Anda di halaman 1dari 16

INDIKATOR QPS KLINIK STANDAR QPS 3.

Klinik 1 : Asesmen evaluasi pasien

JUDUL INDIKATOR TIPE INDIKATOR TUJUAN DEFINISI OPERASIONAL

Related to JCIs Library Of Measures, I-STK-10 : Ischemic or hemorrhagic stroke patients who were assessed for rehabilitation services Pasien stroke ischemic dan hemorrhagic yang telah dikaji untuk mendapatkan pelayanan rehabilitasi Struktur Outcome Proses & Outcome Proses
Mengidentifikasi kualitas pelayanan pasien stroke yang dihubungkan dengan penanganan pasien stroke dengan pelayanan rehabilitasi Stroke hemorrhagic adalah sebuah perdarahan non-traumatik intraserebral, perdarahan subarachnoid atau hemoragik infark Stroke ischemic adalah defisit neurologis terukur onset mendadak, dianggap sekunder berfokus iskemia otak, dan bukan disebabkan perdarahan intraserebral (ICH) atau proses penyakit lain. Gangguan cerebrovascular ini disebabkan oleh kekurangan aliran darah ke area otak, umumnya sebagai akibat trombosis, emboli, atau berkurangnya tekanan darah. Beberapa bukti klinis menunjukkan outcome klinis yang lebih baik ketika pasien stroke dirawat dengan model perawatan yang terkoordinasi dan memberikan pelayanan multidisiplin yang berkaitan dengan stroke. Intervensi rehabilitasi yang efektif perlu diinisiasi lebih awal mengingat pelayanan stroke dapat meningkatkan proses recovery dan meminimalkan kecacatan. Tujuan utama rehabilitasi pada pasien stroke adalah untuk meminimalkan komplikasi, kecacatan, dan memaksimalkan fungsi. Jumlah pasien stroke ischemic dan hemorrhagic yang telah mendapat pelayanan rehabilitasi dalam satu bulan (orang) : Jumlah pasien stroke ischemic dan hemorrhagic yang berusia 18 tahun dalam bulan yang sama (orang) x 100% Jumlah pasien stroke ischemic dan hemorrhagic yang telah mendapat pelayanan rehabilitasi dalam satu bulan Jumlah pasien stroke ischemic dan hemorrhagic yang berusia 18 tahun dalam bulan yang sama 100% Pengumpulan data dilakukan dengan total sampling, yaitu dengan melihat rekam medis pasien dengan ischemic atau hemorrhagic stroke setelah pasien keluar rumah sakit. Pasien dengan ischemic atau hemorrhagic stroke sesuai dengan prinsip pengkodingan diagnosa ICD seperti dijelaskan pada Apendiks A, tabel 8.1 atau 8.2 Pasien yang berusia kurang dari 18 tahun Pasien yang pulang paksa Pasien yang meninggal Pasien yang menjalani intervensi carotid elektif Pencatatan dilaksanakan setiap hari, dilakukan oleh Kepala Ruangan Rawat Inap setelah pasien keluar dari Rawat Inap untuk semua pasien stroke. Data diukur dengan melihat data dokumentasi rekam medis. Rekapitulasi dan analisa sederhana dilaksanakan oleh Kepala Ruangan Rawat Inap sebagai informasi awal untuk unit masing-masing, kemudian data akan dilaporkan kepada Kepala Instalasi Rawat Inap. Data beberapa Ruangan Rawat Inap akan direkapitulasi dan dianalisis oleh Kepala Instalasi Rawat Inap, kemudian setiap bulannya data akan dilaporkan kepada Unit Penjaminan Mutu dan Direksi. Secara umum data akan dievaluasi serta dideseminasikan kepada seluruh komponen rumah setiap tiga bulan yang dikoordinasikan oleh Unit Penjaminan Mutu Ruangan Rawat Inap Bidang Pelayanan Medis

ALASAN/ IMPLIKASI/ RASIONALISASI

FORMULA

NUMERATOR DENOMINATOR TARGET SAMPLING KRITERIA INKLUSI KRITERIA EKSKLUSI

PENCATATAN ANALISA & PELAPORAN

AREA PIC

QPS Klinik 9

FORMAT PENCATATAN

NO

TGL MR S

NAMA / TL

NO. RM

DIAGNOSA MEDIK

DILAKUKAN REHABILITASI MEDIS (ya/tidak)

TANGGAL DILAKUKAN MULAI REHABILITASI MEDIS

KET

1
1 2 3

Validasi

INDIKATOR QPS KLINIK STANDAR QPS 3. Klinik 2 : Layanan laboratorium JUDUL INDIKATOR Waktu Tunggu Hasil Pelayanan Laboratorium Patologi Klinik Pemeriksaan Darah lengkap dan Kimia klinik TIPE INDIKATOR Struktur Proses Outcome Proses & Outcome TUJUAN Tergambarnya kecepatan pelayanan laboratorium patologi klinik DEFINISI Pemeriksaan laboratorium patologi klinik yang dimaksud adalah OPERASIONAL pelayanan pemeriksaan Darah lengkap dan Kimia klinik. Waktu tunggu hasil pelayanan laboratorium patologi klinik adalah tenggang waktu yang dibutuhkan mulai pasien diambil sample oleh petugas sampling sampai dengan hasil pemeriksaan yang sudah diekspertisi diterima di Loket Pengambilan Hasil yang diukur dalam satuan menit, untuk setiap pasien yang diperiksakan laboratorium Darah lengkap dan Kimia klinik. Waktu tunggu hasil pelayanan laboratorium patologi klinik pemeriksaan darah lengkap dan kimia klinik ini dipantau untuk pasien rawat jalan dan IGD, dengan standar waktu 140 menit. ALASAN/ IMPLIKASI/ Janji hasil pelayanan laboratorium khususnya patologi klinik RASIONALISASI merupakan gambaran menejemen peningkatan kualitas di unit laboratorium. Pelayanan penunjang sangat diperlukan untuk menegakan diagnosa yang tentunya harus dilakukan dalam waktu yang cepat. Berdasarkan pengalaman banyak keluhan dari dokter yang perlu waktu lebih lama untuk menerima hasil pemeriksaan laboratorium. FORMULA Jumlah pemeriksaan laboratorium patologi klinik untuk Darah lengkap dan Kimia klinik dengan waktu tunggu hasil 140 menit (pemeriksaan) : Jumlah seluruh pemeriksaan laboratorium patologi klinik untuk Darah lengkap dan Kimia klinik dalam satu bulan (pemeriksaan) x 100% = ___% NUMERATOR Jumlah pemeriksaan laboratorium patologi klinik untuk Darah lengkap dan Kimia klinik dengan waktu tunggu hasil 140 menit dalam satu bulan (pemeriksaan) DENOMINATOR Jumlah seluruh pemeriksaan laboratorium patologi klinik untuk Darah lengkap dan Kimia klinik dalam bulan yang sama (pemeriksaan) TARGET 90% SAMPLING Pengumpulan data dilakukan dengan total sampling, yaitu dengan melihat/observasi seluruh pemeriksaan darah lengkap dan kimia klinik ini dipantau untuk pasien rawat jalan dan IGD KRITERIA INKLUSI Seluruh pemeriksaan darah lengkap dan kimia klinik ini dipantau untuk pasien rawat jalan dan IGD KRITERIA EKSKLUSI PENCATATAN Pencatatan dilaksanakan setiap hari, dilakukan oleh petugas laboratorium patologi klinik. ANALISA & Rekapitulasi dan analisa sederhana dilaksanakan oleh Kepala PELAPORAN Instalasi Laboratorium Patologi Klinik sebagai informasi awal untuk unitnya, kemudian setiap bulannya data akan dilaporkan kepada Unit QPS Klinik 9

