Anda di halaman 1dari 65

1

KUSUT KUSANG
BUAT BUAT BUAT BUAT AKMALIYYUN AKMALIYYUN AKMALIYYUN AKMALIYYUN
& && &
SURURIYYUN SURURIYYUN SURURIYYUN SURURIYYUN DI DI DI DI PERAWANG PERAWANG PERAWANG PERAWANG

Ditulis oleh:
Al-Faqir ilalloh Abu Hanifah Ar-Riyawi

Dibantu mengedit oleh:
Akhuhu Fillah Abu Fairuz Abdurrohman Al Jawiy
-semoga Alloh memaafkannya-

Darul Hadits Dammaj
-semoga Alloh menjaganya-
2


ijk
.Y|_ _._ .,t>.i_ .ii _._ &| ,. _. ,;.i|_ .;.i|_ & ..+|
.i._ ..,.

|..s _i .,.|_ &| Y| .i| Y| .,.i . :.., t.i


Dalam risalah ringkas ini
(1)
kami ingin mengungkap kedok hitam si
Dzul Akmal, yang selama ini selalu dia polesi dengan embel-embel
butut, sehingga tertipulah para makhluk yang lemah mauqifnya dalam
sunnah, lebih-lebih para murid yang hanya bermodal taqlid.
Selayaknya bagi para madu dan pendengar untuk meneliti setiap
ucapan ustadznya, lebih-lebih lagi jika si ustadz sedang berambisi dalam
arena tahdzir, perlu diteliti dalil yang dia kupas dan penerapannya
dalam kasus tertentu tersebut. Karena didapati dari kalangan para
ustadz sangat gencar untuk naik dalam arena tahdzir dan mengupas
kasus-kasus tertentu, tapi ternyata dia sendiri mengikuti toriqoh dari

(1)
Catatan Editor : Saudara kita yang mulia Abu Hanifah Hanif Ar Riyawiy meminta
ana untuk membantu memeriksa risalahnya yang bagus ini, dalam bab saling menolong di jalan
Alloh. Beliau telah ana anggap bagaikan saudara sendiri, dan ana berharap agar semua ikhwah
tidak merasa alergi dengan kehadiran ana di dalam risalah ini, karena yang terpenting adalah
kebenaran dan kejujuran, bukan pengelompokan berdasarkan wilayah atau ras atau yang
semisal dengan itu.
Tambahan dari ana di dalam catatan kaki akan ana awali dengan Tambahan editor atau
Komentar editor, atau Tanggapan editor atau semisal itu. Adapun yang lainnya merupakan
catatan dari sang penulis sendiri. Demikian pula faedah dari Abu Fairuz itu juga tulisan dari
sang penulis, yang mana beliau mengambilnya dari ucapan ana yang dilihatnya mencocoki
kebenaran. Jazahullohu khoiron.
3

kasus yang dia tahdzir
(2)
dengan cara halus dan mulus yang kemudian
dibentengi dengan sedikit kebenaran yang dia miliki sehingga kelihatan
bahwasanya dirinya tidak berkasus.
Di antara ustadz yang bertipe seperti ini adalah ABUL MUNDZIR
DZUL AKMAL yang telah memiliki madu cukup lumayan di wilayah kota
Perawang (Riau) yang tidak jauh jaraknya dari Pekan Baru (Riau) yang
dapat ditempuh sekitar dua jam perjalanan.
Kota Perawang ini banyak dihuni oleh Akmaliyyun (pembuntut
Dzul Akmal) dan juga Turotsiyyun (pengekor jamiyyah Ihyaut Turots).
Antara dua kelompok ini memiliki tipe yang sangat bertolak belakang.
(3)

Adapun Turotsiyyun tipe mereka sudah dikenal di kalangan ahlu
sunnah. Mereka adalah orang-orang yang bertipe ACC (asyik cuek-cuek)
yang maknanya cuek-cuek saja dengan mukholafatusy syar, yang
penting rukun dan tetap berteman, sama-sama menikmati nikmatnya
dunia, dan tidak perlu mengungkit mukholafah yang ada pada teman
(4)
.

(2)
Tambahan Editor : Alloh taala berfirman:
, - ' - ' -- , - -' - ; ~ - - ; - ~ - - ; - - ; - - - ' - - - ' - - ; - - - ) ,--- / 44 (
Apakah kalian memerintahkan manusia untuk berbuat kebajikan sementara kalian
melupakan diri kalian sendiri dalam keadaan kalian membaca Al Kitab? Maka mengapakah
kalian tidak memikirkan?
Al Mutawakkil Al Laitsiy berkata:
` -- = ' = - '- ' - - ... '= =-'= -'- ;- = =
Janganlah engkau melarang dari suatu akhlaq tapi engkau sendiri melakukannya. Itu jelek dan
perkaranya besar terhadapmu. (sebagaimana dalam Al Aqdul Farid/ 1/hal. 190).
(3)
Tambahan Editor : walaupun kedua kelompok ini juga memiliki kemiripan-kemiripan
dalam kebatilan, sebagaimana akan lewat pemaparannya dalam risalah ini.
(4)
Tambahan Editor : kami mengkhawatirkan bahwasanya mereka sedikit banyak terkena
ucapan Ibnu Aqil Al Hanbali --~ ~ : "Maka manakah aroma iman darimu sementara engkau
tidak berubah wajahmu lebih-lebih lagi untuk mau berbicara- dalam keadaan penyelisihan
terhadap Alloh subhanahu wa ta'ala dilakukan oleh keluarga dan tetangga. Terus-menerus
kedurhakaan pada Alloh azza wa jalla dan kekufuran bertambah, garis batas syariat dilanggar,
tapi tiada pengingkaran dan tidak ada orang yang mengingkari, dan tiada pula perpisahan diri
dari orang yang melanggar syariat. Dan ini adalah puncak dari kebekuan hati dan diamnya jiwa.
4

Karena itu kita dapati mereka berwala dengan siapa saja yang mau
berteman dengan mereka, dan baro dari orang-orang yang menyelisihi
mereka walaupun yang menyelisihi itu berada di atas sunnah.
Adapun Akmaliyyun mereka adalah orang yang sangat taashshub
(fanatik) dengan ustadznya, karena itu siapa saja yang tidak bergabung
dengan mereka, maka mereka memvonisnya sebagai hizbi atau yang
semisalnya tanpa melihat kondisi orang yang menyelisihi mereka
walaupun di atas sunnah. Sebab itu kita dapati mereka sangat konyol
dalam bersikap, memboikot siapa saja yang bukan dari golongan
mereka
(5)
, sebagaimana yang dialami oleh para ikhwah yang bermukim
di desa Mandi Angin
(6)
. Dan di sisi kami kehizbiyan Akmaliyyun tidaklah
jauh berbeda dengan Turotsiyyun, karena mereka juga melariskan
thoriqoh dakwahnya turotsiyyun, sehingga jika kita teliti kita akan
dapati dua kelompok ini hanya berbeda lebel saja, satu berlebel
turotsi dan yang satu lagi anti turotsi, tapi dalam arena dakwah

Dan tiada lagi tersisa iman dari dalam hati, karena kecemburuan adalah alamat cinta dan
keyakinan yang paling kecil." ("Al Adabusy Syar'iyyah" 1/hal. 178).
(5)
Ini merupakan salah satu ciri hizbiyyah yaitu wala' wal baro' yang sempit. Salah satu bukti
akan sikap mereka yang seperti ini adalah apa yang pernah dialami oleh pak Daham ketika
bertemu dengan salah satu dari mereka, mereka bercerita sebagaimana halnya seorang teman,
namun setelah itu ketika mereka bertemu kembali, setelah dia tahu bahwa pak Daham
bukanlah pembuntut Dzul Akmal, dia langsung boikot tanpa tawar menawar lagi.
(6)
Desa kecil yang tidak jauh dari kota perawang yang dapat ditempuh dalam waktu setengah
jam perjalanan. Di desa ini bermukim sebagian ikhwah salafiyyin yang tidak terlalu banyak
jumlahnya. Dan mereka jika bertemu dengan akmaliyyun di Perawang langsung saja diboikot
oleh Akmaliyyun, dengan hujjah karena ikhwah Mandi Angin adalah pengikut Abdul Ahad yang
telah divonis oleh Dzul Akmal sebagai sururi, dan di lain waktu divonis dengan khoriji tanpa
alasan yang benar melainkan hanya dusta ataupun dengan mengorek sampah yang telah
dibuang (kesalahan yang telah ditinggalkan). Kemudian para pembuntutnyapun mengikuti jejak
brutal ustadznya, memboikot siapa saja yang tidak gabung dengan mereka, dan mereka
berkeyakinan siapa yang tidak bergabung dengan mereka berarti bukan salafi dan berhak
diboikot!
5

keduanya saling cocok dalam toriqoh dakwahnya sebagaimana yang
akan kami jelaskan dengan taufiq dari Alloh.
Dzul Akmal menjadikan lebel anti turotsi ini sebagai senjata
pamungkas untuk mengelabui para pembuntut, dengan senjata inilah
dia menghabisi siapa saja yang tidak loyal dengannya.
Turotsiyyun sudah maruf di kalangan ahlu sunnah akan
kehizbiyan mereka, dan anti turotsi merupakan salah satu sikap ahlu
sunnah yang benar, akan tetapi lebel ini tidaklah cukup untuk
dijadikan modal untuk mengaku sebagai ahlu sunnah sampai benar-
benar mengikuti toriqoh para salaf dan tidak mewarisi toriqoh
hizbiyyin. Namun anehnya, di masa ini kita dapati orang yang mengaku
anti turotsi akan tetapi kita dapati dia sangat gemar dalam mewarisi
thoriqoh dan syubuhat mereka, kemudian mengaku bahwa dirinya
adalah salafi dan yang menyelisihinya adalah hizbi sururi!
(7)

Para pembaca yang mulia, silahkan anda menyimak penjelasan
kami berikut ini, sehingga anda dapat memahami akan samanya model
Dzul Akmal dengan model Turotsi Sururi.
(8)
Sebelumnya perlu diketahui
bahwa pembahasan ini kaitannya hanya dalam lingkup kota

(7)
Tambahan editor: Fadhilatus Syaikh Sholih Al Fauzan ~ -=-~ berkata: Maka yang terpandang
bukanlah individu-individu orangnya, akan tetapi yang terpandang adalah madzhabnya. Dan
yang terpandang adalah syubuhat yang masih ada. Dan setiap kaum itu punya pewaris.
(Ianatul Mustafid/1/hal. 94).
(8)
Tambahan editor: Al Imam Ibnul Qoyyim rohimahulloh- berkata: Adapun hukum-hukum
Alloh yang bersifat diniyyah syariyyah, maka semuanya adalah seperti itu, engkau
mendapatinya mencakup penyamaan di antara dua perkara yang saling menyerupai, dan
menggabungkan sesuatu dengan yang setara dengannya, serta menilai sesuatu dengan yang
semisal dengannya. (Ilamul Muwaqqiin/1/hal. 195).
6

Perawang
(9)
, sesuai dengan kenyataan yang kami saksikan dan alami,
mudah-mudahan tulisan ini dapat membuka wawasan mereka sehingga
mereka tidak lagi terkecoh dengan embel-embel butut si Dzul Akmal.
Para Sururiyyun Perawang, mereka dikenal sebagai pembuntut
organisasi Ubudiyah. Ubudiyah ini adalah markaz besar sururiyyun di
Pekan Baru. Dan Perawang merupakan lahan dakwah mereka, yang
sekarang dijadikan lahan basah si Abu Dawud Rimbo Melintang,
makhluk bodoh tapi bergaya bagaikan ustadz besar
(10)
. Dan perawang
juga merupakan lahan dakwah Dzul Akmal, karena itu kita dapati
mereka bermusuhan di Perawang seperti kucing dan tikus. Turotsiyyun
mereka ibarat tikus, karena mereka sangat takut jika bertemu dengan
Akmaliyyun
(11)
. Di sisi kami dua kubu ini sama kedudukannya, karena
itu mereka kami beri sikap yang sama, keduanya berhak untuk diboikot.
Berikut ini keterangan dari kami tentang sisi kesamaan antara dua
kubu ini:
1. YAYASAN (MUASSASAH/JAMIYYAT).

(9)
Tambahan editor: walaupun sekupnya amat terbatas, akan tetapi insya Alloh risalah ini amat
bermanfaat bagi seluruh ikhwah di Indonesia, maka ana berharap akan tersebarnya nasihat-
nasihat yang berharga ini, wabillahit taufiq.
(10)
Kami katakan bodoh karena memang demikian kenyataannya, makhluk ini tidak punya
kemampuan untuk membaca kitab dengan benar, akan tetapi hal ini tidak diketahui oleh para
muridnya, disebabkan para muridnya juga tidak tahu apa-apa, bagaimana tidak? Ustadznya saja
bodoh bagaimana lagi dengan kebanyakan muridnya? Bagi kami sangat aneh, karena
turotsiyyun perawang kebanyakan mereka adalah orang-orang yang memiliki wawasan, karena
mereka adalah orang-orang kantoran, namun anehnya kenapa mereka bisa menjadikan Abu
Dawud sebagai ustadz mereka, padahal bisa jadi Abu Dawud ini lebih bodoh dari mereka.
(11)
Kami tidak menyalahkan sikap mereka terhadap Turotsiyyun, bahkan kami katakan ini
merupakan ketegasan yang tepat, Demikianlah sikap kami terhadap mereka dan demikian pula
sikap kami terhadap Akmaliyyun karena kami melihat mereka memiliki jalur yang sama hanya
beda lebel saja.
7

Masalah ini masih ramai didengungkan oleh ahlu sunnah, karena
ternyata pembelanya juga tak terhitung jumlahnya
(12)
. Banyak orang
mengaku sebagai ahlu sunnah, tapi anehnya ketika disinggung tentang
yayasan mereka tidak terima
(13)
, padahal yayasan itu bukanlah dari
sunnah Rosul dan bukan pula sunnah Shohabat. Mungkin para pembaca
masih ada yang bertanya: apa sebenarnya hukum yayasan?, maka
berikut ini jawaban atas pertanyaan tersebut.
Sebagaimana yang dinyatakan oleh Syaikh kami Yahya bin Ali Al-
Hajury -== Yayasan hukumnya muhdats. Mungkin si pembaca
ada lagi yang bertanya lho gimana ko bisa dibilang muhdats, padahal
itukan sarana untuk memudahkan dakwah?. Maka berikut ini kami
hadiahkan buat pembaca jawaban atas pertanyaan tersebut.
Sebelumnya perlu diketahui kapankah suatu perkara itu bisa
dihukumi muhdats? Maka jawabnya adalah hadits Aisyah Rodhiallohu
Anha- :

(12)
Tambahan editor: Al Imam Ibnul Qoyyim --~ ~ berkata: Di manakah nilai banyak-
banyakan jumlah orang jika dibandingkan dengan banyak-banyakan dalil? Sungguh kami telah
menyebutkan sebagian dalil yang kalian tidak punya jawaban untuknya, padahal yang wajib
adalah mengikuti dalil di manapun dia berada, bersama siapapun dalil tadi berada. Dan itulah
yang diwajibkan oleh Alloh untuk kita mengikutinya, dan mengharomkan untuk menyelisihinya,
serta menjadikannya sebagai timbangan yang benar di antara para ulama. Maka barangsiapa
dalil tadi ada di sisinya, maka dia itulah orang yang paling beruntung dengan kebenaran,
sama saja apakah orang yang mencocokinya itu sedikit ataukah banyak. (Al Furusiyyah/hal.
298).
(13)
Tentu Dzul Akmal akan berceloteh "lagi-lagi yayasan yang disebut-sebut". Maka jawab kami
"bagaimana tidak, sudah sering disebut saja kamu masih pura-pura tidak faham, dan hingga
sekarang ini kamu tidak mampu mendatangkan dalil untuk mendukung bualanmu akan
bolehnya yayasan, dan hingga sekarang ini kamu tidak dapat membuktikan akan adanya toriqoh
ini di zaman salaf. Wahai Dzul Akmal! Sekarang bukan zamannya mengelabui manusia.
Buktikanlah ucapanmu itu dengan dalil. Jika tidak, maka cukuplah itu sebagai bukti akan
bualanmu.
8


