Anda di halaman 1dari 8

PERAWATAN

I. Pendahuluan 1.1 Kebijakan Perusahaan Perawatan dan pemeliharaan Pabrik Minyak Kelapa Sawit adalah perlu dan merupakan salah satu aktifitas yang penting sehingga mempunyai daya guna yang tinggi (high utilization) dan breakdown time yang minimum. 1.2 Dasar dasar Operasional Dasar penting bagi perawatan adalah program kerja terjadwal yang mencakup pembersihan, servis, inspeksi dan penggantian bagian-bagian yang mulai aus. Jika terjadi kerusakan, maka harus dilakukan penyidikan atas sebab-sebab kerusakan dan dilakukan pencatan untuk mengetahui efektifitas perawatan. 1.2.1 Memelihara dan merawat berbagai seksi-seksi dengan kondisi mekanik dan listrik yang baik sehingga menjamin pabrik dapat dioperasikan dengan efisiensi yang terbaik, dan nilai/umur daripada pabrik dapat dipelihara lebih lama dengan minimum keausan dan kerusakan. 1.2.2 Mengatur pemeliharaan dan perbaikan yang baik daripada mesin-mesin dan bangunan-bangunan termasuk parit-parit, jalan, pagar dan bangunan tambahan lainnya sehingga memaksimumkan kegunaan mesin dan pabrik berproduksi. 1.2.3 Menjamin keselamatan dan keamanan, termasuk didalamnya keamanan penerangan, alat pemadam kebakaran, sanitasi dan meningkatkan kondisi keamanan pabrik. 1.2.4 Memelihara peralatan lainnya seperti jembatan timbang, peralatan laboratorium, peralatan bengkel, perabot kantor, kantor dan lain-lain. 1.2.5 Seluruh sistem perawatan PMKS harus dilaksanakan dengan cara ekonomis yang mana tidak dapat dicapai jika sistem perawatan yang baik dilalaikan.

II Prosedur Operasional 2.1 Perawatan PMKS dapat dikatagorikan kedalam 5 jenis perawatan yaitu (Secara Skematis dapat dilihat pada Tabel 1. ) : 2.1.1 Breakdown Maintenace (Perawatan Kerusakan) Adalah perbaikan darurat terhadap mesin yang rusak pada waktu mesin digunakan. Dilaksanakan sebagai pekerjaan darurat dan terburu-buru, dan sebagai konsekuensinya

hasil kualitas kerja yang buruk. Kerugian yang ditimbulkannya secara ekonomis yaitu kehilangan waktu akibat kerusakan, bertambahnya waktu lembur, dan kehilangan kesempatan untuk berproduksi. 2.1..2 Routine Maintenance (Perawatan Rutin) Merupakan perawatan harian atau mingguan yang sederhana yang bertujuan menjamin mesin dapat dipakai bekerja. Dilaksanakan pada keperluan sederhana dan mudah diterapkan \tanpa diperlukan adanya breakdown dari mesin. 2.1. 3 Corective Maintenance (Perawatan Korektif) Merupakan perawatan untuk memulihkan kembali mesin dan peralatan ke standard yang dapat diterima setelah kerusakan. 2.1.4 Preventive Maintenance (Perawatan Pencegahan) Merupakan perawatan untuk mencegah kerusakan daripada mesin atau bagian mesin yang direncanakan pada saat yang akan datang. Pelaksanaannya berpedoman terhadap rekomendasi pabrik pembuat dan instruksi terhadap service, pengechekan dan penggantian suku cadang. 2.1..5 Planned Maintenance (Perawatan Terencana) Merupakan perawatan non rutin yang dilaksanakan oleh karena adanya peralatan yang sudah rusak atau akan rusak. 2.2 Sistem Kerja Maintenance Ada lima bagian pokok yang sangat penting didalam menjalankan sistem perawatan .Kelima bagian tersebut antara lain adalah ; 2.2.1 Setiap Break-Down pada peralatan produksi untuk service harus direncanakan oleh bagian produksi/proses bersama-sama dengan perawatan/bengkel. 2.2.2 Bagian-bagian peralatan yang membutuhkan pembersihan secara berkala harus dibuat program kerjanya, agar tidak mengganggu jalannya proses/produksi. Kecuali jika alat tersebut tersedia cadangannya.

