Anda di halaman 1dari 20

REFERAT SARAF VERTIGO

Pembimbing Dr. Dini Andriani Sp.S Disusun oleh Erick Gunawan / 112011013

KEPANITRAAN KLINIK ILMU PENYAKIT SARAF RS BHAKTI YUDHA,DEPOK

PENDAHULUAN Vertigo dapat digolongkan sebagai salah satu bentuk gangguan keseimbangan atau gangguan orientasi di ruangan. Gangguan keseimbangan beragam bentuknya dan penyebabnya pun bermacam-macam. Keseimbangan diatur oleh berbagai system yaitu system vestibular, system visual, dan system somatosensorik (propioseptif). Bila seseorang menderita vertigo, ini menunjukkan bahwa system vestibularnya terganggu.

Vertigo biasanya muncul karena adanya gangguan sistem vestibular (misalnya terdapat gangguan pada struktur telinga bagian dalam, saraf vestibular, batang otak, dan otak kecil/cerebellum). Sistem vestibular bertanggung jawab untuk mengintegrasikan rangsangan terhadap indera dan gerakan tubuh. Selain itu sistem vestibular bertugas menjaga agar suatu obyek ada di fokus penglihatan saat tubuh bergerak. Ketika kepala bergerak, sinyal ditransmisikan ke labirin, yang terdapat di telinga bagian dalam. Labirin kemudian membawa informasi ke saraf vestibular yang kemudian diteruskan ke batang otak dan otak kecil, yang berfungsi mengontrol keseimbangan, postur, dan kordinasi gerak.

Bentuk gangguan keseimbangan yang sering dijumpai ialah: 1. rasa tidak seimbang, disekuilibrium 2. kepala terasa ringan, enteng 3. merasa seolah hamper pingsan, hilang, sinkop, black out 4. vertigo

DEFINISI Vertigo berasal dari bahasa Yunani vertere yang artinya memutar. Vertigo disebut juga dizziness, giddiness, dan lightheadedness.

Vertigo adalah adanya sensasi gerakan atau rasa gerak dari tubuh atau lingkungan sekitarnya dengan gejala lain yang timbul, terutama dari jaringan otonomik yang disebabkan oleh gangguan alat keseimbangan tubuh oleh berbagai keadaan atau penyakit. Vertigo (sering juga disebut pusing berputar, atau pusing tujuh keliling) adalah kondisi di mana seseorang merasa pusing disertai berputar atau lingkungan terasa berputar walaupun badan orang tersebut sedang tidak bergerak.

FISIOLOGI KESEIMBANGAN

Kemampuan tubuh untuk mempertahankan keseimbangan dan kestabilan postur oleh aktivitas motorik tidak dapat dipisahkan dari faktor lin gkungan dan system regulasi yang berperan dalam pembentukan keseimbangan. Tujuan dari tubuh mempertahankan keseimbangan adalah : menyanggah tubuh melawan gravitasi d a n f a k t o r e k s t e r n a l l a i n , u n t u k m e m p e r t a h a n k a n p u s a t m a s s a t u b u h a g a r seimbang dengan bidang tumpu,serta menstabilisasi bagian tubuh ketika bagian tubuh lain bergerak.

Komponen-komponen pengontrol keseimbangan adalah sistem informasi sensoris Sistem informasi sensoris meliputi visual, vestibular, dan somatosensoris. Visual Memegang peran penting dalam sistem sensoris Keseimbangan akan terus berkembang sesuai umur mata akan membantu agar tetap focus pada titik utama untuk ,mempertahankan keseimbangan, dan sebagai monitor tubuh selama melakukan gerakan static dan dinamik. Penglihatan juga merupakan sumber u t a m a i n f o r m a s i t e n t a n g l i n g k u n g a n d a n t e m p a t k i t a b e r a d a , p e n g l i h a t a n memegang peran

