Anda di halaman 1dari 97

Wawasan Mutakhir Tata Surya

Etty Jaskarti Alma Nuradnan Pramudita

KATA PENGANTAR
Alhamdu lillah buku Wawasan Mutakhir Tata Surya telah selesai. Bagaimanapun tanpa berbagai kemudahan dari Allah, tidak mungkin buku ini dapat selesai. Buku ini merupakan peralihan antara ensiklopedia dan buku pelajaran. Isinya sengaja dibuat lebih berat dari ensiklopedia untuk menegaskan fakta bahwa astronomi merupakan bagian dari ilmu fisika. Pertimbangan penegasan ini yaitu belum banyak diketahuinya kondisi belajar dan pola pikir ilmu astronomi. Pun isi buku ini sengaja dibuat lebih ringan dari buku pelajaran karena astronomi, sebagai ilmu tersendiri, tidak diajarkan di sekolah menengah. Meskipun penalaran matematika dan fisika dalam buku ini boleh jadi membuat dahi berkerut, namun semoga buku ini justru menjadi hiburan menantang bagi siswa sekolah menengah atas. Semoga buku ini bermanfaat. Saran dan kritik akan sangat diperlukan untuk menambah manfaat buku ini. Bandung, 25 Juli 2011 Penulis

Wawasan Mutakhir Tata Surya

DAFTAR ISI
Kata Pengantar Daftar Isi Daftar Gambar Daftar Tabel BAB I. PENDAHULUAN BAB II. PLANET DI TATA SURYA A. Tata Surya dan Karakteristiknya 1. Matahari Sebagai Pusat Tata Surya 2. Anggota Tata Surya a. Matahari b. Planet 1) Merkurius 2) Venus 3) Bumi 4) Mars 5) Jupiter 6) Saturnus 7) Uranus 8) Neptunus B. Klasifikasi Planet C. Tugas Bab II i ii v viii 1 3 3 3 4 4 6 6 8 10 11 12 13 15 16 17 20

ii

Wawasan Mutakhir Tata Surya

BAB III. HUKUM KEPLER DAN HUKUM NEWTON A. Hukum Kepler 1. Hukum I Kepler 2. Hukum II Kepler 3. Hukum III Kepler B. Hukum Gravitasi Universal C. Penerapan Hukum Gravitasi Universal D. Percepatan Gravitasi Bumi E. Hubungan Hukum Newton dan Hukum III Kepler F. Tugas Bab III BAB IV. WAWASAN MUTAKHIR TATA SURYA A. Asteroid 1. Sabuk Asteroid 2. Asteroid Trojan 3. Near Earth Asteroid (NEA) B. Komet C. Sabuk Kuiper D. Planet Kerdil 1. Sejarah Penemuan Pluto 2. Kelompok Baru Tempat Pluto E. Awan Oort F. Tugas Bab IV BAB V. PENGUMPULAN DATA ASTRONOMI A. Pencatatan Posisi Benda Langit 1. Sistem Koordinat Horizon

21 21 21 22 22 24 29 33 35 38 39 37 38 42 43 45 49 51 52 54 56 60 61 59 59

Wawasan Mutakhir Tata Surya

iii

a. Deklinasi Magnetik 2. Sistem Koordinat Ekuatorial B. Gerak Semu Planet dan Bintang C. Teleskop D. Fotometri E. Spektroskopi F. Tugas Bab V GLOSARIUM DAFTAR PUSTAKA

62 65 68 70 74 77 84 85

iv

Wawasan Mutakhir Tata Surya

DAFTAR GAMBAR
Gambar II.1. Perbandingan jarak dan ukuran planet-planet. Gambar II.2. Foto Matahari. Gambar II.3. Foto permukaan Matahari. Gambar II.4. Foto Merkurius. Gambar II.5. Foto Caloris Basin. Gambar II.6. Foto permukaan Venus dalam gelombang radio. Gambar II.7. Foto Venus dalam sinar tampak. Gambar II.8. Foto Bumi. Gambar II.9. Perbandingan ukuran planet-planet kebumian. Gambar II.10. Foto Mars. Gambar II.11. Foto Kawah Victoria, Cape Verde. Gambar II.12. Foto Jupiter. Gambar II.13. Foto Bintik Merah Jupiter. Gambar II.14. Foto Saturnus. Gambar II.15. Foto badai Saturnus. Gambar II.16. Foto Uranus. Gambar II.17. Foto cincin dan awan Uranus. Gambar II.18. Foto Neptunus. Gambar II.19. Foto badai Neptunus. Gambar II.20. Posisi planet terhadap Bumi. Gambar III.1. Anatomi elips. Gambar III.2. Ilustrasi Hukum II Kepler. Gambar III.3. Instrumen Henry Cavendish. Gambar III.4. Resultan gaya gravitasi. Gambar III.5. Sudut siku-siku Matahari, Bulan, Bumi.
Wawasan Mutakhir Tata Surya

3 5 5 7 7 9 9 10 10 11 12 13 13 14 14 16 16 17 17 19 22 22 28 30 31
v

Gambar IV.1. Foto Ceres. Gambar IV.2. Foto Ida dan Dactyl. Gambar IV.3. Ilustrasi model kerapatan sabuk asteroid. Gambar IV.4. Ilustrasi sebaran asteroid. Gambar IV.5. Ilustrasi titik-titik Lagrange. Gambar IV.6. Ilustrasi orbit NEA. Gambar IV.7. Potret komet Halley. Gambar IV.8. Inti komet Tempel 1. Gambar IV.9. Anatomi komet. Gambar IV.10. Ilustrasi sabuk Kuiper. Gambar IV.11. Plat foto penemuan Pluto. Gambar IV.12. Plat foto penemuan Charon. Gambar IV.13. Foto Pluto dan tiga satelitnya. Gambar IV.14. Ilustrasi sistem Pluto-Charon. Gambar IV.15. Ilustrasi ukuran awan Oort. Gambar IV.16. Ilustrasi ukuran awan Oort. Gambar V.1. Ilustrasi sudut ketinggian. Gambar V.2. Sudut ketinggian dua objek yang berbeda. Gambar V.3. Ilustrasi sudut azimut. Gambar V.4. Sudut azimut dua objek yang berbeda. Gambar V.5. Arah pengukuran sudut azimut. Gambar V.7. Variasi posisi kutub utara magnet Bumi. Gambar V.8. Konvensi tanda deklinasi magnetik. Gambar V.9. Peta deklinasi magnetik. Gambar V.10. Program prediksi deklinasi dari NOAA. Gambar V.11. Ekuinoks dan titik balik Matahari.

41 41 42 42 45 46 47 47 49 52 55 56 56 57 58 59 62 62 63 63 63 63 65 66 67 68

Gambar V.6. Pengukuran sudut azimut menggunakan kompas. 63

vi

Wawasan Mutakhir Tata Surya

Gambar V.12. Ilustrasi sistem koordinat ekuatorial. Gambar V.13. Orientasi pengamat terhadap ekuator. Gambar V.14. Orientasi ekuator terhadap pengamat. Gambar V.15. Garis edar Matahari pada 21 Desember. Gambar V.16. Bayangan nyata pada lensa cembung. Gambar V.17. Bayangan maya pada lensa cembung. Gambar V.18. Sistem optik dengan dua lensa cembung. Gambar V.19. Foto gugus Pleiades. Gambar V.20. Penentuan intensitas piksel foto bintang. Gambar V.21. Spektrum langit. Gambar V.21. Ilustrasi spektrum kontinu benda hitam. Gambar V.22. Warna lava. Gambar V.23. Pembentukan garis emisi dan serapan. Gambar V.24. Nebula planet M 57. Gambar V.24. Korona Matahari. Gambar V.24. Spektrograf sederhana.

69 70 71 72 73 74 75 77 78 79 80 80 81 82 82 83

Wawasan Mutakhir Tata Surya

vii

DAFTAR TABEL
Tabel II.1. Kala rotasi, kala revolusi, dan jarak planet. Tabel III.1. Hubungan percepatan gravitasi dengan ketinggian. Tabel III.2. Percepatan gravitasi beberapa tempat di Bumi. Tabel IV.1. Perbandingan jarak planet dari Matahari. Tabel IV.2. Tahun penemuan dan massa asteroid. Tabel IV.3. Sumbu semimayor komet. 6 33 34 39 40 51

viii

Wawasan Mutakhir Tata Surya

BAB I

PENDAHULUAN
Banyak kalangan yang senang pada dunia astronomi. Namun sering bagi yang belum pernah mendalami astronomi, Tata Surya merupakan lingkungan terbesar yang dapat dibayangkan. Ini lazim karena ukuran dalam kehidupan sehari-hari jauh lebih kecil dari ukuran di Tata Surya. Dapat dengan mudah dibayangkan sejauh apa 1.000 km itu, namun tidak selalu mudah membayangkan sejauh apa 8 menit cahaya itu. Dalam buku ini, dibahas Tata Surya, yang merupakan lingkungan terdekat di luar atmosfer Bumi. Biasanya dalam buku teks sekolah menengah, materi astronomi disajikan sebagai penambah wawasan saja. Pembahasan paling dalam biasanya seputar fase Bulan, jarak planet dari Matahari, periode revolusinya, pembentukan Tata Surya, atau komet. Pada permulaan buku ini, hanya disajikan wawasan seputar Matahari dan planet. Kemudian, aliran informasi ini segera diikuti dengan paparan matematis tentang hukum-hukum di Tata Surya. Baik menyenangkan maupun tidak, kajian matematis menimbulkan kepenatan. Kepenatan ini diredakan dengan wawasan mutakhir tentang Tata Surya. Bahasannya yaitu anggota Tata Surya selain Matahari dan planet. Termasuk di dalamnya yakni status baru Pluto dan lingkungan terluar Tata Surya. Dua hal tadi cukup ramai dikaji seiring dengan makin canggihnya teknologi penginderaan. Akhirnya sebagai penutup buku ini, disajikan sejumlah hal terkait pengumpulan data dalam astronomi.

Pendahuluan

Berikut poin-poin bahasan dalam buku ini. Planet di Tata Surya: Matahari dan planet, temperatur lingkungan planet, kala revolusi, kala rotasi, klasifikasi planet Hukum Kepler dan Hukum Newton: Hukum Kepler, alur pemikiran Hukum Gravitasi Universal, contoh kasus terkait gaya gravitasi, gaya gravitasi dan gaya berat, gaya gravitasi dan percepatan gravitasi Wawasan Mutakhir Tata Surya: ragam kelompok asteroid, anatomi komet, orbit komet, sabuk Kuiper, planet kerdil, status mutakhir Pluto, awan Oort Pengumpulan Data Astronomi: koordinat benda langit, variasi gerak semu benda langit, bayangan pada lensa, fotometri, sistem magnitudo bintang, spektroskopi, penentuan jenis unsur pada bintang Meskipun tidak memuat materi kalkulus, selain sedikit materi limit pada akhir buku, penalaran matematika dan fisika dalam buku ini membutuhkan kompetensi akademik setingkat sekolah menengah atas.

Wawasan Mutakhir Tata Surya

BAB II

PLANET DI TATA SURYA


A. Isi Tata Surya
Sistem Tata Surya merupakan kumpulan benda langit yang terdiri atas Matahari, planet, planet kerdil, asteroid, komet, serta meteoroid, yang semuanya mengitari Matahari akibat gaya gravitasi.

Gambar II.1. Perbandingan jarak dari Matahari dan ukuran planet di Tata Surya. (NASA/JPL)

1. Matahari Sebagai Pusat Tata Surya


Matahari merupakan pusat Tata Surya. Bumi yang hanyalah satu dari anggota Tata Surya. Pun Matahari hanya satu dari jutaan bintang yang ada di Galaksi.
Planet di Tata Surya 3

Sebagai bintang, Matahari sama saja dengan bintang-bintang lain. Karena jauh lebih dekat ke Bumi dibandingkan bintang-bintang lain, Matahari tampak seperti piringan cahaya besar. Bintang-bintang lain sangat jauh dari Bumi sehingga hanya tampak sebagai titik-titik cahaya.

