Anda di halaman 1dari 27

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Definisi Rinosinusitis Kronis Rinosinusitis adalah suatu peradangan pada sinus yang terjadi karena alergi atau infeksi virus, bakteri maupun jamur. Secara klinis, rinosinusitis dapat dikategorikan sebagai rinosinusitis akut bila gejalanya berlangsung dari beberapa hari sampai 4 minggu, rinosinusitis subakut bila berlangsung dari 4 minggu sampai 3 bulan dan rinosinusitis kronis bila berlangsung lebih dari 3 bulan (Mangunkusumo dan Rifki, 2003). Rinosinusitis bisa terjadi pada salah satu dari keempat sinus yang ada yaitu maksilaris, etmoidalis, frontalis atau sfenoidalis. Bila mengenai beberapa sinus disebut multisinusitis, sedangkan bila mengenai semua sinus paranasal disebut pansinusitis (Paraswati, 2007). 2.1.1. Sinus Maksilaris Sinus maksilaris disebut juga antrum Highmore, yang telah ada saat lahir. Saat lahir sinus bervolume 6-8 ml, sinus kemudian berkembang dengan cepat dan akhirnya mencapai ukuran maksimal yaitu 15 ml saat dewasa. Merupakan sinus terbesar dan terletak di maksila pada pipi yang berbentuk segitiga. Dinding anterior sinus adalah permukaan fasial os maksilaris yang disebut fosa kanina, dinding posteriornya adalah permukaan infra-temporal maksilaris, dinding medialnya adalah dinding lateral rongga hidung, dinding superiornya adalah dasar orbita dan dinding inferiornya adalah prosesus alveolaris dan palatum. Ostium

sinus maksilaris berada disebelah superior dinding medial sinus dan bermuara ke hiatus semilunaris melalui infundibulum etmoid. Sinus maksilaris ini sering terinfeksi oleh karena merupakan sinus paranasalis yang terbesar, letak ostiumnya yang lebih tinggi dari dasar sehingga aliran sekret dari sinus maksila hanya tergantung dari gerakan silia, dasar dari anatomi sinus maksila sangat berdekatan dengan akar gigi rahang atas, yaitu P1 dan P2 dan M1, M2 dan M3, kadang-kadang juga gigi caninus, bahkan akar-akar gigi tersebut dapat menonjol ke dalam sehingga infeksi gigi geligi mudah naik ke atas menyebabkan sinusitis dan karena ostium sinus maksila terletak di meatus medius, disekitar hiatus semilunaris yang sempit sehingga mudah tersumbat (Mangunkusumo dan Rifki, 2003). 2.1.2. Sinus Etmoidalis Sinus etmoidalis berongga-rongga, terdiri dari sel-sel yang menyerupai sarang tawon, yang terdapat di dalam massa bagian lateral os etmoid, yang terletak diantara konka media dan dinding medial orbita. Sama halnya dengan sinus maksilaris, bahwa sinus etmoidalis ini telah ada saat lahir. Ukurannya dari anterior ke posterior 4-5 cm, tinggi 2,4 cm dan lebarnya 0,5 cm di bagian anterior dan 1,5 ml cm dibagian posterior. Berdasarkan letaknya, sinus etmoid dibagi menjadi sinus etmoid anterior yang bermuara di meatus medius dan sinus etmoid posterior yang bermuara di meatus superior dengan perlekatan konka media. Di bagian terdepan sinus etmoid anterior ada bagian yang sempit, disebut resesus frontal, yang berhubungan dengan sinus frontal. Sel etmoid yang terbesar

disebut bula etmoid. Di daerah etmoid anterior terdapat suatu penyempitan yang disebut infundibulum, tempat bermuaranya sinus ostium sinus maksila. Pembengkakan atau peradangan di resesus frontal dapat menyebabkan sinusitis frontal dan pembengkakan di infundibulum dapat menyebabkan sinusitis maksila. Atap sinus etmoid yang disebut fovea etmoidalis berbatasan dengan lamina kribrosa. Dinding lateral sinus adalah lamina papirasea yang sangat tipis dan membatasi sinus etmoid dari rongga orbita. Di bagian belakang sinus etmoid posterior berbatasan dengan dinding anterior sinus sfenoid (Soetjipto dan Mangunkusumo, 2003). Berhubungan dengan orbita, sinus etmoid dilapisi dinding tipis yakni lamina papirasea. Sehingga jika melakukan operasi pada sinus ini kemudian dindingnya pecah maka darah akan masuk ke daerah orbita sehingga terjadi Brill Hematoma (Ballenger, 1994). 2.1.3. Sinus Frontalis Sinus frontalis terdiri dari 2 sinus yang terdapat di setiap sisi pada daerah dahi, di os frontal. Ukuran sinus frontal adalah 2,8 cm tingginya, lebar 2,4 cm dan dalamnya 2 cm. Sinus frontal berkembang dari sinus etmoid anterior pada pada usia 8 tahun dan mencapai ukuran maksimal pada usia 20 tahun. Dinding medial sinus merupakan septum sinus tulang interfrontalis yang biasanya berada dekat garis tengah, tetapi biasanya berdeviasi pada penjalarannya ke posterior, sehingga sinus yang satu bisa lebih besar daripada yang lain. Sinus frontalis bermuara ke dalam meatus medius melalui duktus nasofrontalis. Kadang-

