Anda di halaman 1dari 12

SEJARAH PERADABAN ISLAM DI ANDALUSIA (SPANYOL) Makalah Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Sejarah Peradaban Islam Oleh:

Anis Lutfi Masykur

JURUSAN AQIDAH-FILSAFAT FAKULTAS USHULUDDIN DAN FILSAFAT UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

1431 H 2010 M

KATA PENGANTAR Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat serta hidayah-Nya sehingga penyusunan tugas ini dapat diseles aikan. Tugas ini disusun untuk diajukan sebagai tugas mata kuliah Sejarah Peradaban Is lam dengan judul Sejarah Peradaban Islam di Andalusia (Spanyol) di Fakultas Ushulu ddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jurusan Aqidah Filsafat. Terima kasih disampaikan kepada Ibu Marzuqoh, MA. selaku dosen mata kuliah Sejar ah Peradaban Islam yang telah membimbing dan memberikan kuliah demi lancarnya tu gas ini. Demikianlah tugas ini disusun semoga bermanfaat, agar dapat memenuhi tugas mata kuliah. Menyadari makalah ini jauh dari kesempurnaan, kami mengharapkan saran da n kritik. Jakarta, 12 Juni 2010

Penulis

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR DAFTAR ISI PENDAHULUAN ii iii 1 2

PEMBAHASAN 2 A. PERKEMBANGAN ISLAM DI ANDALUSIA 1. Periode Para Wali 3 2. Masa Keamiran 4 3. Masa Kekhalifahan 4 4. Muluk at-Thawaif 5 5. Reconquesta (penaklukan kembali) 6. Masa Dinasti Murabithun 6 7. Masa Dinasti Muwahhidun 6 8. Masa Bani Ahmar (1232 1492 M) B. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. KEMAJUAN PERADABAN ISLAM DI ANDALUSIA. Bidang Ilmu Pengetahuan dan Filsafat. Bidang Geografi dan Sains. Bidang Sejarah dan Sosiologi. Bidang Agama dan Hukum Islam. Bidang Musik dan Kesenian. Bidang Bahasa dan Sastra. Bidang Pembangunan Fisik.

5 6 7 7 7 7 8 8 8 8

C. RUNTUHNYA KERAJAAN ANDALUSIA. 8 1. Lemahnya Kekuasaan Bani Umayyah II dan Bangkitnya Kerajaan-Kerajaan Keci l di Andalusia. 8 2. Timbulnya Semangat Orang-Orang Eropa Untuk Menguasai Kembali Andalusia. 8 D. HANCURNYA PERADABAN ISLAM DI ANDALUSIA 9 1. Hancurnya Kekuasaan Islam dan Rendahnya Semangat Para Ahli Dalam Menggal i Budaya Islam. 9 2. Banyaknya Orang-Orang Eropa Yang Menguasai Ilmu Pengetahuan Dari Islam. 9 PENUTUP Kesimpulan DAFTAR PUSTAKA 10 10 11

PENDAHULUAN Dalam dunia Islam berlaku satu peradaban yang berbeda dengan peradaban-peradaban yang terdahulu di wilayah Persia dan Romawi. Suatu peradaban yang berbeda denga n peradaban Arab yang mendominasi Jazirah Arab pada masa ekspansi. Itulah perada ban Islam yang jiwa dan sendi-sendinya disarikan dari Islam serta diserap dari k eunggulan-keunggulan peradaban dunia yang sesuai dengan nilai-nilai ajaran Islam . Dunia lebih mendapatkan manfaat dari peradaban Islam dibandingkan peradaban dua negara adikuasa sebelumnya, Yunani dan Romawi. Peradaban Yunani lebih banyak mem usatkan perhatian kepada pemikiran dan filsafat serta tidak banyak memperhatikan kebutuhan masyarakat dan kehidupan individu. Lain halnya dengan peradaban Islam selain memotivasi kepada pemikiran dan filsafat, juga sangat memperhatikan aspe k-aspek kehidupan individu dan masyarakat serta bertujuan untuk menciptakan kese jahteraan dunia dan akhirat. Oleh sebab itu ekspansi Islam berbeda dengan ekspansi yang dilakukan Romawi dan Mongol yang sama sekali tidak memperhatikan nilai peradaban yang tinggi, bahkan sebaliknya, bangsa Mongol telah merusak dan membinasakan peradaban yang telah ad a. Sedangkan ekspansi Islam membawa risalah peradaban yang mengajak pada perdama ian, kesejahteraan dan ketenangan dalam kehidupan. Berbagai peristiwa dalam sejarah telah menunjukkan peranan dan kontribusi perada ban Islam untuk kemajuan peradaban dunia, khususnya dunia Eropa yang sebelumnya berada dalam kegelapan di bawah kungkungan gereja. Hal ini dapat dilihat dari masuknya Islam ke Spanyol yang merupakan bagian dari Benua Eropa. Kehadiran Islam di Spanyol telah membawa Eropa mencapai renaisans.

