Anda di halaman 1dari 6

Nilai Nilai Adat Minangkabau dan Agama Islam Adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah

Posted on Februari 27, 2012 by Frannicko Marfic Y Nilai adalah sesuatu hal yang berharga, bermutu, dan berguna bagi kehidupan manusia. Nilai nilai tersebut akan di implementasikan dalam kehidupan bermasyarakat sehingga membentuk suatu identitas bagi masyarakat tersebut. Sehingga setiap suku agama dan ras memiliki nilai masing masing di dalam kehidupannya. Nilai nilai adat Minangkabau bersumber dari adat dan agama yang sering disebut dalam falsafah dasar orang Minangkabau Adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah. Falsafah ini bermakna landasan dari sistem nilai menjadikan agama Islam sebagai sumber utama dalam pola kehidupan masyarakat Minangkabau. Berdasarkan arti kata, Adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah bermakna adat minangkabau bersendi dari agama Islam (syarak) dan agama bersendikan kitab Allah SWT yaitu Al Quran. Selain falsafah diatas, ada juga falsafah yang memperkat bahwa nilai nilai dari adat Minangkabau bersumber dari agama Islam adalah syarak mangato, adat mamakai. Maksudnya agama yang menyatakan atau menetapkan maka adat akan memakai dan menerapkan dalam kehidupan sehari hari. Adat disebut juga uruf, berarti sesuatu yang dikenal, diketahui dan diulang-ulangi serta menjadi kebiasaan dalam masyarakat. Dalil yang menjadi dasar untuk menganggap adat sebagai sumber hukum ialah ayat al Quran, Surat al Araf ayat 199 dan hadits Ibnu Abbas yang artinya apa yang dipandang baik oleh orang-orang Islam, maka pada sisi Allah juga baik di kalangan ahli fikih (hukum) Islam berlaku kaidah, adat itu adalah hukum. Dalam kehidupan bermasyarakat, masyarakat Minangkabau menjunjung tinggi nilai nilai kesetaraan dan kebersamaan. Nilai nilai kesetaraan dinyatakan dengan ungkapan duduak samo randah, tagak samo tinggi (duduk sama rendah, berdiri sama tinggi). Selain itu pandangan terhadap orang lain itu sama walaupun setiap orang itu memiliki fungsi dan peranan yang berbeda beda. Walaupun berbeda namun saling membutuhkan dan saling dibutuhkan sehingga terdapat kebersamaan. Dikatakan dalam ungkapan nan buto pahambuih lasuang, nan binguang ka disuruah-suruah, nan cadiak lawan barundiang. Jadi setiap orang itu memiliki perannya masing masing. Dalam kegiatan yang menyangkut kepentingan bersama, nilai kebersamaan dituangkan dalam cara pengambilan keputusan yang sangat menjunjung tinggi musyawarah untuk mencapai mufakat. Hasil musyawarah dan mufakat merupakan otoritas dan keputusan tertinggi dalam kehidupan. Hal ini di ungkapkan dalam bulek aia dek pambuluah, bulek kato dek mufakat.

Kekuasaaan tertinggi orang Minangkabau terletak pada masyarakatnya bukan pada pemimpin adat. Pemimpin hanya membantu mengarahkan alur musyawarah dalam mencapai mufakat dan keputusan tertinggi berada pada forum musyawarah titiak dari ateh mambasuik dari bumi. Sistem kekerabatan Minangkabau berbeda dengan suku suku lainnya, adat Minangkabau memakai sistem kekerabatan Matrilineal dimana garis keturunan berdasarkan keturunan dari ibu, dimana suku anak ditentukan berdasarkan suku ibu. Nilai kehidupan yang didasarkan pada struktur matrilineal menekankan masyarakat Minangkabau itu untuk memiliki tanggung jawab yang tinggi dan luas mulai dari kaum sampai nagari, sehingga menyebabkan seseorang merasa malu apabila tidak berhasil menyumbangakan sesuatu yang berarti kepada kaum dan kerabatnya. Interaksi antara kehidupan dan tuntutan sosial telah menyebabkan orang Miangkabau untuk selalu bersifat dinamis. (nickomarfic) tugas etijing 27/02/2012