kadang kedua sinus frontalis tidak terbentuk atau yang lebih lazim tidak terbentuk salah satu sinus (Hilger, 1997). Sinus frontal dipisahkan oleh tulang yang relatif tipis dari orbita yang disebut dengan tulang compacta dan fosa serebri anterior, sehingga infeksi dari sinus frontal mudah menjalar ke daerah ini (Ballenger, 1994). 2.1.4. Sinus Sfenoidalis Sinus sfenoidalis terletak di dalam os sfenoidalis dibelakang sinus etmoid posterior. Ukurannya adalah 2 cm tingginya, dalamnya 2,3 cm dan lebarnya 1,7 cm. Volumenya bervariasi dari 5 sampai 7,5 ml. Pneumatisasi sinus spenoidalis dimulai pada usia 8-10 tahun. Biasanya berbentuk tidak teratur dan sering terletak di garis tengah. Sinus sfenoid dibagi dua oleh sekat yang disebut septum intersfenoid. Saat sinus berkembang, pembuluh darah dan nervus dibagian lateral os sfenoid akan menjadi sangat berdekatan dengan rongga sinus dan tampak sebagai indentasi pada dinding sinus sfenoid. Batas-batasnya adalah sebelah anterior dibentuk oleh resesus sfenoetmoidalis di medial dan oleh sel-sel etmoid posterior di lateral. Dinding posterior dibentuk oleh os sfenoidale. Sebelah lateral berkontak dengan sinus kavernosus, arteri karotis interna, nervus optikus dan foramen optikus. Penyakit-penyakit pada sinus sfenoidalis dapat mengganggu struktur-struktur penting ini, dan pasien dapat mengalami gejala-gejala oftalmologi akibat penyakit sinus primer. Dinding medial dibentuk oleh septum sinus tulang intersfenoid yang memisahkan sinus kiri dari yang kanan. Superior terdapat fosa serebri media dan kelenjar hipofisa dan sebelah inferiornya atap nasofaring (Hilger, 1997).

Gambar 2.1. Anatomi hidung dan sinus (Hilger, 1997)

Gambar 2.2. Lokasi sinus dari depan, samping dan belakang (Hazenfield, 2009)

1. Sinus frontal 2. Sinus etmoid anterior 3. Aliran dari sinus frontal 4. Aliran dari ethmoid 5. Sinus etmoid posterior 6. Konka media 7. Sinus sphenoid 8. Konka Inferior 9. Hard palate

Gambar 2.3. Dinding lateral hidung (Hazenfield, 2009) 2.2. Etiologi Rinosinusitis Kronis Etiologi dan faktor predisposisi rinosinusitis kronis cukup beragam. Pada era praantibiotik, rinosinusitis hiperplastik kronis timbul akibat rinosinusitis yang berulang dengan penyembuhan yang tidak lengkap. Berbagai faktor fisik, kimia, saraf, hormonal dan emosional mempengaruhi mukosa hidung. Secara umum, rinosinusitis kronis lebih lazim pada iklim yang dingin dan basah. Defisiensi gizi, kelemahan tubuh yang tidak bugar, dan penyakit umum sistemik perlu dipertimbangkan dalam etiologi rinosinusitis kronis. Perubahan dalam faktorfaktor lingkungan, misalnya dingin, panas, kelembapan, dan kekeringan, demikian pula polutan atmosfer termasuk asap tembakau, dapat merupakan faktor predisposisi.

Dalam daftar predisposisi umum ini harus ditambahkan paparan terhadap infeksi sebelumnya, misalnya common cold, asma ataupun penyakit alergi seperti rinitis alergika. Faktor-faktor lokal tertentu juga dapat menjadi predisposisi penyakit rinosinusitis kronis, berupa deformitas rangka, alergi, gangguan geligi, benda asing dan neoplasma. Etiologi rinosinusitis kronis dapat berupa virus, bakteri dan jamur dimana virus adalah penyebab utama infeksi saluran napas atas seperti, rinosinusitis, faringitis, dan sinusitis akut. Virus rinosinusitis biasanya menyerang hidung, nasofaring dan juga meluas ke sinus, yang termasuk didalamnya adalah rinovirus, influenza virus dan parainfluenza virus. Rinosinusitis kronis dapat disebabkan oleh bakteri yang sama seperti yang menyebabkan rinosinusitis akut. Namun, karena rinosinusitis kronik biasanya berkaitan dengan drenase yang tidak adekuat ataupun fungsi mukosiliar yang terganggu, maka agen infeksi yang terlibat cenderung oportunistik. Bakteri penyebab rinosinusitis kronis banyak macamnya, baik anaerob maupun yang aerob, namun yang merupakan proporsi terbesar adalah bakteri anaerob (Munir dan Kurnia, 2007). Bakteri aerob yang sering ditemukan antara lain staphylococcus aureus, streptococcus viridians, haemuphilus influenza, neisseria flavus, staphylococcus epidermidis, streptococcus pneumonia, dan escherichia coli. Sedangkan bakteri anaerob antara lain peptostreptococcus,

corynebacterium, bacteroides, dan veillonella. Infeksi campuran antara organisme aerob dan anaerob sering kali juga terjadi (Hilger, 1997).

