Anda di halaman 1dari 27

ISOTERM ADSORPSI

I. TUJUAN
1. Menentukan isoterm adsorpsi menurut Freundlich bagi proses adsorpsi asam
asetat pada arang.
2. Mempelajari secara kualitatif sifat-sifat dari suatu bahan adsorpsi.

II. DASAR TEORI
2.1 Definisi Adsopsi
Adsorpsi adalah peristiwa penyerapan / pengayaan (enrichment) suatu komponen
di daerah antar fasa. Pada peristiwa adsorpsi, komponen akan berada di daerah antar
muka, tetapi tidak masuk ke dalam fasa ruah. Komponen yang terserap disebut adsorbat
(adsorbate), sedangkan daerah tempat terjadinya penyerapan disebut adsorben
(adsorbent / substrate). Isoterm Adsopsi adalah pengukuran menentukan hubungan
jumlah gas teradsorpsi (pada adsorben) dan tekanan gas yang dilakukan pada suhu
tetap, dan hasil pengukuran digambarkan dalam grafik.
Adsorpsi dapat terjadi karena interaksi gaya elektrostatik atau van der Waals antar
molekul (physisorption/fisisorpsi) maupun oleh adanya interaksi kimiawi antar
molekul. Adsorpsi merupakan peristiwa kesetimbangan kimia. Oleh karenanya,
berkurangnya kadar zat yang teradsorpsi (adsorbat) oleh material pengadsorpsi
(adsorben) terjadi secara kesetimbangan, sehingga secara teoritis, tidak dapat terjadi
penyerapan sempurna adsorbat oleh adsorben. Besarnya konsentrasi adsorbat oleh
proses adsorpsi tergantung pada mekanisme adsorpsi, konsentrasi awal adsorbat,
temperatur, dosis adsorben, dll sehingga membandingkan kemampuan suatu adsorben
dari besarnya reduksi setelah adsorpsi bisa menjadi bias. Karenanya, untuk menguji
kuat-lemahnya adsorpsi, yang dibutuhkan adalah besaran energi adsorpsi (E ads) yang
dapat diperoleh dari evaluasi nilai konstanta adsorpsi-desorpsi ( K) sebagai fungsi
temperatur. Berdasarkan sifatnya, adsorpsi dapat dibedakan menjadi tiga macam yaitu :
a. Chemisorption, terjadi karena ikatan kimia (chemical bonding) antara molekul zat
terlarut (solute) dengan molekul adsorban. Adsorpsi ini bersifat sangat eksotermis
dan tidak dapat berbalik (irreversible). Adsorpsi kimia terjadi karena adanya rekasi
kimia antara zat padat dengan adsorbat larut dan reaksi ini tidak berlangsung
bolak-balik. Interaksi suatu senyawa organik dan permukaan adsorben dapt terjadi
melauli tarikan elektrostatik atau pembentukan ikatan kimia yang spesifik misalnya


ikatan kovalen. Sifat-sifat molekul organik seperti struktur, gugus fungsional dan
sifat hidrofobik berpengaruh pada sifat-sifat adsorpsi.
b. Adsorpsi fisika (physical adsorption, terjadi karena gaya tarik molekul oleh gaya
van der Waals dan biasanya adsorpsi ini berlangsung secara bolak-balik. Ketika
gaya tarik-menarik molekul antara zat terlarut dengan adsorben lebih besar dari
gaya tarik-menarik zat terlarut dengan pelarut, maka zat terlarut akan cenderugn
teradsorpsi pada permukaan adsorben.
c. Ion exchange (pertukaran ion), terjadi karena gaya elektrostatis.
Tabel 5.1. Perbedaan adsorpsi fisik dan kimia
Adsorpsi Fisik Adsorpsi Kimia
Molekul terikat pada adsorben oleh
gaya van der Waals
Molekul terikat pada adsorben oleh
ikatan kimia
Mempunyai entalpi reaksi 4 sampai
40 kJ/mol
Mempunyai entalpi reaksi 40 sampai
800 kJ/mol
Dapat membentuk lapisan multilayer Membentuk lapisan monolayer
Adsorpsi hanya terjadi pada suhu di
bawah titik didih adsorbat
Adsorpsi dapat terjadi pada suhu tinggi
Jumlah adsorpsi pada permukaan
merupakan fungsi adsorbat
Jumlah adsorpsi pada permukaan
merupakan karakteristik adsorben dan
adsorbat
Tidak melibatkan energi aktifasi
tertentu
Melibatkan energi aktifasi tertentu
Bersifat tidak spesifik Bersifat sangat spesifik

2.2 Faktor-faktor yang mempengaruhi kemampuan adsopsi
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kemampuan adsorpsi suatu adsorben
yaitu:
1. Luas permukaan adsorben
Semakin luas permukaan adsorben, semakin banyak asorbat yang diserap, sehingga
proses adsorpsi dapat semakin efektif. Semaki kecil ukuran diameter partikel maka
semakin luas permukaan adsorben.
2. Ukuran partikel
Makin kecil ukuran partikel yang digunakan maka semakin besar kecepatan
adsorpsinya. Ukuran diameter dalam bentuk butir adalah lebih dari 0.1 mm,
sedangkan ukuran diameter dalam bentuk serbuk adalah 200 mesh.
3. Waktu kontak
Semakin lama waktu kontak dapat memungkinkan proses difusi dan penempelan


molekul adsorbat berlangsung lebih baik. KOnsentrasi zat-zat organic akan turun
apabila kontaknya cukup dan waktu kontak biasanya sekitar 10-15 menit.
4. Distribusi ukuran pori
Distribusi pori akan mempengaruhi distribusi ukuran molekul adsorbat yang masuk
kedalam partikel adsorben. Kebanyakan zat pengasorpsi atau adsorben merupakan
bahan yang sangat berpori dan adsorpsi berlangsung terutama pada dinding-
dinding pori atau letak-letak tertentu didalam partikel tersebut.
2.1 Penentuan Adsopsi Isoterm
Perubahan konsentrasi adsorbat oleh proses adsorpsi sesuai dengan mekanisme
adsorpsinya dapat dipelajari melalui penentuan isoterm adsorpsi yang sesuai. Isoterm
Langmuir dan Isoterm BET adalah dua diantara isoterm-isoterm adsorpsi yang
dipelajari:
a. Isoterm Adsorpsi Langmuir
Pada tahun 1918, Langmuir menurunkan teori isoterm adsorpsi dengan
menggunakan model sederhana berupa padatan yang mengadsorpsi gas pada
permukaannya. Pendekatan Langmuir meliputi lima asumsi mutlak, yaitu
1. Gas yang teradsorpsi berkelakuan ideal dalam fasa uap
2. Gas yang teradsorpsi dibatasi sampai lapisan monolayer
3. Permukaan adsorbat homogen, artinya afinitas setiap kedudukan ikatan untuk
molekul gas sama
4. Tidak ada antaraksi lateral antar molekul adsorbat
5. Molekul gas yang teradsorpsi terlokalisasi, artinya mereka tidak bergerak pada
permukaan



