Anda di halaman 1dari 15

Laporan Skill Lab Family Folder Blok 26

Rudy Hermawan Cokro Handoyo 102010097-C5 Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana Jalan Terusan Arjuna Utara no. 6, Jakarta 11510 Email: Rudy_hermawan0492@yahoo.co.id

Pendahuluan Kamis, 11 Juli 2013, saya berserta kelompok Family Folder 21 diberi tugas melakukan kunjungan rumah pasien Puskesmas Jelambar Baru Jakarta Barat didampingi dosen pembimbing kami Dr. Mirawaty. Family Folder merupakan dokumen lengkap suatu keluarga terutama dalam hubungannya dengan derajat kesehatan. Derajat kesehatan dipengaruhi oleh empat faktor utama menurut Blum, keempat faktor tersebut adalah genetik, pelayanan kesehatan, perilaku manusia, dan lingkungan. a) Factor genetik: Paling kecil pengaruhnya terhadap kesehatan perorangan atau masyarakat dibanding ketiga faktor yang lainnya. b) Faktor pelayanan kesehatan: Ketersediaan sarana pelayanan kesehatan, tenaga kesehatan, pelayanan kesehatan yang berkualitas akan berpengaruh pada derajat kesehatan masyarakat. c) faktor perilaku: di negara berkembang faktor ini paling besar pengaruhnya terhadap gangguan kesehatan atau masalah kesehatan masyarakat. Perilaku individu / kelompok masyarakat yang kurang sehat juga akan berpengaruh pada faktor lingkungan yang memudahkan timbulnya suatu penyakit. d) faktor lingkungan: lingkungan yang terkendali akibat sikap hidup dan perilaku masyarakat yang baik akan menekan berkembangnya masalah kesehatan. Makalah ini dibuat dengan tujuan mengkaji dan membahas penyakit infeksi saluran pernapasan akut pada masyarakat dan kaedah tatalaksana terhadap penyakit tersebut dengan berbasiskan pendekatan kedokteran keluarga. Kedokteran keluarga adalah dokter praktek umum yang dalam prakteknya melayani pasien menerapkan prinsip-prinsip kedokteran keluarga. Kompetensi dokter keluarga tercermin dalam profile the five stars doctor. Pelayanan kedokteran yang menerapkan prinsip-prinsip kedokteran keluarga meliputi: komprehensif (pelayanan kedokteran yang menyeluruh/integral yaitu meliputi usaha promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif) dengan mengutamakan pencegahan, kontinyu (dalam proses dan waktu), kolaboratif dan koordinatif dengan pasien dalam menentukan keputusan untuk kepentingan pasien, berdasarkan evidence based medicine misalnya dengan cara mengikuti seminar/pendidikan kedokteran berkelanjutan. Pasien yang dilayani adalah peribadi/perorangan seutuhnya (bio-psiko1

