Anda di halaman 1dari 91

www.rajaebookgratis.

com

Kesastraan Melayu Tionghoa dan Kebangsaan Indonesia

DRAMA DARI KRAKATAU


www.rajaebookgratis.com (Het auteursrccht voorbehonden ingevolge artikel 11 v/d wet in Stbl. 1912 No. 600)Kwee Tek hoay Diterbitkan pertamakali oleh Drukkerij Hon Sinng In Kiok. Batavia, 1929 I pada masa 11.000 taon yang lalu. Sabentar ia keliatan seperti tidur pules hingga beratusan taon lamanya, sabentar lagi ia jadi begitu rajin dan gumbira aken kasi denger suara nyanyiannya yang lebih heibat dari bunyinya meriam, dengen diberikutken lompatnya api dan lumpur panas yang dimuntahken dari dalem perutnya, yang membikin bumi di saputernya jadi bergerak dan langit tertutup oleh asep item dan tebel sedeng aer di lautan jadi mendidih. Saban kalih itu gunung api bekerja, sifatnya pulo Krakatau lantes jadi berobah. Satu tempo ia terangkat naek dari muka lautan hingga beribuan kaki tingginya, laen waktu ia gugur kombali dan ancur jadi bebrapa potong. Begitu ini keadaan berjalan terus sampe orang Europa dateng di pulo Jawa. Perletusan dari Krakatau di jeman dulu yang pernah dicatet adalah terjadi di taon 1680, pada waktu mana ia telah timbulken gempah bumi besar yang dirasaken ampir di seluruh Indonesia. Sajumblah besar lahar (lumpur panas) dan abu ia telah muntahken, tapi lantaran cepetnya tanem-taneman tumbuh kombali di itu pulo, maka bekas-bekasnya itu perletusan lantes tertutup oleh utan yang lebat hingga tida kentara, kacuali oleh orang-orang yang ahli dalem ilmu bumi yang lakuken pepreksaan dengen terliti.2 Pada waktu orang Olanda bikin perpreksaan keadaannya itu pulo-pulo di Selat Sunda, ternyata Krakatau ada satu pulo kosong, tida mempunyai penduduk, dan tingginya 2623 kaki dari muka lautan. Maskipun sudah ternyata itu pulo ada satu gunung api, tapi tida saorang pun yang anggep penting dan berharga aken diperhatiken. Di pulo Jawa sendiri ada gunung-gunung Gedeh, Salak, Tangkuban Prahu, Guntur, Papandayan, Galunggung, Slamet, Sindoro, Merapi, Klut, Bromo, Semeru, Lamongan, Raung dan laen-laen lagi yang letaknya di tenga negri yang banyak penduduknya, yang saban-saban mengancem aken datengkan bahaya dan kebinasaan. Maka siapakah yang nanti mau ambil perduli pada itu gunung api di satu pulo kosong yang letaknya di tenga lautan yang disangka sudah padem apinya? Dua ratus taon blakangan sedari terjadi itu perletusan di taon 1680, yaitu di taon 1877, Krakatau mulai kasi liat tanda-tanda yang ia sudah tersedar kombali

www.rajaebookgratis.com

dari pulesnya yang begitu lama. Sabentar-bentar di Selat Sunda ada dirasaken tanah-goyang, yang orang tida bisa duga dari mana dateng-nya. Ini keadaan tinggal berjalan terus di taon-taon yang berikut. Sampe di taon 1883, pada waktu

Hari yang Menakutken Di jeman kuno sekali pada beribuan taon yang lalu hingga tida ada catetannya dalem hikayat, pulo-pulo Jawa dan Sumatra ada menjadi satu dengen darat besar dari Azia." Di taon 9564 di muka Nabi Isa, di banyak bagian dari muka bumi telah terjadi perobahan besar lantaran adanya itu perletusan dan tanah goyang heibat yang membikin musna benua Poseidonis, yang ampir sama besarnya dengen benua Australie sekarang ini dan terletak di tenga-tenga lautan Atlantis, hingga jadi karem seanteronya, dan cumah ketinggalan saja puncak paling tinggi dari bebrapa gunung yang sekarang terkenal sebagi pulopulo Azoren. Itu Poseidonis yang terkenal juga dengen nama "Atlantis" yang perna diceritaken oleh Plato, ada satu benua yang makmur dan banyak penduduknya, di mana ada berdiri bebrapa kerajaan besar yang jadi pusat dari kasopanan kuno dan memegang prenta atas sabagian dari Europa, Afrika dan Amerika. Binasanya satu benua begitu besar yang karem ka dalem laut telah timbulken perobahan atas banyak bagian dari ini muka bumi. Itu lautan Sahara di Afrika Utara telah jadi kering sama sekali hingga pulo-pulo Algerien menjadi satu dengen Afrika Tenga, samentara Brittannie dan Ierland,1 yang itu kutika masih jadi satu dengen benua Europa, telah terpisa dan menjadi pulo-pulo sendiri. Di benua Azia Timur dan Selatan Timur(Asia tenggara) pun telah terjadi juga bebrapa perobahan. Itu jazirat yang menghubungken Bima, pulo-pulo Sunda Kecil, Java dan Sumatra menjadi satu dengen darat-besar Azia, pun telah terpeca jadi bebrapa potong. Satu perletusan yang heibat telah cereiken Jawa dan Sumatra dengen satu selat yang sekarang terkenal dengen nama Selat Sunda. Di tenga-tenga itu Selat Sunda ada muncul puncak dari gunung api yang berupa pulo yang sifatnya saban-saban jadi berobah menurut tenaga dan pakerjaannya iapunya kawah. Itu keadaan tinggal tetep begitu, dengan terjadi cumah sedikit saja perobahan yang tida sebrapa penting, sampe orang Hindu datang di Jawa aken siarken di ini pulo marika punya kapercayaan agama dan kasopanan. Itu gunung api di Selat Sunda, yang sekarang terkenal dengen nama Rakata atawa Krakatau, tinggal berdiri terus aken cega persatuan kombali antara pulo Jawa dan Sumatra yang ia suda cereiken mana orang baru dapet tau dengen nyata, itu tanah-goyang di Selat Sunda ada berasal dari kerjanya gunung api di bawah lautan di saputernya Krakatau, yang di bulan Mei dari itu taon mulai kasi liat kaheibatannya dengen muntahken lumpur panas dan abu, dengen diberikutken suara perletusan heibat dan gempah

www.rajaebookgratis.com

bumi. Maski begitu masih juga orang tida perduli. Tida saorang pun yang mau ambil pusing atawa taro kuatir pada itu abu dan lumpur panas yang dimuntahken oleh itu gunung api di satu pulo kosong yang letaknya di tenga lautan. Begitulah ini keaadan telah berjalan terus sampe di tanggal 24 Augustus 1883. Di itu pagi udara ada mendung, hingga sinar matahari yang di bulan Augustus biasa menojol5 dengen keras, tida kasi liat keheibatannya di pasisir dari Bantam Kidul. Orang-orang desa bekerja terus di tanah ladangnya seperti biasa. Di kampung-kampung kadengeren suara lesung dari orang-orang prampuan yang menumbuk padi, sedeng di mana-mana tegalan dan sawah-sawah yang sudah jadi kering aernya, kerna itu waktu ada musim kemarau, keliatan ada memaen banyak anak-anak yang lagi mengangon'3 kambing dan kerbonya, dan ada juga yang maen layangan dengen rupa girang. Tapi sedeng penduduk dari desa-desa di pasisir Bantam Kidul tinggal bekerja dengen tetep dan girang seperti biasa, Raden Tjakra Amidjaja, Wedana district Waringin yang pernanya di pasisir Bantam Kidul, lagi berduduk di pendopo dari Kawadanan dengen rupa duka dan bingung. Iapunya istri, Raden Ayu Sadijah, ada berduduk di sampingnya dengen rupa sedih, sedeng biji matanya yang berwarna merah dan sedikit membenggul ada menunjukkan bahua ia abis menangis. "Sudahlah, 'Den, apa guna kau bikin jengkel hati dan kusut pikiran buat perkara yang blon tentu. Bahaya dan kesusahan tida nanti jadi linyap dengen disedihin dan ditangisin. Lebih baek kita srahken saja kita-orang punya nasib kepada Tuhan yang bersifat Murah dan Adil, yang tau begimana musti lindungken pada sekalian umatnya," berkata Raden Tjakra Amidjaja dengen suara lemah lembut pada istrinya itu. "Itu semua ada betul sekali, suamiku," berkata Raden Ayu Sadijah, "dan aku tida sedikit menaro kuatir pada itu bahaya yang sudah terbayang begitu teges dalem impianku yang dateng berulang-ulang dalem ini bebrapa minggu, jikalu kita-orang cumah idup berdua saja dalem ini dunia. Aku sendiri tida ambil perduli pada itu bahaya, cumah yang dikuatirken yalah nasibnya kita punya dua putra, Muhamad dan Soeryati. Apakah aken jadi kalu ini district dan Seantero pasisir tersapu oleh ombak yang lebih tinggi dari puhun klapa, dengen disertaken ujan api dan lumpur panas yang membinasaken segala mahluk yang idup?" "Apakah terus saban malem kau terganggu oleh ini macem impian?" "Betul, dan sifatnya sudah bukan lagi seperti impian, hanya seperti bayangan yang lantes keliatan waktu baru saja aku tidur layap-layap,17 sablonnya pules betul. Malah di kupingku sringkali kadengeran juga suara tangisnya penduduk yang kelanggar oleh itu bahaya." "Kapan begitu, aku rasa tida boleh dibiarken saja. Sabentar sore aku nanti suru panggil Kiayie Haji Anwar buat sampein, dan nanti abis bulan kau musti turut bersama aku aken pergi ka Serang buat mengadep pada Doktor Blanda aken minta obat, sebab aku rasa kau dapet penyakit zenuwl8 yang keras sedari abis diserang demem yang paling blakang."

www.rajaebookgratis.com

"Aku sedia aken iringin kahendakmu buat minta pertolongan dukun atawa doktor aken sembuhken ini penyakit,kalu kau anggep apa yang aku alamken dalem ini bebrapa minggu ada satu penyakit. Cumah aku sendiri rasa itu bayangan atawa impian bukan penyakit, hanya ada alamat dari bahaya yang bakal dateng. Sedari sering rasaken tanah goyang dan itu pulo Krakatau di tenga laut mengaluarken asep dan bersuara seperti guntur atawa meriam, aku lantes dapet itu firasat yang menunjukken kita-orang di sini bakal diserang bahaya heibat. Aku kuatir sanget, itu gunung di tenga laut nanti datengken bincana." Raden Tjakra Amidjaja berbangkit, lalu berjalan mundar-mandir dengen rupa memikir keras. Akirnya ia berkata: "Sedari bulan Mei ini taon tukang-tukang penangkep ikan membawa kabar dari bekerjanya itu gunung di pulo Krakatau, sabentar heibat, sabentar sirep20 kombali. Tapi sampe sebagitu jau blon perna mendatengken bincana apa-apa pada manusia, kerna itu pulo tida mempunyai penduduk. Tapi sekalipun betul itu gunung api meletus dengen sacara heibat, letaknya yang begitu jau di tenga laut nanti membikin kita-orang disini terluput dari bahaya. Laen perkara kalu yang meletus ada Gunung Karang atawa Gunung Walirang,aku mau percaya banyak kota dan desa aken

menjadi rusak. Tapi buat satu pulo kecil seperti Krakatau yang terletak begitu jau dengen diputeri oleh lautan lebar, tida nanti bisa terbitken bahaya apa-apa, itulah aku boleh pastiken! Maka itu Den, janganlah turutken pengrasaan hatimu yang murung dan sedih dengen zonder alesan, hanya berlakulah biar gaga dan tetep hati seperti satu prampuan turunan bangsawan yang bakal jadi Raden Ayu Bupati. Liatlah itu rahayat21 negri yang ada di saputer ini tempat. Bukankah iaorang semua ada dalem kasenangan dan kegirangan serta bekerja seperti biasa? Malah di pasisir satiap hari ada rame, banyak orang berkumpul aken menonton asep yang mulei kaluar dari puncaknya Krakatau iaorang sama sekali tida unjuk takut dan kakuatiran kerna tida ada lantaran buat kita musti takut." "Oh, kalu itu orang-orang dapet liat itu bayangan yang aku sering liat dan impiken dengen begitu teges!" "Peganglah resia dari ini perkara, jangan omongken pada satu orang, kerna nanti menimbulken kekalutan dengen percumah. Kalu hatimu merasa takut dan kuatir, baeklah besok pagi kau dengen Moehamad dan Soeryati brangkat ka Rangkas-gombong,22 di mana ayahku ada jadi Bupati, dan diam di sana sampe semua bahaya sudah liwat dan sekalian aken berobat buat sembuhken kau punya penyakit. Abis bulan, kira-kira tanggal ampat atawa lima, aku nanti menyusul aken ajak kau pergi ka Serang buat minta dipreksa oleh doktor. Kalu perlu, aku nanti bawa kau ka Betawi buat berobat pada doktor-doktor yang pande di sana." "Suamiku, aku tida tega tinggalken kau sendirian di ini tempat aken hadepken itu bahaya..."

www.rajaebookgratis.com

"Itu bahaya cumah ada dalem pikiranmu sendiri. Laen orang tida ada pikir bahaya apa-apa yang musti di kuatirken." "Aku pun harep-harep itu bayangan dan impian yang aku dapet semua palsu adanya. Tapi aku minta, tinggal dulu di sini sampe hari Senen tanggal 27, kalu di itu hari semua slamet, tida ada bahaya apa-apa, aku nanti brangkat ka Rangkas-gombong." Raden Tjakra Amidjaja lalu berpamitan dengen istrinya, berjalan saorang diri menuju ka pasisir yang diteduhi oleh puhun-puhun klapa, yang bergoyang manggut-manggutan Bincana = bencana. Sirep = reda. Rahayat = rakyat. ditiup oleh angin laut yang amat adem dan segar. Itu aer laut yang berwarna biru dari Selat Sunda bergerak dengen perlahan memukul pada pasisir, sedeng di udara ada beterbangan bebrapa burung bango laut dan ulung-ulung yang sabentar-bentar turun ka muka aer dengen amat cepet seperti kilap aken menyamber ikan. Bebrapa prau dengen layarnya melembung tertiup angin, ada belayar di sepanjang pasisir. Di kejauhan di tepi langit ada mengebul asep dari sebua kapal api yang sedeng belayar menuju ka Sumatra Barat. Tapi itu kepala district tida perduliken pada ini semua pemandangan indah yang ia suda biasa liat satiap hari. Matanya menuju ka jurusan pulo Krakatau, yang terletak kira 15 mijl dari pasisir, yang puncaknya dalem ini bebrapa hari selalu diliputi oleh asep item dan tebel yang beruntun kaluar dari iapunya kawah. Sabentar-bentar keliatan seperi ada apa-apa yang lompat kaluar dari puncaknya itu bukit, seperti asep dari semprong4 kapal api atawa locomotief yang berjalan keras. Tida berselang lama lalu kadengeran suara gelegeran seperti bunyinya gluduk dari kejauan. Bebrapa orang desa, antara mana ada satu Lurah yang tinggal di deket pasisir, tatkala meliat itu kepala district, lalu menghamperi dan berdiri sedikit jau, Raden Tjakra Amidjaja lalu gapein5 itu kepala desa yang lantes dateng deket dan berjongkok di hadepannya. "Begimana kau rasa, Lurah," kata itu Wedana, "apakah bekerjanya itu gunung api dari pulo Krakatau sekarang semingkin heibat atawa kurangan dari bebrapa hari yang lalu?" "Wah, juragan, semingkin keras! Di waktu malem keliatan seperti ada api menyalah berkobar-kobar, sedeng suaranya yang bergemuruh jadi semingkin sering dan bertambah nyaring. Tukang-tukang tangkep ikan sekarang tida brani belayar mendekati itu pulo, kerna katanya aer laut di saputer itu tempat ada panas dan mendidih." "Kapan begitu, Lurah, aku minta kau atur penjagaan di pasisir sini buat awasin keadaannya itu pulo siang dan malem. Kasi giliran pada mandoor-mandoor dengen dibantu oleh orang-orang kumpenian buat menjaga, dan kalu ada kejadian apa-apa yang kurang baek atawa mengua-tirken, lekas kasi rapport padaku, biarpun tenga malem kau musti lantes bangunin aku."

www.rajaebookgratis.com

"Baeklah, juragan, tapi hamba sendiri rasa tiada ada apa-apa yang berbahaya, sebab itu gunung ada jau dari sini." "Aku pun rasa juga begitu. Tapi menjaga dan berlaku hati-hati tida ada jahatnya." Sasudahnya briken ini prenta, Raden Tjakra Amidjaja brangkat ka Kawadanan dengen kepala tunduk sambil berpikir. Apakah boleh jadi itu alamat jelek yang didapet oleh istrinya ada dengen sasunggunya? Sasudahnya Raden Ayu Sadijah dapet penyakit demam di otak pada satu taon yang lalu, peringetannya tida begitu baek seperti dulu, hanya selalu murung dan sedih dan sering gugup atawa zenuwachtig. Kalu kejadian apa-apa yang mengagetken, upama denger orang bertreak, anak kecil menangis atawa anjing mengong-gong lantes badannya gumeter dan hatinya memukul keras. Doktor Blanda di Serang yang perna preksa kewarasannya itu Raden Ayu ada bri advies buat kasi ia mengaso di tempat sunyi di mana ia terbebas dari segala hal yang menjengkelken dan menganggu pikiran. Tapi itu nyonya sendiri tida mau ladenin ini nasehat, kerna merasa dirinya tida sakit apa-apa. Ia terlalu cinta pada suaminya buat idup dengen terpisahhingga kalu ia berada di laen tempat itu kekwatiran bagi suaminya ada lebih menganggu pikirannya dari pada tinggal terus dalem Kawadanan Waringin. Itu tabeat murung dan suka bersedih, yang sudah berjalan ampir satu taon dalem tempo paling blakang telah jadi bertambah dengen kapercayaan bahua satu bahaya heibat ada mengancem bukan saja pada ia sendiri dan suaminya, tapi juga pada seantero penduduk dari district Waringin dan laen-laen tempat di sapanjang pasisir Bantam. Itu kutika blon ada tanda apa-apa yang menunjukken itu gunung api di pulo Krakatau bakal bekerja kombali. Raden Ayu bilang ia dapet itu alamat dari bunyinya burung gaok dari suaranya iapunya tikukur dan dari mengulunnya6 anjing-anjing di waktu malem. Iapunya suami berdaya segala rupa aken bikin itu firasat jelek berlalu dari pikiran istrinya, tapi semua sia-sia, dan malah kapercayaannya pada itu bahaya yang nanti dateng jadi semingkin keras lantaran munculnya satu serie impian atawa bayangan heibat yang berupa turun ujan api, dunia jadi peteng, aer laut naek ka darat rendem antero pasisir dan laen-laen kejadian yang heibat. Bagi saorang terplajar seperti Raden Tjakra Amidjaja, kaluaran dari Opleiding School di Bandung, ini semua alamat dan firasat jelek dari istrinya sudah tentu ia boleh trausah perduli atawa lempar saja ka samping, dan anggep itu semua sudah dateng dari saorang yang otaknya terganggu atawa pikirannya kurang beres. Tapi selama istrinya dapet itu penyakit, ia telah buktiken bebrapa kejadian yang menunjukken ramalan istrinya ada betul. Bebrapa bulan yang lalu, di satu malem waktu lagi tidur pules, ia dibangunin oleh istrinya yang bertreak minta tolong kerna katanya ada satu prau telah kelebu2 6 kepukul ombak di pasisir hingga banyak orangnya dapet kematian. Itu waktu jam 12 malem, sedeng turun ujan dan angin ribut, lautan pun bergoncang keras, hingga gemuruhnya ombak yang mendampar ka pasisir kadengeran dengen

www.rajaebookgratis.com

amat tegas. Tatkala ditanya dari mana ia dapet tau itu kecilakaan, Raden Ayu sendiri menjadi bingung kerna... ia mengimpi! Tapi itu impian lantes berbukti dengen contant.27 Pagi-pagi ia dibangunin oleh satu orang suruan dari kepala desa Sukarame yang bawa kabar bahua di pasisir dari Tanjung Ketapang yang pernanya di Telok Carita, semalem waktu ujan ribut dan ombak besar, satu prau sampan yang muat coprah28 dari Labuan aken belayar ka Anyer Kidul telah jadi karem dan terdampar di pasisir, sedeng dari sapulu anak buahnya, ada anem yang ilang di laut. Jadi apa yang Raden Ayu impiken ada hal yang kejadian dengen sasunggunya! Di laen harinya pula, Raden Ayu mengimpi dapet liat iapunya Nene di Cilegon sedeng rebah dengen dibungkus oleh kaen putih. Besoknya dateng surat yang mewartaken, itu orang tua telah meninggal dunia! Ini hal ajaib, ditambah pula dengen bebrapa kejadian laen yang mengheranken, ada menunjukken Raden Ayu Sadijah sasudahnya sembuh dari itu penyakit demem di otak yang berbahaya, telah dihinggapi satu keadaan yang dalem ilmu roh manusia atawa juga dalem occultisme ada dinama-ken clairvoyance, yaitu bisa meliat segala hal yang bakal terjadi, atawa yang telah kejadian di tempat jauh. Tapi Raden Tjakra Amidjaja tida mengarti keadaan dari istrinya itu yang firasatnya, maskipun dalem bebrapa hal telah terbukti nyata, ia masih separo percaya separo tida, yang ia paling jengkelken dan buat pikiran bukan pada itu bahaya yang aken menimpali pada district Waringin, yang dianggep ada terlalu tida masuk di akal buat dipercaya hanya terutama begimana musti berdaya aken bikin sembuh penyakit dari istrinya, yang kewarasannya semingkin lama jadi bertambah rusak lantaran dalem ini satu minggu yang paling blakang ampir satiap sore Raden Ayu Sadijah diganggu oleh impian dan pengliatan dari itu bahaya yang menakutken, yang tida bisa disangkal lagi ada tanda-tanda dari permulaan penyakit gila. Tapi seperti di atas sudah dibilang, bebrapa bukti dari kabenerannya firasat dari istrinya membikin ia jadi satenga percaya pada itu bahaya. Tentang bekerjanya Gunung Krakatau ia telah briken rapport pada Assistant Resident di Rangkas-gombong, tapi dari itu kepala negri ia tida dapet titah apa-apa aken ambil aturan buat menolak itu bahaya. Satu kalih, tatkala ia ceritaken pada ayahnya, Bupati dari Rangkas-gombong yang perletusannya Krakatau bisa terliat dari pasisir itu ayah bilang ia sudah berjanji dengen Assitent Resident aken satu waktu mau pergi jalan-jalan ka Waringin buat menonton itu perletusan! Jadi dari fihak Bestuur,29 sebagi juga dari fihak rahayat, tida ada dikuatirken satu apa tentang itu bahaya yang bisa terbit dari bekerjanya itu gunung api di tenga lautan. Maka jikalu kiranya iapunya Raden Ayu tida begitu jengkel dan ketakutan lantaran adanya itu alamat-alamat heibat, tida satu apa yang bisa menganggu bagi iapunya kasenangan di itu waktu. Raden Ayu Sadijah membri pikiran aken suaminya masuk rekest7 aken minta dipindain ka district yang jau dari pasisir atawa verlof8 saja buat tiga bulan supaya bisa menyingkir dengen sakalian anak-anaknya ka laen tempat sampe

www.rajaebookgratis.com

itu bahaya sudah liwat. Tapi ia tida setuju dengen ini pikiran, kerna kewarasannya sendiri tida terganggu hingga tida ada alesan buat minta verlof. Laen dari itu, ia naek pangkat jadi wedana baru satu taon, hingga tida ada sebab buat minta dipindah ka laen tempat. Dari itu, sasudahnya berpikir bulakbalik ia pulang ka Kawedanan dengen ambil putusan tetep aken singkirken istri dan anak-anaknya ka Rangkas-gombong, sedeng ia sendiri tinggal tetep di Waringin dengen srahken nasibnya pada Tuhan Yang Maha Kuasa kalu sampe firasat dari istrinya jadi berbukti. II Telat Pada hari Minggu malem Senen tanggal 26 jalan 27 Augustus 1883, antero penduduk di pasisir Bantam tida ada yang bisa tidur pules. Itu gunung api Krakatau di Selat Sunda telah bekerja dengen begitu heibat, hingga suaranya yang bergemuruh seperti juga bebrapa ratus meriam di-bunyiken dengen berbareng membikin tulinya kuping. Di seantero hari matahari tida unjuk rupanya, kerna udara tertutup oleh asep tebel yang dimuntahken oleh itu gunung. Dengen diberikut-ken abu alus yang turun seperti ujan grimis, hingga genteng dan atep rumah, begitu pun daon-daon puhun dan rumput di tegalan, jadi berwarna putih semu abu seperti terpalut salju. Semua rumah-rumah musti ditutup pintu dan jendelanya aken mencega masuknya itu abu, sedeng orangorang yang jalan di straat32 terpaksa tutup idungnya dengen saputangan atawa kekaenan yang jarang supaya tida kena sedot itu abu yang terbang kian-kemari. Saben kalih kadengeran suara perletusan heibat, yang membikin daon pintu dan kaca-kaca jendela jadi bergumeter dan beradu satu pada laen, bumi pun keliatan telah turut bergerak, hingga barang-barang perhiasan tembok lompat jato di tanah dan lampu-lampu yang tergantung berayun-ayun. Aer laut berombak keras hingga tida satu prau brani belayar ka tengah, sedeng prauprau kecil yang ada di pasisir semua telah ditarik naek ka darat supaya terluput dari damparannya ombak. Di itu malem di pendopo dari Kawedanan Waringin ada dipasangin lampu terang-terang, kerna disitu ada berkumpul puluan orang, oppas-oppas dan politie desa aken denger dan jalanken prenta-prenta dari Wedana. Penghulu desa, Kiajie-kiajie, Santri-santri, Imam, Chatib dan Haji-haji, semua berkumpul rame-rame di massigit33 dan langgar-langgar (tempat sembahyang) aken berdowa memuji pada Tuhan buat minta berkah slamet. Semua orang merasa bingung dan ketakutan, tapi tida tau apa musti bikin, Raden Tjakra Amidjaja sendiri tiada tau aturan apa musti diambil aken lawan itu bahaya dari natuur. Ia cumah bisa kirim satu kopral (mandoor oppas) aken pergi ka Rangkas-gombong dengen berkuda membawa satu rapport dari heibatnya keadaan, kerna itu waktu belon ada telefoon dan sekalian minta Assistent Resident kasi instructie begimana harus berbuat aken melindungken rahayat kalu sampe timbul kejadian yang lebih heibat. Selama mengatur ini-itu, tida satu saat pun ia lupaken pada itu ramalan dari istrinya yang sekarang keliatannya mulai berbukti. Kalu keadaan tinggal tida

www.rajaebookgratis.com

berobah, besok pagi ia mau kasi prenta supaya antero penduduk yang ada di pasisir pergi menyingkir ka tempat-tempat yang tinggi di pagunungan di mana dirasa aer laut tida bisa sampe. Pada bebrapa toko dan warung Tionghoa ia telah minta catetan dari banyaknya persediaan beras, garem, ikan dan laen-laen barang makanan yang bakal diangkut aken guna pen-duduk yang hendak disuru menyingkir ka Menes atawa ka desa-desa di kaki gunung Aseupan yang pernanya tinggi. Iapunya anak dan istri besok pagi bakal dikirim ka Rangkasgombong dengen naek dokar. Selama ini keributan, Raden Ayu Sadijah, yang biasa begitu zenuwachtig, sekarang keliatan kalem dan sabar. Duluan ia sanget jengkel dan susa hati kerna nasehatnya tida diperduliken. Sekarang sasudanya iapunya impian dan bayangan ampir kejadian hingga semua orang jadi men-dusin34 atas adanya itu bahaya, iapunya hati merasa senang, kerna tau betul antero penduduk tentu turut prenta dari suaminya aken menyingkir ka tempat yang jau dari pasisir, hingga terluput dari itu bahaya heibat. Ia cumah kuatir itu bahaya nanti dateng sablonnya rahayat keburu menyingkir, maka tiada putusnya ia berdowa pada Tuhan aken minta pertulungan dan perlindungannya pada rahayat se kalian. Maskipun Raden Ajeng Sadijah ada turunan dari Bumi-putera Bangsawan, kerna ia ada keponakan dari Bupati Karang-Antu, ia tida perna trima plajaran seperti anak-anak prampuan sekarang. Pada 45 taon lalu pun orang belon dapet pikiran aken membri didikan yang sempurna bagi anak-anak prampuan. Apa yang ia dapet cumah pla-jaran model kuno, Mendusin = sadar, terbangun dari tidur. yaitu mengaji, membaca dan menulis dalem huruf Arab. Dalem waktu yang suker seperti sekarang ini sedikit plajaran ada menulung juga aken besarken hatinya. Ia pimpin sekalian orang prampuan, istri-istri dan jurutulis, mantri lumbung, mantri irrigatie,9 mantri garem dan laen-laen ambtenaar kecil yang dipanggil berkumpul di Kawedanan aken berdowa pada Tuhan buat minta berkah slamet. Merdu sekali kadengerannya itu suara yang diucapken dengen lemah lembut oleh itu orang-orang prampuan yang berdowa pada Tuhan dalem bahasa Arab. "Allahuma inna nastainuka, wa nastachfiruka, wa numinu nika, wa natawakkalo alaika, wa nusni alaikal khaira, wa nash kuruka, wa lanakforoka, wa nak lao wa natroko man tafdjoroka. Allahumma ijjaka, nabodu wa laka, nussali wa nasjodo, wa alaika nasa wa nahfido, wa narju rahmataka, wa naksha azabaka inna izabaka bilkuffari mulhik." (Oh, Allah, kita-orang muhun kau punya pertulungan, minta perlindunganmu dan taro percaya kapadamu, dan pasrahken diri pada Kau dengen sagenep hati, kita bersukur pada Kau, dan kita tida bisa lupaken kamurahanmu, dan kita singkirken dan tinggalken orang yang brani langgar titahmu. Oh Tuhan! Kita singkirken dan tinggalken orang yang brani langgar titahmu, Oh Tuhan! Kitaorang bersedia aken jalanken titahmu, pada Kau kita berdowa dan unjuk hormat, dan pada Kau kita berlari kalu ada bahaya, dan kita nanti cari Kau dengen lekas, kita harep Kau punya kesian dan kita takut pada Kau punya

www.rajaebookgratis.com

hukuman sebab pasti sekali itu hukuman nanti menimpah pada siapa yang tida taro percaya padamu) Saban kalih abis berdowa, marika rame-rame menyebut. "Amin" yang kemudian diberikutken dengen jikiran: "Ash-hadoan Ia Ilaha illallah! Ash-hadoanna Mohammad-ar-Rasul Allah!" Kamudian dilanjutken pula laen dowa terus sampe pagi, dengen tida saorang yang dapet ingetan buat tidur, kerna itu suara gemuruh yang seperti bunyi meriam membikin tida saorang pun bisa pules dengen senang. Di itu hari yang sanget ngeri dari tanggal 27 Augustus 1883, matahari tida unjuk rupanya. Beduk di massigiet sudah dibunyiken aken memberi inget pada sekalian kaum Muslimin aken sembahyang Salat-ul Fajar, tapi di atas langit tida ada sedikit pun cahya terang yang keliatan, baek dari sinar matahari pagi, atawa pun dari bintang-bintang. Antero langit ada gelap seperti tertutup oleh kaen item. Cahaya terang satu-satunya cumah kaliatan di Selat Sunda, di jurusan di mana ada letaknya gunung Krakatau, yang sabentar-sabentar berkebur cahya api yang dimuntahken dari perut gunung, dengen disertaken juga 14 13 berkredepnya36 kilap yang tida bren-tinya samber menyamber. Jam 6 pagi keadaan masih tinggal tak berobah. Ayam-ayam berkruyuk seperti biasa, kambing dan domba yang ada di dalem kandang mulai berbunyi aken minta dilepasken buat pergi mencari rumput di tegalan. Tapi dari lantaran gelap, tiada saorang pun yang mau ambil perduli, sedeng rumah-rumah masih terus dipasangin lampu. Jam 7 pagi barulah keliatan cahya remeng-remeng dari sinarnya matahari yang coba tembusin itu asep tebel yang melayang di udara. Tapi perobahannya itu Betara Suria aken pencarken sinarnya ka dunia telah jadi gagal, kerna dari Gunung Krakatau tida brentinya dimuntahken asep bergulung-gulung yang sabentar-bentar menutupi antero langit. Dengen rupa lelah lantaran malem tida tidur, Raden Berkredep = mengkilap. Tjakra Amidjaja duduk di pendopo, dihadiri oleh kepala-kepala desa dan orangorang politie aken trima prentanya yang pengabisan. Sasudahnya irup satu cangkir kopi, ia membri tau putusannya supaya antero penduduk yang tinggal di deket pasisir lari menyingkir ka sebla ulu dengen membawa harta banda sakedar yang bisa diangkut. Bebrapa grobak dan cikar sudah dibikin sedia aken angkut beras dan laen-laen barang makanan. Ia minta supaya ini kabar disiarken pada sekalian penduduk, yang lantes musti bersiap supaya bisa menyingkir rame-rame sablonnya hari jadi sore. Tatkala itu kepala-kepala desa sudah bubaran aken jalan-ken itu prenta, raden Ayu Sadijah sudah beresken segala barang berharga yang musti diangkut, dateng membri inget pada suaminya yang sekarang sudah sampe temponya aken brangkat.