PEMBAHASAN

A. PERKEMBANGAN ISLAM DI ANDALUSIA Sebelum Islam masuk ke Spanyol / Andalusia [1], daerah Spanyol telah dikuasai ol eh bangsa Ghotia, mereka berhasil menduduki Spanyol pada tahun 507 M, dan mengus ir bangsa Vandal ke Afrika Utara. Pada pemerintahan kerajaan Visigoth, rakyat di paksa untuk mengikuti aliran agama monofosit yang dianut para penguasa. Disampin g itu kehidupan sosial dan ekonomi rakyat pun berada dalam kondisi yang terpuruk karena kebijakan penguasa yang sewenang-wenang. Sementara itu di daerah tersebut juga terjadi konflik politik antara Roderik dan kerabat Witiza Oppas dan Achila [2] di satu pihak, dan antara Roderik dan Julia n [3] di pihak lain. Lawan-lawan politik raja Roderik meminta bantuan kaum musli min di Afrika Utara, bahkan turut memberikan dukungan dan bantuan kepada pasukan Islam yang akan menaklukkan Spanyol. Gubernur Afrika Utara saat itu Musa bin Nushair meminta izin kepada Khafilah Wal id bin Abdul Malik untuk melakukan penyerbuan ke Spanyol, dan usul tersebut dise tujui oleh khalifah. [4] Maka pada tahun 91 H / 710 M, dikirimlah tim ekspedisi beranggotakan 500 personil pasukan yang dipimpin oleh Tharif bin Malik. Tim eksp edisi tersebut tidak menemukan perlawanan yang berarti sehingga Tharif bin Malik dan pasukannya kembali dengan kemenangan dan rampasan perang. [5] Sukses ini mendorong Musa bin Nushair untuk mengirim pasukan dengan jumlah yang lebih besar. Maka pada tahun 92 H / 711 M dikirimlah 7000 personil pasukan di ba wah pimpinan Thariq bin Ziyad. Pasukan ini menyeberangi selat yang memisahkan an tara Afrika Utara dan Spanyol dengan kapal-kapal yang dipinjamkan oleh Julian da n berhenti di sebuah tempat bernama Jazirah al-Khadra, yang kemudian dikenal den gan nama Jabal Thariq (Gibratal). Disanalah Thariq bin Ziyad mempersiapkan renca na dan siasat untuk menaklukkan Spanyol. [6] Kedatangan pasukan Islam disambut oleh Roderik, raja Visigoth dengan 100.000 ten tara. Thariq meminta tambahan bantuan 5000 pasukan kepada Musa bin Nushair. Keku atan tampak tidak seimbang, namun dengan semangat jihad yang tinggi dari pasukan Islam, pasukan Roderik dapat dikalahkan, bahkan Roderik pun tewas dalam pertemp uran. Hal ini sehingga melemahkan semangat orang-orang Spanyol dan memudahkan Th ariq untuk menaklukkan mereka. Thariq terus maju dan dapat menaklukkan kota Cord oba, Granada dan Toledo yang merupakan ibukota Visigoth. [7] Terkesan oleh kemenangan yang dicapai Thariq, Musa bin Nushair pun ikut ambil ba gian untuk menaklukkan Spanyol. Dengan memimpin pasukan dengan jumlah besar, Mus a bin Nushair menyeberangi selat menuju Carmona yang memiliki benteng kuat. Kota tersebut dapat ditaklukkan, selanjutnya Musa dapat menaklukkan Sevilla dan akhi rnya bertemu dengan Thariq di Toledo. Pasukan mereka menuju ke utara dan dapat m enaklukkan kota Zaragosa, Barcelona, Aragon dan Castilia, kemudian menuju ke Tim ur laut sampai ke pegunungan Pyrenia. Penaklukan mereka terhenti karena Khalifah Walid bin Abdul Malik memanggil mereka kembali ke Damaskus. [8] Secara umum kesuksesan pasukan Islam memiliki semangat juang yang tinggi dan dip impin oleh panglima yang handal dalam strategi dan siasat perang. Disamping sika p toleran yang diperlihatkan pasukan Islam mendatangkan simpati dari bangsa Span yol yang ketika itu mayoritas beragama Yahudi. Berbeda dengan pasukan Spanyol ya ng kebanyakan adalah tawanan dan budak yang dipaksa untuk berperang, sehingga me reka berperang tanpa semangat. Dukungan dan kerjasama dari rakyat Spanyol turut mempermudah usaha pasukan Islam untuk menguasai Spanyol. Rakyat yang ingin melepaskan diri dari keterpurukan ek onomi dan belenggu penderitaan telah menciptakan kondisi yang menguntungkan bagi umat Islam. Di lain pihak pertikaian politik dalam tubuh pemerintahan kerajaan Visigoth memperburuk situasi di Spanyol yang tentunya sangat menguntungkan umat Islam karena lawan politik Roderik meminta bantuan kepada penguasa Islam untuk m elumpuhkan kekuatan Roderik. Dan hal ini sekaligus merupakan dukungan mereka kep ada pasukan Islam, bahkan mereka bersedia menyediakan kapal untuk menyeberang ke Spanyol. Maka ekspansi Islam ke Spanyol pada saat itu adalah awal berkembangnya ajaran Is 1609. Secara garis besar perk lam di sana hingga + 8 abad lamanya dari tahun 710 embangan Islam di Spanyol dapat dibagi kepada beberapa tahap perkembangan sebaga i berikut :