penting untuk mengidentifikasi dan mengatur jarak gerak s e s u a i l i n g k u n g a n t e m p a t k i t a b e r a d a . P e n g l i h a t a n m u n c u l k e t i k a m a t a menerima sinar yang berasal dari obyek sesuai jarak pandang.Dengan informasi visual, maka tubuh dapat menyesuaikan atau bereaksi terhadap perubahan bidang pada lingkungan aktivitas sehingga memberikan k e r j a o t o t y a n g s i n e r g i s u n t u k m e m p e r t a h a n k a n keseimbangan tubuh. Sistem vestibular Komponen vestibular merupakan sistem sensoris yang berfungsi penting dalam keseimbangan, kontrol kepala, dan gerak bola mata. Reseptor sensorisvestibular berada di dalam telinga. Reseptor pada sistem vestibular meliputi kanalis semisirkularis, utrikulus, serta sakulus. Reseptor dari sistem sensorisi n i d i s e b u t d e n g a n s i s t e m lab yrinthine. S istem lab yrinthine mendeteksi perubahan posisi kepala d a n p e r c e p a t a n p e r u b a h a n s u d u t . M e l a l u i r e f l e k s vestibulo-occular, mereka mengontrol gerak mata, terutama ke tika melihatobyek yang bergerak. Mereka meneruskan pesan melalui saraf kranialis VIII ke nukleus vestibular yang berlokasi di batang otak. Beberapa stimulus tidak menuju nukleus vestibular tetapi ke serebelum, formatio retikularis, thalamusdan korteks serebri. Nukleus vestibular menerima masukan (input) dari reseptor labyrinth,retikular formasi, dan serebelum. Keluaran (output) dari nukleus vestibular menuju ke motor neuron melalui medula spinalis, terutama ke motor neuronyang menginervasi otot -otot proksimal, kumparan otot pada leher dan otot-otot punggung (otot-otot postural). Sistem vestibulat bereaksi sangat cepat sehingga membantu mempertahankan keseimbangan tubuh dengan mengontrol otot-otot postural. Somatosensoris Sistem somatosensoris terdiri dari taktil atau proprioseptif serta persepsi-kognitif. Informasi propriosepsi disalurkan ke otak melalui kolumna dorsalism e d u l a s p i n a l i s . S e b a g i a n b e s a r m a s u k a n ( i n p u t ) p r o p r i o s e p t i f m e n u j u serebelum, tetapi ada pula yang menuju ke korteks serebri melalui lemniskusmedialis dan talamus.Kesadaran akan posisi berbagai bagian tubuh d a l a m r u a n g s e b a g i a n bergantung pada impuls yang datang

dari alat indra dalam dan sekitar sendi. A l a t i n d r a t e r s e b u t a d a l a h u j u n g u j u n g s a r a f y a n g b e r a d a p t a s i l a m b a t d i sinovia dan ligamentum. Impuls dari alat indra ini dari reseptor raba di kulit ,d a n j a r i n g a n l a i n , s e r t a o t o t d i p r o s e s d i k o r t e k s m e n j a d i k e s a d a r a n a k a n posisi tubuh dalam ruang.

Sistem Vestibular

KLASIFIKASI VERTIGO VERTIGO VESTIBULAR Vestibular adalah salah satu organ bagian dalam telinga yang senantiasa m e n g i r i m k a n i n f o r m a s i t e n t a n g p o s i s i t u b u h k e o t a k u n t u k m e n j a g a keseimbangan

Vertigo peripheral (perifer) terjadi jika terdapat gangguan di saluran yang

disebutk a n a l i s s e m i s i r k u l a r i s , y a i t u t e l i n g a b a g i a n t e n g a h y a n g b e r t u g a s mengontrol keseimbangan. Vertigo jenis ini biasanya diikuti gejala-gejala seperti: 1.pandangan gelap 2.rasa lelah dan stamina menurun 3.jantung berdebar 4.hilang keseimbangan 5.tidak mampu berkonsentrasi 6.perasaan seperti mabuk 7.otot terasa sakit 8.mual dan muntah-muntah 9.memori dan daya pikir menurun 10.sensitif pada cahaya terang dan suara 11.berkeringat

Gangguan kesehatan yang berhubungan dengan vertigo periferal antara lain penyakit-penyakit seperti Benign Parozysmal Positional Vertigo atau B P P V ( g a n g g u a n keseimbangan karena ada perubahan posisi k e p a l a ) , menieres disease

(gangguankeseimbangan yang sering kali menyebabkanhilang pendengaran), vestibular neuritis (peradangan pada sel -sel saraf keseimbangan) dan labyrinthitis (radang di bagian dalam pendengaran)-

Vertigo sentral (sentral) terjadi jika ada sesuatu yang tidak normal di dalam

otak,khususnya di bagian saraf keseimbangan, yaitu daerah percabangan otak dan serebelum (otak kecil).

