Anda di halaman 1dari 11

BAB I PENDAHULUAN

I.1 LATAR BELAKANG kata anasthesi di perkenalkan Oliver Wendell yang menggambarkan keadaan tidak sadar yang bersifat sementara, karena pemberian obat dengan tujuan untuk menghilangkan nyeri pembedahan. analgesia ialah pemeberian obat untuk menghilangkan nyeri tanpa menghilangkan kesadaran pasien. pada pasien pasien dengan perlakuan anastesi penting di ketahui pemilihan anasthesi dan tahapan anasthesi. pemeberian dosis anastesi adalah tidak mutlak karena merupakan seni dari masing masing anasthesiolog untuk menciptakan keadaan yang di sebut anastesi. lipoma adalah tumor jinak terdiri dari jaringan lemak. Mereka adalah bentuk paling umum dari tumor jaringan lunak. Lipoma lembut saat di sentuh, biasanya bergerak, dan biasanya tidak sakit. Banyak lipoma kecil (di bawah satu sentimeter diameter) tapi bisa memperbesar ke ukuran lebih besar dari enam sentimeter. Lipoma biasanya ditemukan pada orang dewasa 40-60 tahun, tetapi juga dapat ditemukan pada anak-anak. Beberapa sumber mengklaim bahwa transformasi ganas dapat terjadi, sementara yang lain mengatakan bahwa hal ini masih harus meyakinkan didokumentasikan. I . 2 TUJUAN PENULISAN adapun tujuan penulisan adalah 1. memberikan pengetahuan tentang lipoma 2. memberikan pengetahuan tentang prosedur pemeriksaan dan anasthesi 3. membahas pemilihan tata cara dan obat dalam pemberian anasthesi.

BABII TINJAUAN PUSTAKA


II.1 DEFINISI lipoma adalah tumor jinak terdiri dari jaringan lemak. Mereka adalah bentuk paling umum dari tumor jaringan lunak. Lipoma lembut saat di sentuh, biasanya bergerak, dan biasanya tidak sakit. Banyak lipoma kecil (di bawah satu sentimeter diameter) tapi bisa memperbesar ke ukuran lebih besar dari enam sentimeter. Lipoma biasanya ditemukan pada orang dewasa 40-60 tahun, tetapi juga dapat ditemukan pada anak-anak. Beberapa sumber mengklaim bahwa transformasi ganas dapat terjadi sebelum melangkah lebih jauh pada tahapan anastesi kita wajib mengetahui penyakit ini meliputi: * 1 Jenis * 2 Prevalensi * 3 Penyebab * 4 Pengobatan

II. 2 JENIS Ada beberapa subtipe lipoma : 1. Angiolipoleiomyoma umumnya, soliter, bintil acral tanpa gejala, histologis ditandai dengan tumor bawah kulit baik dibatasi terdiri dari sel-sel otot polos, pembuluh darah, jaringan ikat, dan lemak 2. Angiolipoma adalah nodul subkutan yang menyakitkan, memiliki semua fitur lain dari lipoma khas 3. Lipoma Chondroid yang mendalam, firm, tumor kuning yang khas terjadi pada kaki perempuan Lipoma Corpus callosum adalah suatu kondisi bawaan langka yang mungkin atau tidak dapat hadir dengan gejala. Lipoma biasanya relatif kecil dengan diameter sekitar 1-3 cm, tetapi dalam kasus yang jarang mereka dapat tumbuh selama beberapa tahun menjadi " lipoma raksasa "yang melintasi 10-20 cm dan berat sampai 4-5 kg. 4. Hibernoma adalah lipoma lemak coklat. 5. Intradermal sel gelendong lipoma berbeda dalam hal itu paling umum pada perempuan, dan memiliki distribusi yang luas, terjadi dengan frekuensi yang relatif sama di kepala dan leher, batang, dan atas dan ekstremitas bawah 6. Fibrolipoma Neural adalah pertumbuhan berlebih dari jaringan FIBRO-lemak sepanjang batang saraf yang sering menyebabkan kompresi saraf

7. lipoma pleomorfik *, seperti lipoma spindle-sel, terjadi karena sebagian besar di punggung dan leher pria lanjut usia, dan ditandai oleh sel raksasa bunga kecil dengan inti yang tumpang tindih 8. Spindle-sel lipoma adalah tumor, tanpa gejala subkutan lambat tumbuh yang memiliki kegemaran untuk leher, punggung belakang, dan bahu laki-laki yang lebih tua 9. Superficial lipoma subkutan, jenis yang paling umum dari lipoma, terletak tepat di bawah permukaan kulit. Sebagian besar terjadi pada batang, paha dan lengan, meskipun mereka dapat ditemukan di mana saja di tubuh mana lemak berada.

