Anda di halaman 1dari 89

Case Report

Dosen Pembimbing :

dr. Cintya Sahetapy, Sp.S


Disusun oleh :

Ferina Natasya (08-016)


KEPANITERAAN ILMU PENYAKIT SARAF PERIODE 4 juni 2013 20 Juli 2013 FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KRISTEN INDONESIA JAKARTA

Stroke : Suatu ggn fungsional otak yg terjadi secara mendadak dgn tanda dan gejala klinik baik fokal maupun global yg berlangsung > 24 jam, atau dpt menimbulkan kematian disebabkan oleh ggn peredaran darah otak. ( WHO 1995)

KLASIFIKASI
I. Berdasarkan patologi anatomi dan penyebabnya 1. Stroke iskemik a. Transient Ischemic Attack (TIA) b. Trombosis serebri c. Embolia serebri

2. Stroke hemoragik a. Perdarahan intraserebral b. Perdarahan subarachnoid

II. Berdasarkan stadium/pertimbangan waktu TIA Stroke in evolution Completed stroke III. Berdasarkan system pembuluh darah Sistem karotis Sistem vertebro-basilar

PATOGENESIS
Faktor-faktor yang mempengaruhi aliran darah di otak : - Pembuluh darah atau arteri, dapat menyempit oleh proses aterosklerosis atau tersumbat thrombus / embolus. - Kelainan jantung - Kelainan darah

DIAGNOSA
Proses penyumbatan pembuluh darah otak memiliki beberapa sifat spesifik : Timbul mendadak Menunjukkan gejala neurologis kontralateral terhadap pembuluh darah yang tersumbat Kesadaran dapat menurun sampai koma terutama pada perdarahan otak. Sedangkan pada stroke iskemik lebih jarang terjadi penurunan kesadaran

Anamnesis Akan ditemukan kelumpuhan anggota gerak sebelah badan, mulut mencong atau bicara pelo dan tidak dapat berkomunikasi dengan baik. Keadaan ini timbul sangat mendadak. Juga perlu ditanyakan faktor-faktor resiko yang menyertai stroke. Dicatat obat-obat yang sedang dipakai. Juga ditanyakan riwayat keluarga dan penyakit lainnya.

FAKTOR RESIKO
Tidak dapat dimodifikasi Usia Jenis kelamin Herediter Ras
1.

2. Dapat dimodifikasi

A. MAYOR Hipertensi Penyakit jantung

Sudah ada manifestasi aterosklerosis secara klinis


Diabetes mellitus Polisitemia Riwayat stroke

Perokok

B. MINOR Hiperkolesterol Hematokrit tinggi Obesitas Kadar asam urat tinggi Kadar fibrinogen tinggi

Pemeriksaan Penunjang
A. LABORATORIUM

- Pemeriksaan darah rutin - Pemeriksaan kimia darah lengkap Gula darah sewaktu Kolesterol, ureum, kreatinin, asam urat, fungsi hati, enzim SGOT/SGPT/CPK dan Profil lipid (trigliserid, LDL-HDL serta total lipid) Pemeriksaan hemostasis (darah lengkap) Waktu protrombin APTT Kadar fibrinogen D-dimer INR Viskositas plasma

B. FOTO THORAX Dapat memperlihatkan keadaan jantung. Serta mengidentifikasi kelainan paru yang potensial mempengaruhi proses manajemen dan memperburuk prognosis C. CT SCAN OTAK Untuk mencari gambaran perdarahan, karena perbedaan manajemen perdarahan dan infark otak.

PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan Umum 1. Airways dan Breathing 2. Circulation 3. Menjamin nutrisi, cairan dan elektrolit yang stabil dan optimal

Penatalaksanaan Medik Merupakan intervensi medik dengan tujuan mencegah meluasnya proses sekunder dengan menyelamatkan neuron-neuron di daerah penumbra serta merestorasikan fungsi neurologik yang hilang 1. Trombolisis r-TPA (recombinant tissue plasminogen activator) yang diberikan dengan syarat-syarat tertentu dalam waktu kurang dari 3 jam setelah onset stroke 2. Antikoagulan Heparin atau heparinoid (fraxiparine). Untuk memperkecil thrombus dan mencegah pembentukan thrombus baru. 3. Neuroprotektan Mencegah dan memblok proses yang menyebabkan kematian sel-sel terutama di daerah penumbra. Berperan dalam menginhibisi dan mengubah reversibilitas neuronal yang terganggu akibat ischemic cascade

PENDAHULUAN
Ensefalitis adalah infeksi parenkim otak oleh berbagai macam mikroorganisme. Proses peradangannya jarang terbatas pada jaringan otak saja tetapi hampir selalu mengenai selaput otak meningoensefalitis.

