RANCANGAN QANUN KOTA LHOKSEUMAWE NOMOR… TAHUN ………… TENTANG KEPARIWISATAAN DENGAN RAHMAT ALLAH SWT WALIKOTA LHOKSEUMAWE

Menimbang : a. bahwa dengan semakin berkembangnya penyelenggaraan

kepariwisataanbaik ditingkat local, nasional, regional dan internasional b. c. bahwa dalam rangka pelaksanaan otonomi daerah serta untuk meningkatkan daya saing bahwa sehubungan dengan huruf a dan b perlu ditetapkan dalam dengan Peraturan Daerah Mengingat : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Undang-undang Nomor 9 Tahun 1990 tentang Kepariwisataan Undang-undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang Undang-undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Lingkungan Hidup Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah Undang-undang Nomor 2 Tahun 2001 tentang Pembentukan Kota Lhokseumawe Undang-undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintah Aceh Peraturan Pemerintah Nomor 67 Tahun 1996 tentang Penyelenggaraan Kepariwisataan

9.

Peraturan

Pemerintah

Nomor

25

Tahun

2000

tentang

Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom. 10. Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2001 tentang Pajak Daerah 11. Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2001 tentang Retribusi Daerah 12. Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2001 tentang Pajak Daerah Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KOTA LHOKSEUMAWE Dan WALIKOTA LHOKSEUMAWE MEMUTUSKAN : Menetapkan : RANCANGAN QANUN KOTA LHOKSEUMAWE TENTAN KEPARIWISATAAN BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Qanun ini yang dimaksud dengan : 1. Kota adalah Kota Lhokseumawe 2. Pemerintah Kota adalah Walikota dan perangkat daerah sebagai unsur penyelenggara Pemerintah Kota 3. Walikota adalah Walikota Lhokseumawe 4. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah yang selanjutnya disingkat DPRD adalah Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Lhokseumawe

Atraksi pariwisata adalah segala sesuatu yang memiliki daya tarik meliputi atraksi alam. 6. Produk pariwisata adalah semua kawasan 12. termasuk pengusahaan atraksi pariwisata serta usaha-usaha yang terkait dengan bidang tersebut. Industri pariwisata adalah kumpulan jenis usaha yang menyediakan akomodasi.5. Pemasaran destinasi pariwisata adalah dan komponen dan pelayanan jasa-jasa upaya terkait yang destinasi yang meliputi industry pariwisata. Pariwisata dan Kebudayaan adalah Dinas Perhubungan. 13. Pariwisata dan Kebudayaan adalah Kepala Dinas Perhubungan. 7. Dinas Perhubungan. . mempromosikan serta menjual produk dan destinasi pariwisata di dalam dan luar negeri. 16. atraksi pariwisata. Wisata adalah kegiatan perjalanan atau sebagian dari kegiatan tersebut yang dilakukan secara sukarela serta bersifat sementara untuk menikmati suatu destinasi. Kepala Dinas Perhubungan. Pariwisata dan Kebudayaan Kota Lhokseumawe. atraksi buatan manusia dan atraksi event yang menjadi obyek dan tujuan kunjungan wisatawan. 15. 10. jasa pariwisata serta rekreasi dan hiburan. penyediaan makanan dan minuman. Pariwisata adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan wisata. 14. Kawasan pariwisata adalah suatu wilayah dengan potensi tertentu yang dikembangkan dan dikelola sebagai sentra kegiatan atraksi dan industry pariwisata. 11. Kepariwisataan adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan penyelenggaraan pariwisata. pariwisata memperkenalkan. Pariwisata dan Kebudayaan Kota Lhokseumawe. mendukung kegiatan pariwisata. 8. Destinasi adalah daerah tujuan wisata. Wisatawan adalah orang yang melakukan wisata 9.