AREA PIC

Penjaminan Mutu dan Direksi. Secara umum data akan dievaluasi serta dideseminasikan kepada seluruh komponen rumah setiap tiga bulan yang dikoordinasikan oleh Unit Penjaminan Mutu Instalasi Laboratorium Patologi Klinik Kepala Instalasi Laboratorium Patologi Klinik
JAM SAMPEL DIAMBIL (Pk. __.__ WITA) JAM HASIL DITERIMA LOKET HASIL (Pk. __.__ WITA)
TANGGAL

FORMAT PENCATATAN
NO

NAMA PASIEN

NO. RM

JENIS PEMERIKSAAN

RENTANG WAKTU KOLOM 6 & 7 (menit)

KET

1
1 2 3 4 5 6 7 8 9

Verifikasi :

INDIKATOR QPS KLINIK STANDAR QPS 3. Klinik 3 : Layanan radiologi dan pencitraan diagnostic

JUDUL INDIKATOR

TIPE INDIKATOR TUJUAN

Related to JCIs Library Of Measures, I-AMI-3 : ACEI (angiotensin converting enzyme inhibitor) or ARB (angiotensin receptor blocker)for patients who have LVSD (Left Ventricular Systolic Dysfunction) after having an (AMI) acute myocardial infarction ACEI (angiotensin converting enzyme inhibitor) or ARB (angiotensin receptor blocker) untuk pasien yang menderita LVSD (Left Ventricular Systolic Dysfunction) setelah mengalami AMI (acute myocardial infarction) Struktur Outcome Proses & Outcome Proses
Mengetahui kualitas pelayanan radiologi dalam memberikan gambaran LVSD (Left Ventricular Systolic Dysfunction ) sehingga penanganan pasien AMI dengan ACEI (angiotensin converting enzyme inhibitor) or ARB (angiotensin receptor blocker) dapat dilakukan dengan tepat Definisi dari indikator ini adalah jumlah pasien AMI yang diresepkan ACEI atau ARB saat keluar/pulang dari rumah sakit, yang dapat dilihat melalui rekam medis pasien (data sekunder) Inhibitor ACEI mengurangi angka kematian dan kesakitan pada pasien dengan left ventricular systolic dysfunction (LVSD) setelah mengalami AMI. Percobaan klinis telah menguji terapi ARB sebagai terapi alternatif ACEI, terutama pada pasien gagal jantung dan/atau pasien dengan LVSD yang intoleran terhadap ACEI Pedoman klinis sangat merekomendasikan ACEI untuk pasien yang dirawat dengan AMI yang mengalami gagal jantung secara klinis atau LVSD. Pedoman Umum juga mendukung penggunaan ARB untuk pasien AMI Jumlah Pasien AMI yang diresepkan ACEI atau ARB saat keluar/pulang dari rumah sakit dalam satu bulan (orang) : Jumlah Pasien AMI dengan LVSD yang berusia 18 tahun dalam bulan yang sama (orang) x 100% Jumlah Pasien AMI yang diresepkan ACEI atau ARB saat keluar/pulang dari rumah sakit dalam satu bulan Jumlah Pasien AMI dengan LVSD yang berusia 18 tahun dalam bulan yang sama 100% Pengumpulan data dilakukan dengan total sampling, yaitu dengan melihat rekam medis pasien AMI dengan LVSD keluar dari rumah sakit. Data diukur dengan melihat data dokumentasi rekam medis.

DEFINISI OPERASIONAL ALASAN/ IMPLIKASI/ RASIONALISASI

FORMULA NUMERATOR DENOMINATOR TARGET SAMPLING

QPS Klinik 9

KRITERIA INKLUSI

KRITERIA EKSKLUSI

PENCATATAN ANALISA & PELAPORAN

Pasien dengan AMI sesuai dengan prinsip pengkodingan diagnosa ICD-9/ICD10 seperti dijelaskan pada Apendiks A, tabel 1.1 dan dokumentasi chart LVEF yang kurang dari 40% atau deskripsi naratif fungsi LVS yang konsisten dengan disfungsi sistolik moderate atau berat. Pasien yang berusia kurang dari 18 tahun Pasien pulang paksa Pasien meninggal Pasien dengan dokumentasi Alasan Tanpa ACEI or ARB saat keluar / pulang dari rumah sakit. Pencatatan dilaksanakan setiap hari, dilakukan oleh Kepala ICCU, IRD, IRNA setelah pasien keluar dari rumah sakit. Data diukur dengan melihat data dokumentasi rekam medis. Rekapitulasi dan analisa sederhana dilaksanakan oleh Kepala ICCU, IRD, IRNA sebagai informasi awal untuk unit masing-masing, kemudian data akan dilaporkan kepada Kepala Bidang Pelayanan Medis, kemudian setiap bulannya data akan dilaporkan kepada Unit Penjaminan Mutu dan Direksi. Secara umum data akan dievaluasi serta dideseminasikan kepada seluruh komponen rumah setiap tiga bulan yang dikoordinasikan oleh Unit Penjaminan Mutu

AREA PIC

ICCU, IRD, IRNA


Bidang Pelayanan Medis
NO TG L NAMA / TL NO. RM DIAGNOSA MEDIK TANGGAL/JAM KRS

FORMAT PENCATATAN

DIRESEPKAN ACEI ATAU ARB SAAT KRS (ya/tidak)

KET

1 2 3 Validasi

INDIKATOR QPS KLINIK STANDAR QPS 3. Klinik 4 : Prosedur-prosedur bedah

Related to JCIs Library Of Measures, I-PC-02 : Nulliparous women with a term, singleton baby in a vertex position delivered by cesarean section
JUDUL INDIKATOR Persentase tindakan Sectio Caesarea (SC) yang dilakukan pada primigravida usia kehamilan 37-42 minggu dengan bayi posisi normal tunggal hidup Struktur Proses Proses & Outcome Outcome
Untuk mengetahui kualitas pelayanan kehamilan pada primigravida usia kehamilan 37-42 minggu dengan bayi posisi normal tunggal hidup Sectio Caesarea (SC) adalah tindakan bedah untuk mengeluarkan janin melalui sayatan pada dinding perut dan dinding rahim,tidak termasuk pengangkatan janin dari rongga perut dalam kasus pecahnya rahim atau kehamilan perut. Primigravida usia kehamilan 37-42 minggu dengan bayi posisi normal tunggal hidup adalah ibu dengan kehamilan pertama kali yang usia kehamilannya mencapai 37-42 minggu serta dengan posisi bayi normal tanpa komplikasi, satu bayi dan dapat dilahirkan dengan spontan. Penelitian menunjukkan bahwa apabila kelahiran dipaksakan saat cervix belum siap, maka outcomenya akan buruk. Faktor dokter merupakan pemicu utama adanya perbedaan angka kelahiran anak pertama dengan induksi dan angka admisi kelahiran prematur anak pertama dibanding faktor karakteristik pasien atau diagnosa obstetrik.

