Anda di halaman 1dari 14

Usulan Penelitian Perbedaan Kualitas Retensi Complete Denture dan Implant Overdenture terhadap Mandibular Edentulous Ridge Pada

Lansia
I. Pendahuluan
1.1 Latar Belakang

Populasi lansia di seluruh dunia semakin meningkat. Peningkatan jumlah lansia menunjukkan adanya peningkatan perawatan dan perhatian khusus untuk

mempertahankan kualitas hidup. Salah satunya adalah permintaan untuk pelayanan kesehatan. Kehilangan gigi mempunyai pengaruh langsung dalam penurunan fungsi pengunyahan dan perubahan yang buruk pada diet seimbang. Hal ini membuat pasien lebih rentan terhadap penyakit atau infeksi. Gigi tiruan yang tidak pas bahkan akan memperburuk keadaan ini dan pasien mungkin akan menghindari aktivitas sosial tertentu karena merasa malu untuk berbicara, tersenyum, atau makan. Dalam upaya menggantikan gigi yang hilang dapat digunakan suatu protesa gigi tiruan lengkap yaitu complete denture ataupun dengan overdenture. Complete denture adalah suatu bentuk perawatan tradisional bagi pasien tidak bergigi dan meskipun penggunaannya terbatas, protesa ini masih umum digunakan sekarang. Overdenture adalah gigi tiruan sebagian atau lengkap lepasan yang menutupi dan didukung oleh satu atau lebih gigi-gigi, akar-akar gigi asli dan atau dental implants. Sering ditemukan pasien datang ke klinik-klinik gigi dengan keadaan sudah kehilangan seluruh gigi geliginya. Penggunaan complete denture sering mendatangkan kesulitan namun dapat dihindari dengan pemasangan implant untuk retensi sehingga mempertahankan struktur tulang dalam jangka panjang. Pasien geriatrik yang stabil secara medis mungkin dapat dilakukan operasi implant gigi. Penggunaan implant memungkinkan menambah stabilitas, retensi dan kenyamanan penggunaan complete denture. Selain itu, pemasangan implant pada tulang rahang mengakibatkan resorpsi tulang alveolar dapat dihambat dan dimensi vertical oklusal serta relasi sentrik dipertahankan.

1.2

Rumusan Masalah

Bagaimanakan pengaruh retensi complete denture dan implant overdenture terhadap mandibular edentulous ridge pada mandibula

1.3

Tujuan Tujuan Umum Mendapatkan protesa yang nyaman digunakan pasien dengan perawatan dan pemeliharaan yang mudah untuk meningkatkan kualitas hidup Tujuan khusus 1. Mengevaluasi dan menilai kualitas retensi penggunaan overdenture implant dan complete denture 2. Mengetahui kerugian dan keuntungan overdenture implant dan complete denture

1.4 1.

Manfaat Penelitian Dalam bidang akademik menambah pengetahuan dokter gigi dalam memilih prostetik yang tepat sesuai dengan berbagai macam keaadaan 2. Dalam bidang pelayanan masyarakat diharapkan agar masyarakat merasa puas dan percaya diri secara psikologis 3. Dalam pengembangan penelitian terhadap bidang ini diharapkan keberhasilan tercapai maksimal dan kegagalan perawatan prostetik dapat diminimalisasi

II.

Tinjauan Pustaka
2.1. Complete Denture 2.1.1. Complete denture adalah suatu bentuk perawatan tradisional bagi pasien tidak bergigi dan meskipun penggunaannya terbatas, protesa ini masih umum digunakan sekarang. Gaya-gaya yang bekerja pada gigi tiruan lengkap secara garis besar dapat dibagi menjadi (Swenson,1959): 1. Tekanan Permukaan Meliputi adhesi antara saliva dan gigi tiruan serta mukosa. Suatu kondisi untuk mendapatkan adhesi yang baik adalah pembasahan yang baik dari substrat yang akan menggunakan adhesi itu. 2. Gaya dalam cairan Gaya dalam cairan seperti tegangan permukaan saliva, gaya kohesi dalam cairan saliva dan viskositas saliva akan mempengaruhi retensi gigi tiruan lengkap dan berhubungan dengan ketepatan kontak basis terhadap jaringan 3. Tekanan Atmosfir Tekanan atmosfir akan menahan gaya-gaya yang akan melepaskan gigi tiruan apabila ada pengap perifer yang utuh.

