Anda di halaman 1dari 14

BAB I PENDAHULUAN

1. Latar Belakang Keracunan adalah masuknya zat racun ke dalam tubuh melalui saluran pencernaan, inhalasi atau kontak langsung yang menimbulkan tanda dan gejala klinis khas. Pada dasarnya semua zat kimia dapat menimbulkan keracunan tergantung pada jumlah dan caranya masuk ke dalam tubuh. Keracunan makanan adalah keracunan yang tersering sebelum masa penggunaan zat-zat kimia sebagai upaya manusia untuk menguasai dan mengendalikan alam. Istilah keracunan makanan digunakan dengan luas untuk semua penyakit yang disebabkan akibat pemasukan makanan yang mengandung toxin. Makanan (termasuk juga minuman) beracun disebabkan karena: (1) makanan tersebut memang mengandung zat-zat kimia yang berbahaya, misalnya singkong, jamur, dan sebagainya; (2) timbulnya zat beracun akibat proses penyimpanan, proses pemasakan dsb; (3) tercemar oleh zat racun baik dengan sengaja (tambahan zat pewarna, penyedap dan bahan kimia lainnya), maupun oleh mikroorganisme (Staphylococcuss, salmonella, dan lain-lain). Gejala klinis yang timbul sesuai dengan pengaruh zat racun yang terkandung pada sistem tubuh. Umumnya pada penyakit akibat keracunan makanan, gejala-gejala terjadi tak lama setelah menelan bahan beracun tersebut, bahkan dapat segera setelah menelan bahan beracun itu dan tidak melebihi 24 jam setelah tertelannya racun. Prinsip tatalaksana sama dengan tata laksana keracunan pada umumnya, yaitu eleminasi racun, pemberian antidotum, resusitasi dan tindakan suportif atau simtomatis. Keracunan makanan dapat timbul akibat makanan yang telah terpapar virus, bakteri dan juga racun. Skenario : Perusahaan X memiliki karyawan sebanyak 215 orang, kemarin sebanyak sebanyak 50 karyawan terserang diare, muntah dan pusing setelah makan siang, sehingga harus dibawa ke Rumah Sakit. Berdasarkan anamnesa para karyawan tersebut sebanyak 47 orang menyatakan telah makan siang di warung A dan 3 orang lainnya makan siang di warung C.

1. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang diatas maka diperlukan suatu analisis untuk menjawab pertanyaan penelitian yaitu, Apa penyebab para karyawan perusahaan X mengalami diare, muntah, pusing?

1. Tujuan Tujuan Umum : 1. Mengetahui penyebab para karyawan perusahaan X mengalami diare, muntah dan pusing. Tujuan Khusus : 1. Mengetahui penyebab-penyebab terjadinya keracunan makanan.

2. Mengetahui penatalaksanaan yang dilakukan pada keracunan makanan. 3.Mengetahui pencegahan yang dilakukan untuk mencegah terjadinya keracunan makanan.

1. Manfaat Penyelidikan Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai masukan bagi : 1. Perusahaan yang bersangkutan Diharapkan dapat memberikan masukan bagi kesehatan karyawan sekaligus untuk meningkatkan kinerja perusahaan. 2. Masyarakat Diharapakan dapat menjadi informasi yang bermanfaat bagi masyarakat terutama yang sering makan di usaha jasa boga (warung) untuk lebih berhati-hati. 3. Peneliti Peneliti dapat meningkatkan pengetahuan dan kemampuan dalam bidang penelitian.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1. DEFINISI Istilah keracunan makanan digunakan dengan luas untuk semua penyakit yang disebabkan akibat pemasukan makanan yang mengandung toxin. Makanan (termasuk juga minuman) beracun disebabkan karena: 1. Makanan tersebut memang mengandung zat-zat kimia yang berbahaya, misalnya singkong, jamur, dan sebagainya; 2. Timbulnya zat beracun akibat proses penyimpanan, proses pemasakan dsb 3. Tercemar oleh zat racun baik dengan sengaja (tambahan zat pewarna, penyedap dan bahan kimia lainnya), maupun oleh mikroorganisme (Stafilokous, salmonella, dan lainlain).