Barangsiapa yang membuat perkara baru dalam agama ini maka dia
itu tertolak. (Muttafaqun alaih).
` `
Barangsiapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak ada
perintah dari kami maka amalan itu tertolak. (HR. Muslim)
Semua pasti mengakui bahwa yayasan ini tidak ada contohnya
dari Rosululloh, tidak pula dilakukan oleh para sahabat dan tidak pula
para tabiin, dan tidak pula para ulama mutaqoddimin, sedangkan
yayasan di masa ini dijadikan sebagai toriqoh dakwah. Lalu dari mana
yayasan ini muncul?! Sedangkan para salaf tidak pernah mengenalnya
padahal mereka adalah orang yang paling tahu tentang toriqoh dakwah
yang benar.
Jika ada yang berkata yayasan hanya sekedar wasilah dakwah.
Maka kami katakana: wasilah dakwah adalah tauqifiyyah (bergantung
kepada dalil), sebagaimana dakwah itu tauqifiyyah, sebagaimana yang
dijelaskan oleh Syaikh Abdus Salam bin Barjas dalam kitabnya Al-
Hujajul Qowiyyah hal.37 hingga akhir pembahasan.
Jika telah kita ketahui bahwasanya wasilah dakwah adalah
tauqifiyyah, maka semua wasilah dakwah yang tidak tegak di atas dalil
maka hukumnya adalah bidah. Sebagaimana halnya ibadah adalah
tauqifiyyah, maka semua ibadah yang tidak tegak di atas dalil adalah
bidah. Dan tidak ada dalil satupun yang bisa mereka utarakan untuk
menunjukkan adanya yayasan di zaman salaf. Kalau dikatakan
9

tauqifiyyah berarti harus ada nukilan bahwa yayasan itu dilakukan oleh
para salaf, dan tidak seorangpun yang mampu menunjukkan dalil akan
adanya penggunaan yayasan atau yang semisalnya di zaman salaf.
Perlu diketahui bahwa pembahasan tentang wasilah adalah
masuk dalam pembahasan masholihul mursalah. Masalah masholihul
mursalah diperselisihkan oleh ahlul usul, ada yang membolehkan secara
mutlaq, ada yang tidak membolehkan secara mutlaq, dan ada yang
membolehkan dengan syarat tertentu
(14)
.
Berkata Syaikhul islam Ibnu Taimiyah --= dalam kitab
Majmu'ul Fatawa 11/344:


Artinya: Dan pendapat akan adanya masholihul mursalah adalah
membuat syariat dalam agama yang tidak diidzinkan Alloh dan ini
dari sebagian segi menyerupai masalah istihsan (menganggap-anggap
baik dalam perkara syar'i tanpa dalil) dan anggapan-anggapan baik
menurut akal dan yang sejenisnya.
Masalah ini adalah masalah yang berbahaya, perlu perincian yang
jelas, yang sesuai dengan ketentuan para ulama', karena dari sinilah
kesempatan ahlul bid'ah berdalil untuk membela bid'ah mereka. Intinya
masholihil mursalah yang dibenarkan dalam syariat kembali kepada
dalil. Sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikh Abdussalam bin Barjas
dalam kitabnya Alhujajul Qowiyah halaman 41:

(14)
Lihat kitab al-I'tishom milik Asy-syatibi
10



Artinya: Dan ini tidak mengharuskan untuk mengingkari adanya
masholihul mursalah bahkan masholihul mursalah adalah benar tetapi
tidaklah kembali kepada masholihul mursalah kecuali jika terpenuhi
ketentuan-ketentuan yang dijelaskan oleh ulama', dan apabila
seseorang yang membahas berpegang dengan ketentuan-ketentuan ini
maka dia akan melihat bahwa masholihul mursalah itu kembali kepada
dalil syar'i.
Masholihul mursalah tidak bisa masuk dalam masalah ta'abbudiah
atau tauqifiyyah. Sedangkan dakwah adalah tauqifiyah. Dengan
demikian maka wasilah dakwah juga tauqifiyyah. Dan jika dikatakan
wasilah dakwah adalah ijtihadiyah (kembali kepada pendapat yang
berdasarkan ijtihad seorang mujtahid) maka ini akan membuka celah
bagi ahlul bid'ah untuk melariskan bid'ahnya, sebagaimana yang
dijelaskan oleh Syaikh Abdussalam bin Barjas
(15)
. Dengan demikian
ucapan mereka bahwa yayasan adalah wasilah dakwah adalah ucapan
batil, karena tidak ada dalil dari alquran ataupun sunnah yang
mendukungnya. Sedangkan wasilah dakwah harus berdasarkan dalil!
Dari sini kita bisa mengetahui bahwa yayasan adalah bid'ah,
karena wasilah dalam perkara tauqifiyyah jika dilakukan tanpa dalil
maka itu adalah bid'ah. Seperti masuk dalam parlement dengan tujuan
sebagai wasilah untuk berdakwah
(16)
. Lebih jelas lagi perkataan para
ulama' "semua perkara yang tuntutannya itu ada pada zaman

(15)
Dalam kitabnya Al Hujajul Qowiyyah
(16)
Lihat kitab Al Hujajul Qowiyyah
11

Rosululloh tetapi tidak mereka kerjakan maka itu adalah
bid'ah/bukan maslahat"
(17)
. Yayasan adalah cara untuk memudahkan
dakwah
(18)
, dan memudahkan untuk bisa mendapatkan bantuan atau
sebagai wasilah. Semua perkara ini tuntutannya ada pada zaman
Rosululloh bahkan tuntutan itu lebih besar pada zamannya, karena
banyaknya kesulitan yang dialami oleh Rosululloh . Dan para sahabat
lebih-lebih ashabus suffah mereka adalah orang-orang yang sangat
membutuhkan dana, pakain dan tempat tinggal. Tapi tidak pernah
Rosululloh membuat cara-cara seperti ini sebagai wasilah untuk
memudahkan dakwah padahal tuntutan itu pada zamannya lebih besar.
Maka ini sebagai bukti bahwa yayasan itu muhdats!
Rosululloh adalah orang yang paling tahu tentang maslahat
dakwah, maka apa yang dicontohkan oleh Rosululloh itu adalah
perkara yang paling baik bagi ummat ini. Begitu pula dengan para salaf,
mereka lebih tahu tentang toriqoh dakwah dan maslahatnya, tetapi
mereka tidak pernah mencontohkan cara-cara seperti ini yang
menyelisihi dakwah Rosululloh .
Perkara yang kita anggap sebagai maslahat dakwah akan tetapi
perkara itu tidak dikerjakan oleh Rosululloh tidak pula para salaf
maka pada hakekatnya itu adalah bukan maslahat dakwah walaupun
dalam anggapan kita itu merupakan maslahat dakwah. Berkata
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah --= dalam Majmu' Fatawa 11/344-
345:

(17)
Lihat Al-I'tishom dan Iqtidho'ush Shirotil Mustaqim
(18)
Dalam istilah mereka, tapi pada hakekatnya mempersulit dakwah
12

,
,
. ,
Artinya: Akan tetapi apa yang diyakini oleh akal bahwa itu adalah
maslahat, dan jika tidak ada keterangan tentang maslahat itu dari
syariat, maka dia harus mendapatkan salah satu dari dua keharusan,
yaitu: bisa jadi ada keterangan dari syariat dalam bentuk yang tidak
diketahui oleh orang ini atau pada hakekatnya itu bukan maslahat
meskipun dia meyakini bahwa itu adalah maslahat, karena maslahat
adalah manfaat yang benar-benar terwujud atau kebanyakannya
terhasilkan, dan sering sekali manusia salah memahami bahwa sesuatu
itu dia anggap memberi manfaat pada agama dan dunia padahal
mudaratnya itu lebih banyak dari pada maslahat yang dia anggap.
Dan dalam Majmu' Fatawa 11/624 beliau --= berkata:
,
, ,
.
Artinya: Dan seperti ini apa yang dipandang oleh manusia dari amalan-
amalan yang mendekatkan kepada Alloh sedangkan Alloh dan Rosul-
Nya tidak pernah mensyari'atkannya, maka pasti mudaratnya itu lebih
besar dari pada manfaatnya, karena kalau seandainya manfaatnya itu
lebih besar mengalahkan mudaratnya tidak mungkin Alloh menyia-
nyiakan manfaat itu, sesungguhnya Rosululloh adalah hakim
(meletakkan sesuatu pada tempatnya) tidak mungkin membiarkan
13

maslahat agama dan tidaklah luput dari kaum mukminin perkara yang
mendekatkan mereka kepada Robbul alamin.
Apakah toriqoh para salaf masih belum sempurna sehingga harus
membuat metode baru?! Berkata Syaikh Abdussalam bin Barjas setelah
menyebutkan perkataan syaikhul islam ini:
- - ,
: ,


Artinya: Dan apabila perkaranya seperti itu dan memang seperti itu-
kenapa mereka masih bersandar kepada wasilah-wasilah yang tidak
pernah ada pada syariat, padahal apa yang ada pada syariat itu sudah
mencukupi untuk mendapatkan hasil yang maksimal dari dakwah
kepada Alloh yaitu membuat taubat para pelaku dosa dan memberi
petunjuk kepada orang-orang yang sesat. Maka hendaklah mencukupi
para da'i apa-apa yang mencukupi para sahabat Rosululloh pada
wasilah-wasilah itu sesungguhnya mereka semoga Alloh meridhoi
mereka- datang dan bangkit dari ilmu
(19)
.
Berbagai macam alasan mereka buat untuk membela yayasan,
dengan tujuan agar selamat dari kritikan. Di antara alasan mereka yang
lain adalah:
a. Dalam rangka mentaati pemerintah

(19)
Al Hujajul Qowiyyah halaman 43.
14

Maka kami katakan pemerintah tidak pernah membuat peraturan
akan wajibnya yayasan bagi siapa yang akan berdakwah. Kalau memang
ada sebutkan di undang-undang mana dan nomor berapa! Yayasan ini
hanya sekedar program dari pemerintah dalam masalah pendidikan,
agar pendidikan tersebut diakui oleh pemerintah sehingga bisa
dikeluarkan ijazah dan digunakan untuk mencari kenikmatan dunia.
Inilah program pemerintah tentang masalah yayasan. Karena itu SDIT
tidak bisa tegak tanpa adanya yayasan. Benar,mentaati pemerintah
adalah wajib berdasarkan firman Alloh dalam surat An-Nisa' ayat 59:
` ` ` ` ` ' ` ' `
` ` ` ` `

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan
taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kalian. Kemudian jika
kalian berlainan pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia
kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kalian benar-
benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu
lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.
Dan Rosululloh bersabda sebagaimana yang diriwayatkan Imam
Al-Bukhori --= dari hadits Anas bin Malik :

Artinya: Mendengar dan taatlah kalian (pada penguasa)
walaupun yang berkuasa atas kalian adalah seorang budak habasyi
seakan-akan kepalanya itu kismis."
Dan hadits Abu Huroiroh bahwa Rosululloh bersabda:
15



Artinya: Barang siapa yang mentaatiku maka dia mentaati
Alloh dan barang siapa yang memaksiati aku maka dia memaksiati
Alloh dan barang siapa yang mentaati penguasa maka dia
mentaatiku dan barang siapa yang memaksiati penguasa maka dia
memaksiati aku. (HR. Bukhori Muslim).
Namun perlu difahami, bahwa mentaati penguasa adalah dengan
syarat selama mereka tidak memerintahkan kepada kemaksiatan.
Karena itu Alloh tidak mengulang lafadh ,= ketika
memerintahkan untuk mentaati ulil amri (penguasa), karena mentaati
mereka mengikut kepada ketaatan kepada Alloh dan Rosul-Nya,
sebagaimana yang dijelaskan oleh Syaikh As-Sa'di --= dalam
tafsirnya.
Rosululloh bersabda sebagaimana yang diriwayatkan Imam
Bukhori dan Muslim '-,-= dari hadits Abdulloh bin Umar :
.
Artinya: Wajib bagi seorang muslim untuk mendengar dan taat
pada perkara yang dia sukai ataupun yang dia benci selama tidak
diperintahkan untuk bermaksiat, dan jika diperintahkan untuk
bermaksiat maka tidak ada ketaatan.
Dan Rosululloh bersabda sebagaimana yang diriwayatkan Imam
Muslim dan An-Nasa'i '-,-= dari hadits Ali bin Abi Tholib :

16

Artinya: Tidak ada ketaatan dalam memaksiati Alloh
sesungguhnya ketaatan itu hanya pada kebaikan.
Seandainya benar bahwa pemerintah mewajibkan untuk
beryayasan bagi siapa yang akan berdakwah, tentu saja mentaati
mereka dalam perkara ini tidak boleh, karena yayasan itu muhdats, dan
mentaati mereka berarti mentaati dalam kemaksiatan. Kecuali jika
memang tidak bisa berdakwah sama sekali kecuali dengan itu, maka ini
masalah lain
(20)
. Tapi ini sesuatu yang tidak mungkin. Karena berdakwah
bisa dengan mengajar Al Quran atau memberikan nasehat kepada
temannya atau yang lainnya, dan tidak harus mendirikan pondok.
Apakah yang seperti ini tidak bisa dilakukan kecuali dengan yayasan?!
Alloh berfirman:

Katakanlah (wahai Rosululloh): Datangkan hujjah kalian jika
kalian orang-orang yang jujur.
b. Kaedah
Arti dari kaedah ini adalah: sesuatu yang tidak sempurna
kewajiban kecuali dengan sesuatu itu, maka sesuatu itu hukumnya
wajib.

(20)
Berarti kita telah lepas kewajiban, karena kita cuma diwajibnya dakwah sesuai dengan
kemampuan. Jika pemerintah telah menghalangi misalkan- berarti dia yang pikul dosanya, dan
kita punya hujjah di sisi Alloh . Dan lagi : memangnya dakwah itu hanya jalan lewat pondok
saja? Sampai bahkan jika dakwah dari mulut ke mulut atau tulisanpun dihalangi, kita bisa hijrah
ke tempat lain tanpa harus membikin dosa dan menghalalkan segala cara dengan alasan "DEMI
DAKWAH", contohlah Rosul dan para salaf yang kita mengaku mengikuti mereka. (faedah dari
Abu Fairuz).
17

Dengan bertabirkan kaidah di atas berkatalah sebagian orang:
Berdakwah adalah wajib, dan tidak bisa berdakwah kecuali dengan
yayasan, maka yayasan hukumnya wajib.
Subhanalloh! Berani sekali menggunakan kaedah untuk membela
kebatilan. Kaedah ini adalah kaedah yang sangat agung, terbangun di
atasnya hukum-hukum syar'i. Maka kami katakan: penggunaan kaedah
ini salah dari dua segi, yang pertama: kaedah ini berlaku untuk sarana-
sarana yang mubah. Adapun perkara yang sudah punya hukum haram
maka tidak masuk dalam kaedah ini. Sedangkan yayasan hukumnya
adalah harom, maka tidak mungkin hukumnya berubah menjadi wajib
tanpa terjadinya kondisi darurat yang terpandang dalam syariat.
Seandainya perkara yang harom bisa dimasukkan dalam kaedah ini
maka semua yang harom bisa jadi wajib, dan itu mustahil
(21)
.
Seandainya orang yang berhujjah dengan kaedah ini meyakini
bahwa yayasan hukumnya adalah mubah (boleh) maka dia tetap
terbantah dengan segi yang kedua yaitu: Kaedah tadi digunakan jika
kewajiban tidak bisa terlaksana kecuali dengan sesuatu itu, maka
sesuatu itu hukumnya berubah menjadi wajib. Sedangkan kewajiban
dakwah bisa terlaksana tanpa yayasan, maka yayasan tidak bisa
berubah hukumnya menjadi wajib.
Ringkasnya: penggunaan mereka kaedah ini adalah salah dari
segala segi, dan yayasan hukumnya tidak akan bisa menjadi wajib.
Bahkan masalah ini lebih sesuai dengan kaedah:

(21)
Kecuali dalam kondisi darurat. Dan kondisi darurat itu ditimbang sesuai dengan kadarnya.
(faedah dari Abu Fairuz).

18


Sesuatu yang tidak bisa keharoman itu ditinggalkan kecuali dengan
meninggalkan sesuatu itu maka meninggalkan sesuatu itu hukumnya
wajib.
Kesesuaian kaedah ini dengan masalah yayasan adalah dari segi
yayasan itu digunakan untuk tasawwul, sedangkan tasawwul hukumnya
harom. Dan tasawwul yang mereka lakukan ini tidak bisa mereka
tinggalkan kecuali dengan meninggalkan yayasan maka meninggalkan
yayasan itu hukumnya wajib
(22)
. Dan jika masalah ini tidak masuk dalam
kaedah ini, dengan alasan tasawwul bisa ditinggalkan tanpa harus
meninggalkan yayasan -dan itu hanya teori dan kedustaan saja-, maka
tetap masuk dalam bab saddu dzaro'i'il muharromat (menutup celah
yang menghantarkan kepada keharoman). Hampir seluruh yayasan
tidak selamat dari tasawwul
(23)
itupun kalau benar sebagiannya
selamat dari tasawwul- dan seandainyapun selamat dari tasawwul
maka tidak selamat dari penyimpangan yang lain, seperti struktur
organisasi yang ada di dalamnya. Maka meninggalkan yayasan

Tambahan editor: Ibnu Najim ~ --~ berkata:
'- _-- ,~-- --- '---
Perkara yang diperbolehkan karena darurat diukur sesuai dengan kadarnya. (Al Asybah Wan
Nazhoir/1/hal. 86).