.17. Melestarikan. Izin Tetap Usaha Pariwisata yang selanjutnya disingkat ITUP adalah izin untuk menyelenggarakan kegiatan industry pariwisata. mewujudkan dan memperkenalkan segenap anugerah kekayaan destinasi sebagai keunikan dan daya tarik wisata yang memiliki keunggulan daya saing. kepentingan umum. Izin Pertunjukan Temporer yang selanjutnya disingkat IPT adalah izin untuk menyelenggarakan pertunjukan yang bersifat temporer. 18. b. inovasi sumber daya.laksanaan pembangunan destinasi. Memberikan arah dan focus terhadap keterpaduan pe. Izin Sementara Usaha Pariwisata yang selanjutnya disingkat ISUP adalah izin untuk merencanakan pembangunan industry pariwisata. TUJUAN DAN KODE ETIK PARIWISATA Bagian Pertama AZAS DAN TUJUAN Pasal 2 Penyelenggaraan kepariwisataan dilaksanakan berdasarkan azas manfaat. mendayagunakan. 19. akuntabilitas dan kepastian hokum Pasal 3 Penyelenggaraan kepariwisataan bertujuan : a. transparan. Mendorong pengelolaan dan pengembangan sumber daya destinasi yang berbasis komunitas secara berkelanjutan. professional. Memupuk rasa cinta serta kebanggaan terhadap tanah air guna meningkatkan persahabatan antar daerah dan bangsa. c. d. BAB II AZAS. proporsional.

Mengoptimalkan pendayagunaan produksi local dan nasional. i. daerah dan masyarakat local. g. Pariwisata sebagai penggerak bagi kepuasan bersama dan individu. kewirausahaan. d. h. Bagian Kedua KODE ETIK PARIWSATA Pasal 4 (1) Penyelenggaraan kepariwisataan didasarkan pada Kode Etik Pariwisata Global. Pariwisata mendorong pengembangan hak-hak kepariwisataan. f. e. Pariwisata wajib mengembangkan hak-hak tenaga kerja dan kewirausahawan dalam industry pariwisata. social. c. h. Pariwisata sebagai pengguna warisan budaya dan contributor terhadap peningkatannya. Menggali dan mengembangkan potensi ekonomi. Pariwisata sebagai aktivitas yang menguntungkan bagi Negara. . Pariwisata sebagai factor pembangunan yang berkelanjutan. Pariwisata mendorong kewajiban seluruh sector pembangunan dalam pengembangan pariwisata. b. Mewujudkan pemanfaatan hasil-hasil pembangunan kepariwisataan dalam rangka peningkatan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat. Memperluas dan memeratakan kesempatan berusaha dan lapangan kerja.e. i. Meningkatkan pendapatan asli daerah dalam rangka mendukung peningkatan kemampuan dan kemandirian perekonomian daerah. f. budaya dan teknologi komunikasi melalui kegiatan kepariwisataan. Pariwisata menjamin kebebasan pergerakan wisatawan. Pariwisata merupakan kontribusi untuk saling memahami dan saling menghormati antara manusia dan masyarakat. g. sebagai berikut : a.

iklim. flora dan fauna. Sumber daya hasil karya manusia berupa hasil-hasil rekayasa sumber daya alam. Sumber daya manusia berupa kesiapan. f. . d. kebudayaan. kelestarian budaya serta nilai-nilai yang berkembang dalam masyarakat. b. Kesejahteraan komunitas. Kelestarian dan mutu lingkungan hidup yang berkelanjutan. perkotaan.(2) Implementasi prinsip-prinsip kode etik pariwisata global sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan oleh seluruh pelaku pariwisata. nilai-nilai social. sungai. Sumber daya alam ciptaan Allah SWT berupa letak geografi. Nilai-nilai agama. c. komitmen dan peran serta masyarakat. adat istiadat. kompetensi. Pasal 6 Pemanfaatan sumber daya pariwisata sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 dilakukan dengan memperhatikan : a. BAB III SUMBER DAYA PARIWISATA Pasal 5 Sumber daya pariwisata dalam pembangunan kepariwisataan terdiri atas : a. ketertiban dan kenyamanan wisatawan dan masyarakat. keselamatan. Kelangsungan pengelolaan sumber daya pariwisata itu sendiri. Potensi ekonomi dan kewirausahaan. kepulauan. warisan sejarah dan teknologi. laut. Keamanan. danau. c. b. hutan bentang alam. e.

