Anda di halaman 1dari 27

Oleh: Taufik Abidin

Malaria adalah penyakit infeksi akut atau kronis yang disebabkan oleh Plasmodium, ditandai dengan gejala demam rekuren, anemia dan hepatosplenomegali. Penyakit malaria dapat menyerang secara berulangulang dan dapat menyebabkan kematian.2

protozoa dari genus Plasmodium. Pada manusia Plasmodium terdiri dari 4 spesies:
Plasmodium falciparum yang menyebabkan malaria tropika Plasmodium vivax yang yang menyebabkan malaria tertiana Plasmodium malariae yang menyebabkan malaria kuartana dan Plasmodium ovale yang menyebabkan malaria ovale.

Seseorang dapat terinfeksi lebih dari satu jenis Plasmodium, dikenal sebagai infeksi campuran atau majemuk (mixed infection

P.vivax Duffy Fya ayau Fyb Duffy (-) tidak terinfeksi malaria vivax. P.falciparum glicoproteins. P.malariae & ovale belum diketahui.

Bentuk aseksual dlm eritrosit (EP) manifestasi klinik. Faktor pendukung parasit & host. Stadium EP cincin & matur. EP matur timbul tonjolan mbtk knob dgn HRP-1 sbg komponen utama. EP matur melepas toksin malaria (GPI) pelepasan TNF- dan IL-1 dari makrofag manifestasi klinik.

Faktor parasit: Resistensi obat. Kecepatan multiplikasi. Cara invasi. Sitoadherens. Rosetting. Polimorfisme antogenik. Variasi antigenic. Toksin malaria.

Faktor penjamu (host): Imunitas. Sitokin proinflamasi. Genetik. Usia. Kehamilan.

Faktor sosial & geografi: Akses mendapat pengobatan. Budaya dan ekonomi. Stabilitas politik. Intensitas transmisi nyamuk.

Manifestasi klinik
Asimtomatik demam malaria berat kematian

Gejala serangan malaria pada penderita terdiri dari beberapa jenis, yaitu: 1. Gejala klasik non endemis malaria atau yang belum mempunyai kekebalan (immunitas); atau yang pertama kali menderita malaria. Gejala ini merupakan suatu parokisme, yang terdiri dari tiga stadium berurutan: - Menggigil (selama 15-60 menit), terjadi setelah pecahnya sizon dalam eritrosit dan keluar zat-zat antigenik yang menimbulkan mengigil-dingin. - Demam (selama 2-6 jam), timbul setelah penderita mengigil, demam dengan suhu badan sekitar 37,5-40oC, pada penderita hiper parasitemia (lebih dari 5 persen) >40oC.
-

Berkeringat (selama 2-4 jam), timbul setelah demam, terjadi akibat gangguan metabolisme tubuh sehingga produksi keringat bertambah. Kadang-kadang dalam keadaan berat, keringat sampai membasahi tubuh seperti orang mandi. Biasanya setelah berkeringat, penderita merasa sehat kembali.

Di daerah endemis malaria dimana penderita telah mempunyai imunitas terhadap malaria, gejala klasik di atas timbul tidak berurutan bahkan bisa jadi tidak ditemukan gejala tersebut, kadang muncul gejala lain.

2.Gejala malaria dalam program pemberantasan malaria: -Demam-Menggigil-Berkeringat -Dapat disertai dengan gejala lain: Sakit kepala, mual dan muntah. - Gejala khas daerah setempat: diare pada balita (di Timtim), nyeri otot atau pegal-pegal pada orang dewasa (di Papua), pucat dan menggigil-dingin pada orang dewasa (di Yogyakarta).

Anemia sering dijumpai, akibat:


Hemolisis oleh parasit. Hambatan thdp eritropoesis. Hambatan thdp pelepasan retikulosit. Pengaruh sitokin. Eritrofagositosis.

Splenomegali. Gejala kliniknya dikenal sebagai trias malaria dari demam, anemia dan splenomegali.