sosial) yang unik (berbeda satu dengan lainnya) serta harus dipandang sebagai satu kesatuan dengan keluarganya dalam segala aspek (keturunan, ideology, politik, ekonomi, social, budaya, agama, keamanan dan lingkungannya). Pelayanan dokter keluarga menunjang setiap orang sadar, mau dan mampu hidup sehat dalam arti sejahtera jasmani, rohani dan sosial yang memungkinkan setiap orang bekerja produktif secara sosial dan ekonomi (UU no. 23/92 tentang kesehatan). Seorang dokter berkompetensi dengan profil yang direkomendasikan WHO yaitu five stars doctor yang dijabarkan sebagai berikut: Health provider: Memberikan pelayanan kesehatan dengan memperhatikan pasien sebagai manusia yang utuh (holistic) baik individu, maupun sebagai bagian integral keluarga dan masyarakat, layanan berkualitas, menyeluruh, berkesinambungan dan layanan secara perseorangan jangka panjang dan hubungan saling percaya. Decision maker: Mampu membuat keputusan secara ilmiah berkaitan dengan pemeriksaan, pengobatan, dan penggunaan teknologi tepat guna sesuai dengan harapan pasien, etis, pertimbangan cost effective dan adanya kemungkinan layanan yang terbaik. Communicator: Mampu menjelaskan dan memberikan nasehat untuk berperilaku sehat dengan cara yang efektif sehingga kelompok atau individu dapat meningkatkan dan melindungi kesehatan mereka. Community leader: Sebagai orang yang dipercaya oleh masyarakat ditempat bekerjanya, dan dapat mempersatukan kebutuhan-kebutuhan akan kesehatan baik pada perseorangan maupun kelompok, melakukan sesuatu dengan mengatasnamakan masyarakat. Manager: Dapat bekerja sacara harmonis dengan individu dan organisasi baik di dalam maupun diluar system kesehatan untuk mempertemukan kebutuhan pasien secara individu dan masyarakat, menggunakan data-data kesehatan secara tepat. Prinsip pokok dari dokter keluarga adalah untuk dapat menyelenggarakan pelayanan kedokteran menyeluruh. Oleh karena itu perlu diketahui berbagai latar belakang pasien yang menjadi tanggungannya. Untuk dapat mewujudkan pelayanan kesehatan seperti itu diperlukan adanya kunjungan rumah (home visit). Manfaat yang didapatkan dari kunjungan ke rumah pasien antara lain: 1. Meningkatkan pemahaman dokter tentang pasien 2. Meningkatkan hubungan dokter pasien 3. Menjamin terpenuhinya kebutuhan dan tuntutan kesehatan pasien Manfaat kunjungan ke puskesmas dan bertemu sendiri dengan pasien adalah agar mahasiswa dapat menerapkan atau mengaplikasikan sendiri praktek pendekatan kedokteran keluarga.

Latar Belakang Masalah Secara klinis Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) adalah suatu tanda dan gejala akut akibat infeksi yang terjadi di setiap bagian saluran pernafasan dan berlangsung tidak lebih dari 14 hari. Adapun yang termasuk ISPA adalah influenza, faringitis, bronkhitis akut, brokhiolitis, dan pneumonia. Infeksi Saluran Pernapsan Akut masih merupakan masalah kesehatan yang penting karena menyebabkan kematian bayi dan balita yang cukup tinggi yaitu kira-kira 1 dari 4 kematian yang terjadi. Setiap anak diperkirakan mengalami 3-6 episode ISPA setiap tahunnya. Dari seluruh kematian yang disebabkan oleh ISPA mencakup 20 % -30 %. Kematian yang terbesar umumnya adalah karena pneumonia dan pada bayi berumur kurang dari 2 bulan. Hingga saat ini angka mortalitas ISPA yang berat masih sangat tinggi. Kematian seringkali disebabkan karena penderita datang untuk berobat dalam keadaan berat dan sering disertai penyulit-penyulit dan kurang gizi. Metode yang dipakai untuk meninjau kasus ISPA ini adalah dengan observasi kerumah-rumah pasien yang terdaftar dalam data Puskesmas Jelambar baru Jakarta barat. Definisi Infeksi Saluran Pernapasan Akut ISPA merupakan singkatan dari infeksi saluran pernafasan akut, istilah ini diadaptasi dari istilah dalam bahasa Inggris Acute Respiratory Infections (ARI). Infeksi akut adalah infeksi yang berlangsung sampai dengan 14 hari. Batas 14 hari diambil untuk menunjukkan proses akut meskipun untuk beberapa penyakit yang dapat digolongkan ke dalam ISPA proses ini berlangsung lebih dari 14 hari. ISPA terbagi menjadi dua, yaitu infeksi saluran pernafasan atas dan infeksi saluran pernafasan bawah. Infeksi saluran pernafasan atas adalah suatu istilah yang digunakan untuk menyatakan suatu penyakit yang sering terjadi di saluran pernafasan atas, nasal mucosa oropharynx. Penyakit ini juga biasa disebut pilek, acute rhinitis, acute nasopharyngitis, acute rhinosinusitis.1 Klasifikasi ISPA Klasifikasi ISPA dapat dikelompokkan berdasarkan golongannya dan golongannya umur yaitu : a. Menurut Anonim (2008) ISPA berdasarkan golongannya : 1) Pneumonia yaitu proses infeksi akut yang mengenai jaringan paruparu (alveoli). 2) Bukan pneumonia meliputi batuk pilek biasa (common cold), radang tenggorokan (pharyngitis), tonsilitis dan infeksi telinga (otitis media). b. Menurut Khaidirmuhaj (2008), ISPA dapat dikelompokkan berdasarkan golongan umur yaitu: 1) Untuk anak usia 2-59 bulan :

