Anda di halaman 1dari 63

REFRESHING

Mata Merah Dengan Penglihatan Normal

Pembimbing: dr. Hj. Retna D. Iskandar, Sp.M

STASE KEPANITRAAN KLINIKMATA PROGRAM STUDI DOKTER FKK UMJ RSIJ CEMPAKA PUTIH 2013
Mariany melati 2008730023

ANATOMI MATA

Fisiologi Penglihatan

Cahaya adalah suatu spektrum gelombang elektromagnetik. Panjang gelombang cahaya400-700nm, dapat merangsang sel batang (rod cell) dan kerucut (cone cell) sehingga dapat terlihat oleh kita. Gelombang cahaya terlihat sebagai suatu spectrum.
rangsang cahaya masuk ke mata

diteruskan mulai dari kornea, aqueous humor, pupil, lensa, vitreous humor danterakhir retina.

Cahaya yang sampai di retina hiperpolarisasi dari reseptor pada retina Hiperpolarisasi mengakibatkan timbulnya potensial aksi pada sel-sel ganglion, yang aksonnya membentuk nervus optiks Kedua nervus optikus akan bertemu pada kiasma optikum, di mana serat nervus optikus dari separuh bagian nasal retina menyilang ke sisi yang berlawanan kemudian akan menyatu dengan serat nervus optikus dari sisi temporal yang berlawanan, membentuk suatu traktus optikus Serat dari masing-masing traktus optikus bersinaps pada korpus genikulatum lateralis dari thalamus

Kemudian dilanjutkan sebagai radiasi optikum ke korteks visual primer pada fisura calcarina pada lobus oksipital medial Serat-serat tersebut kemudian diproyeksikan ke korteks visual sekunder (1) nukleus suprakiasmatik dari hipotalamus mengontrol irama sirkadian dan perubahan fisiologis lain yang berkaitan dengan siang dan malam,

(2) ke nukleus pretektal pada otak tengah, menimbulkan gerakan refleks pada mata untuk fokus terhadap suatu obyek tertentu dan mengaktivasi refleks cahaya pupil, dan
(3) kolikulus superior, untuk mengontrol gerakan cepat dari kedua mata.

Mata Merah Visus Normal

Mata akan terlihat merah bila bagian putih mata atau sklera yang ditutup konjungtiva menjadi merah. Pada mata normal, sklera berwarna putih karena dapat terlihat melalui bagian konjungtiva. Hiperemia konjungtiva terajadi akibat bertambahnya asupan pembuluh darah ataupun berkurangnya pengeluaran darah seperti pada pembendungan pembuluh darah. Mata merah akibat melebarnya pembuluh darah konjungtiva yang terjadi pada peradangan mata akut, misalnya konjungtivitis, keratitis, atau iridosiklitis. Pada keratitis, pleksus arteri perikornea yang lebih dalam akan melebar pada iritis dan glaukoma akut kongestif. Pada konjungtivitis dimana pembuluh darah superfisial yang melebar, maka bila diberi efinefrin topikal terjadi vasokonstriksi sehingga mata akan menjadi putih.

Untuk mengetahui seseorang mempunyai visus normal, maka dilakukan pemeriksaan tajam penglihatan (visus). Pemeriksaan sebaiknya dilakukan di kamar yang tidak terlalu terang dan dalam jarak 5 6 meter dari kartu baku untuk uji penglihatan (kartu Snellen). Ditentukan baris huruf terkeci yang masih dapat dibaca. Biasanya penglihatan normal mempunyai tajam penglihatan 6/6.

Jika kartu Snellen tidak dapat dibaca pada jarak 6 meter, maka dilakukan pemeriksaan dengan hitungan jari. Dimana untuk orang normal, hitungan jari ini masih dilihat secara jelas oleh orang normal dalam jarak 60 meter.

Uji tajam penglihatan dengan cara lambaian tangan. Untuk ambaian tangan ini, orang yang masih normal visusnya akan dapat menglihat lambaian tangan ini secara jelas dari jarak 300 meter.

Jika pasien hanya dapat mengenal sinar 1/ tidak berhingga.

Jika untuk sinarpun orang yang kita periksa ini tidak dapat melihatnya, maka dikatakan penglihatannya adalah nol (buta total). Contoh kasus: Seseorang dapat melihat lambaian tangan dalam jarak 3 meter, maka visus orang tersebut adalah 3/300 Seseorang mulai dapat melihat hitungan jari pada jarak 2 meter, maka visus orang tersebut adalah 2/60 Mata terlihat merah akibat melebarnyapembuluh darah konjungtiva, yang terjadi pada peradangan mata akut misalnya konjungtivitis, keratitis, dan iridosiklitis atau pecahnya pembuluh darah. Pada konjungtivitis dimana pembuluh darah superfisialis yang melebar, maka bila diberi epinefrin topikal akan terjadi vasokonstriksi sehingga mata akan putih.

