Anda di halaman 1dari 9

BAB III PEMBAHASAN

Vulnera atau luka terjadi akibat adanya gangguan kontinuitas dari suatu jaringan ,sehingga akan menyebabkan terjadi pemisahan jaringan yang semula normal .Secara umum luka dapat dibagi menjadi dua dimana terdapat luka simpleks (hanya melibatkan kulit) dan luka komplikatum (melibatkan kulit dan jaringan dibawahnya) .Dimana luka dapat terjadi akibat adanya trauma dari luar ,beberapa trauma tersebut adalah : 1. Trauma mekanis : disebabkan karena tergesek ,terpotong ,terpukul ,tertusuk ,terbentur ,dan terjepit 2. Trauma elektris : dengan penyebab cedera karena listrik dan petir 3. Trauma termis 4. Trauma kimia : disebabkan oleh panas dan dingin : disebabkan oleh zat kimia yang bersifat asam dan basa ,serta zat iritatif

dan korosif lainya .

Luka dibagi menjadi 2 bagian yaitu luka tertutup dan luka terbuka .Luka tertutup adalah luka dimana tidak terjadi hubungan antara luka dengan dunia luar ,contohnya adalah luka memar. Dan luka terbuka adalah luka dimana terjadi hubungan antara luka dengan dunia luar . Luka tertutup : Vulnus Contussum (Luka Memar) ,disini tidak terjadi apa-apa pada daerah kulit ,hanya saja pembuluh darah subkutan dapat rusak ,sehingga terjadi hematom. Bila hematom kecil, maka akan diserap oleh jaringan sekitarnya ,namun jika besar ,maka penyembuhan akan berjalan lambat Vulnus Traumaticum terjadi di dalam tubuh ,tetapi tidak tampak dari luar .Tandatandanya dapat terjadi hematom hingga gangguan sistem tubuh .Contoh luka ini pada

benturan di dada ,perut ,dsb .Yang dapat menyebabkan kerusakan pada organ-organ dalam

Luka terbuka : Vulnus Excoriatio (Luka lecet) ,merupakan luka ringan dan paling mudah sembuh .Terjadi karena gesekan tubuh dengan benda-benda rata (aspal ,semen ,tanah) Vulnus Scissum/Incisivum (Luka sayat) ,tepi luka tajam dan licin .Bila luka sejajar dengan garis lipatan kulit, maka luka tidak terlalu terbuka . Vulnus Laceratum (Luka robek) ,disebabkan oleh benda tumpul ,tepi luka tidak rata ,dan perdarahan sedikit karena mudah terbentuk cincin thrombosis akibat pembuluh darah yang hancur dan memar . Vulnus Punctum (Luka tusuk) disebabkan luka runcing memanjang .Dari luar tampak kecil ,tetapi didalam mungkin rusak berat.Luka tusuk yang mengenai abdomen atau thorax sering disebut Vulnus Penetrosum (Luka tembus) . Vulnus Caesum (Luka potong) disebabkan oleh benda tajam besar (kampak ,klewang ,dsb) dan diseertai tekanan .Tepi luka tajam dan rata ,dan luka sering terkontaminasi ,oleeh karena itu kemungkinan infeksi lebih besar . Vulnus Sclopetorum (Luka tembak) disebabkan oleh tembakan ,granat ,dsb .Tepi luka dapat tidak teratur .Corpus alienum (benda asing) dapat dijumpai dalam luka .Kemungkinan infeksi dengan bakteri anaerob dan gangrene gas lebih besar . Vulnus Morsum (luka gigit) disebabkan oleh gigitan binatang atau manusia .Kemungkinan infeksi lebih besar ,dimana bentuk luka bergantung bentuk gigi penggigit .

