Anda di halaman 1dari 5

Edisi No 05 Vol XXXVIII - 2012 - Kegiatan

Dari Hipertensi sampai Gagal Jantung Kronik


Hipertensi menyumbangkan angka mortalitas yang bermakna di seluruh dunia, baik di negara berkembang maupun di negara maju. Prevalensi hipertensi di Asia sangat tinggi. Diperkirakan 10-20% dari populasi menyandang hipertensi. Di sisi lain, angka keberhasilan pengendalian hipertensi masih tetap rendah, hanya sekitar 6-37% pasien yang mencapai target tekanan darah. Demikian dikatakan dr. Marulam Panggabean, SpJP(K), dalam sesi From Hypertension to Congestive Heart Failure with ABC yang merupakan bagian dari rangkaian acara Kursus Penyegar dan Penambah Ilmu Kedokteran (KPPIK) 2012, di Jakarta, 17 Maret 2012. Hipertensi memiliki hubungan yang sangat erat dengan penyakit kardiovaskular dan stroke. Semakin tinggi tekanan darah, semakin tinggi juga risiko komplikasi penyakit kardiovaskular dan stroke. Beberapa penelitian, seperti dijelaskan oleh dr. Marulam, mendapatkan data bahwa manajemen hipertensi yang baik mampu menurunkan risiko gagal jantung (>50%), stroke (35-40%), dan penyakit arteri koroner (20-25%). Manajemen hipertensi dapat dilakukan dengan pendekatan nonfarmakologi berupa pengaturan diet, pelaksanaan latihan fisik, dan penghentian merokok. Hal ini seperti disarankan oleh Joint National Committee 7 (JNC 7), yakni manajemen hipertensi didahului dengan modifikasi gaya hidup. Meski demikian, pendekatan farmakologi juga dapat diberlakukan bila modifikasi gaya hidup tidak adekuat. Pengunaan terapi farmakologi pada penderita hipertensi bergantung pada level tekanan darah, compelling indication, kontraindikasi, efek samping, komorbiditas, ras, dan pengalaman dokter serta pasien. Salah satu terapi farmakoterapi hipertensi adalah calcium antagonis diltiazem. Obat ini memiliki peran sebagai vasodilator yang menghambat kontraktilitas pembuluh darah otot polos dan menurunkan frekuensi denyut jantung. Obat ini juga tidak menimbulkan takikardia. Studi NORDIL mendapatkan data bahwa diltiazem efektif dalam mencegah komplikasi kardiovaskular dan serebrovaskular pada pasien hipertensi. Sementara, dr. Nani Hersunarti, SpJP(K), membahas tentang peran ACE inhibitor dalam pencegahan infark miokard. Seperti diketahui bahwa hipertensi merupakan faktor risiko terbesar infark miokard. Di Pusat Jantung Nasional Harapan Kita, terdapat sekitar 7 pasien ACS setiap hari dan separuhnya adalah infark, ungkap dr. Nani. Faktor yang terlibat dalam proses ateroklerosis dan ruptur plak adalah tPA dan PAI-1. ACE-I akan menghambat aktivitas PAI-1 pada pasien setelah infark miokard yang telah dibuktikan oleh beberapa studi seperti HOPE, EUROPA, dan PEACE. Studi terkini, seperti dijelaskan dr. Nani, adalah FISIC yang mengikutsertakan pasien hipertensi dengan berat badan normal. Pada pasien ini dinilai fibrinolisis dan sensitivitas insulinnya setelah mendapatkan terapi dengan imidapril atau candesartan. Kedua antihipertensi ini sama-sama menurunkan tekanan darah, namun pada imidapril juga terjadi perbaikan keseimbangan fibrinolitik di mana tidak terjadi pada candesartan. Pada pasien yang mendapat imidapril, sensitivitas insulinnya juga lebih baik. Ditengarai ini terjadi karena efek mediasi bradikinin pada sensitivitas insulin dan fungsi endotel. Studi lanjutan dari FISIC, yakni studi FISIC II, yang dilakukan terhadap pasien hipertensi dengan sindrom metabolik yang diberikan imidapril atau candesartan. Studi ini membuktikan bahwa imidapril menurunkan plasma PAI-1 dan level angiotensin II, di mana candesartan meningkatkan dua faktor ini. Hasil ini mempertegas perbedaan efek dari ACE-I dan angiotensin II blocker dalam produksi angiotensin II yang memiliki peran dalam fibrinolisis.