2.3. Patofisiologi Rinosinusitis Kronis Hidung sebagai salah satu organ syok yang menonjol pada penyakit alergi, rinitis kronik dan sinusitis yang menunggangi perubahan alergi, komplikasi pada obstruksi anatomis karena edema dan akhirnya efek lanjut gangguan alergenik kronik, seperti hipertropi mukosa, dan poliposis (Hilger, 1997). Sinus-sinus terbentuk oleh evaginasi membran mukosa hidung, dan pelapis sinus merupakan epitelium pernapasan. Patofisiologi dasar penyakit rinosinusitis kronis ini suatu gangguan mukosa di dan sekitar ostium di regio meatus medius akibat reaksi radang pada hidung yang berkelanjutan. Setiap infeksi traktus respiratorius atas biasanya mengenai mukosa sinus, karena epitel sinus merupakan epitelium kuboid bertingkat bersilia yang mirip dengan epitelium kolumner bertingkat bersilia pada hidung, sehingga hal-hal yang terjadi di hidung biasanya terjadi pula di sinus-sinus, karena hidung akan mengeluarkan ingus yang dapat menghasilkan superinfeksi bakterial, yang kemudian bakteri tersebut dapat masuk melalui ostium menuju ke dalam rongga-rongga sinus dan berkembangbiak didalamnya (Samsudin, 1991). Rinosinusitis terjadi bila edema di mukosa kompleks ostiomeatal yang letaknya berhadapan akan saling bertemu, dimana sekretnya ini menebal, dan bila ditunggangi kontaminasi bakteri, mukosanya akan mengandung purulen. Virus juga memproduksi enzim neuraminidase yang mengendurkan mukosa sinus dan mempercepat difusi virus pada lapisan mukosilia, hal ini menyebabkan silianya menjadi kurang aktif, dan sekret yang dihasilkan mukosa sinus menjadi kental, sehingga tidak dapat dialirkan. Maka akan terjadi gangguan drenase dan ventilasi

di dalam sinus. Bila sumbatan ini berlangsung berulang atau terus-meneruslah yang akan menyebabkan rinosinusitis kronis, dimana akan terjadi hipoksia dan retensi lendir, sehingga timbul infeksi oleh bakteri aerob maupun anaerob. Selanjutnya terjadi perubahan jaringan menjadi hipertropi, polipoid atau pembentukan polip dan kista (Mangunkusumo dan Rifki, 2003). Polip nasi dapat menjadi manifestasi klinik dari penyakit sinusitis. Polipoid berasal dari edema mukosa dinding lateral cavum nasi, dimana stroma akan terisi oleh cairan interseluler sehingga mukosa yang sembab menjadi polipoid. Bila proses terus berlanjut, dimana mukosa yang sembab makin membesar dan kemudian turun ke dalam rongga hidung sambil membentuk tangkai, sehingga terjadilah polip. Tempat asal tumbuhnya polip terutama dari tempat yang sempit di bagian atas hidung, di bagian lateral konka media dan sekitar muara sinus maksila dan sinus etmoid. Di tempat-tempat ini mukosa hidung saling berdekatan (Pawankar, 2000 dan Stammberger 1997). Bila ada fasilitas pemeriksaan dengan endoskop, mungkin tempat asal tangkai polip dapat dilihat. Dari penelitian Stammberger didapati 80% polip nasi berasal dari celah antara prosesus unsinatus, konka media dan infundibulum. Ada polip yang tumbuh ke arah belakang dan membesar di nasofaring, disebut polip koana. Polip koana kebanyakan berasal dari dalam sinus maksila dan disebut juga polip antro-koana. Menurut Stammberger polip antrokoana biasanya berasal dari kista yang terdapat pada dinding sinus maksila. Ada juga sebagian kecil polip koana yang berasal dari sinus etmoid posterior atau resesus sfenoetmoid (Jareoncharsri dan Stammberger, 1997).

