Anda di halaman 1dari 12

L APO R AN PEND AH ULU AN

R UANG DAN PENG ELOLAAN S UMBER DAYA AIR

TI NJAUAN KE BIJ AKAN TATA

B AB

2.1

TINJAUAN KEBIJAKAN TATA RUANG

2.1.1 Kebijakan Tata Ruang Pulau Sumatera A. Kebijakan Wilayah Pengembangan Rencana Tata Ruang Pulau Sumatera di bagi atas 4 (empat) Sub Wilayah, yaitu : 1. Sub Wilayah Pesisir Pantai Barat 2. Su Wilayah Jalur Pengunungan Bukit Barisan 3. Sub Wilayah Dataran Rendah Pantai Timur 4. Sub Wilayah Pulau -Pulau Kecil Wilayah perencanaan Penyusunan Arahan Pemanfaatan Ruang DAS Bahorok merupakan Sub Wilayah Dataran Rendah Pantai Timur dari RTRW Pulau Sumatera. B. Strategi Pengembangan Kawasan Lindung 1. Penetapan dan rehabilitasi kawasan lindung minimal 30% dari luas wilayah Pulau Sumatera 2. Pengawasan / pengendalian pemanfaatan ruang budidaya dan permukiman dalam 9 Kawasan Taman Nasional, Cagar Alam, 6 Taman Hutan Raya, dan 1 Taman Wisata Laut. 3. Penetapan sansi tegas terhadap pelanggaran pemanfaatan ruang dengan konsekuensi pengembalian ke fungsi konservasi semula

Penyusunan Arahan Pemanfaatan Ruang DAS Bahorok

II - 1

L APO R AN PEND AH ULU AN

4. Pemaduserasian peruintukkan ruang kawasan lindung bagian hulu, tengah, hilir satuan wilayah sungai di SWS lintas propinsi (SWS Singkil, SWS Rokan, SWS Kampar, SWS Indragiri, SWS Batanghari, SWS IpuhTeramang-Majunto, SWS Mesuji Tulang Bawang) 5. Penetapan insentif bagi propinsi yang memiliki kawasan lindung lebih besar dari 30 % C. Strategi Pengembangan Sumber Daya Air 1. Pengelolaan 19 SWS kritis dalam rangka pengendalian banjir, kekeringan, dan abrasi pantai, yaitu : SWS Krueng Aceh, SWS Meureudu Ureun, SWS Peusangan, SWS Wampu-Besitang , SWS Belawan Belumai, SWS Pagurawan -Bahbolon, SWS Asahan, SWS Seputih-Sekampung, SWS Jamu Aye, SWS Tamiang Langsa, SWS Barumun Kualuh, SWS Rokan, SWS Indragiri, SWS Anai Saulang, SWS Batang Hari, SWS Musi, dan SWS Mesuji Tulang Bawang, SWS Kanal Alas -Talo, SWS Ipuh-Teramng-Majunto. 2. Pemeliharaan zona hulu sungai melalui kegiatan -kegiatan pelestarian kawasan, pengamanan kawasan penyangga, pelstarian dan pengamanan sumber air, pencegahan erosi, dan pencegahan pencemaran 3. Pengamanan zona tengah sungai melalui kegiatan -kegiatan pelestarian air, pengembangan irigasi, penyediaan air baku RKI, pelestarian air pada badan sungai dan pencegahan banjir 4. Mempertahankan zona hilir sungai melalui kegiatan -kegiatan pengembangan irigasi, penyediaan air baku RKI, pengendalian banjir, pelaksanaan sistim drainase, pencegahan pencemaran, dan pengamanan daerah pantai

2.1.2 Studi-Studi Terkait DAS Bahorok Mengingat bencana alam DAS Bahorok ini merupakan bencana alam nasional, y ang menelan korban jiwa dan harta cukup besar, serta merupakan potensi perekonomian di wilayah Propinsi Sumatera, serta banyaknya kepentingankepentingan yang melekat pada kawasan DAS Bahorok ini, seperti : merupakan kawasan lindung yang menjadi perhatian dunia luar, maka banyak kegiatankegiatan yang dilakukan berkaitan dengan perencanaan ulang tata ruang kawasan DAS Bahorok.