2.1.2. Keuntungan Complete Denture Untuk mengatasi permasalahan pada resorpsi lingir alveolus yang parah, beberapa literature menyarankan berbagai metode perawatan yaitu dengan bedah atau pemasangan implant, tetapi pasien sering tidak dapat menerima perawatan tersebut karena pertimbangan social ekonomi, kesehatan umum, usia pasien, dan psikologis pasien. Selain itu kadang sering timbul komplikasi gangguan sensori syaraf alveolar setelah pembedahan. 3,9 2.1.3. Kerugian Complete Denture 1. Kurangnya stabilitas gigi tiruan yang memadai 2. Penurunan kualitas fungsi pengunyahan
3

2.2. Overdenture Implant

2.2.1. Overdenture adalah gigi tiruan sebagian atau lengkap lepasan yang menutupi dan didukung oleh satu atau lebih gigi-gigi, akar-akar gigi asli dan atau dental implants.2 implan dental telah digunakan secara luas untuk mengganti gigi yang hilang baik sebagian maupun keseluruhan ( edentulous). Penggunaan implant dental ini dilaporkan mencapai angka keberhasilan yang cukup tinggi. Beberapa kriteria keberhasilan penggunaan implan dental antara lain bila tidak terdapat kegoyangan, mampu menahan beban pengunyahan, tidak terdapat gejala patologis, tidak terdapat kerusakan jaringan sekitarnya, pada gambaran radiologis tidak terlihat adanya daerah radiolusen yang progresif pada jaringan tulang sekitar implan dan hilangnya ketinggian tulang krista alveolar yang minimal. 1,18 Pembuatan implan dental beberapa tahun terakhir telah dijelaskan pada pasien yang menggunakan gigi tiruan lengkap pada rahang bawah dengan penurunan fungsi pengunyahan akibat atropi alveolar ridge yang progresif. Penempatan lima atau enam implan endosseus diantara foramen mental dengan kombinasi suprastruktur semi permanen dan perluasan bilateral kearah distal memberikan hasil yang memuaskan. Akhir-akhir ini mulai dikembangkan overdenture sederhana yang didukung dua implant dengan bar penghubung.15 Untuk menghindari permasalahan yang mungkin terjadi dalam pemasangan implan dental para klinisi harus mengerti anatomi dan jenis-jenis implan serta prosedur grafting jaringan. Evaluasi awal dalam menegakkan diagnosa dan merencanakan perawatan bedah memerlukan konsultasi awal sebelumnya. Untuk meningkatkan keberhasilan pemasangan implan dental, beberapa tahap yang harus dilalui oleh para klinisi dari awal sampai akhir pemasangan. Diagnosa dan rencana perawatan implan dental yang tepat akan menghasilkan fungsi yang maksimal dalam rehabilitasi pengunyahan.7

2.2.2. Keuntungan OD implan 1. Mempertahankan tulang alveolar Tulang alveolar sangat tergantung pada adanya gigi-gigi. Perawatan OD yang memanfaatkan retained teeth (RT), yaitu gigi-gigi asli yang dipertahankan seta

penggunaan implan dapat melindungi ridge dari tekanan dan membantu mempertahankan ketinggian tulang alveolar.8,17 2. Retensi dan stabilisasi yang baik Retensi dan stabilisasi protesa yang didukung oleh RT akan lebih baik karena ketinggian ridge masih terjaga, pembebanan pada mukosa berkurang dengan adanya tumpuan vertikal pada elemen penyangga, sehingga mengurangi iritasi mukosa.17,2 3. Oklusi dan estetika yang baik Kondisi akurat dan harmonis pada OD lebih mudah dipersiapkan dan dicapai, karena pengaruh kondisi retensi dan stabilitas yang memadai. Oklusi yang demikian akan menyempurnakan fungsi kunyah.12,13

2.2.3. Kerugian OD Perawatan OD relatif lebih mahal dibandingkan dengan gigi tiruan konvensional, karena memerlukan biaya pemasangan implant.12

2.3.