Gejala vertigo sentral biasanya terjadi secara bertahap, penderita akan mengalami hal-hal seperti: 1.penglihatan ganda 2.sukar menelan 3.kelumpuhan otot-otot wajah 4.sakit kepala yang parah 5.kesadaran terganggu 6.tidak mampu berkata-kata 7.hilangnya koordinasi 8. m u a l d a n m u n t a h - m u n t a h 9.tubuh terasa lemah

Gangguan

kesehatan

yang

berhubungan

dengan

vertigo

sentral

termasuk antara lain stroke, multiple sclerosis (gangguan tulang belakang dan otak),t u m o r , trauma di bagian kepala, migren, infeksi, kondisi

p e r a d a n g a n , neurodegenerative illnesses (penyakit akibat kemunduran fungsi saraf)yang menimbulkan dampak pada otak kecil. Penyebab dan Gejala Keluhan v e r t i g o b i a s a n y a d a t a n g m e n d a d a k , d i i k u t i g e j a l a k l i n i s t i d a k n y a m a n seperti banyak berkeringat, mual,dan muntah. .

VERTIGO NON VESTIBULAR

Vertigo sistemik adalah keluhan vertigo yang disebabkan oleh p e n y a k i t tertentu, misalnya diabetes mellitus, hipertensi dan jantung. Sementara itu,vertigo neurologik adalah gangguan vertigo yang disebabkan oleh gangguan saraf. Keluhan mata vertigo yang disebabkan oleh

gangguan

a t a u berkurangnya daya penglihatan disebut vertigo

ophtalmologis; sedangkan vertigo yang disebabkan oleh berkurangnya fungsi alat pendengaran disebut v e r t i g o segi fisik,penyebab otolaringologis. Selain penyebab dari

l a i n munculnya vertigo adalah pola hidup yang tak

teratur, seperti kurang tidur atau terlalu memikirkan suatu masalah hingga stres. Vertigo yang disebabkanoleh stres atau tekanan emosional disebut vertigo psikogenik.

Tabel 1

Psikogenic Seringkali disebabkan gangguan kecemasan atau serangan panic yang sering diistilahkan sebagai neurosis ansietas, hysteria dan depresi. Serangan panic dapat terjadi secara spontan namun kebanyakkan dipresipitasi oleh adanya kecemasan.

Mekanisme

:-penurunan aliran darah ke otak yang menyebabkan gangguan karbondioksida

keseimbangan oksigen dan

:-ketidak seimbangan regulasi neurotransmitter pada otak

Pada gangguan cemas, serangan panic atau depresi seringkali pasien tersebut datang dengan keluhan dizziness, dari anamnesis yang lebih lanjut mereka menggambarkan gejalanya seperti rasa bergoyang, ligh-headedness (pusing), sensasi berenang atau walaupun jarang kadang-kadang adanya gangguan keseimbangan, berjalan di udara atau rasa tak nyaman di kepala yang tersengal-sengal, palpitasi, rasa kesemutan tertutama pada tangan, kaki atau sekitar mulut, rasa ketat, penuh, tertekan atau nyeri di dada, sedangkan gejala lain yang mungkin dikeluhkan adalah nyeri kepala, kedutan (twitching), berkeringat, gangguan penglihatan, gangguan konsentrasi atau daya ingat dan pingsan.

BEDA VERTIGO PERIFER DENGAN SENTRAL

1.Vertigo perifer beronset akut, sedangkan vertigo sentral beronset k r o n i s a t a u p e r l a h a n ( gradual ) . D e n g a n k a t a l a i n , d u r a s i g e j a l a p a d a v e r t i g o perifer berulang(recurrent) terjadi dalam hitungan menit, harian, mingguan, namun

2 . P e n y e b a b u m u m v e r t i g o p e r i f e r a d a l a h i n f e k s i ( labyrinthitis ), Mnire's,neuronitis,iskemia, trauma, toksin. Penyebab umum vaskuler,,demyelinating , neoplasma. vertigo sentral adalah

3.Intensitas vertigo perifer sedang hingga berat, sedangkan vertigo s e n t r a l ringan hingga sedang

4.