Masih mengenai farmakoterapi hipertensi, Dr. dr. Bambang Budi Siswanto, SpJP(K), membahas peran beta blocker dalam gagal jantung kronik. Gagal jantung kronik memiliki angka mortalitas yang cukup tinggi di Indonesia. Data rumah sakit memperlihatkan bahwa mortalitas karena gagal jantung sekitar 6,7%. Farmakoterapi yang dapat diberlakukan pada penderita gagal jantung adalah dengan pemberian beta blocker. Beberapa studi seperti CIBIS II dan COPERNICUS membuktikan bahwa beta blocker secara signifikan menurunkan mortalitas total dan kardiovaskular (termasuk sudden death). Bisoprolol, metoprolol, dan carvedilol direkomendasikan dalam panduan gagal jantung kronik (NYHA classes II-IV). Studi CIBIS III menunjukkan bahwa gagal jantung kronik yang telah mendapat diuretik, strategi pertama dengan bisoprolol dan enalapril sama efektifnya dalam menurunkan angka kematian atau angka perawatan di rumah sakit. Meski demikian, Bisoprolol yang diberikan sebagai terapi awal lebih efektif dalam menurunkan kematian mendadak sebesar 46% pada tahun pertama terapi. (hidayati)
http://www.jurnalmedika.com/edisi-tahun-2012/edisi-no-05-vol-xxxvii-2012/452-kegiatan/933-dari-hipertensisampai-gagal-jantung-kronik 4/15/2013 09:22 PM

Jurnal Kardiologi Indonesia J Kardiol Indones. 2008; 29:105-106 ISSN 0126/3773 Komentar 105 Jurnal Kardiologi Indonesia Vol. 29, No. 3 SeptemberDesember 2008

Pemulihan Laju Jantung pada penyakit jantung hipertensi Budhi Setianto Penelitian disfungsi autonom menggunakan tes treadmil pada fase pemulihan laju jantungnya pada fenomena menurunnya heart rate recovery memang lazim.1 Kizilbash MA tahun 2006, telah menelitinya pada sindroma metabolik, menyimpulkan terjadinya disfungsi autonom pada komponen metabolik sindrom: tekanan darah, trigliserid, lingkar perut dan LDL-C.2 Dengan metode lainnya, yaitu standard deviation of RR intervals (SDNN), Wu JS3 telah melaporkan penelitiannya bahwa disfungsi parasimpatis telah ada pada normotensi dengan riwayat keluarga hipertensi, juga tampak pada pre-hipertensi dan hipertensi. Perubahan peranan syaraf otonom dengan penguatan simpatis lebih nyata pada kasus pre-hipertensinya. Peningkatan aktivitas simpatis dan penurunan aktivitas parasimpatis yang timbul pada gagal jantung secara klinis memiliki relevansi dengan progresifitas penyakit serta mortalitas pasien-pasien dengan gagal jantung kronis. Stimulasi simpatis yang berlebihan meningkatkan kerja sistem kardiovaskular, memberi beban terhadap hemodinamik tubuh serta merupakan predisposisi terjadinya disfungsi endotel, spasme koroner, hipertrofi ventrikel kiri, serta disritmia, termasuk kejadian henti jantung mendadak melalui instabilitas listrik jantung.4-6 Namun perlu juga diingat pada tes treadmill bahwa kerja parasimpatis yang utama pascalatihan, periode pemulihan adalah untuk melawan kerja simpatis yang memberi ruang untuk perpanjangan QT. Justru menurut menurut Sundaram S, dkk7 mendukung konsep bahwa tonus parasimpatis memiliki kerja antiaritmia yang natural selama periode itu. Konsep ini penting kita pertimbangkan pada penelitian jangka panjang pada infark atau mungkin juga gagal jantung yang berhubungan dengan penyakit jantung koroner, dikemudian hari. Kita sadari bahwa keterlambatan dari pemulihan laju jantung (PLJ) telah digunakan sebagai petanda dari disfungsi autonom dan merupakan petanda prognostik yang valid terhadap mortalitas pasien-pasien dengan gagal jantung.1,8 Suatu studi lain juga menyatakan bahwa PLJ yang abnormal dapat menggambarkan terjadinya kerusakan dari miokard.9 Tadjoedin, dkk10 meneliti pemulihan laju jantung (PLJ) pada pasien hipertensi dengan membagi pasien-pasien hipertensi dengan dan tanpa hipertrofi ventrikel kiri. Ide penelitian ini menjadi rancu karena penelitian sebelumnya telah menemukan adanya disfungsi autonom pada pasien hipertensi bahkan pre-hipertensi dengan riwayat keluarga hipertensi. Apakah riwayat keluarga hipertensi yang menunjukkan adanya disfungsi otonom memiliki faktor genetik yang mendasarinya? Ini juga pertanyaan yang perlu diklarifikasi. Apakah hal ini juga berkaitan dengan resistensi insulin? Ketika dilakukan penelitian pada sindroma metabolik, justru kelainan sistim autonom tidak nampak pada sindroma metabolik yang mensyaratkan 3 faktor metabolik yang terlibat, tetapi berhubungan dengan masing masing komponen Alamat Korespondensi: Prof. Dr. dr. Budhi Setianto, SpJP(K), Divisi Prevensi dan Rehabilitasi, Departemen Kardiologi dan Kedokteran Vaskuler FKUI dan Pusat Jantung Nasional Harapan Kita, Jl. S Parman Kav 87 Jakarta 11420. E-mail: heybud@rocketmail.com