II. 3 PREVALENSI Sekitar satu persen dari populasi umum telah lipoma a Tumor ini dapat terjadi pada segala umur,. Tetapi yang paling umum pada usia pertengahan, sering muncul pada orang 40-60 tahun lipoma kutaneus berada. Jarang pada anak-anak , tetapi tumor ini dapat terjadi sebagai bagian dari sindrom Bannayan-Zonana penyakit bawaan. II. 4 PENYEBAB Kecenderungan untuk mengembangkan suatu lipoma tidak selalu turun temurun meskipun kondisi turun-temurun, seperti lipomatosis beberapa keluarga, mungkin termasuk pengembangan lipoma. Genetik studi pada tikus dari laboratorium Santa J. Ono telah menunjukkan hubungan antara HMG IC gen (sebelumnya diidentifikasi sebagai gen yang berhubungan dengan obesitas) dan pengembangan lipoma. Studi ini mendukung data epidemiologi sebelumnya pada manusia yang menunjukkan hubungan antara HMG IC dan tumor mesenchymal. Kasus telah dilaporkan di mana luka ringan diduga telah memicu tumbuhnya lipoma, yang disebut "lipoma pasca-trauma." Namun, hubungan antara trauma dan pengembangan lipoma adalah kontroversial. II. 5 PENGOBATAN Biasanya, perawatan lipoma yang tidak diperlukan, kecuali jika tumor menjadi menyakitkan atau membatasi gerakan. Mereka biasanya dihapus karena alasan kosmetik, jika mereka tumbuh sangat besar, atau untuk histopatologi untuk memeriksa bahwa mereka bukan jenis yang lebih berbahaya dari tumor seperti sebuah liposarcoma. Lipoma biasanya dihilangkan dengan eksisi sederhana removal sering bisa dilakukan di bawah anestesi lokal,. Dan memakan waktu kurang dari 30 menit. Ini menyembuhkan sebagian besar kasus, dengan sekitar 1-2% dari lipoma berulang setelah eksisi. Liposuction adalah pilihan lain jika lipoma yang lembut dan memiliki komponen jaringan ikat kecil. Liposuction biasanya hasil kurang parut, namun dengan lipoma besar mungkin gagal untuk menghapus seluruh tumor, yang dapat mengakibatkan pertumbuhan kembali [20].

Ada metode baru sedang dikembangkan yang seharusnya untuk menghilangkan lipoma tanpa jaringan parut. Salah satunya adalah penghapusan dengan menggunakan suntikan senyawa yang memicu lipolisis, seperti steroid atau fosfatidilkolin.

BABIII. ALUR PEMERIKSAAN


pada seseorang yang datang dengan keluhan diagnose lipoma tahapan yang harus di lakukan meliputi: 1. reanamnesa : mengenai benjolan yang di keluhkan meliputi letak, waktu benjolan di rasakan, besar ,progrisifitas benjolan, hubungan dengan daerah di sekitar benjolan,penyebab (keluarga memiliki sakit yang sama, terpapar radiasi, sering terkena truma) 2. pemeriksaan fisik: bentuk, besar, mobil atau tidak, konsistensi, hubungan dengan organ di sekitarnya. 3. pemeriksaan penunjang bila di butuhkan. 4. informed consent untuk tindakan yang akan di lakukan berikutnya Bila operator yakin ini merupakan lipoma, dalam eksisi lipoma di pertimbangkan: 1. waktu 2. biaya 3. jenis operasi 4. lama operasi 5. permintaan pasien dll pemilihan jenis anastesi 1. anastesi local : umumnya lipoma yang kecil dan pada tempat yang tidak berbahaya dapat dieksisi dengan anasthesi local golongan ester (novokain 0,25%-0,5%) atau amida ( lidokain 0,25%) dapat di tambahkan adrenalin untuk memperpanjang efek anastesi. 2. anastesi regional/block: bila berada di tempat yang memungkinkan untuk di lakukan blok anastesi , ketersediaan alat ( jarum quincke babcock, tuohy, Crawford) obat (buvipakain, lidokain) dan keterampilan anasthesiolog 3. anastesi general: factor letak yang sulit (co dada, punggung) lama operasi, biaya, permintaan pasien.

