Anda di halaman 1dari 11

IMUNISASI

DEFINISI IMUNISASI Imunisasi, yang disebut juga vaksinasi, ialah tindakan berupa pemberian vaksin, yang berguna untuk meningkatkan kekebalan tubuh terhadap serangan mikroorganisme (bakteri dan virus) penyebabab infeksi sebelum mikroorganisme tersebut memiliki kesempatan untuk menyerang tubuh kita. Imunisasi akan melindungi tubuh dari infeksi begitu pula orang lain karena tidak tertular dari kita. MANFAAT IMUNISASI Imunisasi bertujuan untuk mencegah terjadinya penyakit tertentu pada seseorang dan menghilangkan penyakit tertentu pada sekelompok masyarakat bahkan dari dunia. Imunisasi diberikan untuk meningkatkan kekebalan aktif, yaitu kekebalan yang dibentuk oleh tubuh kita sendiri dengan memasukkan mikroorganisme yang sudah dilemahkan atau dimatikan. Mikroorganisme itu kemudian dimasukan kedalah tubuh yang biasanya melalui suntikan. Sistem pertahanan tubuh kemudian akan bereaksi terhadap mikroorganisme tersebut sama seperti apabila mikroorganisme menyerang tubuh dengan cara membentuk antibodi. Antibodi kemudian akan membunuh mikroorganisme itu layaknya membunuh mikroorganisme yang menyerang tubuh. Kemudian antibodi akan terus berada di peredaran darah membentuk kekebalan tubuh. Ketika suatu saat tubuh diserang oleh mikrorganisme yang sama dengan yang terdapat di dalam vaksin, maka antibodi akan melindungi tubuh dan mencegah terjadinya infeksi. Pada tahun 1977, setelah berkampanye selama 1 dekade, melibatkan 33 negara, cacar berhasil dieradikasi di seluruh dunia. Polio yang disebabkan oleh virus liar telah berhasil dieradikasi di belahan dunia Barat; tingkat vaksinasi anak-anak di Amerika Serikat selalu tinggi; dan penyakit serta kematian akibat difteri, pertusis, tetanus, campak, gondongan (mumps), rubela, dan HiB rendah.

Hingga saat ini terdapat 10 jenis vaksin yang dapat mencegah terjadinya infeksi pada anak, yaitu: polio, campak, gondongan, rubella (campak Jerman), difteria, tetanus, batuk rejan (Pertusis), meningitis, cacar air, dan hepatitis B. Sedangkan terdapat 3 jenis vaksinasi yang dapat diberikan pada kelompok anak-anak ataupun dewasa dengan risiko tinggi menderita infeksi, yaitu: hepatitis A, flu (Influenza), dan pneumonia. Bila tidak dilakukan imunisasi, maka dapat terjadi : Anak akan tetap sehat Hal ini bila anak tidak pernah terpapar dengan mikroorganisme penyebab infeksi, maka tidak akan terjadi apa-apa, anak akan tumbuh sehat. Anak akan sakit Kemungkinan kedua adalah bila anak terpapar dengan mikroorganisme penyebab infeksi, kemungkinan anak akan menderita penyakit atau tidak tergantung bagaimana kekebalan tubuhnya apakah dapat melawan mikroorganisme tersebut atau tidak. Anak dapat sakit ringan saja dan hanya perlu beristirahat dirumah, ataupun gejalanya cukup berat hingga harus dirawat di rumah sakit, ataupun dapat berakibat fatal hingga menyebabkan kematian. Selain itu, dengan membawa mikroorganisme dalam tubuhnya, ia dapat menularkan penyakit ke orang lain di sekitarnya yang juga tidak memiliki perlindungan terhadap mikroorganisme tersebut dan pada akhirnya dapat menimbulkan wabah dengan begitu banyak penderita yang sakit hingga meninggal. WAKTU IMUNISASI Seorang anak harus mendapatkan suntikan pertama sebelum berumur 2 bulan dan kemudian mendapatkan 4 atau lebih suntikan berikutnya sebelum berusia 2 tahun. Beberapa vaksinasi harus dilakukan suntikan booster (suntikan penguat) pada tahun- tahun berikutnya hingga anak belajar di sekolah dasar. Vaksin diberikan pada usia sangat dini karena penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan pemberian vaksinasi biasanya menyerang anak pada awal kehidupannya ataupun memberikan gejala yang berat, menimbulkan berbagai komplikasi, hingga mengancam jiwa jika diderita anak-anak tersebut. Waktu pemberian vaksinasi juga disesuaikan dengan pola penyakit yang biasanya menyerang anak pada usia tertentu, sehingga imunisasi akan