Prinsip-prinsip perencanaan perawatan Overdenture Implant

Dalam merencanakan perawatan implan dental pada pasien-pasien edentulous sebagian atau keseluruhan rahang atas dan bawah, umumnya ada beberapa tahap yang perlu dilakukan antara lain. 7,15 2.3.1. Konsultasi awal dan keinginan pasien Informasi tentang keuntungan dan kerugian dari pemasangan implan dental penting bagi setiap pasien, termasuk keinginan dan harapan pasien pada waktu konsultasi awal. Pada konsultasi awal perlu diketahui beberapa hal dari pasien antara lain adaptabilitas, motivasi, partisipasi dalam perawatan, obsesi dan kestabilan emosi,serta riwayat medik pasien secara lengkap.4,7 Terdapat beberapa kontra indikasi pada pasien yang akan dilakukan pemasangan implan dental, baik kontraindikasi lokal maupun sistemik, yaitu: 6,9

a. Kontra indikasi lokal, anatara lain 1). Oral hygiene buruk 2).Terdapat sisa akar 3).Proses inflamasi lokal, neoplasma 4). Kualitas tulang yang tidak adekuat

b. Kontra indikasi sistemik , antara lain : 1). Gangguan sistem imun 2). Penggunaan steroid dalam jangka lama 3). Gangguan pendarahan 4). Post radioterapi / khemoterapi 5.)Gangguan hormonal 6). Gangguan psikotik

2.3.2. Seleksi Pasien Dalam perencanaan awal harus diperhitungkan untuk menetapkan apakah pasien yang datang sudah memenuhi kriteria untuk implantasi. Semua operator harus mengingat adanya kontraindikasi lokal dan sistemik

2.4.

Pemilihan Protesa Implan Edentolous

Pasien edentulous memiliki kesulitan terutama pada gigi tiruan mandibula. Pemakaian gigi tiruan lama pada rahang bawah secara progresif mengakibatkan ketidakcocokan sehingga dianjurkan untuk pemakaian plat dan jaringan pendukung overdenture. Untuk jenis protesa ini biasanya ditempatkan dua buah implant yang dilokasikan pada daerah sympisis mandibula antara foramen mentalis. Implan ini digunakan untuk menahan overdenture, dukungannya berasal dari jaringan lunak dan tulang di bawahnya. Implan-implan ini dihubungkan oleh sebuah bar dan retensi protesa diperoleh dari jepitan yang ditempatkan pada gigi tiruan. 14,5

2.4.1. Jumlah Implan Saat ini dua atau empat implan umumnya digunakan sebagai dukungan overdenture. Beberapa penelitian tentang overdenture dan jenis implan yang digunakan dengan penelitian retrospektif dengan jumlah pasien yang sedikit. Pada penelitian dengan kelompok usia yang lebih tua didapatkan tingkat keberhasilan yang tinggi untuk overdenture dengan hanya dua implant dalam waktu lebih dari lima tahun ( 90 % ). Jumlah implan dan susunannya biasanya ditentukan oleh faktor lokal dan pertimbangan teknik.15 Dalam penilaian terhadap perencanaan letak implan, parameter dimensi harus diingat untuk mengurangi komplikasi antara lain: 1) Paling sedikit 1 mm tulang tersisa pada lingual dan bukal atau sisi labial setelah pertimbangan rencana penempatan implan. 2) Idealnya paling sedikit 2 mm tulang yang tersisa pada sisi mesial atau distal implan dan dari gigi sebelahnya. 3) Tinggi ideal ridge vertical harus 1 atau 2 mm pada margin untuk keamanan kanalis alveolar inferior mandibula, sinus maksilaris dan struktur vital terdekat. 4) Harus dipastikan ruang vertical yang cukup diantara puncak ridge dengan oklusal gigi lawan sebagai tempat implan, abutmen dan mahkota. Umumnya dibutuhkan 8 mm tinggi vertikal.5 Penempatan implant pada maksila posterior memiliki dua ketentuan khusus, pertama kualitas tulang maksila, terutama bagian posterior memiliki kortek tulang lebih tipis daripada bagian posterior mandibula. Ruang marrow yang lebih lebar dan tipis, sehingga bagian kortikal menjadi kurang padat, sehingga perlu waktu lebih lama untuk terjadinya osteointegrasi implant. Umumnya membutuhkan waktu 6 bulan untuk terjadinya integrasi adekuat pada pemasangan implant pada daerah maksila.11