a) Bukan pneumonia bila frekuensi pernafasan kurang dari 50 kali permenit untuk usia 2-11 bulan dan kurang dari 40 kali permenit untuk usia 12-59 bulan, serta tidak ada tarikan pada dinding dada. b) Pneumonia yaitu ditandai dengan nafas cepat (frekuensi pernafasan sama atau lebih dari 50 kali permenit untuk usia 2-11 bulan dan frekuensi pernafasan sama atau lebih dari 40 kali permenit untuk usia 12-59 bulan), serta tidak ada tarikan pada dinding dada. c) Pneumonia berat yaitu adanya batuk dan nafas cepat (fastbreathing) dan tarikan dinding pada bagian bawah ke arah dalam (servere chest indrawing). 2) Untuk anak usia kurang dari dua bulan : a) Bukan pneumonia yaitu frekuensi pernafasan kurang dari 60 kali permenit dan tidak ada tarikan dinding dada. b) Pneumonia berat yaitu frekuensi pernafasan sama atau lebih dari 60 kali permenit (fast breathing) atau adanya tarikan dinding dada tanpa nafas cepat. Pneumonia merupakan infeksi di ujung bronkhiol dan alveoli yang dapat disebabkan oleh berbagai patogen seperti bakteri, jamur, virus dan parasit. Pneumonia menjadi penyebab kematian tertinggi pada balita dan bayi serta menjadi penyebab penyakit umum terbanyak.Tanda serta gejala yang lazim dijumpai pada pneumonia adalah demam, tachypnea, takikardia, batuk yang produktif, serta perubahan sputum baik dari jumlah maupun karakteristiknya. Selain itu pasien akan merasa nyeri dada seperti ditusuk pisau, inspirasi yang tertinggal pada pengamatan naikturunnya dada sebelah kanan pada saat bernafas. Mikroorganisme penyebab pneumonia meliputi: bakteri, virus, mycoplasma, chlamydia dan jamur. Pneumonia karena virus banyak dijumpai pada pasien immunocompromised, bayi dan anak. Virus-virus yang menginfeksi adalah virus saluran napas seperti RSV, Influenza type A, parainfluenza, adenovirus. Etiologi Infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) merupakan kelompok penyakit yamg komplek dan heterogen, yang disebabkan oleh berbagai etiologi. Etiologi ISPA terdiri dari 300 lebih jenis virus, bakteri, dan riketsia. Virus penyebab ISPA antar lain golongan Miksovirus (termasuk di dalamnya virus influensa, virus para-influensa), Adenovirus, Koronavirus, Pikornavirus, Mikoplasma, Herpesvirus. Bakteri penyebab ISPA antara lain Streptococcus hemoliticus, Staphylococcus, Pneumococcus, Hemofilus influenza, Bordetella pertusis, dan Corynebacterium diffteria. Ricketsia penyebab ISPA adalah Koksiela burnetti. Jamur penyebab ISPA adalah Kokiodoides imitis, Histoplasma kapsulatum, Blastomises dermatidis, Aspergillus fikomycetes. Etiologi dari sebagian besar penyakit jalan napas bagian atas ini ialah virus dan tidak dibutuhkan terapi
4