1. Periode Para Wali Pada periode ini Spanyol merupakan salah satu propinsi di bawah kekuasaan Daulah Umayyah di Damaskus, yang dipimpin oleh para wali wakil Khalifah disana, mulai dari tahun 93 H / 716 M sampai tahun 138 H/ 756 M. [9] Pada masa ini, stabilitas politik di Spanyol belum tercipta dengan sempurna, dim ana diantara para elite penguasa masih terdapat perselisihan, terutama diakibatk an oleh perbedaan etnis dan golongan, seperti antara etnis Barbar dan Arab yang masing-masing mereka berhak untuk memerintah di negeri tersebut. Bahkan terjadi pula perbedaan pandangan politik antara Khalifah di Damaskus dan Gubernur Afrika Utara, dimana diantara mereka merasa paling berhak berkuasa di Spanyol. Hal ini sering menyulut terjadinya perang saudara, sehingga dalam jangka 40 tahun terja di 20 kali pergantian wali dengan wali yang pertama adalah Abdul Aziz bin Musa b in Nushair, sampai Gubernur terakhirnya Yusuf bin Abdurrahman al-Fihri. [10] Disamping itu gangguan dari luar datang dari sisa-sisa musuh Islam di Spanyol ya ng bertempat tinggal di daerah-daerah pegunungan yang memang tidak pernah tunduk kepada pemerintahan Islam. Namun demikian pada masa itu, perluasan daerah tetap dapat dilakukan. Pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz, usaha penaklukan Spany ol diteruskan untuk menerobos pegunungan Pyneria dan terus ke timur di bawah pim pinan As-Samah bin Malik pada tahun 719 M, namun ia terbunuh dan digantikan oleh Abdurrahman al-Ghafiqy. Dengan pasukannya ia menyerang kota Bordesu, Poiter dan terus ke kota Tours, namun pasukannya ditahan oleh Charles Martel diantara kota Poiter dan Tours, sehingga penyerangan ke Perancis gagal dan pasuka Islam kemba li ke Spanyol. Setelah itu perluasan wilayah pada masa tersebut masih terjadi, s eperti ke Avirignon (734 M), Lyon (743 M) dan ke pulau-pulau di laut tengah, sep erti Majorka, Corsia, Sardina, Creta, Rhodes, Cyprus dan sebagian dari pulau Sic ilia. [11] 2. Masa Keamiran Periode ini dimulai dengan masuknya Abdurrahman ad-Dakhil [12] ke Spanyol dan be rhasil merebut kekuasaan dari Yusuf bin Abdurrahman al-Fihri. Pada periode ini S panyol dipimpin oleh para Amir yang pemerintahannya terpisah dari Daulah Abbasiy ah di Baghdad, yang berlangsung selama rentang waktu 138 H / 756 M sampai 315 H / 912 M. [13] Kemajuan-kemajuan di bidang politik maupun peradaban telah mulai terlihat pada m asa ini. Hal ini terlihat dari pembangunan fisik yang dilakukan, seperti pembang unan Mesjid Cordova dan gedung-gedung sekolah di kota besar Spanyol oleh Abdurra hman ad-Dahkhil. Pada masa Hakam diadakanlah pembaharuan di bidang militer, sepe rti dengan membentuk satuan tentara bayaran. Disamping itu perhatian para Amir terhadap ilmu pengetahuan telah turut menjadi faktor pendukung berkembangnya berbagai disiplin ilmu. Abdurrahman al-Ausath bah kan mengundang para ahli ilmu dari dunia Islam lainnya untuk datang ke Spanyol u ntuk mendukung perkembangan ilmu pengetahuan. Pada masa ini ditandai dengan masu k dan berkembangnya pemikiran filsafat di dunia Islam Spanyol. [14] Pada masa ini umat Islam masih dihadapkan kepada hal yang mengancam stabilitas k eamanan, baik yang datang dari luar Islam seperti gerakan Nasrani fanatik yang m encari kesyahidan (Matyrdom) maupun dari kalangan umat Islam sendiri seperti pem berontakan dipimpin oleh Hafshun dan anaknya yang berpusat di pegunungan Malaga ataupun pemberontakan yang terjadi di Toledo, disamping perselisihan yang kerap terjadi antara orang-orang Arab dan orang Barbar. [15] 3. Masa Kekhalifahan Periode ini berlangsung semenjak Abdurrahman III yang bergelar an-Nashir memerin tah pada tahun 315 H/912 M sampai munculnya periode Muluk ath-Tahwaif pada tahun 1013 M. Pada masa ini penguasa di Spanyol bergelar khalifah. Gelar tersebut ber mula ketika Abdurrahman III mengetahui bahwa Khalifah Abasiyyah, al-Muktadir, wa fat dibunuh oleh pengawalnya, tahun 929 M. Maka Abdurrahman III menilai ini adal ah saat yang tepat untuk memproklamirkan dirinya sebagai khalifah di Spanyol. Ke mudian gelar ini tetap dipakai sampai akhir pemerintahan Bani Umayyah. [16] Abdurrahman III dengan gelar an-Nashir yang memerintah + 50 tahun telah berhasil