Menurut Anglo-Saxon (Inggris) luka dapat dibagi menjadi beberapa bagian ,yaitu : a. Abrasi. Merupakan luka palin superficial ,dengan sedikkit perdarahan. Bila tidak terinfeksi ,keropeng korts terjadi dalam beberapa hari. Keropeng jangan diganggu hingga terjadi epitelialisasi. Keropeng yang dibiarkan lepas sendiri akan meminimumkan cacat luka (sikatriks) . b. Laserasi. Bentuk luka tidak teratur, karena ditimbulkan benda tumpul. Tepi luka bervariasi dari rata hingga tidak teratur . c. Penetrating Wound. Terjadi karena benda tajam atau peluru. Luka dapat besar atau kecil, tergantung atas benda penyebabnya . d. Avulsi. Luka berbentuk flap, bila sirkulasi flap baik, maka luka mudah sembuh. Bila sirkulasi buruk, maka mudah terjadi nekrosis . e. Open Crushing Injury. Gabungan dari keempat jenis luka diatas

Adapun tanda-tanda luka dibagi atas tanda umum (syok ,crush syndrome) dan tanda lokal yang terdiri dari rasa nyeri dan perdarahan .Kita akan membahas satu persatu mengenai tanda-tanda luka .Dimulai dengan tanda-tanda umum ,yaitu syok. Syok terjadi akibat kegagalan sirkulasi perifer, dengan tandanya dimana tekanan darah menurun menjadi tak teratur ,nadi kecil hingga tak teraba ,keringat dingin dan lemah ,kesadaran menurun hingga tak sadar.Syok dapat disebabkan oleh rasa nyeri dan perdarahan .Tanda umum kedua adalah sindroma remuk atau crush syndrome. Dimana ini terjadi akibat banyaknya daerah yang hancur ,misalnya otot-otot daerah luka ,sehingga mioglobin ikut hancur dan menumpuk di ginjal . Tanda-tanda lainnya adalah tanda lokal .Yaitu terdapatnya rasa nyeri dimana rasa ini disebabkan oleh adanya lesi pada sistem saraf. Pada luka-luka besar sering tidak terasa nyeri karena gangguan sensibilitas akibat syok setempat(lokal) pada jaringan tersebut .Tanda kedua adalah adanya perdarahan. Banyaknya bergantung pada vaskularisasi daerah luka dan banyaknya pembuluh darah yang terpotong ataupun rusak. Perdarahan akan terhenti apabila

terjadi retraksi (kontraksi) pembuluh darah dan telah terbentuk cincin trombosis. Perdarahan ini dibagi menjadi tiga ,yaitu : perdarahan parenkimatosa yang berasal dari kapiler dan tidak berbahaya ,kecuali bila terjadi pada organ visera .Kedua terdapat perdarahan venosa ,yaitu perdarahan yang berasal dari vena ,dan tidak begitu berbahaya. Dan yang terakhir adalah perdarahan arterial yang berasal dari arteri dimana perdarahannya bersifat memancar dan seirama dengan denyut nadi penderita ,dimana bila tidak cepat diatasi akan dapat menyebabkan syok hinggan kematian. Pengobatan luka umumnya dibagi menjadi dua cara ,yaitu pengobatan umum dan pengobatan lokal. Dimana pengobatan umum ini yang didahulukan adalah mengatasi syok dan perdarahan .Syok sendiri terbagi menjadi dua ,yaitu syok primer dimana pengobatannya dengan cara memberikan suntikan morfin, petidin atau narkotika analgesik lainnya untuk mengatasi nyeri .Sedangkan syok sekunder terapinya menggunakan cairan. Infus segera dengan NaCl 0,9% atau ringer laktat ,namun jika terdapat perdarahan berat maka dapat dilakukan transfusi darah. Perdarahan dilakukan dengan transfuse secepatnya dan dibantu dengan obat-obatan hemostatika. Adapun pengobatan lokal yang dilakukan adalah P3K (pertolongan pertama pada kecelakaan). Mula-mula tutup luka dengan pembalut steril (dressing). Jangan menaruh antiseptic, salep, obat tepung, dsb ,karena semua ini dapat memperbesar kemungkinan kontaminasidan kerusakan jaringan oleh bahan-bahan kimia. Perdarahan dapat diatasi dengan pembalut tekan ,namun bila luka terdapat pada ekstremitas maka ekstremitas dielevasi (ditinggikan) perdarahan arteri dengan : Kompresi dengan jari. Bila perdarahan tidak berhenti, tekan arteri bagian proksimal dengan jari (bila perlu jari dimasukan kedalam luka). Untuk arteri karotis dilakukan penekanan kea rah kolumna vertebra. Arteri subklavia dilakukan penekanan pada fosa subklavikularis. Pada arteri brakhialis ditekan pada fosa bisipitalis. Arteri iliaka dilakukan penekanan aorta kearah kolumna vertebra. Dan arteri femoralis ditekan pada bagian bawah ligamentum pouparti. Kompresi dengan membengkokan badan atau bagian tubuh. Untuk arteri subklavia yaitu dengan menarik lengan ke bawah belakang, untuk arteri brakhialis lengan ditarik ke belakang dalam keadaan aduksi, untuk arteri radialis/ulnaris dilakukan fleksi siku

