Anda di halaman 1dari 5

PENGELOLAAN EKLAMSI

Rawat bersama di unit perawatan intensif dengan bagian-bagian yang terkait. Pengobatan medisinal : 1. a. b. Obat anti kejang Pemberian MgSO4 sesuai dengan pengelolaan preeklamsi berat. Bila timbul kejang-kejang ulangan maka dapat diberikan 2 g MgSO 4 20 % i.v. selama 2 menit, sekurang-kurangnya 20 menit setelaj pemberian terakhir. Dosis tambahan 2 g hanya diberikan sekali saja. Bila setelah diberi dosis tambahan masih tetap kejang maka diberikan amobarbital 3-5 mg/kg/bb/i.v. pelan-pelan. 2. 3. a. b. c. d. fraktur. e. i. ii. iii. iv. Pasien yang mengalami kejang-kejang secara berturutan (status konvulsivus), diberikan pengobatan sebagai berikut : Suntikan Benzodiazepin 1 ampul (10 mg) i.v. perlahan-lahan. Bila pasien masih tetap kejang, diberikan suntikan ulang. Benzodiazepin i.v. setiap jam sampai 3 kali berturut-turut. Selain Benzodiazepin, diberikan juga Phenitoin (untuk mencegah kejang ulangan) dengan dosis 3 x 300 mg (3 kapsul) hari pertama, 3 x 200 mg (2 kapsul) pada hari kedua, dan 3 x 100 mg (1 kapsul) pada hari ketiga dan seterusnya. v. Apabila setelah pemberian Benzodiazepin i.v. 3 kali berturut-turut pasien masih tetap kejang, maka diberikan tetes valium (Diazepam 50 mg/5 Obat-obat suportif : Lihat pengobatan suportif preeklamsi berat. Perawatan pasien dengan serangan kejang : Dirawat di kamar isolasi yang cukup terang. Masukkan sudip lidah ke dalam mulut pasien. Kepala direndahkan, daerah orofaring dihisap. Fiksasi badan pada tempat tidur harus cukup kendur guna menghindari

ampul di dalam 250 cc NaCl 0.9 %) dengan kecepatan 20-25 tetes/menit selama 2 hari. f. i. otak. ii. iii. Punksi lumbal, bila ada indikasi. Pemeriksaan elektrolit Na, K, Ca, dan Cl; kadar glukosa, Urea N, Kreatinin, SGOT, SGPT, analisis gas darah, dll untuk mencari penyebab kejang yang lain. 4. a. i. Perawatan pasien dengan koma : Rawat bersama dengan Bagian Saraf : Diberikan infus cairan Manitol 20 % dengan cara : 200 cc (diguyur), 6 jam kemudian diberikan 150 cc (diguyur), 6 jam kemudian 150 cc lagi (diguyur). Total pemberian 500 cc sehari. Pemberian dilakukan selama 5 hari. ii. iii. b. c. d. Tube). 5. a. Pengobatan obstetrik : Sikap terhadap kehamilan : Sikap dasar : Semua kehamilan dengan eklamsi dan impending eklamsi harus diakhiri tanpa memandang umur kehamilan dan keadaan janin. Gejala impending eklamsi, adalah : Penglihatan kabur. Dapat juga diberikan cairan gliserol 10 % dengan kecepatan 30 tetes/menit selama 5 hari. Dapat juga diberikan Dexamethason i.v. 4 x 8 mg sehari, yang kemudian di tappering off. Monitoring kesadaran dan dalamnya koma dengan memakai GlasgowPittsburgh-Coma Scale. Pada perawatan koma perlu diperhatikan pencegahan dekubitus. Pada koma yang lama, pemberian nutrisi melalui NGT (Naso Gastric Atas anjuran Bagian Saraf, dapat dilakukan : Pemeriksaan CT scan untuk menentukan ada tidaknya perdarahan

b. i. ii. 6. Penyulit :