B. Pendidkan Pola Surau Sebagai Fakta Sosial dan Kultural Konsep pendidikan surau yang berpedoman kepada Tungku Tigo Sajarangan telah berhasil mengangkat para jenius-jenius masyarakat Minang masa lampau pada manusia yang berbudaya unggul. Surau merupakan akulturasi budaya Minang pada system sosial matrilinier dengan Islam, dimana anak laki-laki yang belum menikah, tidak mempunyai tempat di rumah ibunya untuk itu ia harus tidur di surau. Barker. 2005. bahwa kita disusun menjadi individu (subjek) melalui proses sosial, dan akulturasi, sumber-sumber yang kita pakai tergantung pada kekuasaan situasi yang menjadi asal kompetensi kultural kita dalam konteks kultural tertentu, identitas menjadi sangat penting untuk penggambaran diri dan ciri-ciri social dalam membangun indentitas diri. Ketika pengaruh globalisasi dan keterbukaan nformasi semakin maju dan luas, maka orang-orang Minangpun juga seolah kehilangan identitasnya, sehingga ideology adat, nagari dan Islam mulai juga hilang, sehingga sebagian dari masyarakat Minang ingin mencari identitas baru di luar kesejaraaannya, tapi sebagian lagi ingin tetap berada pada koridor tatanan masyarakat yang sudah ada sejak zaman dulu itu. Hal ini akan menjadi musibah pada krisis identitas sejarah dari mana mereka berasal, Shils mengatakan dalam bukunya Sosiologi Perubahan Sosial, bahwa kaitan masyarakat dengan masa lalunya tak pernah mati sama sekali, kaitan itu melekat dalam sifat masyarakat itu, dan masyarakat takkan pernah menjadi masyarakat bila kaitan dengan masa lalunya tak ada. Artinya adalah bahwa kaitan antara masa kini dan masa lalu adalah basis tradisi, masa lalu masyarakat tidak lenyap sama sekali serpihan itu akan tetap tersisa, walau serpihan itu menyediakan semacam lingkungan bagi fase pengganti untuk melanjutkan proses. Unsur adat, nagari dan Islam adalah perpaduan ideology yang tidak sederhana dalam kehidupan masyarakat Minang, karena dengan konsep-konsep itu mereka memandang diri mereka, dan unsure-unsur itu pula yang membentuk karakter orang-orang Minangkabau terdahulu sehingga mereka menjadi orang-orang yang berkepribadian dan ideologis dalam memangku peran mereka ditengah-tengah masyarakat. Minangkabau telah mengalami berbagai akulturasi budaya, dari lapisan tertua yang berakar pada

adat, dan adat mengalami akulturasi dengan Islam, peristiwa akulturasi menjadi ciri khas dalam seni Islam, sehingga menjadi karakteristik dan membentuk jati diri masyarakat Minangkabau. III. PENUTUP A. Kesimpulan Masyarakat adalah suatu kumpulan individu yang memiliki karakteristik khas dengan aneka ragam etnik, ras, budaya, dan agama. Setiap kelompok masyarakat mempunyai pola hidup berlainan, bahkan orientasi dalam menjalani kehidupan pun tidak sama. Sebagai suatu unit social setiap kelompok masyarakat saing berinteraksi, yang memungkinkan terjadinya pertukaran budaya, dalam proses pertukaran itu setiap kelompok masyarakat saling mempelajari, menyerap, dan mengadopsi budaya kelompok masyarakat lain, yang kemudian melahirkan sintesis budaya baru, dalam kajian antropologi interaksi social budaya ini disebut dengan istilah akulturasi. Akulturasi adalah suatu proses perubahan budaya yang lahir melalui relasi sosial antar kelompok masyarakat, yang ditandai oleh peyerapan dan pengadopsian suatu kebudayaan baru, yang berkonsekuensi hilangnya ke khasan kebudayaan lama, dimana proses akulturasi berlansung secara dinamis, yaitu saling berinteraksi dan saling menyerapnya nilai-nilai budaya yang berlainan dalam kelompok sosial dan menjadi tatanan kehidupan masyarakat. Sebagai akibat dari akulturasi adalah: terkikisnya budaya local/nasional karena pengaruh budaya asing sehingga budaya asli mulai terlupakan, hilangnya jati diri/citra bangsa, dan adanya perbedaan karakter kepribadian budaya, sehingga merusak budaya itu sendiri, serta timbulnya beberapa permasalahan modernisasi seperti pola hid