www.rajaebookgratis.com

"Kang Raka," kata itu Raden Ayu, "Paling baek kita brangkat sekarang, kerna jikalu tida, saya kuatir nanti jadi kasep."10 "Aku tida bisa brangkat sekarang, Den," saut itu Wedana sambil tersenyum; "Aku tida bisa berlalu dari sini sablonnya ini tempat jadi kosong betul-betul. Laen dari itu aku punya jabatan sebagi kepala district mewajibken padaku aken menjaga harta dan miliknya antero rahayat, supaya barang-barang yang tida keburu diangkut, yang 15 ditinggalken dalem rumah-rumah yang sudah kosong, tida diganggu oleh pencuri dan penjahat." "Kalu begitu kapankah kita aken brangkat?" "Kau sendiri boleh brangkat sekarang juga bersama anak-anak, dan aku nanti menyusul dari blakang kalu dirasa pakerjaan di sini sudah slese." Raden Ayu Sadijah bengong dengen rupa sedih. Akhirnya ia manggutken kepala dengen berkata: "Itu pikiran ada betul sekali, Kang Raka. Satu pembesar musti menjaga keslametannya rahayat maski diri sendiri musti binasa. Memang kurang pantes kalu kau berlalu sedeng persediaan dari rahayat aken menyingkir masih blon slese. Kalu begitu, biarlah aku tinggal juga bersama-sama kau di sini, sebab krang pantes satu istri cari keslametan buat dirinya sendiri, sedeng suaminya ada dalem bahaya. Biarlah kita-orang idup dan mati bersama-sama ! " "Jangan pikir begitu, Den! Kau musti berlalu dari sini buat anter kita punya anak-anak ka tempat yang slamet. Tentang nasib diriku jangan kau kwatirken, sebab aku ada punya satu kuda tunggang yang sudah sedia buat dipake sembarang waktu, hingga dengen lekas aku bisa menyingkir kalu sampe betulbetul ada bahaya." "Tida, aku tida bisa biarken kau, suamiku yang tercinta, hadepken bahaya dengen sendirian saja. Sebagi satu istri aku wajib bantu dan rawat padamu, serta turut pikul segala bahaya dan kesusahan, sampe di saat yang paling pengabisan." Raden Tjakra pelok dan cium istrinya dengen penu rasa kagum dan kecintaan. Iapunya hati merasa sanget terharu meliat sikep yang gaga dan setia dari Raden Ayu Sadijah. "Kapan kau pikir begitu, baeklah!" ia berkata dengen pelahan. "Biarlah Hasan dan Soeriati brangkat lebi dulu dengen dianter oleh mandoor Koernain dan babu Satimah. Aku punya hati menjadi lebih besar dan gumbirah aken lakuken ini pakerjaan yang suker kalu kau ada berdiri di sampingku. Ini bahaya yang mengancem, keliatan telah membikin kau sembuh dari itu penyakit zenuw, kerna sekarang aku liat kau tida lagi penakut dan pengagetan seperti bebrapa hari yang lalu." Satu dokar dan satu grobak yang suda sedia lalu disuru masuk ka dalem pekarangan Kawedanan. Bebrapa bujang mulai angkutin barang-barang berharga yang hendak di-singkirken. Itu kutika sudah ampir jam 11 pagi, tapi cahya terang 16

www.rajaebookgratis.com

cumah remeng-remeng saja seperti magrib. Suara gemuruh dari Krakatau semingkin heibat, sedeng abu yang jato jadi bertambah tebel. Hasan, anak lelaki dari wedana yang baru berusia delapan taon, dan Soeriati, satu anak prampuan yang berusia lima taon, yang dislimutin dengen mantel tebel dan pake tutup kepala, lalu dituntun kaluar oleh ayah dan ibunya aken dikasih naek di itu dokar, yang kuda-kudanya sabentar-bentar terpranjat saban kali mendenger suara gemuruh dari Krakatau. Raden Tjakra sudah tulis juga dua surat, satu buat Wedana Menes, di mana itu anak musti mampir dalem perjalanan ka Rangkas-gombong, dan satu lagi buat iapunya ayah, Bupati dari Rangkas-gombong. Mandoor Koernain duduk di seblahnya kutsier,38 sedeng babu satimah duduk di blakang bersama itu dua anak. Tatkala itu dokar ampir brangkat, Raden Ajeng Sadijah suru itu dua anak turun kombali, dan lalu buka iapunya sepasang gelang yang terbikin dari uwang emas Turkye39 yang disambung seperti rante, lalu dipakein pada Hasan dan Soeryati, saorang satu, di mana tangan kanannya. "Ini gelang," ia berkata pada anak-anaknya itu sambil mengembeng aer mata: "ada barang pusaka tetinggalannya ibu punya nene yang dapet persen dari aki waktu kombali dari Mekkah. Pakelah ini barang seperti peringetan kalu sampe kau tida bisa bertemu lagi pada ibu. Koernain!" ia berkata pada itu mandoor, "jaga baek ini gelang jangan sampe ilang di perjalanan." Raden Tjakra, yang meliat sikep istrinya, sekarang merasa juga dapet firasat yang ia tida nanti bisa bertemu lagi dengen dua anaknya itu. Maka tatkala itu dokar mulai dijalanken, ia lalu tahan, suru tunggu sabentaran, dan ia lantes lari ka dalem kamarnya. Bebrapa minuut kamudian ia kaluar kombali dengen memegang di tangan dua rante leher yang masing-masing digantungin satu kongkorong40 atawa medaille dari perak, yang di kadua mukanya ada diukir dengen huruf Arab, lalu digantung di lehernya itu dua anak, dengen dipesan pada Koernain dan babu Satimah, buat jaga itu barang jangan sampe ilang, kerna ini medaille ada barang pusaka turun temurun yang berasal dari Sultan Haji di Bantam, dan dipandang seperti jimat, bisa menolak segala bahaya. Kamudian, sasudahnya ia dan istrinya mencium lagi sekali pada kadua anaknya itu, itu dokar lalu dikasi berjalan dan tida antara lama lantes tida keliatan 17 lagi lantaran gelap dan terliput oleh abu yang turun berhamburan seperti asep. Dengen sanget hati-hati kutsier dari itu dokar kasi jalan kandaraannya yang dilariken dengen pelahan lantaran semingkin lama udara jadi bertambah gelap. Liwat satenga jam barulah itu dokar sampe di desa Cidangur yang jaunya dua paal dari Waringin, di mana ada dua jalan cagak, yang ka Kidul Wetan terus ka Menes, dan yang ka jurusan Lor-Wetan menerus ka Mendalawangi yang pernanya di kaki gunung Karang yang 1775 meter tingginya. Baru saja itu dokar liwatin desa Cidangur bebrapa minuut lamanya, mendadak ka-dengeran suara perletusan beruntun-runtun yang begitu luar biasa heibatnya hingga membikin tulinya kuping, seperti suara saribu gledek menyamber dengen berbareng di atasan kepalanya, hingga itu dua kuda yang tarik itu dokar brontak kabur tida

www.rajaebookgratis.com

bisa ditahan lagi, dan Satimah yang lagi pangku Soeriati jato terlempar bersama itu anak, sedeng Hasan yang Kutsier = kusir, sais . "Turkye = maksudnya Turki. Kongkorong = kalung. kabetulan pegangin tiang dokar, bersama Koernain, dibawa mabur terus di sepanjang jalan di mana kedapetan banyak penduduk berlarian kalang kabut sambil bertreak dan menangis lantaran ketakutan. Liwat setenga paal jaunya itu dokar kena tubruk satu puhun hingga itu kandaran terbalik dan ancur sama sekali, kutsiernya dapet luka keras, sedang Hasan dapat bebrapa luka besot dan benjol di kepala yang kaluarken banyak darah lantaran terbentur batu, tapi Koernain tinggal slamet. Di itu waktu barulah itu mandoor dapet tau Satimah dan Soeriati sudah linyap. Tapi ia tida bisa berpikir lama dan tida ada tempo aken pergi cari. Ia ripuh musti rawat dan bikin sedar pada Hasan yang ternyata sudah jadi pangsan. Suara perletusan begitu heibat yang berbunyi terusmenerus, antero bumi yang sudah jadi gelap petang hingga jari tangan di depan mata tida bisa keliaran, dan suara ratap dan tangisnya orang-orang desa yang bertreak minta tulung, membikin itu mandoor jadi seperti ilang sum-anget41 kerna tida tau apa musti berbuat. Akhirnya ia ambil putusan aken pondong Hasan buat 18 melariken diri ka jurusan Wetan dengen jalan kaki, kerna pikirannya hendak coba cari laen kandaraan buat menumpang, dan nanti kalu suda sampe di Cening atawa Menes, di mana ia hendak titipken Hasan di tempat yang santosa, barulah ia kombali aken cari tau di mana adanya Satimah dan Soeriati. Sasudanya berjalan terus di dalem kagelapan bebrapa jam lamanya. Koernain bisa sampe di Cening dan titipken Hasan di rumahnya kepala desa. Sasudahnya mengaso sa-bentaran, ia lalu bertindak balik ka jurusan Kulon aken cari Satimah dan Soeriati. Tapi baru saja ia berjalan satu paal jaunya, dari sebla depan ia denger suara gemuruh yang amat heibat seperti suaranya aer sungai yang sedeng banjir. Dari terangnya cahya kilap yang sabentar-bentar berkredep di udara ia dapet liat satu pemandangan yang membikin ilang iapunya sumanget. Semua desa-desa, sawah, tegalan dan puhun-puhun telah linjap karendam oleh aer yang bergulung-gulung seperti ombak di lautan dan tida ketahuan dari mana datengnya. Dengen lekas Koernain balik kombali ka Cening sambil berlari sekuat-kuatnya, lalu pondong pada Hasan yang terus dibawa mabur ka jurusan Menes, dan ia tida brenti berjalan sablonnya ia sampe di rumahnya Wedana di itu tempat. Begitulah di itu hari yang heibat dari tanggal 27 Augustus 1883 jam 11 pagi, itu gunung api Krakatau di Selat Sunda telah meletus yang membikin gemper di seluruh dunia. Itu perletusan ada begitu heibat suaranya kadengeran dengen teges di Bangkok (Siam) yang jaunya 1413 mijl Inggris; di pulo-pulo Philippiynen42 yang jaunya 1450 mijl; di Ceylon (2508 mijl) di Australie (2550 mijl) dan di pulo Rodriguez deket Madagascar yang 3000 mijl Inggris jaunya. Itu lumpur, batu dan abu yang dilemparken dari itu gunung punya kawah telah terbang ka atas udara sampe 14 mijl tingginya, dan begitu tebel hingga di Batavia, Bandung dan laen-laen tempat di Jawa Kulon dan Sumatra Selatan

www.rajaebookgratis.com

menjadi gelap sama sekali, hingga di waktu tengahari orang musti pasang lampu. Itu ombak, yang sudah rendam antero pasisir Bantam dan Sumatra Selatan hingga 35.000 manusia jadi binasa, telah membikin timbulnya aer pasang di mana-mana lautan di antero dunia, yang kasi liat tenaganya sampe di pasisir Kaap Horn yang jaunya 7818 mijl dan di Kanaal Inggris yang jaunya 11.040 mijl, sasudahnya lebih dulu melintasi lautan Atlantis. Di lautan Pacific 19 itu ombak sudah unjuk pengarunya sampe di pasisir Californie, sedeng itu abu alus yang Sumanget = semangat. Philippiynen = Filipina. bergantung di udara berbulan-bulan, telah jato di ANTERO DUNIA. Apakah sudah jadi dengen Wedana Waringin, Raden Tjakra Amidjaja dan istrinya? Itu tempat sudah tersapu bersih sama sekali hingga tida ada satu rumah atawa puhun yang tinggal berdiri. Apa yang ketinggalan sudah teruruk oleh lumpur dan abu bebrapa meter tebelnya, dan tatkala satu minggu kemudian orang dateng di itu tempat, tida ada mahluk idup yang kedapetan sedeng mait-mait manusia dan binatang yang tida terseret ka lautan oleh itu ombak, sudah jadi busuk semua dan tida bisa dikenalin. Tentang Satimah dan Soeriati pun tida ada kabarnya lagi, maskipun Bupati Rangkas-gombong suru orang cari ka kuliling tempat. Orang cumah dapetken reruntuk dari itu dokar di pinggir jalanan bersama mait dari kuda-kuda dan kuetsirnya yang separo terbenem di lumpur. Begitulah Bupati Rangkasgombong musti tanggung kadukaan bukan saja buat putra dan mantunya, tapi juga buat iapunya cucu prampuan! Ill Saorang Pertapaan yang Aneh dengen ditaro barisan soldadu43 dan veld-politie44 di tempat-tempat yang penting, tapi juga sudah dipilih ambtenaar-ambtenaar45 yang cakep dan raj in buat pegang prenta di daerah yang kurang aman, banyak pegawe Bumiputera yang keliatan kurang cakep waktu peca pembrontakan, telah dilepas atawa dipindahken ka laen tempat, dan aken gantinya telah dipilih orang-orang muda yang pande dan gaga serta dapet plajaran sampurna aken 20 pegang tegu kakwasaan pamerentah dan buat tindes pengarunya pemimpinpemimpin Merah46 yang mengasut pada rahayat. Di antara ambtenaar-ambtenaar muda yang telah unjuk kecakepannya di waktu timbul pembrontakan, ada teritung juga Mantri Politie Raden Moelia, salah satu putranya Bupati dari Rangkas-gombong yang lantaran jasanya itu telah diangkat jadi Assitent Wedana dan ditempatken di Sindanglaut, satu desa deket pasisir, dalem bilangan district Waringin, afdeeling Bantam Kidul. Dalem tempo satu taon sedari ditempatken di Sindanglaut, ia sudah bisa bikin itu bilangan yang dulu terkenal sebagi sarang Communist, menjadi tentrem dan aman, orang-orang jahat dan tukang mengasut semua sudah terpaksa menyingkir

www.rajaebookgratis.com

atawa dijeblosken dalem penjara, hingga keadaan di itu daerah jadi santosa kombali seperti dulu. Pada suatu pagi dari bulan Desember 1927, waktu baru saja terang tanah, itu priyaie muda sudah berduduk dalem kantoornya dengan saorang diri, kerna jurustulis dan laen-laen pegawe belon masuk kerja. Di satu bangku di luar kantoor ada duduk saorang oppas sambil melenggut dan pelok tangan lantaran kedinginan. Di sampingnya itu oppas Sajek peca pembrontakan Communist di Jawa Kulon di akhirnya taon 1926 pada waktu mana Bantam ada jadi pusat perlawanan yang paling nekat, Pamerentah Blanda telah adaken aturan keras aken menjaga pri keamanan, bukan saja Soldadu = serdadu. Veld-politie = brigade mobil. Ambtenaar = pejabat/pegawai. Merah di sini maksudnya kaum komunis atau kiri. ada saorang lelaki tua dan berambut puti, yang duduk bengong mengisep roko dengen tida bicara apa-apa. Itu Assistent Wedana baru buka bebrapa surat dienstll yang dateng semalem, yang sasudanya dibaca lalu ditandain dengen potlood,12 kamudian ia duduk mengadepin masin tulisnya, dan mulai typl3 dengen cepet sampe penuh bebrapa lembar kertas. Sasudanya beres, ia kasi tanda pada itu orang tua yang lalu masuk di kantoran dan disilahken duduk di krosi di hadepannya. 21 "Begimana, bapa Noerhali, apakah kau sudah bertemu pada itu Kiayie?" ia menanya. "Sudah, baru semalem saya balik di rumah, sasudanya tinggal di sana dua hari lamanya," saut itu tetamu dengan hormat. "Begimana Bapa, kau punya pendapetan, apakah itu kiayie tida berbahaya? Dan apakah ia sudah bikin di itu gunung ?" "Sebagitu jau yang saya sudah selidiki dengen saksiken sendiri pakerjaannya dan denger juga ketrangan dari orang-orang kampung di deket situ, ia bukan ada saorang yang berbahaya, kerna ia belon perna bicara dari hal politiek atawa agama, dan kerjanya tida laen cumah berdowa dan bersembahyang serta saban hari Jumahat ia trima orang-orang yang dateng minta obat padanya, buat mana ia tida mau trima upahan satu apa." "Apakah tida ada banyak orang desa yang jadi muridnya?" "Sama sekali tida ada, kerna ia tida menjunjung agama Islam, kerna tatkala saya ajak berunding suai agama dan sebut ujar-ujar dari al-Koran, ia keliatan tida mengarti, sedeng menurut orang yang tau dan sering berhubung rapet padanya, kalu ia menjampe atawa berdowa, ia sering ucap-ken nama dari dewa-dewa yang ada dalam cerita wayang, seperti Betara Guru, Betara Wisynu, Betara Ciwa, Sang Yang Brahma, Prabu Siliwangi dan laen-laen sebaginya, dengen tercampur juga omongan bahasa Kawi dan Sanskrit dan laen-laen bahasa yang orang tida mengarti. Namanya Kanjeng Nabi Mohammad belon perna kadengeran ia sebutken dalem dowa atawa bicaranya." "Kalu begitu ia bukan teritung satu Kiayie atawa Santri?"

www.rajaebookgratis.com

"Bukan sama sekali, maski juga ia tida bikin kebratan orang panggil, ia "kiayie" atawa apa saja orang suka. Penduduk desa biasa panggil ia "emban" sedeng ia sendiri namaken dirinya Pandita Noesa Brahma, dan iapunya ayah, yang sekarang sudah meninggal, biasa disebut Pandita Asheka . " "Apakah kau kenal iapunya ayah?" "Tida, tapi dari orang tua-tua saya dapet kabar, sajek bebrapa pulu taon lalu ia sering dateng di itu tempat bersama-sama ayahnya, yang oleh orang kampung terkenal dengen nama Embah Asheka." 22 "Ini nama-nama menunjukken ia ada saorang yang menjunjung agama dulu, yaitu Hindu atawa Buddha, yang dipuja di pulo Jawa pada sablonnya dateng agama Islam." "Betul, dan ia ada bilang juga, yang ia masih terus pegang tetep itu agama kuno yang sekarang masih dianut oleh orang Baduy." "Kalu begitu ia sendiri ada saorang Baduy!" "Inilah tida bisa salah lagi, cumah bedanya ia keliatan ada pinter, sopan, manis budi bahasa, dan terplajar, berbeda jau dengen itu orang-orang Baduy di pegunungan Kendeng yang tabeatnya aneh, pengidupannya mesum, sanget dusun dan tida mau campur pada orang yang bukan kaumnya." "Apakah betul orang tida dapet tau ia dateng dari mana?" tanya Raden Moelia. "Tida saorang bisa bilang, dan kalu ditanya di mana iapunya tempat tinggal, dengen tertawa ia menyaut, "oh, jau, jau sekali dari ini tempat," tapi ia belon pernah sebut itu tempat di mana adanya. Salah satu penduduk perna cerita, ia telah ketemu satu kalih pada itu Embah di deket Malingping, pada tepi lautan Kidul, hingga amat boleh jadi ia ada berasal dari tempatnya orang Baduy, yang tinggal tersiar di antara gunung-gunung di sebla Wetan dari Malingping." "Kalu betul tempat tinggalnya ada begitu jau, perlu apakah ia dateng di sini? Toch tida boleh jadi cumah melulu buat obatin orang-orang yang sakit dengen zonder dapet upahan satu apa." "Justru inilah yang membikin semua orang merasa heran dan buat pikiran tida abisnya. Iapunya dateng ada begitu tetep saban taon satiap bulan Desember, dan tinggal di puncak gunung Ciwalirang sampe satu bulan lamanya, kamudian lantes brangkat kombali dengen diam-diam, dengen tida satu orang yang dapet badel4 dari mana ia dateng, ka mana ia pergi, dan apa yang ia kerjaken di itu puncak gunung yang begitu sunyi, dengen tinggal di satu gubug kecil seperti orang pertapaan." "Apakah kalu ia dateng, ia tida perna membawa kawan-kawan?" "Dulu ia biasa dateng berdua dengan ayahnya, itu Embah Asheka yang katanya sekarang telah meninggal. Blakangan ia dateng dengen teranter oleh satu bujang lelaki, tapi sekarang buat pertama kalih, selaennya satu bujang atawa pengiring. Ia ada bawa juga istri dan anak prampuannya." "Kalu begitu ia ada mempunyai anak dan istri?" "Ya, dan justru inilah yang membikin sekalian orang merasa heran, kerna itu anak prampuan, yang berusia kira 20 taon, ada amat cantik parasnya, seperti juga satu menak, berbeda jau

www.rajaebookgratis.com

dengen orang yang tinggal di pedusunan, maski juga tingka laku dan bicaranya menunjukken ia ada satu anak dusun betul-betul." "Ini sunggu-sunggu aneh. Semingkin mendenger hikayatnya ini Pandita, hatiku jadi semingkin tertarik aken kunjungin dan denger sendiri ketrangannya. Apakah baru pertama kalih ini ia dateng dengen anak dan istrinya?" "Betul. Ia bilang pada taon yang lalu ia terpaksa batalken niatnya aken dateng di Gunung Ciwalirang lantaran ada rusu Communist hingga segala jalanan dipegat oleh soldadu dan orang-orang politic Maka itu sekarang ia bawa anak dan istrinya supaya orang tida curiga dan sangka ia ada mengandung maksud jelek." "Tapi apakah kau tida coba tanya apa maksudnya maka ia begitu perluken dateng saban taon di ini gunung?" "Sudah banyak orang yang tanya, dan selalu dapet pe-nyautan, iapunya maksud tida laen cumah buat jalanken kewajiban dari iapunya agama." "Kewajiban apakah itu? Apakah buat tulung orang sakit?" "Inilah yang masih tinggal gelap. Dulu-dulu, waktu pandita yang tua masih idup, ia belon perna membri obat pada orang sakit, cumah blakangan, dalem ini bebrapa taon, ia sudah tulung bebrapa orang, hingga kepandeannya tersiar kulilingan, dan begitu lekas terkabar ia sudah dateng, dari segala tempat banyak orang sakit yang cari padanya aken minta diobatin." "Cara begimanakah ia obatin orang?" "Dengen jampe, pake aer yang sudah didowain, atawa daon-daonan yang begitu manjur hingga ampir tida bisa dipercaya, seperti orang buta ia bikin sampe jadi bisa meliat, orang lumpuh bisa jalan, yang tuli bisa mendenger, yang bisu bisa bicara, dan laen-laen lagi. Saya sendiri sudah buktiken kemanjurannya iapunya jampe tatkala minta tulung obatin saya punya gigi yang sakit, yang lantes sembuh sasudanya dikemukenl5 aer yang ia jampeken."16 "Betul aneh. Aku ingin usut lebih jau tentang halnya ini pandita. Apakah bapa bisa tulung aken anter padaku buat bertemu padanya?" 24 23 "Dengen segala senang hati. Kapankah juragan hendak brangkat?" "Besok pagi. Apakah orang bisa sampeken ka tempat tinggalnya dengen naek kuda?" "Orang boleh berkandaran sampe di Sukarame. Dari itu kampung kita musti jalan kaki mengikuti kali Citanjur. Pada tempat di mana sumber dari Citanjur kaluar dari batu-batu karang, di situlah ada terdapat pondok-pondok dari orang yang dateng minta obat, yang diberdiriken dengen mendadak oleh itu orangorang sendiri, kerna itu tempat ada sunyi, jau dari kampung. Di situ ada juga warung kopi dan tempat orang jual makanan buat melayanin orang yang dateng. Pondoknya itu pandita ada di atas sekali, di deket puncak dari Gunung Ciwalirang, dari mana orang bisa memandang pada lautan dan Selat Sunda dengen sekalian pulo-pulo yang ada di seputernya, dan juga pasisir dari Sumatra."

www.rajaebookgratis.com

"Baeklah, bapa, besok pagi jam anem aku harep bapa dateng di sini supaya kita bisa brangkat sama-sama, kerna kabetulan besok ada hari Minggu." Bapa Noerhali lantes berbangkit dan menyembah, terus berlalu tinggalken itu Assistent Wedana berduduk bengong sendirian, memikirken halnya itu orang pertapaan dari kaum Baduy yang besok ia aken kunjungken. Dari ketrangannya itu orang tua yang jadi iapunya spion,17 Raden Moelia dapet kenyataan, bahua di saputernya pengidupen dan kabiasaan dari itu Pandita, ada tersembuni banyak resia-resia yang suker dibade dan dimengarti, hingga napsunya jadi semingkin keras buat pergi preksa dan cari tau sendiri. Helaas! Itu prijaie muda tida sekali sangka bahua itu resia yang ia hendak usut bakal jadi begitu penting, dalem mana ada menyangkut keslametannya sabagian besar dari penduduk Bantam, teritung juga kabruntungan buat ia sendiri dan iapunya ayah. Bupati dari Rangkas-gombong! IV Satu Pandita dari Orang Baduy Tatkala Assistent Wedana Raden Moelia, yang dianter oleh Bapa Noerhali, sampe di deket puncak dari gunung 25 Ciwalirang di mana sumber dari kali Citanjur ada kaluar dari batu-batu karang, ia dapetken di situ ada terletak ampat-lima pondok dari atep dan alang-alang yang, seperti Bapa Noerhali terangken, telah dibikin oleh orang desa yang dateng di itu tempat sunyi aken minta pertolongan obat dari itu Kiayie atawa Pandita. Di salah satu pondok ada kedapetan orang jual makanan, seperti ketupat, nasi, kopi, buwa dan kuwe-kuwe, lantaran pada saban hari Jumahat, waktu itu Kiayie trima orang-orang yang sakit, di situ ada dateng banyak orang dari tempat deket dan jau. Tapi di itu hari, lantaran ada hari Minggu, hingga masih musti menunggulima hari lagi aken mendapet obat, di itu pondokpondok cumah ada sedikit orang saja, yang kebanyakan ada dari tempat jau, yang terpaksa menunggu di situ lantaran terlalu berabe kalu musti pulang dan pergi, atawa orang-orang yang sakitnya berat, yang kakinya lumpuh atawa buta, yang terpaksa musti berdiam sampe jadi sembuh atawa sampe itu Kiayie bilang ia tida sanggup obatin hingga lebih baek pulang saja. Lantaran sabagi satu ambtenaar bestuur itu Assistent Wedana musti serepinl8 keadaannya itu Kiayie, maka ia sengaja berdiam di itu pondokan aken pasang omong pada orang-orang desa yang ada di situ. Ia tida pake-pakean dienst yang bisa membikin orang dapet tau iapunya pangkat, dan juga tida membawa oppas. Pada bebrapa orang yang kenal padanya, ia minta supaya jangan siarken ia ada satu Assistent Wedana, supaya ia biasa pasang omong pada orang-orang dengen leluasa. Pada itu waktu di itu pondok-pondok cumah ada bebrapa bias orang saja, sedeng biasanya pada saban hari Jumahat, orang yang dateng sampe ampir seratus. Antara orang-orang sakit yang ada di itu pondok, ada juga bebrapa orang Palembang yang membawa satu kawannya yang matanya dibungkus oleh kaen putih. Ini orang yang sakit, nama Abdoel Sintir, ada satu orang hartawan, sudagar kulit uler dan mempunyai juga kebon karet yang luas. Sudah satu taon

www.rajaebookgratis.com

ia dapet sakit mata yang membikin ia ampir tida bisa meliat lagi. Ia sudah pergi berobat di rumah sakit mata di Bandung, tapi tida berhasil, sampe akhirnya iapunya satu sobat di Labuan membri tau adanya ini Kiayie yang manjur sekali jampenya buat obatin orang sakit mata, maka ia telah dateng di itu tempat pada bebrapa hari yang lalu, dan oleh itu Kiayie telah dikasi aer penawar yang dituturin55 di matanya satiap pagi dan sore, dan dalem 26 tempo tiga hari ia sudah mulai bisa meliat samar-samar, dan diharep dalem satu minggu matanya bisa meliat dengen terang seperti dulu, dan itu penyakit, yang berasal dari kena racunnya ular, bisa jadi sembuh sama sekali. Menurut ketrangannya si tukang warung, itu Kiayie dateng di Gunung Ciwalirang sudah dua minggu lamanya, dan ia aken berdiam cumah buat satu bulan saja. Di bulan Januari ia aken pulang ka tempatnya yang tida saorang dapet tau di mana. Tentang iapunya kepandean mengobatin, ada banyak kejadian yang mengheranken. Bebrapa orang lumpuh lantes bisa berjalan seperti biasa sesudah kakinya diusap bebrapa kalih. Tapi orang yang dari masih kecil kakinya pengkor, ia tida bisa bikin lempang kombali, begitu pun orang yang dari masih kecil sudah buta, bisu atawa tuli, yaitu yang bukan baru diserang oleh penyakit, ia bilang terus terang yang ia tida sanggup sembuhken. Tentang upahan uwang ia sama sekali tida mau trima. Ia cumah ambil saja sedikit pembrian beras buat dimakan satiap hari aken bekel di jalan. Ayam, daging, telor dan laen-laen makanan yang berasal dari barang berjiwa ia tida perna dahar, malah di itu warung ia larang jual makanan yang berasal dari barang berjiwa. Yang didahar oleh itu Kiayie dan familienya cumah sayur dan buah-buahan. Kalu bukan hari Jumahat ia tida perna tulung orang sakit, biarpun begimana sanget orang meminta-minta. Juga di laen-laen hari itu Kiayie jarang sekali keliatan, tapi tida saorang tau ia pergi ka mana, kerna ia jarang turun dari puncak gunung. Itu tukang warung sendiri sering dateng di pondoknya itu Kiayie aken anterken makanan, tapi j arang Dituturin = diteteskan. sekali ia ketemuken, cumah ada istri, anak dan bujangnya saja. Familie dari itu Kiayie belon perna bergaul atawa pasang omong pada orang, maski juga satiap pagi dan sore kalu tida turun ujan, iaorang liwat di deket itu pondok aken mandi dan ambil aer di pancuran. Itu Kiayie ditaksir berusia 60 taon, istrinya kira 10 taon lebih muda, sedeng iapunya anak prampuan, yang berusia 20 lebih, ada begitu eilok dan cantik hingga membikin sasuatu orang yang liat jadi merasa kagum. Di bilangan Bantam jarang ada satu anak 27 gadis yang begitu eilok seperti Retna Sari, yaitu nama dari itu anak prampuan dari Pandita Noesa Brama. "Kalu begitu," kata Raden Moelia, "apakah aku tida bisa ketemuken pada itu Kiayie sekarang?" "Inilah hamba tida bisa bilang juragan," saut si tukang warung. "Hamba rasa kalu juragan suka terangken yang juragan ada Assistent Wedana yang dateng di

www.rajaebookgratis.com

sini sengaja hendak cari padanya buat urusan dienst, tentu sekali dia musti trima." "Kalu begitu, baeklah, kau boleh terangken aku punya nama dan pangkat pada itu Kiayie." Si tukang warung lalu brangkat naek ka atas. Tida antara lama ia kombali dengen membawa kabar, lagi satu jam Pandita Noesa Brama sedia aken trima kunjungannya. Ia tida bertemu pada itu pandita sendiri. Cumah dapet ini kabar dari istrinya. Berselang satu jam itu Kiayie punya bujang lelaki nama Koesdi yang berusia kira 50 taon, rupanya pendiam dan banyak berpikir, dateng dari atas aken membri tau. Tuan Pandita sudah bersedia aken trima kedatengannya itu priayi. Raden Moelia dengen teranter oleh Noerhali lantes turut padanya. Perjalanan aken naek ka atas puncak dari gunung Ciwalirang ternyata tida terlalu senang, kerna orang musti liwat di jalanan kecil antara batu-batu karang di mana ada tumbu banyak gombolan dan rumput alang-alang serta menanjak terus. Matahari itu kutika ada menojo dengen keras, tapi itu cahaya panas dibikin punah oleh angin laut yang adem yang meniup dengen keras dari Selat Sunda. Sabentar-bentar Raden Moelia dengen kawannya musti merandek,19 bukan saja aken membuang capenya, tapi juga buat mengawaskan kaindahan natuur yang terbeber di bawah kakinya, yang keliatan seperti satu pigura. Di sebla Kulon, di tenga-tenga lautan yang biru, ada kaliatan sekumpulan pulopulo yang satu antaranya telah terkenal di seluruh dunia dan membikin banyak orang di Bantam dan Sumatra Selatan inget namanya dengen rasa mengkirik,20 kerna itu pulo yang paling besar sendiri dari itu kumpulan bukan laen dari pulo Rakata atawa Krakatau dengen gunungnya yang sekarang, sasudanya terjadi per-letupan di taon 1883 mempunyai puncak tingginya 816 meter dari muka laut. Kawahnya yang ada di tempo dulu sudah somplak21 dan karem ka dalem laut, hingga apa yang masih katinggalan menonjol di atas muka lautan, tida laen dari 28 pada gunung biasa yang tida ada apinya dan tertutup oleh utan lebet. Jauh sedikit di sablah utara ada terletak pulo Rakata Kecil atawa yang dinamaken juga Lang Eiland (Pulo Panjang sebab bangunnya panjang) yang bagiannya yang paling tinggi ada 140 meter dari muka laut. Sedikit lebih jau di Kulon ada kaliatan pulo Sertung atawa yang dinamaken juga Verlateneiland. Ini tiga ada jadi itu grup atawa kumpulan dari pulo-pulo yang terkenal seperti pulo-pulo Krakatau. Lebih jau ka sablah Utara ada tertampak pulo-pulo Sebesi dan Sebuku, yang pernanya tida jau dari pasisir Sumatra. Tanjung Tua atawa Varkenshoek, yaitu bagian dari Sumatra yang paling deket dengen pulo Jawa, ada kaliatan dengen tegas sekali, sedeng lebih jau ka Utara-Barat ada tertampak lapat-lapat itu pulo-pulo dari Lampongs Baai, di mana ada mengebul asepnya kapal-kapal api yang masuk atawa kaluar dari Kalianda, Oosthaven dan Telokbetong, kota-kota pelabuan lada yang paling

www.rajaebookgratis.com

besar di Indonesia, yang berhubung dengen harganya yang amat tinggi, membikin Sumatra Selatan mengalamin masa yang amat jaya dan beruntung. Sedikit jau ka Selatan-barat ada tertampak Telok Semangka atawa Keizers Baai dengen Tanjung Cina atawa Vlakkehuk, yaitu ujung paling Selatan dari pulo Sumatra, sedeng di jurusan Selatan ada tertampak Prinsen Eiland yang sebagian besar ada dari rawa melulu, yang terpisah dari pulo Jawa dengen satu selat kecil yang dinamaken Prinsenstraat22 atawa Behhouden-passage.23 Lebih deket lagi ada kaliatan Peper-Baai24 di mana ada terletak desa Citeureup dengen Tanjung Lesung yang terkenal juga dengen nama Java's Derde Punt,25 sedeng kota Labuan yang sejek rusaknya Caringin di taon 1883 ada jadi kota dagang paling rame di pasisir Bantam Kidul bisa kaliatan nyata rumah-rumah dan sekalian prau yang sedeng berlabu di pasisirnya. Betul di bawah kakinya Gunung Ciwalirang ada terletak itu desa Sukarame, Sukanegara dan Bengros, dengen Tanjung Bangkuang Jang jadi wates antara Bantam Lor dan Bantam Kidul. Pemandangan ka jurusan Selatan ada terhalang oleh puncak-puncaknya dari Gunung Malang (640 meter) Gunung Pangajaran (500 meter) Gunung Aseupan (1160 meter) dan Gunung Pulasari (1345 meter). Di jurusan Wetan ada berdiri dengen angker itu Gunung Karang, satu gunung api yang puncaknya, yang tingginya 1775 meter dari muka laut, ada jadi wates antara Bantam Lor dan Bantam Kidul (Banten Selatan). Ialah ada gunung yang paling tinggi sendiri di dalem bilangan Bantam yang bisa keliatan tegas dari kuliling tempat. Pemandangan ka jurusan Lor ada bagus sekali, kerna tida ada gunung atawa bukit menghalangken pemandangan. Dengen tegas matanya Raden Moelia mengikuti itu jalan yang menyusur sapanjang pasisir mulai dari Tanjung Bangkuang sampe di Tanjung Cikoneng atawa yang terkenal juga dengen nama Java's Veerde Punt, di mana ada kaliatan itu mercu api dari pasisir Anyer Kidul. Desa-desa Cinangka, Padarincang dan laen-laen yang terletak antara pasisir dengen Rawa Danau ada terpeta satu per satu, sedeng di sablah lor ada Rawa Danau, telaga yang paling besar sendiri di bilangan Bantam, ada kaliatan Gunung-gunung Sariung, Gede, Tukung dan Merak yang membikin Cilegon dan Anyer Lor terhalang dari pemandangan. Di tenga laut dari selat Sunda, betul di tenga-tenga antara Java dan Sumatra, ada kaliatan itu Pulo Sangiang yang dinamaken juga Dwars in den Weg. Raden Moelia bengong memandang ini semua kaindahan sambil duduk bersidakep di atas salah satu batu karang di deket itu puncak Gunung Ciwalirang, sampe ia terpranjat mendapet tegoran dari satu suara yang alus, tapi nyaring dan merdu serta bersifat agung, yang berkata dalam bahasa Sunda begini: "Slamat datang, Juragan, saya girang sekali yang kau sudah sudi kunjungi saya punya tempat yang hina di ini pagunungan yang sunyi." Itu priyaie berpaling dan dapet liat di seblahnya ada berdiri saorang tua yang berjembros panjang yang sudah banyak bercampur uban, kepalanya ditutup oleh semacem kopia dari kaen biru yang macemnya seperti kokojong, yaitu

www.rajaebookgratis.com

diseblah blakangnya panjang menutupi puncak dan kadua kupingnya, sedeng bajunya terbikin dari kaen poleng warna abu-abu yang macemnya seperti jubah, panjangnya sampe liwatin lutut dengan dipakein kancing dari kulit kiong. Celananya dari kaen item, dan kakinya pake terumpah kulit. Badannya itu orang tua ada sedikit kurus, tapi tinggi, lebih tinggi dari laen-laen orang Bumiputera yang kabanyakan; parasnya agung dan angker seperti saorang Bumiputera turunan bangsawan, jidatnya lebar, matanya bersorot terang, idungnya mancung dan sedikit panjang, 30 29 alisnya tebel, janggutnya tirus, sedeng di bawah dari kumisnya yang gompiok ada kaliatan sebaris gigi yang putih. Raden Moelia lantes turun dari atas batu karang di mana ia berdiri, lalu bersalaman pada itu orang tua sambil berkata: "Apakah saya berhadepan dengan tuan Pandita Noesa Brama?" "Betul, juragan," saut itu orang tua. "Saya punya dateng di sini perlunya aken blajar kenal pada tuan Pandita yang sudah termashur pande dalem hal mengobatin orang-orang sakit, hingga saya denger ada banyak orang kampung dari kuliling tempat yang dateng minta obat saban kali Tuan Pandita ada di sini." "Itu betul, tapi saya punya pakerjaan sabetulnya bukan buat menjadi dukun, maka pada saban minggu saya cumah sediaken tempo buat menulung orang sakit satu hari saja, yaitu saban Jumahat. Dari hal kemanjurannya saya punya obat atawa jampe, sabetulnya bukan terbit dari saya punya kepandean. Saya cumah mintaken saja pertulungan pada yang Maha Kwasa. Kalu Tuhan kasian pada si sakit, tentulah ia dibri kasembuhan, tapi kalu sudah sampe takdirnya itu orang musti binasa, tida ada satu kekwasaan di dalem dunia yang bisa tulung padanya." "Itu betul, tuan Pandita, kau punya bicara itu ada masuk di akal. Saya girang sekali mendenger kau punya katerangan ini, yang ada berbeda jau dari dukundukun yang kabanyakan, yang suka sekali banggain iapunya kepinteran dan kamanjuran, seperti juga ia ada lebih berkwasa dari pada Allah dalem hal memegang umur manusia. Sabetulnya tida ada dukun, tabib atawa doktor yang bisa merobah nasib dari manusia yang sudah musti sampe ajalnya. Tapi toch maski begitu, dari banyak fihak saya dapet ketrangan, kau bisa sembuhken penyakit-penyakit berat dengen secara yang sanget mengheranken. " "Juragan, dalem dunia tida ada barang heran, kalu saja orang tau resianya. Apa yang saya sudah berbuat, banyak laen-laen orang pun bisa berbuat juga, kalu tau jalannya. Tapi, oh, dalem dunia ini ada terlalu banyak manusia yang masih bodo, yang gampang ditipu oleh segala dukun-dukun dan tabib yang dikira pinter dan sakti, hingga membikin gemuk pada itu segala penipu yang lantes bikin padet sakunya sendiri kalu orang yang terlalu percaya padanya sudah jato di bawah pengaruhnya." "Tuwan Pandita! Bicaramu ini menunjukkan kau ada saorang alim dan arif bijaksana hingga saya merasa girang sekali bisa ajar kenal padamu. Saya sampe

