P. 1
Kajian Biaya Pokok Traktor Tangan untuk Pengolahan Tanah pada Berbagai Kecepatan Operasi

Kajian Biaya Pokok Traktor Tangan untuk Pengolahan Tanah pada Berbagai Kecepatan Operasi

|Views: 3,206|Likes:
Dipublikasikan oleh mazterijo
Please visit http://santosa764.blogspot.com
Please visit http://santosa764.blogspot.com

More info:

Published by: mazterijo on May 31, 2009
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/11/2015

pdf

text

original

KAJIAN BIAYA POKOK TRAKTOR TANGAN UNTUK PENGOLAHAN TANAH PADA BERBAGAI KECEPATAN OPERASI Santosa1, Andasuryani1, dan

Vivi Veronica2 ABSTRAK Telah dilaksanakan penelitian tentang kajian biaya pokok traktor tangan untuk pengolahan tanah pada lahan petani di Kayu Jao Batang Barus Kecamatan Gunung Talang, Kabupaten Solok, pada bulan Mei – Juni 2005. Penelitian inii menggunakan satu unit traktor tangan (hand tractor) dengan implement berupa bajak singkal (moldboard plow). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen, dengan mengoperasikan traktor tersebut pada lahan kering dan lahan basah dengan tiga kali ulangan, pada tiga tingkat kecepatan kerja traktor. Hasil penelitian menunjukkan bahwa biaya pokok traktor di lahan basah lebih tinggi daripada di lahan kering, untuk ketiga tingkat kecepatan pengolahan tanah. Pada lahan basah, besarnya biaya pokok pengolahan tanah pada kecepatan 0,63 m/s, 0,71 m/s dan 1,17 m/s adalah berturut – turut Rp 386.195 / ha, Rp 334.913 / ha dan Rp 241.892 / ha, sedangkan pada lahan kering dengan kecepatan pengolahan tanah 0,72 m/s, 1,02 m/s, dan 1,4 m/s adalah berturut – turut Rp 348.403 / ha, Rp 286.834 / ha, dan Rp 233.063 / ha. Kata Kunci : Traktor tangan, pengolahan tanah basah dan kering, biaya pokok

PENDAHULUAN LATAR BELAKANG Sebagian besar penduduk Indonesia hidup dari sektor pertanian yaitu lebih 51 persen, tersebar di seluruh pelosok kepulauan Nusantara (BPS, 2003). Oleh karena itu, sektor pertanian selalu mendapatkan prioritas utama dalam melaksanaan pembangunan di Indonesia. Pembangunan di sektor pertanian oleh pemerintah bertujuan pada pengadaan dan peningkatan pangan yang berkecukupan. Di dalam strategi pembangunan pertanian nasional lima tahun terakhir telah disepakati bahwa pembangunan pertanian perlu dilaksanakan untuk
1 2

Dosen pada Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Andalas, Padang Alumni Teknologi Pertanian Universitas Andalas, Padang

2

memenuhi kebutuhan pangan nasional, mengembangkan industri pertanian, menopang pertumbuhan industri manufaktur dan ekspor, serta mendorong pertumbuhan ekonomi pedesaan (Suryanto, 2004). Produksi pertanian dapat ditingkatkan dengan menggunakan tanaman varietas unggul yang dikombinasikan dengan pengaturan tanah, air, pupuk, dan operasi secara mekanis. Jadi, pengolahan tanah yang tepat dengan penerapan mekanisasi pertanian dapat meningkatkan produktifitas. Pengolahan tanah sebelum pertanaman dimaksudkan untuk memberikan tempat yang baik bagi benih untuk berkecambah dan tumbuh dengan baik serta menciptakan suatu keadaan tanah yang dipandang dari segi sifat fisiknya cukup baik untuk pertumbuhan dari akar tanaman. Chatib (2004) menyatakan bahwa tujuan dari pengolahan tanah adalah untuk menciptakan keadaan tanah siap olah untuk pertumbuhan tanaman, serta proses mempertahankannya dalam keadaan remah dan bebas dari gulma selama pertumbuhan tanaman. Pengolahan tanah umumnya masih didominasi oleh penggunaan cangkul (secara manual) oleh tenaga manusia dan alat bajak yang ditarik oleh tenaga ternak. Dengan penggunaan tenaga manusia dan tenaga ternak akan mengakibatkan produksi pertanian rendah dan waktu yang lama bila dibandingkan dengan penggunaan tenaga mekanis seperti traktor terutama sebagai sumber tenaga penarik bajak dan alat pertanian lainnya. Penggunaan traktor sebagai sumber tenaga dalam pengolahan tanah, diharapkan dapat mengurangi waktu dan biaya yang diperlukan untuk proses pengolahan tanah, kapasitas kerja menjadi lebih tinggi dan pendapatan petani bertambah, sehingga dapat dilaksanakan usaha intensifikasi dan ekstensifikasi yang sempurna (Hardjosoediro, 1983). Traktor tangan selain dapat digunakan pada lahan basah juga dapat digunakan pada lahan kering. Pengolahan tanah pada lahan kering dan lahan basah dilakukan pada keadaan kandungan air tanah yang berbeda. Sebagai akibat perbedaan kandungan air tanah ini, tanah akan memperlihatkan reaksi yang berbeda pada proses pengolahan tanah.