Pterigium
Penebalan lipatan konjungtiva bulbi yang berbentuk segitiga dengan banyak pembuluh darah. Puncaknya terletak dikornea dan dasarnya dibagian perifer. Biasanya terletak di celah kelopak dan sering meluas ke daerah pupil. Umum terjadi pada usia 20-30 tahun dan di daerah yang beriklim tropisZ

Etiologi
Diduga akibat iritasi lama akibat debu, cahaya sinar matahari, dan udara yang panas.

Klasifikasi berdasarkan luas perkembangannya


Stadium I : Pterigium belum mencapai limbus Stadium II: Sudah mencapai atau melewati limbus tapi belum mencapai daerah pupil Stadium III: Sudah mencapai daerah pupil

Pterigium
Gejala klinis

Pasien tidak mengeluh adanya gejala, tetapi bila pterigium ini sudah menutup kornea, maka pasien merasa pandangannya terganggu seperti ada bercak yang mengikutinya. Keluhan subjektif adalah rasa panas, gatal dan mengganjal atau mata lekas merah dan berair. Tampak adanya selaput pada bagian konjungtiva yang berbentuk segitiga dengan puncak dibagian sentral, letaknya pada celah kelopak bagian nasal atau temporal konjungtiva.
Tidak diperlukan pembedahan (bersifat rekurens) dilakukan pembedahan jika terjadi gangguan penglihatan akibat pterigium. Lindungi mata dari paparan langsung sinar matahari, debu, dan angin, misalnya dengan memakai kacamata hitam.

Pseudopterigium
Perlekatan konjungtiva dengan kornea yang cacat. Sering pseudopterigium ini terjadi pada proses penyembuhan tukak kornea, sehingga konjungtiva menutupi kornea. Letak pseudopterigium ini pada daerah konjungtiva yang terdekat dengan proses kornea sebelumnya Pterigium Pseudopterigiu m Lokasi Selalu di fisura palpebra Sembarang lokasi

Progresifita Bisa progresif atau Selalu stasioner s stasioner

Riwayat
Penyakit Tes

Ulkus kornea (-)

Ulkus kornea (+)

Negatif (-)

Positif (+)

Pseudopterigium tidak memerlukan pengobatan, Sondase serta pembedahan, kecuali sangat mengganggu visus atau alasan kosmetik.

Pinguekula dan pinguekula iritans


Kelainan ini terdapat pada konjungtiva bulbi, baik bagian nasal maupun bagian temporal, di daerah celah kelopak mata. Pinguekula terlihat sebagai penonjolan berwarna putih-kuning keabu-abuan, berupa hipertrofi yaitu penebalan selaput lendir. Secara histologik pada puncak penonjolan ini terdapat degenerasi hialin.

Pinguekula banyak dijumpai pada orang dewasa laki-laki, maupun perempuan, tidak menimbulkan keluhan, kecuali apabila menunjukkan peradangan sebagai akibat iritasi. Dalam keadaan iritasi maka dapat disertai keluhan seperti ada benda asing.

Pinguekula dan pinguekula iritans


Penderita umumnya datang ke dokter karena peradangan tersebut, atau karena penonjolan yang jelas sehingga penderita kuatir akan suatu keganasan atau karena alasan kosmetik. Patogenesis belum jelas, tetapi umumnya diterima bahwa rangsangan luar mempunyai peranan pada timbulnya pinguekula. Sebagai rangsangan luar antara lain adalah panas, debu, sinar matahari dan sebagainya. Umumnya pinguekula tidak memerlukan pengobatan. Pinguekula yang menunjukkan peradangan umumnya diobati untuk menekan peradangannya. Steroid topikal memberi hasil yang mempercepat redanya peradangan. Mencegah rangsangan luar dapat dianjurkan.

Perdarahan subkonjungtiva
Perdarahan subkonjungtiva dapat terjadi pada keadaan dimana pembuluh darah rapuh (umur, hipertensi, arteiosklerosis, konjungtivitis hemorraghik, pemakaian antikoagulan, batuk rejan).

Perdarahan subkonjungtiva disebabkan pecahnya pembuluh darah kecil konjungtiva.

Perdarahan atau pecahnya pembuluh darah ini dapat terjadi akibat radang konjungtiva berat, kelainan pembuluh darah atau darah, dan kekurangan vitamin C.

Biasanya tidak perlu pengobatan karena akan diserap dengan spontan dalam waktu 1-3 minggu.

Episkleritis
Reaksi radang jaringan konjungtiva sebelah dalam yang terletak di belakang sklera. Perempuan lebih banyak terkena penyakit episkleritis daripada laki-laki

Etiologi
Reaksi hipersensitivitas terhadap penyakit sistemik seperti tuberkulosis, reumatoid artritis.