Mual

(nausea)

dan

muntah

( vomiting)

umumnya

terjadi

pada

v e r t i g o perifer dan jarang terjadi pada vertigo sentral.

5.Vertigo

perifer

umumnya

berhubungan

dengan

p o s i s i ( positionallyrelated),sedangkan vertigo sentral jarang berhubungan dengan posisi

6.Kehilangan

pendengaran

( hearing loss)

hingga

ketulian

( deafness)u m u m n y a t e r j a d i p a d a v e r t i g o p e r i f e r d a n j a r a n g t e r j a d i p a d a v e r t i g o sentral.

7.Tinnitus (telinga berdenging) seringkali menyertai vertigo perifer. Pada vertigo sentral, biasanya tidak disertai tinnitus

8.Pada

vertigo

perifer

tidak

ada

defisit

neurologis.

Defisit

n e u r o l o g i s (neurologic deficits) umumnya terjadi pada vertigo sentral.

9 . S i f a t Nystagmus pada vertigo perifer adalah fatigable, berputar ( rotary)a t a u

horisontal, dan dihambat oleh fiksasi okuler, sedangkan sifat nystagmus pada vertigo sentral adalah nonfatigable,(b a n y a k

a r a h /multidirectional ), tidak dihambat oleh fiksasi okuler

Tabel 2. Perbedaan Vertigo Vestibular dan Non Vestibular Gejala Sifat vertigo Serangan Mual/muntah Gangguan pendengaran Gerakan pencetus Vertigo Vestibular rasa berputar episodik + +/gerakan kepala Vertigo Non Vestibular melayang, keseimbangan kontinu hilang

Situasi pencetus

gerakan obyek visual keramaian, lalu lintas

Tabel 3. Perbedaan Vertigo Vestibular Perifer dan Sentral Gejala Bangkitan vertigo Derajat vertigo Pengaruh gerakan kepala Gejala otonom Vertigo Vestibular Perifer lebih mendadak berat ++ Vertigo Vestibular Sentral lebih lambat ringan +/+

(mual, ++

muntah, keringat) Gangguan (tinitus, tuli) Tanda fokal otak pendengaran + -

PATOFISIOLOGI

Vertigo

timbul

jika

terdapat

ketidakcocokan

informasi

aferen

y a n g disampaikan ke pusat kesadaran. Susunan aferen yang terpenting dalam sistem inia d a l a h susunan vestibuler atau keseimbangan, yang secara

t e r u s m e n e r u s menyampaikan impulsnya ke pusat keseimbangan. Susunan lain yang berperanialah sistem optik dan pro -prioseptik, jaras-jaras yang

menghubungkan nuclei vestibularis dengan nuklei N. III, IV dan VI, susunan vestibuloretikularis, keseimbangan tubuh danvestibulospinalis.Informasi akan ditangkap olehreseptor yang berguna visual, untuk dan

vestibuler,

proprioseptik; reseptor vestibuler memberikankontribusi paling besar, yaitu lebih dari 50 % disusul kemudian reseptor visual dan yang paling kecil kontribusinya adalah proprioseptik.

Dalam

kondisi

fisiologis/normal, berasal

informasi dari

yang

tiba

di

pusat

integrasi dan

alatkeseimbangan

tubuh

reseptor

vestibuler,

visual

proprioseptik kanan dan kiri akan diperbandingkan, jika semuanya dalam keadaan sinkron danwajar, akan diproses lebih lanjut. Respons yang muncul berupa penyesuaian otototot mata dan penggerak tubuh dalam keadaan bergerak. Di samping itu orangmenyadari posisi kepala dan tubuhnya terhadap lingkungan sekitar. Jika fungsi alat keseimbangan tubuh di perifer atau sentral dalam kondisi tidak normal/ tidak fisiologis, atau ada rangsang gerakan yan g aneh atau berlebihan, maka proses pengolahan informasi akan terganggu, akibatnya muncul gejala vertigo dan gejalaotonom; di samping itu, respons penyesuaian otot menjadi tidak adekuat sehingga muncul gerakan abnormal yang dapat berupa nistagmus, unsteadiness, ataksia saat berdiri/ berjalan dan gejala lainnya..

