Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH FILSAFAT ILMU

Makalah
Makalah ini disusun sebagai salah satu tugas semester dua mata kuliah
filsafat ilmu

Disusun Oleh

Nama : Verdico Arief

NPM : 170110070078

JURUSAN ILMU ADMINISTRASI NEGARA


FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS PADJADJARAN
2008
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG

Apakah kriteria kebenaran? Apakah kriteria bahwa suatu


pernyataan adalah benar?; Suatu pernyataan adalah benar jika sesuai
dengan fakta; A criterion of truth is “correspondence with reality.”; Ini
adalah teori korespondensi. Menurut teori ini, “suatu pernyataan adalah
benar jika materi pengetahuan yang dikandung pernyataan itu
berkorespondensi (berhubungan) dengan obyek yang dituju oleh
pernyataan tersebut” (Jujun, 1984: 57). Dalam proses pembuktian secara
empiris (pengumpulan fakta-fakta) untuk mendukung kebenaran suatu
pernyataan
Apakah kriteria kebenaran?: Suatu pernyataan adalah benar jika
berhubungan secara logis dengan pernyataan yang lain; Ini adalah teori
koherensi. Menurut teori ini, “suatu pernyataan dianggap benar bila
pernyataan itu bersifat koheren atau konsisten dengan pernyataan
sebelumnya yang dianggap benar” (Jujun, 1984: 55). Termasuk ke dalam
teori ini adalah kebenaran matematika (mathematical truth) dan logika
deduktif (Scruton, 1996: 239)

1.2. RUMUSAN MASALAH

Seperti yang telah diuraikan pada latar belakang, maka penulis


mengambil rumusan masalah sebagai berikut :

1. Apa yang dimaksud teori tentang kebenaran


2. Dari mana asal dan gagasan positivisme logis
3. Apa yang dimaksud dengan positivisme didalam ilmu pengetahuan

1.3. TUJUAN PENULISAN

1. Mengetahui teori tentang kebenaran


2. Mengetahui dan memahami apa itu asal dan gagasan positivisme logis
3. Memahami tentang positivisme di dalam ilmu pengetahuan

1.4. METODE PENGUMPULAN DATA

Dalam penyusunan makalah ini, perlu sekali pengumpulan data


serta sejumlah informasi aktual yang sesuai dengan permasalahan yang
akan dibahas. Sehubungan dengan masalah tersebut dalam penyusunan
makalah ini, penulis menggunakan beberapa metode pengumpulan data,
yang pertama dengan membaca buku sumber, kedua browsing di
Internet, ketiga dengan membaca media cetak dan terakhir dengan
pengetahuan yang penulis miliki.

1.5. SISTEMATIKA PENULISAN

Makalah ini disusun dengan urutan sebagai berikut :

Bab I Pendahuluan

Pada bagian ini dijelaskan tentang latar belakang, rumusan


masalah, tujuan penulisan, metode pengumpulan data, dan sistematika
penulisan.

Bab II Tinjauan Pustaka

Pada bagian ini dikemukakan teori-teori yang berkaitan dengan


pengertian kebenaran serta pengertian positivisme.

Bab III Pembahasan

Pada bab ini ditemukan pembahasan yang terdiri dari teori tentang
kebenaran, asal dan gagasan positivisme logis, serta positivisme di dalam
ilmu pengetahuan.

Bab IV Penutup

Bab terakhir ini memuat kesimpulan.

Daftar Pustaka

Pada bagian ini berisi referensi-referensi dari berbagai media yang


penulis gunakan untuk pembuatan makalah ini.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. PENGERTIAN KEBENARAN

Apakah kriteria kebenaran? Apakah kriteria bahwa suatu


pernyataan adalah benar?; Suatu pernyataan adalah benar jika sesuai
dengan fakta; A criterion of truth is “correspondence with reality.”; Ini
adalah teori korespondensi. Menurut teori ini, “suatu pernyataan adalah
benar jika materi pengetahuan yang dikandung pernyataan itu
berkorespondensi (berhubungan) dengan obyek yang dituju oleh
pernyataan tersebut” (Jujun, 1984: 57). Dalam proses pembuktian secara
empiris (pengumpulan fakta-fakta) untuk mendukung kebenaran suatu
pernyataan

Kebenaran (Truth)

1. Pernyataan yang benar.


Apakah makna “benar” dalam kalimat di atas?

2. Contoh pernyataan (statement):Dian belajar filsafat; Buku di atas meja;


Ali adalah orang Islam.

3. Tanya-jawab.
Apakah kamu orang Banjar?; Benar, Saya orang Banjar; Benar bahwa
Saya orang Banjar.
Bahwa Saya orang Banjar adalah benar.

4. Apakah pernyataan yang benar?


Jika suatu keadaan memang terjadi, dan kita menyatakannya demikian,
maka pernyataan kita adalah benar.

Contoh:
Pernyataan “Saya orang Banjar” adalah benar jika Saya memang orang
Banjar.