Gambar 5.6. Pendekatan isoterm adsorpsi Langmuir
Pada kesetimbangan, laju adsorpsi dan desorpsi gas adalah sama. Bila menyatakan
fraksi yang ditempati oleh adsorbat dan P menyatakan tekanan gas yang teradsorpsi,
maka
) 1 (
2 1
u u = P k k ..................................... (5.47)
dengan k
1
dan k
2
masing masing merupakan tetapan laju adsorpsi dan desorpsi. Jika
didefinisikan a = k
1
/ k
2
, maka
lapisan adsorbat monolayer
adsorben



) ( P a
P
+
= u ............................................ (5.48)
Pada adsorpsi monolayer, jumlah gas yang teradsorpsi pada tekanan P (y) dan
jumlah gas yang diperlukan untuk membentuk lapisan monolayer dihubungkan
dengan melalui persamaan

m
y
y
= u ................................................... (5.49)

P a
P y
y
m
+
= ............................................... (5.50)
Teori isoterm adsorpsi Langmuir berlaku untuk adsorpsi kimia, dimana reaksi
yang terjadi adalah spesifik dan umumnya membentuk lapisan monolayer.
b. Isoterm Adsorpsi BET
Teori isoterm adsorpsi BET merupakan hasil kerja dari S. Brunauer, P.H.
Emmet, dan E. Teller. Teori ini menganggap bahwa adsorpsi juga dapat terjadi di
atas lapisan adsorbat monolayer. Sehingga, isoterm adsorpsi BET dapat
diaplikasikan untuk adsorpsi multilayer. Keseluruhan proses adsorpsi dapat
digambarkan sebagai
a. Penempelan molekul pada permukaan padatan (adsorben) membentuk lapisan
monolayer
b. Penempelan molekul pada lapisan monolayer membentuk lapisan multilayer





Gambar 5.7. Pendekatan isoterm adsorpsi BET
Pada pendekatan ini, perbandingan kekuatan ikatan pada permukaan adsorben
dan pada lapisan adsorbat monolayer didefinisikan sebagai konstanta c. Lapisan
adsorbat akan terbentuk sampai tekanan uapnya mendekati tekanan uap dari gas
yang teradsorpsi. Pada tahap ini, permukaan dapat dikatakan basah (wet). Bila V
menyatakan volume gas teradsorpsi, V
m
menyatakan volume gas yang diperlukan
untuk membentuk lapisan monolayer, dan x adalah P/P
*
, maka isoterm adsorpsi BET
dapat dinyatakan sebagai
lapisan adsorbat multilayer
adsorben


) 1 )( 1 ( cx x x
cx
V
V
m
+
= ...................................... (5.51)
Kesetimbangan antara fasa gas dan senyawa yang teradsorpsi dapat
dibandingkan dengan kesetimbangan antara fasa gas dan cairan dari suatu senyawa.
Dengan menggunakan analogi persamaan Clausius Clapeyron, maka
( )
2
ln
RT
H
dT
P d
ads
A
= ............................................. (5.52)
dimana H
ads
adalah entalpi adsorpsi. Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa
tekanan kesetimbangan dari gas teradsorpsi bergantung pada permukaan dan entalpi
adsorpsi.
c. Isoterm Adsorpsi Freundlich
Adsorpsi zat terlarut (dari suatu larutan) pada padatan adsorben merupakan hal
yang penting. Aplikasi penggunaan prinsip ini antara lain penghilangan warna
larutan (decolorizing) dengan menggunakan batu apung (charcoal?) dan proses
pemisahan dengan menggunakan teknik kromatografi.
Pendekatan isoterm adsorpsi yang cukup memuaskan dijelaskan oleh H.
Freundlich. Menurut Freundlich, jika y adalah berat zat terlarut per gram adsorben
dan c adalah konsentrasi zat terlarut dalam larutan, maka
y = k c
1/n
................................................. (5.53)
c
n
k y log
1
log log + = ........................................ (5.54)
dimana k dan n adalah konstanta empiris. Jika persamaan (5.53) diaplikasikan untuk
gas, maka y adalah jumlah gas yang teradsorpsi dan c digantikan dengan tekanan
gas. Plot log y terhadap log c atau log P menghasilkan kurva linier. Dengan
menggunakan kurva tersebut, maka nilai k dan n dapat ditentukan.

Gambar 5.8. Plot isoterm Freundlich untuk adsorpsi H
2
pada tungsten (suhu 400
o
C)


III. ALAT DAN BAHAN
3.1 Alat
- Cawan porselin 1 buah
- Labu erlenmeyer bertutup 250 ml 12 buah
- Labu erlenmeyer 150 ml 6 buah
- Pipet 10 ml 2 buah
- Pipet 25 ml 4 buah
- Buret 50 ml 1 buah
- Corong 6 buah
3.2 Bahan
- Larutan HCl 0,500 N
- Adsorben arang atau jenis karbon lainnya
- Larutan standar NaOH 0,1 N
- Indikator fenolftalein
- Aquadest

IV. CARA KERJA
1. Arang diaktifkan dengan cara memanaskan di atas cawan porselin kemudian ke dalam
enam buah labu erlenmeyer bertutup dimasukkan masingmasing 1 g arang, yang
ditimbang dengan ketelitian 1 mg. Berat arang tidak perlu tepat 1 gram, tetapi harus
teliti.
2. Larutan asam dengan konsentrasi 0,500 N ; 0,250 N ; 0,125 N ; 0,0625 N ; 0,0313 N
dan 0,0156 N sebanyak 100 mL disediakan kemudian masingmasing larutan
dimasukkan ke dalam labu erlenmeyer yang berisi arang. Labu-labu ini ditutup dan
dibiarkan selama jam. Selama setengah jam, larutan dikocok selama 1 menit secara
teratur tiap 10 menit.
3. Tiap larutan disaring dengan menggunakan kertas saring yang kering.
4. Larutan titrat dititrasi sebagai berikut: dari kedua larutan dengan konsentrasi paling
besar diambil 10 mL, larutan berikutnya diambil 25 mL dan dari ketiga larutan
dengan konsentrasi paling rendah diambil masing-masing 50 mL, kemudian dititrasi
dengan larutan standar NaOH 0,1 N dengan menggunakan indikator fenolftalein.