TIPE INDIKATOR TUJUAN DEFINISI OPERASIONAL

ALASAN/ IMPLIKASI/ RASIONALISASI

QPS Klinik 9

FORMULA

NUMERATOR DENOMINATOR TARGET SAMPLING KRITERIA INKLUSI KRITERIA EKSKLUSI PENCATATAN ANALISA & PELAPORAN

AREA PIC

Jumlah tindakan Sectio Caesarea (SC) yang dilakukan pada primigravida usia kehamilan 37-42 minggu dengan bayi posisi normal tunggal hidup dalam satu bulan (tindakan) : Jumlah seluruh primigravida usia kehamilan 37-42 minggu dengan bayi posisi normal tunggal hidup dalam bulan yang sama (orang) x 100% Jumlah tindakan Sectio Caesarea (SC) yang dilakukan pada primigravida usia kehamilan 37-42 minggu dengan bayi posisi normal tunggal hidup dalam satu bulan Jumlah seluruh primigravida usia kehamilan 37-42 minggu dengan bayi posisi normal tunggal hidup dalam bulan yang sama 10% Pengumpulan data dilakukan dengan total sampling, yaitu dengan melihat rekam medis seluruh pasien yang dilakukan Sectio Caesarea (SC). Data diukur dengan melihat data dokumentasi rekam medis. Prinsip pengkodingan diagnosa ICD untuk tindakan Sectio Caesarea (SC) seperti dijelaskan pada Apendiks A, tabel 11.06 pada primigravida usia kehamilan 37-42 minggu dengan bayi posisi normal tunggal hidup. Prinsip pengkodingan diagnosa ICD untuk kontraindikasi terhadap persalinan per vaginal Kehamilan risiko tinggi dan kehamilan dengan induksi Pencatatan dilaksanakan setiap hari, dilakukan oleh Kepala Ruangan VK IGD, VK WA dan IBS setiap pasien ada pasien Sectio Caesarea (SC). Data diukur dengan melihat data dokumentasi rekam medis. Rekapitulasi dan analisa sederhana dilaksanakan oleh Kepala Ruangan VK IGD, VK WA dan IBS sebagai informasi awal untuk unit masing-masing, kemudian data akan dilaporkan kepada Kepala Bidang Pelayanan Medis, kemudian setiap bulannya data akan dilaporkan kepada Unit Penjaminan Mutu dan Direksi. Secara umum data akan dievaluasi serta dideseminasikan kepada seluruh komponen rumah setiap tiga bulan yang dikoordinasikan oleh Unit Penjaminan Mutu VK IGD, VK WA dan IBS Bidang Pelayanan Medis

FORMAT PENCATATAN

Khusus tindakan Sectio Caesarea (SC) yang dilakukan pada primigravida usia kehamilan 37-42 minggu dengan bayi posisi normal tunggal hidup
PERSALINANTANGGAL NAMA PASIEN / UMUR JUMLAH PRIMIGRAVIDA USIA KEHAMILAN 37-42 MINGGU DENGAN BAYI POSISI NORMAL TUNGGAL HIDUP BULAN INI

NO

NO. RM

DOKTER OPERATOR

INDIKASI SC

KET

1
1 2 3

Verifikasi :

INDIKATOR QPS KLINIK STANDAR QPS 3. Klinik 5 : Penggunaan antibiotik dan pengobatan

lainnya Related to JCIs Library Of Measures, I-AMI-2 : Aspirin prescribed at discharge for patients who had an acute myocardial infarction
JUDUL INDIKATOR TIPE INDIKATOR TUJUAN Aspirin diresepkan untuk pasien dengan acute myocardial infarction (AMI) saat pulang / keluar rumah sakit Struktur Proses Proses & Outcome Outcome
Untuk mengetahui kualitas pelayanan pasien AMI, sebab terapi Aspirin pada pasien yang menderita acute myocardial infarction (AMI) dapat mengurangi

QPS Klinik 9

DEFINISI OPERASIONAL

ALASAN/ IMPLIKASI/ RASIONALISASI

FORMULA NUMERATOR DENOMINATOR TARGET SAMPLING KRITERIA INKLUSI KRITERIA EKSKLUSI PENCATATAN ANALISA & PELAPORAN

resiko adverse events dan kematian Aspirin atau asam asetilsalisilat (asetosal) adalah sejenis obat turunan dari salisilat yang sering digunakan sebagai senyawa analgesik (penahan rasa sakit atau nyeri minor), antipiretik (terhadap demam), dan anti-inflamasi (peradangan). acute myocardial infarction (AMI) adalah kematian otot jantung akibat suplai darah tidak cukup untuk jantung, acute myocardial infarction (AMI) diidentifikasi dengan kode ICD dalam Lampiran A, Tabel 1.1. Aspirin diresepkan untuk pasien dengan acute myocardial infarction (AMI) pada saat pulang / keluar rumah sakit yang dimaksud adalah hasil ukur check dokumen bahwa setiap pasien acute myocardial infarction (AMI) pada saat pulang / keluar rumah sakit dalam keadaan hidup harus diresepkan Aspirin . Penelitian menunjukkan bahwa Aspirin dapat mengurangi resiko adverse events dan kematian sebesar 20%. Pedoman klinis sangat merekomendasikan penggunaan Aspirin dalam periode waktu yang lama untuk pencegahan sekunder terhadap kejadian serangan jantung susulan pada pasien dengan AMI saat pasien tersebut pulang / keluar rumah sakit. Jumlah pasien AMI yang diresepkan Aspirin saat pasien pulang / keluar rumah sakit dalam satu bulan (orang) : Jumlah seluruh pasien AMI yang pulang / keluar rumah sakit dalam bulan yang sama (orang) x 100% Jumlah pasien AMI yang diresepkan Aspirin saat pasien pulang / keluar rumah sakit dalam satu bulan Jumlah seluruh pasien AMI yang pulang / keluar rumah sakit dalam bulan yang sama 100% Pengumpulan data dilakukan dengan total sampling, yaitu dengan melihat rekam medis pasien dengan AMI setelah pasien keluar rumah sakit. Pasien dengan AMI Pasien yang meninggal pada saat masuk rumah sakit Pasien dengan dokumentasi Alasan Tanpa Aspirin saat MRS Pencatatan dilaksanakan setiap hari, dilakukan oleh Kepala Ruangan Rawat Inap setelah pasien keluar dari Rawat Inap untuk semua pasien AMI. Data diukur dengan melihat data dokumentasi rekam medis. Rekapitulasi dan analisa sederhana dilaksanakan oleh Kepala Ruangan Rawat Inap sebagai informasi awal untuk unit masing-masing, kemudian data akan dilaporkan kepada Kepala Instalasi Rawat Inap. Data beberapa Ruangan Rawat Inap akan direkapitulasi dan dianalisis oleh Kepala Bidang Pelayanan Medis, kemudian setiap bulannya data akan dilaporkan kepada Unit Penjaminan Mutu dan Direksi. Secara umum data akan dievaluasi serta dideseminasikan kepada seluruh komponen rumah setiap tiga bulan yang dikoordinasikan oleh Unit Penjaminan Mutu