Tabel 1. SKEMA SISTEM PERAWATAN PABRIK

2.2.3 Jika tiba-tiba terjadi kerusakan atau kemacetan operasional, bagian perawatan harus membuat langkah-langkah mempersiapkan cadangannya, seperti elektromotor, pompapompa dan komponen-komponen lain yang harus selalu tersedia sebagai cadangan. 2.2.4 Kerusakan yang terjadi secara berulang-ulang harus dicatat dan dianalisa penyebabnya, kemudian dicari jalan penyelesaiannya. 2.2.5 Pemeriksaan atas bagian-bagian yang rawan tidak seharusnya mengikuti jadwal pemeriksaannya, tetapi menurut indikasi yang ada di lapangan. Jika ada indikasi terjadinya kerusakan pada suatu alat, maka harus segera dilakukan pemeriksaan.

2.2.6 Dalam rangka inspeksi, setiap inspeksi harus diikuti oleh serangkaian instruksi tentang tindakan yang harus diambil jika ada indikasi kerusakan yang ditemukan di pabrik. 2.2.7 Membuat dan membaca Checklist, karena ini penting bagi kegiatan perawatan. Setiap bentuk operasional harus memiliki checklist yang lengkap. Checklist dibuat secara terpisah menurut bidang-bidangnya, yaitu mekanik dan elektrikal. 2.2.8 Daftar atau Checklist Inspeksi dan instruksi perawatan tidak boleh disusun oleh sembarang karyawan. Dianjurkan Manager dan Asistant Perawatan dapat menyusun daftar-daftar tersebut dengan seksama berdasarkan pada checklist operasional dari pabrik dan catatan tentang titik-titik rawan menurut pengalaman sebelumnya.

2.3 Kerja Asistant dan Mandor Perawatan Dalam bagian ini, akan dibahas mengenai program-program kerja Asistant Perawatan dan Mandor Perawatan untuk menjalankan rencana kerja yang telah dibuat sebelumnya. 2.3.1 Kerja Asistant Perawatan 2.3.1.1 Assistant perawatan setiap hari harus menerima atau mengambil laporan-laporan berikut : a. Schedule Maintenance Mingguan. b. Laporan lubrikasi/pelumasan. c. Laporan Running Schedule Harian yang berkaitan dengan Preventive Maintenace. Ketiga item (a, b, dan c digabung untuk merencanakan kerja besok pagi. d. Menerima laporan dari proses (Work Order) untuk mengetahui kerusakan-kerusakan yang terjadi selama proses. 2.3.1.2 Penggabungan semua laporan yang terdapat pada item di atas, ditulis dalam Kartu Rencana Kerja Harian untuk semua mekanik perawatan. 2.3.1.3 Memberikan instruksi kepada Mandor bengkel/maintenance untuk membagikan semua Kartu Rencana Kerja Harian tersebut kepada masing-masing mekanik sesuai dengan pekerjaannya. 2.3.1.4 Membuat rencana kerja, mengawasi, mengatur membuat keputusan-keputusan dan membuat laporan teknis kepada Askep dan Manager Pabrik. 2.3.1.5 Hasil kerja yang telah dilakukan dimasukkan kedalam Kartu Kelengkapan Kerja oleh Krani Perawatan. 2.3.1.6 Mengkontrol kartu perawatan mesin yang berisi kerusakan dan perawatann kerusakan, Standar Time, Material Cost, Labour Cost dan Budget Cost.

2.3.2 Pekerjaan Mandor Perawatan Secara umum, Mandor perawatan memiliki tugas membantu Asistant perawatan dalam menjalankan program-program dan rencana-rencana perawatan di pabrik. Secara rinci,

pekerjaan mandor perawatan adalah sebagai berikut; 2.3.2.1 Mandor perawatan membagikan pekerjaan berdasarkan Kartu Rencana Kerja Harian kepada masing-masing mekanik sesuai dengan pekerjaan -nya. 2.3.2.2 Mandor perawatan mengawasi seluruh kegiatan kerja mekanik, membuat keputusan yang dirasa perlu dan membuat laporan teknis kepada Asistant Perawatan.