2. Anggota Tata Surya


Semua anggota Tata Surya beredar mengitari Matahari, atau berevolusi, dalam lintasan elips. Akibatnya, anggota Tata Surya pada suatu waktu berada pada titik terdekat dan pada waktu lain berada pada titik terjauh dari Matahari. Titik terdekat dengan Matahari disebut perihelion, sedangkan titik terjauhnya disebut aphelion. Laju revolusi anggota Tata Surya tidak tetap. Di dekat dekat perihelion, kelajuannya lebih besar dibandingkan dengan di dekat aphelion. Bentuk orbit, laju revolusi, serta hubungan antara ukuran orbit dan kala revolusi dirangkum dalam Hukum Kepler.

a. Matahari
Matahari merupakan bintang terdekat dari Bumi. Jarak rata-rata Bumi dari Matahari yaitu 149.600.000 km. Jarak ini dijadikan rujukan satu satuan astronomi (SA: Satuan Astronomi atau AU: Astronomical Unit). Matahari merupakan pusat gerak anggota Tata Surya. Gaya gravitasi Matahari menjadikan semua planet beredar mengitari Matahari, dan demikian juga benda-benda lainnya, seperti asteroid dan komet. Matahari sendiri berotasi dengan arah sesuai arah rotasi sebagian besar planet dan satelit.
4 Wawasan Mutakhir Tata Surya

Gambar II.3. Foto permukaan Matahari, diambil menggunakan wahana Hinode. (JAXA/NASA) Gambar II.2. Foto Matahari. Nampak letupan plasma Matahari, yang cukup besar dibandingkan jari-jari Matahari. (NASA/ESA)

Periode rotasi ekuator Matahari yaitu sekitar 34 hari, sedangkan rotasi kutubnya butuh waktu sekitar 27 hari. Perbedaan itu disebabkan wujud gas Matahari. (Sebenarnya, materi di Matahari berwujud plasma, bukan gas. Meskipun demikian dalam banyak kasus, dapat dianggap materi di Matahari berwujud gas.) Matahari bukanlah bintang yang besar. Letaknya yang lebih dekat dari Bumi dibandingkan bintang-bintang lainnya menjadikan Matahari tampak seperti bola besar bercahaya, sedangkan bintang-bintang lainnya tampak seperti titik bercahaya. Panas dan cahaya Matahari berasal dari reaksi fusi, yaitu penggabungan inti hidrogen menjadi helium pada suhu dan tekanan yang sangat tinggi. Suhu di pusat Matahari sekitar 35.000.000 C. Panas ini merambat dari
Planet di Tata Surya 5

dalam ke luar bola Matahari. Suhu di permukaan Matahari sekitar 6.000 C. Panas inilah yang dipancarkan ke ruang angkasa hingga akhirnya mencapai permukaan Bumi.

b. Planet
Sampai saat ini, dikenal delapan planet yang mengelilingi Matahari, yaitu Merkurius, Venus, Bumi, Mars, Jupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus. Planet-planet tersebut tidak memancarkan cahaya sendiri, tetapi memantulkan cahaya Matahari. Kata planet berasal dari bahasa Yunani, yaitu planetei, yang artinya pengembara. Namanya demikian karena kedudukan planet terhadap bintang-bintang pada bola langit tidak tetap. Selain mengitari Matahari, planet juga berotasi pada sumbunya. Periode revolusi dan rotasi setiap planet dapat dilihat dalam tabel II.1. Tabel II.1. Delapan planet yang Mengelilingi Matahari. planet kala rotasi kala revolusi rerata jarak ke (hari) Merkurius 58,6 Venus Bumi Mars Jupiter Uranus 243 23,9 24,6 9,8 10,8 (hari) 88 224,7 365,25 687 11,9 29,5 84 164,8 Matahari (juta km) 57,9 108,23 150 228 778 1.427 2.870 4.497

Saturnus 10,2 Neptunus 15,6

1) Merkurius

Wawasan Mutakhir Tata Surya

Merkurius berdiameter 4.878 km dan merupakan planet terdekat dari Matahari. Jarak rata-rata Merkurius-Matahari yaitu 57,9 juta km. Karena ukuran dan kedekatannya dengan Matahari, planet ini sulit diamati dari Bumi jika tanpa teleskop. Merkurius dapat diamati sebagai titik terang di dekat cakrawala timur sebelum Matahari terbit atau di dekat cakrawala barat sesudah Matahari terbenam. Laju revolusinya mencapai 48 km/s dan kala revolusinya 88 hari Bumi.

Gambar II.4. Foto Merkurius. Nampak banyak kawah tumbukan.


(NASA/Johns Hopkins University Applied Physics Laboratory/Carnegie Institution of Washington)

Gambar II.5. Caloris Basin, satu daerah di permukaan Merkurius, dipotret menggunakan wahana Mariner 10. (NASA)

Meskipun Merkurius memiliki permukaan yang mirip Bulan, namun struktur dalamnya lebih menyerupai Bumi. Diperkirakan bahwa Merkurius

Planet di Tata Surya

sebagian besar juga terdiri atas besi dan unsur-unsur berat seperti di Bumi. Keadaan cuaca di Merkurius sangat kering dan panas pada bagian siang, serta hampir tanpa udara. Intensitas sinar Matahari di permukaannya tujuh kali lebih kuat dibandingkan di permukaan Bumi. Atmosfer Merkurius sangat tipis dan tidak menyerap banyak sinar Matahari. Dampaknya yaitu suhu siang hari di Merkurius mencapai 427 C, sedangkan suhu malam hari mencapai -173 C. Tipisnya atmosfer Merkurius juga menyebabkan langit Merkurius gelap sehingga mungkin bintang-bintang terlihat di siang hari.

2) Venus
Venus dikenal sebagai kembaran Bumi karena ukuran keduanya hampir sama. Diameter Venus 12.100 km, atau 644 km lebih kecil dari diameter Bumi. Jarak terdekat Venus dari Bumi yaitu 41,4 juta km, lebih dekat dari jarak terdekat Mars dari Bumi (55,7 juta km). Jarak Venus-Matahari sekitar 108 juta km. Venus mengitari Matahari dalam 225 hari. Dilihat dari Bumi, Venus merupakan benda langit paling terang setelah Matahari dan Bulan. Kala rotasi Venus sangat lama, yaitu 243 hari. Tidak seperti Bumi dan planet lain yang arah rotasinya sama dengan arah revolusinya, arah rotasi Venus berlawanan dengan arah revolusinya (retrograde). Para geolog mengalami kesulitan mempelajari permukaan Venus karena terhalang awan tebal. Dengan radar pada wahana ruang angkasa Venera, Pioneer, dan Magellan, informasi tentang permukaan Venus dapat diperoleh. Permukaan Venus sangat kering dan panas. Tidak ada zat cair pada permukaan Venus akibat tingginya temperatur, yang menyebabkan semua cairan menguap.

Wawasan Mutakhir Tata Surya

Gambar II.6. Permukaan Venus, dipotret dalam sinar radio dan ditampilkan dalam warna sintetik.
(NASA)

Gambar II.7. Venus dalam sinar tampak. Permukaannya tidak terlihat karena sinar tampak tidak dapat menembus atmosfernya yang kedap. (NASA/Ricardo Nunes)

Atmosfer Venus lebih tebal dari atmosfer planet kebumian lain. Penyusun utama atmosfernya adalah karbondioksida serta sejumlah kecil nitrogen dan uap air. Tekanan atmosfer Venus diperkirakan mencapai 90 kali tekanan atmosfer Bumi. Temperatur lapisan paling atas Venus sekitar 13 C, namun temperatur permukaannya 462 C, lebih panas dibandingkan permukaan planet lainnya. Tingginya suhu permukaan Venus merupakan akibat efek rumah kaca. Energi sinar Matahari masuk dan ditahan oleh molekul-molekul udara di Venus; awan tebal dan atmosfer Venus menjadi penjebak energi sinar Matahari.

Planet di Tata Surya

3) Bumi
Bumi merupakan planet tempat manusia hidup, satu-satunya planet yang diketahui memiliki kehidupan sampai saat ini. Bumi merupakan planet kelima terbesar, dengan diameter kira-kira 13.000 km (lima kali diameter Pluto, yang merupakan planet kerdil, dan 1/11 kali planet Jupiter, yang merupakan planet terbesar). Bumi berada pada jarak kira-kira 150 juta km dari Matahari. Jarak ini disebut satu satuan astronomi (SA). Suhu rata-rata permukaan Bumi 14 C. Hanya planet Bumi yang atmosfernya memiliki cukup oksigen untuk mendukung kehidupan.

Gambar II.9. Perbandingan ukuran Merkurius, Venus, Bumi, dan Mars.


(NASA)

Gambar II.8. Foto Bumi. (NASA)

Bumi mengitari Matahari dalam waktu 365 hari, 6 jam, 9 menit, 10 detik dan menempuh jarak 958 juta kilometer. Waktu yang diperlukan Bumi untuk sekali berevolusi disebut satu tahun Bumi. Pada orbitnya, Bumi bergerak dengan kelajuan rata-rata 107,2 km/jam. Kala rotasi Bumi yaitu 23 jam, 56 menit, dan 4 detik, yang disebut sebagai satu hari Bumi.

10

Wawasan Mutakhir Tata Surya

4) Mars
Mars merupakan satu-satunya planet yang permukaannya dapat dilihat dengan jelas menggunakan teleskop di permukaan Bumi. Mars berwarna kemerahan karena tanahnya banyak mengandung oksida besi. Jarak rata-rata Mars-Matahari yaitu 227,9 juta km. Diameter Mars diperkirakan 6.796 km, sedikit lebih dari setengah diameter Bumi. Kala revolusi Mars 687 hari dan kala rotasinya 24 jam 37 menit, sedikit lebih lama dari periode rotasi Bumi. Bentang alam permukaan Mars mirip dengan Bumi, dengan gunung, ngarai, gurun, dan es di kedua kutubnya, walaupun tumbuhan dan binatang tidak dapat hidup di Mars. Suhu permukaan Mars jarang lebih dari 0 C. Diperkirakan jutaan tahun yang lalu, Mars memiliki air berwujud cair dalam jumlah besar, namun saat ini, dipastikan tidak ada lagi aliran air di permukaan Mars.

Gambar II.10. Foto Mars. Nampak permukaan, awan, dan kutub Mars.
(NASA/JPL)

Planet di Tata Surya

11

Gambar II.11. Kawah Victoria, Cape Verde, satu daerah di Mars, dipotret menggunakan wahana pendarat Opportunity. (NASA/JPL/Cornell
University)

Atmosfer Mars lebih tipis dari atmosfer Bumi. Atmosfer Mars sebagian besar terdiri atas karbondioksida, dengan sejumlah kecil nitrogen, argon, oksigen, karbonmonoksida, neon, kripton, dan xenon. Atmosfer Mars juga mengandung uap air dalam jumlah yang sangat sedikit. Tekanan atmosfer Mars sangat kecil, kurang dari 1/100 tekanan atmosfer Bumi. Suhu permukaan Mars lebih rendah dari suhu permukaan Bumi karena Mars lebih jauh dari Matahari. Di dekat khatulistiwa, suhunya dapat setinggi 25 C, tetapi di kutub suhunya dapat serendah -123 C.

5) Jupiter
Jupiter merupakan planet terbesar di Tata Surya. Diameternya mencapai 142.984 km, lebih dari 11 kali diameter Bumi. Jarak Jupiter-Matahari sekitar 778,3 juta km. Jupiter merupakan bola besar gas dan cairan, dengan sedikit padatan. Permukaannya berupa awan kemerahan, membentuk barisan mengikuti garis lintang. Kala revolusi Jupiter 4.333 hari, atau hampir 12 tahun. Jupiter berotasi dengan periode 9 jam 55 menit, paling cepat di antara planet di Tata Surya. Atmosfer Jupiter terdiri

12

Wawasan Mutakhir Tata Surya

atas 86% hidrogen, 14% helium, dan gas organik seperti metana dan amonia.

Gambar II.12. Foto Jupiter. Di kiri bawah, nampak bayangan Eropa, salah satu satelit Jupiter. Bintik Merah, sistem badai Jupiter, terlihat di kanan.
(NASA/JPL/University of Arizona)

Gambar II.13. Bintik Merah, sistem badai di Jupiter, dipotret menggunakan wahana Voyager 1. (NASA)

Suhu awan teratas Jupiter diperkirakan -140 C, dan suhu mencapai 21 C pada lapisan yang tekanan atmosfernya sepuluh kali tekanan atmosfer Bumi. Suhu pusat Jupiter bahkan jauh lebih tinggi dari suhu permukaan Matahari, yakni mencapai 24.000 C.

6) Saturnus
Saturnus merupakan planet terbesar sesudah Jupiter. Jarak SaturnusMatahari sekitar 1.429,4 juta km. Ciri khas Saturnus yaitu cincin di sekelilingnya. Cincin ini merupakan kumpulan partikel es. Planet lain yang juga memiliki cincin yaitu Jupiter, Uranus, dan Neptunus, walaupun tidak secerah cincin Saturnus.

Planet di Tata Surya

13

Cincin Saturnus terbagi menjadi tiga lapisan. Lebar lapisan terluar sekitar 16.990 km. Antara cincin luar dan cincin tengah terdapat ruang kosong yang lebarnya sekitar 5.000 km. Cincin dalam berjarak sekitar 11.265 km dari permukaan Saturnus. Cincin Saturnus pertama kali ditemukan oleh astronom Italia, Galileo Galilei, pada awal tahun 1600. Dengan teleskop kecilnya, Galileo mengira cincin tersebut satelit. Baru tahun 1656 menggunakan teleskop yang lebih besar, Christian Huygens dapat melihat dengan lebih jelas struktur cincin Saturnus. Dihipotesiskan awalnya cincin Saturnus merupakan kumpulan satelit yang kemudian pecah. Pecahannya menyebar mengelilingi Saturnus sehingga dari jauh tampak seperti cincin melingkar.

