Anda di halaman 1dari 3

"Visum et Repertum" dan Rahasia Kedokteran..!

Jakarta, Kompas VISUM et Repertum atau VER adalah laporan tertulis yang dibuat oleh dokter berdasarkan pemeriksaan terhadap orang atau yang diduga orang, berdasarkan permintaan tertulis dari pihak yang berwenang, dan dibuat dengan mengingat sumpah jabatan dan KUHP (Kitab UndangUndang Hukum Pidana). Esensinya adalah laporan tertulis mengenai apa yang dilihat dan ditemukan pada orang yang sudah meninggal atau orang hidup (untuk mengetahui sebab kematian dan/atau sebab luka) yang dilakukan atas permintaan polisi demi kepentingan peradilan dan membuat pendapat dari sudut pandang kedokteran forensik. Surat permintaan VER ditujukan kepada Kepala Bagian Kedokteran Forensik. Dokter yang sedang mendapat giliran melakukan pemeriksaan jenazah pada hari itu adalah yang melakukan pemeriksaan jenazah tersebut. Jenazah yang bersangkutan disita sementara waktu untuk pemeriksaan. Selesai pemeriksaan, jenazah dikembalikan dan sepenuhnya menjadi milik keluarga kembali. Surat permintaan pemeriksaan jenazah ditandatangani oleh polisi berpangkat serendahrendahnya Inspektur Dua. Namun, bila polisi berpangkat sedemikian tidak ada di tempat, maka surat permintaan itu ditandatangani oleh polisi berpangkat lebih rendah namun dengan catatan "atas nama". Polisi tidak mempunyai wewenang menunjuk dokter tertentu untuk memeriksa jenazah tertentu. Dan untuk pemeriksaan jenazah tersebut, dokter yang memeriksa tidak boleh menerima balas jasa dalam bentuk materi atau dalam bentuk apa pun (uang dan lain sebagainya). *** Dokter forensik menyerahkan VER kepada polisi yang meminta. Yang berwenang mengemukakan isi VER itu adalah polisi yang bersangkutan dan bukan dokter yang melakukan pemeriksaan. Adalah hak polisi untuk memberikan keterangan atau menolak memberikan keterangan yang diminta kepada khalayak ramai/wartawan, sedangkan dokter forensik tidak berwenang sehingga tidak diperkenankan untuk mengungkapkan isi VER kepada siapa pun juga (misalnya pers)- apalagi sampai pada detail-detailnya-yang dapat menyinggung pihak-pihak tertentu (misalnya pihak keluarga korban yang diotopsi). Dokter forensik hanya diperkenankan untuk mengemukakan isi VER kepada majelis hakim dalam sidang pengadilan apabila ia dipanggil oleh pengadilan sebagai saksi ahli (kedokteran forensik). Hal ini sedikit banyak berkaitan juga dengan sumpah dokter yang diucapkannya sewaktu dilantik sebagai dokter untuk menjaga kerahasiaan dalam profesinya maupun korban yang sudah meninggal sebagai benda bukti seperti yang akan diuraikan di bawah. Dokter forensik tidak pernah berkewajiban ataupun perlu merasa berkewajiban membuka rahasia mengenai suatu kasus, tetapi ia berkewajiban melaporkan dengan sejujur-jujurnya atas sumpah jabatan bahwa ia akan melaporkan dalam VER semua hal yang dilihat dan ditemukan pada jenazah yang diperiksanya. Seorang dokter ahli forensik pada dasarnya adalah seorang dokter. Ia telah diangkat dan telah diambil sumpahnya sebagai dokter, sedangkan sebagai ahli Ilmu Kedokteran Forensik ia tidak mengucapkan sumpah lain. Pendapat yang menyatakan bahwa dasar Ilmu Kedokteran Forensik

