Anda di halaman 1dari 27

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Beberapa tahun terakhir ini kita dikejutkan oleh pemberitaan media cetak serta elektronik tentang kasus-kasus kekerasan pada anak, dan beberapa di antaranya harus mengembuskan napasnya yang terakhir. Menurut data pelanggaran hak anak yang dikumpulkan Komisi Nasional Perlindungan Anak (http://www.kpai.go ) dari data induk lembaga perlindungan anak yang ada di 30 provinsi di Indonesia dan layanan pengaduan lembaga tersebut, pada tahun 2006 jumlah kasus pelanggaran hak anak yang terpantau sebanyak 13.447.921 kasus dan pada 2007 jumlahnya meningkat 40.398.625 kasus. Di samping itu Komnas Anak juga melaporkan bahwa selama periode Januari-Juni 2008 sebanyak 12.726 anak menjadi korban kekerasan seksual dari orang terdekat mereka seperti orang tua kandung/tiri/angkat, guru, paman, kakek dan tetangga. Data statistik tersebut, ditambah dengan data-data tentang jumlah kasus penculikan anak, kasus perdagangan anak, anak yang terpapar asap rokok, anak yang menjadi korban peredaran narkoba, anak yang tidak dapat mengakses sarana pendidikan, anak yang belum tersentuh layanan kesehatan dan anak yang tidak punya akta kelahiran, memperjelas gambaran muram tentang pemenuhan hak-hak anak Indonesia. Kenakalan anak adalah hal yang paling sering menjadi penyebab kemarahan orang tua, sehingga anak menerima hukuman dan bila disertai emosi maka orangtua tidak segan untuk memukul atau melakukan kekerasan fisik. Bila hal ini sering dialami oleh anak maka akan menimbulkan luka yang mendalam pada fisik dan batinnya. Sehingga akan menimbulkan kebencian pada orang tuanya dan trauma pada anak. Akibat lain dari kekerasan anak akan merasa rendah harga dirinya karena merasa pantas mendapat hukuman sehingga menurunkan prestasi anak disekolah atau hubungan sosial dan pergaulan dengan teman-temannya menjadi terganggu, hal ini akan mempengaruhi rasa percaya diri anak yang seharusnya terbangun sejak kecil. Apa yang dialaminya akan membuat anak meniru kekerasan dan bertingkah laku agresif dengan cara memukul atau membentak bila timbul rasa kesal didalam dirinya. Akibat lain anak akan selalu cemas, mengalami mimpi buruk, depresi atau masalah-masalah disekolah.

Child Abuse Page 1

Derivasi kekerasan bukan lagi dominasi jalanan, atau di negara penuh konflik dengan rasio kemiskinan yang tinggi. Di beberapa wilayah Indonesia, keluarga juga terkadang menjadi pemicu obsesif akan tingkah laku kekerasan pada anak. Keluarga sebagai tempat teraman yang semestinya menyediakan perasaan aman yang paling dasar bagi anak, berubah menjadi tempat dengan lingkaran kekerasan yang menakutkan. Berdasarkan data Komnas Perlindungan Anak, pada 2008 kekerasan fisik terhadap anak yang dilakukan oleh ibu kandung mencapai 9,27 % atau sebanyak 19 kasus dari 205 kasus yang ada. Sedangkan kekerasan yang dilakukan oleh ayah kandung adalah 5,85% atau sebanyak 12 kasus. Ibu tiri (2 kasus atau 0,98%), ayah tiri (2 kasus atau 0,98%). Bahkan berdasarkan riset dari Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) menyebutkan, perempuan ternyata lebih banyak melakukan kekerasan terhadap anak dengan prosentase sebesar 60 persen dibanding laki-laki. Kondisi ini menimbulkan keprihatinan tersendiri bagi kelangsungan generasi penerus bangsa, sehingga perlu dilakukan upaya-upaya untuk mengurangi kekerasan terhadap anak terutama di dalam keluarga.1 1.2 Tujuan Penulisan a. Tujuan Umum Untuk memenuhi syarat dalam memenuhi program studi kepanitraan klinik Ilmu Kesehatan Anak di Unit kesehatan anak Rumah Sakit Pusat Raden Said Sukanto. b. Tujuan Khusus Untuk mengetahui permasalahan mengenai kekerasan pada anak, klasifikasi kekerasan dan pelecehan pada anak, hukum-hukum yang terdapat untuk anak, dampak, eveluasi medis, serta pencegahannya.

Child Abuse Page 2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi Kekerasan pada jaman Romawi dan Yunani diartikan pembunuhan secara langsung, lebih banyak terjadi pada anak perempuan. Dijaman Yunani kuno karena alasan beban ekonomi dalam membesarkan anak perempuan karena pada akhirnyapun mereka akan meninggalkan keluarga dan ikut suaminya. Anak perempuan memiliki risiko yang tinggi untuk dibunuh. Sangat jarang ditemukan lebih dari satu anak perempuan dalam satu keluarga. Besarnya frekwensi pembunuhan terhadap bayi-bayi perempuan tercermin pada ketidakseimbangannya populasi anak perempuan dan anak laki-laki pada abad pertengahan. Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun.

(Definisi ini sesuai dengan Konvensi Hak Anak (Convention on the Rights of Child) tentang definisi Anak dan Pasal 1 ayat (1) UU RI No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.). 9 Seluruh bagian dalam Konvensi ini mengatur pemenuhan hak-hak anak. Ada 4 prinsip dasar hak anak yang terkandung di dalam Konvensi Hak Anak, yaitu: 1. Non-diskriminasi 2. Kepentingan yang terbaik bagi anak 3. Hak untuk hidup, kelangsungan hidup, dan perkembangan; dan 4. Penghargaan terhadap pendapat anak.9 Child Abuse atau Pelecehan anak adalah penganiayaan fisik, seksual atau emosional terhadap anak-anak. Di Amerika Serikat, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit mendefinisikan penganiayaan anak sebagai setiap tindakan atau serangkaian tindakan atau kelalaian oleh orang tua atau lainnya pengasuh yang dapat menimbulkan dalam bahaya, potensi
Child Abuse Page 3

