Anda di halaman 1dari 3

Motivasi dari sebuah gerakan sosial seringkali dilatar belakangi oleh adanya ketidakpuasan, ketidakpercayaan dari suatu kondisi

dimana adanya dominasi sistem yang mengikat, tetapi mengabaikan aspirasi pengikutnya atau masyarakat. Kondisi tersebut bisa berupa keadaan abnormalitas di masyarakat seperti misalnya ketimpangan sosial disebabkan indikasi penyimpangan dari aturan, norma maupun kepatutan yang pada akhirnya menimbulkan sebuah konflik. Di sinilah titik awal tersulutnya sebuah gerakan yang menghendaki adanya perubahan kembali menjadi normal. Adanya praktek ketidakadilan sering melatar belakangi motivasi gerakan sosial. Dilihat dalam konteks birokrasi pemerintahan, yang terjadi adalah berbagai penyimpangan di dalam birokrasi, bisa meliputi kebijakan birokrat, penyimpangan aturan-aturan yang mengikat, terjadinya kemunduran moral penyelenggara birokrasi, sehingga sudah tidak sesuai visi, misi dan tujuan penyelenggaraan birokrasi itu sendiri. Apalagi seringkali ketika kita melihat konteks birokrasi, dapat kita jumpai dikotomi antara penguasa dengan yang dikuasai, atasan dengan bawahan, pemimpin dengan pengikut, yang memerintah dengan yang diperintah, penguasa dengan rakyat, dimana setiap pihak tentu memiliki kepentingan dan tujuan sendiri-sendiri, yang kadang-kadang memicu konflik ketika terjadi benturan kepentingan. Di sinilah awal terjadinya motif sebuah gerakan di masyarakat, ataupun dalam konteks birokrasi pemerintahan yang tujuannya adalah memperjuangkan hak-haknya yang dirampas atas dominasi kekuasaan yang tidak apresiatif terhadap aspirasi masyarakat. Sebagai akibat dari birokrasi yang tidak profesional, banyak berbagai penyimpangan yang sering kita jumpai akhir-akhir ini, misalnya saja banyaknya kepala daerah, kepala dinas, aparat pemerintah dan oknum-oknum birokrasi lainnya yang terjerat kasus korupsi. Kasus-kasus semacam ini dapat kita lihat dari beberapa hal misalnya : pertama, tidak tegaknya aturan-perundangundangan, artinya pada tataran pelaksanaan banyak terjadi pembiasan, sehingga tidak sesuai dengan visi, misi dan tujuan sebenarnya aturan itu dibuat. Kedua, pertarungan kepentingan sebagai akibat sebuah sistem yang sudah tidak benar dan sehat lagi, sehingga banyak yang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya. Ketiga, sebagai indikasi akibat sistem yang sakit, virus menularnya adalah indikasi merosotnya moral para birokrat yang mempunyai kebijakan terutama yang berada pada posisi atas atau pimpinan, di mana moralnya masih patut dipertanyakan, misalnya saja tidak malu untuk korupsi secara terang-terangan. Dari contoh kasus tersebut, dapat diindikasikan bahwa kebobrokan berbagai sendi di dalam birokrasi melatar belakangi timbulnya gerakan dari berbagai elemen masyarakat maupun birokrat yang salah satunya adalah Gerakan Guru Pro Reformasi. Di mana semangatnya kembali melakukan penataan birokrasi dan sistemnya secara benar sesuai yang diharapkan banyak pihak dan menguntungkan semua pihak.

Jadi penulis ingin menekankan dalam konsepsi gerakan sosial bahwa tidak jarang sebuah gerakan menjadi kontradiktif semangatnya ketika gerakan itu dalam perjalanannya a social/a political politic. Tidak punya komitmen lagi terhadap perjuangan politiknya yang bersumber dari rasa nurani politiknya (idealisme) yang memperjuangan kebenaran dan keadilan di tengah-tengah masyarakat yang sekarang semakin sulit didapatkan. Saya kira banyak gerakan-gerakan semacam ini di berbagai latar belakang sosial/politik/birokrasi yang mempunyai tipologi semacam itu. Hanya mungkin belum diketahui oleh publik secara transparan karena belum ada yang melempar bola panas di tengahtengah kekritisan pemikiran masyarakat dewasa ini.Bagaimana tidak, sekarang politik sudah menjadi milik semua masyarakat, semua golongan, semua level, tidak pandang bulu.

Tujuan Gerakan Sosial/Politik Pada dasarnya tujuan dari sebuah gerakan sosial (politik) adalah adanya perubahan (sosial) ke arah yang lebih baik, mengharapkan situasi kondisi yang normal. Tidak adanya penyimpangan di berbagai lapangan aspek. Perlu digaris bawahi, bahwa ketidak adilan sosial muncul dari berbagai sebab, bisa karena faktor ekonomi, tetapi yang lebih fatal adalah adanya kebijakan yang tidak efektif dan strategis dari sebuah elit pembuat kebijakan (di birokrasi) yang tentu dampaknya akan dirasakan oleh masyarakat luas. Di dalam dunia pendidikan misalnya, ketika kebijakan ini tidak strategis dan efektif, maka sudah pasti yang menanggung akibatnya adalah civitas akademika ( dari mulai lembaganya, pengajar dan siswanya). Hal ini sebagai akibat dari paradigma abad modern yang bersikap agresif dan eksploitatif yang tidak hanya mengejar profit dan akumulasi modal dengan mantra efisiensi dan persaingan bebas, tetapi ada juga faktor urgen perebutan pengaruh elit intelektual internal di institusi pendidikan itu sendiri. Dalam perspektif religiusitas, ketidak adilan (inequality) disebabkan oleh rendahnya moral agama, lemahnya keimanan berakibat tidak mempunyai akhlak yang baik ( akhlakul karimah ). Kita lihat, bisa dibayangkan bagaimana akibatnya bila seorang pemimpin tidak mempunyai akhlak yang baik, tentu ketidak adilan dan kedholiman menyebar ke mana- mana bagai jamur yang tumbuh dimusim hujan.Fenomena ini bisa di lihat : jauhnya jarak moralitas dan politik sebagai kultur politik yang rendah saat ini, mental pejabat yang korup, tidak mementingkan kepentingan umum tetapi lebih kepada kepentingan diri, keluarga, kroni- kroninya yang akibatnya akan fatal. Kalau maling sandal, paling yang dirugikan satu orang saja. Tapi kalau koruptor, masyarakat, rakyat menanggung akibatnya. Juga moral diabaikan. Padahal moral ini kuncinya ketidak adilan merajalela. Kita lihat, teori konspirasi sangat terkenal di negeri ini. Ini adalah persoalan moral. Kalau sebuah bangsa moralnya telah menjadi busuk, jangan harap keadilan akan muncul. Oleh karena itu Nabi saw. telah

berpesan, Bangsa yang besar adalah bangsa yang baik akhlaknya. Nabi sendiri menjadi teladannya. Bukan sekedar telatan, Bangsa yang menghargai jasa para Pahlawannya .