Hunian wisata 7. Caravan 8. Hotel 2. Motel 3. Pusat jajanan 4. Usaha penyediaan makanan dan minuman. Losmen 4. Jasa agen perjalanan wisata . Pondok wisata 9. Usaha akomodasi. terdiri dari : 1. terdiri dari : 1. Jasa biro perjalanan wisata 2. terdiri dari : 1. Usaha jasa pariwisata. Jasa cabang biro perjalanan wisata 3. Resort wisata 5. Bakeri c. Penginapan remaja 6. Bar 3. Restoran 2. Wisama b.BAB IV PENYELENGGARAAN KEPARIWISATAAN Bagian Pertama PENGEMBANGAN PRODUK PARIWISATA Paragraf I Industri Pariwisata Pasal 7 Industri Pariwisata meliputi : a. Jasa boga 5.

Jasa gerai jual perjalanan wisata 5. perjalanan insentif dan pameran. Jasa informasi pariwisata 10. Jasa fasilitas theater 12. Karaoke 5. 8. Bola gelinding 10. Diskotik 3. Jasa impresariat. Griya pijat 7. Usaha kawasan pariwisata Pasal 8 Klasifikasi/penggolongan industry pariwisata sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ditetapkan dengan keputusan Walikota . Jasa konsultan pariwisata 9. Klab malam 2. Bioskop 9. Jasa penyedia pramuwisata 6. Jasa ruang pertemuan eksekutif d. Spa 8. Jasa fasilitas konvensi dan pameran 13. Music hidup 4. terdiri dari : 1. Mandi uap 6. Jasa penyelenggara konvensi. Usaha rekreasi dan hiburan umum. Jasa management hotel 11. e. 7.4.

Pasal 9 Untuk mewujudkan iklim usaha yang kondusif. Gedung bersejarah 4. Flora dan fauna 5. Laut 4. Taman dan hutan kota . Pariwisata dan Kebudayaan melakukan pembinaan terhadap industry pariwisata sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7. Hutan 8. Bentang alam 9. Galeri seni dan budaya 6. Peningkatan daya saing usaha pariwisata Paragraf 2 Atraksi Pariwisata Pasal 10 Atraksi Pariwisata meliputi : a. Pusat-pusat kegiatan seni dan budaya 7. terdiri dari : 1. Situs peninggalan bersejarah dan purbakala 3. Sungai 6. Danau 7. Monument 5. Kepulauan 3. terdiri dari : 1. Letak geografi 2. Atraksi alam. Atraksi buatan manusia. Peningkatan standar kualitas pelayanan b. melalui : a. Iklim b. Museum 2. Dinas Perhubungan.

Pameran 2. Festival 4. terdiri dari : 1. pelabuhan dan stasiun 13. Peningkatan kepatuhan terhadap peraturan perundangan yang berlaku. Upacara 7. flora dan fauna 10. Sentra perbelanjaan modern 15. Karnaval 5. Parade 6. Daya tarik lain yang dikembangkan kemudian c. norma-norma dan nilai-nilai kehidupan masyarakat Peningkatan jaminan kesehatan. Peristiwa khusus Pasal 11 Setiap atraksi pariwisata sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 dikembangkan melalui : a. Budidaya agro. pengelola dan masyarakat. Tempat ibadah 11. Penampilan khazanah dan kekayaan budaya bangsa b. . Pertandingan 11. Pecan raya 10. c. Kontes 8. Pemeliharaan ketertiban dan harmonisasi lingkungan. Bandara. Atraksi event. Konser 9. Konvensi 3. Pasar tradisional 14. d. Bangunan arsitektural kota 12.8. keamanan dan kenyamanan wisatawan. Cagar budaya 9.