(22)
Tambahan editor: pernyataan ini sekilas sepertinya aneh, akan tetapi dengan penelitian
yang lebih mendalam, akan tampak jelas sisi pendalilannya. Yang berminat silakan membaca
beberapa kitab seperti Al Bahrul Muhith karya Az Zarkasyiy (1/hal. 305).
(23)
Dan hukum itu dibangun di atas perkara yang dominan. (faedah dari Abu Fairuz).

19

hukumnya wajib agar tidak terjerumus dalam keharoman (saddu
dzaro'i'il muharromat). Ini jika kita katakan yayasan hukumnya mubah.
Apalagi kalau kita katakan hukumnya harom maka jelas harus
ditinggalkan tanpa banyak alasan. Maka tidak ada alasan lagi untuk
tetap beryayasan!
Kalian memahami kaedah:

Sebagai dalil bolehnya yayasan. Berarti kalian berkeyakinan bahwa
dakwah itu tidak sempurna kecuali dengan yayasan. Berarti kalian
menuduh Rosululloh dan seluruh para salaf tidak sempurna
dakwahnya, secara tidak langsung.
(24)

Yayasan merupakan toriqoh orang-orang kafir yang kemudian
dimasukkan ke dalam islam dengan bantuan mereka, yang kemudian
diwarisi oleh hizbiyyin, silahkan melihat kitab At-Tajliyah Liamarootil
Hizbiyyah karya Abu Fairuz Al-Jawi pada point ke 4 hal.22.
Demikianlah kenyataannya, yayasan ini dilariskan oleh para
hizbiyyin sururiyyin yang tujuan utamanya adalah untuk mereguk dana
bantuan yang dapat menyenangkan kehidupan dunia mereka. Karena
itu kita dapati Turotsiyyun pondok-pondok mereka tidak lepas dari
yayasan, disebabkan karena hal itu merupakan modal besar untuk bisa
menurunkan dana dari Ihyaut Turots.

Tambahan editor: Al Imam Ibnul Qoyyim ~ --~ berkata: Hukum-hukum itu hanyalah untuk
perkara yang dominan dan banyak, sementara perkara yang jarang itu dihukumi tidak ada.
(Zadul Maad/5/hal. 374).

(24)
Faedah dari Abu Fairuz
20

Kemudian datanglah pahlawan yang sedang mengigau
(25)
(Dzul
Akmal), lagaknya mentahdzir mereka, tapi ternyata dia mewarisi
toriqoh mereka dengan mendirikan yayasan yang intinya juga
digunakan sebagai media tasawwul seperti mereka. Lalu apa bedanya
kamu sama mereka wahai pak Dzul!! Sama-sama punya yayasan saja
ko tahdzir-tahdziran segala. Alasan kalian dalam mendirikan yayasan
juga sama dengan alasannya mereka.
Tidakkah cukup bagi kalian thoriqoh yang telah diajarkan
Rosululloh dan para sahabat dan tabi'in dan para a'immah, yang akan
membawa keberkahan dan keselamatan di dunia dan akhirat. Dan
tentunya thoriqoh mereka lebih mudah dan paling mudah dan paling
baik dibanding thoriqoh yayasan bid'ah kalian yang pada hakekatnya
telah menyulitkan
(26)
dakwah walaupun dalam anggapan kalian
memudahkan dakwah
(27)
. Renungilah perkataan Ibnu mas'ud :

"Bersedang-sedang di dalam sunnah itu lebih baik daripada
bersungguh-sungguh di dalam bid'ah "
(28)


(25)
Kami katakan mengigau karena Dzul Akmal seperti orang yang mengigau dalam tahdzirnya,
mentahdzir tapi tidak sadar dia juga ternyata mengikuti toriqoh mereka.
(26)
Tentunya menyulitkan, karena untuk mendirikan yayasan butuh usaha dan dana, setelah
berhasil nanti para santri ketika ingin belajar harus membayar uang pendaftaran, bangunan dan
semisalnya yang akhirnya orang miskin tidak dapat belajar, selain itu mereka harus menyusun
proposal untuk mengemis yang akhirnya dalam benaknya hanya memikirkan dana. Berbeda
dengan thoriqoh Rosululloh , berdakwah apa adanya, miskin dan kaya semua bisa belajar,
tidak pernah mensyaratkan bagi para sahabat yang ingin belajar untuk membayar uang
pendaftaran dan yang lainnya.
(27)
Bukan memudahkan dakwah, akan tetapi memudahkan untuk mengemis.
(28)
Sohih. Atsar ini diriwayatkan melalui jalannya Al-A'masy dan diperselisihkan padanya:
-Imam Al-Lalika'i dalam Syarah Ushul I'tiqod Ahlus sunnah waljama'ah no.13 meriwayatkan
melalui jalan Abu Syihab dan Iman Al-Marruzi dalam kitabnya As-Sunnah meriwayatkannya
21

Dan ucapan Az-Zuhri --=:

"Berpegang dengan sunnah adalah keselamatan"
(29)


melalui jalan Abu Mu'awiyah keduanya (Abu Syihab dan Abu Mu'awiyah) meriwayatkan melalui
Al- A'masy dari 'Umaroh dari Abdurrohman bin yazid dari Abdulloh bin mas'ud. Abu Syihab
adalah Abdu Robbihi bin Nafi' Al-Kanani dikatakan oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar "soduq yahim",
maka haditsnya hasan jika tidak menyelisihi. Dan dalam periwayatan atsar ini dia menyelisihi,
akan tetapi dia tidak bersendirian dalam periwayatannya, bahkan diikuti (mutaba'ah) oleh Abu
Mu'awiyah sebagaimana yang telah kami sebutkan, dan namanya adalah Muhammad bin
Khozim Adh-Dhorir Al-Kufy tsiqoh sebagaimana dalam At-Tahdzib. Dan Umaroh adalah bin
Umair At-Tamimi Al-Kufi Tsiqoh sebagaimana dalam At-Tahdzib. Dan Abdur Rohman bin
Yazid adalah bin Qois An-Nakho'I Abu Bakr Tsiqoh sebagaiman dalam At-Tahdzib.
-Ibnu Batthoh dalam kitabnya Al-Ibanah no.220 meriwayatkannya melalui jalan Rouh bin
Musafir dari Al-A'masy dari Malik bin Al-Harits dari Abdurrohman bin Yazid dari Ibnu Mas'ud .
Dan Malik bin Harits As-Sulami Tsiqoh sebagaimana dalam At-Tahdzib. Dan Rouh bin Musafir
diikuti (mutaba'ah) oleh Sufyan Atsauri dalam periwayatannya dari Al-A'masy dari Malik bin
Harits.
Kesimpulan : Perselisihan hanya dalam sanad mana yang benar, apakah dari jalan Umaroh atau
Malik bin Harits, tidak merusak kesohihan atsar ini. Imam Daruquthni telah ditanya tentang
kebenaran sanad ini beliau menjawab: "Kedua pendapat (sanad) ini sohih Wollohu A'lam,
sebagaimana dalam Al-Ilal no 927.
Menguatkan kebenaran pendapat imam Daru Quthni periwayatan Imam Ahmad maqrunan
(beriringan dari Umaroh dan Malik bin Harits) sebagaimana dalam kitabnya Az-Zuhd no. 879
dari jalan Abu Mu'awiyah dari Al-A'masy dari Umaroh dan Malik bin Harits. Dan Abu Mu'awiyah
dalam periwayatannya secara maqrun diikuti oleh 'Isa bin Yunus sebagaimana dalam Sunan
Ad-Darimi no.217 dan Ibnu Numair sebagaimana dalam Al-Ibanah karya Ibnu Batthoh no.
209.
(29)
Diriwayatkan Imam Al-Lalikai dalam kitabnya Syarah ushul Itiqod Ahlu Sunnah no.15
melalui jalan Yunus bin Yazid dari Az-Zuhri. Dan riwayatnya yunus dari Zuhri waham qolil (ada
sedikit kekeliruan) sebagaimana yang dikatakan Al-Hafidz dalam Taqrib. Dan Yunus diikuti
(mutabaah) oleh Al-Auzai dari Az-Zuhri, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Al-Lalikai dalam
Syarah Usul Itiqod no.135 dan Ibnu Batthoh dalam Al-Ibanah no.166 dan Abu Nuaim
dalam Al-Hilyah 3/369 dan Adz-Dzahabi dalam Tarikh Islam 2/451. Dengan lafazh:
:
22

2.TASAWWUL ALIAS MENGEMIS
Mungkin akan ada yang bertanya: masa sih Dzul Akmal
Tasawwul?, apakah para pembaca masih tidak percaya? Ini kami
hadiahkan buat kalian pernyataan para saksi dari para muridnya:
1. Abdul Qodir berkata Aku mendengar Dzul Akmal pernah berkata:
"Ya Ikhwah, jangan kalian pelit terhadap yayasan ini. kalau kalian
pelit terus seperti ini, nggak jadi-jadi masjid kita itu nanti. Haa,
Fulan, berapa kamu mau nyumbang? Ayo cepat !Haa, Abu Fulan,
antum nyumbang berapa?".
(30)


Dan riwayat Al-Auzai dari Az-Zuhri ada sisi kelemahan (dhoif) sebagaimana yang dijelaskan
Ibnu Rojab dalam kitabnya Syarah Ilal Tirmidzi hal.191 cetakan darul kutub.
Dengan dua jalan Dhoif ini maka atsar terangkat menjadi hasan insyaalloh, Allohu Alam.
Atsar ini juga datang dari Ibnu Syihab sebagaimana yang diriwayatkan Al-Lalikai no.136 dengan
lafazh:
.
Dalam sanad terdapat seorang rowi bernama Abdulloh bin Sholeh Abu Sholeh katibul laits
dhoif.
Dan atsar ini juga datang dari Abul Aliyah disebutkan Imam Al-Barbahari dalam kitabnya As-
Sunnah no.128 tanpa sanad. Dan kami tidak mendapatkan sanad atsar ini dari Abul Aliyah
Allohu Alam bisshowab.
Tambahan editor: Ibnu Najim ~ --~ berkata:
'- _-- ,~-- --- '---
Perkara yang diperbolehkan karena darurat diukur sesuai dengan kadarnya. (Al Asybah Wan
Nazhoir/1/hal. 86).

(30)
Tambahan editor: orang jika di hatinya memang tak ada lagi rasa malu, dia akan berbuat
apa saja, sebagaimana yang disabdakan Rosululloh ;'- --'= ~ _'-.
23

2. Sholeh Al-Batubarawi semoga Alloh meramatinya- berkata kepada
Abdul Qodir: "Dulu ketika saya duduk di ta'limnya, dia berkata :"Ya
ikhwah, kalian jangan pelit di dalam agama ini, di dalam kebaikan
ini Haa, Fulan !kamu mau keluarkan berapa dari sakumu? Dan
kamu, Allan !Kamu mau infaq berapa!? Dan kamu juga ! Kalau
tidak, aku tidak akan ridho
(31)
mengajari kalian sekarang ini. Udah,
pergi kalian kalau memang kalian pelit!".
3. Aku (Abdul Qodir) mendengar ibu saya berkata : "Ketika kami ta'lim
dengan Ustadz Dzul Akmal, dia berkata :"Yaa Akhowat, apa-apaan
kalian ini. Kalau kalian terus -terusan pelit seperti ini, aku akan
tutup TN ini. Pergi saja kalian dari sini ".
4. Saya (Abdul Qodir) menyaksikan sendiri markiz ustadz ini disebar di
dalamnya kotak-kotak infaq dan juga di luar markiz.
5. Dia juga menyuruh panitia pondok untuk mengirim proposal ke
ikhwan-ikhwan yang kaya.
6. Dulu panitia pondoknya menyebar kotak-kotak infaq ketika sedang
muhadhoroh seorang syaikh yang bernama Muhammad Romzan
lewat telpon.
7. Ini SMS Abdulloh cawas kepada Dzakwan Al-Maidani : "sekarang
ana diceritakan Sumardi bahwa para ikhwan dimintai dana untuk
perbaikan radio yang terkena petir. dananya +_30 juta.
Wahai Dzul Akmal, di mana akalmu?!, apakah kamu sedang mengigau
ketika kamu tahdzir mereka? kalau kamu sadar, lalu apa tujuanmu
tahdzir mereka padahal kamu sendiri juga tasawwul seperti mereka,

(31)
Berarti kau mengajar bukan untuk mencari keridhoan Alloh , ridho mengajar kalau ada
duit. Lebih parahnya kau jadikan agama sebagai embel-embel untuk bisa dapat duit!! Jangan
kau jual agamamu dengan mengikuti rayuan syetan untuk mendapatkan sedikit dari
kenikmatan dunia!!
24

apakah kamu tahdzir mereka hanya dikarenakan mereka minta ke At-
Turots dan kemudian kamu anggap itu sudah cukup?
Kalau kamu mengatakan: Mereka kan tasawwul ke yayasan
hizbiyah dan aku tidak. Maka kami katakan Apakah semua orang yang
kamu mintai itu adalah salafi semua? Seandainya salafi semua apakah
kemudian boleh mengemis pada salafi dan tidak boleh mengemis pada
hizbi?!, lalu kamu kemanakan dalil-dalil ini :
Hadits Ibnu Umar :

. . .
.
Artinya: Berkata Rosululloh senantiasa seseorang meminta-
minta kepada manusia hingga datang pada hari kiamat dan di
wajahnya tidak ada sepotong daging. (HR. Bukhori dan Muslim).
Dan dalam riwayat Muslim: Senantiasa sifat meminta-minta ada
pada diri kalian hingga menemui Alloh dan di wajahnya tidak ada
sepotong daging.
Berkata Syaikh Ibnu Ustaimin --= dalam kitabnya Riyadhu
assholihin:
.
.....
Artinya: ini adalah ancaman yang keras yang menunjukkan akan
haramnya banyak meminta-minta, karena inilah ulama' mengatakan:
Tidak halal bagi seseorang untuk meminta-minta sesuatu apapun
25

kecuali dalam keadaan darurat (sangat terpaksa), jika seseorang sangat
terpaksa maka tidak mengapa untuk meminta.
Dan hadits Abu Huroiroh :
. .
Artinya: Berkata Rasululloh: Barang siapa yang meminta-
minta kepada manusia untuk memperbanyak (harta) maka
sesungguhnya dia meminta bara api, maka persedikitlah atau
perbanyaklah. (H.R Imam Muslim No 1041).
Berkata syaikh Ibnu Utsaimin --= dalam kitab Riyadhu
assholihin:
,
,
.
Artinya: Yakni barang siapa meminta kepada manusia harta
mereka, untuk memperbanyak hartanya maka sesungguhnya dia
meminta bara api maka persedikitlah atau perbanyaklah, jika
memperbanyak maka bertambah bara api atasnya, dan jika
mempersedikit maka berkurang bara api atasnya, dan jika dia
tinggalkan maka selamat dari bara api. Dan pada (hadits) ini terdapat
dalil bahwa meminta-minta kepada manusia tanpa ada kebutuhan
(mendesak) termasuk dari dosa besar.
Berkata Syaikhul islam --= :
26

' '
, ,
, ,
. .
Artinya: adapun "meminta" maka sikap para sahabat adalah
sebagaimana didikan Nabi yang mana beliau mengharamkannya bagi
orang yang punya kecukupan dan beliau membolehkan seseorang
untuk meminta haqnya, seperti meminta kepada penguasa agar
memberikan haqnya dari harta Allah (baitul mal), atau kalau
memang harus meminta maka boleh meminta kepada orang-orang
soleh yang punya kelapangan jika memang sangat membutuhkan, dan
beliau melarang secara mutlaq para sahabat pilihan untuk meminta,
sampai-sampai cambuknya jatuh dari tangannya dan dia tidak mau
mengatakan "tolong ambilkan cambuk itu". (Majmu' Fatawa 11/45,
dan lihat kalam beliau --= dalam masalah ini pada 1/78 dan
10/182).
Dan jika ada yang bertanya apa yang dimaksud dengan punya
kecukupan dalam perkataan Syaikhul islam tadi, maka jawabnya adalah
apa yang diriwayatkan dari hadits Sahl ibnu handzholah Al-Anshory ,
dan dalam hadits ini terdapat perkataan Rosululloh :
.
Artinya: Sesungguhnya barangsiapa yang meminta sedangkan
dia punya sesuatu yang mencukupinya maka dia hanya
memperbanyak api neraka jahannam. Mereka para sahabat berkata:
Wahai Rosululloh apakah sesuatu yang mencukupinya itu? Rosululloh
27

menjawab: Punya sesuatu untuk makan pagi atau petang. (HR.
Imam Ahmad. disohihkan Imam Al-Wadi'iy --= dalam Jami'ush
Shohih).
Bukalah matamu wahai Akmal, hadits-hadits ini tidak membeda-
bedakan salafi atau hizbi, lalu dari mana kamu dapatkan dalil untuk
membeda-bedakan, ataukah kamu meyakini bolehnya tasawwul?
(32)
,
kalau demikian berarti kamu memang lebih dungu dari pada himar alias
keledai. Kalau kamu meyakini bolehnya tasawwul mau kamu
kemanakan hadits-hadits tadi? Sedangkan Rosululloh sampai
membimbing sebagian sahabat yang dekat dengan beliau untuk tidak
minta bantuan orang lain dalam hal yang dia mampu untuk
melakukannya sendiri, padahal itu tidak termasuk dalam kategori
tasawwul, itupun dibimbing oleh Rosululloh agar tidak
melakukannya, sebagaimana dalam hadits Auf bin Malik :


"Dan janganlah kalian meminta kepada manusia sedikitpun
Dan sungguh aku telah melihat sebagian mereka jatuh pecut salah
seorang dari mereka dan dia tidak meminta kepada seorangpun untuk
mengambilkannya untuknya". (HR. Muslim).


