seseorang. Segala puji hanya bagi
Allah.

Dalil kewajiban mengingkari perbuatan seseorang di jalan kebenaran itu adalah ayat
suci al-Qur’an:
Qul kullun min ‘indillāh
Katakanlah olehmu (hai Muhammad) bahwa semua
(perbuatan) itu dari Allah.
(an-Nisā’ 4:78)

Aku buta huruf dan belum pernah belajar, tetapi Allah Yang Maha Tinggi dalam
manifestasi-Nya sebagai Kebenaran Tertinggi telah memberikan aku kemampuan dan
kekuatan untuk mengajar. Karena apa yang diriwayatkan di sini adalah peristiwa-
peristiwa yang terjadi pada diriku, pengalaman yang menghadirkan keadaan pikiran
dan spirit, dan seperti kata peribahasa: al-halu la yu‘rafu bil-qawl (keadaan
tidak dapat dituturkan melalui kata-kata), maka tidaklah mungkin mengungkapkan
keadaan semacam itu untuk dapat dicerna dan dibayangkan orang lain.

Kemudian aku ingin, dengan izin Allah dan bantuan malaikat ilham, untuk
meninggalkan semua sifat-sifatku – yakni kualitas-kualitas yang membentuk
kepribadian seseorang. Ketika aku memandang yang kulihat bukanlah milikku. Ketika
aku berkata-kata, yang kuucapkan bukanlah milikku. Maknanya juga bukan milikku.
Aku benar-benar tak berdaya, tercerabut dari semua atribut, yang terlihat maupun
yang tak terlihat, yang membedakan aku dari semua sifat lahir dan batin yang telah
sungguh-sungguh membentuk “aku”.

Dengan semua wujud, perasaan dan roh, aku membayangkan diriku sendiri sebagai
esensi murni. Lalu kurasakan bahwa ini pun dualitas. Apa yang harus aku lakukan,
hubungan apa yang aku miliki, terhadap sesuatu yang bukan milikku? Aku lagi-lagi
menjadi lemas.

Kemudian bahkan esensiku tercerabut dari diriku sendiri. Padahal, aku mendambakan
dan merindukan-Nya. Kurasakan makna:

Wa thālibu ‘aynī ‘abdī


Orang yang merindukan Aku adalah
hamba-Ku yang sejati.

Betapa menyedihkannya bagiku, aku sama sekali tidak tahu apa yang harus kulakukan.
Tanpa daya, aku mengharapkan penyatuan.

Wa Allāh bi kulli syai’in muhīth


Allah Maha meliputi segala sesuatu

Huw-al-awwalu wal-ākhiru wazh-zhāhiru wal-bāthinu


Wa huwa bi kulli syai’in ‘alīm
Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang
Zahir dan Yang Batin
Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu
yang ada di relung hatiku

Bahkan kemudian daku mendambakan agar rahasia mūtū qabla an tamūtū, “Matilah
sebelum kamu mati,” diungkapkan kepada diriku. Wahai betapa menyedihkannya, ini
pun lagi-lagi merupakan dualisme terselubung antara aku dan Yang Esa yang
kurindukan, Ini pun bukanlah kebenaran.

Apa gerangan penyakit yang menimbulkan rasa sakit tiba-tiba ketika aku bergerak,
berkehendak, rindu, memohon pertolongan, berdoa, dan meminta ini? Keadaan aneh apa
yang tengah aku rasakan dan sulit diatasi?

Tanpa daya, kuserahkan semua ini kepada Pemiliknya dan menanti di pintu ajal,
tanpa rasa, tanpa pemikiran atau perasaan, seolah-olah mati, menanti kematian
menjemputku melalui setiap embusan napas. Aku tetap berada dalam keadaan semacam
itu dan tak tahu sudah berapa lama.

Tak lama kemudian terdengar nasihat istafti qalbaka – “Tanyakan kepada hatimu,”
kukatakan kepada hatiku untuk menunjuki aku. Dia berkata: “Selama ada jejakmu di
dalam dirimu, engkau tidak akan mendengar seruan Tuhanmu irji‘ “Kembalilah kepada-
Ku!”

Jika seekor kucing terperosok ke dalam sumur garam dan tenggelam di dalamnya, dan
seketika itu juga tubuhnya menjadi garam, jika masih ada sehelai bulunya yang
tersisa, dapatkah garam itu dimakan? Berapa sering dan lama para teolog berselisih
dan membahas persoalan itu! Sebagian mengatakan bahwa meskipun tersisa sehelai
bulu, garam itu tetaplah bersih, karena bangkai kucing itu kini telah menjadi
garam; dan sebagian lagi mengatakan bahwa sehelai bulu sama nilainya dengan
keseluruhan tubuh kucing itu. Oleh karena itu, garam itu najis dan haram untuk
dimakan.
Kurasakan kebenarannya, dan aku berharap agar jejak diriku di dalam diriku mati.
Kubenamkan jejak ini ke dalam kebahagiaan Ilahi. Muncullah ekstase, dariku,
untukku, melampaui apa yang menjadi diriku, menutupi segalanya, rasa yang mustahil
untuk diungkapkan. Tanpa telinga, tanpa kata-kata, tanpa huruf kudengar seruan:
Irji‘ “Kembalilah!”

Aku mencoba berpikir: “Keadaan apa ini?” Pikiranku tak dapat menjawabnya. Aku
diperintahkan untuk mengetahui bahwa akal tidak dapat berpikir tentang rahasia
suci. Bahkan pengetahuan itu dirampas dariku sesepat ia datang kepadaku.

Wahai penuntut ilmu, yang kupaparkan di sini tidaklah dimaksudkan untuk menyatakan
bahwa saya tahu. Oleh karena itu, hal itu hanya akan kalian ketahui setelah aku
pergi dari tengah-tengah kalian. Demi kepentingan para pencari kebenaran, para
pecinta yang merindukan Sang Kekasih, mudah-mudahan pengetahuan itu membantu
mereka mengenali diri mereka sendiri, agar mereka menemukan, di dalam kota-kota
yang telah aku telusur, hakikat diri mereka, dan penduduk di dalamnya yang menjadi
sahabat mereka. Ketika dan jika di dalam keikhlasan mereka mengetahui tempat
mereka, mereka akan berbuat menurutnya, dan mengetahui arah pintu keridaan Allah,
dan bersyukur. Kemungkinan mereka akan mengenang faqīr ini, penulis karya ini, di
dalam sekelumit doa:

Mudah-mudahan Allah mencurahkan rahmat-Nya kepada Syekh Muhammad Shādiq


Naqsyābandi Ezinjani, penulis asli karya ini, dan kepada orang-orang yang
membacanya. Al-Fātihah!.

Tamat