i. l. m. Peningkatan nilai tambah dan manfaat yang luas bagi komunitas local Peningkatan publikasi kalender kegiatan pariwisata. Pasal 12 Atraksi pariwisata sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 dikemas sebagai kreasi bernilai dalam bentuk serangkaian aktivitas sesuai dengan minat kunjungan wisatawan yang meliputi : a. k. f. Penataan kawasan dan jalur pariwisata . Paragraf 3 Kawasan Destinasi Pariwisata Pasal 14 (1) Pengembangan kawasan destinasi pariwisata dilakukan melalui : a. Wisata bisnis b. dilakukan oleh masyarakat. Wisata belanja d. Wisata konvensi c.e. Wisata sejarah f. industry pariwisata. h. Wisata bahari e. Pemerintah Daerah atau dalam bentuk kemitraan. Wisata budaya Wisata remaja Wisata lansia Wisata pendidikan Wisata kesehatan Wisata agro Wisata alam dan lingkungan Wisata minat khusus Pasal 13 Pengembangan atraksi pariwisata sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10. g. j.

(3) Kawasan-kawasan tertentu sebagai sentra pengembangan aktivitas kepariwisataan ditetapkan dengan Keputusan Walikota Pasal 15 (1) (2) Pemerintah Daerah dapat mengembangkan kawasan khusus pariwisata untuk penyelenggaraan jenis industry pariwisata tertentu.b. ditetapkan dengan Keputusan Gubernur Paragfraf 4 Jasa-jasa Terkait Pasal 17 (1) Jasa-jasa terkait. dilakukan oleh masyarakat. (2) Tata cara penyusunan dokumen AMDAL. Pemeliharaan kelestarian dan mutu lingkungan hidup (2) Pengembangan kawasan destinasi pariwisata sebagaimana dimaksud pada ayat (1). industry pariwisata. UKL dam UPL sebagaiman dimaksud pada ayat (1). wajib melakukan upaya pelestarian lingkungan melalui Analisa Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) serta Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL) yang telah direkomendasi sesuai peraturan perundangundangan yang berlaku. terdiri dari : . Jenis industry pariwisata tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi : a. Panti pijat c. Pemerintah Daerah atau dalam bentuk kemitraan. Penyediaan sarana dan prasarana kota c. Mandi uap b. Permainan ketangkasan manual/mekanik/elektronik Pasal 16 (1) Setiap pengembangan kawasan destinasi pariwisata serta industry pariwisata.

Pertanian l. Transportasi b. Keamanan. (2) Pemasaran destinasi pariwisata berorientasi kepada ………………… jasa-jasa terkait pengembangan . Perbankan j. Perikanan m. Perlindungan hukum q. Telekomunikasi c. Kesehatan p. Perdagangan d. Peternakan n. Kehutanan o. Jasa keuangan i. Perindustrian e. Ketenagakerjaan g. ketentraman dan ketertiban (2) Pemerintah Daerah harus mendorong peran aktif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dalam kepariwisataan. Bagian Kedua Pemasaran Destinasi Pariwisata Pasal 18 (1) Pemasaran destinasi pariwisata diselenggarakan untuk meningkatkan citra Kota Lhokseumawe sebagai daerah tujuan wisata yang berbasis Islami.a. Perumahan dan pemukiman h. Asuransi k. Pendidikan f.

semiloka. Bagian Ketiga Penelitian dan Pengembangan Pariwisata Pasal 21 (1) Penelitian dan pengembangan pariwisata diselenggatrakan untuk memperoleh data dan informasi yang obyeltif melslui riset. survey. b.Pasal 19 (1) Pemasaran destinasi pariwisata dilakukan melalui kegiatan : a. periklanan serta pemasaran elektronik. Kerjasama dan hubungan kelembagaan pariwisata pariwisata sebagaimana . Pemerintah Daerah atau dalam bentuk kemitraan. publikasi. promosi penjualan. pemasaran langsung. Pengembangan promosi dan komunikasi terdiri dari kegiatan kehumasan. (2) Kegiatan pemasaran destinasi pariwisata dilakukan berdasarkan rencana pemasaran strategic Pasal 20 (1) Pemasaran destinasi pariwisata sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 dilaksanakan oleh masyarakat. Regulasi kepariwisataan d. sponsor. pameran dan forum bisnis. penjualan secara personal. Pemasaran destinasi pariwisata c. diskusi panel dan kegiatan ilmiah lainnya (2) guna mendukung perumusan kebijakan dan strategi pembangunan kepariwisataan. studi. Produk pariwisata b. lokakarya.litian dan pengembangan dimaksud pada ayat (1) meliputi : a. Kegiatan pene. industry pariwisata. seminar. Pengembangan jaringan distribusi pemasaran di dalam negeri dan luar negeri.