bahaya, atau ancaman bahaya untuk anak. Sebagian besar kekerasan terhadap anak terjadi di rumah, dengan jumlah yang lebih kecil terjadi disekolah organisasi atau tempatnya bermain. 2 Menurut Vander Zander (1989), Kekerasan adalah "Suatu bentuk penyerangan secara fisik atau melukai anak" dan perbuatan ini justru dilakukan oleh pengasuhnya (orang tua atau pengasuh yang bukan keluarga) 7 Definisi lain juga mengungkapkan kekerasan adalah" Semua interaksi atau tidak adanya interaksi antara anggota keluarga yang berakibat cedera bukan karena kecelakaan fisik dan perkembangan individu. (Helfer,1987) 7 Menurut WHO (2004) kekerasan pada anak adalah suatu tindakan penganiayaan atau perlakuan salah pada anak dalam bentuk menyakiti fisik, emosional, seksual, melalaikan pengasuhan dan eksploitasi untuk kepentingan komersial yang secara nyata atau pun tidak dapat membahayakan kesehatan, kelangsungan hidup, martabat atau perkembangannya, tindakan kekerasan diperoleh dari orang yang bertanggung jawab, dipercaya atau berkuasa dalam perlindungan anak tersebut. 7 Sedangkan Kekerasan pada anak menurut The national Commision Of Inquiru Into The Prevention Of Child Abuse (Childhood matter, 1996), Kekerasan pada anak adalah tindakan yang mempengaruhi perkembangan anak sehingga tidak optimal lagi (David Gill,1973). 7 Menurut Synde (1983) mendefinisikan kekerasan pada anak adalah perlakuan yang salah terhadap fisik dan emosi anak, menelantarkan pendidikan dan kesehatannya dan juga penyalahgunaan seksual. 3 2.2 Sejarah Sindrom Anak dipukuli pertama kali dijelaskan oleh spesialis kedokteran forensik Perancis, Auguste Ambroise Tardieu (10 April 1818 - 12 Januari 1879). Dalam pengakuan deskripsi pertama dikenal sebagai Tardieu Sindrom. 2 2.3 Klasifikasi Kekerasan Pada Anak Berdasarkan pada pengaruh dan sifat-sifatnya, kekerasan pada anak dapat dibagi menjadi atas beberapa kategori:
Child Abuse Page 4

a. Kekerasan Fisik ( Physical Abuse) Kekerasan fisik pada anak adalah "non accidental injuri" pada anak mulai dari ringan sampai berat sampai pada trauma neurologist yang berat bahkan sampai pada kematian. Salah perlakuan secara fisik dapat dianggap terjadi ketika anak' dengan sengaja disakiti secara fisik atau ditempatakan pada kondisi yang memungkinkan disakiti secara fisik.(Powers and Jaklisch, 1998). Cedere fisik akibat hukuman yang diluar batas ,dan perilaku pelaku yang agresif , kekejaman dalam memberikan hukuman pada anak. Cedera bisa diakibatkan oleh pukulan, cambukan, luka bakar , lecet dan goresan, memar dengan berbagai tingkat penyembuhan, fraktur, luka pada mulut , bibir, rahang, mata , perineal, dan pemberian racun. Tanda tanda physical abuse lebih mudah dilihat daripada akibat dari mental abuse. b. Pelecehan Secara Seksual (Sexual Abuse) Kekerasan seksual pada anak baik yang menggunakan pendekatan persuasif ataupun paksaan pada seorang anak untuk mengadakan perilaku atau kegiatan seksual yang nyata. Ada Beberapa definisi mengenai pelecehan secara seksual , tetapi belum ada definisi standar pelecehan seksual yang dapat diterima. Di banyak negra, istilah pelecehan seksual, meliputi " any seksual activity with someone who is not leggally competent to give consent, or has refused consent" (Innnocenti, 1997:7). Oleh karena itu, tuntutan terhadap pelecehan secara seksual akan diterapkan bahkan pada kasus di mana seseorang dibawah umur yang diizinkan seolah pasangan yang bersedia atau menganjurkan. Definisi kegiatan seksual kriminal juga meliputi kegiatan seksual pada semua umur dengan anggota keluarga dekat -incest. Dengan demikian , maka " The justification for these protective measures comes from the growing body evidence that such activity can cause both phisical injury to still developping bodies and serious psichological damage." (Innocenti, 1991:8). Disisi lain, di konvensi hak anak dinyatakan bahwa pengesahan negara harus mengambil langkah langkah nasional, bilateral , multilateral, untuk mencegah: Dorongan atau paksaan anak untuk melakukan kegiatan seksual yang melanggar hukum.
Child Abuse Page 5

Eksploitasi anak dalam prostitusi atau praktek seksual yang cacat hukum. Eksploitasi anak dalam pertunjukan materi pornografi Hal tersebut dengan demikian dapat dianggap sebagai pelecehan secara seksual. Walaupun demikian, bentuk bentuk eksploitasi seksual lain dapat juga termasuk seperti pelecehan oleh orang dewasa dan pemberian upah atau hal lain yang pada anak atau orang atau pihak ketiga dimana anak diperlakukan sebagai obyek seks dan sebagai obyek komersial" (Innocenti, 1991:11). Definisi lain dari pelecehan secara seksual sebagai segala pelanggaran seksual yang dilakukan atau diizinkan untuk dilakukan, terhadap orang muda oleh orang dewasa atau orang lain yang secara sah bertanggungjawab untuknya. Hal ini dapat meliputi menyentuh anak dengan maksud kepuasan seksual atau paksaan anak untuk menyentuh seorang dewasa, hubungan seksual, memperlihatkan kegiatan seksual kepada anak, exhibisionisme, atau pornografi atau mengizinkan anak melakukan hubungan seksual yang tidak sesuai dengan perkembangannya. Akibat dari pelecehan seksual terhadap anak ini mengakibatkan efek-efek psikologis, dan klinis ini sulit dibuktikan . Kekerasan seks dapat dilakukan oleh orang tua terhadap anaknya ( kandung atau tiri), saudara kandung atau orang lain, pengasuh anak, guru, teman atau orang-orang lain yang perlu diwaspadai. c. Kekerasan Secara Emosional (Emotional Abuse) Kekerasan Emosi adalah setiap tindakan baik yang disengaja maupun tidak sengaja, sikap, perilaku atau tindakan lain yang dilakukan oleh orang tua, pengasuh atau orang lain yng menyebabkan gangguan emosi atau mental anak. Kekerasan emosional dapat dilihat dengan menggunakan kata-kata yang merendahkan anak, tidak mengakui sebagai anak. Kekerasan Emosional biasanya disertai dengan kekerasan lainnya. Kekerasan emosional sering juga disebut kekerasan verbal atau kekerasan mental / psylogical maltreatment. Kekerasan emosional bergerak dari rentang yang simple sampai pada
Child Abuse Page 6

