Anda di halaman 1dari 9

ANESTESI INHALASI Berdasar cara pemberiannya obat anestesi dibagi 2: intravena dan inhalasi.

Inhalasi sendiri dibagi 2 : gas dan cair/volatile Anestesi gas umumnya memiliki potensi yang rendah. Tidak larut darah, memiliki tekanan partial dalam darah cepat tinggi. Memiliki batas keamanan tinggi. Anestesi gas misalnya N2O (gas gelak) dan siklopropan Anestesi volatile dibagi 2: 1. Golongan Eter 2. Golongan hydrogen halogen ( halotan, metoksifluran, trikloretil, fluroksen) Anestesi bentuk volatile memiliki 3 sifat dasar: 1. Berbentuk gas pada suhu kamar 2. Sifat anestesi yang kuat 3. mudah larut dalam darah, lemak, dan jaringan Perbedaan konsentrasi inspirasi dan alveolar yang besar akan memperlambat induksi Induksi adalah pembentukan anestesi dengan menggunakan agen yang tepat Induksi ada 2: 1. Slow: missal dengan eter.karena sifatnya yang merangsang dan iritatif, makanya mesti slow 2. Fast: missal sefofluranni dikenal sebagai one breath induction Uptake = masuknya agen anestesi ke dalam darah---ke otak ---bertemu reseptornya---menimbulkan efek yang diinginkan (trias anestesi) Uptake dipengaruhi: 1. Kelarutan dalam darah dan lemak:..ini berbanding terbalik 2. Aliran darah alveolar:.ini berbanding lurus 3. Perbedaan tekanan partial gas alveolar dengan darah vena: ini berbanding lurus, artinya semakin besar perbedaan ya semakin cepat uptake-nya Proses uptake ada 2 fase: fase paru dan fase vaskuler/sirkulasi Fase paru dipengaruhi: 1. Konsentrasi gas anestesi 2. Ventilasi alveolar 3. Koefisien partisi gas 4. Aliran darah paru 5. Membrane alveolar 6. Penyakit paru Fase vaskuler dipengaruhi besarnya aliran darah ke organ vitaljadi kalo terjadi vasokonstriksi perifermaka uptake akan semakin cepat. Normalnya sih 70% COP ditujukan untuk organ vital. Pasien dengan low out put (eliminasi) mudah overdose obat2 yang larut lemah..udah jelas ya ex: pada gagal ginjal dan hepar Factor yang mempercepat induksi akan mempercepat eliminasi juga. Contonya: 1. Pengeluaran/eliminasi..ex pasien banyak lemaklemak sebagai reservoir,,,,jadi banyak lemak induksi lama, so induksinya 2. Rebreating ; ada 2 : system rebreating..induksi cepat, MAC juga lebih cepat tercapaisystem non rebreatingini kebalikannya 3. FGF yang tinggiudah jelas kan 4. Volume circuit yang rendah 5. Absorbs circuit anestesi yang rendah 6. Kelarutan yang rendah.jelas kan 7. Peningkatan ventilasi 8. Aliran darah otak yang meningkat Tujuan anestesi yaitu trias anestesi..hilangnya kesadaran/sedasi, analgesi, relaksasi otot Yang mempercepat induksi: 1. Konsentrasi gas anestesi 2. HIPERVENTILASI 3. VASOKONSTRIKSI PERIFER Yang memperlambat induksi: 1. Konsentrasi gas anestesi 2. Hipoventilasi 3. Sumbatan jalan nafas 4. Vasodilatasi perifer/aliran darah organ nonvital Fraction inspiration/konsentrasi gas inspirasi; depengaruhi 1. Jumlah FGF 2. Volume circuit 3. Absorbsi circuit. Definisi : Peristiwa ilangnya sensasi, perasaan ( panas, raba, posture ) dan nyeri bahkan hilangnya kesadaran, sehingga memungkinkan dilakukannya tindakan pembedahan