(32)
Demikianlah kenyataannya, memang kelihatannya pak Dzul ini masih menganggap bolehnya
tasawwul. Karena itu dia sangat tidak suka kalau ada yang membahas tasawwul sebagaimana
yang dialami oleh salah seorang muridnya yang bernama Abdulloh Cawas ketika dia khutbah
jum'at dan membahas tasawwul Dzul Akmalpun marah-marah dan mengatakan "apa g' ada
pembahasan lain".
28

Sekarang ini para hizbiyyin mulai gelagapan untuk cari-cari alasan
dalam membela yayasan dan tasawwul
(33)
, Karena ahlu sunnah selalu

(33)
Karena itu Dzul Akmal setelah tidak punya hujjah lagi untuk membantah Abu Turob dia
hanya berkomentar "Alasannya tasawwul tasawwul". Jangan kau remehkan tasawwul wahai
pengemis, sesungguhnya itu adalah termasuk dosa besar. Ataukah kau meyakini bolehnya
berbuat dosa yang penting selalu minta ampun, dan kemudian berdalil dengan hadits

Maka kami katakan, hadits ini dho'if, diriwayatkan oleh Al-Qudho'i dalam Musnadusy Syihab
dari jalan Abu Syaibah Al-Khurosani dari Ibnu Abi Mulaikah dari Ibnu Abbas Dari Rosululloh .
Dan Abu Syaibah ini berkata Imam Bukhori tentangnya " La yutaaba' ala haditsihi ", maka
haditsnya dho'if. (Lihat takhrij Ahaditsi Al-Kassyaf).
Hadits ini juga diriwayatkan dari Aisyah, melalui jalan Ishaq bin Bisyr Shohibu As-Siar dari
Hisyam bin urwah dari Ayahnya dari Aisyah dari Rosululloh . Dan Isaq ini berkata Ibnu Adi " dia
bersendirian dalam periwayatannya dari Ast-Tsauri dan Ibnu Juraij dan yang lainnya dengan
hadits-hadits yang mungkar. (menukil dari takhrij Ahadits Al-Kasysyaf).
Hadits ini diriwayatkan juga dari Abu Huroiroh , dikeluarkan oleh Abu Hafsh Umar bin Syahin
dalam kitabnya At-Targhib dari jalan Hasan bin Amr bin Syaqiq dari Bisyr bin Ibrohim dari
Kholifah bin Sulaiman dari Abu Salamah bin Abdur Rohman dari Abu Huroiroh dari Nabi .
Dalam sanad terdapat Bisyr bin Ibrohim, berkata Ibnu Hibban tentangnya " Dia memalsukan
hadits atas orang-orang yang tsiqoh". Maka riwayat ini maudhu'.
Hadits Abu Huroiroh ini juga diriwayatkan Imam Ath-Thobroni dalam kitabnya Musnad Asy-
Syamiyyin no. 3606, dari jalan Bisyr bin Ubaid Ad-Darisi dari Abu Abdir-Rohman Al-'Anbari dari
Makhul Dari Abu Salamah dari Abu Huroiroh dari Nabi . Dalam sanad terdapat Bisyr bin
Ubaid Ad-Darisi Matruk. [ Lihat kitab Al-Maqoshid Al- Hasanah ].
Hadits ini juga diriwayatkan secara beriringan ( maqrunan ) dari Abu Huroiroh dan Ibnu Abbas
sebagaimana dalam kitab Al-Matholib Al-Aliyah no.3331: Berkata Al-Harits : Telah
mengkhabarkan kepadaku Dawud bin Al-Muhabbar : Telah mengkhabarkan kepadaku Maisaroh
bin Abdi Robbihi, dari Abu Aisyah As-Sa'di dari Yazid bin Amr dari Abu Salamah bin Abdur
Rohman dari Abu Huroiroh dan Ibnu Abbas dari Nabi . Abu Aisyah kami tidak merdapati
tarjamahnya, dan Maisaroh bin Abdi Robbihi dia adalah Al- Farisi kemudian Al- Bashri At-Taros
dia adalah Waddho' ( pemalsu hadits) sebagaimana dalam Mizan Al-I'tidal.
Hadits ini diriwayatkan juga oleh Imam Al-Baihaqi dalam kitabnya Syu'abul Iman dari Ibnu
Abbas secara mauquf ( dari ucapannya Ibnu Abbas ), melalui jalan Abu Manshur Abdul Qodir
bin Thohir Al- Faqih, Telah mengkhabarkan kepadaku Ismail bin Ahmad Al- Khilali, Telah
mengkhabarkan kepadaku Al- Mani'i, Telah mengkhabarkan kepadaku Ishaq bin Ibrohim Al-
Marwazi, Telah mengkhabarkan kepadaku Hammad bin Zaid, dari Said bin Abi Shodaqoh dari
Qois bin Sa'd berkata: Berkata Ibnu Abbas :
" "
Qois bin Sa'd kami tidak mendapati seorang rowi yang bernama ini yang meriwayatkan dari Ibnu Abbas,
kemungkinan dia adalah Qois bin Sa'd Al- Makki, jika demikian maka hadits munqoti' ( terputus) karena
dia tidak mendengar dari Ibnu Abbas , dan jika bukan dia maka kami tidak mengetahui siapa dia. Dan
Said bin Abi Shodaqoh tsiqoh. Dan Hammad bin Zaid tsiqoh, Ishaq bin Ibrohim Al- Marwazi tsiqoh, dan
29

menghujani mereka dengan ayat dan hadits-hadits. Dan mereka tidak
mampu untuk menolak dalil-dali tersebut akhirnya mereka membuat
takwil-takwil baru, demi mempertahankan penghasilan mereka. Karena
memang yayasan dan tasawwul ini adalah cara yang paling enak untuk
menghasilkan uang. Karena itu mereka membela mati-matian untuk
mempertahankan yayasan, jika tidak, maka dapurpun tak menyala.
Maka dari itu kami katakan, Akmaliyyun dan juga turotsiyyun
adalah para pengemis! Tidak terasa kalian telah menghinakan agama
Rosululloh dengan cara-cara ini.
Dan lihatlah kehidupan para sahabat, mereka jauh lebih miskin
dari pada yang paling miskin dari kalian, namun mereka tidaklah
menghinakan diri mereka dengan mengemis, padahal keadaan mereka
telah menuntut untuk bolehnya meminta. Begitu pula Rosululloh tidak
pernah meminta-minta dana dengan alasan untuk dakwah padahal
(secara teori) beliau lebih butuh dari pada kalian.
Diriwayatkan dari Fudholah bin Iyadh


. .
Artinya: Sesungguhnya Rosululloh jika solat berjama'ah dengan para
sahabat beberapa kaum lelaki rubuh tidak mampu berdiri pada solat

Al- Mani'I kunyahnya adalah Abul Qosim dan namanya adalah Abdulloh bin Muhammad sebagaimana
disebutkan Oleh Al- Baihaqi no hadits 550 dan 1741. Dia adalah Abul Qosim Abdulloh bin Muhammad
bin Abdul Aziz Al- Baghowi Al- Mani'i sebagaimana dalm kitab Al- Ansab milik As- Sam'ani dan dia
tsiqoh sebagaimana dalam Mizanul I'tidal. Dan Ismail bin Muhammad Al- Khilali dia adalah bin
Muhammad At Tajir Al- Khilali Al Jurjani sebagaimana dalam Al- Ansab milik As-Sam'ani dan
Tarikh Al- Islam milik Adz- Dzahabi dan beliau mengatakan :
.
Seakan akan ini merupakan isyarat akan dho'ifnya dia, dan kami tidak mendapati ada yang
mentsiqohkan dia, dan telah meriwayatkan darinya para jama'ah, maka seringan-ringannya dia
adalah majhul hal, Allohu A'lam. Dan Abu Manshur adalah imam besar yang mulia ahli usul
sebagaimana dalam kitab Thobaqot Asy- Syafi'iyyah dan Tarikh Dimasyq dan Thobaqoot
Al- Mufassirin. Dengan demikian maka atsar Ibnu Abbas juga dho'if Allohu A'lam.
30

mereka karena sangat lapar dan mereka adalah ashabussuffah sampai-
sampai seorang badui mengatakan "mereka orang gila". dan jika
Rosululloh selesai malakukan solat beliau menghadap mereka dan
berkata : Seandainya kalian tahu apa yang disediakan untuk kalian
disisi Alloh niscaya kalian akan suka untuk menambah
kemiskinan. (HR. Attirmidzi).
.

.
Artinya: Dari Abu Huroiroh beliau berkata: Sungguh aku telah
melihat 70 orang dari ashaabussuffah tidak seorangpun dari mereka
yang pakai rida'
(34)
.hanya pakai sarung ataupun baju yang mereka
mengikatnya ditengkuk-tengkuk mereka, ada yang menutupi sampai
setengah betis dan ada yang sampai atas mata kaki kemudian dia
menghimpunnya karena tidak suka kalau terlihat auratnya. (HR. Al-
Bukhori).
Berkata Al Hafidz dalam Fathul Bari 1/536:

Artinya: kesimpulannya tidak seorangpun dari mereka yang punya dua
baju.
.


(34)
Berkata Al Hafidz Ibnu Hajar: "Ucapannya: (rida') maknanya adalah yang hanya menutupi
bagian atas badan saja. (Fathul Bari 1/536)
31



,



. :







.
Artinya: Dari Abu Huroiroh berkata demi Alloh yang tidak ada
sesembahan yang haq selain Dia sesungguhnya aku melekatkan
perutku dengan bumi karena lapar dan sungguh aku mengganjal
perutku dengan batu karena lapar, dan sungguh pada suatu hari aku
duduk di tepi jalan yang mereka keluar dari jalan itu, kemudian Abu
Bakar lewat dan aku bertanya kepadanya tentang satu ayat dari
kitabulloh, dan tidaklah aku bertanya kepadanya melainkan agar beliau
memberi makan aku, kemudian beliau berlalu pergi dan tidak memberi
32

makan aku
(35)
, kemudian Umar melewatiku dan aku bertanya
kepadanya tentang satu ayat dari kitabulloh, dan tidaklah aku bertanya
kepadanya melainkan agar beliau memberi makan aku, kemudian
beliau berlalu dan tidak memberi makan aku, kemudian Abul Qosim
melewatiku dan beliau tersenyum tatkala melihatku dan mengetahui
apa yang ada pada diriku dan apa yang terlihat pada wajahku kemudian
beliau berkata: Wahai Abu Huroiroh" aku menjawab: Aku penuhi
panggilanmu wahai Rosululloh", beliau berkata: Ikutlah, dan beliau
berjalan dan aku mengikutinya kemudian Rosululloh masuk (ke
rumahnya) dan meminta idzin dan aku diidzinkan (untuk masuk)
kemudian Rosululloh masuk dan mendapati susu dalam gelas lalu
bertanya: Dari mana susu ini? mereka menjawab: Si fulan atau
fulanah menghadiahkannya untukmu. Beliau berkata : Wahai Abu
Huroiroh, aku menjawab: Aku penuhi panggilanmu wahai Rosululoh,
beliau berkata: Pergilah ke ashabussuffah dan undanglah mereka
untukku", dan ashabussuffah adalah tamu-tamu islam yang tidak
bernaung pada keluarga tidak pula harta dan tidak pada seorangpun,
jika datang sedekah Rosululloh memberikannya kepada mereka dan
beliau tidak mengambilnya sedikitpun, dan jika Rosululloh mendapat
hadiah beliau memberikannya kepada mereka dan beliau juga

(35)
Inilah salafi yang sejati,walaupun lapar tapi tidak mau meminta. Inilah ajaran Nabi yang
sering dibacakan para du'at salafiyah.

Artinya: Apabila engkau meminta memintalah kepada Alloh dan apabila engkau minta
pertolongan maka minta tolonglah kepada Alloh .
Tapi banyak yang malas praktek, padahal Alloh sudah menjamin:

Artinya: Berdoalah kalian kepadaku niscaya aku akan mengabulkannya untuk kalian.
(faedah dari Abu Fairuz).
33

mengambilnya dan berserikat dengan mereka pada hadiah tersebut,
dan hal itu tidak menyenangkan aku (mengundang ashabussuffah)
kemudian aku berkata: Ada apa dengan susu ini pada ashabussuffah?!
padahal aku lebih berhak untuk meminum susu ini dan aku menjadi
kuat dengannya, dan jika mereka datang Rosululloh memerintahkan
aku dan aku melayani mereka dan susu ini tidak akan sampai kepadaku.
Tapi tidak ada pilihan dalam mentaati Alloh dan mentaati RosulNya,
maka aku mendatangi mereka dan mengundang mereka, kemudian
mereka datang dan meminta idzin, mereka diberi idzin dan mengambil
tempat-tempat duduk mereka dalam rumah. Rosululloh berkata:
Wahai Abu Huroiroh, aku menjawab: Aku penuhi panggilanmu
wahai Rosululloh. Rosululloh berkata: Ambillah dan berikanlah
kepada mereka, Abu Huroiroh berkata: maka aku ambil gelas itu dan
aku berikan kepada seseorang dari mereka dan dia meminumnya
sampai kenyang, kemudian mengembalikannya kepadaku, maka aku
berikan kepada yang lain dan dia meminumnya sampai kenyang
kemudian mengembalikannya kepadaku kemudian (yang lain lagi)
minum sampai kenyang kemudian mengembalikannya kepadaku hingga
aku selesai sampai ke Rosululloh dan mereka sudah kenyang
semuanya, kemudian Rosululloh mengambilnya dan meletakkannya
di tangannya, kemudian melihatku dan tersenyum dan berkata: Wahai
Abu Huroiroh! Aku menjawab; Aku penuhi panggilanmu wahai
Rosululloh! beliau berkata: Tinggal aku dan kamu, aku menjawab:
Benar wahai Rosululloh, beliau berkata: Duduk dan minumlah!
maka aku duduk dan minum, beliau berkata: Minumlah! maka aku
terus minum, dan senantiasa beliau berkata: "Minumlah" sampai aku
katakan: Tidak, demi dzat yang telah mengutusmu dengan kebenaran
34

aku tidak mendapatkan tempat lagi untuknya
(36)
. beliau berkata:
Perlihatkan kepadaku! maka aku berikan gelas itu kemudian beliau
memuji Alloh dan membaca basmalah dan meminum sisanya. (HR. Al-
Bukhori).
Hadits ini memberikan faedah yang sangat banyak, di antaranya
adalah yang disebutkan Al Hafidz Ibnu Hajar --= dalam Fathul Bari
11/289:


.
Artinya: Dan dalam hadits ini terdapat faedah yaitu kehidupan
sebagian sahabat Nabi dari sempitnya keadaan, dan keutamaan Abu
Huroiroh dan iffahnya (menjaga kehormatan diri) dari meminta dengan
terang-terangan dan hanya mencukupkan dengan isyarat, dan beliau
lebih mendahulukan ketaatan kepada Nabi daripada kesenangan
dirinya padahal beliau sangat membutuhkan, dan keutamaan
ashabussuffah.

