Anda di halaman 1dari 7

www.rajaebookgratis.

com

KERTAS SURAT BIRU MUDA


Wulan! Mata Roy mengerjap tiba-tiba. Ya, gadis bergaun jingga itu memang Wulani! Roy takkan mampu melupakannya. Sekalipun mereka telah berpisah sekian lama, tapi Roy masih mengingatnya dengan jelas. Meski begitu, dikucekkuceknya juga matanya untuk meyakinkan bahwa gadis itu memang betul Wulan! Roy menghela nafas. Rambut itu, gumamnya tanpa suara. Rambut itu sekarang sudah memanjang lagi setelah dulu Wulan memotongnya pendek. Roy melangkah pelanpelan. Dulu, Wulan kelihatan lincah dengan rambut model begitu. Tapi sekarang, dia nampak anggun dengan rambut panjangnya. Roy mendesah lirih. Apakah ia masih mengingatku? Pikir Roy sambil memasukkan sebelah tangannya ke dalam saku celana blue jeans-nya. Apakah ia masih mau menyapaku dengan panggilan sayang: Bob? Apakah ia masih mau membagi hati lagi seperti dulu? Apakah uf! Sialan! Buru-buru Roy menjaga keseimbangan tubuhnya ketika kakinya terantuk sebuah batu. Dia mengumpat kalang kabut. Untung tidak sampai jatuh terjerembab. Busyet! Konyol, keluh Roy pahit. Dia membayangkan bagaimana Wulan akan menertawakannya kalau ia sampai ia melihatnya hampir terjatuh seperti tadi. Ah, gadis itu, Roy mengeluh. Berapa lama ia tak melihatnya setelah perpisahan itu? Setengah tahun, satu tahun atau lebih? Ah ya, mereka dulu berpisah minggu pertama pada bulan Agustus tahun lalu. Berarti lebih dari satu tahun lewat! Roy menghembuskan nafasnya. Tertatih-tatih ia mendekati Wulan yang berdiri sekitar dus puluh meter di depannya dan tengah asyik menonton anak-anak kecil bermain bola. Alun-alun ini memang selalu ramai setiap sore. Tapi, menunggui siapakah Wulan disini? Roy cepat menghabiskan sisa langkahnya agar bisa segera berdiri di sisi gadis itu. Dia menghentikan langkahnya sekitar satu meter di samping gadis itu. Diamatinya wajah Wulan dengan seksama. Ah, wajahnya masih secantik dulu, gumam Roy tanpa suara. Rambutnya juga masih selebat dan sehitam dulu. Matanya masih sebulat dulu. Tubuhnya masih se . Ah, tidak! Tubuh itu kini lebih kurus. Mata Roy menelusuri tubuh yang tegak di sampingnya. Ya, dia lebih kurus, tebaknya pasti. Tentu memikirkan aku, senyum Roy. Heh, ge-er! Dia tertawa sendiri dalam hati. Bukk! Roy tersentak tiba-tiba. Sebuah bola menghantam punggungnya. Serentak dia meloto. Seorang anak kecil tertawa sambil berlari-lari menghampirinya. Sialan! gerutunya pelan. Diambilnya bola yang bergulir di dekat kakinya. Lalu dipermain-mainkannya. Tapi ia tak urung tersenyum ketika melihat anak kecil itu mengerjab-ngerjabkan matanya dengan jenaka. Bob ?! Roy menoleh seketika. Siapa yang memanggilku dengan panggilan itu? Wulan? Cepat-cepat diberikannya bola itu pada anak di depannya yang segera berlari setelah meneriakkan terima kasih. Roy berdiri tertegun. Wulan juga. Bahkan wajah gadis itu sudah memucat. Dadanya menggemuruh. Bob? Roy? Dia. Mengerjapkan matanya dengan gelisah. Kemudian buru-buru hendak membalikkan tubuhnya. Tapi Roy sudah lebih cepat mencekal lengannya. Lan bibir Roy bergerak-gerak.

