Anda di halaman 1dari 7

REVIEW ARTICLE DIAGNOSIS DAN PENATALAKSANAAN ANEMIA DEFISIENSI BESI 1.Anne Maylita Djemat,2.Suzanna Ndraha 1. Universitas kedokteran trisakti.

Jakarta barat,Indonesia. 2. Divisi Ilmu Penyakit dalam RSUD Koja Jakarta Abstract Iron deficiency anemia resulting from the reduced supply of iron to eritropoesis, because the empty iron stores (depleted iron stores), which ultimately resulted in the formation of decrease Hb. Basic cause of iron deficiency anemia is a chronic bleeding that causes loss of iron or increased iron needs to be compensated so that the body reserves diminishing iron. Diagnosis of iron deficiency anemia should be performed anamnesis and thorough physical examination with appropriate laboratory tests. Iron deficiency anemia caused by lack of iron intake, impaired absorption, as well as iron loss due to chronic bleeding. Treatment with iron deficiency anemia: Treatment of the cause of bleeding and Iron replacement therapy Keywords : iron deficiency anemia, chronic bleeding, iron replacement therapy Abstrak Anemia defisiensi timbul akibat berkurangnya penyediaan besi untuk eritropoesis, karena cadangan besi kosong (depleted iron store) yang akhirnya mengakibatkan pembentukan Hb berkurang.Mekanisme dasar munculnya anemia defisiensi besi adalah perdarahan menahun yang menyebabkan kehilangan besi atau kebutuhan besi yang meningkat akan dikompensasi tubuh sehingga cadangan besi makin menurun. Diagnosis anemia defisiensi besi harus dilakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik yang teliti disertai pemeriksaan laboratorium yang tepat. Anemia defisiensi besi disebabkan karena asupan besi kurang, gangguan absorbsi, serta kehilangan besi akibat perdarahan menahun. Penatalaksanaan anemia defisiensi Fe dengan :Terapi terhadap penyebab pendarahan dan Iron replacement therapy Keywords : anemia defisiensi Fe, pendarahan kronik , iron replacement therapy Pendahuluan Anemia defisiensi besi adalah anemia yang timbul akibat berkurangnya penyediaan besi untuk eritropoesis, karena cadangan besi kosong (depleted iron store) yang pada akhirnya mengakibatkan pembentukan hemoglobin berkurang .Anemia defisiensi besi ditandai oleh penurunan cadangan besi, konsentrasi besi serum, dan saturasi transferin yang rendah, dan konsentrasi hemoglobin atau nilai hematokrit yang menurun dengan disertai hasil morfologi darah anemia hipokrom mikrositer. Zat besi selain dibutuhkan untuk pembentukan Hb yang berperan dalam penyimpanan dan pengangkutan oksigen, juga terdapat dalam beberapa enzim yang berperan dalam metabolisme oksidatif, sintesa DNA, neurotransmiter dan proses katabolisme yang bekerjanya membutuhkan ion besi.Anemia defisiensi besi meruapakan jenis anemia yang paling sering dijumpai di negara-negara tropik , karena berkaitan dengan taraf sosial ekonomi. Anemia ini diperkirakan mengenai lebih dari 1/3 penduduk dunia yang memberikan dampak kesehatan dan dampak social yang serius.

Patofisiologi

Gambar 1 Distribusi Besi Dalam Tubuh Dewasa (sumber: Disorders of iron metabolism. N
Engl J Med; 26: 1986-95).

Perdarahan menahun yang menyebabkan kehilangan besi atau kebutuhan besi yang meningkat akan dikompensasi tubuh sehingga cadangan besi makin menurun.Jika cadangan besi menurun, keadaan ini disebut keseimbangan zat besi yang negatif, yaitu tahap deplesi besi (iron depleted state). Keadaan ini ditandai oleh penurunan kadar feritin serum, peningkatan absorbsi besi dalam usus, serta pengecatan besi dalam sumsum tulang negatif. Apabila kekurangan besi berlanjut terus maka cadangan besi menjadi kosong sama sekali, penyediaan besi untuk eritropoesis berkurang sehingga menimbulkan gangguan pada bentuk eritrosit tetapi anemia secara klinis belum terjadi. Keadaan ini disebut sebagai iron deficient erythropoiesis. Pada fase ini kelainan pertama yang dijumpai adalah peningkatan kadar free protophorphyrin atau zinc protophorphyrin dalam eritrosit. Saturasi transferin menurun dan kapasitas ikat besi total (total iron binding capacity = TIBC) meningkat, serta peningkatan reseptor transferin dalam serum. Apabila penurunan jumlah besi terus terjadi maka eritropoesis semakin terganggu sehingga kadar hemoglobin mulai menurun Akibatnya timbul anemia hipokromik mikrositik, disebut sebagai anemia defisiensi besi (iron deficiency anemia). tabel 1 distribusi normal komponen besi pria dan wanita (mg / kg)

