Anda di halaman 1dari 5

Khayalan Semu

Terik matahari telah memanggang Jakarta. Mengucurkan keringat segar semua orang yang terpaksa mengabaikan sengatnya demi memenuhi kebutuhan hidup dan urusan perut. Mobil-mobil nampak garang berpacu di jalan raya dan adakalanya dari ruang kemudinya keluar umpatan-umpatan pedas beserta ludah jika ada yang mengendala lajunya dengan mendadak. Siang ini sebagian orang telah disibukkan oleh rutinitas dan aktifitas. Gareng, teman-temannya memanggilnya seperti itu sejak kakinya pincang karena terlanggar mobil mewah setahun yang lalu, gerobak sampahnya juga ikut berantakan. Tubuhnya kurus dan kering gelap, bak tokoh punokawan putra Pak Semar. Menjadi seorang pemulung, baginya adalah pilihan terakhir dan lebih bermoral dari pada menjadi pencoleng, yang sempat menjadi alternatifnya waktu itu. Jakarta yang dulu menjanjikan sebuah surga, menurut dongeng karibnya ternyata tak lebih dari sekedar tong sampah, akunya kecewa. Dan nasib telah memaksanya untuk menyulap sampah menjadi sepiring nasi, sebungkus rokok atau beberapa lembar uang ribuan kusut. Tak seperti biasanya, Gareng begitu lesu dan nampak murung hari ini. Matanya menatap kosong, seolah pada gundukan sampah itu tiada lagi memberinya harapan. Dibuangnya gancu itu diantara gundukan sampah berbau busuk. Tangannya berkacak pinggang dan menggeliat mengusir penat di punggungnya, lalu melangkah gontai meninggalkan semua yang ada di kakus limbah rumah tangga dan limbah industri ini. Uh, mestinya aku sadar sesungguhnya lumpur sawah di desa dan lenguh kerbau lebih baik dari pada tempat macam ini, keluhnya. Gareng duduk meleseh menyandari tumpukan ban bekas yang tertata acak. Angannya terbang pelesir menuju kampung halaman. Sebuah desa kecil di lereng gunung Lawu tempat ia dibesarkan dan ditimang-timang. Tepatnya di daerah Tawangmangu, Karanganyar, Jawa Tengah. Betapa kenangan masa kecilnya begitu kuat membekas di benaknya. Subhanallah, sungguh indahnya lereng Merbabu disuatu pagi yang cerah. Saatsaat indah untuk mengembalakan beberapa ekor kerbaunya sambil meniupkan seruling melantunkan tembang lir-ilir diatas punggung kerbau-kerbau itu, setiap pagi. Atau tentang mainan wayang dari daun ketela, ilalang-ilalang tempat ia bermain petak umpet dan tentang surau tua tempat ia sembahyang dan mengaji juga mendengarkan dongeng Mbah Sholeh.

Ada suara di lereng gunung Lawu. Pada bukit-bukit itu Gareng kecil sering memainkan suaranya agar menggema sampai menembus batas kaki langit. Mandi di sendang sembari berloncatan dari atas batu-batu besar bersama teman-temannya, sesama Cah Angon. Dan tak jarang pula mereka membakari siput sendang di atas batu-batu besar dan melahapnya dengan rakus karena terasa nikmat sekali. Mungkin mereka sekarang sudah menikah di desa dan telah punya anak, fikir Gareng mengenang teman-temannya di desa. Gareng sadar sekarang ia kehilangan semua itu, selepas dikhitan dan mengenal Jakarta. Sepuluh tahun sudah hingga kini ia belum pernah pulang sekali pun ke desanya. Ketika tiba di Jakarta, aku merasa dihadapkan pada keterasingan dan persoalan. Kusapa ramah gedung-gedung yang menjulang dan melulu dipenuhi kata-kata asing itu dengan berpamrih mendapatkan toleransinya. Namun, gedung-gedung itu terlalu congkak mencibir tenagaku yang masih berbau lumpur dan bukan berbau debu, kenangnya kecewa. Gareng mencoba membangun percakapan imajiner dengan Mbah Sholeh guru ngajinya di desa. Mbah, aku sudah rindu dengan dongeng sampeyan yang penuh muatan budi pekerti itu, lantaran kebosananku mendengarkan dongeng kota tercinta ini yang melulu bertemakan tentang pembunuhan, perkosaan, perampokan juga tentang penyakit sosial lainnya dan kemerosotan moral, akunya. Atau tentang harga sampah yang harganya selalu anjlok di negeri ini karena para tengkulak berdasi lebih menyenangi sampah buatan luar negeri yang tertata perlente dalam peti-peti besi. Mengapa selokan saja seperti kau ini masih ada yang tega menyumbat dengan sampah beracun keserakahan ? padahal sampah di negeri ini tak pernah habis dimakan meski untuk tujuh keturunan. Semua orang tahu, jika negeri ini kaya dan belimpah ruah dengan semua itu, Gareng menatap gundukan sampah itu dengan penuh iba. Lelaki tua yang hadir begitu saja di depan Gareng itu mendadak menepuk-menepuk dahinya sendiri sebagai pengalamatan atas kealpaannya sendiri dalam mendongeng. Oooh, serunya. Maafkan Simbah, Nang! Entahlah, aku jadi benar-benar lupa mendongengkan kepada kalian tentang kaum Quraisy yang jahiliyah. Tapi, ikhlaskan pengalamanmu itu sebagai pelunas hutang-hutangku. Allahu Akbar! Aku menangkap kebosananmu itu pertanda berkah. Bersyukurlah! Padahal aku begitu terlanjur mencintai kota ini, sampah ini, walu belum pernah mampu mengimbangiku dengan kemapanan hidup. 2