3

Kecepatan dalam pengolahan tanah merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kapasitas kerja efektif yang dapat dicapai dalam pengolahan tanah. Kapasitas kerja efektif adalah faktor yang menentukan besarnya biaya penggunaan alat persatuan luas. Mengingat pentingnya pengolahan tanah di lahan kering dan lahan basah sebagai suatu tindakan yang ikut menentukan keberhasilan suatu tanaman dan pendapatan bagi petani, perlu kiranya berbagai kecepatan kerja di lahan kering dan lahan basah dengan alat-alat pengolah tanah (bajak singkal) yang dapat memberikan produksi yang optimal dengan biaya yang rendah dan waktu yang relatif singkat. Permasalahan yang timbul adalah bagaimana alat pengolah tanah bekerja pada berbagai kecepatan kerja di lahan kering dan lahan basah dengan menggunakan traktor sebagai tenaga mekanis atau penggerak. Untuk itu perlu dilakukan perhitungan biaya pokok pengolahan tanah pada lahan basah dan kering pada berbagai kecepatan pengolahan tanah. TUJUAN PENELITIAN Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui besarnya biaya pokok traktor tangan untuk pengolahan tanah, baik pengolahan tanah basah maupun pengolahan tanah kering, pada berbagai kecepatan operasi.

BAHAN DAN METODE PENELITIAN WAKTU DAN TEMPAT Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei sampai dengan Juni 2005. Tempat dilaksanakan penelitian ini adalah pada lahan petani di Kayu Jao Batang Barus Kecamatan Gunung Talang, Kabupaten Solok. BAHAN DAN ALAT Bahan-bahan dan alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah satu unit traktor tangan (hand tractor) dan implement pengolah tanah berupa bajak

4

singkal (moldboard plow). Spesifikasi traktor yang dipakai dan implement-nya adalah sebagai berikut : Spesifikasi Traktor Jenis Merk / Tipe Alat Buatan Engine Tenaga Maks / RPM Motor Panjang Keseluruhan Lebar Keseluruhan Tinggi Keseluruhan Berat Keseluruhan Banyak Silinder Tak / Langkah Sistim Pendingin Sistim Starting Spesifikasi Implement Nama Lebar Kerja Teoritis Jumlah : Bajak Singkal (Moldboard Plow) : 14 cm : 1 bottom (telapak) : Traktor Tangan (Hand Tractor) : Ratna Donpeng / R 65 UL : Cina : Diesel : 6,5 HP / 2600 RPM : 231 cm : 72 cm : 70 cm : 51 kg : 1 buah :4 : Udara : Engkol

METODE PENELITIAN Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen, yaitu pengolahan tanah dengan bajak singkal (moldboard plow) dengan sumber daya penggerak berupa traktor tangan (hand tractor), pada lahan kering dan lahan basah dengan tiga kali ulangan. Pengolahan tanh dilakukan pada tiga taraf kecepatan pengolahan tanah yang berbeda.