Polusi, Zat kimia

Hilangnya silia

Sumbatan Mekanis
Drenase yg tidak memadai

Alergi,
Perubaha n mukosa

defisiensi imun

Infeksi

Sepsis residual Pengobatan yang tidak memadai Gambar 2.4. Siklus dari peristiwa yang berulang pada rinosinusitis kronis (Hilger, 1997)

Gambar 2.5. Purulen pada infeksi sinus maksilaris (Cody, 1991)

10

Gambar 2.6. Kista atau polip pada sinus maksilaris sinistra (Hazenfield, 2009)

Gambar 2.7. Polip hidung tampak pada rinoskopi anterior (Nizar dan Mangunkusumo, 2003)

11

Gambar 2.8. Polip hidung dengan tangkainya (Nizar dan Mangunkusumo, 2003)

Gambar 2.9. Nasal polip (Hazenfield, 2009)

12

Gambar 2.10.

Polipektomi hidung. Suatu pengait digunakan untuk menjerat dan menarik polip (Hilger, 1997)

2.4. Gejala Klinis Rinosinusitis Kronis Diagnosis rinosinusitis kronis ditegakkan jika terdapat 2 kriteria mayor atau 1 kriteria mayor ditambah 2 kriteria minor (Kennedy, 1995). Yang merupakan kriteria mayor dari rinosinusitis kronis antara lain berupa: a. b. Nyeri atau sakit pada bagian wajah. Gejala hidung dan nasofaring, berupa sekret di hidung dan sekret pasca nasal (post nasal drip). c. d. Gejala faring, yaitu rasa sakit tidak nyaman dan gatal di tenggorok. Terdapat purulen pada pemeriksaan. Pada rhinoskopi anterior ditemukan sekret kental purulen dari meatus medius atau meatus superior, sedangkan pada rinoskopi posterior tampak sekret purulen di nasofaring atau turun ke tenggorok.

13

e. f. g.

Hyposmia atau anosmia. Gejala mata, oleh karena penjalaran infeksi melalui duktus nasolakrimalis. Gejala di saluran cerna, oleh karena mukopus yang tertelan dapat menyebabkan gastroenteritis, sering terjadi pada anak.

Sedangkan kriteria minornya dapat berupa: a. b. c. d. e. f. Nyeri atau sakit kepala. Demam. Halitosis. Kelelahan (fatigue). Sakit gigi (dental pain). Gejala saluran nafas berupa batuk yang kadang-kadang dapat menyebabkan komplikasi di paru berupa bronkitis atau bronkiektasis atau asma bronkial, sehingga terjadi penyakit sinobronkial. g. Gejala telinga, berupa pendengaran terganggu oleh karena tersumbatnya tuba eustachius (Ryan, 2005). Nyeri kepala pada rinosinusitis kronis biasanya terasa pada pagi hari, dan akan berkurang atau atau hilang setelah siang hari. Penyebabnya belum diketahui dengan pasti, tetapi mungkin karena pada malam hari terjadi penimbunan ingus dalam rongga hidung dan sinus serta adanya statis vena (Mangunkusumo dan Rifki, 2003).

14

2.5. Diagnosis Rinosinusitis Kronis Kriteria rinosinusitis akut dan kronis pada penderita dewasa dan anak berdasarkan gambaran klinik, yaitu: No Kriteria Rinosinusitis akut Dewasa < 12 minggu < 4 kali / tahun Anak < 12 minggu < 6 kali / tahun Rinosinusitis Kronis Dewasa > 12 minggu > 4 kali / tahun Anak > 12 minggu > 6 kali / tahun

1 2

Lama gejala dan tanda Jumlah episode serangan akut, masing-masing berlangsung minimal 10 hari Jumlah episode serangan akut, masing-masing berlangsung minimal 10 hari

Dapat sembuh sempurna dengan pengobatan medikamentosa

Tidak dapat sembuh sempurna dengan pengobatan medikamentosa

Tabel 2.1. Kriteria rinosinusitis akut dan kronik pada anak dan dewasa menurut International Conference on Sinus Disease 1993 & 2004 (Kennedy, 1995) Dari gambaran klinik ini, barulah kita dapat menentukan langkah diagnosis dari rinosinusitis kronis, yang dibuat berdasarkan anamnesis yang cermat dan pemeriksaan fisik untuk mengetahui adanya kelainan pada sinus paranasalis yang dilakukan dengan inspeksi dari luar, palpasi, perkusi, rinoskopi anterior, rinoskopi posterior dan transilumetri. Transiluminasi hanya dapat dipakai untuk memeriksa sinus maksilaris dan sinus frontalis, bila fasilitas radiologis tidak tersedia. Pemeriksaan penunjang antara lain pemeriksaan radiologi, posisi rutin yang dipakai adalah posisi Waters, PA dan Lateral. Pungsi sinus maksila, sinoskopi sinus maksila dengan menggunakan endoskop, pemeriksaan histopatologik dari jaringan yang diambil pada waktu dilakukan sinoskopi, pemeriksaan meatus