PENDAHULUAN
Manifestasi utama meningoensefalitis viral kejang, gangguan kesadaran (acute organic brain syndrome), hemiparesis, paralisis bulbaris (meningoencephalomyeliti s), gejala-gejala serebelar dan nyeri serta kaku kuduk.

Disebabkan berbagai etiologi Di USA HSV Di Asia Japanese Insidensi di USA 20.000 kasus/tahun Insidensi Japanese encephalitis 35.00050.000/tahun (internasional) 1-10 kasus/ 100.000 orang (lokal) Epidemi arbovirus

Meningitis adalah radang umum pada araknoid dan piamater, disebabkan oleh bakteri, virus, riketsia, atau protozoa, yang dapat terjadi secara akut dan kronis.

GAMBARAN KLINIS

Klasifikasi
Meningitis serosa Meningitis purulenta.

Meningitis Tuberkulosis Generalisata Akut, subakut, atau kronis demam, mudah kesal, marah-marah, obstipasi, muntah-muntah. Ditemukan kaku kuduk dan tanda-tanda perangsangan meningen lainnya. Demam atau suhu dapat rendah Nadi sangat labil, lebih sering dijumpai bradikardia.

Manifestasi Klinis
Hiperestesi umum, Abdomen tampak mencekung. Gangguan saraf otak disebabkan tekanan eksudat pada saraf-saraf ini. Afasia motoris atau sensoris, kejang fokal, monoparesis, hemiparesis, gangguan sensibilitas. Khas: apatis, refleks pupil yang lambat dan refleks-refleks tendo yang lemah.

Meningitis Purulenta
Manifestasi Klinis Demam tinggi, nyeri kepala, kaku kuduk, kesadaran menurun. Pemeriksaan darah: leukositosis dengan pergerakan ke kiri pada hitung jenis.

LCS :
Keruh, nanah yang merupakan campuran leukosit yang hidup dan mati, jaringan yang mati dan bakteri. Pemeriksaan radiologis:
Foto kepala: periksa mastoid, sinus paranasal, gigi geligi Foto dada

Penatalaksanaan
Pneumokok, meningokok: Ampisilin 12-18 gr IV dosis terbagi per hari, selama minimal 10 hari atau hingga sembuh. Haemophylus influenzae: Kombinasi ampisilin dan kloramfenikol

Enterobacteriaceae: Sefotaksim 1-2 gr IV tiap 8 jam resisten kombinasi trimetoprim 80 mg dan sulfametoksazol 400 mg per infuse 2 kali 1 ampul per hari, selama minimal 10 hari. Staphylococcus aureus yang resisiten terhadap penisilin> Sefotaksim atau seftriakson 6-12 gr IV.

Suatu keadaan demam akut disertai kerusakan pada jaringan parenkim SSP yang menyebabkan perubahan tingkat kesadaran, gejala neurologis fokal dan kejang

KLASIFIKASI
1. Infeksi: Ensefalitis virus :
Akut kronis

Ensefalitis non virus 2. Non-infeksi

PATOFISIOLOGI
Vektor, reaktivasi, Inokulasi Otak

Multiplikasi (RES)

Hematogen/limfogen

Otak (ensefalitis) (inokulasi langsung, Ag Ab)

MANIFESTASI KLINIS
Bervariasi tergantung dari etiologi Gejala dan tanda gangguan neurologis mencerminkan lokasi infeksi dan peradangan

DIAGNOSIS
Anamnesis dan pemeriksaan fisik Pungsi Lumbal (kultur LCS) CT scan, MRI Pemeriksaan anti bodi pada fase akut dan konvalesen PCR Herpes simleks ensefalitis

PENATALAKSANAAN
Dirawat di rumah sakit. Pungsi lumbal harus dilakukan Kultur LCS Pemberian antivirus spesifik Tanda vital dimonitor secara berkelanjutan dan disupport.