V. DATA PENGAMATAN
5.1 Pembuatan Larutan Asam Klorida berbagai Konsentrasi


Erlenmeyer Konsentrasi Asam
Klorida (N)
Volume Asam
Klorida (mL)
Volume aquades (mL)
I 0,500 100 0
II 0,250 50 50
III 0,125 25 75
IV 0,0625 12,5 87,5
V 0,0313 6,26 93,74
VI 0,0156 3,12 96,88

5.2 Data Percobaan
Erlenmeyer massa
arang (g)
Konsentrasi
HCl (N)
Volume
HCl (mL)
Volume NaOH 0,1
N (mL)
I II
I 1,0 0,500 10 46,20 46,30 46,25
II 1,0 0,250 10 23,30 23,10 23,20
III 1,0 0,125 25 20,20 20,10 20,15
IV 1,0 0,0625 50 25,20 25,30 25,25
V 1,0 0,0313 50 10,00 10,10 10,05
VI 1,0 0,0156 50 3,00 3,20 3,10

VI. PERHITUNGAN
1. Pembuatan Larutan HCl dari Larutan Induk HCl 0,500 N
a. Larutan HCl 0,500 N
Diketahui : M
1
= 0,500 N
M
2
= 0,500 N
V
2
= 100 mL
Ditanya : V
1
= . . . . . . . ?
Jawab : M
1
V
1
= M
2
. V
2


1
2 2
1
.
M
V M
V =

N
mL N
500 , 0
100 . 500 , 0
=
= 100 mL
Jadi, volume larutan induk HCl 0,500 N yang harus dipipet untuk membuat larutan
HCl 0,500 N adalah 100 mL.
b. Larutan HCl 0,250 N
Diketahui : M
1
= 0,500 N
M
2
= 0,250 N
V
2
= 100 mL
Ditanya : V
1
= . . . . . . . ?
Jawab : M
1
V
1
= M
2
. V
2


1
2 2
1
.
M
V M
V =



N
mL N
500 , 0
100 . 250 , 0
= = 50 mL
Jadi, volume larutan induk HCl 0,500 N yang harus dipipet untuk membuat larutan
HCl 0,250 N adalah 50 mL.

c. Larutan HCl 0, 125 N
Diketahui : M
1
= 0,500 N
M
2
= 0,125 N
V
2
= 100 mL
Ditanya : V
1
= . . . . . . . ?
Jawab : M
1
V
1
= M
2
. V
2


1
2 2
1
.
M
V M
V =

N
mL N
500 , 0
100 . 125 , 0
= = 25 mL
Jadi, volume larutan induk HCl 0,500 N yang harus dipipet untuk membuat larutan
HCl 0,125 N adalah 25 mL.
d. Larutan HCl 0,0625 N
Diketahui : M
1
= 0,500N
M
2
= 0,0625 N
V
2
= 100 mL
Ditanya : V
1
= . . . . . . . ?
Jawab : M
1
V
1
= M
2
. V
2


1
2 2
1
.
M
V M
V =

N
mL N
500 , 0
100 . 0625 , 0
= = 12,5 mL
Jadi, volume larutan induk HCl 0,500 N yang harus dipipet untuk membuat larutan
HCl 0,0625 N adalah 12,5 mL.
e. Larutan HCl 0,0313 N
Diketahui : M
1
= 0,599 N
M
2
= 0,0313 N
V
2
= 100 mL
Ditanya : V
1
= . . . . . . . ?
Jawab : M
1
V
1
= M
2
. V
2


1
2 2
1
.
M
V M
V =

N
mL N
500 , 0
100 . 0313 , 0
= = 6,26 mL
Jadi, volume larutan induk HCl 0,500 N yang harus dipipet untuk membuat larutan
HCl 0,0313 N adalah 6,26 mL.
f. Larutan HCl 0,0156 N
Diketahui : M
1
= 0,500 N
M
2
= 0,0156 N
V
2
= 100 mL
Ditanya : V
1
= . . . . . . . ?
Jawab : M
1
V
1
= M
2
. V
2




1
2 2
1
.
M
V M
V =

N
mL N
500 , 0
100 . 0156 , 0
= = 3,12 mL
Jadi, volume larutan induk HCl 0,500 N yang harus dipipet untuk membuat larutan
HCl 0,0156 N adalah 3,12 mL.
2. Menghitung Massa HCl yang Teradsorpsi
a. Erlenmeyer I
Diketahui : [HCl] = 0,500 N
massa arang = 1,0 g
Vol.1. NaOH = 46,20 mL
Vol.2. NaOH = 46,30 mL
Rata-rata Vol. NaOH =

mL
Ditanya : massa HCl yang teradsorpsi (x) = . . . . . . .?
Jawab :
HCl Cl
-
+ H
+

1 mol HCl = 1 grek
HCl = 1 mol/ grek
[HCl] awal = 0,500 N = 0,500 grek/L x 1 mol/grek = 0,500 mol/L
mmol HCl awal = 0,500 mmol/mL x 100 mL = 50 mmol
- [NaOH] = 0,1 M
mmol NaOH = 0,1 mmol/mL x 46,25 mL
= 4,625 mmol
HCl
(aq)
+ NaOH
(aq)
NaCl
(aq)
+ H
2
O
(l)

mmol HCl =
1
1
x mmol NaOH =
1
1
x 4,625 mmol = 4,625 mmol
mmol HCl sisa dalam 100 mL HCl = 4,625 mmol x
mL
mL
10
100
= 46,25 mmol
[HCl] sisa =
V
n

mL
mmol
100
25 , 46
= = 0,4625 mmol/mL
mmol HCl yang teradsorpsi = mmol HCl awal mmol HCl sisa
= 50 mmol 46,25 mmol = 3,75 mmol
Massa HCl yang teradsorpsi (x) = mmol HCl x BM HCl
= 3,75 mmol x 36,50 mg/mmol
= 136,875 mg = 0,1369 gram

8636 , 0 1369 , 0 log log
1369 , 0
0 , 1
1369 , 0
= =
= =
m
x
g
g
m
x

Log C = log [HCl] sisa = log 0,4625 = -0,3349

b. Erlenmeyer I I
Diketahui : [HCl] = 0,250 N
massa arang = 1,0 g
Vol.1. NaOH = 23,30 mL


Vol.2. NaOH = 23,10 mL
Rata-rata Vol. NaOH =

mL
Ditanya : massa HCl yang teradsorpsi (x) = . . . . . . .?
Jawab :
HCl Cl
-
+ H
+

1 mol HCl = 1 grek
HCl = 1 mol/ grek
[HCl] awal = 0,250 N = 0,250 grek/L x 1 mol/grek = 0,250 mol/L
mmol HCl awal = 0,250 mmol/mL x 100 mL = 25 mmol
- [NaOH] = 0,1M
mmol NaOH = 0,1 mmol/mL x 23,20 mL
= 2,320 mmol
HCl
(aq)
+ NaOH
(aq)
NaCl
(aq)
+ H
2
O
(l)