Trias Anestesi : 1. Analgesia ( Hilangnya nyeri ) 2. Hipnotik ( Hilang kesadaran ) 3. Relaksasi otot ( Muscle Relaxan ) Ruang lingkup kerja anestesi : 1. Ruang operasi 2. ICU 3. UGD Persiapan Anestesi : Tujuan : 1. Mempersiapkan mental dan fisik penderita secara optimal 2. Merencanakan & memilih tehnik & obat-obat anestesi yang sesuai 3. Mengurangi angka kesakitan 4. Mengurangi angka mortalitas Tahap : 1. Informed consent 2. Periksa keadan ummum pasien : - Anamnesis - Fisik diagnostik - Pemeriksaan Lab - Kelas / status penyakit 3. ASA Menentukan grade operasi 4. Masukan oral dibatasi ( Puasa ) 5. Tehnik operasi 6. Resiko operasi 7. Premedikasi Tujuan Premedikasi : 1. Menenangkan penderita 2. Mengurangi rasa sakit 3. Memudahkan induksi 4. Mengurangi dosis obat- obat anestesi 5. Menngurangi refleks yang tidak diinginkan 6. Mengurangi sekresi kelainan mulut & saluran nafas 7. Mencegah mual dan muntah pasca bedah 8. Mencegah penderita ingat situasi selama operasi ( menciptakan amnesia ) Obat obatan Premedikasi : 1. Sedativa, transquilizer 2. Analgetika narkotika 3. Alkaloid belladona : - Anti sekresi - Mengurangi efek vagal terhadap jantung dari obat-obat - Impuls afferent abdomen, thorax, mata 4. Anti emetik

Klasifikasi Status Fisik : - ASA I : Pasien normal / sehat - ASA II : Pasien dengan penyakit sistemik ringan - ASA III : Pasien dgn peny. Sistemik berat sehingga aktivitas rutin terbatas - ASA IV : Pasien dengan peny. Sistemik berat tidak dapat melakukan aktivitas rutin dan penyakitnya mengancam kematian - ASA V : Pasien emergensi / muribund, dengan atau tanpa operasi hidupnya tidak lebih dari 24 jam Tehnik Anestesi : 1. Umum ( Narkose Umum ) 2. Lokal / Regional Anestesi Yang membedakan : Kesadaran Anestesi Umum Tehnik : 1. Inhalasi 2. Intravena 3. Intra Muscular - Pada operasi anak anak - Operasi yang sebentar Tehnik Penguasaan jalan nafas : 1. Sungkup Dibagi 2 : - Triple - Manuver Indikasi : - Untuk operasi yang sebentar - Untuk pasien yang posisinya tidak sulit 2. Intubasi ( ETT ) ada 2 : a. Spontan : Nafas sendiri tanpa muscle relaxan b. Kontrol : Dengan muscle relaxan Indikasi Intubasi : - Pasien operasi - Pasien bukan operasi ( Cth : Stroke, gagal nafas, koma ) Komplikasi Intubasi : a. Pada saat intubasi Sudah terjadi kompilkasi b. Selama Intubasi - Aspirasi - Trauma ggigi geligi - Laserasi bibir, gusi, laring - Hipertensi, takikardi - Spasme Bronchus c. Setelah Intubasi : - Spasme laring - Aspirasi