Modal patungan antara Warga Negara Republik Indonesia dan Warga Negara Asing. lembaga pendidikan dan penelitian. konsultan pariwisata. Seluruh modalnya dimiliki oleh Warga Negara Republik Indonesia dapat berbentuk Badan Hukum atau usaha perseotangan sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku b. bentuk usahanya harus Perseroan Terbatas c. asosiasi/lembaga kepariwisataan serta dapat bekerjasama dengan pihak yang terkait di dalam dan luar negeri. Pasal 22 Penelitian dan pengembangan pariwisata sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 dilakukan oleh Pemerintah Daerah. BAB V BENTUK USAHA DAN PERMODALAN Pasal 23 (1) (2) Pemerintah Daerah harus mendorong pertumbuhan investasi di bidang kepariwisataan Permodalan dan bentuk usaha industry pariwisata sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 adalah sebagai berikut : a. industry pariwisata.(3) Perumusan kebijakan dan strategi pembangunan kepariwisataan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)dituangkan dalam Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Daerah (RIPPDA) yang ditetapkan dengan Kkeputusan Walikota. Seluruh modalnya dimiliki warga Negara asing dalam bentuk penanaman modal asing wajib mematuhi peraturan perundangan yang berlaku. .

Pariwisata dan Kebiudayaan (2) ITUP sebagaimana dimaksud pada ayat (1). hanya digunakan sebagai dasar untuk mengurus Surat Izin Persetujuan Prinsip Pembebasan Lahan (SP3L). . yang memerlukan bangunan baru. (2) (3) ISUP sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Izin Mendirikan Bangunan (IMB) dan untuk menyusun Analissa Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) serta Izin Tetap Usaha Pariwisata (ITUP) (4) Tata cara dan persyaratan untuk memperoleh ISUP sebagaimana dimaksud padaa ayat (1) ditetapkan dengan Keputusan Walikota Paragraf 2 Izin Tetap Usaha Pariwisata Pasal 25 (1) Setiap penyelenggaraan industry pariwisata sebagaiman dimaksud dalam Pasal 7. dan tidak dapat diperpanjang. ISUP sebagaimana dimaksud pada ayat (1). harus memperoleh ITUP dari Kepala Dinas Perhubungan. Surat Penunjukan Penggunaan Tanah (SIPPT).BAB VI PERIZINAN DAN REKOMENDASI Bagian Pertama Perizinan Paragraf 1 Izin Sementara Usaha Pariwisata Pasal 24 (1) Setiap industry pariwisata sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7. harus memperoleh ISUP dari Kepala Dinas Perhubungan. berlaku untuk jangka waktu 3 (tiga) tahun. betrlaku sepanjang usaha tersebut masih berjalan dan harus didaftar ulang setiap tahun. Pariwisata dan Kebudayaan.

(2) (3) IPT sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pariwisata dan Kebudayaan . berlaku hanya untk 1 (satu) kali pertunjukan Persyaratan dan tata cara untuk mendapatklan IPT sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan Keputusan Walikota Bagian Kedua Rekomendasi Pasal 28 (1) Setiap perubahan bangunan industry pariwisata sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7. Paragraf 3 Izin Pertunjukan Temporer Pasal 27 (1) Setiap penyelenggaraan pertunjukan temporer sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 huruf d angka 22 harus mendapat IPT dari Kepala Dinas Perhubungan. ditetapkan dengan Keputusan Walikota.(3) Persyaratan dan tata cara untuk memperoleh ITUP dan daftar ulang sebagaimana dimaksud pada ayat (2). tidak dapat dipindahtangankan dengan cara dan atau dalam bentuk apapun. terlebih dahulu harus memperoleh rekomendasi dari Kepala Dinas Perhubungan. Pasal 26 ITUP sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25. Pariwisata dan Kebudayaan.