www.rajaebookgratis.com

tau kau menulung orang-orang yang sakit dengen hati jujur, bukan buat cari keuntungan guna diri sendiri, kerna kau blon perna trima upahan uwang atawa barang berharga, maski juga kau bukan saorang mampuh." "Juragan, kalu orang cumah tida mau trima upahan, itu blon boleh dipuji, kerna ada banyak dukun atawa doktor yang menulung orang dengan tida trima upah berupa uwangatawa barang, tapi iaorang ingin dapet laen rupa ganjaran, yaitu rasa sukur dan pujian dari fihak yang ditulung supaya namanya termashur. Buat satu dukun, tabib atawa doktor yang mampu, yang bisa idup pantes dengen tida kakurangan satu apa, iapunya penampikan aken trima upah dari orang-orang miskin yang ditulung, bukan satu kebaekan yang terlalu besar, kerna itu ada kewajibannya buat gunaken itu kepandean yang Tuhan telah kasih padanya aken entengken kasusahannya laen-laen orang. Tapi biasanya, lantaran tida mau trima upahan uwang ada banyak dukun dan tabib yang merasa wajib aken minta dari itu orang-orang yang perna ditulung buat inget betul-betul iapunya budi, musti taro harga dan junjung tinggi padanya, pandang dirinya seperti satu dewa atawa orang suci yang musti dipuja, didenger dan diturut segala prentahnya, hingga orang yang ditulung selalu musti merangkang26 di bawah kakinya dan jato di bawah pengaruhnya. Inilah ada permintaan upah yang lebih berat dari pada upahan uwang atawa barang berharga . " "Oh inilah yang menjadi sebab tuan Pandita tida mau terangken di mana tempat tinggalnya yang betul, hingga tida saorang yang tau, supaya tida bisa orang membales itu budi yang ia trima lantaran penyakitnya disembuhken." "Betul begitu, tapi inilah bukan sebab yang satu-satunya. Masih ada lagi laen hal penting yang saya tida boleh terangken maski pada siapa juga, yang membikin saya tida bisa tuturkan di mana adanya saya punya tempat tinggal, kerna saya ini ada saorang perjalanan, yang tida berdiam tetep di satu tempat, hanya selalu mengider ka tempat-tempat yang jau. Ini nama Noesa Brama saja cumah pake di sini saja. Di laen tempat saya ada punya laen nama lagi, kerna itu ada berhubung dengen saya punya agama. Tapi marilah, juragan, angin meniup keras, hingga kita tida bisa beromong-omong dengen leluasa." 32 31 Raden Moelia diikuti oleh kawannya, lalu berjalan bersama itu Pandita aken pergi di itu rumah pondok yang letaknya cumah kira-kira 30 meter dari itu tempat, tapi barusan tida kaliatan kerna teraling oleh puhun-puhun yang merambat. Itu pondok ada saderhana sekali, terbikin dari bambu dikepang, atepnya dari alang-alang, tingginya di bagian depan tiga meter, lebarnya anem meter. Bebrapa panjangnya itu pondok, waktu masih ada di luar tida bisa ditaksir, kerna berdirinya menempel di antara batu-batu karang yang kira-kira 15 meter tingginya, sedeng di kanan dan kirinya pun ada bukit kecil yang membikin itu pondok terluput dari tiupannya angin yang keras. Harus dibilang, tempat yang dipilih oleh itu pandita ada bagus sekali, kerna di depannya ada lapangan kecil di mana ada tumbuh bebrapa puhun kembang utan, sedeng dari satu bangku

www.rajaebookgratis.com

kayu gunung yang ditaro di tempat teduh di bawah satu puhun duren, orang bisa memandang segala kaindahan alam yang terletak di bawahnya gunung Ciwalirang, yang barusan disaksiken oleh Raden Moelia dengen merasa kagum. Tatkala iaorang masuk ka dalem itu priyaie dapet cium baunya dupa, maski juga tempat pendupaan tida kaliatan. Itu pondok ada teraling oleh bambu dikepang yang memisahken bagian luar dengen dalem. Prabotannya itu pertengahan bagian luar ada amat saderhana. Di situ cumah ada satu bale-bale dari bambu yang tertutup tiker bersih, di mana ada ditaro tempat sirih, gendi aer, tekoan thee dengen bebrapa cangkirnya, satu sisir pisang dan bebrapa juring duren muda. Di satu pojok ada terletak satu peti bekas minyak tanah di mana ada kadapetan bebrapa potong pakean punyanya Koesdi, pengiringnya itu Pandita yang rupanya saban malem tidur di itu pertengaan. Di pinggir bilik ada tersender satu pacul dan satu sesapu lidi, sedeng di bebrapa paku yang tertancep menonjol di sapanjang bambu pengeret ada tergantung bebrapa potong pakean, satu payung kertas, satu almanak Jawa, dan satu golok. Brapa panjangnya itu pondok ka bagian dalem, itulah tida bisa dibilang, kerna pintu buat masuk ka dalem ada tertutup. Tapi Raden Moelia taksir sedikitnya musti ada anem tujuh meter lagi, yaitu dengen mengimbangi dari suaranya orang prampuan yang kadengeran bicara di situ. Inilah membikin itu priyaie jadi sedikit heran, kerna kalu 33 diliat dari luar, itu pondok yang berdiri begitu rapet dengen itu bukit karang, tida bisa ada begitu panjang. "Ini pondok ada enak sekali," kata Raden Moelia sasuda-nya berduduk di balebale bersama itu pandita. "Saya merasa betah aken berdiam disini. Sunggu tuan pandita pande sekali memilih tempat tinggal yang enak." "Ini tempat bukan saya yang pilih, hanya sudah ada sedia dari jeman dulu, waktu saya punya bapa dan aki masih idup, selalu kita berdiam di sini saban kalih dateng di ini tempat, dengen berdiriken pondok baru." "Kalu begitu, sudah turun temurun tuan pandita punya bapa dan aki biasa dateng di sini?" "Betul, malah lebi dulu dari saya punya aki, yaitu akinya saya punya aki, dan orang-orang tua yang lebih jau lagi, selalu dateng kunjungin ini tempat, yang kita-orang sudah hargaken tinggi dan pandang suci pada sablonnya orang Putih dateng di Jawa, ya malah, pada sablonnya agama Islam dipuja oleh penduduk di ini pulo." "Tuan pandita, apakah saya boleh dapet tau apa sebabnya ini tempat begitu dihargaken oleh tuan punya kake moyang terus turun temurun sampe pada tuan sekarang? Apakah yang membikin ini tempat dianggep suci? Turut saya punya pengliatan,27 ini gunung Ciwalirang tida ber-beda dengen laen-laen gunung yang ada di Bantam, malah ada banyak laen gunung yang lebih tinggi dan macemnya lebih angker, dan di mana ada banyak kuburan suci atawa kramat, yang sering dipuja oleh penduduk yang masih tahayul." "Juragan, buat terangken sebabnya satu per satu itulah saya tida bisa, cumah saya boleh bilang, kita-orang sakedar mengikuti kapercayaan dari kita punya

www.rajaebookgratis.com

agama. Juragan pun tau, saban taon ada ratusan ribu orang Islam dari kuliling dunia sudah perluken dateng di Mekah, buat cium itu batu item yang ada di Kaabah, maski juga di laen-laen negri ada banyak batu yang lebih indah dan mulia dari pada itu batu di Mekah. Begitu pun kita-orang, yang masih wajib satiap taon dateng di sini buat satu bulan lamanya, sakedar aken jalan-ken titah dan kawajiban dari kita punya agama." "Tapi kalu begitu adanya tuan punya maksud, mengapakah cumah tuan punya kake moyang dan familie saja yang turun temurun dateng di sini? Mengapakah laen-laen orang yang menyembah agama kuno tida turut dateng juga bersamasama?" "Itulah ada dari sebab ini kawajiban melaenken jato di pundak kita-orang yang jadi kepala atawa pandita dari kita 34 punya agama. Laen dari itu juragan pun tau sendiri, orang-orang Bantam yang beragama Islam seringkah membenci dan musuhken yang memuja pada laen agama, malah dalem perusuhan di Cilegon dalem bulan Juli 1888 ada bebrapa priyaie-priyaie beragama Islam sudah dibunuh mati kerna iaorang dipandang kafir sebab bekerja pada orang Blanda. Lantaran di bilangan Bantam sini ada banyak orang yang sanget fanatiek, maka kita tida boleh gegabah aken kasih kentara yang kita ada memuja pada laen macem agama." "Tapi sekarang pemerentah ada pegang aturan keras, hingga tida nanti biarken penganut agama yang satu memusuhi pada orang yang bersujut laen agama." "Itu betul. Tapi itulah kabencian yang diunjuk di tempo dulu membikin kaum yang menyembah agama Hindu tiada brani unjuk dirinya lagi, hingga kita-orang yang tida mau masuk Islam terpaksa lari menyingkir ka dalem utan rimba yang tida bisa didatengken orang. Saya punya kaum, itu orang-orang Baduy yang masih ada katinggalan di utan-utan dalem bilangan sablah selatan dari Lebak, terpaksa mengumpet terus menerus, dan itu kabiasaan asingken diri dari pergaulan laen-laen manusia sudah memakan begitu keras dan masuk betul dalam tabeat dan darah dagingnya, hingga maskipun keadaan sekarang adalah lebih santosa, iaorang masih tinggal kukuh dengen kabiasaan di tempo dulu waktu orang yang bukan Islam ada dalem bahaya, dan dengen begitu kaum Baduy yang dulu begitu besar kakwasaannya di Jawa Kulon waktu masih berdiri kerajaan Pajajaran, menjadi satu golongan kaum Bumiputera yang paling mundur dan kablakang sendiri di seluruh Bantam dan Preangan, ya, brangkali juga di seluruh pulo Jawa." "Kau punya keterangan ini, tuan Pandita, ada menjadi tanda yang kau ada saorang arif bijaksana, hingga saya merasa kagum di antara kaum Baduy ada terdapet saorang yang begitu luas pemandangan dan pengatahuannya seperti kau. Tapi berbareng dengan itu, maafkenlah Tuan Pandita, kalu saya tida bisa umpatken saya punya pengrasaan heran, yaitu: sedeng kau sendiri ada begitu pande, mempunyai pengatahuan begitu luas dan dalem, bagaimana bisa biarken dan tida perduliken kau punya kaum, itu orang-orang Baduy yang masih katinggalan di dalem rimba-rimba di Selatan dari bilangan Lebak, idup dalem

www.rajaebookgratis.com

kaadaan begitu jelek, hingga katinggalan jau oleh laen-laen orang Bumiputera di ini Pulo 35 Jawa, dengen kau tida mau coba aken perbaeki nasibnya, supaya iaorang bisa mengikuti kemajuaan jeman yang sudah berobah jau." Pandita Noesa Brahma memanggut-manggut sambil tersenyum. Sasudahnya irup sacangkir kopi, ia lalu berkata: "Kau punya pertanyaan tida sekali membikin saya jadi heran, kerna sasuatu orang yang cumah meliat keadaan dari sablah luar niscaya ada pikir juga begitu. Sabagi juga satu kembang, ada waktunya megar dan ada waktunya ia jadi layu dan gugur ka tanah, begitu pun satu golongan bangsa atawa kaum agama, berganti-ganti dateng gilirannya aken ia naek ka puncak kamuliaan, lalu merosot turun, rubuh ka tanah dan jadi musna. Sudah ditakdirken oleh yang Kwasa kita-orang punya kaum bakal merosot turun hingga tida ada kapandean manusia yang bisa perbaeki itu seperti juga tida ada orang yang mampu bikin seger kombali bunga yang sudah kering dan layu." "Tapi, kau punya anggepan itu cumah bisa dibenerken kalu semua percobaan sudah jadi gagal. Apakah tuan Pandita sudah perna coba?" "Coba dalem perkara apa, juragan?" "Coba buat bikin iaorang jadi lebih pinter, dengen adaken sekola-sekola, kasih kenal kasopanan, pimpin supaya iaorang mengarti lebih baek kafaedahannya pergaulan idup, suru iaorang blajar berniaga, bertukang atawa berkuli, luasken pengatahuannya dalam ilmu pertaniaan, pertukangan dan karajinan, seperti yang sedang diihtiarken oleh sekalian pemimpin-pemimpin bangsa sekarang ini, yang sedeng bekerja keras buat bikin kabangsaan jadi maju dan bruntung." "Itu semua kita blon coba, sebab saya sudah tau bakal sia-sia, dan malah membikin saya punya kaum jadi lebih cilaka dari sekarang ini." "Lebih cilaka? Inilah sunggu saya tida mengarti." "Itulah ada dari kalangan juragan cumah memandang dari luar saja, tida tau selak-seluknya dari sablah dalem. Selama ini tiga abad yang iaorang idup sendirian di utan lebat dengen terpisah dari pergaulan laen-laen bangsa, kaum Baduy punya kaadaan sudah mundur begitu jau, hingga dalem perkara kasopanan, karajinan dan agama, iaorang sudah katinggalan dengen tida ada harepan buat bisa menyusul kombali, maskipun saya ada jadi iaorang punya pandita, saya sudah tida dapet marika punya antero 36 kapercayaan, hingga tida ada punya cukup pengaruh yang membikin saya punya bicara bisa diturut, kita-orang punya agama sudah disia-sia, kita punya dewa-dewa dan tempat-tempat pemujaan yang suci sudah tida dirawat dan diperhatiken lagi lantaran iaorang punya kapercayaan sudah tercampur dan teraduk begitu rupa hingga apa yang sekarang masih katinggalan sudah tida karuan bangunnya, dan ampir tida bisa dikenalin lagi. Agama yang sekarang saya puja, yaitu agama yang bersih seperti diturunkan oleh saya punya kake moyang di jeman dulu, buat kabanyakan orang Baduy ada sama juga asingnya

www.rajaebookgratis.com

sebagi agama Islam atawa Kristen. Maka buat saya, aken pimpin kaum Baduy ada sama juga sukernya seperti buat tuan sendiri!" Raden Moelia tercenggang mendenger itu omongan. Kamudian ia berkata: "Kalu begitu tuan Pandita tida tinggal di antara orang-orang Baduy?" "Saya tida tinggal tetep antara iaorang," saut Pandita Noesa Brama sambil goyang kepala, "saya punya tempat ada deket dengen kadiamannya orang Baduy tapi bukan dalem kampungnya. Kalu saya tinggal di sini tentulah saya punya anggepan dan pikiran tinggal cepet seperti iaorang dan sekalipun sekarang saya mau idup dalem itu golongan, iaorang tentu nolak, kerna plajaran agama jeman dulu yang masih bersih yang saya ada puja, iaorang sudah tida kenalin lagi." "Kalu begitu, tuan Pandita bukan teritung orang Baduy lagi?" "Saya sendiri tetep ada saorang Baduy, pandita dari kaum Baduy, maskipun saya punya kaum kabanyakan tida perduliken. Ini pangkat atawa gelaran ada saya punya hak turunan yang tida bisa direbut atawa diilangken oleh siapa juga. Saya selalu ada perhatiken kabaekan dan kaslametan-nya saya punya kaum, dan masih ada punya perhubungan dengan banyak tetuanya yang saya sering kunjungin aken membri nasehat, pertulungan dan obat-obat. Saya sudah preksa kaadaan saya punya kaum itu dengen sanget terliti, dan pengabisannya saya ambil putusan, kalu mau bikin iaorang jadi senang dan bruntung, tida ada laen daya dari pada biarken iaorang idup dalem kaadaan seperti sekarang ini, jangan coba aken campur dan bikin maju padanya." "Jadi tegasnya, tuan punya anggepan ada lebih baek aken kasih tinggal iaorang dalem kabodoan dan kagelapan?" 37 "Betul. Sebab dengen begitu kita-orang tida bikin rusak marika punya kasenangan dan kabruntungan." "Apakah tuan mau bilang orang-orang yang bodo bisa idup lebih bruntung dari orang yang pinter dan terplajar?" "Buat satu bangsa atawa kaum yang musti idup dengen bergaul pada segala bangsa dan golongan, kabodoan nanti mendatengken bahaya dan kacilakaan, kerna membikin orang pandang dan perlakuken padanya seperti budak. Tapi buat satu golongan yang sudah tiga ratus taon idup sendiri di tempat sunyi dengen terpisah dari laen-laen bagian dunia dan tida bergaul pada orang yang ada di luar dari kaumnya, itu kapinteran nanti melinyapken iaorang punya kasenangan." "Saya kurang mengarti dengen tuan Pandita punya omongan." "Baeklah saya nanti cerita lebih terang lagi. Juragan tentu sudah denger juga, saya punya kaum, itu orang-orang Baduy, maskipun mempunyai banyak adat kabiasaan yang bodo dan tercela, ada punya juga sifat-sifat yang baek, upama: tida suka dusta, menipu, mencuri, bergadoh atawa setori satu sama laen, hanya selalu idup dami pada sasama bangsa, hingga tida perlu ada pengadilan dan politie lagi. Laen dari itu pengidupannya ada amat saderhana, tida suka pada kareboan, tida kenal pada kakayaan, kabagusan dan karo-yalan, hingga tabeatnya tida temaha dan tida berdengki satu sama laen. Inilah yang paling

www.rajaebookgratis.com

bersih. Betul iaorang idup susah, miskin, jorok, mesum dan semua sanget bodo, taha-yul, dan pemaluan, tapi iaorang idup dengen aman dan dami, tida mengenal persaingan dan perguletan idup yang membikin bangsa-bangsa yang sudah "maju" dan "sopan" jadi tida jiji aken berbuat segala macem kajahatan dan pembunuhan. Percayalah, juragan, yang ini kaadaan nanti lantes berobah, begitu lekas iaorang sudah masuk sekola, membaca buku-buku dan surat kabar, dan bergaul dengen segala bangsa, hingga mengarti makanan yang sedep, pakean yang necis, rumah tangga yang enak serta kenal harganya uwang, pangkat, kakayaan, dan kehormatan, dan kasudahannya apakah nanti jadi? Kaum Baduy nanti linyap, kerna itu kajujuran, kaamanan dan kasenangan pikiran semua bakal musna, dan aken gantinya ini pulo Jawa yang sekarang sudah padet penduduknya nanti dapet tambah bebrapa ribu rahayat yang cumah pikir bagimana musti cari uwang, tida perduli dengen jalan menipu, mencuri, merampok atawa membunu, aken sampeken hawa nafsu serakah yang dibikin timbul dalem hatinya oleh "pelajaran dan kamajuan" yang sekarang dengen 38 rata-rata sedeng dikejer oleh Bumiputera di ini pulo yang hendak cari kamerdikaan dan angkat derajat bangsa, hingga baru ini telah timbul perusuhan Communist yang membikin banyak jiwa binasa dan ribuan orang dapet susah." Raden Moelia tercengang mendenger ini keterangan yang mengutarakan satu filosofie yang tinggi dan peman-dangan amat luas. Saumur idup ia blon perna denger orang bicara begitu tegas dan nyata aken unjuk bahua apa yang dinamaken plajaran dan kamajuan tida slamanya men-datengken berkah. Sekarang itu priyaie mengarti yang ia bukan berhadepan pada saorang biasa, seperti pada guru-guru agama, kiayie atawa santri sembarangan yang omongannya sabagian besar diambil dari kitab-kitab agama, yang seringkah artinya bisa diputer pergi dateng menurut maunya orang yang ucapken itu. Ia sekarang sedeng berhadepan pada satu Filosoof atawa Pujonggo yang pangatahuannya tida lebih bawah dari guru-guru di Bestuurschool. V Panahnya Amor Samentara Raden Moelia bengong berpikir, Pandita Noesa Brama turun dari bale dan minta permisie ka blakang sabentaran, kamudian ia kaluar kombali dan lalu menanya: "Sekarang sudah tengahari. Tentu juragan dari pagi blon dahar. Apakah tida kabratan aken dahar disini? Tapi saya mau kasih tau lebih dulu, kita-orang tida punya apa-apa aken disuguhken, cumah nasi merah dengen lalap dan sambel." "Oh, dengen segala suka hati, tuan Pandita," berkata Raden Mulia dengen kaget seperti orang baru tersedar dari pulesnya. "saya merasa girang kalu bisa dahar bersama kau di sini, saya sendiri suka sekali dengen lalap-lalapan, sebab saya sudah biasa dahar di pagunungan." "Bawa kaluar, Retna!" bertreak Pandita menuju ka dalem.

www.rajaebookgratis.com

Tida antara lama lalu kaluar satu prampuan tua yang aer mukanya manis dan terang, yang dikasih kenal oleh Pandita seperti iapunya istri, dengen membawa satu bakul berisi nasi merah yang masih mengebul asep, dan lalu ditaro di balebale, Raden Moelia lalu berbangkit aken bersalaman, sambil berkata: "Banyak trima kasih ibu, saya bikin kau banyak susah dengen menumpang makan di sini." 39 "Saya harep Juragan tida celah buat ini barang makanan yang tida ada sabagimana mustinya," berkata itu istri Pandita dengen bahasa Sunda alus yang merdu. Samentara itu dari dalem telah dateng satu anak prampuan yang membawa satu nenampan berisi rupa-rupa lalap dan sambel yang ditaro di atas daon pisang, dan sasudahnya atur itu barang makanan di atas bale, lantes mulai singkirken itu bua-bua yang tadi dipake buat temen kopi. Raden Moelia yang baru bicara dengen istri Pandita, lebih dulu tida taro perhatian pada itu gadis. Maka tatkala ia menengok, bukan kepalang iapunya terkejut, kerna meliat di hadepannya satu... bidadari! Itu gadis berkulit putih kuning, badannya langsing dan sedikit tinggi, mukanya tirus, matanya item dan bersorot terang dengen dituwangin oleh sapasang alis yang seperti disipat, di atas mana ada jidat yang lebar, sedeng idungnya ada sedikit mancung. Yang paling menarik ada iapunya mulut yang diapit oleh bibir berwarna dadu, yang macemnya seperti orang tersenyum, sedeng janggutnya yang kembar ada berbanding betul dengen pipinya yang montok dan bersujen, yang membikin itu muka jadi bercahaya saban kalih ia tersenyum dan kasih liat dua baris gigi yang putih seperti mutiara. Rambutnya yang item jengat tida disisir, dan kondenya pun sembarangan, di mana ada terselip satu dua kembang cempaka, sedeng lehernya yang junjung ada terhias dengen satu rante merjan dan satu rante perak yang di ujungnya tergantung satu macem uwang ringgitan dari negri asing yang juga dari perak. Bajunya ada dari cita murah yang pake kembang-kembang warna ijo, yang sabagian sudah luntur, sedeng sarungnya ada batikan Tanahabang, yang berharga murah, pun sudah tua dan gurem. Tapi maskipun berdandan sembarangan Raden Moelia dapet liat nyata itu gadis punya kaeilokan. Ia awasin dengan penuh perhatian waktu itu gadis punya tangan yang montok, yang diriasin dengen gelang emas dan merjan, lagi angkatin itu cangkir-cangkir kopi aken disingkirken ka satu poj okan. "Lekasan sedikit, Retna," kata istri Pandita, tatkala meliat itu gadis berlaku ayal seperti orang yang gugup lantaran diawasin oleh itu priyaie muda. "Apakah ini ibu punya anak?" tanya Raden Moelia. "Betul juragan, iapunya nama Retna Sari dan ada saya punya anak yang satusatunya". 40 Sasudahnya beres atur barang makanan di itu bale-bale, Retna Sari dan ibunya masuk ka dalem, sedeng Raden Moelia bersama itu Pandita dan Bapa Nurhali lalu bersantap dengen senang.

www.rajaebookgratis.com

Sapanjang bersantap Raden Moelia tida brentinya berpikir. Dalem parasnya Retna Sari dan iapunya ibu, itu istri pandita , ia dapet liat apa-apa yang menarik sanget hatinya. Ia merasa seperti sudah pernah dapet liat itu dua paras, tapi ia tida dapet inget di mana, hanya samar-samar seperti juga orang yang baru abis mengimpi. Kalu Pandita dan Bapa Noerhali bicara apa-apa padanya, ia menyaut saja dengen pendek dan melantur, kerna pikirannya sedeng be kerj a keras. Sekarang ia musti akuh kabenarannya cerita yang tersiar bahua anak prampuan dari itu pandita ada luar biasa eiloknya. Sasunggunya juga ia blon perna menampak gadis Bumiputera yang begitu cantik, meskipun waktu masih sekolah di Bandung ia mempunyai banyak kenalan antara anak-anak prampuan dari priyaie-priyaie yang ada jadi upama kembangnya itu ibukota dari Preanger. Akhir-akhir ia bisa tetepkan hatinya, dan mulai berkata-kata: "Tuan Pandita punya anak prampuan sudah besar, hingga saya kira tida lama lagi tuan bisa mendapet mantu." "Itu tida begitu gampang, juragan," saut Noesa Brama sambil tersenyum, "sebab kita-orang bukan Islam, hingga tida gampang aken Retna mendapet jodo, sedeng di antara saya punya kaum, orang-orang Baduy, tida ada yang saya liat sampe surup buat jadi pasangannya saya punya anak." "Apakah Pandita tidak mempunyai laen sanak atawa familie lelaki?" "Tida ada, kerna dalem saya punya familie, cumah tinggal saya sendiri saja yang jadi turunan yang pengabisan, maski dulunya saya mempunyai kulawarga29 besar. Kalu saya meninggal, ini pangkat Pandita yang sudah beratus taon turun temurun, bakalan musna, kerna saya tida mempunyai anak lagi salaennya Retna Sari, dan pakerjaan Pandita tida boleh dilakuken oleh anak prampuan." "Bagimana bisa jadi, kalu tuan punya familie dulu ada besar jumblahnya, sekarang bisa abis sama sekali hingga cumah katinggalan tuan saorang. Kalu cari dengen betul brangkali bisa kadapetan familie yang jau, yang tinggal di laen-laen tempat." "Saya bilang dengen sabetulnya, saya punya antero familie sudah musna, lantaran dulu saya punya kake moyang pegang keras aturan aken tida boleh menikah kalu bukan pada kaum sendiri hingga banyak yang musti kawin pada familie deket, yang berasal dari satu darah, hingga badannya jadi lemah, umurnya pendek, dan gampang sekali tiwas kalu katerjang penyakit. Kita punya turunan sudah putus bebrapa pulu taon lalu tatkala saya punya ibu meninggal, hingga saya punya ayah terpaksa cariken saya istri saorang prampuan dari luar, yang bukan berasal dari kaum sendiri, tapi ada memuja kita punya agama, lantaran sudah dikukut sadari masih kecil." "Kalu begitu, mengapakah tuan pandita tida mau turut tuladan dari tuan punya ayah, aken pungut satu anak lelaki yang dididik dari kecil aken jadi tuan punya mantu? Dengen begitu tuan punya turunan tida menjadi putus, kerna kalu tuan bisa dapet cucu lelaki, ia boleh lanjutken tuan punya pakerjaan sebagi pandita dari kaum Baduy." "Ini tida bisa, lantaran kita-orang punya anak-anak tida boleh menika pada sembarang lelaki rendah yang tida sade-rajat dengen kita."

www.rajaebookgratis.com

"Kalu tuan pandita mau pegang begitu keras tuan punya aturan, niscaya tuan punya anak jadi tua dengen tida bisa dapet suami. Apakah tuan tida kasian pada itu anak yang begitu muda dan eilok?" "Apakah yang saya pegang dengen keras? Tiada laen, cumah saya ingin saya punya anak dapet suami saorang yang sama tingginya dengen kita punya derajat, satu adat kabiasaan yang banyak dipake juga oleh laen-laen bangsa, dan malah di antara priyaie-priyaie disini pun banyak yang pegang keras itu aturan, yaitu tida kasih anaknya menika kalu bukan pada turunan priyaie lagi saya lebih suka Retna Sari sampe tua jangan menika dari pada jadi istrinya orang yang tida sebanding dengen kita punya derajat." "Tadi tuan Pandita ada sebut juga fatsal kasusahan yangterbit dari berlaenan agama, yang saya rasa aken menjadi halangan besar, kerna tuan punya agama sekarang tida terkenal, malah agama yang disujut oleh orang Baduy sendiri tuan bilang sekarang sudah tida bersih lagi seperti di jeman dulu." "Itu betul, tapi ini kasusahan tida terlalu besar, kerna sasudahnya saya preksa berbagi-bagi macem agama, saya dapet kanyataan semua berasal dari satu pokok, cumah di luarnya saja berlaenan sedeng isinya ampir sama. Cumah itu kabratan nanti dateng dari laen fihak seperti upamanya orang Sunda yang pegang betul agama, tentu tida mau menika 42 41 pada saorang prampuan yang tida menjunjung agama Islam, sedeng saya tida mau ini anak dijadiken selir." "Kalu begitu tuan pandita tida kabratan mendapet mantu saorng yang berlaenan agama?" "Kalu saya dapet kanyataan anggepannya itu bakal mantu tentang agama ada cocok dengen sarinya saya punya agama, sudah tentu saya tida menaro kabratan kalu saja derajatnya ada same seperti saya." "Ini perkataan ada gelap, sebab susah sekali buat diukur derajat bagimana yang tuan Pandita anggep ada sama tingginya seperti tuan. Apakah tuan maksudken saorang hartawan besar atawa berpangkat tinggi?" "Bukan begitu," berkata Pandita Noesa Brama sambil tertawa: "Saya tida kabratan aken dapet mantu saorang miskin, yang tida mempunyai pangkat atawa kakayaan satu apa, sebab saya sendiri pun bukan orang mampu dan idup sacara miskin. Yang saya pilih cumah iapunya tingka laku, turunan dan anggepannya tentang agama, yang musti cocok dengen kita punya kapercayaan, tida perduli ia Kristen, Islam atawa apa saja." "Apakah tuan mau dapet mantu yang turunan santri, penghulu atawa pandita seperti tuan sendiri?" Kombali Noesa Brama tersenyum, akhirnya ia berkata: "Saya tida bisa terangken ini pada tuan, cumah saya mau bilang kliru kalu orang pandang saya ini cumah satu pandita yang satu derajat dengen segala penghulu atawa santri-santri di pulo Jawa. Saya punya derajat ada lebih tinggi dari segala priyaie yang paling tinggi dari bilangan Bantam, saya tida ada lebih rendah dari Sultan Yokya atawa

www.rajaebookgratis.com

Sunan Solo....Cumah sabegitu saya boleh bilang pada juragan... harep jangan tanya lebih panjang dari ini suai." Raden Moelia tercenggang30 mendenger ini omongan. Ia awasin aer mukanya itu pandita yang bersifat agung dan mulia dan menunjukken terang iapunya asal bangsawan, seperti turunan dari raja-raja yang membikin sasuatu orang terpaksa taro hormat padanya. Iapunya pri budi alus dan pikiran yang tinggi membikin Raden Mulia merasa yang ia ada berhadepan bukan dengen orang sembarangan. Tapi katerangannya yang paling blakang ini membikin itu priyaie menjadi kaget, kerna sekarang jadi tambah pula itu hal-hal yang luar biasa yang meliputi pengidupannya itu pandita yang penuh dengen resia. 43 "Baeklah, saya tida nanti bicaraken lebih jau tentang tuan punya familie," surat Raden Moelia: "tapi maafkenlah, sablonnya kita tutup ini pembicaraan, saya ingin majuken ini pertanyaan yang pengabisan: kalu tida dapet orang lelaki yang tuan pandang sama tinggi derajatnya dengen tuan sendiri, apakah Retna Sari tida aken dikasih nikah?" "Tida!" saut Noesa Brama dengen suara tetep. "Bagimana kalu ia sendiri sudah punya kacintaan, sudah ada satu lelaki yang dipenuju, sebab ingetlah, tuan Pandita sekarang sudah berumur tua, hingga tida sanggup jaga selama-lamanya pada itu anak." "Kalu saya sudah mati, ia boleh bikin apa ia suka, maski sudah tentu saya punya roh nanti kutukin padanya kalu ia brani menika pada sembarang orang. Tapi kalu waktu saya masih idup ia brani melanggar saya punya kamauan, saya nanti bunuh itu anak!" Ini perkataan diucapken oleh Noesa Brama dengen suara tandes dan tetep, serta matanya menyalah, hingga membikin Raden Moelia jadi terkejut sanget, kerna tiada sangka itu orang tua yang begitu lemah lembut budi bahasanya, ada mempunyai keangkuhan begitu besar dan hati begitu keras, yang cumah biasa terdapet dalam dongengan kuno. Raden Moelia lalu simpangken pembicaraan atas laen-laen urusan satengah jam kemudian ia berpamitan, dan turun dari atas gunung Ciwalirang dengan hati berat, kerna banyak pertanyaan yang dateng bersusun tindih dalem pikirannya tentang kaadaan itu pandita yang penuh dengen resia, yang ia tida bisa pecahken, dengen ditambah pula itu paras dan senyuman yang manis dari Retna Sari, yang selalu membayang-bayang di matanya. Itu priyaie muda yang blon beristri putra Bupati dari Rangkas-gombong, dengen tida merasa telah kena tertusuk oleh panahnya Amor!! VI Wet Negri dan Wet Hati Tatkala Raden Moelia sampe di rumah ia duduk bengong sendirian di korsi males dengen rupa yang amat lesu. Bukan sebab badannya merasa cape lantaran baru abis berjalan jau, hanya kerna pikirannya sanget terganggu. Sasuatu ucapannya itu pandita, terutama di bagian paling blakang yang mengenaken nasib anak prampuannya, sanget menarik iapunya pikiran. Apakah betul Noesa Brama ada saorang 44

www.rajaebookgratis.com

bangsawan yang ada derajat begitu tinggi hingga tida lebih rendah dari raja-raja di Jawa yang sekarang ini, yang semua sudah beratus taon lamanya memelok agama Islam. Turunan dari raja-raja yang menganut agama Hindu cumah masih ada di Bali, sedeng Noesa Brama terang sekali bukan ada saorang Bali, hanya saorang Sunda yang idup di bilangan Bantam turun temurun dan blon pernah menginjek tanah Bali. Itu turunan tentu sekali ada beratsal dari karajaan Pajajaran di jeman dulu yang termashur besar kakwasaannya di Jawa Kulon. Amat boleh jadi ia ada turunan dari raja-raja Pajajaran yang pengabisan yang tatkala ibu kota karajaan-nya, yang dinamaken Pakuan yang pernanya di Batutulis, Buitenzorg, kena direbut oleh tentaranya Sunan Gunung Jati dari Cheribon,1 telah melariken diri ka Preanger Kidul dan masuk sembuni2 ka dalem pagunungan di bilangan Bantam dengen sajumblah rahayatnya yang tida mau menganut agama Islam yang sekarang terkenal sebagi orang Baduy, yang idup terpisah sendiri dari laen-laen golongan penduduk. Boleh jadi juga itu gelaran Pandita yang dipake oleh Noesa Brama, yang katanya diwarisken turun menurun, cumah ada satu alingan saja buat iapunya pangkat dan gelaran yang bener, yaitu sabagi Raja dari kaum Baduy yang dipegang tetep oleh turunannya Prabu Siliwangi, raja dari Pajajaran yang pengabisan, maski juga itu gelaran dan titel tida ada yang tau dan di ini masa tida satu orang mau akuin. Ini dugaan jadi lebih tetep lagi tatkala Raden Moelia inget, itu pandita mengancem hendak bunu iapunya anak yang sabiji itu kalu Retna Sari brani menika pada saorang yang berderajat rendah. Inilah pantes ada tabeat dari rajaraja di jeman Hindu, yang sringkali terdapet dalem cerita wayang, yang pandang hal menjaga derajat dan kahormatan familie ada lebih di atas dari semua, dan menikah pada orang yang bukan pantaran ada kadosahan besar. Tapi kalu bener begitu mengapakah itu pandita sendiri menikah pada satu anak prampuan Bantam yang ada di luar kaumnya, yang dikukut dari masih kecil oleh ayahnya? Derajat apakah yang dipunyai oleh itu anak pungut yang sekarang jadi iapunya istri? Apakah boleh jadi istrinya itu pandita pun ada turunan anaknya orang bangsawan gantigr tapi bangsawan Sunda yang manakah nanti mau kasih anak prampuannya diambil oleh saorang Baduy yang tinggal di pagunungan." Memikir sampe di sini, dalem ingetannya Raden Moelia lalu tercipta pula rupanya itu "ibu", istri dari pandita, dan parasnya yang cantik dari Retna Sari, yang kaliatan sanget luar biasa menarik hatinya, kerna itu dua paras ia seperti sudah perna liat, apa lagi itu mata dan alls yang begitu indah, yang bercahaya begitu terang, yang tida nanti bisa dipunyai oleh sembarang orang yang bukan turunan agung. Maka sekarang Raden Moelia coba kumpulen ingetannya aken pikirken, di mana itu paras ia sudah perna pandang. Sambil isep satu sigaret ia duduk bengong melonjor di korsi males dengen matanya mengawasi pada asep yang ia kebulken dari mulutnya. Komudian ia melirik pada lonceng yang menempel di tembok yang menunjukken sudah jam ampat sore. Di bawah itu lonceng ada teratur satu kumpulen potret dari iapunya ayah, ibu sudara, laen-laen familie dan sobat-sobat. Matanya lalu

www.rajaebookgratis.com

mengawasi juga pada itu potret-potret. Mendadak ia terkejut, lompat bangun seperti dipagut uler, mengamperi dan ambil satu potret ukuran salon, yang sudah sedikit tua, tapi gambarnya masih kaliatan teges, di mana ada tergambar satu priyaie dengen istrinya yang berdiri berendeng. "Ach, ini dia, sekarang aku dapet cari! Inilah gambarnya aku punya nene, yang parasnya ada ampir sama dengen Retna Sari dan ibunya, hubungan apakah yang ada antara iaorang hingga rupanya begitu mirip satu pada laen?" Lama ia memandang pada itu potret dari iapunya nene yang sudah lama meninggal, dan semingkin ia awasin, ia liat itu paras ada semingkin mirip dengen istri dan anak prampuan dari itu pandita. Komudian ia taro kombali itu potret di tembok, dan lalu ambil putusan di laen minggu hendak kunjungin kombali itu pandita supaya bisa usut keterangan lebih jau dan sekalian aken liat lagi pada Retna Sari yang paras dan senyumnya selalu berbayang dalem ingetannya. Raden Moelia pikir hendak pergi ka Gunung Ciwalirang di laen minggu waktu ia vrij3 dari dienst. Tapi iapunya hati sudah jadi begitu tida sabar, hingga dengen sanget susah ia tindes kainginan aken brangkat ka tempat pandita di besok harinya. Buat menunggu sampe hari Minggu sudah terang ia tida sanggup, kerna sasuatu hari ia rasaken begitu lambat seperti juga satu bulan. Pakerjaan dienst yang banyak, surat-surat yang musti diurus di kantornya tida bisa membikin ia lupaken pada itu pondok kecil di puncak gunung Ciwalirang, yang siang dan malem terbayang-bayang dalem ingetannya. Di hari Rebo pagi Raden Moelia sudah tida bisa tahan hatinya, dan lantes lompat di iapunya motorfiets4 menuju sendirian ka Sukarame, di mana ia tunda itu kandaraan dan lalu berjalan mengikuti kali Citanjur hingga akhirnya ia sampe di itu pondok-pondok di bawah bukit. Di situ ia duduk minum thee aken mengaso buat ilangken capenya. Ia dapet-ken orang-orang yang ditemuken pada hari Minggu yang lalu masih ada berkumpul, dan itu orang Palembang Abdoel Sintir yang dapet sakit mata, sekarang sudah sembuh sama sekali, hingga 46 45 matanya tida usah dibungkus lagi, dan sekarang sedeng asik omong-omong bersama kawan-kawannya dengen rupa sanget girang. Itu orang-orang Palembang semua bicara Melayu, dan iaorang bicara dengen laluasa lantaran anggep di itu tempat semua orang bicara Sunda hingga tida begitu mengarti omongannya yang diujarken dalem bahasa Melayu Atas. Satu antaranya berkata begini: "Kalu kau punya maksud sudah keras dan tetep sekali, kamu musti bicaraken ini hal dengen lekas pada itu Pandita, sebab aku dengar kabar lagi dua minggu ia bakal berlalu dari sini, aken balik ka tempatnya yang amat jau dan tida satu orang yang tau di mana adanya, hingga sanget susah aken kita berurusan, kerna musti menunggu satu taon baru ia kombali lagi di sini". "Dalem itu tempo satu taon", berkata saorang laen, "boleh jadi Retna Sari sudah dipunyain oleh laen orang."