antibiotik. Faringitis oleh kuman Streptococcus jarang ditemukan pada balita. Bila ditemukan harus diobati dengan antibiotik penisilin, semua radang telinga akut harus mendapat antibiotik. Penularan Salah satu penularan ISPA adalah melalui udara yang tercemar dan masuk ke dalam tubuh melalui saluran pernapasan. selain itu ISPA dapat juga terjadi karena transmisi organisme melalui AC (air conditioner). Adanya bibit penyakit di udara umumnya berbentuk aerosol yakni suatu suspensi yang melayang di udara. Penyebaran infeksi melalui aerosol dapat terjadi pada waktu batuk dan bersin-bersin. Penularan dapat juga melalui kontak langsung/ tidak langsung dari benda yang telah tercemari jasad renik ( hand to hand transmition ), dan melalui droplet yang dapat menjadi jalan masuk bagi virus. Penularan faringitis terjadi melalui droplet, kuman menginfiltrasi lapisan epitel, jika epitel terkikis maka jaringan limfoid superficial bereaksi sehingga terjadi pembendungan radang dengan infiltrasi leukosit polimorfonuklear. Pada sinusitis, saat terjadi ISPA melalui virus, hidung akan mengeluarkan ingus yang dapat menghasilkan superinfeksi bakteri, sehingga dapat menyebabkan bakteri-bakteri patogen masuk ke dalam rongga-rongga sinus.1 Pembahasan Identitas Pasien: Nama : Ibu Mubariyah Umur : 45 tahun Jenis kelamin : Perempuan Pekerjaan Pendidikan : Penjahit Pita : SD (Tamat)

Alamat : Jelambar Ilir RT 12/RW10 Telepon Puskesmas :: Jelambar Baru

No. Registrasi : 1264/93 Ibu Mubariyah (45 tahun) datang ke Puskesmas Jelambar Baru pada tanggal 11 Juli 2013 dengan keluhan badan panas dingin, batuk, pusing sejak 1 hari sebelumnya. Anamnesis: (Auto-anamnesis) 1. Identitas pasien 2. Keluhan utama: Badan demam sejak 1 hari sebelumnya 3. Riwayat penyakit sekarang Demam disertai menggigil, sifat demam terus menerus sepanjang hari. Pasien sudah mengkonsumsi panadol sebelum datang ke puskesmas dan panasnya sempat turun, namun
5

kemudian demam kembali. Faktor pencetus demam seperti kehujanan disangkal pasien, pasien mengatakan hanya kelelahan beberapa hari sebelum sakit. Keluhan penyerta lain yang dirasakan pasien: Pasien batuk, Batuknya tidak berdahak, disertai kepala pusing. Keluhan nyeri saat menelan, terasa lendir di tenggorok, dan hidung tersumbat disangkal pasien. Pasien belum pernah melakukan operasi amandel. Sesak napas pun disangkal pasien. 4. Riwayat penyakit dahulu Pasien mengatakan bahwa 1 tahun yang lalu menderita Flek paru-paru. Diberi 4 jenis obat yang dikonsumsi selama 4 bulan. Namun pasien belum memeriksakan kembali perkembangannya sampai saat ini. Pasien mengatakan tidak pernah dirawat di rumah sakit sebelumnya. Sakit yang diderita pasien biasanya hanya Batuk, pilek, demam, pusing saja. Riwayat Biologis Keluarga: a. Keadaan kesehatan sekarang: Baik Pasien dapat dikatakan baik karena pasien dapat bercakap cakap dengan baik dan kesadaran serta daya ingatnya baik. Pasien tidak terlihat kesakitan, terlihat sedikit lemas. Anggota keluarga lain pun tidak menderita penyakit. b. Kebersihan perorangan: Baik Kebersihan pasien dapat dikatakan baik karena yang terlihat dari hygiene rambut, tangan dan kaki tampak bersih. Gigi geligi dan pakaian yang digunakan pun tampak bersih. Begitupun kebersihan anggota keluarga lainnya. c. Penyakit yang sering diderita : Batuk, pilek, demam. d. Penyakit keturunan e. Penyakit kronis / menular : Tidak ada : Tidak ada