2.4.2. Implan Pendukung Overdenture Untuk pasien yang membutuhkan lebih banyak retensi dan stabilisasi pada gigi tiruan rahang atas dan bawah digunakan implan pendukung overdenture. Untuk protesa ini dianjurkan minimal empat implan untuk rahang bawah dan enam buah implan untuk

rahang atas. Implan-implan ini dihubungkan dengan bar yang telah didesain dengan menggunakan beberapa jepitan sebagai retensi. Jenis protesa ini akan memberikan keuntungan tekanan yang minimal pada jaringan, kemudahan untuk membersihkannya serta estetis yang baik karena seluruh bahan metalnya ditutupi oleh gigi tiruan. Pada maksila protesa ini memiliki keuntungan tambahan dimana gigi tiruan tidak meluas sampai ke palatum ( mirip tapak sepatu kuda ). Kerugian protesa ini adalah masih merupakan protesa lepasan yang harus dilepaskan waktu membersihkannya.

2.4.3. Restorasi Cekat yang dapat dilepas Bagi pasien edentulous yang membutuhkan restorasi lepasan terdapat dua pilihan yakni porselen cekat yang menyatu dengan metal atau protesa hybrid. Protesa hybrid merupakan kerangka cetakan dengan bahan gigi tiruan resin yang diproses menjadi kerangka metal. Kedua pilihan ini membutuhkan minimal lima implan pada mandibula dan enam implan pada maksila. Jenis restorasi ini cocok pada pasien yang giginya baru dicabut. Keuntungan restorasi ini bagi pasien adalah retensi yang kuat serta efek psikologis yang dirasakan karena memiliki gigi tiruan yang menyerupai gigi aslinya. Kerugiannya adalah implan harus ditempatkan dengan tepat pada zona estetis anterior maksila untuk mendapatkan hasil yang ideal.

III.

Metode Penelitian
3.1. Rancangan Penelitian Penelitian ini menggunakan jenis penelitian survei analitik dengan rancangan penelitian cross sectional melalui metoda wawancara secara langsung dengan menggunakan kuesioner.

3.2.

Populasi Penelitian

Populasi terjangkau penelitian ini adalah semua pasien lansia yang berobat ke klinik ugm dan membuat complete denture atau overdenture implant di Klinik Spesialis Prostodonti UGM.

3.3.

Sampel

Cara sampling yang digunakan adalah teknik penarikan sampel non probabiliti secara purposive sampling, yaitu dengan mengadakan penelitian untuk mengidentifikasi karakteristik suatu gigi tiruan dari populasi dan kemudian menetapkan sampel berdasarkan pertimbangan pribadi, sebagian dari anggota populasi menjadi sampel.

3.3.1. Kriteria Inklusi 1. Pasien lansia universitas ugm yang sehat jasmani dan rohani 2. Pasien lansia universitas ugm yang mengalami kehilangan seluruh gigi rahang atas atau bawah yang memakai complete denture. 3. Pasien lansia universitas ugm yang kehilangan seluruh gigi rahang atas atau rahang bawah yang memakai overdenture implant 4. Pasien lansia universitas ugm yang bersedia di wawancara.