www.rajaebookgratis.com

Raden Moelia terkejut mendenger ini omongan, hingga thee yang ia lagi irup tumpah di bajunya kerna tangan yang memegang cangkir telah bergumeter. Ia lalu mengiser5 dari bangku aken dateng lebih deket ka tempat duduknya itu orang-orang Palembang, serta pasang kuping terang-terang. "Aku rasa," berkata pula yang laen, "tiada gampang bisa dapet itu gadis, sebab itu pandita tentu tida mau kasih anaknya dibawa ka sebrang lautan." "Tapi aku sendiri boleh berjanji kalu sudah menika aken tinggal bersama-sama itu pandita yang sekarang aku pandang seperti ayah sendiri sasudanya ia sembuhken aku punya penyakit mata". Berkata si Abdoel Sintir, "kalu Retna Sari sudah jadi istriku, dengen perlahan kita nanti bujuk aken ia turut ka Palembang." "Itu memang ada gampang, kalu saya itu Pandita mau kasih anaknya buat menikah padamu. Tapi kalu ia menolak?" "Tapi apakah ia nanti menolak kalu aku srahken mas kawin sepulu ribu rupia dan semua hatsil dari aku punya kebon karet ia boleh trima?" "Ingetlah itu pandita tida temaha sama uwang, hingga kita punya segala pembrian semua ia tampik". "Tapi ada banyak dukun-dukun yang melaga tampik pembrian kecil-kecil, tapi mulutnya celangap lebar kalu disodorkan pembrian yang berharga besar, uwang punya pengaruh tida ada watesnya, maka aku hendak coba buat dapetken Retna Sari biar musti abis antero kekayaanku!" berkata Abdoel Sintir dengen bernafsu, "Apakah gunanya aku sembuh dari ini penyakit mata, kalu sasudahnya bisa meliat, aku punya hati musti tanggung sangsara lantaran rindu pada itu gadis yang seperti bidadari? Oh Retna Sari! Retna Sari! Kalu aku tida bisa dapetken kau, sunggu percumah.... Percu-mah sekali kau punya ayah sembuhken aku punya mata, lebih baek ia biarken aku tinggal buta terus, dari pada kau bisa meliat, tapi kau ada jau dari pemandanganku!" "Kau jangan berlaku gila, sobat", kata kawannya, "kau sudah trima budi yang amat besar dari itu pandita , hingga tida harus kau bikin kurang senang padanya dengen paksa meminta iapunya anak kalu ia tida suka kasih." "Tapi blon tentu ia nanti menolak, apalagi kalu aku membujuk dengen keras serta srahken semua hartaku padanya. Dengen meratap dan sambil berlutut aku nanti minta itu pandita dan istrinya taro kasian padaku dan trima aku sabagi iapunya mantu. Aku nanti mengancem hendak bunu diri di iapunya gubuk kapan ia tolak permintaanku. Aku lamar iapunya anak dengen kasih emas kawin besar yaitu aken membales iapunya budi dan pertulungan dan aku nanti pandang dan hormatken iaorang seperti juga aku punya ayah dan ibu sendiri. Apakah ini perbuatan ada salah?" "Itu semua ada betul. Tapi bagaimana kalu ia menampik dengen keras?" "Kalu ia keras menampik, aku musti pilih antara bunu diri atawa bawa lari pada itu gadis dengen paksa, kerna Retna Sari rupanya ada cinta padaku, dan ia sudah trima aku punya pengasihan bebrapa potong sarung, satu horloji tangan, lima uwang emas Inggris dan laen-laen perhiasan yang aku srahken waktu

www.rajaebookgratis.com

bertemu padanya di pancuran. Sayang kita-orang tida bisa bercakepan sebab aku tida mengarti Sunda dan ia tida begitu bisa omong Melayu." "Itu betul," saut kawannya, "kasih naek saja itu gadis di satu taxi dengen sabentaran kita sudah bisa terbang j au. Ini ada lebih baek dari pada kau bunuh diri atawa membayar emas kawin dengen antero kekayaanmu, kerna kalu kau sudah tida punya satu apa lagi, itu prampuan nanti ting-galken kau atawa minta dicereken. Awas sama prampuan Sunda! Aku sendiri sudah ilang banyak uwang dieret6 oleh aceuk-aceuk di Bandung!" Raden Moelia tida bisa tahan lagi mendenger ini omongan jahat dan kurang ajar, maka ia lantes bangun dari tempat duduknya, pegang pundaknya Abdoel Sintir dan berkata: "Sobat! Ati-ati, jangan pikirin segala niatan jahat disini. Aku orang politie, assistent Wedana dari ini tempat, dan aku sudah dapet tau kau punya segala niatan keji. Coba-coba kau jalanken itu niatan, lantes aku nanti bekuk kau punya batang leher!" Antero kawanan itu orang Palembang menjadi kaget seperti di samber gledek. Abdoel Sintir punya muka pucet dan badannya gumeteran. 48 47 "Maaf, tuan," ia berkata dengen rupa bingung. "Barusan saya cumah omong maen-maen saja, bukan diniatken dengen sasungguhnya!" "Kau memaen atawa tida itu aku tida perduli, tapi aku mau kasih inget, itu pikiran ada sanget tida pantes buat saorang yang sudah trima budi begitu besar dari itu tuan Pandita yang membri pertulungan dengen percumah. Aku kasih nasehat dengen sabetulnya, kalu kau brani ganggu salembar rambutnya Retna Sari, aku lantes bekuk dan kasih masuk kau dalem penjara. Aku musti bri tau kau orang punya niatan busuk pada itu pandita, dan aku minta kau lantes berlalu dari ini tempat sekarang j uga!" Itu orang-orang Palembang coba membri katerangan bahua apa yang marika omongken tadi, bukan terus di hati, cumah sakedar maen-maen saja sebab di ini tempat sepi iaorang terlalu iseng, tida ada apa-apa yang diomongin. Tapi Raden Mulia tida ambil perduli, hanya dengen keras suru iaorang lantes brangkat atawa nanti ditahan di ka assistenan sabagi orang-orang berbahaya. Akhirnya itu orang-orang Palembang merasa lebih slamet kalu marika lantes brangkat di itu waktu juga, dan lalu beresken pakean dan barang-barangnya yang dipikul oleh bebrapa kuli, dan lantes turun dari atas gunung sambil menggrutu dan menyomel. Sasudahnya Abdoel Sintir dan kawan-kawannya berlalu, Moelia lantes pergi sendirian menuju ka puncak. Di tenga jalan ia menampak Retna Sari, dengen membawa satu lodong7 berisi aer dan satu bakul barang pakean yang abis dicuci, lagi naek ka atas saorang diri, dengen tindakan perlahan kerna rupanya ia merasa cape jalan menanjak begitu jau. Moelia lantes bertindak lebih lekas hingga ia kena susul itu gadis. "Retna, kasihlah saya permisi aken bantu bawain itu lodong aer yang berat, supaya kau jangan jadi begitu cape melinyasin8 ini

www.rajaebookgratis.com

tanjakan," berkata Moelia dengen suara manis. Retna Sari tersenyum, lalu menjawab: "Biar saja, juragan, saya sudah biasa membawa barang yang berat dan naek turun di sini". Tapi Moelia tida ladenin, hanya lantes ambil itu lodong aer yang ia lalu panggul di pundaknya dan berjalan di sampingnya itu gadis. "Apakah kau betah di sini, Retna? Aku rasa ini tempat sunyi ada kurang cocok bagi satu gadis muda seperti kau, " berkata itu pemuda. "Saya sudah biasa tinggal di tempat yang sunyi, yang jau lebih sunyi dari di sini," menyaut Retna. "Malah disini saya tida begitu senang, kerna ada banyak orang yang dateng minta obat, dan saban saya pergi ka pancuran, selalu ada orang-orang lelaki yang awasin, deketin dan ajak bicara sama saya, apalagi itu kawanan orang Palembang yang kasih saya segala macem barang persenan, maski saya tida mau trima, iaorang paksa suru saya ambil." "Apakah betul kau perna trima dari itu orang-orang Palembang persenan uwang emas, horloji dan sarung-sarung?" Itu gadis terkejut sedikit dan lantes menjawab: "Betul. Tapi juragan jangan kasih tau pada saya punya ayah, sebab ia tentu marah kalu saya brani trima barang persenan, maski sabetulnya iaorang kasih dengen paksa dan tinggalken itu barang-barang di batu di mana saya lagi mencuci." "Mengapakah kau pergi ka pancuran sendirian saja tida membawa kawan?" "Saya punya ibu tida kuat aken naek turun ka pancuran satiap hari, sedeng laen kawan saya tida punya, sebab ayah tida kasih laen orang berdiam di kita punya pondok. Di atas tida ada aer buat dipake minum, mencuci atawa mandi, kerna di dalem gowa cumah ada sumur-sumur yang aernya berbau walirang76 hingga tida bisa dipake." "Di dalem gowa? Gowa yang mana itu?" "Yang ada di blakangnya kita punya pondokan. Itu pondokan ada menerus ka dalem gowa yang gelap dan panjang, di mana saya punya ayah bersembahyang satiap hari, salaennya hari Jumahat. Kalu turun ujan besar, hingga itu pondokan banyak bocor, kita biasa menyingkir dan berlindung di situ." "Brapa dalemnya itu gowa?" "Kira lima depa, tapi katanya ada lagi terusannya, setau brapa dalem, sebab saya tida perna masuk, lantaran gelap dan lobangnya sempit, kalu mau masuk musti merangkang di antara batu-batu karang. Sampe disini itu pembicaraa dibrentiken, lantaran iaorang, sampe di muka pondok dan istri pandita kebetulan ada di luar. Raden Moelia dipersilahken masuk dan berduduk di bale-bale sedeng istri pandita pergi ka dalem aken panggil suaminya, samentara Retna Sari beber pencuciannya di pelataran. Tida antara lama Noesa Brama lalu menghamperi Walirang = belerang. pada itu tetamu, dan sasudahnya bersalaman, lalu menanya apa maksudnya Moelia dateng lagi padanya.

www.rajaebookgratis.com

"Saya denger kabar tuan Pandita bakal lekas berlalu dari sini apakah betul?" menanya itu assistent wedana. 50 49 "Betul," saut pandita, "saya aken berlalu kira lagi sepulu hari." "Itu sebab maka saya dateng, perlunya aken minta plajaran pada tuan yang saya pandang sabagi saya punya guru." "Plajaran apakah yang saya bisa kasih pada juragan? Saya ini ada saorang dusun yang bodo." "Saya ingin dapet tau cara bagimana musti jalanken saya punya kawajiban sabagi satu ambtenaar, supaya ini bilangan menjadi aman dan dami serta rahayat merasa puas, kerna seperti tuan pandita tau sendiri, di kuliling tempat ada timbul pergolakan, hingga bukan maen beratnya pakerjaan orang yang musti pikul tanggungan sabagi bestuur ambtenaar." "Di jeman kekalutan dunia seperti sekarang, bukan saja pembesar-pembesar negri, hanya orang-orang yang jadi pemimpin bangsa, yang menjadi kepala agama, yang jadi ibu-bapa, yang jadi guru, majikan, sudagar dan laen-laen, semua rata-rata ada merasa tertindes oleh beratnya marika punya tanggungan, kerna kalu salah ambil tindakan, gampang sekali menimbulken kakalutan dan kaonaran, yang terbit lantaran satu sama laen blon mengarti betul kaadaan jeman yang sudah berobah." "Itulah sebabnya saya perlu mendapet nasehat dari saorang pande seperti tuan pandita , supaya bisa pernaken diri di tempat yang betul. Saya punya pakerjaan ini ada terlalu susah, sebab di satu fihak saya musti lakuken kawajiban guna negri, di laen fihak saya musti jaga juga kapen-tingan rahayat." "Dalem dunia ada dua macem wet: yang satu ada wet negri, yang kalu diturut dengen betul nanti membikin juragan punya pakerjaan dihargaken oleh pembesar yang lebih atas, dan inilah yang banyak dipegang oleh ambtenaar-ambtenaar." "Dan itu wet yang satunya lagi?" "Yaitulah wet hati, wet yang beratsal dari Tuhan, yang sudah ditanem dalem hatinya manusia, dan semingkin tinggi plajaran, kasopanan dan pri budinya itu orang, semingkin penghidupannya kena dipengaruhken oleh itu wet yang tida kaliatan, yang tida ada hurufnya, tapi yang paling sampurna sendiri dari semua wet-wet dalem dunia." "Apakah perbedaannya antara wet negri dengen wet hati?" "Wet negri ada dibikin oleh manusia, hingga saban waktu bisa dihapusken, ditambah atawa dirobah, sedeng wet hati tinggal tetep salamanya, tida bisa dikiserken lagi. Pada wet negri orang boleh maen gila, puter-puter duduknya hingga kalu berbuat kasalahan tida bisa dihukum, tapi pada wet hati tida saorang pun, maski yang bagimana pinter, bisa berdusta atawa menyingkirken dirinya, wet negri masih jau dari sampurna, hingga banyak kasalahan dan kadosahan yang tida bisa 51 terhukum, upama kalu politie tida bisa adaken saksi atawa bukti; sedeng wet hati nanti menghukum sasuatu orang yang berdosa maski pun kasalahannya

www.rajaebookgratis.com

tertutup rapet hingga tida ada yang dapet tau. Sabaliknya, saorang yang dipandang berdosa besar oleh wet negri, kalu perbuatannya tida bertentangan dengen wet hati, ia tinggal bersih maski saantero dunia pandang padanya sabagi saorang busuk, maka orang yang idup menurut wet hati, ia tida merasa jeri aken lakukan apa yang bener dan patut, kabraniannya tida berwates, dan pikirannya tinggal anteng, tida gampang kena dipengaruin, maskipun menampak kaadaan yang bagimana suker dan heibat." "Tapi tidak sembarang orang bisa mengenal pada itu wet hati kerna buat dapet mengarti baek pada itu macem wet yang tida ada hurufnya, orang musti blajar banyak dan mempunya pengatahuan tinggi dan luas." "Buat mengenal ini macem, wet tida terlalu susah, juragan, kalu saja sasuatu orang mau berpikir dan taro dalem hati, aken jangan berbuat pada laen orang apa yang kita tida ingin orang laen berbuat pada kita, dan berbuatlah pada laen orang apa yang kita ingin orang laen nanti berbuat pada kita. Di sinilah ada pokoknya buat orang blajar kenal pada ka-adilan dan kapantesan." Raden Moelia bengong memikirken itu omongan. Akhir-akhir ia berkata: "Dalem pamerentahan negri tida selamanya orang bisa menurutin pada wet hati, sebab di waktu ada kaributan dan kakalutan, orang terpaksa musti gunakan aturan keras kalu mau pegang tegu kaamanan dan tetepken kakwasaan dari pamerentah." "Itulah sebabnya maka kaum Brahman, golongan yang paling tinggi dari bangsa Hindu, tida mau campur urusan pamerentahan negri dan paperangan yang saanteronya di-srahken pada kaum Satria. Buat orang-orang yang hendak jalanken dengen betul titah-titah agama, yaitu yang idup dengen bertakluk pada wet hati, suai pamerentahan cumah membikin halangan bagi marika punya kamajuan rohani, kerna sringkali musti lakuken apa-apa yang bertentangan dengen itu wet yang paling tinggi." Sampe di sini pembicaraan dibrentiken lantaran Pandita minta itu priyaie turut dahar tengahari. Kombali istri pandita dan Retna Sari kaluarken hidangan yang terdiri dari nasi merah, lalap dan sambel-sambel. Sahabisnya dahar, Raden Moelia lalu berpamitan, kerna di itu hari bukan waktu vrij hingga ada banyak pakerjaan yang musti diurus. Ia tida bicaraken sama sekali apa yang telah terjadi dengen itu kawanan orang Palembang, kerna ia rasa kurang pantes aken tuturken itu hal tida enak pada Pandita yang boleh jadi nanti singkirken Retna Sari dengen sigrah atawa larang itu anak 52 pergi ka pancuran. Sekarang toch tida berguna itu hal diributin lagi kerna itu bahaya sudah liwat dan sabagi saorang yang beradat alus, Raden Moelia tida mau unjuk iapunya pahala di hadepan itu pandita , cumah ia ambil putusan aken taro satu politie desa buat larang orang dateng deket atawa menganggu kalu anak dan istri pandita turun dari gunung. Dalem perjalanan ini kalih Raden Moelia merasa senang lantaran sudah dapet plajaran dan nasehat baek dari itu pandita , dan terutama sudah dapet kutika aken bicara banyak pada Retna Sari yang ternyata ada satu gadis yang manis budi bahasanya. Bebareng dengen itu, iapunya hati tertarik semingkin keras

www.rajaebookgratis.com

pada itu gadis, hingga ia mulain saja muncul rupa-rupa perlawanan yang menghalangken, kerna ia tau betul iapunya ayah, Bupati dari Rangkas-gombong tida nanti idzinken iapunya putra, yang diharep bisa menggan-tiken jadi Bupati menikah pada satu gadis dari saorang yang bukan saja tida dikenal, tapi juga berlaenan agamanya. Betul Pandita Noesa Brama boleh jadi ada turunan dari raja-raja Pajajaran, tapi siapakah sekarang yang nanti mau akuin iapunya derajat itu? Laen dari begitu, sudah lebih dari satu kalih iapunya ayah dan ibu lepas perkataan, bahua itu dua orang tua ada berniat keras buat lamar putrinya Bupati dari Cianjur yang terkenal cantik dan terplajar tinggi, kaluaran dari H.B.S., maka Moelia bisa petaken9 sendiri bagimana nanti gusar dan jengkelnya itu orang tua kalu ia mengambil istri satu gadis pegunungan yang tida terplajar sama sekali. Kapan ia pikirken ini semua halangan, ia terpaksa ambil putusan aken lupaken pada Retna Sari. Tapi panahnya Amor, satu kali sudah menancep, tida gampang dicabut. Semingkin ia hendak coba lupaken semingkin parasnya itu gadis berbayang-bayang di matanya. Helaas, di dunia ini bukan sedikit orang-orang muda yang menjadi korban dari kejailannya Cupido78 seperti yang dialamin oleh Raden Moelia! VII Terjebak Di desa Sukarame dan laen-laen tempat yang berdamping, sudah tersiar kabar bahua itu dukun Sakti, Pandita Noesa Brama, aken berlalu dari Gunung Ciwalirang pada hari Jumahat tanggal 30 December, hingga cumah tinggal satu hari, yaitu tanggal 23 December, yang ia bisa gunaken temponya aken menulung pada orang yang sakit. Tiada heran kalu di itu hari orang yang dateng minta obat ada luar biasa banyaknya, hingga dari waktu masih pagi kaliatan berurut79 orang naek ka atas gunung aken bertemu pada itu pandita. Besoknya, di hari Saptu, itu tempat yang kemaren begitu rame sudah menjadi sunyi kombali. Satu per satu itu orang-orang yang berkumpul di pondokpondok di deket sumber kali Citanjur telah berlalu. Orang-orang dagang pun sudah simpen dagangannya aken dibawa pulang ka desa, satu dua pondok sudah dirombak, kerna maskipun pandita masih diam di atas puncak lagi anem hari, tapi dari sebab ia tida trima pula orang sakit, maka di itu tempat bakal tida dateng tetamu, hingga di itu pondokan yang begitu rame, pada hari Saptu sore cumah katinggalan anem tujuh orang saja yang merasa berutang budi pada pandita hingga iaorang mau tunggu sampe itu pandita dengen familienya sudah brangkat. Di itu hari Saptu sore ada sanget gelap gulita. Angin laut dari selat Sunda meniup dengen keras. Langit tertutup oleh awan item hingga tida sabiji bintang yang kaliatan. Penduduk desa Sukarame yang pernanya di muara kali Citanjur, sudah meringkuk dengen senang dalem tempat tidurnya, tatkala dua auto yang dateng dari jurusan kidul brenti di itu desa. Dari dalem itu auto telah lompat turun sakawanan orang yang memake uniform kuning dengen topi pet, puttees80 dan band pinggang dari kulit, serta soren81 klewang di samping kiri dan snapan karabijn82 di sangkutken di pundak sablah

www.rajaebookgratis.com

kanan. Dari dandanannya terang sekali marika ada orang-orang veldpolitie, yang sanget dimaluin oleh orang-orang desa, kerna menjalanken dienstnya dengen keras dan cakep, hingga banyak penjahat dan orang-orang yang tersangka berkelakuan kurang baek sudah ditangkep dan dimasukken dalem penjara. Itu kawanan veldpolitie,83 yang terdiri dari delapan orang, lalu berjalan mengikuti kali Citanjur yang menerus ka atas bukit Ciwalirang. Bebrapa di antaranya sabentar-sabentar corongken lampu electris yang marika bawa, aken terangken itu jalanan pagunungan yang amat gelap. Iaorang berjalan dengen perlahan dan hati-hati, dan cumah omong-omong dengen berbisik, mengikutin saorang yang jadi pe-nganter yang pake satu mantel panjang dan berjalan paling dulu. Di blakang marika ada lima orang Bumiputera yang semua pake mantel, yang berjalan dengen tida bicara apa-apa Sigrah juga marika sudah sampe di itu pondok-pondok yang sabagian sudah kosong, sedeng orang-orang yang masih katinggalan di situ sudah tidur dengen senang. Dua dari itu lima orang Bumiputera yang berjalan di blakang lalu brenti di 54 53 muka itu pondokan, sedeng yang laen-laen berjalan terus ka atas puncak, menuju ka pondoknya pandita Noesa Brama. Dalem itu pondok dari pandita semua sudah sunyi, cumah kaliatan sinar api dari satu lampu tempel yang dipasang didalem bilik. Itu orang-orang politie lalu diatur terpencar hingga itu pondok seperti dikurung dari luar, sedeng yang jadi commandantnya, saorang Blanda dengen satu orang Bumiputera yang barusan jadi penunjuk jalan lalu mengetok-ngetok pada pintunya itu pondokan. "Siapa?" kadengeran suaranya Koesdi dari dalem. "Buka, kita ada orang-orang politie!" berkata itu commandant. "Mengapakah dateng begini malem? Tuan pandita sudah tidur!" "Jangan banyak bicara, lekas buka, kalu tida kita-orang masuk dengen paksa!" Kadengeran suaranya orang turun dari bale-bale, lalu berjalan ka sablah dalem dari itu pondokan, dan tida antara lama kadengeran orang bicara di dalem, lantas bebrapa orang bertindak kaluar, itu lampu dijalahken terang-terang, dan itu pintu lalu dibuka oleh Koesdi, sedeng Pandita Noesa Brama berdiri di pertengahan pegangin satu lampu. Itu Commandant dengen dianter oleh dua veldpolitie, yang masingmasing pegang revolver di tangan dan klewang terhunus, lalu masuk ka dalem pondok, dan menanya: "Apakah kowe yang dinamakan Noesa Brama?" "Betul, tuan," saut pandita . "Apakah kowe bikin di sini?" "Bersembahyang di ini gunung yang saya biasa kunjungin satiap taon." "Perlu apa kowe bersembahyang di ini gunung? Jangan dusta!" "Menjalankan titahnya saya punya agama." "Ach, nonsens, jangan omong kosong sama saya. Kowe dateng di ini tempat sunyi aken mengasut, buat kumpul orang aken bikin pembrontakan. Kowe satu communist, dan ada punya banyak pengikut!"

www.rajaebookgratis.com

"Saya tida ada punya pengikut, salaennya dari ini satu orang yang menjadi saya punya bujang." "Kowe brani berdusta sama saya? Apa kira politie tida dapet tau, satiap hari Jumahat ada ratusan orang dateng disini aken minta jampe dan jimat dari kowe?" "Itu orang-orang dateng dengen tida diundang. Iaorang cari sama saya buat minta obat, laen tida." "Apakah kowe ada punya surat diploma buat jadi doktor? Kalu kowe pinter obatin orang, kenapa tida pergi di tempat 55 rame, di mana kowe bisa dapet banyak duit itu orang-orang bodo yang kowe tipu." "Saya tida trima upah satu peser dari itu orang-orang." "Semua Santri dan Kiayie penipu bilang begitu. Kowe boleh kasih katerangan di hadepan politie yang nanti bikin pepreksaan." "Politie sudah tau saya punya pakerjaan. Assistent Wedana di ini tempat sudah dua kaluh dateng di sini. Ia bisa saksiken yang saya bukan penipu atawa pengasut." "Ya, itu boleh jadi, sebab itu assistent wedana sudah jadikowe punya murid dan takut sekali sama kowe. Sekarang kowe musti turut pada kita-orang". "Saya musti turut di ini malem juga?" "Ya ! " "Kamanakah saya mau dibawa?" "Ka rumahnya itu assisent Wedana kowe punya murid." "Apakah tida bisa besok pagi saja? Saya tida lari tuan." "Tida, musti sekarang juga, dan sablonnya brangkat kita-orang mau gledah ini rumah." Kaliatan nyata sekali pandita Noesa Brama punya rupa yang gusar. Mukanya jadi merah dan matanya menyalah tatkala itu orang-orang politie, dengen semua pegang golok terhunus, masuk brobosan84 ka bagian dalem dari itu pondok, bongkar tiker, bulzaklO dan peti-peti pakean, tapi tida dapetken apaapa yang mencurigaken. Sigrah juga itu orang-orang politie sampe di bagian blakang dari itu pondokan yang seperti diterangken oleh Retna Sari pada Raden Moelia, ada bermacem seperti gowa dan panjangnya kira sapulu meter dan lebarnya lima meter, saanteronya dari batu-batu karang. Di satu pondokan ada satu lobang kecil, cumah tiba cukup buat satu orang berjalan dengen merangkang. Tapi itu lobang, sablonnya politie dateng, sudah keburu ditutup oleh Koesdi dengen iserken satu batu besar yang ada di sampingnya. Dari sebab tida dapetken apa-apa yang dicari, maka itu orang-orang politie lalu kaluar kombali dari itu pondokan, dan prentah Noesa Brama dan Koesdi turut pada marika. "Saya minta supaya saya dan Koesdi brangkat besok pagi saja." Memuhun itu pandita, "sebab saya tida boleh biarken saya punya anak dan istri tinggal sendirian di ini tempat yang amat sunyi."

www.rajaebookgratis.com

Istri pandita dan Retna Sari, yang sakean lama tinggal berdiri di satu pojokan dengen gumeter ketakutan, sekarang mulai menangis dan bicara dalam bahasa Sunda aken muhun pandita dan Koesdi jangan sampe ditangkep, sebab iaorang tida bersalah. 56 Itu orang yang tadi jadi penunjuk jalan, lalu meng-hamperi dan bicara bisikbisik pada itu Commandant, yang komudian lalu berkata pada pandita: "Kowe punya anak dan istri pun musti dipreksa juga, tapi iaorang tida usah dibawa sekarang, besok pagi boleh dateng menyusul di rumah assistent wedana. Ini recherce bersama dua orang kawannya nanti jaga padanya disini. Hayo brangkat sekarang, kowe jangan kuatir apa-apa. Siapa tida salah, tida nanti dihukum. Pamerentah sampe cukup adil." Pandita Noesa Brama tida bisa bilang apa-apa lagi. Ia dan Koesdi lalu berpakean dan dengen diiringin oleh rombongan orang politie, lalu turun dari atas gunung, samentara itu recherce86 dengen dua kawannya tinggal berduduk di bale-bale di pertengahan depan dari itu pondokan, sedeng Retna Sari dengen ibunya masuk ka dalem sambil menangis. Satu jam komudian pintunya itu pondokan kombali diketok dari luar, dan lalu dibuka oleh itu recherce. Tiga orang Bumiputera masuk ka dalem dengen tingkanya seperti pencuri, lalu bicara sambil bisik-bisik: "Coba kau liat itu tanda api blauw87 di lautan. Kita punya prau sudah sedia. Jangan ajal lagi." Itu anem orang lalu kaluar dari pondokan mengawasi ka bawah gunung, ka jurusan di mana pada waktu siang ada tertampak lautan. Di pinggir laut, kirakira di betulan telok Carita, ada kaliatan nyata sapasang api warna blauw, yang dipasang di tiangnya satu prau atawa kapal. Itu recherce lalu masuk ka dalem, mengetok pintu kamarnya istri pandita dan Retna Sari. Iaorang berdua, yang blon tidur kerna menangis terus, lalu kaluar. "Ibu," kata itu orang, "saya baru trima kabar dari tuan Commandant yang ibu dan ibu punya anak musti brangkat sekarang juga buat dipreksa." "Bagimana saya bisa turun gunung sedeng ada begini gelap," saut istri pandita . "Jangan takut, kita ada bawa lampu batteriy dan kita nanti anter sama-sama. Harep lekas berpakean, jangan ayal lagi, kalu lambat boleh jadi pandita nanti dapet cilaka." Mendenger ini omongan, istri pandita dan Retna Sari tida berayal lagi, lantes saja tuker pakean, dengen pake baju yang tebel dan berkrodong syaal, lalu turut pada itu kawanan menuju ka bawah gunung. Sasudahnya ada di tengah jalan, istri pandita mendapet rasa kuatir pada barang-barangnya yang ditinggalken di itu gubuk dengen tida terjaga. Maka tatkala sampe di tempat pondokan, ia brenti sabentar lalu treakin iapunya kenalan 57 bapa Mikoeng yang buka warung nasi di itu pondokan aken minta tulung liatliat iapunya gubuk.

www.rajaebookgratis.com

Bapa Mikoeng, yang tida dapet tau apa yang telah kajadian dengen pandita, merasa heran sekali tatkala meliat istri pandita dan Retna Sari dateng di waktu tenga malem buta dengen diiringin oleh bebrapa orang lelaki. Dari terangnya lampu ia kenalin. Bebrapa di antaranya ada orang Palembang yang dulu turut pada Abdoel Sintir. "Mau pergi ka mana ibu?" menanya Mikoeng. Sablonnya istri pandita menjaut, itu recherce lalu menj awab: "Kau trausah tau, tutup mulut! Hayo, ibu, lekas jalan, kita tida ada banyak tempo!" Sigrah juga itu kawanan terusken perjalanannya, tinggalken Mikoeng celangap sendirian. Ini tukang warung, yang sudah tau juga niatan jahat dari Abdoel Sintir tatkala itu orang diancem akan diusir oleh assistent wedana, jadi merasa heran sekali bagimana itu gadis dan ibunya bisa turut pada itu kawanan orang Palembang aken pergi ka bawah gunung di waktu malem. Ia merasa penasaran sekali dan ingin tau kamana itu kawanan aken pergi. Sigrah juga ia berpakean dan mengikutin dari blakang dengen sembuni. Liwat satu jam komudian itu kawanan sudah sampe di pasisir deket Tanjung Ketapang di mana kaliatan berlabu satu prau besar dengen layarnya terpentang, dan di mana ujung tiangnya ada dipasang dua lentera warna blauw. Itu kawanan lalu tunjuken lampu-lampu batteriy pada itu prau, yang lantes membales dengen sorotken lenteranya ka pasisir, di mana sudah sedia juga satu prau kolek88 aken angkut orang-orang yang hendak pergi ka itu prau besar yang berlabu sedikit jau di tenga lautan. "Ibu," kata itu recherce, "Kita punya perjalanan masih jau, sedeng di waktu malem begini tida ada kandaraan, maka paling baek kita naek prau saja, supaya tida usah cape berj alan." Istri pandita dan Retna Sari tida bisa berbuat laen dari pada menurut. Iaorang lalu turun di itu kolek yang lantes didayung menuju ka itu prau besar. Cumah itu recherce yang tida turut naek di itu prau, hanya tinggal menunggu di pasisir. Sablonnya turun di prau, salah satu dari itu kawanan orang Palembang telah srahken satu gumpelan uwang kertas di tangannya itu recherche yang sambut dengen rupa girang. Kolek = perahu kecil dari kayu. Tatkala semua sudah berduduk di dalem itu prau, jangkarnya lalu diangkat dan itu kandaraan aer sigrah menuju ka jurusan Lampung. Abdoel Sintir, yang berdiri di deket kemudi, 58 mengawasi sambil bermesem pada Retna Sari yang berduduk di sablah ibunya dengen rupa ketakutan. VIII Pitenahan Raden Moelia masih duduk membaca surat kabar tatkala mendenger suara menggerungnya bebrapa mobil yang brenti di depan rumahnya. Ia lalu membuka pintu aken meliat siapa yang dateng tatkala Pandita Noesa Brama bersama Koesdi, dengen diiringin oleh orang-orang veldpolitie, muncul di hadepannya.

www.rajaebookgratis.com

"Astaga! Tuan pandita ada perkara apakah tuan dateng begini malem?... Guden avond meneer!89" ia berkata pada itu Commandant dari Veldpolitie sambil angsurken tangannya. "Saya kira tentu ada perkara penting sekali dengan ini tuan pandita, maka kau sudah dateng di sini begini malem." "Kita-orang baru tangkep ini orang tua yang tinggal di puncak gunung Ciwalirang sebab kita dapet kabar ia ada jadi pengasut yang berbahaya, jualken jimat-jimat pada orang kampung dan kumpulken banyak murid-murid," saut itu commandant dalem bahasa Blanda. "Saya rasa dalem hal ini kau kliru, tuan, " saut Raden Moelia dengen merasa kaget lantaran mendenger ini tuduan. "Saya kenal baek pada ini pandita, satu orang berbudi dan tida ada pikiran jahat sama sekali." "Saya kuatir kau kena ditipu olehnya, hingga tida dapet tau niatannya yang betul," saut Commandant. "Ini tida boleh jadi," saut Raden Moelia, "Begitu lekas saya denger kabar ada banyak orang kampung dateng padanya aken minta obat, lantes saya kirim saya punya spion yang paling cerdik dan paling boleh dipercaya aken usut katerangan dari iapunya tingka laku. Sasudahnya dapet kenyataan yang ia bukan saorang berbahaya, masih saya tida percaya, lalu pergi kunjungin sendiri padanya di atas itu puncak gunung Ciwalirang. Pertama kalih saya pergi di hari Minggu tanggal 18 dan liwat tiga hari komudian, yaitu hari Rabu, saya pergi kunjungin lagi sekali. Maka kalu ada kejadian apa-apa yang tida baek, tentu saya lantes bisa dapet tau lebih dulu dari laen-laen orang. Maka saya merasa heran sekali, bagaimana tuan bisa dapet kabar yang begitu aneh, yang tuduh ini orang tua ada jadi pengasut yang berbahaya!" "Saya dapet ini katerangan dari bebrapa orang Bumiputera yang dianter oleh satu spion dari Wedana. Bermula saya bilang, lebih baek iaorang mengadu saja pada assistent wedana, sebab saya tau kau sampe cakep buat tangkep segala 59 pengasut, tapi itu orang-orang bilang kau sendiri ada jadi muridnya itu pandita, dan minta lantes dibikin penggrebekan di ini malem juga, sebab itu orang-orang semua brani jadi saksi yang ini orang tua betul-betul ada satu communist yang sanget berbahaya, dan sudah bujukin pada orang kampung aken lawan pamerentah." "Siapakah namanya itu spion?" "Kimang, dan ia mengaku jadi spion dari Wedana Labuan." "Kimang? Itu orang ada satu bangsat besar! Sudah satu bulan ia dilepas lantaran sring membri katerangan dusta, dan pada orang kampung ia lakuken pameresan, iapunya perkara lagi diusut dan brangkali ia bakal dituntut. Tapi siapakah adanya itu orang-orang yang dateng mengadu?" "Nama-namanya saya tida inget lagi, tapi semua bukan orang Bumiputera dari ini tempat, hanya beratsal dari Palembang atawa Benkulen, yang mengaku sudah dateng pada ini orang tua aken minta obat, tapi ia bukan kasih obat, hanya kasih jimat-jimat buat tida mempan senjata, dan asut pada iaorang aken lawan pada pamerentah."