5

Perhitungan Biaya Pokok Pengolahan Tanah Biaya pokok pengolahan tanah dengan traktor adalah besarnya biaya untuk mengolah satu satuan luas lahan hasil olahan, dengan satuan Rp / ha. Adapun rumus biaya pokok pengolahan tanah adalah : BP = BT/X + BTT .........................................(1) Ke dengan : BP = Biaya pokok (Rp/ha) BT = Biaya tetap (Rp/th) BTT = Biaya tidak tetap (Rp/jam) X Ke = Jam kerja dalam satu tahun (jam/th) = Kapasitas kerja lapang efektif (Ha/jam) Penyusutan dihitung dangan menggunakan rumus ; D = ( P – S ) / N ...............................................(2) dengan : D = Penyusutan (Rp/th) P = Harga traktor (Rp) S = Nilai akhir traktor (Rp) N = Umur ekonomis traktor (th) Bunga modal dihitung dengan rumus : I = r x (P + S) / 2 ............................................(3) dengan : I = Bunga modal (Rp/th) r = Suku bunga modal di bank (12 % / th) Pajak dan asuransi dapat ditentukan dengan menggunakan rumus : A = a x P ..........................................................(4) dengan : A = Pajak dan asuransi tiap tahun (Rp/th)

6

a = Faktor pajak dan asuransi P = Harga traktor (Rp) Dengan demikian, maka besarnya biaya tetap adalah : BT = D + I + A ................................................(5) dengan : BT = Biaya tetap (Rp / tahun) D I = Penyusutan (Rp/tahun) = Bunga modal (Rp / tahun)

A = Pajak dan asuransi (Rp / tahun) Biaya perbaikan dan pemeliharaan dihitung dengan menggunakan rumus : PP = 2 % (P – S) / 100 jam .............................(6) dengan : PP = Biaya perbaikan dan pemeliharaan (Rp/jam) P = Harga awal traktor (Rp) S = Nilai akhir traktor = 10 % dari harga awal traktor. Upah operator traktor dihitung dengan menggunakan rumus : Bo = Wop / Wt .................................................(7) dengan : Bo Wt = Upah operator tiap jam (Rp/jam) = Jam kerja tiap hari (jam/hari) Wop = Upah operator tiap hari (Rp/hari) Biaya bahan bakar traktor dihitung dengan menggunakan rumus : BB = Q x H bpl ...............................................(8) dengan : BB = Biaya bahan bakar (Rp/jam) Pbb = Debit bahan bakar (liter/jam)

7

Hbb = Harga bahan bakar tiap liter (Rp/liter) Biaya pelumas (oli) traktor dihitung dengan menggunakan rumus : OI = Vp x Ho / Jp ............................................(9) dengan : OI = Biaya oli (Rp/jam) Vp = Volume penggantian oli (liter) Ho = Harga oli (Rp/liter) Jp = Jam penggantian oli (jam) Biaya gemuk (grease) didekati dengan menggunakan rumus : Bg = 0,6 x OI ...................................................(10) dengan : Bg = Biaya grease (Rp/jam) OI = Biaya oli (Rp/jam) Dengan demikian maka biaya tidak tetap adalah sebesar : BTT = PP + Bo + BB + OI + Bg .....................(11) dengan : BTT = Biaya tidak tetap (Rp / jam) PP = Biaya perbaikan dan pemeliharaan (Rp/jam) Bo = Upah operator tiap jam (Rp/jam) BB = Biaya bahan bakar (Rp/jam) OI = Biaya oli (Rp/jam) Bg = Biaya grease (Rp/jam)

8

HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Pengujian Traktor Tangan (Hand Tractor) dengan Alat Pengolah Tanah Singkal pada Lahan Kering dan Lahan Basah Kecepatan Aktual Hasil pengujian pengolahan tanah dengan tiga perlakuan kecepatan kerja yang menggunakan alat pengolah tanah singkal memiliki kecepatan yang berbeda antara lahan basah dengan lahan kering. Hasil pengukuran kecepatan kerja dari traktor untuk pengolahan tanah dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Hasil Uji Kinerja Traktor Tangan
Lahan Kering Lahan Basah Parameter V1 V2 V3 V1 V2 V3 Waktu Kerja (menit) 5,24 3,96 2,62 5,45 4,55 2,66 Kecepatan Aktual (m/dtk) 0,72 1,02 1,40 0,63 0,71 1,17 Kecepatan Teoritis (m/dtk) 0,96 1,20 1,71 0,76 0,9 1,51 Kapasitas Kerja Teoritis (ha/jam) 0,048 0,006 0,086 0,038 0,045 0,076 Kapasitas Kerja Efektif (ha/jam) 0,029 0,038 0,059 0,027 0,033 0,058 Efisiensi Kerja (%) 62,5 63,8 68,1 71,1 74 75,5 Keterangan: V1 : Kecepatan pertama (rendah) = 0,72 m/s di lahan kering dan 0,63 m/s di lahan basah V2 : Kecepatan kedua (sedang) = 1,02 m/s di lahan kering dan 0,71 m/s di lahan basah V3 : Kecepatan ketiga (tinggi) = 1,40 m/s di lahan kering dan 1,17 m/s di lahan basah