Di keluarga pasien tidak ditemukan adanya penyakit kronis / menular seperti tuberkulosis dan lepra. f. Kecacatan anggota keluarga : Tidak ada Dalam keluarga pasien tidak ada yang menderita cacat fisik dan mental. g. Pola makan : Baik Pola makan pasien dapat dikatakan baik karena dari yang terlihat dari pola makan sehari hari teratur yaitu 3 kali sehari dan pada jam jam makan. asupan gizi makan keluarga baik yakni tersedia nasi, sayur, dan lauk. h. Pola istirahat : Baik

Pola istirahat pasien dikatakan baik karena pasien tidur cukup. i. Jumlah anggota keluarga : 5 orang
6

Di dalam rumah pasien ada 5 orang, yaitu M. Nasir (suami), Mubariyah (Pasien), Nurhayati (putri 1), Nuraisi (putri 2), dan Safitri (putri 3). Psikologis Keluarga: a. Kebiasaan buruk : tidak ada

Pasien tidak merokok, di keluarga pun tidak ada yang merokok. Kebiasaan cuci tangan sebelum memasak, sebelum makan, setelah buang air rutin dilakukan. b. Pengambilan keputusan : Bersama-sama

c. Ketergantungan obat : Tidak ada d. Tempat mencari pelayanan kesehatan : Puskesmas Jelambar Baru e. Pola rekreasi : Kurang

Keterbatasan dana membuat keluarga pasien hanya 1 kali dalam setahun pergi rekreasi bersama. Keadaan Rumah / Lingkungan: a. Jenis bangunan b. Lantai rumah c. Luas rumah d. Penerangan : Permanen : Keramik : 5 x 3 m2 : Kurang

Karena rumah pasien tidak memiliki ventilasi yang cukup, dan letak kontrakannya yang masuk ke gang kecil tidak memungkinakan mendapat penyinaran matahari yang cukup. Dan dirumah pasien penerangan hanya dari sebuah lampu saja. e. Kebersihan : Kurang

Tampak banyak sampah-sampah tergeletak di lantai. f. Ventilasi : Kurang

Ventilasi untuk keluar masuk cahaya dan udara sangat kurang. Dikarenakan rumah pasien letaknya berada masuk ke gang kecil dan sempit yang tidak memungkinkan untuk adanya sirkulasi udara dan pencahayaan yang baik. g. Dapur h. Jamban keluarga i. Sumber Air minum : Tidak ada : Tidak Ada kamar mandi dan toilet khusus untuk keluarga pasien. : PDAM / Ledeng

j. Sumber Pencemaran air: Tidak ada k. Pemanfaatan pekarangan : Tidak ada Karena rumah pasien letaknya masuk dalam gang kecil sehingga tidak ada lahan untuk pemanfaatan pekarangan. l. Sistem pembuangan air limbah : Ada
7

m. Tempat pembuangan sampah : Ada n. Sanitasi lingkungan Spiritual Keluarga : a. Ketaatan beribadah : Baik : Baik

b. Keyakinan tentang kesehatan : Baik Keadaan Sosial Keluarga : a. Tingkat pendidikan : Rendah Karena pasien tamatan SD, suami tamatan SD, anak anak pasien tamatan SMA. b. Hubungan anggota keluarga : Baik c. Hubungan dengan orang lain : Kurang Keluarga pasien jarang bersosialisasi dengan tetangga d. Kegiatan organisasi sosial : Kurang

Keluarga pasien tidak ikut kegiatan organisasi di lingkungannya e. Keadaan ekonomi : Sedang

Suami bekerja hanya sebagai Security, Ibu Mubariyah hanya seorang penjahir pita, yang tentunya penghasilannya kurang. Namun meskipun begitu, kebutuhan makan sehari-hari selalu tercukupi. Ditambah lagi dua anak ibu Mubariyah sudah bekerja. Kultural Keluarga: a. Adat yang berpengaruh b. Lain lain Daftar Anggota Keluarga:
No Nama Hub dgn KK Kepala keluarga Umur (tahun) 49 tahun Pendidikan Pekerjaan Agama Keadaan kesehatan Baik Keada an gizi Baik Imunisasi KB

: Tidak ada : Tidak ada

1.

M. Nasir

SD

Security

Islam

Lengkapl

Pil KB (3 tahun), dan Implant (5 tahun). -

2.