yang ekstrim. Kekerasan emosional dapat berupa penghinaan anak, penolakan anak, menarik diri atau menghindari anak, tidak memperdulikan perasaan anak, perilaku negative pada anak, mengeluarkan kata-kata yang tidak baik untuk perkembangan emosi anak, memberikan hukuman yang ekstrim pada anak seperti memasukkan anak pada kamar gelap, mengurung anak di kamar mandi, mengikat anak, dan masih banyak lagi hukuman orang tua yang tanpa disadari orang tua menrupakan perilaku yang menyebabkan kekerasan emosional pada anak. Dalam hal ini emotional abuse adalah tindakan yang membuat seseorang sedih, kecewa , jengkel marah dan takut. Emotional abuse ini sulit dilihat secara empiris dalam waktu yang lama. Akibat dari suatu emotional atau mental abuse adalah wajah yang murung, sedih, marah, kecewa, atau kadang kadang tidak wajar, yang bisa lama, bisa pula sebentar. Kekerasan Emosional selalu ada ketika kekerasan lain teridentifikasi, ada overlaping antara pengertian kekerasan emosional anak dan penelantaran anak karena keduanya bisa terjadi secara bersamaan pada anak. Kekerasan Emosional pada anak dapat dilakukan oleh orang yang lebih tua dari anak atau anak lainnya yaitu orang tua, pengasuh, guru, saudara kandung, serta orang lain yang mempunyai akses atau kesempatan untuk melakukan kekerasan emosional pada anak. Tindakan tindakan yang dapat digolongkan sebagai emotional atau mental abuse misalnya adalah " Verbal abuse, sarcasm, and beliltling, through form of humiliation, harassment, and isolation not involving phisical violence (Innocenti,1991:9). d. Penelantaran ( Neglect) Penelantaran bisa diartikan sebagai pengabaian atau tidak memenuhi kebutuhan dasar anak, dan juga kegiatan atau perilaku yang langsung dapat menyebabkan efek merusak pada kondisi fisik ataupun mental anak. Kebutuhan anak tidak terpenuhi secara wajar baik fisik, mental, sosial, spiritual termasuk pendidikannya. Penelantaran dapat berupa : (a). Penelantaran Fisik

Child Abuse Page 7

Penelantaran fisik atau tidak memenuhi kebutuhan fisik anak seperti tidak adequatnya pemberian nutrisi pada anak, perumahan, kurangnya pengawasan atau supervisi yang dapat mengakibatkan anak beresiko untuk terjadinya trauma fisik atau emosional, keterlambatan membawa anak jika anak mengalami gangguan kesehatan, tidak adequatnya kebersihan diri anak. (b). Penelantaran Pendidikan Penelantaran pendidikan diartikan penelantaran pendidikan baik dalam bidang informal seperti mendidik anak agar ia mampu berinteraksi dengan lingkungan dan mendidik anak untuk bisa berhasil dimasa depannya. Penelantaran pendidikan secara formal dimana anak usia sekolah tidak diberikan untuk mendapat pendidikan secara layak, justru anak disuruh mencari nafkah untuk untuk keluarga sehingga anak terpaksa putus sekolah. (c). Penelantaran Phycological ( Emosional ) Penelantaran emosional dipandang sebagai kurangnya support emosional pada anak serta kurangnya cinta atau kasih sayang yang diberikan oleh orang tua atau orang-orang terdekat. Penelantaran emosional dapat berupa kurangnya perhatian pada kebutuhan anak, termasuk kurangnya affektif untuk merawat anak, kurangnya perhatian terhaap kebutuhan emosi anak, adanya kekerasan pada anak oleh orang tua tanpa memperhatikan dampak yang terjadi pada anak dalam tumbuh kembangnya. Sindroma Munchausen Sindroma Munchausen merupakan permintaan pengobatan terhadap penyakit yang dibuat-buat dengan pemberian keterangan medis palsu oleh orangtua, yang menyebabkan anak banyak mendapat pemeriksaan/prosedur rumah sakit. Ditandai oleh hal-hal sebagai berikut : Orangtua berpindah dari satu dokter ke dokter yang lain sampai satu saat akhirnya bercerita bahwa ada sesuatu yang salah dengan anak mereka.

Child Abuse Page 8

Penyakit anak yang tidak dapat dijelaskan penyebabnya. Anak yang gagal tumbuh tanpa alasan yang jelas. Anak wanita yang tiba-tiba berubah tingkah lakunya, menyendiri atau sangat takut dengan orang asing, harus diwaspadai kemungkinan terjadinya penganiayaan seksual.

Pada anak yang lebih tua, mungkin dapat menceritakan jejasnya, tetapi kemudian mengubah uraiannya karena rasa takut akan pembalasan atau untuk mencegah pembalasan orang tua.

2.4

Prevalensi Kejadian Kekerasan Pada Anak Menurut (Amerika) Komite Nasional untuk Mencegah Child Abuse, pada tahun 1997

kasus penelantaran terhadap anak mewakili 54% dari kasus yang dikonfirmasi penganiayaan anak, penyiksaan% 22 fisik, pelecehan seksual 8%, penganiayaan emosional 4%, dan bentukbentuk penganiyaan lainnya mencapai angka 12%. Sebuah laporan UNICEF pada kesejahteraan anak menyatakan bahwa Amerika Serikat dan Inggris menduduki peringkat terendah di antara negara-negara industri yang berkaitan dengan kesejahteraan anak-anak. Sedangkan di Indonesia sendiri, Kasus kekerasan terhadap anak di Tanah Air dalam dua tahun terakhir jumlahnya meningkat, dari 1.626 kasus pada 2008 menjadi 1.891 pada 2009. 3 2.5 Penyebab Terjadinya Kekerasan Pada Anak Banyak faktor - faktor yang menyebabkan terjadinya kekerasan pada anak dalam rumah tangga. Keluarga dalam hal ini adalah unit yang terpenting dalam menghindari atau menunjang terjadinya kekerasan pada anak. Anak yang dilakhirkan selayaknya mendapatkan perlakuan yang baik untuk tumbuh kembangnya dan masa depannya. Anak tidak minta dilahirkan didunia, tetapi ketika ia terlahir selayaknya orang tuan merawat anak dengan sebaik-baiknya dan keluargalah yang diharapkan oleh anak sebagai barrier terhadap tindak kekerasan yang mungkin saja dapat dialaminya. Tetapi pada kenyataannya justru kekerasan pada anak terjadi didalam keluarga dan ironisnya juga dilakukan oleh orang yang notabenenya adalah orang tua atau saudara terdekat.
Child Abuse Page 9