menciptakan stabilitas politik di Spanyol, hal ini dibuktikan dengan keberhasil annya memadamkan pemberontakan-pemberontakan, dan meredam timbulnya perpecahan d an perselisihan diantara bangsa Arab. [17] Pada periode ini Umat Islam di Spanyol mencapai puncak kejayaannya, hingga dapat menyaingi kejayaan Bani Abasiyyah di Baghdad. Hal ini terlihat dari pesatnya pe rkembangan ilmu pengetahuan di daerah tersebut dengan didukung oleh sarana penun jang yang dibangun oleh pemerintahan Daulah Umayyah disana, seperti pembangunan Universitas Cordova dengan koleksi buku-buku mencapai ratusan ribu. [18] Bahkan pada masa al-Hakam II, Andalus dikenal sebagai pusat kebudayaan, kesusasteraan d an Ilmu Pengetahuan. [19] Kondisi ini terus berlangsung sampai kepada masa khalifah al-Muzaffar, akan teta pi setelah beliau wafat pada tahun 1008 M, para penerus Bani Umayyah tidak dapat mempertahankan kejayaan negeri tersebut. Para khalifah yang terpilih memiliki k ecakapan dalam pemerintahan, hingga memicu timbulnya berbagai kekacauan yang akh irnya membawa kepada kehancuran, sekaligus menjadi tanda berakhirnya kekuasaan D aulah Umayyah di Spanyol. Pada tahun 1013 M, Dewan Menteri yang memerintah Cordo va menghapus jabatan khalifah, dan ketika itu Spanyol sudah terpecah dalam beber apa kerajaan kecil yang berpusat di kota-kota tertentu. [20]

4. Muluk at-Thawaif Periode ini dimulai saat Spanyol terpecah kepada lebih dari tiga puluh negara ke cil, yang dipimpin oleh penguasa-penguasa yang berasal dari berbagai suku bangsa dan yang dikenal dengan istilah muluk at-thawaif, yang berlangsung dari tahun 1 013 1086 M. [21] Perpecahan tersebut sekaligus mencerminkan heterogenitas anggota militer pada ma sa Bani Umayyah yang kemudian melepaskan diri dari pemerintahan pusat, selain it u hal ini juga dapat dipahami sebagai ketidak harmonisan umat Islam di Spanyol, karena terlalu mengedepankan perbedaan etnik dan golongan masing-masing, disampi ng ambisi yang terlalu kuat dari masing-masing golongan untuk berkuasa di Spanyo l, ditambah lagi dengan dihapuskannya jabatan Khalifah oleh Dewan menteri, yang semakin membuka peluang untuk perebutan kekuasaan, hingga berujung kepada terpec ahnya Spanyol menjadi negara-negara kecil. Pemerintah pada periode ini diwarnai dengan berbagai peperangan antara golongan, kerajaan yang kuat menyerang yang lemah sehingga untuk mempertahankan kekuasaan nya, ada sebagian golongan yang meminta bantuan kepada non muslin. Perpecahan po litik di kalangan umat Islam ini, menimbulkan hasrat orang-orang Nasrani untuk m erebut kembali daerah Spanyol, hal ini diwujudkan dengan berbagai serangan oleh pihak Nasrani terhadap Islam. Pihak Nasrani yang diwakili oleh Alfonso V berhasi l merebut kota Toledo pada tahun 1085, [22] dan serangan-serangan lain mulai dil ancarkan kepada daerah-daerah kekuasaan Islam lainnya. Al-Mu tamad bin Ubaad salah seorang dari raja Bani Ubaad meminta bantuan kepada Dinasti Murabithun di Afrik a Utara, yang pada saat itu dipimpin oleh Yusuf bin Tasyfin. Yusuf datang bersam a pasukannya pada tahun 1086 dan bergabung dengan pasukan al-Mu tamad di daerah Za llaka yang kemudian berhasil mengalahkan pasukan Alfonso VI, walaupun kota Toled o tidak dapat direbutnya kembali. [23] Dan sejak saat itu kekuasaan Islam di Spa nyol diambil alih oleh Dinasti Murabithun. Walaupun pada masa ini merupakan masa perpecahan tapi peradaban dan seni diangga p memasuki masa kejayaannya, kerajaan-kerajaan yang tersebar di seluruh Spanyol tersebut tetap memberikan dorongan kepada para ilmuwan dan sastrawan untuk menge mbangkan ilmunya, bahkan mereka mendapatkan perlindungan dari kalangan penguasa. [24] Bahkan para pemimpin setiap golongan berlomba-lomba untuk menyaingi kemaju an Cordoba sebagai pusat ilmu, sehingga pada masa tersebut bermunculan pusat-pus at peradaban baru yang lebih maju dari Cordoba. 5. Reconquesta (penaklukan kembali) Perpecahan politik yang terjadi di kalangan umat islam, membuat orang-orang Kris ten berkeinginan untuk merebut kembali dan menjarah beberapa wilayah Muslim Span