Macam-macam episkleritis
Episkleritis sederhana Episkleritis nodular

Episkleritis
Adapun gejala-gejala dari episkleritis: Mata merah Mata terasa kering Ada rasa sakit yang ringan Mengganjal Keluhan silau Lakrimasi Sekret tidak ada
Penatalaksanaan dari penyakit episkleritis ini adalah: Kortikosteroid untuk meredakan peradangan (efektif untuk episkleritis sederhana dari pada nodular) Obat antiinflamasi nonsteroid oral (setelah gejala terkontrol)

Skleritis
Definisi
Skeritis adalah radang kronis granulomatosa pada sklera yang ditandai dengan dekstruksi kolagen, infiltrasi sel dan vaskulitis.

Etiologi
Sebagian besar disebabkan reaksi hipersensitivitas tipe III dan IV yang berkaitan dengan penyakit sistemik.

Pembagian
Skleritis dibagi berdasarkan gambaran klinis dan patologisnyA. Ada 2 jenis utama, yakni: Skleritis anterior Skleritis anterior dibagi lagi menjadi: Tipe difus Tipe nodular Tipe nekrotikans Tipe nekrotikans juga dibagi lagi sesuai dengan ada atau tidaknya peradangan Skleritis posterior

Skleritis
Rasa sakit berat yang menyebar ke dahi, alis, dan dagu secara terus menerus Gejala klinis Mata merah berair Fotofobia Pemeriksaan fisik Terlihat sklera bengkak konjungtiva kemosis injeksi sklera profunda terdapat benjolan berwarna sedikit lebih biru jingga

Komplikasi

Keratitis Uveitis Glaukoma

Adapun penatalaksanaan untuk skleritis adalah: Dimuai dengan obat anti inflamasi non-steroid sistemik, jika timbul respon dalam 1 2 minggu atau segera tampak penyumbatan vaskuler harus segera dimulai terapi steroid sistemik dosis tinggi

Konjungtivitis
Konjungtivitis merupakan radang konjungtiva atau radang selaput lendir yang menutupi belakang kelopak dan bola mata. Konjungtivitis dapat disebabkan bakteri seperti konjungtivitis Gonococ, Virus, Chlamydia, Alergi, Toksik. Gambaran klinis yang terlihat pada konjungtivitis dapat berupa hiperemi konjungtiva bulbi, lakrimasi, eksudat dengan sekret yang lebih nyata di pagi hari, pseudoptosis akibat kelopak membengkak, kemosis, hipertrofi papil, folikel, membran, pseudomembran, granulasi, flikten, mata merasa seperti adanya benda asing, dan adeno-pati preaurikel. Biasanya sebagai reaksi konjungtivitis akibat virus berupa terbentuknya folikel pada konjungtiva. Bilik mata dan pupil dalam bentuk yang normal.

proliferasi limfosit dan membentuk folikel limfoid dengan sel germinatif di bagian sentral subkonjungtiva.
Penimbunan eksudat disertai serbukan leukosit, dan pelebaran pembuluh darah

Besar folikel kirakira 0.2 mm dan terlihat pada infeksi Chiamydia (trakoma), virus (adenovirus), akibat alergi kimia (atropin dan eserin) Mendorong permukaan konjungtiva antara dua bagian yang tertahan oleh fibrin seperti yang terlihat pada konjungtivitis vernal, konjungtivitis akut bakterial dan konjungtivitis alergi

Reaksi folikular atau adanya folikel (nodul avaskular)

Terbentuknya papil

Membran dan pseudomembran terlihat pada konjungtivitis epidemik akut, infeksi streptococ, dan difteria. Pseudomembran berbentuk seperti membran akan tetapi tidak melekat pada stroma konjungtiva sehingga bila diangkat tidak berdarah Sikatriks atau jaringan parut dapat terjadi pada konjungtiva tarsal dan bulbi. Sikatriks dapat terlihat pada trakoma dan penyakit alergi lainnya.

Diagnosis Banding Konjungtivitis


Virus

Sakit tenggoroka n

Konjungtivitis Bakteri
Konjungtivitis bakteri akut adalah bentuk konjungtivitis yang murni dan biasanya disebabkan oleh staphylococ, streptococcus pneumoniae, gonococ, Haemifillus influenzae, pseudomonas, dan basil Morax Axenfeld.

Konjungtivitis Blenore
Blenore neonatorum merupakan konjungtivitis pada bayi yang baru lahir. Penyebabnya yaitu : gonococ, chlamydia, dan staphylococ.

Diagnosis pasti blenore adalah dengan pulasan Giemsa. Pada pewamaan Giemsa akan terlihat sel leukosit polimorfonuklear dengan diplococ Gram negatif intra selular. Bila penyebabnya chlamydia maka ini disebabkan oleh chlamydia oculo genital trachmatis. Diagnosis dibuat dengan pulasan epitel dimana terdapat pigmen basofil di dalam sitoplasma dengan reaksi neutrofil, sel plasma dan sel mononuklear.

