Anda di halaman 1dari 11

BAB IV HASIL PENELITIAN

A. Karakteristik Sampel Penelitian Responden dalam penelitian ini terdiri dari 80 responden, terbagi atas 40 responden kasus dan 40 responden kontrol. Responden merupakan sampel yang diambil dari beberapa Puskesmas di wilayah Kota Surakarta, diantaranya: Puskesmas Sibela, Puskesmas Banyuanyar, Puskesmas Manahan, Puskesmas Pucang Sawit, dan Puskesmas Ngoresan. Berikut adalah karakteristik responden berdasarkan penggunaan repellent anti nyamuk seperti dalam tabel 4.1 Tabel 4.1 Karakteristik responden pada Sampel Penelitian menurut penggunaan repellent anti nyamuk Karakteristik Responden Penggunaan Repellent Memakai Tidak memakai 15 (37,5) 25 (62,5) 32 (80) 8 (20) 47 (58,75) 33 (41,25) Kasus n (%) Kontrol n (%) Total n (%)

Berdasarkan tabel 4.1, pada kelompok kasus terdapat 15 anak (37,5%) yang memakai repellent dan 25 anak (62,5%) yang tidak memakai repellent. Sedangkan pada kelompok kasus terdapat 32 anak (80%) yang memakai repellent sedangkan sisanya yaitu 8 anak (20%) tidak memakai repellent. Berikut adalah data mengenai karakteristik responden dari kelompok kasus dan kontrol menurut variabel matching seperti terangkum pada tabel 4.2.

35

36

Tabel 4.2 Karakteristik responden pada Sampel Penelitian menurut variabel matching Karakteristik Responden Kelompok Usia Anak Usia Ballita Usia Anak Sekolah Usia Remaja Lokasi Sampel Pusk. Sibela Pusk. Banyuanyar Pusk. Manahan Pucang Sawit Pusk. Ngoresan 4 (10,0) 12 (30,0) 7 (17,5) 4 (10,0) 13 (32,5) 4 (10,0) 12 (30,0) 7 (17,5) 4 (10,0) 13 (32,5) 8 (10,0) 24 (30,0) 14 (17,5) 8 (10,0) 26 (32,5) 11 (27,5) 16 (40,0) 13 (32,5) 11 (27,5) 16 (40,0) 13 (32,5) 22 (27,5) 32 (40,0) 26 (32,5) Kasus n (%) Kontrol n (%) Total n (%)

Dalam tabel 4.2 tersebut, kelompok usia anak dibedakan menjadi usia balita (0 5 tahun), usia sekolah (6 12 tahun), dan usia remaja (13 19 tahun). Faktor golongan usia ini dijadikan sebagai salah satu variabel matching antara kelompok kontrol dan kelompok kasus. Selain itu, lokasi responden yang dibagi atas 5 daerah Puskesmas juga merupakan salah satu variabel matching sehingga responden kelompok kontrol diambil dari anak yang tinggal dalam radius 100 m2 dari tempat tinggal responden kelompok kasus. Berikut adalah karakteristik responden berdasarkan variabel luar tak terkendali meliputi frekuensi pemakaian repellent, kebiasaan pemakaian repellent, waktu pemakaian repellent, dan lama penggunaan seperti pada tabel 4.3.