- Gangguan fonasi - Edema glotis sunglotis - Infeksi larinng, faring, trakhea Indikasi anestesi umum 1. Infant & anak usia muda 2. Dewasa yang memilih anestesi ummum 3. Pembedahannya luas / eskstensif 4. Penderita sakit mental 5. Pembedahan lama 6. Pembedahan dimana anestesi lokal tidak praktis atau tidak memuaskan 7. Riwayat penderita tksik / alergi obat anestesi lokal 8. Penderita dengan pengobatan antikoagulantia Anestesi Lokal : Tehnik : 1. Topikal ( Anestesi permukaan ) 2. Infiltrasi lokal 3. Field Block ( Anestesi / lapaangan ) 4. Nerve Block ( Block Syaraf ) 5. Spinal Block ( LCS ) 6. Epidural Block 7. Intravenous local anestesi Obat obat anestesi lokal : 1. Potensi rendah, lama kerja pendek Ex : Procain, chloroprocain 2. Potensi sedang, lama kerja sedang Ex : Lidocain, Mopivacain, prilokain 3. Potensi kuat, lama kerja panjang Ex : Bupivacain , Tetracain Golongan obat anestesi lokal : 1. Golongan eter ( -COOC ) Kokain, Benzokain, Ametocaine, Prokain ( Novokain), Tetrakain ( Pentokain ), Chloropocain ( Nesakain ) 2. Golongan Amida ( NHCO ) Lidocain, Mepivacain, Prilocain, Bupivacain, Etidokain, Dibukain, ropivakain, levobupivacain Sebelum dilakuan sungkup atau intubasi ada : Induksi : - Inhalasi - Parenteral ( IV & IM ) Selama operasi harus ada pemantauan ( Tanda tanda vital : yaitu : Tensi, suhu, respirasi, nadi ). Tujuannya adalah untuk mengurangi terjadinya komplikasi anestesi operasi. Setelah operasi dilakukan : Ekstubasi : RR ( Recovery Room ) Bisa terjadi komplikasi juga. EX : Muntah, tensi tinggi, dll

Di RR : Setelah 2 jam atau kurang dihitung ALDRENE SCORE ( Sadar, tensi stabil, nafas lagi ) Jika ALDRENE SCORE : - > 8 Masuk ruang perawatan - < 7 ICU Indikasi pasien masuk ICU : 1. Gagal nafas 2. Gagal jantung 3. Koma 4. Post operasi besar 5. Post cardiac arrest Selain itu pasien dari : 1. UGD ( Pasien karena trauma kapitis, stroke ) 2. Ruang perawatan Pasien masuk ICU diharapkan = harapan hidupnya lebih besar Perioperatif : 1. Therapi cairan : - Maintenance ( Pemeliharaan ) - Resusitasi ( Pasien shock, perdarahan ) Normal cairan didalam tubuh : 60 70 % BB/TBW ( Total body water ) 2. Therapi darah : Faktor yang mempengaruhi dosis obat : 1. Usia 2. Suhu 3. Emosi 4. Penyakit Obat Premedikasi : 1. Golongan antikolinergik - Atropin - Scopolamin ( Hyoscine ) - Glycopyrolat 2. Golongan hipnotik sedative - barbiturat : Phenobarbital ( Luminal ) - Benzodizepine , diazepam 3. Golongan Analgetik narkotik - Morphin - Petidin 4. Golongan Transquilizer ( Anti Histamin ) - Phenotiazine : Phenergen - Chlorpomazine : Largactil 5. Golongan Nevroleptik - Deperidol - Dehydrobenzoperidol

Enteral : Masuk Usus melalui NGT : - Gastrostomi - Yeyenostomi - Illeustomi Nutrien : Adalah zat nutrisi yang masuk dalam tubuh 1. Karbohidrat 2. Protein : 4 kal 3. Lipid : ( kal 4. Trace element Kebutuhan kalori : 25 kal / kgBB TBW : - Cairan intrasel (40%) a. Terdiri dari : kalium, Mg, fosfat (kalium paling banyak) b. Otak, Hb, eritrosit - Cairan Ekstrasel (20%) a. Cairan interstisial (antar sel) : 15% b. Plasma (cairan intravaskular) : 5% c. Terdiri dari : Na, Cl (Na paling banyak) Kehilangan cairan lebih dari 20 % harus di intervensi (dikompensasi). Jenis jenis cairan : 1. Koloid (plasma ekspander) intravena - Gelatin (lemak sel, gelafundin, gelofusin) - Polimer dextrosa (dextran 40, dextran 70) - Turunan kanji - Hidroksi etil starch (haes, ekspafusin) 2. Kristaloid (elektrolit) - Dextrosa 5 % (dewasa) - Ringer laktat (RL) - NaCl 0,9 % - Asetat ringer (asering) Indikasi transfusi darah : 1. Perdarahan akut sampai Hb < 8 gr % atau Ht < 30 % Pada orang tua, kelainan paru, kelainan jantung, Hb < 10 gr % 2. Bedah mayor kehilangan darah 20 % volume darah RJPO (Resusitasi jantung dan paru) Adalah tindakan untuk memulihkan keadaan pasien dengan tahapan A B C D. Indikasi RJPO : - Henti jantung - Henti nafas