Banyak faktor yang dapat menyebabkan terjadinya kekerasan pada anak. Faktor sosio-kultural antara lain adalah nilai atau norma yang ada di masyarakat, hubungan antara manusia dan kemajuan jaman. Selain itu kekerasan pada anak dapat disebabkan faktor pencetus yang berasal dari anak, stres keluarga dan stres yang berasal dari orang tua. Menurut hasil pengaduan yang diterima KOMNAS Perlindungan Anak (2006), pemicu kekerasan terhadap anak yang terjadi diantaranya adalah : 1) Kekerasan dalam rumah tangga, yaitu dalam keluarga terjadi kekerasan yang melibatkan baik pihak ayah, ibu dan saudara yang lainnya. Kondisi menyebabkan tidak terelakkannya kekerasan terjadi juga pada anak. Anak seringkali menjadi sasaran kemarahan orang tua, 2) Disfungsi keluarga, yaitu peran orang tua tidak berjalan sebagaimana seharusnya. Adanya disfungsi peran ayah sebagai pemimpin keluarga dan peran ibu sebagai sosok yang membimbing dan menyayangi, 3) Faktor ekonomi, yaitu kekerasan timbul karena tekanan ekonomi. Tertekannya kondisi keluarga yang disebabkan himpitan ekonomi adalah faktor yang banyak terjadi, 4) Pandangan keliru tentang posisi anak dalam keluarga. Orang tua menganggap bahwa anak adalah seseorang yang tidak tahu apa-apa. Dengan demikian pola asuh apapun berhak dilakukan oleh orang tua. Disamping itu, faktor penyebab lainnya adalah terinspirasi dari tayangan-tayangan televisi maupun media-media lainnya yang tersebar dilingkungan masyarakat. Yang sangat mengejutkan ternyata 62 % tayangan televisi maupun media lainnya telah membangun dan menciptakan prilaku kekerasan (Tempo, 2006). Menurut Sitohang (2004), penyebab munculnya kekerasan pada anak adalah a) Stress berasal dari anak. Yaitu, kondisi anak yang berbeda, mental yang berbeda atau anak adalah anak angkat, b) Stress keluarga. Yaitu, kemiskinan pengangguran mobilitas, isolasi, perumahan tidak
Child Abuse Page 10

memadai, anak yang tidak diharapkan dan lain sebagainya, c) Stress berasal dari orang tua. Rendah diri, Waktu kecil mendapat perlakuan salah, Depresi, Harapan pada anak yang tidak realistis, Kelainan karakter/gangguan jiwa.

Sitohang (2004) melihat ketiga hal tersebut adalah situasi awal atau kondisi pencetus munculnya kekerasan pada anak. Pada gilirannya kondisi tersebut berlanjut pada perilaku yang salah orang tua terhadap anaknya. Contohnya, penganiayaan dan teror mental. Unicef (1986) mengemukakan ada 2 faktor yang melatarbelakangi munculnya kekerasan anak oleh orang tuanya. Faktor tersebut masing-masing berasal baik dari orang tua maupun anak sendiri. 2 faktor tersebut antara lain; a) Orang tua yang pernah jadi korban penganiayaan anak dan terpapar oleh kekerasan dalam rumah, orang tua yang kondisi kehidupannya penuh sters, seperti rumah yang sesak, kemiskinan, orang tua yang menyalahgunakan NAPZA, orang tua yang mengalami gangguan jiwa seperti depresi atau psikotik atau gangguan keperibadian. b) Anak yang premature, anak yang retardasi mental, anak yang cacat fisik, anak yang suka menangis hebat atau banyak tuntutan. Berdasarkan uraian tersebut baik orang tua maupun anak sama-sama personal. Jika hanya menimpa segelintir anak-anak saja, dapat dilacak pada sebab-sebab psikologis dari individu yang terlibat. Pemecahannya juga dapat dilakukan secara individual. Memberikan terapi psikologis pada baik pelaku maupun korban mungkin akan cepat selesai. Tetapi jika perilaku memperkerjakan anak kecil dalam waktu yang panjang, menelantarkan mereka, atau menyakiti dan menyiksa anak itu terdapat secara meluas di tengah-tengah masyarakat maka berhadapan dengan masalah sosial. Penyebabnya tidak boleh lagi dilacak pada sebab-sebab individual. Melacaknya pada nilai, pola interaksi sosial, struktur sosial ekonomi, dan atau pranata
Child Abuse Page 11

berpengaruh

pada

timbulnya

kekerasan

pada

anak.

Rakhmat (2003) beranggapan kekerasan pada anak-anak bukan hanya merupakan problem

sosial. Pemecahannya memerlukan tindakan kolektif dari seluruh anggota masyarakat.

Rakhmat (2003) membagi faktor sosial antara lain: 1) Norma sosial, yaitu tidak ada kontrol sosial pada tindakan kekerasan pada anak-anak, maksudnya ketika muncul kekerasan pada anak tidak ada orang di lingkungannya yang memperhatikan dan mempersoalkannya; 2) Nilai-nilai sosial, yaitu hubungan anak dengan orang dewasa berlaku seperti hirarkhi sosial di masyarakat. Atasan tidak boleh dibantah. Aparat pemerintahan harus selalu dipatuhi. Guru harus digugu dan ditiru. Orangtua tentu saja wajib ditaati dengan sendirinya. Dalam hirarkhi sosial seperti itu anak-anak berada dalam anak tangga terbawah. Mereka tidak punya hak apa pun, sedangkan orang dewasa dapat berlaku apa pun kepada anak-anak; 3) Ketimpangan sosial. Banyak ditemukan bahwa para pelaku dan juga korban child abuse kebanyakan berasal dari kelompok sosial ekonomi yang rendah. Kemiskinan, yeng tentu saja masalah sosial lainnya yang diakibatkan karena struktur ekonomi dan politik yang menindas, telah melahirkan semacam subkultur kekerasan. Karena tekanan ekonomi, orangtua mengalami stress yang berkepanjangan. Ia menjadi sangat sensisitif. Ia mudah marah. Kelelahan fisik tidak memberinya kesempatan untuk bercanda dengan anak-anak. Terjadilah kekerasan emosional. Kekerasan tersebut diperlukan tindakan kolektif untuk mengatasinya, memerlukan proses pendidikan yang terus menerus untuk mensosialisasikan nilai-nilai demokratis dan penghargaan pada hak-hak anak-anak, berusaha menegakkan undang-undang yang melindungi anak-anak dari perlakuan sewenang-wenang orang-orang dewasa dan membangun lembaga-lembaga advokasi anak-anak.5

Child Abuse Page 12

FAKTOR-FAKTOR MULTIDIMENSI PERLAKUAN SALAH PADA ANAK


Faktor sosio kultural

1. nilai/norma yang ada di masyarakat 2. hubungan antar manusia 3. kemajuan jaman: pendidikan, hiburan, olahraga, kesehatan, hukum, dsb

Stres berasal dari anak

Stres keluarga

Stres berasal dari orang tua

1. Fisik berbeda (misalnya: cacat) 2. Mental berbeda (misalnya: retardasi) 3. Temperamen berbeda 4. tingkah laku berbeda (misalnya: hiperaktif) 5. anak angkat/tiri 6. dll