BAB IV. ANIMASI KASUS


contoh animasi kasus pasien dengan lipoma dengan general anastesi :

IV..1 ABSTRACT Pasien datang ke RSUD sidoarjo di terima oleh DM Kadek, Andrew, dan Agustin. Keluhan Utama benjolan 5cm di bawah axila dextra bersifat lunak pada perabaan, dapat digerakkan, dan tidak nyeri. pertumbuhannya sangat lambat ( pasien lupa sejak kapan munculnya benjolan). Benjolan dengan diameter kira-kira 5cm. Keluarga pasien tidak ada yang menderita penyakit yang sama dengan pasien. Tidak ada riwayat penyakit DM dan hipertensi belum pernah di operasi sebelumnya. Keadaan umum baik, kesadaran compos Mentis, tensi 130 / 100mHg, nadi 108 menit, suhu 36 0 C, respirasi 22 x / menit.

IV.2 DIAGNOSIS Berdasarkan anamnesa dan pemeriksaan fisik, maka: Diagnosis preoperative Differential diagnosis Status operatif : lipoma : cysta, liposarcoma : ASA I (pasien sehat dan tidak ada gangguan sistemik)

IV.3.TINDAKAN ANASTESI IV.3.1 Keadaan pre-operative: Pasien mengalami program puasa selama 6 jam. Keadaan pasien stabil, kooperatif, tekanan darah 110/70 mmHg, nadi 84 x/menit. pemasangan Infus RL 20 tetes per menit/sesuai kebutuhan cairan

IV.3..2 Jenis anestesi: Anestesi umum, semi cloced, respirasi control menggunakan masker relaxant.

IV.3..3 Premedikasi yang diberikan: 5 menit sebelum dilakukan induksi anestesi, diberikan premedikasi berupa ketorolac 30 mg, ondansentron 4 mg, sulfas atropine 0,25 mg serta midazolam 2 mg secara intravena.

IV.3.4 Anestesi yang diberikan: Induksi anestesi pertama pasien di beri 02 murni selama 1 menit kemudian induksi digunakan Propofol 100 mg IV (dosis 2-2,5 mg/kgBB). Setelah pasien masuk dalam stadium anestesi disusul dengan pemberian norcuron 3 mg IV (dosis 0,1 mg/kgBB)untuk relaksasi otot setelah terjadi relaksasi kemudian Balon pipa dikembangkan sampai tidak ada kebocoran pada waktu melakukan napas buatan dengan balon napas. dan dihubungkan dengan mesin anestesi. Maintenance Untuk mempertahankan status anestesi digunakan Sevofluran 2 Vol % (MAC = 1,8%), O2 3 liter / menit dan N2O 3 liter / menit.. Selama tindakan anestesi berlangsung, tekanan darah dan nadi senantiasa dikontrol tiap 5 menit. Tekanan darah sistolik berkisar antara 115 150 mmHg. Tekanan diastolic berkisar antara 60 75 mmHg. Infuse RL diberikan pada pasien sebagai cairan rumatan.
6

IV.3. 5Keadaan post-operasi Operasi berlangsung selama 30 menit. Setelah penjahitan luka kurang dari 1-2 jahitan lagi, Sevo dan N2O dimatikan dan hanya O2 saja yang diberikan (dinaikkan volumenya), maka dilakukan ekstubasi pada menit ke 35, kemudian rongga mulut dan trachea dibersihkan dengan suction untuk menghilangkan lendir yang dapat menghalangi airway.

IV.3. 6 Ruang rumatan Pasien dipindah ke ruang rumatan dan diobservasi mengenai aktivitas motorik, pernapasan dan kesadaran. Bila pasien tenang dan Aldrete Score 8 dan tanpa nilai 0, dapat dipindah ke bangsal. Pada kasus ini Aldrete Score-nya yaitu kesadaran 1 (respon bila nama dipanggil), aktivitas motorik 2 (menggerakan semua ekstremitas), pernapasan 2 (bernapas tanpa hambatan), sirkulasi 2 (tekanan darah dalam kisaran 20%), saturasi oksigen 2 (SpO2 > 92% pada udara ruangan). Jadi Aldrete Score pada pasien ini adalah 9 sehingga layak untuk pindah ke bangsal.