Manajemen dasar dan terapi suportif termasuk pemantauan TIK, restriksi cairan, menghindari pemakaian larutan intravena hipotonis, dan penatalaksanaan terhadap demam. Pemberian antikonvulsan diberikan pada kejang dan pemberian antikonvulsan profilaksis dipertimbangkan pada ensefalitis berat. Perlu diperhatikan resiko terjadinya pneumonia aspirasi, ulkus decubitus, kontraktur, deep venous thrombosis daan komplikasinya, serta infeksi dari IV line dan kateter.

LAPORAN KASUS
NAMA (Inisial) JENIS KELAMIN PEKERJAAN PENDIDIKAN AGAMA ALAMAT : Tn. M MASUK TGL : 4 Juli 2013 : Laki-laki UMUR : 40 tahun : Guru : S1 : Islam : Jl. Pasir Putih

ANAMNESIS
KELUHAN UTAMA : tidak sadarkan diri KELUHAN TAMBAHAN : Nyeri kepala,demam,mual muntah,kejang

Riwayat Perjalanan Penyakit:


Pasien datang ke RS dengan keluhan kesadaran menurun sejak 2 hari yang lalu. Pasien hanya terbangun ketika dipanggil dan disentuh dengan keras. Pasien juga berbicara dengan katakata tidak jelas. 6 Hari SMRS UKI pasien sudah dirawat di bangsal RS lain karena lemas, mual, muntah, demam, dan nyeri kepala. Dalam 1 hari pasien muntah kira-kira 3-4x, dan isi muntah berupa makanan. Nyeri kepala pasien dirasa seperti ditusuktusuk di seluruh bagian kepala, keluhan tersebut dirasakan terus menerus dan tidak berkurang dengan minum obat warung. Karena keadaan tersebut pasien dibawa ke rumah sakit

2 hari SMRS UKI pasien mengalami kejang dan penurunan kesadaran sehingga harus dipindahkan dari bangsal ke ICU RS lain. Sebelum kejang ekspresi pasien terlihat kosong, kejang terjadi selama 5 menit. Setelah kejang pasien muntahmuntah dan kemudian kesadaran pasien mulai menurun hingga di masukan ke ICU. Keluhan lain seperti bicara pelo,lemah separuh badan,pusing berputar, penglihatan berbayang disangkal.

PENYAKIT DAHULU

Kurang lebih 2 bulan yang lalu pasien didiagnosa TB paru dan sampai saat ini masih melakukan pengobatan secara teratur. Riwayat penyakit lain seperti stroke,hipertensi, DM disangkal. Riwayat keluarga yang mengalami hal seperti ini juga disangkal.
MAKAN, MINUM, KEBIASAAN : Sebelumnya pasien mempunyai kebiasaan makan yang teratur dan cukup. Namun kira kira 6 bulan ini nafsu makan pasien menurun sehingga pasien terlihat kurus dan lemas. Pasien mempunyai kebiasaan merokok kira kira 1 bungkus untuk 2 hari. Menurut keluarga, pasien juga sering sekali mengosumsi kopi hitam. Pasien menurut keluarga sering berolahraga secara teratur. Riwayat pasien berkunjung ke negara lain setahun terakhir disangkal.

PEMERIKSAAN FISIK
PEMERIKSAAN UMUM

KESADARAN : Somnolen KOOPERASI : kurang kooperatif GCS : 11 (E3 V3 M5) NADI: 120 x/menit SUHU TEKANAN DARAH : 140/110 mmHg RESPIRASI : 24 x/menit UMUR KLINIS : 50-an BENTUK BADAN : Piknikus

: 36,8 0C

GIZI : Kurang STIGMATA : Tidak ada TROFI : eutrofi KULIT : Sawo matang TURGOR: Baik KUKU : Sianosis LAIN-LAIN :KELENJAR GETAH BENING : Tidak teraba membesar PEMBULUH DARAH : A. Carotis : Palpasi kanan dan kiri: Kanan sama dengan kiri Auskultasi : Tidak ada bising

PEMERIKSAAN REGIONAL
Kepala : Normocephali Kalvarium: Tidak ada kelainan Mata : Konjungtiva tidak pucat, Sklera tidak ikterik Hidung : Bentuk biasa, lapang, sekret -/ Mulut : Tidak ada kelainan Telinga : Bentuk biasa, serumen -/ Leher : Tidak ada kelainan