AREA PIC

Instalasi Rawat Inap


Bidang Pelayanan Medis

FORMAT PENCATATAN
N O TANGGA L

NAMA / UMUR

NO. RM

DIAGNOSA MEDIK

TANGGAL / JAM KRS

DIRESEPKAN ASPIRIN SAAT PULANG / KRS (ya/tidak)

KET

1
1 2 3 Verifikasi

INDIKATOR QPS KLINIK STANDAR QPS 3. Klinik 6 : Kesalahan obat dan kejadian nyaris

cedera
QPS Klinik 9

JUDUL INDIKATOR TIPE INDIKATOR TUJUAN

DEFINISI OPERASIONAL

ALASAN/ IMPLIKASI/ RASIONALISASI

FORMULA NUMERATOR DENOMINATOR TARGET SAMPLING

KRITERIA INKLUSI KRITERIA EKSKLUSI PENCATATAN

ANALISA & PELAPORAN

AREA PIC

Kesalahan Penulisan Resep (Prescription Errors) Struktur Proses Proses & Outcome Outcome 1. Tergambarnya upaya rumah sakit dalam mencegah kesalahan penulisan resep, untuk mengantisipasi terjadinya kejadian nyaris cedera dalam pengobatan. 2. Terwujudnya ketepatan penyiapan obat oleh Instalasi Farmasi dan keselamatan penggunaan obat bagi pasien Resep Merupakan permintaan tertulis dari dokter kepada apoteker untuk menyiapkan obat dan alat kesehatan bagi pasien dan ditulis secara lengkap dan jelas sehingga tidak menimbulkan kesalahan interpretasi. Kesalahan Penulisan Resep/Prescription Errors adalah kesalahan penulisan resep oleh dokter yang meliputi ketidaklengkapan dan ketidakkejelasan aturan pakai, bentuk sediaan, dosis dan paraf dokter. Membangun kesadaran akan nilai keselamatan pasien dengan kebijakan Instalasi Farmasi tentang Keselamatan Pasien dalam mengurangi insiden yang meliputi kejadian yang tidak diharapkan (KTD), kejadian nyaris cedera (KNC), Kejadian Sentinel, dan langkahlangkah yang harus dilakukan oleh apoteker dan tenaga farmasi, pasien dan keluarga jika terjadi insiden. Jumlah Kesalahan Penulisan Resep (Prescription Errors) dalam satu bulan (item) : Jumlah seluruh Prescription order dalam bulan yang sama (item) x 100% Jumlah Kesalahan Penulisan Resep (Prescription Errors) dalam satu bulan Jumlah seluruh Prescription order dalam bulan yang sama 0% Pengumpulan data dilakukan dengan purposive sampling (besar sampel 200/ bulan), yaitu dengan melihat adanya ketidakkejelasan aturan pakai, bentuk sediaan, dosis dan paraf dokter pada setiap resep yang digunakan sebagai sampel. Seluruh Prescription order Resep obat yang ditunda Pencatatan dilaksanakan setiap hari oleh staf Instalasi Farmasi dengan melihat adanya ketidakkejelasan aturan pakai, bentuk sediaan, dosis dan paraf dokter pada setiap resep, sampai jumlah sampel terpenuhi setiap bulannya. Rekapitulasi dan analisa sederhana dilaksanakan oleh Kepala Instalasi Farmasi sebagai informasi awal untuk unitnya, kemudian setiap bulannya data akan dilaporkan kepada Unit Penjaminan Mutu dan Direksi. Secara umum data akan dievaluasi serta dideseminasikan kepada seluruh komponen rumah setiap tiga bulan yang dikoordinasikan oleh Unit Penjaminan Mutu Instalasi Farmasi Kepala Instalasi Farmasi
TANGGAL JENIS PRESCRIPTION ERRORS (KESALAHAN PENULISAN RESEP)
PARAF DOKTER BENTUK SEDIAAN DOSIS ATURA N PAKAI

FORMAT PENCATATAN
NO

NAMA PASIEN

NO. RM

RUANGAN

NAMA OBAT

KET

10

11

1 2 3 4 5 6 7 8 9 Verifikasi

QPS Klinik 9

INDIKATOR QPS KLINIK STANDAR QPS 3. Klinik 7 : Penggunaan anestesi dan sedasi JUDUL INDIKATOR Pengkajian pre-anasthesi dilaksanakan untuk pasien praoperasi elektif dengan anesthesi umum TIPE INDIKATOR Struktur Outcome Proses & Outcome Proses TUJUAN Mengetahui kinerja dokter anesthesi dalam melaksanakan prosedur persiapan pra-anasthesi, untuk menghindari insiden keselamatan pasien dalam hal anethesi. DEFINISI Pengkajian pra-anesthesi adalah dimana ahli anestesia melaksanakan OPERASIONAL penentuan status medis pasien, membuat rencana pengelolaan anestesi dan memberi informasi tindakan anestesia kepada pasien dan atau keluarganya. Pengkajian pre-anasthesi dilaksanakan untuk pasien pra-operasi elektif dengan anesthesi umum adalah semua pasien operasi elektif dengan general anasthesi harus menerima penilaian pra anestesi sebelum operasi dengan format pengkajian yang lengkap dan benar. ALASAN/ IMPLIKASI/ Seseorang yang memenuhi kualifikasi melaksanakan asesmen RASIONALISASI praanestesi, sebagai dasar untuk menentukan proses perencanaan anestesia dan sedasi yang aman dan sesuai. Perencanaan anasthesi yang baik dapat mengurangi insiden keselamatan pasien selama menjalani operasi. FORMULA Jumlah pengkajian pre-anasthesi dilaksanakan untuk pasien praoperasi elektif dengan anesthesi umum dalam satu bulan (orang) : Jumlah seluruh pasien pra-operasi elektif dengan anesthesi umum dalam bulan yang sama (orang) x 100% NUMERATOR Jumlah pengkajian pre-anasthesi dilaksanakan untuk pasien praoperasi elektif dengan anesthesi umum dalam satu bulan DENOMINATOR Jumlah seluruh pasien pra-operasi elektif dengan anesthesi umum dalam bulan yang sama TARGET 100% SAMPLING Pengumpulan data dilakukan dengan total sampling, dengan mengidentifikasi seluruh kegiatan operasi yang dilaksanakan, data didapatkan dengan sumber sekunder rekam medis untuk format pengkajian pra anesthesia. KRITERIA INKLUSI Seluruh pasien operasi elektif dengan General Anasthesi KRITERIA EKSKLUSI PENCATATAN Setiap hari kerja (Senin sampai dengan Sabtu), oleh staf Instalasi Bedah Sentral (IBS), OK IRD, OK WA ANALISA & Setiap bulan oleh staf Instalasi Bedah Sentral (IBS), OK IRD, OK WA PELAPORAN