Mubariya h

Istri

45 tahun

SD

Penjahit Pita

Islam

sakit

Baik

lengkap

3. 4. 5.

Nurhayati Nuraisi Safitri

Putri pertama Putri kedua Putri Ketiga`

27 tahun 24 tahun 22 tahun

SMA SMA SMA

Tidak bekerja Pekerja konveksi Pekerja Konveksi

Islam Islam Islam

Baik Baik Baik

Baik Baik Baik

Lengkap Lengkap lengkap

Pemeriksaan Fisik Keadaan umum: Pasien tampak compos mentis Tanda-tanda vital: 1. Tekanan Darah: 120/80 mmHg 2. Frekuensi Nadi: 92x/menit 3. Frekuensi Napas: 24x/menit 4. Suhu badan: 37,6oC Hasil Pemeriksaan Faring: 1. Tonsil Besarnya T1-T1 Normal, tidak membesar Kripta (-), detritus (-)

2. Uvula Posisi di tengah Hiperemis (-) Edema (-) Memanjang (-)

3. Faring Mukosa tidak hiperemis Permukaan tampak licin Granul (-) Post nasal drip (-) Abses Parafaring (-) Abses Peritonsil (-)

Hasil Pemeriksaan Paru Pasien menolak dilakukan pemeriksaan fisik paru. Bila dilakukan pemeriksaan fisik paru hasil yang didapat sebagai berikut: Thoraks Anterior 1. Inspeksi Warna kulit, Lesi kulit, bentuk thoraks anterior, jenis pernapasan, melihat pergerakan dada saat statis dan dinamis. Melihat apakah terdapat retraksi sela iga dan pelebaran sela iga. Irama pernapasannya dan suara pernapasan abnormal (mengi, stridor)

2. Palpasi Meraba apakah terdapat benjolan, rasa nyeri tekan, meraba sela iga menyempit atau melebar, pergerakan thoraks saat statis dan dinamis, dan melakukan pemeriksaan vokal fremitus. 3. Perkusi Apakah hasil perkusi sonor atau tidak pada paru-parunya, pemeriksaan batas paru-hati dan paru-jantung. 4. Auskultasi Jenis suara napas (trakeal, bronchial, bronchovesikuler, vesikuler), Suara napas tambahan seperti ronkhi basah, ronkhi kering, wheezing. Diagnosis penyakit: Infeksi Saluran Pernapasan Akut Non Pneumonia Diagnosis Banding: Rhinitis, Nasofaringitis, Laringitis, Tuberkulosis paru Diagnosis Keluarga: Keluarga Ibu Mubariyah dalam kondisi sehat namun berisiko tertular penyakit yang diderita ibu Mubariyah karena kondisi tempat tinggal yang sempit namun dihuni banyak orang memungkinkan penularan terjadi. Pemeriksaan Penunjang: 1. Darah Rutin Hemoglobin (Wanita 12-16 gram/dL) Hematokrit (Wanita 37-47%) Leukosit (4500-10000 sel/mm3) Trombosit (150.000-400.000 sel/mm3) Eritrosit (4-5,5 Juta sel/mm3) Laju Endap Darah (Wanita <20 mm/jam) 2. Pemeriksaan Dahak Pewarnaan Gram Pewarnaan BTA Kultur Mikobakteri 3. Foto Toraks Dugaan Hasil Pemeriksaan Penunjang: Darah Rutin: Hemoglobin, Hematokrit, Trombosit, Eritrosit dalam batas normal. Leukosit dan laju endap darah meningkat. Pemeriksaan Dahak Pewarnaan Gram: sesuai bakteri yang ditemukan
10

Pewarnaan BTA: Kemungkinan didapatkan BTA (-) Foto Toraks: Kemungkinan ada Infiltrat paru

