Anda di halaman 1dari 33

KELOMPOK RESIKO

Dr. Theodorus,MMedSc Staf Bagian Farmakologi FK Unsri

I. ANAK
1. Pendahuluan Informasi obat dan terapeutika jarang Penentuan dosis: Umur, berat badan dan luas permukaan tubuh Masalah yang ada tidak hanya pemilihan jenis obat dan perhitungan dosis; tetapi juga frekuensi, cara, dan lama pemberian serta interaksi Pemberian biasanya per-oral (cairan/sirup/tablet) dosis adekuat kadangkadang jarang tercapai, misal muntah

Pendahuluan
Anak bukan miniatur dewasa tumbuh kembang karena fungsi organ dan keadaan fisiologis masih berkembang Beberapa pertimbangan yang perlu diambil pada penggunaan obat pada anak: - Farmakokinetik: absorpsi, distribusi, metabolisme dan ekskresi - Pertimbangan dosis terapeutika dan toksik - Perhitungan dosis - Segi praktis pemberian

2. FARMAKOKINETIK
a. Absorpsi: kecepatannya tergantung cara pemberian dan sifat fisikokimiawi Neonatus: sekresi asam lambung relatif rendah, peningkatan asam lambung obat yang mudah dirusak asam lambung dihindari Pengosongan lambung hari I & II kehidupan realtif lambat : 6-8 jam dan berlangsung sampai dengan 6 bulan baru kemudian normal seperti dewasa

Absorpsi
Untuk pemberian injeksi: hati-hati pada anak-anak malnutrisi karena absorpsinya tergantung kecepatan obat dari otot/subkutan kedalam darah
Bila peristaltik menurun, obat yang diabsorpsi semakin besar efek toksik

FARMAKOKINETIK
b. Distribusi: tergantung masa jaringan, kandungan lemak, aliran darah, permeabilitas membran dan ikatan protein Barier darah otak bayi lebih permeabel Ikatan protein plasma obat sangat kecil pada bayi dan baru mencapai normal pada usia 1 tahun, hal ini karena rendahnya albumin dalam plasma Obat yang berinteraksi dengan bilirubin dihindari kern iketrus

FARMAKOKINETIK
c. Metabolisme Hati merupakan organ penting. Perbandingan relatif volume hati terhadap berat badan menurun dengan bertambahnya berat badan d. Ekskresi Kecepatan filtrasi glomerulus dan fungsi tubulus belum normal pada neonatus, diperlukan waktu 6 bulan untuk mencapai normal Umumnya GFR anak: 30-40% dewasa, konsekuensinya obat-obat yang melalui ginjal hati-hati

3. PERTIMBANGAN EFEK TERAPEUTIKA DAN EFEK TOKSIK


Manfaat dan resiko perlu dipertimbangkan respon anak terhadap obat bervariasi Misal: - pemberian amfetamin meningkatkan konsentrasi anak halusinasi & hiperaktif - pemberian steroid jangka panjang gangguan pertumbuhan

4. PERHITUNGAN DOSIS
a. Dilakukan secara individual: Formula Young (berdasarkan umur): Dosis anak= Dosis dewasa X umur (tahun) umur + 12 b. Formula Clark (berdasarkan berat badan): Dosis anak= Dosis dewasa X Berat badan (Kg) 70 (Kg) c. Berdasarkan luas permukaan tubuh: Dosis anak= Dosis dewasa X LPM (m) 1,73 (m)

5. SEGI PRAKTIS PEMBERIAN


a. Periode awal kelahiran: Per-oral: hatihati aspirasi, karena efek muntah belum maksimal Per-injeksi: sebaiknya ditungkai atas, dipantat tidak dianjurkan karena masa otot kecil Obat-obat yang menggeser bilirubin dari tempatnya dihindari (sulfonamid, diazoksid, novobiosin dan analog Vit K) kern icterus Kloramfenikol dihindari Grey baby synd