Pernyataan “Buku di atas meja” adalah benar jika buku memang di atas
meja.

5. Apakah pernyataan yang benar?: Pernyataan yang benar adalah


pernyataan yang mengungkapkan fakta.

Contoh: Rumput adalah hijau; Pernyataan adalah bahasa, sedangkan


fakta adalah keadaan di dunia (di luar bahasa)

6. Pertanyaan “Apakah suatu pernyataan adalah benar?” adalah berbeda


dengan pertanyaan “Bagaimana kita mengetahui bahwa suatu
pernyataan adalah benar?”

Contoh: Cara kita mencari kebenaran “70 + 30 = 100” adalah berbeda


Dengan cara kita mencari kebenaran bahwa “Buku di atas meja”,
“Semua harimau adalah karnivora” , “Semua mahasiswi IAIN memakai
jilbab.”

Contoh:

1. Kebenaran matematika

1 + 11 = 12; 2 + 10 = 12; 3 + 9 = 12; 4 + 8 = 12; 5 + 7 = 12; 6 + 6 = 12

2. Logika deduktif

Semua Mahasiswa IAIN beragama Islam

Johanes adalah mahasiswa IAIN

Johanes adalah beragama Islam

Contoh lain: Semua manusia akan mati. Dian adalah manusia. Jadi,
Dian akan mati. (Ada tiga pernyataan: dua pertama adalah premis,
satu terkahir adalah kesimpulan)

Apakah kriteria kebenaran?: Suatu pernyataan adalah benar jika


berhubungan secara logis dengan pernyataan yang lain; Ini adalah teori
koherensi. Menurut teori ini, “suatu pernyataan dianggap benar bila
pernyataan itu bersifat koheren atau konsisten dengan pernyataan
sebelumnya yang dianggap benar” (Jujun, 1984: 55). Termasuk ke dalam
teori ini adalah kebenaran matematika (mathematical truth) dan logika
deduktif (Scruton, 1996: 239)

2.2. PENGERTIAN POSITIVISME

Teori Positivisme Logikal Positivisme adalah suatu aliran filsafat


yang mengalami banyak perubahan mendasar dalam perjalanan
sejarahnya. Istilah Positivisme pertama kali digunakan oleh Francis Biken
seorang filosof berkebangsaan Inggeris. Ia berkeyakinan bahwa tanpa
adanya pra asumsi, komprehensi-komprehensi pikiran dan apriori akal
tidak boleh menarik kesimpulan dengan logika murni maka dari itu harus
melakukan observasi atas hukum alam. Istilah ini kemudian juga
digunakan oleh Agust Comte dan dipatok secara mutlak sebagai tahapan
paling akhir sesudah tahapan-tahapan agama dan filsafat. Agust Comte
berkeyakinan bahwa makrifat-makrifat manusia melewati tiga tahapan
sejarah: pertama, tahapan agama dan ketuhanan, pada tahapan ini untuk
menjelaskan fenomena-fenomena yang terjadi hanya berpegang kepada
kehendak Tuhan atau Tuhan-Tuhan; tahapan kedua, adalah tahapan
filsafat, yang menjelaskan fenomena-fenomena dengan pemahaman-
pemahaman metafisika seperti kausalitas, substansi dan aksiden, esensi
dan eksistensi; dan adapun Positivisme sebagai tahapan ketiga,
menafikan semua bentuk tafsir agama dan tinjauan filsafat serta hanya
mengedepankan metode empiris dalam menyingkap fenomena-fenomena.
Pada tahun 1930 M, istilah Positivisme berubah lewat kelompok lingkaran
Wina menjadi Positivisme Logikal, dengan tujuan menghidupkan kembali
prinsip tradisi empiris abad ke 19. Lingkaran Wina menerima
pengelompokan proposisi yang dilakukan Hume dengan analitis dan
sintetis, dan berasaskan ini kebenaran proposisi-proposisi empiris
dikategorikan bermakna apabila ditegaskan dengan penyaksian dan
eksperimen, dan proposisi-proposisi metafisika yang tidak dapat
dieksprimenkan maka dikategorikan sebagai tidak bermakna dan tidak
memiliki kebenaran. Kesimpulan pandangan ini adalah agama dan filsafat
(proposisi-proposisi agama dan filsafat) ambiguitas dan tidak bermakna,
karena menurut kaum positivisme syarat suatu proposisi memiliki makna
adalah harus bersifat analitis, yakni predikat diperoleh dari dzat subyek
kemudian dipredikasikan atas subyek itu sendiri dan kebenarannya lahir
dari proposisi itu sendiri serta pengingkarannya menyebabkan kontradiksi,
atau mesti bersifat empiris, yakni melalui proses observasi dan
pembuktian Dengan demikian, sebagaimana ungkapan Kornop ? salah
seorang anggota dari Lingkaran Wina ? dalam suatu risalah berjudul
"Menolak metafisika dengan analisis logikal teologi", kalimat-kalimat yang
mengungkapkan perasaan(affective), seperti: alangkah indahnya cuaca!
Atau pertanyaan, seperti: Di manakah letak kota Qum? Atau kalimat-
kalimat perintah, metafisika dan agama, karena kalimat-kalimat dan
proposisi-proposisi tersebut tidak melewati proses observasi dan
eksprimen maka serupa dengan proposisi-proposisi yang tidak benar
(bohong) Kaum Positivisme, seiring dengan perjalanan waktu, mengubah
pandangannya yang ekstrim dan perlahan-lahan tidak menegaskan
kemestian pembuktian dan eksperimen dalam menguji kebenaran suatu
proposisi dan bahkan eksprimen tidak lagi dijadikan tolok ukur kebenaran
proposisi. Mereka menyadari bahwa jika tolok ukur kebenaran (memiliki
makna) proposisi-proposisi adalah melewati proses pembuktian dan
eksperimen, maka sangat banyak proposisi-proposisi empiris yang tidak
akan bermakna (tidak benar), karena tidak dapat dibuktikan secara yakin
(100%). Mazhab filsafat ini dalam bagian lain mengakui bahwa manusia
tidak mampu menyingkap hakikat realitas ? dalam bentuk pembuktian,
penegasan, dan bahkan pembatalan ? tetapi hanya sebatas pemuasan
akal. name="_ednref18">[18] Kesimpulan dari semua pandangan kaum
Positivisme adalah bahwa proposisi-proposisi agama yang karena tidak
melewati observasi dan eksprimen maka tidak dikategorikan sebagai
makrifat dan pengetahuan yang bermakna (baca: proposisi agama tidak
benar) dan bahasa agama karena tidak dapat dibuktikan kebenarannya
secara eksprimen, maka tidak menjadi makna yang dapat diperhitungkan.
BAB III