maksimum, arteri tibialis lakukan fleksi lutut maksimum, untuk arteri femoralis pasien ditidurkan, tungkai ditekankan pada perut . Kompres proksimal arteri yang luka. Dapat digunakan torniket, Knevel verband. Dengan cara ini luka harus sering dibuka. Biasanya setiap 5-15 menit. Bila lebih dari dua jam, maka dapat terjadi nekrosis atau iskemia kontraktur .

Pengobatan definitif pada luka tertutup dan terbuka adalah berbeda. Pada luka tertutup umumnya tidak diperlukan tindakan bedah. Bila terjadi rupture otot atau ligamen, maka diperlukan tindakan bedah. Namun kita harus berhati-hati apabila mengenai region thoraks atau abdomen. Pemeriksaan fisik sangat penting untuk mengetahui adanya perdarahan interna (perdarahan yang tak tampak) dipakai tes Von Slany yang dilakukan dengan memeriksa hemoglobin, hematokrit ,dan lekosit. Jika hemoglobin menurun, hematokrit meningkat ,lekosit meningkat, maka tes Von Slany positif, artinya terdapat perdarahan interna. Luka terbuka pada prinsipnya adalah mengubah luka terkontaminasi menjadi luka bedah yang bersih. Pemeriksaan luka dilakukan dengan menarik tepi luka dan membukanya lebar-lebar, kemudian dilihat apakah terdapat organ dibawahnya yang terpotong seperti otot, tendon, pembuluh darah. Periksa juga keadaan luka tersebut apakah keadaan bersih, kotor, terkontaminasi,ada benda asing. Bila terdapat perdarahan dapat dihentikan dengan pembalut tekan, tampon dengan obat vasokonstriksi, diklem lalu ligasi, atau diathermi (menggunakan alat khusus). Prinsipnya harus baik karena luka berdarah sukar sembuh. Luka dikepala tidak perlu diklem atau diikat, sebab dengan penjahitan yang rapat dan tepat, perdarahan akan terhenti sendiri. Terdapat empat faktor yang mempengaruhi penganan luka adapun faktor faktor tersebut adalah : Lama luka. Golden period (luka lebih kurang 6-8 jam) merupakan saat kita menganggap suatu luka dapat ditangani dengan sempurna. Jadi luka masih dapat dijahit secara primer. Masa ini tidak berlaku pada luka kotor atau terkontaminasi .

Bila luka masih berada pada masa ini maka dapat diperoleh clean surgical wound (luka bedah yang bersih) dengan jalan menghentikan perdarahan, lakukan debridement (jaringan kotor dibuang, benda asing dibuang, bentuk luka yang tidak teratur dirapikan), penutupan luka dilakukan dengan penjahitan primer, dibiarkan terbuka (tidak dijahit) tetapi ditutup kasa steril yang telah dibubuhi obat ,tindakan selanjutnya bergantung situasi dan kondisi luka . Bentuk anatomi luka. Luka sederhana cukup dibersihkan dan diberi obat. Sedang luka dengan bentuk tidak teratur harus di debridement kemudian dilakukan tindakan selanjutnya. Bersih tidaknya luka. Luka yang kotor harus dicuci bersih. Jangan biarkan corpus alienum tertinggal dalam luka. Bila luka kotor maka penyembuhan luka sulit terjadi, kalaupun sembuh akan berhasil dalam kosmetik yang buruk. Harus diyakini suatu luka telah bersih, sehingga dapat dilakukan tindakan selanjutnya. Lokalisasi luka. Luka didaerah thoraks dan abdomen lebih sulit ditangani dibandingkan luka didaerah lain, sebab harus dipastikan bahwa luka tidak menembus ke organ. Luka pada wajah dan kepala banyak mengeluarkan darah, jadi penanganannya harus cepat. Luka pada daerah sendi harus ditangani dengan cara yang benar, bila salah maka dapat timbul kontraktur (kekakuan)

