P. 1
Forum Alumni No. I, April-Mei '09

Forum Alumni No. I, April-Mei '09

2.5

|Views: 2,985|Likes:
Dipublikasikan oleh FORUM ALUMNI ITB
Forum Alumni
Majalah Komunitas Alumni ITB
Terbit Dwi Bulanan
Forum Alumni
Majalah Komunitas Alumni ITB
Terbit Dwi Bulanan

More info:

Published by: FORUM ALUMNI ITB on May 29, 2009
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/11/2014

pdf

text

original

Sections

April -Mei 2009 I FORUM ALUMNI

1

FORUM
FORUM
ALUMNI
ALUMNI

ALUMNI BERDIALOG

MEMBANGUN
KEUNGGULAN
BARU BANGSA

Wawancara Rinaldi Firmansyah

Basket ‘‘Mata Kuliah’’ Favorit Saya

DWIBULANAN

NO. 01
APRIL-MEI
2009

MEMBANGUN SINERGI ALUMNI ITB UNTUK BANGSA

Purwacaraka:

Rindu Pisan Euy ….!

CALEG ALUMNI

MENGHITUNG SUARA

ALMAMATER

DIES EMAS ITB

Sekolah dan Fakultas

Apa Bedanya?

Purwacaraka:

Pengganti Ongkos Cetak Rp. 15.000,-

MAJALAH KOMUNITAS ALUMNI ITB

2

FORUM ALUMNI I April-Mei 2009

PT. MEGACIPTA SENTRAPERSADA

MECHANICAL, ELECTRICAL & ENGINEERING CONTRACTOR

Komplek Ruko Taman Pondok Kelapa Blok D-6

Jl. Raya Pondok Kelapa - Jakarta Timur 13450

Telp. 021 8650339 – 40, Fax. 021 8650320

Email: info@

megacipta.com; megacipta2005@

yahoo.com

Website: http://www.megacipta.com

EMPORIUM

PLUIT MALL &

HOTEL

RUMAH SAKIT

CAHYA

KAWALUYAN

April -Mei 2009 I FORUM ALUMNI

3

BERITA DAN KEGIATAN

4

FORUM ALUMNI I April-Mei 2009

Candil mengaku persiapannya untuk tampil dengan kolaborasi alat

musik angklung ini telah dipersiapkannya sejak dua minggu yang

lalu. Dia juga menegaskan kerjasama ini nantinya tidak hanya sekedar

menempelkan karakter vokalnya yang nge-rock dengan alunan musik

etnik angklung. ’’Sejujurnya saya juga tidak ingin terlalu nge-rock,

harapannya bagaimana bisa berjalan seimbang dan bisa menonjolkan

angklungnya. Makanya sampai sekarang saya masih terus menggali dan

belajar,’’ katanya. n mt rizky

April -Mei 2009 I FORUM ALUMNI

5

TAMPIL WAJAH BARU

G
E
R
B
A
N
G

TAMPIL BARU. Begitu mungkin ko-
mentar Anda ketika majalah ini sampai
di tangan Anda.
Benar, FORUM ALUMNI memang
tampil baru. Dari sisi desain, Forum
Alumni berusaha tampil segar, bersih
dan modern; sementara dari sisi redaksi
kita berusaha tampil encer, meski
masalah yang ditulis mungkin serius
atau sedikit serius dengan rubrikasi
yang lebih beragam.
Tampilan Forum Alumni wajah baru
ini tak lepas dari pertimbangan akan
perlunya majalah yang lebih repre-
sentatif yang bisa menjadi jembatan
komunikasi dan sinergi antar alumni,
pengurus pusat dan pengda, serta
antara IA-ITB dengan almamaternya,
ITB; serta antara IA-ITB, ITB dan alum-
ninya dengan masyarakat luas.
Selain itu, wajah baru ini sekaligus
merupakan realisasi dari hasil rakernas
IA-ITB yang berlangsung di Aula Barat,
6 Maret 2009. Salah satu keputusan
rakernas adalah menerbitkan media ko-
munikasi dan informasi berupa majalah
Forum Alumni ITB dengan periodesasi
terbit dua bulan sekali.
Dilihat ke belakang, majalah dwibu-
lanan ini merupakan pengembangan
dari buletin yang sebelumnya sem-
pat terbit tiga kali sepanjang tahun
2008. Heri Sugiharto (Wakil Sekjen/
TK 87) bertindak sebagai Pemred dan
Erick Ridzky (GM 86) sebagai wakilnya.
Sementara untuk urusan redaksi dita-
ngani oleh Eko Supriyanto (GL 86) yang

memang berpengalaman di media
(mantan wartawan dan pernah menjadi
koresponden harian Republika di AS).
Untuk Sekretaris Redaksi dan Produksi
masing-masing dikomandani oleh
Setiawan Eko (MT 94) dan M Meylana
Hermawan (FT 89). Sehari-hari tim
pengelola Forum Alumni berkantor di
alamat yang sama dengan Sekretariat
IA-ITB, yaitu di Taman Patra II, Kuningan,
Jakarta.

Pada penerbitan perdana ini kami
sengaja mengambil tema yang menjadi
perhatian bersama, yaitu perlunya
bangsa ini membangun faktor keung-
gulan baru untuk meningkatkan daya
saing. Pemilihan tema ini didasari atas
keprihatinan rendahnya daya saing
bangsa di tingkat internasional, di
bawah negara tetangga seperti Si-
ngapura, Malaysia dan Thailand.
Selain itu, tentu saja edisi perdana
ini juga memuat isu-isu yang berkem-
bang di rakernas/ KLB, berita yang
berkembang di almamater kita, dan
berita-berita lain, lokal/nasional, yang
kita anggap penting dan layak menjadi
perhatian kita semua.
Akhirnya, dengan dukungan Anda
semua semoga penerbitan majalah
ini akhirnya bisa mencapai tujuannya
dan bisa berlangsung secara berkesi-
nambungan. Masukan, kritik memba-
ngun sangatlah kita harapkan.
Akhirnya, selamat membaca!

Redaksi

DARI REDAKSI

PENANGGUNGJAWAB

Freddy P. Zen

DEWAN REDAKSI

Eky S Pratomo-Tedjo
Ramli Kadir
John Heilmy
Herry Sugiharto
Nanang T. Puspito
Sawaludin Lubis
Adamsyah Wahab
M. Azhar

PEMIMPIN REDAKSI

Herry Sugiharto

WAKIL PEMIMPIN REDAKSI

Erick Ridzky

REDAKTUR PELAKSANA

Eko Supriyanto

SEKRETARIS REDAKSI

Setiawan Eko N.

PRODUKSI

M. Meylana Hermawan

SIRKULASI & DISTRIBUSI

Samjah

ALAMAT REDAKSI/IKLAN

Jl. Taman Patra II No. 16
Kuningan, Jakarta Selatan
Telp. (021) 529 21564/65
Fax. (021) 520 7573
Email:
forum_alumni_itb@yahoo.com

MITRA REDAKSI

Adi Cipta Media

Redaksi menerima sumbangan ar-
tikel/tulisan dari pembaca. Kirimkan
artikel/tulisan Anda ke
forum_alumni_itb@yahoo.com.

FORUM
FORUM
ALUMNI
ALUMNI

Majalah Dwi Bulanan
IKATAN ALUMNI
INSTITUT TEKNOLOGI
BANDUNG

MEMBAHAS EDISI PERDANA: Tim redaksi sedang mendiskusikan wajah baru Forum Alumni dengan Freddy P.
Zen/Sekjen IA-ITB (foto tengah)

6

FORUM ALUMNI I April-Mei 2009

Dengan adanya

perubahan paradigma

pembangunan, maka

strategi pembangunan

bangsa tidak mungkin

dilakukan melalui

pendekatan faktor

endowment tradisional,

seperti buruh murah

dan kekayaan sumber

daya alam sebagaimana

dilakukan selama ini.

Tetapi harus merupakan

kombinasi produktif keunggulan komperatif, keunggulan

kompetitif dan kemampuan human capital berkualitas. Oleh

karenanya, ada 3 pilar yang berperan penting yaitu pilar budaya

kreatif, teknologi dan inovasi. Alumni ITB terpanggil menjadi

pelopor kemajuan peradaban dunia, pembangunan nasional

menuju kehidupan adil, makmur dan sejahtera.

Sepanjang tahun 2008 tidak kurang dari 31 mata kegiatan

baik lokal (internal) maupun berskala nasional telah dilaksanakan

PP IA-ITB, dengan melibatkan para Alumni, Pengurus Daerah,

Pengurus Jurusan, sivitas akademika ITB, maupun pemerintah dan

masyarakat umum.

Tentunya program-program IA-ITB baik yang telah maupun

yang akan dilaksanakan selama periode kepengurusan 2007-2011

ini, tidak akan berarti apapun tanpa dukungan dan peran aktif

dari semua pihak, baik Jajaran Pengurus Pusat, Pengurus Daerah,

Pengurus Program Studi/Jurusan seluruh Indonesia, maupun para

alumni dimanapun berada, dan almamater kita tercinta, ITB.

Hasil rakernas 2009 digulirkan tak kurang dari 70 mata kegiatan

yang terbagi dalam tujuh bidang, antara lain: bidang organisasi,

bidang hubungan almamater, bidang pelayanan dan hubungan

alumni, bidang bisnis dan teknopreneur, bidang kemitraan,

kebendaharaan, dan kesekjenan.

Penerbitan majalah Forum Alumni merupakan pengembangan

dari bulletin Forum Alumni dimaksudkan untuk memberikan

informasi lebih lengkap bagi para alumni tentang dinamika

alumni meliputi kegiatan kepengurusan, termasuk di daerah,

prodi dan komisariat, informasi tentang almamater kita ITB,

pengembangan riset dan teknologi. Termasuk di dalamnya bisnis

dan kiprah para alumni. Hal ini merupakan bentuk peningkatan

pelayanan dari pengurus pusat dalam rangka membangun sinergi

antar alumni untuk bangsa.

Semoga partisipasi kita itu, dapat menjadi modal utama

terbangunnya sinergi kemandirian bangsa di masa depan.

Freddy P. Zen/Sekjen PP IA-ITB

DAFTAR ISI

Membangun Faktor Keunggulan
Bangsa yang Baru ............................................... 13

Berbeda dengan masa klasik, kemakmuran bangsa tak lagi

ditentukan oleh sumber daya tradisional seperti kekayaan alam.

Daya saing bangsalah yang akan menentukan kemakmuran suatu

bangsa di masa kini dan yang akan datang. Bagaimana sinergi alumni

bisa dibangun untuk meningkatkan daya saing bangsa Indonesia?

12 Pilar Tolok Ukur Daya Saing Bangsa ..............26

Apa saja pilar-pilar yang menjadi tolok ukur indeks daya saing bangsa

Caleg Alumni:
‘Deg-degan’ Menghitung Suara.........................30

Ada lebih dari 300 orang alumni menjadi caleg legislatif,

baik di pusat maupun daerah, pada pemilu lalu. Siapa saja

merekla dan bagaimana sebaran alumni di partai-partai?

Rekernas dan KLB ................................................34

Isu yang hangat dan menjadi perdebatan

Dies Emas ITB ......................................................44

Bulan Maret tahun ini merupakan bulan istimewa bagi ITB,

almamater kita. Tahun ini ITB merayakan Dies Emas

Ada Sekolah, Ada Fakultas .................................48

Apa yang membedakannya? Mengapa departemen dihapus?

Siapa Calon Rektor Baru? ..................................50

Pergantian rektor baru masih akan berlangsung tahun depan. Tetapi

isu siapa calon penggantinya sudah bergulir

Wawancara Dirut Telkom Rinaldi Firmansyah...53

Pernah diusir dosen keluar kelas

Srikandi ITB di Pertamina ................................... 56

Tantangan Karen, Dirut Pertamina yang baru

Dari RS Pertamina hingga Bin Laden .................58

Herry Moelyanto, Niat, menjaga kepercayaan, dan profesional.

Itulah kunci sukses bisnis alumni FT 83 ini

Kencan ..................................................................62

Dari Purwacaraka hingga Candil

DARI PENGURUS

Sinergi untuk Kemandirian Bangsa

April -Mei 2009 I FORUM ALUMNI

7

SUARA ALUMNI

AGENDA ALUMNI

28-Maret s/d 5-April 2005

Pengurus Pusat menerjunkan Tim IA-ITB
TANGGAP untuk membantu Masyarakat
Korban Situ Gintung
Lokasi Posko: Depan FK UMJ, Ciputat,

Tangerang.

4-April

Rapat Bidang Organisasi: Pembahasan
Rencana Kegiatan 2009
Tempat: Sekretariat IA-ITB, Jl. Taman Patra

II/16, Jakarta Selatan

15-April

Seminar Nasional “ Peluang dan Tantangan
Manajemen Limbah B-3”
Tempat: Hotel Nikko - Jakarta
Keynote Speaker: Menteri Negara Lingkungan
Hidup

Penyelenggara: IA-ITB Kimia

17-April

Rapat Pengurus Harian: Pembahasan
Program Kerja hasil RAKERNAS 2009
Tempat: Sekretariat IA-ITB, Jl. Taman Patra

II/16, Jakarta Selatan

17-Mei

Turnamen Golf Alumni ITB’83

Tempat: Emeralda Golf, Cimanggis, Bogor

28-Mei

Forum Lesehan Alumni: Orientasi Caleg
Alumni ITB Terpilih, Mau kemana?
Tempat: Sekretariat IA-ITB, Jl. Taman Patra
II/16, Jakarta Selatan

29-Mei*)
Dialog Nasional ‘‘Menghadapi Kecenderun-
gan Nasionalisasi dan Proteksi Akibat Krisis
Keuangan Dunia’’
Tempat: Gedung Joeang 45, Jl. Cikini Raya,
Jakarta

30-Mei

Workshop Website Maker
Tempat: Sekretariat IA-ITB, Jl. Taman Patra
II/16, Jakarta Selatan*)
Penyelenggara: Dep. Kominfo bekerjasama
dengan Khania Studio

30-31 Mei

Turnamen Tenis Piala Ketua Umum IA-ITB
“Hatta Rajasa”
Tempat: The Executive Club, Hotel Sultan, Jl.

Gatot Subroto, Jakarta Selatan

*) Tentatif

AGENDA ITB

AGENDA NON-AKADEMIK

Pertemuan ITB - Univ Twente
(Belanda)

1 April 2009. Jam 9:00-11:30.
Bertempat di Ruang Seminar FTMD (Gedung
Lab Tek II, lt 2)

Pelatihan Pembuatan Peta Tutupan
Lahan, Penggunaan Lahan dan Peta
Kemiringan Lahan untuk Manajemen
Bencana

Gelombang I, 6-9 April 2009
Bertempat di Pusat Pengindeeraan Jarak

Jauh (CRS) ITB
Jl. Ganesha no. 10 Bandung

Pelatihan Pembuatan Peta Tutupan
Lahan, Penggunaan Lahan dan Peta
Kemiringan Lahan untuk Manajemen
Bencana

Gelombang I, 6-9 April 2009
Bertempat di Pusat Pengindeeraan Jarak
Jauh (CRS) ITB
Jl. Ganesha no. 10 Bandung

PSTK: Tanggap Warsa 38

18 dan 25 April 2009

DIES UKM

18, 23, 25 April 2009

GAMAIS ITB

Industrial and Technology Training

Maret s.d Mei 2009

AGENDA AKADEMIK

2 April 2009

Batas Waktu Pendaftaran Peserta Wisuda
Kedua Tahun Akademik 2008/2009 dan Batas
Akhir FPN Mata kuliah KP/TA/Tesis/Disertasi
Semester II-2007/2008

18 April 2009

Hari Wisuda Kedua Tahun Akademik
2008/2009

15 Mei 2009

Hari Terakhir Masa Kuliah Semester
II-2008/2009

18 Mei - 29 Mei 2009

Ujian Akhir Semester II-200812009

AGENDA JAKARTA

Jakarta International Handicraft Trade Fair or
INACRAFT 2009

Tanggal 22-26 April 2009
Bertempat di Balai Sidang Jakarta Convention
Center

GALERI NASIONAL INDONESIA

16-28 April
Pameran karya Nashar
Kurator: Agus Dermawan T
Kerjasama: Emmitan Fine Art Gallery, ASPI

4-16 Mei
Festival Printemps Prancis (Pameran Gambar)
Kerjasama: CCF

20-31 Mei
Pameran Seni Rupa Nusantara
Kurator: Kuss Indarto
Penyelenggara: GNI

5-12 Juni
Pameran Keramik F Widayanto
“Semarak 30 Semar”
Kerjasama: Gallery F Widayanto

KALENDER KEGIATAN

Selamat untuk FORUM ALUMNI

Salam!
Kami ucapkan selamat dan sukses
atas terbitnya Majalah Forum Alumni
ITB edisi perdana ini. Media cetak
yang diperuntukkan bagi para alumni
ini, diharapkan mampu menjalin
komunikasi dan informasi baik aktiftas
profesional, kegiatan kemasyarakatan,
maupun kiprah para alumni dimanapun
berada.

