Anda di halaman 1dari 16

I.

JUDUL Reaksi Redoks, Elektrolisis, dan Sel Elektrokimia

II.

TUJUAN 1. Mengenal reaksi redoks dan bilangan oksidasi. 2. Mempelajari reaksi kimia yang terjadi akibat adanya arus listrik. 3. Mengetahui reaksi oksidasi dan reduksi yang ditunjukkan oleh reaksi antara logam zinc dengan tembaga dalam larutannya dan menentukan potensial selnya.

III.

DASAR TEORI Reaksi redoks adalah reaksi yang mengalami perubahan bilangan oksidasi. Reaksi redoks terjadi karena adanya serah terima elektron. Jumlah elektron yang diterima sama dengan jumlah elektron yang dibebaskan pada reaksi oksidasi. Pada sel volta, zat yang mempunyai potensial reduksi lebih positif akan cenderung mengalami reduksi, sedangkan zat yang mempunyai potensial reduksi lebih negatif akan cenderung mengalami oksidasi. Apabila suatu zat yang mempunyai potensial reduksi lebih negatif direduksikan dengan zat yang mempunyai potensial reduksi lebih positif akan terjadi reaksi redoks, yaitu reaksi kimia yang disertai dengan pelepasan elektron dan pengikatan elektron. Suatu reaksi reduksi (penangkapan elektron) dapat menimbulkan potensial listrik tertentu yang disebut potensial reduksi dan mempunyai simbol Eo. Makin besar E yang ditimbulkan maka makin mudah mngalami reduksi. Berdasarkan harga Eo yang tercantum dalam faktor potensial elektroda logam. Kita dapat menyusun suatu deret unsur-unsur mulai dari unsur yang mempunyai Eo terkecil sampai kepada unsur yang memiliki Eo terbesar. Unsurnya sebagai berikut: Li, Ka, Ba, Ca, Na, Mg, Al, Mn, Zn, Cd, Cr, Fe, Ni, Sn, Pb, (H), Cu, Hg, Ag, Pt, Au. Deret unsur-unsur tersebut disebut dengan deret volta (deret potensial

logam). Pada Hidrogen diletakkan dalam tanda kurung karena hidrogen bukan logam dan mempunyai Eo= 0,0 Volt. Suatu reaksi redoks dapat diperkirakan berlangsung spontan atau tidak dengan menggunakan harga potensial reduksi setengah sel. Reaksi redoks dapat berlangsung spontan jika: Eosel = (potensial reduksi strandar zat yang tereduksi) (potensial reduksi strandar zat yang teroksidasi) > 0 Eosel = (potensial reduksi strandar zat yang tereduksi) + (potensial oksidasi strandar zat yang teroksidasi) > 0 Eosel = Eokatoda + Eoanoda atau Eosel = Eooks Eored

Dalam reaksi redoks, jumlah elektron yang dilepas oleh reduktor sama dengan jumlah elektron yang diterima oleh oksidator. Masing-masing elektron juga menyediakan Joule sesuai muatan elektron yang terlibat reaksi. Oleh karena itu, potensial reduksi tidak pernah dikalikan dengan factor yang digunakan untuk menyamakan elektron yang dilepas dan elektron yang diterima untuk menghasilkan harga potensial sel. Setiap zat akan mempunyai kecenderungan untuk melepaskan atau menangkap elektron. Zat yang mudah melepaskan elektron akan mudah mengalami oksidasi, sedangkan zat yang mudah menangkap elektron akan mudah mengalami reduksi. Apabila suatu oksidator baik berupa ion, atom, atau molekul kontak langsung dengan suatu reduktor akan terjadi transfer elektron dari reduktor ke arah oksidator sehingga terjadi reaksi redoks. Pada sel elektrokimia, misalnya: sel galvani atau sel volta, karena adanya beda potensial listrik maka akan terjadi transfer elektron melalui kawat penghantar listrik yang menghubungkan antara oksidator dengan reduktor. Untuk mengatur

kesetimbangan ion-ion dalam larutan, kedua larutan dihubungkan dengan jembatan garam. Besar beda potensial listrik dapat ditunjukkan oleh jarum penunjuk pada voltmeter.