QPS Klinik 9

AREA PIC

Instalasi Bedah Sentral (IBS), OK IRD, OK WA Bidang Pelayanan Medis

FORMAT PENCATATAN

N O

TANGGAL

NAMA PASIEN

NO. RM

DIAGNOSA MEDIS / TINDAKAN OPERASI

PENGKAJIAN PRA-ANASTHESI (ya/tidak)

KET

1
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 ds t

INDIKATOR QPS KLINIK STANDAR QPS 3. Klinik 8 : Penggunaan darah dan produk-produk

darah
JUDUL INDIKATOR TIPE INDIKATOR TUJUAN DEFINISI OPERASIONAL Monitoring tidak terpakainya produk darah yang sudah di order Struktur Proses Outcome Proses & Outcome Tergambarnya manajemen rasionalisme penggunaan produk darah di RSUP Sanglah Produk darah adalah komponen darah yang digunakan untuk memberikan therapy kebutuhan darah pasien di rumah sakit. Tidak terpakainya produk darah yang sudah di order adalah jumlah darah yang sudah disorder yang setelah dilakukan pemeriksaan darah serta crossmatch, sesuai dengan indikasi klinis namun tidak terpakai karena beberapa penyebab yang mendukung. Darah harus dipesan sesuai dengan diagnosis klinis dan harus digunakan dalam jangka waktu yang ditentukan. Unit Transfusi Darah bertanggung jawab terhadap pelayanan transfusi darah di Rumah Sakit dan melakukan pemeriksaan crossmatch sebelum darah diberikan kepada Pasien. Unit ini harus selalu memiliki stock darah yang telah aman (non reaktif pada uji saring) yang berasal dari Bank Darah setempat. Bank Darah-RS yang memilki tanggung jawab menyiapkan darah aman yang berasal dari donor darah sukarela yang memiliki resiko rendah terhadap penyakit infeksi serta melakukan pemeriksaan uji saring. Jika angka tidak terpakainya produk darah yang sudah diorder cukup tinggi maka akan menyebabkan terbuangnya biaya untuk pemeriksaan cross match dan golongan darah, serta terganggunya stock darah yang harusnya tersedia di bank darah. Ketersediaan produk darah harus dilaksanakan dengan menejemen yang baik, dan tertuang dalam standar COP 3.3, dengan elemen QPS Klinik 9

ALASAN/ IMPLIKASI/ RASIONALISASI

FORMULA NUMERATOR DENOMINATOR TARGET SAMPLING KRITERIA INKLUSI KRITERIA EKSKLUSI PENCATATAN ANALISA & PELAPORAN

AREA PIC

pemantauan : 1. Penanganan, penggunaan, dan pemberian darah dan produk darah dipandu oleh kebijakan dan prosedur yang tepat. 2. Darah dan produk darah diberikan sesuai dengan kebijakan dan prosedur. Jumlah darah yang tidak dipakai setelah diorder dalam satu bulan (kantong) : Jumlah seluruh darah yang diorder dalam bulan yang sama (hitung per-kantong) x 100% Jumlah darah yang tidak dipakai setelah diorder dalam satu bulan (kantong) Jumlah seluruh darah yang diorder dalam bulan yang sama (hitung per-kantong) 10% Pengumpulan data dilakukan dengan total sampling, yaitu dengan mencatat seluruh darah yang diorder Seluruh darah yang diorder Pencatatan dilaksanakan setiap hari oleh staf Bank Darah dengan mencatat adanya darah yang tidak dipakai setelah diorder setiap bulannya. Rekapitulasi dan analisa sederhana dilaksanakan oleh Bank Darah sebagai informasi awal untuk unitnya, kemudian setiap bulannya data akan dilaporkan kepada Unit Penjaminan Mutu dan Direksi. Secara umum data akan dievaluasi serta dideseminasikan kepada seluruh komponen rumah setiap tiga bulan yang dikoordinasikan oleh Unit Penjaminan Mutu Seluruh area perawatan pasien yang dilakukan transfusi Kepala Bank Darah
JUMLAH KANTONG DARAH YANG DIORDER APAKAH ADA DARAH YANG SUDAH DIORDER NAMUN TIDAK DIPAKAI (ya/tidak) JIKA YA, BERAPA JUMLAH DARAH YANG TIDAK TERPAKAI
TANGGAL

FORMAT PENCATATAN
NO

NAMA PASIEN

NO. RM

JENIS TRANSFUSI

KET JENIS REAKSI

1
1 2 3 4 5 6 7 8 dst

Verifikasi :

INDIKATOR QPS KLINIK STANDAR QPS 3. Klinik 9 : Ketersediaan, isi, dan penggunaan

catatan tentang pasien


JUDUL INDIKATOR TIPE INDIKATOR TUJUAN DEFINISI OPERASIONAL Ketidaklengkapan Pengisian Rekam Medik 24 jam Sejak Setelah Selesai Pelayanan Rawat Inap Struktur Proses Proses & Outcome Outcome Tergambarnya tanggung jawab staf medis dalam kelengkapan informasi rekam medik Rekam medik yang lengkap adalah rekam medik yang lengkap diisi oleh staf medis yang meliputi : identitas pasien, riwayat keluar masuk, resume dan instruksi dokter (dinyatakan lengkap/tidak lengkap oleh petugas IRM). Rekam medik harus disetor ke IRM selambat-lambatnya 24 jam setelah selesai pelayanan rawat inap Sesuai dengan UU Hukum Kesehatan No. 44 tahun 2008, UU Praktek QPS Klinik 9

ALASAN/ IMPLIKASI/

RASIONALISASI

FORMULA

NUMERATOR DENOMINATOR TARGET SAMPLING KRITERIA INKLUSI KRITERIA EKSKLUSI PENCATATAN ANALISA & PELAPORAN

AREA PIC

Kedokteran No. 28 tahun 2008, UU Rekam Medis hukum No. 269 tahun 2008. Tujuan Rekam Medis adalah untuk menunjang tercapainya tertib administrasi dalam rangka upaya peningkatan pelayanan kesehatan. Tanpa didukung suatu sistem pengelolaan rekam medis yang baik dan benar, maka tertib administrasi tidak akan berhasil. Sehingga kelengkapan rekam medis harus dipastikan dan dipatuhi untuk dilaksanakan. Rekam medis adalah bukti satusatunya pelayanan kesehatan yang diberikan di rumah sakit Rekam medis harus benar, lengkap, terkini dan tepat waktu. Rekam medis juga merupakan skema asuransi kesehatan publik (Jamkesmas). Rata-rata ada 2 kasus per minggu yang tertunda pelayanan kesehatan saat rawat jalan dipoliklinik karena ketidaklengkapan rekam medis saat pasien pulang setelah rawat inap. Jumlah rekam medik yang tidak lengkap diisi oleh staf medis dalam 24 jam untuk pasien pulang rawat inap dalam satu bulan (orang) : Jumlah pasien yang dinyatakan telah selesai pelayanan rawat inap dalam bulan yang sama (orang) x 100% = ___% Jumlah rekam medik yang tidak lengkap diisi oleh staf medis dalam 24 jam untuk pasien pulang rawat inap dalam satu bulan (orang) Jumlah pasien yang dinyatakan telah selesai pelayanan rawat inap dalam bulan yang sama (orang) 5% Pengumpulan data dilakukan dengan total sampling, yaitu dengan mencatat seluruh ketidaklengkapan rekam medis untuk pasien pulang rawat inap dalam satu bulan Seluruh pasien yang dinyatakan telah selesai pelayanan rawat inap Pencatatan dilaksanakan setiap hari oleh Staf Instalasi Rekam Medik dengan mencatat adanya ketidaklengkapan rekam medis untuk pasien pulang rawat inap setiap bulannya. Rekapitulasi dan analisa sederhana dilaksanakan oleh Kepala Instalasi Rekam Medik sebagai informasi awal untuk unitnya, kemudian setiap bulannya data akan dilaporkan kepada Unit Penjaminan Mutu dan Direksi. Secara umum data akan dievaluasi serta dideseminasikan kepada seluruh komponen rumah setiap tiga bulan yang dikoordinasikan oleh Unit Penjaminan Mutu Instalasi Rekam Medik Kepala Instalasi Rekam Medik
TANGGAL