Semoga media ‘dari dan untuk’
alumni ini menjadi jembatan
komunikasi terbangunnya sinergi antar
alumni ITB.

Sekali lagi kami ucapkan Selamat.
Viva Alumni ITB!

Aulia Prima/FI’89
Sekjen IA-ITB Jakarta

Kesan Rakernas

Kepada yth., Pengurus Pusat IA-ITB

Berikut kami sampaikan kesan kami

mengikuti Rakernas dan KLB IA-ITB di
Bandung tanggal 6-8 Maret 2009 yll,
yaitu
1. Perencanaan waktu kegiatan telah
dilakukan dengan baik, bertepatan
dengan Ulang Tahun Emas ITB
sehingga memberikan kesempatan
untuk mengamati kemajuan
kampus dan mengunjungi berbagai
stand pameran/presentasi yang
bernilai tinggi.
2. Acara telah dilaksanakan secara
efektif dan efesien, waktu yang
dialokasikan cukup singkat namun
dapat menyelesaikan permasalahan
yang dibahas sangat bermanfaat
untuk penyelesaian masalah.
3. Peserta cukup antusias dan
berpartisipasi untuk ikut serta
dalam setiap pembahasan masalah,
merupakan cerminan interes yang
tinggi dalam melaksanakan rencana
kerja selanjutnya.
4. Konsumsi dan akomodasi cukup
layak, penggantian uang perjalanan
cukup praktis dan mudah.

5. Kami ucapkan selamat dan sukses
bagi panitia yang telah berhasil
melaksanakan dan menyampaikan
pesan Rakernas dan KLB kepada
peserta dengan sangat baik.

Saran kami selanjutnya adalah:
1. Berikan tanggung jawab kepada
Pengurus Daerah untuk
mengadakan kegiatan-
kegiatan sejenis, untuk memotivasi
dan meningkatkan peran Pengda
tersebut secara daerah maupun
nasional. Waktunya mungkin bisa
berupa Raker, seminar, pameran
setiap tahun.
2. Follow up acara tersebut segera,
seperti ucapan orang bijak ‘rencana
yang baik hanya bermanfaat jika
dilaksanakan’.
Demikian.

Wassalam.

Irwansyah Putra/SI ‘90
Ketua IA-ITB Aceh

8

FORUM ALUMNI I April-Mei 2009

GANESIANA

Yang dipelajari kan seluas bumi ..

Di masa lalu, ada mahasiswa jurusan-jurusan tertentu di
ITB yang masa kuliahnya sangat lama, sampai-sampai ada
istilah mahasiswa abadi. Dalam salah satu wisuda jurusan
Geologi tahun 1986 atau 1987 misalnya, kalau tak salah
ada salah seorang wisudawannya angkatan 1969. Jadi
waktu diwisuda bukan calon istri atau pacar yang dibawa,
tapi sudah anak-anak dan istrinya.
Ada cerita khusus mengapa jurusan Timur Jauh ini lama
selesai kuliahnya. Syahdan, ada percakapan antara maha-
siswi Kedokteran Gigi Unpad dengan mahasiswa Geologi
ITB. Keduanya secara tak sengaja ketemu di suatu tempat
dan berkenalan. Setelah menyebut nama, asal, dan sete-
rusnya, percakapan sampai pada soal kuliah.
Mahasiswa GL: Masuk FKG tahun berapa?
Mahasiswi FKG: Tahun 1983. Sekarang (tahun 1988) ham-
pir wisuda. Kalau Mas masuk tahun berapa?
Mahasiswa GL: 1982.
Mahasiswi FKG : Wah, sudah selesai dong kuliahnya..
Mahasiswa GL : Sarjana Muda juga belum.
Mahasiswi FKG (kaget): Lama banget. Mahasiswa abadi
dong kalau begitu ….
Mahasiswa GL (mulai sewot) : Untuk mempelajari barang
seluas mulut saja kamu butuh waktu enam tahun. Lha
yang kupelajari kan seluas bumi! Butuh waktu lebih lama
lagiii .....

Susu Dancow Istimewa

Pada masa lalu, banyak mahasiswa ITB yang berasal dari
berbagai daerah dan sebagian di antaranya berasal dari
kalangan ekonomi yang tidak mampu. Salah seorang di

antaranya sebutlah namanya Bambang.
Di kota asal, emaknya berprofesi sebagai pedagang pasar.
Kiriman bulanan kadang hanya Rp 10 ribu saja (untuk tahun
1985, itu jumlah yang jauh dari cukup untuk sebulan).
Karena itu, dia sering nomaden: selalu berpindah-pindah
dari kos temen yang satu ke kos temen yang lainnya. Untuk
menyambung hidup, dia kadang ngajar privat, kadang juga
bekerja sebagai buruh kasar. Syahdan, suatu hari kantong
dan perutnya kempes secara bersamaan. Karena mulai
liburan semester, temen-temennya sebagian besar sudah
mudik …. kecuali satu orang, sebutlah Sapto. Yang ini
belum mudik karena masih sibuk mempersiapkan kegiatan
di unit kampus.
Pagi itu Sapto, semalaman tidur di markas unit, baru
pulang ke kos. Dia kaget menemukan sobatnya tidur ter-
lentang dan merintih. Kalau sobatnya nyelonong tiba-tiba
ditemukan di kamarnya, Sapto tak heran karena dia me-
mang selalu meninggalkan kunci kamar di tempat tertentu
yang hanya kawan-kawan terdekatnya yang tahu. Tapi dia
terlentang dan merintih? ‘’Kamu kenapa?’’ sambil menyelidik
Sapto bertanya.
Bambang pun menjawab panjang dan lebar: ‘’Aku tadi
malam datang pengen makan. Kamu nggak ada. Aku
ngecek ke dapur. Beras ada. Indomie ada. Telur ada. Wahh
lengkap … senangnya. Aku ke dapur, mau menyalakan
kompor. Celaka, minyak tanah habis. Pusing aku, nggak
ada duit. Akhirnya aku cari-cari di lemari makan. Ketemu
susu Dancow. Aku ambil gelas besar .. wong lapar, mompa
air sumur, dan bikin susu. Hasilnya seperti ini: bukannya
kenyang, malah perutku sakitnya setengah mati semalaman
….’’

Bukannya kasihan, Sapto malah tertawa berkepanjangan

April -Mei 2009 I FORUM ALUMNI

9

INNALILLAHI WA INNA ILAIHI RAJIUN

PP IA-ITB turut berduka cita atas wafatnya Bapak
Mertua dari Andri Fajria (FT’89/Ketua Departe-
men SosialPP IA-ITB/PJ Posko IA-ITB Tanggap
“Situ Gintung”)

Pada hari Selasa (malam) 31 Maret 2009
di Bandung

Semoga arwah dan amal ibadah almarhum diterima disisi
Allah SWT, dan keluarga/sanak/famili yang ditinggalkan
diberikan kekuatan iman dan kesabaran.
Amin.

PP. IA-ITB

Hatta Rajasa Freddy P. Zen
Ketua Umum Sekretaris Jenderal

INNALILLAHI WA INNA ILAIHI RAJIUN

Telah berpulang ke rahmatullah Bapak Mertua
dari Muhammad Hariyanto (Pengurus Departe-
men Pengembangan Karir Alumni PP IA-ITB)

Hari Rabu, 11 Maret 2009, pukul 2 dini hari

Keluarga Besar IA-ITB turut berduka cita. Semoga
Allah SWT menerima amal ibadahnya. Amin ya
rabbal alamin

PP. IA-ITB

Hatta Rajasa Freddy P. Zen

Ketua Umum Sekretaris Jenderal

Database Diperbaharui

Salam!
Kalau bisa database alumni diperbaharui. Selain itu untuk mencari
nama alumni jangan hanya berdasarkan jurusan dan angkatan tapi
juga ada opsi untuk mencari berdasarkan lokasi tempat tinggal.
Pertanyaan saya: Apakah ada komisariat alumni ITB di AS?

Nanda
ananda.hutapea@hotmail.com

Kartu Anggota

Salam!
Saya ingin menanyakan mengenai kartu anggota IA-ITB, apakah
masih bekerjasama dengan Bank Mandiri untuk pembuatannya atau
ada kebijakan terbaru yang lain? Kalau masih, di Bank Mandiri mana
saja yang ditunjuk untuk pembuatan kartu tersebut? Karena saya
sudah mencoba membuat kartu IA ITB di Bank Mandiri Cabang Metro,
Lampung Tengah, tetapi pihak bank tersebut menyatakan sudah
tidak membuat kartu itu Tolong informasinya lebih lanjut. Trims.

Agung Kurniawan
agungk25@gmail.com

Berdasarkan informasi dari Sekretariat, bahwa penerbitan Kartu
Anggota terpisah dengan Kartu Kredit IA-ITB. Saat database dan kartu
anggota sedang dalam penyelesaian . Dan penerbitan Kartu Kredit IA-ITB
sedang dijajaki bekerjasama dengan Bank Mega.

S2 saja, Apa Termasuk Alumni

Mau tanya nih. Yang dimaksud alumnus itu terbatas S1 saja? atau
bisa S2 atau S3? Saya lulusan S2 saja. Terima kasih.

Wijono
wijono@yahoo.com

Sesuai dengan AD/ART IA-ITB hasil KLB 2009, yang termasuk alumni
ITB adalah orang yang pernah mengikuti salah satu jenjang pendidikan
formal di ITB. Jadi Anda termasuk alumni ITB dan berhak menjadi
anggota IA-ITB.

Keterangan: Forum Alumni menyediakan rubrik SUARA ALUMNI, merupakan
surat pembaca. Mohon data Nama pengirim dilengkapi dengan Jurusan,
Angkatan, dan Email. Terimakasih.

SUARA ALUMNI (l a n j u t a n)

SUARA ALUMNI (lanjutan)

AKTIVITAS PENGURUS

RAPAT PENGURUS HARIAN membahas tentang tindak
lanjut hasil keputusan rakernas 2009 yang baru lalu. Hadir
pada rapat tersebut (dari ki-ka): Amir Sambodo (Ketua
Bidang Bisnis dan Teknopreneur), Jetti R. Hadi (Ketua Bidang
Organisasi), Bakti S. Luddin (Bendahara Umum), Freddy P.
Zen (Sekjen), dan Rinaldi Firmansyah (Ketua Bidang Pe-
layanan dan Hubungan Alumni) terlibat aktif dalam pemba-
hasan program kerja 2009. Rapat bertempat di Sekretariat
pada 17 April.

WAKIL BENDAHARA (AHMAD YANI) berdiskusi dengan
Ketua Bidang Organisasi (Jetti R. Hadi) dalam rangka men-
jajagi penerbitan kartu kredit bagi para alumni bekerja sama
dengan Bank Mega, awal April lalu.

10 FORUM ALUMNI I April-Mei 2009

YA SILATURAHMI, YA PRESTASI.
Begitulah kira-kira latar belakang dan
tujuan penyelenggaraan Turnamen Tenis
antar alumni yang menurut rencana
akan digelar pada 30-31 Mei menda-
tang, di lapangan hardcourt outdoor,
Lapangan Tenis The Executive Club
Hotel Sultan, Jakarta. Turnamen ini akan
memperebutkan piala bergilir Ketua
Umum Hatta Rajasa.
Menurut Ketua Panitia Edi Purnomo
(MA 77), kegiatan ini dimaksudkan
untuk membangun semangat silatu-
rahmi dan jiwa sportifitas dalam nuansa
keakraban melalui wahana olahraga.
‘’Yang sudah sepuh biar nyambung
kembali sama yang muda,’’ katanya.
Sementara Eky, Ketua Departemen
Informasi dan Komunikasi IA-ITB,
menambahkan, penyelenggaraan
turnamen ini diharapkan bisa menjadi
wahana untuk menciptakan hubungan
kekeluargaan yang lebih solid diantara
sesama alumni ITB dan pengurus IA
ITB. Selain itu, seperti laiknya kompetisi
lainnya, turnamen ini pun dimaksudkan
untuk menjaring bibit-bibit berbakat di

kalangan alumni ITB.
Diharapkan setiap pengurus daerah
maupun pengurus program studi atau
pengurus komisariat IA-ITB seluruh
Indonesia dapat mengirimkan perwakil-
an timnya.

Adapun nomor yang dipertanding-
kan terbatas hanya nomor Ganda, baik
campuran maupun putra/putri. Dan
jenis pertandingan dalam turnamen
adalah berpasangan fun dan berpasang-
an prestasi.

Sementara itu, bahwa pasangan
pemain akan dilakukan secara undian.
“Dengan sistem Pertandingan adalah
setengah kompetisi, dimana setiap
pemain melaksanakan 5 pertandingan
ganda (double) masing-masing game 8.
Setiap peserta diperbolehkan mengikuti
kelompok fun maupun prestasi,’’ kata
Edi. Juara turnamen merupakan perse-
orangan yang mempunyai jumlah nilai
(score) terbanyak.
Menurut salah seorang panitia,
pendaftaran sudah dapat dilakukan di
Sekretariat IA-ITB, jalan Taman Patra
II/16, Kuningan-Jakarta Selatan. Ayo, siapa
punya nyali?

Turnamen Tenis Buat Yang Punya NyaliTurnamen Golf ITB ‘83: Mari Berbagi

Merupakan kebanggaan kita bersama bahwa
Alumni ITB telah menjadi bagian dari kemajuan
bangsa Indonesia. Didorong oleh hal itu, alumni ITB
angkatan 83 betekad untuk memberikan makna
lebih terhadap kontribusi alumni ITB semangat
‘Berbagi’. Demikian yang melatarbelakangi inisiasi
melalui Turnamen Golf yang digagas Yayasan G83.
Turnamen yang direncanakan akan diselenggara-
kan pada 17 Mei, di Emerald Golf Course, Cimang-
gis, Bogor itu, ditujukan untuk mewadahi semangat
berbagi dan program sosial ITB angakatan 83 dalam
mengembangkan dana abadi ITB untuk mem-
bantu mahasiswa ITB yang mengalami kesulitan
biaya kuliah, mendukung upaya-upaya peningkat-
an entepreneurship mahasiswa ITB, mendukung
kepedulian akan kualitas pendidikan, khususnya
di lingkungan sekitar ITB, dan menjalin terjalinnya
sinergi antar alumni ITB angkatan 83. Hal itu semua
menjadi misi dari pembentukan Yayasan G83, seba-
gai inisiator kegiatan ini.
“Pada pelaksanaan Turnamen Golf ini, Yayasan
G83 berkerjasama dengan Persatuan Golf Ganesa
(PGG-ITB)”. Demikian diiformasikan Fauzi Utomo,
sebagai contact person informasi kegiatan ini yang
juga alumnus jurusan Penerbangan ITB angkatan
94.[]

KILASAN BERITA

April -Mei 2009 I FORUM ALUMNI

11

Tenis Persahabatan Antar-Alumni

29 JANUARY 2009 . AlumnI enam perguruan tinggi adu
kelihaian di lapangan tenis. Pertandingan tenis persahabatan
alumni ITB, Unpad, Unpar, IPB, UI, dan UGM itu berlangsung
di lapangan tenis indoor Kemayoran, Jakarta.
Pertandingan diawali upacara pembukaan yang sedianya
dilakukan oleh Ketua IA-ITB Hatta Rajasa. Karena yang ber-
sangkutan berhalangan, pembukaan pun diwakilkan pada
Hermanto Dardak (kabid Hubungan Almamater PP IA-ITB).
Pertandingan siap dimulai di 6 lapangan indoor pada seki-
tar pukul 08.00. Masing-masing tim menurunkan lima pasang
pemain. Pertandingan dijuarai tim alumni UGM sementara
ITB, yang menjadi tuan rumah, ada posisi paling buncit.