- mmol HCl =
1
1
x mmol NaOH =
1
1
x 2,320 mmol = 2,320 mmol
- mmol HCl sisa dalam 100mL HCl = 2,320 mmol x
mL
mL
10
100
= 23,20 mmol
- [HCl] sisa =
V
n

mL
mmol
100
20 , 23
= = 0,2320 mmol/mL
- mmol HCl yang teradsorpsi = mmol HCl awal mmol HCl sisa
= 25 mmol 23,20 mmol = 1,80 mmol
- Massa HCl yang teradsorpsi (x) = mmol HCl x BM HCl
= 1,80 mmol x 36,5 mg/mmol
= 65,7 mg
= 0,0657gram

1824 , 1 0657 , 0 log log
0657 , 0
0 , 1
0657 , 0
= =
= =
m
x
g
g
m
x

- Log C = log [HCl] sisa = log 0,2320= -0,6345

c. Erlenmeyer I I I
Diketahui : [HCl] = 0,125 N
massa arang = 1,0 g
Vol.1. NaOH = 20,20 mL
Vol.2. NaOH = 20,10 mL
Rata-rata Vol. NaOH =

mL
Ditanya : massa HCl yang teradsorpsi (x) = . . . . . . .?
Jawab :
HCl Cl
-
+ H
+

1 mol HCl = 1 grek
HCl = 1 mol/ grek
[HCl] awal = 0,125 N = 0,125grek/L x 1 mol/grek = 0,125 mol/L
mmol HCl awal = 0,125 mmol/mL x 100 mL = 12,5 mmol
- [NaOH] = 0,1M


mmol NaOH = 0,1 mmol/mL x 20,15 mL
= 2,015 mmol
HCl
(aq)
+ NaOH
(aq)
NaCl
(aq)
+ H
2
O
(l)

- mmol HCl =
1
1
x mmol NaOH =
1
1
x 2,015 mmol = 2,015 mmol
- mmol HCl sisa dalam 100mL HCl = 2,015 mmol x
mL
mL
25
100

= 8,06 mmol
- [HCl] sisa =
V
n

mL
mmol
100
06 , 8
= = 0,0806 mmol/mL
- mmol HCl yang teradsorpsi = mmol HCl awal mmol HCl sisa
= 12,5 mmol 8,06 mmol = 4,44 mmol
- Massa HCl yang teradsorpsi (x) = mmol HCl x BM HCl
= 4,44 mmol x 36,5 mg/mmol = 162,06 mg = 0,1621 gram
7902 , 0 1621 , 0 log log
1621 , 0
0 , 1
1621 , 0
= =
= =
m
x
g
g
m
x

- Log C = log [HCl] sisa = log 0,0806 = -1,0937

d Erlenmeyer I V
Diketahui : [HCl] = 0,0625 N
massa arang = 1,0 g
Vol.1. NaOH = 25,20 mL
Vol.2. NaOH = 25,30 mL
Rata-rata Vol. NaOH =

mL
Ditanya : massa HCl yang teradsorpsi (x) = . . . . . . .?
Jawab :
HCl Cl
-
+ H
+

1 mol HCl = 1 grek
HCl = 1 mol/ grek
[HCl] awal = 0,0625 N = 0,0625grek/L x 1 mol/grek = 0,0625 mol/L
mmol HCl awal = 0,0625 mmol/mL x 100 mL = 6,25 mmol
- [NaOH] = 0,1M
mmol NaOH = 0,1 mmol/mL x 25,25 mL = 2,5250 mmol
HCl
(aq)
+ NaOH
(aq)
NaCl
(aq)
+ H
2
O
(l)

- mmol HCl =
1
1
x mmol NaOH =
1
1
x 2,525 mmol = 2,525 mmol
- mmol HCl sisa dalam 100mL HCl = 2,525 mmol x
mL
mL
50
100
= 5,05 mmol
- [HCl] sisa =
V
n

mL
mmol
100
05 , 5
= = 0,0505 mmol/mL
- mmol HCl yang teradsorpsi = mmol HCl awal mmol HCl sisa
= 6,25mmol 5,05 mmol = 1,20 mmol
- Massa HCl yang teradsorpsi (x) = mmol HCl x BM HCl


= 1,20 mmol x 36,5 mg/mmol
= 43,80 mg = 0,0438gram

3585 , 1 0438 , 0 log log
0438 , 0
0 , 1
0438 , 0
= =
= =
m
x
g
g
m
x

- Log C = log [HCl] sisa
= log 0,0505 = -1,2967

e. Erlenmeyer V
Diketahui : [HCl] = 0,0313 N
massa arang = 1,0 g
Vol.1. NaOH = 10,00 mL
Vol.2. NaOH = 10,10 mL
Rata-rata Vol. NaOH =

mL
Ditanya : massa HCl yang teradsorpsi (x) = . . . . . . .?
Jawab :
HCl Cl
-
+ H
+

1 mol HCl = 1 grek
HCl = 1 mol/ grek
[HCl] awal = 0,0313 N = 0,0313grek/L x 1 mol/grek = 0,0313 mol/L
mmol HCl awal = 0,0313 mmol/mL x 100 mL = 3,13 mmol
- [NaOH] = 0,1M
mmol NaOH = 0,1 mmol/mL x 10,05 mL = 1,005 mmol
HCl
(aq)
+ NaOH
(aq)
NaCl
(aq)
+ H
2
O
(l)

- mmol HCl =
1
1
x mmol NaOH =
1
1
x 1,005 mmol = 1,005 mmol
- mmol HCl sisa dalam 100mL HCl = 1,005 mmol x
mL
mL
50
100
= 2,01 mmol
- [HCl] sisa =
V
n

mL
mmol
100
01 , 2
= = 0,0201 mmol/mL
- mmol HCl yang teradsorpsi = mmol HCl awal mmol HCl sisa
= 3,13 mmol 0,0201 mmol = 3,1099 mmol
- Massa HCl yang teradsorpsi (x) = mmol HCl x BM HCl
= 3,1099 mmol x 36,5 mg/mmol
= 113,511 mg = 0,1135gram
9450 , 0 1135 , 0 log log
1135 , 0
0 , 1
1135 , 0
= =
= =
m
x
g
g
m
x

- Log C = log [HCl] sisa
= log 0,0201 = -1,6968

f. Erlenmeyer VI
Diketahui : [HCl] = 0,0156 N
massa arang = 1,0 g


Vol.1. NaOH = 3,00 mL
Vol.2. NaOH = 3,20 mL
Rata-rata Vol. NaOH =

mL
Ditanya : massa HCl yang teradsorpsi (x) = . . . . . . .?
Jawab :
HCl Cl
-
+ H
+

1 mol HCl = 1 grek
HCl = 1 mol/ grek
[HCl] awal = 0,0156 N = 0,0156grek/L x 1 mol/grek = 0,0156 mol/L
mmol HCl awal = 0,0156mmol/mL x 100 mL = 1,56 mmol
- [NaOH] = 0,1M
mmol NaOH = 0,1 mmol/mL x 3,10 mL = 0,31 mmol
HCl
(aq)
+ NaOH
(aq)
NaCl
(aq)
+ H
2
O
(l)