1. kemiskinan, pengangguran, mobilitas, isolasi, perumahantidak memadai, dll 2. hubungan orangtuaanak, stres pernatal, anak yang tidak diharapkan, prematuritas, dll 3. perceraian 4. Dll

1. rendah diri 2. waktu kecilnya mendapat perlakuan salah 3. depresi 4. harapan pada anak yang tidak realistik 5. kelainan karakter/ gangguan jiwa 6. dll

Situasi pencetus

disiplin konflik/ pertengkaran masalah lingkungan yang mendadak

Sikap/perbuatan yang keliru

Child Abuse Page 13

Penganiayaan Ketidak mampuan merawat Peracunan Teror mental

2.6 Tanda dan Gejala Tanda-tanda kekerasan fisik: 1. Bekas luka, memar, atau luka bakar yang tidak dapat dijelaskan asalnya dan muncul berulang kali. 2. Bekas luka yang berbentuk seperti objek tertentu, misalnya ikat pinggang, kabel listrik, dan lain-lain. 3. Luka-luka yang tidak mungkin terjadi berdasarkan pertimbangan usia seorang anak. Misalnya, patah tulang pada anak yang belum dapat berjalan atau memanjat. 4. Penjelasan yang tidak masuk akal mengenai penyebab cedera. 5. Memiliki sifat penakut. Tanda-tanda kekerasan verbal: 1. Perilaku agresif atau tertutup. 2. Pemalu dan menghindari kontak fisik dengan orang tua atau orang dewasa. Tanda-tanda pelecehan seksual: 1. Anak menyatakan dirinya telah diperlakukan tidak pantas secara seksual. 2. Anak memiliki tanda-tanda fisik seperti: Kesulitan berjalan atau duduk Pakaian bernoda darah Memar dan luka pada daerah kemaluan dan dubur Alat kelamin atau dubur sakit, gatal, bengkak, dan kemerahan

3. Anak menunjukkan perilaku dan tanda-tanda emosional seperti:


Child Abuse Page 14

Kesulitan makan atau tidur Mengotori atau membasahi celana atau tempat tidur padahal ia sudah terlatih buang air di toilet

Sering menangis dan sedih berlebihan Menarik diri dari kegiatan dan orang lain Berbicara tentang atau melakukan tindakan seksual di luar kewajaran untuk anak seusianya. 5

2.7

Dampak Dampak pada anak yang mendapat perilaku kekerasan selain terjadi seperti yang

dicantumkan pada gejala yang tampak pada saat pemeriksaan pada anak, dampak lain yang dapat terjadi adalah secara umum adalah : a. Anak berbohong, ketakutan, kurang dapat mengenal cinta atau kasih sayang, sulit percaya dengan orang lain b. Harga diri anak rendah dan menunjukkan perilaku yang destruktif c. Mengalami gangguan dalam perkembangan psikologis dan interaksi sosial d. Pada anak yang lebih besar anak melakukan kekerasan pada temannya dan anak yang lebih kecil e. Kesulitan untuk membina hubungan dengan orang lain f. Kecemasan berat atau panik , depresi anak mengalami sakit fisik dan bermasalah disekolah g. Abnormalitas atau distorsi mengenai pandangan terhadap seks h. gangguan Personality
Child Abuse Page 15

i. Kesulitan dalam membina hubungan dengan orang lain dalam hal seksualitas j. Mempunyai tendency untuk prostitusi k. Mengalami masalah yang serius pada usia dewasa l. Kerusakan fisik atau luka fisik; m. Anak akan menjadi individu yang kukrang percaya diri, pendendam dan agresif: n. Memiliki perilaku menyimpang, seperti, menarik diri dari lingkungan, penyalahgunaan obat dan alkohol, sampai dengan kecenderungan bunuh diri; o. Jika anak mengalami kekerasan seksual maka akan menimbulkan trauma mendalam pada anak, takut menikah, merasa rendah diri, dll; p. Pendidikan anak yang terabaikan. Berikut ini adalah dampak-dampak yang ditimbulkan kekerasan terhadap anak (child abuse) , antara lain; 1. Dampak kekerasan fisik, anak yang mendapat perlakuan kejam dari orang tuanya akan menjadi sangat agresif, dan setelah menjadi orang tua akan berlaku kejam kepada anak-anaknya. Orang tua agresif melahirkan anak-anak yang agresif, yang pada gilirannya akan menjadi orang dewasa yang menjadi agresif. Lawson (dalam Sitohang, 2004) menggambarkan bahwa semua jenis gangguan mental ada hubungannya dengan perlakuan buruk yang diterima manusia ketika dia masih kecil. Kekerasan fisik yang berlangsung berulang-ulang dalam jangka waktu lama akan menimbulkan cedera serius terhadap anak, meninggalkan bekas luka secara fisik hingga menyebabkan korban meninggal dunia; 2. Dampak kekerasan psikis. Unicef (1986) mengemukakan, anak yang sering dimarahi orang tuanya, apalagi diikuti dengan penyiksaan, cenderung meniru perilaku buruk (coping mechanism) seperti bulimia nervosa (memuntahkan makanan kembali), penyimpangan pola makan, anorexia (takut gemuk), kecanduan alkohol dan obatChild Abuse Page 16

obatan, dan memiliki dorongan bunuh diri. Menurut Nadia (1991), kekerasan psikologis sukar diidentifikasi atau didiagnosa karena tidak meninggalkan bekas yang nyata seperti penyiksaan fisik. Jenis kekerasan ini meninggalkan bekas yang tersembunyi yang termanifestasikan dalam beberapa bentuk, seperti kurangnya rasa percaya diri, kesulitan membina persahabatan, perilaku merusak, menarik diri dari lingkungan, penyalahgunaan obat dan alkohol, ataupun kecenderungan bunuh diri; 3. Dampak kekerasan seksual. Menurut Mulyadi (Sinar Harapan, 2003) diantara korban yang masih merasa dendam terhadap pelaku, takut menikah, merasa rendah diri, dan trauma akibat eksploitasi seksual, meski kini mereka sudah dewasa atau bahkan sudah menikah. Bahkan eksploitasi seksual yang dialami semasa masih anak-anak banyak ditengarai sebagai penyebab keterlibatan dalam prostitusi. Jika kekerasan seksual terjadi pada anak yang masih kecil pengaruh buruk yang ditimbulkan antara lain dari yang biasanya tidak mengompol jadi mengompol, mudah merasa takut, perubahan pola tidur, kecemasan tidak beralasan, atau bahkan simtom fisik seperti sakit perut atau adanya masalah kulit, dll (dalam Nadia, 1991); 4. Dampak penelantaran anak. Pengaruh yang paling terlihat jika anak mengalami hal ini adalah kurangnya perhatian dan kasih sayang orang tua terhadap anak, Hurlock (1990) mengatakan jika anak kurang kasih sayang dari orang tua menyebabkan berkembangnya perasaan tidak aman, gagal mengembangkan perilaku akrab, dan selanjutnya akan mengalami masalah penyesuaian diri pada masa yang akan datang. Dampak yang lainnya (dalam Sitohang, 2004) adalah kelalaian dalam mendapatkan pengobatan menyebabkan kegagalan dalam merawat anak dengan baik. Kelalaian dalam pendidikan, meliputi kegagalan dalam mendidik anak mampu berinteraksi dengan lingkungannya gagal menyekolahkan atau menyuruh anak mencari nafkah untuk keluarga sehingga anak terpaksa putus sekolah. 5. Dampak lainnya sebagai berikut: A. Dampak pada fisik anak Diagnosis dapat ditegakkan bila ditemukan trauma fisik yang tidak dapat dijelaskan
Child Abuse Page 17