KILASAN BERITA

Kunjungan Ikatan Alumni dan Perwakilan
Mahasiswa GD

Ketua Umum IA-ITB Hatta Rajasa menaruh perhatian terhadap
kasus meninggalnya mahasiswa Teknik Geodesi ITB, Dwiyanto
Wisnunogroho (19) usai mengikuti kegiatan penerimaan anggota
baru Ikatan Mahasiswa Geodesi ITB 7-8 Januari lalu. Hatta, Kamis
(12/2/09) sore berkenan menerima kunjungan perwakilan maha-
siswa dan alumni ITB. Dalam pertemuan sore hari di sekretariat
IA-ITB itu hadir dari IMG (Ikatan Mahasiswa Geodesi) Gunawan
Raditya “Agun”(Ketua IMG), Arif Rohman ( wakil ketua Eksternal),
Aditya Yudha (Ketua divisi Kaderisasi), serta M. Zahrul Afendi
(Koordinator Lapangan). Hadir pula perwakilan KM-ITB (Keluarga
Mahasiswa ITB), dan beberapa alumni ITB.
Ketua IMG, Agun dalam kesempatan tersebut memaparkan la-
tar belakang kegiatan Proses Penerimaan Anggota Baru (PPAB) Ika-
tan Mahasiswa Geodesi. Ia kemudian juga menjelaskan kronologis
kejadian PPAB sekaligus menjelaskan perihal wafatnya Dwiyanto
Wisnunogroho (19) seorang peserta kegiatan tersebut.
Ketua Ikatan Alumni Geodesi ITB, Sobri Syawie yang juga
hadir dalam kesempatan itu menyampaikan pandangannya agar
ITB cooling down hingga jelas duduk permasalahannya. Ia juga
berharap agar ITB tidak mengeluarkan sanksi DO bagi panitia yang
terlibat sebagaimana yang dikhawatirkan mahasiswa. Sobri lebih
lanjut berharap agar para alumni dapat menempatkan kasus ini
dengan proporsional.

Pengurus IA-ITB Sulawesi Selatan
Periode 2009 – 2013 Dilantik

HARIYADI Kaimuddin terpilih sebagai ketua IA-ITB Sulawesi Selatan
Periode 2009-2013. Pemilihan yang diikuti dua calon, Hariyadi dan
Sampara Salman, itu dilaksanakan pada hari pertama musyawarah
daerah (Musda), Jumat (20/2). Acara Musda dua hari itu berlangsung
di Baruga Anging Mamiri, rumah jabatan wali kota, Makassar.
Pemilihan ketua IA-ITB Sulawesi Selatan dilakukan melalui
penghitungan suara yang dihadiri 82 orang. Dari hasil perhitungan
suara Hariyadi Kaimuddin mengumpulkan 60 suara, Sampara Sal-
man mendapat 19 suara. Sementara itu 1 suara abstain dan 2 suara
dinyatakan batal.

Selain Musda, IA-ITB Sulsel juga menggelar seminar sehari di Hotel
Sahid Jaya Makassar, Sabtu (21/2). Seminar bertema Penguatan Sosial
Kapital Sulsel itu menghadirkan Gubernur Gorontalo Fadel Muham-
mad sebagai keynote speaker dan tiga pemateri masing-masing Prof
Mappadjantji Amien, Prof Darmawan Salman, dan Prof Veny Hadju.
Pada kesempatan itu Fadel membawakan materi "Peta Kesenjan-
gan Timur-Barat dan Selatan-Utara".

SBM ITB ‘Sulit’ Ciptakan Enterpreneur

Sekolah Bisnis dan Managemen (SBM) ITB kian sulit menjadikan
alumninya sebagai enterpreneur. Sejak kuliah mahasiswanya sudah
diincar perusahaan. Padahal keberadaan SBM ITB awalnya untuk
menciptakan enterpreuner.
Hal itu disampaikan oleh Ketua Ikatan Alumni (IA) ITB Hatta Rajasa
dalam malam peringatan 5 Tahun SMB ITB dan Peresmian IA SMB ITB
di Aula Barat Kampus ITB, Jalan Ganesha No 10, Sabtu (3/1) malam.
Menurut Hatta, sejak SBM ITB berdiri lima tahun silam, SBM ITB
telah memiliki tantangan besar. Sebab, sejak di bangku kuliah, para
mahasiswanya sudah ditarik oleh perusahaan-perusahaan. Padahal
awal berdirinya SMB ITB adalah untuk menciptakan enterpreneur.
Senada dengan Hatta, Ketua IA SBM ITB Mandala Widi Muchlis
berharap dengan adanya IA SBM ITB, para alumni akan menjadi
mentor bagi mahasiswa SBM. Menurutnya, selama ini kendala yang
dialami oleh alumni SBM ITB adalah tidak adanya mentor.

IA ITB Jabar Persiapkan “Temu Alumni”

IA- ITB Jawa Barat menjadi panitia pelaksana Rapat Kerja Nasional
(Rakernas) dan Kongres Luar Biasa (KLB) IA-ITB. Acara berlangsung
pada 6 Maret 2009 di kampus ITB. Sebagai ketua pelaksana adalah
Abdul Aziz, ketua IA-ITB Jabar.
Rakernas IA-ITB yang merupakan ajang konsolidasi tahunan
IA-ITB diikuti para pengurus IA-ITB pusat, daerah, jurusan, dan
komisariat. Sementara itu KLB yang akan dilaksanakan merupakan
amanat kongres IA-ITB tahun 2007 yang akan membahas tentang
perubahan AD/ART.

12 FORUM ALUMNI I April-Mei 2009

IKATAN Keluarga Alumni Universitas
Sriwijaya (IKA Unsri) Palembang berkun-
jung ke Sekretariat PP IA-ITB, Jakarta,
Senin (16/2). Rombongan yang terdiri
10 orang itu disambut tuan rumah Amir
Sambodo, kabid Bisnis dan Teknopreneur
, yang didampingi pengurus pusat lain
di antaranya A Yani (bendahara), Herry
Sugiharto (wakil sekjen), dan Sawaluddin
( wakil sekjen), serta Badan Eksekutif PP IA-
ITB Erick Ridzky dan Ekon Nugroho.
Kepada rombongan pengurus IA Unsri,
Amir menjelaskan IA-ITB berikut kiprahnya.
Amir menjelaskan mengenai kartu
kredit IA-ITB dan pengelolaan endown-
ment fund
. Amir memaparkan upaya or-
ganisasi membantu pendanaan almama-

ter lewat pengelolaan endownment fund.
Keuntungan pengelolaan itu diserahkan
untuk pengembangan ITB seperti hibah
riset. Upaya lain yang dikembangkan saat
ini adalah modal ventura untuk pengem-
bangan bisnis di kalangan alumni ITB.
Menjelang akhir diskusi, IKA Unsri
mengajak IA-ITB bekerja sama dalam
menggulirkan program-programnya.
Sebab, banyak anggota IKA Unsri yang
juga merupakan anggota IA-ITB . Amir
Sambodo menyambut baik usulan
kerjasama antar-Ikatan Alumni. Apalagi
jumlah alumni Unsri cukup besar, sekitar
57.000 alumni. Acara IKA Unsri dilanjut-
kan dengan kunjungan ke kampus ITB di
Bandung.

Law Offi ces Prihartono & Partners
Penasihat Hukum IA-ITB

PERJANJIAN jasa hukum antara IA-ITB dan
Law Of ces Prihartono & Partners ditanda-
tangani, Jumat (23/1). Penandatanganan
dilakukan oleh Freddy P Zen, sekjen IA-ITB,
dan R Dwiyanto Prihartono. Selaku partner
Hendardi.

Jasa hukum yang diberikan untuk IA-ITB
berupa memberikan konsultasi atau nasihat
hukum dan/atau pendapat hukum, secara
lisan dan atau tertulis, melakukan legal audit,
dan menghadiri rapat-rapat dalam rangka
pembahasan aspek hukum terhadap aktivitas
organisasi IA-ITB, termasuk IA-ITB Daerah,
Jurusan, maupun Komisariat.

ASMARA ASRAMAKU: Kehidupan
Mahasiswa ITB Era 90-an

RAMAINYA novel-novel
ber- setting universitas
asing, membuat Sudi-
harto tergelitik. Alumni
TM ITB 94 ini menulis
sebuah novel kehidupan
kemahasiswaan ITB pada
tahun 1990-an: Asmara
Asramaku.

’’ITB yang notabene
universitas paling terkemuka di negeri ini kok
seolah-olah tidak ada yang membanggakan-
nya,’’ kata Ir Sudiharto, MT. Dari pemikiran itu, ia
merasa perlu membuat suatu novel fenomenal
yang mengangkat nama besar ITB . Untuk men-
jaring pasar dan komunitas di luar ITB dan diluar
Asrama, Sudiharto yang menggunakan nama
pena Sudyus Barbassy menyinergikan judulnya
dengan Asrama Aramaku yang menceritakan
tentang kehidupan mahasiswa ITB yang tinggal
di Asrama B Charade dengan bumbu cinta kasih
absud ala mahasiswa.

YAYASAN Alumni ITB dan IA-ITB
Sumatra Selatan mengadakan
kerjasama Program Penyediaan
Air Bersih Pedesaan di Sumsel.
Acara penandatanganan kerjasama
berlangsung di Sekretariat IA-ITB,
Jakarta, Jumat (6/2),
Program ini rencananya akan
dilaksanakan di Desa Sumber Rejo,
Kecamatan Pulau Rimau, Kabupaten

Banyuasin, Sumatra Selatan. Pen-
andatangan perjanjian kerjasama
kedua belah pihak diwakili masing-
masing oleh Ketua Yayasan Alumni
ITB, Muchlis Moechtar dan Ketua II
IA-ITB Daerah Sumatra Selatan yang
juga bertindak selaku Pembantu
Rektor I Universitas Sriwijaya, Zulkifi
Dahlan. Sedangkan dari PP IA-ITB
turut menandatangani adalah Amir
Sambodo (ketua Bidang Bisnis dan
Teknoprenuer). Penandatanganan
perjanjian kerjasama ini disaksikan
oleh Hendardi selaku penasihat
hukum IA-ITB serta para pengurus
harian. IA-ITB akan menurunkan tim
ahli yang mendampingi pelak-
sanaan program penyediaan air
bersih itu. Kerjasama ini diharapkan
dapat berjalan dengan baik dan
turut meningkatkan kualitas hidup
masyarakat Desa Sumber Rejo.

Program Penyediaan Air Bersih dari Alumni ITB
untuk Rakyat Sumsel

Hendardi selaku Partner Law Of ces Prihar-
tono & Partners (kanan)

IKA UNSRI Berkunjung ke IA-ITB

KILASAN BERITA

April -Mei 2009 I FORUM ALUMNI

13

Tahun 1960-an, Koes Plus

mempopulerkan banyak
lagu yang bercerita
mengenai kemakmur-
an Indonesia. Dengan
syair romantik bahkan
hiperbolik, Koes Plus bercerita ten-
tang tanah subur dan kaya, sehingga
‘’tongkat kayu dan batu’’-pun bisa
menjadi tanaman. Kini, berpuluh ta-
hun kemudian, bahkan sang pencipta
lagu itu sendiri pun tampaknya sudah
tak yakin dengan kebenaran isi syair
lagu tersebut (album terbarunya, yang
disponsori mantan Ketua Umum IA
ITB Laksamana Soekardi dan partainya
PDP, Koes Plus justru banyak bercerita

soal kesengsaraan rakyat).
Ada sebagian dari kita yang men-
gungkit tentang sindrom ‘’jebakan
kutukan sumber daya alam’’ – istilah
yang merujuk kepada beberapa ne-
gara yang, meski sumberdaya alamnya
melimpah, terjerembab ke dalam je-
bakan ‘’negara gagal’’. (Nigeria, si kaya
minyak yang sekarang terjerembab
ke kemiskinan, sering disebut sebagai
salah satu contoh ‘’negara gagal’’ dan
kena sindrom ‘’kutukan sumber daya
alam’’). Ketika Indonesia mengalami
krisis ekonomi babak pertama, dan
paling lambat keluar dari krisis itu
dibanding negara-negara tetangga
seperti Thailand, Malaysia dan Si-

ngapura, sebagian kita dari ada yang
bertanya: adakah Indonesia tengah
terjangkit sindrom yang sama?
Ketika dampak dari krisis babak
pertama masih belum sepenuhnya
teratasi, tiba-tiba badai krisis kedua
datang. Berbeda dari krisis babak
pertama yang pemicunya dari dalam,
krisis babak kedua ini merupakan im-
bas krisis global. Lagi-lagi kita bertanya:
apakah krisis global ini, yang dipicu
oleh kegagalan subprime mortgage
di Amerika Serikat yang kemudian
mengimbas ke Eropa dan akhirnya
ke seluruh dunia, bakal membuat
Indonesia jatuh ke jurang resesi? Apa
yang harus dilakukan agar bisa ber-

MEMBANGUN FAKTOR
KEUNGGULAN BARU

B
O
U
L
E
V
A
R
D

LAPORAN UTAMA

ALUMNI BERDIALOG

14 FORUM ALUMNI I April-Mei 2009

tahan dari tantangan lingkungan global
yang makin kompleks? Akhirnya juga:
bagaimana membayangkan Indonesia,
katakanlah, pada tahun 2020 menda-
tang? Indonesia yang berhasil keluar
dari krisis ke krisis, bahkan menjadi salah
satu pemenangnya?
Wacana-wacana inilah yang menjadi
perhatian dalam acara Alumni Berdialog
tentang Daya Saing dan Masa Depan

Bangsa, yang dilakukan berbarengan
dengan perayaan Dies Emas ITB, di Aula
Barat ITB 7 Maret lalu.

Alkimia Krisis Finansial

‘’Kalau dilihat sejarah, krisis keuangan
bukan hal yang baru,’’ komentar Raden
Pardede, ekonom ITB yang menjadi
salah satu pembicara dalam seminar itu.
‘’Krisis sudah terjadi berulang kali, baik

dalam skala nasional, regional maupun
global,’’ tambahnya. Sejarah ekonomi
modern mencatat krisis keuangan
sudah terjadi sejak 1618 di kerajaan Ro-
mawi karena spekulasi koin. Pada abad
20, ada depresi besar yang melanda AS
yang terjadi pada 1929-1933. Lalu krisis
Asia dan Indonesia pada 1997/1998.
Pada tahun 2008, krisis fnansial terjadi
lagi.

‘‘Kalau dilihat sejarah, krisis keuangan bukan hal yang baru,’’

komentar Raden Pardede, ekonom ITB yang menjadi salah pembicara

dalam seminar itu. ‘’Krisis sudah terjadi berulang kali, baik dalam

skala nasional, regional maupun global,’’ tambahnya.

