Anda di halaman 1dari 4

KEWAJIBAN DA'I ADALAH BERDAKWAH KEPADA ALLAH WALAUPUN MANUSIA MENCELANYA.

Oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

1. Pertanyaan. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Apakah hukum orang yang saya dakwahi kepada Allah Azza wa Jalla namun mereka mencela atau memperolok-olok hal tersebut ? Dan apakah boleh saya memutuskan (hubungan) dengan mereka ; karena mereka mengatakan sesungguhnya dakwah anda itu seharusnya untuk keluarga (anda) saja ? Jawaban. Sesungguhnya yang wajib atas seorang da'i adalah (tetap) berdakwah walaupun manusia meremehkan atau memperolok-olokannya, karena sesungguhnya rasul paling pertama Nuh 'Alaihi Salam dihina oleh kaumnya, akan tetapi ia mengatakan. "Artinya : Sesungguhnya orang-orang yang berdosa, adalah mereka yang dahulunya (di dunia) mentertawakan orang-orang yang beriman. Dan apabila orang-orang yang beriman lalu ia di hadapan mereka, mereka saling mengedipngedipkan matanya. Dan apabila orang-orang berdosa itu kembali kepada kaumnya, mereka kembali dengan gembira. Dan apabila mereka melihat orangorang mukmin, mereka mengatakan : "Sesunguhnya mereka itu benar-benar orang-orang yang sesat", padahal orang-orang yang berdosa itu tidak dikirim untuk penjaga bagi orang-orang maukmin. Maka pada hari ini, orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir, mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang" [Al-Muthaffifin : 29-35] http://indonesiaindonesia.com/f/5575-kewajiban-dai-berdakwah-allah-manusiamencelanya/ waktu. 2. Waktu adalah satu anugerah yang sangat berharga. Ia sangat berharga karena tidak akan pernah kembali, sedetik pun. Oleh karena itu, seorang aktivis harus benar-benar memanfaatkan waktu yang dimilikinya untuk melaksanakan kewajiban-kewajiban yang dimilikinya. Dr. Yusuf Qardhawi mengatakan tentang hubungan kehidupan dan waktu, Waktu adalah hidup itu sendiri maka jangan sekali-kali engkau sia-siakan sedetik pun dari waktumu untuk hal-hal yang tidak berfaedah. Setiap orang akan mempertanggungjawabkan usianya yang tidak lain adalah rangkaian dari waktu. Sikap negatif terhadap waktu niscaya membawa kerugian, seperti gemar menangguhkan atau mengulur waktu, yang berarti menghilangkan kesempatan.

Namun, kemudian ia mengkambinghitamkan waktu saat ia merugi, sehingga tidak punya kesempatan untuk memperbaiki kekeliruan.

3. Contoh Teladan Para sahabat telah menghadirkan kepribadian yang mengagumkan dari agama ini, sosok yang tenar dan mulia yang hidup di tengah-tengah umat manusia, mereka tegar dalam menghadapi berbagai ujian dan cobaan, sedikit pun tak terlihat lemah sehingga menutup peluang dari orang-orang kafir dalam menyebarkan fitnah terhadap diri-diri mereka.
salah satu indikasi melemahnya seorang dai dikarenakan kepribadiannya yang bertolak belakang dari nilai Islam yang ia dakwahkan, sehingga mengosongkan jiwanya dari keimanan. Karena rumusannya adalah, jikalau agama ini merupakan yang hak, maka tentunya ia akan tercermin dari kepribadian para pelakunya (dai). Ketika kebenaran itu tak nampak dari pribadinya, maka akan menghilangkan kepercayaan dari obyek dakwahnya.

4. Sesuaikan Ucapan dan Perbuatan Sosok seorang dai bisa jadi begitu dikenal di tengah masyarakat atau bisa pula menjadi orang yang paling asing. Apabila selama dalam berdakwah, ia dikenal dengan pribadi yang konsisten dalam beramal, maka perkataanya akan dapat diterima di hati masyarakat. Namun sebaliknya, apabila seorang dai lemah dalam menjalankan agamanya, tidak konsisten, maka jangan berharap perkataannya dapat diterima oleh siapapun yang mendengarnya, ucapannya ibarat masuk telinga kiri keluar telinga kanan. Dai yang terlihat asing dihadapan para madu-nya, maka kata-katanya masih menggantung. Ucapannya tidak sertamerta diterima dan tidak pula tertolak sampai mereka tahu siapa dan bagaimana kepribadian dai tersebut. Apabila mereka mengetahui bahwa ia merupakan sosok yang istiqomah dalam menjalankan nilai-nilai Islam, maka perkataan yang sebelumnya masih menggantung di hati mereka dapat diterima dan memberikan dampak positif bagi kehidupan mereka. Namun apabila yang yang mereka ketahui justru sebaliknya, maka jangan salahkan apabila pesan kebaikan yang disampaikan luntur bersamaan kepribadiannya yang tidak sesuai dengan ucapan.
http://alhikmah.ac.id/2013/menjadi-pribadi-da%E2%80%99i-yang-utuh/