KEBENARAN ILMU MENURUT PANDANGAN POSITIVISME

3.1. TEORI TENTENG KEBENARAN

Teori Tentang Kebenaran Beberapa teori telah dilahirkan untuk


mencoba mendekati arti dari kebenaran yang dimaksud. Beberapa teori
itu adalah:

A.Teori Korespondensi :

"Kebenaran/keadaan benar itu berupa kesesuaian antara arti yang


dimaksud oleh sebuah pendapat dengan apa yang sungguh merupakan
halnya/faktanya" (L. O. Kattsoff)

Jadi berdasarkan teori korespondensi ini, kebenaran/keadaan


benar itu dapat dinilai dengan membandingkan antara preposisi dengan
fakta atau kenyataan yang berhubungan dengan preposisi tersebut. Bila
diantara keduanya terdapat kesesuaian (korespondence), maka preposisi
tersebut dapat dikatakan memenuhi standar kebenaran/keadaan benar.

B. Teori Konsistensi :

"Kebenaran tidak dibentuk atas hubungan antara putusan (judgement)


dengan sesuatu yang lain, yaitu fakta dan realitas, tetapi atas hubungan
antara putusan-putusan itu sendiri " (A.C. awing, The Fundamental
Question of Philosophy).

Teori konsistensi melepaskan hubungan antara putusan dengan


fakta dan realitas, tetapi mencari kaitan antara satu putusan dengan
putusan yang lainnya, yang telah ada lebih dulu dan diakui kebenarannya.
Kebenaran menurut teori konsistensi bukan dibuktikan dengan
fakta/realitas, tetapi dengan membandingkannya dengan putusan yang
telah ada sebelumnya dan dianggap benar. Bila sebuah putusan
mengatakan bahwa Mahatma adalah ayah Rajiv, dan putusan kedua
mengatakan bahwa Rajiv memiliki anak bernama Sonia, maka sebuah
putusan baru yang mengatakan Sonia adalah cucu Mahatma dapat
dikatakan benar, dan putusan tersebut adalah sebuah kebenaran.