2.3.2.3 Memberikan masukan-masukan kepada Asistant Perawatan, dalam menyusun rencana kerja harian, mingguan dan bulanan. Ini berguna agar kegiatan Mandor tidak pasif. 2.3.2.4 Mandor perawatan memasukkan data dari Kartu Kerja Perorangan ke dalam Buku Mandor , untuk membantu menghitung biaya Over Time mekanik dan sebagai pegangan Mandor dalam mengevaluasi kerja mekanik.

2.3.2.5 Mandor perawatan harus memeriksa daftar pelumasan, mengisi jam kerja di kegiatan kerja perawatan dan mencatatnya ke Buku Mandor.

2.4 Program Kerja Pelumasan Rencana kerja ini bertujuan untuk penjadwalan pelumasan seluruh mesin selama satu tahun dan dikelompokkkan dalam Mingguan. Dan sistem ini sangat penting dilakukan sehingga dengan adanya rencana kerja maka kerusakan fatal dapat dihindarkan. Tujuan dari rencana kerja ini antara lain adalah untuk membuat agar masa penggantian spare part mesin/unit tetap pada waktunya atau memperpanjang lifetime mesin. 2.4.1 Pekerjaan ini dilakukan oleh seorang Olieman dan seorang pembantunya. 2.4.2 Pelumasan setiap mesin harus dilakukan secara teratur sesuai dengan Prosedur dan Rekomendasi Pelumasan serta jadwal (Harian, Mingguan dan Bulanan) 2.4.3 Petugas Oliman juga harus mengontrol bagian mesin yang berhubungan dengan pelumasan dan membuat laporan teknis kepada Assistant Perawatan. Misalnya Kebocoran Oil Seal Gearbox, Oil Level, kondisi Neple Grease. 2.4.4 Petugas oliman harus mengisi kertas kerja oliman secara rutin dan diserahkan kepada krani perawatan. 2.4.5 Prosedur untuk pelaksanaan pelumasan, ketentuannya adalah sebagai berikut : 2.4.5.1 Berdasarkan kegiatan kerja perawatan yang telah disetujui oleh Asisten Perawatan, maka Kerani Perawatan menyerahkan kegiatan kerja perawatan dan daftar Pelumasan hasil dari program pemeliharan ke Mandor perawatan. 2.4.5.2 Mandor perawatan menyampaikan kegiatan kerja perawatan dan daftar Pelumasan ke Oliman.

2.4.5.3 Mandor perawatan harus mengawasi seluruh kegiatan kerja para Oliman. 2.4.5.4 Asisten Perawatan harus mengawasi, mengatur dan membuat keputusan dalam hal teknis pekerjaan. 2.4.5.5 Oliman harus mencatat ke daftar Pelumasan Harian yang tersedia, sesuai dengan unit mesin yang telah diberi pelumas. 2.4.5.6 Dalam melaksanakan tugas/pekerjaan, Oliman harus mengontrol/ meme-riksa unit mesin yang diberi minyak pelumas. Hal-hal yang harus diperhatikan oleh Oliman apabila mengetahui : a. Mesin Rusak/ Menghambat Proses Jika ada unit mesin yang rusak atau menghambat kelancaran proses produksi, maka Oliman harus segera melapor ke Mandor perawatan. b. Gangguan Pada Mesin Jika ada unit mesin yang mempunyai kejanggalan pada saat di Pelumasan ( seperti suara unit mesin mendengung, bergetar terlalu kuat, dan sebagainya ), maka Oliman harus segera menginformasikan ke Asisten Proses. 2.4.5.7 Oliman telah menyelesaikan seluruh kegiatan kerja perawatan, maka Mekanik tersebut harus melapor ke Mandor perawatan untuk diperiksa dan selanjutnya data jam kerja / lembur di kegiatan kerja perawatan dan daftar Pelumasan oleh Kerani Perawatan di input ke program perawatan dan mengarsipkannya. 2.5 Perawatan Mesin-Mesin Utama Mesin-mesin utama pabrik meliputi Sterilizer, Mesin Press, Decanter, Purifier, Genset/Turbin dan Boiler. 2.5.1 Sterilizer (Perebusan) Pada sterilizer ini terdiri dari bagian-bagian peralatan pokok, seperti liner, railtrack, strainer, pipa-pipa steam dan kondensat dan kerangan steam. Perawatan yang harus dilakukan dilihat pada Tabel dibawah ini. 2.5.2 Perawatan Decanter dan Purifier Jadwal perawatan untuk Decanter dan Purifier terdiri atas perawatan ringan yang dapat dikerjakan oleh operator dan perawatan berat yang merupakan perawatan rutin yang dilakukan oleh teknisi kedua mesin tersebut. Secara garis besar jadwal perawatan kedua mesin itu dapat dilihat pada Tabel 2. 2.5.3 Perawatan Genset Sebagai mesin yang selalu pada posisi standby untuk membantu melakukan start awal pengolahan guna pengoperasian boiler sebelum steam turbine beroperasi. Walaupun demikian mesin ini tetap memerlukan perawatan seperti yang tercantum dalam table berikut ini;