www.rajaebookgratis.com

"Oh, kalu begitu tentu iaorang ada kawanannya si Abdoel Sintir yang durhaka!" berkata Raden Moelia dengen gusar dan matanya menyalah, "Sekarang tuan Commandant, saya minta jangan ilang tempo lagi aken cari dan tangkep pada iaorang, sebab saya sudah tau resianya ini perbuatan chianat!" "Itu hal kau jangan kuatir, sebab iaorang semua masih ada menunggu di gunung Ciwalirang di rumahnya ini orang tua." "Kapan begitu, baeklah sekarang juga kita-orang pergi kasana!" "Saya rasa lebih baek besok pagi saja, sebab itu orang-orang tentu tida nanti melariken dirinya. Saya sudah terlalu cape aken pergi naek lagi di itu gunung yang jalanannya amat susa dan sanget menanjak. Ini orang tua dengen kawannya saya srahken pada kau buat preksa lebih jau. Kita-orang musti balik ka Labuan ini malem juga, sebab saya dapet prentah besok pagi musti meronda ka Citeureup. Ini perkara saya srahken pada kau aken diurus bagaimana mustinya. Saya tinggalken tiga orang veldpolitie buat membantu dan unjuk siapa itu orang-orang yang sudah bikin pengaduan." Abis bilang begitu, itu Commandant lalu kasih tabe dan naek dalem mobilnya, sasudahnya prentah tiga dari orang-orangnya menunggu di rumah assistent wedana. "Apakah itu tuan bilang pada juragan?" menanya Noesa Brama yang tida mengarti bahasa Blanda. "Oh, tuan pandita, kau sudah kena difitenah orang yang bikin pengaduan dusta pada itu Commandant," saut Raden Moelia. 60 "Tapi saya blon perna bikin jahat pada orang, hingga tida ada punya musuh di ini tempat yang dendem sakit hati pada saya." "Kalu iblis mau jalanken kajahatannya, ia tida pandang pada orang punya kabaekan. Tapi biarlah ini hal kita bicaraken di laen waktu. Sekarang saya minta tuan pandita lekas kombali di tuan punya pondokan di Gunung Ciwalirang dengen teranter oleh ini tiga orang veldpolitie dan saya punya dua oppas, dan Lurah dari Sukarame bersama orang-orang politie-desa. " "Inget baek," kata Raden Moelia pada itu tiga orang veldpolitie; "kalu ketemu pada itu orang-orang Palembang, yang bikin pengaduan, kau musti lantes tangkep dan bawa di sini ! " Abis bilang begitu, ia lantes prentah dua orang yang jaga di kantoornya aken turut sama-sama sambil membawa obor, dan pesan juga aken samper pada Lurah di Sukarame bersama-sama orang-orang politie desa yang bisa dikumpul di itu malem, buat pergi ka gunung Ciwalirang aken tangkep itu orang-orang Palembang yang masih ada di sana. Tida antara lama Noesa Brama dengen teranter oleh itu orang-orang politie sudah brangkat, tinggalken itu assistent wedana yang duduk sendirian dengen pengrasaan sanget tiada enak. Dalem pikirannya ada terpeta itu paras kuatir dan kasedihan dari Retna Sari dan ibunya di itu puncak gunung yang sunyi, dengen didampingi oleh Abdoel Sintir dan kawan-kawannya yang ada mengandung niatan jahat padanya.

www.rajaebookgratis.com

Ini pikiran paling blakang sanget mengganggu pada itu priayie muda hingga ia tida bisa tidur. Sabentar-bentar ia bangun melongok pada lonceng yang itu waktu baru meng-utaraken jam 2 ampir pagi. Ia ingin sekali biar lekas terang tanah supaya bisa lantes pergi ka puncak Ciwalirang buat liat sendiri pada Retna Sari yang kaslametannya ia sanget sibukin. Akhir-akhir lantaran merasa tiada tahan, ia lalu bangun aken berpakean, niatannya hendak brangkat di itu malem juga. Tapi mendadak kadengeran suara gemuruh dari angin yang memang sadari masih sore meniup dengen keras dari jurusan Kulon. Itu angin sekarang meniup lebih santer lagi dengen dibarengi oleh ujan ribut, hingga antero rumah seperti gumeter. Mau atawa tida, Moelia dengen sanget mendongkol terpaksa tunda niatannya, dan menunggu sampe terang tanah. Oh, Moelia tida dapet tau, itu ujan dan angin yang menghalangken ia brangkat ada satu penulung, yang mem-batalken satu perbuatan biadab dari saorang yang kurang trima! 61 IX 62 Kutukkannya Pandita Noesa Brama Tatkala Pandita Noesa Brama, dengen teranter oleh orang-orang politie, di tenga ujan ribut sampe dalem pondoknya di atas puncak gunung Ciwalirang, ia dapetken cumah ada itu tukang warung Mikoeng sendirian, sedeng itu recherche dan kawan-kawannya sudah mengilang, bersama-sama iapunya istri dan anak prampuan. Itu Pandita, yang tingka lakunya selalu adem dan sabar, sekarang kaliatan menjadi bingung dan gugup. "Ka manakah perginya itu orang-orang semua Mikoeng?" ia menanya dengen rupa kuatir. "Semua sudah brangkat ka pasisir, terus naek prau yang belayar menuju ka tenga laut, embah," saut itu tukang warung. "Semua? Apakah kau mau bilang, istri dan anak pram-puanku pun turut samasama?" "Betul begitu. Saya sendiri merasa heran tatkala kira jam 10 malem ibu bangunin saya aken minta saya liat-liat ini rumah, sedeng ibu dan Neng Retna turun ka bawah gunung dianter oleh bebrapa orang Palembang. Saya jadi penasaran dan ingin tau ka mana iaorang aken pergi, maka saya lalu ikutin dari blakang dengen sembuni. Tatkala sampe di pasisir, saya liat semua naek di satu prau besar yang pake dua tiang dengen layarnya dicet ijo dan di atas tiang ada dipasang dua lentera warna biru. Itu prau lalu belayar menuju ka tenga laut rupanya seperti hendak menyebrang ka Sumatra." "Apakah ibu dan Retna Sari turut iaorang dengen diacem dan dipaksa, atawa dengen suka sendiri?" tanya pula Noesa Brama. "Saya liat dengen suka sendiri, tida sekali dipaksa, tapi saya tida tau betul apa yang diomongken, sebab saya mengawasi dari tempat jau dengen sembuni." "Apakah kau kenal itu orang-orang Palembang?" "Saya tau iaorang semua ada kawan-kawan dari Abdoel Sintir, yang dulu embah obatin hingga sembuh iapunya penyakit mata yang bikin ia ampir jadi buta."

www.rajaebookgratis.com

"Ya, aku kenal itu orang yang sudah kasih padaku banyak uwang dan barangbarang persenan berharga mahal, yang semua aku sudah tampik, hingga rupanya ia kurang senang, maka ia berlalu dari sini zonder berpamitan lagi." "Kalu begitu embah tida tau, iaorang berlalu dengen lekas dari sini lantaran oleh juragan Assistant Wedana sudah diancem hendak ditangkep kali iaorang tida lekas brangkat." "Apakah lantarannya?" "Sebab itu Abdoel Sintir ada tergila-gila dengen Neng Retna, yang saban kalih pergi di pancuran selalu dikuntit oleh itu orang-orang Palembang, yang kasih segala macem barang persenan berharga mahal supaya suka turut jadi istrinya. Juragan Assistent Wedana yang dapet tau ini perbuatan sudah menjadi gusar, apalagi tatkala mendenger Abdoel Sintir berdami dengen kawan-kawannya aken bawa minggat pada Neng Retna, maka iaorang lalu diancem aken ditangkep kalu tida lekas berlalu dari ini tempat." Pandita Noesa Brama terkejut sanget tatkala mendenger ini katerangan. Mukanya yang biasa bersifat begitu sabar sekarang menjadi merah padam, matanya menyalah seperti mengaluarken sorot api, sedeng tangan dan kakinya ber-gumeter. "Mikoeng!" ia berkata dengen bernafsu, "Aneh sekali, ada urusan begini besar dan penting, dalem mana anakku ada tersangkut, tida satu orang yang sampeken padaku". "Saya sendiri kira Neng Retna atawa juragan Assistent Wedana sudah kasih tau kalakuannya itu orang-orang Palembang pada embah." "Mikoeng, jawablah lagi satu pertanyaan, tapi aku minta kau bicara dengen sabetul-betulnya: apakah Retna sudah perna trima pembrian dari si Abdoel Sintir?" "Saya denger, sudah. Abdoel Sintir sendiri ada cerita pada kawan-kawannya segala pembriannya blon pernah ditampik oleh Neng Retna." "Sekarang aku hendak buktiken," kata Noesa Brama dengen suara gumeter dan amarah yang sudah tida bisa ditahan lagi. Abis bilang begitu, ia lalu gapein Koesdi aken turut ka bagian dalem itu pondok, lalu masuk dalem kamar tidur dari Retna Sari dan istrinya, lalu bongkar pakeannya itu anak yang ditaro dalem satu trommol,ll dan dapetken di susunan paling bawah satu horloge tangan dari emas, bebrapa uwang emas Inggris, perhiasan cincin, peniti dan laen-laen serta sajumblah sarung baru. Pandita Noesa Brama lalu lempar itu uwang dan barang-barang berharga dengen rupa yang amat jiji seperti lem-parken uler berbisa. Ia lalu berlutut mengadep ka blakang pondoknya, dan rangkep kadua tangannya yang bergumeter aken menyembah, sambil mengucap dengen perlahan: "Oh Betara Wisnu!" terus ia tunduk menyium bumi seperti orang yang pangsan. Lima minuut komudian ia berbangkit dengen rupa yang lesu, lalu berjalan kaluar dengen tindakan limbung dipe-gangin oleh Koesdi . Samentara pandita ada di dalem, Mikoeng sudah cerita-ken pada itu kawanan orang-orang politie apa yang ia tau tentang 63

www.rajaebookgratis.com

perhubungannya itu orang Palembang dengen anak pandita, maka tatkala Noesa Brama dateng di pertengahan, Lurah dari Sukarame dan itu opas-opas veldpolitie lantes menyataken pikiran, bahua daya paling baek aken tahan itu orang-orang yang minggat, yaitu lekas kasih rapport pada assistent wedana, yang nanti ambil aturan aken kejer itu prau dengen gunakan stoombarkasOl dari politie, atawa kirim kawat ka tempat-tempat di pasisir Sumatra Selatan buat minta politik di sana tahan itu orang-orang semua. "Tiada guna kita-orang berkumpul di sini," kata kang Lurah, "kerna itu orangorang yang bawa lari tuan pandita punya anak dan istri sudah ada di tenga laut. "Ini perkara saya musti lekas rapportken pada juragan Assistent Wedana, tida boleh ayal lagi." "Politie boleh ambil segala aturan menurut caranyasendiri," saut pandita Noesa Brama yang coba sabrapa boleh aken tinggal sabar. "Tapi saya sendiri sudah sedia satu aturan aken kasih hukuman pada itu orang-orang durhaka, maskipun marika ada jau dari ini tempat." Sasudahnya itu Lurah dengen sekalian orang politie berlalu cumah tinggal Mikoeng dan Koesdi berdua, pandita lalu berkata: "Sekarang abis perkara! Dari ini dunia aku tida bisa harep satu apa lagi! Kalu aku punya istri dan akan sendiri bisa berchianat, aken tinggalken aku sendirian, buat pergi kejer kasenangan dan dan harta dunia; kalu orang-orang yang aku hargaken, cinta dan rawat begitu baek bisa berbalik hatinya dalem tempo sabentaran saja; kalu itu Abdoel Sintir yang aku sudah sembuhken iapunya mata yang ampir buta sekarang unjuk trima kasihnya dengen ajak lari aku punya anak dan istri, milikku yang paling berharga dalem ini dunia.... Oh, apakah lagi yang aku bisa harep dari ini dunia yang penuh dengen kadosaan? Apakah gunanya berpuluhan taon aku dan aku punya ayah dan kake moyang sudah berikhtiar menjaga sabisa-bisanya aken luputken penduduk Bantam dan Sumatra Selatan dari bahaya? Oh, Betara Wishnu, Dewa yang memelihara sekalian ini alam! Sampe disini abislah sudah segala pekerjaanku! Oh, Sangheang Prabu Siliwangi Prahu Guru Dewata Bhana, Sangheang Dewa, Niskala, kake moyangku yang termulya!.... Liatlah bagimana besar dosaku ini, yang sudah bikin kau punya turunan yang pengabisan menjadi musna dengen cara yang sanget hina! .... Oh, Retna Sari, Retna Sari, Sri Ratu Dewi Retna Sari, ahliwaris dari Ratu dari Karajaan Pajajaran, yang bakal jadi aku punya pengganti dari ini jabatan agung dan mulia sudah berjalan turun temurun lebih dari ampatratus taon lamanya, sunggu percumah sekali aku punya didikan dan 64 plajaran pada dirimu, hingga dalem tempo sabentaran saja kau bisa tergoda oleh satu bangsat yang berderajat rendah, yang tida berharga aken jadi suamimu! Sia-sia sunggu bagi kau punya derajat sabagi Ratu pengabisan dari karajaan Pajajaran yang begitu agung dan mulia! .... Abislah! Putuslah pengharepan! ... Biarlah ini dunia jadi kiamat!" Abis berkata-kata begitu, Noesa Brama rebah di bale-bale dalem kaadaan seperti pangsan, matanya tertutup, napasnya sengal-sengal dan giginya terkancing.

www.rajaebookgratis.com

Samentara ini semua kajadian, sang fajar sudah mulai kasih unjuk rupanya. Sinarnya matahari pagi mulai poles puncak dari gunung Karang yang pernanya di sablah Wetan dari Gunung Ciwalirang. Burung-burung mulai rame berbunyi, sedeng pedut tipis yang bergantung menutupi tanah-tanah rendah dan lembahlembah di bawah gunung mulai buyar tersiar ditiup angin alus dan tertojo oleh sinarnya matahari. Mikoeng lalu berbisik pada Koesdi aken permisi pulang ka pondoknya, tinggalken itu pandita yang rebah di bale-bale saparo pangsan. Sapuluh minuut kemudian Noesa Brama kaliatan seperti tersedar,12 lalu berbangkit dan duduk di samping bale, dan briken ini prentah: "Koesdi, angkat itu batu yang dipake menutupi lobang gowa, bersihken segala apa yang ada di dalem serta petiklah kembang-kembang yang masih segar dan sedia bara buat membakar dupa." Sasudahnya Koesdi berlalu aken jalanken itu prentah, Mikoeng masuk ka dalem pondok dengen rupa gugup, lalu menyembah di hadepan pandita, seraya berkata: "Embah, itu prau yang semalem ditumpangin oleh ibu dan Retna Sari, sablonnya belayar jau, sudah terpaksa balik kombali dan berlabu di Tanjung Bangkuang deket desa Pasauran, lantaran angin jurusan Kulon meniup terlalu keras, ditambah pula oleh datengnya ujan ribut dan ombak besar. Di luar ada dateng orang suruannya Lurah dari Sukarame aken membri tau ini hal pada embah supaya jangan kuatir kerna sekarang ternyata itu orang-orang Palembang blon lari jau. Hamba sendiri masih kenalin itu prau yang pake dua tiang dan layarnya dicat ijo, yang barusan kaliatan lagi coba pula aken belayar menuju ka tenga laut, lantaran sekarang ombak tida begitu keras dan angin sudah sirep." Mendenger ini omongan, Pandita Noesa Brama lalu lompat kaluar, ketemuin itu orang suruan, satu mandoor desa, yang diprentah membawa kabar pada pandita aken jangan kuatir, lantaran itu prau berada tida jau dari pasisir hingga tiada susa aken disusul, kalu saja ini hal sudah disampeken pada 65 Assistent Wedana, yang tentu tiada ayal aken mengejer dengen gunaken stoombarkas. Pandita bersama Mikoeng lalu panjat satu batu karang aken memandang ka bawa gunung dari mana antero Selat Sunda ada terbeber dengen nyata seperti satu pigura. Dengen lantes Mikoeng bisa unjuk pada sabua prau yang pake layar ijo, yang belayar sendirian di tenga laut menuju ka jurusan Sumatra dan sudah berada kira-kira sepulu mijl jaunya dari pasisir, dan kaliatan ada menuju ka jurusan pulo Krakatau. "Apakah kau tau tentu itu prau ada ditumpangi oleh itu orang-orang Palembang yang bawa istriku dan Retna Sari?" tanya pandita pada Mikoeng. "Saya rasa tida bisa salah lagi, sebab saya kenalin betul iapunya dua tiang, layarnya dicet ijo dengen di sampingnya pake cet merah," saut Mikoeng. "Laen dari itu, itu prau tida mengambil jalanan biasa, hanya menuju ka jurusan pulo Krakatau yang jarang dilintasi oleh laen-laen prau, supaya tida gampang dikenalin orang."

www.rajaebookgratis.com

"Kalu begitu," berkata pandita pada itu mandoor desa, "aku minta aku lekas brangkat ka rumahnya Assistent Wedana aken membri tau. Ia jangan coba susul itu prau ka jurusan pulo Krakatau, kerna sabentar lagi itu gunung api dari Krakatau yang ada di bawah laut bakal meledak hingga segala prau atawa kapal yang ada diampirnya itu pulo semua akan binasa." Mikoeng dan itu mandoor desa tersenyum. Noesa Brama kaliatan merasa gusar, lalu membentak: "Mengapakah kau tersenyum? Apakah kau kira aku bicara maen-maen? Aku tida suka memaen, hanya aku bilang dengen sabetulnya: lagi bebrapa jam itu Krakatau aken bekerja kombali, dan nanti antero pasisir Bantam dan Sumatra Kidul bakal terbasmi seperti sudah kajadian pada 45 taon lalu, aken menghukum pada manusia yang sudah jadi terlalu jahat. Brangkatlah sekarang aken sampeken ini kabar pada Raden Moelia, supaya prau politie jangan mendeketi pada itu pulo Krakatau, dan kalu bisa, ia dan familienya musti lekas menyingkirken diri." Itu politie desa dan Mikoeng lantes berlalu, tinggalken pandita sendirian di atas itu batu karang. Tatkala sudah berada saorang diri, Noesa Brama menuding pada itu prau, dan ucapken ini perkataan: "Oh orang-orang yang kurang trima! Lagi sedikit waktu kau aken terbasmi, hingga ini dunia yang kotor dan penu oleh kadosaan, tida jadi lebih kotor lagi dengen adanya kau orang di sini. Itu api dari Betara Wishnu yang suci, yang aken 66 dimuntahken oleh Krakatau, nanti melebur ini bagian dunia supaya jadi lebih bersih dari pada yang sudah!" Abis bilang begitu, itu pandita lalu turun dari atas itu batu karang, masuk ka dalem pondoknya, di mana ada menunggu Koesdi yang membri tau, apa yang diprentah sudah dijalanken. "Baiklah Koesdi!" kata pandita, "Sekarang kau musti jaga di sini, kalu ada orang dateng, kau musti bilang aki lagi pergi kaluar dan sablonnya besok pagi aku tida aken kombali." Abis bilang begitu, Noesa Brama lalu bersalin pakean, menuju ka itu gowa di blakang rumahnya di mana ada kaliatan satu lobang kecil kira satenga meter pesegi lebarnya ka mana ia lalu masuk sambil merangkang. X Perletusan yang Menggemperken Dengen pengrasaanl3 tiada sabar Raden Moelia menunggu datengnya fajar. Jam ampat pagi itu ujan ribut sudah mulai sirep, cumah tinggal grimis sedikit yang tida meng-halangken buat orang kaluar rumah. Ia sudah bikin sedia iapunya motorfiets aken brangkat ka Sukarame, tatkala mendadak Lurah dari itu desa, dengen sekalian orang-orang politie yang semalem anter pandita Noesa Brama, dateng padanya dan lalu tuturken apa yang telah terjadi dengen istri pandita dan anak prampuannya, yang sudah melariken diri dengen itu orang-orang Palembang waktu pandita dibawa oleh politie.

www.rajaebookgratis.com

Bukan kepalang kagetnya Raden Moelia tatkala mendenger ini kabar jelek. Iapunya kagusaran dan duka cita tida kurang besarnya dari Pandita Noesa Brama: Tapi ia tida bisa percaya pada itu anggepan Retna Sari dan ibunya telah turut pergi dengen suka sendiri. Ia menduga dengen pasti yang itu dua prampuan dusun sudah kena ditipu oleh itu si Abdoel Sintir yang amat cerdik dan brani, yang sudah tipu juga itu commandantl4 dari Veldpolitie. Moelia lalu batalken niatnya buat pergi kunjungin pondok pandita, hanya lantes naek iapunya motorfiets menuju ka Labuan di mana ada tersedia k stoombarkas, buat dipake menyusul praunya Abdoel Sintir. Lurah dari Sukarame diprentah balik ka desanya aken pilih salah satu prau yang ada di telok Carita, buat rondain sapanjang pasisir aken pasang mata kalu-kalu praunya itu orang Palembang blon belayar jau. Tatkala itu kepala desa sampe di Sukarame, sudah mulai terang tanah. Sigrah juga dengen teranter bebrapa politie 67 desa ia sudah naek di satu prau yang lalu belayar merondainl5 pasisir ka jurusan Lor. Di betulan Tanjung Bangkuang ia menampak satu prau besar yang pake dua tiang dengen layar berwarna ijo, yang cocok sekali seperti dilukisken oleh Mikoeng. Sigrah juga ia prentah orang-orangnya mendayung aken hampirken itu prau, tapi sablonnya bisa rapet, itu prau sudah bertolak ka tenga laut, seperti tiada suka dideketin orang. Buat mengejer pada itu prau besar yang belayar dengen pesat, itu kepala desa tida ada taksiran. Ia lalu balik ka pantei dan prentah satu orangnya membawa kabar pada Pandita Noesa Brama aken membri tau yang praunya iaorang Palembang blon terlalu jau, sedeng ia sendiri lalu pergi ka Sindang Laut aken kasih raport pada pendapetannya pada Assistent wedana. Tapi itu priyaie blon kombali dari Labuan ka mana ia sudah brangkat aken minta pinjem stoombarkas dan sekalian kasih raport pada Wedana atas apa yang kajadian. Commandant = komandan. Lurah Sukarame lalu menyusul ka Labuan, di mana itu assistant Wedana dengen tida sabar lagi menunggu orang-orang yang musti kasih jalan itu stoombarkas, yang semua lagi sedeng enak meringkuk di kampung lantaran itu kutika masih pagi sekali. Satu per satu musti disusulin di pondoknya dan dikasih bangun. Sampe liwat jam 6 pagi barulah itu stoombarkas siap aken digunaken. Menurut pengunjukannya95 Lurah Sukarame, Raden Moelia, yang dianter oleh tiga opas veldpolitie, yang semua membawa snapan, lalu prentah itu stoombarkas belayar ka jurusan Tanjung Bangkuang. Tatkala sampe di hadepan telok Carita, di mana pasisir kaliatan ada satu orang berdiri sambil kiberken saputangan putih, itu stoombarkas lalu dibrentiken dan mengamperi ka pasisir, dan Lurah Sukarame lantes kenalin itu orang ada iapunya suruan yang tadi dikirim pada pandita Noesa Brama. Dengen naek satu prau kolek itu orang suruan, satu mandoor desa, menghamperi itu stoombarkas politie buat sampeken pesanannya Pandita.

www.rajaebookgratis.com

"Juragan," kata itu orang, "Tuan Pandita minta saya membri tau, dari atas gunung kaliatan tegas praunya itu orang Palembang lagi belayar menghamperi pulo Krakatau. Ia harep juragan dan laen-laen prau dari politie jangan coba aken menyusul ka itu jurusan, sebab sabentaran lagi pulo Krakatau punya kawah yang ada di bawah laut aken meletus, hingga 68 segala prau atawa kapal yang liwat disitu bakal binasa, dan boleh jadi bakal timbulken karusaken seperti dulu, hingga ada lebih baek kalu juragan dan sekalian penduduk menyingkir siang-siang dari ini tempat." "Brangkali kau kliru, lantaran kurang mengarti omongannya pandita," saut Moelia. "Tida, saya tida kliru, memang begitu pesanannya Pandita Noesa Brama," saut itu mandoor. Raden Moelia angkat pundak, dan sambil tersenyum ia berkata: "Kalu Krakatau musti meletus lagi, biarlah ia meletus, tapi aku punya kawajiban aken tangkep itu penjahat, aku musti j alanken." Abis bilang begitu ia prentah tujuken itu stoombarkas ka jurusan pulo Krakatau, di mana kaliatan ujung tiang dari itu prau Palembang dengen bagian atas dari layarnya yang berwarna ijo menonjol di tenga lautan. Di itu waktu lautan ada anteng, ombaknya sedeng saja. Angin yang adem meniup dari jurusan Wetan, dengen teranter oleh sinarnya matahari pagi yang bercahaya seperti emas, hingga membikin aer laut yang ijo jadi bertambah gilang gumilang. Raden Moelia tida lepasken matanya ka jurusan itu prau Palembang yang dengen teranter oleh angin dari Wetan telah belajar dengen santer menuju ka jurusan Sumatra, dan sekarang mulai masuk di itu selat yang pisahkan pulo Panjang dan pulo Krakatau. Menurut katerangannya juru-mudi dari itu stoomberkas, dalem tempo lagi satenga jam ia aken bisa dapet susul itu prau, yang orang-orangnya kaliatan mulai ripuh dan katakutan, kerna maskipun praunya belajar cukup santer, bebrapa antaranya mulai bantu melekasken jalannya dengen mendayung. Limablas minuut komudian itu prau sudah berada di tenga-tenga antara pulo Panjang dan Krakatau, sedeng stoomberkas dari Raden Moelia mengamperi dengen cepel dan mulai masuk di itu selat. Itu kutika sudah, jam 9 pagi. Langit ada bersih dan di tenga laut ada sunyi, cumah kadengeran suaranya ombak yang memukul di sampingnya itu stoomberkas, dan mendampar di pasisir dari itu pulo pulo. Raden Moelia sekarang bisa kenalin orang-orang yang berduduk dalem itu prau. Satu kalih ia seperti dapet liat kepalanya dua orang prampuan yang melongok di samping prau, tapi lantes linyap kombali. Ia ambil satu snapannya veldpolitie yang dijuju ka atas tiang, lalu ditembakken tiga kalih aken menjadi tanda supaya itu prau jangan belayar lebi jau. Tapi ini tanda anceman tida diladenin, malah sebagi jawaban dari dalem itu prau kadengeran bebrapa kalih suara 69

www.rajaebookgratis.com

tembakan, dan dua pelor telah langgar sampingnya itu stoomberkas hingga besinya pecok.96 Nyatalah itu orang-orang Palembang hendak melawan dengen nekat, hingga orang-orang dalem itu stoomberkas terpaksa lindungken dirinya supaya tida menjadi umpan pelor. Itu tiga opas veldpolitie mau bales menembak, tapi dicega oleh itu Assistant Wedana yang kuatir nanti menge-naken pada Retna Sari. "Sabarlah sampe kita dateng deket dan liat tegas orang-orangnya satu per satu," kata Moelia. Baru saja itu priyai abis berkata-kata begitu, mendadak di bawah laut kadengeran suara gemuruh seperti bunyinya guntur. Lautan yang tadi begitu tenang lantes berombak keras dan berbareng dengen itu diberikutkan lumpur dan batu yang lompat kaluar kira lima meter di hadepannya itu prau Palembang yang haluannya terangkat hingga ampir terbalik. Di itu saat Raden Moelia dan sekalian kawan-kawannya lantes inget pada nasehatnya Pandita Noesa Brama. Itu stoomberkas lantes dibrentikan lajunya, dan mulai hendak diputer aken menyingkir, tatkala terjadi pula letusan kadua yang membikin itu prau Palembang terlempar ka udara kira dua meter tingginya dan lalu jato terbalik dengen diberikutken suara treakan yang ngeri dari orang-orangnya. "Maju!" treak Raden Moelia pada jurumudi. "Kita musti tulung pada itu dua prampuan yang cilaka biarpun ini stoomberkas musti karem sama sekali!' Dengen lekas itu stoomberkas mengamperi ka tempat kacilakaan di mana orang-orang dari itu prau yang karem coba tulung dirinya dengen pegangin tiang dan papan-papan. Dengen bernapas lega Raden Moelia melaiat Retna Sari dan ibunya mengambang di aer sambil pegangin sapotong papan. Ia prentah opas-opas tulungin marika lebih dulu dan begitu lekas itu dua prampuan sudah dikasih naek dalem stoomberkas, ia lantes bri prentah aken menyingkir dari itu tempat salekas-lekasnya. Satu minuut komudian, baru saja itu stoomberkas berlaku kira dua pulu meter dari itu tempat, telah terjadi pula letusan yang katiga, yang lebih heibat dari letusan pertama dan kadua, yang membikin itu prau yang sudah terbalik jadi terangkat pula ka atas udara, dan lalu jato dengen keras ka dalem aer dan terus karem sama sekali cumah kaliatan tiangnya saja yang menonjol dan muka aer, kerna lautan di itu tempat tida sabrapa dalem, sedeng orang-orangnya yang tadi mengambang di atas aer sudah linyap sama sekali. Begitulah itu gunung api di bawah laut dari Krakatau, sasudahnya tidur pules 45 taon lamanya, telah bekerja kombali, hingga membikin gumeter antero penduduk dari pasisir Bantam dan Sumatra Selatan. 70 XI Begitulah lekas itu stoombarkas sampe di Labuan, Raden Moelia lantes kasih kabar telefoon pada pembesar-pembesar yang lebih atas, dan juga pada iapunya ayah, Bupati dari Rangkagombong, tentang bekerjanya Krakatau, yang di-kuatirken nanti terbitken bincana besar seperti ampat-pulu-lima taon lalu. Lebih jau ia kirim satu orang suruan pada Pandita Noesa Brama aken membri

www.rajaebookgratis.com

tau, anak dan istrinya sudah kombali dengen slamet, dan sekarang ada di rumahnya di Sindanglaut aken didenger katerangannya, cara bagi-mana iaorang sudah ditipu dan dibawa lari oleh Abdoel Sintir dan kawan-kawannya, maka diharep tuan Pandita sendiri suka dateng di Labuan aken bantu membri katerangan lebih jau. Liwat bebrapa jam itu orang suruan balik kombali dengen membawa kabar, Pandita Noesa Brama tida ada dalem pondoknya, tapi ia sudah pesan pada bujangnya. Koesdi aken minta Pandita lekas dateng buat bertemu pada anak dan istrinya. Berbareng dengen itu, ada ditrima juga kabar telefoon dari Bupati Rangkas-gombong, bahua itu pembesar sendiri hendak dateng saksiken itu perletusan dan sekalian hendak berempuk aken ambil aturan apabila ada timbul bahaya. Jam 2 lohor itu pembesar sudah sampe di Labuan dengen naek auto, disambut oleh priyaie-priyaie. Raden Moelia merasa girang meliat ibu dan sudara prampuannya, Raden Ajeng Roekmini, ada turut sama-sama. "Dari ini tempat," kata Moelia, "itu perletusan tida kaliatan nyata, tapi kalu rama dan ibu mau saksiken dengen tegas, paling baek naek di bukit Ciwalirang, di mana orang bisa memandang dengen laluasa pada antero Selat Sunda." Raden Adipati Hasan di Ningrat dengen dianter oleh putranya lalu brangkat dengen autonya menuju ka Sukarame. Itu Bupati mau lekas saksiken itu perletusan lantaran hari sudah mulai jadi sore sedeng ada banyak hal yang ia musti atur dan urus . "Aneh sekali," kata itu Bupati, "itu pulo Krakatau, yang semua orang sangka suda padem apinya sasudahnya terjadi perletusan di taon 1883, sekarang mendadak telah bekerja kombali. Aku harep saja tida membawa kasudahan heibat seperti dulu, yang membri peringetan ngeri dan sedih padaku, lantaran aku punya rama dan ibu, serta sudara prampuan Soeriati, sudah jadi binasa. Aku sendiri di itu waktu, jikalu tida ada mandoor Koernain yang menulung dengen setia, boleh jadi sudah binasa juga." "Apakah rama mau percaya," kata Raden Moelia, "ada orang bisa dapet tau lebih dulu bahaya yang aken dateng? Di sini ada satu Pandita, turunan orang Baduy, yang sudah bri tau lebih dulu itu gunung Krakatau bakal meletus, dan membri nasehat supaya orang jangan deketin itu pulo, dan minta semua orang menyingkir dari pasisir." "Maski ini hal ada aneh, tapi aku mau percaya juga. Waktu Krakatau ampir meletus di taon 1883, aku punya ibu sudah dapet firasat bebrapa minggu di muka, dan minta aku punya rama, Wedana Waringin, supaya lekas menyingkir, kerna bakal turun ujan api dan aer laut limpas ka darat. Tapi itu nasehat tida diperduliken, dan orang-orang baru mulai disuru menyingkir tatkala sudah telaat. Seperti satu anak dari umur tuju taon aku masih inget samar-samar dari itu hari yang ngeri. Aku dan Soeriati naek dokar dengen dianter oleh Mandoor Koernain dan babuh Satimah. Ibu tida mau turut maski dipaksa oleh rama, sebab ia tida mau tinggalken rama sendirian. Aku masih seperti dapet liat parasnya ibu yang begitu sedih tatkala ia buka sepasang gelangnya, yang terbikin dari uwang emas Turkye, dan dikasih pake pada aku dan Soeriati

www.rajaebookgratis.com

sabagi peringetan, sedeng rama sendiri ada kasih rante perak disertaken medaille Arab, pusaka dari jeman dulu, yang dipakein pada aku dan Soeriati saorang satu. Tatkala kita punya dokar berjalan blon brapa jau, langit jadi gelap sama sekali, dan suara meletusnya itu gunung Krakatau ada begitu heibat hingga kuda-kuda yang tarik kita punya dokar menjadi kaget dan kabur, dan itu kandaran terbalik, aku terlempar kena batu, dapet luka di kepala dan jato pangsan, sedeng Soeryati telah linyap, tida katauan kamana perginya." "Mudah-mudahan penduduk pasisir Bantam diperlin-dungi oleh Tuhan dan tida diserang lagi oleh bahaya yang begitu heibat," berkata Moelia. "Apakah kau tida merasa takut berdiam di ini tempat?" tanya Raden Ayu Bupati. "Takut atawa tida, kawajiban musti dijalanken lebih dulu," saut Moelia. "Tadi pagi saya baru kombali dari pulo Krakatau dan saya punya stoombarkas sudah liwatin itu tempat di mana terjadi perletusan. Kalu Tuhan takdirken musti binasa, tadi pagi saya sudah binasa, sebab liwat satu minuut sadari kita-orang menyingkir dari itu tempat, telah terjadi perletusan heibat yang membikin satu prau jadi terbalik dan terlempar ka udara." "Perlu apakah kau dateng di situ?" tanya Bupati. Raden Moelia tuturkan apa yang kajadian dengen anak dan istri pandita, dan 71 72 Pertemuan yang Mengheranken ceritaken juga kapandeannya itu orang pertapaan yang luar biasa, yang telah bri nasehat padanya aken jangan kejer praunya itu orang Palembang yang belayar di deket pulo Krakatau, kerna itu gunung bakal meletus. "Iapunya anak dan istri sekarang ada di saya punya rumah, lagi dicatet katerangannya oleh jurutulis yang musti atur proces-verbal," kata pula itu Assistent Wedana. Itu Bupati dan Raden Ayunya merasa sanget ketarik dengen itu cerita. Iaorang ambil putusan aken mampir di Sindanglaut, di rumah anaknya aken pergi liat itu istri pandita dan anak prampuannya. Tida antara lama iaorang sudah sampe di Sindanglaut. Semua lalu turun dari auto aken masuk di rumahnya itu assistent wedana. Retna Sari dan ibunya, yang sudah slese dipungut katerangannya oleh jurutulis, lagi berduduk minum kopi di bagian blakang dari itu rumah. Raden Moelia lalu minta iaorang turut ka pertengahan buat bertemu pada ayah dan ibunya, dan iapunya sudara prampuan, yang ingin ajar kenal pada marika. Maskipun tau ia bakal berhadepan dengen satu pembesar agung, istri pandita dateng mengamperi dengen sacara angku, tida bongkokken badan atawa merangkang, hanya berdiri jejek, mengawasi pada itu bupati beserta anak dan istrinya, sacara mengadep pada saorang biasa. Ini sikep ada menurut ajarannya Pandita, yang tida suka istri dan anaknya merendah terlalu dari musti pada golongan priyaie, lantaran ia sendiri ada berderajat tinggi, tida lebih rendah dari Sunan Solo atawa Sultan Jokja. Di hadepan Bupati dan Raden Ayunya itu, istri pandita dan Retna Sari cumah manggut sedikit dan rangkep kadua tangannya aken menyembah, kerna iaorang punya usia ada lebih tua. Retna Sari

www.rajaebookgratis.com

berdiri di blakang ibunya dengen mata tunduk ka tanah, seperti biasanya satu gadis yang pemaluan. Raden Adipati Hasan di Ningrat dan Raden Ayunya sambut salamnya istri dan anak pandita dengen sacara manis. Ia silahken istri pandita duduk di satu korsi, sedeng Retna Sari tinggal berdiri di blakang ibunya. Itu Bupati mengawasi itu dua prampuan dengen pengrasaan heran. Seperti juga Raden Moelia, ia dapet liat dalem parasnya itu ibu dan anak ada apa-apa yang menarik hatinya. Sakutika lamanya iaorang tida berkata-kata, saling awasin satu pada laen. Cumah Retna Sari yang tinggal tunduk memandang tiker yang tergelar di lantei, sedeng kadua tangannya pelintir iapunya ujung baju. Raden Ayu Bupati bicara lebih dulu aken menyataken girangnya sudah bisa berkenalan dengen istri pandita, dan bersukur pada Tuhan yang sudah lindungken iaorang hingga terlepas dari tangan penjahat. Komudian ia lalu tanya umurnya istrinya pandita, tentang iapunya anak Retna Sari, yang dipuji kaeilokannya, lalu ditanya, apa sudah perna masuk sekola atawa tida, dan laen-laen pertanyaan lagi yang lalu dijawab oleh istri pandita sabagimana mustinya. Sedeng ayah dan ibunya lagi asik beromong-omong. Raden Moelia, yang berduduk di sablahnya Roekmini, lalu berbisik pada adenya itu: "Cobalah, Roekmini, kau ajak omong-omong pada Retna Sari, jangan ditinggal diam begitu rupa dengen tida di-openin.97 Aku tau itu gadis ada manis budi bahasanya, dan sudah bebrapa kalih beromong-omong padaku waktu aku kunjungi ayahnya di atas gunung." Roekmini berbangkit, lalu menghamperi pada Retna Sari yang diminta turut pergi jalan-jalan ka pekarangan luar, dengen diikutin oleh Moelia, yang silahken iaorang berduduk di satu bangku di bawah puhun jeruk. "Ade," kata Roekmini, "saya dapet kabar kau selalu tinggal di dalem utan atawa di pagunungan, dan jarang sekali bergaulan pada orang. Kalu terus membawa penghidupan begitu, saya rasa ada kurang baek, sebab selamanya kau nanti katinggalan dalem segala pengatahuan yang perlu bagi orang prampuan jeman sekarang." "Saya punya pengidupan," saut Retna Sari, "ada bergantung pada kahendaknya saya punya ayah, yang nanti unjuk jalan bagimana saya harus bertindak. Saya tau saya punya ayah nanti pimpin saya ka jurusan yang paling baek. Pergaulan pada orang banyak tida selamanya mendatengken kasenangan, seperti ternyata dari apa yang saya alami sema-lem dan tadi pagi, hingga ampir saja saya dan ibu jadi binasa lantaran perbuatannya orang-orang jahat." Roekmini tercenggang mendenger ini jawaban. Itu anak Bupati murid dari sekolah Mulo, tida sekali sangka satu gadis desa yang macemnya begitu dusun dan pemaluan, bisa membri penyautan begitu jitu pada iapunya omongan. "Betul sekali," saut Roekmini, "penghidupan yang sunyi di pagunungan dan pergaulan yang rame di kota-kota, masing-masing ada punya kasenangan dan kasusahan sendiri-sendiri. Tapi menurut saya punya pikiran, satu gadis seperti kau, Retna, tida harus umpetken diri di tempat yang sunyi..."