Penyusunan Arahan Pemanfaatan Ruang DAS Bahorok

II - 2

L APO R AN PEND AH ULU AN

a. Penyusunan Panduan Penataan K awasan Wisata Bukit Lawang, Bahorok, Kabupaten Langkat b. Field Investigation on Disaster of Bahorok River Bukit Lawang, North Sumatera

2.2

TINJAUAN KEBIJAKAN PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR

2.2.1 Dasar Hukum Pengelolaan SDA A. UUD 1945 Pembangunan sumberdaya air adalah bagian pembangunan nasional sebagai pengamalan Pancasila dan perwujudan amanat Undang -Undang Dasar (UUD) 1945. Pasal 33 ayat 3 UUD 1945 menyatakan bahwa bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar keamakmuran rakyat. B. UU No. 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang Lahirnya Undang-Undang No. 24 tahun 1992 tentang Penataan Ruang, telah lebih memperjelas lagi bahwa penatagunaan air adalah merupakan bagian dari perencanaan tata ruang mencakup perencanaan struktur dan pola pemanfaatan ruang, yang meliputi tata guna tanah, tata guna udara, dan tata guna sumberdaya alam lainnya. Kemudian pasal 16 ayat (1a) menyatakan bahwa dalam pemanfaatan ruang dikembangkan pola penggunaan tata guna tan ah, tata guna air, tata guna udara, dan tata guna sumber daya alam lainnya sesuai denga asas penataan ruang. Di dalam penjelasan UU No, 24 tahun 1992 pasal 16 ayat (1) disebutkan bahwa yang dimaksud dengan penatagunaan tanah, air, udara dan sumber daya alam lainnya yang berwujud konsolidasi pemanfaatan tanah, air, udara dan sumber daya alam lainnya melalui pengaturan kelembagaan yang terkait dengan pemanfaatan tanah, air, udara dan sumber daya alam lainnya sebagai suatu kesatuan sistem untuk kepentingan masyarakat secara adil. Dalam pemanfaatan tanah, air, udara, dan sumber daya alam lainnya, perlu diperhatikan faktor yang mempengaruhinya seperti faktor meteorologi, klimatologi, dan geofisika.

Penyusunan Arahan Pemanfaatan Ruang DAS Bahorok

II - 3

L APO R AN PEND AH ULU AN

C. Undang-Undang No. 7 Tahun 2004 Tentang Pengelolaan Sumber Daya Air Air sebagai sumber kehidupan masyarakat secara alami keberadaannya bersifat dinamis mengalir ke tempat yang lebih rendah tanpa mengenal batas wilayah administrasi. Keberadaan air mengikuti siklus hidrologis yang erat hubungannya dengan kondisi cuaca pada suatu daerah sehingga menyebabkan ketersediaan air tidak merata dalam setiap waktu dan setiap wilayah. Sejalan dengan perkembangan jumlah penduduk dan meningkatnya kegiatan masyarakat mengakibatkan perubahan fungsi lingkungan yang berdampak negatif terha dap kelestarian sumber daya air dan meningkatnya daya rusak air. Hal tersebut menuntut pengelolaan sumber daya air yang utuh dari hulu sampai ke hilir dengan basis wilayah sungai dalam satu pola pengelolaan sumber daya air tanpa dipengaruhi oleh batas-batas wilayah administrasi yang dilaluinya. Berdasarkan hal tersebut di atas, pengaturan kewenangan dan tanggung jawab pengelolaan sumber daya air oleh Pemerintah, pemerintah provinsi, dan pemerintah kabupaten/kota didasarkan pada keberadaan wilayah sungai yang bersangkutan, yaitu: a. wilayah sungai lintas provinsi, wilayah sungai lintas negara, dan/atau wilayah sungai strategis nasional menjadi kewenangan Pemerintah. b. wilayah sungai lintas pemerintah provinsi; kabupaten/kota menjadi kewenangan

c. wilayah sungai yang secara utuh berada pada satu wilayah kabupaten/kota menjadi kewenangan pemerintah kabupaten/kota; Di samping itu, undang -undang ini juga memberikan kewenangan pengelolaan sumber daya air kepada pemerintah desa atau yang disebut dengan nama lain sepanjang kewenangan yang ada belum dilaksanakan oleh masyarakat dan/atau oleh pemerintah di atasnya. Kewenangan dan tanggung jawab pengelolaan sumber daya air tersebut termasuk mengatur, menetapkan, dan memberi izin atas peruntukan, penyediaan, penggunaan, dan pengusahaan sumber daya air pada wilayah sungai dengan tetap dalam kerangka konservasi dan pengendalian daya rusak air. Pola pengelolaan sumber daya air merupakan kerangka dasar dalam merencanakan, melaksanakan, memantau, dan mengevaluasi kegiatan