Temuan Laboratorium: Anemia Trombositopenia Penurunan plasma fibrinogen. Ikterus ringan dengan peningkatan bilirubin indirek dan tes fungsi hati yang abnormal Penurunan plasma protein terutama albumin, peningkatan Hipokolesterolemia Penurunan glukosa Peningkatan kalium plasma Bisa terjadi peningkatan LED Proteinuria dan gangguan ginjal

Pada infeksi plasmodium falciparum, sediaan apus darah tepi dijumpai parasit muda bentuk cincin (ring form), dapat juga di temukan gametosit ataupun skizon (pada kasus berat yang biasanya disertai dengan komplikasi). Khas gambaran gametosit bentuk pisang dan terdapat bintik Maurer pada sel darah merah. Pada infeksi Plasmodium vivax terutama menyerang retikulosit. Pada sediaan apus darah tipis maupun tebal dijumpai semua bentuk parasit aseksual dari bentuk ringan sampai skizon, sel darah merah membesar, terdapat titik Schuffner pada sel darah merah dan sitoplasma amuboid. Pada infeksi Plasmodium malariae terutama menyerang eritrosit yang yang telah matang. Pada sediaan apus darah tepi tipis maupun tebal dapat dijumpai semua bentuk parasit aseksual. Parasit pada sediaan darah tepi tipis erbentuk khas seperti pita (band form), skizon berbentuk bunga ros (rosette form), tropozoit kecil bulat dan kompak berisi pigmen yang menumpuk, kadang- kadang menutupi sitoplasma/ inti atau keduanya.2

Pemeriksaan tetes darah utk malaria. Tetesan preparat darah tebal dan tipis. Tes antigen: P-F test 95% sensitif. Tes serologi ELISA, RIA, dll. PCR utk penelitian.

Demam merupakan salah satu gejala malaria yang menonjol, yang juga dijumpai pada hampir semua penyakit infeksi seperti infeksi virus pada system respiratorius , Influenza,Bruselosis, demam tifoid, demam dengue, dan infeksi bacterial lainnya seperti pneumonia, Infeksi saluran kemih, Tuberkulosis. Pada daerah Hiperendemik sering dijumpai penderita dengan imunitas yang tinggi sehingga penderita dengan infeksi malaria tetapi tidak menunjukan gejala klinis malaria. Pada malaria berat diagnosa banding tergantung manifestasi malaria beratnya. Pada malaria dengan ikterus demam tifoid dengan Hepatitis, Kolesistitis, abses hati dan leptospirosis. Hepatitis pada saat timbul ikterusnya tidak dijumpai demam lagi. Pada malaria Cerebral harus dibedakan dengan infeksi pada otak lainnya seperti Meningitis, Ensefalitis, Tifoid ensefalopati, Tripanosiasis. Penurunan kesadaran dan koma dapat terjadi pada gangguan metabolik ( diabetes, uremi ), Gangguan cerebrovaskuler (stroke), Eklampsia, dan tumor otak.

Ada dua perubahan patologi yang mendasar terjadi pada malaria: Perubahan vaskuler, berupa hancurnya selsel darah merah dan penyumbatan pembuluh darah kapiler di organ-organ dalam respon humoral dan respon seluler merangsang proses fagositosis terhadap sel-sel darah merah yang mengandung parasit, pigmen, dan sisa-sisa sel yang rusak oleh sel-sel histiosit pengembara dan sel makrofag tetap dalam RES, khususnya dalam limpa limpa membengkak. Penimbunan pigmen malaria yang dihasilkan parasit malaria dalam organ dalam menimbulkan warna kelabu atau hitam, seperti terlihat dalam korteks serebri, limpa, hati, ginjal, dan organ-organ lain..

Anoksia / hipoksia jaringan.


-

Anoksia karena jumlah eritrosit menurun, trombosis pada kapiler pembuluh darah, dan volume darah yang berkurang karena permeabilitas pembuluh darah meningkat terhadap cairan dan protein, disebabkan oleh kerusakan endotel. Perlekatan sesama eritrosit yang diinfeksi dan perubahan fisik dan kimiawi plasma darah menyebabkan darah menggumpal pada endotel kapiler. Gangguan vaskuler yang parah terlihat jelas pada malaria falciparum, dengan tersumbatnya pembuluh kapiler karena menggumpalnya sel-sel eritrosit yang diinfeksi, sel-sel fagosit, plasma yang mengental, dan karena aliran darah yang menjadi lambat. Anoksia pada jaringan organ-organ dalam dan perubahan vaskuler lain manifestasi klinis malaria berat menjadi sangat bervariasi (protean), dan sesungguhnya merupakan manifestasi kegagalan multiorgan. pada malaria falciparum hanya sel-sel darah merah yang mengandung parasit malaria bentuk cincin muda yang beredar dalam sirkulasi darah tepi, sedangkan sel-sel eritrosit yang mengandung parasit stadium lebih tua dari stadium cincin menghilang dari peredaran darah tepi, dan berada di dalam mikrovaskuler organ-organ dalam proses sitoadherensi, sekuestrasi, dan rosetting malaria berat. (3)