tabel 2 perbandingan tahap keseimbangan zat besi yang negative

Diagnosis Untuk menegakkan diagnosis anemia defisiensi besi harus dilakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik yang teliti disertai pemeriksaan laboratorium yang tepat. Terdapat 3 Tahap terhadap diagnosis ADB 1.Mengukur Hemoglobin dan Hematokrit 2.Hasil morfologi darah tepi Anemia Hipokromik Mikrositer MCV <70 fl MCH <30 fl 3.Dua dari 3 Parameter dibawah ini : Besi Serum <50 mg/dl TIBC >350 mg/dl Saturasi Transferin <15% Feritin Serum <20 mg/l Selain itu ,Pengecatan sumsum tulang juga dapat dilakukan dengan biru prusia (Perls Stain) menunjukkan cadangan besi besi (butir Butir Hemosiderin) negative. Juga dengan pemberian Sulfas ferosus 3x 200 mg/hari (atau preparat besi setara yang lain) selama 4 minggu disertai kenaikan kadar Hemoglobin lebih dari 2g/dl. Faktor resiko Anemia defisiensi besi dapat disebabkan oleh karena rendahnya asupan besi, gangguan absorbsi, serta kehilangan besi akibat perdarahan menahun: 1. Kehilangan besi sebagai akibat perdarahan menahun dapat berasal dari: a.Saluran cerna: akibat dari tukak peptik, pemakaian salisilat atau NSAID, kanker lambung, divertikulosis, hemoroid, dan infeksi cacing tambang. b. Saluran genitalia (perempuan): menorrhagia. c. Saluran kemih: hematuria. d. Saluran nafas: hemoptisis. 2. Faktor nutrisi, yaitu akibat kurangnya jumlah besi total dalam makanan (asupan yang kurang) atau kualitas besi (bioavailabilitas) besi yang rendah. 3. Kebutuhan besi meningkat, seperti pada prematuritas, anak dalam masa pertumbuhan, dan kehamilan. 4. Gangguan absorbsi besi, seperti pada gastrektomi dan kolitis kronik, atau dikonsumsi bersama kandungan fosfat (sayuran), tanin (teh dan kopi), polyphenol (coklat, teh, dan kopi), dan kalsium (susu dan produk susu). Manifestasi Klinis 1.Gejala Umum Anemia Gejala umum anemia disebut juga sebagai sindrom anemia (anemic syndrome) dijumpai pada anemia defisiensi besi apabila kadar hemoglobin kurang dari 7-8 g/dl. Gejala ini berupa badan lemah, lesu, cepat lelah, mata berkunang-kunang, serta telinga mendenging. Pada pemeriksaan fisik dijumpai pasien

yang pucat, terutama pada konjungtiva dan jaringan di bawah kuku . Pada umumnya sudah disepakati bahwa bila kadar hemoglobin < 7 gr/dl maka gejala-gejala dan tanda-tanda anemia akan jelas. 2.Gejala Khas Defisiensi Besi Gejala yang khas,: a.Koilonychia, yaitu kuku sendok (spoon nail), kuku menjadi rapuh, bergaris-garis vertikal dan menjadi cekung sehingga mirip sendok. b. Atrofi papil lidah, yaitu permukaan lidah menjadi licin dan mengkilap karena papil lidah menghilang. c. Stomatitis angularis (cheilosis), yaitu adanya keradangan pada sudut mulut sehingga tampak sebagai bercak berwarna pucat keputihan. d.Disfagia, yaitu nyeri menelan karena kerusakan epitel hipofaring. Pemeriksaan A. Pemeriksaan Laboratorium 1. Hemoglobin (Hb) Hemoglobin adalah parameter status besi yang memberikan suatu ukuran kuantitatif tentang beratnya kekurangan zat besi setelah anemia berkembang. 2. Penentuan Indeks Eritrosit Penentuan indeks eritrosit secara tidak langsung dengan flowcytometri atau menggunakan rumus: a. Mean Corpusculer Volume (MCV) MCV adalah volume rata-rata eritrosit, MCV akan menurun apabila kekurangan zat besi semakin parah, dan pada saat anemia mulai berkembang. MCV merupakan indikator kekurangan zat besi yang spesiflk setelah thalasemia dan anemia penyakit kronis disingkirkan. Dihitung dengan membagi hematokrit dengan angka sel darah merah.(normal 70-100 fl, mikrositik< 70 fl dan makrositik >100 fl b. Mean Corpuscle Haemoglobin (MCH) MCH adalah berat hemoglobin rata-rata dalam satu sel darah merah. Dihitung dengan membagi hemoglobin dengan angka sel darah merah. Nilai normal 27-31 pg, mikrositik hipokrom < 27 pg dan makrositik > 31 pg. c. Mean Corpuscular Haemoglobin Concentration (MCHC) MCHC adalah konsentrasi hemoglobin eritrosit rata-rata. Dihitung dengan membagi hemoglobin dengan hematokrit. Nilai normal 30- 35% dan hipokrom < 30%. 3. Pemeriksaan Hapusan Darah Perifer Pemeriksaan ini dilakukan secara manual. Pemeriksaan menggunakan pembesaran 100 kali dengan memperhatikan ukuran, bentuk inti, sitoplasma sel darah merah. Dengan menggunakan flowcytometry hapusan darah dapat dilihat pada kolom morfology flag. 4. Luas Distribusi Sel Darah Merah (Red Distribution Wide = RDW) RDW merupakan variasi dalam ukuran sel merah untuk mendeteksi tingkat anisositosis yang tidak tampak. Kenaikan nilai RDW merupakan manifestasi hematologi paling awal dari kekurangan zat besi, lebih peka dari besi serum, transferin, ataupun serum feritin. MCV rendah , RDW naik adalah dapat meyakinkan dari kekurangan zat besi, dan bila disertai eritrosit protoporphirin dianggap menjadi diagnostik. Nilai normal 15 %. 5. Eritrosit Protoporfirin (EP) EP diukur dengan memakai haematofluorometer yang membutuhkan beberapa tetes