Jika kita menemukan suatu luka persiapannya adalah dengan mencuci luka tersebut menggunakan NaCl 0,9% atau akuades ,jangan menggunakan bahan yang merangsang karena dapat menyebabkan rasa nyeri. Dapat juga dilakukan anastesi lokal disekitar luka, dimana sebelumnya dilakukan aspirasi dan jangan biarkan masuk ke dalam pembuluh darah. Pada end organ(organ ujung) jangan menggunakan zat anastesi yang mengandung epinefrin (adrenalin), sebab dapat terjadi nekrosis organ yang bersangkutan. Pembersihan luka dan seiktarnya dapat digunakan kasa steril untuk menutup luka ,mencukur bulu/rambut disekitar luka, mencuci sekitar luka dengan antiseptik. Kemudian

lakukan debridemen, dan perdarahannya diatasi. Semprot luka dengan perhidrol, sehingga semua kotoran keluar. Kemudian bilas luka dengan akuades atau NaCl o,9% . Apabila luka bedah sudah bersih maka dapat dilakukan penjahitan primer dimana sebaiknya jangan terjadi penegangan kulit yang dapat menyebabkan nekrosis. Kedua adalah dengan rotation flap ,menurut prinsip bedah plastik dan dilakukan pada daerah dengan cacat yang besar dan luas,tetapi jaringan sekitarnya cukup memenuhi syarat untuk pengambilan flapnya. Dan ketiga dibiarkan terbuka ,diberi obat perangsang granulasi seperti betadine ,bioplacenton,dsb .Bila granulasi baik dan tak ada infeksi maka dapat dilakukan penjahitan sekunder, skin graft (transplantasi kulit) menurut prosedur bedah plastik. Luka yang lebih dari 6-8 jam dianggap luka kotor dimana hanya dapat dilakukan dengan jahitan sementara dimana jahitan sewaktu-waktu dapat dibuka, dibiarkan terbuka dan ditutup dengan kasa steril serta diberi obat perangsang granulasi, dan kompres dengan rivanol, boorwater 3%, liquor burrowi, dsb.Pada luka kotor juga diberikan antibiotika berspektrum luas dalam dosis tinggi. Namun bila granulasi baik dan infeksi mereda dapat dilakukan penjahitan sekunder dan atau transplantasi kulit.

Menurut cara penyembuhan dapat dibagi atas : penyembuhan primer ,penyembuhan sekunder ,penyembuhan tersier. Penyebuhan primer (sanatio per primum intentionum/primary healing) Luka-luka yang bersih sembuh dengan cara ini, misalnya luka operasi, luka kecil yang bersih. Penyembuhannya tanpa komplikasi, penyembuhan dengan cara ini berjalan cepat dan hasilnya secara kosmetis baik. Fase penyembuhannya adalah : (1)Fase perlekatan luka, terjadi karena ada fibrinogen dan limfosit, dan terjadi dalam waktu 24jam pertama. (2)Fase aseptik peradangan, terjadi kalor, dolor, rubor, tumor dan functio laesa, pembuluh darah melebar dan leukosit serum melebar, sehingga terjadi edema ,dan terjadi setelah 24 jam. (3)Fase pembersihan/ initial fase ,karena edema, leukosit banyak keluar untuk memfagositosis/ membersihkan jaringan yang telah mati. (4)Fase proliferasi, pada hari ketiga, fibroblas dan kapiler menutup luka bersama jaringan kolagen dan makrofag.