DIAGNOSA

ANAMNESA 1.Tanyakan bentuk vertigonya 2.Keadaan yang memprovokasi 3.Profil waktu: perlahan -lahan/ akut 4.Keluhan yang menyertai : gangguan pendengaran, tinnitus, mual/ muntah 5.Penggunaan obat-obatan : anti konvulsan, streptomisin, alkohol, dll. 6.Adanya penyakit sistemik : DM, Hypothiroid, Hipertensi, Blok jantung 7.Ada/ tidak stress

PEMERIKSAN FISIK

Pemeriksaan neurologis
Pemeriksaan neurologis dilakukan dengan perhatian khusus pada f u n g s i vestibular/ cerebral1 .

- U j i

R o m b e r g Penderita berdiri dengan kedua kaki dirapatkan, mula-mula dengank e d u a m a t a

terbuka kemudian tertutup. Biarkan pada posisi demikians e l a m a 2 0 - 3 0 detik. Harus dipastikan bahwa penderita t i d a k d a p a t menentukan

posisinya (misalnya dengan bantuan titik cahaya atau suara t e r t e n t u ) . P a d a k e l a i n a n v e s t i b u l e r h a n y a p a d a m a t a t e r t u t u p b a d a n penderita akan bergoyang menjauhi garis tengah kemudian kembali lagi, pada mata terbuka badan penderita tetap tegak. Sedangkan pada kelainanserebeler badan penderita akan bergoyang baik pada mata terbuka maupun pada mata tertutup.

- T a n d e m

G a i t

Tandem Gait: penderita berjalan lurus dengan tumit kaki kiri/kanandiletakkan pada ujung jari kaki kanan/kiri ganti berganti.Pada kelainanvestibuler perjalanannya akan menyimpang, dan pada kelainan serebeler penderita akan cenderung jatuh

-Tes Unterberger Berdiri dengan kedua lengan lurus horisontal ke depan dan jalan dit e m p a t d e n g a n mengangkat lutut setinggi mungkin selama satu m e n i t . Pada kelainan lesi dengan

vestibuler posisi penderita akan menyimpang/berputar ke a r a h

g e r a k a n s e p e r t i o r a n g m e l e m p a r c a k r a m ; k e p a l a d a n badan berputar ke arah lesi, kedua lengan bergerak ke arah lesi dengan l e n g a n p a d a s i s i l e s i t u r u n d a n y a n g l a i n n y a n a i k . K e a d a a n i n i d i s e r t a i nistagmus dengan fase lambat ke arah lesi

-P oint ing T es (Uji Tunjuk Bara n y) Dengan jari telunjuk ekstensi dan lengan lurus ke depan, penderitad i s u r u h m e n g a n g k a t l e n g a n n y a k e a t a s , k e m u d i a n d i t u r u n k a n s a m p a i menyentuh telunjuk tangan pemeriksa. Hal ini dilakukan berulang -ulangdengan mata terbuka dan tertutup. Pada kelainan vestibuler akan terlihat penyimpangan lengan penderita ke arah lesi

-Tes Babinsky Weil Pasien dengan mata tertutup berulang kali berjalan lima langkah ked e p a n d a n l i m a langkah ke belakang seama setengah menit; jika adag a n g g u a n

v e s t i b u l e r u n i l a t e r a l , p a s i e n a k a n b e r j a l a n d e n g a n a r a h berbentuk bintang

Pemeriksaan Neurootologi Pemeriksaan ini terutama untuk menentukan apakah letak lesinya di sentral atau perifer