Isu Kunci: Meningkatkan Peran Teknologi dalam Pembangunan

Cina dan India merupakan dua contoh
negara yang berhasil membangun karena
pilihan yang tegas terhadap strategi pemban-
gunan, yaitu memilih pembangunan yang
berbasis teknologi (technology based develop-
ment). Dengan ciri khas kekuatan ekonominya
masing-masing, Cina sebagai negara manufak-
tur terbesar dan India sebagai negara outsource
IT terbesar, kedua negara berhasil menghapus
kemiskinan absolute dalam jumlah yang tak
terbayangkan. ‘’ India membebaskan 200 juta
rakyatnya dari kemiskinan, sedangkan China
300 juta,’’ kata Kepala BPPT Dr. Ir. Marzan A.
Iskandar dalam paparan makalahnya, pada
kesempatan Seminar Temu Alumni ITB.
Karena di masa yang akan datang, tantan-
gan terbesar bagi strategi pembangunan Indo-
nesia adalah bagaimana mendorong teknologi
berperan dalam pertumbuhan ekonomi
nasional. Dengan demikian diharapkan Indone-
sia, yang saat ini masih masuk dalam kategori
negara dengan keunggulan mendasar berubah men-
jadi negara yang masuk dalam kategori innovation
driven (lihat bagan ).
Umar Juoro, yang banyak berbicara mengenai
pentingnya menumbuhkan lingkungan bisnis mikro,
menyatakan hal serupa. ‘’Perekonomian Indonesia
masih sangat bergantung pada modal dan tenaga
kerja (tangible capital). Total Factor Productivity (TFP)
tumbuh hanya sekitar 0.2% dan sumbangannya
terhadap pertumbuhan ekonomi di bawah 10%,’’
katanya. Selain itu, ekspor Indonesia masih didominasi
oleh produk padat karya (tekstil, garmen, elektronika,
dan alas kaki), serta produk sumberdaya alam (min-

yak, gas, batubara, CPO, karet) yang kandungan
teknologinya relatif rendah.
Dalam laporan World Economic Forum tentang in-
deks daya saing bangsa, Indonesia masih ditempatkan
pada “kasta” terendah yaitu key driven dimana masih
dalam taraf awal tingkat keunggulan kompetitif.
Strata ini didukung oleh faktor-faktor dasar seperti in-
stitusi, infrastruktur, stabilitas makro ekonomi, keseha-
tan dan pendidikan dasar yang masih rendah. Untuk
dapat memperbaiki peringkat kompetitif di dunia,
Indonesia harus memperbaiki daya saingnya terutama
di sektor infrastruktur, kesiapan teknologi (technology
readiness), kecanggihan bisnis (business sophistication)
dan kapasitas inovasi (innovation capacity).

yak, gas, batubara, CPO, karet) yang kandungan

Tantangan Peran Teknologi
Dalam Pertumbuhan Ekonomi Nasional

Meningkatkan
kontribusi teknologi
pada komponen
pertumbuhan
ekonomi (GDP)

Komponen
Pertumbuhan
Ekonomi

Komponen
Pertumbuhan
Ekonomi

MODAL

TENAGA
KERJA

TENAGA
KERJA

MODAL

TEKNOLOGI
(TFP) - 3%

TEKNOLOGI
(TFP) - 0,1%

Peran Teknologi

LAPORAN UTAMA

April -Mei 2009 I FORUM ALUMNI

15

Jika dilihat secara mendasar, kata
Raden Pardede, alkimia dan akar
masalah krisis sebenarnya sama:
‘’animal spirit’’ ekonomi manusia yang
tidak berubah. Sebagian Anda tentu
ingat Gordon Gekko dalam flm Wall
Street yang menjadi klasik? Gekko,
tokoh antagonis flm itu, menyatakan
bahwa uang tidak pernah tidur, dan
oleh karena itu tamak itu baik. ‘’Greed is
good
,’’ katanya. (Begitu bagusnya flm
ini menggambarkan praktek animal
spirit dalam ekonomi modern, sampai-
sampai Micheal Douglas, aktor sang
pemeran Gekko, ditanyai wartawan
ketika crash melanda Wall Street tahun
2008 lalu).

Rocket Scientist dan Financial Engineer

Dalam praktik ekonomi modern,
animal spirit ini makin memperoleh
kanalnya oleh karena kehadiran para
rocket scientist” dan para “financial engi-
neer
’’ pada lembaga keuangan.
Rocket scientist dalam industri
keuangan? Ya. Jangan membayangkan
mereka adalah ilmuwan roket beneran,
seperti yang bekerja di lembaga LAPAN
atau NASA. Ini hanyalah istilah dalam
industri keuangan yang ditujukan
kepada orang-orang yang memanfaat-
kan keahliannya di bidang sains dan
matematika untuk membuat model

kuantitatif kompleks yang membantu
bank, asuransi dan perusahaan investasi
untuk ‘’menghargai’’ suatu piranti atau
instrument investasi.
Sementara financial engineer adalah
suatu bidang keahlian multidisiplin –
komputasi, keuangan, metoda numerik
dan simulasi komputer; yang mem-
bantu pengambilan keputusan dalam
investasi, hedging, maupun perdagang-
an. Mereka akan membantu menen-
tukan risiko fnansial dari instrument
keuangan tertentu yang ‘’diciptakan’’.
Yang menjadi masalah dalam praktik
Wall Street adalah: keduanya makin
‘’kreatif’’ dan ‘’inovatif’’. Para rocket scien-
tist
punya cara untuk mentranform su-
rat hutang BB dan unrated yang berisiko
tinggi menjadi CDO dengan rating AAA
atau Aaa yang berisiko rendah. Semen-
tara para insinyur keuangan semakin
kreatif dan inovatif dalam menciptakan
produk kompleks, seperti Prime dan
sub-prime Mortgage Loan (produk
KPR), Asset Backed Securities/Mortgage
Backed Securities (MBS) /Commercial
MBS/Residential MBS (produk sekuriti-
sasi yang dicatat diluar buku lembaga
keuangan), Collateral Debt Obligation
(hutang dengan agunan hutang juga),
dan Credit Default Swaps (semacam
asuransi terhadap kegagalan bayar
kredit/hutang).

Pasar Over Optimistik

Karena uang tak pernah tidur, maka
investor pun memburu berbagai
macam perangkat investasi yang mem-
berikan tingkat pengembalian tinggi,
sementara pada sisi lain mereka makin
toleran terhadap risiko. ‘’Bank dan
lembaga keuangan agresif memberi
pinjaman dan sembarangan kepada in-
dividu yang tidak punya sejarah kredit,
tidak punya dokumen, tidak punya
pendapatan rutin. Mereka mengejar
bonus penjualan setiap tahun,’’ kata
Raden Pardede menjelaskan. Pada saat
yang sama, para pelaku di Wall Street
menciptakan produksi produk derivatif
yang kompleks dengan sangat kre-
atif dengan bantuan “rocket scientist
dan “financial engineer” tadi. ‘’Mereka
mendapat bayaran yang jauh lebih
tinggi lho daripada insinyur benaran,’’
selorohnya.

Kronologi Krisis

Krisis ini sudah terlihat tanda-tanda-
nya sejak pertengahan 2007. Di tengah
pertumbuhan ekonomi yang tinggi
dan bunga bank yang rendah, banyak
pelaku ekonomi menjadi over optimis-
tik. ’Ketika itu aktivitas saham menaik
secara drastis,’’ kata Raden Pardede.
Tapi optimisme tiba-tiba mengalami
titik balik hingga akhirnya harga saham
dan komoditas tiba-tiba menurun.
Sinyal itu dimulai dari Wall Street,
bersamaan dengan kolapsnya dua pe-
rusahaan hedge fund karena investasi
subprime mortgage yang gagal. Sikap
optimisme, yang dipicu oleh asumsi

‘‘Jika dilihat secara mendasar, alkimia dan akar masalah krisis sebe-
narnya sama, yaitu ‘’animal spirit’’ ekonomi manusia yang tidak

berubah. ‘‘

LAPORAN UTAMA

16 FORUM ALUMNI I April-Mei 2009

Pergeseran peran ICT bisa dilihat pada ilustrasi bagan I

dan bagan II. Jika dilihat pada penentuan tingkat daya
saing suatu bangsa (Global Competitiveness Index) di-
lakukan oleh World Economic Forum, ICT termasuk dalam
sub-indeks teknologi dan menjadi bagian atau pilar tolok
ukur indeks daya saing bangsa. Ada tiga sub-indeks daya
saing bangsa, yaitu: (1) teknologi; (2) institusi publik; dan
(3) ekonomi makro. Jika dilihat pada sub-indeks teknologi
terdiri dari (a) inovasi; (b) transfer teknologi; dan (c) ICT.

Menurut Rinaldi, ada beberapa area di mana ICT memi-
liki impak yang signifikan, di antaranya:
• Pendidikan dan Pelatihan
• Layanan dan Adminitrasi Sektor Publik
• Aktivitas Produksi dan Operasi
• Peningkatan Produktivitas untuk operasi industri

agrikultur

• Sektor swasta, terutama untuk sector layanan
• Pembangunan pedesaan

• Pendukung kegiatan komersial dan perdagangan
• Good Governance
• Poverty Alleviation and Wealth Creation.

Jika dilihat secara sekilas lingkungan industri teleko-
munikasi di Indonesia, maka dapat disimpulkan Indonesia
merupakan salah satu pasar yang paling kompetitif di
dunia. Ada tak kurang 11 operator yang melayani 227 juta
penduduk, 56% di antaranya merupakan generasi muda
yang dinamis.

Kerasnya pasar telekomunikasi di Indonesia bisa dilihat
dari persaingan ketat antar provider. Indonesia yang
sebelumnya dikenal sebagai wilayah dengan tarif komu-
nikasi termahal secara regional, kini dikenal sebagai pasar
dengan tarif komunikasi termurah. Perubahan dari tariff
termahal menjadi wilayah dengan tariff termurah ini hanya
berlangsung dalam 24 bulan.
Selain itu, perkembangan pasar ICT di Indonesia juga
melahirkan sejumlah peluang dengan makin populernya
pemanfaatan internet di masyarakat, baik untuk sekadar
browsing melalui google, aktivitas chatting melalui frien-
ster, mempublikasikan dan melihat video melalui Youtube,
membuat blog, hingga melakukan aktivitas jejaring social
melalui facebook. Di dalam negeri, pertumbuhan ICT ini
juga mendorong berkembangnya industri content karya
anak bangsa.

Dengan semakin berkembangnya pasar ICT di dalam
negeri, maka perlu dukungan untuk pengembangan ICT
Nasional hingga 2010 dengan memperhatikan tiga hal:
perluasan akses, pengembangan industri content, dan
pengenalan entity/komunitas pengguna ICT di Indonesia
(bagan III).

Epilog: Tantangan dan Rekomendasi

Kondisi saat ini:

• Karena terbatasnya kapasitas, jangkauan dan kualitas
infrastruktur ICT nasional sehingga kesenjangan digital
belum dapat dikurangi.

Tantangan ke depan:

• Dapat menempatkan teknologi informasi dan komu-
nikasi sebagai enabler pembangunan.
• Menumbuhkan iklim usaha yang sehat dalam industri
ICT baik dari sisi supply maupun demand.

Rekomendasi:

• Sinergi antara pemerintah dan penyelenggara, serta
masyarakat pengguna sesuai dengan peran dan kapasitas
masing-masing dalam menumbuhkan peran industri ICT
dalam pembangunan nasional.

Isu Kunci: ICT sebagai Peluang

Perubahan masyarakat industri ke masyarakat infor-
masi ditandai dengan semakin meningkatnya peran
informasi dalam kehidupan manusia. Menurut Dirut PT
Telkom Tbk. Rinaldi Firmansyah, pergeseran ini makin
membuat sektor ICT berperan strategis tidak saja
berperan dalam percepatan pembangunan ekonomi
tetapi juga peningkatan kualitas hidup masyarakat dan
daya saing nasional.

LAPORAN UTAMA

April -Mei 2009 I FORUM ALUMNI

17

bahwa pasar akan berjalan dengan
sempurna, bergerak ke arah sebaliknya.
Krisis kepercayaan terjadi. Saham dan
komoditas anjlok. ‘’Negara maju menga-
lami depresi ekonomi hebat, yang han-
ya bisa dibandingkan dengan peristiwa
“great depression” tahun 1930. ‘’Karena
mengalami tekanan yang luar biasa,
mereka harus menarik modal-modal
yang mereka tanam ke luar, terutama di
negara-negara berkembang, termasuk
di antaranya di Indonesia.’
Dari sinilah krisis lalu merembet ke
negara lain, bahkan ke sektor lain.
’’Awalnya hanya sektor keuangan.
Sekarang merambah ke sektor riil, yang
menyebabkan defasi yang membuat
pertumbuhan ekonomi yang negatif
selama dua kali berturut-turut.’’ Karena
krisis ini, maka pertumbuhan ekonomi
dunia diperkirakan hanya bertumbuh
0.5% pada tahun 2009, jauh dibawah

perkiraan semula. ‘’Itu pun mungkin
masih akan ada koreksi pertumbuhan
tersebut.’’

Kabar Baik: Pertumbuhan Masih Tinggi

Salah satu efek skunder dari krisis
adalah mengkerutnya pasar ekspor.
Maklum, krisis itu bermula dari Amerika
Serikat, yang merupakan negara pasar
besar dunia. Untungnya, sebagaimana
dilukiskan Fauziah Swasono, ekonom
alumni ITB yang juga dosen FEUI, kontri-
busi ekspor bagi pertumbuhan ekono-
mi Indonesia tidak besar. ‘’Sumbangan
terbesar pertumbuhan ekonomi Asia,
termasuk Indonesia, masih sangat besar
disumbang dari konsumsi swasta dan
investasi. Ekspor tidak terlalu besar. Ini
yang membuat kita mungkin lega. Di
tempat lain sudah mulai rata dengan
tanah, kita – minimal – masih bisa
bernafas untuk berbuat lebih banyak,’’
kata Fauziah, dalam roundtable IA-ITB
di Jakarta, Februari lalu.
Malahan, menurut Pardede, per-
tumbuhan ekonomi Indonesia yang
mencapai 4% akan menjadi pertum-
buhan tertinggi ketiga di dunia setelah
Cina dan India. ‘’Petumbuhan kita jauh
melampaui petumbuhan negara ne-
gara di ASEAN lainnya.’’ Selain masalah
ekspor yang relatif kecil, Indonesia juga
diuntungkan oleh pasar domestik yang
besar. ‘’Tentu saja adalah menjadi PR
bersama bagaimana kita harus bisa
bersaing di tanah sendiri.’’
Hal-hal lain yang juga membantu
adalah: tingkat ketergantungan yang
relatif kecil terhadap sumber pembi-
ayaan global (dibanding negara negara
tetangga), lembaga keuangan sudah

lebih terawasi, kepastian hukum dan
politik lebih baik, dan respon kebijakan
yang lebih cepat dibanding tahun
ketika krisis 19 97/98.

Kabar Baik, tapi Juga Kabar Buruk

Sekalipun begitu, bukan berarti kabar
baik tidak memiliki potensi kabar buruk.
Marilah kita melihat detail ekonomi kita,
yang sebagian masih merupakan efek
lanjutan dari krisis jilid pertama. Ambil-
lah sektor industri, yang memberikan
kontribusi hampir 27% PDB kita. . ‘’Per-
tumbuhannya cenderung menurun dari
2005,’’ komentar Amir Sambodo, Ketua
Bidang Bisnis dan Techoprenuer IA ITB.
Pada 2005, pertumbuhannya
mencapai 4,6 %. Pada kuartal kedua
tahun 2008, pertumbuhannya hanya
4,1%. Bisa dibayangkan apa yang terjadi
jika sektor ini tidak tumbuh di atas 7%.
‘’Pertumbuhan yang rendah di sektor
industri akan sangat berpengaruh pada
rendahnya penyerapan tenaga kerja
dan rendahnya produktivitas nasional.’’
Industri menengah kecil, yang
selama ini digadang-gadang pemer-
intah sebagai sektor yang memiliki
kelembaman tinggi dalam menyiasati
krisis, tidak mengalami pertumbuhan
baik karena kurangnya dukungan
dana dan pembinaan. Pada krisis jilid
pertama, industri menengah kecil dan
UKM, memang bisa bertahan karena
pasar global tumbuh dengan baik. Tapi
krisis jilid dua ini berbeda karena justru
mengakibatkan mengkerutnya pasar
global. Akibatnya, sektor industri pun
makin kelimpungan. ’’Pertumbuhan in-
dustri sangat rendah, bahkan ada gejala
deindustrialisasi’’.

‘‘Untungnya, ekspor kita tidak

terlalu besar. Ini yang membuat

kita mungkin lega. Di tempat

lain sudah mulai rata dengan

tanah, kita – minimal – masih

bisa bernafas untuk berbuat lebih

banyak.’’