Pengobatan konjungtivitis blenore ialah dengan memberikan panisilin topikal tetes atau salep sesering mungkin. Tetes ini dapat diberikan setiap setengah jam pada 6 jam pertama disusul dengan setiap jam sampai terlihat tanda-tanda perbaikan. Pasien dirawat dan diberi pengobatan dengan penisilin salep dan suntikan, pada bayi diberikan 50.000 U/kgBB selama 7 hari.

Konjungtivitis Gonore
Konjungtivitis gonore merupakan radang konjungtiva akut yang disertai dengan sekret purulen.
Secara klinis penyakit yang disebabkan gonococ sering dalam bentuk: oftalmia neonatorum (bayi berusia 1-3 hari) konjungtivitis gonore infantum (usia lebih dari 10 hari) konjungtivitis gonore adultorum.

Pada orang dewasa terdapat 3 stadium penyakit infiltratif, supuratif dan penyembuhan
Ditemukan kelopak dan konjungtiva yang kaku disertai rasa sakit pada perabaan. Kelopak mata membengkak dan kaku sehingga sukar dibuka. Terdapat pseudomembran pada konjungtiva tarsal superior sedang konjungtiva bulbi merah, kemotik dan menebal. Pada orang dewasa selaput konjungtiva lebih bengkak dan lebih menonjol dengan gambaran hipertrofi papilar yang besar. Berbeda dengan oftalmia neonatorum, pada orang dewasa sekret tidak kental sekali. Terdapat pseudomembran yang merupakan kondensasi fibrin pada permukaan konjungtiva.

Stadium infiltratif

Stadium supuratif

Stadium Semua gejala sangat berkurang. penyembu han

Diagnosis dan Penatalaksanaan

Diagnosis pasti penyakit ini pemeriksaan sekret dengan pewamaan metilen biru dimana akan terlihat diplokok di dalam sel leukosit. Dengan pewamaan Gram akan terdapat sel intraselular atau ekstra selular, dengan sifat Gram negatif.

Pengobatan biasanya dengan perawatan di Rumah Sakit dengan terisolasi, dibersihkan dengan garam fisiologis, penisilin sodium G 100.000 unil/ml, eritromisin topikal, dan penisilin 4.8 juta unit dibagi 2 kali sistemik.
Pengobatan diberhentikan bila pada pemeriksaan mikroskopik yang dibuat setiap hari menghasilkan 3 kali berturut-turut

Penyulit yang dapat terjadi adalah tukak kornea marginal terutama dibagian atas.
Tukak ini mudah perforasi akibat adanya daya lisis kuman gonokok ini.

Pada anak-anak sering terjadi keratitis ataupun tukak kornea sehingga sering terjadi perforasi kornea. Pada orang dewasa tukak yang terjadi sering terletak marginal dan sering berbentuk cincin. Perforasi kornea dapat mengakibatkan endoftalmitis dan panoftalmitis sehingga terjadi kebutaaan total.

Konjungtivitis Difteri
Radang konjungtiva yang disebabkan bakteri difteri memberikan gambaran khusus berupa terbentuknya membran pada konjungtiva tarsal. Membran yang terbentuk terdiri atas bahan nekrotik bercampur fibrin yang bila diangkat akan mengakibatkan terjadinya perdarahan.
Kelopak terlihat membengkak, merah dan kaku disertai dengan membran pada konjungtiva tarsal.
Untuk menegakkan diagnosis yang tepat dibuat pembiakan pada agar Loefler. Pengobatan konjungtivitis difteri adalah dengan memberi penisilin disertai dengan antitoksin difteri. Penyulit yang dapat timbul adalah keratitis dan simblefaron.

Konjungtivitis Angular

Konjungtivitis angular merupakan peradangan konjungtiva yang terutama didapatkan di daerah kantus interpalpebra, disertai ekskoriasi kulit di sekitar daerah meradang. Konjungtivitis angular disebabkan basil Moraxella Axenfeld. Konjungtivitis angular terdapat sekret mukopurulen dan pasien sering mengedip dan dapat memberikan penyulit blefaritis.
Pengobatan yang sering diberikan adalah tetrasiklin atau basitrasin. Dapat juga diberi sulfas Zincii yang bekerja mencegah ptoteolisis.

