Anda di halaman 1dari 6

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Indonesia telah dinyatakan bebas xerofthalmia pada tahun 1994, namun demikian tidak berarti kekurangan vitamin A (KVA) bukan merupakan masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa KVA sub klinis masih merupakan masalah yang perlu mendapat perhatian. Hal ini penting karena KVA termasuk yang subklinis akan berpengaruh terhadap kelangsungan hidup anak. Dengan demikian,

penanggulangan masalah KVA saat ini bukan hanya untuk mencegah kebutaan, tetapi juga dikaitkan dengan upaya mendorong pertumbuhan dan kesehatan anak guna menunjang upaya penurunan angka kesakitan dan angka kematian pada anak. Vitamin A merupakan salah satu zat gizi penting yang larut dalam lemak dan disimpan dalam hati, tidak dapat dibuat oleh tubuh sehingga harus dipenuhi dari luar (essensial), berfungsi untuk penglihatan, pertumbuhan dan peningkatan daya tahan tubuh terhadap penyakit (Depkes RI, 2005). Program penanggulangan kurang Vitamin A (KVA) telah

dilaksanakan sejak tahun 1970-an dan sampai saat ini masih merupakan masalah gizi utama di Indonesia. Strategi penanggulangan kurang vitamin A masih bertumpu pada pemberian kapsul vitamin A dosis tinggi, yang diberikan pada bayi (6-11 bulan), balita (1-5 tahun) dan ibu nifas (Depkes RI, 2000).

Keberhasilan program pemberian kapsul vitamin A dosis tinggi pada prinsipnya dipengaruhi oleh peran serta masyarakat sehingga semua anak yang berumur 1-5 tahun mendapat kapsul vitamin A dosis tinggi, setiap 6 bulan sekali pada bulan Februari dan Agustus melalui kegiatan Posyandu. Tujuan utama Posyandu yaitu menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB). Untuk itu Posyandu memberikan pelayanan KIA dan KB, gizi, penimbangan, pencacatan, penyuluhan, penanggulangan diare, dan imunisasi. Sehubungan dengan tujuan utama Posyandu, yaitu untuk

memberikan pelayanan KIA, maka di Posyandu terdapat program pemberian vitamin A dosis tinggi pada balita. Waktu pemberian kapsul vitamin A diberikan secara serentak pada bulan Februari dan Agustus, sebagai bulan utama pemberian kapsul. Paling lambat 1 (satu) bulan berikutnya digunakan untuk menjaring kelompok sasaran yang belum mendapatkan kapsul vitamin A yang dilakukan melalui kunjungan rumah (sweeping) (Depkes RI, 2000). Diseluruh dunia (WHO, 1991) diantara anak-anak pra sekolah diperkirakan terdapat sebanyak 6-7 juta kasus baru xeropthalmia tiap tahun, kurang lebih 10% diantaranya menderita kerusakan kornea. Diantara yang menderita kerusakan kornea ini 60% meninggal dalam waktu satu tahun, sedangkan diantara yang hidup 25% menjadi buta dan 50-60% setengah buta (Almatsier, 2001, p.153) Masalah kurang vitamin A masih merupakan salah satu masalah gizi utama di Indonesia, karena dari hasil survei xerofthalmia tahun 1992 2

menunjukkan bahwa 50% anak balita mempunyai kadar serum vitamin A dibawah standar kecukupan yang dilakukan oleh WHO (< 20 g/dl) (Depkes RI, 2000). Berdasarkan Profil Kesehatan Indonesia 2008 menunjukkan