Reaksi yang terjadi: Zn Cu2+ + 2e Zn2+ + 2e Cu (oksidasi) (reduksi)

Dalam reaksi tersebut, Zn melepaskan elektron. Elektron yang dilepas mengalir ke katoda Cu yang berhubungan langsung dengan ion Cu2+ (hasil ionisasi CuSO4 (aq) Cu2+ (aq) + SO42- (aq) melalui kawat penghantar sehingga mereduksi ion Cu2+ menjadi Cu). Perubahan ion Cu2+ menjadi Cu mengakibatkan larutan pada katoda kelebihan ion SO42- (aq). Kelebihan ion SO42- ini mengalir ke anoda melalui jembatan garam untuk mengimbangi kelebihan ion Zn2+ yang terdapat dalam larutan anoda. Kedua proses tersebut membantu kelistrikan setengah sel tetap netral. Tanpa adanya jembatan garam, netralitas kelistrikannya tidak dapat dipertahankan, akibatnya sel tidak dapat menghasilkan arus listrik. Menurut konvensi dalam sel volta, bagian anoda (bagian yang mengalami oksidasi) disebut elektroda negatif dan katoda disebut elektroda positif. Elektrolisis adalah peristiwa penguraian larutan elektrolit dalam sel elektrokimia oleh arus listrik yang berasal dari sumber arus listrik baterai atau aki yang menghasilkan arus listrik searah. Pada peristiwa elektrolisis, pada elektroda-elektrodanya terjadi reaksi kimia yang menghasilkan zat-zat tertentu. Elektroda yang bermuatan positif disebut anoda dan elektroda yang bermuatan negatif disebut katoda. Elektroda ada 2 macam, yaitu: a. Elektroda Innert Elektroda yang hanya mentransfer elektron dari dan ke dalam larutan. Contoh: Platina, Carbon dan Aurum. b. Elektroda Reaktif Elektroda yang reaksi kimianya memasuki reaksi elektroda. Dalam elektrolisis, pada katoda terjadi reaksi reduksi sedangkan pada anoda terjadi reaksi reduksi oksidasi.

IV. ALAT DAN BAHAN a. Reaksi Redoks No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Nama Tabung reaksi Gelas ukur Pipet tetes Logam Cu Logam Zn Logam Fe Larutan CuSO4 Larutan ZnSO4 Larutan FeCl3 6 buah 1 buah 3 buah 2 buah 2 buah 2 buah Secukupnya Secukupnya Secukupnya Jumlah

b. Elektrolisis Larutan KI dan NaCl No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Tabung U Gelas ukur Pipet tetes Sumber arus dan elektrode karbon Larutan KI 0,5 M Larutan NaCl Larutan Amilum Indikator PP Nama Jumlah 1 buah 1 buah 2 buah 1 buah Secukupnya Secukupnya Secukupnya Secukupnya

c. Sel Elektrokimia No. 1. 2. Nama Gelas beker Pipet tetes 2 buah 2 buah Jumlah

3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

Jembatan garam Voltmeter Logam Cu Logam Zn Larutan CuSO4 Larutan ZnSO4 Larutan NaCl

1 buah 1 buah 1 buah 1 buah Secukupnya Secukupnya Secukupnya

V.

CARA KERJA a. Reaksi Redoks 1. Memasukkan 2 mL larutan CuSO4 ke dalam tabung reaksi, kemudian menambahkan ke dalamnya logam Zn. Membiarkan beberapa menit dan mencatat ap yang terjadi. Dengan cara yang sama, melakukan untuk logam Fe. 2. Memasukkan 2 mL larutan ZnSO4 ke dalam tabung reaksi, kemudian menambahkan ke dalamnya logam Cu. Membiarkan beberapa menit dan mencatat ap yang terjadi. Dengan cara yang sama, melakukan untuk logam Fe. 3. Mengulangi dengan cara yang sama, melakukan untuk larutan FeCl3 dengan logam Cu dan Zn. b. Elektrolisis Larutan KI dan NaCl 1. Memasukkan KI 0,5 M ke dalam tabung U sampai klem dari ujung stas tabung. 2. Menghubungkan elektrode-elektrode dengan sumber arus listrik selama 5 menit. 3. Mencatat perubahan yang terjadi pada anode.

