P. 1
Fraktur Femur (2)

Fraktur Femur (2)

|Views: 33|Likes:
Dipublikasikan oleh Gayuh Prastya

More info:

Published by: Gayuh Prastya on Aug 13, 2013
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PPT, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/05/2014

pdf

text

original

Fraktur Femur Dextra 1/3 Distal Garis Patah Oblique Tertutup

Oleh: Darari Genadita Dahlia Septiawati Zaras Yudisthira Saga Ziad Alaztha

Pembimbing: Prof. dr. Djoko Simbardjo, Sp.B., Sp.OT

Kepaniteraan Klinik Stase Bedah Rumah Sakit Islam Jakarta Cempaka Putih Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran dan Kesehatan Universitas Muhammadiyah Jakarta 2012

Identitas
• Nama • Usia • Pekerjaan : Tn. S : 70 tahun : Wiraswasta

• Alamat

: Jl. Pegangsaan Dua No.34 RT 06/ RW 02
Kelapa Gading, Jakarta Utara

• Tanggal MRS

: 23 Agustus 2012

Anamnesis
• KU : Nyeri pada paha tungkai kanan atas sejak 4 jam

SMRS
• RPS : OS datang ke RS dengan keluhan nyeri pada

tungkai kanan atas sejak 4 jam SMRS. OS mengaku
sebelumnya jatuh dari kamar mandi. Tungkai kanan atas terasa sangat nyeri dan terdapat luka di daerah lutut dan berdarah

sehingga OS segera ke RS. Saat kejadian pasien mengaku
sadar. Keluhan muntah dan sakit kepala disangkal. 3 tahun SMRS tungkai kanan bawah OS pernah di amputasi karena KLL.

hipertensi disangkal.• RPD : Riwayat penyakit sistemik disangkal Riwayat amputasi tungkai kanan bawah 3 tahun SMRS • RPK : DM disangkal. penyakit jantung disangkal • RPO : Tidak pernah mendapat pengobatan jangka panjang • Alergi : Alergi makanan dan obat-obatan disangkal .

bengkak (+). nyeri (+). Nadi 88 x/menit. akral hangat) D : Gangguan pergerakan pada tungkai kanan atas. kemerahan (+) E : Luka lecet pada tungkai kanan atas Bengkak pada tungkai kanan atas .Pemeriksaan Fisik Primary Survey A : Jalan napas bebas B : Look Listen Feel  Pengembangan dada (+)  Terdapat suara napas  Terdapat hembusan napas C : Baik ( TD 130/90 mmHg.

Secondary Survey KU Kesadaran GCS TTV : Tampak sakit : CM : E4M6V5 : TD 130/90 mmHg Nadi 88 x/menit Napas 20 xmenit Suhu 36.50C .

lidah kotor (-). sekret (-/-). gigi lengkap. darah (-/-) : Normotia. nyeri tekan (-) . sclera ikterik (-/-). tonsil T1-T1 : Inspeksi benjolan (-). dinding tonsil hiperemis (-) perdarahan gusi (-). pembesaran KGB (-/-). pembesaran kel. kemerahan (-). otore (-/-). somatitis (-).tiroid (-/-) Palpasi Pembesaran kel. nyeri tekan tragus (-/-). massa (-). pembesaran KGB (-/-). membran timpani Intak : Bibir kering (-). darah (-/-). palpebra normal : Deviasi septum (-/-).Status Generalis • Kepala • Mata • Hidung • Telinga • Mulut • Leher : Normochepal : Konjungtiva anemis (-/-).tiroid (-/-). pupil isokor (+/+). luka bekas operasi (-).

batas kiri jantung di LMC sinistra Auskultasi  BJ I dan II murni.• Paru Inspeksi Palpasi Perkusi : Bentuk dan gerak simetris Nyeri tekan (-/-). batas paru – hepar setinggi ICS V LMCD Vesukuler (+/+). murmur (-). ronki (-/-). krepitasi (-/-). gallop (-) . vocal fremitus kedua paru simetris Sonor pada selurh lapang paru. wheezing (-/-) Auskultasi • Jantung : Inspeksi  Ictus cordis tidak terlihat Palpasi  Ictus cordis teraba di ICS V LMCS Perkusi  Batas kanan jantung di linea sternalis dextra.