yol. Yang memang orang-orang Kristen dari sejak kedatangan umat Islam sudah berm aksud untuk mengusirnya, namun maksud tersebut belum terlaksana. Sentimen orangorang Kristen juga diungkapkan dalam bentuk pendirian sejumlah biara Benedictine dan kwgiatan perziarahan ke Santiago de Compo Stela. Paus Gregory VII menyeruka n untuk melakukan gerakan reconquesta (penaklukan kembali wilayah Spanyol dari u mat Islam). Paus menjadikan reconquesta sebagai kewajiban agama bagi umat Kriste n dan sebagai sebuah ambisi teritorial raja-raja Spanyol. Dengan semangat untuk mempersatukan kerajaan Castile, Leon dan kerajaan Galicia, pada tahun 1085, Alfonso VI menaklukan Toledo. Hal ini merupakan awal dari peca hnya peperangan antara pihak Muslim dengan Kristen. Kaum migran Kristen membanji ri Toledo, tetapi warga Muslim tetap bertahan tinggal disana. Dalam waktu yang b erurutan kerajaan Aragon merebut Huesca (1096), Saragosa (1118 M), Tortosa (1148 M) dan Lerida (1149 M). Pada paro kedua abad kedua belas gerakan reconquesta te lah melembaga. Persaudaraan militer-keagamaan, seperti beberapa gerakan persauda raan di Calatrava dan Santiago menaklukan dan menjarah sejumlah wilayah Muslim. 6. Masa Dinasti Murabithun [25] Periode ini dimulai semenjak Yusuf bin Tasyfin berhasil mengalahkan pasukan Alfo nso pada tahun 1086 M. Tertarik dengan kemakmuran Spanyol, membuat ia berambisi untuk menaklukkan Spanyol. Hanya dalam jangka waktu tiga tahun ia berhasil mereb ut Spanyol dan mengahkhiri kekuasaan Muluk at-Thawaif kecuali wilayah Zaragosa d an La Sahla karena para penguasanya meminta bantuan ke Eropa. Yusuf mengukuhkan kekuasaannya di Spanyol atas restu khalifah al-Muqtadi, dengan gelar Amirul Musl imin dan Nashiruddin, yang kemudian juga digunakan oleh para penerusnya. [26] Un tuk mengatur Spanyol Yusuf bin Tasyufin menunjuk putranya Tamin bin Yusuf menjad i Amir di Spanyol. [27] Pada periode ini perkembangan ilmu pengetahuan dan kebudayaan tidak begitu menon jol, hal ini disebabkan pengaruh fuqaha yang fundamentalis, segala kegiatan keilm uan harus sesuai dengan kehendak fuqaha , disamping itu penguasa Dinasti Murabithu n lebih memfokuskan kegiatannya kepada gerakan pemurnian ajaran Islam. [28] Sehi ngga perkembangan peradaban sedikit terabaikan Kekuasaan Dinasti Murabithun di Spanyol hanya berlangsung sampai tahun 1149 M. K etika Yusuf bin Tasyufin mangkat, ia digantikan oleh putranya Alif bin Yusuf yan g selalu disibukkan oleh usaha untuk menumpas pemberontakan, maka lambat laun Mu rabithun pun mundur. Para penggantinya pun bukanlah orang-orang yang cakap, sehi ngga kekuasaan Dinasti ini dapat diambil oleh Dinasti Muwahhidun, disamping adan ya serangan dari pihak Nasrani, yang pada masa ini telah berhasil merebut bebera pa daerah kekuasaan Islam seperti Castile, Barcelona, dan beberapa daerah lainny a. 7. Masa Dinasti Muwahhidun [29] Kekuasaan Dinasti Muwahhidun di Spanyol dimulai pada tahun 1149 M setelah berhas il menumbangkan kekuasaan Dinasti Murabithun di Maghribi, kemudian berhasil mere but kekuasaan di Spanyol dengan tekad mengembalikan kejayaan Islam di sana. Untu k masa beberapa dekade Dinasti ini mengalami kemajuan. Pada masa ini serangan dari pihak Nasrani semakin gencar, pada awalnya serangan yang dilancarkan oleh pihak Nasrani dapat dipatahkan, sampai akhirnya Dinasti Mu wahhidun dihadapkan pada perang Las Nafas de Tolosa. Pada saat itu pasukan Nasra ni dipimpin oleh Alfonso VIII, raja Castile, dengan mengatas namakan perang suci . Mereka berhasil menghimpun bantuan dari Perancis, Jerman, Inggris, dan Italia. Pasukan Islam yang saat itu dibawah kepemimpinan al-Mansur Billah mengalami kek alahan besar, yang membawa kepada berakhirnya kekuasaan Dinasti Muwahhidun di Sp anyol. Sejak saat itu satu per satu daerah kekuasaan Islam di Spanyol jatuh ke t angan pasukan Nasrani, selama tahun 1238 1260 M mereka dapat menguasai seluruh S panyol [30] kecuali daerah Granada. 8. Masa Bani Ahmar (1232 1492 M) Pada periode ini Islam hanya memiliki daerah kekuasaan di Granada, di bawah peme rintahan Bani Ahmar. Mereka berhasil mengendalikan daerah-daerah pegunungan di P ropinsi Granada, yang kemudian di sana didirikan benteng al-Hamra. Pada masa ini