Malaria berat ditandai dengan salah satu gangguan patologi klinik atau lebih berikut ini: (3) - Malaria dengan gangguan kesadaran (apati, delirium, stupor, dan koma) atau GCS (Glasgow Coma Scale) < 14 untuk orang dewasa dan < 5 untuk anak-anak. Gangguan kesadaran menetap > 30 menit atau menetap setelah panas turun. - Malaria dengan ikterus (billirubin serum > 3 mg%). - Malaria dengan gangguan fungsi ginjal (oligouria < 400 ml/24 jam atau kreatinin serum > 3 mg%). - Malaria dengan anemia berat (Hb < 5 gr% atau hematokrit < 15%). - Malaria dengan edema paru (sesak napas, gelisah). - Malaria dengan hipoglikemia (gula darah < 40 mg%). - Malaria dengan gangguan sirkulasi atau syok (tekanan sistolik < 70 mmHg pada orang dewasa atau < 50 mmHg pada anak 1-5 tahun. - Malaria dengan hiperparasitemia (Plasmodium > 5%).

- Malaria dengan manifestasi perdarahan (gusi, hidung, dan atau tanda-tanda disseminated intravascular coagulation / DIC). - Malaria dengan kejang-kejang berulang, lebih dari 2 kali dalam 24 jam. - Malaria dengan asidosis (pH darah < 7,25 atau plasma bikarbonat < 15 mmol/L. - Malaria dengan hemoglobinuria makroskopik. - Malaria dengan hipertermia (suhu badan > 40oC). - Malaria dengan kelemahan yang ekstrem (prostration); penderita tidak mampu duduk atau berjalan, tanpa adanya kelainan neurologi tertentu.
Malaria berat biasanya terjadi pada sekelompok individu yang memiliki faktor resiko untuk menjadi malaria yang berat. Faktor-faktor resiko terjadinya malaria berat antara lain: - Usia lanjut ( > 70 tahun). - Bayi / neonatus. - Kehamilan atau masa pasca melahirkan (postpartum). - Penekanan terhadap sistem imun tubuh, misalnya karena penyakit sistemik, seperti DM, gagal ginjal kronis, dan pemakaian obat imunosupresan (misalnya prednison, obat sitostatistika) dalam jangka waktu yang lama.

Malaria cerebral Malaria otak sering menyebabkan kematian. Gejala yang timbul dapat tampak sebagai penurunan kesadaran dari somnolen sampai koma, kejang-kejang atau psikosis organik (Chipman dkk, 1967). Penyebab malaria otak masih merupakan hipotesa yaitu:
akibat eritrosit yang mengandung parasit menjadi lebih mudah melekat pada dinding pembuluh kapiler disebabkan karena menurunnya muatan listrik permukaan eritrosit dan pembentukan tonjolan-tonjolan kecil dipermukaan eritrosit bendungan di pembuluh darah otak kecil terhambatnya aliran darah otak dan oedema. Oedema otak ini sering ditemukan pada waktu otopsi, tetapi gejala klinik dari peningkatan tekanan intrakranial jarang sekali ditemukan (Harinasuta dkk, 1982) dan CT scan tidak menyokong oedema sebagai gambaran primer dari malaria otak (Looareesuwan dkk, 1983). Sedangkan Schmutzhard dkk (1984) menemukan gejala sisa saraf yang cukup lama dari sindroma psikosaorganik, heminaresia atau hemihipestesia dan epilepsi. Bila kadar laktat >6 mmol/l prognosa jelek.

Malaria algid Terjadinya syok vaskular. Tanda:

Klinik:

Tekanan sistolik <70 mmHg. Perubahan tahanan perifer. Perfusi jaringan berkurang. Dingin dan basah pd kulit. Suhu rektal tinggi. Kulit tidak elastis. Pucat.

Trombositopenia Akibat pengaruh sitokin gg.fungsi hari. Edema paru, karena:


Kelebihan cairan. Kehamilan. Malaria cerebral. Hiperparasitemia. Hipotensi. Asidosis. Uremia. Gejala awal pernapasan cepat; bila >35 x/menit prognosa jelek.