distensi (-). edema (-/-) Bawah  akral hangat. edema (-/-) • • • • Genitalia RT Ekstremitas . caput medusa (-). massa (-) : tidak dilakukan : tidak dilakukan : atas  akral hangat. RCT < 2s.• Abdomen Inspeksi Auskultasi Palpasi Perkusi Vertebra : Perut cembung. splenomegali (-) Timpani pada 4 kuadran abdomen : Inspeksi  Simetris. edema (-/-). edema (-/+). hepatomegali (-). luka (-) Bising usus (+) normal Nyeri tekan abdomen (-). skar (-). massa (-). skoliosis (-). massa (-). lordosis (-). kifosis (-). RCT < 2s. benjolan (-) Palpasi  Nyeri tekan (-).

nyeri sumbu (+). krepitasi (tidak dilakukan) • Move: nyeri gerak aktif (+). deformitas (+). perabaan sedikit lebih hangat dibanding kulit sekitar. angulasi (+). oedema (+). pemendekan (+). nyeri gerak pasif (+). dolor/nyeri (+). rotasi (+) • Feel: nyeri tekan (+). ROM sulit dinilai karena nyeri .Status Lokalis Regio femoris dextra • Look: tampak hematom.

7 – 15.00 35 – 47 Hasil Satuan Normal Trombosit Kimia klinik GDS Penanda Hepatitis HbSAG 210 Ribu/l 150 – 440 70 – 200 110 Mg/dl - - - .52 47 G/dl Ribu/L % 11.60 – 11.5 9.Pemeriksaan Pununjang Laboratorium Pemeriksaan Hematologi Hemoglobin Leukosit Hematokrit 15.5 3.

8-12.6 APTT Pasien Kontrol 31.0 detik 12.5detik 41.1 detik Nilai Rujukan 9.0-47.Nilai Hemostasis Masa Protrombin (PT) Pasien Kontrol 11.0 detik 36.0 .

Pemeriksaan Pununjang Radiologi .

40 tahun MRS dengan keluhan nyeri pada tungkai kanan atas yang dirasakan terus-menerus dan bertambah berat saat digerakkan setelah jatuh dari kamar mandi. Penurunan kesadaran disangkal. krepitasi (tidak dilakukan).S. Pemeriksaan fisik: Status lokalis Regio femur dextra Look: tanda inflamasi (+).Resume Tn. kalor (+) Move: tidak dapat digerakkan karena nyeri Radiologi: Fraktur os femur kanan 1/3 distal . Muntah disangkal. perdarahan (+) Feel: dolor/nyeri (+). 3 tahun SMRS tungkai kanan bawah OS pernah di amputasi karena KLL.

DIAGNOSIS Fraktur femur terutup 1/3 distal dextra garis patah oblique tertutup PENATALAKSANAAN Reamputasi FOLLOW UP Pre Operasi • Pemeriksaan darah lengkap • Puasa • EKG • Foto toraks • Konsul jantung dan saraf • Operasi .

Operasi • Reamputasi Post Operasi • Imobilisasi • Pulang  bedrest • Analgetik dan antibiotik .

Post Operasi .

.Definisi Fraktur adalah terputusnya hubungan/kontinuitas struktur tulang atau tulang rawan bisa komplit atau inkomplit. yang disebabkan oleh gaya yang melebihi elastisitas tulang.

Penampang Tulang .

Deskripsi Fraktur (I) • Fraktur Komplit : garis patah melalui seluruh penampang tulang atau melalui kedua korteks tulang • Fraktur tidak komplit : garis patah tidak melalui seluruh penampang tulang seperti : – Hairline fracture – Buckle fracture / torus fracture  terjadi lipatan dari satu korteks dengan kompresi tulang spongiosa dibawahnya  biasanya distal radius anak – Greenstick fracture  mengenai satu korteks dengan angulasi korteks lainnya .

Deskripsi Fraktur (I) .

Garis patah spiral : trauma rotasi 4. Garis patah oblique : trauma angulasi 3. Fraktur kompresi : trauma aksial fleksi tulang spongiosa 5. Fraktur avulsi : trauma tarikan / traksi otot pada tulang  fraktur patella .Deskripsi Fraktur (II) Berdasarkan bentuk garis patah dan hubungannya dengan mekanisme trauma : 1. Garis patah melintang : trauma angulasi atau langsung 2.

Deskripsi Fraktur (II) .

Fraktur multiple : garis patah lebih dari 1. Bila dua garis patah disebut fraktur bifokal 3. Fraktur kominutif : garis patah lebih dari 1 dan saling berhubungan 2. Fraktur segmental : garis patah lebih dari 1 tetapi tidak berhubungan. tetapi pada tulang yang berlainan tempatnya .Deskripsi Fraktur (III) Berdasarkan jumlah garis patah : 1.

Deskripsi Fraktur (III) .