peradaban kembali mengalami kemajuan seperti pada zaman Abdurrahman III, Granad a pada waktu itu menjadi pusat peradaban yang banyak menarik perhatian para cend ikiawan dan sastrawan khususnya yang berada di kawasan barat Islam. [31] Keadaan ini dapat dipertahankan selama 2 abad, yang mungkin sangat erat kaitanny a dengan penguasa Granada hanya terdiri dari satu etnis yaitu Arab, yang berasal dari daerah Spanyol lainnya, yang kemudian berlindung di bawah kekuasaan Bani A hmar. Akan tetapi pada akhir pemerintahan, perebutan kekuasaan di dalam tubuh pemerint ahan Bani Ahmar tidak dapat dielakkan, hingga mengakibatkan lemahnya posisi keku atan Muslim di Granada. Abu Abdullah yang ingin berkuasa meminta bantuan dari or ang-orang Nasrani yang waktu itu dipimpin oleh Ferdinand II dan Isabella untuk m enumbangkan pemerintahan yang sah. Kesempatan ini dipergunakan oleh umat Nasrani untuk merebut kekuasaan terakhir umat Islam di Spanyol tersebut, mereka berhasi l mengalahkan pemerintahan yang sah, bahkan Granada berhasil mereka taklukkan. M uhammad IX Sultan Bani Ahmar terakhir, meninggalkan Spanyol. Demikian juga denga n Abu Abdullah yang kemudian hijrah ke Afrika Utara. Hal ini menandai berakhirny a kekuasaan Islam di Spanyol. Jatuhnya kota Granada ke tangan umat Nasrani menjadi tanda berakhirnya kekuasaan Islam di Spanyol. Para penguasa Bani Ahmar mengambil inisiatif untuk hijrah ke daerah Islam lainnya. Sedangkan masyarakat Islam di Spanyol dihadapkan kepada du a pilihan, antara menjadi pengikut agama Nasrani atau meninggalkan daerah Spanyo l, sehingga pada tahun 1609 M tidak ada lagi umat Islam yang tinggal di daerah t ersebut. [32] B. KEMAJUAN PERADABAN ISLAM DI ANDALUSIA. 1. Bidang Ilmu Pengetahuan dan Filsafat. Ketika Islam berjaya di Andalusia, ilmu pengetahuan dan filsafat mengala mi perkembangan yang cukup pesat. Ketika Islam lahir, sebagai agama pemersatu dan agama peradaban, bangsa Yunani s edang tenggelam dalam kekuasaan pemerintah yang kejam, sedang dunia Islam mulai menyingsingkan fajar kebebasan, terutama bagi berkembangnya ilmu pengetahuan. Mi nat terhadap filsafat dan ilmu pengetahuan mulai dikembangkan oleh penguasa Musl im ketika itu, sehingga para ilmuwan dan filsof kenamaan banyak lahir di dunia I slam, seperti Ibnu Hazm dengan karyanya al-Milal wa al-Nihal, Abu bakr Muhamad I bnu Al-Asyik (wafat 1138) yang dikenal Ibnu Bajah, Abu Bakar Ibnu Thufael (wafat 1185) yang dikenal dengan bukunya yang berjudul Hay bin Yaqdzan , Ibnu Rusyd (1126 1198 M) yang dikenal dengan sebutan Averous, karyanya antara lain Tuhafut al-Tu hafut. 2. Bidang Geografi dan Sains. Ilmuwan di bidang geografi lahirlah nama Ibnu Jubair, seorang pengarang buku ber judul Perlawatan ke negeri-negeri Islam , Abu Hamid Al-Hazim dan Abu Ubaid Al-Bakry . Di bidang sains muncullah nama-nama yang ahli di bidang kedokteran, musik, matem atika, astronomi, kimia, dan lain-lainnya misalnya Wafid Al-Bakhmi, Khalaf Al-Za hrawi, sebagai ahli di bidang kedokteran dan ilmu fa al. Abu Qasim al-Zanrawi seor ang dokter bedah yang mengarang buku Al-Tasrif setebal 30 jilid, Ibnu Khatimah a hli penyakit Malaria, Abbas Ibnu Farnas ahli Kimia dan Astronomi, ia adalah seor ang ilmuwan pertama yang menemukan cara membuat kaca dari batu. 3. Bidang Sejarah dan Sosiologi. Ilmu sejarah dan sosiologi juga berkembang pesat di Andalusia semasa pemerintaha n Islam. Ahli sejarah dan sosiologi yang menjadi peletak dasar teori-teori sejar ah dan sosiologi banyak bermunculan pada masa ini. Mereka antara lain; Ibnu Hazm dengan karyanya Jamharah al-Ahsab dan Rasail fi Fadl Ahlal Andalus, Ibnu Batuta h (1304 1374) seorang sejarawan yangpernah berkunjung ke Indonesia dan Asia Teng gara, Ibnu Jubair dari Valencia (1145 1228 M) seorang ahli sejarah dan geografi yang menulis sejarah negeri-negeri muslim Mediterania dan Cicilia, Ibnu Khaldun dari Tunis, seorang ahli filsafat sejarah yang terkenal dengan bukunya Mukaddima h.