penyebabnya. 1. Lecet, hematuom, bekas luka gigtan, luka bakar, patah tulang, perdarahan retina akibat adanya subdural hematom dan adanya keruskan organ dan lainnya. 2. Cacat sebgai akibat dari trauma, misalnya jaringan parut, kerusakan saraf, gangguan pendengaran, kerusakan mata, dan cacat lainnya. 3. Kematian. Menurut Strauss dkk. 1980 (dikutip dari Snyder) 1 dari 1000 anak mendapat perlakuan fisik yang mematikan menggunakan pisau atau pistol. Friedman dan Morse 1976, mengatakan dari 24 anak ,mendapat perlakuan yang salah. Dan 70% dari penelitian itu saudara dari si anak juga mendapat perlakuan yang sama. B. Dampak pada tumbuh kembang anak Pada anak yang mendapat perlakuan salah umumnya tumbuh kembangnya lebih lambat dari anak normal, yaitu: 1. Pertumbuhan fisik umumnya kurang dari anak-anak sebaya lainnya. Menurut Oates dkk. 1984 mengatakan bahwa tidak ada perbedaan yang bermaknadalam berat dan tingi badan anak-anak yang mendapat perlakuan salah dengan anak sebayanya. 2. Perkembangan kejiwaan mengalami gangguan, yaitu: a. Kecerdasan - Beberapa penelitian melaporkan terdapat kelambatan dalam perkembangan kognitif, bahasa, membaca dan motorik. - Trauma langsung dan mal nutrisi dapat mengakibatkan retardasi mental. - Beberapa kasus diperkuat oleh lingkungan si anak dimana tidak ada stimulasi adekuat atau Karena ganguan emosi. b. Emosi
Child Abuse Page 18

- Untuk mengetahui adanya perubahan emosional dalam perlakuan salah terhadap anak diperlukan anamneses yang lengkap dari keluarga, bagaimana hubungan masing-masing anak tersebut. - Terdapat gangguan emosi pada: perkembangan konsep diri yang positif, dalam mengatasi sifat agresif, perkembangan hubungan social dan kemampuan percaya diri. - Terjadi pseudomaturitas emosi. Beberapa menjadi agresif atau bermusuhan dengan orang dewasa, atau menarik diri dari pergaulan. Anak suka ngompol, perilaku aneh, hiperaktif, kesulitan belajar, gagal sekolah, sulit tidur, dan sebagainya. c. Konsep diri dicintai, tidak dikehendaki, muram, tidak bahagia, dan bahkan ada yang mencoba membunuh diri. d. Agresif Anak yang mendapat perlakuan salah secara badani, lebih agresif terhadap teman sebayanya. Semisal meniru tindakan orang tua mereka dan mengalihkan perasaan agresif ke temannya. e. Hubungan sosial Pada anak-anak sering kurang dapat bergaul dengan teman sebaya atau dengan orang dewasa. Mempunyai sedikit teman suka menganggu dan sebagainya.3 2.8 Pencegahan Penyalahgunaan Anak Penyalahgunaan anak dapat terjadi kapan saja, dimana saja, dan dengan setiap orang bahkan anggota keluarga dekat ataupun teman. Pada tahun 2007, ada 1.760 anak-anak yang meninggal di Amerika Serikat sebagai akibat dari pelecehan anak atau kelalaian. Anak-anak muda dari satu tahun terdiri hampir separuh dari semua kematian, dan tiga perempat yang lebih
Child Abuse Page 19

muda dari empat tahun. Ini merupakan angka-angka yang serius. Orang tua, anggota keluarga, dan teman-teman keluarga perlu bangun dan lebih terlibat dalam mencegah kekerasan terhadap anak. 3 Terlepas dari semua upaya untuk mempublikasikan, mendidik, dan membuat orang menyadari masalah pelecehan anak, statistik menunjukkan bahwa pelecehan dan penganiayaan anak terus meningkat. Dengan pengecualian tahun 2005, insiden kematian akibat penyiksaan anak meningkat selama lima tahun terakhir. Banyak peneliti, dokter, guru dan profesional terkait dengan anak-anak percaya bahwa jumlah kematian setiap tahun dari pelecehan anak yang tidak dilaporkan. Beberapa studi melaporkan bahwa sebanyak 50 sampai 60 persen kematian anak akibat penganiayaan anak-anak atau melalaikan tidak pernah dilaporkan. 3 Penyalahgunaan anak dapat dicegah. pertama, melalui kesadaran, deteksi dini dan intervensi. Melindungi anak-anak dari pelecehan adalah perhatian pertama dan terutama polisi dan otoritas perlindungan anak. 3 Pendidikan anak-anak untuk mengenali perilaku yang tidak pantas (seksual dan fisik) dan melaporkan penyalahgunaan mungkin pada tahap itu awal untuk orang tua mereka atau keluarga akan membantu anak-anak menghindari dilecehkan, menyelamatkan keluarga dari interaksi disfungsional, mengidentifikasi pelaku dengan segera untuk penegakan hukum dan membantu dalam identifikasi awal anggota keluarga dengan kecenderungan yang kasar sebelum tindak pidana terjadi. Dalam dunia yang ideal, membantu psikiatris akan tersedia untuk mengobati orang yang menyalahgunakan anak-anak. Itu jarang terjadi. 3 Kebanyakan pelaku, begitu mereka telah bertindak keluar dan melakukan tindakan pelecehan, ditangkap, dituntut, diadili, dihukum, dikirim ke penjara, dan ditandai sebagai pelaku seksual. Untuk mencegah penyalahgunaan dengan mengubah perilaku pelaku (apakah mereka adalah kekasih atau teman), kecenderungan untuk menjadi kasar harus diidentifikasi sebelum penyalahgunaan yang sebenarnya terjadi. Setelah kecenderungan diidentifikasi, harapan terbaik untuk mengobati gangguan mental serius adalah konseling perilaku. 5 2.9 Hukum dan Undang-undang Setiap negara termasuk Indonesia mempunyai Undang-Undang tentang perlindungan
Child Abuse Page 20