C. Teori Pragmatis :

"Suatu preposisi adalah benar sepanjang preposisi tersebut berlaku


(works), atau memuaskan (satisfied); berlaku dan memuaskannya itu
diuraikan dengan berbagai ragam oleh para penganut teori tersebut
" (Charles S. Baylin).
Menurut teori pragmatis, “kebenaran suatu pernyataan diukur
dengan kriteria apakah pernyataan tersebut bersifat fungsional dalam
kehidupan praktis. Artinya, suatu pernyataan adalah benar, jika
pernyataan itu atau konsekuensi dari pernyataan itu mempunyai
kegunaan praktis bagi kehidupan manusia” (Jujun, 1984: 58-9). Dalam
pendidikan, misalnya di IAIN, prinsip kepraktisan (practicality) telah
mempengaruhi jumlah mahasiswa pada masing-masing fakultas. Tarbiyah
lebih disukai, karena pasar kerjanya lebih luas daripada fakultas lainnya.
Mengenai kebenaran tentang “Adanya Tuhan” atau menjawab pertanyaan
“Does God exist ?”, para penganut paham pragmatis tidak
mempersoalkan apakah Tuhan memang ada baik dalam ralitas atau idea
(whether really or ideally). Yang menjadi perhatian mereka adalah makna
praktis atau dalam ungkapan William James “ ….they have a definite
meaning for our ptactice. We act as if there were a God” (James, 1982:
51-55). Teori pragmatis meninggalkan semua fakta, realitas maupun
putusan/hukum yang telah ada. Satu-satunya yang dijadikan acuan bagi
kaum pragmatis ini untuk menyebut sesuatu sebagai kebenaran ialah jika
sesuatu itu bermanfaat atau memuaskan.
Sedangkan teori kebenaran menurut pandangan positiveme,
Positivisme Logis (disebut juga sebagai empirisme logis, empirisme
rasional, dan juga neo-positivisme) adalah sebuah filsafat yang berasal
dari Lingkaran Wina pada tahun 1920-an. Positivisme Logis berpendapat
bahwa filsafat harus mengikuti rigoritas yang sama dengan sains. Filsafat
harus dapat memberikan kriteria yang ketat untuk menetapkan apakah
sebuah pernyataan adalah benar, salah atau tidak memiliki arti sama
sekali.
Secara umum, para penganut paham positivisme memiliki minat
kuat terhadap sains dan mempunyai sikap skeptis terhadap ilmu agama
dan hal-hal yang berbau metafisika. Mereka meyakini bahwa semua ilmu
pengetahuan haruslah berdasarkan inferensi logis yang berdasarkan fakta
yang jelas. Sehingga, penganut paham ini mendukung teori-teori paham
realisme, materialisme naturalisme filsafat dan empirisme.
Kebenaran menurut pandangan positivisme menyatakan bahwa
sebuah pernyataan dapat disebut sebagai bermakna jika dan hanya jika
pernyataan tersebut dapat diverifikasi secara empiris. Konsekuensi dari
pendapat ini adalah, semua bentuk diskursus yang tidak dapat dibuktikan
secara empiris, termasuk di antaranya adalah etika dan masalah
keindahan, tidak memiliki makna apa-apa, sehingga tergolong ke dalam
bidang metafisika.
Di dalam filsafat, positivisme sangatlah dekat dengan empirisme,
yakni paham yang berpendapat bahwa sumber utama pengetahuan
manusia adalah pengalaman inderawi. Artinya, manusia tidak bisa
mengetahui sesuatu apapun, jika ia tidak mengalaminya terlebih dahulu
secara inderawi. Yang menjadi ciri khas dari positivisme adalah, peran
penting metodologi di dalam mencapai pengetahuan. dilihat dari Di dalam
positivisme, valid tidaknya suatu pengetahuan validitas metodenya.

Dengan demikian, pengetahuan manusia, dan juga mungkin


kebenaran itu sendiri, diganti posisinya oleh metodologi yang berbasiskan
data yang juga diklaim obyektif murni dan universal. Dan, satu-satunya
metodologi yang diakui oleh para pemikir positivisme adalah metode ilmu-
ilmu alam yang mengklaim mampu mencapai obyektifitas murni dan
bersifat universal. Metode-metode lain di luar metode ilmu-ilmu alam ini
pun dianggap tidak mencukupi.
Jadi, yang dimaksud dengan kebenaran menurut pandangan
positivisme adalah kebenaran yang pernah dialami oleh
pancaindera(empiris), yang realistis dan memiliki fakta-fakta yang
sebenarnya. Aliran ini tidak meyakini hal-hal yang berhubungan dengan
metafisika ataupun gaib yang tidak disertai dengan fakta-fakta yang ada.
Aliran ini hanya meyakini paham-paham realisme, materialisme
naturalisme filsafat dan empirisme.
Manusia adalah mahluk berfikir yang dengan itu menjadikan dirinya
ada. Prof. Dr. R.F Beerling, seorang sarjana Belanda mengemukakan
teorinya tentang manusia bahwa manusia itu adalah mahluk yang suka
bertanya. Dengan berfikir, dengan bertanya, manusia menjelajahi
pengembaraannya, mulai dari dirinya sendiri kemudian lingkungannya
bahkan kemudian sampai pada hal-hal lain yang menyangkut asal mula
atau mungkin akhir dari semua yang dilihatnya. Kesemuanya itu telah
menempatkan manusia sebagai mahluk yang sedikit berbeda dengan
hewan. Sebagaimana Aristoteles, filsuf yunani yang lain, mengemukakan
bahwa manusia adalah hewan yang berakal sehat, yang mengeluarkan
pendapat, yang berbicara berdasarkan akal pikirannya (the animal that
reason). W.E Hacking, dalam bukunya What is Man, menulis bahwa:
"tiada cara penyampaian yang meyakinkan mengenai apa yang difikirkan
oleh hewan-hewan, namun agaknya aman untuk mengatakan bahwa
manusia jauh lebih berfikir dari hewan manapun. Ia menyelenggarakan
buku harian, memakai cermin, menulis sejarah......."
William P. Tolley, dalam bukunya Preface To Philosophy A Tex
Book, mengemukakan bahwa "our question are endless,......what is a
man, what is a nature, what is a justice, what is a god ? Berbeda dengan
hewan, manusia sangat concern mengenai asal mulanya, akhirnya,
maksud dan tujuannya, makna dan hakikat kenyataan. ....Mungkin saja ia
adalah anggota marga satwa, namun ia juga adalah warga dunia idea dan
nilai ...."
Dengan menempatkan manusia sebagai hewan yang berfikir,
berintelektual dan berbudaya, maka dapat disadari kemudian bila pada
kenyataannya manusialah yang memiliki kemampuan untuk menelusuri
keadaan dirinya dan lingkungannya. Manusialah yang membiarkan
fikirannya mengembara dan akhirnya bertanya. Berfikir adalah bertanya,
bertanya adalah mencari jawaban, mencari jawaban adalah mencari
kebenaran; mencari jawaban tentang alam dan Tuhan adalah mencari
kebenaran tentang alam dan Tuhan. Dari proses tersebut lahirlah
pengetahuan, teknologi, kepercayaan (atau mungkin agama ??)