darah dan pengalaman tekniknya tidak terlalu dibutuhkan. EP naik pada tahap lanjut kekurangan besi eritropoesis, naik secara perlahan setelah serangan kekurangan besi terjadi. Keuntungan EP adalah stabilitasnya dalam individu, sedangkan besi serum dan jenuh transferin rentan terhadap variasi individu yang luas. EP secara luas dipakai dalam survei populasi walaupun dalam praktik klinis masih jarang. 6. Besi Serum (Serum Iron = SI) Besi serum peka terhadap kekurangan zat besi ringan, serta menurun setelah cadangan besi habis sebelum tingkat hemoglobin jatuh. Keterbatasan besi serum karena variasi diurnal yang luas dan spesitifitasnya yang kurang. Besi serum yang rendah ditemukan setelah kehilangan darah maupun donor, pada kehamilan, infeksi kronis, syok, pireksia, rhematoid artritis, dan malignansi. Besi serum dipakai kombinasi dengan parameter lain, dan bukan ukuran mutlak status besi yang spesifik. Nilai serum iron pada anemia defisiensi Fe <50 mg/dl 7. Serum Transferin (Tf) Transferin adalah protein tranport besi dan diukur bersama -sama dengan besi serum. Serum transferin dapat meningkat pada kekurangan besi dan dapat menurun secara keliru pada peradangan akut, infeksi kronis, penyakit ginjal dan keganasan. 8. Transferrin Saturation (Jenuh Transferin) Jenuh transferin adalah rasio besi serum dengan kemampuan mengikat besi, merupakan indikator yang paling akurat dari suplai besi ke sumsum tulang.Penurunan jenuh transferrin<15% merupakan indeks kekurangan besi yang meyakinkan terhadap perkembangan eritrosit. Jenuh transferin dapat menurun pada penyakit peradangan. Jenuh transferin umumnya dipakai pada studi populasi yang disertai dengan indikator status besi lainnya. Tingkat jenuh transferin yang menurun dan serum feritin sering dipakai untuk mengartikan kekurangan zat besi. Jenuh transferin dapat diukur dengan perhitungan rasio besi serum dengan kemampuan mengikat besi total (TIBC), yaitu jumlah besi yang bisa diikat secara khusus oleh plasma. 9. Serum Feritin Serum feritin adalah suatu parameter yang terpercaya dan sensitif untuk menentukan cadangan besi orang sehat. Serum feritin < 20 ug/l sangat spesifik untuk kekurangan zat besi, yang berarti kehabisan semua cadangan besi, sehingga dapat dianggap sebagai diagnostik untuk kekurangan zat besi. Rendahnya serum feritin menunjukan gejala awal kekurangan zat besi, api tidak menunjukkan beratnya kekurangan zat besi karena variabilitasnya sangat tinggi. Penafsiran yang benar dari serum feritin terletak pada pemakaian range referensi yang tepat dan spesifik untuk usia dan jenis kelamin. Feritin cenderung lebih rendah pada wanita dari pria. Serum feritin pria meningkat pada dekade kedua, dan tetap stabil atau naik secara lambat sampai usia 65 tahun. Pada wanita tetap rendah sampai 45 tahun, dan mulai meningkat pada usia 60-70 tahun, hal ini mencerminkan penghentian mensturasi dan melahirkan anak. Pada wanita hamil serum feritin jatuh secara dramatis dibawah 20 ug/l selama trimester II dan III bahkan pada wanita yang mendapatkan suplemen zat besi.Serum feritin adalah reaktan fase akut, dapat juga meningkat pada inflamasi kronis, infeksi, keganasan, penyakit hati, alkohol. Serum feritin diukur dengan mudah memakai Essay immunoradiometris (IRMA), Radioimmunoassay (RIA), atau Essay immunoabsorben (Elisa).