-U j i D i x H a l l p i k e Dari posisi duduk di atas tempat tidur, penderita dibaring-kan ke belakang d e n g a n c e p a t , s e h i n g g a k e p a l a n y a m e n g - g a n t u n g 4 5 d i b a w a h g a r i s horisontal, kemudian kepalanya dimiringkan 45 ke kanan lalu ke kiri. Perhatikan saat timbul dan hilangnya vertigo dan nistagmus, dengan uji inidapat dibedakan apakah lesinya perifer atau sentral.Perifer (benign positional vertigo): vertigo dan nistagmus timbul setelah periode laten 2-10 detik, hilang dalam waktu kurang dari 1 menit,a k a n b e r k u r a n g a t a u m e n g h i l a n g b i l a t e s d i u l a n g - u l a n g b e b e r a p a k a l i (fatigue).S e n t r a l : t i d a k a d a p e r i o d e l a t e n , n i s t a g m u s d a n v e r t i g o b e r - langsung lebih dari 1 menit, bila diulang-ulang reaksi tetap seperti semula(non-fatigue)

- T e s

K a l o r i berbaring dengan dalam kepala posisi fleksi vertikal. 30, Kedua sehingga telinga

Penderita

kanalissemisirkularis

lateralis

d i i r i g a s i bergantian dengan air dingin (30C) dan air hangat (44C) masing-masingselama 40 detik dan jarak setiap irigasi 5 menit. Nistagmus yang timbuldihitung lamanya sejak permulaan irigasi sampai hilangnya nistagmus tersebut (normal 90-150

detik).D e n g a n t e s i n i d a p a t d i t e n t u k a n a d a n y a c a n a l p a r e s i s a t a u directional preponderance ke kiri atau ke kanan.Canal paresis ialah jikaabnormalitas ditemukan di satu telinga, baik setelah rangsang air

hangatm a u p u n ialah

air

dingin,

sedangkan

directional

preponderance

j i k a abnormalitas ditemukan pada arah nistagmus yang sama di masing-

masingtelinga.C a n a l p a r e s i s m e n u n j u k k a n l e s i p e r i f e r d i l a b i r i n a t a u n . V I I I , sedangkan directional preponderance menunjukkan lesi sentral

PEMERIKSAAN TAMBAHAN Laboratorium : darah dan urine Radiologic dan imaging EEG, EMG dan EKG

PENATALAKSANAAN

Terbagi 3 Kausal

: kausal, simtomatik, rehabilitatif

Sebagian besar kasus vertigo tidak diketahui kausanya sehingga terapi lebih banyak bersifat simtomatik dan rehabilitatif. Simptomatik -Gol.antikolinergik : Mengurangi eksitatori kolinergik ke nervus vestibularis. Ini akan

menurunkan firing rate dan respons nervus vestibularis terhadap rangsang. Contoh obat dalam golongan ini adalah skopolamin dan atropine. Efek sampingnya adalah mulut kering. -Gol. Antihistamin : Mempunyai efek antikolinergik, menginhibisi monoaminergik dan

menginhibisi nervus vestibularis. Contoh obatnya adalah sinarisin, dimenhidrinat, prometasin dan betahistin. -Gol. Fenotiasin : Bersifat antidopaminergik, empunyai efek anti muntah yang besar.

Contoh obat adalah klopromasin, proklorperasin. Efek samping adalah efek ekstrapiramidal.

-Gol. Benzodiazepine : Mengurangi kecemasan untuk psikogenik vertigo -Gol. Selective Ca++ entry blocker : Mencegah akumulasi dari intraseluler secara spesifik, proteksi dari sel otak dari hipoksia, perbaikan mikrosirkulasi, proteksi sel neuronal, proteksi sell endothelial, anti vasokonstriksi, menekan aktivitas vestibuler, dan efek samping saluran cerna yang rendah. Contoh obat adalah flunarisin.

Rehabilitatif Bertujuan untuk menimbulkan dan meningkatkan kompensasi sentral. Dengan terapi rehabilitative juga dapat menimbulkan habituasi berkurangnya respons terhadap stimulasi sensorik. Contohnya ialah : -Metode Brand-Daroff -Latihan visual vestibuler -Latihan berjalan (gait exercise)

Metode Brand-daroff : Penderita duduk di tepi tempat tidur dengan kaki tergantung. Kedua mata ditutup, berbaring dengan cepat pada salah satu sisi tubuh selama 30 detik, kemudian duduk tegak kembali. Setelah 30 detik, baringkan tubuh ke sisi lain dengan cara yang sama, tunggu selama 30 detik, setelah itu duduk kembali. Dilakukan 5 kali pagi dan 5 kali malam.