4. Mencatat perubahan yang terjadi pada katode dengan menggunakan pipet tetes, menambahkan 2 tetes larutan indikator PP pada ruang katoda, mengamati yang terjadi. 5. Dengan menggunakan pipet tetes, menambahkan beberapa tetes larutan amilum ke dalam anoda, mengamati yang terjadi. 6. Melakukan langkah 1-5 dengan menggunakan larutan NaCl. c. Sel Elektrokimia 1. Pembuatan setengah sel Zn Zn2+ + 2e Memasukkan 70 mL larutan ZnSO4 0,5 M ke dalam gelas kimia 150 mL. menempatkan sebatang lempeng zinc ke dalam gelas itu. 2. Pembuatan setengah sel Cu2+ + 2e Cu Memasukkan 70 mL larutan CuSO4 0,5 M ke dalam gelas kimia 150 mL. menempatkan sebatang lempeng tembaga ke dalam gelas itu. 3. Menghubungkan lempeng Zn dengan kutub negatif voltmeter dan menghubungkan lempeng Cu dengan kutub positif voltmeter. 4. Menghubungkan kedua sel dengan jembatan garam. Membaca voltmeter lalu mencatat hasilnya.

VI.

DATA PENGAMATAN a. Reaksi Redoks 1. CuSO4 + Zn bereaksi 2. CuSO4 + Fe tidak bereaksi 3. ZnSO4 + Cu bereaksi 4. ZnSO4 + Fe tidak bereaksi 5. FeCl3 + Zn bereaksi 6. FeCl3 + Cu tidak bereaksi

b. Elektrolisis Larutan KI dan NaCl No. 1. Pembeda Perubahan pada anode(+) KI Jingga NaCl Ada gelembung (sedikit) 2. Perubahan pada katode(-) Ada gelembung 3. Larutan dari ruang anode a. Warna b. Warna dengan amilum 4. Larutan dari ruang katode a. Warna b. Warna dengan fenolftalin Bening Merah muda Bening Merah muda Jingga Hitam Bening Biru tua Ada gelembung (sedikit)

c. Sel Elektrokimia Tegangan sel Zn (s) Zn2+ (0,5M) terhadap Cu (s) Cu2+ VII. ANALISA DATA a. Reaksi Redoks Tujuan dari percobaan reaksi redoks ini adalah untuk mengenal reaksi redoks dan bilangan oksidasi. Reaksi redoks merupakan suatu reaksi kimia dimana dalam reaksi tersebut terjadi perubahan biloks antara reaktan dengan produk. Prinsip kerja dari percobaan ini adalah memasukkan kepingan logam Zn dan Fe ke dalam tabung reaksi yang masing-masing berisi larutan CuSO4, membiarkannya beberapa menit dan melihat perubahan yang terjadi. Mengulangi hal yang sama dengan logam Cu dan Fe ke dalam larutan ZnSO4 dan juga larutan FeCl3 terhadap logam Cu dan Zn. 0,8 volt

Dengan melihat harga potensial elektroda (E sel = Eo), maka dapat diketahui bahwa suatu reaksi dapat berlangsung atau tidak. Bila reaksi berlangsung pada Eosel positif maka reaksi dikatakan berlangsung secara spontan dan bila Eosel negatif maka reaksi dikatakan tidak berlangsung secara spontan. Perdasarkan percobaan yang telah dilakukan maka didapat analisa seperti sebagai berikut: 1. CuSO4 + Zn bereaksi Oks : Zn Zn2+ + 2e Eo = 0,76 V Eo = 0,34 V Eo = 1,1 V Red : Cu2+ + 2e Cu Redoks: Cu2+ + Zn Zn2+ + Cu

Pada reaksi CuSO4 dengan Zn terjadi reaksi yang berlangsung secara spontan. Terjadi juga reaksi oksidasi pada Zn (mengalami kenaikan bilangan oksidasi dari 0 menjadi +2) dan terjadi peristiwa reduksi pada Cu2+ (bilangan oksidasi turun dari +2 menjadi 0). 2. CuSO4 + Fe tidak bereaksi Oks : Fe Fe2+ + 2e Eo = 0,44 V Eo = 0,34 V Eo = 0,78 V Red : Cu2+ + 2e Cu Redoks: Fe + Cu2+ Fe2+ + Cu

Secara teori seharusnya logam Fe dapat bereaksi karena terjadi pengkaratn dan terjadi reaksi yang berlangsung secara spontan. Akan tetapi pada percobaan tidak dapat bereaksi, hal ini mungkin dapat dikarenakan oleh logam Fe yang sebelumnya tidak di amplas terlebih dahulu. 3. ZnSO4 + Cu bereaksi Oks : Cu Cu2+ + 2e Eo = -0,34 V Eo = -0,76 V Eo = -1,1 V Red : Zn2+ + 2e Zn Redoks: Cu2+ + Zn Zn2+ + Cu

Karena Eo sel < 0 maka reaksi tidak berlangsung secara spontan.