ialah Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) adalah sangat keliru. KUHAP adalah peraturan hukum, bukan sumpah. Dokter forensik tidak diperkenankan memberikan informasi apa pun kepada pihak lain (misalnya media massa kecuali dalam sidang pengadilan) karena tetap saja dokter forensik adalah seorang dokter yang pernah mengucapkan sumpah dokter dan sesuai sumpah dokter, ia harus menyimpan rahasia kedokteran (dalam hal ini termasuk apa yang dilihat dan ditemukannya dalam pemeriksaan forensik). Yang berwenang adalah polisi yang meminta VER. Dan tidak jelas pula pendapat ahli kedokteran forensik yang menyatakan bahwa demi kepentingan umum, dokter forensik diperkenankan memberikan keterangan apabila diperlukan kepada media massa (kepentingan pribadi demi popularitas atau sensasi?). *** Suatu contoh bagaimana akibat pengungkapan rahasia kedokteran dalam kedokteran forensik yang berakibat buruk pernah benar-benar terjadi lebih kurang 10 tahun yang lalu. Sesosok jenazah tanpa kepala akhirnya berhasil diidentifikasi positif oleh dokter forensik sebelum kepalanya ditemukan, bahwa memang benar ia adalah, sebut saja, Tuti. Ketika ibunya dipanggil oleh dokter tersebut, ia pun mengiakan berdasarkan ciri-cirinya bahwa ia adalah si Tuti, putrinya. Ternyata kemudian ada seorang dokter forensik lain yang membocorkan kepada media massa suatu rahasia kedokteran sensitif yang seharusnya ia pegang teguh, yang terbukti kemudian karena media massa lalu mengungkapkan kepada publik bahwa si Tuti adalah pelaku anal seks alias sodomi. Akibatnya sangat fatal. Pada hari itu juga ibu si Tuti datang kembali dan menyatakan bahwa jenazah itu bukan anaknya dan akibatnya ternyata ia tidak bersedia mengambil jenazah itu untuk memakamkannya. Beruntung, akhirnya dengan menggunakan teknik radiografi (pemeriksaan kerangka dengan membuat foto-foto rontgen) dengan melibatkan bantuan seorang guru besar di bidang radiologi (ilmu pemeriksaan dengan sinar-x) maka hasil pemeriksaan kerangka secara radiografis dapat dibandingkan dengan foto rontgen yang pernah dibuat di suatu rumah sakit sewaktu si Tuti masih hidup. Ternyata foto rontgen kerangka jenazah sama benar dengan foto rontgen si Tuti semasa masih hidup. Hal ini membuktikan dan memastikan secara positif bahwa jenazah itu memang si Tuti, maka akhirnya ibu tersebut tidak dapat menyangkal lagi bahwa jenazah itu bukan putrinya. Dari contoh ini dapat ditarik kesimpulan bahwa pembocoran rahasia kedokteran dalam pemeriksaan jenazah bukan saja merugikan nama baik jenazah dan ang-gota-anggota keluarganya, tetapi juga dapat menimbulkan masalah berat lain seperti yang terjadi pada kasus jenazah si Tuti tersebut. Jenazah tidak dapat disamakan dengan benda bukti lainnya, misalnya sepotong kayu yang telah dipakai untuk membunuh, karena sebelumnya ia adalah seorang manusia hidup yang bernyawa, yang mempunyai riwayat kehidupan tertentu, dan dengan demikian juga terdapat ikatan-ikatan tertentu, seperti hubungan dengan anggota keluarganya yang masih hidup maupun dengan kaum kerabat lainnya. Oleh karena itu, hal-hal tertentu yang ditemukan dalam pemeriksaan yang dapat mencemarkan nama baik orang yang sudah meninggal-juga keluarga serta kawankawannya yang masih hidup-itu tidak dapat dibeberkan kepada pihak lain, apalagi untuk dikemukakan kepada publik. Sesuatu yang memburukkan nama baik orang yang sudah meninggal (jenazah) itu pasti akan berakibat aib bagi pihak keluarga yang ditinggalkan. Apalagi informasi yang sensitif dalam suatu kasus sudah sempat dikemukakan kepada pers oleh dokter forensik, insan pers tidak dapat dipersalahkan karena menyebarluaskan suatu berita, sebab sudah menjadi naluri atau kebiasaan untuk menulis apa yang dianggapnya akan sangat menarik perhatian khalayak pembaca.

Oleh karena itu, perlu dijelaskan bahwa dalam setiap pemeriksaan jenazah/ otopsi, dokter yang bersangkutan selalu mencatat semua temuannya dalam apa yang lazim disebut Laporan Obduksi (Laporan Otopsi Medikolegal) yang berisi keseluruhan temuan yang diperoleh dari pemeriksaan jenazah. Hampir seluruh Laporan Obduksi dimasukkan dalam VER, kecuali keadaan yang bersifat sangat pribadi, misalnya keadaan alat kelamin jenazah yang tidak ada relevansinya, kecuali dalam kasus-kasus tertentu, misalnya perkosaan. Prof dr Arif Budijanto Pensiunan Guru Besar dalam Ilmu Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran UI