Fauziah Swasono, ekonom alumni
ITB yang juga dosen FEUI

LAPORAN UTAMA

18 FORUM ALUMNI I April-Mei 2009

Fauziah Swasono sepakat dengan
sinyalemen itu. “Saya berkesempatan
mengunjungi Cikarang dan Cimahi
dalam waktu satu tahun lalu,’’ ceritanya.
‘’Saya menyaksikan puluhan perusahaan
tutup di satu kabupaten, seperti yang
terjadi misalnya di Cimahi. Ini berarti
gelombang PHK seperti tak terelakkan.’’
Selain masalah penutupan usaha
dan pengangguran, masih ada sejum-
lah risiko yang harus diantisipasi ke
depan. ‘’Pengusaha masih akan sulit
mendapatkan kredit karena ketidak pas-
tian dan saling tidak percaya. Apalagi

dari sejarah masa lampau pemulihan
bisa saja lama,’’ kata Raden Pardede.
Dalam jangka pendek, pemerintah
memang telah mengeluarkan kebijakan
stimulus fskal senilai Rp 73,3 trilyun,
dengan rincian Rp 56,3 trilyun berupa
stimulus perpajakan (penurunan tarif
PPh, Ppn dan bea masuk) serta Rp. 17

trilyun untuk belanja negara.

Strategi Untuk Mengeliat dari Krisis?

Nah, jika dalam jangka pendek kebi-
jakan stimulus fskal tampaknya sudah
disepakati semua pihak (bahkan sudah
diimplementasi pemerintah saat ini),
yang tampaknya akan menjadi wacana
bagi para pengambil kebijakan adalah
bagaimana strategi pembangunan
di masa mendatang. Soal inilah yang
menjadi wacana menarik, baik secara
internal di kalangan alumni ITB mau-
pun ekonom/ahli secara luas, politisi

dan masyarakat pada umumnya. Di
tengah aroma kampanye yang pekat
saat pemilu misalnya, beberapa partai
politik mengusung tema perubahan
kebijakan dari ekonomi pasar bebas
kepada ekonomi yang lebih berpihak
kepada masyarakat. Alumni ITB yang
mencalonkan diri jadi capres seperti

Rizal Ramli juga mengusung tema
perubahan kebijakan ekonomi secara
mendasar. Pertanyaannya adalah: pe-
rubahan seperti apa?
Tanpa mengabaikan sejumlah ke-
unggulan komparatif tradisional seperti
sumber daya alam, tenaga kerja dan
pasar, serta mengalirnya sumber daya
modal; memang diperlukan kebijakan
untuk memperkuat ekonomi mikro
yang membuat ekonomi tumbuh dan
berkembang lebih efsien serta lebih
memiliki nilai tambah.
Umar Juoro merupakan salah satu

pembicara yang memberikan perhatian
pada masalah ini. ‘’Stabilitas ekonomi
yang baik saat ini masih belum didu-
kung oleh daya saing mikro,’’ komen-
tarnya. Umar, yang lulusan FT ini,
melihat pengambil kebijakan masih me-
mandang soal hukum dan infrastruktur
sebagai permasalahan utama. ‘’Kedua
hal itu memang penting,’’ akunya.
Namun, katanya meneruskan, daya
saing di tingkat mikro berupa kecang-
gihan strategi perusahaanlah yang
bisa mensinergikan faktor input seperti
sumber daya alam, SDM dan teknologi;
persaingan, industri pendukung, dan
pasar yang kompetitif (khusus untuk
teknologi, lihat box halaman 8: Me-
ningkatkan Peran Teknologi dalam
Pembangunan
)

Membangun Faktor Keunggulan Baru

Dengan mendasarkan diri pada
model yang dikembangkan Micheal
E. Porter yang dikenal sebagai Porter’s
Diamond, Umar Juoro menekankan
perlunya bangsa Indonesia mengem-
bangkan faktor keunggulan baru.
Melalui bukunya The Competitive
Advantage of Nations,
Porter merupakan
ahli yang pertama mengembangkan
faktor keunggulan bangsa, di luar faktor

FIRM STRATEGY,
STRUCTURE AND
RIVALRY

RELATED AND
SUPPORTING IN-
DUSTRIES

DEMAND
CONDITIONS

FACTOR
CONDITIONS

GOVERNMENT

FACT

CHANCE

GGGGO
GOOO
GVE
VE
VERRR

GGG

TTOR
OR
TOR

ATEDA

Porter’s Diamond Model

‘’Stabilitas ekonomi yang baik saat ini masih belum didukung oleh

daya saing mikro ... (Padahal) daya saing di tingkat mikro

berupa kecanggihan strategi perusahaanlah yang bisa mensinergikan

faktor input seperti sumber daya alam, SDM dan teknologi; persaingan, i

ndustri pendukung, dan pasar yang kompetitf.‘‘

Umar Juoro, ekonom alumni ITB

LAPORAN UTAMA

April -Mei 2009 I FORUM ALUMNI

19

keunggulan konvensional seperti tanah,
lokasi yang strategis, sumber daya alam,
tenaga kerja yang besar, dan jumlah
penduduk. Bukunya, yang lahir setelah
melalui riset yang intensif di 10 negara
dengan pertumbuhan perdagangan
terbesar, merupakan buku pertama
yang menyebutkan tingkat produktivi-
tas yang disebabkan oleh persaingan
sehat perusahaan sebagai faktor keung-
gulan suatu negara. Dengan menggu-
nakan diagram berbentuk intan, Porter
mengembangkan kerangka kerja yang
menggambarkan bagaimana keung-
gulan tersebut terbangun (lihat Bagan
Porter’s Diamond Model).
Berbeda dengan kebijakan konven-
sional yang selama ini dipahami, Porter
juga menyatakan bahwa faktor-faktor
kunci produktivitas yang menjadi input
dasar (tenaga kerja terlatih, modal dan
infrastruktur) itu harus ‘’diciptakan’’
dan bukan ‘’diwariskan’’. Porter bahkan
menyebut faktor tenaga kerja murah
dan melimpahnya raw material bukan
sebagai faktor kunci (non-key factor).
Faktor ini gampang diduplikasi dan
tidak berkesinambungan. Karena itu
sebagai input dasarnya, Porter menyo-
dorkan input yang terspesialisasi yang
lebih bernilai, dan pada saat yang sama,
tidak gampang diduplikasi.
Umar Juoro memilih model ini untuk
mengembangkan Lingkungan Bisnis
Ekonomi Mikronya (lihat bagan). Empat
sudut diamond yang menjadi faktor
tersebut adalah Input (efsiensi, kualitas
dan spesialisasi input), Strategi dan Per-
saingan (Investasi Perusahaan, strategi,
dan intensitas persaingan), Permintaan
(Permintaan dan tekanan pembeli un-
tuk memperbaiki produk dan jasa), dan
Industri Pendukung (Ketersediaan dan
kualitas pemasok lokal-industri terkait,
kluster). Keempatnya saling terkait satu
sama lain.

Membangun Klaster Ekonomi

Hal penting yang juga disinggung
Umar Juoro adalah mengembangkan
kluster ekonomi, suatu istilah juga
diperkenalkan Porter.
Klaster adalah kelompok perusa-
haan yang secara geografs berdekatan
terkait dengan kelembagaan tertentu,
dalam suatu bidang tertentu yang
terkait satu dengan yang lain karena
kesamaan dan saling melengkapi.
‘’Kluster itu realitas, fenomena yang
tidak direncanakan. Klaster berkembang

dengan proses evolusinya sendiri yang
dapat saja dipengaruhi oleh tindakan
pemerintah maupun swasta, tetapi
sangat sulit untuk membentuknya.’’
Sekalipun untuk mewujudkan bukan
hal mudah, pengenalan adanya kluster
ekonomi itu penting. Selain untuk meng-
optimalkan potensi lokal, pemahaman
akan kluster ekonomi juga berfungsi
untuk meningkatkan produktivitas dan
efsiensi, minstimulasi inovasi, dan me-
ningkatkan komersialisasi.
Ada beberapa model kluster
ekonomi sering disebut. Di Amerika
ada Silicon Valley (IT/Computer) dan
Hollywood (industri flm dan kreatif); di
India ada Bengalore (software out-
soures) dan Bollywood (industri flm); di
Prancis ada Paris (mode); di Belanda ada
Rotterdam (industri logistik). Kalau di
Indonesia mungkin ada Bali (pariwisata),
Gorontalo yang berhasil dikembangkan
sabuk jagung Indonesia oleh Gubernur
Gorontalo yang juga alumni ITB Fadel
Muhammad, dan mungkin perlu dikem-
bangkan lagi kluster-kluster ekonomi
lain secara lebih luas.

Peran Pemerintah

Pertanyaannya, bagaimana peran
pemerintah? Apakah tumbuhnya Ling-
kungan Ekonomi Mikro yang baik ini
diserahkan sepenuhnya kepada mekan-
isme pasar? Atau harus lewat kebijakan
melalui mekanisme politik?
Ada sejumlah pilihan dan model.
‘’Pada beberapa negara seperti Taiwan

dan India perkembangan industri high
tech ditentukan oleh mekanisme pasar,
bahkan mengikuti persaingan global,’’
kata Umar Juoro memberikan con-
toh. Hal yang sama juga terjadi pada
sejumlah sektor industri di Amerika dan
sejumlah negara Barat. (‘’Kecuali industri
pertahanan. Di AS, juga dikebanyakan
negara, ditentukan oleh keputusan poli-
tik.’’) Sebaliknya di kebanyakan negara
berkembang, peran pemerintah domi-
nan membentuk lingkungan ekonomi
mikro ini. Contoh yang baik dan berhasil
barangkali adalah Cina.
Lalu bagaimana sebaiknya strategi
yang dipilih Indonesia? Di mata Umar,
sinergi antara keputusan politik dan
mekanisme pasar sebagai hal yang
lebih realities. Indonesia bisa mengam-
bil contoh Jepang dan Korea. ‘’Pen-
galaman kedua negara menunjukkan
berhasilnya sinergi yang optimal antara
putusan politik dan mekanisme pasar
dalam pengembangan teknologi dan
industri,’’ katanya.
Raden Pardede juga menambahkan
pentingnya memperkuat arsitektur
keuangan yang menjamin pembiayaan
jangka panjang, dengan mengem-
bangkan lembaga keuangan yang lebih
spesifk. Misalnya, ada bank pembangu-
nan, bank infrastruktur, bank pertanian,
venture capital untuk produk teknologi,
dan bank pedesaan sebagai pember-
dayaan dan peluasan fungsi yang sudah
dijalankan oleh BRI saat ini..

STRATEGI & PERSAIN-
GAN:
Investasi Perusahaan,
strategi, dan intensitas
persaingan

INDUSTRI PENDUKUNG,
Ketersediaan dan kualitas
pemasok lokal dan industri
berkaitan, kluster

PERMINTAAN
Permintaan
domestik dan
tekanan pembeli
utk memperbaiki
produk dan jasa

INPUT
Efisiensi, kualitas,
dan spesialisasi input:
Sumber daya manusia
Modal
Infrastruktur fisik
Infrastruktur administratif
Infrastruktur informasi
Infrastruktur iptek
Sumber daya alam

ututk
ppro
pp

ENENDUK
DUKUU

Lingkungan Bisnis Ekonomi Mikro

(Diadopsi dari Porter’s Diamond)

LAPORAN UTAMA

20 FORUM ALUMNI I April-Mei 2009

Negara Republik Indonesia ini bukan milik sesuatu golongan, bukan

milik sesuatu agama, bukan milik sesuatu suku, bukan milik sesuatu

golongan adat-istiadat, tetapi milik kita semua dari Sabang sampai

Merauke!

Ir. Soekarno – Presiden RI Pertama, Alumni ITB

Membangun bangsa adalah

sebuah kerja besar yang
menuntut kerja keras dan
komitmen kuat dari seluruh
warga bangsa. Setelah lebih dari 63 tahun
Indonesia, capaian pembangunan yang
berhasil dilakukan telah menempatkan
Indonesia menjadi bangsa yang jauh lebih
maju dan lebih kokoh dibandingkan den-
gan kondisi di awal kemerdekaan
Jika kita lihat dalam sejarah, sejatinya se-
menjak diproklamirkannya negara ini, maka
bingkai kehidupan berpolitik yang kita sep-
akati bersama adalah kehidupan demokrasi.
Bagi bangsa Indonesia, demokrasi adalah
roh roh kehidupan berpolitik, teru-
tama dalam penyelenggaran kehidupan

berbangsa dan bernegara. Bagi bangsa
Indonesia, demokrasi juga menjadi syarat
dan sarana untuk mewujudkan kesejahter-
aan seluruh rakyat sebagai bentuk dan cara
hidup bernegara dan bermasyarakat. Oleh
karena itu, dalam menilai tingkat kemajuan
kehidupan berpolitik ditanah air, maka hal
itu sama artinya dengan mengukur kualitas
kemajuan pembangunan demokrasi.

Pembangunan Demokrasi Indonesia

Dilihat ke belakang, pembangunan
demokrasi di Indonesia dimulai dari 1
November 1945, ketika keluar Maklumat X
(Maklumat Moh. Hatta) yang memberikan
kesempatan kepada masyarakat untuk
mendirikan Partai Politik. Setelah diter-
uskan dengan penyelenggaraan Pemilu
1955, sebagai pemilu dengan sistem multi
partai dan paling demokratis dalam sejarah
bangsa Indonesia. Setelah itu, periode dua
ditandai dengan kecenderungan Pseudo
demokratis, yaitu demokrasi yang dikon-
trol ketat oleh pemerintah pada masa

Orde Baru. Setelah reformasi, demokrasi di
Indonesia kembali menemukan tempatnya
dengan digelarnya Pemilu 2004. Dalam
pemilu ini, untuk pertama kalinya pemi-
lihan presiden dan pilkada dipilih secara
langsung. Pertama kali dalam sejarah
demokrasi nasional, every vote counts.
Pembangunan demokrasi di Indonesia
makin berkembang maju sejalan dengan
penghapusan diskriminasi ras dan etnis,
seiring dengan lahirnya UU 40/2008
tentang penghapusan diskriminasi ras
dan etnis. Pada saat ini, lahir UU 10/2008
yang mendewasakan partai politik. UU ini
menegaskan fungsi Parpol sebagai sarana
pembelajaran politik bagi masyarakat.
Keberhasilan pembangunan di bidang
demokrasi dan penyelenggaran pemer-
intahan yang demokratis telah menem-
patkan Indonesia sebagai tiga negara
demokrasi terbesar di dunia bersama-sama
Amerika Serikat dan India. Ini dibuktikan
Indeks Demokrasi (democracy index) yang
cukup baik (no empat, setelah Swedia,
AS dan India). Indonesia bahkan lebih
demokratis dibandingkan beberapa negara
ASEAN. [Ref.: The Economist Unit’s Intel-
legence of Democracy, Data January 2007]

Membangun Daya Saing Bangsa

Selain berhasil melaksanakan pemban-
gunan di bidang demokrasi, kita juga terus

KRISIS SEBAGAI TITIK
UNTUK MEMULAI PERUBAHAN

Tetap Optimis dan bersikap rasional. Itulah ajakan Ketua Umum IA-ITB Hatta
Rajasa dalam kesempatan Acara Ikatan Alumni – Institut Teknologi Band-
ung, 7 Maret lalu. Berikut presentasi/makalah yang disampaikan oleh Ketua
Umum IA-ITB Hatta Rajasa:

LAPORAN UTAMA

April -Mei 2009 I FORUM ALUMNI

21

berupaya membangun daya saing bangsa,
yang antara lain ditandai dengan keber-
hasilan menyelenggarakan pembangunan
yang berprestasi internasional, antara lain:
• Keberhasilan mengatasi krisis kenaikan
harga pangan. Pada KTT Pangan di Roma,
8 Juni 2008, FAO Memuji Indonesia sebagai
negara yang tidak saja berhasil mening-
katkan produktivitas pangan tetapi juga
mengendalikan harga. FAO rekomendasi-
kan strategi Indonesia sebagai role-model
bagi bangsa bangsa lain.
• Keterlibatan nyata mengatasi dampak
lingkungan. Pada Pertemuan G-8 Plus D-8,
Indonesia dipuji sebagai negara dengan
peran yang sangat aktif dalam mengatasi
dampak pemanasan global melalui pra-
karsa Conference on Parties (COP) ke-13 di
Bali dan disepakatinya Bali RoadMap.
• Keberhasilan dalam menurunkan ting-
kat kemiskinan. Kita berhasil menurunkan
kemiskinan dari 17,7% (2006) menjadi
15,4% (2008) dan pengangguran, dari
10,5% (2006) menjadi 8,5% (2008). World
Bank menilai penurunan angka kemiskinan
adalah terendah dalam 10 tahun terakhir.
Capaian-Bangsa Indonesia itu tentu
memberikan kontribusi pada pembangu-
nan peradaban global. Penurunan tingkat
kemiskinan di Indonesia dipastikan ikut
memberikan kontribusi pada pencapaian
Tujuan Pembangunan Milenium
Ada juga sejumlah bukti lain yang
menunjukkan daya saing bangsa yang
meningkat, di antaranya:
• Penilaian OECD. Negara maju yang
tergabung dalam OECD bulan Juli 2008,
telah menempatkan Indonesia kedalam
kelompok Enhanced Engagement Coun-
tries, yaitu negara yang harus ditingkatkan
keterlibatannya dengan negara maju.
• Global Competitiveness Index me-
nyatakan bahwa ranking Indonesia terus
membaik dari peringkat ke-69 (2004) ke
ranking 55 (2008).
• Penilaian PriceWaterHouse Coopers: In-
donesia menjadi The Emerging Seven (E-7)

atau 7 negara maju di dunia ditahun 2030.
• Dokumen “Global Trend 2025: A Trans-
formed World”, lansiran Pemerintah AS
(2008) secara eksplisit menyebutkan bahwa
Indonesia bersama dengan Iran dan Turki
akan menjadi pilar kekuatan ekonomi dunia
setelah India, Cina, Brasil dan Russia.
• Keberhasilan dalam menurunkan ting-
kat kemiskinan; kita berhasil menurunkan
kemiskinan dari 17,7% (2006) menjadi
15,4% (2008) dan pengangguran, dari
10,5% (2006) menjadi 8,5% (2008). World
Bank menilai penurunan angka kemiskinan
adalah terendah dalam 10 tahun terakhir.
Capaian-Bangsa Indonesia itu tentu
memberikan kontribusi pada pembangu-
nan peradaban global. Penurunan tingkat
kemiskinan di Indonesia dipastikan ikut
memberikan kontribusi pada pencapaian
Tujuan Pembangunan Milenium

Penataan Birokrasi

Kita juga melakukan penataan di bidang
birokrasi dan pemerintahan yang makin
bersih dan makin akuntabel. Penataan ini
ditujukan perbaikan tiga Indeks Korupsi,
yaitu Indeks Pengendalian Korupsi (Control
Corruption Index, CCI), Indeks Potensi Koru-
psi (International Country Risk Guide, ICRG),
dan Indeks Persepsi Korupsi, Corruption
Perception Index (CPI). Patut dikemukakan
bahwa ketiganya saat ini terus membaik.
• Indeks Pengendalian Korupsi (CCI) terus
menunjukkan perbaikan, yaitu dari– 1,01
pada tahun 2000 menjadi -0,77 pada tahun
2006 untuk skala antara -2,50 – 2,50.
• Untuk indeks Potensi Korupsi (ICRG),
nilai potensi korupsi Indonesia pada tahun
2006 berada pada skala 2,33, membaik
dibandingkan posisi tahun 2000 yaitu 1,92
pada skala 0 – 6, dengan skala 6 adalah nilai
untuk potensi korupsi paling kecil.
• Untuk indeks Persepsi Korupsi (CPI),
nilai persepsi korupsi Indonesia terus mem-
baik, dengan memperoleh nilai 2,30 pada
tahun 2007, dibandingkan dengan nilai
1,70 di tahun 2000 , untuk skala 1 – 10, den-

gan nilai 10 untuk potensi korupsi paling
kecil (Ref : Buku UNDP Report on Corruption
for 2008, UNDP 2008
)

Meningkatkan Kemandirian Bangsa

Kita bertekad untuk terus meningkatkan
kemandirian bangsa. Ini antara lain dibuk-
tikan oleh bangsa Indonesia yang berhasil
berhasil melunasi seluruh hutang IMF,
senilai US$ 7,8 milyar, Oktober 2006. Pada
tahun yang sama, kita pun keluar dari CGI.
Untuk menciptakan kemandirian dan
daya saing yang berkelanjutan (sustainable
competitiveness), pemerintah bersama
DPR telah membuat terobosan besar yaitu
dengan mengalokasikan anggaran pen-
didikan sebesar 20% dari APBN 2009, atau
senilai Rp 207,4 Trilyun.
Sebagai bangsa, kita terus terlibat
aktif dalam memberikan kontribusi pada
pembangunan peradaban global. Patut
diingat, Indonesia adalah negara dengan
perpaduan tiga budaya besar dunia yaitu:
Barat, Timur (Hindu dan Budha) dan Islam.
Indonesia memiliki potensi yang signifkan
untuk memainkan peran dalam percaturan
budaya dan peradaban.

Epilog

Dalam kesempatan ini saya mengajak
kepada segenap alumni ITB untuk terus
terlibat aktif dan berpartisipasi aktif
dengan mengedepankan kreatifitas dan
inovasi untuk MEMELIHARA DAN MENIN-
GKATKAN momentum Pembangunan.
Saat ini memang tengah terjadi krisis
global yang pengaruhnya kita rasakan di
Indonesia. Tapi kita harus tetap optimis
dan bersikap rasional dalam menyikapi
krisis dan tantangan pembangunan.

Pegang teguh prinsip: crisis, if handled
correctly, can be the starting point of
change and reform.
Tetap bina dan
perkokoh kerjasama lintas alumni
untuk meraih peluang sebaik-baiknya:
strengthen relationships and seize op-
portunities.

‘‘Tapi kita harus tetap optimis dan bersikap rasional dalam
menyikapi krisis dan tantangan pembangunan. Pegang teguh
prinsip: crisis, if handled correctly, can be the starting point of
change and reform
.’’

M. Hatta Rajasa, Ketua Umum PP IA-ITB

LAPORAN UTAMA

22 FORUM ALUMNI I April-Mei 2009

Secara sederhana dapat dika-

takan bahwa korupsi terjadi
sebagai pertemuan antara niat
dan kesempatan. Niat terkait
dengan perilaku dan perilaku tidak
dapat dipisahkan dengan nilai-nilai.
Sementara kesempatan untuk melaku-
kan korupsi banyak dibuka oleh
kelemahan sistem.
Berdasarkan pengertian itulah
maka Pemberantasan Tindak Pidana
Korupsi (TPK) didefinisikan sebagai
serangkaian tindakan untuk mence-
gah dan memberantas TPK melalui
upaya koordinasi, supervisi, monitor,
penyelidikan-penyidikan-penuntutan
dan pemeriksaan di sidang pengadilan
dengan peran serta masyarakat.
Ketika upaya pemberantasan ko-
rupsi dilakukan, banyak tudingan oleh
sebagian kalangan seolah-olah pem-
berantasan korupsi telah menghambat
roda ekonomi. Seolah-olah melambat-
nya perputaran roda ekonomi sektor
riil dialamatkan pada upaya pemberan-
tasan korupsi, terutama yang dilakukan
oleh KPK. Timbul pertanyaan: apakah
benar dana APBN/D tertahan karena
orang takut bermasalah dengan KPK,
atau apakah ada yang diuntungkan
dari kelambatan ini? Kalau APBN/D di-
jalankan dengan transparansi, partisi-
pasi dan akuntabilitas, tidak ada alasan
untuk timbulnya rasa ‘ketakutan’ itu.

Memang, di masa lalu ada pandan-
gan di sebagian para ahli yang ber-
pendapat bahwa korupsi berdampak
positif bagi pembangunan karena
terjadi terjadi pengumpulan rente
ekonomi sebagai modal pembangu-
nan dan pertumbuhan ekonomi.
Tapi apa fakta yang terbukti
sekarang? Negara-negara korup harus
membayar hutang yang lebih besar.
Negara-negara yang tingkat korup-
sinya tinggi harus membayar harga
infrastruktur yang lebih tinggi . Tingkat
korupsi yang tinggi ternyata me-
nyebabkan ketimpangan pendapatan
dan kemiskinan, menurunkan investasi

dan karenanya menurunkan pertum-
buhan ekonomi.
Sebaliknya negara-negara yang di-
anggap memiliki tingkat korupsi yang
relatif rendah selalu menarik investasi
lebih banyak dari pada negara-negara
yang dianggap lebih rentan terhadap
kegiatan korupsi. Persepsi korupsi
ternyata memiliki dampak yang kuat
dan negatif terhadap arus investasi.
Sebuah penelitian yang dilaku-
kan oleh Ben Olken/Abhijit Banerjee
(Harvard Univ, MIT, & J- Poverty Action
Lab) mengenai ongkos sosial yang
dibayar karena maraknya praktek
korupsi menyimpulkan fakta menarik.
Pertama, pada praktik suap, besaran
uang suap yang berpindah hanya
merupakan ’money transfered’ dan ’bu-
kan social cost’ itu sendiri. Uang suap
itu tetap dapat beredar dan memutar
roda ekonomi. Kedua, ini yang perlu
diperhatikan, tindakan koruptif itulah
yang membawa akibat sosial sekalipun
tanpa adanya uang suap/gratifikasi.
Ongkos sosial yang harus dibayar
di antaranya adalah: kegagalan fungsi
aturan, terjadinya mis-alokasi (ang-
garan), rendahnya kualitas barang dan
jasa yang dihasilkan karena praktek
korupsi, kelambatan mobilisasi sumber
daya, dan lain sebagainya; yang pada
akhirnya akan menghambat pencapai-
an cita-cita bangsa.

TINDAK PIDANA KORUPSI

ANTARA NIAT DAN KESEMPATAN

Tak diragukan lagi,

pemberantasan tindak pidana

korupsi merupakan hal yang

penting untuk memperkuat

sub-indeks daya saing bangsa,

khususnya di sisi kelembagaan.

Berikut penyampaian makalah

Ketua Komisi Pemberantasan

Korupsi (KPK) Antasari Azhar.

Negara-negara

yang dianggap memiliki
tingkat korupsi yang relatif
rendah selalu menarik
investasi lebih banyak dari
pada negara-negara yang
dianggap lebih rentan

terhadap korupsi ...

LAPORAN UTAMA

April -Mei 2009 I FORUM ALUMNI

23

Kamis, 19 Pebruari 2009,

18 orang terlibat diskusi
serius di salah satu ruang-
an hotel bintang lima di
pusat kota Jakarta. Meski
ruangan cukup dingin,
namun para peserta diskusi tetap
semangat melontarkan gagasan. Acara
yang difasilitasi oleh PP Ikatan Alumni
(IA) ITB itu menghadirkan sejumlah ci-
tivitas akademika ITB seperti guru besar,
dosen, KM ITB dan alumni ITB. Diskusi
yang berlangsung selama tiga jam itu
bertemakan meningkatkan daya saing
bangsa Indonesia.
Acara berformat roundtable itu
merupakan kelanjutan dari diskusi
sebelumnya yang difasilitasi oleh PP
IA ITB guna menyambut Dies Natalis
ITB ke 50. Diskusi pertama berlang-
sung pada tanggal 4 Desember 2008
di Jakarta. Kemudian disusul dengan
acara seminar pada 18 Desember 2008
bertempat di Graha Telkom, Jakarta.
Amir Sambodo, Ketua Bidang Bisnis

dan Techoprenuer IA ITB saat ditemui
disela-sela roundtable mengatakan,
diskusi tersebut bertujuan untuk me-
nyempurnakan draft tentang visi pem-
bangunan Indonesia 2020. Rencananya
konsep itu akan disampaikan dalam
acara Dies Natalis ITB pada tanggal 7
Maret 2009. “Bentuk sumbangsih IA ITB
terhadap bangsa,” ujar Amir.
Dipilihnya tema diskusi roundtable
II seperti tertulis dalam TOR, karena
menurut World Economic Forum (WEF)
tingkat daya saing Indonesia pada tahun
2008 berada di peringkat ke 55. Posisi itu
menurun satu tingkat jika dibandingkan
tahun 2007 yang menduduki peringkat
ke-54 dari 132 negara yang disurvei.
World Economic Forum mengelom-
pokkan tingkat daya saing suatu negara
dalam tiga kategori yaitu innovation
driven, ef ciency driven dan key driven.
Indonesia ditempatkan pada “kasta”
terendah yaitu key driven dimana
masih dalam taraf awal tingkat keung-
gulan kompetitif. Strata ini didukung

oleh faktor-faktor dasar seperti institusi,
infrastruktur, stabilitas makro ekonomi,
kesehatan dan pendidikan dasar yang
masih rendah.
Untuk dapat memperbaiki peringkat
kompetitif di dunia, Indonesia harus
memperbaiki daya saingnya teru-
tama di sektor infrastruktur, kesiapan
teknologi (technology readiness), ke-
canggihan bisnis (business sophistica-
tion) dan kapasitas inovasi (innovation
capacity).

Amir menambahkan, peningkatan
daya saing bangsa merupakan salah
satu tujuan yang akan dicapai dari visi
pembangunan Indonesia 2020 yang
berbasis pada budaya kreatif, sains dan
teknologi. “IA ITB dan civitas akademika
ITB harus terlibat aktif didalamnya.”
Selain meningkatkan daya saing
bangsa, visi Indonesia 2020 memi-
liki tiga tujuan lain yaitu pemerataan
hasil pembangunan, pengembangan
potensi lokal dan penguatan budaya
kreatif, sains dan teknologi.

ROUNDTABLE DISCUSSION

MENINGKATKAN DAYA SAING BANGSA

Guna membuat draft

rancangan tentang Visi

Pembangunan Indonesia

2020, PP IA-ITB menggelar

roundtable yang berlang-

sung pada 4 Desember dan

19 Februari di Jakarta.

LAPORAN UTAMA

24 FORUM ALUMNI I April-Mei 2009

Pemerataan hasil pembangunan
dengan memprioritaskan pemenuhan
Standar Pelayanan Minimal Nasional
(SPM) meliputi tiga sub sektor yaitu
percepatan pembangunan daerah
tertinggal dan perbatasan melalui
peningkatan kapasitas lokal, SPM yang
mendukung modal dasar penguatan
kompetensi bangsa dan mempriori-
taskan pembangunan nasional (fokus)
dan keunggulan lokal (locus).
Sedangkan pengembangan potensi
lokal dan regional harus berlandaskan
pembangunan yang berkelanjutan.
Beragamnya potensi lokal yang terse-
bar di seluruh Nusantara mesti dikelola
dengan optimal. Untuk itu dibutuhkan
pemetaan yang dapat mengidentifkasi
kelebihan suatu daerah dengan daerah
lainnya.

Sementara budaya kreatif, sains
dan teknologi harus ditunjang de-
ngan riset. Untuk itu Amir berharap
agar riset-riset yang diproduksi oleh
ITB dapat disesuaikan dengan kondisi
pasar. Dengan begitu, sumbangsih ITB
dapat lebih nyata dalam mendorong
kemajuan bangsa. “Manfaatkan semua
sarana untuk mempromosikan hasil

riset,” ucap Amir yang juga menjabat
sebagai Presiden Direktur PT Tuban
Petrochemical Industries ini.
Bagi Amir, riset tidaklah harus
melakukan invention yang baru. Tetapi
dapat juga memanfaatkan sesuatu
yang telah ada di pasar. ‘Harus cermat
melihat peluang di pasar,” ucapnya.
Melalui hasil riset yang bermutu maka
industri akan tertarik untuk bermitra
dengan kampus.
Sejauh ini, ITB telah memiliki inkuba-

tor bisnis sedangkan IA mempunyai
modal ventura dan technoprenuer fo-
rum yang dapat dimanfaatkan sebagai
sarana promosi hasil riset ITB.
Sementara itu, Fauziah, ekonom
IA ITB, dalam kesempatan yang sama
mengungkapkan visi Indonesia 2020
diperlukan sebagai acuan dalam
proses pembangunan. “Agar lebih
sistematis dan jelas standar penguku-
rannya,” ucapnya. Untuk itu, pelaksan-
aannya perlu dilakukan secara berta-
hap sesuai dengan kemampuan.
Tahap pertama yang mesti di-
lakukan adalah pemetaan daerah.
Hal itu bertujuan untuk mengetahui
keunggulan daerah yang tentunya
berbeda dengan yang daerah lain-
nya. “Bisa ditempuh dalam 1-2 tahun
mendatang,” ucapnya. Dengan begitu,
pengembangan sains dan teknologi
dapat disesuaikan dengan potensi
lokal setempat. “Akan menghasilkan
nilai ekonomis bagi bangsa,” ucapnya.
Fauziah menambahkan, pasca
pemetaan maka dibutuhkan pengga-
langan dana untuk riset dan develop-
ment. Untuk itu peran serta pemerin-
tah dan swasta sangat dibutuhkan.