Lalu apakah kebenaran itu ? atau apakah atau keadaan yang


bagaimanakah yang dapat disebut benar ?
Sulit untuk mengatakan apakah ketiga teori tentang kebenaran
tersebut diatas adalah bertentangan atau saling melengkapi. Namun yang
pasti, seharusnya kebenaran tidaklah menjadi klaim salah satu golongan
saja. Sebagaimana Harold H. Titus mengatakan "The way of knowledge
may be many rather then one ". Proses berfikir tidak boleh berhenti pada
satu hal yang kelihatannya sudah pantas untuk diyakini, karena ketika
keyakinan akan suatu obyek mulai tumbuh, maka seiring dengan itu
proses berfikir tentang obyek tersebutpun akan berhenti. Keyakinan
adalah penjara kebebasan berfikir, dan tulisan inipun dibuat agar pembaca
terus berfikir.
Marxis, dalam sebuah penjelasannya mengungkapkan "apabila
sensasi kita, persepsi kita, konsep dan teori kita bersesuaian dengan
realitas obyektif, apabila itu semua mencerminkannya dengan cermat,
maka kita katakan semua itu benar; pernyataan, putusan dan teori yang
benar kita sebut kebenaran".

3.1.1. AGAMA

Apakah agama dapat dikatakan sebuah kebenaran ? Ataukah


agama adalah suatu bentuk terakhir yang bisa diwujudkan manusia atas
kegagalannya mendefinisikan sesuatu?
Golongan atheis menuduhkan pernyataan yang kedua bagi agama-
agama. Sementara disisi lain, kebenaran agamapun masih menjadi klaim
dan rebutan masing-masing pemeluknya. Masih sering terdengar
ungkapan kesombongan dari pemeluk suatu agama bahwa agamanya
adalah yang terbaik dan paling benar, yang ia sendiri lupa bahwa
seharusnya kebenaran tersebut hanyalah menjadi milik Tuhan yang ia
puja. Bahkan ada kesengajaan secara sistemik mengajarkan kepada
pemeluknya tentang perbedaan agama-agama. Ada yang disebut agama
langit (samawi) dan ada agama bumi. Agama samawi adalah agama yang
diwahyukan oleh Tuhan (tentu saja dengan penjelasan lebih lanjut bahwa
satu-satunya agama samawi adalah agama yang mereka anut).
Sedangkan agama bumi adalah agama yang dilahirkan oleh cita-karsa
atau kebudayaan manusia.....dan menjadi sangat memprihatinkan ketika
faham tersebut akhirnya menghegemoni pemeluknya sampai
menghilangkan sisi logika yang seharusnya menjadi ciri khas setiap
manusia. Inilah yang penulis maksud diatas, keyakianan adalah penjara
kebebasan fikiran sebagai sesuatu hal yang berbahaya.