ADAT BERSANDI SYARA, SYARA BERSANDI KITABULLAH. Nilai-nilai Agama Islam, yang menganut sistem patrilineal, secara arif diterima oleh adat dan budaya Minangkabau tanpa mengorbankan adat budaya yang berlaku. Bahkan Nilai-nilai agama dan adat saling memperkuat, kokoh dalam keserasian dan keharmonisan, menyatu dalam kehidupan sehari-hari. Saling isi mengisi. Kaum adat dan kaum agama bekerjasama saling bahu membahu membangun masyarakat. Perpaduan ini telah melahirkan harmoni sosial di bawah sistem kepemimpinan tripartit yang disebut TTS (Tungku nan Tigo Sajarangan) yang terdiri dari Ninik Mamak , Alim Ulama, dan Cerdik Pandai. Mereka bersinergi menjaga dan menjalankan TTS yang lain pula, Tali nan Tigo Sapilin, yaitu Adat, Syariat dan Peraturan/perundangan) Kesesuaian dan keserasian hubungan ini tak lain karena nilai-nilai adat Minang, yang digali dan dijalankan sebelum kedatangan Agama Islam, memiliki landasan yang sama dengan tuntunan AlQuran dan hadis. Misalnya, ketika, ayat Al-Quran yang pertama turun pada tanggal 17 Ramadhan di kota mekkah: Iqra bismirabbikallazi khalaq # Khalaqal insanamin alaq # Iqra warabbukal akram # Allazi allama bil qalam # Alamal insaa namaa lam yalam. Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan * Yang menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah # Yang mengajar manusia dengan pena # Yang mengajar manusia apa yang tidak diketahuinya.

Jauh sebelum itu, para ninik mamak di ranah minang telah memberi petuah agar masyarakat Minang memahami dan mengikuti hakekat hukum alam (sunatullah), seperti petuah dibawah ini: Api, paneh dan mambaka, Aie, mambasahi dan manyuburkan, Kayu, bapokok, Ayam, bakokok, Kambiang, mangambiak, harimau mangaum Gunuang, bakabuik, dan sebagainya. Dipertegas pula dengan petatah lain: Panakiak pisau sirauik, ambiak galah batang lintabuang, silodang ambiak kanyiru, Nan satitiak jadikan lauik, Nan sakapa jadikan gunuang, Alam takambang jadi guru. Falsafah alam takambang jadi guru, adalah falsafah hidup yang sangat berkesesuaian dengan banyak firman Allah dalam Al-Quran, diantaranya pada surat Ar-Rad ayat 3, yang artinya: Dan Dialah Tuhan yang membentangkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungaisungai padanya. Dan menjadikan padanya semua buah-buahan berpasang-pasangan, Allah menutupkan malam kepada siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan. Atau firman Allah dalam surat al-Ankabut <29>: ayat 44: Khalaqallahus samaa waa ti wal ardha bilhaq* innafii zalika la aayatal lilmu miniin Allah menciptakan langit dan bumi dengan tujuan yang jelas. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang percaya. Itulah sebuah kearifan lokal di Ranah Minang, sebuah falsafah hidup yang berlandaskan akal dan iman, yang berpijak pada sunatullah dan tuntunan Al-Quran. Alam takambang jadi guru.. Indak lakang di paneh, indak lapuak di hujan. Dari dahulu sampai kini, tak henti, berlaku turun temurun. Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, Walilahil-Hamd Hadirin yang dimuliakan Allah, Bapak-bapak, ibu-ibu, angku-angku, anak dan kamanakan yang berhadir di tanah lapang ini. Lihatlah sekeliling kita, Nagari Gunuang yang indah ini, mancaliak ka mudiak, tampak puncak gunuang Marapi. Mancaliak ka arah Barat ado Gunuang Singgalang nan manjulang. Mancaliak dari sabalah ateh tampak danau Singkarak yang menyimpan ikan bilih, yang hanya satu-satunya di dunia, endemik di danau Singkarak. Ini lah kampuang kito, Gunuang Sajati, gunuang sansai bakuliliang, jo hutan badaun rimbun, dari mudiak ka ilie tak berhenti aie mangalie. Tahampa sawah-sawah, dari bukik ka lambah-lambah, bapamatang- bajanjang-janjang.