37

Tabel 4.3 Karakteristik responden pada Sampel Penelitian menurut variabel luar tak terkendali Karakteristik Responden Frekuensi Pemakaian Tidak Pernah Jarang Kadang-kadang Sering Kebiasaan Pakai repellent Tidak Pernah Sebelum Tidur Saat Keluar Rumah Setiap Saat Waktu Pemakaian Tidak Pernah pukul 07.00-10.00 pukul 10.00-14.00 pukul 14.00-17.00 pukul 17.00-20.00 pukul 20.00 keatas Lama Penggunaan Tidak pernah > 1 bulan - 3 bulan > 3 bulan - 6 bulan > 6 bulan - 12 bulan > 1 tahun - 2 tahun > 2 tahun Kasus n (%) 25 (62,5) 8 (20,0) 0 (0,0) 7 (17,5) 25 (62,5) 14 (35,0) 0 (0,0) 1 (2,5) 25 (62,5) 1 (2,5) 0 (0,0) 0 (0,0) 0 (0,0) 14 (35,0) 25 (62,5) 3 (7,5) 1 (2,5) 4(10) 6 (15) 1 (2,5) Kontrol n (%) 8 (20,0) 9 (22,5) 7 (17,5) 16 (40,0) 8 (20) 17 (42,5) 10 (25,0) 5 (12,5) 8 (20) 15 (37,5) 0 (0,0) 0 (0,0) 0 (0,0) 17 (42,5) 8 (20) 3 (7,5) 0 (0) 4 (10) 23 (57,5) 2 (5) Total n (%) 33 (41,25) 17 (21,25) 7 (8,75) 23 (28,75) 33 (41,25) 31 (38,75) 10 (12,5) 6 (7,5) 33 (41,25) 16 (20,0) 0 (0,0) 0 (0,0) 0 (0,0) 31 (38,75) 33 (41,25) 6 (7,5) 1 (1,25) 8 (10) 29 (36,25) 3 (3,75)

Tabel 4.3 diatas digunakan untuk mengetahui karakteristik lebih lanjut dari sampel yang menggunakan repellent anti nyamuk. Variabel-variabel diatas digunakan untuk mengetahui sejauh mana variabel tersebut berpengaruh terhadap hubungan antara pemakaian repellent anti nyamuk dengan kejadian DBD.

38

B. Analisis Bivariat Hubungan antara Pemakaian Repellent Anti Nyamuk dan Kejadian DBD pada Anak Data penelitian yang telah diperoleh kemudian dianalisis dengan menggunakan McNemar dengan rancangan tabel silang 2 x 2. Analisis ini digunakan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan secara holistik antara penggunaan repellent anti nyamuk dengan kejadian Demam Berdarah Dengue (DBD). Hasil analisis dirangkum dalam tabel 4.4 (hasil selengkapnya terdapat dalam lampiran). Tabel 4.4 Hasil Analisis Hubungan antara Penggunaan repellent anti nyamuk dengan kejadian DBD pada anak Kontrol DBD (-) Kategori Repellent (+) Kasus DBD (+) repellent (+) repellent (-) Total 13 Repleent (-) 2 15 13,76 19 32 6 8 25 40 <0,001 Jumlah total X2 McNemar Nilai p

Hasil analisis McNemar menunjukkan p value <0,001 dengan demikian H1 diterima. Artinya penggunaan repellent anti nyamuk mempunyai hubungan yang signifikan secara statistik dengan kejadian DBD pada anak. Untuk mengetahui besar hubungan tersebut, dilakukan perhitungan Odds Ratio (OR). Penghitungan OR untuk case control dengan matching dapat dilhat berdasarkan tabel 4.5 (hasil selengkapnya terdapat dalam lampiran).

39

Tabel 4.5 Hasil Analisis Rasio Odds (OR) Hubungan antara Penggunaan repellent anti nyamuk dengan kejadian Demam Berdarah Dengue (DBD) pada anak Kontrol DBD (-) Kategori Repellent (+) Kasus DBD (+) Repellent (+) Repellent (-) Jumlah 13 Repellent (-) 2 Juml ah Total 15 0,10 0,016 0,39 OR CI 95% Lower Upper

19 32

6 8

25 40

Berdasarkan Tabel 4.3, maka nilai OR yang dihitung dengan menggunakan OpenEpi Version 2.0 adalah 0,10 dengan tingkat kepercayaan 95% sebesar 0.016-0.39. Dengan demikian, pemakaian repellent anti nyamuk memiliki risiko 0,10 kali lebih besar terhadap kejadian DBD atau memiliki hubungan yang kuat sebagai faktor protektif terhadap DBD. Dengan tingkat kepercayaan 95% maka nilai OR pada populasi akan jatuh pada rentang nilai 0,016-0,39.