Bila kemudian kita mencoba menoleh pada berbagai teori kebenaran


diatas, hal manakah yang bisa disebut kebenaran ? Sulit mencari
korespondensi antara pernyataan dalam ayat-ayat suci dengan fakta dan
realitas, sebab akan selalu saja ada hal yang sulit dijelaskan dengan fakta
tetapi harus diyakini, meskipun tidak selamanya demikian. Itulah salah
satu prinsip theologi yang tak bisa dihindarkan. Sementara ketika kita
mencoba menerapkan teori kebenaran konsistensi, menjadi sangat sulit
karena putusan sebelumnya akan selalu dapat diragukan/dibantah,
sehingga tidak dapat menjadi acuan yang cukup untuk membuahkan
putusan-putusan baru. Putusan-putusan sebelumnya juga berupa konsep
theologi.
Mungkin yang paling menarik adalah teori pragmatis. Kelihatannya
dengan teori yang cukup radikal ini (berani membuang fakta, realitas dan
putusan sebelumnya) kita dapat menemukan sesuatu yang sedikit
memuaskan (satisfies); "Suatu preposisi adalah benar sepanjang
preposisi tersebut berlaku (works), atau memuaskan (satisfied); berlaku
dan memuaskannya itu diuraikan dengan berbagai ragam oleh para
penganut teori tersebut " Pertanyaannya sekarang, apakah kita merasa
agama yang kita anut berguna atau memuaskan buat kita? (tentu saja
penilaian ini menjadi sangat subjektif). Bila jawabannya ya, maka agama
tersebut adalah sebuah kebenaran, namun sebaliknya jika jawabannya
tidak, maka agama yang kita anut bukanlah kebenaran. Nah ....!
Kedengarannya sebuah pernyataan yang terlalu prematur dan
mengada-ada. Namun sekali lagi, tulisan ini hanya dibuat dengan asumsi
bahwa yang membacanya pastilah manusia, yang menurut uraian
berbagai ahli dibagian awal tulisan ini disebut sebagai mahluk yang selalu
berfikir, bertanya dan berusaha untuk mencari kebenaran. Termasuk
mencari makna benar dari kebenaran itu sendiri. Apakah kita sudah
menyadari hakikat diri kita sendiri, kerendah-hatian ataupun kesombongan
kita ? Maka teruslah berfikir, tanpa harus menghilangkan keyakinan-
keyakinan yang sudah ada. Hanya berfikir jernih terhadap sesuatu yang
telah diyakini bukanlah sesuatu yang tabu apalagi dosa. Semoga kita
masih menjadi manusia yang tak segan untuk berfikir dan bertanya.
Manusia hanya berhak berteori dan berusaha mencari, tapi sesungguhnya
apakah, dimanakah dan milik siapakah kebenaran tersebut?
Mazhab Positivisme mendapatkan kritikan dan sanggahan yang
berat dari pendukung-pendukungnya sendiri, seperti Wittgenstein dan
Poper, dibawah ini akan diungkapkan sebagian dari kritikan-kritikan
mereka: Teori evolusi dan tiga tahapan dari Agust Comte sama sekali tidak
memiliki bukti sejarah yang otentik dan argumen keilmuan yang akurat,
landasan ketidakbenaran teori tersebut adalah karena menghubungkan
tahapan-tahapan sejarah dari sistem masyarakat Eropa pada zaman itu
dan kemudian menggeneralisasikan pada seluruh tahapan sejarah dunia.
Di samping itu, dalam filsafat ilmu kontemporer para ilmuwan telah
membahas dan mengkaji tentang kebutuhan ilmu terhadap filsafat dan
pengaruh metafisika terhadap teori-teori ilmu.
Demikian pula asas Positivisme tentang tolok ukur kebenaran
proposisi yang menetapkan bahwa proposisi hanya memiliki makna
(kebenaran) apabila dapat dieksperimenkan dan diobservasi. Dan
proposisi-proposisi yang non-empiris dikatakan tidak bermakna
sebenarnya tidak berangkat dari asas analisis dan tautologi (kebenaran
tampak dari dirinya sendiri) dan juga bukan berdasarkan sintetis yang
dapat dibuktikan dengan penyaksian dan eksperimen. Kaum Positivisme
memandang bahwa seluruh proposisi-proposisi metafisika tidak
bermakna; padahal sebagian dari proposisi tersebut bersifat analitik,
seperti: setiap akibat membutuhkan sebab; sedangkan menurut mereka
proposisi-proposisi analitik adalah bermakna. Menurut mazhab ini, secara
prinsipil proposisi-proposisi agama tidak sampai pada tahapan yang benar
dan bohong, oleh karena itu, penegasian benar dan bohong dari
pendukung mazhab ini yang dinisbahkan terhadap proposisi-proposisi
agama adalah tidak bermakna. Kritikan kita yang paling mendasar
terhadap Positivisme adalah menyangkut masalah-masalah yang prinsipil
dan berasas. Di samping kita mengakui kebenaran metode empiris juga
memandang sah metode logikal dan rasional dalam meraih makrifat. Kita
memandang benar semua metode logikal, rasional, syuhudi, naqli (teks
suci) dan sejarah. Setelah kami menampilkan dua bentuk pendekatan dan
teori terhadap bahasa agama yang terdapat dalam teologi dan filsafat
Kristen dan Barat, untuk tidak larut dalam pembahasan yang
berkepanjangan, maka kami cukupkan pengenalan terhadapnya dengan
menggunakan dua pendekatan dan teori tersebut. Kendatipun pada
hakikatnya pembahasan bahasa agama yang ada pada teologi dan filsafat
Kristen dan Barat ini adalah jauh lebih luas serta sangat kompleks (masih
terdapat berbagai aliran dan pandangan, seperti teori analitik bahasa, teori
simbolik, teori permainan bahasa (language game) dan?), bahkan boleh
dikatakan bahwa hingga sekarang ini, pembahasan tersebut belum tuntas
dan masih belum ditemukan pemecahannya yang akurat yang bebas dari
berbagai kelemahan dan kritikan. Adapun dalam teologi dan filsafat Islam
meskipun pembahasan ini tidak begitu luas dan tidak terdapat berbagai
aliran dan pandangan, akan tetapi berkat kemurnian dan keorisinalan
ajaran Islam (kitab suci al-Qur'an) serta ilham dan petunjuk yang
didapatkan oleh para teolog dan filosof Islam dari kitab suci tersebut
sehingga menyebabkan pandangan dan pemikiran mereka dalam
masalah ini mengarah pada kesatuan dan keselarasan universal
(misalnya mereka berpandangan bahwa proposisi-proposisi agama
adalah bermakna), walaupun masih terdapat perbedaan secara partikular,
misalnya perdebatan tentang sifat-sifat Tuhan dan sifat-sifat makhluk-Nya
apakah bersifat homonim atau univokal.
Tokoh-tokoh yang menganut paham positivisme logis ini antara lain
Moritz Schlick, Rudolf Carnap, Otto Neurath, dan A.J. Ayer. Karl Popper,
meski awalnya tergabung dalam kelompok Lingkaran Wina, adalah salah
satu kritikus utama terhadap pendekatan neo-positivis ini.
3.2. ASAL DAN GAGASAN POSITIVISME LOGIS