15

medius dan meatus superior dengan menggunakan nasoendoskopi dan pemeriksaan CT-Scan (Mangunkusumo dan Rifki). Pemeriksaan CTScan, merupakan cara terbaik untuk memperlihatkan sifat dan sumber masalah pada sinusitis dengan komplikasi. CT-Scan pada sinusitis akan tampak penebalan mukosa, air fluid level, perselubungan homogen atau tidak homogen pada satu atau lebih sinus paranasal, penebalan dinding sinus dengan sklerotik pada kasuskasus kronik yang tidak membaik dengan terapi, rinosinusitis dengan komplikasi, evaluasi preoperatif, dan jika ada dugaan keganasan . Magnetic Resonance Imaging (MRI) lebih baik daripada tomografi komputer dalam resolusi jaringan lunak dan sangat baik untuk membedakan rhinosinusitis karena jamur, neoplasma, dan perluasan intrakanialnya, namun resolusi tulang tidak tergambar baik dan harganya mahal (FKUI-Kapita Selekta Kedokteran, 2003).

2.6. Komplikasi Rinosinusitis Kronis Komplikasi rinosinusitis telah menurun secara nyata sejak ditemukannya antibiotika. Komplikasi biasanya terjadi pada rinosinusitis kronis dengan eksaserbasi akut. Komplikasi yang dapat terjadi ialah osteomielitis dan abses subperiostal, kelainan orbita, kelainan intrakranial dan kelainan paru. Osteomielitis dan abses subperiostal penyebab terseringnya pada tulang frontalis adalah infeksi sinus frontalis. Nyeri tekan dahi setempat sangat berat. Gejala sistemik berupa malaise, demam dan menggigil dan biasanya ditemukan pada anak-anak. Pada osteomielitis sinus maksila dapat timbul fistula oroantral.

16

Kelainan orbita disebabkan oleh sinus paranasal yang berdekatan dengan mata (orbita). Karena pada hakekatnya mata merupakan struktur yang dikelilingi pada 3 sisi oleh sinus-sinus, frontalis di atas, etmoidalis di medial dan maksilaris di bawah, maka keadaan yang melibatkan sinus-sinus ini dapat meluas untuk melibatkan isi orbita. Yang paling sering adalah sinusitis frontal dan maksila. Penyebaran infeksi terjadi melalui duktus nasolakrimalis, tromboflebitis dan perkontinuitatum. Selain itu juga, semua sinus mempunyai hubungan sirkulasi di mata melalui pembuluh pterigodea, serta cabang-cabang arteri yang mempunyai nama yang sama pada setiap sinusnya yang berjalan berdampingan dengan vena yang menghubungkannya dengan mata. Seperti cabang sfenopalatina dari arteri maksilaris interna menyuplai konka, meatus dan septum. Cabang etmoidalis anterior dan posterior dari arteri oftalmika menyuplai sinus frontalis dan etmoidalis serta atap hidung. Sedangkan sinus maksilaris diperdarahi oleh suatu cabang arteri labialis superior dan cabang infraorbitalis serta alveolaris dari arteri maksilaris interna, dan cabang faringealis dari arteri maksilaris interna disebarkan ke dalam sinus sfenoidalis. Vena-vena membentuk suatu pleksus kavernosus yang rapat di bawah membrana mukosa. Pleksus ini terlihat nyata di atas konka media dan inferior, serta bagian bawah septum di mana ia membentuk jaringan erektil. Drenase vena terutama melalui vena oftalmika, fasialis anterior dan sfenopalatina, seperti pada vena di vestibulum dan struktur luar hidung bermuara ke vena oftalmika yang berhubungan dengan sinus kavernosus. Untuk persarafannya yang terlibat langsug adalah termasuk juga divisi oftalmikus, misalnya bagian depan dan atas rongga hidung mendapat persarafan sensoris dari nervus etmoidalis

17

anterior, yang merupakan cabang dari nervus nasolabialis, yang berasal dari nervous oftalmikus. Pada sfenoid dapat pula timbul gejala pada mata, tetapi hanya karena hubungannya dengan sinus kavernosus tempat lewatnya saraf otak ketiga (okulomotorius), keempat (troklearis), kelima (trigeminus) dan keenam

(abdusens) (Hilger, 1997). Kelainan yang dapat timbul, antara lain: a. Selulitis orbita: edema bersifat difus dan bakteri telah secara aktif menginvasi isi orbita namun pus belum terbentuk. b. Abses subperiosteal: pus terkumpul diantara periorbita dan dinding tulang orbita menyebabkan proptosis dan kemosis. c. Abses orbita: pus telah menembus periosteum dan bercampur dengan isi orbita. Tahap ini disertai dengan gejala sisa neuritis optik dan kebutaan unilateral yang lebih serius. Keterbatasan gerak otot ekstraokular mata yang tersering dan kemosis konjungtiva merupakan tanda khas abses orbita juga proptosis yang makin bertambah. d. Trombosis sinus kavernosus: merupakan akibat penyebaran bakteri melalui saluran vena kedalam sinus kavernosus, kemudian terbentuk suatu tromboflebitis septik, dan yang selanjutnya dapat terjadi trombosis sinus kavernosus, kemudian terbentuk suatu tromboflebitis septik. Kelainan intrakranial yang dimaksud dapat berupa: a. Meningitis akut: salah satu komplikasi sinusitis yang terberat adalah meningitis akut, infeksi dari sinus paranasalis dapat menyebar sepanjang saluran vena atau langsung dari sinus yang berdekatan, seperti lewat dinding