Penyusunan Arahan Pemanfaatan Ruang DAS Bahorok

II - 4

L APO R AN PEND AH ULU AN

konservasi sumber daya air, pendayagunaan sumber daya air, dan pengendalian daya rusak air pada setiap wilayah sungai dengan prinsip keterpaduan antara air permukaan dan air tanah. Pola pengelolaan sumber daya air disusun secara terkoordinasi di antara instansi yang terkait, berdasarkan asas kelestarian, asas keseimbangan fungsi sosial, lingkungan hidup, dan ekonomi, asas kemanfaatan umum, asas keterpaduan dan keserasian, asas keadilan, asas kemandirian, serta asas transparansi dan akuntabilitas. Pola pengelolaan sumb er daya air tersebut kemudian dijabarkan ke dalam rencana pengelolaan sumber daya air. Penyusunan pola pengelolaan perlu melibatkan seluas-luasnya peran masyarakat dan dunia usaha, baik koperasi, badan usaha milik negara, badan usaha milik daerah maupun ba dan usaha swasta. Sejalan dengan prinsip demokratis, masyarakat tidak hanya diberi peran dalam penyusunan pola pengelolaan sumber daya air, tetapi berperan pula dalam proses perencanaan, pelaksanaan konstruksi, operasi dan pemeliharaan, pemantauan, serta pengawasan atas pengelolaan sumber daya air. Rencana pengelolaan sumber daya air merupakan rencana induk konservasi sumber daya air, pendayagunaan sumber daya air, dan pengendalian daya rusak air yang disusun secara terkoordinasi berbasis wilayah sungai. Rencana tersebut menjadi dasar dalam penyusunan program pengelolaan sumber daya air yang dijabarkan lebih lanjut dalam rencana kegiatan setiap instansi yang terkait. Rencana pengelolaan sumber daya air tersebut termasuk rencana penyediaan sumber daya air dan pengusahaan sumber daya air. Penyediaan air untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari dan irigasi pertanian rakyat dalam sistem irigasi yang sudah ada merupakan prioritas utama penyediaan di atas semua kebutuhan lainnya. Karena keberagaman ketersediaan sumber daya air dan jenis kebutuhan sumber daya air pada suatu tempat, urutan prioritas penyediaan sumber daya air untuk keperluan lainnya ditetapkan sesuai dengan kebutuhan setempat.

2.2.2 Visi dan Misi Pengelolaan SDA Visi pengelolaan sumberdaya air adalah: Terwujudnya kemanfaatan sumberdaya air bagi kesejahteraan seluruh rakyat. Dengan visi seperti itu, pengelolaan sumberdaya air ke depan akan memberikan perhatian khusus terhadap pelaksanaan lima misi sebagai berikut: ? Konservasi atau perlindungan sumbe rdaya air

Penyusunan Arahan Pemanfaatan Ruang DAS Bahorok

II - 5

L APO R AN PEND AH ULU AN

? ? ? ?

Pendayagunaan sumberdaya air yang meliputi upaya penatagunaan, penyediaan, penggunaan, pengembangan dan pengusahaan Pengendalian dan penanggulangan daya rusak air Pemberdayaan dan peningkatan peran masyarakat, swasta dan pemerintah Peningaktan ketersediaand an keterbukaan data dan informasi sumberdaya air termasuk system prasarana dan sarananya

2.2.3 Prinsip Pengelolaan SDA Pola pengelolaan sumberdaya air diselenggarakan berdasarkan beberapa prinsip sebagai berikut: 1. Pengelolaan sumberdaya air didasarkan pada prinsip satu sistem sungai, satu rencana induk, dalam satu menejemen terkoordinasi dengan menggunakan pendekatan wilayah sungai sebagai kesatuan wilayah pengelolaan (One River, One Plan One Integrated Management) 2. Untuk terselenggaranya pengelolaan sumberdaya air secara berkelanjutan, maka upaya pendayagunaan sumberdaya air harus diimbangi dengan upaya konservasi hutan yang memadai 3. Proses penyusunan rencana induk diselenggarakan melalui pelibatan peran seluas-luasnya semua unsur stakeholders 4. Penetapan kebijakan operasional pengelolaan seumberdaya air diselenggarakan secara demokratis dengan pelibatan semua unsur stakeholders melalui perwakilan dalam wadah koordinasi berdasarkan 7 azas, yaitu keseimbangan antara fungsi sosial dengan nilai ekonomi, kemanfaatan umum, kelestarian, keadilan, keterpaduan, kemandirian, keterbukaan dan akuntabilitas publik 5. Implementasi kebijakan dilaksanakan oleh badan pengelola yang mandiri, professional dan akuntabel 6. Masyarakat dan semua unsur stakeholders harus dilibatkan dalam keseluruhan proses perencanaan, pengambilan keputusan kebijakan pengelolaan dan pelaksanaan pembangunan 7. Biaya pengelolaan sumberdaya air perlu ditanggung secara bersamasama oleh seluruh penerima manfaat, melalui penerapan water use pays principle dan polluters pays principle atas dasar sistem subsidi silang menurut norma kelayakan umum