Secara umum, para penganut paham positivisme memiliki minat


kuat terhadap sains dan mempunyai sikap skeptis terhadap ilmu agama
dan hal-hal yang berbau metafisika. Mereka meyakini bahwa semua ilmu
pengetahuan haruslah berdasarkan inferensi logis yang berdasarkan fakta
yang jelas. Sehingga, penganut paham ini mendukung teori-teori paham
realisme, materialisme naturalisme filsafat dan empirisme.
Salah satu teori Positivisme Logis yang paling dikenal antara lain
teori tentang makna yang dapat dibuktikan, yang menyatakan bahwa
sebuah pernyataan dapat disebut sebagai bermakna jika dan hanya jika
pernyataan tersebut dapat diverifikasi secara empiris. Konsekuensi dari
pendapat ini adalah, semua bentuk diskursus yang tidak dapat dibuktikan
secara empiris, termasuk di antaranya adalah etika dan masalah
keindahan, tidak memiliki makna apa-apa, sehingga tergolong ke dalam
bidang metafisika.

3.2.1. KRITIK

Para pengkritik Positivisme Logis berpendapat bahwa landasan


dasar yang digunakan oleh Positivisme Logis sendiri tidak dinyatakan
dalam bentuk yang konsisten. Misalnya, prinsip tentang teori tentang
makna yang dapat dibuktikan seperti yang dinyatakan di atas itu sendiri
tidak dapat dibuktikan secara empiris. Masalah lain yang muncul adalah
dalam hal pembuktian teori. Masalah yang dinyatakan dalam bentuk
eksistensi positif (misalnya: ada burung berwarna hitam) atau dalam
bentuk universal negatif (misalnya: tidak semua burung berwarna hitam)
mungkin akan mudah dibuktikan kebenarannya, namun masalah yang
dinyatakan sebaliknya, yaitu dalam bentuk eksistensi negatif (misalnya:
tidak ada burung yang berwarna hitam) atau universal positif (misalnya:
semua burung berwarna hitam) akan sulit atau bahkan tidak mungkin
dibuktikan.
Karl Popper, salah satu kritikus Positivisme Logis yang terkenal,
menulis buku berjudul Logik der Forschung (Logika Penemuan Ilmiah)
pada tahun 1934. Di buku ini dia menyajikan alternatif dari teori syarat
pembuktian makna, yaitu dengan membuat pernyataan ilmiah dalam
bentuk yang dapat dipersangkalkan (falsifiability). Pertama, topik yang
dibahas Popper bukanlah tentang membedakan antara pernyataan yang
bermakna dan yang tidak, namun untuk membedakan antara pernyataan
yang ilmiah dari pernyataan yang bersifat metafisik. Menurutnya,
pernyataan metafisik tidaklah harus tidak bermakna apa-apa, dan sebuah
pernyataan yang bersifat metafisik pada satu masa, karena pada saat
tersebut belum ditemukan metode penyangkalannya, belum tentu akan
selamanya bersifat metafisik. Sebagai contoh, psikoanalisis pada jaman
itu tidak memiliki metode penyangkalannya, sehingga tidak dapat
digolongkan sebagai ilmiah, namun jika suatu saat nanti berkembang
menjadi sesuatu yang dapat dibuktikan melalui penyangkalan, maka akan
dapat digolongkan sebagai ilmiah.