FORMAT PENCATATAN
NO

NAMA PASIEN

NO. RM

DIVISI DPJP

RUANG PERAWATAN

KELENGKAPAN (lengkap/tidak lengkap)

DIKIRIM 24 JAM SELETAH BPL (ya/tidak)

KET

1
1 2 3 4 5 6 7 8 9 dst

Verifikasi :

INDIKATOR QPS KLINIK STANDAR QPS

3.

Klinik

10

Pencegahan

dan pengendalian,

QPS Klinik 9

JUDUL INDIKATOR TIPE INDIKATOR TUJUAN DEFINISI OPERASIONAL

pengawasan, serta pelaporan infeksi Related to JCIs Library Of Measures, I-NSC-2 : Patients that have hospital-acquired (nosocomial) pressure ulcer(s) (category/stage II) on the day of the prevalence study Angka kejadian dekubitus grII/Lebih akibat perawatan di rumah sakit Struktur Proses Proses & Outcome Outcome
Tergambarnya kualitas pelayanan keperawatan di rumah sakit terhadap pencegahan insiden dekubitus Dekubitus merupakan sebuah ulkus akibat tekanan yang terlokalisir pada kulit dan / atau pada dasar jaringan yang biasanya terjadi pade area tonjolan tulang, sebagai akibat dari tekanan, atau tekanan yang dikombinasi dengan pergeseran dan / atau gesekan (National Pressure Ulcer Advisory Panel, NPUAP, 2009). Insiden dekubitus akibat perawatan di rumah sakit ditemukan atau didokumentasikan setelah 24 jam pertama sejak mulai waktu rawat inap. Dekubitus merupakan insiden yang disebabkan oleh kualitas pelayanan keperawatan yang buruk, sehingga pemantauan sangat diperlukan untuk melaksanakan monitoring dan evaluasi kualitas pelayanan keperawatan. Insiden dekubitus dilaporkan berkisar antara 2,7 persen sampai dengan 29,5 persen dalam berbagai studi klinis. Jumlah pasien dekubitus dengan katagori/grade II atau lebih tinggi yang berusia 18 tahun dalam jangka waktu tertentu (orang) : Jumlah seluruh pasien baru yang berusia 18 tahun dalam periode yang sama x 100% Jumlah pasien dekubitus dengan katagori/grade II atau lebih tinggi yang berusia 18 tahun dalam jangka waktu tertentu Jumlah seluruh pasien baru yang berusia 18 tahun dalam periode yang sama 2.7% Kegiatan pengumpulan data dilaksanakan dengan Quick Survey dengan menggunakan purposive sampling (dengan proporsi populasi) pada periode survey sesuai dengan kriteria inklusi 1. Insiden dekubitus dengan katagori/grade II atau lebih tinggi, pasien berusia 18 tahun 2. Semua pasien baru setelah 24 jam MRS 1. Pasien yang berusia kurang dari 18 tahun 2. Pasien dengan Ulkus Dekubitus yang didapat di luar rumah sakit 3. Pasien yang menolak dilakukan pengkajian 4. Pasien yang kondisinya tidak stabil (hemodinamik, nyeri tidak terkontrol) 5. Pasien terminal, kebidanan (Post Partum dan SC tanpa komplikasi) Pencatatan dilaksanakan setiap hari, dilakukan oleh Kepala Ruangan Rawat Inap setiap ada pasien baru dengan risiko dekubitus. Data diukur dengan melihat secara langsung ke pasien. Rekapitulasi dan analisa sederhana dilaksanakan oleh Kepala Ruangan Rawat Inap sebagai informasi awal untuk unit masing-masing, kemudian data akan dilaporkan kepada Kepala Instalasi Rawat Inap. Data beberapa Ruangan Rawat Inap akan direkapitulasi dan dianalisis oleh Kepala Bidang Pelayanan Keperawatan, kemudian setiap bulannya data akan dilaporkan kepada Unit Penjaminan Mutu dan Direksi. Secara umum data akan dievaluasi serta dideseminasikan kepada seluruh komponen rumah setiap tiga bulan yang dikoordinasikan oleh Unit Penjaminan Mutu Instalasi Rawat Inap Kepala Bidang Pelayanan Keperawatan

ALASAN/ IMPLIKASI/ RASIONALISASI

FORMULA NUMERATOR DENOMINATOR TARGET SAMPLING KRITERIA INKLUSI KRITERIA EKSKLUSI

PENCATATAN ANALISA & PELAPORAN

AREA PIC

QPS Klinik 9

FORMAT PENCATATAN

NB : data yang dimasukkan dalam format ini hanya pasien sesuai dengan kriteria inklusi
TANGGAL NO NAMA PASIEN BAR NO. RM DIAGNOSA MEDIS KEJADIAN DEKUBITUS grII/LEBIH (ya/tidak) JIKA YA PADA KOLOM 6, TERIDENTIFIKASI HARI KE BERAPA? (hari ke ___) KET

1
1 2 3 4 5 dst

INDIKATOR QPS KLINIK STANDAR QPS 3. Klinik 11 : Penelitian klinis JUDUL INDIKATOR Kelengkapan Informasi Untuk Mendapatkan Persetujuan TIPE INDIKATOR TUJUAN DEFINISI OPERASIONAL