melindungi anak lebih awal sebelum penyakit tersebut memiliki kesempatan menyerang tubuh anak. Jadwal imunisasi untuk tiap-tiap negara berbeda disesuaikan dengan pola penyakit yang ada serta ketersediaan vaksin. Selain itu, karena faktor biaya, di Indonesia imunisasi dibagi menjadi 2 kelompok. Kelompok pertama adalah imunisasi yang diwajibkan sehingga tersedia hingga di Puskesmas dan Posyandu dengan harga yang cukup terjangkau, sedangkan kelompok kedua adalah imunisasi yang dianjurkan. Jika anak belum mendapatkan imunisasi sama sekali, segeralah rencanakan untuk memulai pemberian imunisasi. Tenaga medis akan memberikan vaksinasi sesuai umur anak saat ini, yang jadwalnya biasanya berbeda dengan jadwal anak yang mendapat imunisasi sesuai dengan ketentuan umur. Pemberian yang terlambat tidak akan mengurangi efektivitas vaksinansi untuk membentuk imunitas tubuh, hanya saja anak tidak mendapatkan perlindungan terhadap penyakit infeksi sedini mungkin. Begitu pula apabila anak tidak lengkap mendapatkan vaksinasi, segeralah lengkapi sesuai jadwal tanpa harus memulainya dari awal lagi. EFEK SAMPING IMUNISASI Imunisasi umumnya sangat aman, tapi tidak selalu 100%. Seperti obat-obat lainnya, vaksin dapat menyebabkan beberapa reaksi yang biasanya ringan seperti nyeri pada lengan tempat suntikan dan demam dengan suhu tidak terlalu tinggi. Namun, reaksi yang berat dapat terjadi, tapi sangat jarang sekali (1 diantara 1 juta suntikan), misalnya reaksi alergi yang begitu hebat terhadap komponen zat-zat yang terdapat dalam vaksin. Meskipun begitu, yang harus selalu diingat adalah menderita penyakit-penyakit yang dapat dicegah jauh lebih berbahaya daripada kemungkinan komplikasi yang dapat terjadi akibat suntikan vaksinasi atau dengan kata lain untungnya jauh lebih banyak daripada kerugiannya.