3.3.2. Kriteria Eksklusi 1. Pasien lansia universitas ugm yang berusia di bawah 60 tahun. 2. Pasien lansia universitas ugm yang kehilangan seluruh gigi namun tidak dalam keadaan jasmani dan rohani yang sehat. 3. Pasien lansia universitas ugm yang tidak bersedia di wawancara.

3.4.

Variabel Penelitian

3.4.1. Variabel Bebas Pasien lansia edentulus Universitas Gadjah Mada yang memakai overdenture Implant dan memakai Complete Denture berdasarkan: 1. Jenis Kelamin 2. Tingkat Pendidikan 3. Tingkat Ekonomi

3.4.2. Variabel Terikat Kualitas Retensi

3.4.3. Variabel Terkendali Peneliti dan alat ukur yang sama

3.4.4. Variabel Tidak Terkendali Kejujuran dan keakuratan responden dalam menjawab pertanyaan.

3.5.

Definisi Operasional

1. Jenis kelamin adalah jenis kelamin pasien yaitu laki-laki atau perempuan. 2. Tingkat Pendidikan yaitu status pendidikan pasien yaitu tidak tamat SD, tamat SD, tamat SMP, tamat SMU, atau tamat Perguruan Tinggi. 3. Memakai Overdenture Implant, lansia yang kehilangan seluruh gigi dan memakai OI. 4. Memakai Complete Denture, lansia yang kehilangan seluruh gigi dan memakai CD. 5. Kualitas retensi didefinisikan sebagai penilaian individu terhadap dampak fungsional pemakaian protesa sehingga mempengaruhi kenyamanan dalam berbicara dan mengunyah. . 3.6. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian dilakukan di Klinik Spesialis Universitas Gadjah Mada.

3.7. 3.7.1. 3.7.1.1.

Prosedur Penelitian Alat dan Bahan Penelitian Alat Penelitian

1. Alat pemeriksa rongga mulut yaitu 2 buah kaca mulut, sonde dan pinset 2. Alat tulis 3. Alat pengolah data yaitu komputer dan kalkulator

3.7.1.2 Bahan Penelitian Lembar Kuesioner

3.7.2 Cara Penelitian 1. Sebelum melakukan penelitian, peneliti mengurus surat izin penelitian dari FKG UGM 2. Setelah surat izin penelitian diperoleh, peneliti menjelaskan mengenai penelitian yang akan dilakukan, kemudian subjek penelitian diberikan Informed Consent yaitu surat persetujuan setelah memperoleh penjelasan. 3. Peneliti mencatat identitas pasien dan melakukan pemeriksaan terhadap rongga mulut pasien. 4. Peneliti memberi penjelasan kepada sampel penelitian mengenai kuesioner. Kuesioner OHIP-14 terdiri dari 14 pertanyaan pertanyaan mengenai kecekatan gigi tiruan, keterbatasan fungsi, rasa sakit fisik, ketidaknyamanan psikis, ketidakmampuan fisik, ketidakmampuan psikologis, ketidakmampuan sosial, hambatan (handicapped). 5. Peneliti melakukan wawancara dengan menggunakan kuesioner yang telah disediakan untuk memperoleh data yang diperlukan. 6. Tabulasi data. Kuesioner diklasifikasikan berdasarkan karakteristik memakai IO, memakai CO, jenis kelamin dan tingkat pendidikan. Data hasil kuesioner OHIP-14 diberi skor 0 4 sesuai jawaban pasien yaitu (0) tidak pernah; (1) hampir tidak pernah; (2) kadang-kadang; (3) agak sering; (4) sangat sering. 7. Pengolahan data.