Latihan visual vestibuler I Pada pasien yang masih berbaring

-Melirik ke atas,kebawah,kesamping kiri, kanan,selanjutnya gerakan serupa sambil menatap jari yang digerakkan pada jarak 30 cm,mula-mula lambat, makin lama makin cepat. - Gerakan kepala fleksi dan ekstensi makin lama makin cepat, dilakukan dengan mata buka dan mata tutup.

II.

Untuk pasien yang sudah bisa duduk

- Gerakan kepala dengan cepat ke atas dan ke bawah sebanyak 5 kali, lalu tunggu 10 detik sampai vertigo hilang,ulangi latihan sebanyak 3 kali. -Gerakan kepala menatap ke kiri, kanan,atas,bawah selama 30 detik, kembali ke posisi biasa selama 30 detik,ulangi latihan sebanyak 3 kali.

III.

Untuk pasien yang sudah bisa berdiri atau berjalan.

-Latihan seperti waktu berbaring dan duduk -Duduk di kursi lalu berdiri dengan mata tertutup -Jalan menyeberang ruangan dengan mata terbuka dan tertutup

Latihan berjalan (gait exercise) Jalan menyeberang ruangan dengan mata terbuka dan mata tertutup berjalan tandem dengan mata terbuka dan tertutup dan terbuka bergantian jalan turun naik pada lantai miring atau tangga, mata tertutup dan terbuka bergantian jalan mengelilingi seseorang sambil melempar bola.

BPPV

Benign paroxysmal positional vertigo (BPPV) merupakan jenis vertigo vestibular perifer yang paling sering ditemui, kira-kira 107 kasus per 100.000 penduduk, dan lebih banyak pada perempuan serta usia tua (51-57 tahun). Jarang ditemukan pada orang berusia dibawah 35 tahun yang tidak memiliki riwayat cedera kepala. Dari namanya, jelas bahwa vertigo ini diakibatkan perubahan posisi kepala seperti saat berguling di tempat tidur, membungkuk, atau menengadah ke atas. Mekanisme pasti terjadinya BPPV masih samar. Tapi penyebabnya sudah diketahui pasti yaitu debris yang terdapat pada kanalis semisirkularis biasanya pada kanalis posterior. Debris berupa kristal kalsium karbonat itu dalam keadaan normal tidak ada. Diduga debris itu menyebabkan perubahan tekanan endolimfe dan defleksi kupula sehingga timbul gejala vertigo. Salah satu cara yang sangat mudah dikerjakan untuk mendiagnosis BPPV adalah uji DixHallpike, yaitu dengan menggerakkan kepala pasien dengan cepat ke kanan, kiri dan kembali ke tengah. Uji itu dapat membedakan lesi perifer atau sentral. Pada lesi perifer, dalam hal ini positif BPPV, didapatkan vertigo dan nistagmus timbul setelah periode laten 2-10 detik, menghilang dalam waktu kurang dari 1 menit, berkurang dan menghilang bila uji diulang beberapa kali (fatigue). Berbeda dengan lesi sentral, periode laten tidak ditemukan, vertigo dan nistagmus berlangsung lebih dari 1 menit, dan bila diulang gejala tetap ada (non fatigue). Obat tidak diberikan secara rutin pada BPPV. Malah cenderung dihindari karena penggunaan obat vestibular suppresant yang berkepanjangan hingga lebih dari 2 minggu dapat mengganggu mekanisme adaptasi susunan saraf pusat terhadap abnormalitas vestibular perifer yang sudah terjadi. Selain itu, efek samping yang timbul berupa ngantuk, letargi, dan perburukan keseimbangan. Tanpa obat bukan berarti tidak ada terapi untuk mengurangi gejala vertigo pada BPPV. Adalah manuver Epley yang disinyalir merupakan terapi yang aman dan efektif. Manuver ini bertujuan untuk mengembalikan debris dari kanalis semisirkularis posterior ke vestibular labirin. Angka keberhasilan manuver Epley dapat mencapai 100% bila dilatih secara berkesinambungan. Bahkan, uji Dix-Hallpike yang semula positif menjadi negatif. Angka rekurensi ditemukan 15% dalam 1 tahun. Meski dibilang aman, tetap saja ada keadaan tertentu yang menjadi kontraindikasi