Berdasarkan Tabel 1 terlihat bahwa kecepatan aktual dari tiga kecepatan kerja antara di lahan kering lebih tinggi kecepatan aktualnya dari kecepatan aktual di lahan basah. Kecepatan aktual pada kecepatan pertama (V1) antara lahan kering dan lahan basah memiliki perbedaan, yaitu pada lahan kering 0,72 m/s, sedangkan lahan basah 0,63 m/s. Jadi kecepatan aktual lahan kering lebih tinggi dari lahan basah. Begitupun untuk kecepatan kerja kedua dan ketiga (V2 dan V3). Ini disebabkan karena kandungan air tanah, tahanan terhadap tenaga penarik, keadaan tanah, dan tekstur tanah. Tanah yang mengandung kadar air tinggi dan bertekstur liat mempunyai daya rekat dan memberi ketahanan yang besar pada roda, sehingga dapat mengurangi kecepatan maju mesin. Berat mesin yang terlalu besar juga akan menimbulkan kesulitan dalam mengoperasikan alat (Djojomartono, 1978).

9

Sebagai bahan perbandingan antara kecepatan kerja pengolahan tanah dilapangan dengan kecepatan putar poros motor yang diukur menggunakan tachometer dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2. Kecepatan Aktual dan Kecepatan Putar Poros Motor
Perlakuan Kecepatan Kerja V1 V2 V3 Pengukuran dengan Tachometer (RPM) 4680 6080 7580 Lahan Kering (m/s) 0,72 1,02 1,40 Lahan Basah (m/s) 0,63 0,71 1,17

Kapasitas Kerja Teoritis Berdasarkan Tabel 1 dapat diketahui bahwa kapasitas kerja teoritis pada tiga perlakuan kecepatan kerja lebih tinggi kapasitas kerja teoritisnya di lahan kering daripada di lahan basah. Pada perlakuan kecepatan pertama (V1) kapasitas kerja teoritis di lahan kering adalah 0,048 ha/jam dan lahan basah 0,038 ha/jam. Begitupun untuk perlakuan kecepatan kedua dan ketiga dimana kapasitas kerja teoritis lebih tinggi di lahan kering daripada lahan basah. Kapasitas kerja teoritis ini dipengaruhi oleh lebar bajakan atau lebar pengolahan tanah serta kecepatan aktual dari traktor. Hal ini sesuai dengan yang dikatakan Hunt (1970), bahwa kapasitas kerja teoritis adalah kemampuan alat atau mesin untuk menyelesaikan suatu pekerjaan pada sebidang lahan jika alat atau mesin berjalan maju dengan sepenuh waktu (100 %) dan bekerja dengan lebar maksimum.

Kapasitas Kerja Efektif Berdasarkan hasil perhitungan dari Tabel 1 ternyata kapasitas kerja efektif pada tiga perlakuan kecepatan kerja (V1, V2, dan V3) antara lahan kering lebih tinggi kapasitas kerja efektifnya dibandingkan dengan lahan basah. Untuk lahan kering dan lahan basah kapasitas kerja efektifnya meningkat dari perlakuan kecepatan pertama hingga kecepatan ketiga. Hal ini dipengaruhi oleh tiga perlakuan kecepatan kerja dan persentase waktu hilang. Selain itu kapasitas kerja efektif juga dipengaruhi oleh kendungan air dan tanah tersebut. Oleh karena itu