www.rajaebookgratis.com

"Mengapakah tida boleh? Yang dibilang kasenangan itu tiada laen dari kapuasan. Di mana ada pengrasaan tida puas, di situ tida ada kasenangan, biar pun dalem rumah orang hartawan atawa di astana raja. Sabaliknya, maski dalem satu gubuk dari alang-alang di atas gunung yang paling sunyi, kalu 74 73 orang bisa merasa puas, di situ musti ada kasenangan yang kekel." "Apakah Retna merasa puas aken tinggal saumur idup di dalem utan yang sunyi?" tanya Moelia. "Saya merasa puas dan amat bruntung kalu selalu bisa berdiam di sampingnya saya punya ayah dan ibu, biar pun kita-orang ada di mana juga, dan biar pun kita idup sacara miskin," saut itu gadis. Diopenin = diladeni. "Tapi saya rasa Retna bukan saorang miskin," kata pula Moelia; "Satu kalih bapanya ada bilang, iapunya derajat tida lebih rendah dari Sunan Solo atawa Sultan Jokja. Maski membawa penghidupan sanget saderhana menurut kapercayaan agamanya, tapi Pandita Noesa Brama bukan saorang miskin. Anak dari saorang miskin tida nanti pake gelang dari uwang emas yang bukan murah harganya." Roekmini mengawasi tangannya Retna Sari yang pake gelang rante dari uwang emas sabesar talenan yang tersambung satu pada laen. "Ini gelang," saut Retna Sari. "Bukan punyanya ayah, hanya ada miliknya ibu, yang dapet pusaka dari orang tuanya, begitu pun ini rante perak yang saya pake, dengen kongkorong uwang ringgitan, semua ada barang pusaka dari saya punya ibu. " Roekmini pegang tangannya Retna Sari aken awasin itu gelang. Ia tonjolken tangannya sendiri, lalu direndengken dengen tangannya Retna Sari. Moelia jadi terkejut tatkala meliat gelang yang dipake oleh sudaranya ada satu rupa macem dan modelnya seperti yang dipake oleh Retna Sari. "Aneh sekali," kata Moelia, "ini dua gelang, yang terbikin dari uwang emas Turkye jeman dulu yang sekarang suda tida bisa didapet lagi, bisa begitu sama satu dengen laen. Cobalah bilang Retna, dari mana ibumu dapet ini barang?" "Itu saya tida tau, juragan boleh tanya saja pada ibu sendiri, yang tentu bisa kasih katerangan," saut itu gadis. Sekarang Roekmini pegang kongkorongnya Retna yang macemnya seperti uwang ringgitan tapi pake banyak tulisan huruf Arab. Ia lalu bertreak dan berkata: "Ini juga sama seperti saya punya!" Abis bilang begitu, ia tarik kaluar dari dalem bajunya satu medaille perak sabesar ringgitan, yang satu rupa macemnya seperti yang dipake oleh Retna Sari. Raden Moelia awasin itu barang dengen tida bisa berkata-kata. Mendadak ia pukul kepalanya dengen tangan seperti mendapet 75 satu pikiran batu. Ia lalu berlari masuk ka dalem rumah, dan tida antara lama kaluar kombali dengen membawa satu potret ukuran salon yang sudah tua, tapi

www.rajaebookgratis.com

gambarnya masih terang, di mana ada kaliatan satu priyaie bersama istrinya lagi berdiri dengen berendeng. Ia kasih liat itu potret pad Roekmini dengen berkata: "Kau kenalin ini potret siapa?" "Ini ada potretnya kita punya aki dan nene, Raden Tjakra Amidjaja dengen istrinya, Wedana dari Waringin yang telah binasa waktu Krakatau meletus di tempo dulu," berkata Roekmini. "Itu betul," saut Raden Moelia. "Tapi cobalah kau pandang parasnya kita punya nene, Raden Ayu Sadijah, komu-dian kau bandingken dengen parasnya Retna dan ibunya, apakah kau tida dapet liat apa-apa yang menarik hati?" "Betul," saut Roekmini sasudahnya bandingken potret nenenya dengen parasnya Retna Sari. "Aneh sekali, Retna, kau punya rupa ada sedikit mirip dengen aku punya nene yang sudah lama meninggal dunia." "Bukan sedikit, tapi banyak miripnya," berkata Raden Moelia. "Ini perkara tida boleh ditinggal diam. Itu gelang yang kau pake, Roekmini ada tetinggalannya kita punya nene yang waktu Krakatau ampir peca, telah singkirken kita punya ayah dan bibi, Soeriati, dan kasih pake ini gelang dan rante saorang satu sabagi peringetan. Soeriati telah linyap dan disangka sudah meninggal, waktu dokar yang iaorang tumpangin telah dibawa mabur lantaran kudanya kaget. Siapa tau yang ia sabetulnya telah katulungan, dan lantaran baru berusia lima taon, tida bisa ceritaken dengen betul kaadaan dirinya, hingga ia diambil oleh saorang dusun dan dijadikan istri pandita! Oh, ya! Aku inget. Pandita Noesa Brama sendiri perna bilang, iapunya istri bukan orang turunan Baduy, hanya saorang Sunda dari Bantam Kidul yang sudah dikukut dari masih kecil oleh ayahnya. Apakah boleh jadi Retna punya ibu ada kita punya bibi sendiri? Kalu begitu tiada heran rupanya ada begitu mirip dengen ini potret, dan ini perhiasan bisa jadi begini sama. Oh, Allah! Kalu sampe ini semua dugaan ada betul!... XII Bertemu Kombali Itu dua sudara, yang sekarang merasa dapet pecaken satu resia yang amat besar dan penting, kaliatan sangat terharu. Rasa kaget, heran, bingung dan girang telah teraduk menjadi satu. 76 "Hayolah lekas kita bri tau ini pendapetan penting pada rama dan ibu!" berkata Roekmini yang lantes berbangkit dan hendak masuk ka dalem. Moelia tahan padanya, dan lalu berkata: "Sabar, Roekmini, dalem ini hal kita tida boleh terburu nafsu, hanya biarlah kita beber dengen perlahan. Itu urusan kau boleh srahken di aku punya tangan. Jangan grabak-grubuk98 bikin rama dan ibu jadi kaget. Retna, saya minta kau pun suka tutup mulut, jangan bikin kaget pada ibumu, hanya biarken aku yang usut ini perkara sampe menjadi terang." Abis bilang begitu, Moelia dengen itu dua gadis lalu masuk ka dalem rumah. Kabetulan iapunya ayah dan ibu sudah ada di pintu hendak pergi ka luar dengen dianter oleh istri pandita . "Mau pergi ka mana rama?" tanya Raden Moelia.

www.rajaebookgratis.com

"Aku mau terusken perjalananku ke Ciwalirang aken saksiken meletusnya Krakatau, sebab aku kuatir nanti kaso-rean." "Apakah tida boleh ditunda sampe besok pagi?" "Tida bisa, sebab aku ada banyak urusan penting yang musti diberesken." "Saya sendiri ada satu urusan penting yang musti disam-peken pada rama dan ibu, maka saya minta rama jangan berlalu sablonnya denger apa yang saya hendak tuturken." "Kau boleh ceritaken saja dengen ringkes." "Tida bisa, sebab ini urusan ada menyangkut pada laen-laen orang, antara mana itu ibu, istri pandita, yang musti didenger katerangannya." Roekmini campur bicara: "Betul rama, ini urusan ada penting sekali, dan bakal mendatengken kagirangan dan kaheranan besar bagi rama dan ibu, maka saya minta rama jangan berlalu sablonnya mendenger abis satu per satu apa yang nanti diterangken di sini." Raden Adipati terpaksa lulusken permintaan kadua anak nya itu dan lalu masuk kombali ka dalem, dan berduduk di tempatnya yang tadi. Di sablahnya berduduk Raden Ayu, dan disablahnya Raden Ayu berduduk istri pandita. Raden Moelia berduduk di sebrangnya, di sablahnya berduduk Roekmini dan Retna Sari. Sasudahnya semua berduduk rata, Raden Moelia ber bangkit dan mulai berkata: "Apa yang saya hendak tuturken ini ada satu perkara yang begitu aneh dan ajaib hingga seperti di dalem dongeng, maka saya minta semua orang suka denger dengen terang dan jangan bikin ribut, jangan berbangkit dan jangan potong saya punya omongan, hanya masing-masing musti timbang dan menyaut saja apa yang saya tanya. Harep rama suku 77 Grabak-grubuk = panik. maafken, saya ambil ini aturan dan berlaku sabagi voorzitter Landraad," sebab itu perkara yang musti dipreksa ada begitu besar dan penting, hingga orang tida boleh bikin ribut, dan rama sendiri tentu nanti benerken saya punya perbuatan ini kalu sudah dapet tau sifatnya ini suai yang aken dipreksa sekarang." "Ya, ya," saut Raden Adipati. "Tapi lekaslah terangken urusan apa yang kau hendak bicaraken." "Sablonnya menjawab rama punya pertanyaan itu, saya minta permisi aken bikin bebrapa pertanyaan pada ibu pandita. Saya kapengen tau, ibu punya nama yang bener siapa adanya." "Saya punya nama Jati," saut istri pandita. "Jati? Apakah tida salah? Siapakah yang kasih itu nama?" "Saya punya orang tua." "Siapakah itu orang tua?" "Pandita Asheka yang sekarang sudah meninggal." "Siapakah ibu punya suami?" "Kapanl6 juragan sudah tau pandita Noesa Brama." "Siapakah ayahnya pandita Noesa Brama?" "Pandita Asheka." "Kalu begitu, ibu bersuami dengen sudara sendiri?" "Bukan! Oh...bukan!...pandita Asheka saya punya bapa pungut." "Siapakah namanya ibu punya orang tua yang betul?" "Sudah lupa, sebab saya dipungut oleh pandita Asheka waktu masih kecil."

www.rajaebookgratis.com

"Cobalah pikir-pikir, apakah ibu tida inget, siapa adanya itu orang tua pada sablonnya dipungut oleh pandita Asheka? Apakah tida bisa inget di mana ibu tinggal, jau atawa deket dari sini, ada punya sudara atawa tida?" "Saya tida inget lagi sebab sudah terlalu lama dan itu waktu saya masih kecil." "Baeklah, " kata Raden Moelia yang maju mengamperi bebrapa tindak, dan lalu berdiri di hadepan istri pandita. "Sekarang saya minta ibu pikir baek-baek inget yang betul aken j awab saya punya bebrapa pertanyaan. Cobalah bilang: apakah ibu masih inget di tempo dulu, ampat pulu lima taon lalu, waktu gunung Krakatau peca?" "Rasanya saya masih inget samar-samar." "Bagimana kaadaan di itu waktu?" "Gelap peteng, turun ujan abu, dan suara guntur samber-menyamber hingga membikin tuli kuping." "Itu waktu ibu ada di mana?" Istri Pandita bengong sabentaran, komudian menjawab: "Sudah lupa". 78 "Coba pikir-pikir, apakah itu waktu ibu ada di tenga sawah, atawa di atas satu prau?" "Bukan." "Kalu bukan, ibu ada di mana, apakah brangkali lagi naek dokar?" "Ya,ya, rasanya naek dokar." "Bersama siapa ibu naek dokar." "Itu saya sudah lupa." "Ibu naek dokar hendak pergi ka mana?" "Rasanya hendak pergi menyingkir, sebab takut gunung pecah." "Siapa yang suru menyingkir?" "Ibu punya orang tua." "Orang tua lelaki atawa prampuan?" "Dua-dua." "Kalu begitu ibu, toch bisa inget yang ibu ada punya orang tua lelaki dan prampuan." "Ya, sekarang saya inget, saya punya pikiran mulai jadi terangan." "Di manakah rumahnya itu orang tua?" "Itu saya sudah lupa." "Apakah di atas gunung atawa di tenga utan?" "Oh, bukan, rasanya di pinggir laut, sebab saya sring ambil kiong di pinggir laut bersama saya punya sudara." "Ah, sekarang ibu inget yang ibu ada punya sudara. Itu sudara lelaki atawa prampuan?" "Laki-laki." "Siapakah namanya?" Kombali istri pandita bengong berpikir, akhirnya ia menyaut: "Lupa". "Tida apa," saut Raden Moelia. "Kumpulken ibu punya pikiran nanti sabentar ibu bisa inget semua. Sekarang saya mau tanya lagi: ibu punya orang tua itu kerjanya apa?" "Saya sudah lupa." "Apakah ia jadi tukang prau, tukang grobak atawa paman tani?" "Oh, bukan, itu saya tau betul, bukan!" "Apakah rumahnya besar atawa kecil?" "Rasanya rumahnya besar." "Apakah itu rumah adanya di alun-alun dan deket masigit?" "Betul, saya inget betul di deket masigit dan di depannya ada alun-alun." "Apakah tida ada banyak opas politie dan jurutulis atawa mandoor yang sring dateng di situ?" "Ya, rasanya begitu."

www.rajaebookgratis.com

"Bukankah ibu punya ayah saorang berpangkat?" "Orang panggil juragan. Ya, saya inget, saya punya ayah ada pegang pangkat dan dihormat oleh orang banyak." "Waktu gunung Krakatau ampir meletus, ibu punya ayah suru ibu menyingkir dengen naek dokar bukan?" "Ya, betul." "Ibu punya ayah dan bunda ada turut sama-sama di itu dokar, sebab iaorang juga hendak turut lari, bukan?" "Rasanya tida, ibu dan ayah tinggal di rumah." "Siapa yang turut sama-sama di dalem dokar?" "Saya punya sudara." "Sudara prampuan?" "Bukan, sudara lelaki." "Yang bernama Hasan?" "Ya, betul, namanya Hasan." Bupati Rangkas-gombong lantes berdiri menghampiri itu istri pandita sambil berkata: "Hasan? Hasan kau punya sudara?" "Sabar, rama, jangan ribut dulu!" berkata Raden Moelia sambil tuntun ayahnya aken disuru berduduk lagi di korsi. Sasudahnya membujuk ayahnya supaya tinggal sabar. Ia lanjutken pula pepreksaannya, dengen majuken ini pertanyaan: "Tida boleh jadi dua anak-anak naek dokar dengen tida ada yang anter. Siapakah orang yang turut sama-sama?" "Itu betul-betul saya sudah lupa, rasanya saja bujang prampuan." "Itu dokar menuju ka mana?" "Saya tida tau, cumah saya inget aken bawa kita-orang menyingkir ka tempat yang jau dari pinggir laut." "Sampe brapa jau itu dokar anter ibu dan ibu punya sudara?" "Rasanya itu dokar kudanya kabur di satenga jalan, saya dan babu Satimah jatuh terlempar." "Siapa itu babu Satimah?" "Itu bujang prampuan yang anter...oah, baru sekarangsaya inget namanya!" "Apa komudian sudah jadi?" "Saya tida inget lagi, cumah saya tau saya ada di atas gunung bersama satu orang tua yang amat baek, yang saya panggil bapa, yang gendong saya masuk kaluar utan dan akhirnya ajak saya berdiam dalem rumahnya di atas gunung dan satiap hari saya memaen dengen iapunya anak yang sekarang jadi saya punya suami." "Waktu ibu dengen Hasan dan babu Satimah hendak brangkat lari dengen naek dokar, apakah tida ada bawa pakean atawa barang-barang makanan?" "Itu saya sudah lupa, tapi saya rasa musti ada." "Apakah ibu punya orang tua tida ada pesan atawa kasih apa-apa?" "Saya tida inget lagi." "Apakah ia tida ada kasih pake gelang atawa rante?" "Oh. Ya, ada! Ibu dan ayah ada kasih pake satu gelang dan satu rante pada saya, dan satu gelang dan satu rante pada Hasan, dengen dipesan, jaga baek jangan sampe ilang sebab itu 80 79 ada barang pusaka. Saya masih inget itu pesanan, maka sampe sekarang saya jaga betul itu gelang dan rante yang ada dipake oleh Retna."

www.rajaebookgratis.com

Raden Moelia tuntun sudaranya ka depan istri Pandita, lalu kasih liat gelang dan rante yang dipake oleh Roekmini: "Apakah ini dia itu gelang dan rante?" ia menanya. "Betul," saut istri pandita. "Retna, kau tida boleh kasih laen orang pake, sebab itu cumah buat kau sendiri," penyo-mell7 istri pandita pada anaknya. "Mari sini, Retna, kasih liat kau punya," kata Moelia. Retna Sari kasih liat pada ibunya itu gelang dan rante yang masih menempel di tangan dan lehernya. "Heran sekali," kata istri pandita, "bagaimana ini barang pusaka bisa ada serba dua yang begitu sama!" "Itulah ada dari sebab yang Roekmini pake ada punyanya Hasan, ibu punya sudara!" "Hasan? Di manakah adanya Hasan?" Raden Adipati Hasan di Ningrat tida bisa tahan hatinya lagi. Ia berbangkit dan pelok sudara prampuannya itu sambil menangis dan berkata: "Oh, Soeryati! Soeryati! Sudaraku yang sudah begitu lama terhilang! Terpujilah kamurahan Tuhan yang ini hari sudah bikin kita-orang bisa bertemu kombali!" XIII Resianya itu Gowa dari Gunung Ciwalirang Pada hari Senen tanggal 27 Augustus taon 1883 jam 11 pagi, tatkala antero penduduk di Bantam lagi sedeng ka-bingungan dan katakutan satenga mati lantaran itu perletusan heibat dari Krakatau yang membikin udara jadi gelap petang hingga siang hari berobah jadi seperti malem, di jalanan besar deket desa Cidangur, antara Waringin dan Cening, ada berjalan saorang lelaki kira berusia 45 taon, badannya tinggi besar, romannya gagah, aer mukanya angker dengen disertaken jembros yang item dan gomplok, pake baju warna abu-abu yang panjang seperti jubah, celana dari kaen biru, kepalanya ditutupin oleh satu tudung lebar, dan tangannya yang kanan memegang tungket yang dipanggul di pundaknya, di ujung mana ada satu buntelan besar yang berisi pakean dan sedikit barang makanan. Tangannya yang kiri ada menuntun saorang anak lelaki yang berusia kira limablas 81 taon, yang pegangin tangannya itu orang tua dengen keras dan badannya gumeter serta rupanya seperti hendak menangis lantaran katakutan. Maskipun kaadaan di itu waktu ada luar biasa heibatnya hingga membikin kuatir dan ngeri pada sesuatu orang yang mengadepin, tapi itu orang tua punya aer muka tida sekali mengunjuken takut, hanya tinggal sabar. Salaennya dari iapunya tindakan dibikin lebih cepet aken menuju ka jurusan Wetan, tida ada tanda yang menunjukken ia merasa kuatir, cumah bibirnya ada bergerak-gerak seperti orang yang lagi berdowa dengen perlahan, dan tempo-tempo ia ucapken satu dua perkataan pada itu anak yang sedeng ketakutan aken besarken hatinya. Di itu kutika, maskipun sudah jam n pagi, ada sanget gelap seperti juga waktu tenga malem lantaran matahari tertutup oleh asep dan abu yang dimuntahken oleh Krakatau, sedeng itu abu alus yang turun ka bumi dengen begitu tebel membikin orang yang berjalan maski membawa lentera atawa obor, tida liat dengen nyata apa yang ada dalem duapulu meter di saputernya. Maski begitu

www.rajaebookgratis.com

itu lelaki berjalan terus dengen tindakan tetep mengikutin sapanjang jalanan raja, dan sabagi penyuluh jalan ia cumah gunaken saja itu cahaya kilap yang sabentar-bentar berkrelepl8 di sablah Kulon di mana ada pernanya itu gunung api yang sedeng meletus. Tatkala iaorang berjalan sampe di mana satu jalanan cagak,19 itu lelaki ampir jato tersumpet20 lantaran kakinya tersandung apa-apa yang melintang di tenga jalan raya. Ia merandek,21 lalu, sulut satu geretan, dan dapet liat di hadepannya ada satu anak prampuan kira berusia lima taon sedeng terlentang dengen muka dan kepalanya penuh darali dan merintih dengen perlahan. Ia mengawasi ka tempat-tempat di saputernya, tapi tida dapet liat sabiji manusia. "Kasian ini anak," ia berkata sendiri-sendiri, "rupanya saja ia sudah dapet cilaka terlindes kandaraan atawa terinjek kuda. Tiada katauan siapa ada orang tuanya, tapi dari rupa dan pakeannya sudah terang ia bukan anak kampung, hanya musti ada turunan menak atawa orang hartawan, kerna itu gelang emas dan rante perak yang ia pake, begitu pun anting anting dari emas, menunjukken ia ada anaknya saorang mampu. Ini anak tida boleh dibiarken terlentang di sini, kerna sabentar ia bisa terlindes pula oleh laen kandaraan atawa terinjek oleh orang-orang yang lari. Laen dari itu, iapunya luka ada begitu heibat, jidatnya peca, kaki dan tangannya besot di sana sini, hingga perlu musti lantes ditulung supaya ia jangan binasa lantaran kaluarken banyak darah." Abis bilang begitu, ia lalu pondong itu anak ka pinggir jalan, buka bungkusannya, ambil sapotong kaen yang lantes 82 dirobek buat iket itu anak punya jidat yang luka, komudian lantes dipondong, sedeng iapunya bungkusan dan tungket ia srahken aken dibawa oleh itu anak lelaki. "Marin kita-orang lekas brangkat, Ujang," katanya pada itu anak, "di ini tempat ada berbahaya kerna masih dekel pada lautan." Abis bilang begitu, sambil pondong itu anak prampuan yang luka dan tida brentinya merintih-rintih, itu orang tua dan anaknya berjalan dengen lekas mengikuti jalan besar ka lor-wetan yang menerus ka kakinya gunung Aseupan. Tida antara lama iaorang sudah liwatin kampung Sukacai, Talun Sukaraja, dan akhirnya sampe di Curugsangiang yang letak nya sedikit tinggi kerna pernanya di kaki Gunung Aseupan, dimana ia brenti di satu warung aken ilangken lelahnya dan bli juga barang makanan. Di situ ia preksa lebih terliti itu anak prampuan, yang lukanya dicuci dengen aer, lalu ditempelin oleh daon sirih yang sudah ditumbuk alus, komudian dibung-kus pula dengen rapih. Itu anak sekarang bisa menangis, kerna rupanya ia sudah tersedar betul dari pangsannya, tapi segala pertanyaan ia tida mau menyaut, cumah bisa meratap dan sebut-sebut iapunya ibu yang tida katauan siapa adanya. Sasudanyanya mengaso kira satu jam, itu lelaki terusken perjalanannya ka jurusan Mandalawangi, tapi tinggal lagi satu pai dari itu desa, ia membiluk ka satu jalanan kecil yang cumah bisa digunaken oleh orang yang berjalan kaki atawa naek kuda, yang menuju ka jurusan lor.

www.rajaebookgratis.com

Di itu waktu gemuruhnya suara perletusan dari Krakatau sudah banyak kurangan. Udara pun tida begitu gelap seperti kutika jam 11 pagi, hingga maskipun itu waktu sudah jam 4 sore, bumi ada diterangi oleh cahaya remengremeng seperti waktu magrib. Itu lelaki berjalan terus di itu jalanan gunung dengen meliwatin kampung kadupandak dan Pasilihan, komudian membiluk pula ka jurusan Kulon, dan akhirnya ia sampe di kampung Cikupa yang pernanya di lamping wetan dari Gunung Ciwalirang. Itu kampung Cikupa ada terdiri dari ampat bua rumah atep dari orang tani yang idup dengen menggarap tanah-tanah kurus di lamping gunung yang ditanemin padi huma. Hasil yang laen cumah dari memotong kayu dan membikin areng. Tatkala itu lelaki dengen membawa itu dua anak dateng di itu kampung, penduduknya sedeng ada dalem katakutan sanget, kerna mengira, lantaran meletusnya Krakatau, sekarang sudah sampe akhir jeman yaitu dinamaken lebur kiamat. Iaorang semua jadi sanget bergirang tatkala meliat datengnya itu tetamu, yang rupanya ada jadi iaorang punya kenalan lama. Dengen buru-buru marika menyambut dengen menyembah aken unjuk hormatnya, sedeng bebrapa orang prampuan kasih kaluar tiker bersih yang lalu digelar di balebale, sedeng bebrapa orang lagi pergi ka dapur aken masak aer buat seduh kopi. "Kita-orang tiada kira embah aken dateng di ini hari," kata satu penduduk yang paling tua, "oh, dalem ini bebrapa hari kita merasa katakutan sanget oleh itu suara guntur yang tida brentinya berbunyi siang dan malem di jurusan Kulon, atau dari mana datengnya. Bagimana embah rasa, apakah tida aken kejadian apa-apa? Apakah ini dunia tida jadi kiamat? Tadi tengahari matahari telah linyap, bumi jadi gelap petang, seperti juga di waktu malem. Saumur idup saya blon perna dapetin kaadaan seperti sekarang." Itu lelaki yang baru dateng, yang dibahasaken Embah, berkata dengen tersenyum: "Trausah kuatir, di ini tempat tida nanti ada bahaya apa-apa. Yang berbunyi seperti guntur ada itu gunung api di pulo Krakatau yang pernanya di tengah laut. Penduduk yang tinggal di pasisir, seperti Waringin, Anyer dan laen-laen tempat boleh jadi aken katimpah bincana besar kalu aer limpas22 ka darat, tapi kita-orang yang tinggal di atas gunung tida usah takut apa-apa." "Tapi embah, " kata pula itu orang desa, "di atas puncak ini gunung Ciwalirang pun ada kaliatan kaluar asep dan tempo-tempo kadengeran suara gemuruh maskupun tida sabrapa keras." "Apakah betul?" tanya itu "embah" dengen rupa terkejut, mukanya pucet dan badannya kaliatan gumeter. Suara gemuruh yang begitu heibat dari meletusnya Krakatau, dan bumi yang menjadi gelap petang tertutup oleh asep dan abu, tidamembikin ia jadi begitu kaget, kuatir dan bingung seperti waktu mendenger ceritanya itu orang dusun. "Memang betul," menyaut bebrapa orang dusun dengen berbareng, "itu suara gemuruh seperti bunyinya gluduk di tempat jau, berikut dengen kaluarnya asep

www.rajaebookgratis.com

yang bau walirang, sudah lama kita-orang sring saksiken dan denger, yang jadi lebih tegas pula kalu di waktu malem." "Sadari kapan kau denger itu suara?" "Kira-kira tiga minggu yang lalu, pada sasudahnya turun ujan besar berikut gempah bumi yang membikin banyak tanah-tanah di lamping23 gunung jadi gugur dan batu-batu karang merosot turun." "Kalu begitu, biarlah nanti besok aku naek ka atas puncak aken pergi preksa." "Ya, kita-orang harep embah punya pertulungan buat mintain pada jin penunggu dari ini gunung dan begitu pun 84 83 kita-orang punya karuhun-karuhun,24 aken lindungken kita-orang semua dari bahaya." "Baeklah, itu perkara kau jangan kuatir, aku nanti coba apa yang aku bisa aken pelihara kau-orang semua punya kaslametan. Sekarang aku minta kau sediaken makanan dan satu kamar aken kita-orang menginep, sebab aku ada bawa, salaennya anakku sendiri, ini satu anak prampuan yang sakit dan dapet luka keras, yang musti dirawat dengen terliti." Itu orang-orang desa lalu bikin bersih iaorang punya kamar yang paling baek dengen disediaken kasur, tiker, dan bantal salengkepnya. Itu embah lalu bawa itu anak prampuan yang luka ka dalem itu kamar aken dikasih tidur, sedeng ia sendiri duduk bersila di sablahnya, badannya mengadepin ka jurusan puncak gunung Ciwalirang, lalu berdowa dengen perlahan, sampe hari sudah jadi malem betul-betul. Pada besok paginya, itu anak prampuan kaliatan sudah mulai seger. Ia mau minum aer dan dahar satu dua potong pisang direbus. Itu embah mulai tanya kombali padanya aken preksa asal-usulnya, tapi ia tida dapet banyak katerangan, cumah itu anak bisa bilang ia sendiri punya nama Jati atawa "Neng Jati", sudaranya nama Hasan, iapunya bujang prampuan nama Satimah, anjingnya nama Kiloeng, ibu-bapanya ada di Waringin, tapi siapa namanya dan apa pekerjaannya itu anak tida bisa bilang, cumah ia tau ibunya orang biasa panggil "N'den" dan ayahnya banyak orang panggil "Agan". Ia bersama sudaranya lagi naek dokar aken pergi ka rumahnya iapunya aki, tatkala berbunyi suara gledek sanget keras hingga ia jato dari itu dokar dan tida inget lagi apa yang kajadian lebih j au. Dari ini semua katerangan, itu Embah jadi dapet tau, ini anak prampuan betul ada anaknya satu priyaie. Ia pikir, nanti kalu pakerjaannya di gunung Ciwalirang sudah selese, ia hendak pergi ka Waringin aken cari tau siapa adanya ibu bapa dari itu anak prampuan bernama "Jati". Dan pembaca tentu bisa lantes duga, itu anak bukan laen adalah dari Soeryati anaknya Wedana Waringin yang telah linyap terlempar dari dalem dokar waktu kudanya kabur lantaran kaget. Itu embah yang jadi penulung bukan laen dari Pandita Asheka, sedeng itu anak lelaki ada iapunya putra sendiri yang komudian terkenal sabagi Pandita Noesa Brama. Pada besok paginya, di tanggal 28 Augustus 1883, bekerjanya Krakatau sudah banyak kendoran. Abu alus masih terus jato ka bumi. Langit tinggal mendung

www.rajaebookgratis.com

dan matahari tida kaliatan, tapi itu asep dan abu tida bikin siang hari berobah menjadi malem, cumah udara tinggal teduh seperti di waktu ampir magrib. Pandita Asheka, begitu lekas meliat ada cukup terang aken orang jalan ka luar, lalu ajak putranya, yang ia biasa panggil Oejang, aken pergi ka atas puncak gunung Ciwalirang, dengen membawa satu golok, satu tungket dan satu bungkusan kecil yang berisi areng, menyan, satu cendana, rupa-rupa kembang dan bebrapa potong lilin serta satu flesch kecil berisi minyak tanah. Penduduk desa dilarang buat turut, kerna saban kalih pergi ka atas puncak, ia selamanya berjalan sendirian atawa berdua dengen putranya. Inilah bukan buat pertama kalih ia dateng di itu tempat. Lebih dulu dari itu, pada satiap taon, malah sadari tatkala Bantam Kidul masih utan melulu kerna penduduknya blon brapa banyak, itu pandita, begitu pun iapunya ayah dan kake, sring kunjungin ini puncak gunung dengen diam-diam. Jalan buat naek ka atas puncak bukannya gampang, kerna musti memanjat batu-batu karang yang amat tebing, penuh dengen gombolan dan oyot-oyot.109 Itu golok yang dibawa ternyata amat perlu buat membabat segala tetum-buan yang menghalangin jalan. Ampir dua jam lamanya itu ayah dan anak bergelut aken naek ka atas. Akhirnya iaorang bisa sampe ka sapotong tanah rata yang terletak di bawah batu-batu karang besar, di mana blakangan ada terletak itu pondok yang terkenal dari Pandita Noesa Brama. Tapi di itu waktu disitu tida ada apa-apa, cumah penuh dengen gombolan dan rumput alang-alang melulu. Maski begitu, kalu orang panjat bebrapa batu karang yang terletak di itu lapangan, orang lantes bisa liat itu pemandangan indah dari Selat Sunda dengen tempat-tempat di saputernya. Tapi Pandita Asheka tida suka ilangken tempo aken saksiken itu semua kaindahan yang terbeber di bawah kakinya. Hatinya kaliatan merasa sibuk dan kuatir dengen itu kabar yang ia denger kemaren dari penduduk Cikupa. Begitu sampe di itu lapangan, lantes ia mulai merobos masuk ka dalem itu tempat growong yang terapit oleh bukit-bukit karang, yang macemnya seperti gowa, di mana ada penuh akar-akar dan pepuhunan yang merambat, hingga kaliatan-nya semak sekali. Itu pandita dengen anaknya lalu berjalan terus sampe ka ujung itu growongan di mana ada kaliatan mengalir aer yang berbau walirang, yang kaluar dari bawah satu batu yang besarnya kira satenga meter pesegi dan tertutup oleh lumut dan puhun-puhunan kecil. Di ini tempat itu ayah dan anak lalu gunaken tungket dan goloknya aken korek tanah di sablahnya itu batu. Bebrapa batu kecil yang jadi sabagi ganjelan sudah dikasih kaluar. Komudian dengen tida banyak susah iaorang iserken itu batu 86 85 besar yang ternyata bangunnya ada ceper seperti jubin, dan lantes kaliatan satu lobang yang panjang dan dalem. Itu pandita lalu sulut sapotong lilin dan merangkang masuk ka dalem itu lobang yang saanteronya ada dari batu karang melulu, dengen diturut oleh anaknya. Samingkin ka dalem itu lobang jadi bertambah besar. Sasudahnya

www.rajaebookgratis.com

merangkang berbulak-bilukllO kira sapulu meter jaunya, marika sampe di satu lobang yang besar di mana orang bisa berjalan dengen berdiri. Tapi itu jalanan tida terlalu gampang, kerna amat ciut. Di sablah kanan ada batu karang besar seperti tembok sedeng di kirinya ada gawir yang amat dalem hingga tida kaliatan dasarnya di mana kadengeran suara aer mengalir. Bebrapa ratus kampretlll ada terbang berseliweran. Jauh di atas kapalanya ada kaliatan sinar terang dari renggang-rengganganll2 batu. Sasudah berjalan sepanjang itu gawir kira dua-pulu meter jaunya, iaorang sampe di satu tempat yang lebar, di Oyot = akar Berbulak-biluk = berkelok-kelok. Kampret = kelelawar kecil pemakan serangga. Renggang-renggangan = sela-sela. mana ada terletak batu-batu karang malang melintang. Pandita Asheka jadi sangat kaget meliat ini kaadaan, dan lalu berkata pada anaknya: "Cobalah kau liat, Oejang, ini batu-batu sudah gugur dari sablah atas, boleh jadi lantaran tergoyang lindu. Aku kuatir sekali kita punya tempat yang suci sudah dapet karusakan." Dengen banyak susah iaorang melangkahi itu batu-batu aken terusken perjalanannya. Akhirnya marika sampe ka ujung dari itu gowa yang macemnya seperti kamar, kira anem meter pesegi lebarnya. Di sampingnya itu kamar ada satu lobang besar yang macemnya seperti sumur, amat gelap dan dalem, di mana kadengeran suara gemuruh seperti aer mendidih dan kaluar asap yang berbau walirang. Tapi itu pandita tida ambil perduli pada itu sumur yang menimbulken suara ngeri di dalem itu gowa, kerna maranya ada mengawasi ka satu pojok dari itu kamar yang penuh dengen batu-batu yang tersiar malang melintang seperti gugur dari atas. "Cilaka!" ia berkata dengen suara ketakutan: "Oh, Sanghiang Betara Wishnu, Sri Maha Dewa, ampunilah dan tulunglah pada kami-orang dan semua manusia yang berdosa!" 87 Abis bilang begitu, ia berlari ka pojok dari itu kamar, lalu angkat dan gulingin bebrapa potong batu karang yang bersusun tindi dengen dibantu oleh anaknya. Tida antara lama, kaliatan ia angkat dengen sanget hormat dan hati-hati satu area kira satu meter tingginya dari saorang yang bertangan ampat tapi yang dua sudah kutung dan kepalanya sudah linyap. Ia senderken itu area di pinggir batu, lalu mulai membongkar lagi. Tida antara lama ia dapetken kepala dan potongan-potongan tangan dari itu patung yang sudah patah, lantaran tertimpah oleh batu yang gugur dari atas itu gowa. "Bapa, ini kepala dan tangan tida rusak, hingga masih bisa dibikin betul kombali," berkata anak Pandita . "Aku rasa sekarang sudah telaat," berkata itu pandita sambil coba tempelkan itu kepala di atas pundaknya itu area. "Kau sendiri sudah saksiken bagimana itu gunung Krakatau sudah meletus, dan aku kuatir sekali banyak jiwa manusia aken binasa".