2.2. ETIOLOGI

Keracunan makanan yang sering dijumpai di Indonesia adalah : 1. Keracunan singkong (Manihot Utilissima) 2. Keracunan jengkol (Pithecolobium lobatum) 3. Keracunan botulinum 4. Keracunan bakteri

2.2.1 Keracunan Singkong (Cassava) Epidemiologi Keracunann yang terjadi karena singkong ( Manihot utilissima) mengandung glikosida sianogenik linamarin (C 10H 17O6N) yang terbanyak terdapat pada lapisan luar. Zat ini terdiri dari glukosa, aseton, dan asam sianida (HCN). Singkong memiliki enzim linase yang dapat memecah kompleks ini dan melepaskan HCN sebagai zat bebas. Dalam jumlah kecil, asam sianida masih mampu dinetralkan oleh tubuh dengan diubah menjadi tiosianat. Kadar HCN dalam singkong selain tergantung pada jenisnya juga tergantung pada kelembapan, ketinggian tanah, dan pemupukan. Namun tidak semua orang yang makan singkong menderita keracunan. Hal ini disebabkan selain kadar asam sianida yang terdapat dalam singkong itu sendiri, juga dipengaruhi oleh cara pengolahannya sampai di makan. Diketahui bahwa dengan merendam singkong terlebih dahulu di dalam air dalam jangka waktu tertentu, kadar asam cyanida (HCN) dalam singkong akan berkurang oleh karena HCN akan larut dalam air. Selain menyebabkan terbentuknya siamethemoglobin, HCN juga menyebabkan keracunan protoplasmic dengan jalan melumpuhkan pernafasan sel. Asam sianida mengganggu enzim yang berkerja pada proses oksidasi dalam pernafasan sel sehingga sehingga pusat nafas pada medulla tidak berfungsi karena sel syaraf tidak dapat mengambil oksigen untuk pernafasan. Akibatnya akan terlihat pada permukaan suatu tingkat stimulasi daripada susunan saraf pusat yang disusul oleh tingkat depresi dan akhirnya timbul kejang oleh hypoxia dan kematian oleh kegagalan pernafasan. Kadang-kadang dapat timbul detak jantung yang ireguler. Darah vena pasien berwarna merah cerah seperti darah arteri akibat ketidakmampuan jaringan mengambil oksigen. Pemberian oksigen tidak hanya bersifat suportif namun juga sebagi antidotum karena menimbulkan kompetisi pada kemoreseptor.

Tanda dan Gejala Klinis

Tanda serta gejala klinis tegantung pada jumlah kandungan HCN dalam singkong. Adanya HCN dalam jumlah besar akan mengakibatkan kematian dalam waktu singkat akibat gagal nafas. Biasanya gejala akan timbul beberapa jam setelah makan singkong. Pasien mula-mula merasa panas pada perut, mual, pusing, sesak, dan lemah. Pernafasan cepat dengan inspirasi yang pendek dan bau nafas dari muntahan yang khas (bau bitter almond) Rasa sesak disusul dengan pingsan, kejang yang akhirnya pasien jadi lemas, berkeringat, mata menonjol dengan pupil melebar, tanpa reaksi. Busa pada mulut tercampur warna darah dan warna kulit menjadi merah bata (untuk kulit warna terang) dan sianosis biasanya tidak tampak. Dengan uji guinard kita dapat menguji singkong yang disangka, dengan melihat perubahan warna asam pikrat yang kuning menjadi kemerahan dalam waktu 15 menit sampai 3 jam.

Diagnosa Diagnosa keracunan singkong ditegakkan berdasarkan gejala-gejala klinik dan anamnesa makanan, ditopang oleh data laboratorik hasil pemeriksaan contoh muntahan dan bahan makanan yang tersisa.

Tatalaksana Tatalaksana pada umumnya sama dengan keracunan yang lain yaitu, eliminasi dengan jalann muntah atau bilas lambung, menghalangi penyerapan racun lebih lanjut dan pemberian antidotum. Amil atau natrium nitrit dan Na-tiosulfat berkerjasama dengan berpotensiasi dalam proses detoksifikasi. Bila mathemogloblin cukup banyak (dengan pemberian Na-nitrit), ini akan mampu mengikat NaCN sehingga terbentuk tionisat yang stabil dan tidak toksik yang dikeluarkan oleh tubuh lewat paru, air ludah dan kencing. Na-tiosulfat diberikan dalam konsentrasi 10% secara i.v. diberikan pelan-pelan, dengan dosis sekitar 0,5 ml/kgBB/kali (sekitar 10-50ml) dan natrium nitrit 3% ml, i.v pelan-pelan. Bila Na-nitrit tidak tersedia, Na-tiosulfat biasanya sudah cukup.