PEMERIKSAAN REGIONAL
Toraks : Normochest Jantung : Inspeksi (iktus kordis tidak terlihat), Palpasi (Iktus kordis tidak teraba), Perkusi (Batas kanan jantung ICS V linea parasternal dextra, Batas kiri jantung ICS V linea midklavikularis sinistra), Auskultasi (BJ I dan II normal, murmur -, gallop -) Paru-paru : Inspeksi (pergerakan dinding dada simetris), Palpasi (vocal fremitus simetris), Perkusi (sonor simetris kanan kiri), Auskultasi (BND vesikuler, Wheezing -/-, Rhonki -/-)

Abdomen : Inspeksi (perut tampak datar), Auskultasi (BU + 3 kalimenit), Palpasi (supel, tidak ada nyeri tekan), Auskultasi (timpani, tidak ada nyeri ketok) Hepar : Tidak teraba membesar Lien : Tidak teraba membesar Vesika Urinaria : Bulging -, nyeri tekan Extremitas : Simetris, Akral hangat, Oedem (-) Sendi : Tidak ada kelainan Gerakan Leher : Tidak ada keterbatasan Range of Movement Gerakan Tubuh : Tidak ada keterbatasan Range of Movement Nyeri Ketok : Nyeri Sumbu :-

PEMERIKSAAN NEUROLOGIS
Rangsang Meningeal
Kaku kuduk :+ Brudzinski I : Brudzinski II: -/Kerniq : +/+ Laseque : >70/ >70

Saraf Kranial
N.I N.II : Tidak dilakukan : Visus kasar : tidak dilakukan Lapangan pandang : tidak dilakukan Lihat warna : tidak dilakukan Funduskopi : tidak dilakukan

N. III, IV, VI (Okolomotorius, Trochlearis, Abdusen)


SIKAP BOLA MATA : simetris Ptosis : stidak ada Deviasi Konjugee : tidak ada Strabismus tidak ada Eksoptalmus : tidak ada Enoptalmus : tidak ada Diplopia : sulit dinilai PERGERAKAN BOLA MATA: Lateral Kanan : tidak dilakukan Lateral Kiri : tidak dilakukan Atas : tidak dilakukan Bawah : tidak dilakukan Berputar : tidak dilakukan PUPIL: Bentuk : bulat, rata, isokor 3mm/3mm Reflek Cahaya Langsung: +/+ Konsesual : +/+ Dolls Eyes Phenomenon : -/-

N. V (Trigeminus)
N.V: Motorik : Membuka mulut Gerakan Rahang Menggigit (palpasi) Maseter Temporalis : sulit dinilai : sulit dinilai : : sulit dinilai : sulit dinilai

Sensorik:
Rasa Raba : tidak dilakukan Rasa Nyeri : tidak dilakukn Rasa Suhu : tidak dilakukan

Refleks : Reflek Kornea Reflek Maseter

:+/+ :+

N.VII (Fasialis)
N.VII
Sikap wajah saat istirahat Mimik Angkat alis Kerut dahi Lagoftalmus Kembung pipi Menyeringai Rasa Kecap(2/3 depan) : simetris : wajar : tidak dilakukan : tidak dilakukan : tidak dilakukan : tidak dilakukan : sulkus nasolabialis kanan = kiri : tidak dilakukan

N.VIII (Vestibulocochlearis)
Vestibular : Nistagmus Vertigo Kokhlearis: Suara bisik Gesekan Jari Tes Rinne Tes Weber Tes Schwabach Tes Kalori : : sulit dinilai : tidak dilakukan : tidak dilakukan : tidak dilakukan : tidak dilakukan : tidak dilakukan : tidak dilakukan

N. IX, X (Glosofaringeus, Vagus)


Arcus Faring Palatum Mole Uvula Disfoni Rinolali Disfagi Reflek Faring Reflek Okulokardiak Reflek Sinus Karotikus : sulit dinilai : sulit dinilai : sulit dinilai : sulit dinilai : sulit dinilai : sulit dinilai : tidak dilakukan :+ :+

N.XI (Asesorius)
Menoleh Angkat Bahu : tidak dilakukan : tidak dilakukan

N.XII (Hipoglosus)
Sikap lidah dalam mulut Julur lidah Tremor Fasikulasi Tenaga otot lidah : tidak dilakukan : tidak dilakukan : sulit dinilai : sulit dinilai : tidak dilakukan

MOTORIK
MOTORIK : lateralisasi kiri TONUS OTOT: Lengan : normotoni / normotoni Tungkai : normotoni / normotoni Trofi otot : eutrofi
Kejang Tetani Tremor Khorea Atetosis Balismus Diskinesia Mioklonik Tic ` : (-) : (-) : (-) : (-) : (-) : (-) : (-) : (-) : (-)