... riset tidaklah
harus melakukan
invention yang baru.
Tetapi dapat juga
memanfaatkan sesuatu
yang telah ada
di pasar.

ROUNTABLE II: Suasana roundtable kedua yang berlangsung pada 19 Februari 2009

LAPORAN UTAMA

April -Mei 2009 I FORUM ALUMNI

25

VISI :

Indonesia Sejahtera melalui pembangunan yang merata seba-
gai hasil dari peningkatan produktivitas berbasis budaya kreatif,
sains, dan teknologi dengan memanfaatkan potensi lokal.

TUJUAN:

A. Meningkatkan daya saing bangsa melalui pendidikan dan
dukungan pemerintah
B. Pemerataan pembangunan dengan prioritas pemenuhan
Standar Pelayanan Minimal Nasional
C. Mengembangkan potensi lokal dan regional dengan konsep
pembangunan nasional yang berkelanjutan
D. Penguatan budaya kreatif, sains, dan teknologi untuk men-
dukung kemandirian bangsa.

STRATEGI

A. Meningkatkan daya saing bangsa melalui pendidikan dan
dukungan pemerintah:

a. Pendidikan berbasis kebutuhan jangka menengah dan panjang

b. Pemetaan pendidikan sesuai dengan kebutuhan dan perkem-
bangan budaya kreatif, sains dan teknologi bangsa: Dilakukan
dengan menguatkan dengan pemahaman ilmu dasar sejak pen-
didikan dasar dan membuat kurikulum nasional yang harmoni
dengan arah pembangunan sains dan teknologi Indonesia.

B. Regulasi yang meningkatkan iklim investasi yang kondusif.
Dilakukan dengan mengubah paradigma ‘kedaerahan’ menjadi
‘keekonomian’ dan memerangi ekonomi biaya tinggi

C. Pemerataan pembangunan dengan prioritas pemenuhan
standar pelayanan minimum nasional:

a. Percepatan pembangunan daerah tertinggal dan perbatasan
melalui peningkatan kapasitas lokal. Pemetaan potensi dan kebu-
tuhan daerah tertinggal/perbatasan Belanja daerah diarahkan
untuk prioritas pembangunan

b. SPM mendukung modal dasar penguatan kompetensi bangsa:
SPM yang memenuhi kebutuhan dasar dan realistis. Dan Pe-
menuhan SPM pada tiga sektor pokok: pendidikan, kesehatan,
infrastruktur dasar.

c. Prioritas pembangunan nasional (fokus) dan keunggulan lokal
(lokus). Penetapan prioritas pembangunan nasional jangka
menengah dan panjang yang konsisten Sinergi prioritas nasional
dengan keunikan dan keberagaman lokal

D. Mengembangkan potensi lokal dan regional dengan konsep
pembangunan berkelanjutan melalui: Pembangunan berbasis
potensi lokal, Kerja sama antardaerah yang saling mengun-
tungkan, dan Konsep pembangunan yang berkelanjutan secara
nasional.
E. Penguatan budaya kreatif, sains, dan teknologi untuk men-
dukung kemandirian bangsa

• Mengembangkan teknologi hijau (green technology ) sesuai dengan
prioritas pembangunan berkelanjutan
• Kerja sama pemerintah nasional dan daerah dengan universitas.
• Pengembangan universitas unggulan melalui pengembangan riset

kreatif, sains, dan teknologi, technology park.

KONSEP PEMBANGUNAN INDONESIA 2020

• Supply dan kebutuhan tidak
sesuai

• Arah pendidikan sebagai pem-
bentuk dasar kompetensi bangsa
tidak jelas

• Potensi lokal belum diberdaya-
kan

• Ketidaksesuaian yang minimum
antara supply dan demand tenaga
kerja.
• Pilihan jenis dan jenjang pen-
didikan yang disesuaikan dengan
target pembangunan daya saing
bangsa.
• Arahan kompetensi peserta didik
untuk menguasai pemanfaatan
potensi lokal

2009 2020

• Ristek terpisah dari Pendidikan

• Kurikulum IPA dikdasmen berori-
entasi teori dan hapalan
• Kurang kerjasama antara PT
dengan lembaga riset nasional
(LIPI, BPPT, Batan, dsb)

• Pengembangan Sains dan
Teknologi menjadi bagian terinte-
grasi dengan Pendidikan
• Kurikulum IPA yang menarik dan
berfokus pada pemahaman
• Kerjasama yang erat antara PT
dan lembaga riset nasional.

2009 2020

• Masih banyak regulasi yang
bersifat red-tape dan menimbulkan
HCE
• Masih ada bagian dalam
perizinan usaha yang kewenan-
gan antara pusat dan daerah
belum jelas
• Masih banyak daerah yang
kapasitasnya kurang untuk men-
dorong iklim investasi

• Regulasi menjadi sederhana,
efektif, dan tidak membebani iklim
usaha
• Kejelasan kewenangan pusat dan
daerah dalam perizinan

• Daerah memiliki kemampuan
kompetitif untuk menciptakan iklim
usaha yang sehat

2009 2020

• Definisi daerah tertinggal masih
tidak tegas

• Fokus terhadap daerah terting-
gal masih pada masalahnya,
bukan potensinya
• Pembangunan DT/P tidak
signifikan dan terencana dengan
baik sehingga tidak banyak
perbaikan yang berarti

• Pendefisinian dan pemetaan
kebutuhan dan potensi daerah
tertinggal
• Fokus pada pengembangan
potensi untuk menyelesaikan per-
masalahannya
• Perencanaan dan pelaksanaan
pembangunan DT/P secara terukur
dan berbasis potensi lokal.

2009 2020

• Belum ada SPM yang realistis

• Semua K/L membuat SPM
tanpa melihat kemampuan untuk
mencapainya

• Kemampuan daerah mencapai
SPM sangat variatif

• SPM yang realistis dan sesuai
dengan kemampuan nasional
• SPM berfokus pada sektor yang
merupakan modal dasar kom-
petensi: pendidikan, kesehatan,
infrastruktur.
• Kemampuan daerah untuk men-
capai SPM dasar cukup merata

2009 2020

• Prioritas pembangunan nasional
jangka panjang dan menengah
belum diterjemahkan ke dalam
prioritas pembangunan tahunan
• Waktu perencanaan yang san-
gat singkat menyebabkan evaluasi
tidak efektif
• Kurang harmonisasi dan sinergi
antara prioritas nasional dan
prioritas daerah

• Konsistensi prioritas pembangu-
nan jangka panjang, menengah,
dan pendek.

• Menerapkan Multi-Terms Expendi-
ture Framework (MTEF)

• Harmonisasi prioritas nasional
dan potensi daerah yang beragam

2009 2020

LAPORAN UTAMA

26 FORUM ALUMNI I April-Mei 2009

Pilar 1: Kelembagaan

Dalam suatu talkshow TV mengenai

besarnya minat orang Indonesia terhadap

properti di Australia dan Singapura, terselip

satu pertanyaan penting: mengapa?

Jawaban yang dikemukakan narasumber,

seorang pengamat property Indonesia,

adalah: kepastian hukum. Pembeli percaya

bahwa, meski mereka warga asing, hak

milik mereka akan dilindungi. Pembeli

juga percaya bahwa investasi mereka akan

terjaga, dan karena itu mereka tak segan

untuk mengeluarkan uang lagi untuk

merawat dan menjaga hak milik mereka

karena mereka pun yakin bahwa pasar

skunder bisa memberi nilai tambah terh-

adap investasi yang mereka tanam. Mereka

pun percaya bahwa pihak otoritas akan

melindungi dan mendukung mereka da-

lam bertransaksi, dalam proses pembelian

awal maupun transaksi di pasar skunder

berikutnya.

Cerita lain, dalam suatu publikasi

majalah pertanian terkemuka di Indonesia,

seorang penyilang tanaman langka lebih

suka mematenkan hasil karyanya di Amer-

ika Serikat dan bukan di Indonesia. Alasan-

nya? Proses di negeri Paman Sam tersebut

lebih mudah dan cepat. Selain itu, dia

pun merasa hasil kerja kerasnya selama

bertahun-tahun lebih dilindungi.’’Di sini,

penemunya sering gigit jari sementara

yang lain bisa menikmati keuntungan

ekonomi yang lebih. Kita, yang bekerja

keras sejak awal, jadi keki,’’ katanya.

Benar merah dari keduanya adalah

faktor kelembagaan, yang menjadi pilar

pertama yang menentukan daya saing

bangsa.

Kelembagaan merupakan suatu jar-

ingan kompleks yang melibatkan inter-

aksi antara birokasi, perangkat hukum/

regulasi, kebijakan, pihak swasta maupun

masyarakat umum yang menciptakan

hubungan timbal balik. Pada satu segi

kelembagaan – seperti kepastian hukum,

transparasi, keberpihakan pada pasar,

efektivitas birokrasi, dan lain-lain -- bisa

mendorong pendistribusian manfaat

maupun keuntungan. Tapi pada sisi lain,

kelembagaan juga bisa menyebabkan

biaya yang diakibatkan oleh pilihan strategi

pembangunan dan kebijakan serta kinerja

Kelembagaan
merupakan jaringan
kompleks yang melibatkan
interaksi antara birokasi,
perangkat hukum/regulasi,
kebijakan, pihak swasta
maupun masyarakat
umum

LAPORAN UTAMA

12 Pilar Daya Saing versi World Economic Forum

DARI INSTITUSI
HINGGA INOVASI

Negara itu boleh terhempas ke dalam

krisis keuangan yang parah. Tapi Amerika

Serikat, negara yang menjadi biang keladi

krisis global saat ini, tetapi menduduki

ranking 1 dunia untuk indeks daya saing

bangsa. Ada beberapa satu alasan penting

mengapa Amerika tetap menduduki posisi

teratas dalam laporan yang dikeluarkan

WEF tersebut. Pasar finansial hanyalah

satu dari sekian puluhan komponen yang

dipilah ke dalam 12 pilar utama. Stabilitas

makro negara itu boleh menduduki posisi

yang jeblok, bebeberapa malah ada pada posisi 100-an dari 134 negara

yang disurvei. Tapi banyak komponen lainnya, seperti ukuran pasar,

ketersediaan teknologi, infrastruktur yang baik, sumberdaya yang ahli

dan terlatih, dan terutama sekali inovasi di bidang teknologi baru; tetap

membuat negeri ini layak memperoleh sebutan sebagai negara adidaya.

Secara score total Amerika tetap menduduki rangking pertama untuk

indeks daya saing bangsa, yang berarti tidak berbeda dengan laporan

lembaga yang sama, yang dirilis pada tahun sebelumnya.

Berikut 12 Pilar yang menentukan Daya Saing Bangsa sebagaimana

diringkas dari laporan World Economic Forum tahun 2009:

April -Mei 2009 I FORUM ALUMNI

27

aparat birokrasi. Birokrasi yang eksesif,

over-regulasi, korupsi, kurangnya trans-

paransi dan ketergantungan yang terlalu

kental pada proses politik akan berpengar-

uh pada biaya ekonomi dan melambatnya

pertumbuhan.

Kelembagaan tak hanya penting untuk

investasi, tapi juga penting untuk mendor-

ong tumbuhnya pasar yang lebih dinamis.

Di masa lalu, kelembagaan biasanya

hanya difokuskan pada lembaga hukum

dan pemerintahan. Tapi sekarang, dan

dibuktikan dalam krisis dan skandal keuan-

gan dalam beberapa tahun terakhir, fokus

kelembagaan juga diarahkan pada organ-

isasi swasta. Artinya, tuntutan transparasi

dan akutanbilitas juga tak hanya dituntut

dari pihak pemerintah, tapi juga dari sektor

swasta.

Pilar Kedua: Infrastruktur

Dalam suatu arahan di depan para pe-

jabat kabupaten dan kota, seorang pejabat

di Dirjen Depdagri memberikan pertan-

yaan berikut: ‘’Bapak-bapak, mengapa

jeruk Medan lebih mahal dari jeruk Cina

ketika tiba di supermarket di Jakarta?’’ Ia

menjawab sendiri pertanyaan itu. Katanya:

‘’Jeruk Cina langsung tiba di Jakarta melalui

bandara. Kutipannya cuma satu. Semen-

tara jeruk medan harus melewati banyak

kabupaten yang memperlakukan kutipan

dan ….. jalanan buruk yang panjang.’’

Selain kelembagaan (yang menyebab-

Basic requirements

•Institutions

•Infrastructure

•Macroeconomic stability

•Health and primary education

•Higher education and training

•Financial market sophistication

•Technological readiness

•Market size

Innovation and sophistication factors

•Business sophistication

•Innovation

Key for

factor-driven

economies

Key for

economies

Key for

innovation-driven

economies

Pada masa klasik, mungkin tanah dan
kekayaan alam tolok ukuran kemak-
muran bangsa. Pada zaman neoklasik
Adam Smith, para ahli lebih memberikan
penekanan terjadap spesialisasi tenaga
kerja dan investasi di bidang insfrastruk-
tur fsik. Kini, para ahli sepakat bahwa
sumber kemakmuran semakin kompleks:
pendidikan, ketersediaan teknologi (baik
ditemukan sendiri atau diperoleh dari
negara lain), transparansi dan kelem-
bagaan yang berfungsi dengan baik,
inovasi, dan sebagainya. Semuanya se-
cara matrik akan membentuk suatu relasi
yang kompleks yang disebut sebagai
‘’daya saing bangsa’’.
Tampaknya bukan hal kebetulan kalau
Micheal Porter, ekonom Harvard pence-
tus The Competitive Advantage of Nations,
terlibat dalam laporan World Economic
Forum (WEF) ini. Sejak tahun 2000 Porter
bergabung dengan WEF, dan mem-
perkenalkan Business Competitiveness
Index (BCI) yang fokus kepada kemak-
muran yang didorong oleh daya saing
lingkungan mikroekonomi. Pengaruh
Porter jelas terlihat dalam penyempur-
naan pilar-pilar yang menentukan indeks
daya saing bangsa ini.
Secara teoritis, daya saing bangsa ini
ditentukan 12 pilar utama. Keduabelas

pilar ini terbagi dalam tiga kunci utama
(lihat bagan), yaitu:
Pertama, Kunci Faktor Pendorong
Ekonomi yang menjadi dasar bagi bagi
tumbuhnya daya saing bangsa. Dilihat
secara keseluruhan, ini merupakan
tahapan dan tataran yang paling rendah.
Kedua, Kunci Pendorong Efsiensi
Ekonomi. Ini merupakan tahap lanjut
yang mendorong daya saing bangsa.
Ketiga, Kunci Pendorong Inovasi
Ekonomi. Ini merupakan tataran tertinggi
yang menjadi tolok ukur daya saing
bangsa.

Laporan World Economic Forum ini
menempatkan Indonesia pada kelompok
negara-negara yang masih dalam kelom-
pok key driven yaitu taraf awal tingkat
keunggulan kompetitif yang dukungan
oleh faktor-faktor dasar.
Tingkat daya saing Indonesia pada
tahun 2008, menurut laporan tahunan
itu, berada di peringkat ke 55. Posisi ini
menurun jika dibandingkan tahun 2007,
Indonesia menduduki peringkat ke-54
dari 132 negara yang disurvei.
Posisi ini memperlihaktkan bahwa
Indonesia masih berada di posisi yang
kurang kompetitif dibandingkan negara-
negara Asean seperti Singapura, Malaysia
dan Thailand.

Ketika Adam Smith Tak Memadai Lagi

Infrastruktur
yang baik mengurangi
efek yang ditimbulkan oleh
jarak antar daerah, sehingga
membuat suatu titik bisa
terintegrasi sepenuhnya
dengan pasar nasional,
sebelum lalu terintegrasi
dengan pasar antar negara
dan regional.