www.rajaebookgratis.com

Aku Menunggui seseorang? Roy menatapnya dengan tatapan yang kembali seperti dulu. Luki. Luki? Kemenakanku Wulan gugup. Roy tersenyum lembut. Diperhatikannya Wulan dengan lebih dekat. Dan Roy menyadari, wajah Wulan pun kini agak kurus. Apakah yang telah terjadi? Kau tentu baik-baik saja kan? ujar Roy kemudian ketika dia tidak tahu apa lagi yang harus dikatakannya. Wulan mendesah. Kau tentu juga, sahutnya pelan. Roy tersenyum. Kerinduan berpendar-pendar dalam matanya yang coklat. Dada Wulan berdebar keras. Bob, apa yang kau lakukan di sini? Ah, ia masih juga memanggilku Bob seperti dulu, gumam Roy dalam hati. My bunny, Roy mengerdipkan matanya dengan dada berdesir. Ia tak melupakan panggilan itu rupanya. Hati Roy berdebar-debar. Roy memandangi Wulan lama-lama. Pertanyaan gadis itu dilupakannya. Ia merasa lebih perlu menikmati wajah itu daripada menjawab pertanyaannya. Kalau saja dulu aku tidak terlalu cerewet mengaturnya, pikirnya setengah menyesal. Ah, sekarang tentu dia sudah mendapatkan penggantiku. Lihatlah sikapnya yang kaku dan seakan mengambil jarak itu. Roy mengeluh diam-diam dalam hati. Maaf, aku pergi dulu. Tiba-tiba Wulan beranjak dari tempatnya. Lan , lidah Roy kelu. Tangannya terulur hendak menjangkau lengan gadis itu. Tapi Wulan sudah bergegas menjauh, dan Roy hanya bisa berdiri terpaku. Tolol! Runtuknya dalam hati. Kenapa aku tak menggunakan kesempatan ini dengan baik? Sekarang gadis itu pergi. Dan untuk mendatangi rumahnya, aku belum lagi memiliki keberanian besar. Roy melangkah tersaruk-saruk melintasi lapangan rumput yang tiba-tiba dirasanya jadi pengap.

*** Malam di luar telah lama menjejakan kakinya yang senyap. Barangkali juga sudah melewati separuh perjalanannya. Lampu-lampu pun sudah semakin temaram. Bahkan wulan sudah sejak tadi mendengar suara dengkur Indri, kakaknya, yang terlelap. Tapi di sini, dikamarnya, Wulan merasakan keresahan menggayuti hatinya. Brkali-kali ia membalikkan tubuhnya dengan gelisah. Berkali-kali ia telah mencoba memicingkan matanya, tapi selalu saja gagal. Suara jam dinding yang berdentang dua belas kali menyadarkannya bahwa malam betul-betul telah larut. Tapi bayangan Roy, rasanya belum pupus dari hatinya, membuatnya jadi gundah. Roy, Wulan mengeluh sambil menelentangkan tubuhnya. Matanya menelusuri langit-langit kamarnya yang putih dan bisu. Kenapa aku harus menjumpainya lagi? Kenapa aku harus melihatnya lagi setelah setahun lebih aku mencoba menata reruntuhan hatiku?