anak, Di Indonesia sendiri Perlindungan anak telah diatur pada Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak yang isinya antara lain menyangkut hak-hak anak, kewajiban dan tanggung jawab pemerintah, masyarakat, serta orang tua dalam perlindungan anak, dan didalamnya juga mengatur tentang ketentuan pidana terhadap pelanggaran hak-hak anak. 6 Kenyataan yang terjadi meski banyak kasus telah melanggar hak anak, tetapi kurang memperoleh perhatian publik, dan sulit diungkap ke permukaan sehingga disebut iceberg (fenomena gunung es). Kekerasan pada anak sering dianggap hal yang wajar karena secara sosial dipandang sebagai cara pendisiplinan anak. Kekerasan pada anak memperoleh perhatian publik lebih serius jika korban tindak kekerasan yang dilakukan orang dewasa kepada anak-anak jumlahnya bertambah banyak, dan menimbulkan dampak yang sangat menyengsarakan anakanak. 6 Dalam Undang-undang No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak di Indonesia, jika pelakunya orangtuanya sendiri, hukuman akan ditambah sepertiganya. Pasal 80 menyebutkan, ayat 1: setiap orang yang melakukan kekejaram, kekerasan atau ancaman kekerasan, atau penganiayaan terhadap anak, dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 tahun 6 bulan dan/atau denda paling banyak Rp72.000.000. Ayat 2, dalam hal anak sebagaimana dimaksud ayat 1 luka berat, maka pelaku dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 tahun dan/atau denda paling banyak Rp100.000.000. Ayat 3, dalam hal anak yang dimaksud ayat 2 mati, maka pelaku dipidana penjara paling lama 10 tahun dan/atau denda paling banyak Rp200.000.000. Pidana dapat ditambah sepertiganya dari ketentuan sebagaimana dimaksud ayat 1, 2, dan ayat 3 apabila yang melakukan penganiayaan tersebut orangtuanya. 6 2.10 Penanggulangan korban kekerasan dan pelecehan anak Pengalaman pelecehan seksual anak bervariasi dari individu ke individu. Keparahan, intensitas, dan frekuensi, usia anak, hubungan antara anak dan pelaku, tingkat dukungan dari orang tua, tingkat pengakuan oleh pelaku, kualitas fungsi keluarga, tingkat kekerasan, dan spesifik sifat menyalahgunakan semua mempengaruhi jenis dan keparahan efek terlihat pada
Child Abuse Page 21

korban anak. Dengan demikian, penting untuk dicatat bahwa tidak ada satu gejala profil unik untuk anak-anak yang telah mengalami pelecehan seksual, dan tidak semua (atau bahkan mayoritas) anak-anak yang telah mengalami pelecehan seksual menampilkan salah satu dari tanda bahwa anak tersebut telah mengalami pelecehan atau kekerasan. Logikanya, oleh karena itu, setiap korban anak harus dinilai dengan hati-hati dan rencana pengobatan harus dikembangkan. Sangat menarik untuk dicatat penelitian yang menunjukkan bahwa minoritas anak-anak (kirakira 20 - 40%) yang telah mengalami pelecehan seksual tampaknya beberapa menderita kelainan psikologis atau sosial gejala distress. Mungkin sulit untuk menentukan apakah anak yang tidak menampilkan gejala sedang menghadapi kekerasan. Beberapa anak mungkin menampilkan apa yang dianggap sebagai "efek tidur" atau pengembangan gejala serius beberapa saat setelah berakhirnya pelecehan. Sejumlah pengobatan tersedia untuk korban penganiayaan anak. Trauma-fokus terapi perilaku kognitif, pertama kali dikembangkan untuk mengobati anak-anak mengalami pelecehan seksual. Sekarang digunakan untuk korban trauma apapun. Ini target gejala yang terkait dengan trauma pada anak-anak termasuk gangguan stress pasca-trauma, depresi klinis, dan kecemasan. Ini juga termasuk komponen untuk orang tua. Beberapa studi telah menemukan bahwa anakanak mengalami pelecehan seksual ditingkatkan lebih dari anak-anak menjalani terapi tertentu lainnya. Bentuk lain pengobatan termasuk terapi kelompok, terapi bermain, dan terapi seni. Masing-masing jenis pengobatan dapat digunakan untuk lebih membantu, tergantung pada bentuk pelecehan yang mereka alami. Play terapi dan terapi seni adalah cara untuk mendapatkan anak-anak lebih nyaman dengan terapi dengan mengerjakan sesuatu yang mereka nikmati (mewarnai, menggambar, melukis, dll). Desain karya seni anak bisa menjadi representasi simbolik dari apa yang mereka rasakan, hubungan dengan teman atau keluarga, dan banyak lagi. Mampu membahas dan menganalisis karya seni anak dapat memungkinkan seorang untuk mendapatkan wawasan yang lebih baik dari si anak. Terapi bermain digunakan untuk membantu anak-anak mengatasi trauma seperti kekerasan dan untuk memungkinkan mereka untuk berdamai dengan masalah emosional yang menyakitkan.