Gambar II.14. Foto Saturnus, dipotret dengan wahana Cassini.


(NASA/JPL/STScI)

Gambar II.15. Daerah terang pada foto merupakan badai yang menyapu Saturnus.
(NASA/JPL/STScI)

14

Wawasan Mutakhir Tata Surya

Diameter Saturnus sekitar 120.540 km, hampir sepuluh kali diameter Bumi. Saturnus dapat dilihat dari Bumi dengan mata telanjang, walaupun cincinnya tidak akan terlihat. Kala revolusi Saturnus 29,5 tahun dan kala rotasinya 10 jam 39 menit. Suhu awan teratas Saturnus diperkirakan -178 C.

7) Uranus
Uranus merupakan planet terjauh yang masih dapat dilihat dari Bumi tanpa teleskop, walaupun sangat redup. Letaknya sedemikian jauh dari Bumi sehingga intensitas sinar Matahari yang dipantulkan ke Bumi sangat kecil. Jarak rata-rata Uranus-Matahari yaitu 2.875 juta km. Cahaya memerlukan waktu 2 jam 40 menit untuk menempuh jarak sejauh ini. Diameter Uranus 51.118 km, lebih dari empat kali diameter Bumi. Atmosfer atasnya berupa awan metana hijau-biru. Kala revolusi Uranus lebih dari 84 tahun, sedangkan kala rotasinya 17 jam 14 menit. Awan atau atmosfer Uranus berotasi lebih cepat dari ratarata rotasi keseluruhan massa Uranus. Sumbu rotasi Uranus sangat miring sehingga seolah-olah Uranus menggelinding pada lintasan orbitnya. Atmosfer Uranus tersusun oleh 83% hidrogen, 15% helium, 2% metana, sejumlah kecil etana, dan gas-gas lain. Tekanan atmosfer di Uranus diperkirakan 1,3 kali tekanan atmosfer Bumi. Suhu atmosfer Uranus sekitar -214 C. Makin ke dalam, suhu naik dengan cepat dan diperkirakan mencapai 7.000 C di intinya.

Planet di Tata Surya

15

Gambar II.16. Foto Uranus. Titik terang di kanan adalah Ariel, salah satu satelit Uranus; bayangannya nampak di lapisan awan Uranus.
(NASA/STScI)

Gambar II.17. Cincin dan awan Uranus terlihat jelas, dipotret menggunakan teleskop Hubble. (NASA/ESA/M.
Showalter)

8) Neptunus
Meskipun berdiameter sekitar 49.100 km, hampir empat kali diameter Bumi, Neptunus tidak dapat lagi dilihat dari Bumi tanpa teleskop. Jarak Neptunus-Matahari 4.504,3 juta km, sekitar 30 kali jarak Bumi-Matahari. Kala revolusi Neptunus 165 tahun. Neptunus berotasi dengan periode 16 Jam 7 menit. Laju rotasi awan Neptunus mencapai 1.100 km/jam.

16

Wawasan Mutakhir Tata Surya

Gambar II.18. Foto Neptunus. Nampak Bintik Gelap, sistem badai di Neptunus. Atmosfer Neptunus termasuk yang paling aktif di Tata Surya. (NASA)

Gambar II.19. Beberapa sistem badai di Neptunus, dipotret menggunakan wahana Voyager 2.
(NASA/Tim Voyager 2)

Neptunus terdiri atas hidrogen, helium, air dan silikat. Silikat merupakan mineral penyusun kerak Bumi, meskipun permukaan Neptunus tidak padat seperti Bumi. Awan tebal selalu menyelimuti permukaan Neptunus.

B. Klasifikasi Planet
Planet di Tata Surya dapat diklasifikasikan menjadi kelompok berikut. 1. Planet Dalam dan Planet Luar. Planet dalam berada di sebelah dalam sabuk asteroid dan planet luar berada di sebelah luarnya. Yang termasuk planet dalam yaitu Merkurius, Venus, Bumi, dan Mars, sedangkan yang termasuk planet luar yaitu Jupiter, Saturnus, Uranus, Neptunus.

Planet di Tata Surya

17

2. Planet Terestrial (Kebumian) dan Planet Jovian (Raksasa Gas) . Kelompok planet terestrial meliputi Merkurius, Venus, Bumi, dan Mars, yang semuanya memiliki permukaan padat. Planet Jupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus termasuk kelompok planet raksasa, yang semuanya diselubungi gas tebal. 3. Planet Inferior dan Planet Superior. Acuan pembagian ini yaitu Bumi. Yang termasuk planet inferior yakni Merkurius dan Venus, sedangkan planet superior yaitu Mars, Jupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus. Digunakan istilah inferior dan superior untuk merujuk pada jaraknya dari Matahari dilihat dari permukaan Bumi. Pada bola langit, planet inferior tidak akan jauh dari Matahari, sementara planet superior dapat sangat jauh dari Matahari. 4. Konjungsi dan Oposisi. Pembagian ini hanya untuk menunjukkan posisi. Ketika Merkurius atau Venus berada di antara Bumi dan Matahari, posisinya disebut konjungsi bawah. Ketika keduanya berada di belakang Matahari dan tidak terlihat dari Bumi, posisinya disebut konjungsi atas. Untuk planet superior ketika mereka terletak di belakang Matahari (tidak terlihat dari Bumi), posisinya disebut konjungsi, sedangkan ketika berada di belakang Bumi, atau Bumi terletak di antara planet dan Matahari, maka posisinya disebut oposisi.

18

Wawasan Mutakhir Tata Surya

Gambar II.20. Kemungkinan posisi planet inferior dan superior terhadap Bumi. Planet inferior tidak akan pernah berada dalam posisi oposisi; Bumi tidak mungkin berada di antara Matahari dan planet inferior.

Planet di Tata Surya

19

C. Tugas Bab II
Carilah informasi dari buku atau situs di internet untuk mengisi tabel berikut!

planet Merkurius Venus Bumi Mars Jupiter Saturnus Uranus Neptunus Sumber:

jari-jari (km) massa (kg) jumlah satelit

Catatan: Astronom dapat mengetahui jari-jari planet melalui pengamatan dengan teleskop. Massa planet dapat diketahui melalui pengamatan satelitnya. Jika jarak satelit dari planet dan kala revolusinya dapat diamati dengan teleskop, maka dapat dihitung massa planet. Perhitungan ini akan disinggung dalam bab selanjutnya.

20

Wawasan Mutakhir Tata Surya

BAB III

HUKUM KEPLER DAN HUKUM NEWTON


A. Hukum Kepler
Laju revolusi planet tidak tetap. Di dekat perihelion, kelajuan planet lebih besar daripada di dekat aphelion. Laju orbit dan kala revolusi planet dijelaskan dengan Hukum Kepler. Pada abad 2, Claudius Ptolomeus merumuskan teori geosentris, yaitu model Bumi sebagai pusat alam semesta dan planet-planet bergerak melingkar mengelilingi Bumi. Pada abad 16, Copernicus (1473-1543) mengajukan kembali teori heliosentris, dengan Matahari sebagai pusat Tata Surya dan planet-planet beredar mengelilinginya. Pertentangan kedua teori tadi mendorong para ahli mengumpulkan data pengamatan, seperti yang dilakukan oleh Tycho Brahe (1546-1601). Data gerak planet dari pengamatan Tycho Brahe dianalisis selama kurang lebih 20 tahun oleh Johannes Kepler (1571-1630). Berikut kesimpulan Kepler.

1. Hukum I Kepler
Semua planet bergerak dalam lintasan elips dan Matahari terletak pada salah satu fokusnya. Dalam lintasan elips, ada posisi terdekat dan terjauh dari titik fokusnya. Elips adalah suatu kurva tertutup sedemikian sehingga jumlah jarak dari sembarang titik ke kedua titik fokusnya tetap. Definisi ini diilustrasikan dalam gambar III.1.

Hukum Kepler dan Hukum Newton

21

2. Hukum II Kepler
Setiap planet bergerak sedemikian sehingga suatu garis khayal yang ditarik dari Matahari ke planet tersebut akan menyapu luas yang sama dalam selang waktu yang sama.

Gambar III.1. Kurva elips. Definisi elips yaitu kumpulan titik. atau kurva, yang jumlah jaraknya dari kedua fokus selalu tetap; F1P1 + F2P1 = F1P2 + F2P2.

Gambar III.2. Jika sebuah planet yang mengorbit Matahari menyapu daerah A dan B yang luasnya sama, maka waktu tempuh sapuannya juga sama. Ini berarti kelajuan ketika menyapu A lebih kecil dari ketika menyapu B.

3. Hukum III Kepler


Kuadrat kala revolusi planet sebanding dengan pangkat tiga jarak ratarata planet tersebut ke Matahari.
periode
2 3

jarak rata-rata ke Matahari

= konstan

(III.1)

22

Wawasan Mutakhir Tata Surya

atau T =k 3 P
2

(III.2)

dengan T periode, R jarak rata-rata dari Matahari, dan k tetapan, yang nilainya sama untuk semua planet di Tata Surya. Untuk dua planet, persamaan tadi dapat dituliskan menjadi berikut.
T1 R1
2

= 3

T2 R2
3

(III.3)

Hukum Kepler merupakan dukungan kuat untuk teori Copernicus. Meski demikian, Kepler tidak memiliki konsep gaya sebagai penyebab berlakunya kesimpulannya. Newtonlah yang berhasil menurunkan Hukum Kepler dari Hukum Gravitasi Universal yang digagasnya. Hukum Gravitasi Universal mengharuskan setiap planet ditarik menuju Matahari dengan sebuah gaya yang berbanding terbalik dengan kuadrat jarak dari Matahari. Dengan gagasan ini, Newton mampu menerangkan gerak planet di Tata Surya dan gerak jatuh di dekat permukaan Bumi dengan satu konsep saja. Dengan kata lain, Newton berhasil menyatukan mekanika benda langit dan mekanika kebumian, yang sebelumnya dua kajian terpisah.

Hukum Kepler dan Hukum Newton

23

B. Hukum Gravitasi Universal


Sebelumnya, Galileo telah mempelajari gerak benda di Bumi dan Kepler telah menyatakan tiga hukum yang menggambarkan gerakan planet. Kajian keduanya dilanjutkan oleh Newton, yang berusaha menjelaskan gerakan benda di Bumi dan gerakan planet. Akhirnya, Newton memperoleh rumusan yang mendeskripsikan mekanisme umum pergerakan segala benda. Newton memikirkan kasus benda jatuh. Karena setiap benda jatuh mengalami percepatan, Newton menyimpulkan bahwa terdapat gaya yang bekerja pada benda tersebut. Gaya ini disebut gaya gravitasi. Pertanyaannya yaitu bagaimana gaya ini bekerja pada. Jika pada benda bekerja suatu gaya maka gaya itu tentu saja berasal dari benda lain. Karena setiap benda yang dilepaskan selalu jatuh ke Bumi, Newton menganggap bahwa Bumi sendiri yang melakukan gaya pada setiap benda. Arah gaya gravitasi ini selalu menuju pusat Bumi. Jika gaya gravitasi Bumi bekerja pada puncak pohon dan juga pada puncak gunung, tentu gaya ini juga bekerja pada Bulan dan juga bekerja pada benda-benda langit. Berdasarkan inspirasi ini, dan dengan bantuan dan dorongan yang kuat dari Robert Hooke (1635-1703), Newton kemudian membangun Hukum Gravitasi Universal. Dari hasil pekerjaan Galileo dan ilmuwan lainnya, Newton mengetahui bahwa percepatan benda yang jatuh bebas dekat permukaan Bumi yaitu 9,8 m/s2 ke arah pusat Bumi. Selanjutnya, Newton membandingkan percepatan sentripetal bulan yang bergerak mengelilingi Bumi dan

24

Wawasan Mutakhir Tata Surya

percepatan gravitasi di permukaan Bumi. Newton mengetahui bahwa Bulan mempunyai percepatan yang arahnya ke Bumi dan orbit yang hampir melingkar. Percepatan ini disebabkan oleh suatu gaya dari Bumi, yang secara kontinu menarik Bulan. Inilah gaya gravitasi, gaya yang sama dengan yang menarik apel jatuh ke Bumi. Tapi apakah gaya tarik ini sama untuk Bulan, yang jaraknya lebih jauh dari permukaan Bumi, dan apel? Apakah lebih kuat atau lebih lemah? Mula-mula, Newton mencari kelajuan Bulan mengelilingi Bumi. Rata-rata jarak orbit Bulan yaitu 384.000 km. dibutuhkan waktu bagi Bulan Untuk sekali mengorbit Bumi, sebanyak 27,3 hari, atau

27,3 hari= 27,3 24 3.600 detik . Dapat dihitung bahwa kelajuan Bulan

mengelilingi Bumi besarnya 1.033,75 m/s. Dapat dihitung pula bahwa percepatan sentripetal Bulan
a sp = 4 2 / T2 R = 2,72103 m / s2 . Jika

dibandingkan dengan percepatan gravitasi di permukaan Bumi sebesar 9,8 m/s2, maka besar percepatan sentripetal Bulan sama dengan berikut. 2,7210 m / s 1 g g 2 3.600 9,8 m/ s
3 2

a sp =

(III.4)

Inilah percepatan Bulan menuju Bumi, yaitu kira-kira 1/3.600 kali percepatan gravitasi di permukaan Bumi. Jarak Bumi-Bulan, atau jari-jari orbit Bulan mengelilingi Bumi, yaitu 384.000 km, sedangkan jari-jari Bumi sekitar 6.380 km. jarak Bumi-Bulan 60 jari-jari Bumi

(III.5)

Hukum Kepler dan Hukum Newton

25

Ini berarti kedudukan bulan 60 kali lebih jauh daripada benda-benda di permukaan Bumi. Perhatikan bahwa
60 60= 3.600 .