2.6 Laporan Bagian Proses (Work Order)

Work Order atau Laporan Bagian Proses merupakan laporan kerusakan mesin yang menghambat kelancaran proses selama proses berlangsung yang tersusun secara sistematis untuk menunjang kegiatan perawatan yang dibuat oleh Assistant Proses . Tujuan dari laporan ini antara lain adalah sebagai : 2.6.1 Memberikan laporan terhadap mesin-mesin yang sering bermasalah selama proses berlangsung, sehingga memberikan informasi kepada Assistant perawatan untuk menyusun program kerja harian. 2.6.2 Bagian proses setiap pagi harus membuat laporan teknis keadaan mesin, termasuk mesin yang rusak dan yang menghambat kelancara proses kepada bagian perawatan. 2.6.3 Jika ada mesin yang rusak atau yang menghambat kelancaran proses , Assistant perawatan segera memasukkan ke dalam kartu rencana kerja harian. 2.6.4 Bagian Perawatan harus berusaha agar Work Order sekecil mungkin, maksudnya bila sistem perawatan ini berjalan baik sehingga laporan kerusakan atau yang menghambat proses kecil tentu akan diperoleh throughput yang tinggi dan jalan proses optimum.

2.7 Prosedur Permintaan Perbaikan Prosedur permintaan perbaikan terhadap gangguan mesin yang diestimasi akan mengganggu kelancaran proses produksi, ketentuannya adalah sebagai berikut : 2.7.1 Jika Operator mengetahui adanya gangguan pada unit mesin yang sedang beroperasi, maka harus segera melapor ke Mandor Proses. 2.7.2 Mandor Proses harus segera memeriksa ke unit mesin yang mengalami gangguan. Hal-hal yang perlu diperhatikan oleh Mandor Proses terhadap gangguan tersebut apabila : a. Jika gangguan tersebut tidak mempengaruhi proses produksi, maka Mandor Proses membuat catatan sebagai masukan untuk Laporan Work Order yang akan diajukan ke bagian perawatan keesokan harinya. b. Jika gangguan tersebut mempengaruhi proses produksi, maka Mandor Proses harus melapor ke Asisten Proses untuk dilakukan permeriksaan secara langsung kondisi unit mesin tersebut dan membuat permintaan perbaikan mesin untuk segera disampaikan ke bagian perawatan. 2.7.3 Setelah permintaan perbaikan mesin diterima oleh Bagian Perawatan, maka Asisten Pemeliharaaan dibantu oleh Mandor perawatan menentukan Mekanik yang akan melakukan perbaikan. 2.7.4 Setelah Mekanik dapat ditentukan, maka Kerani Perawatan menginput data tersebut ke program perawatan dan menghasilkan kegiatan kerja perbaikan. 2.7.5 Berdasarkan kegiatan kerja perbaikan yang telah diperiksa dan disetujui oleh Asisten Perawatan, maka Kerani Perawatan menyerahkan kegiatan kerja perbaikan ke Mandor perawatan.