18

posterior sinus frontalis atau melalui lamina kribriformis di dekat sistem sel udara etmoidalis. b. Abses dura: adalah kumpulan pus diantara dura dan tabula interna kranium, sering kali mengikuti sinusitis frontalis. Proses ini timbul lambat, sehingga pasien hanya mengeluh nyeri kepala dan sebelum pus yang terkumpul mampu menimbulkan tekanan intra kranial. c. Abses subdural: adalah kumpulan pus diantara duramater dan arachnoid atau permukaan otak. Gejala yang timbul sama dengan abses dura. d. Abses otak: setelah sistem vena, dapat mukoperiosteum sinus terinfeksi, maka dapat terjadi perluasan metastatik secara hematogen ke dalam otak. Sedangkan untuk kelainan paru berupa bronkitis kronik dan bronkiektasis, selain itu dapat pula timbul asma bronkial (Mangunkusumo dan Rifki, 2003).

2.7. Terapi Rinosinusitis Kronis Penanganan rinosinusitis kronis dapat dilakukan dengan cara konservatif dan operatif dengan tujuan untuk membebaskan obstruksi, mengurangi viskositas sekret, dan mengeradikasi kuman. Jika telah ditemukan faktor predisposisinya, maka dapat dilakukan tata laksana yang sesuai yaitu dengan penanganan konservatif, dengan pemberian antibiotika yang sesuai untuk mengatasi infeksinya serta obat-obatan simptomatis lainnya seperti analgetik berupa aspirin atau preparat codein, dan kompres hangat pada wajah juga dapat membantu untuk menghilangkan rasa sakit tersebut. Dekongestan, misalnya pseudoefedrin, dan tetes hidung poten seperti fenilefrin dan oksimetazolin cukup bermanfaat untuk

19

mengurangi udem sehingga dapat terjadi drainase sinus. Terapi pendukung lainnya seperti mukolitik, antipiretik dan antihistamin (Piccirillo, 2004). Adapun antibiotika yang dapat dipilih pada terapi rinosinusitis, diantaranya dapat dilihat pada tabel dibawah ini: Agen Antibiotika SINUSITIS AKUT Lini pertama Amoksisilin Kotrimoxazol Eritromisin Doksisiklin Lini kedua Amoksi-clavulanat Cefuroksim Klaritromisin Azitromisin Levofloxacin SINUSITIS KRONIK Amoksi-clavulanat Azitromisin Dosis Anak: 20-40mg/kg/hari terbagi dalam 3 dosis Dewasa: 3 x 500 mg Anak: 6 - 12 mg TMP/ 30 60 mg SMX/ kg/hari terbagi dlm 2 dosis Dewasa: 2 x 2 tab dewasa Anak: 30-50mg/kg/hari terbagi setiap 6 jam Dewasa: 4 x 250-500mg Dewasa: 2 x 100 mg Anak: 25-45mg/kg/hari terbagi dlm 2 dosis Dewasa: 2 x 875 mg 2 x 500 mg Anak: 15 mg/kg/hari terbagi dlm 2 dosis Dewasa: 2 x 250 mg 1 x 500 mg, kemudian 1x250 mg selama 4 hari berikutnya. Dewasa: 1 x 250-500 mg Anak: 25-45mg/kg/hari terbagi dlm 2 dosis Dewasa: 2 x 875 mg Anak: 10 mg/kg pada hari 1 diikuti 5mg/kg selama 4 hari berikutnya Dewasa: 1 x 500 mg, kemudian 1 x 250mg selama 4 hari Dewasa: 1 x 250-500mg

Levofloxacin

Tabel 2.2. Antibiotika yang dapat dipilih pada terapi rinosinusitis (Piccirillo, 2004)