- mmol HCl =
1
1
x mmol NaOH =
1
1
x 0,31 mmol = 0,31 mmol
- mmol HCl sisa dalam 100mL HCl = 0,31 mmol x
mL
mL
50
100
= 0,62 mmol
- [HCl] sisa =
V
n

mL
mmol
100
62 , 0
= = 0,0062 mmol/mL
- mmol HCl yang teradsorpsi = mmol HCl awal mmol HCl sisa
= 1,56 mmol 0,62 mmol
= 0,94 mmol
- Massa HCl yang teradsorpsi (x) = mmol HCl x BM HCl
= 0,94 mmol x 36,5 mg/mmol
= 34,31 mg
= 0,0343 gram

4647 , 1 0343 , 0 log log
0343 , 0
0 , 1
0343 , 0
= =
= =
m
x
g
g
m
x

- Log C = log [HCl] sisa
= log 0,0062 = - 2,2076

Tabel Perhitungan Regresi Linier:
massa
arang(g)
[HCl]
awal (N)
[HCl]
sisa (M)
x (g) x/m Log x/m Log C
1,0 0,500 0,4625 0,1369 0,1369 -0,8636 -0,3349
1,0 0,250 0,2320 0,0657 0,0657 -1,1824 -0,6345
1,0 0,125 0,0806 0,1621 0,1621 -0,7902 -1,0937
1,0 0,0625 0,0505 0,0438 0,0438 -1,3586 -1,2967
1,0 0,0313 0,0201 0,1135 0,1135 -0,9450 -1,6968
1,0 0,0156 0,0062 0,0343 0,0343 -1,4647 -2,2076


1110 , 0
937582 , 0
104067 , 0
725734 , 0 663316 , 1
473912 , 0 577979 , 0
) 8519 , 0 ( ) 27721931 , 0 6 (
) 5563 . 0 8519 , 0 ( ) 0,09633 6 (
) (
141983 , 0
6
8519 , 0
092717 , 0
6
5563 , 0
2 2 2
= =

=
E E
E E E
=
= =
E
=
= =
E
=

b
x
x x
x x n
y x xy n
b
n
x
x
n
y
y
E= 6,0
E=
0,9844
E=
0,8519
E= 0,5563 E= 0,5563
E=
-6,6045
E=
-7,2642

3. Penentuan Persamaan Regresi Linear
a. Kurva antara x/m (y) terhadap C (x)
Misalkan : x = C dan y = x/m
Maka,
x (C) y (x/m) x
2
y
2
x.y
0,4625 0,1369 0,21390625 0,018742 0,063316
0,2320 0,0657 0,053824 0,004316 0,015242
0,0806 0,1621 0,00649636 0,026276 0,013065
0,0505 0,0438 0,00255025 0,001918 0,002212
0,0201 0,1135 0,00040401 0,012882 0,002281
0,0062 0,0343 0,00003844 0,001176 0,000213
E
x
= 0,8519 E
y
= 0,5563
Ex
2
=
0,27721931
Ey
2
=
0,065312
Exy =
0,09633
n = 6






=
+ =
x b y a
a x b y

= 0,092717 (0,110995 x 0,141983)
= 0,092717 - (0,015759)
= 0,07696
Jadi, Persamaan regresi linearnya: y = bx + a
y = 0,1110 x + 0,0770

b. Kurva antara log x/m (y) terhadap log C (x)
Misalkan : x = log C
y = log x/m
Maka,
x (log C) y (log x/m) x
2
y
2
x.y
-0,3349 -0,8636 0,11215801 0,745805 0,28922
-0,6345 -1,1824 0,40259025 1,39807 0,750233
-1,0937 -0,7902 1,19617969 0,624416 0,864242


-1,2967 -1,3586 1,68143089 1,845794 1,761697
-1,6968 -0,9450 2,87913024 0,893025 1,603476
-2,2076 -1,4647 4,87349776 2,145346 3,233472
E=
-7,2642
E=
-6,6045
Ex
2
=
11,14498684
Ey
2
=
7,652456
Exy =
8,502339
n = 6
2154 , 0
10132 , 14
037622 , 3
7686 , 52 86992 , 66
97641 , 47 01403 , 51
) 2642 , 7 ( ) 14498684 , 11 6 (
) 6045 , 6 )( 2642 , 7 ( ) 502339 , 8 6 (
) (
2107 , 1
6
2642 , 7
10075 , 1
6
6,6045 -
2 2 2
= =

=


=
E E
E E E
=
=

=
E
=
= =
E
=

b
x
x
x x n
y x xy n
b
n
x
x
n
y
y



=
+ =
x b y a
a x b y

= -1,10075 {(0,2154(1,2107)}
= -1,10075+ 0,2608
= -0,8340
Jadi, Persamaan regresi linearnya: y = bx + a
y = 0,2154 x -0,8340

4.Penentuan Nilai k dan n
a. Kurva antara x/m (y) terhadap C (x)
Persamaan Freundlich
n
C k
m
x
. =

C n k
m
x
log log log + =
k C n
m
x
log log log + =
y = bx + a y = 0,1110 x + 0,0770

maka:
y = log
m
x
, b x = n log C dan a = log k
- n = b
= 0,1110
- log k = a
= 0,0770
k = anti log 0,0770
= 1,1939


b. Kurva antara log x/m (y) terhadap log C (x)
Persamaan Freundlich
k C n
m
x
C n k
m
x
C k
m
x
n
log log log
log log log
.
+ =
+ =
=

y = bx + a y = 0,2154 x -0,8340
maka:
y = log
m
x
, b x = n log C dan a = log k
- n = b
= 0,2154
- log k = a
= -0,8340
k = anti log (-0,8340)
= 0,1466

VII. PEMBAHASAN
Praktikum isoterm adsopsi dilakukan dengan tujuan untuk menentukan isoterm
adsorpsi menurut Freundlich bagi proses adsorpsi asam asetat pada arang, namun
dalam praktikum kali ini isoterm adsopsi yang ditentukan pada proses adsopsi HCl
pada arang. Pada percobaan ini, dilakukan proses isoterm adsorpsi untuk mencari
hubungan antara banyaknya zat teradsorpsi pada adsorben sebagai fungsi dari
konsentrasi yang didasarkan pada persamaan Freundlich. Proses adsorpsi itu sendiri
merupakan peristiwa penyerapan suatu komponen di daerah antar fasa atau gejala
pengumpulan molekul-molekul suatu zat pada permukaan zat lain, sebagai akibat dari
pada ketidakjenuhan gaya-gaya pada permukaan tersebut. Pada peristiwa adsorpsi,
terdapat dua komponen yang berperan yaitu komponen yang teradsorpsi yang disebut
adsorbat dan komponen tempat terjadinya penyerapan disebut adsorben. Adapun
dalam proses adorspsi ini digunakan ini digunakan HCl sebagai sebagai zat terlarut
yang diadsorpsi (adsorbat), dimana zat padat yang berfungsi sebagai adsorben
(mengadsorpsi HCl) adalah karbon aktif yaitu arang.
Prosedur yang dilakukan dalam praktikum isotherm adsopsi ini adalah
penambahan karbon aktif pada HCl yang disertai dengan pengadukan secara teratur
dan akhirnya titrasi asam-basa untuk menentukan konsentrasi akhir kedua asam
tersebut serta untuk menentukan banyaknya zat yang teradsorpsi. Percobaan ini
dimulai dengan memanaskan karbon aktif yaitu arang dengan menggunakan suhu