Penyusunan Arahan Pemanfaatan Ruang DAS Bahorok

II - 6

L APO R AN PEND AH ULU AN

2.2.4 Kebijakan-Kebijakan Pengelolaan SDA A. Kebijakan Umum Kebijakan umum pembangunan sumberdaya air adalah meningkatkan efisiensi dan produktifitas pemanfaatan air, serta meningkatnya penyediaan air untuk permukiman, pembangunan pertanian, industri, pariwisata, dan kelistrikan. Pembangunan sumberdaya air juga dilaksanakan guna meningkatkan peranannya untuk mengurangi kesenjangan dan mengentaskan penduduk dari kemiskinan, serta menjaga kelestarian sumberdaya alam dan meningkatkan kualitas lingkungan hidup. Dalam rangka mendukung pertumbuhan ekonomi, terutama pertumbuhan sektor pertanian, indutri, pariwisata, dan kelistrikan, Kebijakan pembangunan sumberdaya air adalah meningkatkan efisiensi alokasi air antar sektor dan di dalam masing-masing sektor antar wilayah dan mengembangkan sumber air baru serta memperluas jaringan sumberdaya air. Efisiensi alokasi air ditingkatkan dengan mengembangkan sistem pengelolaan sumber daya air dan meningkatkan kemampuan penguasaan iptek serta kelembagaan sumberdaya air yang efektif. Alokasi air didasarkan atas nilai ekonomi air dengan cara menerapkan mekanisme pasar. Untuk mendukung pembangunan wilayah, kebijakannya adalah meningkatkan investasi di bidang sumberdaya air yang serasi dengan keadaan sosial ekonomi di daerah, tata ruang, tata guna tanah yang tidak mengganggu keseimbangan ekosistem. Untuk mengurangi kesenjangan antar wilayah, diupayakan untuk meningkatkan pembangunan sumberdaya air di daerah tertinggal, terutama di kawasan Timur Indonesia. Dalam pada itu, untuk mengentaskan penduduk dari kemiskinan ditingkatkan penyediaan air bagi pengembangan usaha pertanian rakyat serta untuk air minum di desa tertinggal, dan meningkatkan penyediaan air baku, baik dalam jumlah yang cukup maupun kualitas yang aman, bagi keberlangsungan hidup sehat dari penduduk di daerah perkotaan yang miskin. Kebijakan lainnya adalah mencegah kemerosotan mutu sumberdaya air, disamping menyerasikan perkembangan kependudukan dengan daya dukung sumberdaya alam. Selanjutnya untuk mencegah pencemaran air, ditingkatkan upaya mengembangakan dan menegakkan hukum yang terkait deangan pengelolaan lingkungan hidup, serta mengembangkan sistem pengelolaan limbah industri, rumah tangga, dan limbah berbahaya serta beracun lainnya.