Segi Praktis Pemberian


b. Periode anak-anak, pra dan sekolah (1-10 tahun) Obat-obat yang mengalami oksidasi dan hidroksilasi dihindari (fenitoin, fenobarbital dan teofilin) efek toksik Hindari pemberian obat yang pahit, sebaiknya diberikan tunggal dan tidak boleh lebih dari 4 X sehari Pengobatan pada infeksi: antibiotika harus dihabiskan; obat simtomatik dihentikan bila gejala hilang

Periode anak, pra dan sekolah


Untuk penyakit kronis (epilepsi, asma dan nefrotik sindrom) memerlukan penggunaan obat jangka panjang, sehingga perlu penilaian dosis, cara dan lama pemberian dari waktu ke waktu Hindari obat dari jangkauan anak

Segi Praktis Pemberian


c. Periode remaja: Cenderung tidak patuh terutama untuk pengobatan jangka panjang (penyakit kronis) Cenderung untuk ber-swamedikasi penyalahgunaan atau salahguna obat Pengguna psikotropika/narkotika cenderung denial

II. WANITA HAMIL


1. PENDAHULUAN Tidak saja dampaknya pada ibu tetapi juga pada janin, karena hampir sebagian besar obat dapat melalui plasenta Secara umum faktor-faktor yang mempengaruhi obat masuk ke plasenta: - Sifat fisikokimia obat - Kecepatan obat untuk masuk plasenta dan mencapai sirkulasi janin

Pendahuluan
- Lamanya pemaparan terhadap obat
- Luasnya distribusi obat - Periode perkembangan janin saat obat diberikan - Efek obat bila diberikan dalam bentuk kombinasi Kemampuan melintasi plasenta tergantung sifat lifofilik (hirofilik) dan ionisasi obat Efek samping obat

2. FARMAKOKINETIK
a. ABSORPSI Awal Kehamilan: asam lambung menurun 3040% pH lambung meningkat - obat asam lemah: terganggu - obat basa lemah : meningkat Hamil lanjut: motilitas saluran cerna meningkat - obat yang sukar larut: meningkat - obat yang metabolismenya diusus: menurun

Farmakokinetik
2. Distribusi
Volume plasma dan cairan ekstrasel meningkat s/d 50% pada akhir kehamilan sehingga obat-obat yang volume distribusinya kecil kadar dalam darah rendah Akhir kehamilan: kadar albumin menurun obat yang bersifat asam fraksinya meningkat

Farmakokinetik
c. Eliminasi Akhir kehamilan: aliran darah ke ginjal meningkat 2 X lipat peningkatan eliminasi obat yang diekskresikan melalui ginjal Obat yang mengalami oksidasi, elminasinya juga meningkat

3. PENGARUH OBAT TERHADAP JANIN


Pengaruh buruk terhadap janin: - toksik - teratogenik -sifat obat - umur kehamilan - letal a. Fase Implantasi: Hamil < 3 minggu: kematian embrio atau abortus

Pengaruh obat terhadap janin


b. Fase embrional atau organogenesis (3-8 minggu) - pembentukan organ efek teratogenik (malformasi anatomik), kematian janin segera setelah melahirkan ataupun muncul di kemudian hari c. Fase letal (trisemester 2 & 3) - terjadi gangguan pertumbuhan

Pengaruh obat terhadap janin


Untuk mencegah efek yg tidak diinginkan, maka FDA dan Australian Drug Evaluation Committee (Adrac) menetapkan kategori obat yang dipakai: 1. Kategori A: tidak ada efek malformasi atau pengaruh buruk lainnya terhadap janin Misal: parasetamol, penisilin, ertitromisin, asam folat, INH 2. Kategori B : pemakaian pada Bumil terbatas tetapi tidak terbukti menimbulkan malformasi Misal: simetidin, dipiridamol, tikarsilin, trimetoprim dan mebendazol

Pengaruh obat terhadap janin


3. Kategori C: memberi pengaruh pada janin tanpa

disertai malformasi, biasanya reversibel Misal: analgesik-narkotik, rifampisin, aspirin, diuretika 4. Kategori D: meningkatkan terjadinya malformasi dan tidak bersifat reversibel Misal: androgen, primidon, kina, steroid anabolik, diazepam 5. Kategori X: kontraindikasi mutlak pada kehamilan Misal: isotretionin dan dietilstilbesterol