Child Abuse Page 22

Sementara orang dewasa dapat berkomunikasi menggunakan kata-kata, anak-anak cenderung menggunakan bermain sebagai sarana untuk mengekspresikan diri. Sebagai anak-anak sering memiliki kemampuan terbatas untuk mengekspresikan diri mereka dan berkomunikasi dengan orang dewasa menggunakan bahasa, bermain menjadi alat penting untuk membantu untuk mengelola emosi dan perasaan. Anak-anak juga biasanya dapat merasa aman dalam batasbatas bermain dan lebih mampu mengekspresikan rasa takut. Istilah Terapi bermain pertama kali di kemukakan oleh Freud, dan sebagian besar pendekatan terapi bermain saat ini telah muncul sebagai hasil dalam terapi psikoanalitik. Bermain secara luas diakui sebagai cara seorang anak yang paling alami untuk mengatasi perasaan serta mengekspresikan dan berkomunikasi ketakutan dan keinginan. Hal ini mirip dengan cara orang dewasa menggunakan kata-kata dalam konseling atau psikoterapi. Sementara semua anak-anak menggunakan bermain untuk memahami dunia di sekitar mereka, bagi mereka yang telah disalahgunakan atau mengalami trauma dalam beberapa cara, terapi bermain menawarkan kesempatan untuk bekerja melalui peristiwa dengan terapis bermain khusus dalam lingkungan yang aman. 4 2.11 Faktor Resiko Karakteristik orang tua yang berisiko melakukan kekerasan kepada anak-anaknya adalah: orang tua yang agresif dan impulsif, orang tua tunggal, berusia muda, adanya masalah dalam perkawinan seperti perceraian, konflik dalam keluarga misalnya dengan mertua, keluarga yang memiliki banyak anak, orang tua yang kecanduan obat atau alkohol, keluarga di daerah baru tanpa teman, dan orang tua yang kurang berpendidikan (Kalibonso & Dharmano, 2001). Keluarga yang mengalami konflik mempunyai pengaruh langsung pada anak dalam sosialisasinya anak. 2.12 Evaluasi Medis Untuk melihat akibat perlakuan salah pada anak, kita harus mengetahui umur dan tingkat perkembangan anak pada saat kejadian yang dialami anak, pengalaman anak dalam
Child Abuse Page 23

di

lingkungan

masyarakat

maupun

sekolah.

Kekerasan pada anak dapat menyebabkan keterlambatan dan gangguan tumbuh kembang pada

menghadapinya, dan seluruh lingkungan emosi dari keluarganya. Dari observasi klinik, salah perlakuan dapat mempengaruhi banyak hal, termasuk kelainan fisik perkembangan emosi dan aspek kognitifnya. Dalam mendiagnosis diperlukan riwayat penyakit, pemeriksaan fisik dan mental, laboratorium dan radiologi. Sehingga diperlukan pendekatan multi disiplin. Dokter yang melihat pasien anak-anak harus 1. akrab dengan manifestasi umum dari pelecehan anak 2. termotivasi untuk melaporkan temuan mereka ke instansi yang berwenang, dan 3. siap untuk bersaksi.8 Seorang ahli medis dalam penyalahgunaan fisik harus seorang dokter dengan pelatihan yang cukup besar atau pengalaman dalam mendiagnosis cedera nonaccidental pada anak-anak dan bayi. Tambahan untuk pelatihan dan pengalaman dengan banyak kasus, ahli ekspertise penyiksaan fisik harus memiliki keakraban umum dengan buku teks dan literatur jurtnal yang menggambarkan fitur diagnostik cedera nonaccicental. Yang paling ahli dalam ekspertise pelecehan fisik pada anak adalah dokter anak. Spesialis medis lainnya yang mungkin menjadi ahli dalam kasus-kasus kekerasan fisik termasuk ahli radiologi, ahli patologi, dokter keluarga, dan dokter perawatan darurat dan kritis (UDG). Para spesialis ini juga harus menunjukkan pelatihan dan pengalaman di bidang tertentu dari kekerasan fisik. Sedangkan pada kasus kekerasan seksual pada anak perlu dipertimbangkan dua hal : anamnesis dan pemeriksaan fisik.8 Sedangkan kasus penelantaran anak lebih sedikit dibandingkan kasus kekerasan fisik pada anak atau kejahatan seksual pada anak. Kasus penelantaran anak ini biasanya dilakukan justru oleh orang tua kandungnya. Secara medis kasus ini terjadi jika intervensi terhadap perlindungan kesehatan tidak diberikan dari orangtua kepada anaknya. Tetapi karena alasan budaya hal itu biasa dilakukan. 8 Kekerasan emosional dalam medis dapat didiagnosis oleh seorang psikiatris atau seorang psikologis yang mengevalusi secara emosional maupun mental.8

Child Abuse Page 24

BAB III PENUTUP

III. Kesimpulan Kekerasan terhadap anak merupakan masalah pada anak yang diperlukan penanganan secara multidisiplin. Diagnosis sukar, karena kecenderungan orang tua atau pengasuh anak yang mengalami perlakuan salah tersebut berusaha mmenutupi kesalahannya. Walaupun mencegah perlakuan salah sangat sulit, tetapi intevensi perlu dilakukan agar anak yang kembali ke rumah orang tuanya tidak mengalami nasib yang lebih jelek. Faktor dan sumber utama kekerasan pada anak, seperti masalah orangtua dengan pasangannya, zat-zat aditif, alkohol, bahkan faktor ekomoni ikut berperan serta dalam menambah tingginya angka kasus kekerasan terhadap anak yang kerap tidak disadari oleh orangtua dan sekitar. KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia) merupakan instansi yang dibentuk untuk dapat melindungi anak dan hak-haknya. Sekalipun dengan adanya KPAI ini, pada kenyataannya masih banyak anak-anak yang mengalami kekerasan dan pelecehan di Indonesia.

Child Abuse Page 25

DAFTAR PUSTAKA

1. Pemerintah Akan Mulai Gerakan Nasional Penghentian Kekerasan Terhadap Anak.

Diunduh dari http://www.setneg.go.id diakses pada tanggal 21 September 2012.


2. Child abuse, definition, prevention diunduh dari

http://www.emedicinehealth.com/child_abuse/article_em.htm diakses pada tanggal 21 September 2012.


3. Kekerasan Terhadap anak diunduh dari http://duniapsikologi.dagdigdug.com/2008/11/27/kekerasan-terhadap-anak/

di akses pada tanggal 19 September 2012. 4. Nelson. 1999. Ilmu Kesehatan Anak I. Jakarta : EGC.
5. Penatalaksanaan dan pemeriksaan korban child abuse di unduh dari

http://www.kidscape.org.uk/professionals/childabuse.shtml di akses pada tanggal 21 September 2012.


6. Hak-hak setiap anak di unduh dari http://Komisi Perlindungan Anak Indonesia.co.id

diakses pada tanggal 21 September 2012.


7. Kekerasan pada anak diunduh dari http://www.perfspot.com/blogs/blog.asp?

BlogId=121153 ditulis oleh Lidya M.Kes diakses pada tanggal 21 September 2012. 8. The pediatrics clinics of north America. Child Abuse. Robert M. Reece,MD,volume 37 number 4, august 1990. 9. Mengenal Konvensi Anak diunduh dari
Child Abuse Page 26

http://hukum.kompasiana.com/2010/10/02/mengenal-konvensi-hak-anak/ diakses pada tanggal 21 September 2012. 10. Anna Budi Keliat. 1998. Penganiayaan Dan Kekerasan Pada Anak. Jakarta : FIK UI 11. Ennis Sharon Axton. 2003. Pediatric Nursing Care Plans,2nd Edition,Pearson Education,New Jersey.

Child Abuse Page 27