4. Bidang Agama dan Hukum Islam. Bidang ilmu-ilmu Islam juga turut berkembang pesat di Andalusia, yang pada akhir nya melahirkan tokoh-tokoh yang berkompeten di bidang ini, antara lain Ibnu Rusy d yang terkenal dengan karyanya; Bidayat al-Mujtahid Wa Nihayah al-Mukhtashid, d an Ibnu Hazm yang terkenal dengan karyanya; Al-Ahkam fi Ushul al-Ahkam, dan seba gainya. 5. Bidang Musik dan Kesenian. Tokoh yang terkenal pada masa ini di bidang musik dan seni suara adalah Al-hasan bin Nafi yang dijuluki Zaryab, ia adalah seorang seniman yang terkenal di zamann ya. 6. Bidang Bahasa dan Sastra. Di bidang bahasa dan sastra, bahas Arab merupakan bahasa administrasi bagi pemer intahan Islam Spanyol. Hal itu dapat diterima oleh orang-orang Islam dan muslim di negeri itu termasuk penduduk asli. Di antara tokoh yang terkenal pada masa it u adalah Ibn Malik pengarang kitab Alfiyah , Ibn Khuru, Ibn Al-Haj, dan sebagainya, sedangkan tokoh sastranya antara lain Ibn Abdi Rabah dengan bukunya Al-Iqd al-F arid, Ibn Basam dengan bukunya Al-Dzakirah fi Miahasin al-Jazirah, dan Al-Fath I bn al-Haqan dengan karangannya Al-Qalaid. 7. Bidang Pembangunan Fisik. Pemerintahan Islam di Andalusia juga mengembangkan dan membangun beberapa lembag a berikut sarana dan prasarananya, misalnya membangun tropong bintang di Cordova , membangun pasar dan jembatan, melakukan upaya pengendalian banjir dan penyimpa nan air hujan, membangun sistem irigasi hidrolik dengan menggunakan roda air (wa ter wheel), memperkenalkan tanaman padi dan jeruk, dan mendirikan pabrik-pabrik tekstil, kulit, logam, dan lainnya. [33] C. RUNTUHNYA KERAJAAN ANDALUSIA. 1. Lemahnya Kekuasaan Bani Umayyah II dan Bangkitnya Kerajaan-Kerajaan Kecil di Andalusia. Menurut data sejarah, pada saat itu kerajaan Islam di Spanyol terpecah-pecah men jadi kerajaan kecil. Sepeninggal dinasti Umayyah, kerajaan di Spanyol menjadi 20 wilayah kerajaan kecil. Kerajaan-kerajaan itu antara lain bani Ibad di Seville, bani Hamud di Malaga, bani Zirry di Granada, bani Hud di Saragosa, dan yang ter kenal adalah bani Dzin Nun yang menguasai kota Toledo, Valensia, dan Marusa. Raja-raja kecil ini sering berebut kekuasaan, yang satu menghantam yang lain, se hingga kekuatan mereka menjadi lemah, sedangkan pada saat yang sama, raja-raja E ropa bersatu. Raja Al-Fonso VI dan Leon mengadakan kerjasama dengan Australia, C astilia dan raja-raja lainnya. Mereka bersatu menghimpun kekuatan untuk menghanc urkan kekuatan Islam di Spanyol. Kekuatan baru inilah yang dapat menaklukkan kot a Granada pada tahun 898 H / 1492 M. Dengan jatuhnya kota Granada, berakhirlah kekuasaan Islam Arab pada masa itu di Andalusia, setelah mereka menguasai negeri itu selama delapan abad. 2. Timbulnya Semangat Orang-Orang Eropa Untuk Menguasai Kembali Andalusia. Kekuatan Islam berlangsung dalam waktu yang cukup lama, dan selama itu pula oran g-orang Eropa mulai menyusun kekuatannya untuk menghancurkan Islam. Pada saat ke kuasaan Islam mulai melemah, mereka segera menyusun kekuatan baru yang luar bias a. Serangan demi seranganpun dilancarkan terhadap kekuasaan Islam, tetapi pada m ulanya masih dapat digagalkan. Pada masa pemerintahan Bani Ahmar (1232- 1492), khususnya pada masa pemerintahan Abdurrahman Al-Nasir, kekuatan umat Islam dapat dipulihkan kembali. Akan tetapi menjelang akhir hayatnya, ia mewariskan kekuasaan itu kepada adik kandungnya. A kibatnya Abu Abdullah Muhammad sebagai anaknya merasa kecewa, dan menuntut balas terhadap ayahnya. Dia mengadakan pemberontakan yang menewaskan sang ayah, tetap i kursi kerajaan tetap pada pamannya. Abu Abdullah kembali menyusun rencana pemb erontakan dengan meminta bantuan penguasa Kristen Ferdinand dan Isabella. Permin