KONTRA-INDIKASI IMUNISASI Ada beberapa keadaan khusus yang membuat anak-anak atau dewasa tidak boleh diimunisasi. Secara umum, kontra-indikasi pemberian imunisasi diantaranya, yaitu alergi terhadap vaksin (setelah vaksinasi pertama timbul reaksi alergi, bahkan sampai syok), alergi terhadap zat lain yang terdapat di dalam vaksin (antibiotika yang terdapat di dalam vaksin, pengawet , dll), sakit sedang atau berat, dengan atau tanpa demam (sakit akut ringan dengan atau tanpa demam bukan indikasi kontra imunisasi) Untuk beberapa vaksin, berlaku ketentuan khusus, yaitu : 1. Imunodefisiensi (keganasan darah atau tumor padat, imunodefisiensi kongenital, terapi dengan obat-obatan yang menurunkan daya tahan tubuh seperti kortikosteroid (prednisone, metil prednisolon) jangka panjang imunisasi polio oral, MMR, varisela 2. Infeksi HIV (polio oral dan varisela) atau kontak HIV serumah (polio oral) 3. Imunodefisiensi (gangguan kekebalan tubuh) penghuni rumah polio oral 4. Kehamilan MMR, Varisela (tapi bila ibunya yang hamil, tidak apa-apa bila anaknya diimunisasi) MITOS-MITOS IMUNISASI Saat ini banyak orangtua yang enggan melakukankan imunisasi karena berbagai informasi yang beredar di masyarakat mengenai efek samping vaksinasi yang dapat terjadi, misalnya vaksinasi MMR menyebabkan autisme, beberapa vaksinasi menyebabkan sindroma kematian bayi mendadak (sudden infant death syndrome), kadar thimerosal (zat pengawet) yang terdapat dalam vaksin begitu tinggi sehingga bisa menyebabkan keracunan merkuri, dan lain sebagainya. Informasi-informasi tersebut menyebabkan penurunan drastis jumlah bayi-bayi yang mendapatkan imunisasi dan secara langsung menyebabkan jumlah penderita infeksi kembali meningkat. Ternyata pendapat-pendapat tersebut tidak berdasarkan bukti-bukti ilmiah, hanya berupa dugaan belaka. Berbagai penelitian yang telah dilakukan tidak menemukan hubungan secara langsung kejadian-kejadian tersebut dengan pemberian vaksinasi. Selain itu, berbagai teknologi terus dikembangkan untuk membuat vaksin yang lebih aman dan tidak menimbulkan efek samping. Sekali lagi harus diingat bahwa setiap tindakan yang dilakukan manusia selalu ada risikonya namun janganlah hanya mengkhawatirkan risiko yang mungkin terjadi dari suatu 4

tindakan yang akan dilakukan tanpa mempertimbangkan manfaat yang akan didapat. Jelasjelas manfaat pemberian imunisasi jauh lebih besar dari kemungkinan komplikasi yang dapat terjadi. MEKANISME KERJA IMUNISASI Seperti telah disebutkan sebelumnya, imunisasi adalah suatu cara untuk meningkatkan kekebalan seseorang secara aktif terhadap suatu antigen, sehingga bila kelak ia terpajan antigen serupa, tidak terjadi penyakit. Dilihat dari cara timbulnya maka terdapat dua jenis kekebalan, yaitu kekebalan pasif dan kekebalan aktif. Kekebalan pasif adalah kekebalan yang diperoleh dari luar tubuh, bukan dibuat oleh individu sendiri, contohnya: kekebalan pada janin diperoleh dari ibu, pemberian suntikan imunoglobulin. Sedangkan kekebalan aktif adalah kekebalan yang dibuat oleh tubuh sendiri akibat terpajan antigen seperti pada imunisasi, atau terpajan secara alamiah. Tujuan imunisasi ini adalah untuk mencegah terjadinya penyakit tertentu pada seseorang, dan menghilangkan penyakit tertentu pada sekelompok masyarakat (populasi) atau bahkan menghilangkan penyakit tertentu dari dunia, seperti cacar. Keberhasilan Imunisasi tergantung dari : Genetik pejamu: Faktor MHC I dan MHC II Status imun pejamu Kualitas dan kuantitas vaksin (cara pemberian, dosis, frekuensi pemberian, bahan-bahan tambahan yang digunakan, dan jenis vaksin JENIS VAKSIN 1. LIVE ATTENUATED Bakteri/virus yang sudah dilemahkan Bersifat labil dan cepat rusak bila terkena panas atau sinar sehingga penyimpanan & transport harus baik Virus : campak, mumps, rubella, polio, rotavirus, dan demam kuning Bakteri/virus atau komponen yang dibuat tidak aktif Selalu membutuhkan dosis ganda 5 2. INACTIVATED