4. ZnSO4 + Fe tidak bereaksi Oks : Fe Fe2+ + 2e Eo = 0,44 V Eo = -0,76 V Eo = -0,32 V Red : Zn2+ + 2e Zn Redoks: Fe + Zn2+ Fe2+ + Zn

Eo sel < 0 maka reaksi tidak berlangsung secara spontan. Hal ini disebabkan karena Zn memiliki Eo lebih negatif daripada Fe, jadi Fe tidak dapat mendesak Zn untuk bereaksi. 5. FeCl3 + Zn bereaksi Oks : Zn Zn2+ + 2e Eo = 0,76 V Eo = -0,44 V Red : Fe3+ + 3e Fe

Redoks: 3Zn + 2Fe3+ 3Zn2+ + 2Fe Eo = 0,32 V Pada saat bereaksi terjadi perubahan fisik berupa gelembuggelembung udara disekitar logam Zn, maka dapat dikatakan reaksi yang berlangsung secara spontan karena Eo sel > 0. 6. FeCl3 + Cu tidak bereaksi Oks : Cu Cu2+ + 2e Eo = -0,34 V Eo = -0,44 V Eo = -0,78 V Red : Fe3+ + 3e Fe Redoks: 3Cu

+ 2Fe3+ 3Cu2+ + 2Fe

Karena Eo sel < 0 maka reaksi tidak berlangsung secara spontan. Hal ini disebabkan karena Cu memiliki Eo lebih negative daripada Fe, jadi Fe tidak dapat mendesak Cu untuk bereaksi. b. Elektrolisis Tujuan dari percobaan ini adalah mempelajari reaksi kimia yang terjadi akibat adanya arus listrik. Arus listrik yang dialirkan power supply melalui elektroda-elektrodanya akan menimbulkan reaksi kimia baik pada anoda maupun katoda. Reaksi yang terjadi dalam anoda berbeda dengan reaksi yang terjadi pada katoda, tergantung pada jenis larutan.

Prinsip kerja percobaan ini adalah dengan memasukkan larutan KI ke dalam tabung U sampai klem dari ujung tabung U, kemudian menghubungkan elektrode-elektrode dengan sumber arus listrik selama 5 menit. Mengamati serta mencatat perubahan yang terjadi pada anoda dan katoda, lalu menambahkan beberapa tetes larutan amilum kedalam ruang anoda dan indikator PP kedalam ruang katoda. Mengamati yang terjadi dan melakukan prinsip kerja yang sama tetapi dengan mengganti KI dengan NaCl. Fungsi larutan amilum pada percobaan ini adalah sebagai indikator dengan adanya gas I2 yang terbentuk pada ruang anoda, sedangkan indikator PP berfungsi sebagai indikator asam basa. Pada elektrolisis larutan KI, pada ruang anoda yang semula berwarna jingga/orange setelah ditetesi dengan amilum warnanya berubah menjadi hitam. Hal ini terjadi karena ion I- dalam larutan KI teroksidasi menjadi I2 dengan reaksi: 2I- 2I2 + 2e. Larutan tersebut berubah warna setelah ditetesi dengan amilum menandakan bahwa terdapat gas I2, sedangkan bila larutan pada anoda ditetesi dengan indikator PP tidak akan berubah warna yang menandakan bahwa pH larutan yng teroksidasi pada anion tidak bersifat basa. Pada ruang katoda semula berwarna bening setelah ditetesi dengan indikator PP berubah warna menjadi merah muda, hal ini dikarenakan pada ruang katoda terbentuk ion OH- yaitu dari reduksi air dengan reaksi: 2H2O(aq) + 2e 2OH-(aq) + H2(g) yang kemudian ion OHbereaksi dengan ion K+ membentuk larutan KOH yang bersifat basa kuat sehingga berubah warna saat ditetesi indikator PP. Pada elektrolisis larutan NaCl, pada ruang anoda yang semula berwarna bening setelah ditetesi amilum warnanya berubah menjadi biru tua. Pada ruang katoda semula berwarna bening setelah ditetesi dengan indikator PP berubah warna menjadi merah muda, hal ini dikarenakan pada

ruang katoda terbentuk ion OH- yaitu dari reduksi air dengan reaksi: 2H2O(aq) + 2e 2OH-(aq) + H2(g) yang kemudian ion OH- bereaksi dengan ion Na+ membentuk larutan NaOH yang bersifat basa kuat sehingga berubah warna saat ditetesi indikator PP. Reaksi redoks pada elektrolisis larutan KI Katoda: 2H2O(aq) + 2e Anoda : 2I-(aq) Reaksi : 2H2O(aq) + 2I-(aq) 2OH-(aq) + H2(g) I2(g) + 2e 2OH-(aq) + I2(g) + H2(g)