taan itu dikabulkan dan pamannya tewas terbunuh. Setelah itu, segudang hadiah ya ng terdiri dari emas berlian, diserahkan kepada Ferdinand dan Isabella. Tetapi para penguasa Kristen itu, tidak merasa puas dengan hadiah. Bahkan mereka ingin merebut kekuasaan Abu Abdullah dan mengenyahkan kekuasaan Islam dari tana h Spanyol. Rencana penyerangan pun disusun, dan pada saat pasukan Abu Abdullah d ikepung selama beberapa hari, akhirnya Abu Abdullah menyerah tanpa syarat dan be rsedia hengkang dari bumi Spanyol pada tahun 1492 M. Dengan demikian, tamatlah s udah riwayat perjuangan umat Islam di Andalusia. Pada saat yang bersamaan, pengu asa Eropa Kristen dengan leluasa menancapkan kakinya di bumi Andalusia setelah s elama delapan abad berada di tangan kaum Muslimin. D. HANCURNYA PERADABAN ISLAM DI ANDALUSIA. 1. Hancurnya Kekuasaan Islam dan Rendahnya Semangat Para Ahli Dalam Menggali Bud aya Islam. Hancurnya kekuasaan Islam di Andalusia pada tahun 1492 M berdampak negatif bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan peradaban Islam. Para Ilmuwan dilanda kelesuan , mereka tidak semangat lagi menggali dan mengkaji ilmu pengetahuan. Mereka seak an berputus asa ketika melihat serangan yang bertubi-tubi dilancarkan kepada uma t Islam, terutama lagi tindakan penguasa Kristen itu terhadap peradaban Islam. M ereka menyaksikan banyak pusat-pusat peradaban di hancurkan, bahkan para ilmuwan sendiri, tidak sedikit yang tewas di bunuh tentara Kristen di Spanyol. Peristiw a yang tragis dan sangat mengenaskan itu, amat membekas di lubuk hati para ilmuw an, sehingga mereka banyak yang lari menyelamatkan diri ke Afrika Utara. Peristiwa pahit yang terjadi pada tahun 1492 M itu, membawa dampak psikologis ba gi para ilmuwan muslim. Mereka tidak lagi mempunyai gairah untuk bangkit kembali dan memajukan peradaban Islam, melalui ide-ide cemerlang dan usaha kreatif mere ka selama ini yang telah memberikan andil besar bagi kemajuan peradaban Islam. D ampak yang lebih jauh dari sikap para ilmuwan muslim yang demikian itu, adalah t erjadinya kemandegan peradaban. Peradaban Islam mengalami masa-masa suram dan pe nurunan kualitas intelektual umat Islam. Akhirnya harapan dan keinginan umat Isl am yang mendambakan agar bangkit kembali membangun peradaban Islam, yang pernah jaya di masa lalu tak pernah terwujud. 2. Banyaknya Orang-Orang Eropa Yang Menguasai Ilmu Pengetahuan Dari Islam. Begitu besarnya perhatian para penguasa muslim dan para ilmuwannya terhadap ilmu pengetahuan maka mereka saling bekerja sama untuk memajukan bangsa dan negara. Banyak penelitian dan pengkajian dilakukan, lembaga-lembaga riset dibangun, Seko lah Tinggi dan Universitas didirikan. Di lembaga ini tidak hanya orang Islam yan g diberi kesempatan mempelajari ilmu pengetahuan, tetapi semua orang termasuk or ang Kristen. Akibatnya banyak orang-orang Kristen Barat yang tertarik dan belaaa jar di Universitas-Universitas Islam itu. Karena tertarik oleh metode ilmiah Islam, banyak para pendeta Kristen yang menya takan diri untuk belajar di lembaga-lembaga pendidikan Islam. Contohnya seorang pendeta Roma, Italia bernama Roger Bacon ( 1214 1292 M.), ia datang ke Paris unt uk belajar bahasa Arab antara tahun 1240 sampai 1268 M. Setelah mahir menguasai bahasa Arab, ia segera membaca dan menterjemahkan berbagai ilmu pengetahuan yang ditulis ilmuwan muslim dalam bahasa Arab. Ilmu yang menarik hatinya adalah ilmu pasti. Buku-buku yang asli berbahasa Arab dan hasil terjemahannya banyak di baw a ke Inggris. Lalu disimpan di Universitas Oxford. Hasil terjemahan Bacon itu, d iterbitkan dan menggunakan namanya sendiri. Ia tidak menyebutkan nama-nama asli pengarang buku-buku itu, yang tak lain adalah ilmuwan-ilmuwan muslim. Di antara karangan yang diterjemahkannya dan tidak menyebutkan nama asli pengarangnya itu, adalah kitab Al Manadzir karya Ali Al-Hasan Ibnu Haitsam ( 965 1038 M ). Di dal am buku itu terdapat teori tentang mikroskop dan mesiu, kemudian buku itu disebu t sebagai karya Roger Bacon.

PENUTUP

Kesimpulan Pasang surut Islam di Spanyol terjadi dalam jangka waktu yang cukup lama. mulai tahun .. s/d tahun 1492 M. Islam di Spanyol telah berhasil menyedot perhatianNegar a Eropa dan Negara lainnya ketika itu dengan kemajuan yang telah mereka capai da lam bidang ilmu pengetahuan dan peradaban. Masuknya Islam ke Spanyol tidak hanya merubah kehidupan masyarakat disana, tapi lebih dari itu. Kemajuan peradaban yang tercipta disana telah membangunkan bangs a Eropa dari tidur nyenyak yang diselimuti kebodohan bangun menjadi bangsa yang modern dengan kemajuan yang begitu pesat dalam bidang sains dan teknologi mengun gguli kejayaan Islam sampai saat ini. Tidaklah terlalu berlebihan bila dikatakan Islam telah membidani lahirnya kebangkitan kebudayaan baru di Benua Eropa sampa i sampai saat ini.

DAFTAR PUSTAKA Aslad, H. Mahrus dan Drs. A. Wahid Sy. Bandung. Armico. 2001. Hamka, Sejarah Umat Islam, Bukittinggi : Nusantara Harun, Maidir /Firdaus, Sejarah Peradaban Islam I, Padang : IAIN Press, 2001 Hasan Ibrahim Hasan, ad-Daulat Fathimiyah, Mesir : al-Qahirah, 1959 Hasan Ibrahim Hasan, Tarikh al-Islam as-Siyasi wa Ats-Tsaqafi wa al-Ijtima i, - Ka

iro : Maktabah an-Nadhhah al-Misriyah, 1979 Hitti, Philip K., History of The Arabs, London : The Macmilan Press, 1974 Nasution, Harun, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspek, Jakarta : UI-Press, 1974 Sou ib, Yoesoef, Kekuasaan Islam di Andalusia, Medan : Madju, 1984 Syalabi, Ahmad, Sejarah Kebudayaan Islam 2, Jakarta : Pustaka al-Husna, 2003 Tim Ensiklopedi, Ensiklopedi Tematis Dunia Islam, J.2, Jakarta : PT. Icktiar Bar u Van Hoeve, 2002 Yatim, Badri, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 1997

________________________________________