Seluruh sel virus inaktif: influenza, polio, rabies, hepatitis A Seluruh sel bakteri inaktif: pertusis, tifoid, kolera. Fraksional: hepatitis B, pertusis aseluler, tifoid Vi, influenza Toksoid: difteri, tetanus, botulinum Polisakarida murni: pneumokokus, meningokokus Gab Polisakarida: HiB, Pneumokokus

PROSEDUR IMUNISASI Prosedur imunisasi terdiri atas : Tata cara Pemberian imunisasi Penjelasan kepada orang tua mengenai imunisasi dan efek samping Pencatatan imunisasi Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi Pelaporan Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi Imunisasi pada kelompok beresiko Penyimpanan Pengenceran Pembersihan kulit Pemberian suntikan Teknik dasar dan ukuran jarum Arah sudut jarum pada suntikan im Tempat suntikan yg dianjurkan Posisi anak dan lokasi suntikan Pengambilan vaksin dari botol (vial) Pemberian dua atau lebih vaksin pada hari yang sama

Hal-hal yang harus diperhatikan :

BCG
Tidak mencegah infeksi tapi mengurangi resiko Tb Berat Dibuat dari Mycobacterium bovis. Efek Proteksi 8-12 minggu setelah penyuntikan. Penyimpanan pada suhu 5oC dan terhindar dari sinar matahari langsung maupun tidak langsung. Selalu perhatikan rantai dingin pada saat pengangkutan. Vaksin setelah dilarutkan harus segera dipakai dalam waktu 3 jam dan sisanya dibuang. Pemberian; anak: 0,1 ml, Bayi: 0,05 ml diberikan secara intradermal dilengan atas (otot deltoid). Diberikan pada anak umur 0-2 bulan, biasanya dilakukan di rumah sakit bersamaan dengan pemberian vaksin hepatitis B dan polio segera setelah lahir. Kontra Indikasi: Uji Tuberkulin >5 mm, Sedang menderita HIV, Gizi buruk, Kehamilan, Demam tinggi, Infeksi kulit luas, Pernah Tbc Hal-hal yang diperhatikan pada pemberian BCG : Reaksi Lokal Terjadi 1-2 minggu setelah penyuntikan: indurasi & eritema

pustulaulkussembuh spontan dalam 8-12 minggu dengan jaringan parut. Reaksi Regional Pembesaran kelenjar axila/cervikal, tidak demam Komplikasi Abses (cold abses), tidak memerlukan terapi, sembuh spontan, bila matang lakukan insisi Limfadenitis supurativa: sembuh 2-6 bulan, bila matang lakukan insisi

HEPATITIS B
Ada dua macam imunisasi Hepatitis B: imunisasi pasif (dengan Imunoglobulin) dan Imunisasi aktif (dengan partikel HBsAg yang tidak infeksius). Imunisasi Pasif Indikasi utama Dosis Paparan kecelakaan jarum suntik: 0,06 ml/kgBB maksimal 5 ml secra intramuskuler, diulang 1 bulan kemudian Paparan seksual: dosis tunggal: 0,06 ml/kgBB maksimal 5ml paparan perinatal: 0,5 ml (im) Paparan dengan darah yg HBsAg (+) Paparan Seksual dengan HBsAg (+) Paparan Perinatal, Ibu HBsAg (+) Harus segera sebelum 48 jam

Imunisasi Aktif Pemberian im di daerah deltoid/ paha anterolateral. Pemberian dengan subkutan dapat menghambat penyerapan vaksin. Penyimpanan vaksin pada suhu 2-8oC, jangan sampai beku. Jadwal: awal 3x Suntikan I usia 0 bulan, suntikan II usia 1-2 bulan, dan suntikan ke III pada waktu 6 bulan. Kontra indikasi : Tidak ada absolut, kecuali ibu hamil

POLIO
Isi: virus Polio Sabin tipe 1,2 dan 3 yg dilemahkan Oral Polio Vaksin (OPV) Jadwal dan dosis Imunisasi dasar (II,III,IV) diberikan 3x dengan interval 4 minggu. Pada daerah endemis diberikan dosis tambahan segera setelah lahir (Polio I) 8

Polio Ulangan: 1 tahun setelah Polio IV kemudian saat masuk SD Dosis 2 tetes (0,1 ml) per oral.