Kemapanan hidup? Maksud saya ....... dalam status sosial ini, paling tidak masyarakat luas benar-benar menjiwai dengan bijak akan arti pekeraan seorang Gareng tidak sekedar kata pemulung begitu saja, tapi adakalanya manusia itu perlu pengakuan yang setimpal atas jasa-jasanya. Itulah arti kemapanan bagiku dan teman-teman sepekerjaan, jelasnya. Uh, bahasa belutmu membuatku semakin pikun saja. Gareng tersenyum. Dilihatnya Mbah Sholeh nampak geleng-geleng kepala. Bagaimana mungkin beliau memahami itu, lha wong Gareng sendiri pun tak becus memahaminya. Aku sering menghafalkan kalimat itu ketika ada serang lelaki perlente yang di saku jasnya ada berjuta butir suara. Dan dia begitu akrab berbasa-basi merangkulku di depan kamera TV. Katanya, aku telah mewakilkan suaraku lewat lidahnya, dengan berbisik. Kemudian lelaki itu pergi begitu saja beserta rombongannya. Aku seperti sedang memainkan sandiwara saat itu. Siapa lelaki itu ? Aku tak pernah mengenalnya! Dia hadir begitu saja seperti malaikat dan seolah ia menjanjikan harapan besar agar aku semakin mencintai sampah ini. Aku telah menanti dalam waktu yang lama, ternyata waktu-waktu basi dan sampahku semakin tak berarti. Asa Gareng menyublim kayu. Itukah bagian dari dongeng-dongeng yang kamu dapat?. Bukankah sebuah kekecewaan itu manusiawi?. Mbah Sholeh manggut-manggut tersenyum sesekali membelai janggutnya yang telah memutih. Beliau tidak menjawab, namun dari raut wajahnya memimik faham. Dalam keadaan seperti ini, Gareng hanya butuh semangat dari semua orang, fikirnya. Juga yang lebih penting lagi, perlunya kebijakan dari pemimpin negeri ini untuk mempertegas program nasional agar menyetop pengiriman sampah dari luar negeri dan menghimbau supaya masyarakat lebih mencintai sampah dalam negeri, untuk bahan baku indstri daur ulang, fikirnya lagi. Tapi..... . Keduanya terpaku dalam kevakuman percakapan. Saling memandang dan memandang tatapan dengan pelan. Ada semacam pemampatan ide-ide dan dialog, tapi itu tak sebegitu lama. Semilir angin menjinjing bau busuk dari onggokan sampah yang kian menggunung itu dan mampir di kedua hidung dua lelaki yang sedang suntuk memprihatinkannya.