10

semakin kecil waktu yang terpakai maka semakin besar kapasitas kerja efektifnya, dan semakin besar kecepatan kerja maka juga semakin besar kapasitas kerja efektifnya, dan sebaliknya. Kapasitas kerja efektif biasanya dihitung dari hasil pembagian luas yang diselesaikan dengan waktu yang diperlukan (efektif), pada umumnya waktu efektif lebih besar dari waktu teoritis. Ini disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu: (a) waktu yang hilang diakhir barisan ketika berputar, (b) waktu yang hilang untuk membersihkan tanah yang melekat, pengaturan alat, serta (c) waktu untuk istirahat (Hunt, 1970). Kapasitas kerja melakukan operasi tergantung pada; (a) tipe dan besar mesin/alat, (b) keterampilan operator, (c) sumber tenaga yang tersedia, dan (d) keadaan kerja (Moens, 1978). Efisiensi Lapang Berdasarkan Tabel 1 dapat diketahui bahwa efisiensi lapang antara lahan kering lebih rendah daripada lahan basah. Untuk lahan kering pada perlakuan kecepatan pertama lebih rendah dibandingkan dengan kecepatan kedua dan ketiga, begitupun dengan lahan basah. Semakin tinggi kecepatan kerja traktor maka juga semakin tinggi efisiensi kerjanya dan sebaliknya. Efisiensi pengolahan tanah ini dipengaruhi oleh kecepatan kerja dan waktu pengolahan yaitu lamanya waktu yang terpakai saat pengolahan yaitu waktu hilang karena pengisian bahan bakar, slip pada roda, perputaran traktor serta keahlian operator itu sendiri, dan lain-lainnya.

Perhitungan Biaya Pokok Pengoperasian Traktor Tangan di Lahan Kering dan Lahan Basah

11

Diketahui Harga traktor (P), Rp Nilai akhir traktor (S), Rp Umur ekonomis traktor (N), thn Harga bajak singkal (P), Rp Nilai akhir bajak singkal (S), Rp Umur ekonomis bajak singkal (N), thn Suku bunga bank / tahun (r), % Harga solar, Rp/liter Harga oli, Rp/liter Upah operator (Wop), Rp/hari Jam kerja / hari (Wt), jam Jam kerja pertahun (X), jam/tahun (8 jam /hari x 20 hari/bln x 12 bln/thn)

4.750.000 475.000 5 300.000 30.000 5 12 2100 15.000 50.000 8 1920

Biaya Tetap Penyusutan traktor (D), Rp/thn Penyusutan bajak singkal (D), Rp/thn Bunga modal (i), Rp/thn Pajak dan asuransi (A), Rp/thn Biaya tetap, Rp/thn

885.000 54.000 333.300 101.000 1.343.300

Biaya Tidak Tetap Pemeliharaan (PP), Rp/jam Upah operator (Bo), Rp/jam Biaya oli (Ol), Rp/jam Biaya grease “gemuk” (Bg), Rp/jam Biaya bahan bakar lahan kering V1 (BB), Rp/jam Biaya bahan bakar lahan kering V2 (BB), Rp/jam Biaya bahan bakar lahan kering V3 (BB), Rp/jam Biaya bahan bakar lahan basah V1 (BB), Rp/jam Biaya bahan bakar lahan basah V2 (BB), Rp/jam Biaya bahan bakar lahan basah V3 (BB), Rp/jam Biaya tidak tetap lahan kering V1 (BTT), Rp/jam

909 6250 348,2 208,9 1410,5 2525,9 5005,7 1481,3 2661,4 5254,9 9126,6

12

Biaya tidak tetap lahan kering V2 (BTT), Rp/jam Biaya tidak tetap lahan kering V3 (BTT), Rp/jam Biaya tidak tetap lahan basah V1 (BTT), Rp/jam Biaya tidak tetap lahan basah V2 (BTT), Rp/jam Biaya tidak tetap lahan basah V1 (BTT), Rp/jam Biaya Pokok Biaya pokok lahan kering V1 (BP), Rp/ha Biaya pokok lahan kering V2 (BP), Rp/ha Biaya pokok lahan kering V3 (BP), Rp/ha Biaya pokok lahan basah V1 (BP), Rp/ha Biaya pokok lahan basah V2 (BP), Rp/ha Biaya pokok lahan basah V3 (BP), Rp/ha

10242 12721,8 9206,4 10377,5 12971

348.402,9 286.834,2 233.873,4 368.195,1 334.912,8 241.891,7

A. Penyusutan (D) = ( P – S ) / N 1. Penyusutan traktor = Rp 4.750.000 – Rp 475.000 / 5 thn = Rp 885.000/thn 2. Penyusutan singkal = Rp 300.000 – Rp 30.000 / 5 thn = Rp 54.000/thn B.Bunga modal (i) = r x (P + S) / 2 1. Bunga modal traktor = 12 % x Rp ( 4.750.000 + 475.000) / 2 = Rp 313.500/thn 2. Bunga modal singkal = 12 % x Rp (300.000 + 30.000) / 2 = Rp 19.800/thn C. Biaya pajak dan asuransi (A) = a x P 1. Pajak dan asuransi traktor = 2 % x Rp 4.750.000 = Rp 95.000/thn 2. Pajak dan asuransi singkal= 2 % x Rp 300.000 = Rp 6.000/thn Biaya Tetap (BT) = (D + I + A) = Rp (909.000 + 333.300 + 101.000) / thn = Rp 1.343.300/thn D. Biaya pemeliharaan (PP) = 2 % (P – S) / 100 jam