Anjuran Penatalaksanaan penyakit 1. Promotif: Pemberian penyuluhan tentang ISPA dan bagaimana cara pencegahan dan mengobatinya. Perbaikan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). 2. Preventif: mempertahankan daya tahan tubuh dengan gizi seimbang, menjaga kondisi udara sekitar Khusus bayi melalui pemberian ASI eksklusif Upaya mencuci tangan Imunisasi Menjaga kebersihan perorangan dan lingkungan Mencegah anak-anak berhubungan dengan penderita ISPA 3. Kuratif: Antitusif: Dekstrometorfan, 15-30 mg setiap 4-6 jam. Analgetik-antipiretik: Paracetamol tablet 500 mg 3 kali sehari selama 5 hari. 4. Rehabilitatif: Pemberian makanan cukup gizi dan cukup istirahat. Prognosis a) Penyakit: Baik jika terapi adekuat, konsumsi makanan bergizi, dan cukup istirahat. b) Keluarga: Kemungkinan tertular besar. Mengingat kondisi tempat tinggal yang sempit namun dihuni banyak orang. Keluarga perlu diberi edukasi untuk selalu menjaga kebersihan perorangan, lingkungan, dan makan-makanan bergizi. c) Masyarakat: kemungkinan penularan ke orang lain besar, sebab rata-rata lokasi rumah penduduk yang berdekatan, dalam gang-gang kecil dan sempit, memperbesar kemungkinan kontak dengan droplet pasien. Resume: Ibu Mubariyah (45 tahun) datang ke Puskesmas Jelambar Baru dengan keluhan Badan demam menggigil, batuk, dan pusing sudah sejak 1 hari yang lalu. Di diagnosis menderita Infeksi Saluran Pernapasan Akut. Untuk Menyingkirkan diagnosis banding lain perlu dilakukan pemeriksaan penunjang yaitu pemeriksaan darah rutin, Pemeriksaan dahak, dan foto rontgen toraks.

11

Rumah Ibu Mubariyah Tampak dalam (Gambar kiri atas) dan Tampak luar.

Akses menuju rumah Ibu Mubariyah tampak rumah-rumah warga yang berdekatan satu sama lain.

12

Pencegahan Tingkat Pertama (Primary Prevention) Intervensi yang ditujukan bagi pencegahan faktor risiko dapat dianggap sebagai strategi untuk mengurangi kesakitan (insiden). Termasuk disini ialah: Penyuluhan, dilakukan oleh tenaga kesehatan dimana kegiatan ini diharapkan dapat mengubah sikap dan perilaku masyarakat terhadap hal-hal yang dapat meningkatkan faktor resiko penyakit ISPA. Kegiatan penyuluhan ini dapat berupa penyuluhan penyakit ISPA, penyuluhan ASI Eksklusif, penyuluhan imunisasi, penyuluhan gizi seimbang pada ibu dan anak, penyuluhan kesehatan lingkungan rumah, penyuluhan bahaya rokok. Pencegahan Tingkat Kedua (Secondary Prevention) Upaya penanggulangan ISPA dilakukan dengan upaya pengobatan sedini mungkin. Upaya pengobatan yang dilakukan dibedakan atas klasifikasi ISPA yaitu : a) Untuk kelompok umur < 2 bulan, pengobatannya meliputi :

13

Pneumonia Berat: rawat dirumah sakit, beri oksigen (jika anak mengalami sianosi sentral, tidak dapat minum, terdapat penarikan dinding dada yang hebat), terapi antibiotik dengan memberikan benzilpenisilin dan gentamisin atau kanamisin.

Bukan Pneumonia: terapi antibiotik sebaiknya tidak diberikan, nasihati ibu untuk menjaga agar bayi tetap hangat, memberi ASI secara sering, dan bersihkan sumbatan pada hidung jika sumbatan itu menggangu saat memberi makan.