Konjungtivitis Folikular
Kelainan ini merupakan konjungtivitis yang disertai dengan pembentukan folikel pada konjungtiva. Terbentuknya folikel terjadi akibat penimbunan limfosit dalam jaringan adenoid subepitel konjungtiva. Folikel akan membentuk tonjolan pada konjungtiva sebesar 0.5 mm dengan permukaan yang landai, licin, berwama abu-abu kemerahan. Wama merah ini terlihat akibat adanya pembuluh darah dari bagian perifer folikel yang menuju Konjungtivitis folikular merupakan puncak foliikel. konjungtivitis yang sering ditemukan pada anakanak akan tetapi tidak ditemukan pada bayi. Beda dengan folikel trakoma maka pada konjungtivitis folikular tidak pemah terbentuk sikatriks. Bersamaan dengan terlihatnya mata merah biasanya juga disertai dengan lakrimasi

Konjungtiivitis folikular dapat terjadi akibat infeksi bakteri, virus dan rangsangan bahan kimia. Penyakit ini dapat berjalan akut ataupun kronis. Dikenal bentuk konjungtivitis folikular akut, kronis dan folikulosis. Konjungtivitis folikular Konjungtivitis folikular

akut
pada orang dewasa biasanya disebabkan oleh virus seperti herpes simpleks, herpes zoster, keratokonjungtivitis epidemik, Demam faringokonjungtiva, Konjungtivitis New Castle, konjungtivitis hemoragik akut dan trakoma akut.

kronis terdapat pada


trakoma, toksik konjungtivitis Parinaud Folikulosis, suatu bentuk konjungtivitis yang jarang terlihat pada usia tebih dan 20 tahun. Terlihat folikel atau hipertrofi adenoid sebesar 1 mm terutama pada tarsus inferior.

Konjungtivitis Mukopurulen

Konjungtivitis mukopurulen merupakan konjungtivitis dengan gejala umum konjungtivitis, kataral mukoid. Penyebabnya adalah Staphylococcus, basil Koch Weeks, pneumococ, staphylococ, haemophylus Aegypti, yang dapat juga terlihat pada penyakk virus, lain seperti rubeola atau morbili. Gejala konjungtivitis mukopurulen adalah terdapatnya hiperemia konjungtiva dengan sekret berlendir yang mengakibatkan kedua kelopak melekat terutama pada waktu bangun

Pasien merasa seperti kelilipan kemasukan pasir. Sering ada keluhan seperti adanya halo atau gambaran pelangi yang sebaiknya dibedakan dengan halo glaukortia. Bila disebabkan pneumococ maka akan terlihat perdarahan kecil pada konjungtiva. Gejala penyakit terberat terjadi pada hari ketiga dan bila tidak diobati akan berjalan kronis. Pengobatan dengan membersihkan konjungtiva dan antibiotika yang sesuai.

Blefarokonjungtivitis
Blefarokonjungtivitis atau radang kelopak dan konjungtiva ini disebabkan oleh staphylococ dengan keluhan terutama perasaan gatal pada mata disertai terbentuknya krusta pada tepi kelopak. Radang ini juga mengenai kelenjar Meibom dan folikel rambut.

Blefarokonjungtivitis sering menimbulkan reaksi alergi pada kornea sehingga menimbulkan keratitis marginal ataupun tukak marginal komea.
Pengobatan yang diberikan adalah dengan mernbersihkan kelopak disertai pemberian neomisin atau polimiksin lokal pada mata.

Konjungtivitis Virus Akut


Konjungtivitis akibat virus sering ditemukan dan biasanya disebabkan adenovirus atau suatu infeksi herpes simpleks. Infeksi virus ini biasanya terjadi bersama-sama dengan infeksi saluran napas atas, sangat mudah menular dan mengenai kedua mata. Memberikan gambaran sebagai konjungtivitis folikular, atau konjungtivitis dengan terjadinya keratitis. Pencegahan dilakukan dengan higiene yang baik, dimana pengobatan virus tidak ada dan dapat diberikan kompres dingin untuk mengurangkan rasa tidak enak pada matanya. Pada keadaan yang berat dapat diberikan steroid untuk menghilangkan gejala. lnfeksi virus biasanya akan sembuh dengan sendirinya setelah 3 minggu.

Keratokonjungtivitis Epidemik
Merupakan radang yang berjalan akut, disebabkan oleh adenovirus tipe 3,7, 8 dan 19. Dapat timbul sebagai suatu epidemi Penuluran biasanya terjadi melalui kolam renang selain dari pada akibat wabah. Mudah menular dengan masa inkubasi 8 - 9 hari dan masa infeksious 14 hari.

Gejala klinik berupa


Demam Mata seperti kelilipan, Mata berair berat,
Folikel terutama konjungtiva bawah,

Kadangkadang terdapat psudomembran.

Terdapat infiltrat subepitel kornea atau keratitis setelah terjadinya konjungtivitis.

Kelenjar preaurikel membesar.

Gejala akan menurun dalam waktu 7-15 hari. Perjalanan penyakit konjungtivitisnya dapat berjalan selama 3 minggu.

Pengobatan diberikan topikal sulfa dan steroid. Pemberian antibiotika untuk mencegah infeksi sekunder.

Steroid dapat diberikan bila terlihat adanya membran dan infiltrat subepitel.
Pengobatan dengan antivirus dan alfa interferon tidak umum untuk konjungtivitis adenovirus. Astringen diberikan untuk mengurangkan gejala dan hiperemia. Penyulit yang dapat terjadi yaitu kekeruhan pada kornea yang menetap.