13

1. Pemeliharan traktor = 2 % (Rp 4.750.000 – Rp 475.000) /100 jam = Rp 885 /jam 2. Pemeliharaan singkal = 2 % (Rp 300.000 – Rp 30.000) / 100 jam = Rp 54 / jam E. Upah operator (Bo) = Wop /Wt = Rp 50.000/hari / 8 jam/hari = Rp 6250/jam F. Biaya oli (Ol) = Vp x Ho / Jp = 1,3 liter X Rp 15.000 / liter / 56 jam = Rp 348,2 / jam G. Biaya grease “gemuk” (Bg) = 0,6 x Ol = 0,6 x Rp 348,2 / jam = Rp 208,9 / jam

H. Biaya Bahan Bakar (BB) = Q x hbpl Biaya Bahan Bakar Perlakuan Kecepatan Kerja Lahan Kering Ulangan 1 2 3 Rata-rata 1 2 3 Rata-rata Biaya Bahan Bakar (Rp/jam) V1 V2 V3 1446,9 1459,5 1325,1 1410,5 1352,4 1950,9 1167,6 1481,3 2409,6 2648,1 2520 2525,9 2641,8 2742,6 2599,8 2661,4 4273,5 5670 5073,6 5005,7 5048,4 4897,2 5819,1 5254,9

Lahan Basah

I. Biaya Tidak Tetap (BTT) = PP + Bo + BB + Ol + Bg Biaya Tidak Tetap Perlakuan Kecepatan Kerja Ulangan Biaya Tidak Tetap (Rp/jam) V1 V2 V3

14

Lahan Kering

Lahan Basah

1 2 3 Rata-rata 1 2 3 Rata-rata

9163 9175,6 9041,2 9126,6 9068,5 9667 8883,7 9206,4

10125,7 10364,2 10236,1 10242 10357,9 10458,7 10315,9 10377,5

11989,6 13386,1 12789,7 12721,8 12764,5 12613,3 13535,2 12971

J. Biaya Pokok (BP) = BT/X + BTT Ke Biaya Pokok Traktor Perlakuan Kecepatan Kerja Lahan Kering Ulangan V1 1 2 3 Rata-rata 1 2 3 Rata-rata Biaya Pokok (Rp/ha) V2 309.295,3 263.424,7 287.782,5 286.834,2 335.076,8 371.944,5 297.717,2 334.912,8 V3 244.023,8 187.809,8 269.786,7 233.873,4 258.925,7 266.258,7 200.490,6 241.891,7

Lahan Basah

340.090,9 299.249,6 405.868,1 348.402,9 375.697,5 345.554,5 383.333,4 386.195,1

BB = Q x H bpl 1. BB = 0,689 liter/jam x Rp 2100/liter = Rp 1446,9/jam

15

2. BB = 0,695 liter/jam x Rp 2100/liter = Rp 1459,5/jam 3.BB = 0,631 liter/jam x Rp 2100/liter = Rp 1325,1/jam BTT = PP + Bo + BB + Ol + Bg 1. BTT = Rp (909 + 6250 + 1446,9 + 348,2 + 208,9) / jam = Rp 9163 / jam 2. BTT = Rp (909 + 6250 + 1459,5 + 348,2 + 208,9) / jam = Rp 9175,6 / jam 3. BTT = Rp (909 + 6250 + 1325,1 + 348,2 + 208,9) / jam = Rp 9041,2 / jam BP = BT/X + BTT Ke 1. BP = Rp 1.343.300/ 1920 jam /thn + Rp 9163 /jam = Rp 340.090,9 / ha 0,029 ha/jam 2. BP = Rp 1.343.300/ 1920 jam /thn + Rp 9175,6 /jam = Rp 299.249,6 / ha 0,033 ha/jam 3. BP = Rp 1.343.300/ 1920 jam /thn + Rp 9041,2 /jam = Rp 405.868,1 / ha 0,024 ha/jam