Jadi

ada

kemungkinan hubungan antara jarak benda dan gaya gravitasi yang dialaminya. Newton akhirnya berkesimpulan bahwa besarnya gaya gravitasi pada benda berkurang seiring kuadrat jaraknya dari pusat Bumi.
1 2 R

(III.6)

Bulan yang jauhnya 60 kali jari-jari Bumi merasakan gaya gravitasi sebesar 1 / 602 = 1 / 3.600 kali gaya gravitasi di permukaan Bumi. Setiap benda yang ditempatkan sejauh 384.000 km dari pusat Bumi akan mengalami percepatan gravitasi sebesar yang dialami Bulan, yakni 0,00272 m/s2. Newton menyadari bahwa gaya gravitasi pada benda tidak hanya bergantung pada jaraknya dari pusat Bumi, tetapi juga pada massanya. Menurut Hukum III Gerak Benda, ketika Bumi melakukan gaya gravitasi pada benda, Bulan misalnya, benda itu juga melakukan gaya reaksi pada Bumi. Besar kedua gaya tersebut sama tetapi arahnya berlawanan. Akhirnya, Newton mengemukakan bahwa besarnya gaya gravitasi berbanding lurus dengan massa kedua benda.
Mm 2 R

(III.7)

26

Wawasan Mutakhir Tata Surya

Dalam hubungan di atas, M massa Bumi, m massa benda, dan R jarak antara pusat Bumi dan pusat benda. Newton melangkah lebih jauh dalam menganalisis gravitasi. Dalam kajiannya tentang orbit planet, ia menyimpulkan bahwa gaya yang diperlukan untuk mempertahankan planet-planet itu bergerak mengelilingi Matahari juga berkurang, berbanding terbalik dengan kuadrat jaraknya terhadap Matahari. Hal itu membuatnya semakin yakin bahwa gravitasilah yang bekerja pada Matahari dan planet-planet sehingga setiap planet tetap pada orbitnya. Jika gaya gravitasi bekerja pada benda-benda ini, mengapa tidak sekalian bekerja pada semua benda? Pemikiran inilah yang mendasari dirumuskannya Hukum Gravitasi Universal. Setiap benda di alam semesta menarik benda lain dengan suatu gaya yang besarnya sebanding dengan hasil kali kedua massa benda dan berbanding terbalik dengan kuadrat jarak antara keduanya. Gaya ini bekerja sepanjang garis yang menghubungkan kedua benda itu. Secara matematis, besarnya gaya gravitasi dapat ditulis sebagai berikut.
m1 m2 R
2

F1,2 =F 2,1= G

(III.8)

Dengan m1 dan m2 massa masing-masing benda, R jarak antara kedua benda, dan G tetapan yang nilainya ditentukan melalui eksperimen.

Hukum Kepler dan Hukum Newton

27

Gaya gravitasi antara dua benda pertama kali diukur oleh Henry Cavendish pada tahun 1798, lebih dari seratus tahun setelah diterbitkannya hukum-hukum Newton. Dalam eksperimennya, ia menggunakan peralatan yang dibuatnya sendiri, sebagaimana yang ditunjukkan pada gambar.

Gambar III.3. Instrumen dalam eksperimen Cavendish. (Henry Cavendish)

Pada peralatan Cavendish, dua bola ditempatkan pada ujung-ujung tongkat horizontal yang digantung pada pusatnya dengan seutas benang halus. Bila bola ketiga didekatkan ke salah satu benda yang digantung, gaya gravitasi menyebabkan bola yang digantung bergerak. Hal ini akan memuntir benang. Pergerakan yang kecil ini selanjutnya diperbesar menggunakan berkas cahaya, yang diarahkan ke cermin. Berkas cahaya

28

Wawasan Mutakhir Tata Surya

ini kemudian memantul dan menimpa skala. Penentuan besarnya gaya yang memuntir benang selanjutnya memungkinkan penentuan besarnya gaya gravitasi antara dua benda. Cavendish tidak hanya memperkuat temuan Newton bahwa dua buah benda saling tarik-menarik, tetapi ia juga dapat mengukur besarnya F, m1, m2, dan R secara akurat sehingga ia mampu menentukan nilai tetapan G. Berikut nilai G yang diterima sampai sekarang.
G =6,6710
11

Nm / kg

(III.9)

C. Penerapan Hukum Gravitasi Universal


Hukum berikut! Bumi bergerak mengelilingi Matahari dalam orbit yang berbentuk hampir lingkaran. Dengan demikian, pada Bumi bekerja gaya sentripetal F sp. Gaya ini berasal dari gaya gravitasi antara Bumi dan Matahari.
Fsp = Fgrav

Kepler

dan

Hukum

Gravitasi

Universal

memungkinkan

diketahuinya besaran-besaran pada anggota Tata Surya. Tinjaulah kasus

v Mm =G 2 R R

(III.10)

Sementara itu, v = 2 R/ T . Diketahui kala revolusi Bumi yaitu 3,15.10 7 s dan jarak Bumi-Matahari yaitu 1,5.10 11 m. Dari data ini, dapat dihitung besar massa Matahari.

Hukum Kepler dan Hukum Newton

29

MMat =

2R R 4 R = 2 T G T G
2

MMat =

4 2 1,5 1011 m

3 2 2

3,1510 s 6,6710
7

11

N m / kg

=2,0110

30

kg

(III.11)

Gaya gravitasi merupakan besaran vektor sehingga penjumlahannya harus menggunakan kaidah penjumlahan vektor. Gambar menunjukkan sebuah benda yang massanya m 1 dipengaruhi oleh benda yang massanya m2 dan m3. Akibatnya pada benda m1, bekerja gaya F1,2, yaitu interaksi antara m1 dan m2, serta F1,3, yaitu interaksi antara m1 dan m3. Berikut resultan gaya gravitasi yang bekerja pada m 1.
F1 = F1,2 F1,3

(III.12)

Gambar III.4. Benda m1 dipengaruhi gravitasi m2 dan m3.

30

Wawasan Mutakhir Tata Surya

Besar resultan gayanya dihitung dengan aturan penjumlahan vektor.


F1 = F2 F2 F 1,2 F 1,3 cos 1,2 1,3

(III.13)

Tinjaulah kasus ketika posisi Matahari, Bumi, dan Bulan membentuk sudut siku-siku pada Bulan! Dapat dihitung gaya gravitasi pada Bulan untuk kasus ini.

Gambar III.5. Susunan ketika Bumi, Bulan, dan Matahari membentuk sudut siku-siku pada Bulan.

Diketahui mBulan = 7,35.1022 kg, mBumi = 5,89.1024 kg, mMatahari = 1,99.1030 kg, RBulan,Bumi = 3,84.108 m, dan RBulan,Matahari = 1,50.1011 m. Berikut gaya gravitasi Bulan-Bumi.

Hukum Kepler dan Hukum Newton

31

FBulan, Bumi = G

mBulan mBumi R Bulan,Bumi


2

FBulan,Bumi =6,67 10 11 FBulan,Bumi =1,9610


20

7,351022 5,891024 2 3,84 108

N (III.14a)

Berikut gaya gravitasi Bulan-Matahari. mBulan mMatahari RBulan ,Matahari


2

FBulan,Matahari = G

FBulan,Matahari = 6,6710 11 FBulan ,Matahari =4,34 10


20

7,351022 1,991030 2 1,501011

N (III.14b)

Karena gaya pada III.14a dan III.14b saling tegak lurus, berikut resultan gaya pada Bulan.
2 FBulan = F2 Bulan ,Bumi FBulan ,Matahari

FBulan = 1,96 10 FBulan = 4,7610


20

20 2

4,34 1020

N (III.15)

Berikut sudut antara gaya resultan dan Fbulan,Bumi.

= arctan

20 FBulan,Matahari 4,34 10 = arctan = 65,70 20 FBulan ,Bumi 1,96 10

(III.16)

32

Wawasan Mutakhir Tata Surya

D. Percepatan Gravitasi Bumi


Gaya gravitasi pada benda-benda di permukaan Bumi tidak lain merupakan berat benda. Jadi, mg =GMm /R 2 sehingga g =GM / R2 . Percepatan gravitasi Bumi g ditentukan oleh massa Bumi dan jaraknya dari pusat Bumi. Jika diketahui percepatan gravitasi di permukaan Bumi 9,8 m/s2 dan jari-jari Bumi R = 6,38.106 m, dapat ditentukan massa Bumi.
2

M=

2 6 gR2 9,8 m / s 6,38 10 m 24 = = 5,9810 kg 11 2 2 G 6,67 10 N m / kg

(III.17)

Dapat pula dihitung percepatan gravitasi di permukaan planet lain, dengan terlebih dahulu mengganti M dengan massa planet yang dimaksud. Tentu saja, R yaitu jarak antara permukaan dan pusat planet yang ditinjau. Bentuk Bumi bukan bulat sempurna, tetapi agak pepat pada kedua kutubnya. Oleh karena itu, jari-jari Bumi berbeda-beda dari satu tempat ke tempat lain. Perbedaan jari-jari Bumi mengakibatkan perbedaan nilai g di permukaan Bumi. Tempat yang jari-jarinya lebih kecil percepatan gravitasinya lebih besar dari tempat yang jari-jarinya lebih besar. Tabel III.1. Percepatan gravitasi di atas permukaan Bumi. ketinggian (km) percepatan gravitasi (m/s2) 1 10 9,80 9,77

Hukum Kepler dan Hukum Newton

33

ketinggian (km) percepatan gravitasi (m/s2) 1.000 2.000 3.000 4.000 5.000 6.000 7.000 8.000 9.000 10.000 50.000 7,32 5,68 4,35 3,70 3,08 2,60 2,23 1,93 1,69 1,49 0,13 0,00

Tabel III.2. Percepatan gravitasi di berbagai tempat di Bumi. tempat Kutub Utara Greenland Stockholm Brussels Banff New York Chicago Denver Canal Zone garis lintang Ketinggian percepatan gravitasi () 90 70 59 51 51 41 42 40 9 (m) 0 20 45 102 1.376 38 182 1.638 114 6 (m/s2) 9,832 9,825 9,818 9,811 9,808 9,803 9,803 9,796 9,800 9,782

San Fransisco 38

34

Wawasan Mutakhir Tata Surya

E. Hubungan antara Hukum Newton dan Hukum III Kepler


Newton dapat menunjukkan bahwa Hukum Kepler dapat diturunkan secara matematis dari Hukum Gravitasi Universal dan Hukum Gerak Benda. Dalam penurunannya, digunakan kalkulus dan transformasi koordinat. Rumit memang, tapi dapat dilakukan perhitungan sederhana untuk menggambarkan hubungan antara Hukum Newton dan Hukum III Kepler. Akan dianalisis gerak melingkar planet. Asumsi gerak melingkar planet dapat digunakan karena memang kenyataannya orbit sebagian besar planet hampir lingkaran. Diandaikan sebuah planet dengan massa m 1 bergerak mengelilingi Matahari yang massanya M mat dengan kelajuan v1. Jika jarak antara planet dan Matahari R 1, maka berlaku hubungan berikut.
Fgravitasi= F sentripetal G G m1 MMat R1
2

= m1

v1 R1

MMat 2 = v1 R1

(III.18)

Jika periode planet ini adalah T 1, maka v 1 =2 R 1 / T 1 dan berlaku hubungan berikut. MMat 4 R1 = 2 R1 T1
35
2 2

Hukum Kepler dan Hukum Newton

T1 R
3 1

4 MMat G

(III.19)

Untuk planet lain, berlaku hubungan yang sama.