Demam Faringokonjungtiva
Konjungtivitis demam faringokonjungtiva disebabkan infeksi virus. Kelainan ini akan memberikan gejala demam, faringitis, sekret berair dan sedikit, yang mengenai satu atau kedua mata. Biasanya disebabkan adenovirus tipe 3 dan 7, terutama mengenai remaja, yang disebabkan melalui droplet atau kolam renang. Masa inkubasi 5 12 hari, yang menularkan selama 12 hari, dan bersifat epidemik. Mengenai satu mata yang akan mengenai mata lainnya dalam minggu berikutnya.

BerjaIan akut dengan gejala penyakit hiperemia konjungtiva, mata seperti kemasukan pasir, folikel pada konjungtiva, sekret serous, fotofobia, kelopak bengkak dengan pseudomembran. Pada kornea dapat terjadi keratitis superfisial, dan atau subepitel dengan pembesaran kelenjar limfe preaurikel. Pada pemeriksaan histopatologik ditemukan badan inklusi intranuklear. Pengobatannya tidak terdapat pengobatan yang spesifik hanya suportif karena dapat sembuh sendiri. Diberikan kompres, astringen, lubrikasi, pada kasus yang berat dapat diberikan antibiotika dengan steroid topikal. Pengobatan biasanya simtomatik dan antibiotika untuk mencegah infeksi sekunder.

Konjungtivitis Herpetik
Konjungtivitis herpetik dapat merupakan manifestasi primer herpes dan terdapat pada anak-anak yang mendapat infeksi dari pembawa virus.

Pada konjungtivitis herpetik ini akan terdapat limfadenopati preaurikel.


Ditemukan gambaran konjungtivitis yang berat dengan tepi kelopak dengan lesi vesikular, hipertrofi papil pada konjungtiva. Kadang-kadang ditemukan dendrit pada kornea. Pada orang dewasa kelainan ini merupakan tipe rekuren infeksi ganglion trigeminus oleh virus herpes simpleks.

Pengobatan steroid merupakan kontra indikasi mutlak.

Konjungtivitis New Castle


Konjungtivitis New Castle merupakan bentuk konjungtivitis yang ditemukan pada peternak unggas, yang disebabkan oleh virus New Castle. Konjuntivitis ini memberikan gejala: Masa inkubasi 1-2 hari yang dengan demam dimulai dengan perasaan adanya influensa ringan, sakit kepala dan nyeri benda asing, silau dan berai sendi. pada mata. Kelopak mata rasa sakit pada mata, membengkak, konjungtiva tarsal gatal, hiperemis dengan terdapatnya mata berair, folikel dan kadang-kadang penglihatan kabur dan disertai perdarahan kecil. fotofobia. Pada kornea ditemukan keratitis epitelial atau keratitis subepitel. Penyakit ini sembuh dalam Pembesaran kelenjar getah bening preaurikel yang tidak nyeri kurang dari 1 tekan. Pengobatan yang khas sampai jangka saat ini waktu tidak ada, dan dapat minggu. diberikan antibiotik untuk mencegah infeksi sekunder dengan obat-

Konjungtivitis Hemoragik Epidemik Akut


Konjungtivitis hemoragik epidemik akut merupakan konjungtivitis disertai timbulnya perdarahan konjungtiva. Penyakit ini pertama kali ditemukan di Ghana Afrika pada tahun 1969 yang menjadi pandemik. Konjungtivitis yang disebabkan infeksi virus picorna, atau enterovirus 70. Gejala Klinis
Masa inkubasi 2448 jam, kemosis konjungtiva, kedua mata iritatif, seperti kelilipan, fotofobia disertai lakrimasi.
adanya perdarahan subkonjungtiva yang dimulai dengan ptekia.

sakit periorbital. konjungtivitis folikular ringan,


Pada tarsus konjungtiva terdapat hipertrofi folikular dan keratitis epitelial

Edema kelopak,

sekret seromukos,

keratitis,

adenopati preaurikuler,

Konjungtivitis Hemoragik Epidemik Akut


Penyakit ini dapat sembuh sendiri sehingga pengobatan hanya simtomatik.
Pengobatan antibiotika spektrum luas, sulfasetamid dapat dipergunakan untuk mencegah infeksi sekunder.

Pencegahan adalah dengan mengatur kebersihan untuk mencegah penularan.

Umumnya tidak memberikan penyulit akan tetapi kadangkadang dapat terjadi uveitis.

Konjungtivitis Jamur
lnfeksi jamur pada konjungtiva jarang terjadi, sedangkan 50% infeksi jamur yang terjadi tidak memperlihatkan gejala. Bermacam-macam jamur dapat mengakibatkan tukak kornea dan kelainan mata lainnya, terutama pada orang yang keadaan umumnya yang buruk sedang memakai steroid atau obat anti kanker.