IV.3.7 Program post-operasi Setelah pasien pulih dengan Aldrete Score > 8 pasien dikirim ke bangsal dengan catatan: o Beri O2 3 liter/menit kanul nasal o Awasi tanda-tanda vital tiap 30 menit (tensi, nadi, SpO2 bila ada) o Bila sadar penuh, tidak mual, tidak muntah, bising usus (+), maka boleh dicoba minum sedikitsedikit o Bila mual beri metoklorpramide 10 mg IV pelan o Bila nyeri bertambah beri analgetik ketorolak 30 mg IV pelan o Bila ada gangguan tanda-tanda vital, mual, muntah serta nyeri berlebih konsul dokter anestesi

BAB V PEMBAHASAN Penilaian dan persiapan pra anestesi dimulai dari anamnesis, yang meliputi penyelidikan apakah pasien pernah mendapatkan anesthesia sebelumnya dan jika benar, bagaimanakah reaksinya. Hal ini penting untuk mengetahui adanya alergi, mual muntah, nyeri otot, gatal-gatal atau sesak napas pasca operasi, sehingga dapat dirancang anesthesia berikutnya dengan lebih baik. Harus dilai benar, apakah keluhan pasien termasuk alergi atau efek samping. Pemeriksaan fisik dan pemeriksaan laboratorium penting untuk menilai status fisik pasien. pemeriksaan foto thoraks bila memungkinkan dikerjakan Klasifikasi yang lazim digunakan untuk menilai kebugaran fisik seseorang ialah berasal dari The American Society of Anesthesiologists (ASA). Kelas I Kelas II Kelas III : Pasien sehat organic, tidak ada gangguan sistemik. : Pasien dengan penyakit sistemik ringan atau sedang. : Pasien dengan penyakit sistemik berat, sehingga aktivitas rutin terbatas.

Kelas IV : Pasien dengan penyakit sistemik berat tak dapat melakukan aktivitas rutin dan penyakitnya merupakan ancaman kehidupannya setiap saat. Kelas V : Pasien sekarat yang diperkirakan dengan atau tanpa pembedahan hidupnya tidak akan lebih dari 24 jam.

Selama anestesi, reflek laring mengalami penurunan. Regurgitasi lambung dan kotoran yang terdapat pada jalan napas merupakan risiko utama pada pasien yang menjalani anestesi. Untuk meminimalkan risiko tersebut, semua pasien yang dijadwalkan operasi elektif dengan anesthesia harus dipantangkan dari masukan oral. Pada pasien dewasa umumnya puasa 6-8 jam, anak kecil 4-6 jam, dan bayi 3-4 jam. Makanan tak berlemak diperbolehkan 5 jam sebelum induksi anestesi.
8

Minuman bening, air putih, the manis sampai 3 jam dan untuk keperluan minum obat, air putih dalam jumlah terbatas boleh 1 jam sebelum induksi anestesi. Premedikasi ialah pemberian obat sebelum induksi anestesi dengan tujuan untuk melancarkan induksi, rumatan dan bangun dari anestesi, diantaranya: 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) Meredakan kecemasan dan ketakutan Memperlancar induksi anesthesia Mengurangi sekresi kelenjar ludah dan bronkus Meminimalkan jumlah obat anestetik Mengurangi mual-muntah pasca bedah Menciptakan amnesia Mengurangi isi cairan lambung Mengurangi reflek yang membahayakan.

Dalam kasus ini, diberikan ketorolac 30 mg, ondansentron 4 mg, sulfas atropine 0,25 mg serta midazolam 2 mg secara intravena. Ketorolac merupakan analgetika non opioid yang selain bersifat analgetik juga bersifat antiinflamasi, antipiretik dan anti pembekuan darah. Kerja obat ini menghambat aktivitas enzim siklooksigenase, sehingga terjadi penghambatan sintesis prostaglandin perifer. Prostaglandin sendiri dihasilkan oleh fosfolipid dari dinding sel yang rusak akibat trauma bedah. Efek analgetik dari ketorolac dicapai dalam 30 menit, maksimal setelah 1-2 jam dengan lama kerja sekitar 4-6 jam. Dosis awal 10-30 mg dan dapat diulang sesuai kebutuhan, namun penggunaannya dibatasi untuk 5 hari. Sifat analgetik ketorolac setara dengan opioid, yaitu 30 mg ketorolac = 12 mg morfin = 100 mg petidin. Ondansetron ialah suatu antagonis 5-HT3 yang sangat selektif yang dapat menekan mual dan muntah. Mekanisme kerjanya diduga dengan mengantagonisasi reseptor 5-HT yang terdapat pada chemoreceptor trigger zone di area postrema otak dan mungkin juga pada aferen vagal saluran cerna. Ondansetron juga mempercepat pengosongan lambung, bila kecepatan pengosongan basal rendah. Kadar meksimum tercapai setelah 1-1,5 jam, terkat protein plasma sebanyak 70-76 % dan waktu paruh 3 jam. Sulfas atropine pada dosis kecil (0,25 mg) diperlukan untuk menekan sekresi saliva, mucus bronkus dan keringat. Sulfas atropine merupakan antimuskarinik yang bekerja pada alat yang dipersarafi serabut pascaganglion kolinergik. Pada ganglion otonom dan otot rangka, tempat asetilkolin juga bekerja, penghambatan oleh atropine hanya terjadi pada dosis sangat besar.

