Anda di halaman 1dari 2

Ada Apa dengan Kafein?

Hari masih pagi. Hmm, enaknya ngapain ya? Wah, kayaknya secangkir kopi hangat (teh juga asyik) dan beberapa kue manis yang baru saja dibeli ibu pas banget untuk memulai hari. Nikmatnya. Atau ketika hari mulai beranjak sore dan perut terasa sedikit berontak, nggak dosa kok mencomot sebatang cokelat yang masih teronggok di dalam tas. Nyam, nyam sip banget. Asyik sih asyik, tapi sadar nggak kalau kopi, teh, bahkan cokelat mengandung kafein yang bisa bikin kecanduan. Jangan kaget gitu lagi. Mungkin kamu jadi bertanya-tanya, ada apa dengan kafein? Tenang dulu, kita kenalan yuk dengan kafein. Apa sih kafein? Kafein adalah semacam zat yang secara alami diproduksi oleh dedaunan dan benih sejumlah tanaman. Tapi, kafein juga dapat diproduksi oleh pabrik dan ditambahkan ke dalam makanan tertentu. Ini juga merupakan bagian dari kelompok obat-obatan yang dipakai untuk mengatasi asma. Nah, baru ngeh, kan? Kafein sendiri ternyata dapat masuk kategori obat-obatan karena bisa merangsang sistem syaraf pusat yang dapat meningkatkan detak jantung dan tingkat kesadaran. Nah, kalau ada yang sensitif dengan kafein bakal merasakan adanya penambahan energi dan merasa lebih semangat. Kafein ini bisa kamu temui di dalam teh, kopi, cokelat, minuman ringan, obat pereda sakit, dan berbagai jenis pil. Jika alami, rasa kafein sangat pahit. Namun, sebagian besar minuman berkafein telah melalui proses untuk menghilangkan rasa getir itu. Untuk kamu-kamu yang hobi minum minuman ringan, secara nggak sengaja kamu juga mengonsumsi kafein yang biasanya telah ditambah gula dan perasa buatan sehingga rasanya lebih cihuy. Awas, ada bahayanya Sebenarnya, jika dikonsumsi dalam porsi yang sedang, misalnya cukup sekaleng minuman ringan atau secangkir kopi saja, sebagian besar orang merasa kafein dapat meningkatkan kewaspadaan diri. Namun, jika jumlahnya lebih banyak, mulai deh muncul keluhan-keluhan. Misalnya saja, pusing, gelisah, dan gugup. Bahkan, lebih parah lagi, tidur bakal terganggu. Kalau dalam dosis sangat tinggi, seperti menenggak obat tak sesuai dosis bakal berbahaya bagi tubuh. Kafein bikin bahaya karena memang bisa bikin kita kecanduan dan akan memicu gejala ketagihan buat orang-orang yang tiba-tiba saja berhenti mengonsumsi ini. Sebutlah seperti sakit kepala, sakit otot, depresi, dan gampang emosi. Sebenarnya, sensitivitas seseorang terhadap kafein tergantung pada jumlah kafein yang dikonsumsi. Dampaknya berbeda pada tiap orang. Biasanya, makin sedikit dikonsumsi, makin kecil pula efek sampingnya pada seseorang. Tingkat sensitivitas terhadap kafein sangat tergantung pada konsumsi kafein tiap hari. Kalau kamu biasa minum minuman mengandung kafein, makin lama kamu makin nggak sensitif pada kafein. Artinya, butuh dosis kafein yang lebih tinggi untuk mendapat efek yang sama seperti orang yang tidak minum kafein tiap hari. Singkatnya, makin banyak kafein yang kamu minum, makin banyak juga kafein yang kamu perlu untuk merasakan efek serupa.

Di dalam tubuh, kafein menjalar dalam beberapa jam. Setelah itu, zat ini akan keluar lewat air seni. Memang sih tidak tersimpan dalam tubuh, tapi kamu akan merasakan efeknya sekitar enam jam kemudian jika kamu memang sensitif pada kafein. Untuk tubuh, kafein menyebabkan efek dehidrasi ringan karena meningkatkan keinginan buang air kecil. Kalau jumlahnya makin banyak, kafein akan menyebabkan tubuh kehilangan kalsium dan potasium yang bikin gampang cedera otot dan bikin lama proses pemulihan setelah olahraga. Nah, jadi mulai ketahuan nih 'rahasia' si kafein. Memang nggak ada salahnya hobi minum minuman berkafein, tapi kalau berlebihan kayaknya nggak OK juga, kan? Kalau Berlebih Jika kamu merasa sudah terlalu banyak mengonsumsi kafein, cara yang paling baik memang mengurangi. Ada tips singkat untuk itu di antaranya: * Lakukan secara perlahan. Memang tidak mudah mengurangi konsumsi kafein, cara yang paling baik adalah mengurangi ini secara perlahan. Kalau tidak, kamu bakal merasakan sakit kepala, depresi, dan lemas. * Ganti dengan minuman lain. Kamu juga bisa mencoba mengganti soda berkafein dan kopi dengan minuman lain yang tentu saja bebas kafein. Misalnya saja, air putih, minuman ringan tanpa kafein, dan teh bebas kafein. * Perhatikan jumlahnya. Coba deh minuman berkafein yang kamu konsumsi. Ini penting kamu lakukan tiap hari. Dengan begitu, kamu akan tahu jumlahnya dan mengganti satu jenis minuman tiap minggu dengan minuman lain yang tidak berkafein. * Perhatikan efek sampingnya. Ketika mengurangi jumlah kafein, kamu memang akan merasa lelah. Jangan menyerah. Ini hanya cara tubuh kamu mengatakan kalau kamu butuh istirahat. Kondisi tubuh kamu akan kembali normal dalam beberapa hari. (neh/berbagai sumber )