GERAKAN SPONTAN ABNORMAL

STATIS : Duduk : tidak dilakukan Berdiri : tidak dilakukan Tes Romberg : tidak dilakukan DINAMIS Telunjuk hidung : tidak dilakukan Jari-jari : tidak dilakukan

DINAMIS Tremor Intensi : sulit dinilai Disdiadokinesis : tidak dilakukan -Disartri : sulit dinilai -Menulis : sulit dinilai

REFLEKS
Refleks Tendo

Biceps Triceps APR KPR

: ++/+++ : ++/++ : ++/+++ : ++/++


:+/+ :+ : tidak dilakukan :+ : tidak dilakukan : tidak dilakukan

Refleks Abnormal
Babinski : -/Hoffman tronmer : -/Chaddock : -/Klonus Lutut : -/Oppenheim : -/Klonus Kaki : -/Klonus lutut :-/Gordon : -/Schaeffer : -/-

Refleks Kulit
telapak kaki Kulit perut Kremaster Dinding perut Anus eksternus Anus internus

Sensibilitas
Eksteroseptif
- Rasa raba - Rasa nyeri - Rasa suhu :tidak dilakukan : +/+ : tidak dilakukan
: tidak dilakukan : tidak dilakukan

Propioseptif
- Rasa sikap - Rasa getar

Vegetatif
Miksi Defekasi Salivasi Sekresi keringat Fungsi Seks : terpasang kateter : sulit dinilai : sulit dinilai : sulit dinilai :-

Fungsi Luhur
Memori Bahasa Afek dan emosi Kognitif : sulit dinilai : sulit dinilai : sulit dinilai : sulit dinilai

Tanda Regresi
Refleks menghisap Refleks menggigit Refleks memegang Snout Reflex ::::-

RESUME
Pasien datang ke RS dengan kesadaran menurun sejak 2 hari yang lalu. Pasien hanya terbangun ketika dipanggil dan disentuh dengan keras. Pasien juga berbicara dengan kata-kata tidak jelas. 6 Hari SMRS UKI pasien sudah dirawat di bangsal RS lain karena lemas, mual, muntah, nyeri kepala, dan kejang. Setelah kejang pasien muntah-muntah disertai mual dan setelah itu kesadarannya menurun. Pasien mempunyai riwayat TB paru dengan pengobatan teratur sejak 2 bulan lalu. riwayat merokok (+).Riwayat hipertensi DM disangkal Keluhan lain : nyeri kepala

STATUS GENERALIS KESADARAN : Somnolen GCS : 11 (E3 V3 M5) NADI : 120 x/menit SUHU : 36,8 0C TEKANAN DARAH : 140/110 mmHg RESPIRASI : 24 x/menit STATUS NEUROLOGIS Rangsang Meningeal : kaku kuduk +, kerniq : +/+ Nervus cranial : NII : Sikap bola matan : simetris Pupil : isokor,bulat,tepi rata, 3/3 mm RCL : +/+ RCTL +/+

Nervus V : Refleks kornea +/+ Refleks Maseter + Nervus VII : Menyeringai : SNL kanan sama dengan kiri Nervus IX,X Refleks okulokardiak : + Refleks sinus karotikus : +

MOTORIK Derajat kekuatan otot Sensibilitas

: Lateralisasi kiri : sulit dinilai

FAKTOR RESIKO Riwayat merokok sejak muda SIRIRAJ STROKE SCORE = ( 2,5 x 1 ) + ( 2 x 1) + ( 2 x 1 ) + ( 0,1 x 100 ) ( 3 x 1 ) - 12 = 1,5 (StrokeHemoragik) GAJAH MADA SCORE Terdapat penurunan kesadaran Terdapat nyeri kepala Tidak terdapat refleks Babinski = Stroke Hemoragik

LABORATORIUM 4 JULI
PH PCO2 Saturasi O2 BE HCO3 Natrium Kalium Clorida 7.454 33.9 97.6 1.2 24 144 3.1 100 7.35 7.45 36 45 -2.5 2.5 21 25 136 145 3.5 5.1 99 - 111

CT SCAN

DIAGNOSIS KLINIS TOPIS

DIAGNOSIS
: Penurunan kesadaran dengan Hemiparese sinistra : Lobus parietal korteks serebri hemisfer dextra, Meningen,ensefalon