www.rajaebookgratis.com

"Tapi ada hubungan apakah antara meletusnya Krakatau dengen karusakannya ini patung dewa?" "Aku sendiri tiada tau", kata itu pandita dengen rupa kuatir, "tapi di blakangnya ini area ada tulisan yang mene-rangken, di harian rusaknya ini patung, ini negri aken binasa juga. Aku sudah dipesan oleh aku punya ayah, yang trima pesenan lagi dari kake moyangnya, aken saban taon musti kunjungi ini gowa buat preksa dan jaga baek ini patung, supaya manusia di Bantam bisa tinggal slamet, kerna kalu ia jadi rusak ini negri aken katerjang bincana besar, lantaran itu gunung api di pulo Krakatau musti meletus, dan turunan dari Karajaan Pajajaran bakal abis ludes semua. Kau liat, anak, itu perletusan dari Krakatau dengen karusakannya ini patung suci, ada punya hubungan satu pada laen." "Kalu begitu, bapa, paling baek kita jangan ilang tempo aken bikin betul kombali ini patung yang boleh ditambal dan disambung dengen pake cement," kata itu anak pandita. "Pikiranmu ada bener sekali, Oejang," kata Pandita Asheka, "Marilah sekarang kita berlalu dari sini aken suru orang pergi membli cement." Tida antara lama itu ayah dan anak sudah kaluar dari dalem gowa, yang lobangnya ditutup kombali dengen rapih, terus turun dari atas puncak dan balik ka desa Cikupa. la minta tulung pada saorang desa aken pergi bliken 10 kati"3 cement ka Menes, kerna ini barang ada perlu buat melin-dungken marika punya kaslametan. Itu kutika sudah jam 11 siang. Perjalanan dari Cikupa ka Menes ada 12 pai"4 jaunya, tapi itu orang desa jalanken prentahnya 88 ":1 i kati =0,5 kilogram. "41 pai =1,5 kilometer. pandita dengen girang, dan harep bisa kombali jam 6 sore. Samentara menunggu kombalinya itu orang suruan. Pandita Asheka duduk omong-omong berdua dengen anaknya, yang maskipun baru berusia 15 taon, ternyata ada cerdik dan terang ingetannya. "Bapa," kata itu anak. "Apakah kita musti bikin dengen itu Jati yang bapa baru tulungin?" "Kita nanti kasih kombali pada orang tuanya di Waringin," saut sang ayah. "Bagimana kalu saandenya itu orang tua tida dapet dicari?" "Kita nanti bawa pulang ka kita punya tempat di gunung, aken dirawat sabagi kau punya sudara. Sakean lama kau idup sendirian saja, Oejang, sebab kau tida ada punya sudara, baek pun sudara betul atawa sudara misan. Ini Jati aku nanti rawat sabagi anak sendiri aken jadi aku punya temen me-maen." Oejang kaliatan merasa girang mendenger ini omongan. Ia lalu pergi samperin Jati yang lagi disuapin oleh satu prampuan desa dengen nasi merah dan ikan kering dibakar. Oejang mulai omong-omong dan bicara banyak pada Jati dengen sacara lucu, hingga itu anak prampuan yang sedeng sedih dan kasakitan mulai bermesem dan mau berkata-kata. Jam 7 sore itu orang suruan yang pergi ka Menes sudah kombali. Bukan saja ia sudah dapet itu cement yang perlu aken perbaeki itu area suci yang sudah rusak, tapi juga ia ada bawa satu kabar yang heibat sekali. Di tenga perjalanan

www.rajaebookgratis.com

ka Menes ia bertemu banyak orang dari desa-desa di sablah Kulon yang melariken diri dengen membawa kabar, bahua kemaren tengahari aer laut telah limpas ka darat, rendem banyak desa-desa yang pernanya deket pasisir, hingga bilang ribu orang jadi binasa, dan semua rumah-rumah telah rubuh terbawa anyut. "Liatlah," kata pandita Asheka pada anaknya: "Apa yang aku kuatirken telah kajadian. Itu bahaya sudah dateng. besok pagi kita musti lekas betulken patungnya kita punya Betara Wishnu, mudah-mudahan saja itu bahaya bisa dicega hingga tida menjalar lebih jau." Pada hari besoknya, di waktu masih pagi sekali, Pandita Asheka dengen putranya sudah ada lagi di dalem itu gowa aken tambal dan rapetken kombali anggotanya itu area yang sudah rusak dan patah. Itu baru karang yang tersebar di sana sini sudah disingkirken dan dikumpul dengen rapih di satu pojokan. Sekarang baru kaliatan bahua itu gowa ada jadi satu tempat pamujaan kuno yang maskipun macemnya saderhana tapi bersifat suci dan agung. Itu area dari Betara Wishnu, satu dari agama Hindu punya Trimurti (tiga dewa yang paling suci), ada dipernaken"5 di atas sebua singasana atawa tahta yang terbikin dari batu karang melulu, di mana ada terukir gambarnya Garuda yang jadi iapunya tunggangan, yang macemnya saparo manusia dan saparo burung. Di blakangnya itu tahta, di mana batu karang yang terpahat licin hingga macemnya seperti tembok, ada terpeta gambarnya matahari, kerna Wishnu ada terpandang juga sabagi Dewa dari Matahari, iapunya ampat tangan ada memegang satu rujung atawa lingga, satu kulit kiong, satu piring dan satu bunga trate yang ada jadi symbool dari kakwasaan, kan-jaringan, penerangan dan kasucian. Ini dewa ada dianggep yang memalihara atawa membri pengidupan pada ini dunia dengen sekalian isinya, sedeng Brahma yang menjadiken, dan Siwa yang merusakken. Di blakangnya itu patung ada terukir ampat baris tulisan dengen hurufhuruf Sangkrit, yang artinya, menurut katePernaken = ditempatkan. rangan pandita Asheka, ada begini: "Pada saat aku rusak, rusaklah juga ini negri dengen sekalian turunanmu, katimpah murkanya Rakata." Di hadepannya itu singasana ada sabua batu besarnya kira 40 centimeter pesegi, tingginya satu meter dan di tengahnya ada satu lobang besar sabagi lumpang, di mana orang biasa membakar dupa. Ini batu pendupaan pun sudah jato terbalik, tapi sekarang diberdiriken kombali, dan Pandita Asheka lalu taroken areng dan mulai membakar dupa sambil berdowa aken bersujut di hadepan itu patung Dewa sedeng itu kembang-kembang lalu disebar di hadepannya. Tatkala Asheka dengen anaknya kaluar dari dalem gowa, hari sudah jadi lohor. Iaorang terkejut meliat matahari, yang sudah satu minggu tertutup oleh awan, sekarang mulai kasih liat rupanya dan tojoken sinarnya ka bumi, maski juga tida begitu terang seperti biasa. Ujan abu pun sudah brenti, hingga orang bisa dapet liat itu panorama yang begitu indah dari Selat Sunda, di mana tertampak

www.rajaebookgratis.com

juga itu pulo Krakatau yang sifatnya sudah jadi berobah begitu banyak hingga tida bisa dikenalin lagi. Ini gunung api, sasudahnya menda-tengken karusaken begitu heibat, sekarang kaliatan mulai sirep, suara meletusnya tida kadengeran lagi cumah kebulken saja sedikit asep item sabagi asep yang kaluar dari tumpukan arang dari rumah yang baro abis terbakar. Sudah tentu Pandita Asheka dan putranya anggep bren-tinya perletusan dari Krakatau ada dari lantaran patungnya Betara Wishnu yang rusak sudah dibikin betul dan itu area suci 89 90 ditaro kombali atas tahtanya. Tapi apa betul begituapa karusakannya itu patung suci di dalem gowa gunung Ciwalirang ada jadi sebab dari meletusnya Krakatau, dan iapunya pembetulan membikin itu gunung api jadi sirep kombali sasudahnya terbitken bincana begitu heibatinilah ada suker dibilang. Boleh jadi ini semua hal cumah dari kabetulan saja. Tapi pandita Asheka dengen putranya ada taro percaya dengen sagenep hati pada itu katerangan yang didapet dari kake moyangnya, bahua dipeliharanya itu area yang suci dari Betara Wishnu di dalem gowa dari gunung Ciwalirang nanti mendatengken kaslametan buat penduduk Bantam, dan di harian itu area rusak. Bantam aken kalanggar bincana heibat dan turunan dari dynastie Pajajaran yang dulu hari begitu berkwasa besar di Jawa Kulon, aken menjadi musna. XIV Terburu Nafsu Pandita Noesa Brama duduk bersila sambil rangkep kadua tangannya di hadepan itu area dari Betara Wishnu di dalem gowa dari Gunung Ciwalirang, yang sadari masih kecil ia biasa kunjungin bersama-sama ayahnya satiap taon, hingga sekarang ia sudah jadi saorang tua dan berambut putih. Itu Dewa suci tinggal berdiri di atas tahtanya dengen rupanya yang amat sadar dan adem: matanya saparo ketutup, bibirnya sedikit tersenyum, seperti juga hendak membilang, segala kajadian dalem dunia ini semua ada perkara kecil yang tida berharga aken dibuat jengkel dan diambil pusing. Tapi itu pandita yang sekarang bersujut di hadepannya, yang sudah berpuluan taon unjuk baktinya pada Betara Wishnu, tida meliat, tida mengarti dan tida perduliken pada itu symbool amat penting yang tertampak di paras mukanya itu patung suci. Iapunya ingetan sedeng kalut lantaran hatinya merasa sanget sakit atas perbuatan istri dan anaknya yang ia sangka sudah minggat lantaran kena bujukannya Abdoel Sintir dan iapunya kawan-kawan dari Palembang. Itu prampuan Jati, yang jiwanya telah ditulung oleh ayahnya pada 45 taon lalu; yang sadari masih anak-anak ada jadi iapunya temen maen, sasudahnya rumaja putri jadi sabagi iapunya sudara, dan akhirnya atas kainginan ayahnya telah jadi iapunya istri yang begitu baek, setia dan denger kata sekarang telah balikin blakang waktu suaminya katerjang kasusahan yang tida disangka, tinggalken padanya saorang diri, aken turut pada anaknya yang sudah kena dipikat oleh harta dan kasenangan dunia yang dijanjiken oleh itu Abdoel Sintir yang terkutuk, hingga itu kacintaan, kabruntungan dan karukunan yang sudah

www.rajaebookgratis.com

berjalan 45 taon lamanya, mendadak jadi linyap, ancur dan musna di dalem sakicepll6 mata! Pandita Noesa Brama punya plajaran, nasehat dan aturan yang sudah dijaga, dilindungken dan dipegang teguh be-ratusan taon lamanya dari kake moyangnya turun temurun terus sampe sekarang, dalem tempo sabentaran saja sudah dilempar kasamping, dilanggar dan diinjek-injek, bukan oleh laen orang, hanya oleh dua mahluk dalem dunia yang ia paling cinta, paling percaya dan taro harepan, yaitu istri dan anak sendiri! Noesa Brama, salaennya jadi satu Pandita, ia ada teritung satu Kshatriya atawa Satriya, satu Bangsawan yang mema-rentah negri atawa satu kepala perang. Itu darah raja-raja dari dunastie Pakuan Pajajaran yang dulu begitu berkwasa besar di Jawa Kulon, ada mengalir dalem tubuhnya. Sedeng terhadep pada suai kasenangan dan harta dunia ia pandang enteng dan tida ambil perduli, tapi dalem hal yang mengenaken derajat diri dan familienya ia ada berlaku sanget cerewet, terliti dan hati-hati. Lantaran menginget pada derajat yang begitu agung dari kake moyangnya, maka ia ada punya tabeat yang angku, yang bisa dibuktikan dari pembicaraannya pada Raden Moelia, yaitu: kalu iapunya anak prampuan, Retna Sari, brantas larangannya dan brani menikah pada lelaki sembarangan, ia ada sedia aken bunuh pada itu anak yang cumah satu-satunya. Ia lebih suka antero familie dan turunannya abis ludes dari ini dunia, dari pada musti idup dengen tercemar dan merendahken derajat sendiri. Inilah ada tabeat dan anggepan yang sudah umum dari orang-orang Hindu berderajat tinggi, turunan Brahmana dan Ksatriya, yang pandang kasuciannya iapunya derajat atawa Kasta ada lebih penting dari segala apa dalem dunia. Maskipun Pandita Noesa Brama ada saorang yang bijak serta luas pemandangannya dalem banyak perkara, tapi dalem ini satu suai ia ada amat kukuh, cupetll7 dan fanatiek. Itu anggepan yang sudah berjalan turun menurun dari kake moyangnya, ia pandang seperti juga titah-titah agama yang tida bisa dirobah lagi. Sasuatu pelanggaran pada ini adat kabiasaan ada jadi dosa besar yang tida bisa diampunken. Dalem kaadaan begitu, orang bisa mengarti bagimana ada perasaannya itu pandita, yang anggep derajatnya tida lebih rendah dari Sunan Solo atawa Sultan Jokja, tatkala ditinggal -ken oleh anak istrinya sendiri yang pergi minggat aken mengikuti satu lelaki yang di 91 92 dalem tubuhnya tida ada satu tetes darah bangsawan dan tida mempunyai satu apa yang berharga aken bedaken dari dari laen-laen orang, salaennya dari kakayaan, yang oleh pandita Noesa Brama di pandang rendah sekali. Pada Abdoel Sintir sendiri pun ia merasa amat gusar, Sakicep = sekejap. Cupet = sempit. kerna ia sudah ditulung hingga matanya yang ampir buta menjadi sembuh kombali, ia tida harep semua orang yang ia tulung nanti inget iapunya budi, tapi juga ia tida ingin aken trima pembalasan yang begitu heibat dan kejem, hingga brani curi hatinya iapunya anak prampuan dan turunan yang satusatunya, yang ia pandang lebih berharga dari segala apa di ini dunia. Dalem pemandangannya Noesa Brama itu anak prampuan bukan cumah ada jadi

www.rajaebookgratis.com

iapunya putri yang tercinta, tapi juga jadi turunan yang paling akhir dari kake moyangnya yang berderajat begitu agung dan tinggi. Ia inget juga bagimana iapunya ayah telah jaga, didik dan bri plajaran pada dirinya begitu terliti supaya bisa jadi saorang terhormat sabagimana layiknya satu orang berderajat agung, yang sudah berjalan turun menurun dengen jaga baek dan pegang tinggi martabatnya. Tapi sekarang ia sendiri seperti satu ayah sudah tida bisa jaga namanya familie hingga anak dan istrinya dapet kutika aken lakuken perbuatan yang begitu rendah dan hina. Ini rasa malu itu pandita tida sanggup pikul! Tapi sedeng begitu Noesa Brama merasa, sabagi suami dan ayah, ia blon perna berlaku alpa aken didik dan pimpin istri dana anaknya itu sabagimana mustinya. Kalu sekarang itu dua prampuan berkhianat dan berlaku sesat, inilah bukan dari iapunya salah atawa alpa, hanya lantaran buruknya jeman, yang membikin rusak tabeat yang baek dari manusia. Dari lantaran itu, menurut anggepannya Noesa Brama bukan saja iapunya istri dan anak bersama Abdoel Sintir harus dapet hukuman, tapi juga ini dunia yang kotor sudah sampe temponya aken dibasmi dan dibikin bersih kombali. Dengen mengandung itu pikiran sekarang ia ada bersujut di hadepan itu area yang suci dari Betara Wishnu, Dewa yang memalihara sekalian isi alam. Dengen suara sedih dan mata mengembeng aer Noesa Brama berkata-kata di hadepan dewanya itu: 93 "Oh Betara, Sri Maha Dewa yangberkwasa, saksikenlah olehmu bagimana nasibku sekarang ini. Sudah beratusan taon nenek moyangku selalu hormat dan puja padamu. Kita punya negri telah jadi musna, kabesaran telah linyap, kita punya kota-kota yang teguh dan kraton yang gilang-gemilang dengen tamantamannya yang begitu indah, sekarang telah jadi linyap, musna dan rata dengen tanah atawa menjadi rimba. Tapi toch maski begitu kita-orang tinggal tetep hormat dan bersetia padamu. Lantaran tida mau pelok agama Islam, hanya hendak memuja terus padamu, maka kita telah menahan sangsara aken pergi mengumpat di dalem utan yang paling lebat, yang tida bisa ditinggalin dan didatengin orang, idup terpisah dari laen-laen bagian dunia berabad-abad lamanya, hingga kaadaannya kita punya kaum dan rahayat jadi semingkin mundur dan katinggalan dari laen-laen golongan pribumi yang berdiam di Jawa Kulon. Ini semua kita lakonin cumah buat unjuk kasetiaan padamu, oh, Betara yang Moelia! "Maskipun kita punya kaadaan sudah begitu suker, aku punya kake moyang yang jadi turunan dari raja-raja yang berkwasa di jeman dulu, blon perna alpa aken unjuk kabak-tiannya padamu, maski juga dengen sembuni serta mengadepi banyak kasusahan dan bahaya. Aku sendiri, sabagi turunan dari kaum Karajaan Pajajaran yang pengabisan, sudah lebih dari satenga abad lamanya satiap taon perluken bikin ini perjalanan suker dan jau buat dateng cari ini gowa yang suci, aken jalanken itu kawajiban seperti yang telah jadi kabiasaannya aku punya ayah dan kake moyang, yaitu aken unjuk hormat dan berbakti padamu, bukan cumah buat kauntungan dan kabaekan diri sendiri

www.rajaebookgratis.com

atawa kita punya kaum, hanya terutama aken guna kaslametannya manusia rata-rata yang mendiamin ini bagian dari pulo Jawa, maski juga iaorang sudah memuja laen agama. "Tapi buat ini semua kabaktian, kasatiaan dan katulusan, liatlah, oh Betara Wishnu yang Maha Suci! Apa macem ganjaran dan pembalesan yang aku trima dari ini dunia! Sekarang aku idup sendirian aken tanggung kasedian dan kahinaan, ditinggal pergi oleh istri dan anak sendiri yang aku cinta dan hargaken begitu tinggi. Apakah ini ada takdir yang sudah ditetepken oleh Brahma dan atas kamauannya Betara Guru? Kalau betul turunan karajaan Pajajaran yang Maha Agung musti jadi musna, apakah itu kamusnaan tida bisa dibikin dengen cara yang lebih baek? Mengapakah turunannya Prabu Siliwangi musti saksiken anak prampuannya yang satu-satunya ceburken diri di dalem pecomberan yang begitu hina? Apakah begitu musti akhirnya turunan dari kaum karajaan besar yang memuja padamu dengen 94 setia? Oh, Sri Maha Dewa! Lantaran Retna Sari sudah bikin rendah derajatnya sendiri, hingga linjap iapunya hak aken trima itu warisan dari karajaan Pajajaran, maka kita-orang punya turunan aken berakhir sampe di sini saja! Apa yang kajadian semalem ada begitu heibat hingga aku rasa aku tida bisa tahan idup lebih lama dalem dunia, dan kalu aku sudah tida ada lagi, tida saorang yang nanti gantiken buat hormatken padamu di ini gowa yang suci. Ini tempat pendupaan buat selamanya tida aken mengebulken lagi asep yang wangi; kau punya area tida aken terias lagi dengen kembang-kembang, dan kau punya patung bakal tertutup oleh lumut, tanah dan cirit kampret,"8 kerna tida ada tangan manusia yang dateng bikin bersih. Oh, dengen abisnya turunan karajaan Pajajaran, ini tempat suci, kita punya rumah sembahyang yang mulia, aken turut musna juga! Cirit kampret = kotoran kelelawar. "Oh, Betara Wishnu, yang berkwasa atas sekalian peng hidupan! Sablonnya itu hal terjadi, sedeng aku masih idup dan ada disini, idzinkenlah aku slesekan ini pakerjaan yang bakal berakhir sampe di sini saja. Brapa ratus taon yang lalu saorang diri kake moyangku, telah dapetken ini gowa atai pengunjukannya saprang pertapaan dan telah bawa kau ka sini dan ditempatken di ini tahta buat dipuja oleh sekali.m turunannya. Sekarang biarlah aku sendiri, turunannya yang pengabisan, angkat dan singkirken kau dari ini tempat, lantaran tida ada lagi orang yang aken ambil perdu 1 i dan rawat padamu. Dari pada musti jadi rusak tertimpah oleh batu yang gugur dari atas atawa jadi teruruk oleh lumu! lumpur tanah dan cirit kampret, lebih baek kau musna d.m ancur di aku punya tangan sendiri! "Oh, Betara Wishnu! Itu tulisan yang ada tertata di blakangmu ada meramalken, di harian kau rusak, ini ni'gti dan sekalian turunan dari karajaan Pajajaran aken turul rusak juga, katimpah murkanya Rakata atawa Krakatau. Ini aku sudah buktiken pada ampat-puluhlima taon yang lalu Itu karusakan sekarang aku tida mau cegah, hanya aku ingin bisa kajadian dengen lantes, sedeng istriku dan Retna San. dengen itu orang-orang Palembang yang durhaka, masili ada di tenga

www.rajaebookgratis.com

laut, lagi menyebrang dengen prau meliwatin pulo Krakatau. Biarlah ini bagian dunia jadi rusak, supaya pendu duknya yang berhati jahat dan sanget kurang trima, bisa turut terbasmi! Biarlah turunan dari karajaan Pajajaran turul musna juga, kerna ada lebih baek Retna Sari binasa di lautan dari pada ia tinggal 95 idup dengen menjadi istrinya saorang durhaka sabagi Abdoel Sintir!" Abis berkata-kata begitu, pandita Noesa Brama lalu berbangkit menghamperi itu area dari Betara Wishnu, yang ia lalu angkat dari tahtanya dengen hati-hati, dibawa ka itu sumur yang terletak di samping kamar, lalu dilemparkan Kirakira lima seconde"9 lamanya barulah kadengeran suara terbalik dari dalem itu sumur seperti suara barang keras beradu. Itu area sudah musti jadi ancur terbentur dengen batu karang yang ada di itu sumur yang amat dalem. Tida antara lama disadari jatonya itu area, dari dalem itu sumur lantes kadengeran suara gluguran seperti bunyinya gluduk, di tempat jau, dan berbareng dengen itu, dari mulut sumur telah kaluar begulung-gulung asep kuning yang berbau walirang. Begitulah itu patung suci dari Betara Wishnu telah jadi rusak pula dan ini kali itu karusakan tida bisa dibikin betul kombali. Tatkala ini hal kajadian, kira-kira sudah jam sembilan pagi, yaitu tatkala praunya Abdoel Sintir berada di lautan antara pulo Krakatau dan pulo Panjang dalem pelajarannya menuju ka Sumatra, dengen dikejer oleh stoombarkasnya politie yang dikepalain oleh Raden Moelia. Apa yang telah kajadian lebih jau, telah dituturken di fatsal X dari ini cerita. Liwat satu jam komudian, tatkala Noesa Brama kaluar dari dalem gowa dan pan j at satu batu aken liat apa yang kajadian di selat Sunda, dengen terkejut ia saksiken bagimana dari lautan di tepi pulo Krakatau telah kaluar asep item bergulung-gulung yang menandaken itu gunung api telah bekerja kombali, dan di deket itu tempat perletusan ada kaliatan tiang-tiang dari satu prau yang telah karem. Sekarang ia mengarti, kainginannya aken binasaken itu prau Palembang sudah terkabul, dan itu gunung api di pulo Krakatau telah mulai bekerja kombali, brangkali bakal lebih heibat dari 45 taon yang lalu, hingga banyak manusia aken binasa. Iapunya istri dan Retna Sari bersama itu orang-orang Palembang ia anggep pasti sudah binasa semua di dalem lautan. Dan ini kacilakaan ada dari iapunya perbuatan, dilakuken oleh iapunya tangan sendiri. Ini pikiran membikin ia jadi merasa takut dan ngeri. Ia mulai bersangsi apa perbuatannya itu ada betul. Ia inget kombali pada tingka laku lemah lembut dari istrinya yang tercinta, bersama siapa ia telah idup 45 taon lamanya, sadari masih anak sampe sudah begitu tua, dengen tida kurang apa-apa. Ia terkenang pada anak prampuannya yang begitu cantik, yang biasanya selalu berlaku hormat dan denger kata, yang 96 sekarang telah binasa atas iapunya perbuatan. Ia sudah jatoken hukuman pada itu dua orang yang paling tercinta dengen tida cari tau lebih jau atawa denger

www.rajaebookgratis.com

katerangannya. Apakah ini perbuatan ada betul? Apakah ia ada hak buat menerbitken kabinasaan pada puluan, brangkali ratusan ribu manusia yang tida berdosa? Ini pikiran yang dateng dengen mendadak, membikin Noesa Brama menjadi bingung. Kepalanya pusing dan kalut. Ia lalu masuk kombali ka dalem gowa aken kumpulken ingetannya dan duduk terpakur di hadepan itu tahta di mana pada satu jam yang lalu ada berdiri patungnya Betara Wishnu yang dengen parasnya yang sabar dan kalem ada seperti membri nasehat pada manusia aken pandang ringan segala kasusahan dunia. Seconde = detik. Prabu Wastu Kencana Itu pertemuan yang tida disangka dengen iapunya sudara prampuan yang sudah begitu lama terhilang, dan yang dikira telah binasa waktu meletusnya Krakatau di taon 1883, membikin Raden Adipati Hasan di Ningrat ambil putusan aken tunda segala niatannya, dan lalu menginep di rumah anaknya, menunggu pada pandita Noesa Brama yang ia prentah satu opas aken ondang dateng ka Sindanglaut buat bertemu pada anak istrinya dan sekalian hendak dibri tau itu resia yang baru terpeca. Tatkala hari sudah jadi malem, itu opas kombali dengen membawa kabar, pandita Noesa Brama tida ada dalem pondoknya, dan menurut ceritanya Koesdi, orang tida bisa bertemu padanya sablonnya besok pagi. Dari sebab begitu, itu Bupati ambil putusan aken brangkat rame-rame pada besok pagi ka Gunung Ciwalirang, sekalian aken saksiken bekerjanya Krakatau dari atas puncak dari itu gunung. Antero malem itu Bupati dan istrinya ampir tiada tidur, kerna iaorang asik pasang omong dengen Soeryati yang ceritaken penghidupannya waktu dipunggut anak oleh pandita Asheka sampe ia menika dengen Noesa Brama. Dari penuturannya itu istri pandita baru katauan bahua Noesa Brama punya tempat kadiaman yang tetep ada di tenga-tenga pagunungan dari Bantam Kidul yang jarang sekali dida-tengken orang, yaitu di dusun Citorek yang pernanya di kaki Gunung Kendeng pada tepi sungai Cimadur. Di situ ia ada mempunyai bebrapa bau sawah dengen kebon-kebon lebar yang penuh taneman klapa dan buah-buahan, hingga hatsil-nya ada cukup sekali aken dipake idup sacara pantes. Ini tempat ada di tenga-tenga dari tempat kadiamannya kaum Baduy yang tersiar di utan-utan yang lebat dari gunung-gunung Halimun, Sanggabuana, Kendeng, Ciawitali, Bongkok, Nyungcung, Ciburalang, Bentanggading, dan laen-laen lagi. Buat urus dan garap itu sawah dan kebon, ia ada dapet bantuan dari banyak kepala-kepala orang Baduy yang satiap taon bergiliran kirim bebrapa orangnya buat bekerja dengen dikasih makan dan trima sabagian dari hatsil yang didapet. Tapi pandita Noesa Brama tida tinggal tetep di itu dusun, maski juga ia bisa idup dengen senang sekali. Pada saban taon, anem bulan lamanya ia gunaken temponya aken bikin perjalanan kunjungin tempat-tempat yang suci dari kaum Baduy, yang di mana letaknya cumah ia sendiri saja yang tau. Soeryati pun tida tau sampe abis di mana adanya itu tempat-tempat semua. Ia cumah denger itu

www.rajaebookgratis.com

tempat-tempat suci yang suaminya biasa kunjungi bukan cumah di bilangan Bantam saja, hanya juga sampe di Bogor, yaitu di Batutulis, di mana dulu ada pernanya Kraton dari Pajajaran; di gunung Cibodas deket Campea, dan di area Domas yang pernanya di Cikopo, juga dalem bilangan Bogor, pada lamping sablah utara dari Gunung Gedeh. Di saputernya pagunungan Kendeng pun ada bebrapa tempat yang dipandang suci, di mana masih kada-petan arca-arca dan tempat pamujaan dari jeman dulu, waktu karajaan Pajajaran masih berdiri. Satu tempat begitu, yang Soeryati perna kunjungi bersama suaminya, ada terletak di deket Gunung Nyungcung, pada tepi sungei Cimadur. Di itu tempat, dalem satu jurang, ada bebrapa area besar dari Brahma, Wishnu, Siwa, Genesha dan laenlaen dewa dari agama Hindu, yang semua terbikin dari batu karang, dan macemnya begitu besar, ada juga yang saratus kalih lebih besar dari manusia, tapi kabanyakan sudah rusak, tertutup oleh lumut, akar puhun dan oyot, hingga kalu bukan orang yang sudah biasa kunjungin, kalu dateng di itu tempat niscaya tiada dapet tau segala kaanehan yang ada di situ. Katanya orang Baduy sengaja umpetken itu tempat-tempat pamujaan yang dibiarken menjadi rimba supaya jangan dirusak oleh orang Islam yang dulu sanget musuin pada marika punya agama, dan segala berhalanya saban dike-temuin lantes dibikin rusak. Area yang masih utu cumah ada sedikit saja, dan kabanyakan tersembuni dalem gowa-gowa yang orang tiada tau lantaran jalanan buat masuk selalu diresiaken. Di deket gunung-gunung Kendeng, Endut dan Sanggabuana, sedikitnya ada dua atawa tiga gowa suci yang berisi arca-arca dan jeman Pajajaran. Di Gunung Ciwalirang pun ada kadapetan satu gowa suci yang berisi area dari Betara Wishnu yang saban taon 98 97 pandita Noesa Brama biasa kunjungken kerna ada dipercaya kalu sampe itu area jadi rusak. Bantam aken katerjang bincana heibat lantaran meletusnya Krakatau dan turunan dari karajaan Pajajaran aken jadi musna. "Tapi mengapakah itu pandita musti jalan sendiri?" tanya Moelia; "Apakah itu pakerjaan tida bisa diwakilken pada laen orang?" Atas ini pertanyaan, Soeryati membri katerangan, ada pantangan keras aken kunjungin itu tempat-tempat suci sabagitu lama masih ada orang yang beratsal turunan dari raja-raja Pajajaran di jeman dulu, yang ada memangku juga pakerjaan Pandita atawa kepala agama. Iapunya suami ada kaum karajaan Pajajaran punya turunan yang pengabisan. Ia tida mempunyai sanak atawa familie, hingga tida ada yang boleh wakilken pakerjaannya. Kalu Noesa Brama wafat, cumah Retna Sari saorang diri yang katinggalan dan mempunyai itu hak aken jadi sabagi kepala dari sekalian orang Baduy. Tapi sebab ia ada satu anak prampuan, ia tida boleh lakuken pakerjaan pandita, yang cumah boleh dilanjutken kombali oleh iapunya anak lelaki kalu Retna sudah bersuami. Tapi maski begitu, Retna tinggal tetep menjadi kepala dari kaum karajaan Pajajaran, dan sebab ini taon ia sudah tutup usia 20 taon maka sudah sampe temponya aken ia diper-makotaken, dan dikasih kenal segala resia-resia yang cumah diketahui oleh ayahnya sendiri. Ia sudah dibawa dalem ini perjalanan yang jau

www.rajaebookgratis.com

ka gunung Ciwalirang aken dibri tau pintunya gowa dan dikasih kenal pada patungnya Betara Wishnu, supaya kalu ayahnya sudah meninggal, ia bisa kasih tau ini resia pada anak-anaknya. Komudian Retna aken diajak buat tengok juga laen-laen tempat yang ayahnya biasa kunjungi, antara mana katanya ada satu gowa yang jadi kamar harta dari segala barang pusaka dari karajaan Pajajaran yang terdiri dari emas dan batu permata yang berharga mahal, yang sudah disingkirken dan diumpatken waktu Kraton karajaan Pajajaran diserang oleh tentaranya Sunan Gunung Jati dari Chirebon. Soeryati sendiri waktu masih anak sudah perna dapet liat bebrapa keris dan tumbak pusaka yang terbikin dari emas tertabur mirah dan jambrut, yang diambil dari dalem gowa oleh pandita Asheka buat dibersihken dan dibetulin karusakannya. Ia masih inget itu ayah angkat punya perkataan pada putra lelakinya: "Ini semua barang pusaka musti disimpen dan dirawat baek-baek jangan sampe kurang apa-apa, kerna temponya sudah semingkin deket aken di Jawa Kulon berdiri kombali satu karajaan dari orang Sunda tulen yang memarentah dengen merdika, dan di Bogor aken bertahta saorang kepala pa-merentah dari kita-orang punya bangsa sendiri. Kapan sudah jadi begitu, ini 99 barang pusaka nanti dipake buat meriasken tahta karajaan, dengen dapet kombali kadudukannya yang mulia, disujut, dihormat dan dikagumin orang seperti dulu, tatkala karajaan Pajajaran masih kuat dan jaya." "Tapi di manakah itu barang-barang berharga ada di-taro?" tanya Raden Adipati Hasan di Ningrat. "Itulah saya tida bisa bilang," saut Soeryati. "Ini barang-barang musti ada dalem salah satu gowa di saputer pagunungan Kendeng. Itu tempat diresiaken keras dan brangkali cumah ada dua tiga orang yang tau. Satiap taon suamiku pergi jalan mengider ka itu tempat-tempat suci bukan saja buat membri hormat pada dewa-dewa menurut kawajiban agama, tapi juga aken preksa itu barang-barang yang disim-pen dalem tempat-tempat resia supaya tida ilang atawa rusak, kerna suamiku tetep percaya, satu waktu itu pusaka dan upacara karajaan bakal digunaken lagi. Dalem perjalanan ini kalih, suamiku ajak padaku dan Retna Sari dengen maksud aken kasih kenal pada ini anak itu segala tempat-tempat resia, supaya kalu ayahnya tida ada, ia bisa gunaken haknya sabagi Ratu, dengen menjadi jurukunci dari segala tempat-tempat suci dan penjaga atawa pengurus dari barang-barang pusaka karajaan Pajajaran, yaitu dua pakerjaan yang biasa dilakuken oleh turunan raj a." "Kapan begitu," kata itu Bupati, "kau punya suami bukan saja ada jadi pandita, tapi juga ada jadi raja dari kaum Baduy, atawa lebih betul, dari sekalian rahayatnya karajaan Pajajaran di tempo dulu." "Betul sekali," saut Soeryati. "Sabagi Pandita ia terkenal dengen nama Noesa Brama, tapi di pagunungan Kendeng, oleh kepala dari orang-orang Baduy ia dipandang sabagi Sri Paduka Maharaja Prabu Wastu Kancana, turunan pengabisan dari Prabu Guru Dhewata Bhana, yang memarentah karajaan Pakuan Paj aj aran." "Kalu begitu Soeryati, kau ini sekarang ada jadi Permaisuri dari Raja Pajajaran?"