melaksanakan manuver ini yaitu stenosis karotid berat, unstable angina, dan gangguan leher seperti spondilosis servikal dengan mielopati atau reumatoid artritis berat. Setelah melakukan manuver Epley, pasien disarankan untuk tetap tegak lurus selama 24 jam untuk mencegah kemungkinan debris kembali lagi ke kanal semisirkularis posterior. Bila pasien tidak ada perbaikan dengan manuver Epley dan medikamentosa, pembedahan dipertimbangkan.

Penyakit Meniere

Contoh lain dari vertigo vestibular tipe perifer adalah penyakit Meniere (Meniere disease) atau hidrops endolimfatik. Penyakit ini lebih memilih orang kulit putih. Di Inggris, prevalensinya sebesar 1 per 1000 penduduk. Laki-laki atau perempuan mempunyai risiko yang sama. Bisa terjadi pada anak-anak namun paling sering antara usia 20-50 tahun. Pada penyakit ini terjadi gangguan filtrasi endolimfatik dan ekskresi pada telinga dalam, menyebabkan peregangan pada kompartemen endolimfatik. Penyebabnya multifaktor. Dari kelainan anatomi, genetik (autosom dominan), virus, autoimun, vaskular, metabolik, hingga gangguan psikologis. Gejala penyakit Meniere lebih berat daripada BPPV. Selain vertigo, biasanya pasien juga mengalami keluhan di telinga berupa tinitus, tuli sensorineural terhadap frekuensi rendah, dan sensasi rasa penuh di telinga. Ada 3 tingkat derajat keparahan penyakit Meniere. Derajat I, gejala awal berupa vertigo yang disertai mual dan muntah. Gangguan vagal seperti pucat dan berkeringat dapat terjadi. Sebelum gejala vertigo menyerang, pasien dapat merasakan sensasi di telinga yang berlangsung selama 20 menit hingga beberapa jam. Diantara serangan, pasien sama sekali normal.

Derajat II, gangguan pendengaran semakin menjadi-jadi dan berfluktuasi. Muncul gejala tuli sensorineural terhadap frekuensi rendah.

Derajat III, gangguan pendengaran tidak lagi berfluktuasi namun progresif memburuk. Kali ini mengenai kedua telinga sehingga pasien seolah mengalami tuli total. Vertigo mulai berkurang atau menghilang. Obat-obatan seperti proklorperasin, sinnarizin, prometasin, dan diazepam berguna untuk menekan gejala. Akan tetapi, pemakaian proklorperasin jangka panjang tidak dianjurkan karena menimbulkan efek samping ekstrapiramidal dan terkadang efek sedasinya kurang dapat ditoleransi, khususnya kaum lansia. Intervensi lain berupa diet rendah garam (<1-2 gram per hari) dan diuretik seperti furosemid, amilorid, dan hidroklorotiazid. Namun, kurang efektif menghilangkan gejala tuli dan tinitus. Terapi ablasi sel rambut vestibular dengan injeksi intratimpani gentamisin juga efektif. Keuntungan injeksi intratimpani daripada sistemik adalah mencegah efek toksik berupa toksisitas koklea, ataxia, dan oscillopsia. Pada kasus jarang dimana penyakit sudah kebal dengan terapi obat, diet dan diuretik, pasien terpaksa harus memilih intervensi bedah, misalnya endolimfatik shunt atau kokleosakulotomi.

PROGNOSIS

Prognosis pasien dengan vertigo vestibular tipe perifer umumnya baik, dapat terjadi remisi sempurna. Sebaliknya pada tipe sentral, prognosis tergantung dari penyakit yang mendasarinya. Infark arteri basilar atau vertebral, misalnya, menandakan prognosis yang buruk.