Penyusunan Arahan Pemanfaatan Ruang DAS Bahorok

II - 7

L APO R AN PEND AH ULU AN

A. Kebijakan Khusus 1. Pemantapan Prasarana Sumberdaya air Kebijakan untuk memantapkan prasarana sumberdaya air adalah mengembangkan sistem operasi dan pemeliharaan termasuk meningkatkan partisipasi masya rakat untuk memelihara prasarana sumberdaya air, membantu mencegah pengalihan areal pertanian produktif untuk pemanfaatan lainnya, menggunakan iptek yuang mampu memberikan nilai tambah air yang tinggi, mencegah menurunnya mutu air dan menjaga kelestarian sumber daya air. 2. Peningkatan Pemanfaatan Sumber Daya Air Untuk meningkatkan pemanfaatan sumber daya air, Kebijakannya adalah mengaloksikan air antar sektor di dalam masing -masing sektor antar wilayah secara efisien dan adil, menggali potensi sumber air baru , menyempurnakan sistem investasi di bidang sumberdaya air termasuk peningkatan penyediaan dana dan investasi, serta meningkatkan pemanfaatan air dengan cara daur ulang. 3. Pengendalian Kerusakan Lingkungan Hidup Kebijakan untuk mengendalikan kerusakan lingku ngan hidup adalah memelihara fungsi tanah dan air, mengembangkan tata ruang dan tata guna air sesuai dengan daya dukung lestari, mengembangkan iptek konservasi tanah dan air, meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap peranan sumber daya air untuk memelihara lingkungan hidup dan kesehatan masyarakat, serta menata persebaran penduduk. Selain itu mengembangkan dan menerapkan sistem insentif yang mendorong konservasi sumber daya air. 4. Pemantapan Kelembagaan Sumberdaya Air Kebijakan untuk memantapkan kelembagaan sumberdaya air adalah meningkatkan pendayagunaan perkumpulan pemakai air, meningkatkan peranan koperasi di perdesaan/KUD dalam pengelolaan sumber daya air, meningkatkan kemampuan sumber daya manusia di bidang pengelolaan sumber daya air, dan meningkatkan penguasaan dan penerapan iptek.

Penyusunan Arahan Pemanfaatan Ruang DAS Bahorok

II - 8

L APO R AN PEND AH ULU AN

2.2.5 Tujuan dan Sasaran Pengelolaan SDA Tujuan pengelolaan sumberdaya air adalah terwujudnya air yang cukup dan merata bagi kelangsungan kehidupan manusia dan keberlanjutan pembangunan di seluruh wilayah Indonesia. Hal ini dicerminkan oleh tersedianya air baku yang cukup bagi setiap penduduk dan kualitas yang aman bagi kesehatan masyarakat. Sasaran pengelolaan sumber daya air adalah memadainya penyediaan air bagi permukiman, pertanian, industri, pariwisata, kelistrikan, dan keperluan lainnya. Sasaran lainnya adalah tercipatanya sistem pengelolaan dan distribusi air yang efisien dan efektif. Sasaran selanjutnya adalah meningkatnya peran serta masyarakat di dalam pembangunan dan terciptanya sumberdaya air yang andal.

2.2.6 Program Pengelolaan SDA Untuk mencapai sasaran dan melaksanakan kebijakan serta dengan melihat tantangan, peluang, dan kendala yang ada, ditetapkan program pembangunan sumberdaya air yang dilaksanakan bersama Pemerintah dan masyarakat. Program pembangunan sumberdaya air terdiri atas program pokok dan program penunjang. Program pokok meliputi program pengembangan dan konservasi sumber daya air; program penyediaan dan pengelolaan air baku; program pengelolaan sungai, danau, dan sumber air lainnya; program pengembangan dan pengelolaan daerah rawa. Adapun program penunjang meliputi program pendayagunaan dan pengembangan kelembagaan; program pendidikan, pelatihan, dan penyuluhan; program penyelamatan hutan, tanah, dan air; program pembinaan daerah pantai; dan program penelitian dan pengembangan teknologi sumberdaya air.

A. Program Pokok 1. Program Pengembangan dan Konservasi Sumber Daya Air Program ini bertujuan meningkatkan produktifitas pemanfaatan sumber daya air melalui peningkatan efisiensi dan efektifitas prasarana sumberdaya air, mendayagunakan sumber daya air bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Di samping itu program ini bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang masih hidup di bawah garis kemiskinan di perdesaan dan di daerah terisolasi.

Penyusunan Arahan Pemanfaatan Ruang DAS Bahorok

II - 9

L APO R AN PEND AH ULU AN

2. Program Penyediaan dan Pengelolaan Air Baku Program ini bertujuan untuk meningkatkan penyediaan air baku dan produktivitas prasarananya untuk memenuhi kebutuhan air bagi hajat hidup rakyat banyak, baik di daerah perkotaan maupun perdesaan. Program ini juga bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang masih hidup di bawah garis kemiskinan di perdesaan dan di daerah terisolasi. 3. Program Pengelolaan Sungai, Danau, dan Sumber Air Lainnya Program ini ditujukan untuk melestarikan kondisi dan fungsi sumber air sekaligus menunjang daya dukung lingkungannya serta meningkatkan nilai manfaat sumber air sehingga dapat dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan. 4. Program Pengembangan dan Pengelolaan Daerah Rawa Program ini ditujukan untuk meningkatkan produktivitas dan pendapatan penduduk perdesaan melalui penyediaan lahan produksi, baik untuk pertanian maupun perikanan darat, yang diperoleh dengan mengatur tata air daerah rawa, serta mencipatakan iklim yang menarik bagi peningkatan peran serta swasta dan masyarakat dalam investasi.