Hari Raya Idul Fitri dan satu hari setelah Hari Raya Idul Fitri. b. Persyaratan Walikota BAB VII WAKTU PENYELENGGARAAN INDUSTRI PARIWISATA Pasal 29 dan tata cara untuk memperoleh rekomendasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 30 Untuk menghormati bulan Ramadhan. ditetapkan dengan Keputusan Walikota.(2) (3) Rekomendasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). selama bulan Ramadhan. Hari Raya Idul Fitri dan Hari Raya Idul Adha. . Usaha penyediaan makanan dan minuman Mandi uap Panti pijat Permainan ketangkasan manual/mekanik/elektronik BAB VIII PELATIHAN KETENAGAKERJAAN Pasal 31 (1) Dinas Perhubungan. penyelenggaraan industry pariwisata harus tutup satu hari sebelum bulan Ramadhan. c. satu hari sebelum Hari Raya Idul Adha dan Hari Raya Idul Adha yaitu : a. d. digunakan untuk mengurus perizinan yang diperlukan. ditetapkan dengan Keputusan Waktu penyelenggaraan kegiatan industry pariwisata sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1. Pariwisata dan Kebudayaan menyelenggarakan pelatihan untuk meningkatkan mutu tenaga kerja bidang kepariwisataan.

(2) Setiap tenaga kerja yang memiliki Sertifikasi Profesi Kepariwisataan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan Tanda Identitas Profesi yang wajib dipakai pada saat melaksanakan tugas (3) Sertifikasi Profesi Kepariwisataan dan Tanda Identitas Profesi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dikeluarkan oleh Kepala Dinas Perhubungan.(2) Penyelenggaraan pelatihan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berpedoman pada standar kompetensi profesi kepariwisataan berdasatkan profesi/jabatan masing-masing. Pariwisata dan Kebudayaan. Pasal 32 (1) Setiap tenaga kerja pariwisata wajib memiliki Sertifikasi Profesi Kepariwisataan sebagai lisensi kekaryaan berdasarkan profesi/jabatan dkbidangnya masing-masing. (2) Persyaratan Walikota. dan tata cara untuk memperoleh rekomendasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan Keputusan . (4) Persyaratan dan tata cara untuk memperoleh Sertifikasi Profesi Kepariwisataan dan Tanda Identitas Profesi sebagaimana dimaksud pada ayat (3). Pariwisata dan Kebudayaan. ditetapkan dengan Keputusan Walikota. Pasal 33 (1) Setiap pengelola industry pariwisata yang akan memperpanjang izin mempekerjakan Tenaga Kerja Warga Negara Asing Pendatang (TKWNAP) wajib mendapatkan rekomendasi dari Kepala Dinas Perhubungan.

Partisipasi aktif dalam pengembangan kepariwisataan c. Penyampaian saran. Pariwisata dan Kebudayaan harus mendorong peran serta masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) BAB X KEWAJIBAN DAN LARANGAN Pasal 35 (1) Setiap penyelenggara kepariwisataan wajib untuk : a. f. Menjalin hubungan social.BAB IX PERAN SERTA MASYARAKAT Pasal 34 (1) Masyarakat berperan serta dalam kegiatan kepariwisataan melalui : a. pendapat dan aspirasi dalam rangka pengembangan kepariwisataan. asosiasi industry dan profesi serta lembaga kemasyarakatan lain untuk mendukung pengembangan kepariwisataan. Penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan kepariwisataan (2) Dinas Perhubungan. keindahan dan kesehatan lokasi kegiatan serta meningkatkan mutu lingkungan hidup c. d. Penggalian potensi dan sumber daya ekonomi. Menjamin dan bertanggungjawab terhadap keamanan. Peningkatan sadar wisata b. Pembentukan organisasi. seni dan budaya. budaya dan ekonomi yang harmonis dan bermanfaat bagi masyarakat sekitar. ketertiban dan kenyamanan pengunjung b. keselamatan. d. kewirausahaan. Memelihara kebersihan. teknologi untuk mendukung pengembangan kepariwisataan e. social. Mencegah dampak social yang merugikan masyarakat .