C. Analisis Bivariat Hubungan antara Frekuensi Pemakaian Repellent, Kebiasaan Pemakaian Repellent, Waktu Pemakaian Repellent, dan Lama Kebiasaan Memakai Repellent dan Kejadian DBD Setelah melakukan analisis bivariat terhadap variabel bebas yaitu penggunaan repellent anti nyamuk dengan variabel terikat, yaitu kejadian DBD didapatkan hasil yang signifikan. Kemudian dilakukan analisis terhadap variabel-variabel luar terkendali dengan analisis seperti variabel frekuensi pemakaian repellent, kebiasaan pemakaian repellent, waktu pemakaian

40

repellent, dan lama kebiasaan memakai repellent. Analisis dilakukan dengan uji regresi logistik bersyarat sederhana (univariat conditional logistic) untuk mengetahui kategori yang paling berpengaruh terhadadap kejadian DBD pada masing-masing variabel. a. Hubungan antara frekuensi pemakaian repellent dan kejadian DBD pada anak. Tabel 4.6 Hasil tabel distribusi untuk variabel frekuensi pemakaian repellent terhadap kejadian DBD pada anak Kasus Tidak pernah Jarang Kadang Sering Total Kontrol Jarang Kadang 5 2 0 2 9 5 2 0 0 7

Tidak pernah 6 1 0 1 8

Sering 9 3 0 4 16

Total 25 8 0 7 40

Berdasarkan tabel 4.6, distribusi kelompok yang paling banyak adalah pada frekuensi sering. Sedangkan distribusi pairing yang paling banyak adalah untuk kasus yang tidak pernah memakai repellent dan kontrol yang sering memakai repellent. Selanjutnya dilakukan analisis dengan regresi logistik bersyarat sederhana seperti pada tabel 4.7. Tabel 4.7 Hasil Analisis clogit untuk variabel frekuensi pemakaian repellent terhadap kejadian DBD pada anak CI 95% Kategori Tidak pernah (kategori referensi) Jarang Kadang-kadang Sering OR Nilai p lower 1,00 0,19 4,5 0,12 0,053 0,996 0,011 0,34 0,00 0,22 1,02 0,00 0,61 Upper

41

Berdasarkan tabel 4.7, kategori jarang dan kadang-kadang tidak signifikan pengaruhnya terhadap kejadian DBD (p> 0,05), sedangkan kategori sering memilki nilai p 0,011 (p<0,05). Hal ini menunjukkan bahwa frekuensi pemakaian repellent kategori sering berhubungan terhadap kejadian DBD dibandingkan dengan kelompok yang tidak memakai repellent.

b. Hubungan antara kebiasaan pemakaian repellent dan kejadian DBD pada anak Tabel 4.8 Hasil tabel distribusi untuk variabel kebiasaan pemakaian repellent terhadap kejadian DBD pada anak Kontrol Tidak Sebelum Saat keluar pernah tidur rumah 6 9 6 2 8 4 0 0 8 0 0 17 0 0 10

Kasus Tidak pernah Sebelum tidur Saat keluar rumah Setiap saat Total

Setiap saat 4 0 0 1 5

Total 25 14 0 1 40

Berdasarkan tabel 4.8 distribusi pemakaian repellent paling banyak adalah saat sebelum tidur. Sedangkan distribusi pairing paling banyak adalah pada kelompok kontrol adalah saat sebelum tidur dibandingkan pada kelompok kasus yang tidak memakai repellent. Selanjutnya dilakukan analisis dengan regresi logistik bersyarat sederhana seperti pada tabel 4.9.