yang tinggi. Hal ini dilakukan karena percobaan isoterm adsopsi ini mengadsopsi
larutan organik (HCl) sehingga pengaktifan dilakukan pada suhu tinggi dan tidak
sampai membara. Perlakuan ini dimaksudkan agar arang tidak menjadi abu. Selain
bertujuan untuk aktivasi karbon aktif, pemanasan juga dilakukan untuk
menghilangkan pengotor yang terdapat pada arang. Diharapkan, pengotor yang
bersifat volatil dapat menguap saat dilangsungkannya pemanasan sehingga arang
menjadi lebih murni dan efisiensi adsorpsi pada percobaan ini meningkat sehingga
data yang didapatkan diharapkan dapat menjadi seakurat mungkin. Arang yang atom-
atomnya merupakan atom karbon dapat berfungsi sebagai adsorben apabila atom-
atom tersebut dapat diubah dari bentuk amorf menjadi bentuk polikristal. Proses
aktivasi ini harus dilakukan dengan pemanasan pada suhu tinggi. Dengan pemanasan
tersebut, maka atom-atom karbon akan membentuk poli kristal. Pada karbon aktif,
terdapat banyak pori yang berukuran mikro hingga nano meter. Pori-pori ini dapat
menangkap partikel-partikel sangat halus (molekul) terutama logam berat dan
menjebaknya disana.
Penyerapan menggunakan karbon aktif adalah efektif untuk menghilangkan
logam berat. Ion logam berat ditarik oleh karbon aktif dan melekat pada
permukaannya dengan kombinasi dari daya fisik kompleks dan reaksi kimia. Karbon
aktif memiliki jaringan porous (berlubang) yang sangat luas yang berubah-ubah
bentuknya untuk menerima molekul pengotor baik besar maupun kecil. Sedemikian
banyaknya pori sehingga dalam satu gram karbon aktif apabila semua dinding pori
nya direntangkan memiliki luas permukaan hingga ratusan sampai ribuan meter
persegi (perkiraan luasnya mencapai 500 m
2
atau seluas 2 lapangan tenis). Karbon
aktif merupakan adsorben yang sangat baik, karena memiliki luas permukaan yang
sangat besar sehingga mampu mengadsorpsi lebih baik daripada zat lain. Dengan
alasan yang sama pula pada percobaan ini menggunakan serbuk arang, bukan arang
dalam bentuk padatan. Secara fisik, karbon aktif mengikat material dengan gaya Van
der Waals. Beberapa faktor yang mempengaruhi adsorpsi ini adalah :
1. Karakteristik komponen sistem isotherm adsorpsi (adsorbat dan adsorben)
Komponen adsorben dan adsorbat yang baik dapat menentukan kualitas dari
sistem adsorpsi. Adsorben dengan luas pori atau porositas yang lebih besar dan
adsorbat yang memiliki ukuran partikel yang lebih kecil dapat meningkatkan
kualitas dari proses adsorpsi. Selain itu, interaksi antara adsorben dengan adsorbat
juga dapat mempengaruhi kualitas adsorpsi. Adsorben dan adsorbat yang sama-


sama memiliki sifat polar akan memiliki ikatan yang lebih kuat dibandingkan
dengan yang berbeda sifat kepolarannya sehingga zat yang teradsorpsi akan
semakin banyak. Selain itu, hal yang dapat mempengaruhi interaksi antara partikel
adsorbat dengan adsorben adalah polarizing power cation, yaitu kemampuan suatu
kation untuk mempolarisasi suatu anion di dalam ikatan kimia. Sifat polarizing
power cation ini dimiliki dengan baik oleh ion logam dengan ukuran kecil dan
muatan besar.
2. Temperatur
Temperatur juga dapat mempengaruhi proses adsorpsi. Semakin tinggi temperatur,
maka laju adsorpsi akan semakin cepat dikarenakan kenaikan energi kinetik yang
menyebabkan gerakan tumbukan partikel menjadi semakin banyak sehingga
proses adsorpsi berlangsung lebih cepat.
3. Konsentrasi adsorbat
Semakin banyak adsorbat yang disediakan, maka semakin banyak zat yang
mampu teradsorpsi oleh adsorben. Karena itu kemurnian zat berpengaruh dalam
proses adsorpsi ini.
Setelah diperoleh arang aktif, maka arang aktif ditimbang sebanyak 6 kali
masing-masing 1,00 gram dan dimasukkan ke dalam enam labu erlenmeyer bertutup.
Larutan HCl yang dipergunakan ini dibuat dengan mengencerkan larutan HCl induk
0,5 N, sehingga diperoleh konsentrasi HCl secara berturut-turut yaitu 0,5N; 0,25 N;
0,125 N ; 0,0625 N ; 0,0313 N dan 0,0156 N. Kemudian masing-masing larutan
dimasukkan ke dalam erlenmeyer bertutup dan didiamkan selama 30 menit dengan
perlakuan pengocokan setiap 10 menit dengan rentang 1 menit dan temperatur tetap
dijaga konstan. Proses pengocokan ini juga dimaksudkan agar campuran tersebut
dapat tercampur secara homogen dan juga agar proses adsorpsi dapat berlangsung
lebih cepat karena jumlah tumbukan yang terjadi juga meningkat seta menjaga
kestabilan adsorben dalam mengadsorpsi adsorbat pada saat terjadinya reaksi. Tujuan
dilakukan pendiaman adalah agar gaya Van der Waals di mana terjadi adsorpsi antara
partikel adsorbat dengan permukaan adsorben dapat berlangsung secara optimal.
Adsorpsi ini tidak dapat terjadi secara optimal pada pengocokan karena partikel-
partikel campuran terus bergerak secara aktif dan sulit bagi partikel adsorbat untuk
masuk ke dalam pori kosong dari permukaan adsorben sehingga agar proses adsorpsi
dapat berlangsung dengan baik, harus disediakan jeda waktu untuk dilakukan
pendiaman.