Kemudian dilakukan pengkategorian data menjadi 2 yaitu (0 2) tidak pernah; dan (3 4) sering untuk melihat perbedaan aspek kualitas retensi. Demikian dilakukan untuk seluruh pertanyaan. Kualitas retensi ditentukan dengan pengkategorian di mana apabila skor di antara 0% 33.33% (0 18.66) dari jumlah skor OHIP-14 yaitu 56 (100%) dikatakan memiliki kualitas retensi yang baik, apabila skor di antara 33.34% - 66.66% (18.67 37.33%) dari jumlah skor OHIP-14 (56) dikatakan memiliki kualitas retensi yang sedang, dan apabila skor di antara 66.67% 100% (37.67 56) dari jumlah skor OHIP-14 (56) dikatakan memiliki kualitas retensi yang buruk

3.8 Analisis Data Pengolahan data dilakukan dengan coding card. Data disajikan dengan menghitung persentase distribusi, kemudian dilakukan uji signifikan dengan ChiSquare untuk menganalisis hubungan antar variabel. Berdasarkan hasil uji ChiSquare dapat ditentukan variabel yang menunjukkan hubungan yang signifikan bila p < 0.05.

IV.

Daftar Pustaka
1. Buser D. and Maeglin B., 1996, Complication with ITI Implants in Schroeder A., et al. Oral Implantologi, Basic, ITI Hollow Cylinder System, New York : Thieme 2. Battistuzzi PGFCM, Kayser AF, Keltjens HMAM, Plasmans PJJM. Gigi tiruan sebagian: titik tolak pada diagnosa dan perawatan dari gigi-geligi yang rusak. Alih bahasa A.I Kosasih, A.R Kosasih. Jakarta: Widya Medika, 1996: 243-51. 3. Carlsson GE.Clinical morbidity and sequelae of treatment with complete denture. J Prosthet Dent 1997;79:17-23 4. Castellon P., et al, 2004, Immediate loading of dental implant in the edentulous mandible, J Am Dent Assoc. Vol 135, No 11, 1543-1549 5. Dym, 2001, Atlas of Minor Oral Surgery, Evaluation and Treatment Planning for Implant, WB Saunders Company 6. Engelman M.J., 1996, Clinical Decision Making and Treatment Planning in osseointegration, Warsaw, Quintessence books 7. Finger M.I., et al, 2004, Salvaging a Failed Implant-Supported Fixed Prosthesis in the Completely Edentulous Patient, in Zinner I.D., Implant Dentistry: From Failure to Success, Chicago; Quintessence Publishing Co. Inc

8.

Fitzpatrick B. Standard of care for the edentulous mandible: a systematic review. J Prosthet Dent 2006;95(1):718. Groba R.E., 2007, Beyond dentures: How to determine the best option for your edentulous

9.

10.

Jacob RF. The Traditional therapeutic paradigm : Complete denture therapy. J Prosthet Dent 1998;79:6-13

11.

Pedlar, J. and Frame, J. W.; 2001; Oral and Maxillofacial Surgery, An Objective Based Teexbook; Edinburg; Churchill Livingstone

12.

Iskandar. Perawatan prostodonsi preventif dengan overdenture pada berbagai rahang. Buku kumpulan makalah ilmiah kongres PDGI XIX 1995 : 81-8.

13.

Jonkman REG, Van Waas, MAJ, Van Hoff, MA, Kalk W. An analysis of satisfaction with immediate (over) denture. J Prosthet Dent 1997; 25: 107-10.

14.

Mc Glumphy E.A. and Larsen P.E., 2003, Contemporary Implant Dentistry. In Peterson L.J., Contemporary Oral and Maxillofacial Surgery, 4 th ed. St. Louis, C.V. Mosby

15.

Schroeder A., et al, 1996; Oral Implantology; 2nd ed; Germany; Thieme Medical Publisher Inc

16.

Swenson,Merril G.1959. Complete Denture. United State: Mosby.

17.

Watt MD, Mac Gregor AR. Penentuan desain geligi tiruan sebagian lepasan. Lilian Yuwono, Alih bahasa. Jakarta: Hipokrates 1993: 188-93.

18.

Worthington, 1993, Complication and Failure in Naert, et al. Osseointegration in Oral Rehabilitation. London; Quintessence Publishing Co