B . Program Penunjang Disamping kelima program pokok tersebut di atas, terdapat 5 program penunjang. 1. Program Pendayagunaan dan Pengembangan Kelembagaan Sumberdaya Air Program ini bertujuan untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat, serta dalam upaya meningkatkan peran serta masyarakat dalam pembangunan sumberdaya air. 2. Program Pendidikan, Pelatihan, dan Penyuluhan Sumberdaya air. Program ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia di bidang pengembangan sumber daya air. Selain itu, program ini juga bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang perlunya melakukan efisiensi penggunaan air. 3. Program Penyelamatan Hutan, Tanah dan Air. Program ini bertujuan untuk menjaga kualitas lingkungan Daerah Aliran Sungai (DAS) guna menjaga kelestarian sumber air dan meningkatkan

Penyusunan Arahan Pemanfaatan Ruang DAS Bahorok

II - 10

L APO R AN PEND AH ULU AN

kualitas air sehingga aman bagi kesehatan masyarakat, serta menjaga kualitas lingkungan hidup. 4. Program Penelitian dan Pengembangan Teknologi Sumberdaya air Program ini bertujuan untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas pemanfaatan sumber daya air melalui pengembangan dan penguasaan iptek. Program ini dilaksanakan dengan mengadakan penelitian tentang sumber daya air, teknologi sistem jaringan hidrometeorologi, teknologi hemat air dan daur ulang, teknologi pengamanan sungai dan waduk, teknologi irigasi, teknologi pengembangan prasarana transportasi air, teknologi pengamanan pantai dan muara, teknologi rahabilitasi pencemaran air, serta teknologi imbuhan air tanah buatan.

2.2.7 Sistim Pengelolaan SDA Pengelolaan sumberdaya air yang serba komplek dan terkait dengan banyak sektor memerlukan dukungan sitem kelembagaan yang kuat dan terstruktur. Ditinjau dari segi fungsi- fungsinya, sistem kelembagaan dalam pengelolaan sumberdaya air secara garis besar meliputi lima unsur, yaitu: 1. Regulator, yaitu institusi pengambil keputusan yang dalam hal ini adalah para pejabat yang berwenang menetapkan kebijakan/ keputusan (misalnya di daerah adalah : Gubernur, Bupati/ Walikota dan para Kepala Dinas/ Badan terkait yan g menjadi sub ordinatnya) 2. Operator, yaitu lembaga yang dibentuk dan berfungsi untuk melaksanakan operasi atau pengelolaan sehari-hari air, sumber air dan prasarana yang ada dalam satu Wilayah Sungai, misalnya Balai PSDA ataupun Badan Usaha semacam Perum Jasa Tirta untuk pengelolaan air pada perairan umum, Balai RLKT untuk pengelolaan DAS. Lembaga ini dibentuk oleh Regulator dan tidak memiliki kewenangan publik 3. Developer, yaitu lembaga yang berfungsi melaksanakan pembangunan prasarana dan sarana pengairan baik dari unsur pemerintah (misal Badan Pelaksana Proyek, BUMN, BUMD) maupun lembaga non pemerintah (investor). Peran lembaga ini, terutama diperlukan ketika terjadi ketidak seimbangan antara permintaan atau kebutuhan air dengan kemampuan menyediakan air

Penyusunan Arahan Pemanfaatan Ruang DAS Bahorok

II - 11

L APO R AN PEND AH ULU AN

4. User atau Penerima manfaat, yaitu masyarakat baik perorangan maupun kelompok masyarakat industri dan dunia usaha yang mendapat manfaat langsung maupun tak langsung dari jasa pengelolaan sumberdaya air. 5. Wadah Koordinasi, yaitu wadah koordinasi yang berfungsi untuk menerima, menyerap dan menyalurkan aspirasi dan keluhan semua unsur stakeholders. Wadah ini bersifat independent yang bertugas menyampaikan masukan kepada regulator sekaligus menyiapkan usulan penyelesaian masalah -masalah sumberdaya air. Keanggotaan badan ini terdiri atas unsur pemerintah dan non pemerintah dalam jumlah yang seimbang.

Penyusunan Arahan Pemanfaatan Ruang DAS Bahorok

II - 12