T2 R2
2 2

= 3

4 MMat G
3 2 3 T2 1 / R 1= T2 / R 2

(III.20)

Jadi,

atau

2 3 3 T2 1 / T 2 =R 1 / R 2 , serupa dengan Hukum III

Kepler. Tinjau kasus berikut! Periode Bumi mengelilingi Matahari yaitu satu tahun dan jarak Bumi-Matahari yaitu 1,5.10 11 m. Jika diketahui periode revolusi planet Mars yaitu 1,87 tahun, dapat dihitung jarak rata-rata MarsMatahari.
T Bumi R Bumi Mat
3 3 2

T Mars R MarsMat TMars TBumi


2 2 3

R Mars Mat =

RBumiMat
2

R MarsMat =

3 1,87 1,5 1011 m =2,281011 m 2 1

(III.21)

36

Wawasan Mutakhir Tata Surya

F. Tugas Bab III


Jika diketahui massa dan jari-jari planet, dapat ditentukan percepatan gravitasi di permukaannya dengan persamaan g =GM /R 2 . Gunakan data dari tugas bab sebelumnya untuk mengisi tabel berikut!

planet Merkurius Venus Bumi Mars Jupiter Saturnus Uranus Neptunus Matahari

percepatan gravitasi (m/s2)

Catatan: Tentu saja permukaan padat hanya ada pada planet kebumian. Matahari dan planet jovian tidak memiliki permukaan padat.

Hukum Kepler dan Hukum Newton

37

BAB IV

WAWASAN MUTAKHIR TATA SURYA


A. Asteroid
Menurut Aturan Titius-Bode, perbandingan jarak planet dari Matahari mengikuti pola 4, 7, 10, 16, 28, 52, 100, 196, 388, 772. Meskipun tidak ada penjelasan mengapa pola ini berlaku, pola ini memang terjadi pada beberapa planet. Berikut nilai jarak rata-rata planet dari Matahari dan perbandingannya satu sama lain. Tabel IV.1. Perbandingan jarak planet dari Matahari. planet Merkurius Venus Bumi Mars Jupiter Saturnus Uranus sumbu semimayor (km) sumbu semimayor (SA) pengamatan Titius-Bode 57,91.10 km 108,21.10 km 149,60.10 km 227,92.10 km 778,57.10 km 1.433,53.10 km 2.872,46.10 km
6 6 6 6 6 6 6

0,4 0,7 1,0 1,5 5,2 9,6 19,2

0,4 0,7 1,0 1,6 5,2 10,0 19,6

Sekali lagi perlu ditegaskan bahwa tidak ada penjelasan mengapa perbandingan jarak planet dari Matahari hampir cocok dengan Aturan Titius-Bode. Bagaimanapun, astronom ingin tahu apakah memang Aturan Titius-Bode memang berlaku. Jika memang Aturan Titius-Bode berlaku, maka di antara Mars dan Jupiter ada planet yang jaraknya

Wawasan Mutakhir Tata Surya

39

sekitar 2,8 SA dari Matahari. Alih-alih menemukan planet, astronom menemukan sabuk asteroid. Kini, telah diketahui bahwa hanya Merkurius, Venus, Bumi, Mars, Jupiter, Saturnus, Uranus, dan sabuk asteroid saja yang mengikuti Aturan TitiusBode. Benda lain di Tata Surya sama sekali tidak mengikuti aturan tersebut.

1. Sabuk Asteroid
Sabuk asteroid dinamai demikian karena isinya bukan benda tunggal, melainkan kumpulan benda yang membentang membentuk daerah mirip sabuk atau cincin. Sabuk asteroid berada di antara orbit Mars dan Jupiter. Tabel IV.2. Tahun penemuan dan massa beberapa asteroid. asteroid Ceres Pallas Vesta Hygiea Fides Ida massa massa asteroid massa Bumi penemuan (1016 kg) tahun 1801 1802 1807 1849 1855 1884 87.000 31.800 30.000 8.850 130 4,2 0,000145641 0,000053234 0,000050221 0,000014815 0,000000218 0,000000007

Umumnya makin kecil massanya, makin sukar suatu benda diamati. Inilah sebabnya makin kecil massa asteroid, makin terlambat dia ditemukan.

40

Wawasan Mutakhir Tata Surya

Gambar IV.2. Foto Ida dan satelitnya, Dactyl. Foto diambil Gambar IV.1. Foto Ceres, asteroid terbesar, diambil dengan teleskop Hubble.
(NASA/ESA/J. Parker/P. Thomas/L. McFadden)

dengan wahana Galileo. (NASA/JPL)

Asteroid paling besar dinamai Ceres. Bentuknya bulat, diameternya sekitar 950 km. Ceres juga merupakan asteroid pertama yang ditemukan. Sementara itu, kebanyakan asteroid bentuknya tidak teratur. Bulatnya Ceres terjadi karena cukup besarnya massa Ceres sehingga dapat menarik komponen dirinya membentuk bulatan. Tabel IV.2 memuat perbandingan massa beberapa asteroid. Jumlah asteroid sangat banyak. Dapat diperkirakan seberapa rapat sabuk asteroid. Asumsikan bahwa sabuk asteroid tipis, rata-rata orbit asteroid berbentuk lingkaran, dan asteroid tersebar merata! Kemudian, definisikan n jumlah asteroid, d jarak rata-rata antarasteroid, r o jarak batas luar sabuk asteroid dari Matahari, r i jarak batas dalam sabuk
Wawasan Mutakhir Tata Surya 41

asteroid dari Matahari, r jarak rata-rata sabuk asteroid dari Matahari, w lebar sabuk asteroid, dan kerapatan asteroid di sabuk asteroid!
n n n = = 2 2 wr r r i r o r i r o r i
2 o

(IV.1)

Besaran pada dasarnya menyatakan berapa banyak asteroid per luas area. Jadi, 1 / menyatakan berapa luas area yang ditempati tiap asteroid.

Gambar IV.3. Ilustrasi asumsi daerah yang ditempati tiap asteroid di sabuk asteroid. Ditunjukkan juga dua kemungkinan besar jarak sebuah asteroid ke asteroid terdekat. Gambar IV.4. Ilustrasi sebaran asteroid di sabuk asteroid pada 14 Agustus 2006, ditandai sebagai titiktitik putih, dilihat tegak lurus bidang ekliptika. (NASA/JPL/Minor Planet Center)

42

Wawasan Mutakhir Tata Surya

Berikut jarak rata-rata antarasteroid. 4 d1 4 d 2 1 1 2 1 2 = = 2 r 8 2 2

d=

w n

(IV.2)

Dapat dilihat pada gambar IV.4 bahwa lebar sabuk asteroid kira-kira sama dengan radius orbit Bumi. Jadi, r 2,8 150.000.000 km dan
w 150.000 .000 km . Dua nilai ini dimasukkan ke hubungan IV.2

sehingga didapat hubungan berikut.


759.461.738 km n

(IV.3)

Jika

dianggap

terdapat

sejuta

asteroid,

berikut

jarak

rata-rata

antarasteroidnya.
759.461.738 km 759.462 km 1.000 .000

(IV.4)

Jadi jika ada sejuta asteroid, maka jarak rata-rata antarasteroid hampir dua kali jarak Bumi-Bulan. (Jarak rata-rata Bumi-Bulan sekitar 384.0000 km.) Pada jarak sebesar ini, berikut diameter sudut Ceres.

Ceres 2arcsin

950 km / 2 0,07 759.461 km

(IV.5)

Dengan demikian jika dianggap sabuk asteroid tipis, sebarannya merata, dan orbit asteroid berupa lingkaran, maka dari asteroid lain, Ceres

Wawasan Mutakhir Tata Surya

43

tampak sepuluh kali lebih kecil dari ukuran Bulan. (Diameter sudut Bulan sekitar 0,5.) Perkiraan tadi menggunakan asumsi sabuk asteroid tipis. Kenyataannya, sabuk asteroid memiliki ketebalan yang cukup signifikan. Dampaknya yaitu asteroid lebih tersebar karena lebih banyak ruang yang dapat ditempati. Tidaklah aneh jika belum pernah ada wahana luar angkasa yang menabrak asteroid ketika melewati sabuk asteroid.

2. Asteroid Trojan
Sekitar seratus tahun setelah Ceres ditemukan, ditemukan kumpulan asteroid yang mengiringi Jupiter. Kumpulan ini dinamai asteroid Trojan. Sebarannya pada 14 Agustus 2006 dapat dilihat pada gambar IV.4, ditandai sebagai titik-titik hijau. Pada sistem tiga benda, terdapat lima lokasi di sekitar mereka yang besar gaya gravitasinya sama dengan besar gaya sentripetalnya. Lokasi ini dinamai titik Lagrange. Tiga titik Lagrange berada segaris dengan garis hubung pusat massa dua benda, sementara dua titik lainnya membentuk segitiga samasisi yang alasnya garis hubung dua benda. Telah ditemukan juga asteroid Trojan yang mengiringi Mars dan Neptunus.

44

Wawasan Mutakhir Tata Surya

Gambar IV.5. Ilustrasi posisi titik Lagrange sistem tiga benda.

3. Near Earth Asteroid (NEA)


Ada juga asteroid yang orbitnya dekat atau memotong orbit Bumi. Asteroid ini dinamai Near Earth Asteroid (NEA). Dengan demikian jika dulu dikatakan bahwa asteroid berada di sabuk asteroid, kini dikatakan bahwa ada asteroid yang di sabuk asteroid, ada yang mengiringi Jupiter, Mars, dan Neptunus, dan ada yang di sekitar Bumi. Daerah Tata Surya Dalam lebih rapat daripada Tata Surya Luar karena lebih banyak planet untuk luas area tertentu. Dampaknya yaitu usikan gravitasi di Tata Surya Dalam sering terjadi. Jadi, orbit NEA tidak akan berumur panjang. Seiring waktu, orbitnya akan berubah akibat usikan gravitasi dari planet dalam. Asal NEA mungkin dari sabuk asteroid atau daerah tertentu yang mendapat usikan gravitasi Jupiter, planet termasif di Tata Surya.

Wawasan Mutakhir Tata Surya

45

Gambar IV.6. Ilustrasi orbit NEA Atira, Aten, Apollo, dan Amor.

Ditinjau dari orbitnya, ada empat kelompok NEA. (Besaran a yaitu sumbu semimayor, Q yaitu aphelion, dan q yaitu perihelion.) 1. Atira. Orbit asteroid ini berada di dalam orbit Bumi, a < 1 SA, Q < 0,983 SA. 2. Aten. Orbit asteroid ini memotong orbit Bumi, namun sumbu semimayornya lebih pendek dari sumbu semimayor orbit Bumi, a < 1 SA, Q > 0,983 SA. 3. Apollo. Orbit asteroid ini memotong orbit Bumi dan sumbu semimayornya lebih panjang dari sumbu semimayor orbit Bumi, a > 1 SA, q < 1,017 SA. 4. Amor. Orbit asteroid Amor hampir selalu berada di antara Bumi dan Mars, a > 1 SA, 1,017 SA < q < 1,3 SA.

46

Wawasan Mutakhir Tata Surya

B. Komet
Komet juga merupakan anggota Tata Surya. Pun komet beredar mengelilingi Matahari. Ketika mendekati Matahari, bahan pada komet dipanasi Matahari dan menguap. Rata-rata ukuran dan massa komet lebih kecil dari rata-rata ukuran dan massa asteroid. Intinya tersusun atas batuan, debu, bekuan air, dan bekuan gas. Karena massanya kecil, bentuk inti komet tidak teratur. Jika hanya inti saja yang teramati, maka komet hampir tidak dapat dibedakan dari asteroid.

Gambar IV.7. Potret komet Halley, 29 Mei 1910. (The Yerkes Observatory) Gambar IV.8. Inti komet Tempel 1, dipotret dengan wahana Deep Impact. (NASA/JPL/Caltech/UMD)

Wawasan Mutakhir Tata Surya

47

Komet berasal dari luar orbit Neptunus. Jauhnya jarak daerah ini dari Matahari memungkinkan bahan-bahan pada komet tetap beku. Karena usikan gravitasi planet-planet jovian atau bintang yang melintas dekat Tata Surya, orbit komet berubah sedemikian sehingga lintasannya masuk ke daerah Tata Surya Dalam. Di Tata Surya Dalam, radiasi Matahari menguapkan bekuan pada komet. Aliran uap ini membawa serta debu. Jika gaya gravitasi inti komet sanggup menahan uap dan debu ini, terbentuk selubung uap dan debu yang disebut koma. Radiasi Matahari memiliki tekanan. Selain itu, Matahari juga

memancarkan angin Matahari, yang isinya ion. Baik tekanan radiasi maupun angin Matahari mendorong koma sehingga terulur membentuk ekor. Ekor komet dapat membentang hingga sejauh 1 SA dari inti komet. Seperti koma, ekor komet terdiri atas debu dan gas. Rata-rata massa debu lebih besar dari rata-rata massa gas. Jadi, pengaruh tekanan radiasi dan angin Matahari pada debu lebih kecil dari pengaruhnya pada gas. Debu yang terlontar dari inti komet akan tertinggal, membentuk ekor debu yang melengkung. Sementara itu, tekanan radiasi dan angin Matahari selalu mengarah menjauhi Matahari. Akibatnya yaitu ekor gas komet selalu lurus dan menjauhi Matahari.