pesentase pemberian vitamin A menurut sasaran di Indonesia tahun 2008 yaitu pada bayi usia 6-11 bulan pada bulan Februari yaitu 83,19% dan bulan Agustus yaitu 87,44%, sedangkan pada anak balita pada bulan Februari yaitu 91,55% dan bulan Agustus yaitu 82,27%. Berdasarkan data yang diperoleh dari Profil Kesehatan Kabupaten/ Kota di Jawa Tengah tahun 2008 menunjukkan cakupan pemberian suplementasi kapsul vitamin A dosis tinggi pada bayi 98,52% pada balita 95,14%. Cakupan suplementasi kapsul vitamin A pada bayi telah melampaui target sebesar 95%. Prevalensi kunjungan Balita di Posyandu pada bulan vitamin A dikota Demak pada bulan Februari dan Agustus tahun 2009 untuk bayi usia 611 bulan yaitu 87%. Sedangkan untuk balita usia 15 tahun yaitu 81% (DKK Demak, 2009). Prevalensi kunjungan balita di Posyandu pada bulan vitamin A di Desa Katonsari bulan Agustus 2009 dan Februari 2010 untuk usia bayi 6 11 bulan dan balita usia 15 tahun yaitu 45%. Jumlah bayi dan balita di Desa Katonsari yaitu 770 orang yang di dalamnya terdapat 154 orang bayi dan 616 orang balita (Puskesmas Demak III, 2009). Faktor-faktor yang menjadi hambatan Posyandu secara umum sebagai salah satu sarana kesehatan di masyarakat untuk memberikan kapsul 3

vitamin A dosis tinggi antara lain pendidikan dan pengetahuan yang dimiliki oleh ibu itu sendiri serta pendidikan dan pengetahuan yang dimiliki oleh kader Posyandu, jumlah Kader sangat sedikit dibandingkan jumlah sasaran balita, Kader tidak aktif, peralatan tidak memadai, tidak memiliki tempat yang layak dan pembinaan terhadap Posyandu belum merata, masih kurang intensifnya pelaksanaan promosi kapsul vitamin A, dan masih kurangnya kesadaran masyarakat tentang manfaat vitamin A. Berdasarkan uraian data di atas maka peneliti tertarik untuk meneliti Hubungan Tingkat Pengetahuan dan Pendidikan Ibu dengan Kunjungan Balita di Posyandu pada Bulan Vitamin A di desa Katonsari kecamatan Demak kabupaten Demak.

B. Rumusan Masalah Apakah ada hubungan tingkat pengetahuan dan pendidikan ibu dengan kunjungan balita di Posyandu pada bulan vitamin A di Desa Katonsari Kecamatan Demak Kabupaten Demak?

C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum Mengetahui hubungan tingkat pengetahuan dan pendidikan ibu dengan kunjungan balita di Posyandu pada bulan Vitamin A di Desa Katonsari Kecamatan Demak Kabupaten Demak.

2. Tujuan Khusus a. Mendeskripsikan kunjungan balita di Posyandu pada bulan vitamin A di Desa Katonsari Kecamatan Demak Kabupaten Demak. b. Mendeskripsikan tingkat pengetahuan ibu tentang Vitamin A di Desa Katonsari Kecamatan Demak Kabupaten Demak. c. Mendeskripsikan tingkat pendidikan ibu di Desa Katonsari Kecamatan Demak Kabupaten Demak. d. Menganalisis hubungan tingkat pengetahuan ibu dengan kunjungan balita di Posyandu pada bulan Vitamin A di Desa Katonsari Kecamatan Demak Kabupaten Demak. e. Menganalisis hubungan tingkat pendidikan ibu dengan kunjungan balita di Posyandu pada bulan Vitamin A di Desa Katonsari Kecamatan Demak Kabupaten Demak.

D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis Untuk memberikan tambahan referensi tentang hubungan tingkat pengetahuan dan pendidikan ibu dengan kunjungan balita di Posyandu pada bulan vitamin A, serta sebagai pengembangan ilmu pengetahuan dan metodologi penelitian.

2. Manfaat Aplikatif a. Bagi Institusi Dengan diadakannya penelitian ini, diharapkan dapat memberikan masukan dalam sistem pendidikan. Terutama untuk materi

perkuliahan dan memberikan gambaran serta informasi bagi penelitian selanjutnya. b. Bagi Puskesmas Dapat memberikan informasi kepada petugas Puskesmas untuk lebih efektif mensosialisasikan program Vitamin A dosis tinggi pada balita, serta dapat meningkatkan bimbingan teknis pada petugas kader dan dapat menjadi bahan pertimbangan untuk perencanaan program berikutnya. c. Bagi Kader Mendapat bimbingan teknis dari Puskesmas.

Anda mungkin juga menyukai