Pasien Pada setiap Penelitian Klinis Struktur Outcome Proses

Proses & Outcome

ALASAN/ IMPLIKASI/ RASIONALISASI

FORMULA NUMERATOR DENOMINATOR TARGET SAMPLING KRITERIA INKLUSI

Tergambarnya kegiatan evaluasi kelengkapan informasi persetujuan pasien pada setiap penelitian klinis yang memberikan jaminan keamanan dan keselamatan pasien Penelitian klinis adalah penelitian yang menjadikan pasien sebagai subjek penelitian melalui intervensi klinik sesuai penelitian. Setiap penelitian klinis harus dilakukan informed consent oleh rumah sakit dengan format rumah sakit, untuk memastikan subjek penelitian pasien mengetahui bahwa : 1. Sebelum dijadikan subjek penelitian, pasien diberikan penjelasan bahwa pasien boleh menolak menjadi subjek penelitian 2. Sebelum dijadikan subjek penelitian, pasien diberikan penjelasan boleh mengundurkan diri pada saat penelitian berlangsung, yang tidak akan berdampak terhadap kualitas pelayanan yang diberikan. 3. Apabila pasien menyetujui untuk dijadikan subjek penelitian maka, pasien harus diberikan informasi : a. Keterangan siapa orang yang meneliti b. Maksud dan tujuan penelitian c. Prosedur kerja penelitian d. Efek samping penelitian e. Risiko penelitian f. Tindak lanjut jika terjadi insiden saat dilaksanakan penelitian g. Pernyataan persetujuan pasien untuk digunakan sebagai subjek penelitian Informasi persetujuan dinyatakan lengkap jika seluruh (100%) elemen ada pada setiap proposal penelitian klinis, dengan melihat dokumen checklist yang dilakukan oleh bagian Diklit. Sebagai rumah sakit pendidikan ada 50-80 dokter setiap tahunnya melaksanakan penelitian klinis sebelum akhir studi mereka, dan 50-60% akan mengusulkan penelitian klinis di Rumah Sakit Sanglah. Berdasarkan proposal penelitian tinjauan klinis pada informasi penelitian klinis untuk persetujuan pasien menemukan bahwa 100% tidak memberikan informasi yang lengkap mengacu pada persyaratan yang ditetapkan RS. Sebagian besar memberikan informasi hanya untuk meminta bergabung dengan penelitian Penelitian yang menjadikan pasien sebagai subjek penelitian melalui intervensi klinik sesuai penelitian memungkinkan terjadinya cedera pada pasien, sehingga rumah sakit berkewajiban untuk memastikan penelitian klinis tersebut aman bagi pasien, serta memberikan informasi yang lengkap melalui informed consent oleh rumah sakit dengan format rumah sakit. Jumlah penelitian klinis yang memiliki informasi persetujuan pasien lengkap dalam satu bulan (proposal) : Jumlah seluruh penelitian klinis dalam bulan yang sama (proposal) x 100% = ___% Jumlah penelitian klinis yang memiliki informasi persetujuan pasien lengkap dalam satu bulan Jumlah seluruh penelitian klinis dalam bulan yang sama 80% Pengumpulan data dilakukan dengan total, yaitu dengan melihat seluruh proposal penelitian klinis yang akan dilaksanakan di RSUP Sanglah Denpasar. Penelitian yang menjadikan pasien sebagai subyek penelitian melalui intervensi klinik

QPS Klinik 9

KRITERIA EKSKLUSI PENCATATAN ANALISA & PELAPORAN AREA PIC

Penelitian yang bersifat survey/observasi dan tidak melaksanakan intervensi pasien secara klinis Pencatatan dilaksanakan oleh staf Bagian Diklit dengan melihat seluruh proposal penelitian klinis yang akan dilaksanakan di RSUP Sanglah Denpasar. Rekapitulasi dan analisa sederhana dilaksanakan oleh Kepala Bagian Diklit sebagai informasi awal untuk bagiannya, kemudian setiap bulannya data akan dilaporkan kepada Unit Penjaminan Mutu dan Direksi. Secara umum data akan dievaluasi serta dideseminasikan kepada seluruh komponen rumah setiap tiga bulan yang dikoordinasikan oleh Unit Penjaminan Mutu Semua area klinik Ka. Bagian Diklit
KELENGKAPAN INFORMASI PERSETUJUAN DALAM PROPOSAL (ya/tidak)

TANGGAL

FORMAT PENCATATAN
NO

NAMA PENELITI/ INSTITUSI

NO. IJIN PENELITIAN

JUDUL INDIKATOR PENELITIAN

JENIS INTERVENSI PASIEN

NAMA PASIEN YANG DILIBATKAN/ UNIT

KET

1
1 2 dst

Verifikasi :

INDIKATOR QPS KLINIK STANDAR QPS 3. Klinik 11 : Penelitian klinis JUDUL INDIKATOR Jumlah Rekap Informed Consent yang Kembali Ke Bagian

Penelitian dan Pengembangan Seluruh Subjek Penelitian Klinis


TIPE INDIKATOR TUJUAN DEFINISI OPERASIONAL Struktur Proses

RSUP Sanglah, untuk


Proses & Outcome

Outcome

Tergambarnya kegiatan pemberian informed consent pasien pada setiap penelitian klinis yang memberikan jaminan keamanan dan keselamatan pasien Penelitian klinis adalah penelitian yang menjadikan pasien sebagai subjek penelitian melalui intervensi klinik sesuai penelitian. Setiap penelitian klinis harus dimintakan informed consent oleh rumah sakit dengan format rumah sakit, untuk memastikan subjek penelitian pasien mengetahui bahwa : 1. Sebelum dijadikan subjek penelitian, pasien diberikan penjelasan tentang tujuan dan manfaat penelitian 2. Sebelum dijadikan subjek penelitian, pasien diberikan penjelasan boleh menolak sebelum penelitian berlangsung, yang tidak akan berdampak terhadap kualitas pelayanan yang diberikan. 3. Apabila pasien menyetujui untuk dijadikan subjek penelitian maka, pasien harus diberikan informasi : a. Keterangan siapa orang yang meneliti b. Maksud dan tujuan penelitian c. Prosedur kerja penelitian d. Efek samping penelitian e. Risiko penelitian f. Tindak lanjut (pengamanan) jika terjadi insiden saat dilaksanakan penelitian g. Pernyataan persetujuan pasien untuk digunakan sebagai subjek penelitian Informasi persetujuan dinyatakan lengkap jika seluruh (100%) elemen ada pada setiap proposal penelitian klinis, dengan melihat dokumen checklist yang dilakukan oleh bagian Litbang RSUP Sanglah Denpasar. Pada prosedurnya informed consent harus mengembalikan informed consent ke Bagian Litbang sebagai bukti telah melaksanakan penelitian
Sebagai rumah sakit pendidikan ada 50-80 dokter setiap tahunnya melaksanakan penelitian klinis sebelum akhir studi mereka, dan 50-60% akan mengusulkan penelitian klinis di Rumah Sakit Sanglah. Berdasarkan proposal penelitian tinjauan klinis pada informasi penelitian klinis untuk persetujuan pasien menemukan bahwa belum ada pemantauan yang dapat membuktikan jika 100% pasien yang digunakan sebagai subjek penelitian klinis tidak memberikan informasi yang lengkap mengacu pada persyaratan yang ditetapkan RS. Penelitian yang menjadikan pasien sebagai subjek penelitian melalui intervensi klinik sesuai

ALASAN/ IMPLIKASI/ RASIONALISASI

QPS Klinik 9

penelitian memungkinkan terjadinya kejadian tidak diinginkan pada pasien, sehingga rumah sakit berkewajiban untuk memastikan penelitian klinis tersebut aman bagi pasien, serta memberikan informasi yang lengkap melalui informed consent oleh rumah sakit dengan format rumah sakit.