48

Wawasan Mutakhir Tata Surya

Gambar IV.9. Ekor debu dan gas komet. Ekor gas selalu menjauhi Matahari, sementara ekor debu selalu terseret, melengkung menjauhi arah gerak komet. (NASA Ames Researh
Center/K. Jobse/P. Jenniskens)

Kebanyakan komet memiliki orbit yang sangat lonjong. Berdasarkan orbitnya, komet dibagi menjadi kelompok-kelompok berikut. 1. Komet Periode Pendek. Komet ini memiliki periode kurang dari 200 tahun. Komet periode pendek dibagi lagi menjadi dua kelompok, yakni komet keluarga Jupiter (JFC, Jupiter Family Comet), jika periodenya kurang dari 20 tahun, dan komet
Wawasan Mutakhir Tata Surya 49

keluarga Halley (HFC, Halley Family Comet), jika periodenya antara 20 dan 200 tahun. 2. Komet Periode Panjang. Komet ini memiliki periode lebih dari 200 tahun. 3. Komet Penampakan Tunggal. Komet ini memiliki lintasan berupa parabola atau hiperbola. Dua jenis lintasan ini bukan lintasan tertutup sehingga bisa saja komet ini kemudian lepas dari Tata Surya. Walaupun demikian ketika di Tata Surya Dalam, komet ini belum tentu lepas. Ini karena usikan gravitasi planet jovian dapat menjadikan lintasan komet tersebut elips. 4. Komet Sabuk Asteroid. Telah ditemukan adanya komet di sabuk asteroid. Penemuan komet ini mengaburkan perbedaan antara asteroid dan komet. Boleh jadi komet merupakan asteroid yang memiliki bahan mudah menguap, atau boleh jadi asteroid merupakan komet yang tidak aktif. Dari Hukum III Kepler, dapat ditentukan panjang sumbu semimayor orbit jika diketahui kala revolusi.
Tkomet a3 komet
2

T Bumi a3 Bumi

= 1 tahun2 / SA 3

a komet =

T2 komet 1 tahun
2

SA

(IV.6)

Dari persamaan IV.6, dapat ditentukan panjang sumbu semimayor orbit komet.

50

Wawasan Mutakhir Tata Surya

Tabel IV.3. Panjang sumbu semimayor komet. kelompok asteroid sumbu semimayor JFC HFC periode panjang < 7,4 SA 7,4-34,2 SA > 34,2 SA

Tentu saja bentuk dan orientasi orbit komet beragam dan tidak tetap, tergantung eksentrisitas, sudut kemiringannya terhadap ekliptika, dan usikan gravitasi Neptunus, Uranus, Saturnus, dan, terutama, Jupiter.

C. Sabuk Kuiper
Tahun 1943, Kenneth Essex Edgeworth mengajukan hipotesis keberadaan benda-benda kecil di luar orbit Neptunus. Hipotesis serupa juga diajukan oleh Gerard Kuiper pada tahun 1951. Hipotesis ini didukung oleh kondisi fisik komet. Ketika dekat dengan Matahari, bahan inti komet menguap. Padahal, usia Tata Surya 4,5 milyar tahun. Rentang waktu ini tentu cukup untuk menguapkan seluruh bahan inti komet. Kenyataannya, penampakan koma dan ekor komet masih saja ada hingga kini. Jadi, mungkin saja ada daerah di luar orbit Neptunus yang isinya benda-benda kecil dan inti komet. Dari daerah inilah mungkin komet berasal. Penampakan koma dan ekor terjadi ketika komet ditarik ke Tata Surya Dalam oleh planet jovian. Daerah asal komet periode pendek dinamai sabuk Kuiper, sementara daerah asal komet periode panjang dinamai awan Oort.

Wawasan Mutakhir Tata Surya

51

Gambar IV.10. Sebaran benda-benda di sabuk Kuiper pada 1 Januari 2000, ditandai sebagai titik-titik hijau. Matahari dan planet-planet jovian diberi label nama.
(Minor Planet Center)

Tahun 1992, David Jewitt dan Jane Luu berhasil mendeteksi keberadaan dua benda di daerah sabuk Kuiper. Kini, telah dideteksi keberadaan puluhan benda di sabuk Kuiper. Pluto merupakan anggota sabuk Kuiper. Meskipun demikian ketika Pluto ditemukan, keberadaan sabuk Kuiper tidak dapat dipastikan.

52

Wawasan Mutakhir Tata Surya

D. Planet Kerdil
Ketika Pluto ditemukan tahun 1930, telah diketahui keberadaan Matahari, komet, asteroid, dan tentu saja planet. Dibandingkan planet, orbit Pluto sangat lonjong. Pun orbitnya memotong orbit Neptunus. Bagaimanapun, Pluto berbentuk bundar dan orbitnya bersih dari benda lain. (Ceres juga bundar, namun di sekelilingnya banyak asteroid lain.) Karena itu, Pluto dikelompokkan sebagai planet. Tahun 1990-an, telah ditemukan benda-benda di daerah sabuk Kuiper. Benda-benda ini memiliki orbit serupa Pluto, yakni sangat lonjong dan tidak sebidang dengan ekliptika. Astronom mulai curiga bahwa Pluto merupakan bagian dari kelompok tersendiri yang menghuni sabuk Kuiper. Tahun 2005, telah diketahui keberadaan Quaoar, Sedna, dan Eris. Ukuran ketiganya tidak jauh berbeda dengan Pluto, pun orbitnya juga lonjong dan tidak sebidang dengan ekliptika. Akhirnya pada tahun 2006, International Astronomical Union (IAU) menetapkan definisi-definisi berikut untuk anggota Tata Surya. 1. Planet. Planet yaitu benda langit yang a) orbitnya mengelilingi Matahari, b) massanya cukup besar sehingga bentuknya hampir bulat, dan c) telah membersihkan orbitnya dari benda-benda lain. 2. Planet Kerdil. Planet kerdil yaitu benda langit yang a) orbitnya mengelilingi Matahari, b) massanya cukup besar sehingga bentuknya hampir bulat, c) belum membersihkan orbitnya dari benda-benda lain, dan d) bukan satelit.

Wawasan Mutakhir Tata Surya

53

3. Benda Kecil. Benda kecil yaitu benda-benda selain planet, planet kerdil, atau satelit. Dalam definisi IAU di atas, satelit yaitu benda yang mengelilingi benda lain selain Matahari, yang pusat massa sistemnya di bawah permukaan benda yang dikelilingi. Sementara itu, maksud membersihkan orbitnya yaitu massanya dominan sehingga sekalipun ada benda-benda lain di orbitnya, mereka di bawah pengaruh gravitasi massa dominan tersebut. Dengan demikian, Jupiter merupakan planet karena kumpulan asteroid di orbitnya terikat gravitasi Jupiter, sementara Ceres bukan planet karena pengaruh gravitasinya pada asteroid lain tidak dominan. Melalui spektroskopi, diketahui bahwa kebanyakan benda di sabuk Kuiper tersusun terutama atas bekuan air dan senyawa hidrokarbon.

1. Sejarah Penemuan Pluto


Tahun 1906, Percival Lowell mengadakan pencarian planet kesembilan. Hingga meninggalnya, Percival Lowell tidak menemukannya. Tahun 1929, Vesto Melvin Slipher, kepala observatorium yang didirikan Lowell, menugaskan pencarian planet kesembilan pada Clyde Tombaugh. Setelah setahun mencari objek yang perpindahan posisinya besar pada plat-plat foto, Tombaugh menemukan planet kesembilan. Nama Pluto diusulkan oleh Venetia Burney, siswa sekolah dasar di Inggris.

54

Wawasan Mutakhir Tata Surya

Gambar IV.11. Dua dari sekian banyak plat foto yang diperiksa Clyde Tombaugh. Yang dicari yaitu objek yang pergeserannya besar. Pada gambar, objek tersebut ditandai dengan tanda panah; itulah Pluto.
(Lowell Observatory Archives)

Tahun 1978, James W. Christy memeriksa kembali plat-plat foto Pluto. Dia menemukan bahwa foto Pluto lonjong pada sejumlah plat. Ternyata, periode kelonjongan foto Pluto sama dengan periode rotasi Pluto. Disimpulkan bahwa ada benda lain yang mengorbit Pluto, dengan periode revolusi sama dengan periode rotasi Pluto. Tahun 1985, dipastikan bahwa memang ada benda yang mengorbit Pluto. Satelit Pluto ini dinamai Charon. Akhirnya pada tahun 2005, ditemukan lagi dua satelit Pluto, yakni Nix dan Hydra.

Wawasan Mutakhir Tata Surya

55

2. Kelompok Baru Tempat Pluto


Pluto mengelilingi Matahari dan bentuknya hampir bulat. Sementara itu sejak 1985, diketahui bahwa lingkungan Pluto ditempati oleh banyak benda yang tidak banyak terpengaruh gravitasi Pluto. Jadi, Pluto belum membersihkan orbitnya. Sejak 2006, Pluto dinyatakan sebagai planet kerdil.

Gambar IV.12. Dua dari platplat foto yang diperiksa James W. Christy pada tahun 1978. Foto kiri lebih lonjong dari foto kanan. (United States Naval
Observatory)

Gambar IV.13. Pluto dan tiga satelitnya, dipotret dengan teleskop Hubble. (H. Weaver/A.
Stern/HST Pluto Companion Search Team)

Pun status Charon sebagai satelit dipertanyakan. Jika m yaitu massa dan d jarak pisah Pluto-Charon diukur dari Pluto, dapat dihitung C, jarak pusat massa Pluto-Charon dari Pluto.
mPluto0 mCharond mCharon = d mPluto mCharon mPluto mCharon

C=

(IV.7)

56

Wawasan Mutakhir Tata Surya

Diketahui massa Pluto 1,31.1022 kg dan massa Charon 1,52.1021 kg.


1,5210 kg d= 0,104 d 1,311022 kg 1,521021 kg
21

C=

(IV.8)

Jadi, pusat massa Pluto-Charon selalu terletak pada sekitar 1/10 jarak pisah Pluto-Charon. Sementara itu, diketahui jarak rata-rata Charon-Pluto yaitu 19.600 km. Dapat dihitung jarak pusat massa Pluto-Charon dari pusat massa Pluto.
C = 0,10419.600 km= 1.960 km

(IV.9)

Gambar IV.14. Posisi pusat massa Pluto-Charon berada di atas permukaan Pluto. Jadi, Pluto dan Charon saling mengelilingi.

Wawasan Mutakhir Tata Surya

57

Padahal, jari-jari Pluto 1.195 km. Jadi, pusat massa Pluto-Charon selalu di atas permukaan Pluto. Dengan demikian, ada kejanggalan jika Charon dikelompokkan sebagai satelit. Kini, ada anggapan bahwa Pluto-Charon merupakan sistem planet kerdil ganda.

E. Awan Oort
Tahun 1932 untuk menjelaskan keberadaan komet periode panjang, Ernst pik mengajukan hipotesis keberadaan kumpulan inti komet di bagian luar Tata Surya, lebih jauh daripada sabuk Kuiper. Tahun 1950, Jan Hendrik Oort mengajukan hipotesis serupa.

Gambar IV.15. Ilustrasi perbandingan ukuran awan Oort terhadap sabuk Kuiper dan orbit Pluto. (NASA/JPL)

58

Wawasan Mutakhir Tata Surya

Benda-benda di awan Oort kebanyakan tersusun atas bekuan air dan gas. Meskipun demikian pada tahun 1996, ditemukan asteroid yang menghuni awan Oort. Ada juga planet kerdil di awan Oort, yang ditemukan tahun 2003 dan dinamai Sedna.

Gambar IV.15. Perbandingan ukuran Tata Surya Dalam, Tata Surya Luar, orbit Sedna, dan awan Oort. (NASA/JPL-Caltech/R. Hurt)

Wawasan Mutakhir Tata Surya

59

F. Tugas Bab IV
Carilah informasi dari buku atau situs di internet untuk mengisi tabel berikut!

Wahana Luar Angkasa Era Setelah 2000 nama wahana objek tujuan jenis pengorbit pendarat pelintas

Sumber:

Catatan: Meskipun suatu wahana memiliki objek tertentu sebagai sasaran misi, seringkali wahana tersebut juga digunakan untuk meneliti objek lain yang dilintasi dalam perjalanannya.