Jamur yang dapat memberikan infeksi pada konjungtivitis jamur :


Candida albicans, yang dapat memberikan pseudomembran pada konjungtiva, Actinomyces sering menimbulkan kanakulitis.

Untuk pengobatan dapat diberikan nistatin.

Konjungtivitis Alergik
Konjungtivitis alergi merupakan bentuk radang konjungtiva akibat reaksi alergi terhadap noninfeksi, dapat berupa reaksi cepat seperti alergi biasa dan reaksi terlambat sesudah beberapa hari kontak seperti pada reaksi terhadap obat, bakteri, dan toksik.
Reaksi alergi dari hipersensitif pada konjungtiva akan memberikan keluhan pada pasien berupa mata gatal, panas, mata berair dan mata merah. Tanda karakteristik lainnya adalah terdapatnya papil besar pada konjungtiva, datang bermusim, yang dapat mengganggu penglihatan. Pada anak dengan konjungtivitis alergik ini biasanya disertai riwayat atopi Iainnya seperti rinitis alergi, eksema, atau asma.

Pada pemeriksaan laboratorium ditemukan sel eosinofil, sel plasma, limfosit dan basofil. Pengobatan terutama dengan menghindarkan penyebab pencetus penyakit dan memberikan astringen, sodium kromolin, steroid topikal dosis rendah yang kemudian disusul dengan kompres dingin untuk menghilangkan edemanya. Pada kasus yang berat dapat diberikan antihistamin dan steroid sistemik. Kompres dingin akan mengurangkan gejala.

Dikenal beberapa macam bentuk konjungtivitis alergi seperti :

Konjungtivitis flikten konjungtivitis vernal konjungtivitis atopi konjungtivitis alergi bakteri konjungtivitis alergi akut konjungtivitis alergi kronik sindrom Stevens Johnson pemfigoid okuli sindrom Syogren.

Konjungtivitis Vernal
Konjungtivitis vernal yaitu Konjungtivitis akibat reaksi hipersensitivitas (tipe I) yang mengenai kedua mata dan bersifat rekuren.

Pada mata ditemukan papil besar dengan permukaan rata pada konjungtiva tarsal, dengan rasa gatal berat, sekret gelatin yang berisi eosonofil atau granula eosinofil, pada kornea terdapat keratitis, neovaskularisasi, dan tukak indolen. Pada tipe limbal terlihat benjolan di daerah limbus, dengan bercak Homer Trantas yang berwarna keputihan yang terdapat di dalam benjolan. Secara histologik penonjolan ini adalah suatu hiperplasi dan hialinisasi jaringan ikat disertai proliferasi sel epitel dan sebukan sel limfosit, sel plasma dan sel eosinofil.

Bentuk palpebra
Terutama mengenai konjungtiva tarsal superior. Terdapat pertumbuhan papil yang besar (Coble stone) yang diliputi sekret yang mukoid. Konjungtiva tarsal bawah hiperemi dan edema, dengan kelainan kornea lebih berat dibanding bentuk limbal.

Bentuk limbal
Hipertrofi papil pada limbus superior yang dapat membentuk jaringan hiperplastik gelatin, dengan trantas dot yang merupakan degenerasi epitel kornea atau eosinofil di bagian epitel limbus kornea, terbentuknya pannus, dengan sedikit eosinofil.

Penyakit ini biasanya sembuh sendiri tanpa diobati. Dapat diberi obat kompres dingin, natrium karbonat dan obat vasokonstriktor. Kelainan kornea dan konjungtiva dapat diobati dengan natrium cromolyn topical. Bila terdapat tukak maka diberi antibiotik untuk mencegah infeksi sekunder disertai dengan sikioplegik.

Konjungtivitis Flikten
Merupakan konjungtivitis nodular yang disebabkan alergi terhadap bakteri atau antigen tertentu. Konjungtivitis flikten disebabkan oleh karena alergi (hipersensitivitas tipe IV) terhadap tuberkuloprotein, stafilokok, limfogranuloma venerea, leismaniasis, infeksi parasit, dan infeksi di tempat lain dalam tubuh. Kelainan ini lebih sering ditemukan pada anak-anak di daerah padat, yang biasanya dengan gizi kurang atau sering mendapat radang saluran napas.

Secara histopatologik terlihat kumpulan sel leukosit neutrofil dikelilingi sel limfosit, makrofag, dan kadang-kadang sel datia berinti banyak. Flikten merupakan infiltrasi selular subepitel yang terutama terdiri atas sel monokular limfosit.

Pada pasien akan terlihat kumpulan pembuluh darah yang mengelilingi suatu tonjolan bulat dengan warna kuning kelabu seperti suatu mikroabses yang biasanya terletak di dekat limbus. Biasanya abses ini menjalar ke arah sentral atau kornea dan terdapat Gejala konjungtivitis flikten adalah mata berair, iritasi tidak hanya satu. dengan rasa sakit, fotofobia dapat ringan hingga berat. Bila kornea ikut terkena selain daripada rasa sakit, pasien juga akan merasa silau disertai blefarospasme. Dapat sembuh sendiri dalam 2 minggu, dengan kemungkinan terjadi kekambuhan. Keadaan akan lebih berat bila terkena kornea.