1. Fraktur displaced (dislokasi fragmen) :  Dislokasi ad longitudinam cum contractionum (pergeseran searah sumbu (overlapping)  Dislokasi ad axim  membentuk sudut  Dislokasi ad latus  fragmen saling menjauhi . Periosteum masih utuh 2. Fraktur undisplaced (tidak bergeser)  garis patah komplit tetapi kedua fragmen tidak bergeser.Deskripsi Fraktur (IV) Fraktur displaced atau undisplaced.

Deskripsi Fraktur (IV) .

Deskripsi Fraktur (V) • Fraktur terbuka Bila terdapat luka yang menghubungkan tulang yang fraktur dengan udara luar dan permukaan kulit • Fraktur tertutup Bila tidak ada luka yang menghubungkan fraktur dengan udara luar atau permukaan kulit .

tulang rawan epifisis atau tulang rawan sendi. .Fraktur Femur DEFINISI Fraktur adalah putusnya kontinuitas tulang.

KLASIFIKASI 1. Fraktur Subtrochanter Femur Ialah fraktur dimana garis patahnya berada 5 cm distal trochanter minor dari . Fraktur Collum Femur • Trauma langsung: Penderita jatuh dengan posisi miring dimana daerah trochanter mayor langsung terbentur dengan benda keras (jalanan) • Trauma tidak langsung yaitu karena gerakan eksorotasi yang mendadak dari tungkai bawah 2.

Fraktur Condyler Femur Mekanisme traumanya biasa kombinasi dari gaya hiperabduksi dan adduksi disertai dengan tekanan pada sumbu femur keatas. Fraktur Batang Femur Akibat trauma langsung kecelakaan lalu lintas atau jatuh dari ketinggian. 7. Fraktur Supracondyler Femur Disebabkan karena adanya tarikan dari otot-otot gastrocnemius. Fraktur Intercondyler Biasanya diikuti oleh fraktur supracondular.3. biasanya disebabkan oleh trauma langsung karena kecepatan tinggi. sehingga umumnya terjadi bentuk T fraktur atau Y fraktur. 4. . 6.

Muller AO/OTA classification of distal femur fractures 33-A Extra-articular fracture 33-A1 Simple 33-A2 Metaphyseal wedge 33-A3 Metaphyseal complex 33-B Partial articular (unicondylar) 33-B1 Lateral condyle. metaphyseal complex 33-C3 Articular complex . metaphyseal simple (Tshape) 33-C2 Articular simple. sagittal 33-B2 Medial condyle 33-B3 Frontal — ‘‘Hoffa fracture’’ 33-C Complete articular (bicondylar) 33-C1 Articular simple.

Penatalaksanaan 1. Non operatif Dilakukan skeletal traksi. . Traksi dengan tarikan langsung pada tulang Yang sering digunakan metode balans skeletal traksi.

1-2 jari di bawah tuberositas tibia dibor dengan Steinman pin. sehingga berguna untuk mencegah kekakuan sendi lutut. • Tarikan dipertahankan sampai 12 minggu atau lebih sampai tulangnya membentuk kalus yang cukup . sedang tungkai bawah ditopang oleh Pearson Attachment • Pearson Attachment memungkinkan gerakan pada sendi lutut. dipasang stapler pada steinman pin • Paha ditopang dengan Thomas Splint.Traksi Skeletal Balanced • Penderita tidur terlentang.

Thomas Splint .

OREF OPEN REDUCTION AND EXTERNAL FIXATION • Fraktur terbuka derajat III • Fraktur dengan kerusakan jaringan lunak yang luas • Fraktur dengan gangguan neurovaskuler • Fraktur Kominutif • Fraktur Pelvis • Fraktur infeksi yang kontraindikasi dengan ORIF Non Union • Trauma multiple .

ORIF OPEN REDUCTION AND INTERNAL FIXATION • Fraktur yang tak bisa sembuh atau bahaya avasculair nekrosis tinggi : fraktur talus dan fraktur collum femur. • Fraktur yang dapat direposisi tetapi sulit dipertahankan : Monteggia. • Fraktur yang berdasarkan pengalaman memberi hasil yang lebih baik dengan operasi : fraktur femur. dan fraktur pergelangan kaki. . • Fraktur yang tidak bisa direposisi tertutup: fraktur avulse dan fraktur dislokasi. fraktur antebrachii. fraktur Galeazzi.

Komplikasi Dini • Syok • Emboli lemak • • • • Lambat Delayed union Non union Mal union Kekakuan sendi lutut • Infeksi .

Terima kasih .

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->