Setelah 30 menit, larutan disaring dengan kertas saring. Proses selanjutnya yaitu
mentitrasi HCl hasil adsorpsi dengan larutan NaOH 0, 1 N, dimana larutan HCl
bertindak sebagai titrat sedangkan larutan NaOH bertindak sebagai titran. Keenam
larutan yang telah disaring tersebut kemudian dititrasi dengan volume larutan yang
berbeda yaitu 2 larutan dengan konsentrasi terbesar dipipet sebanyak 10 mL, larutan
ketiga diambil sebanyak 25 mL dan 3 larutan dengan konsentrasi terkecil dititrasi
sebanyak 50 mL. Sebelum dititrasi, larutan ditambahkan dengan indikator PP.
Penambahan PP bertujuan untuk memberikan perubahan warna pada saat titik akhir
titrasi tercapai. Titik akhir titrasi ditandai dengan terjadinya perubahan warna dari
bening menjadi merah muda. Indikator penolftalein ini merupakan jenis asam diprotik
dan tidak berwarna. Saat direaksikan, fenolftalein terurai dahulu menjadi bentuk tidak
berwarnanya dan kemudian, dengan menghilangnya proton kedua dari indikator ini
menjadi ion terkonjugat maka akan dihasilkan warna merah muda. Pada tahap titrasi
asam basa ini dilakukan dua kali pengulangan.
Dari proses titrasi diperoleh volume larutan NaOH 0,1 N yang diperlukan untuk
menetralkan asam dalam larutan yaitu asam asetat. Adapun volume NaOH yang
diperlukan untuk konsentrasi asam asetat 0,5 N ; 0,25 N ; 0,125 N ; 0,0625 N ; 0,0313
N dan 0,0156 N berturut -turut adalah 46,20 mL dan 46,30 mL ; 23,30 mL dan 23,10
mL ; 20,20 mL dan 20,10 mL ; 25,20 mL dan 25,30 mL ; 10,00 mL dan 10,10 mL ;
3,00 mL dan 3,20 mL. Dari volume NaOH ini, dapat dilakukan perhitungan untuk
mencari massa asam asetat yang teradsorpsi (x) dan konsentrasi HCl sisa (C).
Pada percobaan ini akan ditentukan harga tetapan-tetapan adsorbsi isoterm
Freundlich bagi proses adsorpsi HCl terhadap arang. Variabel yang terukur pada
percobaan adalah volume larutan NaOH 0,1 N yang digunakan untuk menitrasi HCl.
Setelah konsentrasi awal dan akhir diketahui, konsentrasi HCl yang teradsorbsi dapat
diketahui dengan cara pengurangan konsentrasi awal dengan konsentrasi akhir.
Selanjutnya dapat dicari berat HCl yang teradsorbsi.
Dari data pengamatan dan hasil perhitungan, konsentrasi HCl sebelum adsorpsi
lebih tinggi daripada setelah adsorpsi. Hal ini karena asam asetat telah diadsorpsi oleh
arang aktif. HCl yang merupakan asam kuat sehingga dengan mudah melepaskan ion-
ionnya di dalam air, sehingga mudah untuk diadsopsi. Cl merupakan spesi yang
sangat elektronegatif atau memiliki kecenderungan untuk menarik elektron dengan
kuat ke pihaknya sehingga ikatan Van der Waals yang terjadi pada HCl seharusnya


lebih kuat. Kemudian dilakukann perhitungan untuk mencari persamaan regresi linear
yang digunakan untuk membuat kurva. Kurva yang dibuat ada 2 yaitu kurva
hubungan x/m (sebagai ordinat) dengan C (sebagai absis) dan kurva hubungan log
x/m (sebagai ordinat) dengan log C (sebagai absis). Dari perhitungan diperoleh
persamaan regresi linear untuk kurva x/m terhadap C adalah y = 0,1110 x +
0,0770 sedangkan persamaan regresi linear untuk kurva log x/m terhadap log C adalah
y = 0,2154 x -0,8340. Grafik hubungan antara x/m dengan c maupun hubungan
antara log x/m dengan log C dari percobaan dapat dilihat pada gambar grafik berikut
ini,




y = 0.111x + 0.077
R = 0.1402
0
0.02
0.04
0.06
0.08
0.1
0.12
0.14
0.16
0.18
0 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5
x
/
m

konsentrasi (C)
Kurva x/m (sebagai ordinat) terhadap
C (sebagai absis)
y = 0.2154x - 0.8399
R = 0.2851
-1.6
-1.4
-1.2
-1
-0.8
-0.6
-0.4
-0.2
0
-2.5 -2 -1.5 -1 -0.5 0
l
o
g

x
/
m

log C
Kurva log x/m (sebagai ordinat)
terhadap log C (sebagai absis)


Grafik diatas menunjukkan hubungan antara mol (x/m) HCl teradsopsi dengan
konsentrasi (C), dimana dari kurva tersebut dapat terlihat bahwa semakin tinggi
konsentrasi maka HCl yang diadsopsi oleh arang aktif semakin banyak. Demikian
halnya dengan grafik perbandingan antara log x/m terhadap konsentrasi juga terjadi
peningkatan. Grafik merupakan Grafik Isotherm Adsorpsi Freundlinch. Dari
persamaan grafik tersebut jika dianalogikan dengan persamaan freundlinch maka akan
didapat nilai k dan n. Persamaan isoterm adsorpsi Freundlich dapat dituliskan Log
(x/m) = log k + 1/n log c sedangkan persamaan grafik Isotherm Adsorpsi Freundlinch
(perbandingan antara konsentrasi (C) dengan mol HCl teradsopsi (x/m) adalah y =
0,1110 x + 0,0770, sehingga didapat nilai Log k = 0,0770 dan n = b. Maka nilai k
adalah 1,1939 dan nilai n adalah 0,1110. Selain persamaan regresi linear, dalam
perhitungan juga ditentukan nilai tetapan k dan n. Untuk tetapan n memiliki nilai yang
sama dengan nilai slope (b) dari persamaan regresi linear log x/m terhadap log C yaitu
0,2154. Sedangkan nilai tetapan k diperoleh sebesar 0,1466.

VIII. KESIMPULAN
1. Proses adorspsi ini digunakan ini digunakan HCl sebagai sebagai zat terlarut yang
diadsorpsi (adsorbat), dimana zat padat yang berfungsi sebagai adsorben
(mengadsorpsi HCl) adalah karbon aktif yaitu arang.
2. Pemanasan arang aktif bertujuan untuk aktivasi karbon aktif, pemanasan juga
dilakukan untuk menghilangkan pengotor yang terdapat pada arang sehingga arang
menjadi lebih murni dan meningkatkan efisiensi adsorpsi.
3. Faktor yang mempengaruhi adsorpsi ini adalahKarakteristik komponen sistem
isotherm adsorpsi (adsorbat dan adsorben), temperatur dan konsentrasi adsorbat.
4. Proses pengocokan ini juga dimaksudkan agar campuran tersebut dapat tercampur
secara homogen dan juga agar proses adsorpsi dapat berlangsung lebih cepat karena
jumlah tumbukan yang terjadi juga meningkat
5. Tujuan dilakukan pendiaman adalah agar gaya Van der Waals di mana terjadi
adsorpsi antara partikel adsorbat dengan permukaan adsorben dapat berlangsung
secara optimal.
6. Volume larutan NaOH yang dipergunakan dalam titrasi yaitu:
- Untuk HCl 0,500 N = 46,20 mL dan 46,30 mL
- Untuk HCl 0,250 N = 23,30 mL dan 23,10 mL