Ado mato aie bulaan di Sigando, ado mato air di ikue lubuak dan tempat lain. Airnya bersih bening tak perlu disaring. Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, Walilahil-Hamd Subhanallah, demikian besar anugerah Allah yang tercurah bagi kita urang nagari Gunuang. Dibandingkan dengan wilayah di belahan lain di muka bumi, yang kering kerontang, Nagari Gunuang tak lain adalah sebuah Surga yang terhampar di muka bumi, yang diperuntukkan oleh Allah bagi kita urang nagari Gunuang. Allah telah memelihara kesuburan tanah kita dengan muntahan abu vulkanik Gunung Marapi. Hutan-hutan lebat di lereng gunung Marapi berjasa menyimpan air tanah bagi kehidupan kita dan sawah kita. Kalau pun ada sesekali gempa vulkanik, tak lain agar kita selalu mengingat Allah, bahwa Allah lah pemilik alam semesta, kita diingatkan agar selalu menjalankan perintahNya dan menghindari larangan-Nya, agar supaya kita terhindar dari kemurkaan-Nya. Jadi, sangat beralasan bagi kita untuk selalu merenungkan firman Allah dalam surat Ar-rahman yang berulang-ulang dikatakanNya:: Fabiayalaa irabbikumaa tukazibaan (Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?) Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, Walilahil-Hamd Hadirin yang rahima kumullah Kehadiran surau di ranah Minang adalah suatu kearifan lokal lain, yang diwariskan oleh niniek mamak kita, yang perlu kita pelihara. Di Nagari Gunuang kita mengetahui, ada surau di Sigando, ada surau di Gantiang, ada surau di simpang Lubuak, ada di surau Ngalau atau ditempat lainnya. Dahulu, beberapa puluh tahun yang lalu, tidak ada seorang anakpun disuatu kampung yang tidak belajar mengaji di surau. Semua anak-anak, siang hari belajar di sekolah umum, malam hari belajar mengaji di surau. 7 hari dalam seminggu tanpa hari libur. Pada setiap akhir minggu mengadakan panggung gembira, dengan bernyanyi dan latihan berpidato. Anak-anak laki-laki yang sudah baliq, oleh ibunya diperintahkan untuk tidur di surau. Bersama dengan teman sebaya. Hadirin yang dimuliakan Allah. Dari perjalanan sejarah, kita mengetahui bahwa sejak tempo dulu di Ranah Minang, Surau memiliki peran penting dalam mendidik generasi muda, surau terbukti sukses menjadi instrumen pembentuk karakter masyarakat minang. Di surau inilah anak-anak remaja memulai PERJALANAN untuk memperoleh bekal kecakapan hidup. Di surau inilah mereka memantapkan eksistensi diri dan kepercayaan diri. Di surau lah mereka mendapat kecakapan membaca, menulis dan berpidato. Di surau lah mereka mengasah kecakapan berkomunikasi, berdiplomasi dan bersilat lidah, berpantun, ber petatah-petitih. Di surau lah mereka memperoleh keterampilan personal seperti bersilat untuk membela diri. Di surau lah mereka memperoleh kecakapan sosial bermasyarakat,Dan Salah satu kecakapan yang

penting adalah kecakapan bermusyawarah untuk mengambil keputusan yang bersandar pada falsafah: Bulek air karano pambuluah, bulek kato karano mufakaek. Sejarah mencatat, bahwa surau adalah tempat para tokoh atau cendekiawan asal Minang Kabau tempo dulu, sebut saja seperti Buya Hamka, Moh. Natsir, A.R. Sutan Mansyur, dan banyak lagi yang lain,yang memulai perjalanan hidup mereka melalui surau, guna memperoleh kecakapan hidup atau apa yang sekarang sangat popular dengan istilah LIFE SKILL.
up konsumtif dan sikap individualitik pada diri masyarakat