KESIMPULAN Dari penelitian ini diperoleh kesimpulan sebagai berikut : 1. Pada proses pengolahan tanah dengan tiga kecepatan kerja di lahan kering dan lahan basah mempunyai kecepatan aktual yang berbeda, yaitu di lahan kering kecepatan aktualnya V1, V2, V3, adalah 0,72 m/s, 1,02 m/s, dan 1,4 m/s, sedangkan kecepatan aktual traktor pada lahan basah adalah 0,63 m/s, 0,71 m/s, dan 1,17 m/s. 2. Keadaan tergenang pada pengolahan tanah basah menyebabkan timbulnya gejala plastis terhadap tanah sehingga apabila roda meneruskan gaya-gaya pada permukaan alas cendrung terjadinya slip yang besar, terutama pada lahan basah slipnya adalah 17,37 %, 20,4 %, dan 22,15 %, dan lahan kering 14,1 %, 14,28 % dan 18,14 %.

16

3. Pemakaian traktor di lahan basah dan lahan kering akan mempengaruhi kapasitas kerja efektif, untuk lahan kering traktor mampu mengolah 0,029 ha/jam, 0,038 ha/jam, dan 0,059 ha/jam, sedangkan lahan basah adalah 0,027 ha/jam, 0,033ha/jam dan 0,058 ha/jam. 4. Semakin tinggi kecepatan kerja maka semakin banyak konsumsi bahan bakarnya. Untuk lahan kering adalah 0,672 l/jam, 1,216 l/jam, dan 2,384 l/jam, sedangkan pada lahan basah adalah 0,71 l/jam, 1,267 l/jam, dan 2,482 l/jam. 5. Biaya pokok traktor di lahan basah lebih tinggi daripada di lahan kering baik pada kecepatan (V1, V2, V3,). Pada lahan basah, besarnya biaya pokok adalah berturut – turut Rp 386.195 / ha, Rp 334.913 / ha, dan Rp 241.892 / ha, sedangkan pada lahan kering berturut – turut Rp 348.403 / ha, Rp 286.834 / ha, dan Rp 233.063 / ha.

DAFTAR PUSTAKA

Badan Pusat Statistik. 2003. Statistik Indonesia. Biro Pusat Statistik. Jakarta. Chatib, Charmyn. 2004. Alat dan Mesin Pertanian. Jurusan Teknologi Pertanian. Fakultas Pertanian. Universitas Andalas. Padang. Djojomartono, Moeljarno. 1978. Evaluasi dan Seleksi Alat dan Mesin Pertanian dalam Strategi Mekanisasi. Kerjasama IPB Bogor dengan Landbouw Hogeschool Wageningen. Hardjosoediro, Soekarmanto. 1983. Mekanisasi Pertanian. Kerjasama Badan Pendidikan, Latihan, dan Penyuluhan Pertanian (BPLPP) dengan Japan Cooperation Agensi (JICA). Jakarta. Hunt, D. 1970. Farm Power and Machinery Management. 7 University Press Ames. LOWA.
th

ed. Lowa State

17

Moens, A. 1978. Strategi Mekanisasi Pertanian. Departemen Mekanisasi Pertanian IPB Bogor dan Agricultural Engineering University Wagening Bogor. Indonesia. Santosa. 2005a. Aplikasi Visual Basic 6.0 dan Visual Studio Net 2003 Dalam Bidang Teknik dan Pertanian. Yogyakarta. Penerbit: Andi. Santosa, Andasuryani, dan V. Veronica. 2005b . Kinerja Traktor Tangan untuk Pengolahan Tanah. Jurnal Akademika. Volume 9 No. 2 : Oktober 2005 , hal. 1 – 7. Suryanto, Hadi. 2004. Penerapan Alat dan Mesin Pertanian untuk Memacu Pembangunan Industri Pertanian. Fakultas Pertanian. Universitas Andalas. Padang. ((** Catatan : Makalah ini sudah dimuat pada Santosa, Andasuryani, dan Vivi Veronica. 2008. Kajian Biaya Pokok Traktor Tangan untuk Pengolahan tanah pada Berbagai Kecepatan Operasi. Jurnal Teknologi Pertanian Andalas. Vol. 12, No. 2, September 2008 : 26 – 34 **)) ((***http://santosa764.wordpress.com***))

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->