Rusisitasi dan Suportif Selain pemasangan cairan intravena, pemberian oksigen sangat penting mengingat kaitan enzim feritokrom oksidase dengan sianida bersifat kompetitif dengan oksigen. Bila diberikan oksigen dengan tekanan tinggi (hyperbaric/ CPAP) maka fungsi oksigen tidak saja suportif tetapi juga sebagi antidotum yang baik.

2.2.2 Keracunan Jengkol Epidemiologi

Keracunan jengkol (Pithecolobium lobatum) ini merupakan keracunan yang sering terjadi di daerah Jawa Barat, karena jengkol sangat digemari di daerah tersebut. Faktor lain yang mendukung timbulnya keracunan antara lain adalah musim, jenis/varietas pohon maupun tanah tempat penanaman, makanan lain yang dimakan bersama jengkol, jumlah biji yang dimakan, faktor alergi, dan sebagainya. Keracunan dapat dicegah dengan memasak biji jengkol ini dengan soda atau bikarbonat lain. Van Veen dan Hyman (1933) mendapatkan bahwa jengkol berisi jengkolat, suatu asama amino yang mengandung belerang, jengkol (Pithecolobium lobatum) sangat berbeda dengan pete (parkia speciosa), karena pete tidak mengandung asam jengkol. Timbulnya keracunan tidak bergantung dari jumlah biji jengkol yang di makan dan apakah jengkol itu dimakan mentah atau di masak lebih dahulu. Demikian juga tidak ada hubungan dengan muda atau tuanya biji jengkol yang di makan. Van Veen dan Hyman berkesimpulan bahwa timbulnya gejala keracunan tergantung dari kerentanan seseorang terhadap asam jengkol. Meskipun belum jelas patogenesisnya, namun diperkirakan keracunan ini disebabkan karena bertumpuknya asam jengkolat dalam bentuk kristal pada tubuli ginjal, uretra, dan ureter. Pada anak keluhan mulai timbul 5-12 jam setelah makan.

Tanda dan Gejala Klinis Gejala yang timbul disebabkan oleh hablur (kristal) asam jengkol yang menyumbat tractus urinarius. Keluhan pada umumnya timbul dalam waktu 5-12 jam setelah memakan jengkol. Gejala klinis yang sering terjadi adalah sakit pinggang, nyeri perut, muntah, sakit waktu kencing, dan disusul air kemih yang keluar sedikit-sedikit dengan butir-butir putih, urin berbau jengkol dengan hematuria, oliguria sampai anuria, muntah, pegal, infiltrate pada penis, skrotum, daerah suprabik, dan sekitarya dan asites tidak ditemukan pada anak dan dapat terjadi gagal ginjal akut. Pada pemeriksaan urine dengan mikroskop dapat ditemukan hablur asam jengkolat berupa jarum runcing yang kadang-kadang bergumpal menjadi ikatan atau berupa roset.

Tatalaksana Tatalaksana kasus ini adalah eliminasi racun dengan bilas lambung, antidotum yang khas tidak ada. Bila keracunan ringan, cukup rawat jalan dengan anjuran minum banyak dengan air soda atau natrium bikarbonat, diberikan natrium bikarbonat 1-2 gram sehari per oral dibagi dalam 4 dosis, sehingga pH urin menjadi alkaslis (sekitar pH 8). Pemberian cairan intravena dilakukan bila pasien tidak dapat minum banyak. Bila gagal ginjal akut, dianjurkan untuk dialisis, baik hemodialis maupun peritoneal.

2.2.3 Keracunan Botulisme Epidemiologi Proses pembuatan tempe bongkrek sering terjadi kontaminasi oleh Clostridioum Botulinum dan atau bacteria cocovenans yang mampu mengubah gliserin menjadi racun toksoflavin. Toksin botulinum adalah neurotoksin (eksoktoksin) yang dikeluarkan oleh Cl. Botulinum. Kuman anaerob ini tumbuh dalam media minyak, daging, ikan yang tidak sempurna diproses atau diawetkan dan dijual dalam kaleng. Toksin ini menyebabkan hambatan implus saraf pada motor endplate dan mengakibatkan kelumpuhan. Selain itu juga terjadi perdarahan

pada saraf pusat dan proses degenerative pada hati dan ginjal.