Midazolam merupakan sedative golongan benzodiazepine. Selain sedasi, juga berefek hypnosis, pengurangan terhadap rangsangan emosi/ansietas, relaksasi otot dan antikonvulsi. Dosis sedasi yang diberikan secara IV = 0,025-0,1 mg/kgBB. Induksi anestesi adalah tindakan untuk membuat pasien dari sadar menjadi tidak sadar, sehingga memungkinkan untuk dimulainya anestesi dan pembedahan. Pada kasus ini, digunakan propofol sebagai induksi anestesi. Propofol dikemas dalam cairan berwarna putih susu bersifat isotonic dengan kepekatan 1% (1 ml = 10 mg). Suntikan intravena dapat menyebabkan nyeri, sehingga beberapa detik sebelumnya dapat diberikan lidokain 1-2 mg/kg intravena. Dosis bolus untuk induksi 2-2,5 mg/kg, dosis rumatan untuk anestesi intravena 4-12 mg/kg/jam dan dosis sedasi untuk perawatan intensif 0,2 mg/kg. Vekuronium (norcuron) merupakan muscle relaxant nondepolarisasi. berikatan dengan reseptor nikotinik kolinergik, menghalangi asetil cholin. Dosisnya 0,1-0,2 mg/kg. pemberiannya untuk relaksasi dan mengurangi penggunaan agent anasthesi. Pada penggunaan bersama anestetik umum seperti eter, halotan, metoksifluran, isofluran, enfluran, siklopropan dan flureksen, dosis pelumpuh otot kompetitif harus dikurangi menjadi 1/3-1/2 kali dosis biasa (dosis = 1/3-1/2 x 0,10,2 mg/kgBB). Karena interaksi dengan obat-obat tersebut memperlihatkan efek stabilisasi membrane pasca sinaps, maka bekerja sinergistik dengan obat-obat penghambat kompetitif. Rumatan anestesi (maintenance) dalam kasus ini dikerjakan dengan cara inhalasi menggunakan sevofluran (MAC = 1,8%), yang merupakan halogenasi eter. Efek sevofluran terhadap kardiovaskuler cukup atabil, jarang menyebabkan aritmia. Pemberian anesthesia dengan N2O harus disertai O2 minimal 25 %. Gas ini bersifat anesteti lemah, tetapi analgesinya kuat. Pada anestesi inhalasi jarang digunakan sendirian, tetapi dikombinasi dengan salah satu cairan anestetik lain. Pada akhir anesthesia setelah N2O dihentikan, maka N2O akan cepat keluar mengisi alveoli, sehingga terjadi pengenceran O2 dan terjadilah hipoksia difusi. Untuk menghindarinya, diberikan O2 selama 5-10 menit.

Kebutuhan Cairan Pasien di OK: Maintenance : BB = 45 kg 2 ml/kgBB/jam = 90 ml/jam

Stress operasi : 6 x 45 = 270 ml/jam perdarahan : 20 ml

Kebutuhan cairan total dalam 1 jam pertama : 90 + 270 + 20 = 380 ml/jam EBV pada wanita adalah 65 ml/kgBB sehingga pasien dengan BB = 45 kg, EBV = 2925 ml

10

% EBV : 20 ml / 2925 ml x 100% = 0,6 % Karena perdarahan yang terjadi kurang dari 10 % EBV, maka pemberian cairan cukup dengan cairan kristaloid. Karena menggunakan kristaloid, maka kebutuhan cairan pada 1 jam adalah = 380 ml, dipenuhi dengan cairan RL 1 botol. Jadi jumlah tetesan permenitnya menggunakan jarum 1 ml ~ 20 tetes adalah 380 / 3 = 120 tetes / menit.

Kebutuhan Cairan Pasien di Bangsal: Maintenance : 2 cc/kgBB (BB = 45 kg) 90 ml/jam Jadi jumlah tetesan permenitnya jika menggunakan jarum 1 ml ~ 20 tetes adalah 90 / 3 = 30 tetes / menit.

11