www.rajaebookgratis.com

Wulan merasakan matanya perlahan-lahan merebak. Dia menyadari, belum sepenuhnya ia mampu melupakan cowok itu. Wajah Roy yang kecoklatan masih sering mengusik tidurnya. Senyum Roy yang jenaka masih sering menggoda lamunannya. Dan mata Roy yang lembut masih sering meresahkannya. Dan sekarang, ia melihatnya lagi setelah sekian lama tak bertemu! Wulan mengusap matanya yang memanas. Hatinya menerawang. Ia takkan pernah mampu melupakan bagaimana perpisahan itu terjadi. Padahal mereka telah melewati hari-hari yang indah selama berbulan-bulan. Hari-hari, mereka lalui dengan begitu manis. Penuh tawa, pertengkaran-pertengkaran kecil, perdebatan, semua mereka lewati dengan perasaan bahagia. Sampai datang saat itu. Roy mulai menuntut! Wulan ingat bagaimana untuk pertama kalinya Roy menguasainya. Kupikir engkau lebih cantik dengan rambut pendek, Lan. Dan aku juga lebih senang kalau engkau berambut pendek. Lebih praktis kelihatan,, kata Roy suatu hari. Waktu itu tentu saja Wulan terkejut. Sebab itu adalah tuntutan pertama dari Roy, sedang Wulan begitu menyukai rambut panjangnya. Dan lagi, kau selalu mengepang rambutmu itu. Rasanya kok agak kuno, kata Roy lagi sambil tersenyum lembut. Aku suka begini, Bob, Wulan coba membela diri. Cuma suka tidak apa-apa. Tapi tidak harus selalu begitu kan? Engkau perlu variasi. Aku suka yang sederhana, Wulan masih ngotot. Rambut pendek pun bisa sederhana. Ah. Roy menatap Wulan mesra. Lama sekali. Kemudian tersenyum. Percayalah, engkau akan makin cantik dengan rambut pendek. Wulan terdiam. Berhari-hari kemudian gadis itu bergelut dengan hatinya sendiri. Bagaimanapun sayang rasanya kalau harus memotong rambut sebagus miliknya. Bertahun-tahun ia memeliharanya, merawatnya penuh dengan cinta. Sekarang, haruskah ia memotongnya? Wulan jadi bimbang. Tapi, ada semacam tuntutan aneh yang tiba-tiba mendorongnya untuk menuruti permintaan Roy. Barangkali karena cintanya yang besar pada Roy. Maka, jadilah dia memotong rambutnya. Pendek, sebatas bahu. Wulan mengusap rambutnya di depan cermin. Ia tidak bisa melupakan bagaimana Roy tampak berseri-seri ketika melihatnya dengan rambut sependek itu. Kau betul-betul cantik, Lan! serunya riang. Aku sampai pangling! Roy menatapnya dengan penuh cinta. Wulan mencoba menyembunyikan perasaannya. Dia harus merasa yakin bahwa dirinya betul-betul cantik. Setidaknya dimata Roy. Tapi belum lagi Wulan terbebas dari perasaan canggungnya dengan model rambut begitu, Roy sudah mulai melancarkan tuntutannya yang lain. Lan, model gaunmu sudah saatnya kau ganti. Kau kelihatan lucu dengan gaun seperti itu. Lihat Gina, dia manis bukan dengan gaun-gaunnya itu? Dan aku yakin, kau pun akan tampak semakin manis dengan gaun seperti itu! Roy tersenyum seperti membujuknya. Wulan terpana. Apakah begitu kunonya aku hingga Roy merasa perlu mengaturku, pikirnya sedikit sedih. Sesaat dia merasa bingung. Menuruti permintaan Roy