5. KEWAJIBAN PARA DA'I ADALAH MEMBERI NASEHAT, HUKUM BERBUAT ANIAYA TERHADAP ORANG KAFIR DAN PELAKU MAKSIAT, KAIDAH-KAIDAH AMAR MA'RUF NAHI MUNGKAR
Oleh Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz

Pertanyaan : Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Sekiranya kita tetapkan bahwa syaratsyarat diadakannya pemberontakan terhadap penguasa telah terpenuhi menurut sekelompok orang, apakah hal ini berarti pembantu-pembantu penguasa tersebut dan setiap orang yang bekerja dalam pemerintahannya boleh dibunuh ? Seperti ; Tentara, polisi dan aparat-aparat pemerintah lainnya. Jawaban : Telah saya sebutkan tadi bahwa tidak dibolehkan memberontak penguasa kecuali dengan dua syarat : [1] Telah tampak kekafiran yang nyata pada penguasa tersebut dan terdapat keterangan dan dalil dari Allah. [2] Adanya kemampuan menggeser penguasa tersebut tanpa menimbulkan kerusakan yang lebih besar. Sama sekali tidak diperbolehkan tanpa dua syarat tersebut.
Read more: http://hadis-saw.blogspot.com/2012/08/kewajiban-para-dai-adalahmemberi.html#ixzz2QiXTFfar

Akhlaq Dai : 1. Senantiasa meningkatkan diri sebagai dai. Diriwayatkan, bahwa pada suatu ketika ada seorang sahabat yang bertanya kepada Rasulullah saw. tentang siapakah manusia yang paling baik? Rasulullah saw. menjawab : a) AQRAUHUM, yang paling banyak di antara mereka (luas ilmunya dan dalam pengetahuannya). b) ATQAUHUM LILLAH, yang paling kuat taqwanya kepada Allah swt. c) AWSHALUHUM LIRRAHMI, yang rajin memelihara silaturahmi. d) AMARUHUM BILMARUF WA ANHAHUM ANIL MUNKAR, yang rajin melaksanakan amar maruf nahi munkar. 2. Jauhi diri dari tiap-tiap perbuatan yang merusak agama. Lihat! QS. Ar-Rum, 30 : 31-32 : Dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah Shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka. Merusak Agama Yang dimaksud dengan merusak agama ialah menambah-nambah ajaran agama (Dienul Islam) yang dikenal dalam Islam dengan nama BIDAH.

Bahaya Mengerjakan Bidah Dengan lahirnya bidah tersebut maka terjadilah perbedaan pendapat di kalangan Kaum Muslimin, yang dikenal dengan kata KHILAFIAH atau IKHTILAF. Sebagai akibatnya di kalangan Kaum Muslimin terjadi perpecahan. Padahal untuk menyelesaikan setiap persoalan (atau perpecahan) sudah diberikan tuntunannya, sebagaimana firman-Nya : Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Quran) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS. An-Nisa,4 :59) Akan tetapi ada sebagian orang berpendapat soal khilafiyah itu adalah soal furu, soal ranting bukan soal pokok (Ushul). Bahaya Bidah Rasulullah saw. bersabda : Allah tidak akan menerima dari orang-orang bidah : shalatnya, shaumnya, shadaqahnya, hajinya, umrahnya, jihadnya, taubatnya, tebusannya; dia keluar dari Islam sebagaimana keluarnya sehelai rambut dari tepung. (HR. Ibnu Majah) Selanjutnya : Barang siapa yang mangicuhkan ummatku, maka Allah melaknatnya Apa yang dimaksud dengan mengicuhkan itu, ya Rasulullah?, Mengicuhkan itu ialah seseorang yang berbuat (mencontohkan) perbuatan bidah itu (kepada ummatku) lalu mereka mengerjakannya. (HR. Ad-Daruquthny). Bolehkah kita membiarkan bidah itu dilakukan? Sekarang ada alasan-alasan dari orang-orang yang melakukan bidah supaya jangan dipersoalkan lagi karena pasti akan menimbulkan perpecahan di kalangan Kaum Muslimin, sedangkan kita membutuhkan persatuan dalam menghadapi orang-orang yang tidak menyukai Islam. Tetapi Rasulullah saw. dalam hal ini, bersabda : Nanti akan datang sesudah kamu suatu kaum yang berbicara tetapi tidak mengamalkannya; ada juga yang beramal (beribadah) tetapi tidak sesuai dengan yang diperintah (oleh Allah). Barangsiapa sungguh-sungguh memberikan pengertian kepada mereka dengan kekuasaannya, dengan lisannya atau dengan hatinya, maka mereka adalah orang-orang yang beriman. Sebaliknya, yaitu orang-orang yang tidak berbuat, bersikap masa bodoh, maka sebesar biji sawi pun tiada iman dalam dadanya.
http://dewandakwahbandung.com/akhlaq-seorang-dai/