(36)
Manakala Abu Huroiroh bertaqwa, Alloh mendatangkan bukti janji-Nya (Abu Fairuz).

Artinya: Dan barangsiapa yang bertaqwa kepada Alloh maka Alloh akan memberi jalan
keluar untuknya,dan memberi rezeki tanpa disangka-sangka,dan barang siapa yang
bertawakkal kepada Alloh maka Alloh cukup baginya.
Yakinlah bahwa Alloh tidak akan menyia-nyiakan hamba yang setia di atas garis yang benar
hanya saja ujian kejujuran dan kesetiaaan itu harus ada. Jangan su'udzdzon kepada Alloh .

Aku di sisi persangkaan hambaku terhadapku dan aku bersamanya jika dia mengingatku.
(faedah dari Abu Fairuz).
35

Bukalah mata kalian yang selama ini telah terpejam akibat dunia,
bagaimana kehidupan para salaf dan bagaimana toriqoh mereka dalam
berdakwah. Pernahkah mereka menghinakan diri seperti kalian ini?!
Ataukah kalian merasa lebih mulia dari pada mereka ?! Janganlah kalian
jual agama ini hanya demi mendapatkan sedikit dari kenikmatan dunia.
Kalian telah dikaruniai Alloh berupa anggota badan, tangan kaki kepala
dan yang lainnya. Yang semua ini dapat kalian gunakan untuk mencari
nafkah dan memenuhi kebutuhan kalian. Siapakah kalian dibanding
dengan Nabi Zakariya , beliau rela menjadi tukang kayu untuk
memenuhi kebutuhan, sebagaimana dalam hadits Abu Huroiroh -
-= :

Zakriya itu seorang tukang kayu. (HR. Muslim).
Lihatlah bagaimana mulianya Nabi Zakariya , beliau adalah
seorang Nabi yang mulia begitupun beliau rela untuk menjadi seorang
tukang kayu, apakah kalian merasa lebih mulia dari beliau, sehingga
pekerjaan ini hina di mata kalian, sedangkan mengemis itu mulia dalam
benak kalian?! Subhanalloh! Akal kalian telah terbalik, benarlah apa
yang dikatakan Alloh dalam ayatnya:
` ` `
Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah
memalingkan hati mereka; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada
kaum yang fasiq.
Tidakkah kalian ingat hadits Abu Musa Al-Asy'ari :
36

. ` . :
. : ` ` ` . :
. : ` ` ` . : . . ` `
` . . . . ` ` ` ` ` .

Bahwa Rosululloh bersabda : "Wajib bagi setiap muslim untuk
sedekah, mereka bertanya : Apabila tidak mendapatkan (sesuatu),
beliau menjawab : Bekerja dengan kedua tangannya sehingga dia
bias bermanfaat bagi dirinya sendiri dan bersedekah, mereka
bertanya : Apabila tidak mampu atau tidak melakukannya? Beliau
menjawab : Maka membantu orang yang butuh yang malhuf
(37)
,
mereka bertanya : Apabila tidak melakukannya? Beliau menjawab :
Maka menahan diri dari kejelekan sesungguhnya itu adalah sedekah
untuknya". (HR. Bukhori Muslim).
Coba kalian renungi hadits ini, Rosululloh menganjurkan
mereka untuk bekerja dengan kedua tangannya jika tidak punya
sesuatu untuk bersedekah, dan jika tidak melakukannya beliau
menganjurkan untuk menahan diri dari kejelekan. Rosululloh tidak
menganjurkan kepada mereka untuk tasawwul jika tidak punya sesuatu
untuk bersedekah, bahkan beliau menganjurkan untuk menahan diri
dari kejelekan di antaranya tasawwul- jika tidak bisa bersedekah.
Demikianlah para sahabat, jika tidak punya sesuatu untuk
disedekahkan mereka bekerja banting tulang, sebagaimana dalam
hadits Abu Mas'ud Al- Anshori :

(37)
Al malhuf maknanya : yang bersedih hati atau yang keadaannya darurat atau yang dizholimi.
37

` ` `
`
` ` ` `
" Ketika turun ayat tentang sedekah kami memikul (mengangkat
sesuatu untuk mendapat upah), datang seorang lelaki dan bersedekah
denagan sesuatu yang banyak mereka (orang munafiq) berkata : dia itu
riya', dan datang lelaki yang lain dan bersedekah sebesar Sho', mereka
berkata : sesungguhnya Alloh tidak butuh dengan Sho'nya orang ini,
maka turunlah ayat (artinya) Yaitu orang-orang (munafiq) yang
mencela orang-orang mukmin yang memberi sedekah dengan
sukarela dan (mencela) orang-orang yang tidak memperoleh (untuk
disedekahkan) selain sekedar kesanggupannya".

Para sahabat yang telah diridhoi Alloh bahkan sebagian mereka
dijamin masuk surga, mereka saja masih mau banting tulang agar bisa
bersedekah, dan mereka tidak merasa gengsi dengan pekerjaan ini. Dan
ini merupakan suatu kemuliaan bagi mereka. Bukan seperti kalian yang
merasa gengsi dan menganggap pekerjaan seperti ini adalah hina dan
merendahkan martabat, dan kalian anggap mengemis itu lebih mulia.
Dan semua para nabi alaihimus salam- berdakwah tidak pernah
mengharap balasan, apalagi kalau sampai mengemis dengan alasan
dakwah. Renungilah firman Alloh mengisahkan tentang dakwahnya Nuh
alaihis salam:
`
` ` ` `
Dan (dia berkata): "Hai kaumku, aku tiada meminta harta benda
kepada kamu (sebagai upah) bagi seruanku. Upahku hanyalah dari
38

Allah dan aku sekali-kali tidak akan mengusir orang-orang yang telah
beriman. Sesungguhnya mereka akan bertemu dengan Tuhan
mereka, akan tetapi aku memandang kalian suatu kaum yang tidak
mengetahui". [Hud : 29].
Dan tentang hud alaihis salam:

Hai kaumku, aku tidak meminta upah kepadamu bagi seruanku ini.
Upahku tidak lain hanyalah dari Allah yang telah menciptakanku.
Maka tidakkah kalian memikirkan(nya)?" [Hud : 51].
Dan tentang seseorang yang menyeru kaumnya:
` ` ` `
Ikutilah orang yang tiada minta Balasan kepadamu; dan
mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. [ Yasin
: 21]
Sang Raja yang sholih Dzulqornain yang berhak
mendapatkan upah dalam usahanya dan ditawarkan upah
kepadanya beliau lebih memilih ganjaran dari Alloh,
sebagaimana Alloh berfirman:
` ` ` `
Dzulkarnain berkata: "Apa yang telah dikuasakan oleh Tuhanku
kepadaku terhadapnya adalah lebih baik, Maka tolonglah aku
39

dengan kekuatan (manusia dan alat-alat), agar aku membuatkan
dinding antara kalian dan mereka,
Bahkan sebagian para dai mengemis dengan alasan dakwah tapi
ternyata mengemis untuk isi perutnya. Masih lebih mulia orang yang
miskin itu kemudian mengemis
(38)
dari pada seorang dai mengemis
dengan mengatasnamakan dakwah. Rosululloh menafkahi para
isterinya tidak pernah dengan cara mengemis, akan tetapi dengan
rezeki yang diberi Alloh atas keikhlasannya dalam berjihad berupa
ghonimah, padahal kehidupan beliau sangatlah miskin, sebagaimana
dalam hadits Numan bin Basyir '-,= -:


Umar menyebutkan apa yang telah menimpa manusia dari kehidupan
dunia dan beliau mengatakan : Sungguh aku telah melihat Rosululloh
hari ini bernaung berkeluk
(39)
tidak mendapati daql (kurma yang paling
jelek) sedikitpun yang bisa memenuhi perutnya. [HR. Muslim]
Dan dalam riwayat Ibnu Majah dengan lafadz :

.
Aku mendengar Umar bin Khotthob berkata : Sungguh aku telah
melihat Rosululloh berkeluk disuatu hari karena lapar, tidak mendapati
kurma (yang paling jelek sedikitpun) yang bisa memenuhi perutnya.

(38)
Maksudnya orang miskin yang memang tidak punya makanan dan berhak untuk meminta
sebagaimana dalam hadits Qobishoh.
(39)
Yaitu berbolak balik ke kanan dan ke kiri dengan menekuk badannya karena sangat lapar.
40

hadits Aisyah ',= -:
` ` ` ` ` ` ` ` `

Rosululloh wafat dan baju besinya tergadaikan pada seorang yahudi
dengan kadar 30 sho gandum. [ HR. Bukhori].
Begitu pula nabi Dawud alaihis salam, makan dari hasil tangannya,
dan itu merupakan sebaik-baik makanan, sebagaimana dalam hadits
Miqdam -= -: dari Nabi '- -'= _'-:
`

Tidaklah seseorang memakan makanan yang lebih baik dari
memakan dari hasil tangannya dan sesungguhnya Nabi Alloh Dawud
memakan dari hasil tangannya. [ HR. Bukhori].
Aneh tapi nyata, sekarang ini para dai turotsi alergi untuk
menyentuhkan tangannya dengan pekerjaan yang kasar, begitu juga
dengan Dzul Akmal, dan merasa bahwa pekerjaan seperti ini
menurunkan martabat sedangkan mengemis tidak. Jejak siapa yang
kalian ikuti?! Kalau jejak para Nabi tidak mungkin, tu lihat mereka kerja
sendiri bukan mengemis. Kalau jejak para ulama juga tidak, siapa
ulama yang mengemis?! Tidak lain yang kalian ikuti adalah jejaknya
ikhwanul muslimin hizbi dan semisalnya!
Bukalah mata kalian wahai para hizbi perawang
(40)
, dan pasanglah
telinga kalian, bagaimana kalian bisa mengaku salafi padahal kalian
tidak mengikuti jejak para salaf?!! Kalau kalian mengaku ikut jejak para
salaf buktikan dan bandingkan kehidupan kalian dengan kehidupan

(40)
Baik Akmaliyyun ataupun Turotsiyyun
41

mereka!! Kalau cuma mengaku, semua orang bisa, sebagaimana dalam
suatu ucapan:
` _'' _'' `- =- . ,' -
" Semua pada mengaku punya hubungan dengan Laila padahal Laila
tidak mengakuinya.
Pak Dzul, bangun kamu jangan ngigau terus, kamu hukumi
turotsiyyun itu hizbi dan kamu mengaku salafi, mana jejak salaf yang
kamu ikuti?, tidaklah kamu di sisi kami melainkan hizbi seperti mereka,
karena ternyata tidak ada bedanya, maka kamu sama dengan mereka!
Wahai para pembuntut Dzul Akmal, apa alasan kalian dalam
memboikot para ikhwan yang berada di Mandiangin? Apakah kalian
menyangka bahwa mereka adalah orang-orangnya Turotsi?! Mereka
berlepas diri dari tuduhan itu. Lalu apa hujjah kalian ? tidak lain
melainkan hanya taqlid buta. Ingatlah tanggung jawab kalian di
hadapan Alloh atas perbuatan yang kalian lakukan!!

3. BERDAKWAH DEMI KESENANGAN DUNIA.
Ini merupakan ambisi para hizbiyyin, walaupun lisannya tidak
mengaku demikian, namun perbuatan yang telah menjadi bukti tidak
dapat dipungkiri
(41)
.
Demikianlah para turotsi yang telah ditahdzir oleh Dzul Akmal
dengan lantangnya, namun ternyata dia tidak mau kalah gayanya
dengan mereka. Turotsiyyun hingga sekarang ini tidak mau
meninggalkan kekasihnya tercinta, yaitu hubungan dengan yayasan
hizbiyyah Ihyaut Turots, mereka telah merasakan manisnya uang yang
telah disuapkan ke mulut-mulut mereka
(42)
, sehingga Alhaq dan
tahdziran para ulama sangat pahit di lidah mereka, hingga hati

(41)
Kami tidak mengingkari kalau mereka juga punya niat karena Alloh, namun menurut
kenyataan niat mereka ini tidaklah tulus dan murni, karena telah tercampuri dengan ambisi
duniawi.
(42)
Tambahan editor: Al Imam Al Wadiiy ~ --~ berkata tentang para tokoh yang masuk ke
jamiyyah: Tali kekang telah masuk ke dalam mulut-mulut mereka, sehingga mereka tidak
sanggup untuk mengucapkan perkataan yang benar. (Tuhfatul Mujib/Tahrimul Intikhobat
Alan Nisa).
42

merekapun menjadi buta, lisan merekapun kaku tak dapat bicara, jika
datang kebenaran yang membongkar kedok mereka, hal itu bagaikan
pedang yang mencabik-cabik kulit mereka, hingga mereka merasa alergi
terhadap para penegak kebenaran, jika berjumpa mereka seperti tikus
ketakutan, melontarkan senyum demi mencari perhatian. Perut mereka
telah membesar karena telah kenyang dari uang hasil mengemis. Jika
telah berhasil mendapat dana mereka riang gembira dengan mulut
tersenyum sambil meringis. Jika dana telah mulai menipis merekapun
bersegera untuk menyusun proposal yang baru, dengan susunan
kalimat yang dapat membuat orang jadi terharu.
Siapakah di antara dai mereka yang ridho dengan kemiskinan,
berdakwah ikhlas karena Alloh tidak mengharap uang sebagai imbalan.
Mereka menganggap hidup di perkampungan dan berkumpul dengan
ahlu sunnah merupakan hidup kolot
(43)
yang tidak tahu kemajuan
(44)
.

(43)
Demikianlah yang dinyatakan oleh Abdul Hakim Abdad alias bejat ini, ketika dia datang
tanpa diundang ke pondok Dusun Bakti atas ulahnya si da'i gadungan Abu Dawud Rimbo
melintang, dengan enaknya dia mencela Dusun Bakti dengan sebab mereka hidup di gunung-
gunung, dia anggap hidup di lingkungan maksiat itu lebih bagus. Karena itu kita dapati si bejat
ini penampilannya tidak jauh berbeda dengan pengekornya Muhammadiyyah. Inilah ustadz
yang dibangga-banggakan oleh para Turotsi perawang, yang sekarang ini mereka telah tertipu
dengan ustadz gadungan Abu Dawud Rimbo melintang. Kami nasehatkan kepada orang-orang
Rimbo melintang agar kalian membuka mata kalian dan wawasan kalian, bagaimana kalian bisa
jadi bagus di atas sunnah kalau kalian menjadikan ustadz gadungan ini sebagai pemimpin
kalian. Lihatlah para wanita kalian, mereka seperti pelangi, pakaiannya ada yang warnanya
coklat muda, ada yang pink, ada yang hijau muda dan ada yang lain lagi, jubah berwarna lain
dan kerudung dan cadar berwarna lain lagi. Hari-hari kalian hanya dipenuhi dengan dunia kerja
sampai tak tahu waktu, baca Al Qur'anpun sudah tidak sempat, atau mungkin sempat tapi dunia
itu lebih nikmat. Dan sebagian dari kalian selalu nebeng di tetangga menikmati asiknya acara
televisi.
(44)
Karena itu kita dapati para turotsiyyun senangnya hidup di kota-kota, dengan alasan
bermasyarakat, walupun setiap hari harus mencuci mata mereka dengan pemandangan aurat,
tidak mungkin kalian mampu menundukkan pandangan dengan lingkungan seperti ini, aurat
kaum wanita telah terbuka dari arah mana saja, kemana mau kalian arahkan pandangan kalian.
Hanya saja kalian menganggap diri kalian mampu untuk melakukan itu semua disebabkan kalian
telah biasa dengan pemandangan seperti ini yang akhirnya kemaksiatan yang seperti ini kalian
anggap biasa.
43