Therapi oksigen : Sebelum, selama, setelah operasi Indikasi : - Post operasi ada gangguan nafas (dekomp kordis) - Depresi nafas Kadar oksigen murni di ruangan : 20 21 % Kadar oksigen dalam tabung : 100 % teknik pemberian 1. Nasal kateter 2. Nasal kanul 3. Fis mas (sungkup) : - non rebiliting (tanpa balon) - rebiliting (dengan balon) Tidal volume : 8 15 Minute volume (MV) = tidal volume x RR Cardiac output (CO) = stroke volume x RR (5 8 liter) Nutrisi : parenteral, enteral Parenteral : Masuk ke pembuluh darah : - Perifer, melalui : V. Radialis, V. Femoralis - Sentral, melalui : pembuluh darah besar, V. Subclavia, V.cava. Batasan kekentalan osmoler : 900 ml osm 900 ml osm sentral Spinal Indikasi : Untuk pembedahan, daerah tubuh yang dipersyarafi cabang T 4 Kebawah Kontra Indikasi ; Kelainan pembekuan darah, syok hypopolemia, septocemia, Peningkatan tekanan intrakranial, infeksi klulit pada daerah fungsi Komplikasi : - Dini : Gangguan pada sirkulasi, respirasi, GIT - Terjadi kemudian ( Delayed ) Pemeriksaan Pra bedah / Persiapan pasien : Dasar tinadakan pertolongan gawat darurat : 1. Evaluasi * pengendalian jalan nafas 2. Ventilasi dan oksigenasi 3. Pengendalian sirkulasi 4. Tindakan hemostatis 5. Evaluasi terhadap cedera 6. Monitoring

Kasus : - Bedah Illeus, hernia incarcerata - Kebidanan Plasenta previa, solutio plasenta - Syaraf Perdarahan intra cranii, fraktur basis cranii - Mata Trauma Bulbi Penyakit : - lambung penuh - Syok - Gangguan alektrolit & asam basa - Kadar gula darah naik Pengelolaan pasca Bedah : 1. Awasi keadaan vital 2. Perbaiki deposit cairan, darah dan elektrolit 3. Tangulangi penyakit yang menyertai Pada Pasien tanpa mondok Pilihan pasien : 1. Sebaiknya termasuk kategori ASA I, dapat status fisik ASA II 2. Pembedahan superfisial, bukan tindakan bedah didalam kranium, toraks atau abdomen 3. Lama pembedahan tidak melebihi 60 menit 4. Perdarahan & perubahan fisiologis yang terjadi minat EX : - Insisi Abses - Sirkumsisi - Kuretase - Hernia Inguinalis ( Pada anak ) - Reposisi fraktur Syarat TM 1. Induksi cepat & lancar 2. Analgesi cukup baik 3. Cukup dalam untuk pembedahan 4. Masa pulih sadar cepat 5. Komplikasi anestesi pasaca bedah luminal Tehnik Anestesi - Lokal - Prokain 1% 2,5% - Lidokain 0,5% 1% - Regional - Intra vena - Block Subarachnoid - Block regional - Umum Komplikasi ( Nyeri kepala ) - Mual - Muntah - Nyeri pada otot

- Nyeri pada tenggorok - Batuk batuk Anestesi Obstetrik : - Analgesi lokal 1. Spinal 2. Epidural 3. Caudal 4. Paraservcikal Tehnik ini ( Anest. Obstetrik ) dikontraindikasikan pada : - Infeksi didaerah fungsi - Gangguan pembekuan darah - Hipovolemia - Pasien menolak Hipotensi, muntah,meningitis/ encephalitis - Komplikasi 1. Aspirasi paru 2. Gangguan respirasi 3. Gangguan kardiovasculer Anestesi Pediatrik : Permasalahan : - Pernafasan - Suhu tubuh - Kardio sirkulasi - Cairan tubuh Massa anestesi : - Intubasi - Induksi inhalasi - Induksi intravena