Sesungguhnya aku telah tenggelam dalam penantian yang langut namun tak pernah berwujud. Bukankah Simbah acap mendongengkan kalian tentang penantian Nabi Adam yang ratusan tahun itu untuk bertemu dengan istri tercintanya? Mbah Sholeh mencoba mengingatkan. Gareng menggerlang tak bersemangat dan mengisyaratkan jika ia telah lupa dengan dongeng itu. Apalagi untuk mengingat kandungan-kandungan budi pekerti yang disisipkan beliau. Namun Gareng buru-buru mendiktekan sebuah penantian yang dimaksud. Ia mulai bercerita. Mbah karso penjual jamu keliling kampung itu dalam suatu kesempatan pernah meramalnya. Lewat indera keenamnya, lelaki tua itu mencoba untuk membaca abjad kosmie yang tersirat di garis-garis rajah telapak tangannya dengan serius. Kelak kamu akan jadi pahlawan, Nang! Ungkap Mbah Karso waktu itu. Penjual jamu keliling kampung itu terkekeh-kekeh hingga wajahnya yang keriput kian menyerupai topeng kertas yang baru saja diremas-remas. Lelaki itu melambngkan angannya begitu saja. Ia mencoba mereka-reka tentang sosok pahlawan seperti yang dilihatnya di TV balai desa. Tentunya jika ia jadi pahlawan kelak. Orang-orang kampung akan menghormatinya dan di dadanya ada bintang tanda jasa. Bahkan menyikapi ramalan itu, Gareng kecil sempat berlari-lari keluar masuk ganggang kampung mengabarkan kepada semua orang. Juga kepada bapak dan simboknya yang sedang menuai kopi di ladang. Waktu itu, bapak dan simbohnya hanya menggeleng sambil tersenyum kecil dan berujar, Nang, jangan terlalu sering nonton kartun di TV. Sekali pun kedua orang tuanya menangkap kedua ramalan Mbah Karso itu tak lebih hanya sekedar lelucon, namun Gareng tetep mengimaninya tanpa rasa sungkan sedikitpun. Hingga sekarang aku tetap menantinya. Katanya berulang-ulang dan tegas di depan Mbah Sholeh, guru ngajinya. Kau berambisi sekali dan ... Ya. Itulah yang membedakan antara aku dan malaikat, Mbah. Untuk itukah kau memintaku datang dan mendongengkanmu lagi tentang budi pekerti yang telah kamu lupakan?. Tuntunlah aku membaca istighfar jika ada kekhilafan Mbah Sholeh tertunduk. Aku sendiri masih banyak dosa yang belum sempat ku istighfarkan, Nang! suaranya terasa berat. 4

Gareng menelan ludahnya begitu saja. Dipandangnya lelaki tua itu dengan perasaan yang agak kecewa. Hatinya berkecamuk, bukanlah keinginannya mengajak Mbah Sholeh agar mendengarkan uneg-unegnya itu dan berharap beliau sudi menyetempel dengan restunya. Namun kenyataanya beliau datang hanya membawa resah atas dosa-dosanya. Musti kepada siapa aku datang dan mampu mewujudkan ramalan Mbah Karso itu menjadi kenyataan untukku ? Aku sudah tua! seandainya kau memaksaku untuk mendongeng, paling hanya satu judul yang paling cocok untukmu. Mimpi Seorang Pemulung, itu saja ..... Mbah ...! serunya. Tegasnya panjenengan1 berkata seperti itu?. Aku kasihan padamu karen kau telah terbius oleh ramalan muluk-muluk itu. Kau mesti lebih banyak bercermin, Cah Bagus!. Gareng menggelonjak mendadak dan nyaris limbung. Mulutnya menguap bertubitubi, sesekali menggeliat mengenyahkan penat. Dilihatnya gerobak sampah dan gancu itu nampak terpurk juga gundukan sampah berbau busuk. Tak ada siapa-siapa di sini. Sesore ini, para pemulung karibnya tentu telah menggenggam duit dari mandor rosok lalu dinafkahkan kepada anak istrinya. Betapa bahagianya mereka hari ini, fikirnya. Gareng mencoba menghampiri gerobaknya dan didalamnya ada beberapa rongsokan cermincermin pecah. Kaca cermin itu mencermini wajahnya yang nampak kotor, kotor sekali. Tiba-tiba gareng tertawa menggelegak hingga tubuhnya terguncang-guncang. Lalu diam dan menggeleng pelan. Khayalan-khalayan, kau pelesirkan aku kemana tadi? tanyanya. Gareng sadar, karena khayalan hari ini telah membuat sakunya tiada rejeki.