III. IBU MENYUSUI


Perlu perhatian khusus, terutama obat-obat yang berada dalam air susu Obat masuk kedalam air susu: - Mekanismenya sama dengan obat yg melewati plasenta; semua obat melalui sistemik ibu dapat masuk ke air susu - Obat yang larut dalam air dan BM < 200, mudah masuk air susu Banyaknya obat dalam air susu tergantung: - pKa obat dan pH lingkungan yang akan mempengaruhi derajat ionisasi yang tidak terionisasi yang bisa lolos

Ibu menyusui
- pH air susu lebih asam dari plasma: obat asam lemah akan lebih banyak Penerimaan tubuh bayi terhadap obat: Karena jumlah obat dalam air susu sedikit, sebenarnya dapat diabaikan; kecuali memang kontraindikasi dengan berbagai alasan: Misalnya: - Golongan sulfonamid: kompetisi dengan bilirubin kern icterus - Tetrasiklin: 70% diserum ibu pewarnaan gigi - Kloramfenikol: supresi sumsum tulang

IV. USIA LANJUT


1. PENDAHULUAN Penurunan fungsi organ Biasanya lebih dari 1 penyakit Penurunan masukan cairan dan makanan Penurunan aktivitas fisik 65 tahun Penurunan pancaindra Populasi: 15% dari total penduduk

2. FARMAKOKINETIK
a. b. ABSORPSI Penurunan kecepatan pengosongan lambung DISTRIBUSI Persentase total air dan massa tubuh yang tidak mengandung lemak sedikit: - Bersifat lifofilik kecil kadarnya tinggi dalam darah - Bersifat lifofilik besar kadarnya rendah Penurunan albumin terutama mereka yang menderita penyakit kronis obat asam lemah Kadarnya dalam darah meningkat

Farmakokinetik
c. METABOLISME Penurunan aliran darah kehati menurun obat yang metabolismenya di hati akan meningkat kadarnya dalam darah
d. EKSKRESI Penurunan kapasitas fungsi ginjal akumulasi Penurunan klirens (obat metabolismenya di ginjal) kerusakan ginjal bertambah

3. FARMAKODINAMIK
Dengan bertambahnya usia, respon tubuh terhadap aksi beberapa obat akan lebih sensitif

4. EFEK SAMPING OBAT


Korelasi positif antara jumlah obat yg di minum dengan ESO ( 1 dari 10 akan mengalami ESO setelah menerima 1 jenis obat) angka kejadian 2 X dewasa Obat yang sering menimbulkan ESO: - analgesik - antihipertensi - antiparkinson - antipsikotik dasn sedatif - obat-obat gastrointestinal

Efek samping obat


Tingginya angka kejadian dikarenakan: - Kesalahan peresepan: banyaknya profesional medis kurang memahami perubahan farmakokinetik/dinamik usia lanjut Misal: simetidin halusinasi dan menghambat efek betabloker - Kesalahan pasien: banyak bukti yg menyatakan bahwa usia lanjut lebih banyak mengkomsumsi OTC Misal: penggunaan antihistamin pada asma

Tingginya angka kejadian


- Ketidakjelasan informasi pengobatan: biasanya pada pemberian obat dengan cara pemberian yang beragam (oral, topikal) dan dalam jumlah yang banyak, serta frekuensi pemberian yang beragam pula Misal: Pemberian 4-5 macam obat: ada yang sebelum makan, ada yang sehabis makan, ada yang 1-2 jam setelah makan atau ada yang 3 X sehari, ada yang 4 X sehari

5. PRINSIP PENGOBATAN USIA LANJUT


Riwayat pemakaian obat: - Riwayat penggunaan obat sebelumnya - Adakah kaitan penyakit dengan penggunaan obat Obat yang diberikan berdasarkan indikasi Dimulai dengan dosis kecil Resepkan obat yang menjamin ketaatan pasien dan jangan lebih dari 2 jenis obat

6. OBAT YG SERING DIRESEPKAN


Sedativa-hipnotik Analgetik Antidepresan Antihipertensi Glikosida jantung Antidiabetika Antibiotika