www.rajaebookgratis.com

"Betul," saut itu sudara prampuan dari Bupati sambil tertawa. "Dan Retna Sari ada jadi Putri Makota?" "Tiada salah. Kalu ayahnya sudah tida ada, ia aken dibri gelaran Sri Ratu Dewi Retna Sari dari karajaan Pakuan Paj aj aran." "Kalu begitu," kata Raden Moelia, "Panteslah Pandita bilang ia tida suka nikahken anak prampuannya pada sein barang orang, hingga ia lebih suka bunuh Retna Sari kalu ia brani cintaken satu lelaki yang berderajat rendah." 100 "Apakah itu anak blon perna ada yang lamar atawa bertemu pada satu lelaki yang dirasa pantes buat jadi pa sangannya?" tanya Bupati. "Tida," saut Soeryati. "Di kita punya desa tida ada sal u lelaki yang dianggep sampe cakep buat jadi suaminya Sri Ratu dari karajaan Pajajaran. Itu orangorang Baduy di saputernya pagunungan Kendeng semua dari golongan ren dah dan bodo, sedeng kita punya tempat tinggal di utan membikin Retna Sari tida bisa bertemu pada lelaki dari laen golongan, kacuali orang-orang dusun yang tida terplajar." "Tapi kau punya suami, yang sring mengider di banyak tempat, niscaya bisa cariken lelaki yang pantes aken jadi mantunya." "Dalem hal ini suamiku tida suka berlaku gegabah Salaennya musti pilih yang berderajat tinggi, ia mau uji dulu tabeat dan tingka lakunya itu lelaki, supaya Retna Sari tida disia-sia satenga jalan." "Apakah ia sudah perna sebut namanya satu lelaki yang dirasa pantes aken jadi mantunya?" "Baru bebrapa hari yang lalu ia ada sebut tentang sal u lelaki yang ia ia penuju." "Siapa? Siapa?" "Bukan laen dari kau punya anak sendiri, yang sudah bebrapa kalih dateng di gunung dan tida mau pulang kalu blon bertemu pada Retna Sari." "Betul, bibi," saut Raden Moelia sambil tertawa, "saya merasa aneh sekali, saya punya hati begitu keras tertarik "Itulah saya tida bisa bilang," saut Soeryati. "Ini barang-barang musti ada dalem salah satu gowa di saputer pagunungan Kendeng. Itu tempat diresiaken keras dan brang-kali cumah ada dua tiga orang yang tau. Satiap taon suamiku pergi jalan mengider ka itu tempat-tempat suci bukan saja buat membri hormat pada dewa-dewa menurut kawajiban agama, tapi juga aken preksa itu barang-barang yang disim-pen dalem tempat-tempat resia supaya tida ilang atawa rusak, kerna suamiku tetep percaya, satu waktu itu pusaka dan upacara karajaan bakal digunaken lagi. Dalem perjalanan ini kalih, suamiku ajak padaku dan Retna Sari dengen maksud aken kasih kenal pada ini anak itu segala tempat-tempat resia, supaya kalu ayahnya tida ada, ia bisa gunaken haknya sabagi Ratu, dengen menjadi jurukunci dari segala tempat-tempat suci dan penjaga atawa pengurus dari barang-barang pusaka karajaan Pajajaran, yaitu dua pakerjaan yang biasa dilakuken oleh turunan raj a." "Kapan begitu," kata itu Bupati, "kau punya suami bukan saja ada jadi pandita, tapi juga ada jadi raja dari kaum 101

www.rajaebookgratis.com

Baduy, atawa lebih betul, dari sekalian rahayatnya karajaan Pajajaran di tempo dulu." "Betul sekali," saut Soeryati. "Sabagi Pandita ia terkenal dengen nama Noesa Brama, tapi di pagunungan Kendeng, oleh kepala dari orang-orang Baduy ia dipandang sabagi Sri Paduka Maharaja Prabu Wastu Kancana, turunan pengabisan dari Prabu Guru Dhewata Bhana, yang memarentah karajaan Pakuan Paj aj aran." "Kalu begitu Soeryati, kau ini sekarang ada jadi Permaisuri dari Raja Pajajaran?" "Betul," saut itu sudara prampuan dari Bupati sambil tertawa. "Dan Retna Sari ada jadi Putri Makota?" "Tiada salah. Kalu ayahnya sudah tida ada, ia aken dibri gelaran Sri Ratu Dewi Retna Sari dari karajaan Pakuan Paj aj aran." "Kalu begitu," kata Raden Moelia, "Panteslah Pandita bilang ia tida suka nikahken anak prampuannya pada sembarang orang, hingga ia lebih suka bunuh Retna Sari kalu ia brani cintaken satu lelaki yang berderajat rendah." "Apakah itu anak blon perna ada yang lamar atawa bertemu pada satu lelaki yang dirasa pantes buat jadi pasangannya?" tanya Bupati. "Tida," saut Soeryati. "Di kita punya desa tida ada satu lelaki yang dianggep sampe cakep buat jadi suaminya Sri Ratu dari karajaan Pajajaran. Itu orangorang Baduy di saputernya pagunungan Kendeng semua dari golongan rendah dan bodo, sedeng kita punya tempat tinggal di utan membikin Retna Sari tida bisa bertemu pada lelaki dari laen golongan, kacuali orang-orang dusun yang tida terplajar." "Tapi kau punya suami, yang sring mengider di banyak tempat, niscaya bisa cariken lelaki yang pantes aken jadi mantunya." "Dalem hal ini suamiku tida suka berlaku gegabah. Salaennya musti pilih yang berderajat tinggi, ia mau uji dulu tabeat dan tingka lakunya itu lelaki, supaya Retna Sari tida disia-sia satenga jalan." "Apakah ia sudah perna sebut namanya satu lelaki yang dirasa pantes aken jadi mantunya?" "Baru bebrapa hari yang lalu ia ada sebut tentang satu lelaki yang ia ia penuju." "Siapa? Siapa?" "Bukan laen dari kau punya anak sendiri, yang sudah bebrapa kalih dateng di gunung dan tida mau pulang kalu blon bertemu pada Retna Sari." 102 "Betul, bibi," saut Raden Moelia sambil tertawa, "saya merasa aneh sekali, saya punya hati begitu keras tertarikpada Retna, seperti oleh satu tenaga resia yang tida kaliatan. Saya merasa musti ada perhubungan apa-apa antara saya dengen bibi dan Retna Sari. Saya tida takut aken mengaku, yang memang saya taro cinta padanya. Siapakah dalem dunia tida nanti tertarik oleh gadis yang begitu manis? Apalagi kalu ia ada satu anak turunan bangsawan yang jadi misanannya sendiri." "Oh, inilah sebabnya maka bebrapa hari yang lalu kau tulis padaku aken jangan dulu lamar putrinya Bupati Cianyar?" menanya ayahnya.

www.rajaebookgratis.com

"Tida salah, Rama," saut Moelia. "Saya tida bisa idup jikalu tida dengen Retna Sari, biarpun ia ada satu anak prampuan dusun yang tida terplajar. Sekarang kita sudah tau siapa ada ibu-bapanya, yang disatu fihak ada jadi kita punya familie sendiri, di laen fihak ada turunan orang bangsawan kuno dan agung, yang tida kalah derajatnya dengen Sunan Solo atawa Sultan Jokja. Tentang plajarannya, saya rasa Roekmini bisa tulung pimpin supaya ia bisa membaca dan menulis. Maka saya harep rama dan ibu tida bikin kabratan aken saya menikah dengen ini misanan." "Nanti dulu, jangan omong begitu gampang," saut Bupati Rangkas-gombong. "kau musti tegesken lagi pada ayah dan ibunya Retna Sari, apa ia tida kabratan mempunya mantu satu priyaie rendah, satu assistant wedana, sedeng anaknya ada satu putri, satu Kroon Prinses25 dari Karajaan Pajajaran. Jangan gegabah kau hendak melamar satu anak raja." Semua yang denger ini omongan jadi tertawa. Akhirnya Soeryati berkata: "Ini urusan baek dibicaraken saja pada suamiku. Aku sendiri tida kabratan apaapa." Raden Moelia lalu sembah bibinya itu dengen rupa girang. Ia lalu pergi ka kamar blakang di mana Roekmini dengen Retna Sari duduk berduaan. Ia dapetken adenya lagi membaca satu buku Sunda, sedeng Retna Sari mendengerin di sablahnya dengen sunggu hati. "Roekmini," kata Raden Moelia, "kau musti ajar Retna membaca dan menulis, sebab siapa tau, dengen kurnia Allah dikomudian hari ia aken jadi Raden Ayu Bupati dari Rangkas-gombong . " Sang ade mengarti kamana tujuannya itu omongan. Orang banyak sudah tau yang Raden Moelia ada harepan besar aken bisa gantiken ayahnya menjadi Bupati. Ia tersenyum dan menjawab: "Kalu begitu terpujilah itu Krakatau, yang beserta ancemannya yang begitu heibat dan mena-kutken, sekarang telah membuka jalan aken sudaraku dapet punyaken satu gadis yang begini eilok dan cantik." XVI Pengorbanan dari Pandita Noesa Brama Tatkala besok paginya Bupati Rangkas-gombong dengen istri, sudara dan anakanaknya dateng di atas bukit Ciwalirang, ia dapetken dalem pondok pandita cumah ada Koesdi saorang diri, yang membri tau dari kemaren pagi Noesa Brama ada di dalem gowa dengen tida mau ketemu orang, lantaran terlalu sakit hati ditinggal pergi oleh anak istrinya, yang disangka sudah lari mengikut itu orang-orang Palembang. "Kalu begitu," kata Soeryati, "biarlah aku masuk ka dalem gowa aken kasih terang duduknya hal kerna kaliatannya suamiku sudah salah mengarti". Begitulah itu istri pandita bersama Koesdi sudah masuk ka dalem gowa, dan tida lama iaorang kaluar kombali bersama Noesa Brama yang rupanya amat lelah dan lesu, lalu dikasih ajar kenal pada Bupati dengen Raden Ayunya dan anak prampuannya. Sasudahnya marika masing-masing mengambil tempat duduk di bale-bale, Soeryati lalu tuturken pada suaminya apa yang ia telah alamken sadari Noesa

www.rajaebookgratis.com

Brama dibawa oleh orang-orang dari veldpolitie, sampe waktu iaorang ditulung di sampingnya pulo Krakatau oleh Raden Moelia. Kemudian ini assistent wedana lanjutken itu cerita dengen tuturken cara bagimana ia sudah ambil tindakan aken tulungin istri dan anak pandita yang dibawa lari. Lebih jau ia bri tau juga bagimana bebrapa hari di muka ia sudah pergokin waktu Abdoel Sintir bicaraken iapunya maksud jahat, dan tentang sikepnya Retna Sari yang blon perna bikin perhubungan apa-apa dengen itu lelaki durhaka, yang pembriannya ia kepaksa trima lantaran dari kabodoannya. Sasudahnya mendenger ini cerita, Noesa Brama tarik napas panjang sedeng aer mukanya menunjukken tegas iapunya rasa menyesel. Dengen kepala tertunduk ia berkata: "Kalu begitu, aku sudah berbuat kakliruan besar lantaran terlalu terburu nafsu, hingga menyilakan pada banyak orang." "Tida," saut Raden Moelia, "tida satu orang yang dapet cilaka lantaran itu kakliruan, salaennya dari si Abdoel Sintir dan kawan-kawannya." 104 103 "Memang betul sekarang blon ada kacilakaan apa-apa," saut pandita; "tapi siapa bisa pastiken apa yang aken jadi di komudian hari lantaran meletusnya Krakatau." "Kalu betul meletusnya itu gunung api ada dari kau punya perbuatan, tuan pandita, tentulah kau bisa juga berdaya aken bikin ia jadi sirep kombali," kata Bupati 1 [asan "Kalu saya bisa berbuat begitu tentu saya tida usah must 1 menyesel," saut Noesa Brama. "Sasudahnya itu area yang suci dari Betara Wishnu saya bikin rusak, tida ada satu apa yang bisa mencegah meletusnya itu gunung api dan musnanya turunan dari kaum karajaan Pajajaran." "Apakah boleh jadi itu area ada begitu manjur?" "Ini saya tida bisa bilang, tapi diliat dari apa yang lelah kajadian, ternyata ada betul apa yang orang tuaku bilang, bahua itu area yang suci dari Betara Wishnu, yang ada dalem gowa dari ini gunung, mempunyai pengaruh besar bagi keslametannya ini negri." Pandita Noesa Brama lalu tuturken bunyinya tulisan yang ada di blakang itu area, dan apa yang ia telah saksiken kutika terjadi perletusan pada 45 taon yang lalu. "Kalu kau tau itu area ada begitu manjur dan mempunyai pengaruh besar bagi keslametan ini negri, mengapakah kau begitu gegabah aken rusakken?" "Dari sebab saya percaya yang saya punya istri dan anak telah minggat dengen itu orang-orang jahat dari Palembang, hingga saya jadi nekat dan putus harepan, dan lalu ambil pembalesan dengen rusakken itu area supaya Krakatau bekerja kombali aken bikin ancur ini negri dan tenggelemken itu prau dengen apa iaorang melariken diri. Lantaran perbuatan anak dan istriku itu, saya anggep dunia sudah jadi terlalu kotor, hingga musti disapu dan dibikin bersih kombali. Kau brangkali tida tau. Kanjeng Bupati bagaimana kalakuannya Retna Sari, kalu betul ia melariken diri, ada sanget menyakitken hatiku, kerna ia

www.rajaebookgratis.com

bukan saja menghina dan melanggar prentah dari satu ayah, tapi juga ia rusakken derajat dirinya sendiri dan kita punya turunan." "Itu hal saya sudah tau, kerna saya punya sudara, kau punya istri, semalem sudah tuturken semua dari kau punya pangkat dan kadudukan. Saya merasa girang sudaraku sudah bersuami pada turunan pengabisan dari kaum karajaan Pajajaran yang maha agung, dan saya tau juga anakmu Retna Sari ada jadi ahliwaris dari Putri Makota dari itu warisan besar." "Apakah istriku ada kau punya sudara?" menanya Noesa Brama dengen kaget. 105 "Betul," saut Bupati, yang lalu tuturken bagaimana itu pertandaan gelang dan rante sudah membuka jalan hingga ia bisa kenalin pada Soeryati. Noesa Brama dengerken ceritanya Bupari Rangkas-gombong dengen terliti, komudian ia lalu berkata: "Saya merasa girang yang istriku sudah bisa bertemu kombali pada iapunya sudara, satu priyaie berderajat tinggi, hingga ia dan Retna Sari punya nasib buat hari ka depan bakal ada yang urus dan perhatiken." "Oh, itu sudah tentu, tuan pandita jangan kuatir," saut Bupati; "Saya nanti jaga dan lindungken iaorang semua supaya tida ada lagi orang jahat yang brani mengganggu dan bikin tercemar iaorang punya derajat. Laen dari itu, saya dan istriku telah dapet pikiran tetep akan lamar Retna Sari buat jadi istrinya Moelia yang ada taro cinta keras padanya sadari pertama kalih ia bertemu di ini gunung. Saya harep kau tida tampik ini lamaran, yang saya rasa tida terlalu merendahken pada kau punya derajat dan turunan, kerna saya punya putra di komudian hari ada banyak harepan aken jadi Bupati dari Rangkas-gombong." Noesa Brama tunduk berpikir. Bebrapa minuut komudian ia angkat kepalanya dan menyaut: "Baeklah saya trima kau punya lamaran. Raden Adipati, kerna ini ada jalan yang paling baek buat lindungken anak istriku kalu saya sudah tida ada lagi di dunia. Kalu nanti kau kombali ka Rangkas-gombong, bawalah Retna Sari dan istriku bersama-sama, aken diajar supaya ia mengenal apa yang perlu diketahui oleh istri dari satu priyaie berderajat tinggi." "Saya harep kau pun turut sama-sama." "Tida bisa. Raden Adipati, dari sebab saya ada punya laen kawajiban, yaitu saya musti coba sabrapa bisa aken betulken kombali saya punya kesalahan dan menyega terjadinya itu bincana heibat yang timbul dari Krakatau." "Kalu begitu toh masih ada jalan aken mencegah itu bahaya?" "Cumah ada satu jalan saja, dan ini jalan ada yang paling suker dan berat." "Cara bagaimanakah itu?" "Sekarang saya blon bisa terangken, cumah saya minta Raden Adipati dengen Raden Ayu dan anak-anak semua turut masuk ka dalem gowa aken jalanken satu upacara yang penting." Sasudahnya disediaken bebrapa lilin dan obor, itu sekalian tetamu bersama anak dan istri pandita lalu mengikuti Noesa Brama masuk di itu gowa dari gunung Ciwalirang dan duduk berkumpul di itu kamar di depan bekas tahta dari Betara Wishnu. 106

www.rajaebookgratis.com

Itu pandita lalu tuntun anak prampuannya aken naek di itu tahta yang sudah kosong, disuru duduk bersila disitu, sedeng ia sendiri berdiri di sampingnya lalu berkata pada sekalian orang yang hadir: "Sanak sudara sekalian! Di ini hari Retna Sari, saya punya anak yang satusatunya, saya tetepken aken jadi saya punya penganti sabagi kapala dari kaum karajaan Pajajaran dengen gelaran Sri Ratu Dewi Retna Sari. Tapi lantaran sabentar ia aken menikah dengen Raden Moelia, putranya Raden Adipati Hasan di Ningrat, Bupati dari Rangkasgombong, maka ia tida bisa lanjutken pegang ini pangkat dan gelaran, hingga dengen begitu, dynastie Pakuan Pajajaran yang sudah berjalan turun temurun lebih dari limaratus taon lamanya aken sampe di akhirnya, kacuali kalu Retna bisa melahirken putra lelaki, yang komodian boleh sambungken pangkat dari ibunya, dan pangku juga itu jabatan pandita sabagimana saya biasa berbuat, yaitu memelok agama jeman dulu dan kunjungin segala tempat-tempat suci serta menjaga barang pusaka karajaan. Tapi pada sablonnya pernikahannya Retna Sari dan Raden Moelia disahken, saya ingin dapet kepastian lebih dulu dari saya punya bakal mantu dan bakal besan dua-dua: apakah ada kabratan atawa tida kalu anak lelaki pertama yang dilahirken oleh Retna Sari, dititahken memelok agama Hindu dan dijadiken pandita dari orang Baduy?" "Aken hal itu," jawab Bupati Rangkas-gombong, "saya tida ada kabratan. Cumah saya ingin tau, apakah ada begitu perlu buat di jeman sekarang diadaken itu pandita yang musti gunaken sabagian besar dari penghidupannya aken tinggal di dalem utan dan sembahyang dalem gowa-gowa dan tempat sunyi di pagunungan yang ampir tida bisa didatengin orang?" "Itu ada perlu sekali!" saut Noesa Brama dengen suara tetep. "Apakah tuan pandita bisa unjuk bukti-bukti dari itu kaperluan?" "Bukti? Liatlah saja apa yang terjadi dengen itu Krakatau! Dan salaennya dari itu, ada pula satu suai laen yang lebih penting yang sekarang saya mau terangken, tapi saya minta dipegang resia." "Menurut pesanan dari saya punya ayah, yang dapet pesenan lagi dari kake moyangnya, itu tempat-tempat suci perlu sekali dirawat dan dihormat terus satiap taon, sebab begitu lekas ini pulo Jawa terlilit oleh besi, rumah-rumah bisa pindah sendiri dari satu ka laen tempat, dan kuda sambrani bisa disewa oleh orang banyak aken plesiran di udara, niscaya sudah dateng temponya aken Bumiputera memegang kwasa kombali di ini pulo dan pengaruhnya sekalian bangsa asing aken jadi musna. Di itu kutika nanti muncul di Jawa Kulon satu karajaan besar dan tegu di mana orang Sunda aken pegang prentah dan turunan dari karajaan Pajajaran bakal berkwasa dan jadi jaya kombali seperti dulu. Kapan sudah jadi begitu, itu pusaka karajaan dan tempat-tempat suci yang sekarang tida diperduliken lagi, nanti dirawat dan dimulyaken sabagimana mustinya: maka itu kita-orang, yang jadi turunan dari raja-raja dulu, harus berdaya supaya segala peringetan dari tempo yang lalu tida menjadi linyap, sablonnya ramalan di atas jadi berbukti nyata.

www.rajaebookgratis.com

"Kau saksiken sekarang, Raden Adipati, itu tanda-tanda yang diramalken oleh orang dulu, sudah mulai kaliatan. Antero pulo Jawa sudah dililit oleh besi rail dari kreta api: itu autobus,26 vrachtauto27 dan automobiel28 yang macemnya sabagi rumah, satiap hari muncang mancing29 dari satu ka laen tempat. Masinmasin terbang bukan saja bisa diliat, tapi juga bisa disewa dan dinaekin oleh penduduk yang brani membayar. Kalu ini semua ditambah lagi dengen pergolakan antara rahayat yang mengandung angen-angen ingin mer-dika, maka saya percaya dalem bebrapa pulu taon lagi ini pulo Jawa aken menampak perobahan yang sanget penting, hingga itu ramalan aken berbukti." Bupati Rangkas-gombong bengong berpikir, kerna hatinya sanget tertarik dengen itu omongan. Komudian ia berkata: "Apa yang kau bilang tadi, tuan pandita, boleh jadi ada bener, boleh jadi juga ada kliru. Tapi saya sendiri rasa, memang pantes diadaken orang yang jujur dan boleh dipercaya aken tilik itu tempat-tempat suci dan menjaga pusaka karajaan dari jeman Pajajaran, yang kabarnya terdiri dari barang-barang yang mahal dan serba indah, yang sudah tentu ada sanget besar harganya, hingga tida boleh disrahken pada sembarang orang. Tapi di manakah itu barangbarang ada disimpen? Siapakah yang kenal itu tempat kalu kau sudah tida ada?" "Itu tempat saya tida boleh unjuk pada siapa juga, kacuali kalu itu orang sudah bilang pulu taon ada jadi kita punya kaum dan memuja pada kita punya agama. Sekalipun saya punya istri sendiri tida boleh dikasih tau. Kalu sudah sampe temponya, aken disrahken pada kepala dari itu karajaan Sunda yang bakal diberdiriken kombali di Jawa Kulon, tentu nanti dateng orang-orang dari pagunungan yang aken unjuk itu tempat, maskipun saya sendiri sudah lama meninggal, kerna bukan cumah saya saja yang tau di mana itu pusaka ada disimpen." 108 107 "Apakah Retna Sari, yang sekarang jadi ahliwaris dari karajaan Pajajaran, juga tida boleh dikasih tau?" menanya Raden Moelia. "Tida berguna, sebab satu anak prampuan muda seperti ia, blon tentu bisa jalanken itu kawajiban. Tadinya saya pikir hendak ajak ia liat itu tempat-tempat tapi sekarang saya rasa lebih baek menunggu sampe ia sudah berputra." "Tapi kalu ibu dan ayahnya sendiri tida tau, siapakah di komudian hari yang aken ajar dan unjuk jalan pada itu anak?" "Jangan kuatir, kerna ada bebrapa kepala dari orang Baduy yang nanti terangken itu semua. Kapan itu anak sudali berusia limablas taon, bawalah dan suru ia tinggal di kita punya tempat di deket desa Citorek di kaki pegunungan Kendeng. Ia nanti diperlakuken dengen hormat dan diajar apa yang ia musti tau oleh kepala-kepala dari orang Baduy yang jadi kita punya mantri-mantri dan pemimpin adat." "Tapi bagaimanakah itu orang-orang bisa tau yang itu anak ada turunan dari marika punya junjungan?"

www.rajaebookgratis.com

Pandita Noesa Brama tersenyum dan berkata: "Satu dari itu barang-barang pusaka yang paling berharga, ada disimpen dalam ini gowa. Siapa yang pegang itu, ia dipandang sabagi kepala, maski juga buat diakui sabagi raja, musti ada punya lagi laen-laen pusaka." Abis bilang begitu itu pandita lalu berjalan ka satu pojokan dari itu kamar, dan dengen dibantu oleh Koesdi ia lalu kiserken satu batu yang macemnya pesegi ampat, yang ada di samping tembok karang. Sasudahnya itu batu dising-kirken, kaliatan satu lobang besarnya satenga meter pesegi, di mana dari terangnya obor, ada mencorong sarupa barang yang terbikin dari emas. Dengen hati-hati pandita angkat kaluar itu barang yang ternyata ada semacem tutupan kepala seperti biasa dipake oleh wayang wong, cumah perhiasannya ada lebih indah dan ditabur oleh mirah dan jambrut. "Inilah ada makota dari karajaan Pakuan Pajajaran. Ini Makota sudah perna dipake di kepalanya Prabu Siliwangi, Prabu Guru Dewata Bhana, Sang Ratu Dewata, Rahiyang Dewa Niskala dan laen-laen raja besar. Banyak darah telah ditumpahken waktu raja Poernawarman, yang bertahta di Taruma Negara, memalumken peperangan dengen Pakuan aken merebut ini makota. Sekarang biarlah ia riasken kepalanya Sri Ratu Dewi Retna Sari!" Abis bilang begitu, Noesa Brama menghamperi anak prampuannya yang masih duduk bersila di atas itu tahta dari Betara Wishnu, lalu taro itu makota di kepalanya, sementara sang ayah ucapken satu dua nyanyian dalem bahasa Sunda kuno bercampur bahasa Sangkrit. 109 Setelah abis berdowa, itu makota lalu diangkat, dibung-kus oleh sapotong kaen puti, dan oleh pandita disrahken pada Raden Moelia sambil berkata: "Jagalah ini barang yang aken membikin kau punya anak lelaki menjadi yang dipertuan dari sekalian orang Baduy di antero Bantam. Tapi ingetlah, jangan kau ceritaken pada sembarang orang apa yang kau liat dan saksiken disini; jangan kasih liat atawa ceritaken pada siapa juga tentang ini makota, dan jangan kau kasih pake pada orang yang tida berhak, kerna terkutuklah segala orang yang brani pake ini makota kalu ia bukan turunan yang sah dari karajaan Paj aj aran." Sasudahnya Moelia berjanji aken perhatiken itu pesenan, Noesa Brama berkata kombali: "Marilah anakku Moelia, berduduk di sablahnya kau punya tundangan,30 kerna aku ingin sahken kau punya pernikahan di ini tempat dan sekarang juga." Moelia turut apa yang diprentah, lalu naek di atas itu batu tahtanya Betara Wisnu dan duduk bersila di sablahnya Retna Sari. Itu pandita lalu prentah Koesdi nyalahken itu pendu-paan, komudian ia lalu berdowa sambil menyanyi aken minta berkahnya dewa-dewa dan kake moyangnya. Komudian pandita minta iapunya besan lelaki pegang tangan kanannya Moelia, sedeng ia sendiri pegang tangannya Retna Sari, dan itu dua tangan dikasih berjabat satu pada laen. Dengen ini upacara saderhana pernikahannya itu Putra Bupati dengen Sri Ratu yang pengabisan dari karajaan Pajajaran, telah dianggep sah oleh itu pandita, dan itu kadua penganten lalu

www.rajaebookgratis.com

turun dari itu singasana aken bersujut dan cium kaki orang tuanya masingmasing . Noesa Brama lalu minta Moelia dan semua orang-orang prampuan kaluar dari itu gowa, cumah Bupati Hasan dan Koesdi yang masih tinggal di dalem. "Sekarang", kata itu pandita, "saya sudah brenti jadi Raja dari Pajajaran dan kepala dari kaum Baduy, sebab itu kakwasaan saya sudah srahken pada Retna Sari dengen kasih padanya buat pake dan simpen itu makota. Saya punya kawajiban di ini waktu ada buat bikin betul kombali saya punya kakliruan lantaran terlalu turutin hawa nafsu amarah hingga banyak jiwa manusia bakal terancem oleh meletusnya itu Krakatau. Buat mencegah itu bahaya, tida ada laen jalan cumah saya musti pergi ka Sorgaloka atawa Dewachan, tempat kadiaman dari saya punya kake moyang dan sekalian dewa-dewa, aken minta pertulungannya supaya itu bincana bisa dicega. Jadi tegasnya, saya musti singkirken diri dari ini dunia lantaran 110 sudah menanggung dosa dengen berbuat itu kakliruan besar, dan sabagi orang alus brangkali saya lebih bisa mencegah terjadinya itu bahaya dari pada tinggal dalem dunia dengen pake badan yang kasar, hingga saya punya gerakan sanget diwatesken." Bupati Hasan membujuk dan hiburken pada Noesa Brama supaya batalken niatnya itu, dengen kasih alesan, blon tentu Krakatau nanti timbulken bincana besar, apalagi sekarang segala persediaan lagi diatur, hingga kalu terjadi perletusan rahayat semua aken keburu menyingkirken diri. Tapi maski dibujuk bagimana juga, itu pandita tida ladenin, dan mulai tinggalken banyak pesenan pada Koesdi yang sabagian diucapken dengen berbisik hingga tida katauan apa yang diomongken. Yang kadengeran cumah ia bri prentah aken Koesdi balik ka kampungnya di kaki gunung Kendeng buat usahaken sawah-sawah dan kebon dan saban taon sedikitnya satu kalih musti dateng tengok pada Retna Sari, yang bersama ibunya, bakal berdiam di kabupaten Rangkas-gombong sampe pernikahannya Raden Moelia dan Retna Sari sudah dirayaken dengen officieel. Sasudahnya slese tinggalken itu pesenan, Noesa Brama silahken iapunya besan pergi kaluar dari gowa aken dahar, kerna itu waktu sudah tengahari. Dari Sindanglaut itu Bupati memang ada bawa banyak barang makanan, hingga maski dalem itu pondok ada banyak orang, semua bisa dahar sampe puas. Itu angin gunung yang adem, dengen sejuk dan sunyinya itu tempat, ditambah pula oleh rasa bruntung dari itu pertemuan dan pernikahan yang menarik hati, membikin iaorang semua dapet nafsu makan yang lebih dari biasa, dan sasudahnya dahar marika jalan-jalan di pelataran aken memandang ka selat Sunda di mana bekerjanya Krakatau kaliatan dengen tegas sekali, apalagi sebab marika ada bawa tropong. "Liatlah," kata Bupati pada istrinya: "Bagimana heibat bekerjanya itu kawah di bawah laut yang satiap minuut mengeluarkan asep item dan muntahken api dan lumpur. Tapi ini semua tida berarti kalu dibandingken dengen apa yang kajadian pada tempo dulu."

www.rajaebookgratis.com

"Saya harep saja hal ngeri itu tida tertampak lagi," saut Raden Ayu. "Saya nanti coba berdaya aken bikin pengharepannya Raden Ayu lekas terkabul," berkata Noesa Brama yang berdiri di sablahnya. "Kalu saya punya percobaan berhasil, niscaya dalem satu minggu bekerjanya itu gunung api jadi kurangan, kalu bukan brenti sama sekali." Sigrah juga hari sudah jadi lohor dan matahari mulai doyong ka Kulon. Awan item yang melayang-layang di udara menunjukken tida antara lama pula bakal turun ujan. Bupati Hasan ambil putusan aken lekas turun dari itu gunung dan brangkat pulang, dengen bawa sudara dan mantunya, sedeng pandita Noesa Brama lebih suka tinggal di itu pondok bersama Koesdi. Tatkala itu Bupati ampir brangkat, pandita bisikan di kupingnya ini perkataan: "Ingetlah, Raden Adipati, jangan kau ceritaken pada istriku atawa Retna Sari atawa pun pada Moelia, tentang aku niatan. Jiwaku ini ada terlalu murah kalu dibandingken dengen kaslametannya bilang pulu ribu manusia yang harus dilindungken. Kau bilang pembesar-pembesar telah ambil aturan aken lepasken rahayat dari itu bincana, tapi saya rasa kalu bahaya alam sudah dateng menyerang, tida ada kepan-dean dari manusia yang sanggup menangkis. Maka itu saya berniat tetep aken tinggalken ini badan yang kasar, begitu lekas kauorang semua sudah berlalu dari sini. Tapi buat kasenang annya kita punya anak, mantu dan istri sendiri, yang sedeng berada dalem kabruntungan besar, kau musti pegang resia atas apa yang aken terj adi." "Memang boleh saya pegang resia," saut Bupati, "tapi apakah anak istrimu bisa merasa puas kalu iaorang tida bertemu lagi padamu?" "Sudah berpuluan kalih saya tinggalken iaorang dengen mendadak hingga berbulan-bulan, maka iaorang tida nanti berkuatir kalu saya sekarang linyap, apalagi pada istriku saya sudah kasih tau, saya mau lekas brangkat. Bikinlah supaya Retna Sari dan kau punya sudara Soeryati bisa idup bruntung. Iaorang punya nasib aku srahken dalem tanganmu!" Abis bilang begitu, Noesa Brama lalu angsurken tangannya aken kasih salam yang pengabisan, lalu ia berjalan dengen lekas aken masuk dalem pondoknya. Bupati Hasan, yang sabrapa boleh hendak cega iapunya niatan itu, lalu mengikuti dari blakang. Ia dapetken itu pandita sudah masuk ka dalem gowa. Lantaran badannya itu bupati ada gemuk, maka ia cumah bisa merangkang dengen perlahan di itu mulut gowa yang amat sempit. Tatkala ia sudah ada di dalem dan jalan menuju ka itu kamar sembahyang, ia cumah dapetken Koesdi lagi duduk bersila sambil berdowa di pinggir sumur." "Mana tuan pandita ?" tanya itu Bupati. Koesdi tida menyaut. Dengen rupa sedih ia cumah angkat tangannya dan menunjuk ka itu sumur, dari mana Bupati Hasan lalu berlutut mengadepi itu sumur dan membaca dowa sacara orang Islam aken minta kaslametan bagi rohnya Noesa Brama. Komudian ia bersama Koesdi lalu kaluar dari itu gowa yang mulutnya lantes ditutup kombali oleh itu 112

www.rajaebookgratis.com

111 batu ceper dan diuruk dengen tanah dan pepuhunan idup hingga tida bisa kaliatan, kalu bukan oleh orang yang sudah tau itu resia. Dengen pengrasaan sedih itu Bupati lalu turun dari atas gunung menyusul kawan-kawannya. Ia dapetken Moelia sedeng bergandengan tangan bersama Retna Sari, beromongomong sambil tertawa. Oh, kalu iaorang tau apa yang baru terjadi di dalem gowa, itu sinar matahari kagirangan tentulah aken berobah menjadi ujan aer mata! Pada hari esoknya, Koesdi sudah rombak itu pondok di puncak gunung Ciwalirang dan angkut itu sedikit barang-barang yang katinggalan, aken balik ka tempat tinggalnya pandita di pagunungan Kendeng, dalem utan yang lebet di antara kaum Baduy. Begitulah itu puncak dari gunung Ciwalirang, yang dalem hal ini bebrapa minggu telah saksi-ken berbagi-bagi macem drama dari penghidupan manusia, telah menjadi sunyi kombali, dan tida antara lama itu tempat di mana ada terletak pondok pandita, dengen pelatarannya yang begitu menarik hati, sudah tertutup oleh alang-alang dan pepuhunan utan yang lebat, di mana senggarangan31 dan kucing utan biasa berglandangan. Bebrapa minggu komudian dengen hati lega penduduk di Jawa Kulon dapet baca di surat-surat kabar rapportnya Dr. Stehn bahua bekerjanya Krakatau sudah banyak kurangan, hingga penduduk di pasisir, yang sudah melariken diri dan angket barang-barangnya, telah balik kombali dan urus pakerjaannya seperti biasa. Apa memang maunya natuur itu perletusan menjadi urung, atawa rohnya pandita Noesa Brama sudah bisa cega itu bincana heibat, itulah tida bisa dibilang. Itu patung yang sudah ancur dari Betara Wishnu, yang terpendem dalem sumur dari gowa gunung Ciwalirang, kaliatan sampe sekarang masih merasa penasaran dan hendak lanjutken ancemannya aken terbitken kabinasaan pada penduduk Bantam dengen gunaken perantaraannya Krakatau; tapi rupanya di laen fihak ada satu kakwasaan yang mencega, hingga bekerjanya Krakatau sabentar heibat, sabentar sirep kombali. Nyata sekali di saputernya Krakatau ada terjadi satu perguletan, antara Karusakan dan Kaslametan. Fihak manakah yang akhirnya menang? TAMAT Cicurug, 28 Mei 1928 Cheribon = Cirebon. Sembu.nl = sembunyl. 113 Ierland = Irla.nd.ia. Asia. Selatan Timur = Asia Tenggara. Pepreksaan dengen terliti = pemeriksaan dengan teliti. Rangkasgombong = sekarang Rangkasbitung. Semprong = cerobong. Gapein = menggapai. Bestuur = pemerintah. Straat = jalanan. "Massigit = masjid. Rekest = petisi. Veriof = cufci kerja. Mantri irrigatie = mantri pengairan. Kasep = terlambat. Dienst = dinas. Potlood = pensil.

www.rajaebookgratis.com

Typ = mengetik. Bade = menerka. Dikemuken = dikumur. Jampeken = mantrai. Spion = mata-mata. Serepin = selidiki. Merandek = berhenti sejenak. Mengkirik = takut, ngeri. Somplak = hancur. Prinsenstraat = Selat Pangeran. Behhouden-passage = Jalur Pert.ah.anan. Peper-Baai = Teluk Lada. Java's Derde Punt = Ujung Ketiga Jawa. Merangkang = merangkak. Tunit saya punya pengliatan = Hemat/sepengetahuan saya. Bestuurschool = sekolah untuk pejabat pemerintah. Kulawarga = keluarga. Tercenggang = tercengang, kaget. Vrij = istirahat, libur. Motorfiets = sepeda motor. Mengiser = bergeser. Erct = porot. Lodong = bambu besar. Melinyasin = menghilangkan. Petaken = menduga, menempatkan. Guden avond meneer = selamat malam Tuan. Trommol = kotak, kopor. " Stoombarkas = kapal uap. Tersedar = tersadar. 114 Pengrasaan = perasaan. Pengunjukan = petunjuk, pemberitahuan. oorzitter Landraad = Ketua Pengadilan. "'"Kapan = bukankah. Penyomel = pengomel, pengadu. Berklerep = berkilat. Cagak = cabang. Tersumpet = terjerumus. los Merandek = berhenti sejenak. Limpas = luber. Lamping = lereng. Karuhun-karuhun = nenek moyang. Kroon Prinses = Putri Raja. Autobus = bus. Vrachtauto = truk. Automobiel = mobil. Muncang-mancing = rungsing. Tundangan = tunangan.

www.rajaebookgratis.com

Senggarangan = musang.