Tanda dan Gejala Klinis Gejala timbul setelah 12-48 jam. Gejala klinis antara lain kelainan pada mata, kelumpuhan otot mata, kelumpuhan nervi kranialis secara sistematis, disfagia atau disartria, kelumpuhan menyeluruh termasuk kelumpuhan otot pernafasan, muntah terjadi pada permulaan penyakit dan seringkali hebat. Kematian bisa timbul dari 1 -8 hari.

Tatalaksna Eliminasi racun dengan jalan bilas lambung, obat pencahar. Bila depresi nafas memberat, perlu dilakukan pernafasan mekanik buatan tanda vital membaik kembali. Antidotum yang dianjurkan adalah antotoksin botulisme secara intravena 10-5- ml setelah dilakukan tes kulit. Sering diberikan kuanidin hidroklorida untuk melawan blockade neuromuskulat dengan dosis 15-35 mg/kgBB/ hari dibagi dalam 3 dosis.

2.2.4 Keracunan Makanan Tercemar Bakteri Epidemiologi Enterotoksin dilepas pada saat kuman Salmonella atau Staphylococcus tumbuh dalam suhu hangat. Toksin terdiri dari protein dan mudah dihancurkan dengan panas. Makanan yang menyebabkan keracunan antara lain: sosis, ikan, ham, susu dan pada pesta yang besar, gado-gado, atau salad sengan saus (dressing: vla, dsb). Tanda dan Gejala Klinis Gejala klinis utama adalah muntah dan diare yang timbul 3-6 jam setelah makanan ditelan, berlanjut sampai 12-24 jam dan kemudian mereda. Kadang-kadang timbul nyeri otot hebat, demam, dehidrasi, dan kaku otot. Tatalaksana Tatalaksana terutama bersifat suportif dan simtomatis dengan pemberian cairan secara intravena dan pemberian obat untuk meredam gerakan usus. Makanan yang mengandung susu, telur, daging yang tidak segera dimakan harus dipanaskan kembali selama 15 menit untuk menghancurkan toksin tersebut.

Penegakan diagnosis berdasarkan hubungan masa inkubasi etiologi dan gejala

NO

Nama Agen Staphylococcus aereus ( toxin produced by this bacteria causes illness) Salmonella E.coli C.perfringen Norwolk virus

Masa Inkubasi Terpendek Terpanjang gejala 1 Jam Mual, muntah, kram perut dan diare

Periode Disingkirkan

1.

6 jam 72 Jam 72 Jam 24 jam 50 jam

Belum

2. 3. 4. 5.

6 jam 12 Jam 1 jam 10 jam

Diare, demam disingkirkan menggigil, muntah Setelah makan Kram perut, diare siang berdarah, panas, disingkirkan muntah Kram perut, mual, Belum diare Mual, muntah, kram disingkirkan perut, diare, panas

BAB III ANALISA

3.1 Deskripsi Pasien Pasien merupakan karyawan dari perusahaan X yang telah memakan makanan dari waeung A dan warung C yang yang di duga menjadi penyebab keracunan makanan sehingga pasien mengalami diare, muntah, pusing yang merupakan gejala yang terjadi akibat keracunan makanan tersebut.

3.2 Karakteristik Gejala yang Disampaikan Pasien Pasien mengalami diare, muntah dan pusing.

3.3 Analisa Pada kasus ini pasien mengalami diare, muntah dan pusing setelah memakan makanan dari warung A dan C yang diduga menjadi penyebab keracunan saat makan siang. Kemungkinan pasien mengalami keracunan makanan dari bakteri yang ada di dalam makanan. Bakteri yang mungkin menimbulkan keracuanan makanan adalah Staphylococcus sehingga perlu dilakukan pemeriksaan laboratorium terhadap menu yang dimakan dan muntahan si penderita untuk mengetahui lebih jelas keadaannya.

3.4 Penatalaksanaan Untuk Pasien Pengobatan dan perlakuan yang diberikan pertama kali kepada si penderita harus melihat terlebih dahulu keadaannya.