60

Wawasan Mutakhir Tata Surya

BAB V

PENGUMPULAN DATA ASTRONOMI


A. Pencatatan Posisi Benda Langit
Objek yang dikaji dalam astronomi yaitu benda langit. Padahal, benda langit ada banyak. Di Tata Surya saja, ada sebuah bintang, delapan planet, ratusan satelit, ribuan asteroid, puluhan benda kecil, dan ribuan komet. Untuk menghindari kebingungan, disusun cara menyatakan posisi benda langit. Umumnya, astronom mengamati benda langit dari permukaan Bumi. Dari permukaan Bumi, benda langit tampak bergerak pada bola langit. Inilah sebabnya rujukan kebanyakan sistem koordinat langit berupa besaranbesaran kebumian. Dalam pencatatan posisi benda langit, Bumi dianggap sebagai pusat langit. Selain itu, informasi jarak tidak disertakan.

1. Sistem Koordinat Horizon


Horizon, atau cakrawala, yaitu garis pemisah Bumi dan langit. Di laut lepas, pengamat seolah-olah berada di pusat horizon. Di daratan atau tepi pantai, horizon bisa saja tidak terlihat karena terhalang bentukan alami, seperti pohon atau gunung, atau bentukan buatan, seperti bangunan. Setiap sistem koordinat pasti memiliki rujukan. Sebagai contoh, rujukan koordinat Kartesian yaitu titik nol. Nilai x, y, dan z diukur dari titik nol ini.

Pengumpulan Data Astronomi

61

Dalam koordinat horizon, rujukannya ada dua, yaitu horizon dan arah utara.

Gambar V.1. Ilustrasi sudut ketinggian.

Gambar V.2. Dua objek yang sudut ketinggiannya sama belum tentu posisinya sama juga.

Di permukaan Bumi, langit tampak sebagai bola raksasa. Sudut yang dibentuk oleh benda langit, pengamat, dan proyeksi benda langit pada horizon disebut sudut ketinggian. Ada banyak kemungkinan posisi yang sudut ketinggiannya sama. Bisa saja suatu objek yang sudut ketinggiannya tertentu ada di timur, barat, tenggara, atau selatan. Dengan kata lain, sudut ketinggian saja tidak cukup untuk menyatakan posisi benda langit. Jadi, perlu didefinisikan satu lagi sudut. Sudut kedua berkaitan dengan jarak objek dari utara. Sudut ini, yang dibentuk oleh utara, pengamat, dan proyeksi benda pada cakrawala, disebut sudut azimut.

62

Wawasan Mutakhir Tata Surya

Gambar V.3. Ilustrasi sudut azimut.

Gambar V.4. Dua kemungkinan posisi proyeksi benda di cakrawala jika arah pengukuran azimut tidak ditentukan.

Sudut azimut dapat diukur dari utara ke timur atau dari utara ke barat. Tidak ada kendala teknis untuk arah manapun yang dipilih. Semata-mata supaya seragam, disepakati bahwa arah yang digunakan selalu utara ke timur.

Gambar V.5. Ilustrasi kesepakatan arah pengukuran sudut azimut. Gambar V.6. Ilustrasi pengukuran sudut azimut suatu objek dengan kompas.

Pengumpulan Data Astronomi

63

a. Deklinasi Magnetik
Sudut azimut yaitu sudut yang dibentuk oleh utara, pengamat, dan proyeksi benda pada cakrawala. Dari definisi ini, dapat disimpulkan bahwa bentangan sudut azimut terletak pada bidang pengamatan. Dengan demikian, nilai sudut azimut dapat diukur dengan kompas.

Gambar V.7. Posisi Kutub Utara Magnet sejak 1931 dan Kutub Utara Geografi. Proyeksi Kutub Utara Geografi pada bola langit merupakan Kutub Utara Langit. Kutub Utara Langit merupakan salahsatu ujung sumbu edar gerak semu harian benda langit. (Off the Beaten Path Maps)

Gerak semu harian benda langit terjadi karena rotasi Bumi. Kutub Utara dan Selatan Langit berhimpit dengan sumbu rotasi Bumi. Sementara itu, medan magnet Bumi timbul bukan karena rotasi, melainkan gerakan

64

Wawasan Mutakhir Tata Surya

logam cair di inti Bumi. Tentu saja inti Bumi ikut berotasi bersama keseluruhan Bumi, namun laju dan variasinya tidak sama. Akibatnya yaitu kutub magnet tidak selalu sama dengan kutub geografi. Yang ditunjuk jarum kompas yaitu utara magnet, bukan utara geografi. Selisih sudut antara utara magnet dan utara geografi disebut deklinasi magnetik. Deklinasi magnetik bernilai positif jika utara magnet di timur utara geografi; nilainya negatif jika utara magnet di barat utara geografi.

Gambar V.8. Deklinasi magnetik bernilai positif jika arah utara magnet di timur utara geografi.

Pengumpulan Data Astronomi

65

Nilai deklinasi magnetik bervariasi untuk tiap tempat dan waktu. Idealnya, dilakukan pengukuran setiap saat. Namun karena aktivitas semacam ini pasti butuh biaya dan perubahan deklinasi berlangsung lambat, dapat digunakan program, misalnya, yang dibuat National Oceanic and Atmosphere Administration (NOAA), atau peta deklinasi magnetik.

Gambar V.9. Peta deklinasi magnetik untuk tahun 2000. Garis-garis pada peta menghubungkan daerah-daerah dengan deklinasi magnetik sama. (National Imaging and Mapping Agency)

66

Wawasan Mutakhir Tata Surya

Gambar V.10. Layanan internet prediksi deklinasi magnetik. (NOAA)

2. Sistem Koordinat Ekuatorial


Tinjaulah kasus pengamatan di khatulistiwa! Lintasan Matahari tegak lurus terhadap bidang cakrawala. Di utara khatulistiwa, lintasan Matahari condong ke selatan. Sementara itu di selatan khatulistiwa, lintasan Matahari condong ke utara. Dengan demikian, sistem koordinat horizon berlaku lokal, bukan global. Pengamatan dapat dilakukan di mana saja. Jika data pengamatan disampaikan pada pengamat dari lokasi lain menggunakan sistem koordinat horizon, dapat terjadi kebingungan. Karena itu, dikembangkan sistem koordinat ekuatorial, yang berlaku global. Sistem koordinat ini pada dasarnya merupakan perluasan sistem koordinat geografi ke bola langit. Rujukan sistem ini yaitu ekuator langit dan Titik Aries. Titik Aries yaitu posisi Matahari ketika tepat di ekuator langit dan Belahan Bumi Utara mengalami musim semi.

Pengumpulan Data Astronomi

67

Gambar V.11. Posisi-posisi Bumi saat ekuinoks dan titik balik Matahari.

68

Wawasan Mutakhir Tata Surya

Gambar V.12. Koordinat ekuatorial merupakan perluasan koordinat geografi ke bola langit. Ekuator langit sebidang dengan ekuator Bumi. Ekliptika yaitu posisi tahunan Matahari terhadap bola langit.

Dalam sistem koordinat geografi, posisi lokasi terhadap ekuator disebut lintang, sedangkan posisi lokasi terhadap Greenwich disebut bujur. Sementara itu dalam sistem koordinat langit, posisi benda langit terhadap ekuator langit disebut deklinasi, sedangkan posisi benda langit terhadap

Pengumpulan Data Astronomi

69

titik Aries disebut asensiorekta. Nilai deklinasi bervariasi dari -90 hingga 90, dengan tanda negatif berarti di selatan ekuator. Nilai asensiorekta bervariasi dari 0h hingga 24h, diukur ke arah timur, dengan 1h sama dengan 15.

B. Gerak Semu Planet dan Bintang


Benda langit sebenarnya memang bergerak, namun pergerakannya sangat kecil jika dilihat dari Bumi. Penampakan bergeraknya benda langit dari timur ke barat terutama disebabkan oleh rotasi Bumi. Selain itu, garis edar benda langit akan berbeda jika dilihat dari lintang yang berbeda.

Gambar V.13. Orientasi pengamat pada lintang 0, 30 LU, 60 LS, dan 90 LS yang berbeda terhadap ekuator.

70

Wawasan Mutakhir Tata Surya

Jika ditinjau dari bidang pengamatan, yang bervariasi yaitu orientasi ekuator terhadap bidang pengamatan. Hal ini diilustrasikan dalam gambar V.14

Gambar V.14. Variasi orientasi ekuator terhadap bidang pengamatan.

Jika orientasi ekuator terhadap bidang pengamatan diketahui, dapat diketahui pula garis edar benda langit dengan deklinasi tertentu. Pada gambar V.15, ditunjukkan garis edar Matahari pada tanggal 21 Desember, yang deklinasinya -23,5. Lintasan benda langit sejajar dengan ekuator. Selain itu jika deklinasinya negatif, lintasan benda langit berada di selatan ekuator.

Pengumpulan Data Astronomi

71

Gambar V.15. Garis edar Matahari pada tanggal 21 Desember di lintang 0, 30 LU, 60 LS, dan 90 LS.

C. Teleskop
Tanpa alat bantu, planet tampak sebagai titik bercahaya di langit. Tidak banyak yang dapat diketahui tentang titik bercahaya ini selain tentang posisi dan pola geraknya. Dengan teleskop, dapat diamati bentuk planet. Hal ini dimungkinkan oleh sifat pembiasan cahaya ketika melewati lensa. Dalam konteks teleskop, lensa yang banyak digunakan yaitu lensa cembung. Pada lensa cembung, 1) berkas sinar sejajar dikumpulkan di titik fokus dan 2) berkas sinar yang melewati pusat lensa diteruskan tanpa dibelokkan.

72

Wawasan Mutakhir Tata Surya

Gambar V.16. Berkas sinar yang melalui lensa cembung untuk kasus terbentuknya bayangan nyata.

Jika f yaitu titik fokus, s posisi benda, dan s' posisi bayangan benda, berlaku hubungan berikut.
1 1 1 = s s' f

(V.1)

Perbesaran bayangan, M, dirumuskan sebagai berikut.


s' s f s f s ' f f

M=

M= M=

(V.2a) (V.2b)

Pengumpulan Data Astronomi

73

Bayangan nyata memiliki perbesaran positif, sedangkan bayangan maya memiliki perbesaran negatif.

Gambar V.17. Berkas sinar yang melalui lensa cembung untuk kasus terbentuknya bayangan maya.

Bayangan maya lebih mudah dilihat daripada bayangan nyata. Ini karena bayangan maya selalu berada di belakang lensa sehingga hampir selalu terlihat jika mata berada dekat dengan lensa. Sementara itu untuk melihat bayangan nyata, jarak mata dari lensa harus diatur sesuai dengan hubungan V.1. Karena itu jika mata yang digunakan untuk

74

Wawasan Mutakhir Tata Surya

melihat bayangan benda, sebaiknya bayangan akhir yang terjadi merupakan bayangan maya. Posisi benda langit sangat jauh dari pengamat sehingga berkas sinar yang datang dapat dianggap sejajar. Dari asumsi ini dan hubungan V.1, berlaku hubungan berikut pada lensa objektif.
fobj s obj =f sobj fobj obj

s ' obj= lim

sobj

(V.3)

Gambar V.18. Sistem optik dengan dua lensa, seperti yang ada pada teleskop sederhana.

Bayangan lensa objektif bersifat nyata dan berfungsi sebagai benda bagi lensa okuler. Karena jarak bayangan ini dari okuler sama dengan fokus lensa okuler, berlaku hubungan berikut.

Pengumpulan Data Astronomi

75

s ' oku= lim

soku f oku

f oku soku = soku f oku

(V.4)

Berikut persamaan perbesaran teleskop. Mtele= lim MobjMoku


s' obj s ' oku sobj soku

sobj ,s ' oku

Mtele= Mtele= Mtele=

sobj , s ' oku

lim

s 'obj s oku fobj foku

(V.5a) (V.5b)

D. Fotometri
Fotometri yaitu pengukuran kecerlangan bintang. Tanpa alat bantu sekalipun, dapat ditentukan mana bintang yang lebih terang dari yang lainnya. Masalahnya yaitu terang atau redup merupakan penilaian subjektif; dibutuhkan penilaian baku yang objektif. Kecerlangan bintang dinyatakan dalam besaran magnitudo melalui hubungan berikut.

m2 m1 = 2,5log

I2 I1

(V.6)

Besaran m yaitu magnitudo dan I yaitu fluks radiasi bintang. Fluks radiasi yaitu energi dari bintang per detik per luas area pada jarak tertentu dari

76

Wawasan Mutakhir Tata Surya

bintang. Satuan fluks radiasi yaitu J.m -2.s-1. Makin terang suatu bintang, makin kecil magnitudonya.