Kalian telah memahami hidup bermasyarakat dengan pemahaman yang salah, tidakkah kalian
tahu bahwa Alloh dan Rosulnya telah melarang untuk berbaur dengan para pelaku dosa, seperti
firman Alloh :
` ` ` ` `
` ` ` `
Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan Malaikat dalam keadaan menganiaya diri
sendiri, (kepada mereka) Malaikat bertanya : "Dalam keadaan bagaimana kalian ini?".
mereka menjawab: "Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)". Para
Malaikat berkata: "Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kalian dapat berhijrah di bumi
itu?". orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk
tempat kembali,
Dan Hadits Zainab binti Jahsy '+-= ~ -:
` `
` ` ` ` ` `
` `
Bahwa Nabi masuk padanya dalam keadaan takut sembari berkata: Tidak ada yang berhak
disembah kecuali Alloh celakalah bagi kaum arab dari kejelekan yang telah mendekat, hari
ini telah dibuka dari dinding Yajuj dan Majuj seperti ini -dan beliau melingkarkan jari
jempolnya dengan telunjuknya-. Zainab binti Jahsy berkata Wahai Rosululloh apakah kita
akan binasa sedangkan pada kita ada orang-orang yang soleh? beliau menjawab Ya, apabila
banyak kejelekan. (HR. Bukhori Muslim).
Dan Hadits Aisyah '+-= ~ - bahwa Rosululloh bersabda:
` ` ` ` ` `
` ` ` ` ` ` `
Bala tentara akan menyerang kabah dan jika mereka sampai di Baida mereka
ditenggelamkan dibumi semuanya awalnya dan akhirnya, Aisyah berkata wahai Rosululloh
bagaimana ditenggelamkan awal dan akhirnya dan pada mereka ada aswaq mereka (yaitu yang
berniat untuk berdagang) dan orang yang tidak termasuk dari mereka, beliau menjawab
Ditenggelamkan awal dan akhirnya kemudian mereka dibangkitkan atas niat-niat mereka.
(HR. Bukhori).
Sehingga disyariatkan untuk menjauh dari mereka ketika fitnah telah merebak dan
merajalela sebagaimana dalam hadits Abu Said Al-Khudri --= ~ - bahwa Rosululloh
bersabda:
` ` ' ` `
Hampir-hampir kambing itu menjadi sebaik-baik hartanya seorang muslim, mengikut
dengannya menuju puncak-puncak gunung dan tempat-tempat turunnya hujan, dia lari
dengan agamanya dari fitnah. (HR. Bukhori).
44

Lalu bagaimana dengan Dzul Akmal? Apakah dia juga telah
menjadi budaknya dunia seperti turotsiyyun? Ataukah dia seorang da'i
yang tulus dan murni berdakwah karena Alloh semata? Yang pertama
(budak dunia) lebih sesuai untuknya, karena memang demikian
prakteknya di lapangan. Dia telah menjual ilmunya dengan harga yang
sangat murah. Hal itu terbukti dengan kenyataan yang telah diceritakan
oleh sebagian muridnya, bahwa dia kalau mau ta'lim cari mobil yang
paling bagus, kalau tidak ada lagi baru pakai mobil biasa, yang mana
mobil biasa ini di sisi kami sudah termasuk kendaraan mewah. Karena
itu didapati sebagian orang yang ingin mengundangnya mereka bingung
untuk menyiapkan kendaraan, karena minimal kendaraan harus
berAC.

Dan hadits Abu Said Al Khudri --= ~ -:
, , ,

Seorang lelaki berkata siapakah orang yang paling afdhol wahai Rosululloh? Beliau
menjawab : Seorang mukmin berjihad dengan jiwanya dan hartanya di jalan Alloh, lelaki itu
berkata : Kemudian siapa lagi?, beliau menjawab : Kemudian seorang lelaki menyendiri
(meninggalkan manusia) di celah antara dua gunung beribadah kepada robbnya dan
meninggalkan manusia dari kejelekannya. (HR. Bukhori dan Muslim).
Dalil-dalil ini menunjukkan tidak bolehnya untuk berbaur dengan pelaku maksiat, dan
disyariatkan untuk menjauh dari mereka demi menyelamatkan agamanya di masa fitnah.
Bahkan sebagian ulama' berpendapat bahwa menjauh dari manusia itu lebih afdhol, dan dalam
masalah ini ada perselisihan dikalangan ulama', dan bagi ulama' yang berpendapat bahwa
berbaur itu lebih afdhol mereka mensyaratkan jika selamat dari fitnah sebagaimana yang
dikatakan imam An-Nawawi ~ --~:


" Dalam hadits ini terdapat dalil bagi yang berpendapat bahwa menjauh dari manusia itu lebih
afdhol, dan dalam masalah ini ada perselisihan yang masyhur, dan madzhab Syafi'i dan
kebanyakan ulama' bahwa berbaur itu lebih afdhol dengan syarat adanya harapan selamat dari
fitnah". (Lihat Syarah Muslim).
Dan perlu difahami bahwa berkumpul dengan ahlu sunnah itu juga dikatakan
bermasyarakat, bukan seperti pemahaman mereka bahwa yang dimaksud dengan
bermasyarakat hanyalah berbaur dengan orang-orang awam dan para pelaku maksiat.
45

Dan ketika Dzul Akmal tiba di sisi para penjemputnya dia pasti
menatapkan pandangannya kepada kendaraan yang akan ditunggangi,
jika terlihat mewah dan sesuai dengan selera, maka wajahnyapun
kelihatan ceria dan berseri. Jika mengisi muhadhoroh minuman harus
es madu, itupun harus madu yang bagus
(45)
.
Wahai Dzul Akmal!! Apa sebenarnya tujuanmu dalam menuntut
ilmu? Jika tujuanmu dalam menuntut ilmu demi mendapatkan
kesenangan dunia, maka cukuplah hadits Rosululloh untuk kau
renungi. Dari Umar bahwa Rosululloh bersabda:



" Sesungguhnya amalan itu hanyalah dengan niat, dan sesungguhnya
bagi setiap orang hanyalah apa yang dia niatkan, maka barang siapa
yang hijrahnya kepada Allah dan Rosulnya maka hijrahnya kepada
Alloh dan Rosulnya dan barang siapa yang hijrahnya untuk dunia
atau wanita yang dia nikahi maka hijrahnya adalah kepada apa yang
dia tuju dari hijrahnya". (Muttafaqun Alaih).
(46)


(45)
Demikianlah pengakuan akhuna Amin Banyu Wangi selaku penjemputnya Dzul Akmal ketika
masih di Magetan.
(46)
Imam Ahmad dalam Musnadnya no. 4838, Dan Abu Dawud no.3664, Ibnu Hibban no.78, dan
Ibnu Majah no.252, dan Al- Hakim dalam Mustadroknya no. 288. meriwatkan hadits dari Abu
Huroiroh bahwa Rosululoh bersabda :



"Barangsiapa yang menuntut ilmu yang dicari demi mendapat wajah Alloh tidaklah dia
menuntut ilmu itu melainkan demi mendapatkan bagian dari kesenangan dunia maka dia
tidak mendapat harumnya surga".
Namun hadits ini Dho'if. Semua meriwayatkannya dari jalan Fulaih bin Sulaiman dari Abu
Thiwalah dari Sa'id bin Yasar dari Abu Huroiroh dari Nabi . Fulaih bin Sulaiman dho'if.
Berkata Ibnul Qoththon dalam kitab Bayan Al-Wahm Wal Iham": Dan dia adalah hadits yang
46

Ataukah kau inginkan dengan ilmumu untuk membantah orang-
orang yang bodoh dan mengelabui mereka agar kau terlihat seperti
ulama' dan menjadi terkenal dengannya, maka cukuplah hadits
Rosululloh sebagai teguran untukmu.
Dari Ka'b bin Malik bahwa Rosululloh bersabda :



"Barangsiapa menuntut ilmu supaya bisa berlari dengan ulama'
(47)

dengannya atau untuk mendebat orang yang bodoh dengannya atau

dalam sanadnya terdapat Fulaih bin Sulaiman dan dia dhoif walaupun Bukhori telah
mengeluarkan untuknya".
Bersaman dengan itu, sesungguhnya Fulaih telah menyelisihi orang yang lebih tsiqoh,
sebagaimana yang dijelaskan oleh Abu Zur'ah, yang dinukil oleh Ibnu Abi Hatim dalam kitab Al-
Ilal no.2819 :



"Aku mendengar Abu Zur'ah berkata: "Demikianlah dia meriwayatkannya, dan Zaidah
meriwayatkannya dari Abu Thiwalah dari Muhammad bin Yahya bin Hibban dari sekelompok
penduduk Iraq dari Abu Dzar mauquf (dari perkataan Abu Dzar) dan tidak merofa'kannya
(tidak menasabkannya kepada Rosululloh )". Dan Zaidah dia adalah Ibnu Qudamah Ats-Tsaqofi
Al-Hafidz sebagaimana dalam Tarikh Al-Islam milik Adz-Dzahabi.
Dengan demikian maka riwayat sulaiman adalah mungkar. Riwayat yang mahfudz (benar)
adalah riwayatnya Zaidah, akan tetapi sanadnya juga dho'if karena dalam sanad terdapat para
periwayat yang mubham (tidak disebut namanya). Maka hadits ini Dhoif Allohu A'lam.
Dan Imam Tirmidzi dalam Sunannya no.2655 meriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa
Rosululloh bersabda:

"Barangsiapa yang menuntut ilmu untuk selain Alloh atau tujuannya adalah selain Alloh
maka sediakanlah tempat baginya di neraka".
Hadits ini mungqoti' (Dhoif), karena Kholid bin Duroik (yang meriwayatkan dari Ibnu Umar)
tidak mendapati Ibnu Umar . Dan hadits ini didhoifkan Imam Al- Albani.
(47)
Berkata Mubarok Furi dalam Tuhfatul Ahwadzi " yaitu berjalan bersama mereka dalam
berdebat agar nampak ilmunya disisi manusia dengan riya' dan sum'ah".
47

untuk memalingkan wajah manusia kepadanya, maka Alloh
masukkan dia di dalam neraka".
(48)


(48)
Hadits Hasan insyaalloh dengan beberapa jalannya.
- Dari Ka'b bin Malik . Diriwayatkan Imam Tirmidzi dalam sunannya no.2654 dan Imam Al-
Baihaqi dalam Syu'abul Iman no.1636 dari jalan Ishaq bin Yahya bin Tholhah dari Ka'b bin Malik
dari Nabi . Ishaq bin Yahya bin Tholhah berkata Imam Ahmad dan Yang lainnya " matruk".
- Dari Ibnu Umar . diriwayatkan Ibnu Majah dalam sunannya no.253 melalui jalan Hammad
bin Abdur Rohman -yaitu Al-Kalbi- dari Abu Karob Al-Azdi dari Nafi' dari Ibnu Umar dari Nabi .
Hammad bin Abdur Rohman berkata Abu Hatim " Syaikh majhul, mungkarul hadits, dho'iful
hadits.
-Dari Jabir bin Abdillah diriwayatkan Ibnu Majah no.254 dari jalan Yahya bin Ayyub dari Ibnu
Juroij dari Abu Zubair dari Jabir dari Nabi . Dalam sanad terdapat 'An'anah Ibnu Juroij,
bersamaan dengan itu Yahya bin Ayyub telah diselisihi dalam periwayatannya dari Ibnu Juroij,
sebagaimana yang diriwayatkan oleh Al-Hakim dalam Al-Mustadrok no.292 dari Abdulloh bin
Wahb bin Muslim berkata : dan aku mendengar Ibnu Juroij menceritakan bahwasanya
Rosululloh bersabda ( secara mu'dhol). Yahya bin Ayyub soduq dan Abdulloh bin Wahb
tsiqoh hafidz. Dengan demikian maka riwayat Yahya bin Ayyub Syadz dan riwayat Abdulloh bin
Wahb yang benar (yaitu mu'dhol/dho'if). Dan Ibnu Adi dalam Al-Kamil 7/216 dalam
tarjamahnya Yahya setelah menyebutkan dua haditsnya Yahya bin Ayyub (salah satunya hadits
ini) beliau berkata :

" Dan kedua hadits ini (riwayatnya) Yahya bin Ayyub dari Ubnu Juroij tidak mahfudz (tidak
benar).
- Dari Abu Huroiroh . Diriwayatkan Ibnu Majah no.260, dari jalan Abdulloh bin Sa'id bin Abu
Sa'id Al-Maqburi dari kakeknya dari Abu Huroiroh dari Nabi . Abdulloh bin Sa'id bin Abu
Sa'id Al-Maqburi berkata Imam Ahmad dan Daruquthni "matruk".
-Dari Hudzaifah . Diriwayatkan oleh Al-Khothib Al-Baghdadi dalam kitabnya Iqtidhoul Ilmi
wal'amal no 96, dari jalan Bisyr bin Ubaid Ad-Darisi dari Muhammad bin Sulaim dari Atho' bin
sa'ib dari Abdurrohman bin Yazid dari bapaknya dari Hudzaifah dari Nabi . Bisyr bin Ubaid
dikatakan oleh Al-Azdi dia adalah pendusta sebagaimana dalam Mizanul I'tidal.
-Dari Anas bin Malik , diriwayatkan oleh Abu Nu'aim dalam kitab Ma'rifatus shohabah
2/427 bab. Man Ismuhu Anas dari jalan Utsman bin Mathor dan dia adalah Asy-Syaibani- dari
Abu Hasyim Ar-Rummani dari Anas dari Nabi . Utsman bin Mathor yang dzohir bagi kami
dia sangat lemah, lihat At-Tahdzib. Hadits anas ini juga dikeluarkan oleh Al-Uqoili dalam
kitabnya Adh-Dhu'afa' no.696, dari jalan Sulaiman bin ziad Al-Wasithi dari Syaiban dari
Qotadah dari Anas dari Nabi . Sulaiman bin Ziad dikatakan oleh Imam Adz-Dzahabi dalam
kitabnya Mizanul I'tidal: " tidak diketahui siapa orang ini, dan dia datang dengan hadits-hadits
bathil.
-Dari Ibnu Mas'ud , sebagaimana dalam kitab Ittihaful Khiyaroh Al-Maharoh " berkata Ishaq :
Telah mengkhabarkan kepada kami Muhammad bin Ubaid Telah mengkhabarkan kepada kami
Ash-Sholt bin Bahrom dari Asy-Sya'bi dari Ibnu Mas'ud. Berkata Al-Bushiri : Fihi Ingqito'
(terputus).
48


Kamu telah menjual ilmu yang mulia ini dengan harga yang sangat
murah dengan rayuan gombalmu "ilmu itu mahal". Benar ilmu itu
mahal, tapi bukanlah ilmu itu barang dagangan yang dapat kamu jual
untuk mendapatkan dunia. Benar, ilmu itu lebih berharga dan mulia
dari pada intan dan permata, dan lebih mulia dari pada dunia dan
seisinya, karena itu ilmu itu tidak didapatkan kecuali dengan rahmat
Alloh dan kesungguhan, yang akan menghasilkan sesuatu yang lebih
manis dari pada madu, lebih indah dari pada intan dan permata, lebih
nikmat dari pada dunia dan seisinya. Ilmu itu tidak dapat dinilai dengan