Jurnal Kardiologi Indonesia 106 Jurnal Kardiologi Indonesia Vol. 29, No. 3 September-Desember 2008

sindroma metabolik yang meningkat pada tekanan darah, lingkar perut, trigliserida dan justru kholesterol LDL bukan HDL.2 Apakah pasien-pasien hipertensi dengan hipertrofi ventrikel kiri yang pada pemeriksaan PLJnya abnormal adalah merupakan gejala awal dari gagal jantung patut dipertanyakan karena PLJ yang abnormal bisa jadi sudah terjadi sebelum timbul hipertrofi ventrikel kiri. Semoga komentar ini mendorong penelitian preventif berikutnya yang prospektif dan berjangka panjang untuk melawan gagal jantung. Daftar Pustaka 1. Froelicher V, Myers J, eds. Manual of exercise testing 3ed. Philadelphia: Mosby,Elsevier; 2007. 2. Kizilbash MA, Carnethon MR, Chan C, David R. Jacobs DR, Sidney S, Liu K. The temporal relationship between heart rate recovery immediately after exercise and the metabolic syndrome: the CARDIA study. European Heart Journal 2006;27(13):1592-1596. 3. Wu JS, Lu FW, Yang YC, Lin TS, Chen JJ, Wu CH, et al. Epidemiological Study on the Effect of Pre-Hypertension and Family History of Hypertension on Cardiac Autonomic Function. J Am Coll Cardiol 2008;51:1896-901. 4. Folino A, Tokajuk B, Porta A, Romano S, Cerutti S, Dalla V. Autonomic modilation and clinical outcome in patients with chronic heart failure. International Journal of Cardiology. 2005;100:247-251. 5. Shehab A, MacFadyen R, McLaren M, Tavendale R, Belch J, Struthers A. Sudden unexpected death in heart failure may be proceeded by short term, intraindividual increase in inflamation and in autonomic dysfuction:a pilot study. Heart 2004;90:1263-1268. 6. Curtis B, OKeefe J. Autonomic tone as a cardiovascular risk factor: The danger of chronic fight or flight. Mayo Clin Proc. 2002;77:45-54. 7. Sundaram S,Carnethon M,PolitoK,Kadish AH,and Goldberger JJ. Autonomic effects on QT-RR interval dynamics after exercise. Am J Physiol Heart Circ Physiol 2008;294:H490H497. 8. Arena R, Guazzi M, Myers J, Peberdy M. Prognostic value of heart rate recovery in patients with heart failure. American Heart Journal. 2006;151:e851. 9. Lima R, Lorenzo AD, Soares A. Relation between postexercise abnormal heart rate recovery and myocardial damage evidenced by gated single-photo emission computed tomography. American Journal of Cardiology. 2006;97:1452-1454. 10. Tadjoedin Y, Sunu I, Radi B. Disfungsi autonom pada pasien penyakit jantung hipertensi asimtomatik: hasil evaluasi pemulihan laju jantung. J Kardiol Indones. 2008;29:97-104

http://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=jurnal%20penyakit%20hipertensi%20dalam%20gag al%20jantung&source=web&cd=6&cad=rja&ved=0CFEQFjAF&url=http%3A%2F%2Findonesi a.digitaljournals.org%2Findex.php%2Fkaridn%2Farticle%2Fdownload%2F322%2F321&ei=BQ xsUfqQEsXtrAf99ICQBg&usg=AFQjCNG9pCECByH4FalAnJNysatTNoiCAw 04/15/2013 10:18 PM