www.rajaebookgratis.com

berarti dia mengabaikan keinginan dirinya sendiri! Tapi cinta itu, ah! Wulan merasa aneh ketika ia merasa dirinya, telah berkhianat jika tidak menuruti keinginan Roy. Dan ia lebih memilih mengubah model gaunnya daripada harus mengkhianati cowok yang dicintainya. Tapi rupanya tuntutan Roy tidak habis berhenti di situ. Dia menginginkan Wulan mengikuti gaya hidupnya. Lan, sekali-kalilah kau ikut pesta. Engkau selalu menolak setiap kali ku ajak ke pesta. Hidup perlu selingan, Lan. Jangan hanya selalu berkutet dengan buku-buku. Seperti biasanya, Roy selalu tersenyum membujuk. Wulan tentu saja melonggo. Sungguh mati, gaya hidup seperti itu amat di bencinya. Pesta? Aduh ma, bagaimana aku harus melarutkan diri dalam kebisingan seperti itu? Wulan menggeleng dengan bingung. Ayolah, Lan. Sesekali. Lusa kuajak kau ke pesta di rumah sisi ya? Percayalah, kau akan menyenanginya, Roy merayunya. Aku tidak suka pesta, Bob. Aku suka ketenangan, kata Wulan akhirnya. Ah, hidup tidak selamanya tenang Non! Kebisingan, kehiruk-pikukan, adalah sebagian daripadanya, sahut Roy dengan nada yakin. Tapi aku tidak suka musik yang hingar bingar seperti dalam setiap pesta itu! Wulan mencoba mendebat. Musik yang hingar bingar tidak selalu buruk, Roy memamerkan senyumnya. Adakalanya musik seperti itu enak didengar. Kita perlu semangat hidup. Lagi pula musik yang lembut pun kadangkala membosankan. Tapi di pesta aku kehilangan ketenanganku. Dan aku tidak suka itu! Kita bisa ditempat yang agak tenang. Di pojok misalnya. Dan lagi, engkau perlu banyak bergaul. Jangan hanya mengurung diri terus. Bukan aku tidak mau bergaul, Bob. Cuma aku segan berkumpul dengan banyak orang dalam suasana yang membuatku tidak tentram! Wulan sayang, Roy mengambil tangan Wulan dan menggengamnya. Pesta tidak selamanya tidak menentramkan. Pesta lebih sering memberi hiburan pada kita. Jadi apa salahnya kau ikut, Ya? Wulan menatap Roy lekat-lekat. Dilihatnya ada kesungguhan di mata yang amat dikaguminya itu. Dan ia hanya sanggup menghela nafas. Entah kenapa, mata Roy selalu mampu meruntuhkannya. Dan ia tak mampu lagi menolak ketika Roy mengajaknya datang ke pesta Sisi. Dan aneh, ia justru merasa hatinya lega bukan main. Karena dengan cara begitu ia merasa yakin telah mampu membuktikan betapa besar cintanya pada Roy. Dan rupanya hal itu pula yang membuat Roy makin berani menyodorkan tuntutan-tuntutan yang lain. Seperti menyuruh Wulan berdandan misalnya. Meski Wulan sudah menolaknya mentah-mentah tapi rayuan Roy rupanya lebih jitu daripada Wulan, hingga lagi-lagi gadis itu tak berkutik. Lama kemudian, setelah mereka melewati saat-saat yang penuh tuntutan itu, setelah Wulan merasa yakin akan cintanya, ia justru merasa dirinya sebagai orang lain. Dengan rambut pendek, gaun di atas lutut dan pesta-pesta! Wulan merasa sudah tidak lagi mengenal dirinya sendiri. Lambat laun kemudian, dia mulai menyadari, bahwa sebenarnya Roy sedang berusaha merubahnya menjadi orang lain. Roy menginginkan ia melakukan segala apa yang dilakukan oleh orang lain.

www.rajaebookgratis.com

Dia merasa ada semacam perasaan dikuasai yang mengganggu. Dia merasa amat bodoh dan tertekan serta kehilangan kebebasan. Rasanya setiap geraknya berada dalam cengkraman Roy. Sampai kemudian dengan hati yang berat dan pedih, dia mengucapkan selamat tinggal pada Roy. Mulanya dia hampir goyah, tapi sedikit sedikit dia mulai bisa menyakinkan dirinya bahwa itu adalah keputusan yang terbaik bagi dirinya dan diri Roy. Lama mereka tidak bertemu karena Roy meneruskan kuliahnya di lain kota, sementara Wulan sendiri lebih cinta pada kota kelahirannya. Sampai kemarin sore! Ya, kemarin sore, pertemuannya dengan Roy memaksanya menyibak kembali kenangan yang lalu! Wulan menghela nafasnya kuat-kuat. Semuanya sudah berlalu, keluhnya nelangsa. Tidak ada gunanya memikirkannya lagi. Gadis itu menelungkupkan wajahnya ke bantal dan menyembunyikan sedu sedanya. Semuanya telah kembali seperti semula. Rambutnya sudah lebih panjang. Gaun-gaun yang meriah itu sudah disimpannya rapatrapat dalam almari pakaiannya dan tak pernah diusiknya lagi. Dan pesta-pesta pun sudah ditinggalkannya. Dia merasa sudah lebih bisa menemukan dirinya kembali. Tapi Roy? Apakah aku sudah betul-betul meninggalkannya? Wulan menggelengkan kepalanya dalam bantal dengan gelisah. Roy ternyata masih senantiasa membayangi hidupnya. Ya, dia harus jujur pada hatinya sendiri, Roy belum pupus sepenuhnya dari hatinya!