FORMULA NUMERATOR DENOMINATOR TARGET SAMPLING KRITERIA INKLUSI KRITERIA EKSKLUSI PENCATATAN ANALISIS & PELAPORAN AREA PIC

Jumlah Rekap Informed Consent yang Kembali Ke Bagian Penelitian dan Pengembangan RSUP Sanglah, untuk Seluruh Subjek Penelitian Klinis (orang) : Jumlah seluruh subjek penelitian klinis dalam satu bulan (orang) x 100% = ___% Jumlah Rekap Informed Consent yang Kembali Ke Bagian Penelitian dan Pengembangan RSUP Sanglah, untuk Seluruh Subjek Penelitian Klinis (orang) Jumlah seluruh subjek penelitian klinis dalam satu bulan (orang) 90% Pengumpulan data dilakukan dengan cara total sampling, yaitu dengan melihat seluruh informed consent subjek penelitian klinis yang dilaksanakan di RSUP Sanglah Denpasar. Penelitian yang menjadikan pasien sebagai subjek penelitian melalui intervensi klinik Penelitian yang bersifat survey/observasi dan tidak melaksanakan intervensi pasien secara klinis Pencatatan dilaksanakan oleh staf Bagian Litbang dengan melihat seluruh informed consent subjek penelitian klinis yang akan dilaksanakan di RSUP Sanglah Denpasar. Rekapitulasi dan analisis sederhana dilaksanakan oleh Kepala Bagian Litbang sebagai informasi awal untuk bagiannya, kemudian setiap bulannya data akan dilaporkan kepada Unit Penjaminan Mutu dan Direksi. Secara umum data akan dievaluasi serta dideseminasikan kepada seluruh komponen rumah setiap tiga bulan yang dikoordinasikan oleh Unit Penjaminan Mutu Semua area klinik Ka. Diklit RSUP Sanglah
JUMLAH PASIEN YANG AKAN DIGUNAKAN SEBAGAI SUBJEK PENELITIAN JUMLAH INFORMED CONSENT SUBJEK YANG DIKEMBALIKAN KE LITBANG

TANGGAL

FORMAT PENCATATAN
NO

NAMA PENELITI/ INSTITUSI

NO. IJIN PENELITIAN

JUDUL PENELITIAN

JENIS INTERVENSI PASIEN

KET

1
1 2 dst

Verifikasi :

INDIKATOR QPS KLINIK STANDAR QPS

JUDUL INDIKATOR TIPE INDIKATOR TUJUAN DEFINISI OPERASIONAL

3. Klinik 10 : Pencegahan dan pengendalian, pengawasan, serta pelaporan infeksi Related to JCIs Library Of Measures, I-NSC-2 : Patients that have hospital-acquired (nosocomial) pressure ulcer(s) (category/stage II) on the day of the prevalence study Angka kejadian dekubitus grII/Lebih akibat perawatan di rumah sakit Struktur Proses Proses & Outcome Outcome
Tergambarnya kualitas pelayanan keperawatan di rumah sakit terhadap pencegahan insiden dekubitus Dekubitus merupakan sebuah ulkus akibat tekanan yang terlokalisir pada kulit dan / atau pada dasar jaringan yang biasanya terjadi pade area tonjolan tulang, sebagai akibat dari tekanan, atau tekanan yang dikombinasi dengan pergeseran dan / atau gesekan (National Pressure Ulcer Advisory Panel, NPUAP, 2009). Insiden dekubitus akibat perawatan di rumah sakit ditemukan atau didokumentasikan setelah 24 jam pertama sejak mulai waktu rawat inap. Dekubitus merupakan insiden yang disebabkan oleh kualitas pelayanan keperawatan yang buruk, sehingga pemantauan sangat diperlukan untuk melaksanakan monitoring dan evaluasi kualitas pelayanan keperawatan.

ALASAN/ IMPLIKASI/ RASIONALISASI

QPS Klinik 9

FORMULA

NUMERATOR DENOMINATOR TARGET SAMPLING KRITERIA INKLUSI KRITERIA EKSKLUSI

PENCATATAN ANALISA & PELAPORAN

AREA PIC

FORMAT PENCATATAN

Insiden dekubitus dilaporkan berkisar antara 2,7 persen sampai dengan 29,5 persen dalam berbagai studi klinis. Jumlah pasien dekubitus dengan katagori/grade II atau lebih tinggi dalam jangka waktu tertentu (orang) : Jumlah seluruh pasien baru dengan faktor risiko dekubitus (berdasarkan skala Braden, skor 14) yang berusia 18 tahun dalam periode yang sama x 100% Jumlah pasien dekubitus dengan katagori/grade II atau lebih tinggi dalam jangka waktu tertentu Jumlah seluruh pasien baru dengan faktor risiko dekubitus berdasarkan skala Braden, skor 14) yang berusia 18 tahun dalam periode yang sama 2.7% Kegiatan pengumpulan data dilaksanakan dengan Quick Survey dengan menggunakan purposive sampling (dengan proporsi populasi) pada periode survey sesuai dengan kriteria inklusi 3. Insiden dekubitus dengan katagori/grade II atau lebih tinggi, pasien berusia 18 tahun (dengan faktor risiko dekubitus) 4. Semua pasien baru setelah 24 jam MRS 6. Pasien yang berusia kurang dari 18 tahun 7. Pasien dengan Ulkus Dekubitus yang didapat di luar rumah sakit 8. Pasien yang menolak dilakukan pengkajian 9. Pasien yang kondisinya tidak stabil (hemodinamik, nyeri tidak terkontrol) 10. Pasien terminal, kebidanan (Post Partum dan SC tanpa komplikasi) 11. PAsien yang di kaji dengan Skala Braden, skor > 14 Pencatatan dilaksanakan setiap hari, dilakukan oleh Kepala Ruangan Rawat Inap setiap ada pasien baru dengan risiko dekubitus. Data diukur dengan melihat secara langsung ke pasien. Rekapitulasi dan analisa sederhana dilaksanakan oleh Kepala Ruangan Rawat Inap sebagai informasi awal untuk unit masing-masing, kemudian data akan dilaporkan kepada Kepala Instalasi Rawat Inap. Data beberapa Ruangan Rawat Inap akan direkapitulasi dan dianalisis oleh Kepala Bidang Pelayanan Keperawatan, kemudian setiap bulannya data akan dilaporkan kepada Unit Penjaminan Mutu dan Direksi. Secara umum data akan dievaluasi serta dideseminasikan kepada seluruh komponen rumah setiap tiga bulan yang dikoordinasikan oleh Unit Penjaminan Mutu Instalasi Rawat Inap Kepala Bidang Pelayanan Keperawatan NB : data yang dimasukkan dalam format ini hanya pasien sesuai dengan kriteria inklusi (berdasarkan skala Braden, skor 14)
TANGGAL NO NAMA PASIEN BAR NO. RM DIAGNOSA MEDIS KEJADIAN DEKUBITUS grII/LEBIH (ya/tidak) JIKA YA PADA KOLOM 6, TERIDENTIFIKASI HARI KE BERAPA? (hari ke ___) KET

1
1 2 3 4 5 dst

QPS Klinik 9