Pengobatan pada konjungtivitis flikten adalah dengan diberi steroid topikal, midriatika bila terjadi penyulit pada kornea, diberi kacamata hitam karena adanya rasa silau yang sakit. Diperhatikan higiene mata dan diberi antibiotika salep mata waktu tidur, dan air mata buatan. Sebaiknya dicari penyebabnya seperti adanya tuberkulosis, blefaritis stafilokokus kronik dan lainnya.

Konjungtivitis Folikular kronis


Trakoma
Trakoma merupakan konjungtivitis folikular kronis yang disebabkan oleh Chlamydia trachomatis dengan masa inkubasi 514 hari. Pasien akan mengeluh perasaan gatal pada mata, berair dan fotofobia. Terdapat tanda-tanda seperti adanya papil, folikel, sikatriks, pada tarsus atas dan adanya pannus.

Trakoma merupakan penyakit yang berlangsung lama dengan tanda mata merah, lakrimasi dan fotofobia.

Pada pemeriksaan histologik akan ditemukan sel Leber dengan sel limfoblas yang menyokong diagnosis trakoma. Terdapat badan inklusi Halber Staffer Prowazek berupa granulasi basofilik yang berbentuk cakup terhadap nukleus di dalam sel epitel konjungtiva.

Terdapat 4 stadium trakoma berdasarkan pada klasifikasi Mc Callan. Stadium 1 : insipient, dimana terlihat folikel kecil (prefolikel) pada konjungtiva tarsal atas Stadium 2 : nyata (established) terbagi menjadi : Stadium 2 a : dengan folikel yang nyata Stadium 2 b : dengan papil yang nyata. Pada stadium ini terlihat infiltrat disertai dengan neovaskularisasi di bagian atas kornea yang disebut sebagai pannus. Infiltrat ini dapat superfisial ataupun-subepitelial. Stadium 3 : terdapatnya jaringan parut pada konjungtiva tarsal atau cekungan Herbert pada limbus alas akibat terbentuknya jaringan parut pada folikel limbus atas. Pada stadium ini pannus masih aktif. Stadium 4 : Terjadinya jaringan parut sempurna pada konjungtiva tarsal atas dengan hilangnya tanda radang pada komea atau pannus

Pengobatan trakoma
Sulfonamida diberikan bila terdapat penyulit trakoma seperti tukak kornea

Salep tetrasiklin 2 kali sehari selama 3 bulan

Memperbaiki higiena untuk mencegah penularan dan mempercepat penyembuhan

Bila terjadi penyulit entropion dan trikiasis tarsotomi

Konjungtiva Dry Eyes (Mata Kering) Keratokonjungtivitis sicca adalah suatu keadaan keringnya permukaan kornea
dan konjungtiva yang diakibatkan oleh berkurangnya fungsi air mata.

Kelainan-kelainan ini terjadi pada penyakit yang mengakibatkan :

Defisiensi komponen lemak air mata. Misalnya : Blefaritis menahun, Distikiasis dan akibat pembedahan kelopak mata. Defisiensi kelenjar air mata. Misalnya : Sindrom Syogren, Sindrom Riley Day, Alakrimia kongenital, Aplasi kongenital saraf trigeminus, Sarkoidosis, Limfoma kelenjar air mata, obat-obat diuretik, atropin dan usia tua. Defisiensi komponen musin. Misalnya : Benign ocular pempigoid. Akibat penguapan yang berlebihan seperti pada keratitis neuroparalitik, hidup di gurun pasir, keratitis logoftalmus. Kerena parut pada kornea atau menghilangnya mikrovili kornea.

Konjungtiva Dry Eyes (Mata Kering)


Pasien akan mengeluh gatal, mata seperti berpasir, silau dan penglihatan kabur.
Mata akan memberikan gejala sekresi mukus yang berlebihan, sukar menggerakkan kelopak mata, mata tampak kering dan terdapat erosi kornea. Konjungtiva bulbi edema, hiperemik menebal dan kusam. Kadangkadang terdapat benang mukus kekuning-kuningan pada forniks konjungtiva bagian bawah. Pemeriksaan yang dapat dilakukan antara lain seperti pemeriksaan uji Scheimer dimana bila resapan air mata pada kertas Scheimer kurang dari 5 menit dianggap abnormal. Pengobatan tergantung pada penyebabnya dan air mata buatan yang diberikan selamanya. Penyulit yang dapat terjadi adalah ulkus kornea, infeksi sekunder oleh bakteri, dan parut kornea dan neovaskularisasi kornea.

Terimakasih Wr,Wb.