Semua ini membentuk jaringan granulasi. Terjadi penutupan luka, kemudian terjadi epitelisasi. Pada hari ketujuh penyembuhan luka sudah bagus. Penyembuhan sekunder (sanatio per secundum intentionem/ secondary healing) Penyembuhan pada luka terbuka adalah melalui jaringan granulasi dan sel epitel yang bermigrasi. Luka-luka yang lebar dan terinfeksi, luka yang tak dijahit, luka bakar, sembuh dengan cara ini. Setelah luka sembuh akan timbul jaringan parut. Penyembuhan tersier (sanatio per tertium intentionem/ tertiary healing) Disebut pula delayed primary closure. Terjadi pada luka yang dibiarkan terbuka karena adanya kontaminasi, kemudian setelah tidak ada tanda-tanda infeksi dan granulasi telah baik, baru dilakukan jahitan sekunder, yang dilakukan setelah hari keempat, bila tanda-tanda infeksi telah menghilang.

Penyembuhan luka juga dipengaruhi oleh beberapa faktor ,yaitu : faktor lokal (besar/lebar luka, lokalisasi luka, kebersihan luka, bentuk luka, infeksi) dan faktor umum (usia pasien, keadaan gizi, penyakit penderita) .Besar/lebar luka biasanya sembuh lebih lambat dari luka kecil. Lokalisasi luka, luka didaerah vaskularisasi baik sembuh lebih cepat dibandingkan luka yang berada divaskularisasi sedikit. Kebersihan luka ,luka bersih lebih cepat sembuh daripada luka kotor. Bentuk luka, luka dengan bentuk sederhana lebih cepat sembuh. Infeks, luka terinfeksi sembuh lebih sulit dan lama.Faktor umum. Usia pasien, pada anak-anak dan orang muda luka sembuh lebih cepat dibandingkan pada orang tua. Keadaan gizi, pada penderita dengan gangguan gizi (malnutrisi, defisiensi, dan avitaminosis vitamin tertentu, anemia, kakeksia, dsb) luka sembuh lebih lambat. Penyakit penderita, pada penyakit tertentu lebih sukar dan lambat sembuhnya. Infeksi pada luka terbagi menjadi dua yaitu : infeksi primer, yaitu infeksi segera setelah luka, akam terjadi kontaminasi kuman. Ini disebabkan karena benda yang menyebabkan luka mengandung mikroorganisme patogen. Infeksi sekunder, timbul beberapa waktu setelah terjadinya luka, yang disebabkan oleh kuman yang berasal dari luar luka.Terdapat pula tiga stadium infeksi ,yaitu : stadium kontaminasi ,ini terjadi pada

saat kuman masuk ke dalam luka. Stadium inkubasi, stadium dimana kuman berkembang biak. Stadium klinis, tanda-tanda klinis muncul setelah 6jam, kalor timbul karena bertambahnya vaskularisasi, jadi semakin banyak darah mengalir ke daerah luka. Rubor terjadi karena hiperemia. Dolor terjadi karena toksin kuman dan eksudat(cairan radang) yang merangsang saraf disekitar luka. Tumor terjadi karena keluarnya leukosit dan terjadi migrasi sel-sel makrofag. Functio laesa terjadi karena rasa nyeri. Infeksi dapat terbagi menjadi 4 macam ,yaitu : (1)Infeksi piogenik/bernanah penyebabnya adalah streptokokus, stafilokokus. Pada infeksi ini terjadi pembentukan pus (nanah) dan infiltrate. (2)Infeksi putridae ,bersifat spesifik karena baunya yang busuk. Etiologinya adalah Escherichia coli yang dijumpai pada luka besar dan banyak jaringan yang hancur, dan tidak dijumpai nanah. (3)Infeksi anaerob ,misalnya tetanus dan infeksi kelompok gas gangren. (4)Infeksi pesifik ,infeksi karena kuman TBC, sifilis, dan difteri. Jaringan parut (sikatriks) pada luka yang berhipertrofi disebut keloid. Jaringan parut dapat menyebabkan kontraktur(gangguan gerak). Kontraktur dapat terjadi dalam keadaan fleksi, ekstensi, abduksi, dan aduksi. Jenis-jenis kontraktur yang dapat terjadi,sebagai berikut : kontraktur dermatogen yaitu kulit yang mengerut ,kontraktur desmogen yaitu fascia dan subcutis yang mengerut, kontraktur myogen adalah otot yang mengerut, kontraktur tendinogen adalah tendon yang mengerut, kontraktur neurogen adalah saraf yang rusak, kontraktur artrogen adalah sendi yang mengkerut, dan kontraktur psikogen yaitu gangguan psikis.