2.7.6 Mandor perawatan menyerahkan kegiatan kerja tersebut ke Mekanik yang mewakili ( Kepala Tukang ). 2.7.7 Asisten / Mandor perawatan harus mengawasi, mengatur dan membuat keputusan dalam hal teknis pekerjaan. 2.7.8 Berdasarkan pekerjaan yang telah diselesaikan oleh Mekanik, maka Mandor perawatan mengisi jam kerja di kegiatan kerja peerbaikan 2.7.9 Berdasarkan kegiatan kerja perbaikan yang telah ditandatangani oleh Mandor perawatan serta telah diperiksa dan disetujui oleh Asisten perawatan, maka Kerani Perawatan dapat menginput data jam kerja / lembur ke program perawatan dan mengarsipkannya.

2.8 Perbaikan pada saat Break Down Prosedur permintaan perbaikan atas kerusakan mesin (Break Down) ketentuannya adalah sebagai berikut : 2.8.1 Jika operator mengetahui unit mesin tersebut rusak ( breakdown ) secara tiba-tiba, maka harus segera melapor ke Mandor/Asisten Proses. 2.8.2 Mandor/Asisten Proses harus segera melakukan pemeriksaan di unit mesin tersebut dan membuat permintaan perbaikan mesin untuk disampaikan ke Mandor/Assistant Perawatan. 2.8.3 Setelah permintaan perbaikan mesin diterima oleh Bagian Perawatan, maka Asisten Perawatan dibantu Mandor perawatan menentukan Mekanik untuk melakukan perbaikan. 2.8.4 Setelah Mekanik dapat ditentukan maka Kerani Perawatan menginput data tersebut ke program perawatan dan menghasilkan kegiatan kerja perbaikan. 2.8.5 Berdasarkan kegiatan kerja perbaikan yang telah diperiksa dan disetujui oleh Asisten Perawatan, maka Kerani Perawatan menyerahkan kegiatan kerja tersebut ke Mandor perawatan. 2.8.6 Mandor perawatan menyerahkan kegiatan kerja perbaikan tersebut ke Mekanik yang mewakili ( sebagai Kepala Regu )

2.8.7 Asisten/Mandor perawatan harus mengawasi, mengatur dan membuat keputusan yang bersifat teknis pekerjaan. 2.8.8 Setelah Mekanik selesai melakukan perbaikan, maka Mandor perawatan harus mengisi jam kerja dan menandatangani kegiatan kerja perbaikan, kemudian dicatat ke buku mandor. 2.8.9 Berdasarkan kegiatan kerja perbaikan yang telah ditandatangani oleh Mandor

perawatan dan telah disetujui oleh Asisten Perawatan, maka Kerani Perawatan dapat menginput data jam kerja / lembur ke program perawatan dan mengarsipkannya.

III. Pengendalian Operasional 3.1 Setiap pelaksanaan pekerjaan perawatan, harus dilakukan pencatatan dalam bentuk history card untuk membantu mengidentifikasi tingkat kerusakan sehingga memungkinkan mengurangi biaya dan meningkatkan kualitas perawatan. 3.2 Rencana pelaksanaan pekerjaan perawatan harus direalisasikan sesuai jadual perawatan yang sudah dibuat. 3.3 Setiap perawatan yang dilakukan di pabrik, harus berorientasi pada pengendalian biaya produksi, menjaga troughput, meminimalkan keausan dan kerusakan pada peralatan serta menjaga hubungan kerjasama dengan bagian proses. 3.4 Prosedur permintaan perbaikan terhadap gangguan mesin yang diestimasi akan mengganggu kelancaran proses produksi, ketentuannya adalah sebagai berikut : 3.4.1 Jika Operator mengetahui adanya gangguan pada unit mesin yang sedang beroperasi, maka harus segera melapor ke Mandor Proses. 3.4.2 Mandor Proses harus segera memeriksa ke unit mesin yang mengalami gangguan. Hal-hal yang perlu diperhatikan oleh Mandor Proses terhadap gangguan tersebut apabila : a. Jika gangguan tersebut tidak mempengaruhi proses produksi, maka Mandor Proses membuat catatan sebagai masukan untuk Laporan Work Order yang akan diajukan ke bagian pemeliharaan keesokan harinya. b. Jika gangguan tersebut mempengaruhi proses produksi, maka Mandor Proses harus melapor ke Asisten Proses untuk dilakukan permeriksaan secara langsung kondisi unit mesin tersebut dan membuat permintaan perbaikan mesin untuk segera disampaikan ke bagian pemeliharaan