b) Untuk kelompok umur 2 bulan - <5 tahun, pengobatannya meliputi : Pneumonia Sangat Berat: rawat di rumah sakit, berikan oksigen, terapi antibiotik dengan memberikan kloramfenikol secara intramuskular setiap 6 jam. Apabila pada anak terjadi perbaikan (biasanya setelah 3-5 hari), pemberiannya diubah menjadi kloramfenikol oral, obati demam, obati mengi, perawatan suportif, hati-hati dengan pemberian terapi cairan, nilai ulang dua kali sehari. Pneumonia Berat: rawat di rumah sakit, berikan oksigen, terapi antibiotik dengan memberikan benzilpenesilin secara intramuskular setiap 6 jam paling sedikit selama 3 hari, obati demam, obati mengi, perawatan suportif, hati-hati pada pemberian terapi cairan, nilai ulang setiap hari. Pneumonia: obati di rumah, terapi antibiotik dengan memberikan kotrimoksasol, ampisilin, amoksilin oral, atau suntikan penisilin prokain intramuskular per hari, nasihati ibu untuk memberikan perawatan di rumah, obati demam, obati mengi, nilai ulang setelah 2 hari. Bukan Pneumonia (batuk atau pilek): obati di rumah, terapi antibiotik sebaiknya tidak diberikan, terapi spesifik lain (untuk batuk dan pilek), obati demam. Pneumonia Persisten: rawat (tetap opname), terapi antibiotik dengan memberikan kotrimoksasol dosis tinggi untuk mengobati kemungkinan adanya infeksi pneumokistik, perawatan suportif, penilaian ulang. Pencegahan Tingkat Ketiga (Tertiary Prevention) Tingkat pencegahan ini ditujukan kepada penderita ISPA agar tidak bertambah parah dan mengakibatkan kematian. Pneumonia Sangat Berat: jika anak semakin memburuk setelah pemberian kloramfenikol selama 48 jam, periksa adanya komplikasi dan ganti dengan kloksasilin ditambah gentamisin jika diduga suatu pneumonia stafilokokus. Pneumonia Berat: jika anak tidak membaik setelah pemberian benzilpenisilin dalam 48 jam atau kondisinya memburuk setelah pemberian benzilpenisilin kemudian periksa adanya komplikasi dan ganti dengan kloramfenikol. Jika anak masih menunjukkan tanda

14

pneumonia setelah 10 hari pengobatan antibiotik maka cari penyebab pneumonia persistensi. Pneumonia: Coba untuk melihat kembali anak setelah 2 hari dan periksa adanya tandatanda perbaikan (pernafasan lebih lambat, demam berkurang, nafsu makan membaik). Nilai kembali dan kemudian putuskan jika anak dapat minum, terdapat penarikan dinding dada atau tanda penyakit sangat berat maka lakukan kegiatan ini yaitu rawat, obati sebagai pneumonia berat atau pneumonia sangat berat. Jika anak tidak membaik sama sekali tetapi tidak terdapat tanda pneumonia berat atau tanda lain penyakit sangat berat, maka ganti antibiotik dan pantau secara ketat. Saran Bagi Orang Tua: Untuk mencegah terjadinya penyakit ISPA pada balita, diharapkan orang tua dapat menciptakan lingkungan yang aman bagi balita seperti kebiasaan membuka jendela untuk mengurangi kelembaban udara, tidak merokok di dekat balita dan menjaga jarak apabila menderita ISPA. Bagi Masyarakat: Sebagai tindakan pencegahan, diharapkan masyarakat bisa bekerja sama menciptakan lingkungan dan perilaku hidup sehat (tidak merokok di dalam ruangan, pemberian ASI Eksklusif pada balita, kebiasaan membuka jendela pada pagi dan siang hari, dan menjaga jarak dengan balita apabila menderita ISPA baik dalam keluarga maupun kehidupan bermasyarakat). Bagi Instansi Terkait: Diharapkan program kesehatan khususnya Program Pemberantasan Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut (P2ISPA) dapat lebih diperbaiki dan dilaksanakan seperti kegiatan penyuluhan mengenai syarat rumah sehat dan bahaya rokok kepada masyarakat sehingga angka kejadian penyakit ISPA mengalami penurunan. Daftar Pustaka 1. Amin Z. Manifestasi klinik dan pendekatan pada pasien dengan kelainan sistem pernapasan Dalam: Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata M, Stiati S, ed. Ilmu penyakit dalam. Edisi ke-5(III). Jakarta: Interna Publishing;2009.h.2189-95.

15