Anda di halaman 1dari 25

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FISIKA II

PENENTUAN ORDE REAKSI DAN LAJU REAKSI












Oleh :
Nama : Ni Made Susita Pratiwi
Nim : 1008105005
Kelompok : II
Tanggal Praktikum : 10 Oktober 2012


LABORATORIUM KIMIA FISIK
JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS UDAYANA
2012


PENENTUAN ORDE REAKSI DAN LAJU REAKSI

I. TUJUAN
Dalam percobaan ini akan ditunjukkan bahwa reaksi penyabunan etilasetat oleh ion
hidroksida
CH
3
COOC
2
H
5
+ OH
-
CH
3
COO
-
+ C
2
H
5
OH
adalah orde kedua. Disamping itu akan ditentukan pula tetapan laju reaksinya. Penentuan
ini dilakukan dengan cara titrasi.

II. DASAR TEORI
Cepat lambatnya suatu reaksi berlangsung disebut laju reaksi. Laju reaksi dapat
dinyatakan sebagai perubahan konsentrasi pereaksi atau hasil reaksi persatuan waktu.
Konsentrasi biasanya dinyatakan dalam mol perliter, tetapi untuk reaksi fase gas satuan
konsentrasi dapat diganti dengan satuan tekanan, seperti Atmosfer (atm), millimeter
merkorium (mmHg) atau pascal (Pa). satuan waktu dapat detik, menit, jam, hari, bulan
bahkan tahun bergantung pada reaksi itu berjalan cepat atau lambat. Dapat dirumuskan
sebagai berikut.
Laju reaksi
perubahan konsentrasi
satuan waktu
=

Untuk mengukur laju reaksi, perlu menganalisis secara langsung maupun tak
langsung banyaknya produk yang terbentuk atau banyaknya pereaksi yang tersisa setelah
penggal-penggal waktu tertentu. Reaksi kimia menyangkut perubahan dari suatu pereaksi
(reaktan) menjadi hasil reaksi (produk), yang dinyatakan dalam persamaan reaksi:
Pereaksi (reaktan) hasil reaksi (produk)

Seperi halnya contoh diatas, maka laju reaksi dapat dinyatakan sebagai
berkurangnya jumlah pereksi untuk setiap satuan waktu atau bertambahnya jumlah hasil
reaksi untuk setiap satuan waktu. Ukuran jumlah zat dalam reaksi kimia umumnya
dinyatakan sebagai konsentrasi molar atau molaritas (M). Dengan demikian maka laju
reaksi menyatakan berkurangnya konsentrasi pereaksi atau bertambahnya konsentrasi zat
hasil reaksi setiap satuan waktu. Satuan laju reaksi umumnya dinyatakan dalam satuan
mol.dm
-3
.det
-1
atau mol/Liter detik. Satuan mol dm
-3
atau molaritas, merupakan satuan
konsentrasi larutan.
Penentuan laju reaksi dapat dilakukan dengan cara fisika atau kimia. Dengan cara
fisika, penentuan konsentrasinya dilakukan secara tidak langsung yaitu berdasarkan sifat-

sifat fisis campuran yang dipengaruhi oleh konsentrasi campuran, misalnya daya hantar
listrik, tekanan (untuk reaksi gas). Adsorpsi cahaya dan lainnya. Penentuan secara kimia
dilakukan dengan menghentikan reaksi secara tiba-tiba (reaksi dibekukan). Setelah
selang waktu tertentu, kemudian konsentrasinya ditentukan dengan metode analisis
kimia. Laju reaksi dapat ditentukan melalui percobaan yaitu dengan mengukur
konsentrasi salah pereaksi atau salah satu produk. Dengan selang waktu tertentu selama
reaksi berlangsung untuk reaksi yang berlangsung lambat, hal itu dapat dilakukan dengan
mengeluarkan sampel dari campran reaksi lalu menganalisisnya. Misalnya reaksi
hidrolisis etil asetat berikut in :
CH
3
COOC
2
H
5
+ H
2
O CH
3
COOH + C
2
H
5
OH
Etil asetat Asam asetat etanol

Reaksi itu berlangsung lambat sehingga konsentrasi asam asetat yang terbentuk
dengan mudah dapat ditentukan dengan menggunakan suatu larutan basah. Cara yang
lebih umum ialah menggunakan suatu alat yang dapat menunjukkan secara kontinu salah
satu perubahan fisis yang menyertai reaksi, misalnya untuk reaksi yang membebaskan
gas, alat dirancang agar dapat mencatat volume gas yang terbentuk ; untuk reaksi yang
diserati perubahan warna, alat dirancang agar dapat mengukur perubahan itensitas warna,
untuk reaksi gas yang disertai perubahan jumlah mol, alat dirancang agar dapat
mengukur perubahan tekanan gas.
Dalam laju reaksi dikenal juga laju reaksi sesat, yaitu laju reaksi rata-rata yang
dihitung dalam selang waktu yang berbeda-beda dan diperlukan perhitungan laju reaksi
yang berlaku dalam setiap saat. Lajureaksi juga dapat ditentukan melalui cara grafik.
Laju reaksi sesaat merupkan gradient dari kurva antara waktu dengan perubahan
konsentrasi pada selang waktu tertentu. Oleh karena itu, terdapat suatu bilangan tetap
yang merupakan angka faktor perkalian terhadap konsentrasi yang disebut sebagai
tetapan laju reaksi (K). dengan demikian, laju reaksi sesaat secara umum dapat
dinyatakan sebagai :
Laju reaksi K [Konsentrasi Zat]
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi yaitu :
1. Konsentrasi
Pengaruh konsentrasi terhadap laju reaksi adalah khas untuk setiap reaksi.
Semakin tinggi konsentrasi berarti makin banyak molekul-molekul dalam setiap
satuan luas ruangan, dengan demikian tumbukan antar molekul makin sering

terjadi. Semakin banyak tumbukan yang terjadi berarti kemungkinan untuk
menghasilkan tumbukan efektif semakin besar dan reaksi berlangsung lebih cepat.
2. Luas Permukaan
Reaksi yang berlangsung dalam system homogen sangat berbeda dengan reaksi
yang berlangsung dalam system heterogen. Pada reaksi yang homogen, campuran
zatnya bercampur seluruhnya. Hal ini dapat mempercepat berlangsungnya reaksi
kimia karena molekul-molekul ini dapat bersentuhan satu sama lainnya. Dalam
sistem heterogen, reaksi hanya berlangsung pada bidang-bidang perbatasan dan
pada bidang-bidang yang bersentuhan dari kedua fase. Reaksi kimia dapat
berlangsung jika molekul-molekul, atom-atom atau ion-ion dari zat-zat yang
bereaksi terlebih dahulu bertumbukan. Makin halus suatu zat maka makin luas
permukaannya sehingga makin besar kemungkinan bereaksi dan makin cepat
reaksi itu berlangsung.
3. Temperatur
Harga tetapan laju reaksi (K) akan berubah bila suhunya berubah. Laju reaksi
meningkat dengan naiknya suhu. Biasanya kenaikkan suhu sebesar 10
0
C akan
menyebabkan kenaikan laju reaksi dua atau tiga kali. Kenaikkan laju reaksi ini
disebabkan dengan kenaikkan suhu akan menyebabkan makin cepatnya molekul-
molekul pereaksi bergerak, sehingga memperbesar kemungkinan terjadinya
tabrakan antar molekul. Energi yang diperlukan untuk menghasilkan tabrakan yang
efektif atau untuk menghasilkan suatu reaksi disebut energi pengaktifan kinetik.
Perumusan laju reaksi sebagai berikut:


Dimana:
V
t
= laju reaksi akhir t = suhu akhir
V
o
= laju reaksi awal t
o
= suhu awal
4. Katalisator
Beberapa reaksi kimia yang berlangsung lambat dapat dipercepat dengan
menambahkan suatu zat kedalamnya, tetapi zat tersebut setelah reaksi selesai
ternyata tidak berubah. Katalisator adalah suatu zat yang dapat mempercepat laju
reaksi, tanpa dirinya mengalami perubahan yang kekal. Suatu katalisator mungkin
akan terlibat dalam proses reaksi atau mengalami perubahan selama reaksi
berlangsung, tetapi setelah reaksi itu selesai maka katalisator akan diperoleh
10
0
0
2 .
t t
t
V V

=

kembali dalam jumlah yang sama. Katalisator mempercepat reaksi dengan cara
mengubah jalannya reaksi. Jalur reaksi yang ditempuh tersebut mempunyai energi
aktivasi yang lebih rendah dari pada jalur reaksi yang biasa ditempuh. Jadi dapat
dikatakan bahwa katalisator berperan dalam menurunkan energi aktivasi.
5. Tekanan gas
Jika tekanan gas diperbesar, maka volume gas itu diperkecil, sehingga letak
partikel makin berdekatan dan makin mudah bertumbukkan. Jadi, makin besar
tekanan gas maka makin cepat reaksinya.
6. Teori tumbukan
Pengaruh dari berbagai faktorterhadap laju reaksi dapat dijaleaskan dengan
teori tumbukan. Menurut teori ini, suatu reaksi berlangsung sebagai hasil tumbukan
antar partikel pereaksi. Akan tetapi, tidaklah setiap tumbukan menghasilkan reaksi,
melainkan hanya tumbukan antar partikel yang memiliki energi cukup serta arah
tumbukan yang tepat. Tumbukan yang menghasilkan reaksi, kita sebut tumbukan
efektif. Energi minimum yang harus dimiliki oleh partikel pereaksi sehingga
menghasilkan tumbukan efektif disebut energi pengaktifan (Ea = energi aktivasi).
Faktor-faktor yang mempengaruhi suatu tumbukan adalah sebagai berikut :
Jumlah partikel atau konsentrasi,
Temperatur
Luas permukaan
Menambah katalisator
Dari percobaan penentuan laju reaksi menunjukkan bahwa laju reaksi akan menurun
dengan bertambahnya waktu. Hal itu berari ada hubungan antara konsentrasi zat yang
tersisa saat itu dengan laju reaksi. Umumnya laju reaksi tergantung pada konsentrasi
awal dari zat-zat pereaksi. Pernyataan ini dikenal sebagai hukum laju reaksi atau
persamaan laju reaksi .
Secara umum untuk reaksi pA qB + rC
V = K[A]m[B]n
dengan, V = Laju reaksi (mol dm
-3
det
-1
)
K = tetapan laju reaksi
m = tingkat reaksi (orde reaksi) terhadap A
n = tingkat reaksi (orde reaksi) terhadap B
[A] = Konsentrasi awal A (mol dm
-3
)
[B] = Konsentrasi awal B (mol dm
-3
)

Tingkat reaksi total adalah jumlah total dari tingkat reaksi semua pereaksi. Tingkat
reaksi nol (0) berarti laju reaksi tersebut tidak terpengaruh oleh konsentrasi pereaksi,
tetapi hanya tergantung pada harga tetapan laju reaksi (K). Pangkat konsentrasi pereaksi
pada persamaan laju reaksi disebut orde atau tingkat pereaksi. Pada reaksi diatas berorde
X terhadap A dan berorde Y terhadap B, orde reaksi keseluruhan X+Y. Jadi, jika disebut
orde reaksi maka yang dimaksud adalah orde reaksi keseluruhan. Orde reaksi juga bisa
dikatakan sebagai besarnya pengaruh konsentrasi pereaksi pada laju reaksi. Orde reaksi
memiliki beberapa makna diantaranya :
a. Orde Nol
Reaksi dikatakan berorde nol terhadap salah satu pereaksinya apabila perubahan
konsentrasi tersebut tidak mempengaruhi laju reaksi. Artinya, asalkan terdapat dalam
jumlah tertentu, perubahan konsentrasi pereaksi itu tidak mempengaruhi laju reaksi.
Reaksi yang berorde nol dapat dijelaskan juga seperti gambar grafik berikut :


V


[X]
Untuk reaksi ini jarang ditemukan. Secara matematis hukum kecepatan reaksi berorde
nol ini adalah:
| |
0
A k V =
V = k
b. Orde satu
Suatu reaksi berorde satu dapat dinyatakan dengan:
A produk
Sehingga
| |
t
A
V
A
A
= = | | A k
Dalam hukum laju terintegrasi, diketahui bahwa untuk reaksi berorde satu:
kC
dt
dC
=

dt k dt
C
=
1


} }
=
t t
dt k dt
0 0
1

ln C ln C = - k t
t k
C
C
=
0
ln
C = Co e
-k t

Suatu reaksi dikatakan berorde satu terhadap salah satu pereaksinya jika laju
reaksi berbanding lurus dengan konsentrasi pereaksi itu. Jika konsentrasi pereaksi itu
dilipat-tigakan maka laju reaksi akan menjadi 3
1
atau 3 kali lebih besar. Orde satu
dapat dijalaskan dengan grafik dibawah :

V



[X]

c. Orde Dua
Suatu reaksi dikatakan berorde dua terhadap salah satu pereaksi jika laju reaksi
merupakan pangkat dua dari konsentrasi pereaksi itu. Apabila konsentrasi zat itu
dilipat-tigakan, maka laju pereaksi akan menjadi 3
2
atau 9 kali lebih besar.orde dua
dapat juga dijelaskan seperti grafik berikut :


V


[X]
Reaksi berorde dua memiliki dua tipe yaitu:

a. Reaksi umum :
A produk
Maka:
| |
t
A
V
A
A
= = k | |
2
A
b. Reaksi umum:
A + B produk
Maka :
| | | |
t
B
t
A
V
A
A
=
A
A
=
| || | B A k V =
d. Orde Negatif
Laju reaksi berbanding terbalik terhadap konsentrasi pereaksi.


V


[X]

V



[X]
Dalam menentukan orde reaksi dapat dilakukan dengan beberapa metode,
diantaranya
- Metode Integral
Dengan metode ini, harga k dihitung dengan persamaan laju bentuk integral dari
data konsentrasi dan waktu. Misal untuk reaksi orde dua,
k orde dua =
) (
1
x a a
x
t

- Metode Grafik

Orde suatu reaksi dapat ditentukan dengan cara membuat grafik dari data
eksperimen.
- Metode Laju-Awal (Cara Titrasi)
Dalam metode ini dilakukan sederet eksperimen dengan konsentrasi awal yang
berbeda-beda. Kemudian dengan membandingkan laju awal, maka dapat ditarik
kesimpulan tentang orde reaksi. Untuk reaksi penyabunan etil asetat oleh ion
hidroksida dengan cara titrasi dapat dapat dibuat persamaan reaksinya yaitu:
CH
3
COOC
2
H
5
+ OH
-
CH
3
COO
-
+ C
2
H
5
OH
Meskipun reaksi diatas bukan reaksi sederhana, namun ternyata reaksi tersebut
merupakan reaksi orde kedua dengan hukum laju reaksinya yaitu:
-
| |
| || |

= OH ester k
dt
ester d
1
(1)
atau sebagai:
| || | x b x a k
dt
dx
=
1
(2)
dimana:
a = konsentrasi awal ester (M)
b = konsentrasi awal ion OH
-
(M)
x = jumlah ester atau basa yang bereaksi (M)
k
1
= tetapan laju reaksi
Persamaan (2) dapat diintergasi dengan memperhatikan konsentrasi awal yaitu:
1. Jika a = b
Bila konsentrasi kedua pereaksi sama maka persamaan (2) dapat ditulis menjadi:
tetapan t
) - (a
1
dt
) a (
dx
) a (
dt
dx
2
2
+ =
=

=
k
x
k
x
x k

Jika x = 0, t = 0, maka tetapan =
a
1

) a ( a
t
a
1
) a (
1
t
x
x
k
x
k

=


Persamaan
) (
1
x a a
x
t k

= mengungkapkan bahwa aluran | | ) ( / x a a x terhadap


t merupakan garis lurus dengan arah lereng sama dengan k
1
.

2. Jika a b
tetapan ) (b ln ) (a ln t b) (a
dt dx
a
1
b
1
b) (a
1
x) - x)(b - (a
dx
) (b ) (a
dt
dx
+ =
=
(


=
=
x x k
k
x x
kdt
x x k

Jika x = 0, t = 0, maka tetapan =
a
b
ln
) (b a
) (a b
ln
b) (a
1
t
x
x
k

=
atau

b
a
t b a k
x b
x a
ln ) (
) (
) (
ln + =


Menurut persamaan diatas, jika | | ) /( ) ( ln x b x a dialurkan terhadap t maka
akan diperoleh garis lurus dengan arah lereng k (a-b)

III. ALAT DAN BAHAN
3.1 Alat:
1. Botol timbang
2. Labu volumetris 250 mL
3. Pipet volume 1 mL ; 10 mL dan 20 mL
4. Labu erlenmeyer bertutup 250 mL dan 100 mL
5. Labu erlenmeyer 250 mL
6. Buret 10 mL
7. Botol semprot
8. Pipet tetes
9. Stopwatch
3.2 Bahan:
1. Etil asetat p.a

2. Larutan NaOH 0,02 M
3. Larutan HCl 0,02 M
4. Indikator fenolftalein
5. Akuades

IV. CARA KERJA
1. Sebanyak 5 mL larutan etil asetat 1 M dipipet ke dalam labu volumetris 250 mL lalu
diencerkan sampai tanda batas untuk mendapatkan larutan etil asetat dengan
konsentrasi 0,02 M sebanyak 250 mL.
2. Larutan NaOH dengan konsentrasi tepat 0,02 M disediakan sebanyak 200 mL dan
Larutan HCl dengan konsentrasi tepat 0,02 M disediakan sebanyak 150 mL.
3. Dengan menggunakan pipet, sebanyak 50 mL larutan NaOH 0,02 M dan 50 mL etil
asetat 0,02 M dimasukkan ke dalam labu erlenmeyer bertutup. Sementara itu
sebanyak 20 mL larutan HCl 0,02 M dipipet ke dalam masing-masing 5 buah labu
erlenmeyer lainnya.
4. Selanjutnya larutan etil asetat ditambahkan dengan cepat ke dalam larutan NaOH dan
dikocok dengan baik. Pada saat kedua larutan tersebut bercampur, stopwatch
dijalankan.
5. Lima menit setelah reaksi dimulai, 10 mL dari campuran reaksi dipipet dan
dimasukkan ke dalam salah satu labu yang berisi 20 mL larutan HCl itu dan diaduk
dengan baik. Kelebihan HCl segera dititrasi secepat mungkin dengan larutan standar
NaOH 0,02 M.
6. Pengerjaan pada no.5 dilakukan pada waktu 5, 15, 30,45 dan 60 menit setelah waktu
reaksi.
7. Sisa campuran reaksi dalam erlenmeyer bertutup dipanaskan hingga mendidih untuk
mempercepat reaksi. Konsentrasi OH

kemudian ditentukan seperti pada pengerjaan


no. 5.

V. DATA PENGAMATAN
- Massa piknometer awal = 11,55 gram
- Massa piknometer + etil asetat = 20,37 gram
- Massa etil asetat = 8,82 gram



t (menit)
Volume HCl
(mL)
Volume camp.
(mL)
Volume NaOH
(mL)
5 10 mL 10 mL 10,00
15 10 mL 10 mL 10,55
30 10 mL 10 mL 11,00
45 10 mL 10 mL 11,05
60 10 mL 10 mL 11,10
Panas 10 mL 10 mL 20,80

VI. PERHITUNGAN
6.1 Pembuatan Larutan Etilasetat 0,02 M
Diketahui : Mr etil asetat = 88,00 g/mol
Massa piknometer awal = 11,55 gram
Massa piknometer + etil asetat = 20,37 gram
Massa etil asetat = 8,82 gram


Ditanya : V
1
= . . . . . . . . ?
Jawab :
- Mol etil asetat =
mol gram
gram
/ 88
0882 , 0

= 0,01 mol
M etilasetat dalam 1000 mL = 1000
10
01 , 0
x
mL
mol

= 1M
V
1
. M
1
= V
2
. M
2

V
1
=
1
2 2
M
M V

=
M
M mLx
1
02 , 0 250
= 5 mL
Jadi, volume etil asetat yang harus dipipet untuk membuat larutan etil asetat 0,02 M
sebanyak 250 mL adalah 5 mL.
6.2 Penentuan Konsentrasi Awal dari Larutan Etil Asetat
Diketahui : [NaOH] = 0,02 M
[HCl] = 0,02 M
V NaOH = 50 mL

V HCl = 10 mL
V NaOH titrasi = 20,80 mL
Ditanya : Konsentrasi etil asetat awal = . . . . . . .?
Jawab :
mol NaOH titrasi = [NaOH] x V NaOH titrasi
= 0,02 M x 20,80 mL
= 0,4160 mmol
mol HCl sisa = mol NaOH titrasi
= 0,4160 mmol
mol HCl total = [HCl] x V HCl
= 0,02 M x 10 mL
= 0,20 mmol
mol HCl bereaksi = mol HCl total - mol HCl sisa
= 0,20 mmol 0,4160 mmol
= -0,2160 mmol
Reaksi penghentian dari reaksi etil asetat + NaOH :
OH
-
sisa
+ HCl
bereaksi
Cl
-
+ H
2
O
mol OH
-
sisa
= mol HCl
bereaksi
= - 0,2160 mmol
mol NaOH total = mol NaOH yang direaksikan dengan etil asetat
mol NaOH
total
= [NaOH] x V NaOH
= 0,02 M x 50 mL
= 1 mmol
mol NaOH
bereaksi
= mol NaOH
total
- mol OH
-
sisa

= 1 mmol (-0,2160) mmol mmol
= 1,2160 mmol
Reaksi : etil asetat (100 mL) + NaOH (100 mL) Na asetat + etil OH
Sehingga mol etil asetat
mula-mula
= mol NaOH
bereaksi

= 1,2160 mmol
mol etil asetat mula-mula = 1,2160 mmol
Volume campuran = 100 mL
Konsentrasi etil asetat mula-mula =
campuran
V
mol


=
mL
mmol
100
2160 , 1

= 0,0122 M (sebagai a)
Jadi, konsentrasi etil asetat mula-mula adalah 0,0122 M
6.3 Harga k dari Konsentrasi OH
-
yang Bereaksi pada Waktu (t)
- Untuk t
1
= 5 menit = 300 s
V NaOH
titrasi
= 10,00mL
mol OH
-
titrasi
= V NaOH
titrasi
x [NaOH]
= 10,00 mL x 0,02 M
= 0,2000 mmol
mol HCl
sisa
= mol OH
-
titrasi

= 0,2000 mmol
mol HCl
bereaksi
= mol HCl
total
- mol HCl
sisa

= 0,20 mmol - 0,20 mmol
= 0 mmol
mol OH
-
sisa
= mol HCl
bereaksi

= 0 mmol
mol OH
-
bereaksi
= mol NaOH
total
- mol OH
-
sisa

= 1 mmol 0 mmol
= 1,00 mmol
x (konsentrasi OH
-
bereaksi) =
campuran
bereaksi
V
OH mol


=
mL 100
mmol 1,00

= 0,0100 M
k
1
=
( ) x a a t
x


=
( )M M s
M
01 , 0 0122 , 0 0122 , 0 300
01 , 0


=
1 1
) 0022 , 0 ( 66 , 3
01 , 0

Ls mol

=
1 1
3
10 052 , 8
01 , 0

Ls mol
x


= 1,2419 mol
-1
L s
-1

- Untuk t
2
= 15 menit = 900 s
V NaOH
titrasi
= 10,55mL
mol OH
-
titrasi
= V NaOH
titrasi
x [NaOH]
= 10,55 mL x 0,02 M
= 0,2110 mmol
mol HCl
sisa
= mol OH
-
titrasi

= 0,2110 mmol
mol HCl
bereaksi
= mol HCl
total
- mol HCl
sisa

= 0,20 mmol - 0,2110 mmol
= -0,0110 mmol
mol OH
-
sisa
= mol HCl
bereaksi

= -0,0110 mmol
mol OH
-
bereaksi
= mol NaOH
total
- mol OH
-
sisa

= 1 mmol (-0,0110) mmol
= 1,0110 mmol
x (konsentrasi OH
-
bereaksi) =
campuran
bereaksi
V
OH mol


=
mL 100
mmol 1,0110

= 0,0101 M
K
2
=
( ) x a a t
x


=
( )M M s
M
0101 , 0 0122 , 0 0122 , 0 900
0101 , 0


=
1 1
) 0021 , 0 ( 98 , 10
0101 , 0

Ls mol

=
1 1
0231 , 0
01 , 0

Ls mol

= 0,4329 mol
-1
L s
-

- Untuk t
3
= 30 menit = 1800 s
V NaOH
titrasi
= 11,00 mL
mol OH
-
titrasi
= V NaOH
titrasi
x [NaOH]

= 11,00 mL x 0,02 M
= 0,2200 mmol
mol HCl
sisa
= mol OH
-
titrasi

= 0,2200 mmol
mol HCl
bereaksi
= mol HCl
total
- mol HCl
sisa

= 0,20 mmol - 0,2200 mmol
= -0,0200 mmol
mol OH
-
sisa
= mol HCl
bereaksi

= -0,0200 mmol
mol OH
-
bereaksi
= mol NaOH
total
- mol OH
-
sisa

= 1 mmol (-0,0200) mmol
= 1,0200 mmol
x (konsentrasi OH
-
bereaksi) =
campuran
bereaksi
V
OH mol


=
mL 100
mmol 1,0200

= 0,0102 M
K
3
=
( ) x a a t
x


=
( )M M s
M
0102 , 0 0122 , 0 0122 , 0 1800
0102 , 0


=
1 1
) 0020 , 0 ( 96 , 21
0101 , 0

Ls mol

=
1 1
0439 , 0
01 , 0

Ls mol

= 0,2278 mol
-1
L s
-

- Untuk t
4
= 45 menit = 2700 s
V NaOH
titrasi
= 11,05 mL
mol OH
-
titrasi
= V NaOH
titrasi
x [NaOH]
= 11,05 mL x 0,02 M
= 0,2210 mmol
mol HCl
sisa
= mol OH
-
titrasi

= 0,2210 mmol
mol HCl
bereaksi
= mol HCl
total
- mol HCl
sisa


= 0,20 mmol - 0,2210 mmol
= -0,0210 mmol
mol OH
-
sisa
= mol HCl
bereaksi

= -0,0210 mmol
mol OH
-
bereaksi
= mol NaOH
total
- mol OH
-
sisa

= 1 mmol (-0,0210) mmol
= 1,0210 mmol
x (konsentrasi OH
-
bereaksi) =
campuran
bereaksi
V
OH mol


=
mL 100
mmol 1,0210

= 0,0102 M
K
4
=
( ) x a a t
x


=
( )M M s
M
0102 , 0 0122 , 0 0122 , 0 2700
0102 , 0


=
1 1
) 0020 , 0 ( 94 , 32
0101 , 0

Ls mol

=
1 1
0659 , 0
0101 , 0

Ls mol

= 0,1533 mol
-1
L s
-

- Untuk t
5
= 60 menit = 3600 s
V NaOH
titrasi
= 11,10 mL
mol OH
-
titrasi
= V NaOH
titrasi
x [NaOH]
= 11,10 mL x 0,02 M
= 0,2220 mmol
mol HCl
sisa
= mol OH
-
titrasi

= 0,2220 mmol
mol HCl
bereaksi
= mol HCl
total
- mol HCl
sisa

= 0,20 mmol - 0,2220 mmol
= -0,0220 mmol
mol OH
-
sisa
= mol HCl
bereaksi

= -0,0220 mmol
mol OH
-
bereaksi
= mol NaOH
total
- mol OH
-
sisa


= 1 mmol (-0,0220) mmol
= 1,0220 mmol
x (konsentrasi OH
-
bereaksi) =
campuran
bereaksi
V
OH mol


=
mL 100
mmol 0220 , 1

= 0,0102 M
K
5
=
( ) x a a t
x


=
( )M M s
M
0102 , 0 0122 , 0 0122 , 0 3600
0102 , 0


=
1 1
) 0020 , 0 ( 92 , 43
0102 , 0

Ls mol

=
1 1
0878 , 0
0102 , 0

Ls mol

= 0,1162 mol
-1
L s
-


Tabel yang berisi harga
) ( x a a
x

dengan waktu
Dimana : a = b = 0,01220
T
(menit)
x
) ( x a a
x


5 0,0100 M 372,5782
15 0,0101 M 394,2233
30 0,0102 M 98,0392
45 0,0102 M 98,0392
60 0,0102 M 98,0392

5. Menghitung harga k rata-rata (untuk HCL = 10mL)
k
rata-rata
=
5
5 4 3 2 1
k k k k k + + + +

=
1 1
. .
5
1162 , 0 1533 , 0 2278 , 0 4329 , 0 2419 , 1

|
.
|

\
| + + + +
s L mol


=
1 1
. .
5
1721 , 2

|
.
|

\
|
s L mol

=
1 1
. . 4344 , 0

s L mol


VII. PEMBAHASAN
Praktikum kali ini yaitu penentuan orde reaksi dan laju reaksi. Laju reaksi adalah
cepat lambatnya suatu reaksi berlangsung atau dapat juga dinyatakan sebagai perubahan
konsentrasi pereaksi atau hasil reaksi per satuan waktu. Konsentrasi biasanya dinyatakan
dalam mol per liter. Orde reaksi adalah bilangan pangkat yang menyatakan naiknya laju
reaksi akibat naiknya reaksi. Menentukan orde reaksi dari suatu reaksi kimia pada
prinsipnya menentukan seberapa besar pengaruh perubahan konsentrasi pereaksi
terhadap laju reaksinya.tumbukan efektif merupakan tumbukan yang menghasilkan
reaksi, dan energi minimum yang diperlukan supaya reaksi dapat berlangsung disebut
energi aktifasi(Ea). Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui orde reaksi dan tetapan
laju reaksi yang terjadi pada reaksi penyabuan antara etil asetat (C
2
H
5
COOH) dengan ion
hidroksida (OH
-
). Adapun reaksi yang terjadi adalah:
CH
3
COOC
2
H
5
+ OH
-
CH
3
COO
-
+ C
2
H
5
OH
Berdasarkan reksi diatas dapat dilihat bahwa reaksi yang terlibat adalah reaksi orde
2. Suatu reaksi dikatakan berorde dua terhadap salah satu pereaksi jika laju reaksi
merupakan pangkat dua dari konsentrasi pereaksi itu. Untuk mengetahui tetapan laju
reaksi pada reaksi penyabunan tersebut, dilakukan percobaan dengan menggunakan
metode titrasi yaitu titrasi asam basa. Reaksi yang akan diamati dalam percobaan kali ini
adalah reaksi penyabunan etil asetat oleh ion hidroksida.
Percobaan ini dimulai dengan melakukan penimbangan, dimana massa piknometr
yang telah berisi etil asetat dikurangi dengan massa piknometer awal sehingga
memperoleh berat dari etil asetat sebesar 8,82 gram. Etil asetat kemudian diencerkan
sampai volumenya 250 mL. Dalam percobaan ini, konsentrasi awal etil asetat dengan
konsentrasi awal NaOH sama (a = b). Volume NaOH dan Etil Asetat yang dipergunakan
dalam praktikum ini juga sama yaitu 50 mL berbanding 50 mL. Larutan etil asetat 0,02
M direaksikan dengan larutan NaOH 0,02 M masing-masing sebanyak 50 mL. Larutan
etil asetat dibiarkan bereaksi dengan larutan NaOH, setelah 3 menit campuran larutan
direaksikan dengan 20 mL HCL hal itu dilakukan juga selama selang waktu 5 menit, 15
menit, 30 menit, 45menit dan 60 menit. Selama selang waktu tersebut, etil asetat akan
bereaksi dengan NaOH, dan selanjutnya setelah selang waktu yang ditentukan, NaOH

yang tersisa dalam campuran direaksikan dengan larutan HCl 0,02 M. Setelah sisa NaOH
dalam campuran dinetralkan oleh larutan HCl, maka kelebihan HCl dititrasi dengan
menngunakan basa kuat yaitu larutan NaOH 0,02. Pada titrasi Larutan NaOH bertindak
sebagai titran, sedangkan campuran yang mengandung sisa HCl sebagai titrat. Dalam
proses titrasi ditambahkan indikator fenolftalein yang berguna untuk mendeteksi titik
akhir titrasi, dimana akan terjadi perubahan warna dari bening menjadi merah muda.
Proses titrasi dilakukan pada selang waktu reaksi 5, 15, 30, 45, dan 60 menit serta setelah
pemanasan (waktu tak terhingga), tujuannya untuk megetahui jumlah HCl yang telah
bereaksi dalam campuran etil asetat-NaOH pada selang waktu tersebut. Apabila terlalu
lama, maka etil asetat dalam campuran dapat menguap, sehingga volume NaOH yang
didapat dalam titrasi tidak tepat.
Pemanasan pada campuran etil asetat-NaOH setelah selang waktu 60 menit untuk
waktu tak terhingga bertujuan untuk mempercepat reaksi sehingga reaksi penyabunan
cepat selesai dan mengetahui konsentrasi awal etil asetat dalam campuran. Etil asetat
memiliki sifat yang mudah menguap, sehingga proses titrasi harus dilakukan secepat
mungkin. Demikian pula saat proses memipet maupun saat mereaksikan larutan tersebut
harus dilakukan secepat mungkin agar tidak terjadi penguapan yang dapat menurunkan
volume etil asetat. Pada proses pemanasan sebaiknya indikator PP ditambahkan setelah
dilakukan proses pemanasan, hal ini bertujuan agar dapat menunjukkan titik akhir titrasi
karena apabila PP ditambahkan sebelum pemanasan maka PP akan menguap.
Adapun volume NaOH yang diperlukan untuk menetralkan sisa HCl selama selang
waktu reaksi 5, 15, 30, 45 dan 60 menit serta setelah pemanasan (waktu tak terhingga)
secara berturut-turut adalah 10,00 mL, 10,55 mL , 11,00 mL , 11,05 mL, 11,10 mL dan
20,80 mL. Kondisi ini menunjukkan bahwa semakin banyak sisa asam (HCl) dalam
campuran maka volume NaOH yang diperlukan untuk menetralkan asam tersebut juga
semakin banyak, demikian juga apabila semakin sedikit sisa asam (HCl) dalam campuran
makan volume NaOH yang diperlukan untuk menetralkan asam tersebut semakin sedikit.
Berdasarkan perhitungan dengan menggunakan data yang telah diperoleh, maka diketahui
bahwa konsentrasi etil asetat mula-mula yang akan bereaksi dengan NaOH adalah sebesar
0,0122 M. Nilai ini merupakan nilai a yang akan digunakan dalam perhitungan selanjutnya,
dimana nilai a = b. Dari perhitungan selanjutnya, diperoleh nilai x (konsentrasi OH
-
bereaksi)
selama selang waktu yang ditentukan yaitu berturut-turut sebesar 0,0100 M; 0,0101 M;
0,0102 M; 0,0102 M dan 0;0102 M. Dari nilai x ini dapat dihitung tetapan laju reaksi (k)
yang merupakan jumlah molar (M) konsentrasi ion OH

yang bereaksi pada waktu t. Adapun



nilai tetapan k ini dihitung dengan menggunakan persamaan :k =
( ) x a a t
x

. Dari persamaan
ini diperoleh nilai tetapan k untuk waktu 5, 15, 30, 45 dan 60 menit secara berturut-turut
adalah sebesar 1,2419; 0,4329; 0,2278; 0,1533 dan 0,1162 mol
-1
L s
-1.
Sehingga diperoleh
nilai tetapan k rata-rata sebesar 0,4344 mol
-1
L s
-1
.
Dari perhitungan, juga diperoleh harga
) ( x a a
x

yang nantinya dipergunakan


untuk membuat grafik hubungan antara
) ( x a a
x

(sebagai ordinat) terhadap waktu


(sebagai absis) seperti yang terlihat dibawah ini.


Dalam praktikum ini ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi laju reaksi antara
ion hidroksida dengan etil asetat yaitu konsentrasi, luas permukaan, teori tumbukan,
waktu serta temperatur. Dengan bertambahnya suatu konsentrasi zat maka laju reaksinya
akan semakin cepat pula, sehingga waktu yang diperlukan pun lebih sedikit dibandingkan
dengan kecilnya konsentrasi suatu zat. Karena zat yang konsentrasinya kecil atau rendah
mengandung jumlah pertikel yang lebih sedikit, sehingga partikel-partikelnya lebih
renggang dibandingkan dengan zat yang konsentrasinya besar. Partikel yang susunannya
lebih renggang akan jarang bertumbukan sehingga kemungkinan terjadi reaksi kecil.
Dapat dilihat perbedaan antara larutan yang dipanaskan dan lautan yang tidak dipanaskan
atau antara yang dipengaruhi oleh konsentrasi atau temperatur. Pada larutan yang tidak
dipanaskan (dipengaruhi konsentrasi), reaksi larutan berlangsung lambat dan laju
reaksinya pun lebih kecil, sebaliknya pada larutan yang dipanaskan (dipengaruhi oleh
0
10
20
30
40
50
60
70
372.5782 394.2233 98.0392 98.0392 98.0392

temperatur), reaksi larutan berlangsung dengan cepat dan laju reaksinya pun lebih besar.
Dalam melakukan percobaan laju reaksi terdapat berbagai kesalahan yang dipengaruhi
oleh beberapa faktor, yaitu kurang teliti dalam melakukan perhitungan waktu yang
menggunakan stopwatch dan saat memanaskan larutan tidak sesuai dengan suhu yang
ditentukan.
VIII. KESIMPULAN
1. Faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi yaitu luas permukaan, konsentrasi,
temperatur, waktu dan teori tumbukan.
2. Laju reaksi menyatakan ukuran kelajuan berlangsungnya reaksi kimia, dan dapat
ditentukan dengan mengukur laju berkurangnya salah satu pereaksi atau laju
terbentuknya suatu produk.
3. Reaksi penyabuan antara etil asetat (C
2
H
5
COOH) dengan ion hidroksida (OH
-
)
merupakan reaksi orde reaksi dua.
4. Titrasi asam basa dilakukan bertujuan untuk mengetahui tetapan laju reaksi pada
reaksi penyabunan tersebut.
5. Semakin banyak sisa asam (HCl) dalam campuran maka volume NaOH yang
diperlukan untuk menetralkan asam tersebut juga semakin banyak, demikian pula
sebaliknya.
6. Konsentrasi awal etil asetat yang digunakan sebesar 0,01220 M
7. Nilai x (konsentrasi OH
-
bereaksi) selama selang waktu yang ditentukan yaitu
berturut-turut sebesar 0,0121 M; 0,0121 M; 0,01275 M; 0,0129 M dan 0,01298 M
8. Nilai tetapan k untuk waktu 5; 15; 30; 45 dan 60 menit secara berturut-turut adalah
sebesar 1,2419; 0,4329; 0,2278; 0,1533 dan 0,1162 mol
-1
L s
-1
.

Sehingga
diperoleh nilai tetapan k rata-rata sebesar 0,4344 mol
-1
L s
-1
.










DAFTAR PUSTAKA

Atkin, P, W. 1990. Kimia Fisika Jilid 2 Edisi ke-4. Jakarta: Erlangga.

Bird, Tony. 1993. Kimia Fisika untuk Universitas. Jakarta: Gramedia.

Sukardjo. 1989. Kimia Fisika. Yogyakarta: Bina Aksara.

Karlohadiprodjo, Irma. 1990. Kimia Fisik Jilid 1 Edisi Keempat. Jakarta: Gramedia.

Keenan, CW. 1991. Ilmu Kimia Untuk Universitas Jilid 1. Jakarta: Erlangga.

Tim Laboratorium Kimia Fisika. 2011. Penuntun Praktikum Kimia Fisika III. Bukit
Jimbaran: Jurusan Kimia F.MIPA Universitas Udayana.





















LAMPIRAN
A. Jawaban Pertanyaan
1. Karena harga k konstan, maka reaksi penyabunan etil asetat oleh ion hidroksida
adalah reaksi orde kedua.
2. Pada suatu sistem yang dapat mengalirkan listrik (kawat atau larutan elektrolit) akan
memiliki tahanan,(resistance, R) yang mengikuti Hk. Ohm R=
i
| A

Pada umumnya tahanan hanya bergantung pada temperatur dan jenis media dan tidak
tergantung pada besarnya potensial dan arus yang diberikan, tahanan seperti ini
disebut sebagai tahanan yang bersifat ohmic. Beberapa tahanan dalam elektrokimia
bersifat non-ohmic, namun untuk kemudahan dalam pendekatan maka tahanan dalam
suatu sistem elektrolit dianggap bersifat ohmic. Tahanan adalah suatu besaran yang
bersifat ekstensif : karena tahanan merupakan fungsi dari ukuran (dan bentuk). Untuk
sistem yang memiliki penampang yang seragam (uniform) dapat berlaku tahanan
jenis, (resistivity, ) yang besarnya adalah

, dengan A adalah luas area, L


adalah panjang, dan R adalah tahanan. Tahanan jenis adalah suatu besaran yang
bersifat intensif. Pada sistem elektrolit lebih mudah bila digunakan pengertian
hantaran (conductance, S

) yang merupakan kebalikan dari tahanan, dan juga


hantaran jenis, (conductivity, K) yang merupakan kebalikan dari tahanan jenis.
Hantaran jenis di rumuskan sebagai


Satuan yang digunakan:
Tahanan : (ohm)
Tahanan jenis : .m
Hantaran : S (siemens)
Hantaran jenis : S.m
-1

3. Agar tidak menguap, jika ditunda maka tutup labu ukur dengan aluminium foil atau
penutupnya.
4. Cara penentuan orde dari suatu reaksi kimia antara lain:
- Metode Integral
Dengan metode ini, harga k dihitung dengan persamaan laju bentuk integral dari
data konsentrasi dan waktu.

- Metode Grafik
Orde suatu reaksi dapat ditentukan dengan cara membuat grafik dari data
eksperimen.
- Metode Laju-Awal
Dalam metode ini dilakukan sederet eksperimen dengan konsentrasi awal yang
berbeda-beda. Kemudian dengan membandingkan laju awal, maka dapat ditarik
kesimpulan tentang orde reaksi.
5. Energi pengaktifan merupakan energi minimum yang harus dimiliki molekul-molekul
pereaksi agar menghasilkan reaksi jika saling bertabrakan. Penentuan energi
pengaktifkan secara eksperimen umumnya hampir sama dengan penentuan tetapan
laju reaksi pada suhu tertentu. Dari data tetapan laju yang diperoleh akan didapatkan
nilai energi pengaktifannya dengan persamaan berikut.
A
RT
E
k
A
RT
E
k
A
A
log
303 , 2
log
ln ln
+ =
+ =