Penyimpanan Suhu -20oC, dalam suhu 2-8oC stabil 6 minggu.

Kontra Indikasi dan hal yang perlu diperhatikan. Pasien mendapat imunosupresan dan kehamilan. Angka kejadian paralisis paska imunisasi polio 1 diantara 1 juta, dapat terjadi dalam waktu 30 hari setelah imunisasi atau dalam waktu 60 hari pada orang lain yang tidak divaksinasi.

DPT
Tidak diberikan sebelum 2 bulan karena bersifat reaktogenitas dosis Pertusis pd bayi kecil. Disimpan pada suhu 2-8oC. Reaksi pasca imunisasi demam dan nyeri pada tempat suntikan dapat diberikan analgetik anti piretik, bila reaksi berlebihan pada tempat suntikan berikutnya diberikan DT. Komponen: Toxin Difteri, Whole cel Pertusis, Toxoid Tetanus Kontra indikasi mutlak terhadap komponen pertusis Riwayat anafilaksis. Encephalopati setelah pemberian vaksin sebelumnya.

Precaution: Bila pada pemberian sebelumnya ada riwayat hiperpireksia, hipotonikhiporeponsif dalam 48 jam, anak menangis terus selama 3 jam, kejang 3 hari sesudahnya. Jadwal dan dosis : Imunisasi DPT diberikan 5 kali, terdiri dari imunisasi dasar 3 kali ( DPT I, II, III ), dan DPT ulangan IV dan V. DPT I : usia 2-4 bulan di RS pada usia 2 bulan. DPT II : usia 3-5 bulan di RS pada usia 4 bulan. DPT III : usia 4-6 bulan di RS pada usia 6 bulan. DPT IV : usia 18 bulan DPT V : anak usia 6 tahun. 9

Dosis DPT 0,5 ml intramuskular didaerah paha anterolateral.

CAMPAK
Virus campak mengandung virus campak starin CAM70 hidup yang telah sangat dilemahkan, dibiakan dalam jaringan janin ayam, kemudian dibeku keringkan. Setiap dosis yang telah dilarutkan mengandung virus campak tidak kurang dari 5000 CCID50 atau PFU dan kanamisin sulfat tidak lebih dari 100 mcg dan eritromicin tidak lebih dari 30 mcg. Vaksin diberikan subkutan tidak boleh intravena. Vaksin dilarutkan dengan pelarut yang telah dikemas, jangan memakai pelarut lain. Vaksin yang telah dilarutkan hanya tahan 8 jam dalam suhu 2-8oC. Jadwal dan Dosis : Dianjurkan 1 x (0,5 ml sc) umur 9 bl, pd KLB dpt diberikan umur 6 bulan dan diulang 6 bulan kemudian. Penyimpanan : Suhu 2-8oC, terhindar dari sinar Matahari. Efek samping Demam, diare, ruam kulit, konjungtivitis dan gejala kataral jarang : timbul 7-12 hari setelah disuntik Ensephalitis 1/1 juta : timbul 30 hari pasca imunisasi Kontra indikasi Infeksi akut disertai demam, imunodefisiensi, terapi imunosupresif, alergi protein telur, kanamisin, eritromisin dan ibu hamil Anak yang diberi tranfusi darah atau Ig, imunisasi ditangguhkan minimal 3 bulan

10

Tabel Jadwal Pemberian Vaksin Bulan Lhr 1 2 3 4 5 6 9 12 15 PPI (Program Pengembangan Imunisasi) = diwajibkan BCG Hepatitis B 1 2 3 Polio 0 1 2 3 Vaksin DPT Campak 1 2 3 1 Tahun 5 6 10

18

12

4 4

5 5 2 6

11