B. Pemeriksaan Sumsum Tulang Dianggap sebagai standar emas untuk menilai cadangan besi, walaupun mempunyai beberapa keterbatasan. Pemeriksaan histologis sumsum tulang dilakukan untuk menilai jumlah hemosiderin dalam sel-sel retikulum. Pewarnaan sumsum tulang dengan perl stain menunjukan cadangan besi (butir-butir hemosiderin)negative. Diagnosis Untuk menegakkan diagnosis anemia defisiensi Fe, maka perlu dilakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik yang teliti disertai dengan pemeriksaan labolatorium yang tepat. Berikut terdapat 3 tahap untuk mendiagnosis anemia defisiensi besi : 1.Tentukan adanya anemia atau tidak , dengan mengukur kadar hemoglobin atau hematocrit. 2. Memastikan adanya anemia defisiensi besi 3. Menentukan penyebab Penatalaksanaan a.Terapi terhadap penyebab pendarahan b.Iron replacement therapy : -Terapi besi oral Preparat yang tersedia adalah ferrous sulphat. Dosis 3 x200 mg. Dapat meningkatkan eritropoesis 2-3x dari normal. Diberikan sebelum makan jika tidak ada efek samping seperti mual muntah, bias juga diberikan pada saat makan atau dosis dikurangi menjadi 3x100 mg. Pengobatan besi diberikan selama 3 sampai 6 bulan. -Terapi besi parenteral Sangat efektif tapi resiko lebih besar dan harganya mahal. Oleh kerena itu terapi ini hanya diberikan dengan indikasi : - intoleransi terhadap pemberian oral - kepatuhan rendah - gangguan pencernaan seperti colitis ulserative yang dapat kambuh jika diberikan besi - penyerapan besi terganggu(gastrektomi) - kehilangan darah yang banyak(hereditary hemorrhagic teleangiectasia) - kebutuhan besi besar, dalam waktu yang singkat (hamil trimester III atau preop) - defisiensi besi fungsional Preparat yang tersedia adalah dextran complex (mengandung 50 mg besi/mg), iron sorbitol citric acid complex, iron ferric gluconate. Diberikan secara intramuscular.efek samping kulit hitam, flebitis, sakit kepala, flushing, mual,muntah,nyeri perut dan sinkop. Dosis yang diberikan: Kebutuhan besi (mg) = (15-hb sekarang) x BB x 2,4 + 500 atau 1000 mg c.diet tinggi protein d.transfusi darah dengan indikasi sebagai berikut : -penyakit jantung anemic dengan payah jantung -anemia yang sangat simtomatik,missal anemia dengan pusing yang sangat mencolok -memerlukan peningkatan kadar Hb yang cepat missal pada hamil trimester III atau preoperasi.

Kesimpulan Anemia defisiensi timbul akibat berkurangnya penyediaan besi untuk eritropoesis, karena cadangan besi kosong (depleted iron store) yang akhirnya mengakibatkan pembentukan Hb berkurang. Diagnosis anemia defisiensi besi harus dilakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik yang teliti disertai pemeriksaan laboratorium yang tepat. Penatalaksanaan anemia defisiensi Fe dengan :Terapi terhadap penyebab pendarahan dan Iron replacement therapy Daftar pustaka 1. Sudoyo W.,Setyohadi B., Alwi I.,Simadribata M.,Setiati .,Editor. Pendekatan Terhadap Pasien Anemia. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Jilid II Edisi III. Balai Penerbit FKUI, Jakarta 2006; hal 632-636 2. Permono B.,Sutaryo.,Ugrasena.,Anemia Defisiensi Besi ,dalam buku ajar hematology-oncology. Badan penerbit IDAI: Jakarta, 2005; hal 30-42. 3. Sudoyo W.,Setyohadi B., Alwi I.,Simadribata M.,Setiati .,Editor. Anemia Defisiensi Besi. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Jilid II Edisi III. Balai Penerbit FKUI, Jakarta 2006; hal 644-650 4. Price A., Wilson L, Anemia Defisiensi Besi, Patofisiologi, edisi 4, EGC, Jakarta, 1995;hal 236-237 5. George N,Ioannou, Specter J.dkk, Prospective Evaluational of Clinical Guideline for the Diagnosis and management of Iron Deficiency Anemia . The American Journal of Medicine by Excerpta Medica, Inc. 2002 ; p.281-287