3.3. POSITIVISME DI DALAM ILMU PENGETAHUAN

Buku Mikhael Dua ini tampaknya lebih mau menanggapi isu


pertama, yakni suatu refleksi terhadap logika internal ilmu pengetahuan.
Oleh karena itu, seluruh buku ini bisa dilihat sebagai pembongkaran
internal analitis terhadap paradigma posivitisme yang, terutama di
Indonesia, tampaknya masih melekat di dalam asumsi dasar para ilmuwan
kita.
Apa itu positivisme? Di dalam filsafat, positivisme sangatlah dekat
dengan empirisme, yakni paham yang berpendapat bahwa sumber utama
pengetahuan manusia adalah pengalaman inderawi. Artinya, manusia
tidak bisa mengetahui sesuatu apapun, jika ia tidak mengalaminya terlebih
dahulu secara inderawi.
Yang menjadi ciri khas dari positivisme adalah, peran penting
metodologi di dalam mencapai pengetahuan. Di dalam positivisme, valid
tidaknya suatu pengetahuan dilihat dari validitas metodenya.
Dengan demikian, pengetahuan manusia, dan juga mungkin
kebenaran itu sendiri, diganti posisinya oleh metodologi yang berbasiskan
data yang juga diklaim obyektif murni dan universal. Dan, satu-satunya
metodologi yang diakui oleh para pemikir positivisme adalah metode ilmu-
ilmu alam yang mengklaim mampu mencapai obyektifitas murni dan
bersifat universal. Metode-metode lain di luar metode ilmu-ilmu alam ini
pun dianggap tidak memadai.

3.3.1. KRITIK TERHADAP POSITIVISME

Yang juga dikritik oleh Mikhael Dua adalah suatu aliran filsafat yang
disebut sebagai positivisme logis, atau juga disebut sebagai positivisme
modern, yakni suatu aliran pemikiran yang berpendapat bahwa “tugas
utama filsafat adalah berpikir secara positivistis dan memandang tugasnya
untuk membangun suatu analisis logis atas pernyataan-pernyataan ilmu
pengetahuan empiris” (hal. 31).
Di dalam seluruh pemaparannya, Mikhael Dua tampak selalu
‘bertegangan’ dengan paradigma positivisme ini, baik secara jelas maupun
secara implisit. Dengan menggunakan berbagai teori di dalam filsafat ilmu
pengetahuan yang telah dikembangkan para pemikir, seperti Karl Popper
dengan teori falsifikasinya (hal. 51-80), Hempel (hal. 83-105), Thomas
Kuhn (hal. 109-137), dan beberapa pemikir lainnya, Mikhael Dua tampak
menabuh genderang perang terhadap positivisme!
Lalu, apa implikasi dari refleksi ini bagi kehidupan manusia secara
keseluruhan? Setidaknya, ada dua. Yang pertama, kritik terhadap
positivisme logis maupun positivisme klasik hendak menyelamatkan
manusia dari reduksi pengetahuan tentang dunianya ke dalam data-data
empiris dan analisis-analisis logis semata, sekaligus memberi ruang untuk
pengetahuan yang secara dialektis mampu mencakup keseluruhan (hal.
226).
Yang kedua, refleksi yang dilakukan Mikhael Dua ini juga dapat
membantu kita untuk menempatkan kembali ilmu pengetahuan di dalam
totalitas kehidupan manusia yang pada hakekatnya bersifat dialektis.
“Tidak ada sebuah teori”, demikian tulisnya, “yang berdiri sendiri tanpa
dilihat dalam kerangka dialektis tersebut… dengan teori-teori yang lain.”
(hal. 240)
Bagaimanapun, ilmu pengetahuan adalah bagian dari totalitas
kehidupan manusia, dan oleh karenanya juga tidak luput dari cacat-cacat
yang pada akhirnya bisa menghancurkan manusia itu sendiri. Refleksi
metodologis terhadap ilmu pengetahuan sangatlah perlu, sehingga kita
bisa secara kritis menanggapi berbagai isu –isu yang tentang ilmu
pengetahuan yang ada di dalam kehidupan bermasyarakat, mulai dari
validitas suatu teori ilmiah, sampai dampak ilmu pengetahuan bagi
totalitas kehidupan manusia
BAB IV

KESIMPULAN

Kebenaran menurut pandangan positivisme adalah dikatakan benar


apabila sesuai kenyataan, dan ada fakta pendukungnya serta bersifat
empirisme. Didalam filsafat, positivisme sangatlah dekat dengan
empirisme, yakni paham yang berpendapat bahwa sumber utama
pengetahuan manusia adalah pengalaman inderawi. Artinya, manusia
tidak bisa mengetahui sesuatu apapun, jika ia tidak mengalaminya terlebih
dahulu secara inderawi.
Secara umum, para penganut paham positivisme memiliki minat
kuat terhadap sains dan mempunyai sikap skeptis terhadap ilmu agama
dan hal-hal yang berbau metafisika. Mereka meyakini bahwa semua ilmu
pengetahuan haruslah berdasarkan inferensi logis yang berdasarkan fakta
yang jelas. Sehingga, penganut paham ini mendukung teori-teori paham
realisme, materialisme naturalisme filsafat dan empirisme.
DAFTAR PUSTAKA

Suriasumantri, Junjun S. 2003. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, Jakarta:


Pustaka Sinar Harapan

http//www.wikipedia.com 2008

http//www.google.co.id 2008