Bagi Pasien yang sadar Berikan 1-2 gelas air sedikit demi sedikit untuk mengencerkan racun Sebaiknya tidak memberikan susu karenan memudahkan penyerapan melalui saluran cerna Berikan norit yasng telah dilarutkan dalam 1 gelas air (dosis 1gr/kg BB) Bagi Pasien tidak Sadar Pasien ditidurkan Longgarkan pakaian pasien Miringkan tubuh pasien bila pasien muntah Awasi kesadaran nadi, pernapasan, dan suhu Pasien harus segera di bawa ke rumah sakit bila gejala lebih berat dan sebagai upaya mencari pengobatan lebih baik. Pemantauan kondisi dehidrasi adalah hal yang utama bila terjadi keracunan berat karena apabila dehidrasi ini tidak ditangani akan menyebabkan kematian. Apabila dehidrasi berat ditemukan pada pasien segera lakukan rehidrasi secepat mungkin.

3.5 Cara Pengambilan Sampel Sampel yang di ambil adalah makanan yang dimakan oleh penderita terutama makanan

yang dicurigai serta muntahan si penderita.

3.6 Tindak Lanjut Setelah dilakukuan pemeriksaan pada sampel untuk mengetahui kebenarannya, dilanjutkan dengan meneliti keadaan warung tempat memesan makanan yang dicurigai menjadi sumber kontaminasi makanan tersebut. Setelah itu apabila positif sumber pencemaran berasal dari tempat tersebut maka hal yang terpenting dilakukan ialah memperbaiki higienisitas tempat, cara membuat makanan dan tentunya adalah orang-orang yang mengkonsumsi harus bisa menjaga kebersihan.

3.7 Laporan Terjadinya Kasus Setelah dilakukan pemeriksaan, kasus ini terjadi akibat makanan yang di duga terpapar oleh Staphylococus dimana bakteri ini dapat menghasilkan racun yang tentu saja membahayakan kesehatan apabila terkonsumsi.

BAB IV PEMBAHASAN

4.1 Keracunan Makanan akibat Mikroba Patogen Keracunan makanan terjadi jika makan atau minum bahan tercemar. Hal ini sering terjadi dan ada sekitar 5,4 juta kejadian tiap tahun di Australia. Ada 3 hal utama yang bisa menyebabkan sakit dari makanan: kuman, virus dan racun dalam makanan baik yang alamiah maupun dicampurkan. Makanan apa pun dapat meracuni, apakah ini diolah atau disiapkan di rumah, sekolah, supermarket setempat, toko makanan bungkus atau rumah makan. Bahaya keracunan berkurang bila makanan disimpan dan disiapkan semestinya. Salah satu akibat dari kontaminasi makanan adalah tejadinya keracunan. Keracunan makanan dari mikroba biasanya karena dua kemungkinan, pertama karena intoksinasi makanan yang dihasilkan pertumbuhan mikroorganisme, kedua infeksi yang disebabkan oleh masuknya mikroorganisme pathogen bersama makanan ke dalam tubuh seseorang setelah terjadinya pertumbuhan internal menyebabkan sakit karena terbentuknya toksik. Bakteri yang tergolong ke dalam bakteri penyebab keracunan misalnya Staphylococcus aureus, Clostridium perfringens, Bacillus cereus yang memproduksi racun yang menyerang saluran pencernaan.

Pada skenario kali ini Staphylococcus aureus diperkirakan menjadi penyebab dari kejadian luar biasa ini. Hal ini dikarenakan gejala yang ditimbulkan memiliki kemiripan dengan scenario yaitu mual, muntah, pusing dan diare. Sebagai bakteri gram positif S. aureus menjadi salah satu agen terpenting penyebab terjadinya food-borne disease di masyarakat. Penyebab utama masuknya S. aureus ke dalam rantai pangan, yang kemudian menyebabkan keracunan adalah karena rendahnya tingkat sanitasi pekerja. Selain itu, faktor lingkungan juga berpengaruh pada tingkat kontaminasi.

4.2 Penatalaksanaan dan Pencegahan dan Keracunan Makanan 4.2.1 Penatalaksanaan Penanganan gejala keracunan makanan seperti diare, mual, dan muntah. Pemantauan dehidrasi dengan melakukan rehidrasi segera apabila terjadi dehidrasi yang sangat berat dengan memberikan infus cairan isotonik (NaCl). Pemantauan komplikasi akibat keracunan makanan tersebut.