Gambar V.19. Foto gugus Pleiades. Bintang yang lebih terang nampak lebih besar. (NASA/ESA/AURA/Caltech/Palomar Observatory)

Fluks radiasi diterima pada jarak tertentu dari bintang. Jadi makin jauh jarak dari bintang, makin kecil fluksnya. Dampaknya yaitu kecerlangan bintang tergantung pada 1) energi yang dihasilkan per detik dan 2) jaraknya dari pengamat. Berikut perluasan hubungan V.6.

m2 m1=2,5 log

I2 I1
77

Pengumpulan Data Astronomi

m2 m1=2,5 log

L 2 D1 m2 m1= 2,5 log L 1 D2 2


L 2 / 4 D2 L 1 / 4 D1
2 2 2

(V.7)

Besaran L yaitu luminositas bintang dan D jarak bintang dari pengamat. Luminositas yaitu energi yang dipancarkan bintang per detik ke segala arah. Satuan untuk luminositas yaitu J.s-1.

Gambar V.20. Contoh tampilan intensitas piksel foto bintang pada perangkat Iris. Nilai intensitas piksel kedua bintang ditandai dengan kotak merah.

Dengan perangkat lunak pengolah citra, dapat dihitung nilai intensitas piksel foto bintang. Intensitas piksel jelas tidak sama dengan fluks radiasi, tetapi berbanding lurus dengan fluks radiasi. Dengan demikian

78

Wawasan Mutakhir Tata Surya

jika diketahui perbandingan intensitas piksel dua bintang, dapat diketahui pula selisih magnitudo kedua bintang tersebut.

E. Spektroskopi
Spektroskopi yaitu penguraian cahaya bintang. Dari spektroskopi, dapat diketahui, diantaranya, jenis zat pada bintang.

Gambar V.21. Spektrum langit, dengan garis-garis serapan unsur-unsur di atmosfer dan Matahari. (Eric Bajart/G. Maureen)

Setiap

benda

bertemperatur

pasti

memancarkan

gelombang

elektromagnetik. Jika temperaturnya rendah, kebanyakan sinarnya

Pengumpulan Data Astronomi

79

berupa inframerah. Jika temperaturnya sangat tinggi, kebanyakan sinarnya berupa ultraviolet. Jika sinar ini melalui prisma, akan terbentuk spektrum kontinu.

Gambar V.22. Spektrum kontinu dari benda bertemperatur.

Gambar V.23. Lava dengan temperatur 1.000-1.200 C. Lava memancarkan sinar pada semua panjang gelombang, namun yang paling tinggi intensitasnya yaitu sinar merah-kuning. (Hawaii Volcano Observatory)

80

Wawasan Mutakhir Tata Surya

Radiasi dengan frekuensi tertentu yang diterima gas bertekanan rendah digunakan untuk menaikkan tingkat energi elektron. Ketika elektron ini kembali ke tingkat energi semula, radiasi tadi dipancarkan kembali. Nilai frekuensi radiasi ini bergantung pada selisih tingkat energi elektron. Karena susunan elektron bersifat khas untuk tiap atom, frekuensi yang diserap dan dipancarkan akan berbeda untuk atom yang berbeda. Yang teramati oleh pengamat yaitu garis-garis terang pada frekuensi tertentu, tanpa disertai kontinum.

Gambar V.24. Jika terdapat gas renggang di antara pengamat dan sumber radiasi, terjadi garis-garis serapan. Jika sumber radiasi tidak segaris dengan pengamat dan gas renggang, terjadi garis-garis emisi.

Spektrum energi sumber radiasi berupa spektrum kontinu pada semua panjang gelombang. Jika terdapat gas bertekanan rendah di antara sumber radiasi dan pengamat, radiasi dengan frekuensi tertentu digunakan untuk menaikkan tingkat energi elektron. Ketika elektron ini

Pengumpulan Data Astronomi

81

kembali ke tingkat energi semula, radiasi tadi dipancarkan kembali ke segala arah. Yang teramati oleh pengamat yaitu spektrum kontinu dengan garis gelap pada frekuensi tertentu.

Gambar antara Gambar V.25. Nebula planet M 57, yang merupakan lontaran material bintang. Spektrum nebula planet berupa garis-garis terang pada frekuensi tertentu. (AURA/STScI/NASA)

V.26. pengamat Spektrum pada

Korona dan inti

merupakan gas renggang di Matahari. garis korona frekuensi

berupa kontinum dengan garisgelap tertentu. (Luc Viatour)

Alat pengurai cahaya disebut spektrograf/spektrometer. Spektrum cahaya dapat direkam dengan, misalnya, kamera digital. Untuk mengetahui frekuensi garis emisi atau serapan, digunakan spektrum pembanding dari percobaan di laboratorium.

82

Wawasan Mutakhir Tata Surya

Gambar V.27. Searah jarum jam dari kiri atas, logam natrium dipanaskan hingga menguap. Gas panas natrium akan memancarkan sinar pada frekuensi tertentu. Sinar ini diuraikan dengan prisma pada spektrograf. Ditampilkan dua garis emisi sampel gas natrium, dilihat dari teropong pada ujung spektrograf. Tentu saja kini, digunakan spektrograf dan perekam data elektronik.
The Order of the Elements) (BBC Chemistry: A Volatile History -

Pengumpulan Data Astronomi

83

F. Tugas Bab V
Gunakan persamaan V.6 dan V.7 untuk mengisi tabel berikut!

Kecerlangan Relatif magnitudo Matahari -26.7 (Lingkari jawabannya!) Kecerlangan Mutlak DSirius DMatahari 540.000 Jika ditaruh pada jarak yang sama dari permukaan Bumi, yang lebih terang yaitu (Matahari/Sirius). (Lingkari jawabannya!) L Matahari LSirius Sirius -1.44 IMatahari ISirius

Dari permukaan Bumi, yang lebih terang yaitu ( Matahari/Sirius).

Catatan: Fluks bintang diukur dengan bolometer, yang pada dasarnya merupakan pengukur besar energi radiasi yang datang. Jarak bintang diukur menggunakan pengamatan paralaks.

84

Wawasan Mutakhir Tata Surya

GLOSARIUM
Aphelion: Jarak terdekat antara Matahari dan benda yang

mengelilinginya. Asensiorekta: Sudut antara titik Aries dan proyeksi benda langit pada ekuator langit. Asteroid: Benda yang bentuknya tidak beraturan karena gaya gravitasinya tidak cukup besar untuk membulatkan dirinya. Awan Oort: Daerah terluar Tata Surya, diperkirakan merupakan asal komet periode panjang. Sedna merupakan planet kerdil yang aphelionnya mencapai awan Oort. Sebaran benda-benda di awan Oort membentuk bola, melingkupi Tata Surya Dalam. Azimut: Sudut yang dibentuk utara, pengamat, dan proyeksi benda pada cakawala, diukur ke timur. Bayangan Nyata: Bayangan yang dapat diproyeksikan dengan jelas pada layar. Bayangan Maya: Bayangan yang tidak dapat diproyeksikan dengan jelas pada layar. Bintang: Benda yang 1) melangsungkan reaksi fusi sehingga 2) memancarkan sinar. Seringkali, benda yang tidak lagi melangsungkan reaksi fusi, tapi masih memancarkan sinar melalui mekanisme lain, juga disebut bintang. Contohnya yaitu bintang neutron, bintang katai putih, dan bintang katai hitam, yang semuanya tadi sebelumnya merupakan bintang juga. Deklinasi: Sudut antara benda, Bumi, dan proyeksi benda pada ekuator langit.

Glosarium

85

Deklinasi Magnetik: Sudut antara arah utara geografi dan utara magnetik. Ekuator Langit: Perluasan ekuator Bumi ke bola langit. Ekuinoks: Posisi saat Matahari tepat di ekuator langit. Elips: Bangun datar serupa lingkaran yang pepat. Jarak dari pusat bangun ke kurva tidak tetap. Garis terpanjang dalam elips disebut sumbu mayor dan yang terpendek disebut sumbu minor. Jumlah jarak dari kurva ke kedua titik fokusnya tetap. Bersama lingkaran, parabola, dan hiperbola, elips termasuk bangun datar irisan kerucut. Fotometri: Pengukuran kecerlangan bintang. Garis Absorbsi: Garis-garis gelap pada spektrum. Garis Emisi: Garis-garis terang pada spektrum. Gravitasi: Gaya tarik-menarik antara dua massa. Adanya dua massa saja sudah cukup untuk menimbulkan gaya gravitasi. Dalam Teori Relativitas Umum, dijelaskan bahwa gaya gravitasi merupakan akibat kelengkungan ruang-waktu. Komet: Benda yang kisaran massanya seperti asteroid, namun mengandung bahan yang mudah menguap. Jika dekat dengan Matahari, bahan pada komet menguap dan membentuk penampakan seperti ekor. Komet yang bekuannya sudah habis sukar dibedakan dari asteroid. Meteoroid: Benda yang kisaran massanya di bawah asteroid. Meteoroid yang berpijar akibat bergesekan dengan atmosfer disebut meteor. Sisa meteor yang jatuh di permukaan planet disebut meteorit. Orbit: Lintasan suatu benda akibat gaya gravitasi antara benda tersebut dan benda lain. Percepatan: Laju perubahan kecepatan tiap detik.

86

Wawasan Mutakhir Tata Surya

Perihelion:

Jarak

terjauh

antara

Matahari

dan

benda

yang

mengelilinginya. Planet: Benda yang 1) tidak melangsungkan reaksi fusi, 2) bentuknya bulat karena gaya gravitasinya cukup besar untuk membulatkan dirinya, dan 3) pengaruh gravitasinya pada benda-benda lain di orbitnya dominan. Planet Kerdil: Benda yang 1) tidak melangsungkan reaksi fusi, 2) bentuknya bulat karena gaya gravitasinya cukup besar untuk membulatkan bentuknya, dan 3) pengaruh gravitasinya pada bendabenda lain di orbitnya tidak dominan. Sabuk Kuiper: Daerah di luar orbit Neptunus. Pluto menghuni daerah ini. Diperkirakan komet periode pendek berasal dari sabuk Kuiper. Satelit: Benda yang mengelilingi benda lain selain Matahari. Spektroskopi: Penguraian cahaya bintang. Spektroskopi dapat digunakan untuk mengetahui unsur, kerapatan, temperatur, tekanan, atau bahkan kecepatan gerak bintang. Sudut Ketinggian: Sudut yang dibentuk benda, pengamat, dan proyeksi benda pada cakrawala. Tata Surya: Kumpulan planet, planet kerdil, asteroid, komet, dan meteoroid yang mengorbit Matahari. Teleskop: Instrumen optik yang isinya susunan lensa atau cermin. Gunanya yaitu 1) mengumpulkan sinar dan 2) menampilkannya. Gambar dapat ditampilkan pada mata, kamera, atau monitor. Titik Aries: Posisi Matahari ketika tepat di ekuator langit saat belahan Bumi utara mengalami musim semi. Titik Balik Matahari: Posisi terjauh Matahari di selatan atau utara ekuator langit.

Glosarium

87

Daftar Pustaka
Buie, Marc W., William M. Grundy, Eliot F. Young, Leslie A. Young, dan S. Alan Stern (2006), Orbits and Photometry of Pluto's Satellites: Charon, S/2005 P1, and S/2005 P2, The Astronomical Journal 132: 290-298 Foster, Bob (1999), Terpadu Fisika, Jakarta, Erlangga Kamajaya (2004), Pintar Fisika, Jakarta, Ganesha Kanginan, Marthen (1999), Seribu Pena Fisika, Jakarta, Erlangga Malasan, Hakim L. (2002), Sistem Tata Surya, Bandung, ITB Nicholson, Seth B. (1961), The Trojan Asteroids, Astronomical Society of the Pacific, Leaflet No. 381 Person, M.J., A.A.S. Gulbis, J.M. Pasachoff, B.A. Babcock, S.P. Souza, dan J. Gangestad (2006), Charon's Radius and Density from the Combined Data Sets of the 2005 July 11 Occultation , The Astronomical Journal 132: 1575-1580 R., Taufik Ramlan (2003), Ilmu Pengetahuan Bumi dan Antariksa, Bandung, FPMIPA-UPI Ruwanto, Bambang (2004), Asas-asas Fisika, Yogyakarta, Yudhistira S., Amsor (2003), Tata Surya, Bandung, FPMIPA-UPI Williams, David R., penyuntingan terakhir 6 Januari 2005, Planetary Fact Sheets, NASA Goddard Space Flight Center,
http://nssdc.gsfc.nasa.gov/planetary/planetfact.html

Weissman, Paul R. dan Harold F. Levison (1997), Origin and Evolution of the Unusual Object 1996 PW: Asteroids from the Oort Cloud , The Astrophysical Journal 488: L133-L136

Wawasan Mutakhir Tata Surya