Anda di halaman 1dari 15

Benign Prostatic Hiperplasia (BPH)

Oleh :
MURTI PUTRI UTAMI G1A107045

Pembimbing : dr. Hendra Herman Sp.U

BAB I PENDAHULUAN
Pembesaran prostat jinak atau Benign Prostatic

Hiperplasia yang disingkat BPH kelainan kedua tersering setelah batu saluran kemih yang dijumpai di klinik urologi di Indonesia

Hiperplasia prostat benigna ini dapat dialami

oleh sekitar 70% pria di atas usia 60 tahun. Angka ini akan meningkat hingga 90% pada pria berusia di atas 80 tahun.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Anatomi Prostat
Kelenjar prostat ini terletak di sebelah inferior buli-buli, di

depan rectum dan membungkus uretra posterior.


Prostat normal berukuran 3-4cm didasarnya, 4-6 cm

sefalokaudal, dan 2-3 cm pada dimensi anteroposterior.4 Berat normal sekitar 20 gram. Prostat mengelilingi uretra pars prostatika dan ditembus di bagian posterior oleh dua buah duktus ejakulatorius.5

Kelenjar prostat terbagi atas 5 lobus : Lobus medius Lobus lateralis (2 lobus) Lobus anterior Lobus posterior

Gambar Anatomi Traktus Urogenital Laki-laki

Mc Neal (1976) membagi kelenjar prostat dalam

beberapa zona, antara lain: zona perifer, zona sentral, zona transisional, zona fibromuskuler anterior dan zona periurethra. Sebagian besar hiperplasia prostat terdapat pada zona transisional, sedangkan pertumbuhan karsinoma prostat berasal dari zona perifer.

Definisi
Hiperplasia penambahan ukuran suatu jaringan yang disebabkan oleh penambahan jumlah sel pembentuknya. Hiperplasia prostat diagnosis histologi suatu proliferasi otot polos dan sel epitel didalam zona transisi prostat.1

Gambar 3. Aliran Urin pada Prostat normal dan BPH

Etiologi
Penyebab BPH belum jelas. Beberapa teori telah dikemukakan berdasarkan faktor histologi, hormon, dan faktor perubahan usia, di antaranya:2,4,6,7 a. Teori DHT (dihidrotestosteron) b. Ketidakseimbangan antara estrogentestosteron c. Interaksi stroma-epitel Cunha (1973) membuktikan bahwa diferensiasi dan pertumbuhan sel-sel epitel prostat secara tidak langsung dikontrol oleh sel-sel stroma melalui suatu mediator (growth factor).

Patofisiologi
Pembesaran prostat penyempitan lumen uretra

pars prostatik menghambat aliran urine menyebabkan peningkatan tekanan intravesikal Untuk dapat mengeluarkan urin, buli-buli harus berkontraksi lebih kuat guna melawan tahanan itu Kontraksi yang terus-menerus ini menyebabkan perubahan anatomik dari buli-buli berupa hipertrofi otot detrusor, trabekulasi, terbentuknya selula, sakula, dan divertikel buli-buli. Fase penebalan otot detrusor ini disebut fase kompensasi. Perubahan struktur pada buli-buli dirasakan oleh pasien sebagai keluhan pada saluran kemih sebelah bawah atau Lower Urinary Tractus Symptom (LUTS) prostatismus. Dengan semakin meningkatnya resistensi uretra, otot detrusor masuk ke dalam fase dekompensasi dan akhirnya tidak mampu lagi untuk berkontraksi retensi urin.

Diagnosis
a. Anamnesis Keluhan yang disampaikan oleh pasien BPH seringkali berupa LUTS (lower urinary tract symptoms) yang terdiri atas gejala obstruksi (voiding symptoms) maupun iritasi (storage symptoms )
Keluhan iritasi urgensi, frekuensi atau polakisuria, nokturia, disuria. Keluhan obstruksi hesitansi, intermitensi, Terminal dribbling, pancaran

miksi menjadi lemah, miksi yang tidak puas.5


Riwayat penyakit lain dan penyakit pada saluran urogenitalia (pernah

mengalami cedera, infeksi, atau pembedahan)


Riwayat kesehatan secara umum dan keadaan fungsi seksual.

Obat-obatan yang saat ini dikonsumsi yang dapat menimbulkan keluhan

miksi
Salah satu pemandu yang tepat untuk mengarahkan dan menentukan

adanya gejala obstruksi akibat pembesaran prostat adalah International Prostate Symptom Score (IPSS)

b. Pemeriksaan Fisik Pada pemeriksaan fisik mungkin didapatkan buli-buli yang penuh dan teraba massa kistik si daerah supra simpisis akibat retensi urin.1 Pemeriksaan colok dubur atau Digital Rectal Examination (DRE) merupakan pemeriksaan fisik yang penting pada BPH, karena dapat menilai tonus sfingter ani, pembesaran atau ukuran prostat dan kecurigaan adanya keganasan seperti nodul atau perabaan yang keras. Pada pemeriksaan ini dinilai besarnya prostat, konsistensi, cekungan tengah, simetri, indurasi, krepitasi dan ada tidaknya nodul.1,4,9 Colok dubur pada BPH menunjukkan konsistensi prostat kenyal, seperti meraba ujung hidung, lobus kanan dan kiri simetris, dan tidak didapatkan nodul. Sedangkan pada karsinoma prostat, konsistensi prostat keras dan teraba nodul, dan mungkin antara lobus prostat tidak simetri.

Gambar . Pemeriksaan Colok Dubur

c. Pemeriksaan Laboraturium Urinalisis Pemeriksaan urinalisis dapat mengungkapkan adanya leukosituria dan hematuria. BPH yang sudah menimbulkan komplikasi infeksi saluran kemih, batu buli-buli atau penyakit lain yang menimbulkan keluhan miksi, di antara-nya: karsinoma buli-buli in situ atau striktura uretra, pada pemeriksaan urinalisis menunjukkan adanya kelainan. Untuk itu pada kecurigaan adanya infeksi saluran kemih perlu dilakukan pemeriksaan kultur urine, dan kalau terdapat kecurigaan adanya karsinoma buli-buli perlu dilakukan pemeriksaan sitologi urin. Pada pasien BPH yang sudah mengalami retensi urin dan telah memakai kateter, pemeriksaan urinalisis tidak banyak manfaatnya karena seringkali telah ada leukosituria maupun eritrosituria akibat pemasangan kateter.11

c. Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan serum PSA (Prostatic Spesific Antigen) Pemeriksaan USG transabdominal Pemeriksaan USG prostat bertujuan untuk menilai bentuk, besar prostat, dan mencari kemungkinan adanya karsinoma prostat. Pemeriksaan patologi anatomi (diagnosis pasti)

Tatalaksana
Tujuan terapi pada pasien hiperplasia prostat

adalah : 1). Memperbaiki keluhan miksi, 2). Meningkatkan kualitas hidup, 3). Mengurangi obstruksi infravesika, 4). Mengembalikan fungsi ginjal jika terjadi gagal ginjal, 5). Mencegah progresifitas penyakit. Pilihannya adalah mulai dari: (1) tanpa terapi (watchful waiting), (2) medikamentosa, dan (3) terapi intervensi