4.2.2 Pencegahan Menjaga Kebersihan - Sesudah ke WC, sebelum makan atau menyiapkan makanan, cucilah tangan dengan bersih memakai sabun dan kucuran air setidaknya 15 detik, lalu keringkanlah dengan handuk bersih. Orang yang mendapat gejala penyakit ini tidak patut menyiapkan makanan bagi orang lain. - Tidak memakai serbet pengering piring untuk menyeka tangan atau meja, sebaiknya serbetnya harus sering dicuci dan dikeringkan. - Tangan harus segera dicuci sesudah menangani makanan mentah dan sebelum menangani makanan yang sudah matang atau siap konsumsi. - Teliti mencuci sayur mentah sebelum menyiapkannya untuk dimakan.

Pemantauan suhu - Menyimpan makanan pada suhu yang keliru bisa berakibat membiaknya kuman yang menyebabkan racun makanan, yang tumbuh di antara suhu 5 C dan 60 C. - Untuk berjaga-jaga, suhu lemari es jangan lebih tinggi dari 5 C dan ada aliran udara di seputar makanannya agar pembagian suhunya merata. - Makanan panas patut disimpan di atas suhu 60 C, - Makanan yang harus dipanaskan lagi harus segera dipanaskan sampai semua bagiannya mencapai suhu 75 C. - Makanan beku sebaiknya dicairkan di dalam lemari es atau microwave, sebab semakin lama makanan mentah dibiarkan pada suhu ruangan, semakin cepat pula kuman berkembang biak dan racun bisa terbentuk.

- Agar kuman di dalamnya mati, makanan harus dimasak benar-benar matang. Cara Menyimpan Makanan - Makanan mentah perlu disimpan tertutup atau dalam tempat bertutup dibawah makanan lain yang sudah siap agar bagian makanan atau cairan daging tidak menumpahi atau menetesinya. - Makanan sebaiknya ditutupi sebelum disimpan di dalam lemari es bawah maupun atas atau di lemari agar terhindar dari pencemaran. - Bahan makanan harus disimpan baik-baik, jauh dari bahan beracun, semprot serangga, bahan pembersih dll.

Fasilitas untuk karyawan Sebaiknya perusahaan X menyediakan kantin khusus untuk karyawan dimana terjamin kebersihannya sehingga karyawan tidak makan diluar yang sulit dipantau kebersihannya. 4.3 Pendekatan melalui pengembangan organisasi Adapun bilamana terjadi suatu kasus kejadian keracunan makanan maka bisa dilakukan pendekatan melalui pengembangan organisasi: A. PUSKESMAS 1. Petugas Puskesmas setelah menerima laporan atau informasi dari masyarakat, RS, dll, segera melakukan pengecekan ke lapangan tentang kebenaran berita kasus keracunan. 2. Memberikan pertolongan berupa pengobatan kepada penderita keracunan, dan bila diperlukan mengirim penderita ke unit pelayanan kesehatan yang lebih tinggi untuk referal sistem (Rumah Sakit). 3. Mengambil contoh makanan/minuman yang diduga sebagai penyebab keracunan 4. Mengirim contoh makanan/minuman ke Dinas Kesehatan Kab/Kota. 5. Melaporkan adanya kejadian keracunan makanan ke Dinas Kesehatan Kab/Kota segera (menggunakan telepon, fax, form W1, sms, dan e-mail). 6. Memberikan penyuluhan kepada masyarakat. 7. Bergabung dengan TIM KLB Keracunan Dinas Kesehatan Kab/Kota melakukan kajian Penyelidikan Epidemiologi. B. DINAS KESEHATAN KAB/KOTA 1. Segera melakukan koordinasi dan pembahasan tentang kasus yang terjadi. 2. Segera meneruskan contoh makanan/ minuman yang diduga sebagai penyebab keracunan ke BBTKLPM/BLK/Lab. lain yang ditunjuk dengan menggunakan formulir Pengiriman Sampel Keracunan Makanan/ Minuman . 3. Melakukan pengecekan ke lokasi keracunan, dan memonitor kejadian keracunan. 4. Melakukan tindakan investigasi / penyidikan epidemiologi. Investigasi diarahkan pada : a. Attack rate b. Relatif risk c. Penjelasan lokasi d. Penjelasan waktu 5. Segera melaporkan kejadian keracunan ke Bupati/Walikota dengan tembusan ke Dinas