20

Selain itu, dapat juga dibantu dengan diatermi gelombang pendek (Ultra Short Wave Diathermy) selama 10 hari di daerah sinus yang sakit. Tindakan ini membantu memperbaiki drenase dan pembersihan sekret dari sinus yang sakit. Untuk sinusitis maksila dilakukan pungsi dan irigasi sinus, sedangkan untuk sinusitis etmoid, frontal atau sfenoid dilakukan pencucian Proetz. Irigasi dan pencucian sinus dilakukan 2 kali dalam seminggu. Bila setelah 5 6 kali tidak ada perbaikan dan klinis masih tetap banyak sekret purulen, berarti mukosa sinus sudah tidak dapat kembali normal (perubahan irreversible), maka dapat dilakukan operasi radikal untuk menghindari komplikasi lanjutan. Untuk mengetahui perubahan mukosa masih reversible atau tidak, dapat juga dilakukan dengan pemeriksaan sinoskopi untuk melihat antrum (sinus maksila) secara langsung dengan menggunakan endoskop (Mangunkusumo dan Rifki, 2003). Bila penanganan konservatif gagal, maka dilakukan terapi operatif yaitu dengan cara mengangkat mukosa sinus yang patologik dan membuat drenase dari sinus yang terkena. Untuk sinus maksila dilakukan operasi Caldwell-Luc, sedangkan untuk sinus etmoid dilakukan etmoidektomi yang biasa dilakukan dari dalam hidung (intranasal) atau dari luar (ekstranasal) (Mangunkusumo dan Rifki, 2003). Namun, akhir-akhir ini dikembangkan metode operasi sinus paranasal dengan menggunakan endoskop dengan pencahayaan yang sangat terang sehingga saat operasi kta dapat melihat lebih jelas dan rinci adanya kelainan patologi pada rongga-rongga sinus. Jaringan patologik dapat diangkat tanpa melukai jaringan normal dan ostium sinus yang tersumbat diperlebar, inilah yang disebut dengan

21

Bedah Sinus Endoskopik Fungsional (BSEF). Prinsipnya adalah membuka dan membersihkan daerah kompleks ostio-meatal yang menjadi sumber penyumbatan dan infeksi, sehingga ventilasi dan drenase sinus dapat lancar kembali melalui osteum alami. Dengan demikian sinus akan kembali normal (Mangunkusumo dan Rifki, 2003).

22

DAFTAR PUSTAKA

Cody, D.T.R,. Taylor. (1991), Pemeriksaan Hidung dan Sinus-Sinus, Penyakit Telinga Hidung dan Tenggorokan (Diseases of the ears, nose, and throath), alih bahasa oleh Samsudin, Sonny, EGC, Jakarta. (1991), Sinusitis, Penyakit Telinga Hidung dan Tenggorokan (Diseases of the ears, nose, and throath), alih bahasa oleh Samsudin, Sonny, EGC, Jakarta. Depkes RI. (2006), Functional Endoscopic Sinus Surgery di Indonesia,_hlm /52, HTA Indonesia, Available from: http://www. yanmedik depkes. net/hta/ Hasil% 20Kajian% 20HTA/ 2006/ Functional% 20Endoscopic%20 Sinus% 20Surgery% 20di% 20Indonesia. doc. (Accessed: 2008, September 17). Dorland, W.A. Newman. (2002), Dorlands Illustrated Medical Dictionary, alih bahasa oleh Setiawan, Andy dkk dalam Kamus Kedokteran DORLAND, EGC, Jakarta. Falagas ME dkk. (2007), Sex differences in the incidence and severity of respiratory tract infections, Respiratory medicine, 10 (9): 1845-63. Hazenfield, Hugh N., M.D., F.A.C.S., (2009), Endoscopic Sinus Surgery by the American Board of Otolaryngology, Available from: www.dochazenfield.com/sinus_surgery.htm (Accesed: 2009, April 3). Harowi, M. Roikhan. (2007), Kualitas Hidup Penderita Rinosinusitis Kronis Pasca Terapi Bedah, Thesis Sekolah Pascasarjana Program Studi Ilmu Kedokteran Klinis Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Available from:

23

http://puspasca.ugm.ac.id/files/Abst_(2781-H-2007).pdf. (Accessed: 2008, July 31). Hilger, Peter. A. (1997), Anatomi dan Fisiologi Terapan Hidung dan Sinus Paranasalis, Buku Ajar Penyakit THT, BOIES, alih bahasa oleh Wijaya, Caroline, edisi 6, EGC, Jakarta. (1997), Penyakit Sinus Paranasalis, Buku Ajar Penyakit THT, BOIES, alih bahasa oleh Wijaya, Caroline, edisi 6, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta. Kapita Selekta Kedokteran. (2002), Sinusitis Kronis, Ilmu penyakit Telinga Hidung dan Tenggorok, edisi ketiga, Media Aesculapius, Fakultas Kedokteran UI, Jakarta. Kennedy, DW. (1995), International Conference On Sinus Disease, Terminology, Staging, Therapy, Ann Otol Rhinol Laryngol; (Suppl. 167):7-30, dalam HTA Indonesia 2006 Functional Endoscopic Sinus Surgery di Indonesia hlm /52; 104, Available from: http://www. yanmedik depkes. net/hta/ Hasil % 20Kajian% 20HTA/ 2006/ Functional% 20Endoscopic%20 Sinus% 20Surgery% 20di% 20Indonesia. doc. (Accessed: 2008, September 17). Mangunkusumo, Endang dan Rifki, Nusjirwan. (2003). Sinusitis, Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher, edisi kelima, FKUI. Jakarta. Mangunkusumo, Endang. (1999), Sinusitis, dalam Kumpulan Makalah