Reaksi redoks pada elektrolisis larutan NaCl Katoda: 2H2O(aq) + 2e Anoda : 2Cl-(aq) 2OH-(aq) + H2(g) Cl2(g) + 2e

Reaksi : 2H2O(aq) + 2Cl-(aq) 2OH-(aq) + Cl2(g) + H2(g) c. Sel Elektrokimia Percobaan ini bertujuan untuk mengetahui reaksi oksidasi dan reduksi yang ditunjukan oleh reaksi antara logam zinc dengan tembaga dalam larutannya dan menentukan potensial selnya. Prinsip kerja percobaan ini adalah dengan membuat setengah sel yang mengalami oksidasi yaitu Zn Zn2+ + 2e dengan cara memasukkan larutan ZnSO4 ke dalam gelas kimia kemudian memasukkan sebatang lempeng Zn. Setelah itu membuat setengah sel untuk reaksi reduksi yaitu Cu2+ + 2e Cu dengan cara memasukkan larutan CuSO4 ke dalam gelas kimia kemudian memasukkan sebatang lempeng Cu ke dalamnya. Kemudian menghubungkan lempeng zinc dengan kutub negatif voltmeter dan lempeng tembaga dengan kutub positif voltmeter, setelah itu menghubungkan kedua sel dengan jembatan garam dan membaca voltmeter. Pada percobaan ini, maka akan terjadi peristiwa energi listrik yang timbul dari energi kimia dalam satu reaksi. Jika logam Zn dimasukkan ke

dalam larutan ZnSO4 dan logam Cu dimasukkan ke dalam larutan CuSO4, kemudian logam tersebut dihubungkan dengan voltmeter, maka logam Zn akan melepas elektronnya dengan reaksi: Zn Zn2+ + 2e Elektron yang dilepas akan tertinggal di lempeng Zn kemudian mengalir ke tembaga melalui kawat penghantar. Dan ion Cu2+ akan menangkap elektron dari logam Cu kemudian mengendap dengan reaksi: Cu2+ + 2e Cu Maka sistem rangkaian tersebut terjadi aliran listrik dari elektron. Bersamaan dengan pelepasan elektron, maka larutannya akan bermuatan positif. Dengan penggunaan jembatan garam bertujuan agar ion-ion Zn2+ akan dinetralkan oleh ion garam, sedangkan ion positif akan dinetralkan larutan kelebihan CuSO4. Selain itu, dengan penggunaan jembatan garam pada percobaan akan mengakibatkan rangkaian listrik tertutup sehingga dapat diukur beda potensialnya. Dari pembacaan voltmeter diperoleh beda potensial 0,8 volt. Logam Zn sebagai anoda (kutub negatif), dan logam Cu sebagai katoda (kutub positif). Katoda(red) : Cu2+(aq) + 2e Cu(s) Anoda(oks) : Zn(s) Redoks Zn2+(aq) + 2e : Cu2+(aq) + Zn(s) Cu(s) + Zn2+(aq) Eo = +0,34 V Eo = +0,76 V Eo = +1,1 V

Cu lebih mudah mengalami reduksi, sedangkan Zn lebih mudah teroksidasi. Pada elektrokimia, kutub positif disebut katoda sedangkan kutub negatif disebut anoda. Berdasarkan hasil percobaan yang diperoleh terdapat perbedaan hasil beda potensial pada percobaan dengan teori. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya: 1. Kekurang telitian praktikan dalam membaca voltmeter. 2. Peralatan yang digunakan kurang bersih.