LAPORAN UTAMA

28 FORUM ALUMNI I April-Mei 2009

kan ekonomi biaya tinggi), masalah

infrastruktur menjadi faktor krusial yang

menentukan daya saing bangsa. Menurut

WEF, infrastruktur yang efsien dan eksten-

sif merupakan faktor yang esensial untuk

mendorong daya saing.

Infrastruktur yang baik akan mengu-

rangi efek yang ditimbulkan oleh jarak

antar daerah, sehingga membuat suatu

titik bisa terintegrasi sepenuhnya dengan

pasar nasional, sebelum lalu terintegrasi

dengan pasar antara negara dan regional.

Kasus ‘’jeruk medan di atas’’, seperti meng-

gambarkan keberhasilan integrasi pasar

jeruk Cina dengan pasar regional, dan

kegagalan integrasi jeruk medan dengan –

ironisnya – pasar nasional.

Infrastruktur yang baik dan eksten-

sif penting untuk pergerakan manusia,

barang-barang perdagangan dan layanan.

Pengusaha bisa mengirim barang ke

pasar dengan aman dan tepat waktu. Para

pekerja bisa bergerak mudah dari satu

wilayah ke wilayah lainnya.

Selain jalan raya, bandara, atau pelabu-

han, infrastruktur juga mencakup jaringan

listrik dan telekomunikasi.

Pilar Ketiga: Stabilitas Makroekonomi

Stabilitas makroekonomi merupakan

hal yang penting bagi bisnis. Benar, dalam

beberapa kasus sering kali stabilitas makro

itu sendiri tidak bisa menjadi pendorong

produktivitas bangsa. Ketika krisis fnansial

global melanda banyak negara, termasuk

Indonesia, kenaikan suku bunga yang

bertujuan untuk mempertahakan kondisi

makro ternyata berakibat pada perlam-

batan malah lumpuhnya pertumbuhan

sektor riil. Tapi yang pasti, ketidakstabilan

ekonomi makro pasti berakibat buruk pada

pertumbuhan ekonomi. Ketika infasi ber-

jalan di luar kontrol, ketika pemerintahan

tidak bisa melayani masyarakat maupun

sektor swasta karena tingginya beban

bunga yang harus dibayar karena hutang

masa lalu, maka iklim usaha pun tak akan

kondusif. Stabilitas ekonomi tak selalu

mendorong produktivitas – itu benar.

Tapi tanpa stabilitas makro, ekonomi pun

tak akan mungkin bisa didorong untuk

tumbuh.

Pilar Keempat: Kesehatan dan Pendidikan
Dasar

Dalam banyak kesempatan dan pub-

likasi, banyak praktisi bisnis, pengambil

kebijakan dan pakar yang berteriak menge-

nai pentingnya mencegah dari pada

mengobati. Kesehatan buruk bisa memicu

ekonomi biaya tinggi – dan itu tentu saja

buruk bagi bisnis. Pekerja yang sakit cend-

erung absen dan tidak, bekerja dengan

kapasitas yang rendah, kurang produktif,

dan tidak bisa menggali potensinya secara

maksimal. Investasi di bidang kesehatan

tak cuma penting bagi daya saing, tapi

secara moral itu ‘’harus’’. Bersama dengan

kesehatan adalah pendidikan dasar. Karena

perkembangan teknologi, pilar ini makin

menjadi penting bagi daya saing.

Pilar Kelima: Pendidikan Tinggi dan Training

Kekayaan tak lagi bersandar pada tanah,

tenaga kerja atau pun modal. Banyak dis-

kusi di Indonesia kini berbicara mengenai

‘’kutukan’’ negara dengan sumber alam

melimpah tapi salah kelola.

Sudah jauh-jauh hari para jawara masa

depan mengingatkan soal ini. Pada 1991,

dalam sebuah artikel di New Perspectives

Quarterly yang berjudul Economic Time

Zones: Fast versus Slow, suami istri Alvin

dan Heidi Tof er mengingatkan mengenai

‘’fast versus slow’’ zone. Ketika itu mereka

meramalkan bahwa negara yang berbasis

pada pengetahuan akan menjadi bagian

dari wilayah yang pertumbuhannya cepat;

sebaliknya negara yang menyandarkan

diri pada pembangunan yang berbasis

tenaga kerja murah, bahan mentah, dan

mesin produksi konvensional akan menjadi

wilayah yang pertumbuhannya lambat.

Pengetahuan dan informasi, den-

gan teknologi telekomonikasi sebagai

makcomblang, lebih banyak menentukan

kemakmuran, dan dengan demikian, daya

saing bangsa. Lingkungan semacam ini

menuntut sumberdaya manusia yang

lebih, yaitu sumberdaya yang berpendidi-

kan tinggi dan ahli yang bisa dengan cepat

beradaptasi dan mengadopsi lingkungan

global yang berubah dengan cepat. Sum-

berdaya yang dihasilkan oleh pendidikan

tinggi yang berkualitas dan training mau-

pun pendidikan lanjutan yang diadakan

oleh masyarakat bisnis, professional dan

perusahaan menjadi kunci bagi pilar ini.

Pilar Keenam: Efsiensi Pasar

Negara dengan pasar yang lebih efsien

akan memproduksi rangkaian produk

dan layanan yang lebih ditentukan oleh

permintaan dan penawaran, dan diper-

dagangkan dalam kondisi ekonomi yang

paling efektif. Kompetisi pasar yang sehat,

baik dalam negeri maupun luar negeri,

menjadi pilar penting yang mendorong

efsiensi, dan akhirnya juga produktivitas.

Distorsi ekonomi, pungutan maupun pajak

yang tidak perlu akan membuat lingkun-

gan pasar menjadi tidak efsien.

Selain itu, tuntutan dan orientasi

konsumen pun bisa menjadi factor yang

Stabilitas ekonomi
tak selalu mendorong
produktivitas – itu benar.
Tapi tanpa stabilitas makro,
ekonomi pun tak akan
mungkin bisa didorong
untuk tumbuh.

Kesehatan buruk
bisa memicu ekonomi
biaya tinggi – tentu saja itu
buruk bagi bisnis. Bersama
dengan kesehatan adalah
pendidikan dasar.

LAPORAN UTAMA

April -Mei 2009 I FORUM ALUMNI

29

LAPORAN UTAMA

menguntungkan bagi kompetisi, dan men-

jadi perusahaan menjadi lebih berorientasi

pada layanan, dan mendorong mereka

untuk lebih inovatif.

Pilar Ketujuh: Pasar Tenaga Kerja
yang Efsien

Efsiensi dan feksibilitas pasar tenaga
kerja menjadi factor penting sehingga
pekerja bisa diberdayakan pada kondisi
ekonomi yang paling efsien, dengan ja-
minan insentif yang baik sehingga mereka
bisa bekerja secara maksimal. Pasar tenaga
kerja harus feksibel, bisa bergerak dari satu
aktivitas ekonomi ke aktivitas lainnya secara
cepat dengan biaya yang lebih rendah.
Pasar tenaga kerja yang efsien harus
menjamin hubungan yang jelas antara
insentif pekerja dan usaha mereka, serta
memiliki kemampuan untuk menyerap
bakat terbaik yang ada., tidak membeda-
kan laki-laki maupun perempuan.

Pilar Kedelapan: Pasar Finansial yang Baik

Krisis fnancial global saat ini telah
memberikan pelajaran berharga kepada
kita pentingnya aspek pasar fnancial dalam
fungsi ekonomi nasional. Sektor fnancial
yang efsien penting untuk mengalokasikan
dana masyarakat maupun sumber-sumber
dana asing yang masuk ke sector investasi
yang paling produktif. Kanal saluran terse-
but berupa proyek-proyek investasi atau
usaha yang bisa memberikan keuntungan
yang tinggi, dan bukan koneksi politik.

Sektor fnansial yang efsien juga pen-
ting untuk menjamin bahwa inovasi dan
gagasan yang baik akan mendapatkan
akses, dan dengan demikian bisa menjadi
produk atau layanan yang secara ekonomis
menguntungkan.

Pilar Kesembilan: Ketersiapan Teknologi

Dalam lingkungan global saat ini,
teknologi menjadi factor penting bagi
perusahaan untuk berkompetisi. Lebih
khusus lagi adalah ICT, yang kini men-
jadi factor penting bagi semua proses
dalam ekonomi kita saat ini. Alhasil, akses
terhadap ICT, kerangka regulasinya, dan
pemanfaatannya menjadi komponen
penting dalam pilar ini.
Pertanyaan apakah teknologi ini
berkembang di negara tertentu atau
negara lainnya tidaklah relevan dalam pe-
nilaian pilar ini. Poin utama adalah: apakah
perusahaan-perusahaan yang beroperasi
di negara tersebut memiliki akses dan
memiliki kemampuan untuk memanfaat-
kannya. Alhasil, tidaklah penting apakah
suatu produk – katakanlah komputer atau
internet – ditemukan di suatu negara
tertentu. Yang penting adalah: apakah
masyarakat bisnis yang ada di negara
tersebut memiliki akses atau tidak. Karena
dalam pilar ini dibedakan untuk keterse-
diaan teknologi dan kemampuan suatu
negara melakukan inovasi.

Pilar Kesepuluh: Ukuran Pasar

Besarnya ukuran pasar jelas memiliki
pengaruh terhadap produktivitas karena
pasar yang besar membuka peluang bagi
perusahaan untuk memperbesar skala
efektivitas ekonomi mereka.
Secara tradisional, cakupan pasar
biasanya dipagari oleh batas-batas negara.
Tapi di era global saat ini, batas negara
menjadi tidak relevan. Pasar internasional
telah menjadi substitute dari pasar domes-
tik – ini terutama berlaku untuk negara-
negara yang kecil pasar domestiknya. Jadi,
ekspor harus dipertimbangkan sebagai
substitute pasar domestik ketika menilai
ukuran pasar. Dengan menyertakan pasar
domestik dan ekspor, tim WEF memberi-
kan nilai lebih untuk kebijakan ekonomi
yang mendorong ekspor dan wilayah

geografs yang besar seperti Uni Eropa
yang, sekalipun terpecah-pecah dalam
puluhan negara, tapi secara garis besar
tergabung dalam pasar yang sama.

Pilar Kesebelas: Bisnis yang Canggih

Bisnis yang canggih adalah lingkungan
bisnis kondisif yang mendorong produksi
dan layanan berjalan lebih efsien. Ling-
kungan ini pada akhirnya akan mendorong
kea rah produktivitas, yang sudah pasti
pada akhirnya akan meningkatkan daya
saing bangsa. Faktor yang dilihat dalam
pilar ini adalah jejaring bisnis negara dan
pendukungnya secara keseluruhan mau-
pun kualitas dan strategis masing-masing
perusahaan dalam jejaring itu.
Salah satu faktor yang dinilai adalah jum-
lah dan kualitas supplier lokal dan luasnya
interaksi antar jejaring bisnis yang tumbuh di
kawasan itu. Ketika sebuah perusahaan dan
supplier-nya tumbuh dan berkembang da-
lam kedekatan seperti laiknya cluster, maka
bisnis akan berjalan lebih efsien, kesempa-
tan untuk melakukan inovasi menjadi lebih
besar, dan halangan bagi tumbuhnya usaha
baru menjadi lebih kecil.

Pilar Keduabelas: Inovasi

Pilar terakhir yang menjadi tolok ukur
daya saing bangsa adalah inovasi. Adalah
benar bahwa perbaikan lembaga, pemban-
gunan infrastruktur, kestabilan ekonomi,
dan perbaikan kualitas sumberdaya ma-
nusia akan memberikan imbal balik yang
positif bagi daya saing bangsa. Hal yang
sama juga berlaku untuk pasar tenaga kerja
yang efsien, system keuangan yang baik
dan pasar yang bagus. Tapi dalam jangka
panjang, peningkatan standar hidup hanya
bisa dicapai melalui inovasi teknologi.
Inovasi hanya bisa lahir dalam ling-
kungan yang kondusif untuk melakukan
inovasi, yang didukung baik oleh sektor
swasta maupun publik. Secara lebih kasat
mata, lingkungan yang kondusif ini antara
lain ditandai oleh hadirnya lembaga riset
dan pengembangan yang berkualitas, dan
kolaborasi yang ekstensif lembaga riset
universitas, lembaga publik dan industri.
Selain itu, negara memberikan perlindun-
gan yang baik dan memadai terhadap hak
cipta yang lahir dari riset tersebut.

negara yang berbasis pada
pengetahuan akan menjadi
bagian dari wilayah yang
pertumbuhannya cepat;
sebaliknya negara yang
menyandarkan diri pada
pembangunan yang berbasis
tenaga kerja murah, bahan
mentah, dan mesin produksi
konvensional akan menjadi
wilayah yang pertumbu-
hannya lambat.

30 FORUM ALUMNI I April-Mei 2009

Pesta pencontrengan itu akh-

irnya selesai sudah -- dengan
sejumlah catatan. Banyaknya
pelanggaran, kualitas pemilu
yang masih belum berubah
dibanding yang lalu, masalah
Daftar Pemilih Tetap (DPT), keterlamabatan
pengiriman logistik, dan sebagainya .... Daf-
tar panjang yang kemudian mendorong
sejumlah pihak, pengamat maupun parpol,
berpendapat pemilu kali ini sebagai pelak-
sanaan pemilu terburuk sejak era reformasi
digulirkan.

Tapi apa pun kondisinya, satu tahapan
telah terlampaui. Bagi para caleg, kinilah
saat ‘‘deg-degan’’ menunggu penghi-
tungan suara. Ini tentu berbeda dengan
bulan-bulan dan minggu-minggu sebe-
lumnya. Ketika mereka asyik menyelusup
ke daerah-daerah terpencil, desa-desa,

kampung-kampung, gang-gang menyapa
konstituennya. Hari yang melelahkan itu,
minimal secara fsik, tampaknya sudah
lewat. Tinggallah masa penantian, yang
sebetulnya tak kalah menegangkan.Teru-
tama untuk caleg yang perolehan suaranya
mepet tapi masih punya peluang dan bisa
bersaing untuk lolos ke Senayan.
Lalu bagaimana caleg-caleg ITB? Tam-
paknya sama saja, kecuali tentu saja yang
sudah dipastikan bisa lolos ke Senayan.
Berdasarkan catatan, banyak alumni
yang ikut mencalonkan diri dalam pemi-
lihan legislatif yang lalu. Rinciannya, ada
lebih 60 alumni ITB yang maju sebagai
caleg DPR RI. Jika dijumlah dengan caleg
lokal, DPRD tingkat I dan II, total jendral tak
kurang ada sekitar 300-an yang menjadi
caleg dalam pemilu lalu. Di antara partai
politik, PDIP memiliki jumlah caleg alumni

terbesar, 16 orang.
Sebagian dari para caleg ini merupakan
nama-nama yang sudah menjadi anggota
DPR atau dikenal sebagai politisi senior
sebelumnya. Dari PDIP misalnya ada Sekjen
PDIP Pramono Anung (TA 82)menjadi
caleg PDIP daerah pemilihan Jatim VI dan
Heri Akhmadi (TA 72) untuk Jatim VII. Dari
PAN ada anggota DPR Tjatur Sapto Edi
(TL 89) dan Alimin Abdullah (TM 73) yang
mewakili daerah pemilihan Lampung. Lalu
ada Laksamana Sukardi (SI 75), mantan
Ketua IA ITB, yang sebelumnya aktif
sebagai politisi di PDIP kini menjadi caleg
untuk partai pecahan partai berlambang
banteng itu, yaitu PDP. Ada Samuel Koto
(GD 73), yang dulu dikenal sebagai pento-
lan PAN namun kini menjadi caleg untuk
Hanura. Lalu ada Syahganda Nainggolan
(GD 84) yang menjadi caleg untuk Partai
Golkar daerah pemilihan Jabar V.
Yang menarik, ajang caleg pemilu
kali ini juga diramaikan oleh kemuncu-
lan kembali para aktivis senior, seperti
misalnya Indro Tjahyono (angkatan 73 dan
yang di masa Orba malang melintang di
LSM, tapi kini menjadi caleg Hanura untuk
Jateng); Theodorus Jakob Koekeritz atau
Ondoz (GL 82, caleg PDIP untuk Jatim);
Hetifah (PL 82, caleg Golkar untuk Kaltim).
Di antara para alumni, I Gede Aradea

SETELAH PENCONTRENGAN USAI

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->