Simposium Sinusitis, Jakarta, Available from: http:// www. kalbe. co. id/files/cdk/files/ cdk_155_THT. pdf. (Accessed: 2008, September 17). Munir, Delfitri dan Kurnia, Beny. (2007), Pola Kuman Aerob Penyebab Sinusitis Maksila Kronis, Cermin Dunia Kedokteran, No. 155, Poliklinik THT-KL Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara/ Rumah Sakit Umum

24

Pusat H. Adam Malik Medan, Sumatera Utara, Indonesia, Available from: http:// www. kalbe. co.id/ files/ cdk/ files/ cdk_155_THT. pdf. (Accessed: 2008, July 31). Nizar, Nuty W. dan Mangunkusumo, Endang. (2003). Polip Hidung, Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher, edisi kelima, FKUI. Jakarta. Pawankar R., (2000), Nasal Polyposis: A Multifactorial Disease. In: Proceeding of World Allergy Forum Symposia: Non Allergic Rhinitis and Polyposis. Sydney Australia: Oct. 17, Available from: http://www.yanmedik% 20di%20Indonesia.doc. (Accessed: 2008, depkes.net/hta/Hasil%20Kajian%20HTA/2006/Functional%20Endoscopic %20Sinus%20Surgery September 17). Piccirillo. (2004), Faktor-Faktor Prognosis Kesembuhan Rinosinusitis Kronis Yang Dengan Terapi Medikamentosa, Available from: http://www.google. com/search?q= cache: l5m__5v9 WEJ: puspasca.ugm. ac.id/ files(1021H2004).
pdf+rhinosinusitis&hl=id&ct=clnk&cd=3&gl=id&client=firefox-a (Acessed:

2008, July 31).

PIT, PERHATI. (2001), Penatalaksanaan Baku Rinosinusitis, dipresentasikan di Palembang, Available from: http://www.yanmedik-depkes.net/ hta/ Hasil% 20 Kajian%20HTA/2006/Functional%20Endoscopic%20Sinus%20Surgery % 20di%20Indonesia.doc. (Accessed: 2008, September 17). Purnaman dan Rifki, Nusyirwan. (1990), Sinusitis, dalam Nurbaiti Iskandar, Efiaty AS, eds. Buku Ajar Ilmu Penyakit Telinga, Hidung Tenggorok, edisi pertama, FKUI, Jakarta, Available from: http://www.kalbe.co.id/files/cdk/ files/cdk_155_THT.pdf. (Accessed: 2008, September 17).

25

Roos, K. (1999), The Pathogenesis of Infective Rhinosinusitis, In Rhinosinusitis: Current Issues in Diagnosis and Management. Lund V. Corey J (Eds). The Royal Society of Medicine Press Limited, London, UK, Round Table Series 67: 3-9, Available from: http://www.yanmedik-depkes.net/ hta/ Hasil% 20 Kajian% 20HTA/ 2006/ Functional% 20 Endoscopic% 20 Sinus% 20 Surgery % 20 di % 20Indonesia.doc. (Accessed: 2008, September 17). Ryan, Matthew. (2006), Management of Chronic Rhinosinusistis. Grand Rounds Presentation, UTMB, Dept. of Otolaryngology. Samsudin, Sony. (1991), Sinusitis, Penyakit Telinga Hidung dan Tenggorokan, EGC, Jakarta. Sastroasmoro, S. dan Ismael, S. (1995), Dasar-Dasar Metodologi Penelitian Klinis, Binarupa Aksara, Jakarta. Stammberger, H. dan Jareoncharsri. (1997), Examination and Endoscopy of The Nose and Paranasal Sinuses. In: Mygind N, Lildholdt T. Nasal Polyposis: An Inflammatory Disease and Its Treatment. Copenhagen: Munksgaard; 120-36, Available from: http://www.yanmedik-depkes.net/hta/Hasil%20 Kajian%20HTA/2006/Functional%20Endoscopic%20Sinus% 20 Surgery% 0 di %20 Indonesia.doc. (Accessed: 2008, September 17). Taufik, M., Kusno., dan Suprihati. (1986), Faktor Alergi Pada Sinusitis Kronis. Lab/UPF THT/FK UNDIP, RS Kariadi Semarang Dalam Kumpulan Naskah Ilmiah Konas VIII Perhati Ujung Pandang, 927-31. USU digital library. (2003), Profil Sinusitis Maksila Kronis di Poliklinik THT RSUP H. Adam Malik Medan periode Juni 2000 Februari 2001. (Accessed: 2009, January 10).

26

Wiadyana, I.G.P. et al. (1998), Pedoman Upaya kesehatan Telinga dan Pencegahan Gangguan pendengaran untuk Puskesmas, Departemen Kesehatan RI, Jakarta. Yuniandri, Tiara Paraswati. (2007), Sinusitis, November, Friday 30 [04:48:53 UTC] - last modification, FK Universitas Islam Indonesia. (Accessed: 2008, July 31).

27