3. Pemasangan jembatan garam yang kurang sempurna karena masih terdapat gelembung udara.

VIII. KESIMPULAN Redoks adalah reaksi yang melibatkan reaksi reduksi dan oksidasi dalam waktu bersamaan yang disertai dengan perubahan biloks. Dalam deret volta, semakin kekanan harga Eonya semakin besar, semakin mudah direduksi, semakin sukar teroksidasi (berkarat), semakin mudah menjadi katoda. Elektrolisis adalah peristiwa penguraian larutan elektrolit dalam sel elektrolisis oleh arus listrik searah (DC) yang berasal dari sumber searah. Pada elektroda terjadi reaksi: Anoda: elektroda (+), terjadi reaksi oksidasi yaitu peningkatan biloks dan pelepasan elektron. Katoda: elektroda (-), terjadi reaksi reduksi yaitu penurunan biloks dan penangkapan elektron. Larutan amilum berfungsi sebagai indikator dengan adanya gas I2 yang terbentuk pada ruang anoda indikator PP berfungsi sebagai indicator asam basa. Elektrokimia adalah cabang sains tentang ikatan antara listrik dengan ilmu kimia atau arus listrik dengan reaksi kimia. Hasil percobaan yang didapat: a. Reaksi Redoks 1. CuSO4 + Zn bereaksi Oks : Zn Red : Cu2+ + 2e Zn2+ + 2e Cu Eo = 0,76 V Eo = 0,34 V Eo = 1,1 V

redoks: Cu2+ + Zn Zn2+ + Cu 2. CuSO4 + Fe tidak bereaksi

3. ZnSO4 + Cu bereaksi Oks : Cu Red : Zn2+ + 2e Cu2+ + 2e Zn Eo = -0,34 V Eo = -0,76 V Eo = -1,1 V

redoks: Cu2+ + Zn Zn2+ + Cu 4. ZnSO4 + Fe tidak bereaksi 5. FeCl3 + Zn bereaksi Oks : Zn Red : Fe2+ + 2e redoks: Zn + Fe2+ Zn2+ + 2e Fe Zn2+ + Fe

Eo = 0,76 V Eo = -0,44 V Eo = 0,32 V

Berlangsung reaksi spontan karena Eo sel > 0 6. FeCl3 + Cu tidak bereaksi b. Elektrolisis 1. Reaksi yang terjadi pada elektrolisis larutan KI KI(aq) K+(aq) + I-(aq) Katoda: 2H2O(aq) + 2e Anoda : 2I-(aq) Reaksi : 2H2O(aq) + 2I-(aq) NaCl(aq) Na+(aq) + Cl-(aq) Katoda: 2H2O(aq) + 2e Anoda : 2Cl-(aq) 2OH-(aq) + H2(g) Cl2(g) + 2e 2OH-(aq) + H2(g) I2(g) + 2e 2OH-(aq) + I2(g) + H2(g)

2. Reaksi yang terjadi pada elektrolisis larutan NaCl

Reaksi : 2H2O(aq) + 2Cl-(aq) 2OH-(aq) + Cl2(g) + H2(g) c. Sel elektrokimia Tegangan sel yang diperoleh berdasarkan percobaan adalah 0,8 volt, sedangkan secara teori reaksinya: Katoda(red) : Cu2+(aq) + 2e Anoda(oks) : Zn(s) Redoks Cu(s) Zn2+(aq) + 2e Eo = +0,34 V Eo = +0,76 V Eo = +1,1 V

: Cu2+(aq) + Zn(s) Cu(s) + Zn2+(aq)

Dan terdapat perbedaan antara hasil percobaan dengan teori, hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu: 1. Kekurang telitian praktikan dalam membaca voltmeter. 2. Peralatan yang digunakan kurang bersih. 3. Pemasangan jembatan garam yang kurang sempurna karena masih terdapat gelembung udara.

IX. DAFTAR PUSTAKA Keenan, Charles. 1999. Ilmu Kimia Untuk Universitas. Jakarta : Erlangga Keenan, Kleinfelter Wood A. 1986. Kimia Untuk Universitas. Jakarta : Erlangga Redjeki, Tri dan Agus Budiharto. 1995. Kimia Dasar II. Surakarta : UNS Press Sutarto, N. 1986. Kimia. Bandung : Ganesha Tim Dosen Praktikum Kimia Dasar II. 2011. Petunjuk Praktikum Kimia Dasar II. Surakarta : UNS Press

MAKALAH PRAKTIKUM KIMIA DASAR II

REAKSI REDOKS, ELEKTROLISIS DAN SEL ELEKTROKIMIA

KELOMPOK 6: 1. 2. 3. 4. KENNY ANINDIA R MUCHKLISATUN K PIESOG LOTA K RIAN ARI UTOMO (K2310055) (K2310063) (K2310075) (K2310082)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2011