Membayar Pajak Daerah dan Retribusi Daerah sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. Fasilitas usaha akomodasi b. Fasilitas wisata bahari e. Fasilitas kepariwisataan lain yang ditetapkan kemudian dengan Keputusan Walikota . b. asusila. BAB XI FASILITAS KEPARIWISATAAN MILIK DAERAH Pasal 36 (1) Fasilitas kepariwisataan milik daerah terdiri dari : a. Menggunakan tenaga kerja dibawah umur c. Fasilitas usaha rekreasi dan hiburan c. f. Fasilitas pelatihan kepariwisataan f. peredaran dan pemakaian narkoba. (2) Setiap penyelenggara kepariwisataan dilarang : a. membawa senjata api/tajam serta tindakan pelanggaran hukum lainnya. Fasilitas atraksi pariwisata d.e. d. Memberikan kesempatan kepada karyawan untuk melaksanakan ibadah sesuai dengan keyakinan masing-masing serta menjamin keselamatan dan kesehatannya. Menggunakan tenaga kerja warga Negara asing tanpa izin. Menggunakan tempat kegiatan untuk kegiatan lain yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku e. Menerima pengunjung di bawah umur untuk jenis usaha tertentu sesuai peraturan perundangan yang berlaku. Memanfaatkan tempat kegiatan untuk melakukan perjudian. Fasilitas pelayanan informasi pariwisata g.

berdedikasi dan memberikan kontribusi dalam penyelenggaraan kepariwisataan. BAB XIII KETENTUAN LAIN-LAIN Pasal 38 (1) Setiap industry pariwisata. BAB XII RETRIBUSI Pasal 37 (1) (2) Penggunaan fasilitas kepariwisataan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 ayat (1). (2) Pemberian penghargaan Adikarya Wisata sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan oleh Dinas Perhubungan. Pariwisata dan Kebudayaan (3) Persyaratan pemberian penghargaan Adikarya Wisata sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan Keputusan Gubernur. dikenakan retribusi Jenis dan besarnya retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan Peraturan Daerah tersendiri. jasa-jasa terkait dan masyarakat yang berprestasi. ditetapkan dengan Keputusan Walikota. diberikan penghargaan Adikarya Wisata oleh Gubernur. Pasal 39 Setiap penyelenggaraan industry pariwisata sebagaima dimaksud dalam Pasal 1. harus memasang papan nama dan atau papan petunjuk dengan .(2) (3) Fasilitas kepariwisataan milik daerah sebagaiman dimaksud pada ayat (1) dikelola dan dikembangkan oleh Pemerintah Daerah Tata cara pengelolaan dan pengembangan fasilitas kepariwisataan milik daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

Pariwisata dan Kebudayaan melakukan pembinaan terhadap penyelenggaraan kepariwisataan. (2) Tanda sertifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diletakkan pada tempat yang mudah dibaca oleh konsumen BAB XIV PEMBINAAN DAN PENGAWASAN Bagian Pertama Pembinaan Pasal 41 (1) (2) Dinas Perhubungan.menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar serta dapat menggunakan Bahasa asing sesuai peraturan perundangan yang berlaku. Tata cara pembinaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan keputusan Gubernur Bagian Kedua Pengawasan Pasal 42 (1) (2) Dinas Perhubungan. Pasal 40 (1) Industri pariwisata sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 huruf b yang menyediakan makanan dan minuman yang diperbolehkan menurut agama Islam dan harus disertifikasi halal oleh lembaga yang berkompeten. Tata cara pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan keputusan Gubernur . Pariwisata dan Kebudayaan melakukan pengawasan terhadap penyelenggaraan kepariwisataan.