Kesehatan Propinsi, dan Ditjen PPM & PL, dengan menggunakan telepon, fax, form W1, sms, e-mail. 6. Kepala Dinas Kesehatan Kab/Kota memberikan keterangan/ penjelasan kepada publik/ masyarakat tentang kasus yang terjadi, berdasarkan hasil sementara dari kegiatan Penyelidikan Epidemiologi Tim Surveilans yang ada. 7. Kepala Dinas Kesehatan Kab/Kota memberikan keterangan/ penjelasan kepada publik/ masyarakat tentang kasus yang terjadi, berdasarkan hasil sementara dari kegiatan Penyelidikan Epidemiologi Tim Surveilans yang ada. C. DINAS KESEHATAN PROPINSI 1. Petugas Kesehatan Propinsi yang bertanggung jawab terhadap program makanan/minuman dan surveilans setelah mendapat laporan/ informasi segera melakukan koordinasi dan evaluasi pelaporan dari DinKes Kab/Kota. 2. Memberi bimbingan teknis dalam menyusun rencana pencegahan, penyelidikan dan penanggulangan keracunan. 3. Bila dianggap perlu membantu DinKes Kab/Kota dalam penyelidikan epidemiologi kasus keracunan makanan di daerahnya dan koordinasi dengan laboratorium yang ada di Propinsi. D. PUSAT 1. Petugas Pusat (Ditjen PPM & PL) cq. Subdit HSMM dan Subdit Surveilans setelah mendapat HSMM dan Subdit Surveilans setelah mendapat laporan/informasi segera melakukan koordinasi dan evaluasi pelaporan dari Dinas Kesehatan Propinsi dan Kab/Kota. 2. Memberi arahan dan bimbingan teknis dalam menyusun rencana pencegahan, penyelidikan dan penanggulangan keracunan. 3. Memantau perkembangan dan tindak lanjut dalam kasus keracunan makanan di Daerah dan Koordinasi

BAB V KESIMPULAN

Gejala diare, mual, dan muntah yang diderita para karyawan merupakan akibat dari keracunan makanan. Keracunan yang terjadi akibat makanan yang dimakan oleh para karyawan telah terkontaminasi oleh bakteri pathogen. Tindakan yang dapat dilakukan adalah melakukan pemeriksaan laboratorium terhadap muntahan pasien dan makanan yang dimakan. Pencegahan yang dapat dilakukan adalah menjaga kebersihan di usaha jasa boga (warung) dan fasilitas untuk karyawan.

DAFTAR PUSTAKA

Pratiknjo, Laksomono. 2007. Keracunan Makanan Merupakan Salah Satu Indikator Lemahnya Kontrol Pemerintah dan Masyarakat terhadap Produk Makanan yang Beredar.

Dalam Jurnal Ilmiah [Online], vol 1 (30), 4 halaman. http://elib.fk.uwks.ac.id/jurnal/edisi/Volume.I.Nomor.2.Januari.2007 diakses tanggal 15 Juli 2013. Cunha, John, et all. 2013. Food Poisoning. tersedia http://www.emedicinehealth.com/food_poisoning/article_em.htm Diakses tanggal 15 Juli 2013 Direktorat Surveilans dan Penyuluhan Keamanan Pangan. 2013. Strategi Penanggulangan KLB Keracunan Pangan. Jakarta: Badan POM RI Detik health. 2009. Foodborne Disease. (http://mhcs.health.nsw.gov.au) diakses tanggal 15 Juli 2013 Tinjauan Pustaka diare tahun 2010 (www.google.com/bab_2pdf) diakses tanggal 15Juli 2013 Prinsip Tatalaksana Diare tahun 2010 (www.google.com/pedomanpdf) diakses tanggal 15 Juli 2013 Sarudji, D. 2010. Kesehatan Lingkungan. Bandung: CV.Karya Putra Darwati Zein, Umar dkk.2004. Diare Akut Sebabkan Diare, www.usu.ac.id/e-library diakses tanggal 15 Juli 2013