Prognosis malaria berat tergantung kecepatan diagnosis , ketepatan dan kecepatan pengobatan. Pada malaria berat yang tidak ditanggulani, maka mortalitas yang dilaporkan pada anak-anak 15%, dewasa 20% dan pada kehamilan meningkat sampai 50%. Prognosis malaria berat dengan kegagalan satu fungsi organ lebih baik daripada kegagalan 2 fungsi organ. Mortalitas dengan kegagalan 3 fungsi organ, adalah >50% Mortalitas dengan kegagalan 4 atau lebih fungsi organ adalah >75%. Adanya korelasi antara kepadatan parasit dengan klinis malaria berat yaitu :
Kepadatan parasit <100000, maka mortalitas <1%
Kepadatan parasit >100000, maka mortalitas >1% Kepadatan parasit >500000, maka mortalitas >50%

Dapat dilakukan pengobatan secara rawat jalan atau rawat inap sebagai berikut: Klorokuin basa diberikan total 25 mg/ kgbb selama 3 hari. Dengan perincian sebagai berikut: hari pertama 10 mg/ kgbb (maksimal 600 mg basa), 6 jam kemudian dilanjutkan 10 mg/ kgbb (maksimal 600 mg basa) dan 5 mg/ kgbb pada 24 jam (maksimal 300 mg basa). Atau hari I dan II masing- masing 10 mg/ kgbb dan hari III 5 mg/ kgbb. Pada malaria tropika ditambahkan primakuin 0,25 mg/ kgbb/ hari, 14 hari. Bila dengan pengobatan (1) ternyata pada hari IV masih demam atau hari VIII masih dijumpai parasit dalam darah maka diberikan:
Kina sulfat 30 mg/ kgbb/ hari dibagi dalam 3 dosis, selama 7 hari, atau Fansidar atau suldox dengan dasar pirimetamin 1- 1,5 mg/ kgbb atau sulfadoksin 20- 30 mg/kgbb single dose (usia di atas 6 bulan).

Bila dengan pengobatan butir (2) padahari IV masih demam atau pada hari VIII masih dijumpai parasit maka diberikan:
Tetrasiklin HCl 50 mg/ kgbb/ kali, sehari 4 kali selama 7 hari + fansidar / suldox bila sebelumnya telah mendapat pengobatan butir 2a, atau Tetrasiklin HCl + kina sulfat bila sebelumnya telah mendapat pengobatan butir 2b. Dosis Kina dan Fansidar/ Suldox sesuai butir 2a dan 2b (Tetrasiklin hanya diberikan pada umur 8 tahun atau lebih).2

Tindakan umum/ perawatan Pemberian obat anti malaria Pemberian cairan atau nutrisi Penanganan terhadap gangguan fungsi organ Tindakan perawatan umum pada malaria berat di ruang intensif: Pertahankan fungsi vital : sirkulasi, respirasi, kebutuhan cairan dan nutrisi Hindari trauma: dekubitus Monitoring : suhu tubuh, nadi, tensi tiap jam. Awasi ikterus dan perdarahan Posisi tidur sesuai kebutuhan Perhatikan warna dan suhu kulit Cegah hiperpireksi Pemberian cairan: oral, sonde, infus Diet porsi kecil dan sering, cukup kalori, karbohidrat dan garam. Perhatikan diuresis dan defekasi, aseptik kateterisasi Perawatan: hati- hati aspirasi, hisap lendir sesering mungkin, letakkan kepala sedikit rendah, penberian cairan dan obat harus hati- hati.

Pemberian obat anti malaria pada malaria berat: Kina ( Kina HCl / kinin antipirin)
Melalui infus 10 mg/ kgbb/ kali diberikan selama 4 jam, 3 kali sehari selama pasien belum sadar (maksimal 3 hari), apabila telah sadar kina dilanjutkan per oral hingga total IV + oral selama 7 hari.

Kinidin
Diberikan bila tidak tersedia kina, dosisnya 7,5 mg basa/ kgbb/ kali

Derivat artemisinin
Artesunat (iv, im) 2,4 mg/ kgbb/ kali selama 3 hari Artemeter (im) 1,6 mg/ kgbb sekali sehari selama 6 hari.

Anda mungkin juga menyukai