ETIOLOGIS

:MeningoensefalitIS, Stroke hemoragik

Diagnosa Banding : SNH,suspek SOL

Penatalaksanaan:
Diet : Lunak IVFD : I RL + Neuroprotektor (1 gr Citicolin) /24 jam Mm : anti perdarahan : Plasminex Vitamin K antibiotik : Kalmicetin Ceftriaxone

PROGNOSIS
AD VITAM : Dubia ad bonam

AD SANASIONUM : Dubia ad AD FUNGSIONUM : Dubia ad bonam

PH 2 , 5 JULI 2013 S: O : Status Generalis

KU TSB Kes apatis GCS E3V3M6 RR 20 x/menit N 74 x/menit TD 160 / 110 mmHg S 37.5 C Status neurologis Rangsang meningeal = Kaku kuduk + Kerniq : +/+

LED Hb Leukosit Ht Natrium Kalium Clorida Trombosit Kolesterol LDL Ureum Creatinin Asam Urat

25 13.9 16 40.6 143 3.6 102 221 109 25 1.17 10.9

<10 14 - 16 5 - 10 40 - 48 136-145 3.5 5.1 99 - 111 <155 15-45 0.7-1.1 3.4 7.0

Diagnosa Klinis: Hemiparese sinistra dan

penurunan kesadaran Diagnosa Topis : lobus parietal korteks serebri hemisfer dextra & meningen Diagnosa etiologis : Meningoencefalitis & SH P/ Diit : puasa IVFD : RL MM : ceftriaxone 2 x 1 gr Kemicitine 3 x 1 gr OMZ 2x4 Ranitidine 2 x 1 amp Plasminex 3 x 1 amp Citicolin 2 x 1 amp

Tanggal Periksa PH :3

: 6 juli 2013

S/ Pusing O/ KU : TSB Kes : somnolen GCS :E2V3M6 RR : 21 x/menit N :85 x/menit TD : 170 / 90 mmHg S : 37.5 C Kaku kuduk : + Kerniq MOTORIK : lateralisasi kiri

: +/+

Diagnosa Klinis : Hemiparese sinistra dan penurunan kesadaran Diagnosa Topis : lobus parietal korteks serebri hemisfer dextra & meningen Diagnosa etiologis : SH + meningoencefalitis GDS :113 P/ Diit : SV 6 x 100 IVFD : RL MM : Kemicitine 3 x 1 gr Plasminex 3 x 1 amp

Tanggal Periksa : 7 Juli 2013 PH :4 S/


O/ KU : TSB Kes :somnolen GCS : E2V3M6 RR :20 x/menit N :80 x/menit TD :160 / 100 mmHg S : 37 C Kaku kuduk + MOTORIK : lateralisasi kiri GDS :156

Kerniq : +/+

A/ Diagnosa Klinis : Hemiparese sinistra dan penurunan kesadaran Diagnosa Topis : lobus parietal korteks serebri hemisfer dextra & meningen Diagnosa etiologis : Meningoencefalitis & SH+ P/ Diit : SV 6 x 100 IVFD : RL MM : Kemicitine 3 x 1 gr Plasminex 3 x 1 amp

Ceftriaxone OMZ 2 x 40 gr Vit K 1x 1 amp Citicolin 2 x 1 amp Manitol 3 x 100 cc Dexametason 3 x 2 cap

Tanggal Periksa PH : 5
S/ O/ KU TSB Kes soporokoma GCS E1VxM3 RR 24 x/menit N 74 x/menit TD 160 / 80 mmHg S 36.5 C

: 8 Juli 2013

Kaku kuduk : + Motorik : lateralisasi ke kiri

Hasil PH PCO2 PO2 Saturasi O2 BE HCO3 TCO2 Konsentrasi O2

Nilai Normal
7.4 7 38.4 139.4 99.3 5.8 29 30.1 20.5

Na Kalium Clorida GDP HB Leukosit Ht Trombosit Protein total ALBUMIN

139 3.5 100 122 16.4 16.7 48.4 186 7.02 3.75

Diit : SV 6 x 250 IVFD : MM : Kalmicetin 3x1 Plasminex 3 x 1 amp Manitol 3x1 Dexametason 3x2

Terima Kasih
KEPANITERAAN ILMU PENYAKIT SARAF PERIODE 1 APRIL 2013 27 APRIL 2013 FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KRISTEN INDONESIA JAKARTA