- Dari Ummu Salamah , diriwayatkan oleh Thobroni dalam Mu'jam Al-Kabir no.619, dari jalan
Sulaiman bin Abdil Kholiq bin Zaid dari ayahnya dari Muhammad bin Abdul Malik bin Marwan
dan dia adalah bin Al-Hakam Al-Wasithi- dari ayahnya dari Ummu Salamah dari Nabi .
Sulaiman ini kami tidak mendapati tarjamahnya, dan ayahnya sulaiman yaitu Abdul Kholiq bin
Zaid bin Waqid Dikatakan oleh Imam Nasa'i "tidak tsiqoh", dan berkata Ibnu Hibban "tidak halal
berhujjah dengannya", dan berkata Imam Bukhori "mungkarul hadits", dan berkata Imam
Daruquthni "matrukul hadits", dan berkata Al-Haitsami "Dho'if" sebagaiman dalam kitab
Tarikhul Islam milik Imam Dzahabi. Dengan demikian maka riwayat ini Dho'if jiddan.
Tanbih! Imam Daruquthni dalam Musnad Asy-Syamiyyin meriwayatkannya melalui jalan
Abdul Kholiq bin Zaid bin Waqid dari ayahnya dari Muhammad bin Abdul Malik bin Marwan dari
ayahnya dari Ummu Salamah dari Nabi .
Keterangan: semua riwayat ini sangat lemah tidak memungkinkan untuk menaikkan hadits
menjadi Hasan, namun disana ada jalan lain yang memungkinkan hadits untuk dihasankan,
yaitu:
1) Dari Hudzaifah diriwayatkan oleh Ibnu Majah no.259, dari jalan Asy'ats bin Sawwar dari
Ibnu Sirin dari Hudzaifah dari Nabi . Asy'ats bin Sawwar dho'if.
2) Dari Mu'adz bin Jabal diriwayatkan oleh Imam Thobroni dalam Mu'jam Al-Kabir no.121,
dari jalan Syahr bin Hausyab dari Abdurrohman bin Ghonam dari Mu'adz bin Jabal dari Nabi
. Syahr bin Hausyab dho'if.
3) Mursalnya Makhul diriwayatkan oleh Imam Ad-Darimi no.374, berkata telah mengkhabarkan
kepadaku Yahya bin Bisthom dari Yahya bin Hamzah berkata telah mengkhabarkan kepadaku
Nu'man dari Makhul dari Nabi secara mursal. Nu'man dia adalah ibnul Mundzir Al-Ghossani
Dikatakan oleh Abu Zur'ah dia tsiqoh, Yahya bin Hamzah Dia adalah Ad-Dimasyqi Abu
Abdirrohman dikatakan oleh Imam Ahmad laisa bihi ba'sun dan dikatakan oleh Abu Hatim
"soduq", dan Yahya bin Bisthom dia adalah Al-Ashfar Abu Muhammad dikatakan oleh Abu
Hatim "shoduq" sebagaimana dalam Al-Jarh Watta'dil. Dengan demikian maka jalan
periwayatan ke Makhul hasan.
Keterangan: Dengan ketiga jalan ini maka hadits menjadi Hasan Insyaalloh, dan hadits telah
dihasankan oleh Imam Al-Albani. Allohu A'lam.
49

segala sesuatu yang ada di dunia ini, yang semua ini dapat dirasakan
oleh para penuntut ilmu. Namun kamu telah menjual semua ini
dengan uang yang nilainya tidak sampai secuil kuku, dengan AC yang
kamu impikan, dengan mobil mewah yang kamu dambakan, dengan
minuman yang kamu idam-idamkan. Alangkah hinanya dirimu wahai
Akmal tidaklah kamu itu lebih mulia dari pada turotsiyyun para
pengemis yang bertopeng ustadz gadungan, mengaku salaf hanya
sebagai tipuan, demi menarik perhatian manusia agar mereka mau
memberi sumbangan, dengan alasan dakwah dan membangun
pendidikan. Gombal mukio!!!, Janganlah kalian jadikan dakwah dan
agama ini sebagai benteng untuk melakukan keharoman! Ingin
mengemis alasannya dakwah, ingin mobil mewah alasannya dakwah.
Ingin uang alasannya dakwah, ingin minum dan makan enak alasannya
dakwah, kemudian kalau makanan atau minuman itu tidak sesuai
selera, mereka jadikan lebel ustadz mereka untuk mencela makanan
dan melampiaskan amarah mereka dengan rasa tidak terima
(49)
. Di
manakah rasa syukur kalian atas nikmat yang telah diberikan oleh Alloh
kepada kalian, padahal Rosululloh kurma yang jelek sajapun tidak
punya, sebagaimana dalam hadits Umar yang telah kami sebutkan.
Bahkan makananpun beliau tidak punya sebagaimana dalam hadits
Ibnu Abbas :


(49)
Sebagaimana yang dilakukan oleh Usamah Mahri, ketika dihidangkan sate yang sudah
dingin, dengan seenak perutnya dia mengatakan " ini sate apa karet!??" persis dengan bos
besarnya si Ja'far Umar Tolib, ketika disiapkan ruang bermalam di suatu hotel, dan tidak sesuai
dengan impiannya, diapun komentar "ini hotel apa kandang sapi!?" dan dia lebih memilih
hotel yang bagus walaupun tempatnya di sekitar pelacuran.
Tambahan editor: alangkah jauhnya gaya hidup Jafar Umar dan Dzul Akmal dari gaya hidup
Rosululloh ;'- --'= ~ _'- dan jamaatush Shohabah ~ - ;+-= sementara keduanya
mengaku sebagai Ahlussunnah Wal Jamaah, dan alangkah besarnya perbedaan cara bersikap
keduanya dengan cara bersikap Salafush Sholih ~ ;+-~ padahal keduanya mengaku sebagai
Salafiy.
50



"Rosululloh bermalam berturut-turut dan keluarganya tidak
mendapati makan malam dan kebanyakan khubz (roti) mereka
adalah khubz dari gandum". (HR. At-Tirmidzi).
Dan hadits Abu Huroiroh :

, ,
, ,

, ,



, ,

,
,
"Rosululloh keluar di suatu hari atau suatu malam, tiba-tiba beliau
bertemu dengan Abu Bakar dan Umar dan beliau berkata: Apa yang
mengeluarkan kalian dari rumah kalian diwaktu ini?, mereka berdua
menjawab : Lapar wahai Rosululloh, Rosululloh berkata : Begitu
juga dengan aku, demi dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, telah
51

mengeluarkan aku apa yang mengeluarkan kalian, bangkitlah,
mereka bangkit bersama beliau, beliau mendatangi seorang lelaki dari
kalangan anshor ternyata lelaki itu tidak ada di rumah, dan ketika
isterinya melihat beliau dia berkata : marhaban wa ahlan. Maka
Rosululloh berkata padanya : Mana si fulan? Wanita itu menjawab
: Dia pergi mengambil air bagus untuk kami, datanglah lelaki anshori
tersebut dan melihat kepada Rosululloh dan kedua sahabatnya
kemudian berkata : Alhamdulillah, tidak seorangpun di hari ini yang
lebih mulia tamunya dari aku, kemudian dia pergi dan mendatangkan
kepada mereka setandan yang padanya ada kurma yang belum matang
dan kurma matang dan rutob dan dia berkata : Makanlah, dan dia
mengambil pisau, dan Rosululloh berkata padanya : Hindarilah
kamu kambing yang menghasilkan susu, kemudian lelaki itu
menyembelih untuk mereka, maka mereka makan dari (daging)
kambing dan dari tandanan itu dan minum. Tatkala mereka sudah
kenyang dan hilang dahaga mereka Rosululloh berkata kepada Abu
Bakar dan Umar semoga Alloh meridhoi mereka- : Demi dzat yang
jiwaku berada di tangan-Nya, kalian akan ditanya dari nikmat ini
pada hari kiamat, telah mengeluarkan kalian dari rumah kalian rasa
lapar, kemudian tidaklah kalian kembali hingga kalian memperoleh
nikmat ini. (HR. Muslim).
Tidakkah kalian bisa mengambil pelajaran!? Lihatlah Rosululloh ,
makanan sajapun tidak punya, sedangkan kalian sudah dihidangkan
pada kalian makanan dan minuman yang lezat dan kalian tidak
mensyukurinya bahkan kalian cela hanya gara-gara tidak sesuai selera!!
Butakah kalian dari sifat Rosululloh yang tidak pernah mencela
makanan!?
Dari Abu Huroiroh yang berkata:

` ` ` `
"Tidak pernah Rosululloh mencela makanan, jika beliau selera beliau
makan dan jika tidak selera beliau tinggalkan". (HR. Bukhori).
52

Tidakkah kalian ingin menjadi orang-orang yang dikatakan Alloh
dalam ayat-Nya:
`
"Dan sedikit dari kalangan hamba-Ku yang bersyukur". (QS. As-Saba'
ayat : 13).
Renungilah firman Alloh :
` `
"Dan ingatlah , tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika
kalian bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepada kalian,
dan jika kalian mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-
Ku sangat pedih".
Dan sangat pantas hadits Sahl bin Sa'd '-,= - untuk
direnungi, Rosululloh bersabda:

"Zuhudlah didunia niscaya Alloh akan mencintaimu dan zuhudlah
pada apa yang ada ditangan manusia niscaya manusia
mencintaimu".
(50)


(50)
Dho'if, hadits ini diriwayatkan dari beberapa jalan di antaranya:
- Dari Sahl bin Sa'd ,diriwayatkan oleh Ibnu Majah no.4102, dan Hakim dalam Mustadrok
no.7873 dan yang lainnya dari jalan Kholid bin Umar Al-Qurosyi dari Tsauri dari Abu Hazim dari
Sahl bin Sa'd dari Nabi . Kholid bin Umar Waddho' (pemalsu hadits). Dan Kholid dalam
periwayatannya dari Tsauri diikuti (mutaba'ah) oleh Muhammad bin Katsir sebagaimana dalam
kitab Syu'abul Iman milik Imam Baihaqi no.10044, dan Muhammad bin Katsir dho'if, dan Abu
Hatim telah ditanya tentang hadits ini yang diriwayatkan dari jalan Muhammad bin Katsir beliau
menjawab : ini juga hadits bathil, sebagaimana dalam kitab Al-Ilal milik Ibnu Abi Hatim
no.1815. Dan periwayatannya dari Tsauri juga diikuti oleh Abu Qotadah diriwayatkan oleh
Muhamad bin Abdul Wahid Al-Maqdisi dalam kitabnya Al-Muntaqo. Abu Qotadah dia adalah
Abdulloh bin Waqid Al-Harroni dikatakan oleh Ibnu Hajar "Matruk".
Berkata Abu Nu'aim dalam kitab Al-Hilyah :


"Ini adalah hadits yang asing dari haditsnya Abu Hazim tidak ada yang meriwayatkan darinya
secara bersambung dari Nabi kecuali Sufyan Ats-Tsauri,dan Ibnu Qotadah Al-Hamami dan
Muhammad bin Katsir meriwayatkannya dari Sufyan semisal itu juga"
53


4. TALBIS ALIAS PENGKABURAN
Tidak asing lagi bagi ahlu sunnah bahwa talbis merupakan
kebiasaan hizbiyyin, demi melariskan kebatilan mereka. Di antara talbis
yang mereka lakukan untuk menipu ummat adalah dalam masalah
gambar makhluk bernyawa. Di antara mereka
(51)
ada yang berfatwa
bahwa gambar kalau bergerak itu boleh. Fatwa ini tidak jauh berbeda
dengan fatwanya partai PKS bahwa gambar setengah badan itu boleh.
Sehingga para hizbiyyin di perawang mulai melariskan fatwa ini dan

Dan berkata Ibnu Adi : "Dan telah diriwayatkan dari Zafir dari Muhammad bin Uyainah
saudaranya Sufyan bin Uyainah dari Abu Hazim dari Sahl bin Sa'd, dan diriwayatkan juga dari
Zafir dari Muhammad bin Uyainah dari Abu Hazim dari Ibnu Umar. Berkata Imam Al-Albani :
Zafir dia adalah Sulaiman shoduq katsirul Auham (banyak kelirunya)" semisal dia juga
Muhammad bin Uyainah, dan salah satu dari mereka telah idhtirob (goncang) dalam sanadnya,
kadang-kadang dia riwayatkan dari Sahl kadang-kadang dari Ibnu Umar.
-Dari Ibnu Umar , diriwayatkan oleh Ibnu Asyakir dalam kitab Tarikh Dimasyq dari jalan
Muhammad bin Ahmad bin Al-'Alas dari Ismail bin Abdillah bin Abi Idris dari Malik dari Nafi' dari
Ibnu Umar dari Nabi . Muhammad bin Ahmad bin Al-'Alas tidak didapati tarjamahnya maka
dia majhul ain.
-Dari Anas bin Malik , diriwayatkan oleh Abu Nu'aim dalm kitab Al-Hilyah dengan lafadz :

Berkata Abu Nu'aim : penyebutan Anas dalam Hadits ini adalah kekeliruan dari Umar atau Abu
Ahmad" kemudian menyebutkan bahwa para perowi yang Atsbat (tsiqoh) meriwayatkannya
dari Hasan bin Robi' dari Mujahid secara mursal. Lihat kitab Jam'ul Jawami' 1/3542.
Keterangan : semua jalan tadi tidak bisa saling menguatkan untuk dihasankan haditsnya, dan
hadits ini didho'ifkan oleh Syaikh Yahya Hafidzohulloh- , Allohu a'lam. Hanya saja kami
sebutkan hadits ini walaupun dho'if sanadnya karena hadits ini banyak dalil yang
mendukungnya sebagaimana yang dijelaskan oleh Syaikh Yahya hafidzohulloh.
Keterangan : Jika ada yang komentar bahwa hadits ini telah dihasankan oleh Imam Al-Albani,
maka jawab kami " dalam masalah ini ada perselisihan dalam tarjih kaedah, di sisi Imam Al-
Albani bahwasanya majhul yang bergabung dengan mungqoti' dapat dijadikan penguat untuk
menghasankan hadits, dan pendapat ini dirojihkan oleh Syaikh Muhammad bin Hizam. Adapun
menurut Syaikh Yahya majhul yang bergabung dengan mungqoti' tidak bisa dijadikan penguat
untuk menghasankan hadits, dengan alasan bahwa si majhul ain ataupun periwayat yang tidak
disebutkan dalam sanad tidak diketahui keadaannya, maka bagaimana mungkin mau dijadikan
penguat?!. Dan kami secara pribadi memilih pendapat Syaikh Yahya dengan alasan tersebut.
Maka janganlah pembaca merasa heran jika kami memilih dho'ifnya hadits sedangkan Imam Al-
Albani menghasankannya, masalah ini adalah masalah ijtihadiyyah, dan kami tetap menjunjung
tinggi martabat Imam Al-Albani Rohimahulloh.
(51)
Yaitu Aunur Rofiq.
54

mereka masukkan dalam metode pendidikan mereka, dengan cara
membuat program bahwa anak-anak didik mereka dibelikan laptop
yang kemudian disajikan film-film untuk mereka, sehingga melototlah
mata mereka untuk menonton film itu
(52)
. Tidak menutup kemungkinan
para wali nanti akan menyediakan televisi supaya bisa nonton bersama.
Seandainya tidak mampu beli tentu akan ikut nebeng ditetangga, tidak
mau kalah dengan anaknya yang telah asyik menikmati hidangan dosa.
Ternyata Dzul akmal juga tidak mau kalah dengan mereka, dia
juga telah mengeluarkan fatwa tandingan bahwa gambar itu boleh
dengan alasan rukhshoh (keringanan) dari ulama'
(53)
. Sepertinya Dzul
Akmal mulai mengigau lagi, karena yang namanya rukhshoh itu adalah
dari sesuatu yang asalnya tidak boleh, dan rukhsoh yang diberikan
ulama' dalam hal ini hanya ketika darurat. Akan tetapi Dzul Akmal ini
telah mentalbis agar keinginannya bisa terwujudkan.
Di antara talbis yang lain yang dilakukan oleh Dzul Akmal adalah
ketika dia mentahdzir Abu Turob dengan mengatakan pondoknya
adalah tempat jin buang anak, dan dia katakan Syaikh Yahya Al-Hajuri
adalah Haddadi, bertopeng dengan fatwa Syaikh Robi'. Dan sekarang
dia akan gelagapan, bagaimana tidak, Syaikh Robi' telah menfatwakan
kepada seluruh ahlu sunnah untuk membantu Dammaj dan Syaikh
Yahya adalah salafi dan Dammaj adalah markaz salafi. Modal taqlid
tidak akan memberi manfaat kepadamu wahai Akmal, sekarang kau
mau bikin apalagi !?
Demikian pula komentar hizbiyyin terhadap salafiyyin tentang
cara hidup mereka yang senang hidup di tempat sepi yang jauh dari

(52)
Ini adalah salah satu program pendidikan hizby perawang, akibat metode SDIT warisan para
hizbiyyin.
(53)
Hal ini ketika salah seorang teman kami yang bernama Muhammad Nur bertanya kepadanya
tentang hukumnya gambar, dia menjawab " itu rukhsoh dari ulama'", spontan Muhammad Nur
bertanya lagi " tapi Rosululloh mengatakan gambar itu kepala, ustadz", diapun menjawab
dengan lantangnya " lebih tahu mana kamu sama ulama'!!". Dzul..Dzul Taqlid lagi..taqlid lagi.
55

kemaksiatan, hizbiyyun telah mencela mereka dengan ucapan sukanya
hidup di gunung-gunung
(54)
.