42

Tabel 4.9 Hasil Analisis clogit untuk variabel kebiasaan pemakaian repellent terhadap kejadian DBD pada anak CI 95% Kategori Tidak pernah (kategori referensi) Sebelum tidur Saat keluar rumah Setiap saat OR Nilai p lower 1,00 0,22 3,43 3,43 0,054 0,996 0,998 0,48 0,00 0,00 1,02 0,00 0,00 Upper

Berdasarkan tabel 4.9 didapatkan bahwa semua kategori dalam kebiasaan pemakaian repellent memiliki nilai p>0,05. Hal ini

menunjukkan bahwa kebiasaan pemakaian repellent tidak signifikan secara statistik terhadap kejadian DBD dibandingkan dengan kelompok yang tidak memakai repellent. c. Hubungan antara waktu pemakaian repellent dan kejadian DBD pada anak. Tabel 4.10 Hasil tabel distribusi untuk variabel waktu repellent terhadap kejadian DBD pada anak Kontrol Kasus Tidak pernah Tidak pernah Pkl. 07.00-10.00 > Pkl. 20.00 Total 6 0 2 8 10 1 4 15 Pkl. 07.0010.00 >pkl.20.00 19 0 18 17 Total pemakaian

25 1 14 40

43

Berdasarkan tabel 4.10 distribusi paling banyak adalah pada waktu pemakaian repellent pukul 20.00 ke atas. Sedangkan kelompok pairing yang paling banyak adalah pada pemakaian repellent diatas jam 20.00 di kelompok kontrol dan tidak pernah memakai repellent di kelompok kasus. Selanjutnya dilakukan analisis dengan regresi logistik bersyarat sederhana seperti pada tabel 4.11 Tabel 4.11 Hasil Analisis clogit untuk variabel waktu pemakaian repellent terhadap kejadian DBD pada anak CI 95% Kategori OR Nilai p lower Tidak pernah 1,00 (kategori referensi) Pukul 07.00 10.00 Pukul20.00 ke atas 1,91 0,22 0,996 0,054 0,00 0,48 0,00 1,02 Upper

Berdasarkan tabel 4.11 diperoleh hasil bahwa semua kategori dalam variabel waktu pemakaian repellent memiliki nilai p >0,05. Hal ini menunjukkan bahwa waktu pemakaian repellent tidak signifikan secara statistik terhadap kejadian DBD dibandingkan kelompok yang tidak memakai repellent.

44

d. Hubungan lama kebiasaan pemakaian repellent dan kejadian DBD pada anak Tabel 4.12 Hasil tabel distribusi untuk variabel lama kebiasaan pemakaian repellent terhadap kejadian DBD pada anak Kontol Kasus Tidak pernah Tidak pernah 1-3 bln >3-6 bln 0 0 0 0 1 0 0 3 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 4 1 0 0 1 0 4 2 1 0 5 1 21 3 1 4 6 1 40 6 1-3 bln 2 0 >3-6 bln 3 >6-12 bln 2 >1-2 >2 thn thn 12 25 total

>6-12 bln 2 >1-2 thn >2 thn Total 0 0 8

Berdasarkan tabel 4.12 distribusi terbanyak terdapat pada lama kebiasaan pemakaian repellent >2tahun. Sedangkan pairing terbanyak terdapat pada kebiasaan >2 tahun di kelompok kontrol dan tidak memakai repellent dikelompok kasus. Selanjutnya dilakukan analisis dengan regresi logistik bersyarat sederhana seperti pada tabel 4.13.

45

Tabel 4.13 Hasil Analisis clogit untuk variabel lama kebiasaan pemakaian repellent terhadap kejadian DBD pada anak CI 95% Kategori OR Nilai p lower upper

Tidak pernah 1,00 (kategori referensi) 1 3 bulan 2,07 0,999 0,00 1,02 >3 6 bulan 1,56 1,000 0,00 0,0 >6 12 bulan 0,67 0,657 0,11 3,99 >1 2 tahun 1,19 0,998 0,00 0,00 >2 tahun 7,85 0,998 0,00 0,00 Berdasarkan tabel 4.13 diketahui bahwa semua kategori dalam variabel lama kebiasaan pemakaian repellent memiliki nilai p>0,05. Hal ini menunjukkan bahwa lama kebiasaan pemakaian repellent tidak signifikan secara statistik hubungannya dengan kejadian DBD

dibandingkan kelompok yang tidak memiliki kebiasaan memakai repellent.