Nyeri uluhati yang hebat. Nyeri kepala yang hebat. Saat pengakhiran kehamilan : Terminasi kehamilan pasien preeklamsi dan impending eklamsi adalah dengan seksio sesarea. Persalinan pervaginam dipertimbangkan pada keadaan-keadaan sebagai berikut : Pasien inpartu, kala II. Pasien yang sangat gawat (terminal state), yaitu dengan kriteria Eden yang berat. Sindroma HELLP. Komplikasi serebral (CVA, Stroke, dll). Kontra indikasi operasi (ASA IV).

Sindroma HELLP, gagal ginjal, gagal jantung, edema paru, kelainan pembekuan darah, dan perdarahan otak. 6.1. Sindroma HELLP. Weinstein 1982 yang mula-mula menggunakan istilah Hellp syndrome untuk kumpulan gejala Hemolysis, Elevated Liver enzym, dan Low Platelets yang merupakan gejala utama dari sindroma ini. Diagnosis laboratorium : Hemolisis : o o o o 7. o Adanya sel-sel spherocytes, schistocytes, triangular, dan sel Burr pada apus darah perifer. Kadar bilirubin total > 1.2 mg %. Kadar SGOT > 70 IU/I. Kadar LDH > 600 IU/I. Trombosit < 100 x 103/mm3. Kenaikan kadar enzim hati :

Trombositopeni :

Pengelolaan : Pada prinsipnya pengelolaan terdiri dari :

a. b. c. d. e.

Atasi hipertensi dengan pemberian obat antihipertensi (lihat pengelolaan preeklamsi berat). Cegah terjadinya kejang dengan pemberian MgSO4. Pertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit. Hemoterapi dengan pemberian transfusi trombosit apabila kadar trombosit < 30000/mm3 untuk mencegah perdarahan spontan. Terapi konservatif dilakukan apabila umur kehamilan < 34 minggu, tekanan darah terkontrol < 160/110 mmHg, diuresis normal (> 30 cc/jam), kenaikan kadar enzim hati yang tidak disertai nyeri perut kuadran atas kanan atau nyeri uluhati.

f.

Pemberian kortikosteroid, terutama pada kehamilan 24-34 minggu atau kadar trombosit < 100000/mm3. Diberikan dexametason 10 mg i.v. 2 x sehari sampai terjadi perbaikan klinis (trombosit > 100000/mm3, kadar LDH menurun, dan diuresis > 100 cc/jam). Pemberian dexametazon dipertahankan sampai pasca salin sebanyak 10 mg i.v. 2 kali sehari selama 2 hari, kemudian 5 mg i.v. 2 kali sehari selama 2 hari lagi.

g.

Dianjurkan persalinan per vaginam, kecuali bila ditemukan indikasi seperti : serviks yang belum matang (Skor Bishop < 6), bayi prematur, atau ada kontraindikasi.

h. i.

Bila akan dilakukan operasi SS, kadar trombosit < 50000/mm 3 merupakan indikasi untuk melakukan transfusi trombosit. Pemasangan drain intraperitoneal dianjurkan untuk mengantisipasi adanya perdarahan intra abdominal. Bila ditemukan cairan asites yang berlebihan, perawatan pasca bedah di ICU merupakan indikasi untuk mencegah komplikasi gagal jantung kongestif dan sindroma distres pernafasan.

EKLAMSIA (Impending Eklamsi)

Rawat di ICU Konsultasi dg Bag. Penyakit Dalam & Neurologi

MgSO4 R/ Antihipertensi R/ Suportif

Dalam kehamilan

Pasca salin

Terminasi

Per vaginam Inpartu Kala II Terminal state Sindroma HELLP dan DIC Komplikasi serebral (CVA, stroke, dsb) ASA IV Pada pasien ini telah dilakukan penanganan sebagaimana tersebut di atas.

Seksio sesarea