5. PENAMPILAN.
Ini merupakan suatu keajaiban bagi kami, dua kelompok yang
berpenampilan sama (penampilan hizbiyyun) saling bermusuhan. Para
pembuntut Dzul Akmal telah mengklaim bahwa mereka turotsiyyun
adalah hizbiyyun, sedangkan mereka sendiri memiliki penampilan yang
sama dengan hizbiyyun sehingga tidak dapat dibedakan mana yang
turotsiyyun dan mana yang akmaliyyun. Kebanyakan dari turotsiyyun
mereka adalah pekerja kantoran, sehingga penampilannya necis pakai
celana pantolan
(55)
tapi di atas mata kaki, pakai sepatu, rambut rapi.
Tidak ada bedanya dengan orang-orang awam melainkan hanya
jenggot (itupun kalau punya jenggot) dan celananya di atas mata kaki.
Dan ini adalah ciri-cirinya turotsiyyun hizbiyyun di manapun mereka
berada.
Ternyata Akmaliyyun yang mengaku salafi sama dengan mereka,
sama-sama orang kantoran, sama-sama necis pakai pantolan. Lucu
dan lucu jika orang yang mengaku salafi berpenampilan seperti ini.
Mungkin ada yang protes "pakai jubah hukumnya kan tidak wajib
begitu pula penutup kepala".
(56)
Maka kami katakan " pakai jubah tidak
wajib apakah kemudian pakai jubah itu haram jika pergi ke kantor? Jika

(54)
Sebagaimana kalimat ini telah dilontarkan oleh Abdul Hakim Abdad, ketika dia datang ke
Dusun Bakti tanpa diundang, yang dipropokatori oleh Abu Dawud ustadz gadungan, mencela
Dusun Bakti karena mereka hidup di tengah kebun sawit.
(55)
Pantolan adalah celana yang bersifat sempit dan membentuk aurat, yang sifatnya memiliki
resleting, kantong depan dan belakang dan memiliki tempat sabuk pinggang. Sedangkan sirwal
adalah celana yang lebar memakai kolor tanpa resleting.
(56)
Tanggapan editor: Memang tidak wajib, akan tetapi Alloh taala berfirman:
--- ' ;-- - ;~ -- ;~ -~= Q-- ' ;=,- -- ;-- ,=!- , -- ,-- ] ,=7 / 21 [
Sungguh telah ada bagi kalian pada diri Rosululloh suri teladan yang baik bagi orang yang
mengharapkan Alloh dan Hari Akhir dan banyak mengingat Alloh.
Ahlussunnah cinta sunnah, sementara Ahlul ahwa mengekor hawa nafsu dan mencari celah-
celah untuk menghindar dari sunnah. Memang sudah menjadi cirri hizbiyyun adalah lemahnya
perhatian mereka terhadap sunnah.
56

tidak haram kenapa kalian tidak mau mengenakannya sementara itu
adalah pakaiannya Rosululloh ?, tentu demi mentaati undang-undang
kantor. Maka kami katakan apakah undang-undang itu datang dari
Alloh dan Rosulnya? Jika tidak kenapa kalian mentaatinya hanya demi
mendapatkan dunia semata. Dan manakah dalil bahwa Rosululloh
memakai celana pantolan? Pakaian Rosululloh adalah sarung dan
jubah. Adapun sirwal Rosululloh pernah membelinya tapi tidak ada
nukilan Rosululloh mengenakannya. Tidak ada salaf yang
penampilannya seperti kalian, tidak Rosululloh tidak pula sahabat,
tidak pula para ulama' dahulu tidak pula ulama' sekarang melainkan
para hizbi seperti Abul Hasan dan yang lainnya. Penampilan seperti ini
merupakan salah satu ciri khas kebanyakan hizbiyyin, sehingga
seringkali dapat dijadikan sebagai alamat untuk mengetahui mana yang
hizbi dan mana yang salafi.
Berkata Syaikh Muqbil semoga Alloh merohmatinya-:
. .


"Dan termasuk yang aku lihat : Aku menemui seorang lelaki dari Iran
dan dia punya maktabah kemudian dia berkata kepadaku :
"sesungguhnya dia adalah ahlu sunnah" sedangkan penampilannya
bukan sunnah, dia mencukur jenggot dan memakai celana pantolan,
mungkin yang dia maksud dengan sunnah adalah yang dia anggap
bahwa dia itu bukan Rofidhoh bukan pula Syi'ah". (Maktabah Syaikh
Muqbil bin Hadi Al-Wadi'i 3/263 sebagaimana dalam maktabah
syamilah).
Dalam ucapan beliau ini sangat jelas bahwa untuk membedakan
antara salafi dan hizbi adalah penampilannya, yaitu jika dia salafi dia
tidak akan mengenakan pantolan, sebaliknya berarti termasuk cirinya
hizbi itu mengenakan pantolan.
57

Dan beliau berkata 10/17:


.

"Dan perkaranya membahayakan, hizbiyyah itu memecah kaum
muslimin, bisa jadi seseorang itu hafal alquran menonjol di atas sunnah,
dan setelah fikirannya terkotori dengan hizbiyyah tiba-tiba dia sudah
menjadi dari golongan orang awam, mungkin juga dia mencukur
jenggotnya dan mengenakan pantolan dan mabuk-mabukan dan
menghisap rokok dan seterusnya, maka hati-hatilah dari hizbiyyah"
Dapat diambil faedah dari ucapan beliau ini bahwa seseorang jika
telah menjadi hizbi maka dia akan mengenakan pantolan, mafhumnya
jika dia masih salafi dia tidak akan mengenakannya.
Dan beliau berkata 11/62:

.....
"Dan bukanlah kami membicarakan ikhwanul muslimin dikarenakan
mereka mencukur jenggotnya, dan dalam rakyat yaman ada yang lebih
jelek dari mereka, bukan pula (membicarakan mereka) karena mereka
mengenakan pantolan.".
Ucapan beliau ini menunjukkan bahwa mengenakan pantolan
termasuk cirinya ikhwanul muslimin.

Dari Ummu salamah ',= - bahwa Rosululloh bersabda:

58

"Baju yang paling disukai oleh rosululloh adalah Qomis" (HR. Abu
Dawud no.4025 dan Tirmidzi no.1762).
(57)

Benar, hadits ini tidak menunjukkan wajib, akan tetapi tidak juga
menunjukkan bolehnya pakai celana pantolan saja tanpa mengenakan
sarung dan semisalnya yang bisa menutupi aurat. Dan demikianlah
pakaian Rosululloh yang telah menjadi syi'ar Islam, terkhususkan
ahlus sunnah, sedangkan penampilan kalian itu merupakan syi'ar
hizbiyyun.
Demikian pula berpenampilan dengan sirwal tanpa menutupinya
dengan sarung atau jubah, sesungguhnya ini tidaklah cukup dalam
menutupi aurat. Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah semoga Alloh
merohmatinya- dalam Majmu' Fatawa 21/202 :
. .


.
"Karena ini berkata Ahli fiqh : Disunnahkan (mengenakan) sarung
bersama rida', karena sarung itu menutupi dua paha, dan disunnahkan
(memakai) sirwal bersama qomis karena itu lebih menutupi (aurat), dan
(sirwal) bersama qomis menjadi tidak nampak lekuk tubuh, dan qomis
(dikenakan) di atas sirwal menutupi (aurat) berbeda dengan rida' (jika

(57)
Dalam kitab Al-'Aunul Ma'bud 11/43 cetakan (Dar Ihya'ut Turots Al-Arobi) dikatakan
"Qomis adalah nama untuk sesuatu yang dikenakan dari (pakaian) yang berjahit dan memiliki
dua lengan dan krah". Dan yang dimaksud di sini adalah jubah (bukan sekedar kemeja, dengan
bukti ucapannya (11/44) "segi sukanya Rosululloh terhadap qomis, karena dia itu lebih
menutupi anggota badan daripada sarung dan rida'.". (yaitu sarung hanya menutupi bagian
bawah dan rida' hanya menutupi bagian atas, sedangkan qomis menutupi bagian atas dan
bawah). dan ucapan Ibnul Qoyyim dalam kitab Zadul Ma'aad 4/218 cetakan Ar-Risalah :

" Dan ekor (ujung) qomis dan sarungnya beliau sampai ke pertengahan betis dan tidak melewati
dua mata kaki".
59

dikenakan) di atas sirwal karena sesungguhnya dia tidak menutupi
lekuk tubuh.
Dapat kita fahami dari ucapan Syaikhul Islam ini, bahwa
mengenakan sirwal tanpa menutupinya dengan sarung atau jubah itu
tidak cukup untuk menutupi aurat, karena lekuk tubuh masih terlihat,
padahal sirwal bentuknya lebar, lalu bagaimana dengan celana
pantolan yang sangat membentuk lekuk tubuhnya, lebih-lebih lagi jika
mengenakan celana pantolan itu adalah menyerupai orang-orang kafir
yang kalian semua sudah mengetahui hukumnya
(58)
, dan bukanlah itu
pakaian kaum muslimin.

Imam Albani ditanya tentang hukum memakai pantolan
sebagaimana dalam Durus Albani 30/18 (maktabah Syamilah):






. .
.

(58)
Alhamdulillah para ikhwan yang bermukim di Mandi Angin mereka tidak berpenampilan
dengan sirwal, bahkan mereka menutupinya dengan sarung-sarung atau jubah mereka, ini
merupakan nikmat Alloh buat mereka, karena Alloh telah melapangkan dada-dada mereka
untuk menerima kebenaran tanpa melumurinya dengan syubhat. Dan kami wasiatkan kepada
mereka agar tidak tergiur dengan embel-embel para hizbiyyin perawang dan jangan pula
membuka celah untuk bisa berhubungan dengan mereka walaupun hanya sebatas urusan
dunia, karena hal itu merupakan perangkap syetan untuk menjerumuskannya dalam jaringan
mereka, setidak-tidaknya syubhat akan merasuk dalam benaknya.
60



,, - -



.
.

, .

, . ,
.
,


.
Soal: Apa hukumnya memakai pantolan?
Jawab: Pantolan termasuk musibah yang menimpa kaum muslimin di
masa ini dengan sebab peperangan orang kafir terhadap negeri
61

mereka, dan mendatangkan adat kebiasaan mereka kepada mereka
dan agar mereka taqlid (mengikutinya), dan sebagian kaum muslimin
menjadikannya sebagai adat mereka, ini juga pembahasannya panjang,
akan tetapi aku katakan dengan ringkas: sesungguhnya memakai
pantolan itu punya dua kerusakan:
Kerusakan pertama: dia itu membentuk aurat, khususnya bagi orang
yang solat yang tidak memakai pakaian yang panjang yang bisa
menutupi aurat yang dibentuk oleh pantolan dari kedua pantatnya
bahkan apa yang ada di antara keduanya ketika sujud, dan ini adalah
nyata bersama rasa penyesalan lebih-lebih pada solat jamaah ketika
seseorang sujud dan dia mendapati yang di depannya seorang yang
mengenakan pantolan jika ungkapan benar- dia mendapati di sana
dua belah paha, bahkan mendapati yang ada antara keduanya yang
lebih buruk dari itu, dan ini adalah kerusakan yang pertama bahwa
pantolan itu membentuk aurat, maka tidak boleh untuk kaum lelaki
lebih-lebih lagi kaum wanita untuk mengenakan pakaian yang
membentuk auratnya, dan ini telah kurinci penjelasannya dalam kitab
Hijabul Mar'ah.
Kerusakan yang kedua: dia itu pakaiannya orang kafir, dan pantolan
bukan pakaian kaum muslimin selama-lamanya sepanjang hari dalam
masa yang panjang ini, dan telah shohih dari Nabi beliau bersabda :
Dan aku diutus dengan pedang di hadapan hari kiamat hingga Alloh
sajalah yang disembah dan tidak disekutukan, dan dijadikan rezekiku di
bawah naungan tombakku, dan dijadikan kehinaan dan kerendahan itu
menimpa orang yang menyelisihi perintahku, dan barangsiapa yang
menyerupai suatu kaum maka dia termasuk dari mereka.
Dan dalam Shohih Muslim bahwa Nabi datang kepadanya
seseorang dan salam kepadanya, kemudian Nabi berkata padanya :
Ini adalah pakaiannya orang kafir maka janganlah kamu
memakainya. Karena itu maka wajib bagi seorang muslim yang
ditimpa bencana dengan memakai pantolan karena suatu perkara agar
mengenakan jaket panjang di atasnya, serupa dengan pakaian saudara
kita orang-orang Pakistan atau India dari gamis yang panjang hingga ke
62

lututnya, ini secara kenyataan hanyalah meringankan
(59)
daripada
membentuknya pantolan terhadap auratnya kaum muslimin.
Dan beliau berkata 32/7 :


. : . ,, .


- -


.
"Dan ini membawaku untuk menetapkan bahwasannya tidak layak bagi
seseorang untuk berpegang dengan lahiriyyah lafadz hadits, dan lafadz
haditsnya "sarung", bisa saja orang berkata "sesungguhnya pantolan
bukanlah sarung" maka kami katakan : benar pantolan bukanlah
sarung bahkan bukan pakaian islam sama sekali, akan tetapi apabila
pakaian islam saja yaitu sarung yang mana dia itu adalah pakaian yang
tidak ada padanya keberatan dan kerumitan apa saja dan
sesungguhnya Alloh telah menjadikannya sebagai pakaiannya orang
yang berhaji dan umroh, apabila pakaian ini jika seseorang
memanjangkannya melebihi batas yang disyariatkan maka dia itu
berdosa dan dineraka, maka lebih utama dan lebih utama lagi untuk
berdosa dengan dosa ini dan lebih dari itu orang yang mengenakan
pakaian orang kafir yaitu pantolan.

(59)
Ucapan beliau " meringankan" menunjukkan bahwa hal tersebut tidak layak dilakukan
seorang muslim, bahkan seharusnya seorang muslim harus meninggalkan pantolan tersebut.
63


Dan beliau berkata 32/1:




.
:

.

` `
.
.
Soal: Apakah memakai sirwal termasuk menyerupai orang kafir jika
tidak memakai jubah di atasnya dan sorban?
Jawab: Aku tidak tahu jika si penanya memaksudkan sirwal yang
longgar/luas, atau dia memaksudkan pantolan dan mengganti nama
sirwal yang longgar dengan pantolan, apabila si penanya
memaksudkan sirwal yang kita fahami, yaitu pakaian yang luas dan
lebar yang senantiasa dipakai sebagian kaum muslimin maka atas
semisal ini tidak terhitung menyerupai orang kafir, adapun pantolan
maka kami sudah membicarakannya berulang kali dan bahwasanya dia
itu bukan pakainnya kaum muslimin, karena dia itu mensifatkan dan
64

membentuk dan menampakkan (aurat) dia itu menyempitkan yang
seharusnya diluaskan dan meluaskan yang seharusnya disempitkan,
dan demikianlah baliklah maka kamu benar, dan demikianlah aturan
mereka dalam kehidupan di hari ini bersama rasa penyesalan. Maka
tasyabbuh tadi dengan mengenakan pantolan bukan sirwal.
Berkata Syaikh Robi' bin Hadi (sebagaimana dalam maktabah
Syaikh Robi' bin Hadi Al-madkholi -maktabah Syamilah-):
. , ,
, .
, ,
Soal: Apa hukumnya solat dengan memakai pantolan (jeans)?
Jawab: Solatnya insyaAlloh sah kami tidak mengatakn batal, akan tetapi
wajib baginya untuk tidak menyerupai orang yahudi dan nashoro
(barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk dari
mereka). Selesai penukilan.
Demikian pula Syaikh Yahya mengatakan, bahwa memakai
pantolan adalah menyerupai orang kafir.
Ini semua jika yang memakainya adalah kaum lelaki. Jika yang
memakainya adalah kaum wanita, maka tentu hukumnya lebih
berbahaya dari itu, karena menimbulkan fitnah terhadap kaum lelaki.
Dalam Fatawa Lajnah Da'imah 17/116 :
. ,,

.

65

.

Soal: Apakah boleh bagi seorang wanita untuk memakai pantolan
sedangkan dia berhijab dia keluar ke pasar, dan bagaimana jika
pantolannya lebar?
Jawab: Tidak boleh bagi wanita muslimah untuk memakai pantolan
karena itu menyerupai wanita kafir, dan kaum muslimin dilarang
menyerupai kaum kafir, dan juga karena pantolan itu sempit (sehingga
membentuk) besar tubuhnya dan menampakkan lekuk tubuhnya, dan
dalam hal itu menimbulkan fitnah atasnya dan atas kaum lelaki.
Berkata Ibnu Baz sebagaimana dalam Fatawanya 9/43:
. .
.
Soal: Bagaimana menurut antum tentang memakai pantolan untuk
kaum wanita karena telah merebak di zaman ini?
Jawab: Kami nasehatkan agar tidak mengenakannya karena itu adalah
pakaian orang kafir maka sepatutnya untuk ditinggalkan.
Demikianlah keterangan ringkas dari kami, mudah-mudahan
dapat menambah semangat para pembaca untuk senantiasa kokoh di
atas sunnah.

Q)-+ -=~ I _I- --=- -)-- _I- = _I~

_--;-I =-

Ditulis oleh:
Al-Faqir ilalloh Abu Hanifah Hanif Ar-Riyawi