Pasal 32. Pasal 27. 7. Pasal 33.000. 6.BAB XV KETENTUAN PIDANA Pasal 43 (1) Penyelenggaraan terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16. 3. Pasal 30. 5. dan Pasal 35 Peraturan Daerah ini diancam pidana kurungan selama-lamanya 3 (tiga) bulan dan atau denda sebanyak-banyaknya Rp. Pasal 24. 5. dapat juga dikenakan sanksi administrasi berupa : a. 8. Teguran lisan atau panggilan b.000. 2. Penghentian atau penutupan penyelenggaraan usaha d.. ISUP ITUP IPT Rekomendasi perubahan bangunan Rekomendasi perpanjangan izin tenaga Kerja Warga Negara Asing Pendatang (TKWNAP) Sertifikat Profesi Kepariwisataan (SPK) Tanda Identitas Profesi Kepariwisataan (TIPK) Pemberian Penghargaan Adikarya Wisata . 4. Teguran tertulis c.(Lima Juta Rupiah) (2) (3) Terhadap pelanggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dibebani biaya paksaan penegakan hokum Besarnya biaya paksaan penegakan hokum sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditetapkan dengan Keputusan Gubernur BAB XVI SANKSI ADMINISTRASI Pasal 44 (1) Selain dikenakan Sanksi Pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 43. Pasal 25. Pencabutan atas : 1. Pasal 26. Pasal 28. Pasal 23 ayat (2).

Dalam melaksanakan tugas penyidikan. Menerima laporan atau pengaduan dari seseorang tentang adanya tindak pidana b.(2) Tata cara pengenaan sanksi administrasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan Keputusan Gubernur BAB XVII PENYIDIKAN Pasal 45 Selain pejabat penyidik POLRI yang bertugas menyidik tondak pidana. dan memeriksa tanda pengenal dari tersangka d. Mengambil sidik jari dan memotret seseorang f. i. para pejabat penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berwenang : a. penyidik tidak berwenang melakukan penangkapan. Mendatangkan ahli yang diperlukan pemeriksaan perkara h. Dalam melaksanakan tugasnya. Menyuruh berhenti seseorang tersangka. Memanggil orang untuk didengar dan diperiksa sebagai tersangka atau saksi g. Melakukan tindakan pertama pada saat itu di tempat kejadian perkara dan melakukan pemeriksaan c. Penyitaan benda d. Pemeriksaan tersangka b. dan selanjutnya memberitahukan hal tersebut kepada penuntut umum tersangka atau keluarganya. Pemeriksaan surat (1) (2) (3) (4) . Penyidik membuat berita acara setiap tindakan tentang : a. penyidikan atas tindak pidana Peraturan Daerah ini dapat dilakukan oleh Penyidik Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Pemerintah Daerah yang pengangkatannya ditetapkan sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku. penahanan dan atau penggeledahan. Mengadakan penghentian penyidikan setelah mendapat petunjuk bahwa tidak terdapat cukup bukti pidana. Melakukan penyitaan benda dan atau surat e. Mengadakan tindakan lain menurut houum yang dapat dipertanggungjawabkan. Pemasukan rumah c.

(2) BAB XIX KETENTUAN PENUTUP Pasal 47 Hal-hal yang merupakan pelaksanaan Peraturan Daerah ini ditetapkan dengan Keputusan Walikota Pasal 48 Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan Agar supaya setiap orang dapat mengetahuinya. memerintahkan pengundangan Peraturan Daerah ini dengan penempatannya dalam Rancangan Qanun Kota Lhokseumawe Ditetapkan di Lhokseumawe Pada tanggal WALIKOTA LHOKSEUMAWE . dan mengirimkan berkasnya kepada penuntut umum melalui Penyidik POLRI BAB XVIII KETENTUAN PERALIHAN Pasal 46 (1) Dengan berlakunya Peraturan Daerah ini. Pemeriksaan sanksi Pemeriksaan di tempat kejadian.e. semua perijinan usaha industry pariwisata yang telah dikeluarkan masih tetap berlaku sampai berakhirnya jangka waktu harus didaftar ulang Sebelum ditetapkan peraturan pelaksanaan Peraturan Daerah ini peraturan pelaksanaan yang ada tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan dalam Peraturan Daerah ini. f.

Si Pembina Utama Madya/Nip.M. 19591231 198603 1 093 . SE.MUNIR USMAN Diundangkan di Lhokseumawe Pada tanggal SEKRETARIS DAERAH KOTA LHOKSEUMAWE SAFWAN.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful