Anda di halaman 1dari 83

IKATAN KIMIA

Dari 90 buah unsur alami dan ditambah belasan unsur buatan dapat dibentuk senyawa dalam jumlah tak terhingga. Ikatan kimia terjadi karena kecenderungan atom mempunyai konfigurasi elektron seperti gas mulia. Kecenderungan itu melahirkan berbagai jenis ikatan, terutama ikatan ion dan ikatan kovalen. Oleh sebab itu, akan dibahas berbagai macam ikatan kimia. Ikatan kimia itu sendiri adalah suatu partikel baik berupa ion bermuatan, inti atom dan elektron diantara mereka, akan membentuk ikatan kimia agar mencapai suatu kestabilan. Sebagian besar unsur di alam tidak pernah dijumpai dalam atom bebas (kecuali gas mulia), namun dalam bentuk berikatan dengan atom yang sejenis maupun atom-atom yang lain. Tujuan utama pembentukan ikatan adalah untuk meningkatkan kestabilan atom tersebut dalam molekul atau senyawa. Kestabilan tersebut tercapai umumnya jika konfigurasi elektronnya menyerupai gas mulia

A.

PERANAN ELEKTRON DALAM IKATAN KIMIA Pada umumnya atom tidak berada dalam keadaan bebas tetapi menyatu dengan atom lain membentuk senyawa. Hal ini merupakan suatu bukti bahwa atom yang bergabung lebih stabil daripada yang menyendiri. Penggabungan itu disebut ikatan kimia dan terjadi bila ada daya tarik satu sama lain sehingga mengeluarkan energi paling kurang 42 kJ per mol atom. Berdasarkan teori atom modern, para ahli menyelidiki cara terbentuknya ikatan kimia. Daya tarik kedua atom terjadi karena adanya pada kulit terluar. Elektron pada kulit ini mempunyai kecenderungan menyamai konfigurasi elektron gas mulia, dengan cara menerima atau memberikan elektron pada atom lain.

1.

Gas Mulia Kebanyakan atom ditemukan berikatan dengan atom lain, namun

masih ada yang ditemui dalam bentuk monoatom, yaitu gas mulia (He, Ne, Ar, Kr, Xe, dan Rn). Sehingga gas mulia lebih stabil dalam keadaan monoatom 1

(bebas), sedangkan unsur yang lain lebih stabil bila berikatan seperti pada gambar berikut: UNSUR

STABIL dalam monoatom

TIDAK STABIL dalam monoatom

Gambar 1. Unsur dapat dibagi dua : stabil dan tidak stabil dalam monoatom

Pada sistem periodik, gas mulia terletak dalam golongan VIIIA atau golongan O. Jumlah elektron pada masing-masing kulit sebagai berikut He Ne Ar Kr Xe Rn 2 2 2 2 2 2 8 8 8 8 8 8 18 18 18 18 32 8 18 8

Tabel 1. Jumlah elektron tiap kulit gas mulia

Keistimewaan gas mulia mempunyai jumlah elektron valensi = 8 (kecuali helium = 2). Teori atom mekanika gelombang menyatakan bahwa elektron kulit terluar yang penuh adalah 1s2 untuk He, dan ns2 np6 untuk Ne, Ar, Kr, dan Xe. Oleh sebab itu, dapat disimpulkan bahwa atom akan stabil bila elektron kulit terluar (elektron valensinya) terisi penuh. Jadi, bagi semua unsur berlaku suatu ketentuan yang disebut aturan oktet. Aturan oktet menyatakan bahwa suatu atom cenderung mempunyai elektron valensi delapan, yaitu seperti gas mulia (kecuali helium = 2)

2.

Kecenderungan Atom 2

Unsur yang elektron valensinya tidak terisi penuh cenderung berubah untuk menyamai gas mulia, yaitu dengan cara melepas atau menerima elektron. Unsur selain gas mulia (golongan IA s/d VIIA)
cenderung

Gas mulia (golongan VIII)

Unsur yang energi ionisasinya kecil akan melepaskan elektron, dan yang besar akan menerima elektron lain. Jumlah elektron yang dilepaskan atau diterima bergantung pada jumlah elektron valensi unsur yang bersangkutan. Berdasarkan nilai energi ionisasi dari kiri ke kanan sistem periodik, maka unsur yang kecil energi ionisasinya adalah bagian kiri dan bagian bawah, dan sebaliknya. Akibatnya, unsur golongan IA dan IIA cenderung melepaskan elektron, sedangkan golongan VIIA dan VIA cenderung menerima elektron untuk menyamai konfigurasi elektron gas mulia. Unsur golongan IIIA, IVA, dan VA sebagian bersifat melepas, dan sebagian menerima III B Al Ga In Ti IV A C Si Ge Sn Pb VA N P As Sb Sn VI A O S Se Te Po VII A F Cl Br I Al VIII Ne Ar Kr Xe Rn

Logam (cenderung melepaskan e) Metaloid

Bukan logam (cenderung menerima e)

Tabel 2. Pembagian unsur blok p: logam, metaloid, dan non logam Contohnya: + 2e-

Mg

Mg2+ (seperti Ne) 3

Gambar 2. Unsur Mg dapat melepaskan elektron terluarnya sehingga membentuk Mg2+ e

F (seperti Ne)

Gambar 3. Kecenderungan atom F adalah menerima 1 elektron

3.

Aturan Fajans (Teori Polaritas) Teori polaritas (Fajan) adalah bila 2 ion saling berdekatan maka bentuk

awan elektron dari anion akan dipengaruhi oleh tarikan kation dan kedua inti saling tolak-menolak (anion dan kation) sehingga terjadi deformasi/polarisasi pada anion. Umumnya ukuran kation jauh lebih kecil daripada anion sehingga memiliki sifat polarisasi rendah. Suatu atom akan netral bila jumlah elektron pada kulitnya sama dengan jumlah proton pada inti. Jika atom melepaskan atau menerima elektron akan membentuk partikel bermuatan yang disebut ion. Atom yang melepaskan elektron membentuk ion positif dan yang meneriam elektron menjadi ion negatif. Tidak semua atom dapat menjadi ion bebas yang stabil karena harus memnuhi aturan Fajans, yaitu 1) Struktur atom (konfigurasi elektronnya) harus stabil seperti gas mulia. Contoh: Na ( 2 8 1)
melepaskan 2emelepaskan 1e

Na+ (2 8) Ca2+ (2 8 8)
melepaskan 1e

stabil

Ca (2 8 8 2)

stabil

Ca+ (2 8 8)

tidak stabil 4

melepaskan 1e

Cl (2 8 7) ClS2Na+ Na+ Na Cl- Cl


stabil

Cl- (2 8 8) N3+ C4Be3+ Ca2+ Ca S2- S

stabil

2) Muatan ion yang terbentuk harus kecil


tidak stabil

3) Jari-jari ion positif lebih kecil dari atomnya. Contohnya:

4) Jari-jari ion negatif lebih besar dari atomnya. Contohnya:

Pengaruh polarisasi yaitu distribusi elektron, khususnya ev tidak lagi sepenuhnya dipengaruhi oleh salah satu ion/atom saja melainkan oleh kedua ion/atom. Bila pengaruhnya besar maka sifat ionik rendah, sifat kovalen tinggi. Faktor yang mempengaruhi terjadinya polarisasi, yaitu

a.

Besarnya muatan Muatan makin besar menyebabkan sifat polarisasi ion lawan makin besar sehingga sifat ionik makin rendah, sifat kovalen makin tinggi.

b.

Ukuran ion Kation makin kecil, makin terkonsentrasi muatan positifnya sehingga makin efektif pengaruh polarisasinya terhadap anion, dan sifat ionik makin rendah.

Anion makin besar, makin mudah awan elektron terpolarisasi oleh kation sehingga sifat ionik makin rendah, sifat kovalen makin tinggi.

Faktor yang mempengaruhi ikatan, yaitu: 1. Jarak antar atom Ada dua faktor utama yaitu, jarak inter atomik dan sela merupakan faktor yang sangat penting, oleh karena itu perlu dibahas secara lebih rinci gaya tarik menarik antar atom, karena hal ini sangat mengikat, namun timbul suatu pertanyaan yang sangat mendasar, apakah sebenarnya yang menghalangi merapatnya atomatom tersebut. Dari gambargambar dan penjelasan terdahulu diketahui bahwa disekitar inti atom terdapat ruang kosong. Ruang ksosng yang dimaksudkan diatas adalah ruang diantara atomatom yang ditimbulkan oleh gaya tolak antar atom disamping gaya tari menarik antar atom. Gaya tolakmenolak disebabkan oleh jarak yang sangat dekat antar dua atom sehingga terlalu banyak elektron menempati lokasi interaksi. Jarak seimbang tercapai bila gaya tarik menarik dan gaya tolak menolak sama besar.

2.

Gaya Coulomb. Gaya Coulomb Fc antara dua titik muatan sebanding dengan besar kedua muatan Z1q dan Z2q dan jarak antara kedua muatan tersebut tadi, a12n :

Dimana Z adalah valensi (+ dan ) dan q = 0,16 x 1018 Coulomb. Konstantan ko = 9 x 109 V.m/C karena ko = 1/4o. 3. Gaya tolak menolak elektron Gaya tolak menolak antara medan elektron dua atom atau ion juga merupakan fungsi kebalikan jarak, tetapi dengan pangkat yang lebih tinggi.

Baik b maupun n merupakan konstanta empiris, untuk bahan padat ionik n kirakira sama dengan 9. Pada jarak yang lebih besar dari dari jarak pemisah atom, gaya tarik menarik lebih dominan. 4. Energi ikatan Jumlah kedua gaya yang telah dibicarakan diatas, menjadi dasar untuk pembahasan energi ikatan, karena energi sama dengan gaya kali jarak, maka :

B.

MACAM-MACAM IKATAN KIMIA Ikatan kimia dapat digolongkan menjadi 2 jenis, yaitu ikatan kimia primer (ikatan ion, ikatan kovalen, dan ikatan logam) dan ikatan kimia sekunder (gaya van der Waals, ikatan hidrogen). Ikatan primer adalah ikatan 7

antar atom yang kuat. Sedangkan ikatan sekunder adalah ikatan inter atom yang lemah.

1.

Ikatan Kovalen Pembentukan ikatan kovalen Unsur yang cenderung menerima elektron atau nilai keelektronegatifannya 2,0 disebut unsur elektronegatif. Unsur ini terletak pada bagian atas dan kanan blok p dalam sistem periodik dan ditambah dengan hidrogen. Kecenderungan unsur elektronegatif menerima elektron disebabkan oleh adanya dorongan untuk mencapai kestabilan. agar elektron valensinya seperti gas mulia. Dari penyelidikan diperoleh bahwa apabila unsur elektronegatif memperoleh elektron kalau tidak ada yang memberi, maka dua atom dapat memakai elektron secara bersama dengan bergabungnya orbital

luar.Orbital gabungan dan elektron yang ada di dalamnya menjadi milik kedua atom, sehingga yang satu terikat dengan yang lain. Contohnya:

Gambar 4. Pembentukan ikatan kovalen dalam H2

Rumus lewis Pada tahun 1910 Lewis menemukan cara yang praktis yang disebut rumus lewis, dengan ketentuan sebagai berikut: a. b. c. Satu elektron dilambangkan dengan satu titik. Elektron yang ditampilkan hanya elektron valensi terluar. Elektron dalam senyawa harus sesuai dengan aturan oktet.

Contohnya pembentukan molekul H2 H H H H


atau

H 8

Antara dua atom dapat terjadi: 1) Sepasang elektron dipakai bersama, disebut ikatan tunggal. Contohnya H-H 2) Dua pasang elektron dipakai bersama, disebut ikatan rangkap dua. Contohnya O=O 3) Tiga pasang elektron dipakai bersama, disebut ikatan rangkap tiga. Contohnya NN

Contoh soal: Tulislah struktur titik-elektron untuk senyawa yang dihasilkan nitrogen (N) dan hidrogen (H) ketika berikatan kovalen. Penyelesain:

2.

Ikatan Kovalen Koordinasi Pada pembahasan ini menjelaskan tentang apa itu ikatan koordinasi (yang disebut pula ikatan dativ) Sebuah ikatan kovalen terbentuk oleh dua atom yang melakukan pemakaian bersama sepasang elektron atau lebih. Di sini terjadi penyatuan atom-atom karena pasangan elektron ditarik oleh kedua inti atom. Ikatan koordinasi (disebut ikatan kovalen dativ) adalah ikatan kovalen yang kedua elektron yang dipakai bersama berasal dari salah satu atom.

Reaksi antara amonia dan hidrogen klorida

Persamaan reaksi terbentuknya asap putih tebal amonium klorida padat jika gas tidak berwarna dapat untuk dicampur. Amonium ion NH4 terbentuk melalui transfer ion hidrogen dari hidrogen klorida ke pasangan elektron mandiri pada molekul amonia.

Gambar 5. Pembentukan ikatan kovalen koordinasi antara NH3 dengan HCl

Ketika ion amonium NH4 terbentuk empat hidrogen dipasang oleh ikatan kovalen dativ karena hanya inti hidrogen yang ditransfer dari klor ke nitrogen. Elektron hidrogen tertonggal pada klor untuk membentuk ion klorida negatif.

Mewakili obligasi koordinasi

Gambar 6. Ikatan koordinasi NH4

10

Pembubaran hidrogen klorida dalam air untuk membuat asam klorida Ion hidrogen (H+) ditransfer dari klor ke salah satu pasangan mandiri pada atom oksigen.

Gambar 7. Pembentukan ikatan koordinasi antara H2O dengan HCl H3O+ disebut ion hidroksonium, ion hidronium atau ion oksonium. Jika ikatan ion koordinasi telah terbentuk, semua atom hidrogen melekat pada oksigen yang sama persis. Ketika ion hidrogen melepaskan diri lagi, bisa jadi salah satu dari tiga.

Reaksi antara amonia dan boron trifluorida, BF3

Gambar 8. Pembentukan ikatan koordinasi antara NH3 dengan BF3 11

Cara lain yang lebih mudah dan sederhana adalah dengan menggambarnya berupa garis untuk mewakili obligasi.

Gambar 9. Pembentukan ikatan koordinasi antara NH3 dengan BF3 Akhir dari nitrogen obligasi telah menjadi positif karena pasangan elektron bergerak menjauh dari nitrogen menuju boron, inilah yang menyebabkan boron menjadi negatif.

Struktur aluminium klorida Aluminium klorida berubah dari bentuk solid menjadi gas pada sekitar suhu 180oC. Jika senyawa tersebut mengandung ion maka akan mempunyai titik leleh dan titik didih yang sangat tinggi karena terjadinya kontraksi yang kuat antara ion positif dan ion negatif. Jadi, apabila senyawa tersebut menyublim pada suhu yang relatif rendah, maka terjadi ikatan kovalen. Contohnya AlCl3, BF3. Rumus massa relatif aluminium klorida dalam uap pada temperatur sublimasi bukan AlCl3, tetapi Al2Cl6. Hal ini disebabkan terjadinya dimer (dua molekul bergabung bersama-sama). Ikatan antara dua molekul pada senyawa tersebut adalah ikatan koordinasi, yang menggunakan pasangan elektron mandiri pada atom klor. Yang mana setiap atom klor memiliki 3 pasangan mandiri, tetapi hanya 2 pasangan mandiri yang digambarkan pada diagram garis.

12

Gambar 10. Ikatan koordinasi antara molekul-molekul AlCl3 Energi dilepaskan ketika dua ikatan koordinasi terbentuk dan juga bimer lebih stabil daripada dua molekul AlCl3 yang terpisah

Ikatan dalam ion terhidrasi logam Molekul air sangat kuat tertarik ion dalam larutan, karena di sekitar molekul air ada ion positif dan ion negatif. Tempat-tempat yang luas menjadi peluang terjadinya ikatan formal dan ikatan ini nyata terjadi di seluruh ion negatif logam. Terjadinya ion negatif yang menarik molekul air ini digambarkan sebagai ion terhidrasi. Contohnya walaupun aluminium klorida adalah kovalen tetapi ketika larut dalam air maka akan menghasilkan ion. Enam molekul air obligasi aluminium untuk memberikan ion dengan rumus Al (H2O)63+ ini disebut ion hexaaquaaluminium, hexa yang berati enam dan aqua yang berati molekul air yang membungkus ion aluminium. Ikatan yang terjadi dalam ion yang dibentuk oleh sebagian besar logam lain ini adalah ikatan koordinasi (kovalen dativ).menggunakan pasangan elektron tunggal pada molekul air.

Gambar 11. Molekul air Konfigurasi aluminium 1s22s22p63s23px1. Ketika membentuk ion Al3+ itu akan kehilangan elektron pada orbital ke-3 dan menjadi 1s22s22p6. Sehingga semua orbital pada kulit ke-3 kosong. Aluminium melakukan 13

hibridisasi enam ini (3s2, tiga 3p,dan dua 3d) untuk menghasilkan enam orbital baru dengan energi yang sama. Keenam orbital hibrida menerima pasangan tunggal dari enam molekul air. Karena enam adalah jumlah maksimum molekul air yang mungkin untuk memuat ion aluminium dan ion logam lainnya. Dengan memmuat jumlah maksimum obligasi, ia melepaskan paling banyak energi sehingga menjadi stabil. Terlihat pada gambar di bawah ini :

Gambar 12. Penstabilan molekul air

Hanya satu pasangan bebas digambarkan pada setiap molekul air. Pasangan elektron mandiri yang lain jauh dari aluminium sehingga tidak terlibat dalam ikatan. Ion yang dihasilkan terlihat seperti berikut :

Gambar 13. Pergerakan elektron pusat ion

Gambar tersebut merupakan pergerakan elektron pusat ion, muatan ion 3+ tidak lagi terletak pada aluminium tetapi tersebar di seluruh ion.

14

Gambar ikatan yang terdapat pada karbon monoksida (CO)

Gambar 14. Ikatan koordinat CO

Pada karbon monoksida memilki ikatan kovalen biasa antara karbon dan oksigen ditambah dengan ikatan koordinasi yang

menggunakan pasangan elektron mandiri pada atom oksigen.

Gambar ikatan yang terdapat pada asam nitrat (HNO3)

Gambar 15. Ikatan koordinat HNO3 Pada salah satu atom oksigen dianggap melekat pada nitrogen melalui ikatan koordinasi menggunakan pasangan elektron bebas pada atom nitrogen.

Contoh soal: Tuliskan struktur Lewis dari pernyataan berikut: boron triklorida membentuk ikatan kovalen koordinasi dengan nitrogen dari molekul amonia. Penyelesaian: 15

3.

Ikatan Kovalen Polar Jika dua atom yang berikatan kovalen mempunyai perbedaan harga keelektronegatifan, maka pasangan elektron ikatan (PEI) akan tertarik ke atom yang keelektronegatifannya lebih besar sehingga terjadilah dipol (dwi kutub). Ikatan seperti ini disebut ikatan kovalen polar. Makin besar selisih keelektronegatifan, makin besar sifat kepolaran ikatan. Senyawa diatomik (dua atom) : a. b. Sejenis : bersifat non polar, contoh : H , Cl , N , Br
2 2 2 2.

Tidak sejenis : bersifat polar, contoh : HCl, HBr, BrCl.

Senyawa yang terdiri 3 atom atau lebih : a. Atom pusat tidak mempunyai PEB : bentuk molekul simetris sehingga bersifat non polar, contoh CCl b.
4

Atom pusat mempunyai PEB : bentuk molekul tidak simetris sehingga bersifat polar, contoh H O
2

4.

Ikatan Hidrogen Hidrogen adalah Jika unsur bukan dengan logam unsur yang kecil

keelektronegatifannya.

berikatan

yang sangat

elektronegatif (seperti fluor, oksigen, dan nitrogen), pasangan elektron yang dipakai bersama lebih tertarik ke unsur tersebut, sehingga bermuatan agak negatif, sedangkan hidrogen agak positif. Dalam keadaan seperti itu, hidrogen dapat membentuk ikatan tambahan dengan atom elektronegatif lain yang berada di dekatnya. Ikatan tambahan berupa daya tarik listrik antar molekul seperti pada HF, H2O, NH3. Jika ikatan ini terjadi dalam molekul yang sama, disebut ikatan intra molekul, seperti pada salisilaldehida. Inilah yang disebut ikatan hidrogen.

16

Pada pembahasan ini, menjelaskan asal mula ikatan hidrogen serta tarik-menarik yang relatif kuat antar molekul.

Bukti untuk ikatan hidrogen

Kenaikan titik didih terjadi karena molekul memperoleh lebih besar dan lebih banyak elektron, dan karena van der Waals gaya dispersi menjadi lebih besar. Hidrogen adalah unsur bukan logam yang kecil

keelektronegatifannya. Sehingga yang dimaksud dengan ikatan hidrogen adalah ikatan tambahan berupa daya tarik listrik antara atom hidrogen dengan unsur elektronegatif, sedangkan kedua atom ini sedang berikatan kovalen dengan atom lain. Ikatan hidrogen dapat terjadi antara dua molekul yang disebut ikatan antar molekul, seperti pada HF, H20, dan NH3. Jika ikatan ini terjadi dalam molekul yang sama, disebut ikatan intra molekul seperti pada salisilaldehida.

17

Asal Ikatan Hidrogen

(a)

(b)

Gambar 16. Asal ikatan hidrogen (a); ikatan hidrogen (b) Hidrogen jika berikatan dengan unsur yang sangat elektronegatif (seperti flour, oksigen, dan nitrogen), pasangan electron yang dipakai bersama lebih tertarik ke unsur tersebut, sehingga bermuatan agak negatif tetapi juga memiliki sedikitnya satu pasangan bebas, sedangkan hidrogen agak positif. Dalam keadaan seperti itu, hidrogen dapat membentuk ikatan tambahan dengan atom elektronegatif lain yang berada di dekatnya. Pertimbangan dua molekul air yang datang bersama Hidrogen+ pada gambar tersebut begitu kuat tertarik ke pasangan bebas seolah-olah membentuk koordinasi (kovalen dativ) obligasi.

Air sebagai contoh "sempurna" ikatan hidrogen Masing-masing molekul air dapat membentuk empat ikatan hidrogen dan setiap satu dari empat ikatan hidrogen tersebut dapat terlibat dalam ikatan hidrogen. Namun, ikatan hidrogen sangat lemah (kurang lebih 20 Kj mol-1) tetapi mempengaruhi titik didih dan titik lebur senyawa. Ini yang menyebabkan titik didih air lebih tinggi dibandingkan amonia atau hidrogen flourida. Dalam kasus amonia, jumlah ikatan 18

hidrogen masing-masing hanya memiliki satu pasangan elektron bebas. Sedangkan, dalam kelompok molekul amonia tidak terdapat pasangan elektron bebas di sekitar hidrogen. Dalam flourida hidrogen, terjadi kekurangan hidrogen. Dalam air, ada nomor masing-masing yang benar. Inilah bahwa air dapat dianggap sebagai ikatan hidrogen yang sempurna. Dalam ikatan hidrogen ini juga terjadi proses hidrasi, yaitu proses ketika sebuah substansi ionik larut dalam air, maka air di sekitar ion akan terpisah.

Gambar 17. Proses hidrasi dalam ikatan hidrogen Diagram tersebut menunjukkan potensi ikatan hidrogen yang terbentuk pada ion klorida (Cl-). Walaupun pasangan mandiri pada ion klorida umumnya tidak cukup aktif untuk membentuk ikatan hidrogen, namun ion klorida dibuat tertarik pada ikatan hidrogen oleh muatan negatif pada klor.

Ikatan hidrogen pada alkohol Alkohol adalah suatu molekul organik yang mengandung OH-. Dan setiap molekul yang memiliki atom hidrogen yang terikat langsung ke oksigen atau nitrogen adalah ikatan hidorgen yang sempurna. Ikatan hidrogen membuat molekul mendekat dan memerlukan suhu yang tinggi untuk memisahkan ikatan tersebut. Contohnya ethanol, CH3COOH, dan methoxymethane, CH3-OCH3, yang mana keduanya memiliki rumus molekul yang sama.

19

Ikatan hidrogen dapat terjadi antara molekul etanol, meskipun tidak secara efektif dalam air. Ikatan hidrogen dibatasi hanya ada satu hidrogen pada tiap molekul etanol dengan muatan positif (+). Dalam methoxymethane positif, atom hidrogen terpasang langsung ke unsur yang sangat elektronegatif untuk terjadi ikatan hidrogen. Titik didih etanol dan methoxymethane menunjukkan efek yang drastis bahwa ikatan hidrogen sangat berpengaruh pada molekul etanol. 78,5oC -24,8oC

Etanol (dengan ikatan hidrogen) Methoxymethane (tanpa ikatan hidrogen)

Membandingkan dua alkohol yang mengandung OH- tetapi dua alkohol tersebut tidak sama. Titik didih tinggi karena ikatan hidrogen tambahan langsung terikat pada oksigen.

Ikatan hidrogen dalam molekul organik yang mengandung nitrogen Ikatan hidrogen juga terjadi pada molekul organik yang mengandung kelompok NH- dalam jenis yang sama seperti yang terjadi pada amonia. Contohnya yaitu CH3NH2 (metilamin) pada molekul sederhana, protein dan DNA pada molekul besar. Dua untai double helix yang terkenal pada DNA disatukan oleh ikatan hidrogen antara atom hidrogen yang terikat pada nitrogen pada satu 20

untai rantai tersebut, dan pasangan bebas pada nitrogen atau oksigen yang lain.

5.

Ikatan Ion Cara terbentuknya ikatan ion Atom yang cenderung melepaskan elektron bertemu dnegan yang cenderung menerima elektron akan membentuk ikatan ion. Ikatan ion adalah ikatan antara ion positif dan negatif, karena partikel yang

muatannya berlawanan tarik menarik. Ion positif dan negatif dapat terbentuk bila terjadi serah terima elektron antara atom. Atom yan melepaskan elektron akan menjadi ion positif, dan sebaliknya yang menerima elektron menjadi ion negatif, seperti Na dan Cl. Secara ringkas dapat dituliskan : Na Na+ + e (Cl2 + 2e2 Cl-)1/2 Na + Cl Na+ + Cl- atau NaCl (senyawa ion)

Contoh lain adalah atom K dengan S, Ca dengan F, dan Mg dengan S. (K K+ + e) x2 S + 2eS22K + S 2K+ + S- atau K2S Ca Ca2+ + 2e F2 + 2e2 FCa + F2 Ca2+ + 2F- atau CaF2 Mg Mg2+ + 2e S + 2eS2Mg + S Mg2+ + S2- atau MgS

21

Jadi, ikatan ion terbentuk melalui proses serah terima elektron. Supaya jumlah elektron yang diberikan suatu atom sama dengan yang diterima atom lain, maka koefisien reaksinya harus disamakan. Catatan : 1) Jumlah elektron yang dilepaskan atau diterima atom harus sesuai dengan kecenderungan atau golongannya. 2) Unsur logam ditulis sebagai monoatom, seperti K, Co, dan Hg. 3) Unsur bukan logam yang berwujud gas ditulis sebagai diatom (H2, O2, N2, F2, Cl2, Br2 dan I2). 4) Unsur karbon, belerang, dan fosfor dituliskan masing-masing sebagai C, S atau S8, dan P4.

Contoh soal 1: Tentukan rumus senyawa antara unsur : a. b. c. d. Litium dengn oksigen Barium dengan iod Aluminium dengan klor Aluminium dengan belerang

Jawab : a. (Li Li+ + e)x4 O2 + 4e2O24Li + O2 4Li+ + 2O2- atau 2Li2O b. Ba Ba2+ + 2e I2 + 2e2IBa + I2 Ba2+ + 2I- atau BaI2 c. (Al Al3+ + 3e) x2 (Cl2 + 2e2 Cl-)x3 2Al +3Cl2 2Al3+ + 6Cl- atau 2AlCl3 d. (Al Al3+ + 3e) x2 (S + 2eS2-)x3 22

2Al + 3S2- 2Al + 3S2- atau Al2S3

Rumus dan nama senyawa ion Menuliskan rumus dan nama senyawa yang sesuai dengan aturan sangat penting dalam ilmu kimia. Aturan untukm senyawa ion adalah sebagai berikut. 1. Mengetahui ion positif (kation) dna ion negatif (anion) serta jumlah muatan masing-masing. Seperti telah dinyatakan, bahwa ion unsur golongan utama mempunyai konfigurasi elektron seperti gas mulia. Akibatnya, muatan ionnya bergantung pada golongan masing-masing unsur.

Tabel 2. Ion positif (kation) dan ion negatif (anion) beberapa unsur golongan utama 1+ Li+ Na+ K+ Rb+ Cs+ 2+ Mg2+ Ca2+ Sr2+ Br2+ 3+ Al3+ 3N3P32O2S2Se2Te21FClBrI-

2. Menuliskan ion positif di depan dan ion negatif di belakang, serta memberi indeks masing-masing ion agar jumlah muatan positif sama dengan muatan negatif. Indeks itu harus sekecil mungkin sehingga didapat rumus empiris. BaI2 bukan I2Ba AlCl3 bukan Cl3Al Al2S3 bukan S3Al2 3. Menuliskan nama senyawa ion dimulai dari ion positif dan kemudian negatifnya serta ditambah akhiran ida. Rumus NaCl Nama Natrium klorida 23

AlI3 K2O MgS CaBr2

Aluminium iodida Kalium oksida Magnesium sulfida Kalsium bromida

Yang dikemukakan di atas hanyalah ion positif golongan utama (IA, IIA, dan IIIA), tetapi harus diingat bahwa unsur golongan transisi juga dapat membentuk ion positif dengan melepaskan elektron orbital s kulit luar, dan juga ada yang diikuti oleh elektron orbital d-nya, contoh Zn2+ dan Fe3+. Zn [Ar] 3d104s2 Fe [Ar] 3d64s2 Zn2+ +2e [Ar] 3d10 Fe3+ +3e [Ar] 3d5

Unsur blok p bagian kiri dan bawah (disebut post transisi) juga bersifat logam dan dapat melepaskan elektron orbital p dan jika perlu orbital s kulit terluarnya, contohnya Sn. Sn [Kr] 4d105s25p2 Sn2+ + 2e [Kr] 4d10

Jadi, ternyata elektron kulit terluar ion unsur transisi dna post transisi tidak sama dengan gas mulia sehingga sulit meramalkan jumlah muatan ionnya. Selain itu, sebagian unsur ini mempunyai ion lebih dari satu macam. Tabel 3. Bentuk kation dari beberapa unsur golongan transisi dan post transisi Krom Mangan Besi Kobalt Nikel Tembaga Perak Cr2+ Mn2+ Fe2+ Co2+ Ni2+ Cu+ Ag+ Cr3+ Mn3+ Fe3+ Co3+ Cu2+ Emas Seng Kadmium Raksa Timah Timbal Bismut Au+ Zn2+ Cd2+ Hg2+ Sn2+ Pb2+ Bi3+ Au3+ Hg2+ Sn4+ Pb4+ 24

Untuk membedakan satu ion dengan yang lain, dibelakang nama ion diberi angka sesuai muatannya, atau memberi akhiran tertentu, seperti contoh berikut : Fe2+ ion besi (II) atau ion feri Fe3+ ion besi (III) atau ion fero Cu+ Ion tembaga (I) atau ion kupro Cu2+ ion tembaga (II) atau ion kupri Hg+ ion raksa (I) atau ion merkuro Hg2+ ion raksa (II) atau ion merkuri Au+ ion emas (I) atau ion auro Au3+ ion emas (III) atau ion auri Cr2+ ion krom (II) atau ion kromo Cr3+ ion krom (III) atau ion kromi Mn2+ ion mangan (II) atau ion mangano Mn3+ ion mangan (III) atau ion mangani Co2+ ion kobalt (II) atau ion kobalto Co3+ ion kobalt (III) atau ion kobalti Sn2+ ion timah (II) atau stano Sn4+ ion timah (IV) atau stani Pb2+ ion timbal (II) atau plumbo Pb4+ ion timbal (IV) atau plumbi

Contoh soal 2: Tuliskan rumus dan nama senyawa antara : a. b. c. d. e. Besi dengan klor Emas dengan belerang Raksa dengan belerang Seng engan flour Perak dengan oksigen

Jawab : 25

a.

FeCl2 fero kloroda atau besi (II) klorida FeCl feri kloroda atau besi (II) klorida Au2S auro sulfida atau emas (I) sulfida Au2S3 auri sulfida atau emas (III) sulfida HgBr merkuro bromida atau raksa (I) bromida HgBr2 merkuri bromida atau raksa (II) bromida

b.

c.

d. e.

ZnF2 seng flourida atau seng (II) flourida Ag2O perak oksida atau perak (I) oksida Ion tidak hanya terbentuk dari satu atom (monoatom) tetapi juga

dari sekelompok atom yang disebut ion poliatom, contohnya ion nitrat bermuatan negatif satu. Artinya muatan negatif bukan hanya untuk N atau salah satu O, tetapi milik keempat atom, dan biasa dituliskan NO3-. ion poliatom yang banyak ditemukan tercantum pada tabel 5. Jika diperhatikan, ternyata kebanyakan ion poliatom mengandung oksigen, dengan nama berakhiran at dan yang lain diberi kahiran it. Cara terbentuknya ion ini akan dibicarakan pada pasal 6.3. Rumus dan nama senyawa ion poliatom sama dnegan monoatom, tetapi anion yang poliatom tidak perlu ditambah akhiran ida. Indeks ion poliatom harus ditulis setelah diberi tanda kurung.

Tabel 4. Contoh penulisan indeks ion poliatom setelah diberi tanda kurung Ion 2NH4+ + S2Ca2+ + 2NO32NH4+ + SO42Fe3+ + 3OHAl3+ + 3CH3COOZn2+ + Cr2O72Rumus (NH4)2S Ca9NO3)2 (NH4)2SO4 Fe(OH)3 Al(CH3COO)3 ZnCr2O7 Nama Amonium sulfida Kalsium nitrat Amonium sulfat Feri hidroksida Aluminium asetat Zink dikromat

Tabel 5. Ion poliatom yang umum ditemukan Kation NH4+ H3O+ Nama Amonium Hidronium 26

N2H5+ Anion CO32HCO3C2O42CNNO3OHAnion SO42SO32HSO4HSO42ClO4ClO3ClO2ClOPO43HPO42-

Hidrozinium Nama Karbonat Bikarbonat Oksalat Sianida Nitrat hidroksida Nama Sulfat Sulfit Bisulfat Bisulfit Perklorat Klorat Klorit Hipoklorat Fosfat Hidrogen fosfat Anion H2PO4Cr2O4Cr2O72MnO4CH3COOCNSS2O32AlO2IO3Nama Dihidrogen fosfat Kromat Dikromat permanganat asetat tiosianat Tiosulfat Aluminat Iodat

Sifat senyawa ion Senyawa ion yang terbentuk dari ion positif dan negatif tersusun selang-seling membentuk molekul raksasa dan akan mempunyai sifat tertentu. 1) Titik didih dan titik lebur Daya tarik antara ion positif dan negatif dalam senyawa ion cukup besar, dan satu ion berikatan dengan beberapa ion yang muatannya berlawanan. Akibatnya, titik lebur dan titik didih senyawa ion lebih tinggi dibandingkan senyawa kovalen. Tabel 6. Perbandingan titik lebur dan titik didih beberapa senyawa ion dan kovalen Senyawa ion NaCl CaCl2 MgCl2 Senyawa kovalen Titik Lebur 800 772 712 Titik didih 1470 1412 1412

27

HCl CO NH3 CH4 2) Kelarutan

-86,8 -199 -77,7 -162

-114,2 -192 -33,4 -33

Pada umumnya senyawa ion larut dalam pelarut polar (seperti air dan amonia), karena sebagian molekul pelarut menghadapkan kutub negatifnya ke ion positif, dan sebagian lagi menghadapkan kutub positifnya ke ion negatif. Akhirnya, ion-ion terpisah satu sama lain.

3) Hantaran listrik Hntaran listrik terjadi bila medium mengandung partikel bermuatan yang dapat bergerak bebas, seperti elektron dalam sebatang logam. Senyawa ion berwujud padat tidak menghantarkan listrik karena ion positif dan negatif terikat kuat satu sama lain. Akan tetapi cairan senyawa ion akan menghantarkan listrik karena ion-ionnya menjadi lepas dan bebas. Hal ini dapat terjadi bila dilarutkan dalam pelarut polar (misalnya air) karena terionisasi.

4) Kekerasan Karena kuatnya ikatan antara ion positif dan negatif, maka senyawa ion berupa padatan keras dan berbetuk kristal. Permulaan kristal itu tidak mudah digores atau digeser.

6.

Ikatan Logam Pada pembahasan ini akan diperkenalkan mengenai ikatan dalam logam, dan akan dijelaskan bagaiman terjadinya ikatan logam dan mengapa terjadi perbedaan kekuatan ikatan logam dari logam yang satu dengan logam yang lainnya.

Apakah Ikatan Logam ? 28

1) Ikatan Logam Natrium (Gol. I A) Logam cenderung memiliki titik leleh dan titik didih yang tinggi untuk menunjukkan ikatan yang kuat antar atomnya. Bahkan untuk sebuah logam natrium (titik lebur 97,8o C), meleleh pada suhu yang lebih tinggi daripada unsur Neon. Natrium memiliki struktur elektronik 1s2 2s2 2p6 3s1. Ketika atom natrium berikatan bersama-sama, elektron dalam orbital 3s dari satu atom natrium akan berbagi ruangan dengan elektron yang terikat dari atom tetangganya untuk membentuk orbital molekul dengan ikatan kovalen. Dalam orbital molekul tersebut, elektron dapat bergerak bebas, dan setiap elektron dapat terlepas dari atom induknya, sehingga keadaan seperti ini disebut dengan keadaan terdelokalisasi. Hal yang menjadi dasar terbentuknya ikatan logam adalah adanya penyatuan dari orbital atom terluar yang berisi elektron dan membentuk sistem terdelokalisasi tersebut.

Gambar 19. Ion positif tersebar dalam lautan elektron.

Gambar ini menunjukkan teori elektron bebas, dalam Kristal logam terdapat elektron yang bergerak bebas. Atom melepaskan elektron valensinya sehingga terbentuk ion positif (kation) yang dikelilingi oleh banyak elektron. Dan dari gambar tersebut pandangan yang benar adalah bahwa logam terbuat daripada atom. Setiap atom pusat positif pada gambar mewakili semua sisa atom yang terpisah dari elektron terluar, tetapi elektron tersebut tidak hilang dan tetap ada pada 29

struktur, hanya kemungkinannya tidak memiliki keterikatan pada atom tertentu. Oleh karena itu logam natrium ditulis sebagai Na- bukan Na+.

2) Ikatan Logam Magnesium (Gol. II A) Setiap atom magnesium memiliki lebih dari satu proton di alam inti atom jika dibandingkan dengan atom natrium, sehingga pada atom magnesium tidak hanya akan ada lebih banyak elektron terdelokalisasi, tetapi juga akan terjadi daya tarik yang lebih besar antar elektron tersebut. Kemudian, atom magnesium memiliki jari-jari yang lebih pendek daripada atom natrium , sehingga elektron yang terdelokalisasi lebih dekat ke inti. Dan atom magnesium dapat membentuk ikatan, yaitu ikatan valensi yang lebih banyak dengan atom tetangganya dibandingkan dengan atom natrium. Kedua hal ini menyebabkan terjadinya peningkatan kekuatan logam pada atom magnesium.

3) Ikatan Logam Transisi Titik leleh dan titik didih pada logam transisi cenderung sangat tinggi, karena logam transisisi melibatkan elektron di 3d dan 4s dalam sistem terdelokalisasi. Semakin banyak elektron yang dilibatkan dalam delokalisasi, maka ikatan logam akan semakin kuat.

4) Ikatan Logam pada Logam Cair Ikatan logam, pada logam yang cair tetap ada, meskipun strukturnya telah hancur. Ikatan logam tidak sepenuhya rusak hingga logam tesebut mendidih, Pada pencairan logam, ikatan logam tersebut hanya berubah mejadi kendur namun tidak hancur.

Teori elektron bebas Drude dan Lorentz menyatakan bahwa dalam kristal logam terdapat elektron yang bergerak bebas. Atom melepaskan elektron valensinya 30

sehingga terbentuk ion positif (kation) yang dikelilingi oleh banyak elektron. Teori ini bertolak dari sifat hantaran logam. Sebatang logam dapat menghantarkan listrik karena elektron dapat mengalir dari satu ujung ke ujung lain bila diberi tegangan.

Pendekatan dengan teori ikatan valensi Berdasarkan teori ikatan valensi, elektron valensi atom logam dapat membentuk pasangan terikat dengan elektron valensi atom lain di dekatnya. Pasangan ini tidak tetap antara dua atom, tetapi terjadi sesaat dan pindah membentuk pasangan dengan atom tetangga lain. Proses pemindahan ini berlangsung sangat cepat sehingga tidak dapat diamati, contohnya kalium. Seperti pada gambar 20.

Pendekatan dengan teori orbital molekul Dalam logam yang berupa molekul raksasa, tidak terdapat molekul atom melainkan orbital molekul raksasa itu. Karena semua elektron atom logam berada dalam orbital molekul, maka atom-atom tersebut terikat kuat satu sama lain. Gambar 20. Atom K dapat membentuk pasangan elektron sesaat dengan atom K lain di sekitarnya

KK K-K KK K-K KK K-K

K K

K-K K K-K K

KK K-K

K K K - K+ K K- K K KK-K K

K+ K - K K KK-K K 31

KK K- K

Elektron dalam orbital molekul dapat tereksitasi keluar bila diberi energi potensial, sehingga logam dapat mengahantarkan arus listrik (konduktor).

Sifat logam Atom logam berikatan kuat dengan atom logam sekitarnya. Jika diberi tekanan maka sebaris atau selapis atom itu dapat bergeser kedudukannya, dan kemudian dapat berikatan lagi dengan atom yang di sampingnya. Akibatnya, logam dapat ditempa, dibengkokkan, atau dibentuk sesuai dengan keinginan.

7.

Gaya van der Waals Banyak bukti menunjukkan bahwa ada gaya tarik antar molekul, contohnya pada Cl2 Cl Cl
........................... Gaya van der Waals

Cl

Cl

Gaya ini disebut gaya van der waals dan sangat lemah dibandingkan ikatan ion dan kovalen. Gaya van der waals dapat terjadi antara partikel yang sama atau berbeda. Gaya ini terjadi karena adanya sifat kepolaran partikel tersebut. Makin kecil kepolaran makin kecil pula gaya van der waals-nya. Kepolaran partikel ada yang permanen dan ada yang tidak. Kepolaran permanen terjadi akibat kepolaran ikatan dalam molekul, sedangkan kepolaran tidak permanen karena terinduksi oleh partikel bermuatan sehingga molekul bersifat polar sesaat secara spontan. Gaya van der waals dibagi berdasarkan kepolaran partikelnya sebagai berikut

32

1) Antaraksi ion-dipol Partikel yang berbeda dapat saling berikatan atau tarik-menarik bila yang pertama adalah ion dan yang lain molekul polar (dipol). Gaya tarik listrik ini disbut antaraksi ion-dipol, contohnya: H+ + H2O H3O+ Ag+ + 2NH3 Ag(NH3)2+ Al3+ + 6H2O Na+ + nH2O 2) Antaraksi dipol-dipol Antaraksi antara molekul polar 9dipol) terjadi antara ekor dan kepala. artinya, kutub positif molekul yang satu tarik-menarik dengan kutub negatif yang lain. Ikatan hidrogen termasuk antaraksi jenis ini.Antaraksi dipol-dipol antara molekul yang berbeda merupakan faktor yang menentukan kelarutan zat dalam pelarut. Al(H2O)63+ Na(OH2)n+

3) Antaraksi ion-dipol terinduksi Antaraksi ion-dipol terinduksi adalah mokelul netral menjadi dipol akibat induksi partikel bermuatan yang berada di dekatnya. Jika induksi disebabkan oleh ion, maka terjadi antaraksi antara ion tersebut dengan molekul dipol yang terinduksi sehingga disebut antaraksi iondipol terinduksi.. Contohnya: I- + I2 I3Hg2+ + Hg Hg22+ Pada pembahasan ini akan menjelaskan mengenai asal-usul dari dua bentuk antaraksi antar molekul yang lemah- gaya dispersi van der waals, dan antaraksi dipol-dipol.

Apa Daya Tarik Antar Molekul Itu? 5) Antarmolekul vs Intramolekul

33

Antaraksi antarmolekul adalah antaraksi antara satu molekul dengan molekul tetangganya. Sedangkan kekuatan daya tarik tersendiri yang memegang molekul individu bersama (misal, ikatan kovalen) dikenal sebagai antaraksi intramolekul. Dua kata ini pada kenyataannya adalah sejenis, sehingga yang dipergunakan dalam pembahasan selanjutnya hanyalah kata antarmolekul. Selanjutnya, semua molekul nantinya akan mengalami daya tarik antarmolekul, meskipun dalam beberapa kasus mereka terjadi antaraksi yang sangat lemah.

6) Gaya Van Der Waals : Gaya Dispersi Gaya dispersi merupakan salah satu dari dua jenis gaya van der waals, gaya dispersi ini disebut juga dengan gaya London. Asal gaya dispersi van der waals, yaitu : : molekul nonpolar memiliki sebaran muatan (awan elektron yang simetris) : namun, pergerakan elektron yang sewaktu-waktu berada lebih dekat ke salah satu ujung molekul, mengakibatkan ujung yang lain kelebihan

elektron dan bermuatan negative (-), sementara ujung yang lainnya akan kekurangan elektron, sehingga bermuatan positif (+). Sesaat kemudian elektron akan kembali bergerak ke ujung yang lain, dan membalikkan ini polaritas dikenal molekul, dengan

peristiwa-peristiwa

pembentukan dipol sesaat. Kemudian, bagaimana dipol sesaat tersebut dapat

menimbulkan gaya tarik antarmolekul?

Kiri

Kanan

34

Sebuah molekul yang memiliki polaritas sementara (dipol sesaat) akan didekati oleh salah satu molekul non polar. Pada kenyataannya, salah satu molekul cenderung memiliki polaritas yang lebih besar pada waktu yang sama, sehingga akan menjadi dominan terhadap molekul yang lainnya. Pada diagram di atas, dipol sesaatnya (sebelah kiri), di sisi kanan bermuatan positif dan di sisi kirinya bermuatan negatif. Hal ini selanjutnya mengakibatkan molekul non polar yang berada di sebelah kanan, elektronnya akan cenderung tertarik oleh ujung yang agak positif pada bagian sebelah kiri, peristiwa ini mengakibatkan terbentuknya dipol terimbas/terinduksi untuk molekul non polar yang mendekati dipol sesaat dan berorientasi sedemian rupa, sehingga sisi kanan dari dipol terinduksi menjadi bermuatan negatif.

Sesaat kemudian, elektron yang berada pada dipole sesaat akan bergerak ke ujung yang lain. Dalam melakukannya mereka akan menolak elektron yang berada pada dipol terinduksi.

Polaritas kedua molekul adalah berkebalikan, tetapi masih ada muatan positif (+) dan negatif (-). Selama molekul tetap berdekatan satu dengan yang lainya, polaritas akan terus berfluktuasi dalam sinkronisasi sehingga daya tarik antarmolekul selalu dipertahankan. Dan selama molekul selalu berdekatan, maka gerakan disinkronisasi dari elektron dapat terjadi atas sejumlah besar molekul.

35

Diagram ini menunjukkan bagaimana seluruh kisi molekul dapat disatukan dalam bentuk padat dengan gaya dispersi van der waals. Kekuatan gaya dispersi antarmolekul adalah lebih lemah dari pada ikatan kovalen dalam molekul. Dan ukuran daya tarik tersebut bervariasi tergantung dengan ukuran serta bentuk molekul. Semakin banyak elektron yang dimiliki, dan semakin jauh elektron tersebut dapat bergerak, maka akan semakin besar ukuran dipole sesaat, yang akan mengakibatkan semakin besar gaya dispersi. Dan hal ini juga menunjukkan bahwa semakin besar ukuran molekul, maka molekul tersebut akan memiliki titik didih yang lebih tinggi pula. Bentuk molekul juga penting. Molekul yang tipis panjang dapat mengembangkan dipol sesaatnya (pergerakan elektronnya) lebih besar daripada molekul yang pendek dan gemuk, meskipun mempunyai jumlah elektron yang sama. Molekul tipis panjang juga bias tersusun erdekatan secara bersama-sama. Sebagai contoh, molekul hidrokarbon butana dan 2-

metilpropana keduanya memiliki rumus molekul C 4 H 10, tetapi atomatom disusun berbeda. Pada butana atom karbon disusun pada rantai tunggal, tetapi 2-metilpropana adalah sebuah rantai yang lebih pendek dengan sebuah cabang.

Butana memiliki titik didih yang lebih tinggi karena gaya dispersi yang lebih besar. Molekul-molekul lebih panjang (dan

36

mengatur dipol sesaat lebih besar) dan bisa tersusun lebih dekat bersama-sama daripada molekul 2-metilpropana.

7) Gaya Van Der Waals : Interaksi dipol-dipol Semua antaraksi antarmolekul secara kolektif dikenal sebagai gaya van der Waals. Berbagai jenis antaraksi antar molekul pertama kali dijelaskan oleh orang yang berbeda dan pada waktu yang berbeda pula. Gaya dispersi, misalnya, digambarkan oleh London pada tahun 1930; dan interaksi dipol-dipol oleh Keesom pada tahun 1912. Sangat penting untuk diketahui, bahwa semua molekul mengalami gaya dispersi. Tetapi interaksi dipol-dipol bukan merupakan pilihan dari gaya dispersi, interaksi ini terjadi di luar gaya dispersi. Molekul yang memiliki dipol permanen akan memiliki titik didih yang lebih tinggi dibandingkan molekul yang hanya memiliki dipol sesaat. Interaksi dipol-dipol lebih kuat jika dibandingkan dengan gaya dispersi. Dan pengaruh dari interaksi ini hanya benar-benar dapat dilihat jika kita membandingkan dua molekul dengan jumlah elektron yang sama dan dengan ukuran yang sama pula. Misalnya, titik didih etana, CH3CH3, dan flouromethane, CH3F.

Keduanya memiliki jumlah elektron yang identik, ukurannya pun mirip, sehingga keadaan sama. Titik didih yang lebih tinggi dari fluoromethane disebabkan oleh dipol permanen yang besar pada molekul karena 37 gaya dispersi kedua molekul harus dalam

elektronegativitas tinggi fluor. sekitar 10o.

Namun, ketika diberi polaritas

permanen yang besar pada molekul, titik didih hanya meningkat

Berikut ini adalah contoh lain yang menunjukkan dominasi kekuatan dispersi. Trichloromethane, CHCl
3,

merupakan molekul

yang sangat polar karena elektronegativitas dari tiga klor. Akan ada antaraksi dipol-dipol yang cukup kuat antara satu molekul dan tetangganya.

Di sisi lain, tetraklorometana, CCL 4, adalah non-polar. Bagian luar molekul secara seragam tersusun ke segala arah. CCL mengandalkan hanya pada gaya dispersi.
4

harus

Jadi yang memiliki titik didih tertinggi?

CCL 4, karena

merupakan molekul yang lebih besar dengan lebih banyak elektron. Kenaikan gaya dispersi lebih baik daripada interaksi dipol-dipol.. Titik didihnya adalah: CHCl3 = 61,2oC dan CCl4 = 76.8oC mengganti hilangnya

Faktor yang mempengaruhi ikatan logam Faktor yang mempengaruhi ikatan logam, yaitu: 1) Jumlah elektron valensi (semakin banyak elektron valensi maka semakin kuat ikatan logam) 2) Ukuran atom (semakin kecil jari-jari atom semakin kuat ikatan logam) 38

3) Struktur logam (semakin kompak struktur logam maka semakin kuat ikatan logam)

C.

ELEKTRONEGATIVITAS Pada pembahasan ini, menjelaskan apa, bagaimana dan mengapa elektronegativitas bervariasi pada tabel periodik serta bagaimana perbedaan elektronegativitas mempengaruhi jenis ikatan dan menjelaskan apa yang dimaksud dengan ikatan polar dan molekul polar Elektronegativitas adalah ukuran kecenderungan untuk menarik pasangan elektron yang dipakai bersama dalam ikatan kovalen.

(i)

(ii)

(iii)

Pasangan elektron yang dipakai bersama ditarik oleh kedua inti atom. Jika intinya (A dan B) sama, pasangan itu akan berada di tengah inti atom, pada gambar (i). Jika intinya berbeda (A dan B), pasangan lebih cenderung ke atom yang lebih kuat daya tariknya, pada gambar (ii) yang mana B sedikit lebih elektronegatif dari A sehingga B sedikit negatif dan A sedikit positif. Contohnya terdapat pada kebanyakan ikatan kovalen, ikatan hidrogen-klor pada HCl atau ikatan hidrogen-oksigen dalam air yang khas. Sedangkan pada gambar (iii) B jauh lebih elektronegatif dari A, sehingga B mempunyai kontrol penuh terhadap pasangan elektron dan A tidak mempunyai kontrol penuh atas kedua elektron. Daya tarik tersebut biasanya disebut keelektronegatifan unsur. Contohnya molekul H2 atau Cl2. Jadi implikasi dari semua ini adalah tidak ada pembagian yang jelas antara ikatan kovalen dan ikatan ion. Pada ikatan kovalen murni, elektron pasangan berada persis di tengah antara dua atom. Pada ikatan polar, elektron telah menarik sedikit ke arah salah satu ujungnya. Tidak adanya perbedaan mengenai elektronegativitas mengarah pada ikatan kovalen murni non-polar.

39

Perbedaan elektronegativitas yang kecil menyebabkan ikatan kovalen polar dan perbedaan yang besar menyebabkan ikatan ion. Berikut ini nilai elektronegativitas:

Polar obligasi dan molekul polar

Diagram hubungan elektronegatifitas dan polaritas ikatan:

40

Diagram hubungan elektronegatifitas dengan ukuran atom:

Pada CCl4, tiap ikatannya adalah ikatan polar

Secara keseluruhan, molekul tersebut bukan merupakan ikatan polar karena tidak memiliki akhir (sisi) yang sedikit negatif dan salah satu yang sedikit positif. Seluruh bagian luar molekul agak negatif, tetapi tidak ada pemisahan keseluruhan baik dari atas ke bawah maupun dari kiri ke kanan.

Sebaliknya pada CHCl3 adalah polar

Hidrogen di bagian atas molekul kurang negatif daripada karbon dan juga kurang positif. Ini berarti bahwa molekul sekarang memiliki sedikit positif 41

atas dan sedikit negatif bawah, dan begitu juga pada seluruh molekul polar. Namun, sebuah molekul polar bisa tidak sebanding dalam hal.

Pola elektronegativitas dalam tabel periodik Pola elektronegatif dalam tabel elektronegatif adalah flour. periodik, unsur yang paling

Tren elektronegativitas di periode Grafik menunjukkan elektronegativitas dari natrium hingga klor yang tidak memiliki elektronegativitas karena tidak membentuk ikatan.

Grafik menunjukkan pola elektronegativitas di Grup 1 dan 7.

Daya tarik sepasang elektron untuk inti tertentu tergantung pada : 42

1. 2. 3.

Jumlah proton dalam inti Jarak dari inti Jumlah elektron screening dalam elektron

Gambar 21. Daya tarik elektron NaCl pada senyawa

Natrium dan klor memiliki ikatan pada tingkat-3. Pasangan elektro disaring dari kedua nuklei oleh 1s, 2s dan elektron 2p, tetapi inti klor memiliki 6 proton lebih banyak di dalamnya. Sehingga pasangan elektron akan tertarik begitu jauh ke arah klorin yang terbentuk ion karena jumlah energi akan bertambah pada inti yang menarik pasangan elektron lebih kuat.

(hidrogen florida)

(hidrogen klorida)

Pasangan ikatan terlindung dari inti flour karena adanya electron 1s2. Pada klorin tersebut terlindung oleh semua elektron 1s22s22p6 . Jika pasangan electron lebih dekat ke inti, daya tarik lebih besar, dan begitu pula sebaliknya.

Kemampuan polarisasi ion positif

Gambar 22. Kemampuan polarisasi ion aluminium terhadap ion klorida

43

Contohnya adalah ion aluminium yang polarisasi ion klorida. Dalam contoh aluminium klorida, pasangan elektron ditarik kembali ke arah aluminium sehingga ikatan memjadi kovalen. Tetapi karena klorin lebih elektronegatif dari aluminium, pasangan elektron tidak akan ditarik setengah antara dua atom sehingga ikatan yang terbentuk akan polar. Faktor-faktor yang mempengaruhi kemampuan polarisasi, yaitu 1. 2. ion positif elektrik memdistorsi ion negatif terdekat densitas muatan pada ion positif

D.

MUATAN FORMAL DAN RESONANSI Saat menentukan strukur lewis sering terdapat beberapa kemungkinan struktur. Misalnya N2O

Struktur yang benar dapat ditentukan dengan muatan formal (Formal Charge atau FC) .

Atau

Contoh:

44

Jumlah elektron ikatan = 2 x jumlah ikatan

Struktur lewis diterima jika muatan formal masing-masing atom = 0 atau muatan formal yang negatif berada di atom yang lebih elektronegatif pada tiap dua atom yang berikatan. a. Struktur A tidak diterima karena muatan formal kedua N = -1 dan O = +1 padahal O lebih elektronegatif dibandingkan N b. Struktur B diterima karena muatan formal yang -1 berada di O yang lebih elektronegatif c. Struktur C diterima karena N kiri dan N kanan memiliki kelektronegatifan sama (keduanya sama-sama nitrogen) sehingga tidak penting mana di antaranya yang negatif.

Struktur B dan struktur C merupakan struktur yang saling resonansi. Struktur resonansi adalah strukur yang memiliki perbedaan posisi elektron, namun posisi atomnya.

Muatan formal Muatan formal adalah suatu langkah untuk mengetahui struktur Lewis mana yang lebih stabil bagi senyawa yang memiliki lebih dari satu struktur Lewis. Kriteria muatan formal 1) Muatan formal kecil (positif atau negatif) lebih disukai daripada besar 2) Muatan sama yang bersebelahan tidak disukai (gaya tolak) 3) Muatan formal dengan nilai lebih negatif harus diposisikan ada pada atom yang elektronegatif

H2SO4 memiliki dua struktur Lewis yang memenuhi :

45

Eksperimen: Ada 2 jenis ikatan antara S dan O pada H2SO4 157 pm (S - O) & 142 pm (S=O) Struktur (2) yang realistis

Alat bantu untuk memilih: Muatan formal MF = e- valensi e- nonikatan e- ikatan Seperti:

Struktur (1) memiliki 3 atom bermuatan energi sangat tinggi (tidak stabil).

Contoh soal: Gunakan konsep muatan formal untuk menentukan manastruktur

hidroksilamina, NH3O, yang terbaik. Penyelesaian

46

Struktur (2) terbaik karena muatan formal semua atomnya adalah nol.

Resonansi Resonansi adalah delokalisasi elektron pada molekul atau ion poliatomik tertentu dimana ikatannya tidak dapat dituliskan dalam satu struktur Lewis. Struktur molekul atau ion yang mempunyai delokaliasi elektron disebut dengan struktur resonan. Masing-masing struktur resonan dapat melambangkan struktur Lewis, dengan hanya satu ikatan kovalen antara masing-masing pasangan atom. Beberapa struktur Lewis digunakan bersama-sama untuk menjelaskan struktur molekul. Namun struktur tersebut tidak tetap, melainkan ada sebuah osilasi antara ikatan rangkap dengan elektron, saling berbolak-balik. Maka dari itu disebut dengan resonansi. Struktur yang sebenarnya mungkin saja adalah peralihan dari dua struktur resonan. Bentuk peralihan (intermediet) dari struktut resonan disebut dengan hibrida resonan. Resonansi dalam kimia diberi simbol garis dengan dua arah panah ().contoh resonansi ozon (O3) Pada ozon, terdapat perpindahan elektron antar inti yang dijelaskan dengan anak panah.

Kebanyakan ikatan dapat dideskripsikan dengan menggunakan lebih dari satu struktur Lewis yang benar (misalnya pada ozon, O3). Dalam diagram lewis (LDS: Lewis dot structure) O3, atom pusat akan memiliki ikatan tunggal dengan satu atom dan ikatan rangkap dua dengan satu atom lainnya. Diagram LDS tidak dapat memberitahukan kita atom mana yang berikatan rangkap; atom pertama dan kedua yang berikatan dengan atom pusat memiliki probabilitas yang sama untuk memiliki ikatan rangkap. Dua struktur yang memungkinkan ini disebut sebagai struktur resonansi. Pada kenyataannya, struktur ozon adalah hibrid resonansi antara dua struktur resonansi yang memungkinkan. Daripada satu ikatan tunggal dan satu ikatan rangkap dua, sebenarnya terdapat dua ikatan 1,5 dengan kira-kira tiga elektron pada setiap atom. 47

Kasus resonansi yang khusus terlihat pada atom-atom yang membentuk cincin aromatik (contohnya benzena). Cincin aromatik terdiri dari atom-atom yang tersusun menjadi lingkaran (dihubungkan dengan ikatan kovalen) dan menurut LDS akan memiliki ikatan tunggal dan rangkap dua yang saling bergantian. Dalam kenyataannya, elektron-elektron cenderung secara merata berada di seluruh ruang cincin. Pembagian elektron pada struktur aromatik seringkali diwakili dengan cincin di dalam lingkaran atom. Struktur titik Lewis (LDS) untuk molekul-molekul beresonansi diperlihatkan dengan menciptakan struktur titik untuk setiap bentuk yang memungkinkan, mengurung struktur-struktur tersebut, dan menghubungkan satu sama lain dengan tanda panah berkepala ganda.

Sifat Umum Resonansi Molekul atau ion yang dapat beresonansi mempunyai sifat-sifat berikut: 1. Dapat dituliskan dalam beberapa struktur Lewis yang disebut dengan struktur resonan. Tetapi tidak satupun struktur tersebut melambangkan bentuk asli molekul yang bersangkutan. 2. Di antara struktur yang saling beresonansi bukanlah isomer. Perbedaan antar struktur hanyalah pada posisi elektron, bukan posisi inti. 3. Masing-masing struktur Lewis harus mempunyai jumlah elektron valensi dan elektron tak berpasangan. yang sama. 4. Ikatan yang mempunyai orde ikatan yang berbeda pada masing-masing struktur tidak mempunyai panjang ikatan yang khas. 5. Struktur yang sebenarnya mempunyai energi yang lebih rendah dibandingkan energi masing-masing struktur resonan.

Contoh: Bentuk kanonik (resonansi) benzena adalah

48

Jika

persamaan

gelombangnya

diselesaikan,

maka

dengan

memperhitungkan partisipasi bentuk 1 dan bentuk 2 secara seimbang maka diperoleh suatu bentuk yang energinya lebih rendah dari pada energi bentuk 1 dan bentuk 2. Perlu diperhatikan bahwa di dalam menjumlahkan fungsi gelombang pada persamaan di atas, yang boleh dijumlahkan adalah fungsi gelombang bentuk kanonik yang tingkat energinya sama atau paling tidak hampir sama. Perbedaan energi antara molekul yang sebenarnya dengan energi struktur. Lewis yang terendah energinya disebut energi resonansi.

Aturan resonansi Ada beberapa petunjuk penting untuk menuliskan struktur resonansi (biasa disebut struktur kanonik) dan untuk prakiraan secara kualitatif tentang pentingnya. 1) Pergeseran elektron. Struktur resonansi adalah perubahan bolak-balik oleh satu atau sederet. Biasanya satu senyawa dapat dituliskan dengan satu struktur yang baik untuknya, dan beberapa struktur yang lain diturunkan dari struktur pertama tersebut untuk keperluan konsistensi dengan semua sifat-sifatnya yang teramati. Sebagai ilustrasi, kovalensi unsur-unsur di dalam vinil klorida, rumus molekul dan prinsip-prinsip kimia organik klasik mengarah pada struktur 1a sebagai rumus struktur yang baik untuk senyawa tersebut. Akan tetapi bila dikaitkan dengan hasil penghitungan panjang ikatan C-Cl, ikatan tersebut jauh lebih pendek daripada ikatan CCl dalam alkil klorida sederhana (1,78 ), momen dipole-nya lebih kecil (1,44 D) daripada etil klorida (2,05 D), dan lebih inert terhadap nukleofil; maka bentuk struktur 1 dipandang memberi kontribusi yang penting kepada struktur hibrida resonansi vinil klorida. Struktur 2 diturunkan dari struktur 1 melalui dua pergeseran elektron yang melibatkan pasangan elektron bebas dan elektron .

49

2) Struktur-struktur resonansi harus mempunyai elektron tak berpasangan dalam jumlah yang sama. Apabila kedua struktur mempunyai total elektron yang berbeda maka strukturstruktur tersebut menyatakan spesies molekul yang berbeda dan tidak dapat menjadi kontributor resonansi kepada hidrida resonansi yang sama. Akan tetapi ada kemungkinan struktur-struktur mempunyai elektron yang sama tapi berbeda jumlah elektron tak berpasangannya.

Jika elektron tak berpasangan dalam 4 mempunyai spin antiparalel maka elektronelektron tersebut akan bergabung membentuk ikatan dan akan ekuivalen dengan 3. Jika spin antiparalel dalam 5 kemudian bergeser lagi sampai membentuk pasangan elektron

menghasilkan 5 maka pastilah 5 ekuivalen dengan 1. Akan tetapi jika elektron tak berpasngan dalam 4 dan 5 mempunyai spin yang paralel maka struktur-struktur tersebut mempunyai multiplisitas yang berbeda, maka struktur-struktur tersebut bukan kontributor kepada spesiaes molekul yang sama seperti struktur 3.

3) Struktur resonansi yang mengikuti aturan (2) adalah struktur yang paling stabil. Sistem ikatan kovalen dengan dua, empat, atau enam elektron adalah lebih stabil daripada sistem ikatan satu atau tiga elektron. Panjang ikatan C-C dan kekuatan ikatan dalam benzena semuanya sama, dan berada di antara nilai ikatan dalam etana dan etilena. Hal yang perlu dipikirkan adalah ikatan dalam benzena adalah sistem ikatan tiga elektron.

50

Meskipun demikian, sistem ikatan tiga elektron jauh lebih lemah (60 kkal/mol) dibanding dengan ikatan yang ada dalam benzena. Struktur di mana hidrogen mempunyai lebih dari dua elektron dalam kulit valensinya (1s) atau atom unsur-unsur periode kedua mempunyai lebih dari delapan elektron dalam kulit valensinya adalah jauh lebih tidak stabil untuk menjadi kontributor dalam resonansi suatu molekul dalam kondisi normal. Telah menjadi kenyataan bahwa unsur-unsur berusaha untuk mempunyai delapan elektron valensi, dan prinsip ini disebut aturan oktet Lewis. Unsur-unsur dalam periode ketiga dapat menggunakan orbital 3s, 3p, atau 3d dan bukanlah hal yang tidak umum bagi unsur-unsur periode tersebut untuk menampun lebih dari delapan elektron dalam kulit valensinya. Sebagai contoh adalah senyawa belerang dan fosfor.

6a

6b

7a

7a

4) Semakin kovalen ikatan-ikatan yang ada dalam suatu struktur ikatan kovalen, semakin tinggi kestabilannya. Ketika atom-atom saling mendekati satu sama lain di dalam jarak ikatan kovalen, masing-masing orbital valensinya akan berganbung membentuk orbital molekul ikatan atau atom-atom tersebut saling tolakmenolak dengan kuat sampai berpisah. Setiap ikatan akan menambah sekitar 50-100 kkal/mol kepada kestabilan sistem, sedangkan perbedaan kestabilan bentuk resonansi hanyalah satu bagian dari jumlah tersebut, struktur resonansi dengan jumlah ikatan yang lebih besar biasanya akan lebih stabil.

51

5) Struktur ikatan kovalen dipolar umumnya lebih kurang stabil daripada struktur nonpolar. Dua struktur resonansi asam karboksilat (8a dan 8b) mempunyai jumlah ikatan yang sama tetapi 8b kurang stabil karena adanya pemisahan muatan

8a

8b

Semakin jauh terpisah muatan yang tak sejenis, semakin tidak stabil bentuk resonansi tersebut. Oleh karena itu, bentuk resonansi ionik butadiena 9d ialah yang paling tidak stabil, dan 9b yang paling stabil. Tentu saja bentuk non polar 9a yang paling stabil di antara semuanya dan memberikan kontribusi yang paling tinggi kepada hibrida resonansi. Dapat dikatakan bahwa struktur molekul normal adalah yang paling menyerupai 9a.

9a

9b

9c

9d

6) Struktur yang melibatkan muatan formal akan lebih stabil apabila muatan negatif berada pada atom yang paling elektronegatif dan muatan positif pada atom yang paling kurang elektronegatif. Aturan ini menunjukkan bahwa bagi keton, bentuk ionik 10b lebih stabil daripada 10c, dan hal ini diperkuat secara eksperimen dengan momen dipole dan sifat-sifat kimia keton. Jadi jika pereaksi karbonil mengadisi ke ikatan rangkap dua suatu keton, bagian positif pengadisi selalu masuk kepada atom oksigen. 52

10 a

10 b

10 c

7) Semakin berdekatan derajat kestabilan struktur-struktur resonansi semakin tinggi derajat resonansinya. Sistem yang melibatkan struktur-struktur ikatan valensi yang ekuivalen mempunyai derajat resonansi yang tinggi. Spesies-spesies tersebut boleh bermuatan atau tidak bermuatan. Beberapa contoh sebagai berikut:

Di dalam hal tersebut di atas, muatan berpindah-pindah sehingga memberikan efek penyebaran muatan dan menghindari akumulasi muatan berlebih pada satu atom. Prinsip elektronetralitas Pauling ini diketahui mempunyai efek penstabil. Resonansi struktur-struktur yang mempunyai jumlah ikatan yang sama (disebut resonansi isovalen) memberikatn

53

kontribusi beberapa kali lipat daripada jika struktur kontributor mempunyai jumlah ikatan yang berbeda.

8) Resonansi hanya dapat terjadi antara struktur yang hubungannya sangat dekat di mana posisi semua inti atom relatif sama. Hal ini harus karena berguna untuk membatasi antara resonansi dengan isomerisomer. Isomer adalah kenyataan sedangkan struktur resonansi adalah hipotetik dan hanya pendekatan kepada struktur nyata.

Efek resonansi Resonansi selalu menghasilkan perbedaan distribusi kerapatan elektron bila dibandingkan dengan tidak adanya resonansi dalam suatu molekul. Sebagai contoh, jika 11 adalah struktur nyata anilin, kedua pasangan elektron bebas pada nitrogen akan sepenuhnya terletak pada atom tersebut. Tetapi karena struktur nyata anilin bukanlah 11, tapi hibrida yang merupakan sumbangan dari bentuk-bentuk kanonik seperti yang diperlihatkan maka kerapatan elektron bebas tidak hanya terpusat pada nitrogen namun tersebar merata ke dalam cincin. Penurunan kerapatan elektron pada satu posisi ini disebut efek resonansi atau mesomeri. Dapat dikatakan bahwa NH2 berkontribusi atau mendonorkan elektronnya ke cincin melalui efek resonansi, meskipun tidak ada kontribusi yang benar-benar terjadi. Efek ini muncul dari fakta berubahnya posisi elektron dari posisi yang diharapkan di mana resonansi tidak ada.

11. Struktur nyata anilin

Di dalam amoniak di mana resonansi tidak ada, pasangan elektron bebas berlokasi pada nitrogen. Jika satu atom hidrogen pada amoniak diganti 54

dengan cincin benzena maka elektron akan tertarik oleh efek resonansi, persis sama dengan jika satu gugus metil menggantikan satu hidrogen benzena, elektron akan disumbangkan dari metil oleh efek medan. Ide pemberian atau penarikan elektron hanya muncul dari proses membandingkan suatu senyawa dengan senyawa yang sangat mirip, atau senyawa nyata dengan bentuk kanonik.

E.

STRUKTUR MOLEKUL TERISOLASI: SIFAT IKATAN KIMIA KOVALEN Struktur molekul yang stabil ditentukan oleh susunan 3D atom-atom dalam molekul itu: 1) Panjang ikatan ukuran molekul (jarak antarinti atom dalam ikatan tertentu) 2) Sudut ikatan bentuk molekul (orientasi relatif dua ikatan yang berdekatan) Vibrasi molekul panjang & sudut ikatan berubah-ubah nilai rerata diukur dengan spektroskopi & difraksi sinar-X.

1.

Panjang dan Energi Ikatan Panjang ikatan adalah Jarak antara atom-atom di dalam molekul adalah sifat khas molekul dan dapat memberikan informasi berharga apabila dibandingkan dengan ikatan yang sama dalam molekul yang berbeda.

55

Tabel 7. Panjang dan energi ikatan 1 golongan: Z ukuran atom panjang ikatan energi ikatan Contoh: Panjang ikatan F2 < Cl2 < Br2 < I2; ClF < ClBr Energi ikatan HF > HCl > HBr > HI

Anomali energi ikatan F2 << Cl2 > Br2 > I2 kuatnya tolak-menolak antar atom F yang sangat elektronegatif N2 >> O2 >> F2 faktor orde ikatan

Panjang ikatan dari sepasang atom tertentu hanya berubah sedikit dari satu molekul ke molekul lain, sedangkan energi ikatan tidak begitu terulangkan (+10%). Contoh:

2.

Orde Ikatan Suatu ikatan kovalen mempunyai panjang dan energi tertetu. Panjang ikatan kovalen adalah jarak antara dua inti yang berikatan. Contohnya ikatan dalam H2. Energi ikatan adalah energi yang diperlukan 56

untuk memisahkan kedua atom sehingga menghasilkan partikel bebas atau radikal bebas. Contoh ikatan H H dalam H2: ( ) dan ikatan C- C dalam C2H6 H H C H H H H H C. + :C H H ( ) ( )

H ikatan H adalah (g) jumlah ikatan kovalen H (g) (g) dua Orde yang terdapat H pada atom yang berikatan.

Sebagai contoh:

etana

etena

etuna

Orde ikatan karbon-karbon pada etana, etena, dan etuna (asetilen) berturut-turt adalah 1, 2, dan 3. Kerapatan lektron di antara dua atom yang sejenis bergantung pada orde ikatan. Makin besar orde ikatan makin besar kerapatan dan energinya, tetapi panjang ikatan makin kecil. Contoh ikatan C C, O O, dan C N. Seperti pada tabel berikut:

Ikatan CC C=C CC OO O=O CN CN

Orde Ikatan

Panjang Ikatan (pm) 154 137 120 143 123 147 116

1 2 3 1 2 1 3

Energi Ikatan Frekuensi (kJ mol-1) Vebrasi (Hz) 370 3,0 x 1013 699 4,9 x 1013 960 6,6 x 1013 350 3,2 x 1013 750 5,2 x 1013 300 3,7 x 1013 730 6,8 x 1013 57

Tabel 8. Variasi orde ikatan dengan sifat-sifat lainnya

Orde ikatan rangkap juga ada pada ikatan antaratom selain C dan antaratom tak sejenis, seperti pada tabel berikut:

Tabel 9. Orde ikatan rangkap pada ikatan antaratom selain C

F.

STRUKTUR MOLEKUL : TEORI VSEPR 1. Teori VSEPR Struktur lewis hanya menunjukkan bentuk molekul secara dua dimensi. Bentuk molekul sebanarnya (3D) dapat ditentukan dengan teori domain (pengembangan dari VSEPR). Ide dasar teori VSEPR adalah adanya tolakan antara pasangan elektron sehingga pasangan elektron tersebut akan menempatkan diri pada posisi sejauh mungkin dari pasangan elektron lainnya. Posisi pasangan elektron satu dengan yang lain yang semakin berjauhan akan menyebabkan tolakan antar mereka menjadi semakin kecil. Pada posisi yang paling jauh yang dapat dicapai, tolakan antar pasangan elektron menjadi minimal. Tolakan antar pasangan elektron terjadi antara pasangan elektron non-ikat yang terlokalisasi pada atom pusat dan elektron ikat secara ikatan koordinasi. Teori VSEPR mengasumsikan bahwa masing-masing molekul akan mencapai geometri tertentu sehingga tolakan pasangan antar elektron di kulit valensi menjadi minimal. Teori VSEPR, memaparkan prosedur untuk memprediksi bentuk molekul dengan energi potensial terendah sebagai akibat adanya tolakan pasangan elektron. 58

Perkiraan bentuk molekul berdasarkan teori VSEPR Teori VSEPR mengasumsikan bahwa setiap atom akan mencapai bentuk dengan tolakan antar elektron yang dalam kulit terluar seminimal mungkin. Aplikasi teori VSEPR pada senyawa sederhana dapat dilihat pada Gambar 23.

Gambar 23. Struktur Lewis dan Bentuk Molekul BeF2, BF3, CH4, PF5 dan SF6. Pada BeF2 tidak ada lagi pasangan elektron non-ikat, karena semua elektron dipakai untuk berikatan. Pasangan elektron akan saling menolak satu dengan yang lain. Tolakan antar pasangan elektron minimal bila kedua pasangan elektron menempati posisi yang sejauh mungkin. Berdasar kenyataan tersebut, kedua atom F akan menempati posisi yang saling berseberangan. Teori VSEPR memprediksi bentuk molekul BF2 adalah linear dengan sudut ikat F-Be-F 1800. Ada tiga tempat menemukan elektron di atom pusat ion boron triflorida (BF3). Tolakan antar pasangan elektron dapat diminimalkan 59

dengan mengatur ketiga pasangan elektron ke ketiga sudut segitiga. VSEPR memprediksi bentuk molekul BF3 adalah segitiga datar dengan suduk ikat F-B-F 1200. Molekul BeF2 dan BF3 merupakan molekul dua dimesional, dimana atom-atom berada pada bidang yang sama. Jika metana (CH4) ditempatkan pada bidang dua dimensi, maka metana akan mengadopsi bentuk molekul
o

segiempat datar dengan sudut ikat H-C-H 90 . Jika metana ditempatkan pada bidang 3 dimensi, metana akan mengadopsi bentuk molekul tetrahedral dengan sudut ikat H-C-H 109 28 Tolakan antar kelima pasangan elektron di kulit terluar atom belerang dalam molekul PF
5 o

dapat

diminimalkan

dengan

cara

mendistribusikan elektron-elektron tersebut ke sudut-sudut trigonal bipiramidal. Tiga pasangan elektron dalam trigonal bipiramidal berada di
o

posisi ekuatorial dengan sudut ikat F-S-F sebesar120 , dan dua pasangan di posisi aksial (posisi yang tegak lurus dengan bidang ekuatorial) dengan
o

sudut ikat F-S-F sebesar 90 . Terdapat 6 atom F yang terikat secara langsung pada atom pusat SF6. Tolakan antara keenam pasangan elektron tersebut diminimalkan dengan cara mendistribusikan elektron-elektron ke sudut-sudut oktahedron. Istilah oktahedron secara literatur berarti delapan sisi, tetapi dalam konteks ini oktahedron diartikan sebagai bangun yang mempunyai enam sudut. Untuk menggambarkan bentuk molekul SF6, tempatkan atom-atom F di sisi yang berseberangan sepanjang sumbu X, Y dan Z yang melewati atom S pada sistem koordinat Cartesian.

Peranan ikatan rangkap dua dan rangkap tiga dalam teori VSEPR Senyawa yang mengandung ikatan rangkap dua atau tiga, memainkan peranan yang penting pada penentuan bentuk molekul suatu senyawa. Geometri di sekitar atom pusat ditentukan oleh banyaknya tempat ditemukannya pasangan elektron, bukan ditentukan oleh banyaknya 60

pasangan elektron valensi. Struktur Lewis karbondioksida dan ion karbonat disajikan pada Gambar 24.

Gambar 24. Struktur Lewis CO2 dan CO32Berdasar Gambar 24, terdapat empat pasangan elektron yang terikat pada atom C dalam molekul CO , tetapi hanya dua tempat dimana
2

elektron dapat ditemukan, yaitu di ujung kiri dan kanan ikatan rangkap C=O. Gaya tolak antar pasangan elektron menjadi minimal apabila kedua ikatan rangkap C=O berada pada posisi yang berseberangan dan letaknya sejauh mungkin. Teori VSEPR memprediksi bentuk molekul CO adalah
2 o

linear, seperti halnya BeF , dengan sudut ikat 180 .


2

Berdasar struktur Lewis ion karbonat, terdapat empat pasangan elektron pada atom pusat (atom C). Pasangan elektron tersebut terlokalisasi di tiga tempat, yaitu di dua ikatan tunggal C-O, dan 1 ikatan rangkap dua C=O. Tolakan antar pasangan elektron diminimalkan dengan cara mendistribusikan ketiga atom oksigen ke sudut-sudut segitiga ekuilateral. Berdasarkan hal tersebut dapat diprediksikan bahwa ion karbonat mengadopsi bentuk molekul segitiga datar (trigonal planar),
o

seperti pada BF , dengan sudut ikat 120 .


3

Aturan elektron non-ikat pada teori VSEPR Elektron valensi pada atom pusat pada NH
3

dan

HO
2

didistribusikan ke sudut tetrahedron. Teori VSEPR memprediksikan elektron valensi atom pusat dalam amonia dan air akan mengarah ke sudut tetrahedron, seperti yang terlihat pada Gambar 25. 61

Gambar 25. Distribusi Elektron dan Bentuk Molekul NH3 dan H2O Karena elektron non-ikat tidak bisa ditempatkan pada posisi yang akurat, prediksi bentuk molekul tidak bisa dilakukan secara langsung. Tetapi hasil yang dikemukakan oleh teori VSEPR dapat digunakan untuk memprediksi posisi atom pusat dalam molekul. Posisi atom pusat ini ditentukan secara eksperimental. Berdasarkan posisi atom pusat amonia, VSEPR memprediksikan bahwa molekul amonia mengadopsi bentuk trigonal bipiramidal, dengan nitrogen berada di puncak piramid. Sedangkan air mengadopsi bentuk bengkok atau menyudut. Jika teori VSEPR diperluas terhadap molekul yang elektronnya terdistribusi ke sudut trigonal bipiramidal, pertanyaan yang muncul adalah: Elektron non-ikat akan berada pada posisi aksial ataukah ekuatorial? Secara eksperimen, umumnya elektron non-ikat menempati posisi ekuatorial dalam trigonal bipiramidal. Untuk memahami hal itu, harus ditekankan bahwa elektron nonikat menempati ruang yang lebih besar dibandingkan elektron ikat. Posisi elektron non-ikat berdekatan dengan salah satu inti atom, dan hal ini yang berkaitan dengan ruang yang ditempati dimana elektron non-ikat menyesuaikan diri dengan ruang yang ada tetapi tetap berdekatan dengan salah satu inti atom. Keberadaan pasangan elektron non-ikat akan sedikit mengubah situasi pembentukan geometri molekul senyawa. Tiga tipe tolakan yang terjadi dimulai dari gaya tolak yang terkecil, adalah: a. Tolakan antara pasangan elektron ikat dengan pasangan elektron ikat

62

b.

Tolakan antara pasangan elektron ikat dengan pasangan elektron nonikat

c.

Tolakan antara pasangan elektron non-ikat dengan pasangan elektron non-ikat.

Karena elektron non-ikat menempati ruang yang lebih besar, menyebabkan gaya tolak antar elektron non-ikat menjadi relatif besar, gaya tolak antara pasangan elektron non-ikat dengan elektron ikat menjadi lebih kecil dan gaya tolak antar pasangan elektron ikat menjadi jauh lebih kecil. Posisi pasangan elektron non-ikat pada molekul SF4 disajikan pada Gambar 25.

Gambar 26. Posisi Pasangan Elektron Non-ikat Pada Molekul SF4 Jika elektron non-ikat pada molekul SF4 ditempatkan pada posisi aksial, menyebabkan elektron non-ikat menjadi relatif dekat dengan tiga pasangan elektron ikat yang menempati posisi ekuatorial. Tetapi jika pasangan elektron non-ikat ditempatkan pada posisi ekuatorial, jarak dengan elektron ikat pada posisi aksial menjadi cukup jauh. Hasilnya, jika elektron non-ikat ditempatkan pada posisi ekuatorial, tolakan antara elektron non-ikat dan ikat pada molekul SF menjadi minimal.
4

Aplikasi teori VSEPR pada senyawa SF4, ClF3 dan I3- tersaji pada Gambar 27. Apabila pasangan elektron non-ikat belerang pada molekul SF4 ditempatkan di posisi ekuatorial, bentuk molekul yang paling sesuai adalah bentuk jungkat-jungkit (see-saw). Tolakan antar pasangan elektron di kulit valensi atom klor dalam ClF3 dapat diminimalkan dengan menempatkan kedua pasangan non-ikat dalam trigonal bipiramidal di posisi ekuatorial. Hal ini menyebabkan bentuk paling baik yang diadopsi ClF3 adalah bentuk T. Struktur Lewis dari ion triiodida (I3-) memprediksi 63

distribusi elektron valensi atom pusat dalam trigonal bipiramidal. Bila tiga pasangan elektron non-ikat ditempatkan di posisi ekuatorial, akan didapatkan bentuk linear. Bentuk molekul didasarkan pada distribusi elektron valensi pada bidang oktahedron sehingga lebih mudah digunakan untuk

memprediksikan bentuk molekul karena semua sudut oktahedron adalah identik.

Gambar 27. Struktur Lewis dan Bentuk Molekul SF4, ClF3 dan I3-

Bilangan sterik Penentuan bentuk molekul yang diadposi oleh suatu senyawa dapat dilakukan dengan cara menentukan bilangan sterik (steric number, SN) atom pusat. Bilangan sterik (SN) didefinisikan sebagai penjumlahan atom yang terikat pada atom pusat dan jumlah pasangan elektron non-ikat.

Bilangan sterik molekul ditentukan berdasarkan struktur Lewis senyawa yang bersangkutan. Apabila pada senyawa AB , dengan n adalah
n

atom yang terikat pada atom pusat, tidak terdapat pasangan elektron non64

ikat, maka bilangan sterik atom pusat sama dengan jumlah atom yang terikat pada atom pusat, yaitu n. Ikatan rangkap dua dan tiga dalam penentuan bilangan sterik dihitung sama dengan ikatan tunggal. Misalnya pada molekul CO .
2

terdapat dua ikatan rangkap dua dari atom oksigen yang terikat pada atom pusat C, sehingga tidak ada lagi pasangan elektron non-ikat pada atom C. Maka bilangan sterik CO adalah 2.
2

Pengaturan posisi yang meminimalkan tolakan secara alami tergantung pada jumlah pasangan elektron. Jumlah atom yang terikat pada atom pusat, jumlah pasangan elektron, struktur Lewis dan bentuk molekul yang memberikan energi potensial minimum disajikan pada Tabel 10. Nama Linear Trigonal planar Planar huruf V Tetrahedral Piramida trigonal Planar bentuk V Bipiramida trigonal Bipiramida trigonal Planar bentuk T Linear Oktahedral Piramida segiempat Segiempat datar 90 Sudut ikatan 180 120 Jumlah PEI (X) 2 3 2 4 3 2 5 4 3 2 6 5 4 Jumlah PEB (E) 0 0 1 0 1 2 0 1 2 3 0 1 2 Rumus (AXnEm) AX2 AX3 AX2E AX4 AX3E AX2E2 AX5 AX4E AX3E2 AX2E3 AX6 AX5E AX4E2 Contoh senyawa CO2 BF3 SO2 CH4 NH3 H2O PCl5 SF4 ClF3 XeF2 SF6 BrF5 XeF4

Keterangan: PEI = pasangan elektron ikatan, PEB = pasangan elektron bebas, A= atom pusat, Xn = jumlah atom yang diikat atom pusat, Em = jumlah pasangan elektron bebas 65

Tabel 10. Hubungan jumlah atom yang terikat pada atom pusat dengan pengaturan elektron dan bentuk molekul Jadi, langkah-langkah meramal bentuk molekul sebagai berikut: Langkah-langkah yang digunakan untuk meramal struktur molekul tidak berbeda jauh dengan langkah-langkah yang digunakan untuk menggambar struktur Lewis suatu molekul atau ion poliatomik. Langkahlangkah yang digunakan untuk meramal bentuk molekul sebagai berikut. 1. 2. 3. Menentukan atom pusat. Tuliskan jumlah elektron valensi dari atom pusat. Menentukan jumlah elektron valensi dari masing-masing substituen jika berupa atom. 4. Satu elektron dari substituen dipasangkan dengan satu elektron dari atom pusat sehingga membentuk pasangan elektron (pasangan elektron ikatan, PEI). Perlu diperhatikan bahwa, bahwa jumlah elektron atom pusat tidak selalu memenuhi kaidah oktet. Jika masih terdapat substituen dan masih terdapat elektron pada atom pusat, maka semuanya harus dipasangkan. 5. Jika semua susbtituen telah dipasangkan dengan elektron atom pusat dan masih terdapat elektron yang tidak berpasangan, maka elektron tersebut tetap ditulis pada atom pusat sebagai elektron bebas atau pasangan elektron bebas (PEB). 6. Jika berupa ion poliatomik, maka setelah semua substituen dipasangkan kurangi elektron jika ion bermuatan positif dan tambahkan elektron jika ion bermuatan positif. 7. Menentukan bentuk molekul serta memperkirakan besarnya sudutsudut ikatan disekitar atom pusat dengan memperhatikan tolakantolakan yang terjadi agar diperoleh bentuk dengan tolakan yang minimum. Keterbatasan teori VSEPR 66

Seperti teori-teori yang lain, teori VSEPR juga memiliki kelemahan-kelemahan. Beberapa diantaranya sebagai berikut. Banyak senyawa logam transisi strukturnya tidak dapat dijelaskan menggunakan teori VSEPR. Teori VSPER gagal meramalkan struktur NH3+. Berdasarkan teori VSEPR bentuk molekul NH3+ adalah trigonal bipiramidal dengan sudut ikatan lebih kecil dari 120 (sedut normal untuk atom dengan bilangan koordinasi 3) tetapi lebih besar dari 109,47 (sudut normal untuk atom bilangan koordiansi 4) karena terdapat satu elektron tidak berpasangan pada atom N. Namun berdasarkan hasil eksperimen ternyata bentuk dari NH3+ adalah segitiga planar dengan sudut ikatan sebesar 120. Hal ini disebabkan elektron bebas terdistribusi secara merata pada bagian depan belakang atom N. Struktur senyawa halida triatomik dengan logam golongan 2 tidaklah linear pada fase gas seperti yang diprediksi oleh teori VSEPR, melainkan berbentuk tekuk (sudut X-M-X : CaF2, 145; SrF2, 120; BaF2, 108; SrCl2, 130; BaCl2, 115; BaBr2, 115; BaI2, 105). Gillespie mengajukan bahwa ini disebabkan oleh interaksi ligan dengan elektron pada inti atom logam yang menyebabkan polarisasi atom, sehingga kelopak dalam atom tidaklah simetris berbentuk bola dan memengaruhi geometri molekul. Teori VSEPR dapat digunakan untuk meramal bentuk molekul dari hidrida-hidrida unsur-unsur pada periode 3 dan 4 seperti H2S, H2Se, PH3, AsH3 dan SbH3, namun gagal meramal besar sudut ikatan yang ada. Berdasarkan teori VSEPR H2S dan H2Se berbentuk huruf V dengan besar sudut ikatan H-E-H (E=S atau Se) sekitar 104,5C seperti sudut ikatan H2O. Namun berdasarkan eksperimen diperoleh besar sudut H-E-H mendekati 90 walaupun berbentuk V. Sedangkan bentuk molekul PH3, AsH3 dan SbH3 berdasarkan teori VSEPR berbentuk trigonal piramidal dengan sudut ikatan H-E-H (E = P, As atau Sb) sekitar 107,3 seperti sudut ikatan NH3. Namun berdasarkan 67

eksperimen diperoleh bahwa besar sudut ikatan H-E-H m,endekati 90 walaupun berbentuk trigonal piramidal.

2.

Struktur Molekul 1) Molekul Raksasa Pada pembahasan ini, mengenai struktur dari zat kovalen raksasa seperti intan, grafit, dan silikon dioksida serta struktur yang berhubungan sifat fisik zat tersebut. Struktur intan Struktur kovalen raksasa dari intan Karbon memiliki susunan elektronik 2,4. Masing-masing karbon elektron dengan empat atom karbon lain membentuk empat ikatan tunggal.

Gambar 29. Struktur intan Pada diagram struktur kovalen raksasa tersebut beberapa atom karbon hanya tampak akan membentuk dua ikatan (atau bahkan satu ikatan) tetapi itu tidak benar-benar terjadi. Struktur ini bukan molekul karena jumlah atom bergabung dalam suatu berlian yang

sesungguhnya bervariasi tergantung pada ukuran kristal.

Gambar 30. Macam-macam ukuran kristal intan

Sifat fisik dari intan 68

1. 2. 3. 4.

memiliki titik lebur yang sangat tinggi hamper 4000oC. intan bersifat sangat keras tidak menghantarkan listrik tidak larut dalam air dan pelarut organik.

Struktur grafit Struktur kovalen raksasa dari garfit Grafit memiliki struktur lapisan yang cukup sulit untuk digambarkan dalam tiga dimensi. Diagram di bawah ini menunjukkan susunan atom di setiap lapisan :

Diagram

tersebut

adalah

sebuah

penyederhanaan

dan

menunjukkan susunan atom pada ikatan.

Ikatan dalam grafit Elektron dalam ikatan ini terdelokasi bebas untuk bergerak di mana saja dalam masing-masing elektron dan tidak lagi tetap pada atom karbon. Karena terdelokalisasi elektron bergerak di sekitar lembaran, dipole temporer yang sangat besar dapat diatur dan menyebabkan dipole yang berlawanan. Dalam setiap atom karbon menggunakan tiga electron untuk membentuk ikatan sederhana untuk tiga ikatan lainnya yang terdekat.

Sifat fisik grafit 69

1. 2. 3. 4. 5.

memiliki titik lebur yang tinggi mirip dengan berlian memiliki rasa lembut, licin dan digunakan pada pensil memiliki kepadatan lebih rendah daripada berlian tidak larut dalam air dan pelarut organic menghantarkan listrik.

Struktur silikon dioksida ( SiO2) dikenal juga sebagai silikon (IV) oksida Kristal silikon memiliki struktur yang sama dengan berlian. Untuk mengubahnya menjadi silikon dioksida adalah dengan cara memodifikasi struktur silikon dengan memasukkan beberapa atom oksigen.

Gambar 31. Struktur silikon (mirip struktur berlian/intan)

Pada gambar tersebut setiap atom silikon dijembatani dengan atom oksigen.

Sifat fisik silikon dioksida 1. 2. 3. 4. memiliki titik lebur yang berbeda-beda sulit untuk memecahkan ikatan kovalen yang sangat kuat tidak dapat menghantarkan listrik tidak dapat larut dalam air dan pelarut organik.

2) Struktur Ion Pada pembahasan ini, menjelaskan tentang susunan ion-ion pada natrium klorida, sifat fisik,titik lebur, titik didih, titik lebur, kerapuhan, dan kelarutan serta perilaku listrik

70

Ion negatif dan ion positif dapat terbentuk bila terjadi serah terima elektron antara atom. Atom yang melepaskan elektron akan menjadi ion positif, dan atom yang menerima elektron akan menjadi ion negatif. Ion tidak hanya terbentuk dari satu atom (monoatom) tetapi juga terbentuk dari sekelompok atom yang disebut ion poliatom, contohnya ion nitrat bermuatan negatif 1 (1-). Struktur khas dari ionik solid yaitu natirum klorida Natrium klorida adalah senyawa ionik yang khas. Senyawa ini terdiri dari kisi raksasa ion. Jadi, natrium klorida dan setiap senyawa ion lainnya digambarkan memilki struktur ionik raksasa. Seperti pada gambar berikut dimana sebuah molekul air yang selalu mengandung 2 atom hidrogen dan 1 atom oksigen.

Gambar 32. Molekul air yang mengandung 2 atom H dan 1 atom O2 Ion natrium berada di tengah dan 6 ion klorida menempel di sekitar ion natrium. Natrium klorida digambarkan sebagai 6:06-coordinasi karena mempunyai daya tarik lebih antara ion positif dan ion negatif sehingga energi lebih banyak yang dilepaskan. Semakin banyak energi yang dilepaskan, struktur menjadi lebih stabil. Jadi setiap ion dikelilingi oleh 6 muatan ion yang berbeda karena untuk mewakili jumlah maksimum ion klorida di sekitar pusat ion natrium sebelum ion natrium menempel satu sama lain. Jika kedua ion tersebut saling menempel maka akan terjadi tolakan ke dalam kristal yang membuatnya menjadi kurang stabil.

71

Gambar

33.

Struktur

sodium klorida

Cara menggambar strruktur sodium klorida tersebut yaitu ; 1. menggambar persegi yang sempurna

2.

menggambar sebuah persegi yang sebangun di belakang

3.

menggabung gambar tersebut sehingga menjadi bangun kubus

4.

membagi kubus besar tersebut menjadi 8 kubus kecil dengan menggabungkan titik setiap sisinya ke titik tengah pada tepi yang berlawanan, menggabungkan titik tengah bidang masing-masing ke titik tengah bidang yang berlawanan

5.

meletakkan ion dengan cara menggunakan warna yang berbeda atau ukuran yang berbeda untuk dua ion yang berbeda dalam tiga dimensi

72

Perbedaan struktur caesium klorida Diagram letak ion yang diatur pada cesium klorida

(34.a)

(34.b)

Pada diagram jika ion cesium terjepit di antara dua lapisan ion klorida, maka akan menyentuh ion klorida empat di lapisan bawah dan empat lagi di lapisan atas. Jadi setiap ion cesium disentuh oleh delapan ion klorida (8-co-ordinasi). Diagram akhir yang dibentuk adalah struktur tersebut di atas sedikit dimiringkan seolah-olah ion dari muatan yang sama saling bersentuhan.

(34.c)

Gambar 34. Contoh lapisan ion klorida. Letak ion cesium klorida (a); Letak ion cesium klorida di antara 2 lapisan klorida (b); Struktur cesium klorida seperti saling bersentuhan.

73

Ada pula diagram ionik yang biasanya disederhanakan untuk menunjukkan unit paling dasar dari pola yang berulang. Untuk cesium klorida, berikut gambar diagram yang menunjukkan susunan di sekitar ion klorida pada masing-masing ion cesium :

Gambar

35.

Susunan

ion

klorida pada masing-masing ion cesium

Dengan membalikkan warna yaitu warna hijau berupa ion klorida di letakkan mengitari ion caesium yang berwarna orange maka gambar diagram sama persis dengan susunan ion cesium yang mengitari tiap-tiap ion klorida. Namun terdapat perbedaan struktur kalsium klorida dengan natrium klorida yaitu ketika natrium klorida terkoordinasi, maka tidak ada tolakan dan itu merupakan cara yang dapat mengatur natrium tersebut. Struktur senyawa sederhana seperti mengkristalnya NaCl atau CsCl tergantung pada rasio jari-jari ion positif dan ion negatif. Jika jari-jari ion positif lebih besar dari 73% dari ion negatif maka 8:08koordinasi adalah mungkin. Bila kurang dari 73% maka 6:06 terkoordinasi.

Sifat fisik natrium klorida Natrium klorida merupakan senyawa ion yang khas karena memiliki titik lebur dan titik didih yang tinggi, dan ada terjadi elektostatik kuat antara ion positif dan ion negatif serta tidak memiliki energy panas untuk mengatasinya. Perbedaan antara zat ionik akan tergantung pada : 1. 2. jumlah harga pada ion negatif ukuran ion 74

Jika ion yang lebih kecil mendekat bersama-sama maka atraksi elektrostatik lebih besar.

Natrium klorida Kristal yang rapuh Kerapuhan merupakan tipe zat ion.

Gambar 36. Kerapuhan ion natrium klorida

Ion dengan harga yang sama terpisah dari sisi sehingga kristal terlihat terpotong atau terpisah menjadi dua bagian.

Natrium klorida larut dalam air Tergantung pada tempat yang cukup besar antara molekul air dan ion untuk mengatasi atraksi antara ion. Ion positif yang tertarik ke pasangan amndiri pada molekul air dan koordinasi (kovalen dativ) obligasi bisa terbentuk, sehingga molekul air membentuk ikatan hidrogen dengan ion negatif.

Natrium klorida yang tidak larut dalam air Terjadi karena molekul pelarut dan ion tidak mampu untuk mengatasi atraksi kristal yang bersama-sama.

Perilaku listrik natrium korida Natrium padat tidak dapat menghantarkan listrik karena tidak ada elektron yang dapat bergerak bebas. Ketika meleleh natrium klorida mengalami elektrolisis yang melibatkan konduksi listrik karena gerakan dan debit dari ion. Kemudian ion-ion positif bergerak 75

menuju elektroda bermuatan negatif (katoda). Ketika sampai di sana masing-masing ion natrium mengambil satu elektron dari elektroda untuk membentuk-atom-natrium. Dalam klorida padat, gerakan ion tidak dapat terjadi dan dapat menghentikan setiap arus dalam rangkaian.

3) Struktur Logam Pada pembahasan ini, akan digambarkan atau dideskripsikan mengenai struktur logam, dan hubungan struktur tersebut dengan sifat fisik logam.

Struktur Logam 1. Susunan Atom Logam merupakan struktur raksasa dari atom yang melakukan ikatan bersama, sehingga disebut dengan ikatan logam. Kata raksasa menunjukkan bahwa banyak atom yang terlibat dalam ikatan logam tersebut, namun jumlah atom tersebut tergantung kepada ukuran potongan logam itu sendiri. Macam-macam struktur logam, yaitu : 1) 12 koordinasi Kebanyakan logam disusun berdekatan, yaitu atom akan tersusun sebanyak mungkin ke dalam volume ruangan yang tersedia. Setiap atom di dalam struktur akan berikatan dengan 12 atom lainnya, sehingga logam dideskripsikan dengan 12-koordinasi Setiap atom memiliki enam atom lain di setiap lapisannya seperti berikut ini:

76

Dan ada juga di mana setiap atom memiliki tiga atom lain pada lapisan atas dan tiga lagi di lapisan bawah

2) 8 koordinasi Logam yang ada pada golongan satu dari table periodik disusun kurang efisien, karena hanya memiliki atau berikatan dengan delapan dari atom lain, sehingga disebut 8 koordinasi seperti berikut ini:

Diagram sebelah kiri menunjukkan tidak adanya atom yang berikatan satu sama lain pada lapisan tertentu, atomatom tersebut hanya berikatan oleh atom lain di lapisan atas dan bawah, sedangkan pada diagram di sebelah kanan menunjukkan adanya delapan atom yang berikatan (empat di atas dan empat di bawah).

2.

Butir Kristal Atom pada sepotong logam tidaklah tersusun secara teratur. Setiap potong logam terdiri atas sejumlah butir kristal sebagai daerah keteraturannya. Dan pada batas butir Kristal, atom-atom akan menjadi sejajar/teratur susunannya.

Gambar 37. Butir kristal

77

Sifat Fisik Logam 1. Titik Leleh dan Titik Didih Titik leleh dan titik didih pada logam cenderung tinggi, karena adanya kekuatan ikatan logam. Kekuatan ikatan logam bervariasi antara logam yang satu dengan logam lainnya, tergantung pada jumlah elektron yang terdelokalisasi dan penyusunannya. Titik leleh dan titik didih cenderung rendah, apabila jumlah elektron yang berkontribusi pada ikatan berjumlah sedikit. Selain itu hal yang turut mempengaruhi titik leleh dan titik didih dari logam adalah jarak inti atom dari dari elektron yang terdelokalisasi. 2. Konduktivitas Listrik Logam dapat menghantarkan listrik, begitu pula dengan logam cair, hal ini menunjukkan bahwa meskipun atom logam dapat bergerak bebas, delokalisasi tetap berlaku hingga

pendidihan logam dan ikatan logam akan tetap ada selama atom saling bersentuhan satu dengan yang lainnya. 3. Konduktivitas Termal Logam merupakan konduktor panas yang baik. Energi panas dihunakan oleh elektron sebagai tambahan energi kinetik yang membuat elektron-elektron dapat bergerak lebih cepat. Dan energi akan ditransfer sepanjang logam oleh pergerakan elektron. 4. Kekuatan dan Kemungkinan perubahan Logam mudah ditempa (dapat dipukul menjadi lembaran) dan bersifat ulet (dapat diulur menjadi kawat), elastis (dapat beubah bentuk ketika diberi tekanan, dan apabila diberi tekanan yang lebih besar maka akan terjadi perubahan bentuk dari logam secara permanen). Logam bersifat keras namun rapuh, hal ini tejadi karena adaanya peningkatan jumlah batas butir kristal pada logam. 78

Mengontrol ukuran butiran kristal untuk mendapatkan perubahan pada bentuk logam dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu : dengan perlakuan panas, logam dipanaskan agar menjadi lunak dan memukul-mukulnya pada keadaan dingin sehingga logam akan berubah menjadi bentuk baru dan kembali menjadi keras. Cara yang lain adalah dengan memasukkan atom-atom yang sedikit berbeda ukuran ke dalam struktur logam, dan cara ini disebut dengan paduan.

G.

TATA NAMA ANORGANIK DAN BILANGAN OKSIDASI Tata Nama Anorganik 1. Tata Nama Ion 1) Kation monoatomik (1 ion stabil): Golongan I dan II + 3 unsur pertama dari Golongan III Nama = unsur induknya Contoh: Na+: ion natrium Ca2+: ion kalsium Gol. I, II kation monoatomik +1, +2

2) Kation monoatomik (beberapa ion stabil): Unsur transisi + Golongan III, IV, dan V Contoh: Cu+: ion tembaga(I) atau ion kupro Cu2+: ion tembaga(II) atau ion kupri (a) Angka Romawi dalam kurung muatan. (b) Akhiran o ion yang muatannya lebih rendah; Akhiran i yang lebih tinggi (sudah ditinggalkan).

3) Kation poliatomik Contoh: NH4+: ion amonium Hg22+: ion merkuro(I) [bedakan dengan Hg2+:ion merkuri(II)] 79 H3O+: ion hidronium

4) Anion monoatomik Bagian pertama nama unsur + akhiran -ida Contoh: Cl-: ion klorida (diturunkan dari klorin) O2-: ion oksida (diturunkan dari oksigen) Gol. V, VI, VII anion monoatomik .3, .2, .1

5) Anion poliatomik Contoh: SiO43-: ion silikat NO2- : ion nitrit NO3- : ion nitrat ClO- : ion hipoklorit ClO3- : ion klorat (nama biasa: ion bikarbonat) Tata nama senyawa ionik: (Nama kation)_(Nama anion) Asas kenetralan muatan: Muatan + dari kation dibalanskan oleh muatan dari anion. ClO2- : ion klorit ClO4- : ion perklorat HCO3- : ion hidrogen karbonat

Contoh soal 1: Apakah rumus kimia untuk (a) barium oksida dan (b) sesium nitrida. Penyelesain: (a) Ba : golongan II Ba2+ O : golongan VI O2Asas kenetralan muatan: Setiap 1 ion Ba2+ dibalanskan oleh 1 ion O2- BaO (b) Cs3N.

Contoh soal 2: Namai senyawa ionik yang mengandung ion poliatom berikut. (a) NH4ClO3 (b) NaNO2 (c) Li2CO3 Penyelesaian: 80

(a) Amonium klorat (b) Natrium nitrit (c) Litium karbonat

2.

Tata Nama Kovalen Penulisan rumus senyawa kovalen yang terdiri dari dua unsur disusun menurut nilai keelektronegatifannya, dimulai dengan yang rendah dan diakhiri dengan yang tinggi. Contoh: HCl bukan ClH H2O bukan OH2 Nama senyawa kovalen didasarkan nama kedua unsur secara berurutan dan ditambah akhiran ida. Contoh: HCl hidrogen klorida H2O hidrogen oksida (nama umum: air) ClF klor flourida BrCl brom klorida

Jika kedua unsur membentuk lebih dari satu senyawa, seperti CO dan CO2 harus menggunakan awalan: 1 = mono 2 = di 3 = tri 4 = tetra 5 = penta 6 = heksa 7 = hepta 8 = okta 9 = nona 10 = deka

Aturan pemberian awalan sebagai berikut: a. Unsur pertama tidak diberi awalan mono bila indeksnya satu, sedangkan unsur kedua diberi akhiran ida. Contohnya: CO karbon monoksida 81

CO2 karbon dioksida PCl5 fosfor pentaklorida SO2 belerang dioksida b. Kedua unsur diberi awalan bila indeks keduanya bervariasi. Contoh: NO2 nirogen dioksida N2O3 dinitrogen triklorida P4O6 tetrafosfor heksaoksida NH3 nitrogen hidrida (nama umum: amonia) Senyawa kovalen yang mengandung lebih dari dua jenis unsur umumnya adalah asam oksi dan senyawa organik. Asam oksi adalah senyawa yang mengandung hidrogen, oksigen, dan unsur lain (yang umumnya non logam). Contohnya pada tabel berikut ini: Senyawa H2CO3 H2C2O4 HNO3 HNO2 H2SO4 H2SO3 H2S2O3 HClO4 HClO3 Nama Asam karbonat Asam oksalat Asam nitrat Asam nitrit Asam sulfat Asam sulfit Asam tiosulfat Asam perklorat Asam klorat Senyawa HClO2 HClO H3PO4 H3PO3 C2H3OOH H2CrO4 H2CrO7 HMnO4 HCN HCNS Nama Asam klorit Asam hipoklorit Asam fosfat Asam fosfit Asam asetat Asam kromat Asam dikromat Asam permanganat Asam sianida Asam tiosianida

Tabel 11. Beberapa senyawa asam oksi

Dari tabel di atas, ternyata ada dua asam oksi yang jenis unsurnya sama tetapi jumlah atomnya berbeda, maka yang memilki oksigen lebih banyak diberi akhiran at dan yang lain diberi akhiran it. Contohnya asam sulfat (H2SO4) dan asam sulfit (H2SO3). Jika senyawa seperti ini lebih dari dua, maka yang paling tinggi diberi awalan per- dan yang paling 82

rendah diberi awalan hipo-. Contohnya asam perklorat (HClO4), asam klorat (HClO3), asam klorit (HClO2), dan asam hipoklorit (HClO).

83