- Untuk HCl 0,125 N = 20,20 mL dan 20,10 mL
- Untuk HCl 0,0625 N = 25,20 mL dan 25,30 mL
- Untuk HCl 0,0313 N = 10,00 mL dan 10,10 mL
- Untuk HCl 0,0156 N = 3,00 mL dan 3,20 mL
7. Persamaan regresi linear untuk kurva x/m terhadap C adalah y = 0,1110 x +
0,0770, dengan tetapan n diperoleh sebesar 0,1110 dan tetapan k diperoleh sebesar
1,1939. Sedangkan persamaan regresi linear untuk kurva log x/m terhadap log C y =
0,2154 x -0,8340. Nilai tetapan n diperoleh sebesar 0,2154 sedangkan nilai tetapan k
diperoleh sebesar 0,1466.
8. Semakin tinggi konsentrasi adsorbat (HCl), maka jumlah adsorbat yang teradsorbsi
juga semakin banyak.


























DAFTAR PUSTAKA

Anonim, Adsopsi pada larutan (http://digilib.batan.go.id/sipulitbang/fulltext/2626.pdf,
diakses 20 Oktober 2012)
Atkin, P, W, 1990, Kimia Fisika, Jilid 2, Edisi ke-4, Erlangga, Jakarta.
Bird, Tony, 1993, Kimia Fisika untuk Universitas, Gramedia, Jakarta.
Dogra, S dan S.K Dogra, 1990, Kimia Fisik dan Soal-Soal, Universitas Indonesia Press,
Jakarta.
Steinbach,King, Experiments in Physical Chemistry, hal. 213-216.
Sukardjo, 1989, Kimia Fisika, Bina Aksara, Yogyakarta.
Tim Laboratorium Kimia Fisika, 2012, Penuntun Praktikum Kimia Fisika III, Jurusan
Kimia F.MIPA Universitas Udayana, Bukit Jimbaran


























LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FISIKA II
ISOTERM ADSORPSI









Oleh :
Nama : Ni Made Susita Pratiwi
Nim : 1008105005
Kelompok : II
Tanggal Praktikum : 17 Oktober 2012



LABORATORIUM KIMIA FISIK
JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM


UNIVERSITAS UDAYANA
2012

LAMPIRAN
A. Jawaban Pertanyaan
1. Proses adsorpsi pada percobaan ini merupakan jenis adsorpsi kimia (khemisorpsi),
karena pada proses adsorpsi ini terjadi pembentukan lapisan monomolekuler adsorbat
pada permukaan melalui gaya-gaya valensi sisa dari molekul-molekul permukaan.
2. Perbedaan antara adsorpsi fisik dngan adsorbsi kimia adalah:
Adsorpsi Fisik Adsorpsi Kimia
Molekul terikat pada adsorben oleh
gaya van der Waals
Molekul terikat pada adsorben oleh
ikatan kimia
Entalpi reaksi 4 sampai 40 kJ/mol Entalpi reaksi 40 sampai 800 kJ/mol
Dapat membentuk lapisan multilayer Membentuk lapisan monolayer
Adsorpsi hanya terjadi pada suhu di
bawah titik didih adsorbat
Adsorpsi dapat terjadi pada suhu tinggi
Jumlah adsorpsi pada permukaan
merupakan fungsi adsorbat
Jumlah adsorpsi pada permukaan
merupakan karakteristik adsorben dan
adsorbat
Tidak melibatkan energi aktifasi
tertentu
Melibatkan energi aktifasi tertentu
Bersifat tidak spesifik Bersifat sangat spesifik

Contoh adsorpsi fisik adalah adsorpsi gas pada charcoal
Contoh adsorpsi kimia adalah adsorpsi O
2
pada Ag, Pt dan adsorpsi asam asetat serta
amonia oleh arang aktif.
3. Jika arang diaktifkan dengan cara pemanasan, maka sifat adsorpsinya adalah adsorpsi
fisik. Hal ini bertujuan untuk membuka pori-pori arang sehinga dapat mengadsorpsi
lebih mudah dan juga dapat digunakan untuk menghilangkan kontaminan arang dan
uap air yang terikat pada arang.
4. Isoterm adsorpsi Freundlich untuk adsorpsi gas pada permukaan zat padat secara
empirik dan hanya berlaku untuk gas yang bertekanan rendah.


5. Isoterm adsorpsi Freundlich untuk adsorpsi gas pada permukaan zat padat kurang
memuaskan dibandingkan dengan isoterm adsorpsi Langmuir. Hal ini disebabkan
karena pada isoterm adsorpsi Freundlich nilai batas Vm (volume gas) tidak akan
dicapai walaupun tekanan gas terus dinaikkan.
Bentuk isoterm adsorpsi ini adalah isoterm BET (Brunaeur, Emmett, dan Teller)
Isoterm BET ini mengembangkan isoterm Langmuir dimana dalam isoterm BET
diasumsikan bahwa molekul-molekul adsorbat dapat membentuk lebih dari satu
lapisan adsorbat di permukaannya. Selain itu teori ini menganggap bahwa adsorpsi
juga dapat terjadi di atas lapisan adsorbat monolayer. Sehingga, isoterm adsorpsi BET
dapat diaplikasikan untuk adsorpsi multilayer. Adapun proses pada adsorpsi BET
yang terjadi adalah:
a. Penempelan molekul pada permukaan padatan (adsorben) membentuk lapisan
monolayer.
b. Penempelan molekul pada lapisan monolayer membentuk lapisan multilayer.
Dimana persamaannya dapat dituliskan sebagai berikut:
0 0
.
) 1 ( 1
) ( P
P
Vm
C
Vm P P V
P
C C

+ =


Dimana:
P
0
= Tekanan uap jenuh
Vm = Kapasitas volume monolayer
C = Konstanta



B. GRAFIK
Kurva x/m (sebagai ordinat) terhadap C (sebagai absis)






Kurva log x/m (sebagai ordinat) terhadap log C (sebagai absis)

y = 0.111x + 0.077
R = 0.1402
0
0.05
0.1
0.15
0.2
0 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5
x
/
m

konsentrasi (C)
Kurva x/m (sebagai ordinat) terhadap
C (sebagai absis)
y = 0.2154x - 0.8399
R = 0.2851
-1.6
-1.4
-1.2
-1
-0.8
-0.6
-0.4
-0.2
0
-2.5 -2 -1.5 -1 -0.5 0
l
o
g

x
/
m

log C
Kurva log x/m (sebagai ordinat)
terhadap log C (sebagai absis)
Series1
Linear (Series1)