***

Wulan baru saja menutupkan kotak surat ketika ibu tiba-tiba menepuk lengannya dari belakang. Banyak surat? wanita itu tersenyum lembut. Tiga, sahut Wulan sambil melambaikan tiga pucuk surat di tangannya. Buatmu? Wulan menggeleng. Buat Indri satu. Dia menarik lengan ibunya dan mengajaknya masuk. Mereka melangkah beriringan. Tapi sampai di depan kamar Wulan, wanita itu menolak masuk. Menyiapkan kopi untuk Ayahmu. Sebentar lagi pulang. Ujarnya sambil tersenyum. Wulan ikut tersenyum. Masuk ke kamarnya, Wulan langsung ke meja belajarnya. Dibukanya surat pertama. Dari om Wendra di Surabaya. Wulan membacanya pelan-pelan. Tidak ada yang penting rupanya, selain menyuruh Wulan ke sana pada liburan semester nanti. Rasanya sudah kangen sekali ingin melihatmu, Wulan, tulis om Wendra di akhir suratnya. Wulan tersenyum sendiri. Adik bungsu ibunya itu memang paling dekat dengan dirinya, sejak dulu. Wulan meraih surat kedua. Buat Indri, dari Bandung. Gadis itu menyimpan senyumnya ketika tidak membaca nama pengirimnya. Barangkali rahasia, pikirnya sambil meletakkan surat itu kembali di meja belajarnya. Diambilnya amplop ketiga. Dan beberapa saat dia termangu. Ada namanya tertera di sampul surat itu. Diketik rapi, dan sepertinya menyimpan misteri. Entah apa.

www.rajaebookgratis.com

Wulan membalik-balik sampul surat itu. Tapi tak ada nama pengirimnya. Stempelnya dari dalam kota. Berarti orang itu disini, di kota ini. Hati-hati Wulan menyobek sisi sampul itu. Sepucuk kertas biru muda! Dada Wulan berdebar-debar. Cepat-cepat dibacanya tulisan-tulisan rapi di atas kertas itu. Dan nama di bawahnya Roy! Wulan tertegun. Betulkah ini tulisan Roy? Ah ya, ii memang tulisan Roy! Wulan menahan nafasnya. Baris-baris kalimat itu di ejanya dengan tergesa. Wulan, Engkau pernah membaca buku tentang cinta? Jika engkau membacanya, kau akan mengerti bahwa sesungguhnya, cinta itu memberi dan menerima. Tapi selama ini aku justru telah melakukan kesalahan begitu besar. Aku telah menuntut terlalu banyak darimu. Barangkali, aku memang telah gagal menjadi kekasihmu. Aku telah membuatmu kehilangan dirimu sendiri. Aku telah memaksamu menjadi orang lain hanya karena aku ingin engkau membuktikan cintamu. Sekarang, aku merasa diriku amat kerdil di matamu. Aku tidak bijaksana, dan barangkali pula tidak memiliki arti lagi bagi dirimu. Wulan, saat ini aku belum lagi memiliki keberanian untuk menemuimu. Bahkan untuk menulis ini pun aku harus menghimpun kembali keberanianku selama sekian hari setelah pertemuan kita. Aku hanya ingin meminta maaf padamu, Wulan. Kesalahanku begitu banyak. Meski tidak yakin apakah kau masih mau memaafkanku, tapi aku berharap kau belum menutup pintu hatimu rapat-rapat. Hatiku belum bisa meninggalkanmu, Wulan. Aku masih memiliki setumpuk rindu untukmu disini, di dadaku. Yang selalu mengasihimu, Roy

Mata Wulan mengerjap-ngerjap pelan. Ada air bening yang mulai menggenangi sudut-sudut matanya. Bob, desahnya dengan dada sesak. Kalau saja kau tahu, aku juga belum bisa meninggalkanmu Diusapnya pelan-pelan matanya yang mulai terasa perih. Cinta adalah memberi dan menerima, dibacanya kalimat itu berulang-ulang. Dan ia merasa pintu hatinya perlahan-lahan mulai terkuak. Ada dentang kerinduan yang bergema di baliknya. Kerinduan yang telah sekian lama di timbangnya sendiri. Mata Wulan menerawang. Lewat jendela kamarnya, dilihatnya matahari sore hari membiaskan warna merah jingga. Hati Wulan berdebar-debar. Bob, bisiknya tak terdengar. Kau lihat jugakah lukisan kerinduanku ini? Diusapnya lagi matanya yang panas. Alangkah rindunya ia tiba-tiba pada suara Roy. Alangkah rindunya ia pada kecerewetan cowok itu mengaturnya. Alangkah rindunya! Sore meninggalkan peraduannya. Dan perlahan matahari tertidur menyimpan rindu hati Wulan yang menggelegak.

www.rajaebookgratis.com